Dazzling Autumn – Part 4

Dazzling Autumn – Part 4

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew]|Min So Hee |The rest of SHINee members|Nicole KARA|Luna f(x)

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Friendship, Horror,Romance,Mystery

Rating             : PG 15

_Key PoV_

Tubuhku merosot saat melihat kobaran api tepat di hadapanku.  Api yang menyala itu terus melahap semua benda yang ada di hadapannya tanpa sisa.

Where I am? Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Jinki, Nicole dan Luna. Mereka terduduk kaku di belakangku, tak kalah terkejutnya melihat kobaran api itu.

Ini… di villa?ah! ne, bagaimana aku bisa lupa bahwa kami sedang menghabiskan liburan musim panas di sini? Tapi mana Hye ri dan So Hee?

“Hei Jinki, mana Hye ri dan So Hee?” tanyaku sedikit panic. Jinki hanya memandangku dengan pandangan yang sulit diartikan.

Selang satu jam api segera padam, samar-samar aku melihat beberapa orang berjalan ke arah kami.

Petugas kepolisian, mereka mengangkut dua kantong berwarna orange.

Deg! Rasanya darahku naik hingga ke ubun-ubun, kepalaku serasa berputar-putar.

Dua kantung mayat? Lalu, di mana Hye ri dan So Hee?pikiranku sudah mulai kacau.

Pluk!

Sesuatu jatuh dari salah satu kantung mayat saat berlalu di hadapanku. Aku segera mendekat dan memungutnya.

Tuhan! Aku tersentak kaget saat menyadari bahwa itu adalah necklace chainku, ada sedikit bekas hangus.

“Jamkamman!” ucapku cepat sebelum petugas mengangkut kantung mayat ke dalam mobil.

Mereka berhenti dan menatapku, aku berjalan perlahan dengan lutut gemetar.

Seolah bisa membaca pikiranku, dua petugas itu menurunkan kantung mayat dan membukanya perlahan.

Tenggorokanku tercekat begitu melihat mayat yang sudah hangus terbakar, bahkan aku tidak bisa mengenalinya.

Perlahan aku mendekat untuk mencari ciri-ciri lain yang mungkin bisa kukenali sebagai seseorang.

Grab!

Tiba-tiba tangan hangus si mayat menggenggam pergelangan tangan kiriku.

“Aarrggghhh!” aku berteriak sejadi-jadinya, mengingat aku punya luka serius di sana.

Tapi mayat tersebut menggenggam tanganku lebih erat, membuatku berteriak semakin kencang.

Sekuat tenaga aku berusaha melepaskan tanganku, berusaha mencari pertolongan pada dua petugas tadi.

SIAL! Ke mana mereka?

Aku mengedarkan pandangan. KOSONG! Tak ada siapapun, para petugas tadi, Jinki, bahkan Nicole dan Luna sekalipun.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku kembali berusaha melepaskan tanganku, hingga aku menyadari tak ada luka apapun di pergelangan tanganku. Bagaimana bisa?

Rasa takut terus menyelimutiku, tanpa memikirkan soal luka aku kembali berusaha melepaskan tanganku.

Di luar dugaan, mayat yang hangus terbakar itu membuka kedua matanya yang sedikit lengket, ia kemudian bangkit dan segera berteriak tepat di depan wajahku.

“PEMBUNUH!!!!!!!!!!!!!!!”

“Aaaarrrrgggghhhhhhhhh!” teriakku sekencang-kencangnya.

Dengan nafas tersengal aku mendapati diriku di atas ranjang kamar.

Samar-samar cahaya matahari menelusup melalui celah-celah tirai yang tertiup angin.

Tubuhku telah dibanjiri keringat dingin.

Hanya mimpi! Syukurlah!

Aku menghela nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diriku dan meyakinkan bahwa kejadian mengerikan tadi hanyalah sebuah mimpi.

Perlahan aku bangkit dan duduk, mencoba mengembalikan kesadaranku serta mengatur nafas.

What a nightmare! Mimpi barusan benar-benar seperti nyata.

Aku segera menyambar segelas air putih yang berada di meja kecil di samping ranjangku dan meneguknya tanpa ampun.

Tubuhku rasanya masih gemetaran. Perlahan aku menyentuh dadaku, mencari sesuatu yang tergantung di sana.

Necklace chain dari Hye ri, aku mengelus pelan bagian yang sedikit hangus itu, sama persis seperti yang ada di mimpi.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ah! SIAL! Kepalaku sakit.

