Archangel – part 6

Archangel – Part 6

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating            : PG 15

Di sinilah Key, duduk di salah satu bangku penonton yang tidak terlalu belakang namun tidak juga terlalu depan.

Ia meremas cup kertas yang digenggamnya saat tiba-tiba wajah wanita dengan pakaian hitam itu muncul di atas kursi goyang yang menghadap kamera begitu dekat.

Tak pelak key membekap mulutnya sendiri agar ia tidak berteriak.

Tentu saja! Ide Jinki sangatlah jenius dengan mengajak Hye ri menonton film horror.

Sangat jenius! Dan bahkan Hye ri sangat menikmati film terkutuk itu.

Bagaimana tidak? Bahkan selama film berlangsung Hye ri sama sekali tidak mengajak Key untuk berdiskusi sedikit saja tentang apa yang kira-kira terjadi.

Hye ri begitu menikmati Woman in Black, ia hanya sesekali berteriak singkat saat beberapa sosok menyeramkan muncul tiba-tiba.

Tidak ada hal yang umum dilakukan yeoja saat menonton film horror bersama namja– berteriak histeris dan membenamkan wajahnya dalam pelukan si namja.

Keduanya berjalan beriringan meninggalkan gedung bioskop.

Wajah Hye ri terlihat berseri-seri, sementara Key merasa sangat lega karena akhirnya film itu selesai juga.

“Kau suka film nya?” tanya Key basa-basi.

“Hemm, tapi aku sedikit kecewa dengan akhir cerita yang tidak jelas.” Hye ri mendongakkan kepalanya ke belakang agar ia bisa melihat wajah Key yang berjalan di belakangnya.

Key berjalan lebih cepat hingga kini ia berdampingan dengan Hye ri.

“Oh! kita mau ke mana?” pekik Hye ri saat Key menarik pergelangan tangan kirinya.

Dinner, kau tidak lapar?”tanya Key santai, sementara tangannya masih menggenggam tangan Hye ri.

“Tapi mobilmu di sana.” tunjuk Hye ri ke arah yang berlawanan dengan arah ke mana Key manariknya.

“Kita jalan kaki saja.” lanjut Key lagi, kini ia melepaskan genggamannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku denim nya.

Tanpa banyak bertanya, Hye ri mengikuti ke mana Key membawanya.

Entah mengapa hiruk pikuk kota di malam hari ini membuatnya merasa senang, mungkin sudah cukup lama ia tidak bermain ke luar rumah semenjak tiga tahun yang lalu.

Mata Hye ri terus menjelajahi benda-benda bersinar yang menghiasi kota, mengamati pasangan-pasangan yang berjalan bersamaan sambil tertawa.

Senyuman tak pernah lepas dari wajah Hye ri, sepertinya Aeri benar, ia memang perlu refreshing.

Trotoar yang dihiasi lampu-lampu tinggi membuat Hye ri semakin bergairah untuk menghabiskan waktunya di luar rumah sepanjang malam ini.

“Eii awas!” Hye ri berjengit saat tiba-tiba Key berteriak dan menariknya.

Sebuah wagon hitam melesat begitu saja dan nyaris menabrak Hye ri.

Dengan cepat Hye ri jatuh dalam pelukan Key. Kedua matanya terbelalak.

Deg..deg..deg..

Hye ri dapat merasakan detak jantung Key yang sedikit tak beraturan.

“Ya Tuhan! Kurasa orang itu mabuk.” Key berdecak kesal.

Hye ri masih diam dalam pelukan Key.

Hangat, itu yang dirasakannya. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa nyaman dalam posisinya saat ini.

Tanpa ia sadari, kedua matanya telah terpejam. Ia menarik nafas dalam-dalam seolah menghirup aroma tubuh Key.

Tak lama, ia menyandarkan kepalanya di dada Key.

“Minho-ya.” Gumam Hye ri pelan, pelan sekali dan tidak terdengar oleh Key.

Yeah! Saat ini Hye ri merasa de ja vu. Ia pernah mengalami hal serupa bersama Minho dulu, saat kencan pertama mereka.

Sebuah mobil sedan nyaris menabrak Hye ri saat yeoja itu menyebrang sembarangan. Dengan cepat Minho menarik Hye ri dalam pelukannya.

