Archangel – part 10

Archangel – Part 10

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating             : PG 15

Di sinilah Key dan Hye ri, duduk berdampingan di lantai kayu sambil memegang coklat hangat yang Key beli di mesin penjual minuman. Di sinilah tempat terbaik bagi keduanya, di mana semua orang tidak akan peduli dengan apa yang orang lain lakukan – tempat sauna.

Keduanya telah berganti pakaian dengan celana selutut dan tshirt, Key berwarna biru dan Hye ri berwarna merah muda.

Key masih diam, memindah-mindahkan kaleng coklatnya dari tangan kanan ke tangan kirinya agar kaleng itu tidak panas lagi. Sementara Hye ri, ia menekuk kedua lututnya, menopang dagunya dengan ujung lutut yang nyaris mencapai wajahnya. Wajahnya merah karena menangis dan guyuran hujan beberapa menit yang lalu.

“Minumlah.” Key mengambil minuman Hye ri dan membukanya, menyodorkannya ke hadapan Hye ri setelah beberapa menit Hye ri tak melakukan apapun.

Hye ri memandang Key, sesekali airmatanya masih menetes. Diraihnya kaleng berisi coklat hangat dan menyesapnya ringan. Merasakan perutnya terisi minuman hangat, dan itu membuatnya sedikit lebih baik.

“Tidak mau bercerita?” tanya Key saat Hye ri telah menghabiskan coklatnya.

Hye ri mendesah ringan, ditatapnya Key. Ia tahu ia tidak bisa menghindar lagi dari pertanyaan-pertanyaan Key. Lagipula ia merasa lelah terus-terusan disebut mempermainkan Key.

Perlahan Hye ri mulai menceritakan Minho pada Key, sesekali Hye ri tersenyum saat ia menceritakan hari-hari indahnya bersama Minho. Pikirannya benar-benar seolah kembali pada kenangan itu, namun itu tidak bertahan lama. Senyuman itu segera berubah menjadi airmata saat Hye ri menceritakan bagaimana penyakit itu merenggut kebahagiaan Minho.

Hye ri menghentikan ceritanya setelah ia menceritakan bagaimana kondisi Minho yang tiba-tiba memburuk satu hari menjelang operasi.

Tangisan itu pecah lagi, Hye ri hanya mampu menundukkan kepala di tengah isakannya.

Sementara Key hanya diam, merangkul bahu Hye ri erat.

Telinga Key memang mendengarkan cerita Hye ri, tapi pikirannya sibuk melayang pada kejadian tiga tahun yang lalu. Ia sangat mengerti, mengerti sekali. Bukan mengerti dengan apa yang dirasakan Hye ri, melainkan mengerti bagaimana rasanya menjadi Minho.

Tentu saja! tiga tahun yang lalu… saat penyakit itu merenggut segala yang ia miliki, ia bahkan nyaris memiliki nasib yang sama dengan Minho. Ia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki harapan dan tinggal menunggu waktu.

“Aku… aku sangat mencintai Minho… sungguh Key, aku tidak bisa melupakannya…aku sangat merindukannya…” sesenggukkan, Hye ri tiba-tiba melanjutkan kalimatnya, membuat lamunan Key buyar.

Arasseo…” Key menatap iba pada Hye ri. Kini ia tidak kesal lagi pada yeoja itu. Key telah mengetahui gambaran jelas mengenai hal yang selama ini tidak jelas di matanya.

Jadi ini yang dimaksud Jinki bahwa Min Hye ri lah yang menjadi masalah, bukan Choi Minho.

Airmata itu terus jatuh dari mata Hye ri, bahkan Hye ri tak bisa mengendalikannya. Membicarakan Minho benar-benar membuatnya frustasi, luka itu kembali dibuka, dan semakin menganga.

Sejenak Hye ri hanya memandang Key, ia rasa Key akan mengerti segalanya.

Ia berharap namja di hadapannya adalah Minho. Karena jika ya, namja itu pastilah akan menarik Hye ri dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung Hye ri ringan sambil membisikkan kalimat bahwa semuanya tidak seburuk yang Hye ri pikirkan. Dan semuanya akan terasa lebih baik bagi Hye ri. Hye ri benar-benar membutuhkan sebuah pelukan untuk menenangkan dirinya.

Sometimes, it’s not the person you miss, but the feelings and moments you had when you were with him…” bisik Key dan membuat airmata Hye ri semakin deras.

“… menangislah di sini.”

Deg! Jantung Hye ri mencelos, apa Tuhan baru saja mengabulkan doa nya?

Key menarik Hye ri dalam pelukannya, tangan yang sedari tadi merangkul bahu Hye ri segera berpindah ke punggung Hye ri, menepuk-nepuknya pelan.

