Archangel – part 11

Archangel – Part 11

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating             : PG 15

Key menaruh map-map berisi dokumen penting yang baru saja ia tandatangani.

Melepas kacamata berbingkai hitamnya ke atas meja, memijat antara kedua matanya kemudian mendesah pelan.

“Baiklah, kau boleh pergi.” Ucap Key saat menyadari sang sekretaris tak beranjak dari tempatnya.

Nicole memandang Key, ia tahu mood namja itu sedang tidak baik.

Are you okay?” Nicole memastikan.

Key memaksakan seulas senyum “Don’t worry.”

Tentu saja kalimat itu palsu, Key merasa buruk sekali saat ini. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya.

Sudah nyaris satu bulan sejak barbeque party di rumah Jinki. Dan Hye ri sama sekali belum mengatakan apapun. Yeoja itu malah terkesan menghindari Key, lalu harus berapa lama lagi ia menunggu?

Really?” tanya Nicole lagi, ia tahu Key tidak baik-baik saja. Ia sudah sangat mengenal seperti apa emosi Key saat namja itu ada masalah atau pun tertekan.

Key hanya bergumam pelan sebagai jawaban.

“Key…” Nicole menggantungkan kalimatnya. Ia tahu rumor yang sudah lama beredar tentang Key dan designer itu sudah mulai jarang dibicarakan.

Keduanya jarang terlihat bersama seperti dulu, dan bahkan Hye ri lebih sering mendatangi ruangan Key untuk mendiskusikan design.

Nicole tahu, hubungan keduanya sedang tidak baik dan ia rasa ini adalah saat yang paling tepat untuk mengambil Key kembali sebelum designer itu membuat rumor yang tidak menyenangkan bagi Nicole.

 “… bagaimana jika kita makan siang bersama?” tawar Nicole dan sukses membuat Key terperanjat.

Nicole mengangkat kedua bahunya “Mereka tidak akan membuat rumor hanya karena kau makan siang bersamaku, lagipula kau sudah sering ke luar kota denganku.”

Key menatap Nicole, tawaran Nicole tidak terlalu buruk. Lagipula kini Jinki lebih sering sibuk bersama Kim Aeri.

Tidak ada salahnya jika ia makan siang bersama Nicole, ia rasa akan lebih baik jika ia tidak sendirian.

Sure!” jawab Key mantap.

***

Min Hye ri berjalan lemas menyusuri trotoar, entah mengapa hari ini terasa begitu lama dan membosankan untuknya.

Makan siangnya barusan berlangsung seperti mimpi, ia bahkan tidak tahu apa sushi-sushi itu benar-benar masuk ke dalam perutnya atau tidak.

Baru kali ini ia merasa begitu kesepian, Kim Aeri tidak lagi makan siang bersamanya karena ia harus menemani Lee Jinki. Oh! bahkan kini luka di tangan Jinki sudah sembuh, tapi mengapa Kim Aeri masih saja menemaninya?

Dan jika saja ia tidak berhenti menemui Key di luar jam kerja, mungkin saja hari ini ia akan makan siang dengan Key sambil sesekali membahas design. Itu terdengar lebih baik dibandingkan sendiri.

Hye ri menendang-nendang kerikil yang ia lihat di trotoar, aish! Bahkan ia masih punya waktu 40 menit lagi sebelum melanjutkan pekerjaannya.

Hye ri masih sibuk menendang-nendang kerikil saat langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia menyipitkan kedua matanya, memastikan ia tidak salah lihat.

Dilihatnya Key dan Nicole berjalan berdampingan beberapa meter di hadapannya. Key sesekali tertawa saat Nicole mengatakan sesuatu padanya.

Mereka terlihat asyik berbincang, bisa Hye ri pastikan mereka baru saja makan siang bersama. Keduanya berhenti berjalan saat Key mengatakan sesuatu, kemudian Nicole bergerak menghadap Key.

Keduanya saling berhadapan saat tangan Key menyentuh rambut pirang Nicole dan mengambil sesuatu yang tersangkut di sana.

Hei!!! Mengapa adegan itu membuat Hye ri tidak senang? Mengapa ia tidak senang melihat Key tertawa seperti itu pada Nicole?

Hye ri masih membeku di tempatnya hingga Key dan Nicole kembali berjalan.

“Oh! Min Hye ri?!” seru Nicole saat ia melihat Hye ri.

Hye ri mengutuki dirinya yang sama sekali tidak sempat bersembunyi atau bahkan beranjak dari tempatnya.

