Dazzling Autumn – part 1

Dazzling Autumn– Part 1

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew]|Min So Hee |The rest of SHINee members|Nicole KARA|Luna f(x)

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Friendship, Horror,Romance,Mystery

Rating             : PG 15

FF ini terinspirasi dari Korean Movie ‘Tale of two sisters’

_Author PoV_

Sesosok mayat ditemukan di sebuah lahan yang dikenali warga sekitar sebagai villa musim panas. Kondisi mayat tersebut sangat mengenaskan, seluruh tubuhnya hangus terbakar sehingga sulit untuk diidentifikasi.

Berjarak beberapa meter dari mayat tersebut, ada sesosok mayat lain yang tak kalah mengenaskannya. Tubuhnya dipenuhi luka tusuk dan sebuah luka lebam di bagian belakang kepalanya, tubuhnya setengah terbakar sehingga polisi masih bisa mengidentifikasi mayat tersebut sebagai seorang yeoja berusia 20 tahun.

Tak ada tanda pengenal yang ditemukan polisi di lokasi kejadian, semuanya hangus terbakar.

***

Seorang yeoja setengah baya sudah nyaris tujuh hari menunggui tubuh anak kesayangannya yang terkulai lemas di atas ranjang rumah sakit. Nampak jelas terpatri kelelahan yang amat sangat pada wajah yeoja itu, lingkaran hitam mengelilingi mata sipitnya ditambah beberapa kerutan membuatnya terlihat amat lelah.

“Eomma, istirahatlah dulu. Biar aku yang menjaga Kibum, eomma belum makan dari kemarin.” Ucap seorang namja bertubuh mungil yang tiba-tiba datang ke ruangan itu.

Seperti yang selalu ia lakukan nyaris satu minggu ini, menghampiri eomma nya yang selalu duduk kaku di samping ranjang putra bungsunya menunggu putra bungsunya itu bangun.

“Eomma, jebal. Jangan seperti ini, Kibum akan segera bangun. percayalah” Kim Jonghyun kembali meyakinkan eomma nya, meskipun ia sendiri tidak yakin bahwa dongsaeng nya itu akan segera bangun.

Tak ada jawaban dari yeoja setengah baya itu, ia masih duduk di atas kursinya, menatap tubuh putra bungsunya dengan seksama seolah tak ingin melewatkan sedikit pun pergerakan dari tubuh di atas ranjang itu.

Jonghyun diam, tak ada lagi yang bisa ia katakan untuk membuat eomma nya sedikit saja memperhatikan dirinya sendiri.

Sudah satu minggu ini Kim Kibum koma karena sebuah kecelakaan yang menimpanya dan teman-temannya.

“Eomma, istirahatlah dulu sebentar saja. Biar aku yang menjaga Kibum.” Jonghyun kembali membujuk eomma nya agar mau meninggalkan tubuh Kibum sebentar saja.

Setidaknya agar membuat dirinya tidak khawatir pada dua orang sekaligus.

Satu menit berlalu, hanya suara mesin pengontrol detak jantung yang memenuhi ruangan itu.

Dengan perasaan sedih Jonghyun beranjak dari tempatnya, membiarkan eomma nya melakukan hal yang ia inginkan, menunggui Kibum sepanjang hari.

“Jonghyun-ah” suara eomma nya menahan langkah Jonghyun.

“ne, eomma?”Jonghyun segera berbalik menghadap eomma nya, alangkah senangnya ia mendengar suara eomma nya.

“Menurutmu, apa Kibum akan bangun?” tanya eomma nya lagi tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya.

“Tentu, tentu saja ia akan bangun.” Jonghyun tetap mengatakannya meskipun ia tidak yakin dongsaeng nya Kibum akan segera bangun.

Perlahan eomma nya berbalik, menatap Jonghyun penuh arti.

Ada sebuah ketakutan terpancar dalam mata lelahnya, tapi kemudian ia tersenyum ringan “Eomma juga yakin ia akan segera bangun.”

Jonghyun tersenyum mendengar kalimat tersebut, seperti ada sebuah harapan yang muncul diantara keputusasaan.