Uljima, everything is okay.” Bisik Key di telinga Hye ri.

Hye ri masih menangis, tapi kini pikirannya melayang pada hal lain. Mengapa? Mengapa Key selalu memperlakukannya sama seperti Minho? Mengapa Key selalu membuat Hye ri merasa tengah berada di dekat Minho?

Sesekali Key menarik Hye ri lebih dalam, membuat wajahnya bisa menyentuh puncak kepala Hye ri. Dihirupnya aroma rambut Hye ri sambil sesekali mengecup puncak kepalanya.

Ia benar-benar mencintai yeoja itu, dan berharap apa yang dilakukannya bisa membuat yeoja itu merasa lebih baik.

Hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hye ri masih merasa nyaman dengan posisinya yang membuat ia merasa ada dalam pelukan Minho, sementara Key sibuk memikirkan apakah ini saat yang tepat untuk mengatakan pada Hye ri bahwa ia sangat mencintainya?

Perlahan Key melonggarkan pelukannya, menangkup wajah Hye ri agar memandangnya.

Ia menarik nafas dalam untuk mengumpulkan keberanian. Yeah! Ia harus mengatakannya sekarang juga.

“Hye ri-ya, aku tahu mungkin ini tidak tepat tapi…” Key menggantungkan kalimatnya, ia menghindari mata Hye ri sejenak.

Sementara Hye ri hanya menatap Key, jari-jarinya mulai menyeka airmata yang membasahi wajahnya ringan. Menangis dalam pelukan Key benar-benar membuatnya merasa lebih baik.

Key masih berusaha mengumpulkan keberanian saat Hye ri masih memandangnya dengan pandangan yang seolah mengatakan apa?

“..aku… aku mencintaimu, Min Hye ri.” Key nyaris menahan nafasnya saat ia mengucapkan kalimat yang terasa begitu berat dan panjang.

Hye ri sedikit terkejut. Ia tahu selama ini Key baik padanya, dan bahkan kejadian di box telepon itu seharusnya sudah cukup untuk menjelaskan perasaan Key padanya. Tapi Hye ri tidak pernah berpikir bahwa Key akan bertindak secepat itu.

“Key, aku…” setetes airmata kembali membasahi wajah Hye ri, ia merasa sedih jika harus membuat Key kembali merasa dipermainkan olehnya.

Key adalah orang yang sangat baik dan bahkan selalu memperlakukannya sama seperti Minho, tapi di sisi lain Hye ri benar-benar tidak bisa melupakan Minho. Hanya Minho seorang yang dicintainya, dan akan tetap seperti itu.

Hye ri memejamkan matanya, membiarkan cairan bening itu rilis dari kedua matanya “… aku sangat mencintai Minho.” lanjutnya.

Key tersenyum, ia tahu Hye ri akan mengatakan hal itu. Tapi tidak ada salahnya kan jika ia terus berusaha untuk membuat pendirian Hye ri goyah?

Arasseo, kau sangat mencintai Minho. Tapi kau harus melupakannya Hye ri-ya.” Ibu jari tangan Key bergerak perlahan, menghapus airmata di wajah Hye ri.

Hye ri masih diam memandang Key, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Key. Ia tahu bahwa cepat atau lambat ia harus melupakan Minho, tapi sungguh! Melupakan Minho tidak semudah yang ia ataupun orang lain pikirkan.

“Aku akan membuatmu melupakan Minho, trust me!” lanjut Key, dan masih tidak ada tanggapan apapun dari mulut Hye ri. Hye ri masih diam, sementara airmatanya terus mengalir.

Jari tangan Key kembali menghapus airmata yang menetes tanpa henti itu, sementara wajahnya mulai merengsek mendekati wajah Hye ri.

Hye ri menyadari bahwa Key semakin mendekat ke arahnya, dan mungkin ia pun tahu apa yang akan dilakukan Key. Tapi Hye ri hanya diam, menatap Key seolah menunggu Key melakukan apa yang ingin dilakukannya, sama seperti saat mereka di dalam box telepon.

“Menikahlah denganku, Min Hye ri.” Ucap Key, kini ia menarik rahang Hye ri mendekat ke arahnya. Matanya berpindah pada bibir Hye ri.

Hye ri hanya memejamkan kedua matanya saat Key terus mendekat, membiarkan airmatanya jatuh lagi. Sementara tanpa ia sadari salah satu tangannya telah berada di dada Key. Dan dalam hitungan detik rasa hangat itu menyapu bibirnya lembut, memberikan sensasi yang tak tergambarkan bagi Hye ri.

