[SongFic] Nothing Better

Disarankan sambil denger lagu Nothing Better yang dinyanyiin sama Jjong yaa ^^~

Main cast        :
Kim Jonghyun | Shin Aeri
Length             : ONE SHOOT
Genre              : Romance, Life,Songfic
Rating             : PG 15

Nothing Better

It always appeared before me
Your face, I remember
My heart that stopped short
You spitefully took my disfunctional heart
And with your bright smile
That’s how you easily opened my heart

It’s true, that is how I became your man
All my unpleasant memories, I no longer recall
Because the hand that holds me tight
is as warm as spring

And now like a dream my heart
has gradually stopped by your side
Without awakening for a single moment,
I dream an endless dream

And now like breathing,
if you were to always rest by my side
if you were to always remain this way
nothing better nothing better than you
nothing better nothing better than you

[Brown eyed soul]

Bulir-bulir air yang menetes dari langit sore tadi masih membasahi jendela ruang tengah Aeri.
Sekilas yeoja itu memandang ke luar jendela, kalau-kalau ia melihat sesosok namja bertubuh pendek dengan lengkungan indah di wajahnya.

Aeri menarik nafas, namja yang ia tunggu tak kunjung datang.
Cemas. Itulah yang bisa menggambarkan perasaan Aeri saat ini.

Namun kecemasannya segera hilang begitu ia melihat sebuah alat music yang dimainkan dengan cara menekan tuts-tuts berwarna putih dan hitam di hadapannya.

Aeri berjalan perlahan, mendekati tuts-tuts putih dan hitam yang berdiri tepat di samping jendela. Ia tersenyum simpul, ada seseorang yang diingatnya.

Perlahan jari-jari Aeri menyentuh satu tuts yang berada di tengah-tengah.

Teng

Dentingan tuts yang baru saja ditekannya membuat Aeri menyentuh tuts yang lain.

Aeri kemudian tergugah untuk duduk dan memainkan sebuah melodi yang ia suka.
Bukan! Bukan semata karena Aeri menyukai melodi itu, melainkan melodi itu telah menciptakan banyak kenangan bahagia bagi Aeri.

Aeri melempar pandangan ke luar jendela. Pandangannya menelusuri jalan setapak yang ada di sana.

1,2, Aeri menghitung dalam hati, berharap namja yang ia tunggu segera muncul dari sebuah titik terujung dari jalan setapak itu.

3,4,5 Aeri kembali menghitung. Namun namja itu masih belum menampakkan batang hidungnya.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Aeri, ia kemudian kembali pada alat music di hadapannya.

Aeri mulai memainkan jari-jari lentiknya di atas tuts piano, melodi mulai mengalun memenuhi ruang tengah yang sepi.

Sesekali kepala Aeri bergerak perlahan mengikuti irama permainan pianonya, matanya terpejam.
Aeri melengkungkan sebuah senyuman di wajahnya saat ia kembali teringat seseorang.

Your face, I remember
My heart that stopped short
You spitefully took my disfunctional heart

Ingatan Aeri berlari jauh ke waktu yang lalu. Tepatnya dua tahun yang lalu.

Saat ia dicampakkan namja yang sangat dicintainya, Aeri benar-benar kehilangan arah saat itu.

Ia tidak tahu ke mana harus melangkah, segala kenangan yang telah diciptakannya dengan namja itu membuat tiap langkahnya terseok-seok.

Bahkan bernafas pun terasa begitu sulit baginya.

Sempat terlintas dalam pikiran untuk mengakhiri hidup tanpa arahnya itu.

Namun Tuhan masih sangat menyayangi salah satu ciptaannya yang sempurna itu.
Tuhan mempertemukan Aeri dengan seorang namja bermata sendu.

***

“Kau suka bermain piano?” tanya namja itu dengan wajah polos.
Aeri mengangkat kepalanya dan menatap namja yang tanpa ia sadari sudah duduk di sampingnya.

Dengan mata sendunya, namja itu masih menatap Aeri. Menunggu jawaban dari bibir mungil Aeri.
Aeri hanya menatap namja itu, ia memperhatikan mata sendu yang indah itu, hidung yang sempurna, dan bibir merah yang tampak basah.

Aeri kembali menilik namja itu, ia yakin benar bahwa ia tidak kenal dengan namja yang kini duduk bersamanya di bangku rumah music tua.

And with your bright smile
That’s how you easily opened my heart

Cwisonghaeyo?” Aeri mengangkat kedua alisnya.