Aku masih memijit-mijit ringan pelipisku saat tiba-tiba pintu kamarku terbuka.

“Kibum-ah, ireonasseo?“ Jonghyun hyeong dengan t-shirt putih tanpa lengannya terlihat setengah berlari, headset putih mengepit lehernya.

Keringat menetes dari pelipis dan lehernya, bisa kutebak ia baru selesai jogging.

“Kibum-ah, gwaencanha?” tanya Jonghyun hyeong, kemudian ia berjalan mendekatiku.

“Ah! Ne,gwaencanha.” otakku baru bisa memproses informasi dari Jonghyun hyeong.

Jonghyun hyeong duduk di tepi ranjang “Jinjja?kau terlihat tidak sehat, haruskah kita ke rumah sakit?”

“Aniyo hyeong, I do really fine. Aku hanya sedikit pusing.” Ucapku dan kembali memijit-mijit pelipisku yang masih dibanjiri keringat.

Jonghyun hyeong memandangku beberapa detik, seolah ia sedang memikirkan sesuatu “Aku dapat telpon dari Jinki, Minho hilang.”

Deg! Minho? Apa yang terjadi padanya?

Bukannya semalam kami ada janji untuk bertemu? Tapi seingatku semalam Minho tidak datang.

Kesadaranku segera terkumpul sepenuhnya begitu mendengar Minho hilang.

“Jinki menelponmu berkali-kali sejak subuh, tapi tak ada jawaban darimu. Makanya ia menelponku.” Tambah Jonghyun hyeong.

Apa yang terjadi pada Minho? Apa ia kabur dari rumah?Tidak mungkin! Ia bukan tipe orang seperti itu.

Tapi… Aish! Kenapa di saat seperti ini Minho malah menghilang? Dia belum sempat mengatakan apapun tentang lukaku ini.

“Jeongmal gwaencanha?” tanya Jonghyun hyeong lagi, membuyarkan pikiranku tentang Minho.

“Ah! Hyeong,apa keluarga Minho sudah melapor polisi?” tanyaku tanpa menghiraukan pertanyaan Jonghyun hyeong.

“Belum, belum 24 jam. Polisi tidak akan memprosesnya.” Papar Jonghyun hyeong.

“Mungkin Minho menginap di rumah teman yang lain.” Aku berusaha berpikiran positif.

“Ani, Jinki bilang Minho adalah tipe namja yang patuh. Ia akan menelpon eomma nya jika ia pulang terlambat atau bahkan tidak pulang. Tapi semalam Minho tidak memberi kabar apapun. Hingga tadi pagi Ponsel Minho tidak bisa dihubungi.” Jelas Jonghyun hyeong yang kemudian mematikan iPad nya.

Aku hanya diam, masih belum bisa memikirkan apa yang terjadi pada Minho? Ke mana dia?

Jonghyun hyeong menatapku, entah apa yang dipikirkannya.

“Hyeong, bantu aku mencari Minho.” Pintaku seraya beranjak menuju kamar mandi.

_Jinki PoV_

Aku segera melesat menuju tempat yang dikatakan Key di telpon.

Yeah! Minho hilang! Entah apa yang terjadi padanya, yang jelas bukan sesuatu yang baik.

“Wasseo?” Key segera bangkit dari kursi kayu taman kota begitu ia melihatku.

Ia terlihat amat gelisah, aku bisa melihat kekhawatiran besar dari matanya.

“Kita mulai dari mana?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Kita mulai dari tempat olahraga di tengah kota, Minho biasa bermain basket di sana. Jika tidak ada, kita ke tempat sauna di sampingnya. Oh! Kuharap kita menemukan Minho di tempat basket.” Jelas Key, seolah ia sudah merencanakan tempat mana saja yang akan kami datangi untuk mencari Minho.

Tanpa mengatakan apapun aku segera berjalan menuju tempat aku memarkirkan mobilku.

***

Aku melirik arlojiku,  jam 2.

Sudah 4 jam kami mencari Minho dan masih belum menemukannya.

Sebenarnya ke mana si Minho itu?

Aku dan Key sudah tidak ada ide lagi ke mana mencari Minho.

Tes…tes…tes…

Hujan mulai turun, aku segera duduk di bangku halte bus.

Memandangi jalanan dan kendaraan yang lalu lalang.

