Dazzling Autumn – Part 3

Dazzling Autumn – Part 3

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew]|Min So Hee |The rest of SHINee members|Nicole KARA|Luna f(x)

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Friendship, Horror,Romance,Mystery

Rating             : PG 15

_Author PoV_

“..kecap dan lada…” seru Hye ri sambil menunjuk ke arah rak di mana kecap dan beberapa jenis lada di simpan.

Dengan cepat Key mendorong troli ke arah rak yang ditunjuk Hye ri.

“selanjut nya apa?” tanya Key setelah ia meraih sebotol kecap dan lada hitam.

Mata hye ri kembali pada catatan kecil di tangan kanannya, sementara tangan kiri nya berpegangan pada ujung troli.

“Es krim dan salad!” seru Hye ri yang berdiri pada roda troli.

Sekali lagi Key mendorong cepat troli nya, namun dalam hitungan detik Key segera menghentikan troli nya.

“Wae?” tanya Hye ri heran.

Key mengerutkan dahinya.

“Es krim dan salad?” Key malah balik bertanya.

Hye ri tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Aku rasa aku tidak menulisnya dalam list.” Lanjut Key

Hye ri semakin melebarkan senyumnya, ia tak tahu Key telah menyadari akal bulusnya barusan.

“Hehe, you know it baby.” Hye ri masih tersenyum.

“Jadi sampai mana list kita?” tanya Key lagi tanpa mempermasalahkan soal es krim dan salad.

“mmm… Everythin’ is already in the troli.” Jawab Hye ri seraya memeriksa seluruh barang yang ada dalam troli.

“are you sure?” Key meyakinkan

“sure!” jawab Hye ri singkat, ia mengerucutkan bibirnya karena sedikit kesal pada Key yang tidak menanggapi eskrim dan salad nya. Kemudian Hye ri turun dari atas roda trolli.

“Done! Ayo kita pergi!” ajak key sambil mendorong trolli nya.

Hye ri hanya diam memandangi punggung Key, ia semakin mengerucutkan bibirnya karena kesal.

“Palli! Hari sudah hampir gelap.” Teriak Key tanpa menengok ke arah Hye ri sedikitpun.

Masih dengan wajah cemberut Hye ri mengikutinya dari belakang. Ia menghentak-hentakkan langkahnya agar Key tahu ia marah.

Sementara itu diam-diam Key terkekeh pelan mengetahui apa yang dilakukan Hye ri.

_Key PoV_

Haha. Yeoja itu masih saja mudah untuk ditipu. Sudah hampir 2 tahun kami berpacaran tapi ia masih belum bisa membedakan saat aku bercanda atau tidak.

Lucu sekali saat aku tidak menanggapi permintaan eskrim nya itu. Aku hanya terkekeh pelan saat ia menghentak-hentakkan langkahnya.

Aku yakin ia tidak sadar bahwa aku tengah membawanya ke tempat di mana mereka menyimpan eskrim.

“Kau mau rasa apa?” tanyaku seraya berbalik memandang Hye ri yang sedari tadi mengikutiku dari belakang.

“mmm?” ia mengangkat kepalanya yang tertunduk.

“aku tanya kau mau rasa apa?” kataku sekali lagi seraya membuka lemari es krim.

Sebuah senyuman melengkung di wajah Hye ri, sudah kuduga! Ia memang tidak sadar bahwa aku membawanya ke tempat di mana mereka menaruh es krim.

“Aku… “ Hye ri berjalan mendekati lemari es krim dengan mata yang berbinar.

“… ingin rasa coklat, strawberry, vanilla, orange, melon, banana…” lanjutnya seraya memasukkan tiap rasa ke dalam troli.

“Yaa!yaa! Min Hye ri! Tidakkah itu terlalu banyak? Kau mau makan semuanya?” aku membulatkan kedua mataku, tak kusangka nafsu makan yeoja mungil ini tak berubah sama sekali.

Aku mengambil es krim yang baru saja ditaruh Hye ri ke dalam troli dan mengembalikannya ke dalam lemari es krim.

“Yaa! Kenapa kau menaruhnya lagi? Aku mau semuanya!” Hye ri mengerucutkan bibir tebalnya dan mengambil lagi es krim yang kusimpan tadi.

Haha! lucu sekali yeoja ku ini.

