Archangel – Part 1

Archangel – Part 1

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader     : Onnes

Rating             : PG 15

“Thanks a bunch for my beta reader- Onnes eonni- yang udah kasih saran&kritik buat FF ini, sekaligus kasih judul ‘Archangel’ ^^~”

Yeoja berambut panjang itu melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit yang sepi.

Gesekan antara sepatu karet yang ia pakai dan lantai rumah sakit menimbulkan bunyi berdecit yang khas. Menggema di sepanjang koridor lantai tiga, tempat di mana pasien dengan penyakit kanker dirawat.

Dengan nafas sedikit tersengal, yeoja itu berhenti tepat di kamar no.299. Tangan kanannya segera terulur untuk memutar kenop pintu.

Perlahan dan berusaha untuk tak mengeluarkan suara, yeoja itu memutar kenop pintu dan mendorong pintu selebar kepalanya.

Ia menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan no.299, mengintip namja yang sudah dua minggu ini dirawat di sana.

“Oh! Wasseo? Bagaimana hasilnya? Apa itu menyakitimu?” namja yang tengah duduk bersandar di ranjangnya itu segera menyadari kedatangan si yeoja.

Yeoja yang menggunakan denim biru dan sweater longgar berwarna abu itu melangkah ke dalam ruangan dan duduk di samping si namja.

“Kukira kau sedang tidur.” Ucap si yeoja tanpa mengindahkan pertanyaan yang dilontarkan untuknya , matanya memandang lurus ke mata si namja.

“Tidak, aku sudah bosan tidur.” Namja bermata bulat itu terkekeh pelan. Tangan kirinya dengan cepat ia selipkan di bawah bantal-bantal yang ada di sampingnya sebelum si yeoja menyadari apa yang disembunyikannya.

Sejenak yeoja dengan nama Min Hye ri itu menunjukkan segurat kekhawatiran yang besar saat mendengar apa yang diucapkan kekasihnya yang tengah sakit.

Yeah! Beberapa hari ini Minho selalu mengatakan ia tidak mau tidur, ia takut jika ia tidur ia tidak akan bisa membuka matanya lagi.

Dengan cepat dan tanpa disadari Hye ri, benda cair yang hangat telah menggenangi kedua pelupuk matanya.

Ia menarik nafas pelan, sepelan yang ia bisa agar namja di hadapannya tidak mendengar suara nafas yang menyiratkan kesedihannya.

“Kau tahu apa yang akan kukatakan padamu sekarang?” dengan cepat Hye ri mengerjap ngerjapkan matanya agar cairan tadi tidak jatuh.

Minho memandang lurus ke mata Hye ri, mengerutkan dahinya seolah mencari jawabannya di sana.

“Kau ingin mengatakan bahwa kau mencintaiku?” tebak Minho seraya menyunggingkan senyum jahil pada Hye ri.

Hye ri terkekeh sembari memukul ringan dada Minho.

“kau tahu aku akan mengatakan itu setiap hari padamu.” Sejenak Hye ri kembali memandang mata sayu namja yang dicintainya.

Hye ri segera menjatuhkan dirinya dalam pelukan Minho, melingkarkan kedua tangannya di punggung Minho.

Tanpa dikomando lagi, Minhopun melingkarkan kedua tangannya di sekitar pinggang Hye ri. Merasakan kehangatan yang diberikan yeoja itu. Meskipun begitu, Minho tetap mengerutkan dahinya “Hye ri-ya, apa yang terjadi?”.

Hye ri semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Minho saat ia mendengar pertanyaan itu.

Airmatanya menetes, membasahi bagian dada baju rumah sakit Minho.

Hye ri akhirnya melonggarkan pelukannya dan mendongakkan kepalanya sedikit agar ia bisa menatap wajah Minho.

“Semuanya sangat sempurna! Sumsum tulang belakangku sesuai untukmu Choi Minho, dokter bilang kita bisa melakukan transfer tiga hari lagi. Kau akan sembuh Choi minho, kau akan sembuh.” Terang Hye ri, airmatanya sudah tak terkontrol lagi dan membasahi kedua pipinya.

Kedua mata Minho membulat, ia seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

Benarkah? Benarkah seluruh kesedihan dan penderitaannya selama ini akan segera berakhir dengan kebahagiaan?

Benarkah apa yang selama ini membuat hidup orang-orang yang disayanginya menjadi sulit akan segera berakhir dan berganti dengan suka cita?

“Benarkah?” akhirnya Minho menyuarakan isi hatinya.

Hye ri hanya mengangguk-angguk keras, mulutnya bergetar menahan tangis yang nyaris pecah.

“Terimakasih Tuhan.” Minho kembali menarik Hye ri ke dalam pelukannya, memeluknya seakan ia tak mau kehilangan Hye ri.

