Archangel – Part 4

Archangel – Part 4

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] |Kim Ae ri

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating             : PG 15

“Thanks a bunch for my beta reader- Onnes eonni- yang udah kasih saran&kritik buat FF ini, sekaligus kasih judul ‘Archangel’ ^^~”

“Oh! tidak seharusnya kau melihat fotoku seperti itu, sajangnim!” Hye ri telah berdiri di samping Key, ternyata ia sudah selesai berganti pakaian.

Dengan kasar Hye ri menaruh bingkai foto ke tempatnya dalam keadaan tertelungkup.

Terlihat jelas dalam wajahnya bahwa ia tidak senang dengan apa yang barusan key lakukan.

Key terkesiap, baru kali ini ia melihat wajah Hye ri semengerikan itu. Tak ada lagi senyuman yang selalu menghiasi wajah pegawainya itu.

“Oh!Mianhaeyo. aku hanya penasaran saja, itu pacarmu?” atmosfir dalam ruang tengah seketika berubah menjadi sangat dingin dan kaku.

Key menyambar mug coklatnya yang sempat ia lupakan dan berusaha menyesapnya lagi meskipun jantungnya berdebar hebat, menunggu reaksi apa yang akan diperlihatkan Hye ri.

Hye ri duduk di atas tatami di tengah ruangan, menaruh mug nya ke atas meja kecil yang sebelumnya di tempati Key.

Key mengikuti, duduk di sisi lain meja yang berhadapan dengan Hye ri.

Mianhaeyo, aku tidak bermaksud tidak sopan tadi.” Key kembali meminta maaf saat Hye ri hanya menyesap minuman dalam mug nya dan tak mengatakan sepatah katapun.

Hye ri kembali menyesap minumannya ringan, kemudian menaruh mug nya di atas meja.

Aniyo, mianhaeyo tadi aku terlalu kasar. Tidak seharusnya aku membentakmu sajangnim.” Hye ri menundukkan kepalanya sekilas, kemudian memaksakan seulas senyum.

“Dia pacarmu?Oh!  Kau sepertinya tidak senang jika kita membahas ini, mianhaeyo.” Ucap Key buru-buru saat ia menyadari wajah Hye ri yang masih menunjukkan penolakan besar.

“Ah! Gwaencanhayo sajangnim.” Potong Hye ri cepat.

Atasannya itu benar, ia memang merasa terusik jika harus membahas Minho dengan orang asing.

Tapi Key bukan orang asing, bahkan Hye ri sudah mengenalnya selama tiga bulan.

Tapi… entahlah! Membicarakan Minho dari awal sama saja seperti membasahi luka lama dan justru membuat luka itu semakin menganga dalam hati Hye ri.

Ne, dia pacarku.” Akhirnya hanya kalimat singkat itu yang diucapkan Hye ri.

Ia memilih untuk menghindari percakapan panjang tentang Minho pada atasannya itu.

“Ah! Geuraeyo.” Key hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kecewa, ia kembali menyesap coklatnya untuk menyembunyikan rasa kecewa itu.

Diliriknya lagi Hye ri yang masih tertunduk memandangi minuman dalam mug nya. Ia yakin ada sesuatu yang membuat Hye ri terlihat tidak senang membahas soal pacarnya itu.

“Ada masalah? Apa dia…” belum sempat Key menyelesaikan kalimatnya, Hye ri segera menyambar.

“Ah! Aniyo! Eopsseoyo.” Ucap Hye ri dengan intonasi yang dibuat-buat seolah segala sesuatunya baik-baik saja.

“Ah! Geuraeyo..” Key lagi-lagi menganggukkan kepalanya ringan.

“Aku hanya ingin memastikan ia tidak akan salah faham dengan pertemuan-pertemuan kita di luar kantor.”  Key kembali berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dengan menyesap sisa coklat dalam mug.