Perasaan itu membuat Hye ri nyaman dan aman.

Gwancanha?” tanya Key saat Hye ri tak kunjung melepaskan diri dari pelukannya.

Deg!

Hye ri berjengit, ia merasa baru saja mendengar suara yang sangat ia cintai.

Meskipun Key yang mengucapkannya, tapi di telinga Hye ri itu terdengar seperti suara Minho.

Hye ri mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Key. Hanya untuk memastikan apa namja yang memeluknya adalah key atau Minho.

Ditatapnya wajah Key yang berjarak sangat dekat dengannya.

Key sempat salah tingkah karena Hye ri terus menatapnya seperti itu, ditambah jarak mereka yang begitu dekat.

Deg..deg..deg…

Jantung Key berpacu lebih cepat dari yang seharusnya.

Sejurus kemudian sesuatu melintas dalam pikiran Key, sepertinya kejadian ini tidak asing baginya. Di mana seorang yeoja berada dalam pelukannya, memandangnya dari jarak dekat dan …

Pikiran itu terhenti saat alat gerak tubuh Key dengan sendirinya berusaha melanjutkan cerita yang tidak asing itu.

Perlahan wajah Key merengsek mendekati wajah Hye ri. Ia merasa tidak mau melakukan hal ini, namun seluruh alat gerak tubuh telah mengkhianatinya.

Hye ri hanya diam, ia terus menatap Key dengan pikirannya sendiri.

Key nyaris saja melanjutkan cerita yang serupa dengan mimpinya saat ia dengan cepat tersadar “Oh! itu tempatnya.” ia menunjuk rumah makan sederhana bergaya country side yang semuanya di dominasi oleh kayu.

Hye ri terkesiap, kesadarannya segera kembali, dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya dari Key.

Kajja!” Key berjalan lebih dulu, ia merasa atmosfir antara ia dan Hye ri menjadi sedikit aneh karena kejadian barusan.

***

Key dan Hye ri duduk di salah satu meja di dekat jendela, keduanya sedang menikmati makanan penutup mereka – Gelatto- sambil sesekali memandang ke luar.

Mereka berbincang dan mengomentari orang-orang yang berlalu lalang.

Hye ri menyendok lagi Gelatto nya, es krim itu memang sangat cocok di makan di malan musim panas yang gerah seperti ini.

Key masih memandang ke luar jendela ketika diam-diam Hye ri memperhatikannya.

Sesekali Key terkekeh memperhatikan orang-orang yang ia anggap aneh di luar.

Hye ri terus memandanginya, menilik setiap gerak-gerik Key.

Dengan cepat pikiran Hye ri menerawang pada kenangan beberapa tahun yang lalu saat ia bersama Minho.

Minho selalu duduk di dekat jendela setiap kali mereka makan bersama di sebuah café atau tempat makan lainnya.

Minho sangat senang memandang ke luar jendela. Hye ri tak pernah tahu apa yang dipikirkan Minho, namja itu hanya memandang ke luar jendela dan sesekali terkekeh saat melihat sesuatu yang dianggapnya aneh.

“Kau mendengarku?” suara Key membuyarkan lamunan Hye ri.

“Oh! Ne?” Hye ri terperanjat, sedari tadi matanya tak lepas dari Key tapi pikirannya menerawang jauh bersama Minho.

Gwaencanha?” tanya Key lagi, ia merasa Hye ri sedikit aneh sejak wagon hitam itu nyaris menabraknya.

“Ah…Ne…” jawab hye ri terbata, matanya masih menatap Key intens. Membuat Key sedikit salah tingkah.

***

Key melesat dengan mobil hitamnya.

Jam di arlojinya sudah menunjukkan jam 10 malam, dengan kecepatan statis ia melaju menuju rumah Hye ri.

Atmosfir dalam mobil terasa sedikit aneh dan kaku, kejadian di mana wagon hitam nyaris menabrak Hye ri ternyata benar-benar membuat Hye ri menjadi aneh.

Yeoja itu tidak banyak bicara seperti biasanya, ia lebih sering diam dan memperhatikan Key.

Bahkan ia tetap memandang Key saat Key menyadari nya.

“Apa aku setampan itu, huh?” tanya Key saat ia menyadari Hye ri terus-terusan memandanginya sejak mobil yang mereka tumpangi mulai berjalan.

