Dazzling Autumn – Part 7

Dazzling Autumn – Part 7

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew]|Min So Hee |The rest of SHINee members|Nicole KARA|Luna f(x)

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Friendship, Horror,Romance,Mystery

Rating             : PG 15

_Key  PoV_

Aku menggendong tubuh Hye ri yang tak sadarkan diri dan menidurkannya di kursi ruang tamu villa.

Wajahnya sangat pucat, aku harus menelpon dokter untuk mengetahui apa yang terjadi pada Hye ri.

Selain itu aku juga harus menelpon Lee Taemin untuk menceritakan beberapa hal yang kuingat barusan.

 “Bisakah panggilkan dokter ke villa kami? Pacarku pingsan. Palli!” kataku cepat begitu seseorang di bagian penjagaan wilayah villa menjawab telpon.

Kulihat Hye ri masih tak sadarkan diri, dengan cepat aku berlari ke lantai dua untuk mengambil kotak P3K, mungkin ada sesuatu yang bisa membuatnya siuman.

Aish! Dan di mana Jinki? Mengapa ia masih belum kembali dari melihat daun maple?

Aku berjalan kasar menelusuri lantai kayu, langkahku terhenti saat melewati koridor di mana kamar Nicole dan Luna berada.

Suara berbisik yang terdengar dari balik pintu membuatku penasaran. Sedikit berhati-hati aku menempelkan telinga ke pintu kayu dan mulai menyimak apa yang mereka bicarakan.

***

Baru saja aku menuruni anak tangga dengan kotak P3K ditangan,  kudapati Hye ri terduduk di kursi.

Rupanya ia telah siuman. Aish! Bahkan dokter lama sekali datang.

Gwaencanha?” aku segera menyerbu Hye ri.

Ia hanya menyunggingkan senyum tipis.

“Sebentar lagi dokter akan datang, kau beristirahatlah di kamarmu.” Aku hendak memapah Hye ri tapi dengan cepat ia menepis tanganku.

“Key, I have to tell you something.” Rasa janggal kembali menghinggapiku, ada apa dengan semua orang?

Mereka semua terlihat aneh begitu masuk villa ini.

Apa aku telah melewatkan sesuatu?

mwoya?” aku segera duduk di samping Hye ri.

Hye ri menatapku ragu “Berjanjilah untuk tidak bertindak gegabah. Dan kau harus membawaku keluar dari villa ini, begitu juga dengan So Hee.”

Aku hanya diam, pikiranku terlalu sibuk memikirkan hal apa yang akan kudengar sebentar lagi.

 “Nicole dan Luna…” Hye ri menghentikan kalimatnya, kemudian menatapku ragu.

“… mereka berdua merencanakan sesuatu yang jahat Key. Mereka berdua berencana untuk melenyapkan aku dan So Hee. Kau harus membawaku pergi dari sini…” Hye ri menghela nafasnya.

MWO?!!!” aku tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Hye ri. Aku tahu Nicole selalu menjahati Hye ri, tapi bukankah yang barusan dikatakan Hye ri itu berlebihan?

“Kau tidak sedang bermain-mainkan Min Hye ri?” aku memandang Hye ri tajam, menelisik kedua bola matanya. Memastikan bahwa tidak ada kebohongan di sana.

“Sungguh Key! Kau harus mempercayaiku. Di pondok kecil tadi, di situ lah mereka berdua akan menghabisiku dan So Hee. Mereka akan membakarku hidup-hidup Key!!!!” Hye ri menatapku tajam, ketakutannya telah hilang berganti dengan seringai tajam.

“Min Hye ri, tapi…” kalimatku terhenti saat tiba-tiba sebuah bayangan kembali muncul di kepalaku.

Key! Keluarkan aku!!!” bayangan Hye ri yang menggedor-gedor jendela kembali muncul.

Kau harus menyelamatkanku Key!” aku kembali melihat wajah takut Hye ri dalam kepalaku.