Ciuman itu semakin dalam, membuat Hye ri semakin larut dalam buaian indah. Benarkah ini kehangatan yang selalu ia rasakan saat Minho menyentuh bibirnya? Tanpa Hye ri sadari, bibirnya bergerak mengikuti gerakan Key, membalas ciuman Key.

Saranghae.” Bisik Key di sela-sela ciuman mereka.

***

Key membuka matanya perlahan saat malaikat penjaga itu menciumnya lagi.

Kepalanya terasa sedikit pusing dan tubuhnya terasa ngilu.

Well, apa yang terjadi?

Key mengedarkan pandangan ke sekitarnya, lantai dan dinding kayu itu… ia masih berada di tempat yang sama dengan semalam- tempat sauna.

Dengan cepat Key menoleh ke samping kirinya, di mana semalam Hye ri tertidur di sana, menidurkan kepalanya di atas lengan Key.

Tangan kiri Key masih terulur seperti semalam, tapi ia tak mendapati Hye ri tidur di sana. Dengan cepat Key bangkit, mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat sauna dan mencari sosok yeoja dengan setelan celana pendek dan tshirt berwarna merah muda. Tapi Aish! Semua yeoja mengenakan setelan yang sama di sini.

Sesaat Key membenamkan wajah di kedua tangannya karena merasa sedikit pusing, kemudian ia melirik arlojinya. Jam 9 pagi, celakalah! Ia sudah terlambat untuk datang ke kantor.

Key berlarian meninggalkan tempat sauna setelah ia mandi dan berganti pakaian, sementara tangannya sibuk mencari ponsel layar sentuh yang ia taruh dalam tasnya.

Ada banyak pesan singkat dan panggilan tak terjawab. Tentu saja! semua orang pasti mencarinya, ditambah lagi ada beberapa file penting yang harus ia tandatangani hari ini.

Satu persatu pesan singkat itu mulai di baca, langkah Key terhenti saat membaca pesan singkat dari yeoja yang pagi ini telah meninggalkannya di tempat sauna.

From : Min Hye ri at 6.20 am

Kau terlambat Sajangnim? Maaf aku meninggalkanmu karena hari ini aku harus berada di kantor tepat waktu.

Kau terlihat lelah, jadi aku tidak berani membangunkanmu.

Terimakasih untuk hari kemarin, aku benar-benar merasa lebih baik J

Dan untuk lamaranmu itu… apa dengan menerima ciumanmu berarti aku menerimanya?

Molla~ tapi kurasa malam itu aku telah menjawab lamaranmu dengan ciuman itu.

Tapi Key, aku perlu waktu sendiri untuk memikirkannya lagi. Tidak usah terburu-buru meminta jawaban, jika jawabannya telah kutemukan, aku akan mendatangimu dan mengatakannya secara langsung…

Terimakasih~

 

Sebuah senyuman tersungging di wajah Key, usahanya tidak sia-sia. Balasan ciuman dari Hye ri semalam memang merupakan jawaban bahwa yeoja itu bersedia menikah dengannya.

Key masih terlarut dalam kebahagiaannya saat telepon dari seseorang membuat kebahagiaannya berkurang.

Ne, Jinki-ya. Aku sedang dalam perjalanan ke kantor, mianhae aku sedikit… flu… yeah! flu.” Key membuka pintu mobilnya dan melesat menuju kantor.

***

Luka itu tidak terlalu lebar, tapi Jinki memang sangat cerdik.

Sangat mudah baginya membuat luka itu seolah lebih lebar dan sangat parah.

Gwaencanhayo?” tanya yeoja dengan rambut semi keriting itu, wajahnya benar-benar terlihat cemas.

Tentu saja! Pagi ini ia bangun terlambat dan berlarian menuju kantor. Segala sesuatu yang dilakukannya tidak ada yang benar, bahkan beberapa orang di jalan jatuh tersungkur ke trotoar karena langkahnya yang sembrono.

Dan langkahnya kembali membawa musibah saat ia berjalan menuju lift, ia menabrak guci kecil yang terpajang di meja kecil di samping lift.

Bukan masalah besar jika yang terjadi hanya lah guci imitasi dari China yang pecah, tapi yeoja itu kembali menabrak orang saat ia berusaha berjongkok memungut pecahan guci.

Dan inilah musibah terbesar yang pernah ia buat sepanjang hidupnya, orang tersebut terjatuh ke lantai hingga tangannya terkena pecahan porselen dari guci tadi.

“Ah! Gwaencanhayo.. Ouch!” Jinki meringis saat ia menggerakkan tangan kanannya. Kini perban tebal membalut telapak tangannya yang sobek karena pecahan porselen di dekat lift.