“Maka dari itu eomma tidak perlu khawatir. Pergilah untuk makan dan membersihkan diri, Kibum akan segera bangun. Percayalah.” Jonghyun kembali melontarkan kalimat yang ia sendiri tidak yakin.

Perlahan eomma nya beranjak dari kursinya dan menghampiri Jonghyun, sebuah senyuman kecil kembali terukir di wajahnya

 “Tentu saja.” Ucapnya lirih.

_Key PoV_

Aku seperti baru saja menempuh jarak ribuan mil, rasanya sangat melelahkan. Seberkas cahaya yang sangat menyilaukan memaksaku  membuka mata perlahan.

Rasanya sangat berat, seolah ada batu besar yang menahan kedua kelopak mataku. Cahaya yang menyilaukan itu membuatku kembali menutup mata.

Lamat-lamat terdengar suara yang tak asing lagi di telingaku

“Kibum-ah kau sudah sadar?”

“mmmhhh” aku mengerang pelan menandakan bahwa aku sudah sadar.

“Terima kasih Tuhan.” Ucap suara itu lagi, dapat kurasakan ia berjalan ke sampingku kemudian menekan sesuatu yang ada di dinding.

Tak lama terdengar suara langkah kaki yang setengah berlari, mungkin ada tiga orang atau lebih.

Mereka masuk ke ruanganku. Salah satunya segera menghampiriku dan mengelurkan beberapa benda dari tubuhnya kemudian memeriksa ku.

Tak lama aku membuka kedua mataku , semuanya berwarna putih bersih. Bau alkohol sedikit memenuhi ruangan ini.

Aku melihat beberapa sosok, semuanya masih setengah kabur. Hanya beberapa detik semuanya menjadi jelas.

“Tuhan, syukurlah Kibum sudah sadar.” Ucap sebuah suara lembut yang sudah sangat ku kenal.

“Eomma?” aku segera beranjak ketika menangkap sosok eomma di samping ranjangku.

Tapi aku segera kembali pada posisiku, kepalaku terasa sangat sakit dan berat.

“Kibum-ah, kau masih lemah jangan banyak bergerak.” Kembali terdengar suara eomma.

Eomma dan dokter yang tadi memeriksaku segera keluar ruangan dan meninggalkanku bersama Jonghyun hyeong.

“Syukurlah kau sudah bangun Kibum, kami semua sangat mencemaskanmu.”  Jonghyun hyeong duduk di kursi di samping ranjang.

“mmmm” aku hanya membalasnya dengan gumaman kecil, tak banyak yang kuingat sebelum aku masuk ke ruangan yang serba putih ini.

Hanya satu hal yang kuingat, Min Hye ri.

***

“hyeong, berapa lama aku tidur?” tanyaku dan membuat Jonghyun hyeong terperanjat.

“satu minggu.” Jawab Jonghyun hyeong singkat.

“Selama itu?” tanyaku lagi, rasanya aku tak percaya bahwa aku tertidur selama tujuh hari.

Jonghyun hyeong tak mengalihkan pandangannya dariku

“kau tahu? Semua orang sangat mencemaskanmu.”

“mianhae” hanya kata itu yang keluar dari mulutku, aku merasa sangat bersalah telah membuat semua orang cemas.

“Gwaencanha Kibum-ah, kau tidak usah merasa bersalah. Yang penting kau sudah sadar dan kembali lagi bersama kami.” Jonghyun hyeong tersenyum ringan, ia terlihat sangat bijaksana kali ini.

 “Kibum-ah, kau masih lemah.” Jonghyun hyeong segera menahanku saat aku berusaha bangun.

“aniyo hyeong, aku ingin bangun. Kau tahu? Aku bosan tidur terus.” Kataku meberikan alasan

dan kembali berusaha untuk bangun.

“baiklah, tapi pelan-pelan saja  ya.” Jonghyun hyeong membantuku untuk bangun.

Awalnya terasa sangat berat, aku merasa tubuhku seperti melayang.

Tapi kemudian semuanya berangsur normal, hanya rasa pening yang kurasakan.