“Terimakasih.” Gumamnya sekali lagi, dikecupnya puncak kepala Hye ri kemudian dihirupnya aroma rambut Hye ri yang selalu ia rindukan.

Minho benar-benar bahagia, meskipun masih ada ketakutan dalam hatinya.

Tanpa terasa airmatanya telah jatuh, dengan cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan kirinya yang masih dengan erat menggenggam helai-helai rambutnya yang rontok.

Minho melepaskan pelukannya, ia sedikit menundukkan wajahnya untuk menatap Hye ri. Ia begitu senang sampai-sampai ia merasa akan meledak saat itu juga.

“Terimakasih. Kau malaikat penjagaku… kau benar-benar malaikatku, Min Hye ri.” Airmata Minho jatuh tak terkendali, bahkan kini bibirnya bergetar menahan tangis agar tak pecah.

Hye ri hanya mampu menatap Minho dengan anggukan kepala yang keras, ia pun sama bahagianya dengan Minho.

Akhirnya setelah satu tahun hidup Minho berada di ujung tandu, kini mereka bisa bersuka cita karena Minho akan segera terbebas dari penyakit yang salama ini menyiksanya.

“Kau lihat? Tuhan memang menciptakanku untukmu, jadi jangan sekali-kali lagi mengatakan bahwa kau akan meninggalkanku Choi Minho.” Hye ri tak bisa lagi menahan diri, tangisnya pecah memenuhi ruangan itu.

Sungguh! Ia benar-benar bahagia saat mengetahui bahwa sumsum tulang belakangnya sesuai untuk Minho. Terlalu kebetulan? tapi itulah kenyataannya.

Ia rela melakukan apapun demi Minho yang sangat dicintainya, bahkan hidupnya sekalipun. Ia akan dengan sangat rela memberikannya untuk Minho. Satu-satunya namja yang sangat ia cintai.

Mereka kembali berpelukan, saling mencurahkan kebahagiaan. Tak ada suara lain yang terdengar selain tangisan dua insan yang saling mencintai itu.

Setelah puas mencurahkan kebahagiaan, menguras airmata sampai habis. Kini keduanya kembali melonggarkan pelukan, tak ada kata-kata yang terucap.

Keduanya hanya saling memandang dengan tatapan penuh cinta yang tak terelakkan.

Benda ringan yang sedari tadi masih digenggam Minho tiba-tiba mengganggu pikirannya, merusak sedikit kebahagiaan yang baru saja dirasakannya.

“Hye ri-ya…” si pemilik nama hanya bergumam ringan menanggapinya.

“Seandainya kau memiliki sumsum tulang belakang yang lain, dan seandainya ada Minho lain yang memerlukannya. Apakah kau akan dengan sukarela memberikannya, seperti kau memberikan milikmu padaku?”

Minho berusaha terlihat setenang mungkin saat Hye ri menatapnya dengan pandangan yang seolah mengatakan apa-maksudmu?

“Hemmm?” Minho bertanya lagi dengan sebuah gumaman kecil saat Hye ri tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Perlahan sebuah senyuman tersungging di wajah Hye ri, menggantikan kebingungan yang ia perlihatkan sebelumnya.

Dangyeonhajyeong, jika aku memiliki lebih banyak sumsum tulang belakang, dan ada Minho-Minho lain di dunia ini yang memerlukannya. Tentu aku akan memberikannya dengan sukarela.” Sebuah senyum kelegaan tersungging di wajah Minho saat ia mendengar jawaban tulus dan polos dari kekasihnya.

“Terimakasih…” lagi Minho mengucapkan kalimat itu, satu-satunya kalimat yang bisa mewakili seberapa besar kebahagiaannya saat ini.

Keduanya kembali saling memandang dalam kesunyian, sibuk dengan pikiran dalam kepala masing-masing.

“Oh! aku lupa belum mengatakan satu hal lagi padamu.” Ungkap Hye ri, kini tubuhnya perlahan kembali merapat ke tubuh Minho seolah akan kembali menjatuhkan dirinya dalam pelukan Minho.

Minho tersenyum tipis, ia tahu benar apa yang kali ini akan dikatakan yeoja nya.

Marhaebwa!”

“Aku…”Hye ri kembali menatap mata besar Minho.

“… aku sangat mencintaimu, Choi Minho.” Lanjut Hye ri, kini kedua tangannya telah beralih ke dada Minho.

Na do, saranghaejeongmal.” Senyuman di wajah Minho hilang, berganti dengan keseriusan tajam yang seolah bisa mematikan Hye ri saat itu juga.

Direngkuhnya kedua pipi Hye ri dan dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Hye ri. Sementara tangan kirinya masih tetap menggenggam erat helain rambut rontoknya.