“Itu tidak akan terjadi, dia akan mengerti hal ini. sangat mengerti.” Jawab Hye ri cepat, ia tak lagi menatap Key.

Kedua matanya menatap hujan deras di luar jendela, sementara pikirannya menerawang entah ke mana.

Good.” Key menaruh mug ke atas meja, ditatapnya Hye ri yang tengah menatap hujan di balik jendela.

Rahang Key mengeras, tak lama ia menyunggingkan senyum hambar.

That’s right! Ia kalah telak, bahkan sebelum ia sempat mencoba.

Jadi seperti ini rasanya kalah sebelum sempat mencoba?

“Sup nya sudah jadi. Sebaiknya kalian segera ke ruang makan. Oh! apa yang sedang kalian lakukan? Apa aku mengganggu?” suara eomma Hye ri dengan cepat membuyarkan pikiran Hye ri dan Key.

Keduanya segera sadar dari lamunan mereka dan dengan cepat beranjak dari tempat masing-masing.

Kamshahamnida, eommonim.” Key membungkukkan badannya sebelum ia mengikuti Hye ri menuju ruang makan.

***

“Jadi, kalian bekerja di bagian yang sama?” tanya eomma Hye ri yang kini menyerahkan mangkuk berisi sup ayam jamur ke tangan putrinya.

Eomma, Kim sa… awww!!” Hye ri menghentikan kalimatnya dan memekik saat sesuatu menendang kakinya dengan keras.

“Tidak! Kami bekerja di bagian yang berbeda. Tapi akhir-akhir ini kami sering bertemu untuk membahas design buatan Hye ri.” Sambar Key buru-buru, ia tersenyum lebar ke arah Hye ri dengan pandangan yang seolah mengatakan jangan-mengatakan-apapun.

Eomma Hye ri sempat menyadari insiden kecil yang terjadi pada Hye ri, namun ia segera mengalihkan pandangannya pada Key.

“Ah! Geuraeyo. Aku senang ada teman Hye ri yang berkunjung kemari.” Eomma Hye ri menyodorkan mangkuk berisi sup ayam jamur ke tangan Key, dan segera disambut oleh Key.

Ne, aku akan sering-sering berkunjung kemari jika eommonim tidak keberatan.” Ucap Key datar dan sukses membuat Hye ri menghentikan aktifitas menyuapkan sup kedalam mulutnya.

Ia menatap Key dengan alis bertautan, melemparkan pandangan yang seolah bertanya apa-maksudmu?

Eomma Hye ri menatap putrinya dan Key bergantian, kemudian seulas senyum segera tersungging di wajahnya yang mulai tua.

Sesuatu yang baru saja dikatakan Key jelas-jelas menyiratkan sesuatu yang entah mengapa membuat hatinya sedikit lega.

Setidaknya kini ia tidak perlu terlalu khawatir akan putrinya itu.

“Aku akan senang menerima setiap kunjunganmu Kim…euh…”

“Kibum, Kim Kibum “ sambar Key cepat, kemudian menyendokkan nasi ke mulutnya.

Key sempat melempar pandang ke arah Hye ri sekilas dan kembali lagi pada sup dan nasinya.

Diam-diam Key tersenyum puas. Tidak! Ia belum kalah sepenuhnya!

Bahkan eomma Hye ri pun terlihat memberikan lampu hijau. Jika benar begitu, tidakkah itu artinya namja dalam foto yang bersama Hye ri bukanlah masalah?

***

Hye ri duduk di tepi ranjang, diraihnya lagi bingkai putih yang tersimpan rapi di atas meja kecil di samping ranjangnya.

Jari-jarinya mulai menyentuh foto seorang namja yang tengah merangkulnya dan tersenyum ke arah kamera.

“Minho-ya, bogosippeojeongmal…” Hye ri mendesah ringan, setetes airmata membasahi kaca yang melapisi foto.