Hye ri memandang Nicole dan Key bergantian dan dengan cepat membungkukkan tubuhnya “Annyeonghaseyo.”

Key dan Nicole melakukan hal yang serupa, “kau sendirian?” tanya Nicole, mata nya begitu tajam memandang Hye ri.

“Hmm.” Hye ri hanya menjawabnya dengan gumaman ringan. Ia segera menghindar begitu matanya bertemu dengan mata Key.

“Jika saja aku tahu kau sendirian, mungkin kau bisa bergabung dengan kami untuk makan siang tadi.” terang Nicole, ia menatap Key kemudian kembali menatap Hye ri dengan senyum puas.

“Ah! Geuroguna.” Hye ri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara ia menunggu Key mengatakan sesuatu.

Yeah! Mungkin sesuatu yang akan menjelaskan mengapa ia makan siang bersama Nicole.

Sementara Key masih diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Hye ri. Pertanyaan basa-basi pun tak terlintas dalam pikirannya.

Ia tahu Aeri makan siang bersama Jinki, dan ia tidak memiliki pertanyaan lain dalam kepalanya. Menanyakan kapan Hye ri akan berhenti membuatnya menunggu? Atau bertanya apa hubungannya dengan namja yang ia temui di café? Jangan gila!

Geurae, aku dan Key harus pergi ke tempat lain sebelum kembali ke kantor. Sampai jumpa.” Nicole kembali mengucapkan kalimat yang benar-benar membuatnya senang.

Ia tahu, siapapun yang melihat ia dan Key seperti ini akan berasumsi bahwa keduanya memiliki hubungan lebih dari atasan dan sekretaris.

Hye ri memandang Key yang sedari tadi hanya diam, namja itu hanya memandangi Hye ri dengan pandangan yang sulit diartikan.

Oh! mengapa Key sama sekali tidak mengatakan apapun? Apa karena kejadian saat di rumah Jinki? Saat ia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Key di sana? atau karena ia sempat menolak Key untuk mengantarnya? Atau karena ia sedang bersama Nicole saat ini? apa ia dan Nicole….

“Ah! Ne, sampai jumpa.” Hye ri segera mengenyahkan kemungkinan-kemungkinan dalam kepalanya.

Nicole dan Key berjalan meninggalkan Hye ri yang masih mematung di tempatnya.

Kaki Hye ri belum bisa melangkah, mengapa Key tidak mengatakan apapun padanya? Atau minimal bertanya mengapa ia sendirian?

Key berjalan begitu saja meninggalkan Hye ri saat Nicole menariknya. Pikirannya masih sibuk tentang bagaimana seharusnya ia bersikap di depan Hye ri agar yeoja itu tidak membuatnya menunggu lebih lama lagi.

Nicole terus berbicara saat diam-diam Key menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Hye ri yang masih mematung di tempatnya.

***

Key terus berbicara, menerangkan bagian mana yang ia suka dan bagian mana yang harus Hye ri perbaiki pada design terbarunya.

Keduanya terlihat fokus dan professional dalam tugas masing-masing.

Hye ri baru saja hendak beranjak dari kursi saat Key mengatakan sesuatu yang membuat Hye ri urung melakukan niatnya.

“Oh! kau bisa menyerahkan hasil akhirnya pada Jinki kurasa. Lusa aku akan pergi ke Busan, dan akan tinggal selama empat hari. Jinki akan mengambil alih tugasku untuk design mu.”

“Apa?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dan terdengar sangat lantang.

Key tahu bahwa Hye ri tidak benar-benar melewatkan ucapannya “Lusa aku dan Nicole akan pergi ke Busan selama empat hari. Ada sesuatu yang harus kami urus di sana. Dan kurasa… aku tidak bisa menemanimu hingga design itu selesai, jadi kau bisa menyerahkannya pada Jinki. Dia akan mengurusnya dengan baik.”

Yeoja itu terdiam sejenak, memandang map biru nya. Key akan pergi ke Busan selama empat hari, bersama Nicole. Dan mengapa itu membuatnya tidak senang? Mengapa rasanya ia terganggu dengan hal itu?

Are you okay?” Key melambaikan tangannya ke hadapan Hye ri.

Yeoja itu terperanjat, lamunannya buyar. “Ah! Ne.”

Hye ri berjalan lemas menuju pintu, benarkah tidak ada hal lain yang ingin dikatakan Key padanya? Mengapa namja itu berhenti bertanya berapa lama lagi ia harus menunggu?