Aku dan Jonghyun hyeong mulai berbicara tentang banyak hal.

Ia tak henti-hentinya melontarkan beberapa lelucon dan tertawa dengan wajah hebohnya yang khas.

Well, jujur saja ini memang tidak biasa bagiku. Aku memang dekat dengan hyeongku ini, tapi kami lebih sering bertengkar dan memperdebatkan banyak hal dibandingkan mengobrol akrab seperti ini.

Mungkin ini efek dari koma ku selama tujuh hari ini. Ya, mungkin mereka semua mulai merindukanku.

“hyeong…” aku mengingat sesuatu di tengah percakapan kami, sesuatu yang dari tadi ingin kutanyakan pada Jonghyun hyeong.

“ne?” Jonghyun hyeong masih tertawa

“Selama tujuh hari aku koma, apa Hye ri pernah menjengukku? Aku tidak melihatnya.” Tanyaku akhirnya.

Jonghyun hyeong segera menghentikan tawanya, wajahnya berubah seolah ia baru mendengar hal yang menakutkan.

Ia hanya menatapku.

“aniyo hyeong, aku hanya… sangat merindukannya.” Jawabku seadanya.

Ya Tuhan! Kumohon, jangan katakan jika selama tujuh hari ini Hye ri sama sekali tidak datang menjengukku.

Aku tahu aku bersalah padanya saat liburan musim panas kemarin, tapi aku sungguh tidak bermaksud membuatnya marah. Aku sangat menyesal.

“hyeong, kau mendengarku? Katakan sesuatu.” Desakku

“ne, tentu saja Hye ri datang. Ia menjengukmu beberapa kali, tapi kau belum sadarkan diri. Dia sangat cemas.” Akhirnya Jonghyun hyeong mengatakan sesuatu, ia memaksakan sebuah senyum kecil.

“jinjja?” tanyaku meyakinkan.

“mmm. Kau benar-benar merindukannya Kibum?” tanya Jonghyun hyeong.

“neomu bogosipheo. Apa kau sudah menelponnya bahwa aku sudah sadar hyeong?” wajah Jonghyun hyeong kembali terlihat aneh.

“ne?menelponnya?…aku…” kali ini Jonghyun hyeong terbata-bata

“..belum. mianhae Kibum, aku terlalu senang kau sudah sadar sehingga melupakan banyak hal.”

Lanjut Jonghyun hyeong kemudian ia tersenyum.

“gwaencanha hyeong, May I borrow ur cellphone by the way?”

“Kau mau menelpoh Hye ri? Biar aku saja yang menelponnya. Kibum-ah aku akan menelponnya sekalian membawa makan siang untukmu. Istirahatlah.”

Jonghyun hyeong segera meninggalkan kamarku.

_Author PoV_

“Braakkkk!” suara pintu membangunkan Key dari tidurnya, ternyata ia sudah terlelap saat jonghyun meninggalkannya.

“Key, kau sudah sadar?Thanks my lord!” seorang yeoja bertubuh mungil  dengan rambut hitam sebahu berlari ke arah Key dan segera memeluknya.

“Hye ri-ah. Min Hye ri.” Gumam Key pelan, ia masih tak percaya bahwa yang memeluknya kini adalah Hye ri. Orang yang sangat ingin ditemuinya.

Key beranjak perlahan, membuat Hye ri melepaskan pelukannya.

“Kau sudah sadar? Aku sangat mencemaskanmu.” Hye ri segera menyambar saat Key baru saja bangun dan duduk di ranjangnya.

Air mata membasahi pipi yeoja itu, kemudian ia kembali memeluk Key.

“Hye ri-ah, bisakah kau membiarkanku mengumpulkan seluruh nyawaku? Aku merasa seperti masih… bermimpi.” Ucap Key disertai tawa renyah nya yang khas.

Yeoja mungil itu segera melepaskan pelukannya kemudian mengusap airmatanya.

“Ah!mianhae, aku terlalu senang.” Hye ri menyunggingkan senyum bahagianya.

Key segera membuka mulutnya sesaat setelah ia merasa sudah sadar sepenuhnya.