Hye ri hanya memandang Key dengan kedua alis yang saling bertautan, sementara kesadarannya belum pulih sepenuhnya.

Ia masih menikmati memandangi Key, memandangi Key yang mengingatkannya pada Minho.

“Ah! Ne?” lagi-lagi kalimat seperti itu yang keluar dari mulut Hye ri.

Key memandang Hye ri sekilas,  kemudian kembali fokus pada jalanan yang cukup ramai di hadapannya.

“Sejak wagon hitam itu nyaris menabrakmu kau terlihat aneh.”

Hye ri kembali memandangi Key.

Sungguh! Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang ia tahu saat ini hanyalah Key yang mengingatkannya pada Minho.

Apapun yang dilakukan Key membuat Hye ri seolah melihat Minho.

Dan itu membuat Hye ri seolah-olah sedang bersama Minho.

“Kau jadi lebih sering diam dan…” Key menggantungkan kalimatnya kemudian memandang Hye ri.

“… memandangiku.” Lanjut Key disertai senyum jahil dan kemenangan.

“Apa?” Kesadaran Hye ri baru saja kembali dan ia menyadari betapa konyolnya ia saat ini.

Benarkah ia terus memandangi Key sejak tadi?

Senyum di wajah Key pudar, ia tidak menyangka respon seperti itu yang akan diberikan Hye ri.

Ia memilih untuk tidak melanjutkan rasa penasarannya dan diam sepanjang sisa perjalanan.

“Jyaa! Kita sudah sampai.” ucap Key seraya menepikan mobilnya di sisi rumah Hye ri.

Sesaat Hye ri masih terlihat menundukkan kepala, tak lama ia segera melepas sabuk pengamannya.

“Oh! Gomawo.” kemudian membuka pintu mobil.

Key ikut-ikutan keluar dan menahan Hye ri sebelum yeoja itu berhasil membuka pintu gerbang.

Gwaencanha?” tanya Key lagi, ia menjadi sedikit cemas karena Hye ri yang terlihat malamun.

“Ah!Ne.” hanya jawaban singkat yang diberikan Hye ri.

Gomawo. Hari ini sangat menyenangkan, sajangnim.” Hye ri membungkukkan badannya, kemudian segera masuk ke dalam rumah tanpa memberi kesempatan Key untuk mengatakan apapun.

Akhirnya Key hanya memandangi Hye ri hingga yeoja itu masuk ke dalam rumahnya.

Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

***

Yeoja berambut coklat itu masih melamun, makanan yang ia pesan dibiarkannya begitu saja.

Ia terlalu sibuk dengan lamunannya sehingga tidak menyadari teman yang sedari tadi mengoceh, mencoba mengembalikan kesadarannya.

“Yaa!yaa! Min Hye ri, gwaencanha?” Aeri kembali melambaikan tangannya di hadapan wajah Hye ri.

“Oh! Ne, eonni?” lamunan Hye ri buyar.

“Aish! Apa yang sedang kau pikirkan?” gerutu Aeri, ia kemudian menyendokkan cheese cake ke dalam mulutnya.

“Lihat! Bahkan kau belum menyentuh makananmu sama sekali. Kau sakit?” tanya Aeri lagi.

“Oh! Aniyo! Nan gwaencanhayo.” Sergah Hye ri, buru-buru ia menyendokkan chicken blackpapper yang belum ia sentuh sama sekali itu.

“Tidak mau bercerita padaku?” tanya Aeri lagi, ia menyendokkan cheese cake lagi ke dalam mulutnya.

Hye ri hanya memandang Aeri dengan tatapan yang seolah mengatakan apa?

“Oh! Ayolah, aku tahu kau berbohong. Jadi, apa yang terjadi?” desak Aeri.

Hye ri sempat terdiam, memasukkan suapan demi suapan chicken blackpapper ke dalam mulutnya. Namun tubuhnya benar-benar tidak menikmati makanan itu.

Tak lama ia mulai menceritakan malam minggu yang ia lalui bersama Key. Malam di mana Hye ri merasakan sesuatu yang dinamakan bahagia.

Jinjja?” Aeri nyaris tersedak cheese cake nya saat ia mendengar cerita Hye ri.