Yeah! Mau tak mau apa yang terjadi sore tadi-saat ia memergoki Key melihat fotonya dan Minho- itu mengingatkannya lagi pada Minho.

Hye ri kembali mendesah, ditariknya nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan seiring dengan rilisnya airmata yang semakin tak terkendali.

Sudah tiga bulan semenjak ia kembali berjanji pada Minho untuk berusaha melupakannya dan memulai hidupnya yang baru tanpa Minho.

Tapi sungguh! Itu bukanlah perkara kecil bagi Hye ri.

Apapun yang dilakukannya untuk membuatnya lupa pada Minho tak pernah membuahkan hasil.

Pikirannya tak pernah lepas dari Minho setiap kali ia melihat namja lain mendekatinya.

Dan bahkan ia tetap mengatakan bahwa Minho adalah pacarnya di hadapan Key.

Salahkah yang dilakukan Hye ri? Bukankah itu adalah kenyataan bahwa Minho tetap menyandang gelar sebagai kekasih Hye ri hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya?

Hye ri kembali menatap wajah Minho dalam foto, perlahan pandangannya beralih pada foto dirinya yang tengah mencium pipi Minho.

Seketika dadanya terasa sesak, Hye ri masih belum siap untuk menyadari segala sesuatunya.

Ia bahkan masih merasakan keberadaan Minho di dekatnya.

“Kau menangis lagi sayang?” sebuah suara membuyarkan lamunan Hye ri akan kenangannya dalam foto bersama Minho.

Dengan cepat Hye ri mengusap airmatanya, meskipun airmatanya jatuh lagi dan membasahi kedua pipinya.

Eomma Hye ri yang entah sejak kapan berada di kamar Hye ri segera duduk di samping Hye ri.

Dirangkulnya tubuh putrinya penuh kasih sayang, sementara Hye ri berusaha untuk menghentikan airmatanya yang tetap tak membuahkan hasil.

“Kau merindukannya?” tanya eomma Hye ri dan hanya dijawab oleh anggukkan pelan dari Hye ri, tentu saja! karena kini mulutnya tengah sibuk menahan tangisan.

Yeoja setengah baya itu menangkup wajah putrinya, membuat Hye ri mau tak mau memandang wajah eomma nya.

“Kau masih belum bisa melupakannya?“ Hye ri kembali mengangguk sementara airmatanya telah menganak sungai.

Eomma Hye ri segera membenamkan Hye ri dalam pelukannya, dielusnya rambut sebahu putrinya penuh cinta.

Eomma tahu itu tidak mudah bagimu… dan eomma tahu kau telah berusaha selama tiga tahun ini… “ kini tangan eomma Hye ri berpindah ke punggung Hye ri dan mengelusnya pelan.

“… Eomma tidak akan memaksamu untuk berhenti mencintai Minho karena itu ada dalam hatimu dan tak ada yang bisa mengubahnya kecuali dirimu sendiri. Tapi setidaknya biarkan eomma melihatmu bahagia. Minho sudah tidak ada bersamamu, cobalah membuka hatimu untuk yang lain. ”

Dan kalimat tersebut justru membuat tangis Hye ri pecah dengan sempurna.

Sejenak keduanya hanya diam, tenggelam dalam pikiran ibu dan anak yang mungkin selalu saling berhubungan secara batin.

Meskipun tak merasakannya secara langsung, tapi yeoja berusia 45 tahun itu tahu dengan baik apa yang dirasakan putrinya.

Perlahan eomma Hye ri melepaskan pelukannya, kembali ditangkupnya wajah Hye ri yang telah sembab karena menangis. Jari-jarinya perlahan bergerak mengusap airmata Hye ri.

Eomma tahu itu sulit, tapi eomma yakin kau bisa melakukannya.” Kemudian yeoja itu mengusap airmata yang tanpa disadari telah membasahi pipinya.