Kami melakukan hal seperti itu berkali-kali, hingga pandangan orang-orang di supermarket membuatku membiarkan Hye ri mengambil es krim sebanyak yang ia suka.

***

“masih lama?” entah untuk yang keberapa kalinya Hye ri melontarkan pertanyaan serupa.

Ia duduk di meja makan tepat di belakangku sambil memainkan jari-jarinya karena bosan.

“Ya! Kenapa kau tidak membantuku jika ingin cepat selesai?” ucapku tanpa sedikitpun beralih dari bawang Bombay yang sedang kuiris kasar.

“Sirheo! Aku tidak bisa memasak.” Jawab Hye ri seperti biasanya.

Aku hanya terkekeh pelan, Hye ri selalu mengatakan hal yang sama jika aku membahas soal ketidak mampuannya di dapur.

 “kapan kau akan belajar memasak? Bagaimana jika kita menikah nanti?” aku selalu menakut-nakuti Hye ri bahwa namja itu menyukai yeoja yang pintar memasak.

“kan ada kau! Jika kita menikah, kau yang akan memasak dan aku mengurus anak. Itu cukup adil kan?” Haha, jawaban Hye ri selalu saja membuatku tertawa.

Aku mengabaikan Hye ri entah berapa lama, rasanya sudah sangat lama aku tidak menyentuh benda-benda di dapur ini. pisau, panci, wajan, dan apron pink ini.

“Yaa! Berapa lama lagi? Aku bosan.” Tiba-tiba Hye ri memelukku dari belakang, membuat fokusku pada air yang setengah mendidih dalam panci buyar seketika.

“Kau sudah lapar?” godaku sambil memegang kedua tangannya yang sudah melingkar di pinggangku.

“Ani! Aku hanya bosan.” Kini Hye ri menyandarkan kepalanya di punggungku membuatku menyerah dan kehabisan kata-kata.

Aku hanya diam, Hye ri mempererat pelukannya membuat jantungku berisik tak karuan.

“Hye ri-ah, boleh aku bertanya sesuatu?” tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“mmm?”

“Aku merasa… “ aku menggantungkan kalimatku kemudian memasukkan pasta ke dalam air yang sudah mendidih.

Aku memutar badanku agar berhadapan dengannya, membuat Hye ri mendongakkan kepalanya agar bisa menatapku.

Hye ri masih melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, sementara aku mulai menyentuh kedua pipinya.

“…seperti orang yang hilang ingatan.” Lanjutku sedikit ragu.

Hye ri hanya tersenyum ringan, ada sesuatu terpancar dari kedua bola matanya yang jernih itu.

“Kau tidur selama 7 hari, itu wajar jika kau merasa melupakan atau bahkan kehilangan Sesuatu. Semuanya akan baik-baik saja. Trust me! And if the thing went wrong, I’ll be here.”

Kalimat Hye ri selalu menyejukkan hatiku, entah darimana datangnya yeoja yang sudah seperti malaikat ini. dan aku bersumpah aku tidak akan pernah mengecewakan yeoja ini seumur hidupku.

Cahaya matahari sore masuk melalui celah-celah jendela dapur, angin sejuk khas musim gugur membuat suasana di dapur menjadi terkesan spooky.

Aku masih memandangi Hye ri yang tersenyum, hanya suara air mendidih yang menemani kami.

Hye ri terus mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku tahu hal ini selalu terulang berkali-kali. Dan jujur aku tidak mau melewatkan setiap moment seperti ini. moment di mana aku sangat merindukan Hye ri dan moment di mana aku merasa ingin memiliki Hye ri sepenuhnya.

“kriiiiiiiiinnnnnggggg” dering telpon di ruang tengah secara spontan menghentikan aktifitas kami yang sudah berjarak kurang dari 2 jari ini.

Aku dan Hye ri berpandangan seolah kami memikirkan hal yang sama tentang suara telpon itu. Tapi aku mengabaikannya dan terus mendekatkan bibirku ke bibir Hye ri.

“kriiiiiiiiinnnnnggggg” tanpa menghiraukan dering telpon yang semakin nyaring, aku terus memperpendek jarak kami dan nyaris saja menjangkau bibir Hye ri saat Hye ri menempelkan telunjuknya di bibirku.

