Archangel – Part 5

Archangel – Part 5

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating                        : PG 15

“Thanks a bunch for my beta reader- Onnes eonni- yang udah kasih saran&kritik buat FF ini, sekaligus kasih judul ‘Archangel’ ^^~”

Yeoja dengan piyama pink bercorak bunga-bunga kecil itu menggosok mata kirinya, ia mulai merasa lelah dan ngantuk.

Diliriknya jam dinding hijau yang tertempel di dekat pintu kamar, jam 12.30 malam.

Sudah nyaris 5 jam ia berkutat dengan design nya, membuat beberapa revisi untuk ia serahkan besok pada atasannya yang sore ini sangat sukses membuatnya jengkel.

Hye ri merentangkan kedua tangannya, sementara tubuhnya ia condongkan ke belakang untuk meregangkan otot-otot.

Diraihnya gelas bening tinggi berisi air mineral dan segera ia teguk tanpa ampun.

Rasa kantuk yang mendera Hye ri semakin tak bisa ditolelir lagi, berkali-kali Hye ri menguap selagi ia mencetak revisi-revisi design nya.

Ia harus segera tidur jika tidak mau bangun kesiangan dan mendapat teguran dari orang kantor, apalagi dari atasannya yang tiba-tiba berubah menjadi orang paling menyebalkan sedunia.

Hye ri adalah tipe yeoja yang sulit bangun pagi, selain menyetel weker ia akan menyetel alarm pada ponselnya.

Hye ri meraih ponsel flip ungunya yang sedari tadi tergeletak begitu saja di ranjang dan berniat menyetel alarm pada jam 5 pagi.

Ia sedikit terkejut dengan jumlah pesan singkat yang masuk dan panggilan tak terjawab yang menurutnya diluar batas kewajaran.

35 pesan masuk dan 20 panggilan tak terjawab.

Hye ri membuka inbox pesan singkatnya, dilihatnya pesan singkat berderet dari satu nama yang sama.

Hye ri mendengus, Oh! apa atasannya itu telah mengiriminya pesan dan mengatakan agar Hye ri merombak ulang designdesign nya?

Jika ya, kau sudah kalah Bos Kim! Batin Hye ri seraya melirik revisi design yang baru selesai dicetak di atas meja kerjanya dan tersenyum penuh kemenangan.

Oh! atau jangan-jangan atasannya tidak suka dengan sikap Hye ri sebelum ia meninggalkannya di café?

Senyum di wajah Hye ri segera lenyap.

Bagaimana jika atasannya kemudian mengecap Hye ri sebagai pegawai yang tidak sopan? Dan mengganti Hye ri sebagai designer tetap untuk produk-produk perusahaan?

Oh! celakalah!

Dengan cepat Hye ri mengklik beberapa pesan yang dikirim Key, matanya segera menjelajah tulisan-tulisan berwarna ungu yang ada di layar.

From: Kim Key sajangnim  at 21:15

Kurasa sikapku sangat buruk sore ini, jeongmal mianhaeyo.

 

From: Kim Key sajangnim  at 21:45

sepertinya kau benar! Emosiku sedang sangat buruk sore tadi, apa kau tersinggung?

From: Kim Key sajangnim  at 22:15

Kau marah, Min Hye ri?

 

From: Kim Key sajangnim  at 22:50

Kau sudah tidur?

 

From: Kim Key sajangnim  at 23:03

Oh! baiklah, aku tahu kau marah. Kalau begitu tolong jawab telponku.

 

From: Kim Key sajangnim  at 23:50

Hei, kau benar-benar marah?

 

Mwo? mata ngantuk Hye ri segera terbelalak begitu ia membaca beberapa pesan singkat yang dikirim Key padanya.

Hye ri mengerjap-ngerjapkan matanya, menyadarkan dirinya bahwa ia tidak  sedang bermimpi.

Mengapa atasannya mengiriminya pesan seperti itu? Well, mungkin atasannya memang merasa bersalah atas sikap buruknya pada Hye ri tadi sore.

Tapi isi dari pesan-pesan singkat itu… tidakkah Key terlihat seperti namja frustasi yang tengah mengemis-ngemis maaf dari Hye ri?