Dengan susah payah akhirnya Aeri berhasil menelan cheese cake yang sempat tersangkut di kerongkongannya.

“Jadi, kau bersenang-senang?” Aeri memandang Hye ri dengan senyum jahilnya.

Yeah! Ia tahu, hal seperti ini akan terjadi. Dan Aeri benar-benar berharap atasan mereka bisa membuat Hye ri melupakan Minho.

Aeri terus menyimak cerita Hye ri, kedua mata Hye ri yang berbinar-binar dan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya selama ia bercerita sudah cukup bagi Aeri untuk menyimpulkan bahwa yeoja itu tengah jatuh cinta.

“Oh! kurasa mulai saat ini kau tidak boleh menolak lagi ajakannya.” Ucap Aeri singkat sebelum akhirnya ia menyendokkan cheese cake terakhir ke mulutnya.

***

Hye ri baru saja keluar dari toilet wanita untuk merapikan make up tipisnya dan berjalan menyusuri koridor toilet saat seseorang menabraknya, membuat tubuhnya terjengkang ke belakang dan menimbulkan suara berdebum ringan.

“Aww!” jerit Hye ri spontan.

“Oh! Mianhaeyo.” seorang namja yang menabrak Hye ri memungut sesuatu yang terlempar ke samping kaki kirinya, sebelum ia mengulurkan tangannya ke arah Hye ri.

Hye ri mendongakkan kepalanya, sementara kedua tangannya mengelus bokong nya yang terbentur lantai.

Ia meraih tangan si namja kemudian berdiri.

Mianhaeyo, aku tidak melihatmu.” ucap namja bermata sipit itu, ia membungkukkan tubuhnya.

Gwaencanhayo.” ucap Hye ri singkat, ia menepuk-nepuk rok yang membungkus bokongnya.

“Kau teman Kim Aeri kan?” tanya namja itu tiba-tiba . Ia melempar senyuman manis pada Hye ri.

“Eh?”

“Oh! ini ponselmu, tadi terjatuh.” ucap namja itu, ia kembali melempar senyum manis sebelum akhirnya ia melangkah menuju toilet pria, meninggalkan Hye ri dengan banyak pertanyaan dalam kepalanya.

***

Nugu?” Aeri mendorong kursi yang ia duduki hingga muncul di balik dinding yang memisahkan mejanya dengan Aeri.

Mollayo eonni, sepertinya ia temanmu.” jawab Hye ri acuh tak acuh, sementara Aeri mulai berpikir keras siapa kira-kira namja yang menabrak Hye ri di toilet.

“Bisa deskripsikan wajah atau ciri-ciri lainnya?” tanya Aeri tetap penasaran.

Mata Hye ri tak berpindah dari flat screen nya “hemm… matanya cukup sipit. Aniyo! Kurasa lensa kontak yang ia gunakan membuat matanya terlihat lebih besar.”

Deg!

Entah mengapa tiba-tiba wajah seseorang segera muncul dalam kepala Aeri.

Apakah namja itu…

Aeri menggelengkan kepalanya ringan, menepis pikirannya yang terlalu percaya diri itu.

“…pipi nya penuh dan senyumnya manis. Ia mengenakan jas biru muda.” lanjut Hye ri santai.

Aeri diam… apa namja itu adalah namja yang ia temui di lift beberapa waktu lalu?

Jinjja? Apakah itu Lee Jinki? Lee Jinki menanyakannya pada Hye ri? Mengapa?

Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Aeri hingga ia tersadar saat Hye ri menepuk bahunya.

“Eonni? Kau sakit? Wajahmu merah, kau demam?” kini Hye ri menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Aeri.

Mwo? gwaencanha.” Dengan cepat Aeri menepis tangan Hye ri, kemudian segera menghilang di balik dinding, menyembunyikan wajah merahnya dari Hye ri.

Benarkah namja itu Lee Jinki? Tidak mungkin! Batin Aeri.

***

Cwiseonghaeyo Kim ssi, kami tetap tidak bisa memberitahumu.” Ucap seorang yeoja dengan dress selutut berwarna putih, ia juga mengenakan topi kecil berwarna senada dengan pakaiannya.

“Tidak bisakah kau memberitahuku sedikit saja?” bujuk Key lagi, ia bahkan mengeluarkan puppy eyes andalannya.