Pikiranku seketika menerawang saat aku menyadari tempat ini, aku menatap setiap benda yang ada di sini.

Memandang iklan-iklan yang tertempel di dinding halte, tempat aku biasa berdiri menunggu bus saat SMA, dan mengelus bangku yang kududuki.

Aku menoleh saat sesuatu yang hangat menyentuh pipi kiriku.

Kulihat Key menempelkan gelas kertas yang bisa kutebak berisi kopi, aku segera meraihnya dan mulai menyesapnya ringan.

“Ke mana lagi kita harus mencari Minho?” tanya Key yang masih tetap berdiri di sampingku.

“Molla.” Jawabku singkat tanpa sedikitpun memandang ke arah Key.

Sejujurnya kini pikiranku sedang sibuk. Bukan sibuk memikirkan ke mana Minho menghilang, melainkan sibuk memikirkan seseorang yang lain.

Seseorang yang sangat kurindukan.

Sudah satu tahun berlalu sejak kejadian itu, tapi semuanya seperti baru saja terjadi.

Yeah! Halte bus ini mengingatkanku padanya, di tempat ini lah aku pertama kali bertemu dengannya.

FLASH BACK

SIAL! Kenapa hujannya deras sekali? Dan aku tidak membawa payung!Damn!!!

Aku terus mengutuki hujan yang turun secara tiba-tiba ini.

Kaki ku segera melangkah menuju halte bus yang sepi.

Aku menepuk-nepuk lengan bajuku yang sebenarnya sudah basah kuyup, kemudian mengacak rambutku.

Ah! Hujan seperti ini kapan berhentinya?

Aku meraih ponsel yang tersimpan aman dalam ranselku, tentu saja aku akan menelpon eomma dan memintanya menjemputku.

Aku segera menekan tombol ponsel saat tiba-tiba ponselku berbunyi

Pip..pip..pip..

ATTENTION BATTERY LOW!

Kemudian mati.

Ah!SIAL! mengapa disaat seperti ini aku lupa mengisi baterai? Ah! Hari ini benar-benar sial!!!

Aku hanya diam termenung memandangi hujan, berharap hujan sialan ini segera berhenti.

“na na na na na na…

Na na na na na na…”

Aku segera menoleh ke arah sampingku saat mendengar seseorang bersenandung.

Kulihat seorang yeoja berambut panjang berdiri di sana.

Sejak kapan ia ada di sana? aku sama sekali tidak menyadarinya.

Rambut hitamnya sedikit basah, bagian atas seragamnya juga basah. Ia memegang payung ungu yang menghalangi wajahnya.

Tangannya kirinya terulur, membuat tetesan hujan membasahinya.

Yeoja itu terus bersenandung, dan entah sejak kapan aku terus menyimaknya dan memandanginya.

Ada sesuatu-entah apa yang membuatku ingin melihat wajahnya.

“Kiss the rain?” gumamku yang sebenarnya kutujukan pada diriku sendiri.

Lagu yang disenandungkan yeoja itu adalah lagu milik Yiruma-Kiss the rain.

Yeoja itu segera menarik payungnya, membuatku bisa melihat wajahnya.

Deg! Jantungku berdebar kencang saat melihat mata besar itu, bibir yang merah meskipun ia terlihat kedinginan.

“Kau tahu lagu ini?” tanyanya kemudian tersenyum ringan.

Manis, senyumnya sangat manis.

“Ah!mianhae aku mengganggumu.”  Kataku cepat dan menundukkan kepalaku.

“Gwaencanha, aku senang bermain piano. Jadi hanya lagu semacam itu yang bisa kusenandungkan.” Katanya berjalan mendekat ke arahku.

Deg..deg..deg.. Hey apa-apaan ini? kenapa aku seperti ini?

Aku masih menundukkan kepalaku dan bisa kurasakan yeoja itu sedang menatapku.

“Sepertinya kita satu sekolah.” Ucapnya pelan.

“Ne?” spontan aku mengangkat kepalaku dan memandang seragamnya.

Maja! Seragamnya sama denganku, kenapa aku tidak menyadarinya?

Aku segera menundukkan kepalaku lagi saat mata kami bertemu.

Ah! Kenapa aku seperti ini? ayolah, ini bukan pertama kalinya aku melihat yeoja cantik.

“Oh! Kau mimisan.” Ucap yeoja itu dan bisa kurasakan ia semakin mendekat.