 “Hye ri-ah, mianhae.” Itu lah yang ingin diucapkan Key jika ia bertemu Hye ri.

“Mianhae? For what dude?” Hye ri mengernyit heran, karena yang ia dengar dari Kibum adalah permintaan maaf.

“Soal kejadian di villa itu, tidak seharusnya aku membuatmu marah. Aku benar-benar merasa… bersalah.” Key menunjukkan penyesalan yang amat dalam.

“Haha! So, that’s the only thing that you wanted to say?” Hye ri malah tertawa menanggapi permintaan maaf Key.

“What do you mean baby? Aku merasa sangat bersalah padamu, jika saja aku tidak egois kecelakaan itu tidak akan terjadi.” Key mulai berapi-api, ia tahu Hye ri masih marah padanya.

Key hanya memandang plester yang menempel di sudut kening Hye ri.

Ia tahu itu pasti bekas luka saat kecelakaan waktu itu.

“babo!” hye ri menjitak kepala Key pelan.

“Aww! Sakit. Kenapa kau memukulku?” erang Key sambil mengelus-elus kepalanya yang barusan dijitak Hye ri.

“Kau ini memang babo! Kau koma selama tujuh hari dan hanya mengatakan hal itu setelah sadar? Kau tahu aku tidak ingin mendengar kalimat seperti itu saat kau sadar! Setiap hari aku selalu berdoa agar kau segera bangun dan kembali seperti semula”

Hye ri mulai mengomel sampai-sampai mulutnya seperti bebek.

“So, what do you want to hear baby?” tanya Key, ia sedikit heran sekaligus senang. Senang karena sepertinya Hye ri sudah tidak marah lagi padanya.

“Kau tidak usah minta maaf, tak ada yang bersalah dalam kecelakaan itu. Yang terpenting adalah tak terjadi hal buruk padamu. Kau lah yang kucemaskan.” Jelas Hye ri, ia kembali memeluk Key.

Kali ini Key membiarkan Hye ri memeluknya, bahkan ia balik membalas pelukan Hye ri.

“Aku sangat merindukanmu” bisik Hye ri di telinga Key

“na do, I do really miss you.” Key tersenyum senang, hal buruk itu telah berlalu. Ia kemudian mengecup puncak kepala Hye ri.

“Oya, bagaimana dengan yang lain?” Key memecah keheningan yang menyelimuti mereka beberapa menit.

Hye ri melepaskan pelukannya dan menatap Key

“Jinki dan So Hee? Mereka berdua baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas.  So Hee masih belum bisa berjalan dengan baik karena kaki kirinya patah, but it’s okay overall. Ia akan segera sembuh.

” papar Hye ri.

“syukurlah, aku benar-benar merasa bersalah pada kalian semua.” Key kembali melontarkan kalimat seperti itu.

“ckck, kau masih saja seperti ini. Perlu kukatakan berapa kali, ini semua bukan salahmu Kim Ki bum, itu hanya sebuah kecelakaan. Tak ada yang perlu disalahkan.” Ucapan Hye ri barusan membuat Key kembali tenang.

“Kau tidak menanyakan Nicole dan Luna?” tanya Hye ri tiba-tiba yang dengan suksesnya membuat ekspresi Key berubah.

“ne? Mereka? Aku yakin mereka baik-baik saja.” Jawab Key asal. Sejujurnya ia sama sekali tidak ingat kedua yeoja itu. Bahkan ia sama sekali tidak peduli bagaimana keadaan mereka.

“Haha, well Key sejak kapan kau menjadi sinis begitu pada mereka?” Hye ri terkekeh pelan menanggapi sikap Key.

“molla~ aku hanya tidak ingin membahas mereka. Come on! Aku sangat merindukan mu dan mengapa kita harus membicarakan kedua yeoja aneh itu?” bela Key.

“Haha, baiklah Kim Kibum. Aku tidak akan membicarakan mereka lagi. I promise.” Ucap Hye ri seolah mengunci mulutnya, membuat Key tertawa.