Yeoja yang berdiri di balik meja resepsionis rumah sakit itu sempat memalingkan wajahnya cepat saat melihat puppy eyes Key.

Mau tidak mau itu membuatnya sedikit grogi, bagaimana tidak?

Wajah tampan itu memandangnya seperti itu, yeoja manapun akan jatuh cinta bila mendapatkan pandangan mematikan itu.

“Kim ssi, jangan menggodaku seperti itu. Kau membuatku mati lemas.” ungkap si yeoja, sementara Key semakin mengembangkan senyumnya agar si yeoja mengabulkan pemohonannya.

Geuraeyo, bisa tunggu sebentar di kursi tunggu? Aku akan menghubungi seseorang.” akhirnya yeoja itu mau membantu Key.

Key mengedipkan sebelah matanya pada yeoja yang biasa dipanggil suster itu sebelum ia pergi dan duduk di kursi tunggu yang berjarak beberapa meter dari meja resepsionis.

Suster itu menelepon seseorang, berbicara dengan suara yang tidak terdengar oleh Key.

Tak lama ia berdiri dan memanggil Key, membuat Key segera beranjak dari kursinya.

Cwisonghaeyo, aku tetap tidak bisa memberitahumu Kim ssi.” Terang suster itu, wajahnya sedikit kecewa karena tidak bisa membantu namja tampan yang bahkan telah memperlihatkan puppy eyes padanya.

Wajah Key terlihat jauh lebih kecewa dari suster itu, “Benarkan tidak bisa?” tanya Key lagi untuk suatu kemungkinan, meskipun ia tahu kemungkinan itu amat sangat kecil.

Ragu-ragu suster itu menggelengkan kepalanya “Andai saja aku bisa melakukan sesuatu.”

Key diam, ia hanya memandangi file-file yang berderet di rak di belakang suster.

“Mungkin kau bisa berbicara dengan Song seonsaengnim.” usul suster tersebut.

Tanpa berlama-lama, Key segera melesat menuju ruangan Song seonsaengnim– dokter yang dulu merawatnya.

Key mengetuk pintu putih itu perlahan dan segera masuk saat terdengar suara yang tidak asing baginya.

Key segera menceritakan tujuannya pada Song seonsaengnim mengenai identitas pendonornya tiga tahun yang lalu.

Tidak lupa Key menceritakan garis besar mimpinya, Tidak! Ia tidak menceritakan tentang malaikat penjaga itu.

Yang diceritakannya hanyalah kemungkinan bila pendonornya itu sedang kesusahan dan memerlukan bantuan.

Song seonsaengnim berdeham pelan, ia mencerna apa yang baru saja diceritakan Key.

“Mungkin aku bisa meneleponnya untukmu. Kebetulan aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya. ” akhirnya hanya itu yang bisa ditawarkan Song seonsaengnim untuk membantu Key.

“Bisakah Anda mengusahakannya untukku? Maksudku, agar aku boleh tahu identitasnya?”

“Akan kulakuakan yang terbaik Kibum ssi.” ucap Song seongsaengnim, senyuman itu tersungging lagi di wajah tua nya.

Kamshahamnida, aku akan menunggu kabar dari Anda.” Key membungkukkan badannya dan segera meninggalkan ruangan Song seonsaengnim.

***

“Bagaimana ini? kau tidak marah kan?”

“Tapi aku merasa bahagia, sungguh.”

“Berada dekat dengannya, membuatku merasa berada dekat denganmu… Choi Minho.” Hye ri mengangkat wajahnya, dipandanginya foto Minho yang tertempel di nisan.

Berbeda dengan kunjungannya yang lalu-lalu, kali ini tidak ada airmata yang meluncur bebas dari mata Hye ri.

“Beritahu aku jika kau tidak suka dengan ini.” lanjut Hye ri lagi.

Hye ri hendak melanjutkan ceritanya pada Minho saat suara ponsel flip ungu menginterupsinya.

Ia tertegun sesaat, memandangi nama yang menari-nari di ponselnya.

Nomor ini pernah ia simpan dalam kartunya tiga tahun yang lalu, ia tidak pernah menghapusnya atau menghubungi nomor itu lagi.

