Archangel – Part 3

Archangel – Part 3

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating            : PG 15

“Thanks a bunch for my beta reader- Onnes eonni- yang udah kasih saran&kritik buat FF ini, sekaligus kasih judul ‘Archangel’ ^^~”

 

Ne?” Hye ri sedikit terkejut saat seseorang memanggilnya.

Keterkejutannya barusan dengan sukses menghasilkan coretan pada design barunya di layar flat di hadapannya.

Hye ri menahan decak kesalnya kemudian segera beranjak dari kursi yang entah sudah berapa jam ia duduki.

“Aku harus menelpon Kim sajangnim? Malam ini?” Hye ri mengulang kalimat yang baru saja di dengarnya dari resepsionis bagian pemasaran yang kini tengah berdiri tepat di balik dinding pendek di hadapannya.

“Aish! Apa aku melakukan kesalahan?” rutuk Hye ri seraya memukul kepalanya ringan.

“Tidak usah berpikiran negatif seperti itu, mungkin saja Kim sajangnim memintamu untuk mengerjakan design baru.” Ucap yeoja setengah baya berkacamata.

Mulut Hye ri berkomat-kamit tak jelas, ia kemudian mengambil secarik kertas yang disodorkan yeoja berkacamata padanya.

“Malam ini, jam 8 ya? Aish! Kenapa tidak langsung saja memangggilku ke ruangannya?” tanya Hye ri yang sebenarnya lebih ia tujukan pada dirinya sendiri.

“Jangan sembarangan! Kim sajangnim sangat sibuk, mungkin ia tidak ada waktu untuk bertemu denganmu.” Ucap yeoja berkacamata itu sebelum akhirnya meninggalkan meja Hye ri begitu saja.

Tubuh Hye ri merosot pelan, membuatnya kembali terduduk di kursinya. Kedua tangannya memegangi secarik kertas kuning pucat bertuliskan nomor telpon yang harus ia hubungi malam ini juga.

Seketika itu juga semangatnya untuk melanjutkan design menguap begitu saja.

Mworago?” tanya Aeri yang tiba-tiba telah muncul lengkap dengan kursinya di samping Hye ri.

“Kim sajangnim memintaku menelponnya malam ini. Aish! Kira-kira ada apa ya eonni? Jinjja, aku sangat khawatir.” Hye ri mengerucutkan bibirnya.

Aeri hanya tersenyum, ia tidak heran jika temannya ini akan sebegitu khawatir berurusan dengan atasannya.

Yeah! Ini kali pertamanya Hye ri berurusan dengan atasannya. Oh! Bahkan mungkin Hye ri belum pernah sekalipun bertemu dengan atasannya itu karena pekerjaannya selama ini hanya berkutat di depan flat screen dan membuat ratusan design.

Kokjongma! Semuanya akan baik-baik saja, mungkin Kim sajangnim menyukai salah satu designmu atau yah… mungkin ia memintamu membuat sebuah design untuk produk perusahaan lain.” Aeri kembali tersenyum melihat wajah Hye ri yang semakin memberengut cemas.

“Lagipula kau belum pernah bertemu dengannya kan? Tidak ada yang perlu kau takutkan.” Sekali lagi Aeri berusaha menenangkan Hye ri.

Hye ri mendesah ringan, menarik nafas cukup dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Oh ya eonni, nama atasan kita itu Kim Kibum kan? Aku takut jika aku salah menyebut namanya nanti. Bisa-bisa aku benar-benar dalam masalah.” Hye ri menaruh secarik kertas bertuliskan nomor telpon atasannya ke atas meja.

Senyuman kembali tersungging di wajah Aeri, kali ini lebih lebar dari sebelumnya.

Sesuatu tiba-tiba melintas dalam pikirannya, entahlah! Mungkin akan terdengar sedikit gila dan terlalu berharap, tapi manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan.