Entah mengapa hatinya mencelos saat ia keluar dari ruangan Key, namja itu sungguh-sungguh tidak mengatakan hal lain padanya.

Hye ri terus berjalan saat Nicole berbicara sesuatu yang membuat Hye ri muak.

Hye ri tidak menyimak keseluruhan apa yang Nicole katakan, tapi ada satu hal yang tertangkap telinganya.

“Aku dan Key akan pergi ke Busan, tiga hari untuk urusan kantor. Dan satu hari tambahan untuk berlibur, tidakkah itu akan sangat menyenangkan?”

***

Hye ri membalikkan lagi bantalnya, rasanya sama saja-tidak membuatnya ingin tidur.

Diliriknya lagi map biru yang tersimpan rapi di atas meja kerjanya. Ia kembali menghempaskan tubuh ke atas ranjang setelah mengecek –entah untuk yang keberapa kalinya- design yang akan diserahkannya besok pada Jinki.

Namja itu telah menghubunginya terlebih dahulu untuk bertemu besok pagi.

Hye ri kembali mendesah, ia merasa uring-uringan sejak Key memberitahu soal keberangkatan ke Busan lusa.

Mengapa? Ia sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa perasaan tidak senang itu muncul begitu saja, memenuhi pikirannya dan membuat segala sesuatunya seolah tidak berpihak pada Hye ri.

Bukankah bagus jika Key tidak muncul di hadapannya untuk beberapa hari? Bukankah itu yang Hye ri inginkan? Menghindari namja itu agar tidak usah mendengar pertanyaan berapa-lama-lagi-aku-harus-menunggu?

Hye ri beranjak, mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan meraih bingkai putih yang selalu tersimpan rapi di meja kecil.

Ditatapnya wajah Minho lekat-lekat. Sesekali mulut Hye ri seperti hendak mengatakan sesuatu, namun nyatanya yeoja itu seolah kehabisan kata-kata, tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Hye ri hanya menatap wajah Minho dalam foto dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya ia mendesah ringan “Mengapa aku seperti ini? Perasaan macam apa ini?”

Bingkai itu ditaruhnya kembali dengan rapi ke tempat semula, kemudian melompat ke atas ranjang dengan kesal.

Benar! Ia kesal dengan perasaannya sendiri. Perasaan yang membuatnya merasa tidak nyaman dan lebih memilih untuk membenamkan dirinya ke bagian bumi paling dalam dibandingkan harus mengingat jadwal kepergian Key ke Busan.

***

Yeoja itu kembali melirik arloji di tangan kanannya, sesekali matanya menoleh ke segala penjuru seolah mencari sesuatu.

“Oh! Mianhaeyo kau harus menunggu di depan meja resepsionis.” Seorang namja dengan kemeja kotak-kotak berwarna orange tua menghampiri Hye ri, ia menjinjing tas berwarna hitam.

“Ne, gwaencanhayo Jinki ssi.” Ucap Hye ri setelah ia membungkukkan badannya.

Map biru berisi hasil akhir dari design nya itu segera ia sodorkan pada Jinki yang masih terlihat kewalahan mengatur nafasnya.

Jinki meraih map biru, sementara tangan kirinya sibuk menyeka keringat yang membasahi sekitar leher belakangnya dengan saputangan.

Mianhaeyo, tadi aku harus mengantar Key ke bandara. Jinjja! Itu sangat mendadak.” Jinki mengeluarkan kertas besar dalam map biru dan mulai meneliti detil design Hye ri.

“Bukankah seharusnya ia pergi besok?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Hye ri, seolah sudah berada di sana dengan sendirinya.

Jinki segera mengalihkan fokusnya dari coretan berwarna-warni dalam kertas yang ia genggam. Ujung bibir sebelah kirinya tertarik, menghasilkan senyum angkuh.

Yeoja di hadapannya memang berusaha terlihat tenang, tapi Jinki bisa merasakan keterkejutan dalam intonasi ucapannya barusan.

“Aku tidak tahu mengapa Key tiba-tiba mempercepat jadwal keberangkatannya ke Busan. Ck! Dan aku kasihan melihat Nicole yang kewalahan mengemasi barang-barangnya secara mendadak.” Call! Jinki segera menyetujui ide nya untuk membohongi yeoja yang terlihat semakin tidak tenang itu.

Pagi ini Key menelepon Jinki untuk mengantarnya ke bandara, pihak Busan mendadak meminta Key untuk datang hari ini. Dan itu semua membuat jadwal Key berantakan, tidak ada orang lain yang bisa ia mintai bantuan selain sahabat terbaiknya-Jinki.