Hye ri mengangguk-anggukkan kepalanya keras, bibirnya kembali bergetar menahan tangis.

Dan dengan cepat ia berhambur dalam pelukan eomma nya, dipeluknya lagi yeoja yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.

Mianhaeyo eomma, aku sudah membuatmu cemas. Aku akan berusaha… lebih keras dari ini.” gumam Hye ri lirih.

Hye ri melepas pelukannya, ditatapnya eomma yang sangat disayanginya itu.

Benar! Selama ini Hye ri terlalu egois, hanya memikirkan perasaannya sendiri untuk Minho tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain yang ada di sekitarnya.

Keduanya tersenyum, menghapus airmata yang menetes di pipi masing-masing.  Eomma Hye ri kembali menangkup wajah Hye ri, menempelkan hidungnya tepat di hidung Hye ri.

Keduanya tersenyum sebelum akhirnya menggesek-gesekkan hidung masing-masing.

“Jadi, apa kau dan temanmu Kibum itu…”

“Teman! Kami hanya teman.” Seolah bisa membaca pikiran eomma nya, Hye ri segera menyambar.

Eomma Hye ri hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum penuh arti ke arah Hye ri.

“Mungkin kau bisa mempertimbangkannya sayang.” kini senyum di wajah eomma nya hilang.

“Apa?”

“Kibum. Dia sepertinya anak yang baik.”

Mwo? eommaeomma ini bicara apa? Dia itu…” nyaris saja Hye ri memberitahu eomma nya bahwa Key adalah atasannya di kantor jika saja ia tidak ingat akan percakapannya dengan Key sebelum namja itu pulang dari rumahnya.

“Jebal, aku ingin menjadi orang biasa. Aku tidak senang jika semua orang yang kutemui selalu memperlakukanku seperti seorang bos.”

“… euh kami hanya rekan kerja biasa.” lanjut Hye ri akhirnya.

Arasseo! Tapi sepertinya dia tertarik padamu, hemm?” tanya eomma Hye ri yang dengan suksesnya membuat wajah Hye ri bersemu merah.

Apa yang dibicarakan eomma nya barusan? Tertarik? Jinjja! Bahkan Hye ri tak pernah merasakan atau bahkan menyadarinya sedikitpun.

Yang ia tahu, atasannya itu adalah orang baik yang mudah akrab dengan orang baru.

Eomma sok tahu! Lagipula eomma baru pertama bertemu dengannya, jangan mengatakan hal macam-macam.” Dengus Hye ri.

Arasseo! Kau yang paling mengerti temanmu itu Hye ri-ya, tapi percayalah! Eomma mu ini pernah muda sepertimu…” eomma Hye ri menggantungkan kalimatnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah putrinya.

“Dia itu tertarik padamu Hye ri-ya, jinjja!” bisik eomma Hye ri tajam kemudian meninggalkan kamar putrinya.

Membuat Hye ri membeku di tempatnya dan mau tak mau mulai membandingkan antara apa yang diucapkan eomma nya dan kenyataan.

Benarkah? Tidak mungkin!

***

“Mimpi yang lain?” Jinki terperanjat, ia nyaris saja tersedak Cola yang baru ia teguk.

Key hanya mengangguk pelan, matanya menerawang pada mimpi yang baru ia alami beberapa hari yang lalu.

“Ia mendatangiku lagi, tapi kali ini ia tidak punya sayap.” mata Key masih menerawang.

Jinki hanya memandangi Key, telinganya terus menyimak setiap ucapan Key agar tak ada yang terlewat sedikitpun.

“Dia masih mengatakan hal yang sama? Kau bisa melihat wajahnya?” tanya Jinki tak sabaran.

Key menatap Jinki, kemudian menggeleng pelan.

“Terlalu banyak cahaya, sama seperti sebelumnya.”

“Lalu apa yang dikatakannya?” tanya Jinki lagi lebih tak sabaran.