Aku segera mengangkat kepalaku dan menyentuh hidungku, benar saja! cairan pekat berwarna merah telah berada di sana.

Bagaiamana bisa ini terjadi? Ah! Aku baru ingat, jika kedinginan aku akan mimisan.

“gwaencanha?” tanya yeoja itu, wajahnya sedikit khawatir.

“Ah! Gwaencanha, aku biasa seperti ini jika kedinginan.” Kataku seraya bergeser 3 langkah ke samping manjauhinya.

Aku segera meraba saku celanaku, berusaha mencari sapu tangan.

Tidak ada! Ah! Kenapa aku sial sekali hari ini?

Aku kembali menyeka hidung dengan punggung tanganku, darahnya semakin banyak. Mengapa kali ini tidak mau berhenti?

“Ini, pakai ini saja.” entah sejak kapan yeoja itu sudah berada di dekatku lagi.

Ia menempelkan sesuatu di salah satu lubang hidungku yang kutahu bukan saputangan.

Aku mencabutnya dengan cepat “Boneka?” gumamku pelan.

Yeoja itu menempelkan lengan boneka beruang kecil pada hidungku.

“Hehe, itu gantungan tas ku. Kurasa untuk sementara ia akan beralih fungsi.” Katanya seraya merebut boneka beruang itu dari tanganku dan kembali menempelkan bagian lengannya pada lubang hidungku.

Aku hanya bisa diam memandangi wajahnya yang terus tersenyum. Cantik sekali.

Entah berapa menit berlalu, aku dan yeoja itu hanya brdiri berdampingan dalam diam.

 “Ah! Hujannya sudah mulai reda. Rumahmu di mana? Jika satu arah aku akan membagi payungku denganmu.” Katanya ringan.

“Aku? Ah! Tidak usah, kau pulang duluan saja.” kataku cepat.

Yeoja itu memandangku dengan pandangan yang sulit diartikan.

“geurae, aku duluan ya. Annyeong.” Ucapnya kemudian berjalan perlahan menghindari kubangan air.

Diam-diam aku memandanginya dan segera teringat sesuatu

“jamkamman.” Spontan aku melangkahkan kaki ku keluar halte, membuat tetesan hujan yang ringan ini kembali membasahi diriku.

Yeoja itu menoleh “ini. gomawo.” Kataku seraya mencabut boneka beruangnya dari hidungku.

Ia memandang boneka beruang dan bahuku bergantian, ada apa dengan bahuku?

Diluar dugaan yeoja itu malah membagi payungnya denganku, membuat jantungku kembali tak karuan.

Ia merebut boneka beruangnya dari tanganku dan kembali menempelkannya pada salah satu lubang hidungku.

“Kau masih memerlukannya saat ini, kau bisa mengembalikannya di sekolah kan?” ucapnya disertai senyum manis yang entah sejak kapan membuat waktu berhenti berjalan.

Aku hanya diam mematung “kembali ke tempatmu, lihat! Bajumu basah lagi.” Ucapannya seperti sihir, tanpa kusadari aku melangkah mundur menuju kursi halte.

Ia berbalik untuk terakhir kalinya dan melempar senyum ke arahku kemudian berlalu.

“Yaa!! Aku Lee Jinki, siapa namamu?” teriakku begitu aku ingat bahwa kami belum berkenalan.

Yeoja itu kembali berbalik kemudian tersenyum, bisa kulihat wajahnya sedikit memerah.

“So Hee.. Min So Hee.”

END OF FLASHBACK

“Jinki-ya, gwaencanha?” suara Key membuyarkan kenanganku tentang So Hee.

Ia duduk tepat di sampingku.

“Ah!ne, gwaencanha.” Kataku cepat seraya menyeka airmata yang entah sejak kapan menetes dari kedua mataku.

“Jinjja? Kau menangis, apa kau mengingat sesuatu?” tanyanya lagi.

“Aniyo, aku tidak mengingat apapun.” Ujarku cepat, tentu saja! aku tidak mungkin mengatakan pada Key bahwa aku merindukan So Hee. Ia tidak akan mengerti.

Rrrrrrr….Rrrrrrr…

Aku segera meraih ponselku yang bergetar.

“ne.” jawabku cepat.

“Mwo? jinjja? Ah baguslah. NE?” aku senang sekaligus terkejut mendengar kabar yang baru saja kudengar dari seseorang di sebrang sana.