Itu yang terjadi, percayalah!” wajah Minho muncul bergantian dalam pikiranku.

“Arrrgh…” aku mengerang pelan, sementara rasa perih mulai menjalari pergelangan tangan kiriku.

“Key, kau harus melakukan sesuatu agar Nicole dan Luna tidak berbuat jahat padaku.” Hye ri mengguncangkan tubuhku.

Wait Hye ri, kepalaku sakit.”

“Benar, aku yang melakukannya.” Kini bayangan Nicole yang muncul.

“Kau harus menyelamatkanku dan So Hee. Jika tidak, kau akan menyesalinya Key.” Hye ri kembali mengguncangkan tubuhku lebih kencang.

“Hye ri bersabarlah, biarkan rasa peningku hilang terlebih dahulu. Setelah ini aku akan…”

“CEPAT!!! Kau tidak merasakan panasnya Key? Tempat itu mulai terbakar!!!” Hye ri mulai berteriak,  matanya mejelajah langit-langit ruang tamu.

Kali ini kepalaku benar-benar sakit, begitu juga pergelangan tangan kiriku.

“Key! Ini panas sekali, tidak kah kau merasakannya? Semuanya terbakar Key! Kau harus menyelamatkanku!” lagi-lagi Hye ri meracau tak karuan, apa yang terbakar?

“Min Hye ri jebal, kepalaku…”

“KELUARKAN AKU!!! CEPAT LAKUKAN SESUATU!!!” lagi-lagi Hye ri menyelaku.

Semua racauannya tentang sesuatu yang terbakar membuatku kesal, itu tidak masuk akal.

Sakit di kepala dan pergelangan tanganku rasanya sudah mencapai klimkas, disertai berbagai bayangan yang muncul bergantian dengan tempo yang cepat.

Key! Keluarkan aku!!!”

Kau harus menyelamatkanku Key!”

Itu yang terjadi, percayalah!”

“Benar, aku yang melakukannya.”

“Kibum-ah, apa yang kau lakukan?” dan bayangan Jonghyun hyeong yang berlari ke arahku menutup semua bayangan yang muncul.

STOP IT!!!” Bentakku.

Aku menutup telinga dengan kedua tanganku sembari memejamkan mata.

Keringat mengalir deras dari pelipisku, kurasakan detak jantungku tak karuan, dan nafasku memburu.

Kubiarkan semuanya beberapa detik, semua bayangan memudar dan rasa sakit perlahan mulai lenyap.

1,2,3, aku menghitung dalam hati sambil mengatur nafas. Dan membuka mata setelah hitungan ke 10.

Itu yang diajarkan Lee Taemin, setidaknya itu bisa membuat kepalaku membaik.

Aku tak mendapati Hye ri di sampingku saat aku membuka mata.

Apa yang terjadi? di mana Hye ri?

Apa jangan-jangan Nicole dan Luna….

 

_Jonghyun PoV_

Lee Taemin seonsaengnim terperanjat dari tempat duduknya.

Ia nyaris menjatuhkan cangkir latte nya, beruntung ia bisa mengendalikannya.

“Kenapa kau tak menceritakannya padaku lebih awal?” ia sedikit membentakku dalam intonasi bicaranya yang tetap formal dan sopan.

Aku tertegun beberapa saat dan menarik nafas panjang untuk mempersiapkan diriku.

“Aku takut…. Aku takut bahwa itu semua nyata, aku takut jika Kibum lah yang melakukannya.”

“Jonghyun ssi, Kibum pernah bercerita padaku bahwa Nicole lah yang membunuh Minho. Jika ia yang membunuh Minho, tidakkah kau berpikir bahwa Nicole lah target berikutnya?” analisis Lee Taemin membuatku terperanjat.

Tuhan! Bagaimana bisa aku seceroboh ini? mengapa aku tidak pernah berpikiran sampai ke sana?

Lee Taemin terdiam.

Ia menopang dagu dengan tangan kananya, kedua alisnya mengkerut.