“tidak ada orang? Sebaiknya kau menjawab telponnya.” Dan ucapan Hye ri barusan membuatku mengalah.

“geurae!” kataku seraya mematikan kompor kemudian berlari ke ruang tengah.

***

Sialan! Telpon yang aneh, sudah kukatakan seharusnya keluarga ini mengganti no. telpon. Sejak kami pindah ke rumah ini selalu saja ada telpon salah sambung.

Aku kembali ke dapur, sepi. Tak kudapati Hye ri di sudut manapun.

Aku mengedarkan pandangan ke setiap penjuru, berharap menemukan Hye ri yang tiba-tiba menghilang.

Aku hendak berjalan menuju pintu dapur, saat langkahku terhenti karena sesuatu di atas meja makan.

Mangkok berisi kocokan telur yang belum selesai kukerjakan. Aku mendekat ke arah mangkok tersebut dan mengocek isinya yang telah dipenuhi irisan bawang merah.

Aku tidak ingat aku memasukkan bawang merah ke dalamnya, atau Min Hye ri? Ani! Sesuatu segera masuk ke dalam pikiranku, sesuatu yang penting yang sempat kulupakan.

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekitar dapur dan ke sudut ruangan lain yang bisa terjangkau oleh mataku. Aku yakin dia ada di sini!

Yeah! Hanya ada satu orang yang selalu memasukkan irisan bawang merah ke dalam kocokan telur. Hanya dia! Sahabat terbaikku!

“Mencariku chef?” sebuah suara tiba-tiba muncul dari arah ruang tamu.

Dengan cepat aku menangkap sosok yeoja berambut hitam panjang yang sangat khas. Wajahnya Nampak lebih tirus dari terakhir kali aku melihatnya.

“Ya Tuhan! Min So Hee.” Aku berhambur ke arah yeoja yang kini duduk di kursi roda. Hye ri mendorong kursi roda So Hee perlahan.

Aku segera memeluk sahabatku itu. “aku sangat merindukanmu Min So Hee.” Syukurlah sahabatku tidak terluka terlalu parah, meskipun rasa bersalah itu kembali muncul saat melihat kaki kirinya dibalut perban dan terlihat kaku.

“mmm… aku senang kau sudah kembali lagi bersama kami.” Ucap So Hee dengan suaranya yang terdengar parau.

Lagi lagi aku tak bisa menahan airmata bahagia ini, koma selama 7 hari itu benar-benar membuatku merasakan betapa pentingnya setiap detik yang kulalui bersama semua orang.

“klik” terdengar suara pintu dapur terbuka, sosok bermata sipit dan berpipi penuh seperti tahu itu muncul.

Kami bertiga hanya menatapnya, membuat sosok itu sedikit salah tingkah.

“kau mengundangku kan Key?” tanya Jinki dengan wajah polosnya.

“Tentu saja.” kataku ringan. Akhirnya semuanya telah berkumpul, semuanya telah kembali normal. Thanks Lord!

_Author PoV_

Key,Jinki,Hye ri dan So Hee telah memposisikan diri mereka di meja makan. Hidangan yang hampir semuanya adalah pasta telah tersaji rapi di atas meja.

Beberapa lilin telah dinyalakan untuk membuat suasana makan mereka kali ini berkesan dan menyenangkan.

Eomma dan appa key juga turut serta, tak lupa Jonghyun yang sudah duduk tepat di samping Jinki.

Siapapun akan tahu bahwa ini akan menjadi makan malam yang sangat menyenangkan, di mana semua orang yang seharusnya berkumpul kembali bersama.

Tapi sayang, kedatangan dua orang yeoja yang sepertinya tidak diharapkan itu telah merusak semua yang direncanakan Key.

“Key, terimakasih kau telah mengundang aku dan Luna.” Dengan sedikit ragu Nicole membuka mulutnya.

Key tersenyum hambar “Berterimakasihlah pada Hye ri, dia yang mengundangmu kemari. Bukan aku!”

Semuanya memandang Key bersamaan, seolah ada magnet dari kalimat yang diucapkan Key barusan.

Eomma Key memandang putra bungsunya tajam, ada sesuatu yang dipikirkannya ketika mendengar ucapan putranya itu. Sesuatu yang ia takutkan dan khawatirkan.