Rasanya sudah lama sekali Key tidak merasakan moment seperti ini bersama Hye ri, ia benar-benar merindukan yeoja itu dan kembali memeluknya.

***

Beberapa hari telah berlalu dan Key sudah diijinkan untuk pulang. Meskipun awalnya terjadi perdebatan antara keluarganya dan dokter yang menangani Key.

Lee Taemin, dokter yang menangani Key mengatakan bahwa Key perlu melakukan pemeriksaan lain sebelum ia dinyatakan sehat dan boleh pulang.

Namun eomma Key terus mendesak Taemin seonsaengnim agar mengijinkan Key pulang.

“Ini sangat sulit Mrs.Kim. mengingat apa yang baru ia alami, aku khawatir Kibum seperti yang aku takutkan. Tapi jika kau terus memaksa, aku akan mengijinkannya pulang dengan syarat ia harus rutin memeriksakan dirinya satu bulan sekali.” Jelas Taemin sebelum mengijinkan Key pulang.

“kamshahamnida seonsangnim, aku akan membawa Kibum kemari satu bulan sekali. Aku yakin ia akan lebih cepat sembuh jika berada di rumah.” Ucap mrs.Kim kemudian pamit meninggalkan ruangan Lee Taemin seonsangnim dan segera menuju ruangan putranya di rawat.

_Key PoV_

Aku duduk di samping Jonghyun hyeong. Hari ini aku sudah diijinkan pulang oleh dokter yang menanganiku. Sementara eomma dan appa duduk di jok belakang.

Suara music dari music player terus mengalun sepanjang perjalanan kami.

Jonghyun hyeong tak henti-hentinya menyanyikan setiap lagu yang diputar oleh music player, well ia tahu semua lagu.

Aku sendiri hanya diam, sebenarnya banyak yang ingin kubicarakan bersama keluargaku ini.

Tapi aku lebih memilih untuk diam karena aku bingung harus memulainya dari mana.

Mobil terus melaju dengan kecepatan statis, mataku berkeliling mengamati setiap benda yang ada di dalam mobil ini.

Tak ada yang berubah, masih tetap mobil Jonghyun hyeong yang bersih dan rapi.

Bahkan boneka mungil dengan kepala yang bisa bergerak-gerak itu masih berdiri di tempatnya.

Mataku terhenti pada pergelangan tangan kiriku di mana sebuah perban tebal membalutnya.

Aku teringat saat aku merasa perih di bagian sana dan menanyakannya pada eomma, eomma hanya bilang itu hanya salah satu luka yang kudapat saat kecelakaan.

Aku sempat hendak membukanya tapi Jonghyun hyeong segera mencegahku dengan alasan lukanya masih basah dan dokter belum mengijinkan untuk membukanya.

Well, ini aneh. Aku hanya sedikit merasa … you know… tak wajar.

Maka tadi malam saat semua orang yang menjagaku tengah terlelap, aku berpura-pura ke toilet untuk buang air dan membuka perban itu.

Sungguh! For the sake of my Lord! Aku nyaris terjatuh ke lantai toilet saat memandangi luka di pergelangan tanganku.

Puluhan goresan membabi buta, seolah aku berusaha untuk memotong urat nadiku sendiri.

Sebagian besar lukanya sudah kering, tapi ya Tuhan! Apa yang sesungguhnya terjadi?

Apa ini luka yang kudapat saat kecelakaan mobil bersama Hye ri dan yang lainnya? Tapi ini tak wajar!

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Mungkin ada sesuatu yang kulupakan karena koma.

Oh Jess! Apa itu? Tak ada yang kuingat! Tak ada! Hanya bayangan Hye ri yang memukul-mukul jendela sambil menangis yang muncul di kepalaku.

Wait! What was that? Hye ri? Kapan itu terjadi? Aku mengerjapkan mataku sekali lagi agar bayangan barusan terlihat lebih jelas.

Bayangan serupa kembali muncul dalam ingatanku, kali ini Hye ri berteriak. Tapi aku tak bisa mendengar suaranya.

Apa ini?aku mengerjapkan mataku sekali lagi, mencoba mengingat kapan kejadian itu berlangsung.