Sorot mata Key meredup, meskipun sedikit ragu tapi akhirnya ia meniru ucapan yang ia dengar dalam mimpi.

Virgin pina colada.” Key kembali menatap Jinki.

Seketika wajah antusias Jinki berubah menjadi wajah penuh kekecewaan. Ia kembali meneguk Cola nya.

“Apa itu minuman yang akhir-akhir ini kau pesan di bar? Jangan katakan dalam mimpi kalian sedang minum di bar.” cibir Jinki, ia sangat kecewa dengan cerita sahabatnya yang terdengar sangat tidak masuk akal.

Apa maksudnya seorang malaikat penjaga mengatakan Virgin Pina Colada? Apa malaikat juga suka pergi ke bar? Pikir Jinki.

“Ani! Aku sudah lama tidak pernah mendatangi bar. Lagipula aku belum pernah minum Virgin pina colada.” Papar Key, wajahnya tak kalah kecewa dari Jinki.

“Apalagi yang dikatakannya?” Jinki kembali menatap Key, berharap sahabatnya itu belum selesai dengan cerita mimpinya.

Key mamandang Jinki, kemudian mendesah ringan “Kau masih ingat pernah jatuh cinta padaku? Apa kau masih jatuh cinta padaku? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?”

Jinki terperanjat, ia batal meneguk sisa Cola nya. Apa yang baru saja diucapkan Key benar-benar menarik perhatiannya.

“Lalu apa yang kau katakan padanya?”

Key memberengut “Aku bahkan tak punya waktu untuk mengatakan apapun.”

Jinki tersenyum jahil seraya mengangguk-anggukkan kepalanya ringan.

“Oh! malaikatmu menciummu lagi sebelum akhirnya kau bangun?” tebak Jinki yang hanya diiyakan oleh anggukan kecil dari Key.

Jinki menyipitkan kedua matanya, kedua alisnya saling bertautan menandakan ia tengah berpikir keras tentang apa yang diceritakan Key.

Ia yakin benar bahwa apa yang dimimpikan Key tentang malaikatnya itu bukanlah bunga tidur yang hanya menghiasi setiap malam milik Key, melainkan sebuah pertanda yang harus ditindak lanjuti.

Jinki masih sibuk dengan pikirannya saat suara ponsel Key membuyarkan nya.

“Oh!” Key terkesiap melihat nama yang menari-nari di layar ponselnya, ia kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan menjauhi Jinki sebelum menjawab panggilan.

Tak sampai setengah menit Key kembali lagi.

“Aku harus pergi Jinki-ya, aku yang traktir.” Key segera mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya dan mengeluarkan beberapa lembar won ke atas meja.

“Kau meninggalkan sahabatmu yang tengah berpikir keras memikirkan mimpimu ini?Aish!” goda Jinki, ia kemudian berdecak kesal untuk memperkuat sandiwaranya.

Key memalingkan wajahnya sekilas seraya tersenyum “Kau mengenalku dengan sangat baik kan Jinki-ya? Mianhae, aku harus pergi. Aku harus membicarakan soal design iklan untuk produk terbaru perusahaan kita.”

“Oh! jadi benar kau berkencan dengannya, Key?” tanya Jinki dan sukses menahan Key.

Mwo?”

“Ayolah! Rumor itu sudah menyebar, seisi kantor sudah tahu. Kurasa dia tidak terlalu buruk, mengapa kau tidak mengaku saja padaku, sahabatmu ini.” Jinki sedikit mencibir.

“Aku tidak berkencan dengannya, kami hanya membicarakan soal design. Jika saja rumor itu benar…” Key menggantungkan kalimatnya.

“…Jinjja, dia sudah punya pacar.” Key terkekeh pelan, tapi Jinki bisa membaca raut kecewa dalam wajah Key.

“Dengannya? Kau bahkan tidak berani menyebut namanya Key, ternyata kau benar-benar menyukainya.” Jinki menghujani Key dengan pertanyaan-pertanyaan retoriknya.