Hye ri hanya diam, karena memang inilah yang ingin dilakukannya.

Decakan – decakan kecil sesekali memenuhi ruang rawat no.299 itu saat bibir keduanya saling melumat pelan.

Hanya dinding kaku ruang rawat rumah sakit dan alat pendeteksi jantung menjadi saksi betapa kuatnya cinta dua anak manusia ini.

Takdir seperti apa yang nantinya akan mereka jalani, hanya Tuhan lah yang tahu dan telah merencanakan. Keduanya hanya berusaha untuk membuat takdir sesuai dengan yang mereka inginkan, meskipun terkadang Tuhan memiliki rencana lain yang tak pernah terpikirkan oleh mereka.

***

Yeoja berusia setengah baya itu kembali mendesah, memejamkan matanya dan membirkan cairan hangat rilis begitu saja.

“Hanya transfer sumsum tulang belakang yang bisa menyelamatkannya, tidak ada cara lain lagi.” Seorang namja yang berusia setengah kali lipat lebih tua darinya kembali menjelaskan fakta tentang kesehatan putranya yang sudah dua bulan lebih tergolek di rumah sakit.

“Tak adakah cara lain? Benarkah tak ada satupun dari kami yang memiliki sumsum tulang belakang yang cocok untuk Kibum? Sekalipun aku ibunya sendiri, yang melahirkannya?”

Lagi, nyonya Kim berusaha meyakinkan namja berjas putih di hadapannya untuk sebuah kemungkinan kecil saja yang bisa menyelamatkan hidup putra tersayangnya.

Namja di hadapannya menundukkan kepala, kemudian menggeleng ringan. Kesedihan pun tampak dari wajah tuanya, dalam pikirannya ia justru ketakutan karena merasa pasiennya kali ini tak akan terselamatkan.

Hening.

Hanya itu yang menggambarkan suasana dalam ruangan berukuran 3×4 itu selama beberapa menit.

“Kami bisa memberi Kibum obat untuk memperlambat perkembangan darah putihnya selagi menunggu sumsum tulang belakang yang cocok. Kemoterapi pun tetap harus ia jalani. “ namja yang lebih dikenal dengan dokter itu kembali memberikan kalimat penenang yang sebenarnya semakin meruntuhkan harapan yeoja di hadapannya.

Tak ada yang bisa diucapkan nyonya Kim karena tangisnya telah pecah begitu saja. Ketakutannya selama ini semakin nyata, ia tak berani membayangkan kehilangan putra kesayangannya.

“Kami akan berusaha mencari relawan lain yang sesuai untuk Kibum. Jangan pernah menyerah nyonya Kim, percayalah Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu, juga untuk putramu.”

Hanya kalimat seperti itu yang keluar dari mulut sang dokter untuk menenangkan yeoja yang menangis semakin menjadi di hadapannya.

Nyonya Kim hanya mengangguk-anggukkan keras kepalanya , sementara kedua tangannya dengan cepat menyeka airmata yang telah membanjiri wajahnya.

“Aku tidak akan menyerah, demi Kibum.” Akhirnya yeoja itu mengucapkan sebuah kalimat sederhana yang selama ini tertanam dalam hatinya.

Ia menyunggingkan senyum yang sedikit dipaksakan sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan itu.

Nyonya Kim melangkah pelan menelusuri koridor yang membawanya ke ruangan di mana putranya dirawat.

Langkahnya terasa begitu berat, sesuatu yang mengganjal di dadanya seolah ikut-ikutan mengganjal di kedua kakinya dan membuat segala sesuatunya terasa berat.

Airmata itu masih terus terjun bebas dari kedua matanya, sesekali menetes membasahi lantai putih yang ia injak.

Tak adakah jalan lain? Tak adakah?

Hanya pertanyaan-pertanyaan serupa yang terus berputar dalam kepalanya.

Bagaiamana jika mereka tidak menemukan relawan yang sesuai? Bagaimana jika relawan itu tidak pernah ada? Bagaiamana dengan Kibum?

Nyonya Kim kembali mendesah, seolah menghempaskan ganjalan yang menggunung di dadanya. Meski ternyata itu tak membuatnya lebih baik.

Ia kemudian menyeka airmata dengan kedua tangannya kasar saat menyadari ia telah berada di depan kamar no.369.

Ia menarik nafas panjang, menghembuskannya sembari memejamkan mata. Membiarkan airmatanya menetes lagi untuk yang terakhir sebelum ia menemui putranya.

Benar! Ia tidak boleh terlihat sedih dan rapuh di hadapan putranya.

Karena hanya dirinya lah satu-satunya orang yang bisa membuat putranya tetap kuat untuk bertahan hidup, meskipun hanya satu hari lebih lama.