“Euh Hye ri-ya, Kim sajangnim itu bukanlah namja tua seperti yang ada dalam pikiranmu.”

“Eh?” Hye ri menoleh cepat ke arah Aeri.

“Kim sajangnim itu namja muda yang masih lajang, mungkin seusia dengamu atau.. entahlah.” Aeri melanjutkan kalimatnya disertai seyuman yang semakin mengembang di wajahnya.

Ne?” sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan Aeri, dan tentu saja Hye ri tahu ke mana arah pembicaraan Aeri.

“Aku hanya memberitahumu saja Min Hye ri, kalau-kalau Kim sajangnim mengetesmu. Kau akan sangat malu jika kau mengatakan bahkan kau tak tahu rupa atasanmu itu!” Aeri terkekeh pelan sebelum akhirnya ia kembali menarik kursiya dan menghilang di balik dinding coklat pendek.

Ae ri masih tersenyum di balik flat screen di hadapannya, satu harapan tiba-tiba muncul dalam hatinya.

Tak ada yang tahu! Mungkin saja atasannya itu bisa sedikit mengubah pendirian Hye ri.

***

“Kau harus mencariku setelah kau bangun nanti. Berjanjilah untuk tinggal bersamaku, Kibum-ah.”  yeoja itu semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Key.

Jantung Key berdebar hebat, tentu saja ia sudah tahu adegan apa yang akan terjadi setelah ini.

Sedari tadi ia ingin sekali menanyakan sesuatu pada yeoja di sampingnya itu, tapi entah mengapa lidahnya terasa kelu.

Baru kali ini ia merasa sangat sulit untuk bersuara.

Keringat dingin mulai menetes dari dahi Key, ia benar-benar kesulitan untuk melakukan sesuatu yang bisa mengubah jalan cerita mimpinya itu.

Key nyaris berhasil mengeluarkan suaranya untuk mengatakan sesuatu, tapi sayang, yeoja di sampingnya itu jauh lebih cepat darinya.

“Berjanjilah.” ucap si yeoja, kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Key. Memberi sedikit tekanan ringan di sana.

Seketika padang rumput hijau tempat Key dan yeoja itu berada diliputi oleh cahaya menyilaukan yang membuat segala sesuatunya menjadi kabur dan berwarna putih.

Key segera membuka kedua matanya kasar, dirasakan jantungnya yang masih berdebar hebat.

Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, sementara tubuhnya terasa sedikit menggigil.

Cahaya matahari yang masih malu-malu menampakkan wujudnya pada bumi itu menelusup melalui celah-celah jendela dan menembus tirai biru di kamar Key,

Sayup-sayup terdengar suara gerombolan burung pagi yang hijrah dari satu arah mata angin ke arah yang berlawanan.

1,2,3… Kesadaran Key telah kembali, perlahan ia beranjak kemudian duduk di ranjangnya. Menundukkan kepalanya , sementara kedua tangannya menopang kepalanya.

“Kau lagi.” Gumam Key pelan seolah berbicara pada seseorang di dekatnya.

Key memutar kepalanya, melirik weker hitam yang ada di atas meja kecil di samping ranjangnya.

Jam 6.30.

Kini Key menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih.

Hari ini tepat tiga tahun setelah operasi itu dilakukan.

Sepertinya apa yang diucapkan Jinki itu benar, mimpi itu pastilah sebuah pertanda.

Tentu saja Key tidak akan mengambil pusing jika mimpi itu tidak terus mengganggunya beberapa minggu belakangan ini.

Tiba-tiba sesuatu melintas dalam pikiran Key.

Benar! Mungkin saja itu sebuah pertanda dari Tuhan. Apa pendonor itu kini sedang dalam kesulitan?

Dengan cepat Key beranjak dari ranjangnya, berjalan ringan menuju kamar mandi dalam kamar.

Baiklah! Ia harus melakukan sesuatu.

Setiap tahun pada hari ini Key selalu berkunjung ke rumah sakit tempat ia dirawat dulu.