Namja itu tersenyum, perlahan tangan kirinya menjangkau pipi Aeri dan mengusap air mata Aeri.
Deg! Jantung Aeri berdetak lebih cepat saat jari-jari namja itu menyentuh pipinya.
Apa aku pernah bertemu dengan namja ini sebelumnya? Mengapa aku merasa damai saat ia menyentuhku?Pikir Aeri.

Jinjja? Kau tidak mengenalku?” namja itu kembali bertanya.

Aeri kembali menilik namja itu, ia menatap wajah namja yang kini berada satu jengkal di hadapan wajahnya.
Namja bermata sendu itu kembali tersenyum, “Ayo kita bermain piano, aku sangat suka bermain piano.” Katanya seraya menarik tangan Aeri menuju ruangan lain di mana sebuah piano tua berwarna putih berdiri kokoh di sudut ruangan.

Entah mengapa langkah Aeri terasa begitu ringan, ia mengikuti ke mana namja yang tak dikenal itu membawanya.

Si namja melepaskan tangan Aeri saat mereka tiba di hadapan piano putih dengan ukiran bunga di bagian penutup tutsnya.

Namja itu segera duduk dan membuka penutup tuts piano dan mulai menekan beberapa tuts.
Belum menciptakan melodi, namun tak lama sebuah melodi indah mengalun memenuhi ruangan tua itu.
Kemudian namja itu mulai bernyanyi, suara lembutnya menyempurnakan alunan melodi dari piano tua yang dimainkannya.

Deg! Aeri terdiam, lidahnya tercekat. Tak sepatah katapun yang mampu ia ucapkan.
Ia begitu mengenal suara indah itu, suara lembut dan merdu yang sempat mendamaikan hati seorang Aeri kecil.

Namja itu masih memainkan piano sambil bernyanyi, matanya terpejam menikmati alunan merdu yang menggema di ruangan tua.

Kedua telinga Aeri menyimak dengan baik suara namja itu, kemudian mengirim informasi ke otak dan memberitahu Aeri untuk membuka sebuah memori lama dalam ingatannya.

“Kau…” Aeri menatap namja itu lagi, berusaha menemukan sepasang mata sendu untuk meyakinkan bahwa kali ini ia tidak salah.

Si namja masih menikmati permainan musicnya tanpa memperdulikan Aeri.
Nothing better, Nothing better…” namja itu menatap Aeri, seulas senyum kembali terlukis di wajahnya.
Ia yakin bahwa yeoja di sampingnya kini telah mengenali siapa dirinya.

Aeri menatap lekat-lekat mata sendu yang sempat tak dikenalinya, bibirnya bergetar menahan tangis.
Kini pandangannya mulai kabur karena sesuatu mulai menggenangi kedua mata bulatnya.

“…than you…” namja itu kembali melanjutkan permainan musiknya yang diakhiri dengan nada tinggi.

Aeri membiarkan airmatanya jatuh begitu saja. Bukan! Ia bukan menangis karena mengingat namja yang baru saja mencampakkannya, melainkan karena ia telah menemukan si pemilik suara yang selalu mendamaikan hatinya dulu.

“Kau sudah mengingatku?” si namja beranjak dari kursi dan mendekati Aeri.
Aeri hanya diam, kemudian mengangguk ringan, ia memaksakan sebuah senyuman.

Uljima, aku bersama mu Shin Aeri. Kau akan baik-baik saja.” ucap namja itu di telinga Aeri, kemudian menarik tubuh Aeri ke dalam pelukannya.

Aeri menangis sejadi-jadinya, ia baru saja mendengar kalimat yang hanya diucapkan oleh satu orang saja di dunia ini.
Perlahan tangan kanan namja itu meraih tangan kiri Aeri, digenggamnya erat tangan Aeri seperti yang selalu ia lakukan 10 tahun yang lalu.
Ia menarik nafasnya, menghirup aroma rambut Aeri yang selalu sama dan sangat dirindukannya.

Gomawo, jeongmal gomawo kau kembali. Kau adalah malaikat penjagaku, Kim Jonghyun.” Bisik Aeri di tengah tangisannya.
Mereka tetap berpelukan, membiarkan piano tua menyaksikan pertemuan dua sahabat kecil ini, membiarkan laba-laba di atas sana yang tengah menyimak percakapan mereka, dan membiarkan butiran salju di luar sana jatuh ke atas bumi.
Aeri menggenggam erat tangan Jonghyun yang hangat seperti musim semi. Itu membuat hatinya damai.