Key tak mengatakan sepatah katapun, ia hanya memandang Jinki sekilas dengan pandangan yang sulit diartikan.

Kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya.

Baiklah! Satu hal yang Jinki ketahui, sahabatnya itu kini tengah jatuh cinta pada yeoja milik orang lain.

Jinki terkekeh pelan, kemudian kembali meneguk Cola nya dan kembali memikirkan petunjuk-petunjuk dari mimpi Key barusan.

***

Key melambaikan tangannya pada yeoja dengan setelan rok mini dan blazer berwarna hijau toska.

Yeoja itu membalas lambaian tangan Key.

Mianhae membuatmu menunggu, kau sudah pesan minum?” tanya Key setelah ia duduk di hadapan Hye ri.

“Aku baru saja datang. Belum.” Jawab Hye ri singkat dan mulai mengambil map yang sedari tadi tergeletak rapi di atas meja café.

Key dan Hye ri lebih sering membahas soal design di luar kantor, bukan dikarenakan Key maupun Hye ri yang mencuri-curi kesempatan untuk bisa sering-sering bertemu di luar kantor.

Melainkan kesibukan Key sebagai pemimpin perusahaan yang menuntut seluruh jam kerjanya untuk dihabiskan mengurusi meeting maupun mengecek file-file yang berhubungan dengan kantor.

Sehingga membuat keduanya harus membahas design di luar jam kerja dan sering bertemu di tempat-tempat seperti café dan restoran.

Itulah salah satu alasan rumor bahwa keduanya memiliki hubungan lebih segera menyebar ke seisi kantor.

Seorang pelayan berseragam Lolita maid orange segera menghampiri keduanya saat Key melambaikan tangan, ia kemudian menyodorkan buku menu pada Key dan Hye ri.

“Kurasa kita perlu minum sebelum membahas design barumu.” Key melempar tawa ke arah Hye ri.

“Aku mau Frappe Cappucino.” Ucap Key, matanya masih menjelajah tulisan-tulisan yang berderet di buku menu.

Membaca beberapa nama minuman yang unik dan belum pernah ia coba.

Tak lama ia menutup buku menu dan menaruhnya di atas meja, melempar pandang ke arah Hye ri yang masih fokus pada buku menu di tangannya.

Virgin Pina Colada. Tolong jangan beri rum.” Hye ri tersenyum pada pelayan yang berdiri mencatat pesanannya kemudian menutup buku menu.

Key terkesiap, seketika tubuhnya membeku. ia terus memandang Hye ri dan tak mempedulikan pelayan yang minta ditanggapi saat ia mengulang nama pesanan.

Apa ia tidak salah dengar? Ataukah ini hanya sebuah kebetulan yang tak ada hubungannya sama sekali?

Sesuatu yang baru saja diucapkan Hye ri membuatnya mengingat sesuatu yang baru saja ia bahas dengan Jinki.

Ne?” tanya Hye ri saat menyadari Key terus memandanginya, membuat semburat merah muncul di wajah Hye ri.

“Kau… suka minuman itu?” tanya Key, sementara matanya masih memandang lekat Hye ri dengan pikiran yang menerawang pada mimpinya baru-baru ini.

Ragu-ragu Hye ri menganggukkan kepalanya “waeyo?”

“Kau sering memesannya? Virgin Pina colada?” Key tak menanggapi pertanyaan Hye ri dan lebih memilih untuk menghabiskan rasa ingin tahunya.

“Euh.. kadang-kadang saja, jika aku merasa penat aku akan memesan minuman itu.” Meskipun sedikit bingung tapi Hye ri tetap menjawab pertanyaan atasannya itu.

Key masih diam menatap Hye ri, pikirannya kini terlalu sibuk membuka-buka memori dalam ingatannya.

