Archangel – Part 2

Archangel – Part 2

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating            : PG 15

“Thanks a bunch for my beta reader- Onnes eonni- yang udah kasih saran&kritik buat FF ini, sekaligus kasih judul ‘Archangel’ ^^~”

Yeoja itu tersenyum lagi ke arah Key, membuat Key menyipitkan matanya untuk menembus cahaya silau yang selalu mengitari wajah yeoja itu.

Namun usahanya sia-sia, ia tetap tidak bisa melihat dengan jelas yeoja bersayap yang kini menggenggam erat tangannya.

“Terimakasih kau sudah datang padaku, apa kau bahagia tinggal bersamaku?” tanyanya, senyum indah itu tak pernah lepas dari wajahnya.

Key tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang rapi “Molla. Bagaimana dengan orangtuaku? Apakah aku meninggalkan mereka untuk bisa bersamamu?” tanya Key bingung.

Yeoja itu hanya tersenyum “Ani! Kau tidak meninggalkan mereka, mereka tetap bersamamu dan menjagamu.”

Key hanya diam, memandangi tangan kirinya yang digenggam erat oleh si yeoja.

“Kau takut?” tanya yeoja itu lagi, seolah bisa membaca pikiran Key.

Molla…” hanya jawaban itu yang bisa diberikan Key.

Tentu saja! karena pikirannya masih sibuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.

Bahkan ia tidak tahu di mana ia berada, ia hanya berjalan di padang rumput luas bersama yeoja bersayap yang menggenggam erat tangannya.

Yeoja itu berhenti berjalan, membuat Key ikut-ikutan menghentikan langkahnya. Kembali di tatapnya wajah yeoja yang menyilaukan itu.

Yeoja itu mendekat, menaruh kedua tangannya di dada Key.

“Bukankah kau mengatakan kau jatuh cinta padaku?” Key tersentak mendengar pertanyaan si yeoja, seingatnya ia tak pernah mengatakan hal itu selain pada eomma nya.

“Kau harus mencariku setelah kau bangun nanti. Berjanjilah untuk tinggal bersamaku, Kibum-ah.”  Tanpa menunggu jawaban apapun dari Key, yeoja itu semakin mendekatkan tubuhnya pada Key.

Key hanya diam, otaknya belum bisa memberikan perintah yang tepat pada seluruh alat geraknya.

Cahaya yang selalu menutupi wajah yeoja itu membuat Key semakin menyipitkan matanya saat sang yeoja mendekatkan wajahnya ke wajah Key.

Dada Key berdebar-debar saat ia merasakan nafas hangat sang yeoja menerpa wajahnya.

“Berjanjilah.” Ucap si yeoja sebelum akhirnya ia menempelkan bibirnya di bibir Key, memberinya sedikit tekanan ringan yang membuat Key menutup kedua matanya dengan sempurna.

Hening. Tak ada suara apa pun yang terdengar.

Key membuka kedua matanya perlahan, ia menyipitkan matanya saat seberkas cahaya menerobos masuk tanpa permisi. Membuatnya mau tak mau harus menyesuaikan matanya dengan cahaya yang baru saja masuk.

Perlahan ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, penglihatannya mulai berangsur jelas seiring dengan kesadarannya yang mulai kembali.

Hanya suara alat pendeteksi jantung yang terdengar olehnya. Key mulai mengedarkan pandangan sejauh yang bisa matanya jangkau.

Masih ruangan putih yang beberapa bulan ini ia tinggali.

Tidak! Ini ruangan yang lain. Tak ada lagi tirai plastik tebal yang mengelilinginya.

“Hmmm…” Key mengerang pelan, kepalanya terasa sedikit lebih pusing dari biasanya.

Apa yang terjadi? yang ia ingat terakhir kali adalah ia merasakan sakit yang luar biasa saat eomma nya menggenggam tangannya.

Ia ingat bagaimana eomma nya begitu panik seraya menekan-nekan tombol di samping ranjang Key dengan kasar.

Sungguh! Saat itu Key merasa itulah saat terakhir baginya untuk hidup, sebelum segala sesuatunya kabur dari pandangan dan pendengarannya dan berubah menjadi kegelapan dan kesunyian.

Kemudian ia bertemu dengan yeoja bersayap yang menciumnya.

“Kibum-ah, kau sudah sadar nak?” lamat-lamat terdengar suara eomma yang tak pernah absen menjaganya.

Key mengerang pelan sekali lagi, tubuhnya terasa begitu sakit untuk digerakkan.

Nyonya Kim yang kini telah berada di sampingnya dengan cepat menekan tombol yang berada di samping ranjang, kemudian segera meraih salah satu tangan Key yang tidak dialiri cairan infuse maupun darah.

