Archangel – part 8

Archangel – Part 8

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating             : PG 15

Uljima.” Bisik Minho pelan, sangat pelan.

Hye ri hanya mengangguk-anggukkan kepalanya keras seraya mengenggam tangan Minho yang ada di pipinya dengan kuat.

Minho memejamkan matanya kuat seolah menahan rasa sakit yang amat sangat, wajahnya benar-benar pucat seperti tembok, sementara keringat sebesar biji jagung menetes deras dari keningnya.

saranghae…” sekali lagi Minho berbisik pelan, dan nyaris tak terdengar oleh Hye ri jika saja Hye ri tak berada begitu dekat dengan Minho seperti sekarang ini.

Kini Minho memejamkan matanya ringan, seiring dengan tangannya yang terlepas begitu saja dari genggaman Hye ri.

“Minho-yaaa!!!!” pekik Hye ri, ia membuka kedua matanya kasar.

Nafasnya memburu, dadanya berdebar-debar, sementara keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari keningnya.

Sedetik kemudian jantungnya mencelos, ternyata itu hanya mimpi.

Ia tahu ia selalu mengingat Minho setiap hari, tapi ini kali pertamanya ia memimpikan kejadian itu. Kejadian terburuk sepanjang hidupnya.

Hye ri memejamkan kedua matanya seiringan dengan rilisnya airmata kesedihan itu.

“Minho-ya.” Gumam Hye ri pilu, ia begitu merindukan namja itu dan menginginkan untuk bisa menyentuh dan mendengar suaranya lagi.

Setelah merasa lebih baik, Hye ri mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia melirik bingkai putih yang tersimpan apik di meja kecil di samping ranjangnya.

Kembali ditatapnya wajah Minho yang terlihat begitu ceria di sana, begitu juga dengan dirinya.

Hye ri kembali mendesah, ia tidak tahu sampai kapan ia akan seperti ini. Meratapi kepergian Minho.

Seberkas cahaya yang menelusup melalui celah-celah jendela dan tirai orange pucat di kamarnya mengingatkan Hye ri bahwa ia harus segera beranjak dan pergi ke kantor.

Oh! Hye ri segera kembali mendudukkan dirinya sesaat setelah ia berdiri.

Ia merasa sangat pusing, bahkan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.

Ia rasa ini akibat kehujanan semalam. Oh! dan itu membuatnya teringat pada apa yang terjadi dalam box telepon.

Hye ri mengutuki dirinya lagi yang menerima ciuman Key begitu saja. Apa yang akan dipikirkan Key?

***

Kim Aeri masih menyimak cerita Hye ri, senyuman menghiasi wajahnya saat ia mendengar beberapa hal yang dianggapnya romantis dan menyenangkan.

Ia bahkan membekap mulutnya yang setengah terbuka saat mendengar apa yang terjadi dalam box telepon antara Hye ri dan Key.

Aeri hendak menanyakan bagaimana sebenarnya perasaan Hye ri pada Key saat ia justru melihat wajah Hye ri yang terlihat lesu dan tidak sehat.

Hye ri mengaduk-aduk cream sup nya, matanya menatap gumpalan cream dalam cangkir lebar itu tapi Aeri tahu pikiran yeoja itu sedang melayang entah ke mana.

Aeri mengamati Hye ri dan segera menyadari bahwa sahabatnya itu sedang menangis.

“Kau tahu eonni, akhir-akhir ini aku selalu merasa senang bersama Key…” Hye ri tak mengalihkan pandangannya dari cream sup yang terus ia aduk hingga nyaris menjadi encer.

Aeri menaruh cheese burger nya, ia tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Hye ri.

“Kau tahu mengapa aku merasa senang? Dan bahkan aku membiarkannya menciumku di box telepon?” Aeri hanya diam, menunggu Hye ri melanjutkan ceritanya.

Hye ri berhenti mengaduk cream sup nya, matanya yang telah sembab beralih memandang Aeri.

“… itu semua karena aku selalu melihat Minho dalam dirinya, semua yang dilakukan Key terlalu indah… sama seperti yang dilakukan Minho padaku…” Hye ri mendesah ringan, airmatanya semakin deras membasahi wajahnya.

“Min Hye ri…” Aeri hanya bisa mengiba, ia tidak tahu bahwa Hye ri masih tidak bisa melupakan Minho.