“Maaf, aku benar-benar ceroboh. Jeongmal cwisonghamnida.” Aeri kembali membungkukkan badannya. Ia benar-benar merasa bersalah, bagaimana ia bertindak begitu ceroboh dan mencelakakan orang lain? Terlebih lagi namja ini, empat buah jahitan sudah cukup bagi Aeri untuk merasa bersalah seumur hidup.

Keduanya berjalan meninggalkan klinik yang terletak tak jauh dari kantor, berkali-kali Aeri terlihat berusaha memapah Jinki.

“Hei! Yang luka tanganku, aku masih bisa berjalan.” Sergah Jinki buru-buru, dan setelahnya Aeri akan kembali meminta maaf.

Dwaesseo, kau sudah minta maaf berpuluh-puluh kali kurasa. Ini hanya kecelakaan.” Jinki melempar senyum ke arah Aeri dan yeoja itu hanya menunduk.

Jinki merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel, ia menekan tombol dan segera menempelkan ponsel hitam itu ke telinganya.

“Yaa Key! Kau di mana? Semalam kau tidak mabuk kan? Ada banyak file yang menunggu untuk kau tandatangani.” Ucap Jinki begitu seseorang di seberang sana menjawab teleponnya.

“Flu? Di musim panas? Ah! Geurae, kurasa musim panas memang akan segera berakhir. Dwaesseo cepatlah datang ke kantor.” Dan sambungan telepon itu segera Jinki akhiri.

Well, sebenarnya itu tidak terlalu penting bagi Jinki untuk menelepon sang atasan untuk datang lebih cepat. Toh file yang harus ditandatangani Key masih bisa menunggu hingga besok pagi. Tapi sungguh! Jinki benar-benar merasa gugup berada di dekat yeoja yang sudah nyaris satu tahun ini ia perhatikan secara diam-diam.

Jinki memang pandai mengelabui orang, tapi sungguh! Ia tidak tahu bagaimana mengelabui perasaannya sendiri.

Sesaat atmosfir antara keduanya terasa kaku, Jinki berdeham pelan untuk mencairkan atmosfir aneh tersebut.

“Jadi, siang ini kau akan mentraktirku lunch?” tanya Jinki tiba-tiba, membuat Aeri spontan mengangkat wajahnya yang tertunduk dan menatap Jinki heran.

“Kelihatannya kau merasa sangat bersalah padaku. Bagaimana jika kau mentraktirku lunch sebagai permintaan maaf? Hemm?” Jinki tersenyum lagi, ia benar-benar licik! Itulah alasannya membuat luka di tangannya seolah lebih lebar dan lebih parah dari yang sebenarnya. Tentu saja! agar pertemuannya dengan yeoja itu bisa terus berlanjut.

“Hmm, geurae-yo.” Aeri terlalu gugup dan hanya mampu megucapkan kalimat singkat itu. Makan siang? Bersama Jinki? Aeri harap ia tidak sedang bermimpi.

***

Matahari musim semi sudah mulai naik, menyinari kota Seoul. Tapi sayang, sinarnya tidak bisa menghangatkan Seoul karena hembusan angin sejuk yang bergerak dari arah Tenggara.

Jam dinding merah muda di kamar Aeri sudah menunjukkan pukul 8, tapi yeoja itu malah semakin mengeratkan selimut ke tubuhnya.

Awal musim semi benar-benar sejuk! Tidak! Orang Jepang memang lebih sering menyebutnya dengan sejuk, tapi bagi Aeri itu sangat dingin.

Ini hari Minggu, dan tidak ada salahnya jika Aeri bermalas-malasan sepanjang hari. Hanya di hari Sabtu dan Minggu lah Aeri bisa menikmati hidupnya, di luar itu ia harus kembali berhadapan dengan dunia nyata yang melelahkan.

Aeri masih berjalan di antara bunga-bunga beraneka warna saat ponselnya menjerit-jerit, membuatnya terbangun dari mimpi indah itu.

Beberapa detik Aeri membiarkan ponselnya, berharap si penelepon terkutuk itu mematikan sambungan telepon yang tak kunjung Aeri jawab.

“Aish!” Aeri berdecak kesal, jeritan ponselnya semakin lama semakin nyaring dan itu membuat kepalanya pusing.

Lagipula siapa yang meneleponya pagi-pagi begini? Di hari Minggu. Sial!

Tangan Aeri meraba-raba meja kecil di samping ranjangnya, sementara kakinya menendang-nendang selimut yang telah melilit tubuhnya.

Yeoboseyo.” Setelah susah payah, akhirnya Aeri mendapatkan ponselnya. Menjawab panggilan itu dengan malas.