Menggelikan!

Hye ri terkekeh pelan, ternyata atasannya itu sangat kekanak-kanakkan!

Ani! Ternyata sikap Key tadi sore memang tidak disengaja, Key memang bukan orang yang menyebalkan.

Hye ri pun seharusnya meminta maaf pada Key atas sikap buruknya sebelum ia meninggalkan Key.

Tadinya Hye ri berniat untuk menelpon Key dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan sudah melupakan kejadian tadi sore.

Namun niatnya itu segera ia urungkan begitu ia sadar bahwa ini adalah waktunya orang-orang tidur dan terlelap dalam mimpi indahnya.

Baiklah! Hye ri memutuskan untuk mengatakannya besok saja, sekalian bertemu langsung dengan atasannya untuk menyerahkan revisi-revisi design nya.

Hye ri menaruh ponselnya tepat di samping bantal.

Ia baru saja menutupi tubuhnya dengan selimut dan hendak memejamkan matanya saat ponselnya bergetar dan memunculkan sebuah nama di layarnya.

Omo! Haruskah ia menjawabnya?

Hye ri segera bangkit dari posisi tidurnya, menggenggam erat ponsel flip dengan kedua tangannya.

Diliriknya lagi jam dinding hijau dekat pintu,  12:45.

Atasannya itu belum tidur? Jinjja!

Yeoboseyo, Min Hye ri ieyo.” Hye ri memutuskan untuk menjawab telpon setelah ia berhasil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya ringan.

“Kau belum tidur? Kenapa tidak menjawab telponku? Kau marah? Aish! Aku benar-benar minta maaf.” Hye ri segera menjauhkan ponsel dari telinganya saat Key menyerbu dengan begitu banyak pertanyaan.

“Euh… aku harus menjawab pertanyaanmu  yang mana dulu, sajangnim?”

“Oh! Mianhae, kau belum tidur?” tanya Key dengan bahasa tak formal, tidak  seperti yang biasa ia gunakan jika berbicara dengan Hye ri.

“Bagaimana aku bisa tidur, jika aku harus menjawab telponmu sajangnim?” goda Hye ri, ia menutup mulut dengan kelima jari tangan kanannya yang menganggur.

Mianhae, aku tahu ini sudah malam. Tapi kau meninggalkanku di café begitu saja dan bahkan tidak menjawab te…”

Arasseo, araseeo. Kau cemas?” Hye ri segera memotong sambil terkekeh, dan sedetik kemudian ia menyesal telah menanyakan pada Key apakah Key merasa cemas karenanya.

Ne?”

“Ah! Maksudku, kau takut aku marah?” Hye ri buru-buru membenahi kalimatnya sebelum Key berpikiran yang tidak-tidak.

“Tentu saja aku marah, sajangnim.”Hye ri kembali berbicara sebelum Key mangatakan apapun.

“…hemm… jika aku boleh jujur, kau sedikit menyebalkan hari ini. Ani! Bukan sedikit! Banyak sekali.” Lanjut Hye ri, ia kemudian terkekeh.

Key ikut terkekeh di seberang sana “Ne, aku pun merasa seperti itu. I got lot of problems, really sorry for being so annoying today.”

Hye ri berhenti terkekeh, senyuman di wajahnya hilang .

Sejujurnya ia tidak menyangka bahwa Key akan merasa sebegitu bersalahnya pada Hye ri hanya karena kejadian tadi sore.

Gwaencanha, mungkin aku terlalu lelah sehingga tidak menerima kritikan darimu dan bersikap tidak sopan sebelum pergi.”

“Lalu, kenapa tidak menjawab telponku?” tanya key lagi.

“Lima jam ke belakang aku sibuk merevisi design-design ku. Jadi, aku tidak tahu jika kau menelpon.” Ungkap Hye ri datar.

“Ah! Geurae.” Key hanya menggumamkan kalimat singkat itu.

Sesaat keduanya diam, tak ada suara yang terdegar selain keheningan malam.

“Jadi, kita melupakan kejadian menjengkelkan tadi sore?” tanya Key akhirnya dan diiyakan oleh tawa ringan dari Hye ri.