Menyumbangkan sejumlah uang untuk pasien penderita Leukimia, kemudian bermain-main sebentar dengan anak-anak di panti asuhan dan pulang pada malam hari setelah melakukan hal-hal sosial lainnya.

Oh! Dan ia harus meluangkan waktu makan siangnya untuk datang ke sebuah café kecil dekat kantornya.

Nyaris saja ia melupakan pegawai yang semalam menelponnya jika saja Key tidak melihat design ‘Hug me, white bear’ yang tertempel di dinding dekat meja kerja yang ia lewati sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.

***

Hye ri kembali mendesah ringan, diliriknya lagi jam tangan kuning yang melingkar di tangan kananya.

Sesekali matanya menjelajah ke pintu kaca kecil berwarna coklat tiga meter di hadapannya.

Ia kembali meraih cangkirnya, kemudian menyesap isinya.

Sedari tadi Hye ri selalu membenahi posisi duduknya, mematut diri agar terlihat sangat baik.

Sudah nyaris 10 menit Hye ri menunggu, namun atasannya yang menjanjikan bertemu tepat pukul 1 siang itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Ia tak henti-hentinya mengira-ngira setiap namja yang masuk ke dalam café dengan setelan formal sebagai atasannya atau bukan.

Hye ri mengeluarkan ponsel flip ungu dari tas tangan yang daritadi diremasnya karena begitu gugup.

Dilihatnya lagi pesan singkat yang ia kirim pada atasannya 10 menit yang lalu, hanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah memberitahu nomor meja yang ia tempati saat itu.

Tak ada yang salah.

Hye ri kembali melempar pandang ke arah pintu kaca saat suara lonceng kecil di atasnya terdengar.

Seorang namja dengan kemeja merah dan jas abu-abu masuk ke dalam café, tangannya memegang ponsel layar sentuh.

Namja itu kembali melihat layar ponselnya, kemudian mengedarkan pandangan ke meja-meja yang berderet rapi di sekelilingnya.

Hye ri diam, tubuhnya mulai membeku.

Sepertinya namja berambut coklat terang yang baru saja datang itu adalah atasannya.

Sekali lagi Hye ri membetulkan posisi duduknya sebelum namja itu melirik ke arah mejanya kemudian berjalan ringan menghampiri Hye ri.

Annyeonghaseyo, apa kau Min Hye ri?” tanya Key, ia sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah yeoja yang duduk rapi di kursinya.

“Ah, ne.” jawab Hye ri hati-hati.

Key segera menarik kursi di hadapan Hye ri dan duduk di sana.

Hye ri hanya diam mengamati atasannya itu. Aeri benar! Atasannya itu bukanlah namja tua berkumis dan gemuk, melainkan namja muda dengan sedikit karisma pada dirinya.

Mianhae aku terlambat…” Key melirik arlojinya.

“..10 menit.” Lanjutnya.

Gwaencanha, aku baru saja datang, sajangnim.” Ucap Hye ri, ia berusaha berlaku sebaik mungkin di hadapan atasannya itu. Mengingat ia belum tahu apa tujuan atasannya menemuinya.

Hanya membawa design ‘Hug me, white bear’, itu saja yang dikatakan atasannya di telpon semalam.

Key terlihat sedikit kewalahan untuk mengatur nafasnya, keringat menetes dari pelipisnya.

Mau tak mau terik matahari di musim semi ini cukup membuatnya berkeringat meskipun ia hanya berlari beberapa meter saja.

“Kau membawa designmu kan?” tanya Key setelah ia memesan minuman pada pelayan berseragam coklat muda dan menyampirkan jas abu-abunya di kursi.

Dengan cepat Hye ri mengeluarkan kertas dari map besar yang daritadi tersimpan rapi di atas meja dan menyerahkannya pada Key.

Key segera mengamati design ‘Hug me, white Bear’ yang ukurannya dua kali lebih besar dari yang ia miliki.