Tak lama raut kekhawatiran yang besar muncul di wajahnya.

“Aku telah membuat kesalahan dengan mengijinkannya kembali ke villa. Semuanya akan bertambah buruk…” ia bergumam ringan.

Lee Taemin segera melirik arlojinya “Berapa lama perjalanan untuk mencapai villa itu? Kita harus segera ke sana sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.”

Tanpa mengatakan apapun aku segera beranjak dari kursi cafeteria rumah sakit, menarik tangan Lee Taemin yang mulai sibuk melepas jas putihnya.

Tuhan! Semoga kami belum terlambat.

_Author PoV_

Mianhae, aku tidak bisa.” Ucap Jinki datar kemudian berjalan meninggalkan Luna.

Luna terlihat sedikit kesal, lagi-lagi Jinki selalu seperti itu. Dan alasan dibalik perlakuannya adalah Min So Hee.

Luna memanggil-manggil Jinki dan berlari ringan mengejar Jinki, namun langkahnya spontan terhenti saat ia melihat seorang yeoja yang tidak ia kenal.

Yeoja dengan mini dress berwarna krem itu kini berdiri tepat di belakang Jinki, kemudian memeluk Jinki dari belakang.

Luna menyipitkan matanya agar ia tahu siapa yeoja yang memeluk Jinki itu.

Kenapa ia tiba-tiba memeluk Jinki? Siapa dia?

Luna menilik setiap inchi dari yeoja itu. Deg! Rambut panjang dan lurus itu mengingatkan Luna pada seseorang yang tidak seharusnya ia lihat.

Luna membulatkan kedua matanya dan menilik lagi yeoja itu, berharap ia salah lihat.

Jantung Luna nyaris berhenti saat ia melihat luka lebam di kaki kiri si yeoja.

Dengan langkah gemetar, Luna berusaha berjalan mendekati Jinki yang masih diam dan tidak memberikan respon apapun pada yeoja yang memeluknya itu.

Nyaris Luna menggapai Jinki saat yeoja itu menoleh ke arah Luna.

Luna menutup mulut dengan kelima jari tangan kanannya, kedua matanya terbelalak.

Ia tahu benar siapa yeoja itu. Yeoja berwajah pucat itu tersenyum pada Luna.

Tidak! Bukan tersenyum, yeoja itu meyeringai ke arah Luna.

Tidak mungkin!

Tanpa berpikir lagi, Luna segera memutuskan untuk meninggalkan Jinki sesaat setelah ia melihat tetesan darah di leher si yeoja.

Ia ingat betul bagaimana darah itu menetes tak lama setelah ia menghantam kepala si yeoja setahun yang lalu.

***

“Aku melihatnya! Aku masih waras dan tidak sedang berhalusinasi Jung Nicole! Aku benar-benar melihatnya bersama Jinki! Aku melihatnya, Min So Hee. Dia ada di sini!!!”

Perkataan Luna membuat Nicole diam.

Selama ini ia tidak pernah percaya dengan hal-hal mistis dan sejenisnya, tapi entah mengapa ucapan Luna barusan membuat kepercayaannya goyah.

“Kita harus pergi dari tempat ini Nicole! This is evil place, dan Key telah dirasuki hantu keduanya.”

Nicole masih terdiam, ia berpikir keras.

Luna semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nicole, menatapnya tajam.

Listen! Semenjak bangun dari koma 7 hari, Key selalu berhalusinasi bahwa Hye ri itu ada di sampingnya. Ia selalu bertingkah gila, seolah Hye ri dan So Hee itu masih hi…”

Stop it Luna! Key hanya shock.” Nicole memotong ucapan Luna.

Luna tak menghiraukannya, “Oh! Dan bahkan menurutku, orang yang membunuh Minho adalah K..”

STOP IT LUNA!” Kali ini Nicole berusaha menjauh dari Luna dan melangkah menuju pintu, hendak meninggalkan Luna daengan semua statementstatement nya.