Beberapa detik Aeri masih tidak menyadari siapa dan apa yang dibicarakan si penelepon, ia bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Lee Jinki?!!!!” Pekik Aeri saat si penelepon mengulangi namanya, dengan cepat Aeri bangkit. Ia bahkan sempat memejamkan matanya beberapa detik karena merasa pusing.

Susah payah Aeri berusaha menutupi kegugupannya.

Ne? ke rumahmu?Ah! Arasseo..arasseo… teman? Geurae, sampai jumpa.” Aeri menghembuskan nafas lega saat sambungan telepon berakhir.

Dadanya masih berdebar-debar tak karuan, apa yang diucapkan Jinki barusan di telepon sukses membuat senyuman indah melengkung di wajah Aeri, semburat merah itu muncul di tengah cuaca dingin yang Aeri rasakan.

Sudah tiga minggu semenjak kecelakaan yang menyisakan empat jahitan di telapan tangan Jinki terjadi, dan semenjak itu lah Jinki rajin sekali meminta bantuan Aeri. Tidak! Menyuruh-nyuruh lebih tepatnya, Jinki sering sekali menelepon Aeri di kantor dan meminta Aeri datang ke tempatnya hanya untuk melakukan hal sepele.

Menyedihkan? Tidak! Justru Aeri senang bisa sering bertemu dengan namja itu, ada banyak percakapan yang terjadi antara mereka. Dan Aeri rasa ia mulai mengenal namja itu lebih baik dibanding saat ia hanya memperhatikannya dari jauh.

Dan telepon barusan mengatakan bahwa Jinki meminta Aeri datang ke rumahnya, yeah! Hanya sekedar menemaninya menghabiskan paket barbeque yang dikirim eomma nya, juga membantu Jinki untuk memasaknya.

Aeri menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya yang masih memegang ponsel itu ia taruh di dadanya. Jinki benar-benar namja yang baik dan sopan, di akhir teleponnya ia mengatakan agar Aeri membawa teman kalau-kalau Aeri berpikiran Jinki akan berbuat yang tidak-tidak padanya dengan menyuruhnya datang ke rumah Jinki.

Nyaris saja Aeri menghabiskan seluruh waktunya untuk tersenyum dan mengingat kalimat-kalimat Jinki saat ia segera tersadar. Aeri berjengit saat sesuatu melintas dalam pikirannya. Oh! ya Tuhan! Pakaian apa yang harus ia kenakan hari ini?

Dengan cepat ia merhambur ke arah lemari pakaian tiga pintu nya yang menempel di dinding dekat jendela. Oh! dan Min Hye ri! Tentu saja ia harus menelepon Hye ri terlebih dahulu sebelum datang menjemputnya untuk pergi ke rumah Jinki.

***

“Oh! jadi namja itu Lee Jinki?” Hye ri nyaris mengotori jok mobil Aeri dengan coklat panas yang ada dalam genggamannya.

Aeri hanya mengangguk, sementara matanya masih fokus pada jalanan yang mulai dipenuhi daun-daun maple kering yang berserakan.

Hye ri membenahi tangannya, memegang cup berisi coklat panas dengan baik agar tidak tumpah. Apa yang dikatakan Aeri membuatnya sedikit terkejut. Bagaimana tidak? Aeri hanya bercerita bahwa ia tidak sengaja mencelakai seorang namja di kantor mereka, dan akibatnya Aeri harus mau melakukan apa yang disuruh namja itu hingga tangan si namja sembuh total. Hye ri tidak pernah berpikir bahwa namja itu adalah Lee Jinki, tangan kanan Key di kantor.

Coklat panas itu masih mengeluarkan asap yang melayang-layang mendekati kaca mobil karena Hye ri meniupnya. Perlahan ia membuka tutup cup dan berusaha menyesap isinya ringan.

Tapi niatnya ia urungkan saat sesuatu melintas dalam pikirannya. Lee Jinki? Ke rumahnya? Ya Tuhan! Apa di sana juga ada Key? Tidak mungkin! Tapi bagaimana jika ini memang rencananya? Dan bagaimana jika Kim Aeri terlibat dalam rencana itu?

Sungguh! Saat ini Hye ri belum mau menemui Key, ia belum mau membahas mengenai jawaban yang akan ia berikan atas lamaran Key.

Eonni, kau akan baik-baik saja jika aku tidak ikut ke rumah Jinki ssi?” ragu-ragu Hye ri bertanya pada Aeri, meskipun ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya.

Decitan rem yang diinjak secara mendadak membuat beberapa pejalan kaki terkejut, begitu juga salah satu penumpang sedan merah yang sukses menjatuhkan cup berisi coklat panasnya.

Hye ri membelalakkan kedua matanya, tangan kanannya menepuk-nepuk dada, sementara mulutnya membentuk huruf O.