Ia kembali mengangguk-angguk dan tersenyum kecil.

“Sebenarnya aku hanya ingin memberitahu, bahwa design mu ini sangat bagus.” Ucap Key setelah menaruh design ‘Hug me, white bear’ milik Hye ri.

Kamshahamnida.”  Hye ri menundukkan kepalanya.

“Selain itu kantor pusat juga telah setuju untuk menggunakan design mu sebagai iklan resmi produk terbaru kita.”  Lanjut Key dan sukses membuat lengkungan lebar di wajah Hye ri.

Jeongmalyo?” tanya Hye ri tak percaya, matanya berbinar-binar menatap Key. Dan hanya dijawab oleh anggukan kecil oleh Key.

Chukhaeyo.” Ucap Key seraya mengulurkan tangan kananya untuk berjabatan dan disambut dengan cepat oleh Hye ri.

“Tentu saja kau akan mendapatkan bonus untuk kerja kerasmu ini. sekali lagi selamat.” Ucap Key sekali lagi, ia kembali menatap yeoja yang tengah berseri-seri itu.

Sesaat Key terdiam, memperhatikan yeoja yang sudah 5 menit mengobrol dengannya.

Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat Key teringat akan sesuatu saat ia memperhatikan wajah Hye ri.

Apa? Key berusaha keras mengingatnya, namun gagal. Ia sama sekali tak mengingat apapun tentang Hye ri yang terlihat tak asing di matanya.

“Oh! apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Key menginterupsi senyuman di wajah Hye ri.

“Ne?” Hye ri menatap Key, berusaha mengingat apakah sebelumnya ia pernah bertemu dengan Key.

“Aku tidak yakin, tapi mungkin kita pernah berpapasan di kantor.” Ucap Hye ri ragu.

“Ani! Maksudku sebelum kau bekerja di kantorku, apa kita pernah bertemu?” tanya Key lagi, matanya tak lepas dari mata Hye ri sambil ingatannya berusaha mencari-cari memori di mana ia pernah melihat Hye ri.

Sejenak Hye ri berpikir bahwa atasannya itu tengah menggodanya, itukah cara umum namja mendekati yeoja? Berpura-pura mengatakan pernah melihat si yeoja di suatu tempat?

Namun pikiran itu segera ditepis Hye ri saat ia melihat raut serius di wajah Key. Atasannya itu memang sedang tidak menggodanya.

Hye ri masih menatap Key dengan pandangan yang sedikit bingung kemudian menggeleng pelan “Aniyo, ini pertama kalinya kita bertemu.”

Sesaat mereka hanya saling memandang dengan pikiran masing-masing. Hingga seorang pelayan datang menginterupsi keduanya.

Pelayan itu menaruh cangkir ke hadapan Key.

“Oh! boleh aku minta buku menu nya?” tanya Key pada pelayan yang baru saja hendak beranjak meninggalkan meja.

“Kau sudah makan siang?” tanya Key.

“Belum.”

“Kurasa aku sangat lapar. Jika kau mau, makan sianglah dulu sebelum kembali ke kantor.” Ucap Key, matanya tak beralih pada buku menu yang baru saja disodorkan pelayan.

“Ne?” Hye ri terperanjat mendengar tawaran atasannya itu.

Ini pertamakalinya ia bertemu dan berurusan dengan atasannya itu dan saat itu juga atasannya mengajaknya makan siang bersama?

Ani! Tidak bisa sepenuhnya disebut makan siang bersama, karena mereka tidak berencana untuk makan siang bersama.

Tapi setidaknya itu membuat Hye ri sedikit kikuk karena harus makan siang berhadapan dalam satu meja dengan atasan yang baru saja ia ketahui rupanya.

“Aku yang traktir, anggap saja ini ucapan selamat dariku.” Key mengalihkan pandangannya pada Hye ri.