Pagi itu pun Nicole terlihat sedikit tergesa-gesa dengan perubahan jadwal ke Busan yang begitu mendadak.

Jinki ingat apa yang diucapkan Key sebelum Jinki melesat menuju kantor.

Oh! mungkin saat itu Jinki merasa jengkel, mengapa Key begitu mencemaskan Hye ri? Yeoja yang bahkan sama sekali tidak pernah memikirkan Key sedikitpun.

Selain menitipkan semua tugas kantor, mengapa Key juga harus menitipkan Hye ri padanya? Meminta Jinki mengawasi dan membantu yeoja itu jika ia dalam kesulitan. Itu cukup sebagai alasan Jinki membohongi Hye ri.

Mata Jinki kembali pada design Hye ri, tapi sebenarnya ia terus mengawasi yeoja itu dengan ekor matanya. Semakin puas saat yeoja itu segera melirik arloji nya kemudian memandang ke arah Jinki tak sabaran.

“Hei! Tag line ini menarik sekali, bagaimana jika kita bicara di ruanganku?”

“Oh! Kau bisa membaca keterangannya dalam file yang aku lampirkan.” Hye ri semakin tidak sabaran, rasanya ia ingin segera berlari meninggalkan Jinki dan diam-diam pergi ke bandara.

Hei! Mengapa ke bandara? Entahlah! Hye ri sendiri tidak tahu apa yang akan dilakukannya di bandara, yang terpenting adalah ia harus bertemu dengan Key sebelum ia meninggalkan Seoul.

“Akan lebih menarik jika aku mendengar langsung dari designer nya. Ah! Senang sekali menjadi Key, selalu mendengar langsung cerita di balik sebuah design dari designer nya langsung. Kurasa aku harus menerima tawaran Key untuk menangani soal design seterusnya.” Terang Jinki panjang lebar, ia tersenyum puas.

“Apa?” lagi pertanyaan seperti itu meluncur begitu saja dari mulut Hye ri, ia bahkan tidak punya kesempatan untuk berpikir terlebih dahulu.

“Kurasa aku akan menggantikan Key untuk menemanimu membahas design seterusnya.” Mata Jinki tak sedikitpun beralih dari design Hye ri.

“Key memintamu melakukannya?”

“Dia pernah mengatakannya padaku. Well, kurasa ada yang aneh. Tapi…” Jinki memandang Hye ri.

“…sepertinya Key merasa kau tidak nyaman berada dekat denganya. Setidaknya itu yang aku tangkap dari ekspresi wajahnya.” Lanjut Jinki acuh tak acuh, dan kembali pada design Hye ri.

Hye ri hanya diam, benarkah Key berpikiran seperti itu? Apakah Hye ri sudah keterlaluan membiarkan Key menunggu terlalu lama?

“Jinki ssi, kurasa aku harus pergi. Annyeonghaseyo.” Hye ri membungkukkan badannya lemas, kemudian hendak berbalik meninggalkan Jinki saat langkahnya tertahan oleh Jinki.

“Bukankah kita akan membahas design ini di ruanganku?” Hye ri memejamkan matanya sambil berdecak kesal, apa lagi yang diinginkan Jinki?

Hye ri tahu bahwa Jinki terlihat tidak suka padanya saat barbeque party di rumah Jinki sebulan yang lalu. Tapi haruskah namja itu berbuat sesuka hati padanya?

Mianhaeyo Jinki ssi, aku benar-benar harus pergi. Aku… terburu-buru…” terang Hye ri, ia terlihat sedikit ragu dalam kalimat terakhirnya.

Kedua ujung bibir Jinki terangkat, menghasilkan lengkungan indah yang sempurna.

“Kau punya waktu 15 menit sebelum pesawatnya berangkat.” Jinki memasukkan design Hye ri ke dalam map biru.

“Eh?”

“Kau ingin menemuinya kan?” Jinki sama sekali tidak memandang Hye ri.

Aniyo, aku…”

“Tidak perlu menyembunyikannya dari ku Hye ri ssi, aku tahu kau ingin menemui Key sebelum ia meninggalkan Seoul kan? Itu mengganggumu? Kau bisa terbuka tentang apa pun padaku.” Kini Jinki menaruh satu tangannya di pundak Hye ri.

Yeoja itu hanya memandang Jinki, mengapa Jinki bisa membaca pikirannya?