Aeri kira Key telah berhasil membuat Hye ri melupakan Minho dengan berbagai hal indah yang selalu dilakukannya pada Hye ri.

Sejenak Aeri membisu, ia bukan hanya mengiba untuk Hye ri, tapi juga untuk atasannya yang bahkan sama sekali tidak ada dalam hati Hye ri saat ini.

Aeri ingin sekali memeluk yeoja di hadapannya dan mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ia berusaha untuk membuat segalanya tidak semakin runyam.

Tapi di sisi lain Aeri kesal pada Hye ri yang masih saja tidak bisa melupakan Minho, dan bahkan jika Aeri boleh mengatakannya, Hye ri telah mempermainkan perasaan Key dengan membiarkan Key menciumnya.

“Ya Tuhan Min Hye ri, kau telah menyakiti sajangnim.” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Aeri, membuat Hye ri semakin membenci dirinya sendiri.

***

Aeri sedikit kewalahan membopong Hye ri di bahunya.

Satu tangan Hye ri telah menyampir di sekeliling bahu Aeri, tapi yeoja yang sudah sangat mabuk itu membuat Aeri amat kesulitan memapahnya.

“Ahh!! Kau menertawakanku lagi Choi Minho?” racau Hye ri lagi, kini satu tangannya yang bebas menunjuk kasar ke hadapannya, seolah ada seseorang di sana.

“Min Hye ri, hentikan!” pekik Aeri yang masih kewalahan menyeret tubuh Hyeri.

Dan Aish! Di mana taxi-taxi yang biasanya berkeliaran? Mengapa di saat seperti ini tak ada satupun yang melintas? Dengus Aeri dalam hati..

Ia benar-benar menyesal telah membawa Hye ri ke mini bar di tengah kota. Tadinya Aeri ingin membuat Hye ri merasa lebih baik, tapi ia lupa bahwa Hye ri tidak bisa minum.

“Oh! Apa yang terjadi?” sebuah suara yang tidak asing berhambur ke arah Aeri.

Aeri menarik nafas lega, kini ada orang yang akan menolongnya.

Dilihatnya namja dengan jas hitam itu mendekat.

“Oh! Kim sajangnim.” Aeri berusaha membungkukkan badannya di tengah kesulitannya memapah Hye ri.

Dengan cepat tangan Key meraih tangan Hye ri yang menyampir di bahu Aeri kemudian mendekap tubuh Hye ri dan berusaha memapahnya.

“Yaa!” dengan cepat Hye ri mendorong tubuh Key yang baru saja berusaha memapahnya.

Key segera menarik tubuh sempoyongan Hye ri yang nyaris terjengkang ke belakang.

Hye ri mendekatkan wajahnya ke wajah Key,ditatapnya mata Key dengan mata sayu nya.

Telunjuknya mulai menyentuh hidung Key.

“Choi Minho!” ujar Hye ri disertai tawa riang.

“Min Hye ri, hentikan! Kau tidak sopan! Oh! mianhaeyo Kim sajangnim.” Aeri buru-buru menarik telunjuk Hye ri yang menempel di hidung Key.

Gwaencanha! Dia mabuk.” Ucap Key datar, ia kemudian kembali berusaha mendekap tubuh Hye ri dan memapahnya menuju mobil yang ia parkir tak jauh dari tempat mereka.

Tapi ternyata mengontrol orang yang sedang mabuk berat itu tak semudah kelihatannya.

Lagi-lagi Hye ri mendorong tubuh Key yang berusaha mendekapnya.

Hye ri menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum.

“Jangan memegangiku! Aku tidak mabuk!” ucapan orang mabuk ini semakin tak karuan.

Hye ri kembali menatap Key yang masih berusaha mendekap tubuhnya.

“Choi Minho… kau kemana saja? kau tak tahu aku sangat menderita tanpamu?” kini tangan Hye ri mulai menyentuh wajah Key, seketika wajahnya meberengut sedih.

Jeongmal Mianhaeyo sajangnim, Hye ri mabuk berat.” Lagi, Aeri membungkukkan badannya. Ia benar-benar merasa bersalah telah membawa Hye ri ke bar.