Sial! Tak ada yang kuingat, kepalaku malah terasa pening dan semakin pening saat aku berusaha mengingatnya.

Sakit sekali kepalaku, mengapa tak ada yang kuingat?

“Aaarrrgghhh…” jeritku putus asa

“Kibum-ah gwaencanha?” suara eomma,appa dan Jonghyun hyeong menyadarkanku dari lamunan barusan.

“ne? gwaencanha. I’m fine ,really.” Kataku sambil memijit-mijit pelipis ku yang dibanjiri keringat.

Aku baru sadar mobil yang kutumpangi sudah berhenti berjalan.

“Sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan, Kibum perlu istirahat.” Kata appa cepat yang diikuti oleh anggukan eomma dan Jonghyun hyeong.

***

 “Eomma, I do really fine. Kau tidak usah repot begini.” Terangku saat eomma berusaha memapahkku menuju pintu.

“Aniyo Kibum-ah, kau masih lemah. Wajahmu pucat begitu.” Sergah eomma cepat.

“Eomma jebal~” kataku lagi, memohon dengan puppy eyes andalanku.

“It means nothing Kibum!” eomma malah mempererat tangannya di sikut ku.

Well, aku menyerah. Eomma benar, aku belum benar-benar sehat.

 “Welcome home Key!!!!” aku terkejut saat mendengar suara dari dalam rumah ketika eomma membuka pintu.

Kudapati banyak orang yang ku kenal, halmeoni, harabeoji, bahkan keponakan-keponakanku yang masih kecil. Semuanya ada di sana.

“gomawo” hanya kata itu yang sanggup kuucapkan untuk mengungkapkan betapa aku sangat senang sekaligus terharu.

Eomma melepaskan tangannya dan membiarkan seluruh anggota keluargaku yang hadir memelukku bergantian.

Tak berapa lama mereka membiarkanku duduk di sofa ruang tengah. Sofa coklat yang dialasi permadani merah. Really, I never miss my home like this before.

Aku menangkap sesosok wajah yang tak asing lagi, ia berjalan ke arahku sambil tersenyum.

“Welcome home Key!” serunya seraya merentangkan kedua tangannya lebar kemudian memelukku.

“Jinki-ya, aku sangat merindukan semuanya.” Gumamku tertahan oleh air mata yang lagi-lagi tak sanggup kutahan.

Jinki hanya tersenyum, aku tahu ia pun sudah mengalami hari yang berat setelah kecelakaan itu.

Tapi aku bersyukur melihatnya baik-baik saja tanpa cacat sedikitpun.

“So, how have you been?” tanya Jinki yang kini duduk di sampingku.

Mata sipitnya selalu terlihat sama dalam berbagai ekspresi.

“I’m fine overall.” Jawabku singkat

“syukurlah kau sudah sehat, kami semua sangat mencemaskanmu.” Jinki tersenyum lebar, membuat matanya semakin tenggelam.

“mianhae~” kataku menanggapi ucapan Jinki.

“mwo? for what? For making you cry like a baby when you are home?” ledek Jinki.

“Aniyo!” aku menyiku perut Jinki, membuatnya sedikit mengerang kesakitan.

“Aku merasa sangat bersalah, semuanya salahku.” Perasaan bersalah itu kembali menyelimutiku, meskipun semua orang mengatakan bukan aku yang salah, tapi hatiku tak pernah membenarkannya.

“Well Key, itu hanya kecelakaan. Aku tidak ingin kita membahasnya lagi,semuanya sudah berlalu.” Ucap Jinki, aura mukanya berubah. Tak ada lagi senyuman di wajahnya.

Keheningan menyelimuti kami untuk beberapa saat. Aku tahu Jinki masih shock dengan kejadian itu.

“So, you are yourself here?” tanyaku mengalihkan  topik pembicaraan kami.

“Haha, tentu Key. Kau pikir aku datang dengan siapa?” mata Jinki kembali tenggelam oleh senyumannya.

“I’m sorry about So Hee.” Kataku yang lagi-lagi mengingatkan aku dan Jinki soal kecelakaan itu.