“Kau bisa mengejarnya dengan taksi, aku yakin Key juga mengharapkan kau menemuinya di sana.”

Sebenarnya Jinki ingin menawarkan bantuan pada Hye ri, tapi ia ingin melihat sebesar apa yeoja itu mau berusaha untuk Key.

Hye ri masih memandang Jinki, pikirannya terlalu sibuk memikirkan banyak hal. Ia memang ingin menemui Key di bandara, tapi apakah ia bisa mengejar Key hanya dalam waktu 15 menit? Lagipula apa yang akan ia lakukan setelah bertemu dengan Key?

Ia masih menimbang-nimbang saat kedua kakinya tiba-tiba melangkah begitu saja meninggalkan Jinki dan berubah menjadi langkah cepat.

“Heii! Kau terburu-buru, Hye ri ssi?” tanya seorang security saat berpapasan dengan Hye ri yang berlari sekuat tenaga meninggalkan gedung kantor.

***

Key berdecak kesal, dilemparnya ponsel hitam itu ke atas tumpukan tas dan barang-barang lain miliknya.

Sungguh tidak profesional! Bagaimana bisa perusahaan produk kosmetik yang meminta kerjasama itu membatalkan segala sesuatunya lima menit sebelum pesawat lepas landas? Setelah sebelumnya memajukan jadwal pertemuan secara mendadak. Menjengkelkan!

Key kembali meraih ponselnya dan segera menekan sebuah nomor “Jinki-ya, semuanya dibatalkan! Kau bisa menjemputku? Oh! aku tidak mau kembali ke kantor!”

Key sesekali memandang Nicole yang duduk lemas di salah satu bangku bandara, ia memainkan ponselnya.

“APA??!!” suara itu terdengar begitu lantang dan cukup membuat Nicole menoleh ke arah Key.

Key tertegun mendengar apa yang dikatakan Jinki. Tolong jangan katakan bahwa ia sedang bermimpi, atau jangan katakan bahwa ini adalah salah satu lelucon Jinki.

Key segera memutar tubuhnya ke segala arah, matanya menyapu setiap penjuru bandara. Berusaha mencari sosok yang dikatakan Jinki tengah berlari ke sana.

Jinki mengatakan hal lain sebelum ia dengan sendirinya memutus sambungan telepon, Jinki tahu bahwa Key sudah tidak fokus lagi pada apa yang dikatakannya.

Nicole beranjak menghampiri Key saat mata namja itu masih menyapu setiap penjuru bandara seolah mencari seseorang.

Waegeurae?” tanya Nicole, matanya ikut-ikutan menyapu setiap penjuru bandara. Mencari seseorang yang mungkin ia kenali juga.

“Oh! Col-ah, ada sesuatu yang harus kuurus. Kau bisa memanggil taksi dan pulang ke rumah. Anggap saja ini hari liburmu.” Key segera berlari ke arah di mana ia menumpuk kopor, tas lain beserta jas biru tua nya.

Nicole dengan cepat meraih kopor nya dan berjalan mengikuti Key saat namja itu melenggang begitu saja meninggalkannya.

“Terjadi sesuatu?” Nicole berusaha menyamakan langkah dengan Key yang berjalan semakin cepat menuju halaman bandara.

Ani! Ini di luar tugas kantor.” Key mempercepat langkahnya, matanya tak henti menjelajah setiap sudut bandara yang ia lewati.

Perasaan Nicole mulai diliputi rasa cemas, tentu saja mood nya sudah cukup rusak dengan perubahan jadwal ke Busan yang begitu mendadak. Ditambah lagi pembatalan keberangkatan lima menit sebelum pesawat lepas landas.

Ia sudah bisa memastikan bahwa Key akan membawa Nicole ke tempat lain sebagai pelampiasan rasa kecewa mereka pada pihak di Busan sana. Yeah! Mungkin ke café atau tempat lain yang menyenangkan.

Namun semuanya pupus saat ia melihat perubahan ekspresi di wajah Key saat ia menelepon Jinki.

Nicole tahu hal yang tidak ia ketahui itu akan membuatnya tidak senang. Ia tahu hanya ada satu orang yang beberapa bulan terakhir ini selalu membuat wajah Key sumringah seperti itu.

Orang yang paling Nicole benci sedunia.

“Kau terburu-buru? Bagaimana jika kita minum kopi di café untuk menghilangkan kekecewaan pagi ini?” Nicole berusaha mengalihkan perhatian Key. Ia tidak mau Key segera menemukan yang dicarinya.