Gwaencanha, apa yang dia minum?” tanya Key, kedua tangannya masih kewalahan mengontrol gerakan-gerakan Hye ri yang nyaris membuat Hye ri terjatuh.

vodka.” Jawab Aeri ragu-ragu.

“Berapa botol yang ia habiskan? Jinjja! Dia mabuk berat!” kini Key menahan pinggang Hye ri saat yeoja itu hampir terjengkang ke belakang.

Aeri tersenyum kecut, ia menatap mata Key ragu-ragu.

“…mmm… setengah gelas.” Jawab Aeri pelan dan meninggalkan keterkejutan di wajah Key.

“Hye ri tidak bisa minum.” Terang Aeri buru-buru sebelum atasannya itu mengatakan apapun.

Key hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ringan.

“Mobilku ada di sana, bantu aku membawanya ke mobil. Hye ri benar-benar tak tekendali.” Key menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir rapi di samping trotoar.

Dengan cepat Aeri berjalan ke samping Hye ri yang masih meracau tak jelas. Diraihnya tangan yeoja itu dan disampirkannya di bahu Aeri.

“Oh! eonni..” racau Hye ri saat ia mendapati Aeri di sampingnya, kemudian mendorong pelan tubuh Aeri agar menjauh.

Aeri kembali berdecak kesal. Ia tidak tahu bahwa Hye ri akan sekacau ini jika mabuk.

Kini Hye ri membalikkan tubuhnya dan menghadap Key, dirangkulnya sikut Key kemudian kembali berbalik menghadap Aeri.

Eonni, dia itu Choi Minho. Kekasihku yang sangat kucintai…dia tampan kan?” Aeri tersenyum kecut menatap Key, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Jika Hye ri tidak segera sadar dari mabuknya, maka Key akan tahu semua rahasia Hye ri. Celakalah!

Hye ri tersenyum lebar, ia melirik Key dan menyentuh rambut Key. “Oh! kapan kau mewarnai rambutmu Minho-ya?” tanya Hye ri pada Key.

Key hanya diam, menyimak racauan yeoja yang sedang mabuk itu.

Kini mata Hye ri beralih pada wajah Key, ditangkupnya pipi tirus Key dan ditatapnya lekat-lekat.

“Aku sangat merindukanmu Minho-ya, apa kau tidak rindu padaku? Boleh aku menciummu?” racau Hye ri lagi, kini ia menekan kedua tangannya yang menangkup pipi Key, membuat bibir Key mengerucut karena tekanan dari tangan Hye ri.

“Min Hye ri!” Aeri memekik, dengan cepat ditariknya tubuh Hye ri sebelum sahabatnya itu benar-benar mencium atsannya di depan umum.

Tangan Hye ri segera menepis tangan Aeri yang menariknya menjauh dari Key.

“Dia itu pacarku eonni… “ Hye ri melempar senyum ke arah Aeri, kemudian berbalik lagi menatap Key dan dalam hitungan detik segera mendorong tubuh Key manjauh.

“Tapi aku benci kau Choi Minho! Mengapa kau meninggalkanku? Kau tahu kan aku tidak bisa tanpamu? Mengapa kau pergi? Dasar bodoh!” kali ini tangan Hye ri mulai memukul-mukul kepala Key ringan.

Aeri hanya tersenyum menatap Key, ia benar-benar kehilangan akal untuk menghentikan sahabatnya itu.

Seketika tawa di wajah Hye ri hilang, berubah dengan kesedihan yang mendalam. Membuat airmatanya mulai menetes.

“Kau tidak tahu kan aku sangat sedih karena mu? Setiap malam aku menangisimu, berharap kau masih ada di dekatku. Tapi kenapa kau tetap pergi? Bukankah kau sudah berjanji akan bertahan untukku? Lalu apa gunanya sumsum tulang belakangku untukmu Choi Minho?”racau Hye ri seraya memukul-mukul dada Key sekuat yang ia bisa, tapi tenaganya telah terkuras oleh mabuknya. Sehingga ia hanya memukul-mukul Key dengan ringan.

Seketika rahang Key mengeras saat ia menangkap sebuah kalimat di akhir racauan Hye ri.

Ia tiba-tiba mengingat sesuatu yang sangat berhubungan dengan hidupnya.

“Hye ri-ya, GEUMANHAE!” Aeri menarik Hye ri agar yeoja itu berhenti membeberkan rahasianya pada Key.