“Kau sudah bangun? Kau sudah bangun? Syukurlah…” Nyonya Kim berkali-kali menanyakan hal serupa, hanya untuk meyakinkan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

Cairan bening dan hangat rilis begitu saja dari kedua mata lelahnya. Ia menggenggam erat tangan Key dengan kedua tangannya dan menaruhnya di pipi kanannya.

Eomma… apa yang terjadi? apa aku masih hidup?” Key memaksa mengatakan kalimat panjang itu meskipun tenggorokannya terasa begitu kering dan berat.

“Tentu, kau masih hidup nak. Dan kau akan hidup sampai tua nanti.” Ucap nyonya Kim.

***

“Apa kau menertawakanku?” Hye ri kembali melontarkan pertanyaan.

“Baiklah, tertawa sesuka hatimu Choi Minho!” Lanjutnya seraya menyunggingkan senyum hambar.

Senyum hambar itu segera lenyap dari wajah Hye ri, ia menundukkan kepalanya setelah puas memandangi dan berbicara dengan gundukan tanah di hadapannya.

Airmata yang baru jatuh itu segera diusapnya kasar, seolah tak ingin terlihat oleh wajah Minho yang tengah tersenyum di hadapannya.

“Yaa! Berhenti tertawa!” ujar Hye ri, kini ia terkekeh seraya menatap foto Minho yang tertempel di nisan.

Hye ri menatap tajam foto Minho, seolah ia sedang menatap Minho yang sesungguhnya.

Ia mendesah ringan, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menahan genangan airmata yang lagi-lagi tak bisa ia tahan.

“Jangan katakan bahwa aku tidak berusaha selama tiga tahun ini.” Hye ri kembali membuka mulutnya, seolah berbicara dengan Minho.

“Aku benar-benar berusaha dengan keras, melanjutkan hidupku tanpamu. Tapi…” Hye ri menggantungkan kalimatnya, kini airmatanya telah menetes lagi. Dengan cepat ia mengusapnya.

“…tapi kau tahu kan itu tidak mudah? Neomu himdeulda…” bisik Hye ri, lantas airmatanya terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Kini hatinya kembali tersayat-sayat, hari ini tepat tiga tahun kepergian Minho.

Tiga tahun sudah ia berjalan tanpa Minho di sampingnya.

Berusaha menjalani segalanya dengan baik seolah kepergian Minho tidak pernah terjadi.

Tapi itu sangat sulit, bahkan terlalu sulit bagi Hye ri yang sudah terbiasa dengan Minho di sampingnya.

Hye ri hanya bisa menundukkan kepalanya, menenggelamkan dirinya dalam kesedihan yang mendalam.

Berharap ini adalah sebuah mimpi dan ia segera terbangun untuk bisa mendapati Minho di sampingnya seperti sedia kala.

Tapi sayang, ini adalah kenyataan pahit yang mau tak mau harus dijalaninya hingga ada takdir lain yang membuatnya bisa merelakan Minho pergi.

Hye ri kembali mendesah ringan, ia memalingkan wajahnya sekilas dari nisan Minho seraya menghapus cucuran airmata yang telah membasahi pipinya.

“Kau bisa percaya padaku seperti biasanya, aku akan berusaha lebih keras lagi. Yang kau perlukan adalah tetap tersenyum seperti itu padaku, areasseo?!” Hye ri tersenyum kembali, kemudian melirik jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.

Geurae, aku harus kembali ke kantor. Aku mencintaimu, Minho-ya.”Hye ri membalikkan tubuhnya, berjalan cepat meninggalkan nisan Minho sambil menggenggam erat tas tangannya.

Tak sampai satu menit ia melihat halte bus hanya beberapa meter dari tempatnya berjalan.

Hye ri sedikit terhuyung-huyung saat dilihatnya sebuah bus berhenti di halte. Ia tidak boleh ketinggalan bus jika tak ingin kembali ke kantor melebihi jam istirahat.

***

“Jadi, kau memimpikan malaikat penjagamu lagi?” tanya seorang namja bermata sipit pada sahabat yang kini tengah menyesap ringan kopi dalam cangkir berwarna putih dengan salur maroon di hadapannya.

Yang diajak bicara hanya menganggukkan kepalanya ringan, kemudian menaruh cangkirnya ke meja.

“Kau masih berpikir malaikat itu benar-benar ada?” tanya namja bermata sipit itu lagi seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

Sahabat yang duduk di hadapannya kini menatap sesuatu di belakangnya dengan pandangan kosong. Ia mendesah ringan, menghembuskan nafas perlahan.