Eonni, waegeurae?” dilihatnya Aeri yang terlihat membeku, kedua tangannya masih di atas setir tapi kedua matanya memandang Hye ri tajam.

“Kau akan mati jika berani membiarkanku datang ke sana sendirian, Min Hye ri!” Hye ri menatap Aeri, ia terkejut! Baru kali ini Aeri membuatnya takut.

Arasseo.” Jawab Hye ri akhirnya, ia tahu bahwa ada sesuatu antara Aeri dan Lee Jinki. Jika tidak, Aeri tidak akan semenyeramkan itu hanya karena Hye ri tidak mau menemaninya ke rumah Jinki.

Sedan merah itu kembali melaju dengan kecepatan statis, melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti karena insiden kecil tadi.

***

Jinki dan Key masih berdebat di ruang tengah karena winning eleven yang baru selesai mereka mainkan.

Jinki kalah,tapi ia tidak mau mengakui bahwa Key lebih unggul darinya.

“Kau menang karena tanganku seperti ini.” Jinki mengangkat tangan kanannya, menunjukkan telapak tangan dengan goresan sepanjang tiga senti.

Key kembali terkekeh, kemudian berjalan ke arah Jinki “Ini sudah sembuh Lee Jinki!” Key menekan-nekan luka di tangan Jinki.

Look! Bahkan dokter sudah membuka jahitannya.” Lanjut Key.

“Yaa! Jangan sembarangan!” Jinki segera menjauhkan tangannya dari Key.

“Ini masih terasa kaku, aku belum terbiasa untuk menggerakkannya dengan normal.” Sergah Jinki. Tentu saja! lukanya itu sudah sembuh 85%, tapi ia tidak mau jika Key menganggapnya tidak bisa bermain winning eleven.

“ck! Arasseo.” Cibir Key, ia kemudian menyesap minuman dalam cangkirnya.

Jinki tersenyum, apa yang dikatakan Key soal lukanya itu memang benar. Tangan kanannya sudah sembuh 85%, tapi terlalu cepat jika Jinki harus mengatakan pada Aeri bahwa lukanya sudah sembuh. Jinki bahkan belum merasa bahwa Aeri sudah kagum dan jatuh hati padanya. Masih ada banyak hal yang perlu Jinki pamerkan pada Aeri agar yeoja itu mau meliriknya.

Ting tong

Suara bel rumah membuat Jinki dan Key menoleh bersamaan ke arah pintu utama.

“Oh! kurasa itu Kim Aeri.” Jinki segera mengeluarkan perban sepanjang 15 senti dari saku denim nya, kemudian melilitkannya ke telapak tangan dengan cepat.

Key memalingkan wajahnya sambil mencibir, ia tahu Jinki sangat pandai dan licik. Bahkan selalu licik untuk mengambil hati yeoja pujaannya.

“Ayo Key! Kita tidak boleh membiarkan mereka kedinginan di luar.” Jinki berlalu melewati Key setelah ia selesai dengan perbannya. Sementara Key hanya mengekor.

“Mereka?”

Jinki menatap Key dan tersenyum ringan “Oh! dia membawa teman.”  Kemudian menghentikan langkahnya tiba-tiba.

“… persiapkan dirimu, Key.” Jinki menepuk bahu Key pelan, kemudian kembali berbalik dan berjalan menuju pintu utama.

Key segera menangkap apa yang dimaksud Jinki, benarkah? Mengapa Jinki baru memberitahunya sekarang? Jika teman Kim Aeri tidak tahu Key telah berada di rumah Jinki, celakalah! Yeoja itu akan mengira bahwa ini adalah rencananya.

Jinki sialan! Umpat Key dalam hati.

***

Key dan Hye ri sempat bertatapan beberapa detik, keduanya terkejut dengan keberadaan satu sama lain di rumah Jinki.

“Oh! Anda juga di sini, sajangnim?” Aeri segera membungkukkan badannya saat menyadari namja dengan hoodie merah muda itu adalah Key.

Key membungkukkan badannya ke arah Aeri,  matanya kemudian kembali memandang Hye ri yang masih  mematung di samping Aeri.

Dengan enggan Hye ri segera membungkukkan badannya, ia pikir itu lah satu-satunya cara untuk menghindari mata Key saat ini.

“Masuklah, di luar dingin sekali.” Jinki segera memecah atmosfir aneh yang terasa antara mereka berempat.

Mereka berjalan menuju dapur, di mana perlengkapan untuk barbeque party telah tersedia di sana.

“Nah! Kurasa aku tidak bisa menghabiskan ini sendirian.” Terang Jinki, ia menunjuk tumpukan daging mentah dalam kotak makanan.