“Ah! Ne.” Hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Hye ri sebelum akhirnya ia meminta pelayan untuk memberinya buku menu.

“Oh ya, boleh kutahu dari mana kau mendapat ide untuk design ini?” tanya Key setelah keduanya memesan makanan.

Hye ri memutar bola matanya “Ah! Sebenarnya itu pengalaman pribadiku.”

Jinjja? Bisa kau ceritakan?” tanya Key lagi, ia terlihat begitu tertarik dengan jawaban dari yeoja di hadapannya itu.

“Hmm… akhir-akhir ini aku sering sekali merasa melankolis dan sendirian. Di saat seperti itu aku biasanya memeluk seseorang dan membenamkan wajahku hanya untuk menyembunyikan airmata…”

Mata Key tak lepas dari Hye ri, ada sesuatu dari diri Hye ri yang membuat Key tertarik untuk terus menyimak ucapannya.

“… tapi karena orang yang biasa kupelkuk tidak ada, maka terkadang aku memeluk boneka untuk menggantikannya.” Lanjut Hye ri, sebuah senyum hambar segera tersungging di wajahnya.

Sejujurnya ia tak ingin mengungkapkan ini, karena itu sama saja dengan mengingatkannya pada Minho.

Tapi mau tak mau ia harus sedikit saja membahas hal ini pada atasannya. Ia tak ingin memberi kesan buruk pada pertemuan pertamanya dengan sang atasan.

“Menarik.” Tanggap Key singkat disertai senyum menawan yang sebenarnya bisa saja membuat yeoja seusia Hye ri berteriak histeris.

Namun sayangnya, itu sama sekali tak membuat Hye ri tertarik.

Beberapa menit berlalu, hanya hiruk pikuk dalam café dan gesekkan alat makan yang terdengar.

Baik Key maupun Hye ri sibuk dengan makan siang masing-masing.

Setelah melirik lagi jam tangan kuningnya, Hye ri segera berpamitan pada Key karena ia harus segera kembali ke kantor.

“Hye ri ssi, mungkin setelah ini kita akan sering bertemu.” langkah Hye ri terhenti begitu mendengar apa yang dikatakan atasannya.

“Ah! Ne.” hanya itu yang diucapkan Hye ri sebelum ia membungkukkan tubuhnya di hadapan Key dan meninggalkan café.

***

Jinjja? Chukhae!!!” Aeri memeluk lagi tubuh Hye ri setelah ia mendengar apa yang dikatakan Hye ri tentang design ‘Hug me, white bear’ nya.

“Kau tidak mentraktirku?” tanya Aeri diserta senyum jahil.

“Kau ingin aku mentraktirmu sampai mabuk eonni?” Hye ri mengerlingkan wajah yang tak kalah jahil pada Aeri.

“Malam ini? Sepulang kerja?” Aeri meyakinkan.

Sure!”

Aeri nyaris saja menarik kursi kerjanya, saat sesuatu tiba-tiba menahan niatnya.

“Jadi, bagaimana menurutmu atasan kita itu?”

Hye ri mengalihkan pandangan dari flat screen nya pada Aeri.

“Baik.”

“Hanya itu?” Aeri mengerutkan dahinya, meminta jawaban lebih dari Hye ri.

“Dia cepat akrab dengan orang baru.” Tambah Hye ri datar.

“Lainnya?”

“Kau mau aku mengatakan apa eonni? “  Hye ri mencium niat lain dari temannya itu.

“Ani! Aku hanya memastikan bahwa kau tidak melewatkan karisma Kim sajangnim.” Aeri menyunggingkan senyum menggoda.

Sementara Hye ri hanya berdecak, sejurus kemudian Hye ri menyipitkan kedua matanya memandang Aeri penuh curiga.

Eonni diam-diam mengagumi Kim sajangnim?”

Mwo? jaga mulutmu Min Hye ri! Dia itu bukan tipeku!” Aeri segera memukul kepala Hye ri ringan.