Molla. Tapi aku selalu ingat apa yang diucapkannya terakhir kali sebelum aku bangun dari operasi.”

Pikiran namja itu melayang kembali pada kejadian tiga tahun yang lalu, di mana ia terbangun setelah malaikat penjaga yang cantik itu menciumnya.

“Kau sudah menemui peramal?” namja bermata sipit itu kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya, kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Membuat mulutnya kini dipenuhi oleh nasi.

“Ayolah Jinki! Aku bukan orang yang percaya pada takhayul atau sejenisnya.” Cibir Key kemudian mengalihkan pandangannya pada Jinki yang terlihat begitu asyik dengan makan siangnya- nasi kari.

Sesaat Jinki tak menanggapi ucapan Key, ia berusaha keras menelan nasi yang ada di mulutnya. Lalu mulai berbicara setelah sukses menelannya.

“Tapi kau percaya bahwa malaikat penjagamu itu benar-benar ada!” kini Jinki yang mencibir, menatap Key dengan pandangan yang sedikit meremehkan.

Key hanya diam, ia kembali menyesap kopi nya yang tinggal setengah lagi.

Pikirannya kini tengah menerawang pada pertemuan-pertemuannya dengan sang malaikat penjaga tiga tahun yang lalu.

Terlalu silau, ia benar-benar tak bisa melihat wajah malaikatnya dengan jelas.

“Kurasa ini adalah sebuah pertanda Key.” Jinki kembali membuka mulutnya, beberapa detik setelah Key sama sekali tak menanggapi ucapannya dan justru sibuk dengan pemikirannya sendiri.

Key hanya mengernyitkan dahinya sebagai tanda bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud sahabatnya itu.

“Dalam mimpimu itu, malaikatmu…” Jinki menunjuk-nunjuk Key dengan sendoknya.

“.. ia memintamu untuk tinggal bersamanya kan? jika saat itu kau mengartikannya sebagai kematian… kurasa itu salah besar.” Lanjut Jinki kemudian menyendokkan suapan terakhir nasi kari ke mulutnya.

Key semakin mengernyitkan dahinya, sejujurnya setelah tiga tahun berlalu pun ia tidak pernah sama sekali mengerti setiap ucapan yang ia dengar dari yeoja bersayap dalam mimpinya itu.

Tapi ia tahu, sahabat yang ada di hadapannya ini adalah seorang jenius yang selalu bisa memikirkan banyak hal yang tak pernah terpikirkan olehnya.

“Lalu?”

Jinki menelan nasi kari terakhirnya, kemudian meneguk segelas air mineral yang ada di sampingnya tanpa ampun.

Listen! pendonor sumsum tulang belakangmu itu tidak ingin identitasnya diketahui kan? Dan ia meminta dokter untuk mengatakan padamu bahwa ia adalah malaikat penjagamu kan? Come on Key! What a coincidence!” Jinki mengangkat kedua tangannya setinggi bahu seraya menggelengkan kepalanya ringan.

Ia menatap Key, meminta sahabatnya untuk berpikir.

Sejenak Key menyerap apa yang dikatakan Jinki. Itu benar!

Terlalu kebetulan baginya yang kala itu tengah sekarat bahkan koma, sebelum akhirnya ia tiba-tiba mendapatkan pendonor untuk sumsum tulang belakangnya.

“Jadi menurutmu mereka adalah orang yang sama?” ragu-ragu Key melontarkan pertanyaan itu.

Sesaat Key hanya diam, tenggelam dalam pikirannya tentang sang malaikat penjaga.

Apa benar yang dikatakan Jinki? Jika ya, bagaimana pendonor sumsum tulang belakangnya yang hanya manusia biasa itu bisa dengan sengaja masuk ke dalam mimpinya?

“Tapi bagaimana jika pendonorku adalah seorang namja? Lagipula mana mungkin ia bisa seenaknya masuk dalam mimpiku?” akhirnya Key menyuarakan pemikirannya.

“awww!” Key memekik kesakitan saat Jinki memukul kepalanya pelan.

“Bodoh! Sudah kubilang itu pertanda. Aish! Baiklah, sepertinya aku memang harus menjelaskan langsung padamu. Menunggumu memikirkan apa maksudku  sama saja dengan menunggu musim semi tahun depan.” Jinki terlihat sedikit kesal dengan sahabatanya itu.

“Ya sudah, makanya jangan main tebak-tebakkan!” Key mengerucutkan bibirnya, kemudian kembali menyesap kopinya sampai habis.