Hye ri menepis tangan Aeri dan kini berbalik menghadapnya.

Waeyo eonni? Aku tidak boleh melakukannya? Kau tidak tahukan bagaimana rasanya jadi aku? Aku sangat sedih eonni… dan sangat lelah… neomu himdeulda…” kali ini Hye ri menangis seraya memegang dadanya.

Aeri berusaha menarik tubuh Hye ri yang mulai merosot.

“Dia sudah tidak bisa dikontrol lagi, bantu naikkan ke punggungku.” Key telah berdiri membelakangi Hye ri kemudian berjongkok, kedua tangannya terlentang ke belakang.

Dan tanpa berkata apapun lagi Aeri segera mengangkat tubuh Hye ri dan menempatkannya di punggung Key.

Mianhae kau jadi mendengar ini, sajangnim.” Ucap Aeri saat ia dan Key berjalan berdampingan menuju mobil.

Gwaencanha. Oh ya, panggil aku Key saja, kita tidak sedang berdinas kan?” Key terkekeh pelan.

“Ah, ne.” Aeri sedikit kikuk, ternyata atasannya ini adalah orang yang sangat menyenangkan dan mudah akrab.

Beberapa saat keduanya hanya diam, sementara Hye ri masih meracau tak jelas di punggung Key sambil sesekali memukul Key atau bahkan menyandarkan wajahnya di punggung Key seolah sedang tertidur di atas bantal.

“Euh… Minho itu…” dengan sedikit ragu Key berusaha memulai pembicaraan lain dengan Aeri.

“Oh! Kurasa kau sudah tahu sebelumnya sajang…euh..Key.” Aeri terkesiap.

“Minho pacar Hye ri? memang kenapa dengan Minho? Dia meninggalkan Hye ri? Dengan yeoja lain?” Key menghujani Aeri dengan rentetan pertanyaan. Sementara ia berusaha bicara sedatar mungkin agar Aeri tidak tahu bahwa diam-diam ia tengah mengorek informasi.

Aeri tersenyum hambar, ternyata atasannya itu masih belum tahu sepenuhnya tentang Minho.

Sesaat Aeri berpikir keras apa ia harus memberitahu Key tentang Minho, ataukah tetap membiarkannya sebagai sebuah rahasia hingga Hye ri sendiri yang menceritakannya pada Key?

“Kurasa aku tidak punya hak untuk menceritakannya. Biar Hye ri sendiri yang memberitahumu nanti.” Akhirnya Aeri memutuskan untuk tidak ikut campur terlalu jauh.

Key hanya mengangguk pelan, kemudian menatap Aeri dengan tatapan yang seolah mengatakan begitu-ya?

“Sumsum tulang belakang? Apa Minho sakit? Leukimia?” sekali lagi Key membuat Aeri kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Aeri hanya menatap Key dan Hye ri yang ada di punggung Key bergantian. Apa yang harus dikatakannya?

“Oh! itu mobilmu?” akhirnya Aeri menemukan cara untuk menghindar setelah ia melihat mobil hitam yang biasa terparkir di halaman kantor.

Key agak terkesiap, lagi-lagi Aeri menghindari pertanyaannya.

Tangan kanannya dengan susah payah merogoh kunci mobil dalam saku depan celananya.

“Bisa bantu aku membukanya?” Key menyodorkan kunci mobilnya pada Aeri. Seketika terdengar bunyi piip saat kunci mobil telah berada di tangan Aeri.

Key berusaha mendudukkan Hye ri di jok belakang begitu Aeri membuka pintunya.

Kajimara! Tetaplah di sini.” Hye ri menarik tangan Key saat Key hendak beranjak.

Key menatap Hye ri sekilas kemudian berpindah pada Aeri.

Andwae! Kajimara! Jangan tinggalkan aku, Choi Minho. Jangan lagi.” Ucap Hye ri lagi saat Key mengabaikannya dan berusaha beranjak.

Lagi, Key memandang Aeri seolah bertanya apa-yang-harus-kulakukan?

“Biar aku saja yang mengendarai mobil.” Seolah bisa membaca pikiran Key, Aeri segera berjalan menuju pintu kemudi.

Gomawo.”

Hening.

Hanya suara mesin mobil yang mulus dan suara-suara dari luar mobil yang terdengar selama beberapa menit.