Memori tiga tahun silam dan memori beberapa hari lalu yang kerap terulang dalam mimpinya.

Hye ri urung membuka mulutnya dan menjelaskan apa itu Virgin Pina colada saat Key segera menyambar.

“Bisakah kau menyebutkan nama minuman itu sekali lagi?” pinta Key dan membuat Hye ri mengerutkan dahinya lebih dalam.

Virgin Pina colada.” Hye ri menatap Key, sepertinya atasannya itu sangat tertarik dengan minuman yang baru dipesan olehnya.

Konyol!

Key masih menatap Hye ri dengan pikirannya, tiba-tiba ia teringat sesuatu yang pernah diucapkan Jinki padanya beberapa bulan yang lalu.

“Listen! pendonor sumsum tulang belakangmu itu tidak ingin identitasnya diketahui kan? Dan ia meminta dokter untuk mengatakan padamu bahwa ia adalah malaikat penjagamu kan? Come on Key! What a coincidence!”

What a coincidence!” tanpa sadar Key bergumam, mengulang kalimat terakhir yang pernah diucapkan Jinki.

Apakah Hye ri… Ani! Tidak mungkin! Itu terlalu kebetulan.

Dengan cepat Key menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis segala kemungkinan yang ada dalam kepalanya.

Sajangnim, gwaencanhayo?” Hye ri kembali melambaikan tangannya di depan wajah Key yang masih tak bergeming.

“Ah! Gwaencanhayo!” Kesadaran Key segera kembali.

Tidak mungkin jika yeoja yang selama ini mendatangi mimpi Key itu adalah Hye ri- malaikat penjaga sekaligus pendonor sumsum tulang belakangnya.

Menggelikan!

“Oh! Bisa kulihat design baru mu?” tanya Key akhirnya, mengalihkan pikiran dan topik pembicaraan mereka.

Sepertinya Jinki benar, ia harus pergi ke psikiater jika tak mau yeoja bersayap itu terus-terusan mendatangi mimpinya dan membuatnya gila.

Key dan Hye ri terlihat serius dalam perbincangan mereka mengenai design buatan Hye ri.

Tapi sayang, perbincangan mereka kali ini tidak semenyenangkan perbincangan-perbincangan mereka sebelumnya.

Hal-hal yang mengganggu pikiran Key akhir-akhir ini membuat konsentrasinya buyar.

Tak hanya itu, sepertinya hal-hal itu pun juga membuat emosi Key meletup-letup.

Ia berkali-kali menginterupsi penjelasan Hye ri mengenai design barunya.

Dan bahkan Key beberapa kali mengatakan tidak suka sebelum Hye ri selesai menjelaskan apa yang ia buat.

Sajangnim, ada hal lain yang terjadi?” Hye ri memberanikan diri untuk bertanya setelah kesabarannya benar-benar diuji oleh atasannya itu.

Baru kali ini ia mendapat terlalu banyak interupsi dan kata tidak setuju dari Key pada design buatannya.

Bahkan apa yang diucapkan Key padanya sepanjang perbincangan mereka tak jarang membuat Hye ri berdecak kesal.

Ne?” Key mengalihkan pandangannya dari design baru Hye ri ke wajah Hye ri.

Aniyo, sejak tadi aku hanya berpikir.apakah design yang kubuat ini sangat buruk sehingga kau terlalu banyak memberi kritikan, atau perasaanku benar bahwa emosimu sedang tidak baik, sajangnim?”

Hye ri segera menyadari betapa beraninya ia melontarkan pertanyaan seperti itu pada atasannya.

Tapi sungguh! Hari ini Key benar-benar membuatnya jengkel.

Ingin rasanya Hye ri meninggalkan café tempat mereka membahas soal design dan melempar kertas-kertas designnya ke wajah sang atasan.

Mianhaeyo, aku tidak bermaksud tidak sopan. Tapi sepertinya lebih baik kita membicarakan soal design ini lain waktu saja.”