“Itu pertanda dari Tuhan! Bukankah kau bilang kau jatuh cinta pada malaikatmu? Kau bilang dia cantikkan, meskipun kau tidak bisa dengan jelas melihat wajahnya?”

Key hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan semua yang diucapkan Jinki.

“Kurasa itu adalah petunjuk dari Tuhan bahwa kalian ditakdirkan untuk bersama. Malaikat itu tidak akan datang dalam mimpimu jika saja pendonor mu adalah seorang namja. Tuhan tidak mungkin menjodohkanmu dengan sesama namja kan? Kecuali jika kau menginginkannya.”

Jinki melanjutkan kalimatnya dengan santai seraya terkekeh pelan di akhir kalimatnya.

Ia kemudian mengangkat satu tangannya. Memberikan kode pada pelayan di restoran kecil itu untuk menghampiri mejanya.

“Jaga mulutmu Lee Jinki!” Key memukul kepala Jinki saat mendengar kalimat terakhir Jinki.

“Bisa kau bawakan bon nya?” tanya Jinki setelah seorang pelayan bertubuh tinggi dengan seragam serba hitam menghampiri meja mereka.

Pelayan itu mengangguk ringan kemudian meninggalkan keduanya.

“Maksudmu dia itu…” belum sempat Key menyelesaikan kalimatnya, dengan cepat Jinki menyambar.

“Dia itu jodohmu Key! Berpikirlah! Dalam mimpi terakhirmu dia mengatakan bahwa kau harus berjanji untuk mencarinya kan?”

kini Jinki mengeluarkan dompet hitam dari saku celana belakangnya, kemudian mengelurkan beberapa lembar won seraya memperhatikan angka-angka yang tertera dalam bon.

“Kau harus mecari tahu tentang pendonormu itu jika kau ingin melanjutkan rasa penasaranmu saja. You know! Itu bisa saja benar sebuah pertanda dari Tuhan, tapi bisa saja itu hanya mimpi biasa yang tak ada artinya.”

Jinki memasukkan kembali dompet hitam ke tempatnya semula kemudian beranjak dari kursinya.

Dengan sedikit terburu-buru Key mengikuti Jinki dari belakang, berusaha menyamakan langkah dengan sahabatnya itu dan berjalan meninggalkan restoran kecil tadi.

Dan ucapan Jinki dengan suksesnya meninggalkan satu pertanyaan lagi di kepala Key.

Jodoh? Jika bukan namja, Bagaimana jika pendonor itu adalah seorang yeoja tua yang bahkan lebih tua dari eomma nya? Celakalah!

Akhirnya Key memutuskan untuk memikirkannya satu persatu.

“Tidakkah kau ingin tinggal bersamaku?” Key menggumamkan kalimat serupa yang ia dengar dari malaikat penjaganya tiga tahun yang lalu.

Kini ia telah menyamakan langkahnya dengan Jinki, mereka berjalan berdampingan melewati trotoar yang tidak terlalu ramai.

“Jika itu bukan kematian, berarti sebaliknya adalah hidup. Tidakah kau ingin hidup?…” Key mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuk tangan kanannya, kedua alisnya saling bertautan.

Jinki hanya diam, berjalan santai seraya mendengarkan apa yang tengah di pikirkan sahabatnya itu.

“..Kau harus mencariku setelah kau bangun nanti. Berjanjilah untuk tinggal bersamaku… mmm… itu berarti.. setelah aku hidup dengan baik, berjanjilah untuk hidup bersamanya?” Key menoleh ke arah Jinki yang kini tengah merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kunci mobil.

Jinki hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Key, karena memang itulah yang dipikirkannya dari dulu saat pertama kali Key menceritakan soal malaikat penjaga dan seluruh mimpinya.

Jinki menekan tombol pada benda yang tergantung bersama kunci mobilnya, kemudian segera membuka pintu kemudi setelah terdengar suara piip.

Key membuka pintu lainnya yang ada di samping Jinki kemudian masuk ke dalam mobil.

Suara mesin yang mulus dan ringan itu segera terdengar begitu Jinki menyalakan mobil.

“Jika akhir-akhir ini ia kembali datang dalam mimpiku… maka itu artinya…” Key masih menautkan kedua alisnya, wajahnya terlihat amat serius memikirkan soal malaikatnya itu, sementara Jinki hanya mendengarkan seraya menginjak gas ringan, membuat mobil yang mereka tumpangi melaju statis.

“…mmm… itu artinya…” Key menghentikan kalimatnya, keningnya mengkerut dan kedua matanya memandang langit-langit mobil.

Jinki melempar pandang pada sahabatnya sekilas, kemudian berdecak kesal saat sahabatnya itu terlihat masih berpikir keras dan tak kunjung melanjutkan kalimatnya.