Perlahan nyonya Kim memutar kenop pintu, menyunggingkan seulas senyum terbaiknya sebelum ia masuk ke dalam kamar.

Ternyata putra kesayangannya tengah tertidur lelap di atas ranjang di mana di sekitarnya dikelilingi tirai yang terbuat dari bahan seperti plastik tebal dan transparan.

Nyonya Kim kembali mendesah ringan, bulir-bulir air mata kembali membasahi pipinya. Keadaan putranya masih sama saja, hanya suara alat pendeteksi jantunglah satu-satunya hal yang membuatnya sedikit tenang.

Nyonya Kim bergerak perlahan, mendekati ranjang putranya dan berhenti tepat di samping tirai.

Ia memandangi wajah putranya yang semakin tirus dan pucat. Kemudian matanya menjelajah setiap inchi tubuh putranya yang terbaring lemah.

Airmatanya jatuh semakin tak terkendali, bagaimana bisa putranya yang periang itu kini tergolek tak berdaya?

Mengapa ia harus mewarisi penyakit ini dari neneknya? Dari sekian banyak cucu yang dimiliki, mengapa penyakit ini harus memilih Kibum?

Lagi nyonya Kim membatin, hatinya benar-benar sakit saat ini.  Ia mulai mengingat-ingat bagaimana Kibum kecil yang tumbuh dengan sangat baik, merajut cita-citanya dan dengan tiba-tiba penyakit itu merenggut segala miliknya.

Dilihatnya lagi alat bantu pernafasan yang menutupi mulut dan hidung putranya, dan itu membuat dada nyonya Kim semakin sesak.

Wajah polos penuh damai yang tengah terlelap itu, bagaimana jika kemudian Kibum tak pernah bangun lagi dari tidurnya?

“Tuhan… selamatkan Kibum. Hanya Kau lah satu-satunya tempatku bergantung.”gumam nyonya Kim lirih, tangisnya tak bisa ia tahan lebih lama lagi.

Kelima jari tangan kanannya kini menutupi mulutnya.

Dengan agak tergesa-gesa ia beranjak meninggalkan tempatnya. Ia tak mau putranya terbangun hanya karena mendengar tangisannya.

Tapi terlambat, Key , begitu namja itu biasa di sapa benar-benar terbangun karena itu “Eomma.” Bisik Key dan sukses menghentikan langkah nyonya Kim.

Dengan cepat nyonya Kim menyeka airmata dengan punggung tangannya, sebisa mungkin menahan tangisnya yang sempat pecah tadi.

Ia berbalik dan menatap putranya dari balik tirai plastik, Key berusaha bangkit dan melepas alat bantu pernafasannya.

Eomma.” Bisiknya lagi, wajahnya benar-benar pucat, lingkaran berwarna hitam memenuhi sekitar matanya, kepalanya yang telah ditutupi topi kain itu membuatnya benar-benar terlihat sengsara.

“Ah! Kau sudah bangun nak?” tanya nyonya Kim, berusaha meyakinkan bahwa putranya tidak terbangun karena mendengar tangisnya.

Masih berdiri di balik tirai plastik, mata nyonya Kim tak pernah lepas dari gerak-gerik putranya.

“Hmm… kenapa eomma tidak masuk?” tanya Key, ia berusaha terlihat baik-baik saja dan memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengar apa yang baru saja ia dengar.

“Ah! Eomma hanya ingin melihatmu saja.” jawab nyonya Kim, ia kembali mengusap airmatanya kasar.

“Aku lebih senang jika eomma masuk dan memelukku.” Ucap Key dengan nada kecewa.

Mianhae, tapi eomma tidak memakai pakaian khusus untuk masuk ke dalam.” Jawab nyonya Kim, ia memaksakan sebuah senyuman.

Key melontarkan seulas senyum pada eommanya sebelum ia menatap lurus ke luar jendela yang terhalang tirai plastik di sekitar ranjangnya.

Ia memandang nanar ke alam di luar sana yang sudah hampir ia lupakan seperti apa kehidupan di sana.

Eomma…” ia kembali memanggil yeoja yang melahirkannya itu.

Nyonya Kim hanya menjawab dengan gumaman pelan, pelan sekali sampai-sampai nyaris tak terdengar. Ia ingin sekali menjawab dengan ‘ne, sayang.’, tapi mulutnya kini sibuk menangis.

“…kemarin aku bermimpi.” Key melanjutkan kalimatnya, matanya tak berpindah sedikitpun dari jendela di balik tirai plastik.

Nyonya Kim hanya diam, berusaha agar suara tangisnya tak mengganggu pendengarannya akan hal yang akan diceritakan Key.