“Oh! dan Kau harus melihat revisi-revisi dari design ku besok.” Hye ri melirik lagi revisi-revisi design nya yang tersimpan apik di atas meja kerjanya.

Sure!” jawab Key mantap.

Lagi, keduanya hanya diam. membiarkan sambungan telpon memperdengarkan kesunyian malam.

Tak ada yang berusaha mengakhiri telpon ataupun memulai topik lain.

Entah mengapa saat ini Hye ri merasa kehabisan topik-yopik untuk dibicarakan. Padahal biasanya Hye ri selalu bisa menemukan banyak hal untuk dibicarakan.

“Kau belum tidur?” tanya Key akhirnya.

Hye ri kebali membaringkan tubuhnya, ditariknya lagi selimut ungu pucat hingga ke lehernya.

Aku ingin segera tidur, sajangnim. Jadi segeralah tutup telponmu. Hye ri ingin sekali mengatakan hal itu, tapi sayang, mulutnya mulai mengkhianati.

“Mungkin sebentar lagi.”

“Ah! Gaurae…” mereka kembali diam.

Hye ri membenahi posisi kepalanya di atas bantal, mencari-cari posisi paling nyaman untuk kepalanya.

“Kau tidak bertanya kenapa aku belum tidur?” tanya Key.

“Hemm… bukankah kau sudah mengatakannya?” Hye ri balik bertanya.

“Ah! Ada alasan lain.” Kata Key cepat saat ia menyadari bahwa di awal telpon secara tak langsung ia mengatakan bahwa ia cemas.

“Baiklah, kau belum tidur?” tanya Hye ri, ia tersenyum.

“Sebenarnya aku takut untuk tidur.” Jawab Key singkat.

Hye ri yang telah dilanda rasa kantuk berat itu hanya menanggapi apa yang dikatakan Key secara spontan.

“Apa yang kau takutkan?”

“Aku takut ia mendatangiku lagi.”

“Eii… aku akan menutup telponnya jika kau berusaha untuk menakutiku, sajangnim.” Dengus Hye ri, rasanya sia-sia ia menanggapi ucapan Key yang ternyata hanya main-main itu.

Key terkekeh “Mwo? kau pikir aku sedang menggodamu? Aku serius.”

“Boleh aku bercerita? Sebentar saja, aku janji.” tambah Key cepat, sebelum Hye ri mengatakan hal lain atau bahkan mengakhiri pembicaraan mereka.

“Baiklah, tapi aku tidak bertanggung jawab jika aku ketiduran di tengah ceritamu.” goda Hye ri, ia terkekeh setelah beberapa kali menguap.

“Malaikat penjaga, dia mendatangiku lagi akhir-akhir ini. sejujurnya, aku sedikit tertekan dengan kedatangannya itu.  Temanku bilang itu adalah sebuah pertanda, tapi aku tidak mengerti tanda apa yang dimaksud…”  Key mendesah ringan menggantungkan ceritanya.

Hye ri diam, sejurus kemudian ia tertegun mendengar salah satu kalimat utama yang diucapkan Key.

Malaikat penjaga? Pikirannya dengan cepat menerawang pada kejadian tiga tahun yang lalu. Gendang telinganya seolah mendengar suara yang paling ia cintai .

“Kau malaikat penjagaku… kau benar-benar malaikatku, Min Hye ri.”

Tanpa disadari Hye ri menggumamkan nama Minho, hanya menggumamkannya tanpa suara.

Namja seusiamu masih memiliki malaikat penjaga?” goda Hye ri.

“Apa itu aneh? Aku bahkan baru mengenalnya tiga tahun yang lalu.”

Deg!

Lagi, kalimat Key membuat Hye ri terkesiap. Rasa kantuk Hye ri seketika hilang.

Mengapa?

Lagi-lagi ia teringat Minho.

Key terus bercerita tentang malaikat penjaganya yang sama sekali tidak didengarkan oleh Hye ri karena Hye ri justru sibuk dengan pikirannya sendiri.

Hye ri menarik bingkai foto di meja kecil di samping ranjangnya, ia mulai mengamati wajah tampan Minho di sana.