“Itu artinya dia akan segera mencabut nyawamu!” ujar Jinki, kini ia mencibir kesal.

“yaa!!! Apa yang kau katakan?” Key menatap kesal ke arah Jinki.

Seketika pemikirannya tentang berbagai kemungkinan menguap begitu saja.

“Kau ini membuatku kesal Key! Itu artinya dia memintamu untuk segera menemuinya! Geumanhae! Aku lelah membahas ini, kau ini bodoh sekali! Kau tunggu saja saat ia datang lagi dalam mimpimu lalu kau tanyakan langsung. Kau ini benar-benar bodoh! Aish!”

Jinki menggerutu kesal, membuatnya menginjak pedal gas semakin dalam.

“Yaa!Yaa!! jangan sembarangan mengataiku bodoh Lee Jinki! Aku ini atasanmu!“ kedua mata Key mendelik kesal.

Jinki hanya terkekeh kemudian melirik arloji di tangan kirinya sekilas.

“Hei! Jam istirahat bahkan belum selesai, kau belum kembali jadi atasanku sebelum jam istirahat berakhir.” Jinki kembali terkekeh pelan, sementara Key hanya diam menanggapi ucapan Jinki.

Jinki ada benarnya juga, mungkin ia memang bodoh soal ini.

Karena sejak ia terbebas dari penyakit itu, segala sesuatu yang dilakukan oleh Key adalah menjalani hidup sebaik-baiknya dan membuat kedua orangtuanya bahagia. Bahkan tak terlintas dalam pikirannya tentang indahnya bercinta atau sejenisnya jika saja yeoja bersayap itu tak mendatanginya lagi dalam mimpi.

***

Hye ri mengutuki dirinya sendiri, diliriknya lagi jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.

“Aish!” lagi-lagi ia berdecak kesal sambil berlari mengejar lift yang masih terbuka di hadapannya.

Yeoja yang mengenakan setelan rok mini dan kemeja putih yang dibalut blazer berwarna pastel itu segera menjatuhkan dirinya di atas kursi kerja yang sudah satu tahun ini menjadi tempatnya menghabiskan waktu.

Dinyalakannya kembali tombol power pada panel flat screen di hadapannya.

Kriuukkk….

Suara perutnya kembali terdengar dan membuatnya kembali berdecak kesal.

Jika saja ia tidak terlalu lama berbicara dengan Minho, tentu saja ia akan memiliki sedikit waktu untuk mengisi perutnya yang sudah berteriak-teriak minta diisi.

Mata Hye ri segera berputar dan melihat orang di sampingnya yang baru saja menyodorkan bungkusan kecil berisi kue kering dan sekotak susu strawberry.

“Kau lupa untuk makan siang lagi?” ucap yeoja dengan rambut semi keriting sebatas leher.

Hye ri membulatkan kedua matanya, menatap berbinar-binar pada dua benda yang baru disodorkan Kim Aeri ke hadapannya.

Aeri mendorong kursi yang didudukinya ke belakang, kemudian muncul dari balik dinding pendek yang membatasi mejanya dan Hye ri.

“Makanlah sebelum cacing-cacing dalam perutmu itu kembali berdemo.” Aeri terkekeh pelan.

Dengan cepat Hye ri membuka bungkusan berisi kue kering berjenis croissant dengan selai lemon kering kemudian melahapnya setelah berhasil menghabiskan setengah susu strawberry sebelumnya.

“Kau mengunjungi Minho lagi?” tanya Aeri yang masih memandangi Hye ri.

Hye ri hanya mengangguk keras, mulutnya terlalu sibuk mengunyah croissant lemon untuk menjawab pertanyaan Aeri.

Aeri hanya memandang teman kerjanya itu, seketika senyum di wajahnya hilang. Berganti dengan pandangan iba.

“Sudah tiga tahun bukan? Apa kau masih belum juga menemukan penggantinya?” tanya Aeri hati-hati. Ia tahu temannya ini paling sensitif jika ditanyai soal namja lain selain Minho.

Hye ri berhenti mengunyah croissant lemonnya, ditelannya begitu saja croissant yang sudah ia masukkan dalam mulutnya dengan keras.

Ia kembali menyedot susu strawberry untuk membasahi kerongkongannya, kemudian memutar bola matanya memandang Aeri.

Sesaat ia mengalihkan pandangannya ke lantai, kemudian kembali memandang Aeri.

Kedua mata Hye ri memancarkan emosi bahwa dirinya terusik dengan pertanyaan Aeri namun dengan cepat emosi mengiba segera muncul bersamaan.