Key menghentikan langkahnya seketika, ia baru menyadari bahwa yeoja ini sedari tadi terus mengikuti dan berusaha membuatnya merasa tenang dengan kejadian pagi ini.

“Pulanglah, kau terlihat lelah dan sedikit… berantakan dengan kejadian pagi ini. Kuberikan satu hari libur padamu.” Key menghadap Nicole, memberikan senyum terbaiknya dan berusaha terlihat tenang.

“Tapi Key…” Nicole menahan tangan Key agar namja itu tidak melanjutkan langkahnya, meninggalkan Nicole sendirian.

“… mianhae, aku tidak bisa menemanimu ke café atau ke tempat lain yang kau inginkan saat ini. Sungguh! Ini penting sekali Col-ah.”

Nicole kehabisan kata-kata, mengapa segala sesuatunya selalu terlepas begitu saja darinya? Segala sesuatu yang telah berada di depan mata dan nyaris menjadi miliknya.

Sial! Nicole menggerutu dalam hati, ia hanya menatap nanar punggung Key yang semakin menjauh darinya.

Dadanya sesak dan rasanya sakit. Ia tahu, apa yang membuat Key berjalan begitu cepat meninggalkannya.

Ia tahu, alasan mengapa Key tak henti menjelajah setiap sudut bandara dengan awas.

Benarkah Min Hye ri lebih penting darinya?

Mengapa rasanya begitu menyakitkan setiap kali ia memikirkan bahwa alasan Key melakukan semua itu adalah Min Hye ri?

Yeoja yang bahkan tidak mengenal Key sebaik ia mengenal Key.

Nicole melambaikan satu tangannya saat sebuah taksi meluncur di halaman bandara, sopir taksi itu segera memasukkan barang-barang Nicole ke dalam bagasi.

Nicole duduk dengan tenang di jok belakang, matanya menatap kosong ke satu titik. Dan airmata itu masih menetes membasahi kedua pipinya.

***

Pukul 10.20.

Yeoja itu berjalan kecil menyusuri halaman bandara, kepalanya menunduk menatap jalanan beraspal yang diinjaknya. Sementara rambut coklatnya yang sudah melewati bahu itu dibiarkan menjuntai tertiup angin.

Tetesan kecil keringat masih terlihat di kening dan bagian belakang lehernya.

Bodoh! Entah untuk yang keberapa kali ia mengutuki dirinya sendiri.

Untuk apa ia berlari secepat yang ia bisa agar bisa mencapai bandara sebelum jam 10.15?

Tentu saja ia tiba di bandara lima menit sebelum jam 10.15, lalu apa yang akan ia lakukan setelah bertemu dengan Key?

Memeluknya dan mengatakan bahwa ia tidak senang jika Key pergi ke Busan selama empat hari bersama Nicole? Atau menanyakan apakah satu hari tambahan adalah untuk berlibur bersama Nicole? Lalu apa alasannya?

Oh! Hye ri rasa ia sudah gila!

Hye ri tertawa hambar, menertawakan kebodohannya.

Saat ini Key pasti sedang berbincang dengan Nicole dalam pesawat. Yeah! Mereka pasti menikmati penerbangan singkat menuju Busan. Dan itu membuat Hye ri kembali berdecak kesal.

Well, sebaiknya ia menemui Minho sebelum kembali ke kantor dan melakukan hal yang ia suka sebelum ada design baru yang harus dikerjakan.

Hye ri masih berjalan menyusuri halaman bandara, kepalanya masih tertunduk dan matanya masih memandang aspal saat sepasang sepatu hitam di hadapannya sukses membuat langkahnya terhenti.

Hye ri hanya mampu membulatkan kedua matanya saat melihat si pemilik sepatu itu. Apakah ia harus senang saat ini?

“Min Hye ri?” namja berambut coklat terang itu memastikan bahwa ia tidak salah lihat.

Jantung nya mencelos, ia merasa benar-benar lega saat mendapati yeoja itu benar-benar ada di hadapannya. Jadi, apa yang dikatakan Jinki soal Min Hye ri yang berlari menyusulnya ke bandara itu bukan omong kosong?

Hye ri masih diam, apa ia sedang berhalusinasi melihat Key? Bukankah seharusnya namja itu ada dalam pesawat? Dan di mana Nicole? Lalu, apa yang akan ia lakukan setelah bertemu dengan Key?