Sementara Nicole dan Luna saling berpandangan, keduanya memikirkan hal yang sama.

“sudahlah, ayo kita makan saja.” Jonghyun menyendok spaghetti ke dalam piringnya, berusaha menghilangkan atmosfer tak menyenangkan di atas meja makan ini.

Untuk beberapa saat hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Hingga Key membuka mulutnya.

“Oya So Hee, kau ingat? Makan spaghetti mengingatkanku pada saat kita SMA dulu. Karena mengambil makan siangmu aku harus mentraktirmu makan spaghetti.Haha, itu lucu sekali.” Key mulai memegangi perutnya karena geli.

Namun semua orang hanya memandanginya heran, tak satupun dari mereka yang menanggapi ucapannya barusan. Key melempar pandang ke arah So Hee.

“aniyo, aku tidak ingat Key.” So Hee menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecut.

Seketika tawa di wajah Key menghilang, ia tahu ada yang aneh dengan semua orang. Mana mungkin So Hee tidak mengingat nya? Pikir Key.

Tapi sekali lagi ia menghibur diri bahwa itu hanyalah perasaannya dan memutuskan melanjutkan makannya.

“Geurae, Key. Eomma senang sekali kau membuat makan malam untuk kami, terlebih lagi ada Jinki. Ah! Ya, aku nyaris lupa. Terimakasih kau sudah mengundang Nicole dan Luna kemari, membuat rumah ini lebih ramai.” Eomma Key berusaha berbasa-basi untuk mencairkan suasana.

“Hye ri yang mengundang Nicole dan Luna, bukan aku!” sekali lagi Key menekankan kalimatnya. Semua orang hanya memandang Key dengan pikiran mereka masing-masing.

Eomma Key memandang Nicole dan Luna bergantian, ada sesuatu yang seolah diucapkannya melalui tatapannya itu.

“Aniyo Key! Kau yang menelpon…” belum sempat Nicole menghabiskan kalimatnya, Key dengan cepat menyambar.

“I told you it’s Hye ri. Dia menggunakan ponselku, arasseo!” entah mengapa kali ini emosi Key naik lebih cepat dari biasanya.

Hye ri yang duduk disampingnya hanya diam memegangi tangan Key.

“sudahlah Key.” Gumam Hye ri pelan.

“That’s enough! Aku hanya ingin mereka menganggap keberadaanmu di sini Hye ri! Aku benci Nicole dan Luna yang selalu menganggapmu tidak ada! “ Key meninggikan intonasinya, membuat semua orang kehabisan kata-kata dan hanya mampu memandangnya.

Hye ri hanya tertunduk, pundakya bergetar. Bulir-bulir airmata menetes membasahi wajahnya.

***

Makan malam pun berlalu dengan cepat, insiden kecil barusan ternyata memberikan pengaruh yang besar.

Nicole dan Luna segera berpamitan, sementara Key… yang lainnya meninggalkan Key bersama Jinki di kamarnya.

Hanya Jonghyun dan eomma nya yang masih tinggal di ruang makan, merapikan sisa-sisa makan malam yang tidak menyenangkan itu.

“Eomma, sudah kukatakan Kibum itu s…” eomma Key segera memotong sebelum putra sulungnya-Jonghyun menyelesaikan kalimatnya.

“Ani Jonghyun! Semuanya akan baik-baik saja, Kibum hanya butuh waktu. Kau tahu itu tidak mudah baginya. Dia sangat mencintai Hye ri.” Eomma Key menahan sesuatu yang telah memanasi kedua bola matanya dan membiarkannya menggenang di pelupuk mata.

“Jika kita membiarkannya seperti ini terus, aku takut…” Jonghyun tak melanjutkan kalimatnya, ia tahu apa yang akan diucapkannya bisa melukai hati eomma nya, juga hatinya sendiri.

***

Key merapikan pakaiannya seraya bangkit dari ranjang pemeriksaan di ruangan Lee Taemin seonsaengnim.

Dengan stetoskop yang masih menggantung di lehernya, Lee Taemin segera menulis sesuatu di jurnal pribadi pasiennya.

Key segera duduk di kursi tepat di hadapan meja Taemin begitu ia selesai merapikan pakaiannya.