Kenangan akan masa saat dalam foto itu kembali terulang dalam ingatan Hye ri dan mau tak mau membuat Hye ri kembali meneteskan airmata.

Dada Hye ri terasa sesak, benarkah Minho tak ada lagi di sisinya? Benarkah ia tak bisa lagi berjumpa dan mendengar suara indah Minho?

Setitik airmata kembali menetes dari mata Hye ri dan lama-lama berubah menjadi anak sungai.

Hye ri semakin menjauhkan ponsel dari telinganya, membenamkan kepalanya dalam bantal yang kini telah basah pula oleh airmatanya.

Hanya Minho yang ia ingat sebelum akhirnya ia terlelap dalam kelelahannya.

***

“Gila! Aku pasti sudah gila!” Yeoja berambut semi keriting itu tak henti mengutuki dirinya atas pebuatan bodoh yang telah ia lakukan.

Lagi, ia berjalan terhuyung-huyung. Kedua tangannya yang masih menggenggam map hijau itu sibuk menarik-narik rok mini yang hanya memiliki panjang 23cm dari hipbone nya.

Matanya tak henti memandang ke berbagai arah kalau-kalau ada namja mesum yang memandangi rok nya.

“Aish! Min Hye ri!” entah untuk keberapa kalinya Aeri mendengus menyebut-nyebut nama Hye ri.

Tentu saja! jika bukan karena Hye ri yang tempo hari menghasutnya untuk memakai rok dengan panjang 23 cm dari hipbone, Aeri tidak akan menyesali hidupnya hari itu.

“Sebagai yeoja, sekali-kali tidak ada salahnya memperlihatkan apa yang kita miliki. Bukankah dengan begitu, namja akan berpikir bahwa kita sangat percaya diri?”

Aeri kembali mengumpat saat ia mengingat apa yang dikatakan Hye ri padanya.

Bodoh! Ia baru sadar bahwa ia benar-benar bodoh saat itu.

Jika saja ia tidak risau karena melihat namja yang disukainya pulang bersama yeoja berambut pirang 3 hari yang lalu, pastilah Aeri tidak akan melakukan hal sebodoh ini.

Aeri mempercepat langkahnya setelah melirik arloji.

Well, insiden bodoh ini sukses membuatnya terlambat.

Aeri kembali mempercepat langkah saat resepsionis kantornya mengatakan ia terlihat berbeda dengan rok mini pink yang ia gunakan.

Aeri menarik nafas dan menghembuskannya perlahan saat ia berhasil menaiki lift yang sepi.

Yes! Hanya ada dirinya dalam lift, dengan begitu ia akan selamat hingga ke meja kerjanya.

Jari lentik Aeri bergerak perlahan menekan tombol 3 di samping kanan lift saat sebuah tangan tiba-tiba menahan pintu lift yang sudah setengah tertutup.

Namja itu menatap Aeri dari ujung rambut hingga kaki, matanya menyipit sesaat. Kemudian sempat tertegun memandangi Aeri.

Entah karena ia mengenali Aeri atau karena hal lainnya.

Deg!

Kedua mata Aeri membulat melihat siapa yang baru saja menahan pintu lift.

Ditiliknya namja yang menggunakan vest hitam itu, sementara jas hitam menyampir di tangan kanannya.

Mianhaeyo.” Ucap namja yang nafasnya tersengal itu kemudian masuk ke dalam lift dan berdiri tepat di samping Aeri.

Tangan Aeri bergerak dengan cepat, menutupi pahanya yang terekspos bebas dengan map hijaunya.

Mengapa tiba-tiba ia harus satu lift dengan namja itu? Namja yang sukses membuatnya melakukan hal paling bodoh sedunia.

Aeri telah berusaha mati-matian menutupi perbuatan bodohnya sepanjang jalan tadi hingga ia masuk dalam lift.

Tapi semua usahanya menguap begitu saja, karena namja ini justru telah melihatnya dengan setelan rok mini bodohnya dan kini berdiri tepat di sampingnya.

Oh! celakalah!

Namja di samping Aeri segera memakai jas nya, diliriknya lagi arloji yang melingkar di tangan kirinya.

Kaki kanannya mengetuk-ngetuk lantai lift, menandakan bahwa ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi agar lift yang dinaikinya sampai ke tempat tujuan.