“…seseorang menemuiku, ia punya sayap dan sangat cantik. Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, terlalu banyak cahaya di sekitarnya. Kurasa aku jatuh cinta padanya…”

Key tersenyum ringan, pikirannya seolah kembali menerawang pada mimpi yang dialaminya semalam.

Ia melihat eomma nya sekilas kemudian kembali menatap jendela.

“… kurasa ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Ia selalu berada di sampingku dan menjagaku, meskipun ia seorang yeoja tapi ia terlihat sangat kuat dan selalu melindungiku. Ia bilang ia akan selalu menjagaku…”

Key menggantungkan ceritanya kemudian menarik nafas ringan yang terasa begitu berat baginya.

Sementara nyonya Kim masih berusaha menghentikan tangisnya dengan berbagai upaya, tapi itu semua gagal. Karena apa yang diceritakan Key justru membuat tangisnya semakin menjadi.

“… yang kuingat terakhir kali sebelum aku bangun, ia mengatakan bahwa aku harus selalu bersamanya. Saat aku bangun, aku merasa seperti mendengar suaranya ‘Kibum-ah, tidakkah kau ingin tinggal bersamaku?’.”

Key menyelesaikan ceritanya seraya mengusap pelan airmatanya yang menetes. Ia kemudian berbalik dan menatap eomma nya di balik tirai.

Eomma, sepanjang hari ini aku terus berpikir. Apa dia adalah malaikat kematian? Apa ia memintaku untuk segera meninggalkanmu dan pergi bersamanya?” pertanyaannya barusan sukses membuat eommanya berhambur mendekati tirai, tangannya menyentuh tirai seolah berusaha menyentuh Key.

Aniya! Kenapa kau berpikiran seperti itu Kibum-ah? Kau tidak akan pergi ke mana-mana. Kau akan tetap bersamaku, bersama eomma yang melahirkanmu.”

Nyonya Kim berusaha menenangkan putranya meskipun apa yang diucapkannya justru membuat Key merasa semakin tak punya harapan.

Key kembali menyunggingkan seulas senyum di wajah pucatnya “Jika ia benar malaikat kematian, ia benar-benar cantik. Sungguh.”

Terlalu banyak yang ingin diutarakan Key pada eomma nya, namun ia takut apa yang ingin ia utarakan justru membuatnya semakin ketakutan. Dan hanya kalimat konyol seperti itulah yang meluncur dari mulutnya.

Eomma, aku ingin hidup. Sungguh.” Gumam Key setelah ia kembali membaringkan tubuhnya, perlahan tangannya mengusap airmata yang kembali jatuh.

***

Hye ri berjalan penuh semangat menelusuri koridor rumah sakit lantai tiga.

Tangannya menjinjing tas plastik putih berisi berbagai macam makanan untuk dirinya sendiri.

Apa ia egois Membawa makanan hanya untuk dirinya sendiri, padahal Minho lah yang sedang sakit?

Tidak! Justru Hye ri sangatlah pengertian.

Besok operasi transfer sumsum tulang belakang untuk Minho akan dilaksanakan. Ia sudah menjalani berbagai prosedur sebagai pendonor, mulai dari cek ulang darah, hingga berpuasa.

Hye ri bermaksud memakan semua makanan yang ia bawa setelah ia menyelesaikan operasi besok pagi.

Cuaca siang hari itu terlihat begitu bagus dan cerah, secerah hati Hye ri. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, hari ini langkahnya terasa begitu ringan.

Ia bahkan menyapa semua orang yang ia lalui sepanjang jalan, mungkin semua orang menganggapnya aneh atau bahkan gila.

Tapi sungguh! Hye ri benar-benar bahagia dan itu semua membuatnya seolah akan meledak.

Bukkk

Langkah Hye ri terhenti saat tiba-tiba tali tas yang ia sampirkan di bahu kananya putus begitu saja.  Membuat tas coklatnya jatuh dan menimbulkan suara berdebum yang ringan.

“Eh?” Hye ri segera memungut tasnya, ditatapnya tali tas yang baru saja putus.

“Eii.. bagaimana bisa tali ini putus? Talinya masih kuat dan tak ada sobekan kecil apapun di sekitarnya. Bagaimana bisa?” Hye ri masih berjongkok dan menautkan kedua alisnya.

Apa ini karena ia terlalu penuh mengisi tasnya? Tapi ia tak membawa apapun selain dompet, cermin, dan sebuah novel.

Sejenak Hye ri terdiam, entah mengapa kejadian sepele itu tiba-tiba membuat hatinya tidak enak. Seolah ada sesuatu yang membuat dadanya sesak.

Dengan cepat Hye ri menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikiran buruk melintas dalam kepalanya.