Luna mencengkram salah satu tangan Nicole “Aku tidak tahu mengapa Key membunuh Minho, tapi tidakkah kau berpiikir Jung Nicole? Jika ia membawa kita kemari… bukankah kita yang akan menjadi target selanjutnya?”

Kali ini Nicole kehabisan kata-kata, semua hal yang dijelaskan Luna membuatnya nyaris mati.

Ia tahu ,ia selalu membohongi dirinya bahwa Key baik-baik saja. Ia terlalu ingin memiliki Key sehingga ia tak pernah menghiraukan apa yang diucapkan orang tentang Key.

“KEY TIDAK AKAN MELEPASKAN KITA! KITA TELAH MEMBUAT KESALAHAN DENGAN MELENYAPKAN DUA ORANG ITU JUNG NICOLE! TIDAK SEHARUSNYA KITA BERBUAT SEPERTI ITU!!!!” Luna berbisik tajam tepat di hadapan wajah Nicole.

Kali ini ia lepas kendali, ia begitu menyesal dengan perbuatannya setahun yang lalu. Tapi yang membuatnya lebih menyesal adalah karena ia baru menyadarinya saat ini.

Luna mulai meneteskan airmatanya, sementara nafasnya memburu.

Lama kelamaan ia mulai menangis histeris.

Nicole hanya diam, ada sesuatu yang megganjal dalam hati dan pikirannya.

Sesuatu yang tidak pernah ingin ia terima selama ini.

“Ayo kita pergi!” ucap Nicole tiba-tiba seraya menarik tangan Luna.

Namun langkah keduanya terhenti saat mereka membuka pintu.

Seseorang telah berada di ambang pintu, melipat kedua tangannya di dada seraya menunjukkan seringai menyeramkan.

“Tak ada seorangpun yang boleh keluar dari villa ini!” ucapnya tegas, matanya memandang tajam ke arah Nicole dan Luna bergantian.

“Kau…” tenggorokan Luna tercekat, kedua matanya terbelalak tak percaya dengan sosok yang dilihatnya.

Orang tersebut mulai melangkah mendekati keduanya, diikuti dengan langkah mundur Nicole dan Luna.

“Tak ada yang boleh pulang sebelum pesta selesai. Kita baru saja akan memulainya, baby.” Suara berat itu membuat keduanya ketakutan.

“Ini tidak benar! Tidak seharusnya kau seperti ini, kami telah menyadari kesalahan kami. Kau harus…” belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, si pemilik suara berat itu segera mendekatkan wajahnya ke wajah Luna.

“Kau harus menyelesaikan apa yang kau mulai baby.” Ucapnya disertai tatapan tajam yang membuat airmata Luna kembali menetes.

“ANDWAE!!!ANDWAE!!!” Luna berteriak histeris dan berlari ke sudut ruangan.

Nicole segera menghampiri Luna dan berusaha menenangkannya.

“Luna, jangan seperti ini. Kau menakutiku, ayo kita pulang. Kita akan pulang.” Nicole berusaha menenangkan Luna, meskipun sebenarnya ia pun ketakutan.

 “Ayo kita pulang!” ajak Nicole lagi setelah Luna berhenti menangis, ia berusaha memapah Luna yang  masih shock.

Namun keduanya lebih shock saat baru menyadari seseorang yang barusan menahan keduanya menghilang.

“Di mana Key?” Tanya Luna ketakutan.

Nicole hanya diam, ia kembali berpikir keras. Berusaha menganalisis apa yang akan dilakukan Key terhadap mereka berdua.

“Kita harus segera pergi Jung Nicole!” Luna berbisik tajam kemudian menarik Nicole keluar.

***

“Key, gwaencanha?” Nicole sedikit terkejut mendapati Key telah berada di ruang tamu.

Dengan sedikit berhati-hati ia berusaha bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Ia yakin betul bahwa Key telah melupakan apa yang baru saja terjadi.