Aeri hanya menundukkan kepalanya, ia tahu ia mengenal namja di sampingnya itu. Tapi ia lebih memilih untuk diam dan berharap namja itu tidak mengenalinya tadi.

“Kim Aeri, kau juga terlambat?” sapa namja bermata sipit dan berpipi penuh itu, ia menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Aeri.

Deg! Jantung Aeri nyaris melompat dari tempatnya.

Ternyata namja itu mengenalinya. Sial!

Ragu-ragu Aeri mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap namja di sampingnya.

Deg! Deg! Deg!

Jantung Aeri tiba-tiba berpacu lebih kencang saat matanya dan namja itu bertemu.

Sial! Gerutu Aeri dalam hati.

“Ah! Benar, ada sesuatu yang menghambatku di jalan tadi.” Aeri tahu ia tak pandai berbohong, tapi itulah kebohongan terbaik yang terpikirkan olehnya.

“Ah! Geurayo. Ban mobilku tiba-tiba bocor di jalan tadi. Aish!” namja itu mendengus kesal saraya melirik lagi arlojinya.

Namja itu kembali mengetuk-ngetukkan kaki kanannya, sementara Aeri hanya diam, ekor matanya menangkap tetesan keringat di dahi namja bernama Lee Jinki itu.

Tangan kanan Jinki dengan cepat menekan tombol 3, membuat lampu tombol mati dan dengan cepat menekan tombol 5 saat lift nyaris berhenti di lantai 3.

“Aku benar-benar terlambat untuk menghadiri meeting pagi ini. Biarkan aku tiba ke lantai 5 lebih dulu, eottae?” kini Jinki memohon pada Aeri dengan mata teduhnya yang bagi Aeri sangat mematikan.

Aeri sempat tertegun sejenak, menikmati pandangan teduh dari dua bola mata yang memakai lensa kontak berwarna hitam -yang membuat si pemilik mata terlihat memiliki bola mata lebih besar dari yang sesungguhnya.

“Ah! Ne.” akhirnya Aeri bisa mengucapkan sesuatu setelah ia berusaha keras mengembalikan kesadarannya dari tatapan mematikan Jinki.

Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi ting yang beriringan dengan terbukanya pintu lift.

Jinki dengan cepat melesat keluar liftGomawoyo.” ia kembali membalikkan tubuhnya, mengedipkan matanya ke arah Aeri.

Aeri hanya diam, bahkan otot-otot geraknya tak mampu merespon perintah dari otaknya untuk sekedar tersenyum.

Pintu lift tertutup seiring dengan menghilangnya Jinki di balik pintu besar coklat yang berada tak lebih 6 meter dari lift.

Seketika kesadaran Aeri telah kembali sepenuhnya, ia menekan tombol 3.

“Bodoh!” gerutunya, ia kemudian menundukkan kepalanya menyembunyikan senyuman yang entah sejak kapan tersungging di wajahnya.

***

Yeoja dengan rok mini dan blouse sailor putih itu menghentikan langkahnya saat yeoja berambut pirang yang duduk di meja di samping tempat ia berdiri mengatakan sesuatu.

Ne?” merasa ada yang tidak beres dengan ucapan yeoja berambut pirang itu, Hye ri sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan kursi yeoja itu.

“Kau sudah mendengarnya barusan, kuharap kau tidak menyalah artikan kebaikan Kim sajangnim. Dia memang baik pada semua orang, tak terkecuali yeoja manapun.”

Yeoja berambut pirang itu menekankan intonasi pada kalimat terakhirnya.

Hye ri mengerutkan dahinya, apa yang dikatakan sekretaris Kim sajangnim ini? Apakah Hye ri baru saja menyalah artikan kebaikan Kim sajangnim dengan memberanikan diri mendatangi ruangannya untuk menyerahkan design?

Cwisonghaeyo?” tanya Hye ri lagi, jujur Ia terkejut dengan kalimat serupa yang diucapkan sekretaris atasannya itu.

Yeoja bernama Nicole itu bangkit dari tempatnya dan membuat Hye ri menegakkan tubuhnya seperti semula.