Jinjjayo?”Aeri tak menanggapi Hye ri lagi dan menarik kursinya ke tempatnya semula, meninggalkan Hye ri di balik dinding pendek coklat.

“Kim sajangnim bilang akan sering-sering bertemu dengaku, kau tidak takut dia akan jatuh cinta padaku eonni?” kini Hye ri tiba-tiba muncul dari balik dinding lengkap dengan kursinya.

Ia tersenyum jahil ke arah Aeri, berharap eonni nya itu secara tidak sadar akan menunjukkan bahwa ia diam-diam mengagumi atasan mereka.

Tapi sayang perkiraan Hye ri meleset, apa yang diucapkan Aeri justru membuat senyuman di wajahnya hilang.

“Aku akan sangat senang jika Kim sajangnim jatuh cinta padamu, itu hal yang sangat bagus kan?” Hye ri hanya diam, sesuatu jelas-jelas membuatnya terusik.

Tanpa menanggapi ucapan Aeri, Hye ri segera menarik kursinya ke tempat semula dan memutuskan untuk mengakhiri perbincangan mereka tentang Kim sajangnim.

***

Tiga bulan berlalu sejak design ‘Hug me, white bear’ milik Hye ri resmi rilis di pasaran dan menjadikan produk terbaru perusahaan tempat ia bekerja menembus target penjualan.

Dan sejak itu pula ia sangat sering berkomunikasi dengan atasannya itu, kebanyakan mereka membicarakan soal design untuk produk baru dan Hye ri yang terkadang dimintai untuk mengerjakan design atas permintaan perusahaan lain.

Tak jarang pekerjaannya itu menghasilkan pundi-pundi uang lebih bagi Hye ri.

Perusahaan juga beberapa kali mengadakan pesta kecil untuk prestasi Hye ri yang membuat angka penjualan produk meningkat pesat.

Dan itu membuat nama Min Hye ri mulai dikenal oleh beberapa orang penting di perusahaan.

Benar! Kini Hye ri tengah bersinar terang, karir nya tengah menanjak. Dan tak jarang membuat beberapa rekan kerjanya berdecak kagum sekaligus iri padanya.

Ditambah lagi intens nya komunikasi antara ia dan atasannya membuat beberapa rumor menyebar dalam kantor.

“Aahhh!!!” Hye ri memekik pelan saat hujan deras mengguyur tubuhnya tanpa permisi.

Hye ri terhuyung-huyung menuju mobil hitam yang terparkir rapi di sisi trotoar kemudian segera masuk ke dalamnya.

“Hujannya deras sekali.” Ucap seorang namja yang bersamaan masuk di kursi kemudi, namja itu kemudian menepuk-nepuk bahu kemejanya dan mengacak rambutnya untuk membuatnya kering.

“Aish! Jinjja! Pakaianku basah semua.” Hye ri memberengut kesal, ditatapnya setelah rok mini dan blazer hitamnya yang sudah basah kuyup.

Ia segera melempar map biru ke jok belakang sebelum isinya ikut-ikutan basah kuyup.

“Hujannya tiba-tiba sekali.” Ucap namja berambut coklat terang di samping Hye ri, ia mendongakkan kepalanya ke jendela untuk melihat seberapa besar hujan yang turun di luar sana.

Hye ri tak menanggapi ucapan namja di sampingnya dan sibuk mengamati pakaiannya yang basah kuyup.

Sesaat namja di samping Hye ri hanya mengamati Hye ri, ia kemudian terkekeh pelan.

“Kau basah sekali.” Tangan kanannya terulur, kemudian mengacak rambut sebahu Hye ri.

Mau tak mau apa yang dilakukan namja bernama Kim Kibum itu membuat Hye ri terkesiap.

Bukan hal besar, hanya saja Hye ri merasa bahwa atasannya itu semakin menunjukkan betapa akrabnya hubungan pertemanan mereka kini.

Seolah tak ada batasan antara atasan dan pegawainya.