Aeri tetap fokus pada jalanan sambil sesekali melirik ke kaca spion di atas kepalanya hanya untuk memastikan bahwa Hye ri baik-baik saja.

Sementara Key masih sibuk dengan pikirannya sendiri, terlalu banyak pertanyaan dalam pikirannya saat ini.

Sehingga ia hanya diam, membiarkan Hye ri dalam pelukannya sambil sesekali meracau menyebut-nyebut nama Minho.

Aeri melirik lagi kaca spion di atas kepalanya, ia tersenyum ringan saat melihat tangan Key mengusap lembut airmata yang menetes di pipi Hye ri.

Meskipun pelan, tapi Aeri masih bisa mendengar apa yang dibisikkan Key pada Hye ri.

Uljima.”

Aeri kembali tersenyum, ia benar-benar tahu bahwa atasannya itu telah benar-benar jatuh cinta pada Hye ri.

Aeri harap Key bisa membuat Hye ri melupakan Minho.

“Kita sudah sampai.” Aeri menepikan mobil dengan mulus saat mereka tiba di depan rumah Hye ri.

***

Sebuah bar bergaya Perancis itu belum dipenuhi pelanggan yang biasanya datang untuk sekedar menghilangkan penatnya dengan memesan beberapa jenis minuman keras sampai mereka mabuk, atau mungkin pelanggan yang sengaja datang untuk bersenang-senang dan mencari yeoja cantik yang selalu menyapa mereka dengan balutan pakaian yang mempertontonkan bagian-bagian terlarang mereka.

Namja dengan polo shrit putih itu masih menikmati cocktail bernama sex in the beach dalam goblet nya. Sesekali ia berdecak saat minuman itu terasa sedikit asam dan memberikan sensasi seperti minuman soda pada hidungnya.

“Ini tidak terlalu buruk Jack.” Ia mengangkat goblet nya ke arah bartender muda yang biasa ia panggil Jack.

Namja yang dipanggil Jack itu hanya tersenyum, tangannya masih sibuk mengocok cocktail yang dipesan pelanggan lain.

Namja dengan polo shrit putih itu masih memperhatikan Jack beberapa detik sebelum akhirnya ia teringat pada sahabatnya yang masih memegang gelas  berisi vodka di sampingnya.

Namja itu menumpu wajahnya di meja bar, rambut coklat terangnya sedikit berantakan. Sementara dasi yang sudah ia longgarkan beberapa menit lalu sudah sangat berantakan, seluruh kancing jas nya terbuka. Oh! jangan tanya bagaimana dengan kemeja putihnya, beberapa kancing nya sudah terbuka. Namja itu benar-benar terlihat kacau.

“Sampai kapan kau akan mabuk seperti ini Kim Kibum?” cibir Jinki, ia mendelik ke arah sahabatnya yang sangat berantakan itu.

Selama Jinki mengenal Key, baru kali ini Key terlihat sangat menyedihkan. Bahkan ia mabuk. Key tidak pernah minum sampai mabuk karena ia tahu itu tidak baik untuk kesehatannya sebagai penerima donor sumsum tulang belakang.

Key tersenyum hambar, ia mendekatkan gelas ke wajahnya, ditatapnya cairan berwarna kecoklatan itu kemudian meneguknya lagi sampai gelasnya kosong.

“Aku tidak mabuk!” sergahnya.

Jinki terkekeh, kemudian meneguk lagi cocktail nya sambil sesekali matanya melirik ke arah yeoja dengan tube cone merah yang duduk di sofa beberapa meter di belakang Jinki.

“Dibandingkan mabuk dan membuang-buang waktu seperti ini, kurasa sebaiknya kau cari tahu siapa itu Choi Minho.” Jinki kembali menatap Key.

Key balik menatap Jinki “Apa lagi yang harus kucari tahu? Dia itu sudah jelas pacarnya Min Hye ri, Hye ri sendiri yang mengatakannya.” Key berdecak kesal, ia menuangkan vodka ke dalam gelasnya hingga penuh dan meneguknya.

“Aish! Menyebalkan! Jadi, kau tidak mau memastikan apa Choi Minho itu benar-benar ancaman bagimu?”

Key mengacuhkan pertanyaan Jinki, ia meneguk vodka nya sampai habis dan menuangkan lagi ke dalam gelasnya.