“Jadi aku mengundang Key, juga kalian.” Tambah Jinki, yang sebenarnya lebih ia tujukan pada Hye ri yang sibuk merapikan topi rajutnya.

Geurae, kurasa ini terlalu banyak untuk dirimu. Oh! bahkan masih terlalu banyak untuk kita berempat.” Ucap Aeri, ia berjalan mendekati kotak berisi daging.

“Jyaa!! Kurasa kita bisa mulai sekarang.” Jinki berjalan menuju rak di mana ia menyimpan barbeque set miliknya.

Sementara Kim Aeri, entah mengapa tubuhnya bergerak begitu saja mendekati Jinki. Membantu namja itu mengangkat barbeque set.

Hye ri dan Key masih mematung di tempat mereka, keduanya tidak terlihat ingin melakukan barbeque party.

“Oh Key! Bisa kau bantu membawa daging itu? Dan piring nya di rak di atas bak cuci.” Ucap Jinki yang telah berjalan menuju halaman belakang sambil mengangkat barbeque set bersama Aeri.

“Ah! Sure!” Key sempat melirik Hye ri sebelum ia menyodorkan kotak besar berisi daging mentah padanya.

“Kau bawa ini, piringnya berat.” Ucap Key dan hanya dijawab dengan anggukan ringan oleh Hye ri.

Hye ri berjalan lemas menuju halaman belakang. Oh! apa yang akan terjadi setelah ini? Bahkan ia menyadari bahwa Jinki dan Aeri memang sengaja membuat ia tetap berdua dengan Key.

***

Barbeque party itu berlangsung menyenangkan, setidaknya bagi Jinki dan Aeri. Keduanya begitu menikmati pesta kecil di halaman belakang.

Aeri tengah merapikan piring-piring saat Hye ri menghampirinya “Eonni, kurasa aku harus pergi sekarang.”

Aeri berhenti menumpuk piring “Eh?” ia tahu Hye ri terlihat tidak nyaman sejak tadi dan bahkan sepertinya ia tidak menikmati barbeque party. Dan sudah jelas penyebabnya adalah keberadaan Key yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

“Aku ada janji dengan seseorang, dia sudah menungguku.” Terang Hye ri buru-buru, ia tahu Aeri tengah mencurigainya.

Nugu?” Aeri kembali menumpuk piring.

“Teman lama, ia baru pulang dari Inggris beberapa waktu lalu.” Jawab Hye ri cepat.

Sesaat keduanya saling berpandangan. Aeri memandang Hye ri tajam, berusaha membaca pikiran yeoja itu.

Aniyo eonni, biar aku pulang sendiri saja. Jinjja! Dia sudah menungguku.”  Terang Hye ri saat Aeri memutuskan untuk mengantarnya kemudian kembali ke tempat Jinki untuk membereskan piring-piring itu.

Eonni, aku pulang sendiri saja. Jinjja! Aku bisa melakukannya sendiri.” Tambah Hye ri, ia tahu sebenarnya Aeri masih ingin tinggal lebih lama dan mengobrol banyak dengan Jinki. Tapi sungguh! Kim Jonghyun sudah menunggunya.

“Ada masalah di sini, ladies?” Jinki muncul dengan kopi kalengan di tangannya, sementara Key menjinjing trash bag yang dipenuhi sampah barbeque party mereka.

“Oh! Jinki ssi, mianhaeyo aku harus pulang lebih awal. Aku ada janji dengan seseorang.” Seketika atmosfir dalam dapur terasa sangat tidak menyenangkan.

Semua mata memandang Hye ri dengan asumsi yang berbeda.

“Dia sudah menungguku.” Lanjut Hye ri cepat, ia tahu semua orang tengah mecurigainya.

Aeri melempar pandang ke arah Key, ia bisa melihat gurat kekecewaan di wajah namja itu.

“Aku akan mengantarnya dulu dan kembali lagi untuk membereskan piring-piring itu.” Aeri berusaha mencairkan suasana.

Aniyo eonni, itu akan membuatmu lelah.” Sergah Hye ri, yeoja itu bersikeras untuk pulang sendirian.

Key ingin sekali menwarkan diri untuk mengantar Hye ri, juga sebagai kesempatan agar ia benar-benar memiliki waktu berdua saja dengan Hye ri. Tapi ia segera mengurungkan niatnya, ia tahu Hye ri akan menolaknya tanpa berpikir lagi.

Well, biar Jinki yang membereskan piring-piring itu.” Akhirnya kalimat itu yang Key ucapkan sebagai bantuan.