“Aku rasa aku tidak akan pernah bisa mendapatkan pengganti Minho.” Ucap Hye ri datar kemudian kembali menyedot sisa susu strawberry nya.

Aeri mendesah ringan, ia menarik kursi yang didudukinya mendekat ke arah  Hye ri.

“Tidakkah kau merasa lelah seperti ini terus Min Hye ri?” tanya Aeri, ia menaruh kedua tangannya di bahu Hye ri.

Mau tak mau Hye ri kembali diingatkan oleh kenyataan bahwa dirinya memang harus segera melupakan Minho dan mulai menata kembali hidupnya.

Hye ri menaruh kotak susu ke mejanya, kemudian memejamkan matanya, mendesah ringan bersamaan dengan rilisnya cairan hangat dari kedua matanya.

Nan himdeureosseoNeomu himdeulda eonni.”kini Hye ri menatap teman yang berusia satu tahun lebih tua darinya itu.

Aeri memaksakan seulas senyum, “Berhentilah jika kau lelah.”

Yang diajak bicara hanya diam, ia sibuk memandangi kerah kemeja Aeri. Sementara airmata telah menganak sungai di kedua pipinya.

Mianhae, aku tidak bermaksud mengingatkanmu lagi tentang kepergian Minho. Aku hanya ingin kau menghadapi kenyataan dengan tegar.”  Hanya itu yang akhirnya diucapkan Aeri.

Meskipun baru satu tahun berteman dengan Hye ri, tapi Aeri sudah tahu segala sesuatunya tentang Minho.

Hye ri tak pernah absen menceritakan Minho dalam setiap percakapan mereka, itulah mengapa Aeri tahu segalanya.

Dan bahkan mungkin Aeri jauh lebih mengerti perasaan Hye ri daripada diri Hye ri sendiri.

Bukan! Bukan karena ia pernah mengalami hal yang serupa. Melainkan karena sifat Aeri yang sangatlah dewasa di usianya saat ini, ia sudah terlalu banyak mencicipi asam manis nya kehidupan.

“Menangislah.” Aeri kemudian menarik Hye ri dalam pelukannya, membiarkan yeoja itu kembali meratapi kekasihnya.

Aeri mengelus punggung Hye ri perlahan, memperlakukan Hye ri seperti adik kecilnya dan membiarkan Hye ri menangis sepuasnya.

Nyaris lima menit berlalu, perlahan Hye ri melepaskan pelukan Aeri, matanya telah sembab oleh airmata dan ia masih sesenggukan.

“Ah! Mianhae eonni, aku merepotkanmu lagi.” Ujar Hye ri kemudian mengusap airmatanya.

Gwaencanha, jika itu membuatmu lebih baik. Cepat atau lambat kau harus melupakan Minho. I don’t rush you, I just support you.” Aeri menyunggingkan seulas senyum sebelum akhirnya ia mendorong kursi kerjanya ke tempatnya semula.

Hye ri masih menatap Aeri hingga yeoja itu menghilang di balik dinding coklat yang memisahkan meja mereka.

Sesaat Hye ri kembali pada pikirannya sendiri tentang Minho, yang dikatakan Aeri memang benar.

Cepat atau lambat ia memang harus melupakan Minho. Tapi bagaimana caranya? Ia sudah berusaha selama tiga tahun ini dan itu membuatnya sangat frustasi. Tidakkah Tuhan memberinya sebuah jalan?

Eonni, pulang kerja nanti. Temani aku ya, kutraktir makan. Eottae?” Hye ri kembali mengusap airmatanya kasar, kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum.

Aeri kembali mendorong kursi yang ia duduki hingga ia muncul di balik dinding, menatap Hye ri dengan senyum penuh kasih sayang seorang kakak pada adiknya.

Sure!” jawab Aeri mantap.

***

Matahari mulai naik, cuaca di luar terlihat semakin bagus untuk berjalan-jalan.

Benar-benar satu hari di musim semi yang sempurna jika nanti malam hujan tidak turun.

Kilau-kilau pantulan sinar matahari dari gedung-gedung pencakar langit di tengah kota membuat Seoul semakin berkilau.

Hiruk pikuk kehidupan terdengar di setiap sudut kota, semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Begitu juga dengan namja berambut coklat terang yang satu ini.

Jam dinding dengan bingkai coklat dalam ruangannya baru menunjukkan pukul 10, tapi ia sudah berkutat dengan file-file yang harus ia cek dan tandatangani.

Key kembali mengambil map hijau yang baru saja ia taruh ke atas mejanya. Dilihatnya lagi design iklan untuk produk terbaru perusahaannya.