Yeoboseyo, Min hye ri iyeyo.”

“Oh! Ne, seonsaengnim. Kabarku baik, lama tidak berjumpa.” Hye ri memandang foto Minho lagi sebelum akhirnya ia berjalan menjauh.

Hye ri terus menyimak apa yang dikatakan penelepon di seberang sana, sesekali ia menjawab pertanyaan singkat si penelepon.

Musen iyeyo?” tanya Hye ri saat si penelepon mengatakan ingin bertemu.

“Ah! Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk dengan pekerjaanku.”

Hye ri tahu ia sedang berbicara dengan orang yang jauh lebih tua darinya, tapi permintaan sang penelepon untuk bertemu di rumah sakit terpaksa membuat Hye ri berbohong.

Hye ri tidak mau mengunjungi rumah sakit itu lagi, karena segala sesuatu yang ada di sana akan mengingatkannya pada Minho.

Ia tidak mau saat-saat dirinya gagal menyelamatkan Minho terputar ulang dalam ingatannya.

Sang penelepon sebenarnya ingin berbicara langsung mengenai tujuannya itu, sayang Hye ri segera menolaknya.

Maka, sang penelepon akhirnya mengatakan tujuannya secara garis besar.

Mwo? Oh! Aku baik-baik saja, sungguh! Katakan padanya ia tidak usah cemas, aku benar-benar baik. Baik sekali.”

Tak lama sambungan telepon terputus.

Hye ri mendesah ringan, ia mendongakkan kepalanya menatap langit musim panas yang sangat indah.

Pikirannya tiba-tiba menerawang pada waktu tiga tahun yang lalu.

Selama ini yang ia ingat hanyalah Minho, ia tidak pernah sama sekali memikirkan kabar penerima sumsum tulang belakangnya.

Sedetik kemudian Hye ri mengutuki dirinya, bagaimana bisa ia berbuat bodoh dengan mengabaikan si penerima donor?

Seharusnya ia memastikan bahwa sumsum tulang belakangnya tidak sia-sia begitu saja.

Dan telepon dari Song seonsaengnim barusan, membuat hatinya lega karena penerima donor  itu kelihatannya hidup dengan baik.

Bodoh! Malaikat penjaga tidak seharusnya melupakan orang yang dijaganya, rutuk Hye ri lagi.

***

Geurae?” mata Jinki sama sekali tak beralih dari lembaran-lembaran kertas di tangannya, sementara Key masih terus melanjutkan ceritanya.

Kedua mata Jinki memang tetap fokus pada harian umum yang disediakan rumah makan tempat ia dan Key berada saat ini, tapi pikirannya jelas-jelas menyimak penuh apa yang diceritakan Key.

Jinjja, itu menyenangkan sekali. Oh! tapi ia terlihat aneh setelah wagon itu nyaris menabraknya.” Key berhenti mengunyah chicken Hawaiian miliknya, kemudian menatap Jinki.

“Aneh?” Jinki menaruh lembaran harian umum ke samping piringnya, kemudian meneguk air mineral.

“Ia lebih sering diam dan…” Key menggantungkan kalimatnya, ia meneguk air mineral kemudian kembali menatap Jinki yang mulai menyentuh makan siangnya – Sapo Tahu Seafood.

Jinki menatap Key, memandangnya dengan tatapan yang seolah mengatakan apa?

“… memandangiku terus.” Lanjut Key, sejenak air mukanya berubah seperti orang bingung.

Tak lama ia kembali pada chicken Hawaiian nya. Berusaha untuk acuh tak acuh pada pikirannya sendiri.

Jinki terkekeh “Hei! Kau percaya diri sekali!”

Key hanya berdecak kesal.

“Kau pikir dia terkesan dengan aksi heroik mu?” tanya Jinki yang sebenarnya lebih pada menyindir.

Key memutar bola matanya “Ani! Jika aku sepercaya diri itu, aku tidak akan merasa bahwa dia itu aneh. Bagaimana menurutmu?”

Jinki menyendokkan nasi ke dalam sapo tahu seafood nya dan mengunyahnya pelan.

“Hemm… I don’t know! Mungkin ia teringat sesuatu atau terkejut… mungkin! There are so many possibilities.” Terang Jinki acuh tak acuh.