“Oh! Mengapa Anda ada di sini, sajangnim?” Hye ri berusaha mengulur waktu selagi ia memikirkan alasan apa yang akan ia katakan pada Key tentang keberadaannya di bandara.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Key tidak menanggapi pertanyaan Hye ri, ia sibuk memperhatikan tetesan keringat yang masih membasahi kening dan leher yeoja itu.

Benarkah Min Hye ri berlari? Hanya untuk mengejarnya ke bandara seperti yang dikatakan Jinki?

“Mmmm… aku, temanku akan…” belum sempat Hye ri menyelesaikan kalimatnya, Key segera berhambur ke arah Hye ri. Melepas kopor dan tas yang ia genggam, kemudian memeluk yeoja itu erat-erat.

Hye ri membeku di tempatnya, keringat itu masih membasahi kening dan lehernya dan kini Key memeluknya. Oh! apa yang harus ia lakukan?

Sementara Key semakin mengeratkan pelukannya, seolah tidak mau melepas Hye ri begitu saja. Sudah berapa lama sejak yeoja itu mulai menghindarinya dan membuatnya terus menunggu?

Key memejamkan kedua matanya, menghirup aroma rambut Hye ri dalam-dalam. Ada perasaan bahagia yang membuncah dalam dada nya.

Gwaencanhayo, sajangnim?” hanya kalimat itu yang bisa Hye ri ucapkan. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

“Kita tidak sedang berdinas.” Jawab Key saat yeoja itu memanggilnya sajangnim.

Baru kali ini Key memeluknya seperti ini, memeluk dengan erat seolah tidak mau kehilangan. Dan mengapa ini membuat perasaan Hye ri menjadi lebih baik?

Hye ri ingin sekali membalas pelukan Key, tapi ia terlalu terkejut dengan hal ini. Seluruh alat geraknya benar-benar tidak merespon perintah dari otak. Dan pada akhirnya Hye ri membiarkan kedua tangannya menggantung begitu saja, membiarkan Key memeluknya semakin erat.

Beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan mereka, hal biasa tentu saja jika orang berpelukan di bandara. Tapi akan menjadi tidak biasa jika keduanya terus berpelukan.

“Key, aku…”

“sebentar saja.” Key semakin mengeratkan pelukannya pada Hye ri, ia tidak mau siapa pun-termasuk Hye ri- mengganggu nya menikmati suasana ini.

Ia tidak mau saat ia melepaskan pelukannya, yeoja itu akan berlari menghindarinya lagi.

Semilir angin di musim semi membuat daun-daun maple yang kering beterbangan, saling berbisik menceritakan kisah dua anak manusia yang mereka lewati.

Key terlarut dalam pikirannya sendiri, rasanya begitu indah bisa memeluk yeoja yang sangat dicintainya. Ia sudah terlalu lama menunggu, dan hatinya sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Perlahan Key melonggarkan pelukannya, menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hye ri.

Yeoja itu terlihat seolah kehilangan pikirannya, ia hanya memandang Key begitu saja. Beberapa detik kemudian Hye ri segera mendapatkan kesadarannya, ia rasa dirinya terbuai dalam pelukan Key yang begitu hangat dan nyaman.

Hei! Dan mengapa ia tidak mengingat Minho saat Key memeluknya?

Perlahan Hye ri mendongakkan kepalanya untuk menatap Key, berusaha tenang meskipun kini jantung nya berisik tak karuan. Ya Tuhan! Apa yang sekarang harus ia katakan pada Key? Andai saja Kim Aeri ada di sini.

Saranghae…” ucap Key sebelum Hye ri sempat mengatakan apa pun.

Saranghae…Min Hye ri, saranghaejeongmal…” berkali-kali Key mengucapkan kata cinta itu, membuat Hye ri semakin kehabisan kata-kata.

“Key…a…”

“… aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi Hye ri-ya. Apa kau tidak mencintaiku? Bukankah kau kemari karena diriku?” Key segera menyambar sebelum Hye ri menyelesaikan kalimatnya, menghujani Hye ri dengan serentetan pertanyaan.

Hye ri kehilangan kata-kata. Key benar, Key adalah satu-satunya alasan Hye ri berlari mengejar pesawat pukul 10.15 itu. Lalu bagaimana dengan perasaannya? Benarkah Hye ri tidak mencintai Key?

Ia hanya memandangi Key, beberapa hal menyenangkan yang telah ia lalui bersama Key mulai terputar ulang dalam kepalanya. Dan tak lama ia mengingat satu kalimat yang beberapa waktu lalu pernah Jonghyun katakan padanya.

“Benarkah tak ada satu namja pun yang membuatmu merasa lebih baik saat berada di dekatnya?”