“It’s okay Key.” Jawab Jinki singkat, aura wajahnya kembali berubah.

 “Berjanjilah untuk tidak membahas ini lagi, aku yakin So Hee dan Hye ri pun tidak akan senang jika kau seperti ini.” ucapan Jinki selalu bisa membuatku tenang di saat-saat seperti ini.

_Author PoV_

yeoja dengan dress berwarna kuning dan cardigan abu-abu berjalan ke arah di mana Key dan Jinki tengah berbincang.

Satu tangannya disembunyikan di balik tubuhnya.

Key dan Jinki segera menoleh dan tersenyum saat melihat sosok yang mereka kenali itu datang.

“Welcome home!” sambut yeoja itu kemudian duduk di antara Key dan Jinki.

“hmmm.. I better leave now.” Jinki berdeham pelan. seolah mengerti dengan situasi yang ada dan segera beranjak.

“Well, thanks Jinki. Aku akan menemuimu lagi.” Key melambaikan tangan pada sahabatnya itu.

“So, have been waiting for this girl?” kata yeoja yang sudah duduk menyamping menghadap Key.

“Haha, I don’t think that you’ll be here.” Jawab Key asal sambil terkekeh pelan, membuat yeoja yang sudah bersusah payah membuat kejutan itu kehilangan semangatnya.

yeoja itu kemudian menyodorkan kotak kecil yang dibungkus kertas bercorak salju.

“ighe mweoya?” Key berhenti terkekeh dan memperhatikan benda tersebut.

“Seonmul.” Jawab si yeoja singkat, wajahnya masih cemberut.

“Thanks, tapi ini bukan hari ulangtahunku by the way.” Key memandang heran ke arah yeoja itu.

“Anggap saja kau terlahir kembali!” Yeoja bernama Min Hye ri itu masih cemberut dan semakin mengerucutkan bibrinya karena sedikit kesal.

“Haha, well. That’s right baby.” Ucap Key ringan kemudian mulai membuka bungkusan tersebut.

Mata Key membulat saat melihat benda pemberian Hye ri.

“Ini…” saking senangnya menerima hadiah itu hingga Key kesulitan berkata-kata.

“itu necklace chain mu. Sudah hampir rusak saat aku menemukannya di dekat mobil, ada sedikit bekas hangus. Untung toko tempatku membelinya dulu bisa memperbaikinya.” Papar Hye ri, wajah cemberutnya mulai pudar

Mata Key berbinar-binar menatap benda itu sekaligus mendengar penjelasan Hye ri.

Ia tidak ingat bahwa necklace chain pemberian Hye ri itu sempat hilang saat kecelakaan.

“aku…” mata key kembali terhalang oleh genangan air mata, ia tidak menyangka semua orang akan sebegitu merindukannya seperti sekarang ini.

“uljima! Kau ini namja!haha.” Hye ri malah tertawa melihat kekasihnya itu mulai meneteskan airmata haru.

Key hanya mengangguk-angguk sambil mengusap airmatanya

“Berjanjilah untuk tidak menghilangkannya lagi……” bisik Hye ri di telinga Key.

Kemudian yeoja itu mengecup kilat bibir Key “…saranghae.”

Perbuatan Hye ri barusan membuat Key salah tingkah

 “Hye ri-ah apa yang kau…… lakukan?” tanya Key gugup sekaligus senang.

 “waeyo? Aku hanya mencium pacarku.” Hye ri hanya tersenyum sambil menyipitkan matanya

“Tapi barusan kau…” Key benar-benar gugup

“…bagaimana jika tadi ada yang melihat?” lanjut Key masih gugup.

Well, itu bukan ciuman pertama mereka. Tapi entah mengapa Key rasanya seperti baru saja merasakannya.

Mungkin karena koma nya selama tujuh hari itu yang membuat Key telah melupakan beberapa hal, termasuk ciuman Hye ri.

“Tidak ada yang melihat. Trust me.” Jawab Hye ri sambil mengacak-acak rambut Key.

Key hanya menundukkan kepalanya, wajahnya mulai memerah.