Perlahan Nicole berjalan menghampiri Key, sementara Luna dengan sedikit enggan mengikuti Nicole dan tetap menjaga jarak lebih jauh dari Key.

“Kau sakit Key? Perlukah aku membawamu ke klinik?” tawar Nicole begitu ia melihat Key yang dibanjiri keringat.

Key hanya diam memandang keduanya bergantian, ia masih memikirkan apa yang baru saja dikatakan Hye ri padanya.

Melihat Key yang hanya diam, Nicole kembali mengatakan sesuatu “Key, apa yang terjadi?” Nicole menyertakan segurat kekhawatiran di wajahnya.

Sementara Luna mulai menarik baju Nicole dari belakang, mengisyaratkan bahwa mereka sebaiknya pergi meninggalkan Key sebelum terlambat.

Nicole mengibaskan tangannya ke belakang, menandakan ia meminta Luna untuk menunggu sebentar lagi.

“Nicole… benarkah kau Nicole? Apa kau masih Nicole sahabatku?” Tanya Key tajam, ekspresi wajah dan suaranya jauh lebih tenang dibandingkan 10 menit yang lalu.

Nicole melempar pandangan ke arah Luna kemudian kembali memandang Key “Te..tentu saja Key, waegeurae?”

Key tak menjawab.

Luna kembali menarik baju Nicole dari belakang, kali ini lebih keras lagi.

“Euh… Key, sebaiknya kau istirahat ke kamar. Aku dan Nicole akan pergi ke supermarket terdekat untuk membeli beberapa barang, kami tidak akan lama.” Ucap Luna tergesa-gesa, ia memaksakan sebuah senyuman di akhir kalimatnya.

“Benar! Kau istirahatlah Key. Oh! Aku akan memanggil Jinki oppa untuk menemanimu.” Tambah Nicole, kemudian keduanya berlalu meninggalkan Key.

***

Akhirnya Key memutuskan untuk kembali ke kamarnya, ia masih bingung dengan sikap semua orang.

Ia terkejut saat mendapati seorang yeoja dengan mini dress putih tengah berdiri menghadap jendela, membelakangi Key.

“Hye ri?” Key mendekat perlahan dan menyipitkan kedua matanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Hye ri berhambur ke arah Key dan memeluk kekasihnya itu, membuat Key kembali dihinggapi rasa khawatir tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Gwaencanha?” sebenarnya ada banyak yang ingin ditanyakan Key, tapi hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Hye ri bergumam ringan sambil mengeratkan pelukannya.

“Kenapa kau meninggalkanku sendiri?” Tanya Key lagi.

“Aku tidak meninggalkanmu baby, kau yang membiarkanku menunggu dan kau malah berbicara dengan Nicole.” Hye ri merengut manja.

Sekali lagi Key dihinggapi rasa khawatir,  Hye ri tidak pernah secemburu ini sebelumnya.

Hye ri selalu membiarkan Nicole melakukan apapun, asalkan itu tidak membuat Key berpaling darinya.

Tapi kali ini, Hye ri terkesan begitu cemburu pada Nicole. Apakah selama ini Hye ri selalu menyimpan rasa cemburunya dan baru meluapkannya kali ini?

Key melepaskan pelukannya kemudian menatap yeoja yang sangat dicintainya itu.

“Aku hanya mengobrol biasa dengan Nicole, tidak pernah ada sesuatu yang lain.” Bisik Key disertai senyum terbaiknya.

Seolah tak menanggapi ucapan Key, Hye ri malah menarik Key ke arah jendela.

Look! Daritadi aku memandangi Jinki dan So Hee. Mereka berdua saling merindukan, tidakkah mereka terlihat seperti itu?”

Key melempar pandang ke arah yang ditunjuk Hye ri.

Dilihatnya seorang namja tengah berdiri membelakangi tempat di mana Key mamandangnya. Seorang yeoja dengan mini dress berwarna krem memeluk Jinki dari belakang.