Pabo-ya! Apa yang kau pikirkan Min Hye ri?” Hye ri memukul kepalanya ringan sebelum akhirnya ia beranjak dan melanjutkan langkahnya.

Langkah riang Hye ri terhenti beberapa meter menuju kamar no.299.

Senyuman yang sedari tadi mengembang di wajahnya hilang seketika saat ia melihat beberapa orang petugas berseragam putih berlarian ke dalam kamar no.299.

Tas plastik berisi makanan yang ia bawa terlepas dari genggamannya, membuat isinya berhamburan ke lantai.

“Minho…” tanpa berpikir apapun lagi Hye ri segera berlari menuju kamar Minho, ingin segera menjawab keingintahuannya.

“Apa yang terjadi?” tanya Hye ri panik saat ia melihat dua orang petugas yang mendekat ke arah Minho.

Tak ada yang menjawab, bahkan kedua orangtua Minho dan beberapa orang keluarganya yang ada di sana hanya diam. menatap Minho dengan pikiran mereka masing-masing.

Hye ri segera berhambur ke arah Minho meskipun keluarga Minho sempat menghalanginya.

Dengan kasar Hye ri menepis tangan appa dan kakak laki-laki Minho saat keduanya menghalangi Hye ri.

“Minho-ya, apa yang terjadi? Marhaebwa!” Hye ri segera meraih tangan namja yang sangat dicintainya. Pikirannya semakin kacau saat tangan yang ia genggam terasa dingin dan kaku.

Setetes airmata dengan cepat meluncur dari mata Hye ri. Ini tidak mungkin!

“Minho-ya, Marhaebwa! Aku tahu kau masih bisa mendengarku!” pinta Hye ri sekali lagi, kali ini suaranya terdengar seperti membentak.

Perlahan ia rasakan tangan yang ia genggam bergerak, sangat pelan.

Kemudian ia menempelkan tangan Minho ke pipi kananya, airmatanya semakin deras.

“Kau mendengarku? Iya kan? Katakan padaku, kau baik-baik saja kan? Kita akan segera melakukan operasi.” Seulas senyum tersungging di wajah Hye ri meskipun tidak seimbang dengan banyaknya airmata yang meluncur bebas dari kedua matanya.

Perlahan Minho tersenyum, ia menatap dalam ke mata Hye ri dan mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Hye ri.

Jari-jari tangan Minho yang menempel di pipi Hye ri mulai bergerak perlahan, mengusap airmata Hye ri yang jatuh.

uljima.” Bisik Minho pelan, sangat pelan.

Hye ri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya keras seraya mengenggam tangan Minho yang ada di pipinya dengan kuat.

Minho memejamkan matanya kuat seolah menahan rasa sakit yang amat sangat, wajahnya benar-benar pucat seperti tembok, sementara keringat sebesar biji jagung menetes deras dari keningnya.

Minho kembali menatap Hye ri, kemudian kembali menyunggingkan senyum terbaiknya dengan sisa-sisa tenaganya.

saranghae…” sekali lagi Minho berbisik pelan, dan nyaris tak terdengar oleh Hye ri jika saja Hye ri tak berada begitu dekat dengan Minho seperti sekarang ini.

Kini Minho memejamkan matanya ringan, seiring dengan tangannya yang terlepas begitu saja dari genggaman Hye ri.

Andwae!” Hye ri menggeleng-gelenggkan kepalanya, airmatanya semakin tak terkendali. Sementara dua orang petugas berseragam putih tadi segera menarik Hye ri untuk menjauh. Seorang petugas lain menarik alat kejut jantung.

Hye ri hanya diam, melihat Minho di hadapannya. Tubuhnya bergetar hebat dan lututnya terasa begitu lemas sehingga ia nyaris tak bisa menopang tubuhnya sendiri.

“Maaf, bisakah kalian menunggu di luar?” seorang suster segera meminta Hye ri dan keluarga Minho untuk meninggalkan kamar Minho sesaat setelah dokter yang selama ini menangani Minho datang.

Andwae! Biarkan aku di sini, hari ini aku belum mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintainya.” Ucap Hye ri yang lebih terdengar seperti teriakan.

Hye ri pasrah begitu saja saat kakak laki-laki Minho merangkul tubuhnya dan membawanya ke luar.

Andwae.. Minho-ya, kau tidak boleh meninggalkanku.” Gumam Hye ri pelan.

***

Hye ri hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan memandangi lantai keramik putih yang ia pijak.

Kedua tangannya menggenggam erat tali tas yang telah tersambung oleh sebuah pin kecil.

Ia tak menghiraukan dokter yang selama dua minggu ini bertanggung jawab atas Minho. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Sesekali pandangan Hye ri pada lantai keramik putih pudar oleh cairan hangat yang menggenang kemudian jatuh membasahi lantai.