Ia meneliti lagi-entah untuk yang keberapa kalinya gambar yeoja dengan coat pink yang tengah memeluk boneka beruang putih besar.

Yeoja itu menenggelamkan wajahnya dalam pelukan si boneka. Rambut coklat terang si yeoja yang digulung ke atas membuat tampilan gambar sangat sempurna.

Latar belakang berwarna putih dan sedikit butiran salju yang turun memberikan kesan emosional yang begitu kentara.

Dan tag line ‘Hug me’ yang disimpan tepat di atas boneka beruang putih membuat iklan untuk produk terbaru perusahaan Key nampak sangat sempurna.

Ini benar-benar design yang sempurna, siapapun yang melihatnya akan tersentuh dan segera merasakan emosi kesendirian yang ada dalam gambar.

“Ini sempurna!” Lagi, entah untuk yang keberapa kalinya Key berdecak kagum pada design iklan di tangannya.

Tentu saja ini akan membuat produk ‘Hug me, white Bear’ nya laku keras di pasaran, dan remaja sebagai target utama akan membuat segala sesuatunya berjalan sesuai rencana.

Kriiing…

Key segera menjawab telpon di mejanya “Ne, aku baru saja melihatnya. Ne? Tentu.” sebuah senyum puas tersungging di wajah Key setelah ia menutup telpon.

Sejurus kemudian ia teringat akan yeoja yang masih duduk mematung di hadapannya.

Key benar-benar sempat melupakan yeoja itu karena ia begitu kagum akan hasil design untuk produk terbaru perusahaan.

Juga karena telpon dari kantor pusat – tempat appa Key memimpin perusahaan yang mengatakan bahwa design ‘Hug me, white bear’ sangatlah bagus.

“Jadi, siapa designer iklan ini?” tanya Key akhirnya pada yeoja yang daritadi memperhatikannya.

Yeoja dengan mini dress kerja hitam bermotif kotak-kotak hingga bagian dada itu menatap Key dengan mata bulan sabitnya.

“Min Hye ri dari bagian pemasaran.”

Yeoja?” tanya Key tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari ‘Hug me, white bear’.

Ne, kau tidak mengenalnya sajangnim?” tanya yeoja itu lagi.

Ani! Aku baru mendengar namanya, apa ia pegawai baru?”  kini Key mengalihkan matanya dari ‘Hug me, white bear’pada mata yeoja yang tengah berbicara dengannya.

Yeoja itu kemudian membuka map merah yang sedari tadi di genggamnya, membuka halaman-halaman yang ada di sana dan berhenti tepat pada halaman di mana sebuah foto kecil terpampang di sudut kiri atas.

“Min Hye ri, 23 tahun. Lulusan fakultas design komunikasi dan visual, Seoul university. Bagian pemasaran, ia sudah bekerja untuk perusahaan selama satu tahun 4 bulan. Spesialisasi dalam membuat design iklan untuk produk-produk perusahaan.” Yeoja berambut panjang dengan warna pirang itu membaca beberapa baris kalimat yang tertulis di kertas.

Key menyipitkan kedua matanya, menyimak setiap kata yang diucapkan yeoja di hadapannya.

“Kau ingin membaca CV nya?” tanya si yeoja, tangannya hendak menyodorkan map merah ke meja Key.

“Oh! Ani! Aku hanya perlu bertemu dengannya.” Jawab Key cepat, membuat yeoja yang sudah satu setengah tahun menjadi sekretarisnya itu urung melakukan niatnya.

“Kau ingin bertemu dengannya sekarang, sajangnim?”

Ani! Besok saja, katakan padanya untuk menemuiku besok pagi di sini.” ucap key seraya menutup map hijaunya dan menaruhnya ke atas meja.

Sang sekretaris baru saja beranjak dari kursinya dan hendak meraih kenop pintu saat kalimat Key segera menahannya “Cola, tolong batalkan semua meeting dan jadwalku untuk besok.”

“Eh?” Nicole menautkan kedua alisnya, dengan cepat ia membuka buku dengan sampul kulit imitasi berwarha hitam, kemudian membuka-buka halamannya dengan agak tergesa-gesa.

“Tapi sajangnim, jadwalmu besok banyak sekali. Aku tidak mungkin membatalkan semuanya.” Wajah Nicole terlihat begitu cemas, ia merasa atasannya itu sedikit keterlaluan.

“Batalkan saja semuanya.” Ucap Key tenang.

“Tapi… baiklah.” Nicole mendesah ringan, kemudian menutup buku bersampul kulit imitasi hitamnya kasar.

“Ah, Nicole!” panggilan Key kembali menahan langkah yeoja berambut pirang itu.