Key tersenyum ringan melihat kebahagiaan kedua sahabatnya, semuanya telah kembali normal dan memang seperti itu lah seharusnya.

Namun rasa leganya tak bertahan lama, seperti obat penghilang rasa sakit yang hanya meredakan rasa sakit untuk sementara. Kemudian kembali membuat kita merasakan sakit  yang berkepanjangan sebelum kita benar-benar mengobatinya dengan benar.

Seperti yang dikatakan Lee Taemin, bukankah sebaiknya kita menghindari obat penghilang rasa sakit dan menghadapi kenyataan untuk berusaha menyembuhkan rasa sakit itu?

“Euh… Hye ri-ah…” sedikit ragu Key memulai pembicaraan tentang Nicole.

Hye ri mengalihkan pandangannya ke arah Key.

“Soal yang kau bicarakan tadi itu… “ Key kembali menghentikan kalimatnya, dalam pikirannya tengah terjadi pergulatan hebat antara rasa takut dan bingung.

Hye ri masih memandang Key seolah bertanya apa?

“… Lupakan.” Ucap Key begitu saja.

Pikiran Key teralihkan begitu ia melihat sosok lain di halaman tempat Jinki dan So Hee berada.

Dua sosok yang baru saja ditemuinya di ruang tamu tadi.

Nicole dan Luna berjalan perlahan mendekati Jinki.

Pikiran Key kembali dihinggapi banyak pertanyaan begitu ia melihat Luna menarik kopornya.

Bukankah mereka mengatakan akan pergi ke supermarket? Mengapa Luna harus membawa kopor?  Key terus bertanya dalam hati.

Key terus memperhatikan Nicole dan Luna, sementara Hye ri terus berbicara tentang hal yang tidak Key simak sama sekali.

Dilihatnya Nicole mengatakan sesuatu pada Jinki, sementara Luna tetap berada di belakang Nicole.

Luna terlihat begitu kaku, kedua matanya menghindari sosok yang berada di belakang Jinki meskipun terkadang ia melihatnya.

 Jinki terlihat sedikit terkejut setelah Nicole mengatakan sesuatu, ia kemudian melongok Luna yang berdiri kaku di belakang Nicole.

Baby, kau mendengarku?” suara Hye ri membuyarkan konsentrasi Key.

“Ah! Mian, aku sedang memperhatikan mereka.” Jawab Key tanpa sedikit pun berpaling dari objek yang sedari tadi diamatinya.

Hye ri memegang kedua bahu Key dari belakang dan berbisik tepat di telinga Key.

Look! Mereka bahkan mencoba menghasut Jinki untuk mempercayai mereka. Setelah itu mereka akan melakukan rencana jahatnya Key, kau harus melakukan sesuatu.”

Key tertegun, masih ada banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya.

Benarkah apa yang diucapkan Hye ri barusan?

Ini pertamakalinya Key meragukan ucapan Hye ri.

Key segera melangkah menuju lemari pakaiannya, Hye ri hanya mengekor.

Key mulai mengacak-acak isi lemari.

“Apa yang kau cari?” Tanya Hye ri bingung.

Key tak menghiraukan pertanyaan Hye ri dan terus menjelejahi isi lemari.

Ia berhenti saat sesuatu telah berada dalam genggamannya. Menatap benda tersebut dengan tatapan yang ragu dan penuh ketakutan.

“Jika mereka menyakitimu, aku akan melindungimu baby. Bagaimanpun caranya.” Ucap Key, tangan kirinya mengangkat pistol Caliber 40.

_Jinki PoV_

Aku masih diam di dekat pohon maple, pandanganku tertuju entah ke mana. Pikiranku hanya dipenuhi oleh satu orang saja, Min So Hee.

Angin sejuk musim gugur yang khas disertai daun-daun maple yang beterbangan ringan membuatku terlarut dalam kenangan bersama So Hee.