“Overall kau sudah cukup sehat, hanya saja mungkin kau melupakan beberapa hal karena koma.” Ucap Lee Taemin tanpa beralih sedikitpun dari jurnalnya.

Key hanya memandang Taemin yang bertanggung jawab atas kesembuhannya itu.

“mmm…boleh aku bertanya?” tanya Key sedikit ragu dan dijawab oleh senyuman kecil dari Taemin.

“sebenarnya ini luka apa? Ini terlalu aneh untuk luka karena kecelakaan.” Key mengangkat tangan kirinya, menunjukkan perban tebal yang membalut pergelangannya itu.

Air muka Taemin segera berubah, ia segera menaruh jurnalnya.

“Kau tidak mengingatnya?” Taemin malah balik bertanya.

“Jika aku ingat aku tidak akan menanyakannya.” Jawab Key singkat.

Taemin menarik nafas, ini bukan pertama kalinya ia menghadapi pasien dengan masalah lebih dari satu seperti Key.

Tapi entah mengapa kali ini ia merasa harus sangat berhati-hati dalam setiap ucapannya.

“Ini bagian dari penyembuhan. Sudah kukatakan kau melupakan beberapa hal karena koma, termasuk luka di tanganmu itu. Aku tidak akan memberitahumu karena kau yang akan mengingatnya sendiri, tapi aku juga tidak akan memaksamu untuk mengingatnya terlalu keras karena itu akan membuat kepalamu sakit. “ papar Taemin dan sama sekali bukan merupakan jawaban bagi Key.

Seolah mengerti dengan tatapan Key yang meminta jawaban yang lebih, Taemin segera melontarkan pertanyaan.

“Ceritakan apa saja yang kau ingat sebelum masuk rumah sakit!”

Meskipun sedikit bingung, tapi Key mengikuti keinginan dokter yang menanganinya itu.

Perlahan tapi pasti Key menceritakan detil kecelakaan yang menimpanya.

“Aku,Jinki,Hye ri dan So Hee pergi ke villa untuk liburan musim panas. Di Busan, keluargaku punya villa di sana. Awalnya semua berjalan normal, tapi mungkin itu salahku karena membawa Nicole dan Luna dalam liburan kami.”

“Nicole dan Luna? Siapa mereka?” Taemin bertanya, sementara tangannya tak henti-hentinya menulis dalam jurnal pribadi pasien.

“Mereka temanku. Ani! Nicole temanku saat aku sekolah di USA dan Luna adalah teman Nicole.” Terang Key.

“Lalu apa yang terjadi?” Taemin kembali melontarkan pertanyaan.

“Eopssoe! Semuanya normal, hingga aku membuat Hye ri marah. Kami bertengkar hebat hingga aku memutuskan untuk mengakhiri liburan lebih cepat dan pulang. Aku yang mengendarai mobil, sepanjang jalan aku dan Hye ri masih bertengkar mulut sehingga kami mengalami kecelakaan. Mobil kami terperosok.” Lanjut Key, ia kemudian menarik nafas panjang.

“Apa yang membuat Hye ri marah?” diluar dugaan Key, dokter muda itu menanyakan hal yang justru tidak ingin Key bahas.

Key hanya diam, terlihat jelas penolakan dari wajahnya

“Aku harus tahu agar bisa membantumu.” Seolah bisa membaca pikiran Key, Taemin segera melontarkan pernyataan barusan.

Akhirnya Key kembali membuka mulut setelah menarik nafas panjang, ada sebuah penyesalan besar di wajahnya saat ia berusaha menceritakan hal yang terjadi.

“Nicole adalah sahabat baikku saat kami di USA dulu, tak ada yang salah hingga kami pulang ke Korea dan aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku, Min Hye ri. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan bagus itu, dan segera mendekati Hye ri hingga dia mau menjadi yeochin ku.”

Lee Taemin menyimak setiap kata yang diucapkan Key, tak satu katapun yang ia lewatkan.

“Aku tidak tahu hingga Nicole bertengkar dengan Hye ri di sebuah café. Sejak saat itu aku tahu bahwa Nicole menyukaiku dan ia tidak akan membiarkanku bersama Hye ri. Nicole selalu mengganggu Hye ri bahkan membuat Hye ri sengsara, sejak saat itu aku membenci Nicole…” Key menggantungkan ceritanya, seolah kejadian itu baru saja terjadi di depan matanya.