Hye ri menarik hati-hati kertas design miliknya yang ada di genggaman Key, kemudian memasukkannya dengan agak tergesa-gesa ke dalam map birunya.

Tanpa menunggu reaksi dari Key, Hye ri segera menyambar tas tangannya dan beranjak dari kursinya.

Annyeonghaseyo.” Hye ri membungkukkan badannya di samping kursi Key, kemudian berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Key.

 

=TBC=

 

14 thoughts on “Archangel – Part 4

  1. Kyyaa!! author aku seneng bgt!! akhirnya blog author bisa dibuka ^^ author jahat ih ngebuat readers penasaran utk bisa jelajahin blog author. atau cuma aq doang ya yg plng penasaran? kekeke

    oke, aku gk enak kl manggilnya author terus. aku hrs manggilnya apa nih? eun cha eon? atau apa?

    aku suka bgt ama jln ceritanya. tp part ini msh byk typo dan kekurangannya adlh setiap paragraf hanya terdiri dr 1 kalimat doang. biasanya paragrafkan lebih dari 1 klmt. coba diperbaiki sedikit lg author, aq cuma ksh saran author jgn kesel ya kekeke

    oh ya lupa salam kenal author🙂 aku hana, user namenya biasanya pake hanakey23. aku ini yg nanya gimana cara buka blog author waktu archangel part 2 -kl gk slh-. authornya udh ngejelasin ke aq, tp aqnya yg oon kl aq gk punya blog haha -.-a

    terakhir aku minta email author dong.. kan archangel byk yg di pw, biar bisa minta pwnya🙂 tenang kl aq udh tergila2 ama satu ff selanjutnya akan komen terus kok

    • Hai hana ssi😉 gomawo udah mampir sini.kekekek. Mf yh blog nya baru dibuka lagi.
      Boleh ko, panggil eun cha ajh ^^~

      .kekek. saran dan kritik akan diterima dengan senang hati ko, asal cara penyampaiannya baik. Ne, kalo typo itu udah penyakit aku banget.hhe. Nah, soal kalimat itu mungkin di part2 selanjutnya ada perubahan. *mudah2an ada yah.hhe.*

      Ne, aku inget ko hana ssi yang tanya cara access permission kn yah? nah, sekarang udah ga perlu pake access permission-an lagi.😛
      Pw nya sudah dikirim yah, bisa kamu cek emailnya. U/ part yang NC nya itu ga parah ko, masih dalam taraf kewajaran.hhe.

      Gomawo \(^0^)/

  2. walah… itu archangel part 13 ama 15 aku liat ada yg nc17+. parah bgt gk? yahh masa bacanya lompat?
    umurku 15 , kyknya msh bisa. iya kan? #ngarep

    kl aq minta pw gimana?

  3. waaaah fakt baru…. keren eon..
    kalo boleh tau virgin pina colada apa ya?? #maaf aq gg pernah tau sola minuman kaya gitu… tapi kelihatannya semacam bir.

    tapi bagus eonni aq pikir hye ri itu malaikatnya?? bener kah??

    bener” teka teki….. daebak eon ffnya

  4. Onnie boleh sedikit saran ?? Kog aku sedikit bosen , mungkin terlalu bnyak narasi dripada dialog . Tapi gp kog onnie cerita nya tetap bikin aku penasaran …

  5. Yampuunn disini emosi mereka keluar yah,, dan Jinki kenapa pinter bgt sih,, kepingin tau bgt dan siapa itu malaikat penjaga Key haha…
    Menarik bgt kaa euncha ffnyaaaaa

  6. nahpan udh aku duga ini key nnti bkal sm hyeri. slalu mnunggu khadiran nicole/? tp ga mncul2 mulu;((( pan asik klo ada nicolnya. nnti bsa nyesek/? ahaha pkonya ff kaka bagus.__.

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s