“… atau mungkin dia mulai menyadari ketampananmu Key! Haha.” Tambah Jinki sebelum Key sempat menanggapi ucapannya.

Key terkekeh, tentu saja yang diucapkan Jinki hanya main-main.

Well, ia tahu ia tampan. Tapi benarkan selama ini Min Hye ri tidak menyadarinya? Atau di mata Hye ri sebuah ketampanan itu adalah hal yang relatif?

Sejenak keduanya hanya diam, Key memang ingin melanjutkan berdisuksi tentang apa yang kira-kira dipikirkan Hye ri malam itu. Tapi kelihatanya sahabatnya itu tengah benar-benar menikmati makan siangnya.

“Kurasa kau memang harus mencari tahu sesuatu Key.” Kata Jinki setelah ia selesai dengan makan siangnya.

Key mengerutkan dahinya.

“Kemarin aku tak sengaja menabraknya di koridor toilet, ponselnya terjatuh…”

“Ponsel flip ungu nya?” potong Key.

“..yah benar! Ponsel flip ungu nya maksudku…”

“Hei! Kau sengaja menabraknya?” potong Key lagi.

“Aku benar-benar tidak melihatnya Key! Sungguh! It was just a coincidence!” Jinki terlihat sedikit kesal dengan kecurigaan sahabatnya itu.

Key sempat memandang Jinki dengan tatapan penuh curiga “Baiklah, lalu apa yang terjadi?”

“Saat ia terjatuh, aku melihat layar ponselnya…” Jinki menggantungkan kalimatnya, membuat jantung Key berdebar-debar menunggu apa yang akan ia dengar.

“… aku melihat foto nya dengan seorang namja. Tidak! Bukan foto yang sama seperti yang kau katakan, tapi kurasa ia namja yang sama dengan yang kau lihat di foto di rumahnya.”

Rahang Key mengeras, seketika dada nya terasa sesak dan tidak nyaman. Kalimat Jinki barusan benar-benar membuat mood nya rusak.

I’m not really sure Key, tapi namja itu memiliki sepasang mata yang besar. Dilihat dari pose mereka di foto, kurasa mereka memang berpacaran.”

Key hanya diam, sepertinya yang Jinki lihat di ponsel Hye ri adalah namja yang sama dengan yang ia lihat di foto di rumah Hye ri.

Sama dengan apa yang diucapkan Hye ri, itu adalah kekasihnya.

Tapi mengapa? Mengapa Hye ri mau pergi dengannya malam itu? Dan bahkan Hye ri terus memandanginya selama makan malam dan perjalanan pulang?

Apa posisi Key saat ini benar-benar sebagai seseorang yang akan merusak hubungan orang lain?

Tak lama senyum hambar tersungging di bibir Key “You are right! Hye ri benar-benar unik!” akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Key.

Sejujurnya saat ini ia merasa bahwa perasaannya tengah dipermainkan oleh Hye ri.

Well, tapi ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Hye ri. Bukannya ia sendiri yang terlebih dulu menyulut api? Mendekati yeoja yang jelas-jelas mengatakan bahwa ia sudah punya pacar.

***

Key menjelaskan bagian-bagian mana yang ia sukai dan bagian yang harus Hye ri edit untuk design produk terbaru perusahaan.

Sementara Hye ri justru tidak mendengarkan apa yang dikatakan Key, ia malah sibuk memandangi Key.

Ia menopang dagu dengan tangan kirinya, memperhatikan gerak-gerik Key yang entah mengapa membuatnya seolah sedang menatap orang yang paling dicintainya.

Key berhenti berbicara saat menyadari Hye ri sama sekali tak bersuara seperti biasanya.

Hanya hiruk pikuk dalam café yang Key dengar, tak ada kata singkat seperti ‘Uh-huh’, ‘jinjja?’, ‘geurae’, ‘Ah!’ yang biasa ia dengar dari mulut Hye ri.

Key menurunkan kertas di tangannya, memperhatikan Hye ri yang tengah asyik menatapnya.

Sejenak Key menyipitkan matanya, memastikan bahwa yeoja di hadapannya itu tengah melamun.

Yeah! Ia tahu, meskipun Hye ri tengah memandanginya, tapi pikiran yeoja itu tengah melayang entah  ke mana.

Are you okay?” tanya Key.