Key selalu membuatnya merasa lebih baik, memperlakukan Hye ri dengan baik. Sebaik Minho memperlakukannya dulu.

“Aku…”

“Menikahlah denganku, Min Hye ri.” Sekali lagi Key membuat Hye ri kehabisan kata-kata.

Hye ri kembali diam, hanya memandang Key. Sebuah perdebatan hebat tengah berlangsung dalam pikirannya. Haruskah ia menerima lamaran Key? Atau menolaknya karena ia belum yakin dengan perasaannya pada Key?

Jebal, jangan buat aku menunggu lagi Min Hye ri. Kau menerimaku? menolakku? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.” Key terlihat begitu frustasi, ia tahu mungkin ia telah membuat Hye ri tidak nyaman dengan pertanyaannya.Tapi sungguh! Hatinya sudah tidak bisa menunggu lagi.

Hye ri tengah berpikir keras, ia tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Dan satu keputusan yang harus ia ambil adalah keputusan besar. Keputusan yang sangat besar dalam hidupnya.

“Menikahlah denganku, aku akan membuatmu melupakan Minho. I promise.” Key kembali berusaha meyakinkan Hye ri, ia tahu yeoja itu masih mengingat Minho.

Genangan benda cair di kedua mata Hye ri membuat penglihatannya kabur, apa yang harus ia lakukan?

All you need is trust me.” Key semakin tidak sabaran.

“Menikahlah denganku, hemm?” tanya Key sekali lagi, ia mulai frustasi karena Hye ri justru menangis.

Airmata itu mulai berjatuhan dari mata Hye ri, meluncur bebas membasahi blouse nya.

Everyone wants happiness, no one wants pain, but you can’t have a rainbow without rain.

Begitu juga dengan Hye ri, sebuah senyuman perlahan melengkung dengan sempurna di antara air matanya.

Key masih menunggu saat akhirnya Hye ri menganggukkan kepalanya perlahan, membuat Key membulatkan kedua matanya.

Jinjja? Kau mau menikah denganku?” Key berusaha meyakinkan dirinya bahwa Hye ri tidak salah memberinya jawaban.

Hye ri menganggukkan kepalanya lagi, ia tidak bisa mengatakan apa pun karena bibirnya bergetar hebat menahan tangis. Ia tahu Key akan membuatnya melupakan Minho.

Key memeluk yeoja itu lagi, lebih erat dari sebelumnya. Penantian panjang nya tidak sia-sia, ia benar-benar mendapatkan apa yang ia inginkan.

Perlahan Hye ri melingkarkan kedua tangannya di tubuh Key, membalas pelukan namja itu.

Keduanya saling melempar pandangan tak terartikan, jari tangan Key mengusap airmata yang masih membasahi pipi Hye ri, seiringan dengan wajah Key yang merengsek mendekati Hye ri.

Direngkuhnya rahang yeoja itu dengan lembut “Saranghae, Hye ri-ya.” Kemudian memberikan ciuman hangat di bibir Hye ri.

Hye ri memejamkan kedua matanya, menerima ciuman Key dengan perasaan aneh yang membuncah dalam dada nya. Sementara hatinya berbisik “Minho-ya, aku tidak mengkhianatimu kan?”

=TBC=

12 thoughts on “Archangel – part 11

  1. kyaa!! sweet moment
    bener² keren thor, sumpah dehh aku ikutan tegang pas Key lg nyari² hyeri di bandara dtmbah nicole yg trus mengekor ma key, bner² bikin aku ksel skligus brhrap hyerinya cpet dtg..
    Hmm mrk akn mnikah, tp aku rasa prnikhn mrk blm bs lepas dr yg nmanya mslh..

    Lanjuuutttt!!!!

  2. Perjuangan key akhirnya terbalas! Yeay. Dua jempol authornya, sweet momentsnya bikin aku senyum sendiri kayak orang gila😄. Khawatir sama Nicole dan Jonghyun, takut ada salah paham😦

    Lanjut thor!

  3. aduh ff ini beneran menguras emosi ya..nicole itu hiwhiw kenapa castnya harus nicol hahaha buat tambah sensi aja thor..salut deh ama cintanya key hyeri harusnya bersyukur

  4. Ga habis pikir Jinki tuh jenius banget,, suka sama karakter Jinki😀
    Hyeri yampuunn bimbang banget sama perasaanya??! Selamat untuk Key yg diterima lamaranya sama Hyeri..
    Oke next chap~🙂

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s