“… saat liburan, Nicole dan Hye ri kembali bertengkar. Aku yang memisahkan mereka, saat itu Nicole berlari dan aku mengejarnya karena aku telah berkata kasar padanya. Aku terus mengikutinya hingga ke gudang di belakanng villa. Awalnya aku hanya ingin meminta maaf , tapi Nicole kemudian memelukku, ia terus mendekat ke arahku, membuatku tak bisa menghindar dari ciumannya. Dan saat itu Hye ri telah berada di belakang kami…” akhirnya Key meyelesaikan ceritanya, matanya berkaca-kaca mengingat apa yang sudah ia lakukan.

Taemin menaruh jurnalnya ke atas meja, ia menarik nafas.

“Jadi itu yang membuatmu terus dihantui rasa bersalah pada Hye ri?” tanya Taemin dan dijawab dengan anggukan kecil oleh Key.

Untuk beberapa saat Key hanya diam, tenggelam dalam kenangan buruknya itu. “Tapi tak ada yang kuingat tentang luka ini.” lagi lagi Key mengacungkan tangan kirinya.

“Kim Ki bum, kau akan mengingatnya segera. Ceritamu tadi sudah memperlihatkan kau mengalami kemajuan dalam penyembuhan. Aku tidak bisa membantu banyak, tapi hanya ini yang bisa kukatakan padamu, kau harus memaafkan dirimu sendiri. Rasa bersalahmu terhadap Hye ri membuatmu melupakan beberapa hal, dan aku sarankan bersikaplah baik pada Nicole. Kau tahu? Kejadin itu sudah berlalu.”

“tapi seonsaengnim…” Taemin segera memotong ucapan Key.

“Nicole tidak akan menyakiti Hye ri lagi. Percayalah padaku. ” Meskipun bingung, tapi Key mengangguk lemah.

_Key PoV_

Jonghyun hyeong segera berhambur ke arahku begitu aku keluar dari ruangan Taemin seongsaengnim.

“Eottae? apa yang dikatakannya?” tanya Jonghyun hyeong.

“Eopsseo!” jawabku lemas, aku merasa check up pertama ku ini sangat sangat tidak menyenangnkan.

Jonghyun hyeong masih diam di tempatnya, sementara aku mulai berjalan lemas meninggalkannya.

“Kibum-ah! Tunggulah sebentar, aku harus membicarakan sesuatu dengan Taemin seongsaengnim.”

Bisa kudengar langkah Jonghyun hyeong yang menjauh dariku, tapi aku tidak mempedulikannya dan memilih mencari mesin penjual minuman ringan di lobi.

***

Aku kembali meneguk Cola ku yang tinggal setengah seraya mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lobi rumah sakit.

Hanya perawat dan beberapa pasien yang lewat, membosankan!

Jonghyun hyeong mana sih? Aku ingin pulang.

Ah! Sebaiknya aku menelpon Hye ri saja, apa yang sedang dilakukan yeoja ku ya?

Aku baru mengeluarkan ponsel dari saku jaket ku ketika seseorang menepuk bahuku.

“Key?!” sapanya membuatku spontan menoleh ke sumber suara.

Aku terkejut sekaligus gembira melihat sosok namja jangkung dengan mata besar yang duduk di sampingku.

“Minho?” aku berseru kemudian memeluknya.

“Key? Syukurlah kau sudah sehat. Aku senang melihatmu kembali seperti semula. Mianhae aku belum sempat menjengukmu.” Ucap Minho dengan wajah menyesal, ia melihat pergelangan tangan kiriku sekilas.

“Gwaencanha, pasti kau sangat sibuk di kampus kan? Sayang aku baru melanjutkan kuliahku tahun depan.” Lagi-lagi perasaan tidak nyaman seperti ini muncul.

“Kau tenang saja Key, istirahat adalah hal terpenting untukmu. Aku akan membantumu tahun depan.” Minho menaruh kedua tangannya di bahuku.

“Thanks.” Kataku singkat.

“Btw, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku kemudian.

“Ah! Adik eomma ku masuk rumah sakit, serangan jantung. Aku kemari untuk menjenguknya. How ‘bout you?” mata besar Minho memandang ke arahku.