Hye ri tak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini, antara percaya dan tidak.

Dan ia berharap ia tidak pernah bangun hari ini, atau bahkan ia berharap bahwa hari ini tidak pernah ada dalam hidupnya.

Minggu ke dua musim semi, Minho menghembuskan nafas terakhir di usianya yang ke 20. Penyakitnya tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan transfer sumsum tulang belakang.

Kini semua penderitaan Minho telah berakhir, seiring dengan ketakutannya yang telah menjadi nyata.

“Hye ri ssi, kau mendengarku?” suara dokter yang sudah tak asing di telinga Hye ri membuyarkan pikiran Hye ri.

ne?” seolah baru kembali dari dunianya bersama Minho, Hye ri mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan menatap dokter dengan pandangan kosong.

Mianhae?” Hye ri menatap dokter dengan wajah yang lebih mirip dengan orang bingung. Ia benar-benar tengah berada di dunia entah di mana.

“Aku benar-benar sedih karena tak bisa menyelamatkan Minho, dan tentu saja kami harus menghapus namamu sebagai pendonor. Tapi Hye ri ssi, bukannya aku tak merasakan kesedihanmu…”

Sang dokter menghentikan kalimatnya, memandang Hye ri lebih dalam untuk memastikan bahwa yeoja yang masih sangat muda itu menyimak ucapannya.

“… ada pasien lain yang memerlukan sumsum tulang belakangmu, apa kau masih akan melakukan transfer itu padanya? Ataukah kau akan membatalkannya?” lanjut sang dokter, hatinya sedikit was-was menunggu jawaban yang akan dilontarkan yeoja di hadapannya.

Sesaat Hye ri masih memandang sang dokter dengan tatapan bingungnya. Benar! Ia benar-benar bingung dan tak tahu harus melakukan apa.

Ia rela mendonorkan sumsum tulang belakangnya demi Minho yang sangat ia cintai, tapi itu semua terlambat. Sumsum tulang belakang miliknya sudah tak berguna lagi bagi Minho.

Kini Hye ri masih memerlukan banyak waktu untuk menenangkan diri dan menyadari apa yang sedang terjadi.

Bibirnya nyaris mengatakan tidak, saat sebuah suara yang sangat dicintainya tiba-tiba terdengar di gendang telinganya.

“Seandainya kau memiliki sumsum tulang belakang yang lain, dan seandainya ada Minho lain yang memerlukannya. Apakah kau akan dengan sukarela memberikannya, seperti kau memberikan milikmu padaku?”

Airmata Hye ri kembali menetes, suara itu begitu jelas seolah diucapkan langsung oleh pemiliknya.

Dan suara itu sukses membuat Hye ri kembali ke dunianya, menyadari apa yang baru saja terjadi.

Dengan bibir yang bergetar menahan tangis, Hye ri mengangguk ringan. Berusaha berbicara dengan tangisan yang mulai tak terkendali “… ne, aku akan menjadi pendonor untuk orang itu.”

Dokter di hadapan Hye ri mengatupkan bibirnya kuat, menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia benar-benar kagum pada yeoja yang masih menangis itu.

“Kita akan melakukan operasi besok, sesuai jadwal.”

Ucap sang dokter sebelum akhirnya ia mendekati Hye ri, menaruh kedua tangannya di bahu yeoja yang seumuran dengan putrinya di rumah. Kemudian memeluk yeoja itu dengan kasih sayang seorang appa pada putrinya.

“Bolehkah aku memberitahu namamu pada pasien yang akan menerima donor?” tanya sang dokter yang masih memeluk Hye ri.

Hye ri diam beberapa saat, pikirannya terlalu sibuk melayang bersama Minho dalam kenangan mereka.

Sekali lagi dalam gendang telinganya tedengar suara seseorang yang dicintainya.

“Terimakasih. Kau malaikat penjagaku… kau benar-benar malaikatku, Min Hye ri.”

Bulir-bulir airmata jatuh tak terkendali, membasahi kedua pipi Hye ri.

“Katakan saja… aku adalah malaikat penjaganya.” Gumam Hye ri pelan.

“Terimakasih.” Satu kata terakhir yang mampu diucapkan sang dokter sebelum setetes airmata meluncur membasahi pipinya.

=TBC=

29 thoughts on “Archangel – Part 1

  1. Key hrus kena penyakit leukimia? sedih & gk tega juga😥 dibagian Key yg mimpi ketemu malaikat, feelnya dpt bgt thor🙂 *sukses bkin berkaca2 deh bacanya, ditambah lgi backsoundnya Honesty – instrument beuhh mantep deh hhe -mellow to the Max-
    *Bahasanya singkat padat jelas*
    Keep writing thor ^^~

  2. Minho nya ,,, Hikkssss ,, Kenapa haus meninggal di part pertama thorrr,,,, iihhh ga terima ,, huaaaaa kirain bakal ada keajaiban buat minho tapi ##### huaaa galau baru baca part pertama ja udah segalau ini ,,, lanjutanya mesti lebih seru ya thor !!!