All my unpleasant memories, I no longer recall
Because the hand that holds me tight
is as warm as spring

Senyumnya semakin mengembang saat Aeri mengingat kejadian di rumah music itu.
Ia tidak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan malaikat kecilnya di rumah music tua tempat ia belajar bagaimana menghasilkan melodi dengan menekan tuts-tuts berwarna putih dan hitam.

***

And now like a dream my heart
has gradually stopped by your side
Without awakening for a single moment,
I dream an endless dream 

Sejak pertemuannya kembali dengan sahabat kecilnya itu, Aeri benar-benar melupakan masa lalunya yang kelam.

Ia bahkan lupa sesulit apa hidupnya dulu saat ia dicampakkan namja yang dicintainya..
Ia dan Jonghyun tak pernah melewatkan sedikitpun waktu untuk bersama. Mereka membuat janji dan bertemu.

Entah itu di rumah music tua untuk bermain piano, atau di sebuah café hanya untuk menyesap secangkir latte hangat dan berbincang hingga larut.

Aeri menatap mata sendu milik Jonghyun, namja itu kini tengah meyesap macchiato panasnya yang baru sampai di atas meja.

Jonghyun tersenyum sambil sesekali tertunduk malu saat menyadari Aeri memperhatikannya.
Aeri terus memandang mata Jonghyun, tak pernah ia membayangkan bahwa sahabat kecilnya itu akan kembali menemuinya.
Pikiran Aeri kembali pada kenangan 10 tahun yang lalu saat pertama kali ia bertemu Jonghyun di rumah music.

Ia ingat betul namja kecil yang tiba-tiba memperkenalkan dirinya pada Aeri yang tengah menangis.
Ia juga ingat melodi-melodi indah yang dimainkan Jonghyun untuk membuat Aeri berhenti meratapi perceraian kedua orang tuanya.
Begitu juga tangan mungil Jonghyun yang selalu menggenggam erat tangan Aeri. Tangan yang hangat seperti musim semi itu.
Setelah perceraian kedua orang tuanya dan dicampakkan oleh namja yang dicintainya, kini Aeri seolah bermimpi bertemu seorang malaikat yang berjanji untuk selalu menjaganya.

Aeri mengeluarkan  buku “The Sands of Time” milik Sidney Sheldon dari tasnya, ia selalu membaca buku di tengah-tengah waktunya bersama Jonghyun.

Aeri terkejut saat mengetahui bahwa namja bernama Kim Jonghyun itu menyisipkan sebuah cincin berlian di halaman buku yang akan dibaca Aeri.

Saranghae.” Bisik Jonghyun begitu ia melihat wajah terkejut Aeri.
Mata Aeri berbinar memandangi benda berkilauan yang ada di hadapannya. Cahaya tiga batang lilin di atas meja membuat benda di hadapannya semakin berkilau.

Jonghyun menyentuh tangan Aeri dan mengenggamnya “Mau kah kau menikah denganku, Shin Aeri?” tanya Jonghyun mantap.

Mata Aeri berpindah pada kedua mata sendu Jonghyun yang kini meminta sebuah jawaban.
Pandangan Aeri mulai kabur karena benda cair yang memenuhi matanya.
Ia hanya memandang Jonghyun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ringan. Bibirnya tak sanggup mengatakan sesuatu karena terlalu sibuk menahan tangis.

Jonghyun tersenyum, kemudian mengecup punggung tangan Aeri.
Ia meraih cincin yang diselipkannya di halaman buku kemudian memasukkannya ke jari manis Aeri, membuat yeoja itu benar-benar meneteskan airmatanya.

Ini sangat indah bagi Aeri.
Dan bahkan jika kini Aeri sedang bermimpi sekalipun, ia lebih memilih untuk tidak pernah terbangun meskipun hanya sekali. Ini adalah mimpi yang abadi.

***

And now like breathing,
if you were to always rest by my side
if you were to always remain this way
nothing better nothing better than you

Nothing better, nothing better than you…” Aeri menyelesaikan permainan pianonya.

KLEK

Pintu depan terbuka.

Aeri membuka kedua matanya , aroma latte menyeruak saat ia menarik nafas.

Seorang namja dengan kaus putih yang sedikit basah berjalan menenteng kantung plastic berwarna putih di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memegang kantung kertas berwarna coklat.

“Ah! Wasseo?” Aeri beranjak dari duduknya dan berhambur ke arah namja bermata sendu yang baru saja masuk.

Mianhae kau menunggu lama, tadi hujan deras sekali. Aku berteduh di supermarket.” Ucap si namja sambil menurunkan kantung kertas ke atas meja.