Kamshahamnida.” Hye ri menundukkan kepalanya kikuk, kemudian bergerak menjauh dan mengacak rambutnya sendiri.

Sesaat suasana dalam mobil terasa canggung bagi keduanya.

Tentu saja, mobil yang hanya berisi namja dan yeoja yang sama-sama masih lajang ini akan menyisakan kesan tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.

Tidak akan ada yang percaya jika salah satu dari mereka mengatakan bahwa tidak ada hubungan lain antara keduanya selain hubungan antara atasan dan pegawainya.

Yeah! Sudah tiga bulan sejak Key bertemu dengan Hye ri, sejak itu pula mereka sering bertemu untuk membahas soal pekerjaan.

Hye ri yang berwatak cerdas itu mau tak mau membuat Key berdecak kagum dalam hati setiap kali mereka membahas design-design baru.

Hye ri selalu melontarkan ide-ide  menarik yang tak terpikirkan oleh Key.

Ide yang muncul dari hal-hal sederhana yang bahkan Key sendiri tak pernah menduganya.

Keceriaan dan selera humor tinggi yang ditunjukkan Hye ri dengan suksesnya membuat Key kewalahan mengatasi rasa kagumnya pada Hye ri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa yeoja dengan rambut coklat sebahu itu berhasil membuat seorang Key mulai berpikir keras bagaimana cara mengajaknya berkencan.

Tidak! Hye ri tidak pernah menolak jika Key mengajaknya bertemu di tempat lain di luar kantor.

Tapi sayang, Hye ri selalu menganggap ajakan Key sebagai media untuk membahas soal pekerjaan.

Sepertinya Hye ri sama sekali tidak pernah berpikiran bahwa Key tengah berusaha mengajaknya kencan.

Ia benar-benar tidak menunjukkan bahwa ia tertarik dengan karisma seorang Kim Kibum.

15 menit berlalu, keduanya masih sibuk dalam diam.

Key berdeham pelan untuk memecah atmosfer aneh yang tiba-tiba memenuhi mobilnya.

Ditatapnya Hye ri yang tengah memandang keluar jendela seraya memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil.

“Sepertinya hujan tidak akan reda, kuantar kau pulang. Kita bahas design mu lain waktu saja.” tawar Key akhirnya yang hanya diiyakan oleh anggukan kecil dari Hye ri.

***

Mobil Key berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan design tembok yang terlihat seperti bata-bata merah yang berjejer rapi.

“Ini rumahmu?” tanya Key, ia mendongakkan kepalanya untuk memandang ke luar jendela.

Ne, jeongmal kamshahamnida sudah mengantarku sajangnim.” Hye ri menundukkan kepalanya ringan kemudian melepas sabuk pengaman yang masih menyampir di tubuhnya.

Menyambar map biru yang sempat dilemparnya tadi ke jok belakang.

Nyaris saja Hye ri membuka pintu dan berlalu begitu saja saat tiba-tiba ia berpikir rasanya tidak sopan jika ia tidak mempersilakan atasannya itu masuk.

Yeah! Meskipun hanya sekedar basa-basi dan untuk formalitas saja.

“Euh..sajangnim.. jika tidak keberatan, apa kau mau masuk dulu ke rumahku?” tanya Hye ri agak kikuk.

Tentu saja! kejadian di mana Key  mengacak rambutnya mau tidak mau membuat Hye ri menjadi sedikit canggung pada Key yang sudah dekat dengannya.

Sure!” Hye ri sempat tercengang di tempatnya mendengar jawaban ya dari atasannya. Bahkan tawarannya barusan untuk mempersilakan Key masuk hanyalah sekedar basa-basi.

Kini mereka berlari kecil bersamaan memasuki pintu gerbang kecil berwarna tembaga.

Pintu segera terbuka begitu Hye ri menekan intercom yang tertempel di dinding.