_Key PoV_

“ne, kami ke sana.” ucap Jinki sebelum memutuskan sambungan ponselnya.

“nugu? Apa Minho sudah ditemukan?” tanyaku tak sabaran.

“ne.” jawab Jinki ringan.

“Syukurlah.”

“Oya, tadi siapa yang menelponmu?” tanyaku penasaran.

“mmm… Jonghyun hyeong.” Jawab Jinki, secercah kekhawatiran terpancar dari mata sipitnya.

“Jonghyun hyeong? Kenapa ia menelponmu? Kenapa ia tidak menelponku?” entah mengapa aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Molla, sudahlah Key. Ayo kita pergi.” Ajak Jinki kemudian berlalu meninggalkan halte meskipun hujan belum reda.

***

Pikiranku mulai kacau saat Jinki membelokkan mobilnya menuju rumah sakit.

Apa Minho ada di rumah sakit? Aku tahu pasti sesuatu yang buruk telah terjadi padanya, tapi kuharap ia baik-baik saja.

“Apa Minho baik-baik saja? apa yang terjadi padanya?” tanyaku sedikit ragu. Entah mengapa sejak aku melihat Jinki menangis di halte tadi, aku tidak mau mengganggunya dengan pertanyaanku.

Jinki hanya diam, aku yakin ia dan Jonghyun hyeong menyembunyikan sesuatu dariku.

Perlahan Jinki menoleh ke arahku yang duduk tepat di samping nya “kita akan tahu setelah melihatnya.”

***

Aku berlari tak sabaran menuju ruangan Minho berada, kulihat Jonghyun hyeong telah berada di sana.

Ia , Hye ri, Nicole, Luna dan beberapa orang yang kutahu sebagai keluarga Minho duduk di kursi  selasar ruangan tempat Minho berada.

Jonghyun hyeong segera bangkit dari duduknya begitu ia melihatku.

Wajahnya sedikit pilu, Tuhan! Apa yang terjadi?

“Mana Minho?” tanyaku cepat.

Tapi Jonghyun hyeong ataupun yang lainnya hanya diam.

“Key.” Nicole segera berhambur ke arahku dan memelukku.

“MANA MINHO?” tanyaku sekali lagi dengan intonasi yang lebih tinggi.

Aku segera menyingkirkan tangan Nicole yang melingkar di leherku.

“Minho…” dari arah belakang Jinki menggantungkan kalimatnya, ia kemudian menundukkan kepalanya.

Pandanganku kemudian tertuju pada eomma Minho yang baru keluar dari ruangan tempat Minho berada.

Suaminya nyaris menopang tubuhnya yang lemas, ia menangis sambil mengucapkan nama Minho berulang-ulang.

Tuhan! Apa yang terjadi. Tanpa meminta ijin dari siapapun aku segera berlari ke ruangan tempat Minho berada.

Langkahku terhenti, tenggorokanku tercekat begitu aku melihat sosok Minho yang terbujur kaku di atas ranjang besi tempat orang memandikan mayat.

Lututku bergetar hebat, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Minho…

“Apa yang terjadi pada Minho?” tanyaku pada 3 orang petugas berseragam putih.

Mereka sedikit tersontak saat menyadari kedatanganku.

“Seseorang membunuhnya, ia tewas akibat pukulan di bagian belakang kepalanya. Pukulan yang membabi buta, 23 pukulan di sekitar wajahnya dan 2 pukulan di belakang kepalanya yang menyebabkannya tewas.” Papar salah satu dari petugas itu.

Minho-ya… aku berjalan perlahan mendekati mayat Minho.

Wajahnya sangat mengenaskan, dipenuhi luka. Sementara bekas jahitan berbentuk vertical memanjang dari perut hingga ujung lehernya.

“Pelakunya pasti sangat dendam pada Minho, hasil autopsy hanya menemuan sedikit reaksi minuman keras di tubuhnya. Itu tidak membuatnya mabuk. Perkiraan kematian jam 23 tadi malam.” Petugas berseragam putih itu kembali menjelaskan.

Aku tak bisa berkata apapun lagi, hanya bisa menundukkan kepalaku di hadapan tubuh kaku Minho sambil menangis.

Siapa yang melakukan ini pada Minho?

Inikah alasan semalam Minho tidak menemuiku? Apa yang terjadi?

Seharusnya aku tidak meminta Minho untuk menemuiku semalam, ini tidak akan terjadi.