“Check up. Ini check up pertamaku dan itu sangat tidak menyenangkan.” Gerutuku mengingat seperti apa proses check up yang baru saja kulalui.

Minho tertawa lepas, tawanya yang khas “Haha, kau harus mulai terbiasa dengan serangkaian proses bernama penyembuhan.”

Aku hanya tersenyum pahit.

Selama beberapa detik aku dan Minho hanya diam, aku sibuk dengan pikiranku sendiri mengenai beberapa hal yang kulupakan karena koma.

Sesuatu melintas dalam pikiranku dengan cepat.

“Minho-ya! Bisakah kau membantuku?” tanyaku sedikit memaksa.

“mwoya?” Minho balik bertanya dengan wajah yang sedikit bingung, membuat kedua bola matanya terlihat lebih besar.

“Dokter bilang aku melupakan beberapa hal karena koma. Bisakah kau membantuku mengingatnya?” tanpa basa basi aku segera mengutarakan tujuanku.

“My pleasure.”  Jawab Minho ringan.

“Look! Aku lupa bagaimana luka ini bisa ada di tanganku.” Kataku seraya menyodorkan tangan kiriku yang dibalut perban.

Seketika Minho membulatkan kedua mata besarnya, seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

“Kau benar-benar tidak mengingatnya?” mata Minho memancarkan keraguan yang besar.

“Aku tidak akan bertanya jika aku mengingatnya. Kau pasti tahu kan? Tell me!” kataku mulai tak sabaran, aku yakin Minho tahu.

Dengan enggan Minho memandang tangan dan mataku bergantian, seolah ia sedang mempertimbangkan sesuatu. Aku tahu Minho bukan tipe orang yang sembarangan bicara,  jika wajahnya seperti ini artinya yang akan ia bicarakan bukanlah hal sepele.

“Eomma dan Hye ri mengatakan ini adalah luka yang kudapat saat kecelakaan mobil sebelum aku koma. Tapi ini tidak wajar Minho.” Kataku lagi agar Minho segera memberitahuku apa yang ia tahu tentang luka aneh ini.

“Hye ri?” Minho mengernyitkan dahinya begitu ia mendengar nama Hye ri.

“Hye ri yang mengatakannya? Kapan?” Minho menghujaniku dengan pertanyaan seolah ia tahu bahwa apa yang kukatakan tidak benar.

“mmm… saat aku pulang dari rumah sakit. Dia seperti menyembunyikan sesuatu dariku.” Lanjutku lagi.

Minho hanya diam memandangiku dengan kedua mata besarnya, aku yakin ada sesuatu yang disembunyikannya.

“Key, kau yakin kau tidak mengingat semuanya? Kau tidak ingat bagaimana kau masuk rumah sakit dan koma selama 7 hari?” Minho malah menanyakan hal yang lain, membuatku semakin tak sabaran.

“Ani! Aku hanya tidak ingat bagaimana aku mendapatkan luka ini.” kataku seraya mengangkat tangan kiriku.

“Jadi kau ingat bagaimana kau masuk rumah sakit? Tapi kenapa kau bilang Hye ri…” belum sempat Minho menghabiskan kalimatnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.

“Ah! Sebentar Key, ini eommaku.” Kata Minho kemudian beranjak perlahan menjauh dariku.

Tak berapa lama ia kembali, sambil setengah berlari ia menghampiriku.

“Key, mianhae aku harus pergi sekarang. Aku akan memberitahumu apa yang tidak kau ingat, tapi nanti malam ya? Kita bertemu di café biasa jam 8, eottae?” Minho terlihat tergesa-gesa.

“Geurae, jam 8 malam ini di café biasa.” Jawabku cepat.

Minho segera berlari setalah melambaikan tangannya padaku. Aku terus memperhatikan punggungnya yang semakin menjauh dari lobi rumah sakit hingga akhirnya menghilang dari pandanganku.

“Itu Minho kan?” suara Jonghyun hyeong yang tiba-tiba muncul dari belakang mengagetkanku.

“mmm.” Gumamku pelan.

“Kau sudah selesai hyeong? Ayo kita pulang! Aku ingin bertemu dengan Hye ri.” Ajakku seraya melangkah ringan, sementara Jonghyun hyeong masih terpaku di tempatnya.

=TBC=

 

 

 

3 thoughts on “Dazzling Autumn – Part 3

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s