“Oh! Hye ri-ya.” Seorang yeoja setengah baya dengan dress rumah berwarna coklat pucat terkejut melihat Hye ri yang basah kuyup.

Eomma, hujannya deras sekali.” Ucap Hye ri manja kemudian segera berhambur ke dalam rumah tanpa mempedulikan Key yang sepertinya ia lupakan.

“Oh! kau teman Hye ri?” eomma Hye ri menatap namja berambut coklat terang yang sama basahnya dengan Hye ri.

“Ah! Ne, annyeonghaseyo. Kim Kibum imnida.” Key membungkukkan badannya.

“Ayo cepat masuk, kalian harus segera berganti pakaian jika tidak mau kena flu nantinya. Akan kubuatkan minuman hangat nanti.” Eomma Hye ri mendorong ringan tubuh Key yang masih mematung di pintu depan.

***

Mata Key menjelajahi setiap sudut di ruang tengah dengan nuansa warna biru pucat.

Key yang telah berganti pakaian dengan t-shirt longgar dan celana training milik appa Hye ri itu masih menggenggam erat mug berisi coklat panas yang beberapa menit lau disuguhkan eomma Hye ri.

Ada banyak bingkai foto yang tertempel di dinding ruang tengah rumah Hye ri.

Key kembali melirik arloji di tangan kirinya, kemudian diliriknya lagi jendela lebar yang ada di hadapannya di mana hujan masih dengan derasnya membasahi bumi.

Key mulai berjalan menjelajahi foto-foto yang tertempel di dinding maupun yang tertata rapi di atas perapian kecil.

Ia tersenyum sambil sesekali menyesap ringan coklatnya saat melihat wajah yang dikenalinya dalam beberapa foto.

Senyuman di wajah Key menguap begitu ia melihat sebuah foto berbingkai putih dengan apik tertata di atas perapian.

Key menaruh mug coklatnya di samping foto, dengan cepat tangannya meraih foto berbingkai putih itu.

Dilihatnya wajah Hye ri yang terlihat dari samping karena ia tengah mencium pipi seorang namja, meski tak terlhat tapi dapat dipastikan bahwa kedua tangan Hye ri melingkar di tubuh namja itu.

Rambut panjang dan hitam milik Hye ri menunjukkan bahwa foto itu diambil beberapa bulan atau mungkin tahun ke belakang.

Mata Key kini tertuju pada namja bermata besar di samping Hye ri yang tengah merangkul pundak Hye ri.

Namja dengan potongan rambut sebahu semi keriting itu tersenyum ke arah kamera.

Entah mengapa apa yang dilihat Key membuatnya menggeretakan gigi-giginya, tangannya mencengkram pinggiran bingkai dengan kuat seolah ingin meremasnya jika bingkai itu terbuat dari kertas.

Key terperangah begitu seseorang menarik kasar bingkai putih yang masih diperhatikannya.

Mata Key segera beralih pada seseorang yang baru saja menarik kasar bingkai foto dari tangannya.

“Oh! tidak seharusnya kau melihat fotoku seperti itu, sajangnim.” Hye ri telah berdiri di samping Key, ternyata ia sudah selesai berganti pakaian.

 

=TBC=

7 thoughts on “Archangel – Part 3

  1. Chukhae hye ri~a .. aku berharap , aku akan secermerlang kw .. #terlalu berharap … lampu hijau dari mertua sudah menyala .. kalo gitu OKe key tancap gas muu

  2. Senagnyaaa Hyeri dan Key bertemu,, haha sepertinya Key sangat mengagumi Hyeri :))
    itu yg dibingkai foto Minho dan Hyeri yah, huu sedih kecewa Key nya..
    Kereen ka euncha ffnya..

  3. hrusnya overall keren dan bagus. wkwk ksalahan komen di part sblumnya. ahhh krain nicole udh mulai braksi di part ini, trnyta blum. part ini jga keren ka, ini udh ada tnda2 key cemburu

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s