Seketika bayangan Hye ri yang berteriak sambil memukul mukul jendela kembali melintas dalam pikiranku.

“nngggh” aku mengerang pelan.

Kemudian muncul kobaran api yang besar “Ah!”

Necklace chain yang terjatuh dari salah satu kantung mayat “Argh!”

Mayat hangus yang berteriak padaku “Huuuh!”

Aku menahan tubuhku pada pinggiran ranjang besi tempat Minho terbaring, kepalaku pening.

Kini tiba-tiba muncul bayangan Nicole yang berkata “Benar, aku yang melakukannya.”

“Aaarrrggh!” tubuhku mulai merosot, tanganku masih berpegangan pada ujung ranjang besi.

Kemudian kembali muncul bayangan lain dalam kepalaku, aku melihat diriku sendiri dalam kamar.

Aku memandangi foto Hye ri dengan pisau dapur di tanganku.

“Arrgghh! Sakit!!!” Aku berteriak pelan, kepalaku sudah lebih dari pening.

Selanjutnya aku melihat diriku dengan membabi buta memotong urat nadiku sendiri. Jonghyun hyeong berlari ke arahku.

“Andwae!!!” aku menekan pelipisku.

Kemudian mucul bayangan Minho yang berkata “Itu yang terjadi, percayalah!”

“STOP IT!” gumamku lagi, kali ini aku telah terduduk di lantai.

Bayangan demi bayangan terus muncul bergantian dalam kepalaku, aku tak bisa menghentikannya. Tuhan! Sakit sekali!

Kali ini aku melihat diriku sendiri yang berteriak ke arah Minho sambil berteriak “GEOTJIMAL!!!!!” ,kemudian memukulkan sesuatu ke kepalanya.

“ANDWAEEEEE!!!!!!” hanya suara langkah kaki yang kudengar sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

***

Aku membuka mataku perlahan, bau kloroform seketika menyeruak memasuki hidungku.

“Kibum-ah gwancanha?” suara Jonghyun hyeong yang pertama kali terdengar, meskipun aku tahu ada sosok lain di belakangnya.

“Hyeong… kepalaku sakit sekali.” Kataku sambil berusaha bangkit.

“gwaencanha, kau istirahat saja.” ucap Jonghyun hyeong sambil mendorong pelan tubuhku.

Jonghyun hyeong hanya diam, aku merasa semuanya semakin aneh. Semua orang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Hyeong, bisakah kau meninggalkanku berdua dengan Hye ri?” Pintaku yang dijawab oleh pandangan aneh Jonghyun hyeong dan kemudian ia meninggalkanku dan Hye ri.

“Hye ri-ya, katakan padaku apa yang kalian sembunyikan dariku!” pintaku tak sabaran.

“Tak ada yang kami sembunyikan baby.” Jawab Hye ri ringan.

“Geotjimal! Katakan padaku apa yang terjadi di Villa?”

Hye ri hanya tersenyum ringan, ia mendekat ke arahku dan membenamkan wajahku dalam pelukannya.

“Jika kau tak mengingatnya, kembalilah ke villa itu. Kau akan mengingatnya.”

=TBC=

 

 

 

6 thoughts on “Dazzling Autumn – Part 4

  1. omooo… eonni sbnrnya aku udah baca ff ini kalo gak salah thn lalu atau pas awal tahun di sf3si. tapi baru sampai part ini yg bagian mayat kebakar teriak pembunuh itu, aku lgsg brhnti baca!

    sumpah itu ngeri banget eon! apalagi waktu itu bacanya sekitar jam 1 malam.-. dan skrg aku baru berani baca lagi… penasaran juga sih sbnrnya apa yg trjdi sama hyeri dan sohee, juga minho.

    firasatku hyeri itu yg kebakar ya? trs key frustasi gt? smpai memorinya jg smpe hlng?

  2. Wowwww
    Baca ff ini pagi pagi adalah pilihan buruk
    Hahahaha
    Aku merinding disko nih say
    Harus kuakui ceritamu bner2 bkin penasaran
    Aku pengin tahu apa yang sebenarnya terjadi
    Its really good ff so far
    Lanjut next part yaaa

  3. Aish…serem! Minho sian matinya kenapa yak??? Aduuhhh…Key ga inget sama sekali yak tentang divila??? Emang knpa ya divila??? -_-
    Lanjut sajalah…

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s