  3. kasian keynya, knp mesti sakit😦
    wah, minhonya meninggal, sum2 tulangnya buat key kayanya *sotoy hehe,
    penasaran sama part selanjutnya

  4. wah…….
    sukses ya eun ff nya dah buat berkaca2 pd hal baru part 1,
    jd makin penasaran…
    tp minho nya part 1 kok langsung dah mati ya ???

  5. Anyeong… aku reader baru disiniii….npas dibaca ff ini ternyata super bikinnn penasarannn!!! Tapi sayang minhonya uda ga ada huhuu… ga sabar buat lanjutin nih eonn…n

  6. Annyeong euncha-ssi
    Sbnernya aku udh prnah baca FF archangel ini di SF3SI ampe part 14 (eh, 14 atau 15 ya, waduh gw lupa, kkk ^^) yg pnting itu lah
    Cuman pngn baca ulang lagi di blognya eucha-ssi, hehe
    Gpp kan?
    Aku suka bgt FF archangel ini, dapet bgt feelnya, bhkan bagian pas key menerangkan bagaimana mimpinya, bisa bikin aku ikutan nyesek ama berkaca2, hehe
    Bagus thor, keep writing ya, ^^

  7. huweeeeee~~~~
    si minho cuma nongol di part satu doang nih????
    aaaah kacian bnr si abang minooo😥 *peluk minho*
    deskripsi perasaan hyeri ke minho dpt, bgt, aaah kasian jadinya ama hyeri😥 *efek baca sambil dibayangin*

    lah?? si key sakit juga???
    walahhh~
    nanti sumsum tulang belakangnya hyeri jgn2 buat key iia??
    aahh asli penasaran bgt sayahhh ><

  8. annyeong eonni aku comment di part 1 yaa…

    waktu pertama kali baca archangel langsung tertarik.
    aq pikir yg jadi pemeran utamanya minho… eh gg taunya key… keren deh eonn
    penggunaan bahasnya juga bagus..
    lanjut ya eon

  9. Aishh sumpah penasaran … hmm perasaan cerita di mimpi key sediit mirip dng donggen … yg beda pangeran yg tidur dan pangeran akan bangun klo putri menciumnya … DAEBAK….

  10. waaaaahhh ya ampun awalnya ajah udah bkin terharu ;(🙂 tp sangat bagus sampai sampai terbawa dlm cerita

    hehehe hai aku readers baru di blog ini

  11. hallo aku reader baru di sini salam kenal author…kemarin baca ff ini part 24 dulu masa hahaha baru baca separo eh kok bagus ya trus aku gak lanjut baca part 24 langsung ke tkp a.ka part 1 ternyata bagus..ceritanya gak maksa dipart awal ini smua ada alasan yg melatarbelakangi..tulisan mu juga jarang typo🙂 lanjut komen ke 2 ya

  12. hai umur ku 24th,,mau panggil kamu apa yah haha!! aku reader baru,,baru bc part 1 ini,,aduh sumpah aku nangis ini,,,sedih bngt deh,,pdhal aku bukan org cengeng lho hiksss!!! izin baca lanjutn ya,,klo ada pass bisakah mnt password nya nanti??tq

  13. Hello~ salam kenal kaa euncha, aku reader baruuu🙂
    waahh awal baca menarik bgt ffnya, sepasang kekasih yg saling mencintai dan rela memdonorkan sumsum tulang blkngnya untuk kekasihnya.. Tp berakhir sedih karena Minho menghembuskan nafas terkhirnya T_T
    Dan Key juga memiliki penyakit yg sama sprti minho. Yampuuunn sediihh yaa
    Daebak ffnyaaaa

  14. I’m really sorry bru ninggalin jejak…jeongmal mianhaeyo….pi sumpah FF Song Eun Cha Ssi cakep,,, aigooooo uri Kibeom sama Minho mnderita penyakit yg sma….ga kebayang pa Key bisa kalem kalau sakit #plakkk , Min Hyeri yg tabah yaaaa…

  15. ahhhh ka eunchaa ini ff nya kerennn. yaa wlopun minho nya hrus mninggal-__- tp aku setuju klo nnti key bkal jdian sm hyeri wkwk oh iya maap lho yaa ka aku sbnernya udh jd readers baru sktar sebulan yg lalu klo ga slah. ehh tp baru bacanya skrg-,- maap yaa kaa. dan aku mau next chapter duluuuu

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s