***

“Kibum, sebaiknya kau naik ke kamarmu dan segera beristirahat.” Eomma Key tiba-tiba menghampiri mereka. Ia hendak meraih tangan Key untuk memapahnya.

”biar aku saja… ahjumma…” Hye ri buru-buru menahan eomma Key, meskipun di akhir kalimatnya ia merasakan kecanggungan yang hebat.

Eomma Key hanya diam menatap Key dan Hye ri bergantian.

“baiklah, hati-hati ya.” Eomma Key akhirnya mengijinkan Hye ri yang mengantar Key ke kamarnya.

Hye ri tersenyum tipis kemudian mulai bangkit dari tempatnya dan meraih tangan kiri Key.

“Arrgghh.” Key meringis saat Hye ri tepat meraih pergelangan tangan kirinya.

“Ah!mianhae.” Hye ri buru-buru melepaskan tangannya perlahan.

“gwaencanha” ujar Key ringan.

 ia tertegun beberapa saat dan kembali teringat soal luka di pergelangan tangannya yang tak wajar itu.

“waeyo?” Hye ri membuyarkan lamunan Key tentang lukanya.

“eopsseo.”

Hye ri memapah Key ke kamarnya yang berada di lantai 2.

“Kau mau ikut masuk?” tanya Key saat mereka tiba di depan pintu kamar.

“sure! Aku akan pulang setelah melihatmu benar-benar tidur.” Jawab Hye ri kemudian mendorong pintu kamar Key.

 “cham! Sekarang tidurlah.” Hye ri mendorong ringan tubuh Key ke atas ranjang dan menyelimutinya.

“Kau pulang sekarang?” Key segera menahan tangah Hye ri.

“Of course, it’s almost late. I mean … for me.” Hye ri kembali melontarkan senyum manisnya.

“Kau pulang sendiri?” tanya Key lagi dan dijawab oleh anggukan kecil oleh Hye ri.

“I guess so, biar Jonghyun hyeong yang mengantarmu.” Key segera bangkit dari tempatnya.

“Yaa!babo! kau mau apa? Aku bisa bilang sendiri pada hyeong mu. Beristirahatlah!” Hye ri segera mendorong tubuh Key agar tetap pada posisinya.

“baiklah, aku pulang sekarang. Jaljayo Key~” ucap Hye ri lagi sambil mengecup pipi Key pelan.

“Hye ri-ah.” Key menahan tangan Hye ri

“mmm?”

“ada yang ingin kubicarakan denganmu. sebentar saja, I promise.” Key beranjak dari posisi tidurnya kemudian duduk.

“Apa kau tahu ini luka apa?” Key segera menyodorkan tangan kirinya pada Hye ri yang duduk di tepi ranjang.

“Itu luka yang kau dapat saat kecelakaan kan? Waeyo?” tanya Hye ri heran.

“Aniyo, aku tidak yakin ini karena kecelakaan. eomma pun mengatakan hal yang sama. But, you know Hye ri. It’s… weird.” Bisik Key, tangan kananya hendak membuka perban yang membalut pergelangan tangan kiri nya itu.

Dengan cepat Hye ri menahan tangan Key sebelum Key sempat membuka perbannya.

 “We don’t necessary know anything in this world. And sometimes, It’ll be better to keep something as secret.” Bisik Hye ri, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Key.

Membuat Key melupakan luka di pergelangan tangannya, wajah Hye ri terus mendekat hingga Key merasakan hembusan nafas Hye ri di wajahnya.

Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk saling memperpendek jarak dan menempelkan bibir mereka satu sama lain.

=TBC=

Eun cha’s Note :
Hai there! FF ini pernah dipublish di blog SF3SI dan karena beberapa alasana baru dipublish di blog pribadi.kekekek. Yang baru baca di sini, jangan lupa komen yaa😉

7 thoughts on “Dazzling Autumn – part 1

  1. Ceritanya sedikit membingungkan kekeke~ sepertinya mitis banget.. Hyeri kyknya hanya bayangan aja yak?? #bingungbingung
    Lnjut baca!

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s