Nicole tersenyum dan memalingkan wajahnya sekilas “Kurasa kau sudah mendengar rumor tentang dirimu sendiri di kantor ini.”

Hye ri hanya diam, rumor? Apa yang dimaksud Nicole adalah rumor kedekatannya dengan Kim sajangnim?

Ayolah! Jika benar rumor itu yang dimaksud Nicole, sungguh menggelikan!

“Kau boleh saja sering bertemu dengan Kim sajangnim di luar sana, tapi ada satu yang perlu kau tahu, Min Hye ri.” Tanpa memberi Hye ri kesempatan untuk mengatakan apapun, Nicole segera menguasai pembicaraan.

Hye ri memandangi Nicole, menunggu apa sebenarnya inti pembicaraan antara ia dan Nicole.

“Kim sajangnim itu.. ani! Maksudku Key, dia itu baik pada semua yeoja. Tapi sayang, jika kau menyukai Kim sajangnim kau benar-benar sudah terlambat Min Hye ri.”

Nicole melanjutkan kalimatnya dan sukses membuat Hye ri membulatkan kedua matanya.

“Key dan aku… Aish! Haruskan aku mengatakan ini padamu agar kau tidak berharap terlalu tinggi? “ Nicole mendekatkan wajahnya ke wajah Hye ri.

Sejurus kemudian Hye ri hanya tersenyum, ia sudah mengerti inti pembicaraannya dengan Nicole.

“Apa yang ingin kau katakan adalah kalian berkencan?” Hye ri kembali memandang Nicole dengan kedua mata tajamnya.

“Kau tidak usah cemas, Jung Nicole. Lagipula antara aku dan Kim sajangnim itu tidak ada hubungan yang lain selain atasan dan pegawai.” Hye ri kemudian tersenyum penuh kemenangan.

Dilihatnya raut wajah Nicole yang terlihat lebih tenang, tak ada lagi guratan emosi di sana.

Nicole tersenyum puas “Geurae! Bagus jika kau mengerti.” Kemudian Nicole kembali duduk di kursinya.

“Kalau begitu masuklah.” Ucap Nicole datar, matanya telah kembali menatap flat screen di hadapannya.

Hye ri masih menatap Nicole, senyum kemenangan masih tersungging di wajah Hye ri.

Yang benar saja! yeoja yang tidak terlalu ia kenal itu tiba-tiba membuat mood Hye ri rusak. Lagipula, ada satu hal yang perlu diketahui Nicole.

Semengagumkan apapun Key di mata para yeoja di kantornya itu, tetap saja tak akan mengubah pendirian Hye ri untuk tetap mencintai Minho, hanya Choi Minho.

Tapi sayang, Hye ri tidak suka jika ada orang yang tiba-tiba mengusiknya.

Maka Hye ri kembali membungkukkan tubuhnya agar ia sejajar dengan Nicole, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Nicole.

“Oh ya! Cola, lain kali pastikan bahwa pacarmu itu tidak menelponku setiap malam untuk membicarakan hal lain selain pekerjaan. Kau tahu? Itu mengganggu jam tidurku.” Kemudian dengan cepat Hye ri membuka kenop pintu dan masuk ke ruangan atasannya.

Dengan ekor matanya, Hye ri bisa melihat raut kekesalan di wajah Nicole.

***

Key sedikit terperangah saat mendapati yeoja yang masuk ke ruangannya bukanlah sekretarisnya-Nicole.

Dengan cepat Key menghentikan aktifitasnya mengecek file-file yang perlu ia tandatangani.

Dilepasnya kacamata berbingkai hitam yang sedari tadi telah sukses membuat kepalanya menjadi pusing.

Annyeonghaseyo sajangnim, apa aku mengganggumu?” tanya Hye ri yang masih berdiri di hadapan meja Key.

“Ah! Hye ri ssi, aniya! Anjayo.” Key mempersilakan Hye ri menduduki kursi di hadapan mejanya.

Sejenak yeoja itu sempat mengedarkan pandangan pada beberapa benda yang menghiasi meja Key sebelum akhirnya duduk.

Hye ri menyodorkan map biru berisi revisi-revisi design nya ke atas meja Key.