“Hei! Kau bercanda? Aku tidak bisa mencuci piring.” Kata Jinki buru-buru, membuat Key menohok. Tentu saja! ia tahu Jinki sangat pandai mencuci piring.

“Aku akan kembali.” Aeri memandang Jinki.

“Itu akan membuatmu lelah.” Hye ri kembali menolak.

“Tidak masalah.” Jawab Aeri.

“Kau akan membiarkan piring-piring ini menumpuk terlalu lama?” seketika semua mata memandang ke arah Jinki.

Hye ri terperanjat, sepertinya Jinki tidak senang jika Aeri mengantarnya, atau apakah namja itu punya maksud lain dengan ucapannya?

“Aku bisa pulang sendiri. Sungguh! Mianhaeyo.

“Key! Kau saja yang mengantar Hye ri.” Ucap Jinki enteng.

Key tahu ini akan terjadi. Ia membulatkan kedua matanya memandang Jinki, seolah mengatakan jangan-bercanda.

Ragu-ragu Key memandang Hye ri, menunggu persetujuan dari yeoja itu.

Aniyo,  itu merepotkanmu sajangnim. Aku akan pulang sendiri.”

Jinki menatap Hye ri tajam, ia baru tahu bahwa yeoja itu sangan keras kepala.

“Cuaca di luar sangat dingin, lagipula kau akan lebih cepat sampai jika Key mengantarmu.” Jinki berusaha bersabar dengan Hye ri, baru kali ini ia menghadapi yeoja yang keras kepala seperti Hye ri. Pantas saja Key terlihat begitu frustasi.

Sesaat Hye ri memandangi ketiganya bergantian. Well, ia tidak seharusnya keras kepala dan menolak bantuan semua orang. Tapi jika Key mengantarnya… Aish!

Geurae, jika kau tidak keberatan, sajangnim.” Akhirnya Hye ri setuju.

***

Kamshahamnida.” Ucap Hye ri setelah Key menepikan mobilnya di depan sebuah café bergaya Perancis.

Ia dengan cepat melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil saat Key dengan gesit menahan salah satu tangannya.

Hye ri hanya menoleh, ragu-ragu memandang mata Key.

“Berapa lama lagi aku harus menunggu?” akhirnya Key berani menanyakan hal yang sedari tadi ingin ia tanyakan pada Hye ri.

Yeoja itu tertegun, ia tahu apa yang sedang dibicarakan Key. Oh! bahkan ia tidak tahu berapa lama lagi waktu yang ia perlukan untuk berpikir dan mengambil keputusan.

Hye ri tersenyum ringan “Tidak lama lagi, kurasa. Yeah.” Ucapnya, membuat Key kecewa.

Key tahu bahwa ‘tidak lama lagi’ yang dimaksud Hye ri adalah kurun waktu yang tidak dapat ditentukan.

Key merengsek mendekati Hye ri, merapikan syal putih yang melilit rapi di leher yeoja itu. “Take care.”

Tak lama, yeoja itu segera menghilang dari pandangan Key.

Key masih diam dalam mobilnya, tersenyum hambar pada kenyataan yang membuatnya frustasi.

Ia hendak menginjak gas saat matanya menangkap sosok Hye ri dibalik jendela berbingkai coklat café tadi.

Dilihatnya yeoja itu menghampiri meja dekat jendela di mana seorang namja dengan coat hitam telah menunggunya.

Namja itu segera beranjak dan berhambur ke arah Hye ri, memeluk yeoja itu kemudian mengusap pipi Hye ri sebelum akhirnya mereka duduk.

Key membulatkan matanya, memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Oh! bahkan Hye ri tersenyum begitu manis padanya.

Key mengepalkan tangan kanannya, membuat buku-buku jarinya terlihat pucat.

Siapa namja itu? Teman lama Hye ri? Lalu mengapa mereka terlihat begitu mesra?

Apalagi ini? Key berdecak kesal kemudian menginjak gas dalam.

Really, she’s full of things. Gumam Key dalam hati.

=TBC=

12 thoughts on “Archangel – part 10

  1. waaaww seru… jgn2 konfliknya msh ada pd saat mereka sdh kawin. atau hye ri akan sangat kesel pd key saat dia tahu kl key lah yg nerima sumsum blkng hye ri. itu abang jjong jgn bikin rumit masalah ya… udh abang jjong ama aq aja ^^ #plak

    tp eon kl operasi sumsum tlng blkng berarti ada bekas jahitan di punggung key dan hye ri dong?

  2. Yuhuuu Key ngelamar Hyeri😀
    Asiikkk Jinki modus bgt yah ngedeketin Aeri kekekeke…
    Dan Key cemburu menguras hati hehheheehe
    Lanjut dulu deh kaa euncha bacanyaa🙂

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s