Mwo? yo?” Hye ri terperanjat, lamunannya buyar begitu saja.

Ia melihat ekspresi wajah Key. Oh! celakalah! Sepertinya atasannya itu sadar bahwa Hye ri tidak menyimak ucapannya.

Day dreaming? Do you have problem? tanya Key lagi. Baiklah! Ini kesempatan bagus baginya untuk mengonterogasi Hye ri.

Hye ri terlihat gelagapan, ia bingung apa yang harus ia katakan pada Key.

“Bertengkar dengan pacarmu?”  Key memulai interogasinya.

Mwo? Aniyo! Everything is okay.” Ia memperhatikan tumpukan kertas di atas meja, dan dengan cepat meraih salah satunya yang ia yakini sejak tadi di pegang oleh Key.

Geurayo, jadi sampai mana tadi?” Hye ri berusaha mengalihkan pembicaraan.

Tapi sayang, Key sudah tidak bersemangat lagi membahas soal pekerjaan dengan Hye ri.

“Kau yakin semuanya baik-baik saja?” Key menyipitkan matanya.

Hye ri hanya mengangguk, ia tahu atasannya tengah mencurigainya saat ini. Apa yang dilakukannya barusan salah? Maksudnya, apa memandangi atasannya itu benar-benar mengganggu?

Are you sure? Did he know that we spent the Saturday night together?” pertanyaan itu meluncur dengan mulus dari mulut Key.

Key berusaha mendatarkan wajah dan intonasi bicaranya, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki seraya menyedot minuman dalam gelas tinggi nya.

Ne?” Hye ri berjengit. Ia baru sadar tentang malam itu. Tentu saja yang Key tahu Minho adalah pacar Hye ri.

Well, Minho memang pacar Hye ri. Tapi Key tidak tahu bahwa Minho sudah tidak ada.

Sejurus kemudian Hye ri merasa bersalah, ia sadar bahwa ia telah mempermainkan atasannya itu dengan menerima ajakan menonton.

Jika bukan karena Woman in Black, tentulah Hye ri akan tetap menolak Key hari itu. Sial!

“Dia tidak tahu?” tanya Key lagi.

Dak!

Key menaruh gelas tinggi nya kasar ke atas meja.

Baiklah! Kali ini ia benar-benar yakin bahwa Hye ri memang benar-benar sedang mempermainkannya.

Oh! jangan katakan bahwa Hye ri tidak menyadari bahwa ajakan menonton itu adalah sebuah kencan.

Hye ri terperanjat, atasanya marah. Apa yang harus dilakukannya? Andai saja Kim Aeri ada di sana, tentu Hye ri akan selamat.

It’smianhaeyo sajangnim, aku…”

“Kita tidak sedang membahas pekerjaan, jangan bicara formal seperti itu.” Sambar Key buru-buru.

Hye ri hendak melanjutkan kalimatnya saat Key mendahuluinya.

“Jika kalian bertengkar karena itu, sebaiknya aku bertemu dengan pacarmu. Tidak seharusnya aku mengajakmu malam itu.”

Hye ri tertegun mendengar ucapan Key.

Ia tahu dirinyalah yang salah dalam hal ini. Tidak seharusnya ia membuat Key merasa dipermainkan, karena ia memang tidak merasa mempermainkan Key yang baik hati itu.

Tapi ia lebih tidak suka lagi jika ada orang yang menyalahkan Minho.

Ani… itu tidak seperti yang…”

“Aku pun akan marah jika ada dalam posisinya.” Lagi-lagi Key menyela ucapan Hye ri.

Membuat yeoja itu terdiam dan berpikir keras untuk memberikan alasan yang bisa meredakan emosi Key.

=TBC=

6 thoughts on “Archangel – part 6

  1. Saya suka part ini ,,,
    Kenapa ????
    jang,, jang !!!!!
    silahkan tebak sendiri …
    pokoknya ff ini selalu jadi ff yang di tunggu sepanjang masa hidup saya #lebah lagi ,,,
    ga nyesel bacanya,, trus karakter bias di sini juga beeeeuuuuuhhh,,,,
    favorit banget lah ,,
    suka banget ma si jinki ,,,
    Kenapa ???
    coba tebak dan baca sendiri hehehehhe

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s