Aku mengingat begitu banyak hal yang kulalui dengannya, terutama saat kami berdua memandangi daun maple di tempat ini.

Masih kuingat jelas bagaimana ia telah menyusun mimpi-mimpinya bersamaku, ia memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggungku.

Aku hanya tertawa sesekali saat mendengar impiannya yang terdengar sedikit absurd.

Ia ingin punya satu ruangan seperti rumah igloo dengan atap kaca di sekitar taman yang teduh dan dingin.

Di mana di dalamnya hanya ada sebuah ranjang dengan banyak bantal empuk dan selimut tebal yang semuanya berwarna ungu.

So Hee memang suka menghabiskan sebagian besar waktu luangnya untuk tidur.

Semuanya terasa begitu nyata dan baru saja terjadi.

Cairan bening jatuh membasahi pipiku saat aku merasa bahwa So Hee benar-benar ada di belakangku, memelukku seperti yang ia lakukan setahun yang lalu.

Min So Hee, benarkah kini kau ada di belakangku? Memelukku dari belakang seperti yang selalu kau lakukan?

Kenanganku buyar saat tiba-tiba Nicole memanggilku.

Oppa, bisakah kau mengantar Luna pulang ke Seoul?” Tanya Nicole terburu-buru.

Aku segera menghapus air mataku saat mendengar suara Nicole.

 “Mwo? pulang?wae?”

Aku melongok ke arah Luna yang berada di belakang Nicole, ia seolah bersembunyi dari seseorang. Sesekali ia mengintip dari balik punggung Nicole, wajahnya terlihat ketakutan.

 “Apa yang terjadi?”

Nicole diam, ia memandang Luna sekilas.

“Mmm… oppa, kau boleh percaya atau tidak pada apa yang akan kuceritakan. Tapi setelahnya, kumohon kau harus mengantar Luna pulang ke Seoul secepatnya.” Keterangan Nicole membuatku dihinggapi rasa takut.

“Jung Nicole, kau tidak pulang bersamaku?” Luna terkejut dengan ucapan Nicole.

Nicole tak menghiraukan Luna.

”Key merencanakan sesuatu. Dia akan membalas dendam untuk Hye ri dan So Hee. Itulah alasan mengapa ia membawa kami kemari. Kumohon kau harus membawa Luna pulang sebelum semuanya terlambat.”

Jinki menatap Nicole dan Luna bergantian, ada sesuatu yang ditangkapnya dari penjelasan Nicole barusan.

Sesuatu yang membuat dadanya sesak.

“Membalas dendam untuk Hye ri dan So Hee? Mengapa Key harus membalasnya pada kalian?” Jinki melangkah perlahan mendekati keduanya.

Nicole berusaha untuk terlihat tenang, sementara Luna semakin menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Nicole.

“Apa yang telah kalian lakukan pada Hye ri dan So Hee? Apa kalian ada hubungannya dengan kebakaran itu?” Jinki menghujani keduanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya.

Oppamianhae…” tiba-tiba Luna menangis, kemudian menundukkan kepalanya.

Jinki masih tak bisa mempercayainya, ia masih mengharapkan suatu kemungkinan lain tentang kebakaran setahun yang lalu di villa itu.

“Jangan katakan padaku bahwa kalian lah yang menyebabkan kebakaran itu.” Jinki menatap keduanya tajam.

=TBC=

 

 

 

2 thoughts on “Dazzling Autumn – Part 7

  1. Wuaaaahhhh
    Selangkah lagi menuju pemecahan teka teki
    Ceritanya keren dan sangat memacu adrenalin
    Aku harap di next part semuanya akan terbongkar
    Dan nasib key….
    Ya ampun poor guy

  2. “Jika mereka menyakitimu, aku akan
    melindungimu baby. Bagaimanpun caranya.”
    Ucap Key, tangan kirinya mengangkat pistol
    Caliber 40.
    Wewww…Key so sweet! tapi sereeemmm…😦

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s