“Katakan saja aku ada urusan mendadak ke Paris.” Seolah bisa membaca pikiran Nicole, Key segera melontarkan alasan yang harus dikatakan Nicole nanti.

Nicole tak mengatakan apapun, ia kembali berbalik dan hendak memutar kenop pintu saat panggilan Key lagi-lagi menahan langkahnya.

“Besok aku benar-benar akan sangat sibuk dan tidak bisa dihubungi. Kurasa sebaiknya kau menyuruh Min…euh…” Key menyipitkan matanya, berusaha mengingat nama yang baru saja ia dengar.

“Hye ri, Min Hye ri.” Potong Nicole cepat.

“Yah! Min Hye ri, katakan padanya untuk menghubungiku malam ini jam 8.” lanjut Key ringan kemudian ia menarik map hijau lain yang ada di mejanya.

“Maksudmu, menelponmu? Aniyo! Maksudku, ponselmu?” tanya Nicole kikuk.

Sure! Berikan saja nomor ponselku padanya, lagipula sedikit tidak formal jika aku yang menghubunginya lebih dulu.” terang Key, ia masih tetap berkutat dengan map hijaunya, membaca beberapa baris kalimat yang tertera dalam kertas yang terselip di dalamnya.

“Ah! Ne.” Nicole kembali memutar tubuhnya dan kali ini berhasil memutar kenop pintu. Lalu segera meninggalkan ruangan atasannya itu.

Entah mengapa beberapa kalimat terakhir yang diucapkan atasannya itu membuatnya sedikit tidak senang.

Tentu saja!

Jika saja, CV yang sedang ia pegang bukanlah milik seorang yeoja muda yang akan menerima pujian dari atasannya. Maka Nicole tidak perlu sewaspada ini.

Tapi sayang, beberapa kali belakangan ini keberuntungan sering sekali tak berpihak padanya.

Nicole mendengus kesal saat mengangkat gagang telpon di meja kerjanya, ia mulai menekan tiga digit angka yang segera menghubungkannya ke bagian pemasaran di lantai tiga.

Ada baiknya jika Nicole tahu lebih dulu seperti apa rupa asli yeoja bernama Min Hye ri sebelum atasannya bertemu langsung.

Tidak!

Tidak ada satupun yang boleh membuat Key-atasannya jatuh cinta kecuali pada dirinya sendiri yang diam-diam mengincar Key sejak dulu, Jung Nicole.

 

=TBC=

13 thoughts on “Archangel – Part 2

  1. dari sebuah MIMPI bisa menjadi sebuah KENYATAAN, I also want to.. *curcol* ^^v
    Hihi konflik akan segera dimulai !! Karakter Key disini beda dari yang biasanya, lebih kalem & manly bgt thor ^^
    [sangat menanti satu tokoh yg bernama Nicole itu, bakal diapain yah ??] *ehhehe evil laugh ><
    over all I liked this story..
    tinggal menunggu pertemuan Key & Hye Ri, kyk gmn yah??

    Keep writing~

  2. penasaran ama malaikat penjaganya ,,, itu cuman mimpi aja atau pertanda ya ??? huuufffttt lanjutanya harus segera di baca ini mah biar ga jadi penasaran ,, lanjut.. lanjut … makin seru nih kayanya ,,,,

  3. jinki nongol, hahahaa *gak penting*
    suka ama perannya jinki disini, jinki sang jenius, hahahahaha😄

    nahhh, kyknya key sembuh krn sumsum tulang belakang dr hyeri iia..
    jgn2 yg suka nongol di mimpinya key itu si hyeri??
    hihihi.. hyeri dan key kyknya bakal jodoh ini🙂
    bakal ada cinta segitiga antara hyeri-key-nicole kah????

  4. Hahahah … ku harap min hye ri jatuh cinta dng pesona key sama seperti aku .. tpi huft terlalu melankolis hye ri .. gantengan key #plakk …

  5. 3tahun berlalu, dan Key terselamatkan oleh malaikat penjaganya. Hyeri masih tetep mencintai Minho. yampuun Jinki bener2 deh pinter bgt haha ngasih penjelasan ke Key.
    Semoga Hyeri cepet2 ketemu Key haha,,
    FF nya Keren bgttttt kaa euncha🙂

  6. ka euncha aku ko ngerasa dejavu yaa ? wwk brasa prnh baca part ini masa.__. overall aku udh mulai dpet feelnya hehe soalnya dipart ini udh ada konflik batin(?) antra nicole, key sm hyeri.__. dan aku suka ff kaka. ohyaa aku next chapter dulu ya kaaa:*

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s