Key segera meraih map biru yang baru disodorkan Hye ri dan dengan cepat mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya.

“Aku membuat beberapa revisi untuk design ku yang kemarin. Kuharap ada satu yang kau sukai.”

Key sempat terkekeh mendengar ucapan Hye ri, tentu saja! jika bukan kelakuannya yang menjengkelkan kemarin, tentu Hye ri tidak akan membuat revisi sebanyak itu.

Diraihnya lagi kacamata berbingkai hitam yang baru ditaruhnya, kemudian menyelipkan kedua gagangya di belakang telinga.

Beberapa menit berlalu, Key sibuk dengan beberapa revisi design milik Hye ri. Kening nya beberapa kali mengkerut kemudian tersenyum tiba-tiba dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ditaruhnya revisi-revisi design Hye ri ke atas meja, beberapa di samping kirinya dan beberapa di samping kanannya.

“Aku suka design-design ini.” Key mengacungkan beberapa lembar kertas yang ia taruh di sisi kiri mejanya.

Sementara kertas yang ada di sisi kanan mejanya segera ia masukan ke dalam map biru.

Kedua mata Hye ri yang sedari tadi asyik menjelajahi ruangan Key segera memfokuskan pandangannya pada Key.

Diraihnya kertas yang disodorkan Key dan mengecek design mana saja yang disukai Key.

Yeoja dengan rambut coklat itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat beberapa design yang disukai Key.

“Oh! aku juga suka design yang ini. ini design terbaikku.” Hye ri mengacungkan kertas berukuran A4 dengan gambar seorang yeoja dengan rambut panjang bergelombang yang terlihat dari belakang.

Keduanya berbincang banyak mengenai design Hye ri, sesekali Key melontarkan guyonan yang tak pelak membuat Hye ri terkekeh.

Hye ri masih terkekeh seraya menutupi mulut dengan kelima jari lentiknya saat Key memperhatikannya.

Sekali lagi Key menilik yeoja di hadapannya, mengamati gerak-gerik dan bahkan mengagumi nya tanpa henti.

Ini kedua kalinya Key jatuh cinta, setelah sebelumnya ia jatuh cinta pada malaikat penjaga yang selalu mendatanginya dalam mimpi.

Sungguh! Wajah Hye ri sangatlah tidak asing di mata Key. Ia yakin bahwa ia pernah bertemu dengan Hye ri sebelumnya, tapi di mana?

“Oh! Hye ri-ya, hari Sabtu ini kau sibuk?” tanya Key saat Hye ri hendak memutar kenop pintu.

Hye ri berbalik, kembali menatap Key yang telah melepas kacamatanya.

“Ne?”

Key diam sejenak, ia menarik nafas pelan. Pelan sekali dan nyaris tak terdengar oleh Hye ri.

Berusaha menyembunyikan kegugupannya, akhirnya Key memberanikan diri mengajak Hye ri berkencan.

“Hemm… kebetulan aku punya 2 tiket menonton film.” Key mengacungkan dua tiket bioskop.

Hye ri hanya diam memandangi Key dengan pandangan yang sulit diartikan, ia tengah berpikir keras.

Key tahu ia baru saja melakukan hal terbodoh sedunia. Bagaimana tidak? Mengajak pacar orang untuk berkencan.

Aish! Bahkan Key tidak yakin bahwa Hye ri masih berhubungan dengan namja di foto yang dikatakan sebagai kekasihnya itu.

Tak lama Hye ri tersenyum “Mungkin aku akan memikirkannya, sajangnim.” ia kemudian berbalik dan hendak membuka kenop pintu.

Baiklah, Key baru saja ditolak.

“Kau yakin hanya akan memikirkannya? Ini tiket premir Woman in Black.” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Key.

Sedetik kemudian Key menyadari betapa berani dirinya mengatakan hal itu.

Bagaimana jika Hye ri tetap menolaknya?

Hye ri berbalik lagi, dipandanginya Key sekali lagi.

Deg ..deg..deg…

Jantung Key berpacu lebih cepat dari yang seharusnya, tubuhnya sedikit menegang. Bagaimana jika Hye ri tetap tidak menerima ajakannya?