Aeri segera berlari ke kamar dan mengambil handuk kering untuk namja nya yang basah.
Namja itu segera menangkap handuk berwarna putih saat Aeri melemparnya.

“Ini latte?” tanya Aeri seraya mengeluarkan benda dalam kantung berwarna coklat. Dan benar saja! Ada dua cup kertas panas. Aeri bisa segera mengenali bahwa cup yang lain berisi macchiato.

“Aku akan ganti baju dulu, setelah itu kita akan minum kopi bersama.” Si namja berlalu begitu saja menuju kamar.

***

Matahari belum tenggelam, hujan kembali membasahi tanah di luar sana.
Aeri menatap ke luar jendela tepat di samping kursi yang tengah ia duduki. Ia kembali menilik meja yang baru saja ia tata dengan rapi.

Taplak kotak-kotak berwarna hijau pastel, dua buah cangkir masing-masing berisi latte dan macchiato yang kembali ia hangatkan beberapa menit lalu , serta tiga batang lilin berwarna merah yang siap dinyalakan kapanpun matahari pulang ke peraduannya.

Dan terakhir ia menilik dirinya sendiri yang dibalut mini dress hitam dengan bagian punggung terbuka.
Aeri menoleh ke arah kamar, namja yang ditunggunya belum juga keluar. Mata Aeri beralih pada benda berkilauan yang tersemat di jari manis kirinya.

Ia tersenyum kemudian mengelus pelan benda berkilauan itu dengan tangan kanannya. Pikirannya kembali terbawa pada kenangan dua tahun yang lalu.

“Wah, semuanya sudah siap?” seorang namja berjalan mendekati Aeri dan duduk di kursi tepat di hadapan Aeri.
Ia tesenyum pada Aeri, kemudian mulai menyesap macchiato nya ringan.
Ia kembali menatap Aeri setelah menaruh cangkirnya. Ditiliknya Aeri dengan seksama.
Neomu yeppeo.” Ucapnya singkat, membuat semburat merah muncul di wajah Aeri.

Ia memandang langit di luar jendela yang mulai gelap, kemudian menyalakan lilin.
Namja yang menggunakan setelan kaus putih dan jas hitam itu mengeluarkan sesuatu dari pangkuannya.
Sebuah kotak yang terbungkus oleh kertas berwarna orange kini berada di hadapan Aeri.

“Apa ini?” tanya Aeri yang baru saja mengangkat cangkirnya.

Seonmul.” Ucap namja di hadapan Aeri, seulas senyum kembali diperlihatkannya.
Aeri menarik kotak yang disodorkan padanya , dengan cepat ia  mengetahui benda apa yang ada di dalam sana.
Sebuah kalung dari emas putih, bintang kembar menggantung di tengah kalung itu. Sangat indah!
Si namja segera beranjak dari kursinya dan meraih kalung itu, ia berdiri di belakang Aeri dan memakaikan hadiah pemberiannya.

Happy anniversary baby.” Bisik Jonghyun di telinga Aeri, kemudian namja itu mengecup pipi Aeri dari belakang.
Aeri menatap wajah suaminya, lagi-lagi ia tak bisa mengucapkan apa-apa karena bibirnya terlalu sibuk untuk menahan tangisan bahagia. Sama seperti dua tahun yang lalu.

Aeri segera beranjak dan memeluk Jonghyun.
Saranghae.” Ucap Jonghyun lagi.
Aeri melepas pelukannya, menatap dua mata sendu milik namja nya kemudian menarik kepala Jonghyun dan menciumnya.

Na do Saranghae, Kim Jonghyun.” Ucap Aeri setelah melepas ciumannya.
Mata mereka kembali bertemu, kini Jonghyun menyentuh pipi kiri Aeri. Didekatkannya bibir Aeri ke bibirnya, mereka kembali berciuman.

Keduanya memejamkan mata saat sapuan-sapuan kecil membasahi bibir mereka.
Mereka menikmati setiap detik dengan orang yang dicintai, membiarkan hujan turun dengan deras di luar sana, membiarkan lilin-lilin merah menyaksikan cinta mereka, dan bahkan membiarkan latte dan macchiato meguap ringan menjadi dingin.

nothing better nothing better than you

=FIN=

5 thoughts on “[SongFic] Nothing Better

  1. sweet, ku kira ini bakalan sad ending, eh trnyata enggak😀.
    Authornya banyakin lagi crita kayak gini ^^~. Hwaiting

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s