Pandangan Hye ri berubah menjadi pandangan berbinar-binar, tanpa diduga ia mendekat ke arah Key perlahan.

“Maksudmu, itu tiket Woman in Black? Premir? Jinjjayo?” Hye ri menghujani Key dengan pertanyaan-pertanyaan retoriknya.

Key tersenyum ringan “You are already know what the answers are.” Jawab Key ringan, ia menggerakkan tangan yang menggenggam 2 tiket Woman in Black.

Hye ri memandang Key sekali lagi sebelum akhirnya ia kembali memandangi tiket di tangan Key.

Sure!” jawab Hye ri seraya menyambar satu tiket dari tangan Key kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan Key.

Jantung Key mencelos, ia masih berusaha menahan diri agar tidak berteriak sebelum Hye ri benar-benar meninggalkan ruangannya.

Jinki benar-benar jenius! Semua ini adalah idenya, tentu saja Key harus mentraktir Jinki sebagai ucapan terimakasih.

Hye ri memang yeoja menarik dan unik, seperti yang dikatakan Jinki.

Hye ri tidak kidal tapi ia memakai jam di tangan kanannya,  ia selalu memakai setelan feminim tapi barang-barang dalam tasnya tidak menunjukkan bahwa ia yeoja feminim, dan bahkan ia sama sekali tidak berteriak atau mengedipkan matannya saat kaki salah seorang staff pemasaran terkena pecahan kaca dan sebagian daging dari kaki staff tersebut terpotong.

Sungguh! Sepertinya Jinki lebih cocok melanjutkan cita-cita kecilnya menjadi seorang detektif.

Dengan hal – hal seperti itu saja Jinki dengan cepat memberitahu Key bahwa film ber genre Horror dan thriller akan disukai Hye ri.

=TBC=

 

8 thoughts on “Archangel – Part 5

  1. Saya suka part ini ,,,
    Kenapa ????
    jang,, jang !!!!!
    silahkan tebak sendiri …
    pokoknya ff ini selalu jadi ff yang di tunggu sepanjang masa hidup saya #lebah lagi ,,,
    ga nyesel bacanya,, trus karakter bias di sini juga beeeeuuuuuhhh,,,,
    favorit banget lah ,,
    suka banget ma si jinki ,,,
    Kenapa ???
    coba tebak dan baca sendiri hehehehhe

  2. di dazzling autumn ada onkey, disini jg ada onkey. kekeke tp pantes sih mereka menjadi sahabat deket disini

    –> Hye ri tidak kidal tapi ia
    memakai jam di tangan
    kanannya.
    ini maksudnya apa? apa bukannya seharusnya tangan kirinya?

    –> saat kaki salah seorang staff
    pemasaran terkena pecahan
    kaca dan sebagian daging dari
    kaki staff tersebut terpotong.
    ngilu aku ngebayanginnya ><

    • .kekek. onkey emang selalu bersama \(^0^)/
      ~ Hye ri tidak kidal tapi ia
      memakai jam di tangan
      kanannya. –> org kidal kan apa2 pke tangan kanan, ga mgkin dia pake jam di tangan kirinya, soalnya itu bakalan nge ganggu kerja tangan kirinya yg lebih sering di pake. Makanya orang kidal biasanya pake jam di tangan kanan, sementara Hye ri, dia ga kidal tapi pake ja di tangan kanannya. Ini aneh banget, dia sama aja ngalangin kerja tangan kanannya.

      .kekekek. sama nih, ak juga ngilu ngebayanginnya😛

  3. wahhhhh 35 pesan 20 panggilan tak terjawab….
    sebegitunya ya….
    makin penasaran nih eun…
    btw dazziling autum aq jg dah baca…
    ff nya bagus …TOP

  4. Mereka telpin2an lucuuu haha apalg Kim sajangnim.
    Jinki memang jenius,, dan Hyeri selalu mengingat Minho, knpa sih Hyeri ga bisa liat tertarik oleh Key??
    Lanjut ka eunchaaa, semangaattt!!

  5. ecieee si nenek sihir udh muncul(re: nicole) kpedean bgt aduhh itu nicole. pan key skanya sm hyeri. trus ciee bgt itu ngjak kencam wkwk

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s