Jinki melirik lagi yeoja yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya meskipun yeoja itu sedang sibuk melayani namja yang bergelayut mesra padanya.

Diteguknya lagi sex in the beach dalam goblet nya sampai habis, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Key.

“Tidak mau memastikan apa mereka masih berhubungan? Tidak mau memastikan kalau-kalau Choi Minho itu bahkan tidak bisa menyentuh Min Hye ri?” Jinki menjauhkan wajahnya dari Key, ditaruhnya goblet yang telah kosong ke meja bar.

Dengan cepat Key menegakkan tubuhnya. Ia memang sudah mabuk, tapi pikirannya masih cukup waras untuk mencerna apa maksud ucapan Jinki.

Tidak bisa menyentuh Min Hye ri? Apa itu maksudnya hubungan mereka memang telah berakhir?

“Hei, apa yang kau bicarakan Lee Jinki?” Key menatap Jinki serius, sementara Jinki melambaikan tangannya pada Jack yang berada di sudut lain-melayani tamu-tamu lain.

Jack mendekat ke arah mereka, “Kau yang traktir kan Key?” Jinki menepuk bahu Key. Ia tersenyum pada Jack, mengisyaratkan bahwa Key yang akan membayar minuman mereka.

“Yaa Jinki-ya! Kau mau ke mana?” pekik Key saat Jinki beranjak dari kursinya dan melenggang ringan mendekati yeoja dengan tube cone merah tadi.

Mata Key mengikuti arah sahabatnya pergi, sementara Jack masih berdiri di hadapan Key.

“Oh! berapa yang harus kubayar?” tanya Key seraya mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya.

Tangannya dengan asal mengeluarkan lembaran-lembaran won yang bahkan ia tidak tahu berapa jumlahnya.

Key beranjak dari kursinya dengan tubuh sempoyongan, ternyata dua botol vodka cukup membuat kepalanya pening.

“Oh! ambil saja kembaliannya.” Ucap Key sambil melambaikan tangannya ke belakang saat Jack berteriak memanggilnya.

Yeoja dengan tube cone merah itu menepis namja yang sedari tadi bergelayut manja di tubuhnya, matanya tak lepas dari namja dengan polo shirt putih yang mendekat ke arahnya.

Ia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Jinki. Yeoja itu cantik, tapi sayang Jinki tidak suka dengan yeoja yang tersenyum sensual seperti itu, apalagi jika senyum itu ditujukan padanya.

Come to play with, hottie?” yeoja itu segera mendekat ke arah Jinki, kedua tangannya telah mendarat di dada Jinki.

Jinki tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke wajah yeoja itu kemudian membenamkan wajahnya di leher si yeoja, menghirup aroma tubuh si yeoja yang bagi Jinki terlalu menyengat itu.

“Kau cantik baby, siapa namamu?” Jinki kembali menatap yeoja itu, kini ia mulai menggoda pipi si yeoja dengan jari-jari tangannya.

Yeoja itu terlihat sangat senang dengan perlakuan Jinki, ia tidak menghiraukan teriakan dari namja yang beberapa detik lalu masih bersamanya.

“Hyun yeong” bisik yeoja itu, matanya menjelajah wajah Jinki yang terlihat begitu menggoda baginya.

“Berapa aku harus membayarmu untuk malam ini?” tanya Jinki lagi, wajahnya merengsek mendekati bibir Hyun yeong.

“Tidak banyak, aku suka namja sepertimu. Kuberi pelayanan terbaikku.” Bisik Hyun yeong lagi, matanya tak lepas dari bibir tebal Jinki yang nyaris menyentuh bibirnya.

Jinki segera menjauhkan tubuhnya dari Hyun yeong dan dengan cepat ia merogoh saku belakang denim nya, mengeluarkan dompet hitamnya.

Beberapa lembar won telah berada di tangan Jinki “Tidak perlu sekarang baby, nanti saja.” sergah Hyun yeong, ia kembali mendekati Jinki.

Jinki menepis Hyun yeong, ditariknya tangan kiri Hyun yeong dan mengalihkan lembaran won di tangannya ke sana.

“Kurasa ini cukup untukmu. Jangan menggodaku seperti itu, aku benci dengan wanita murahan yang tersenyum sensual. Apalagi padaku.” Ucap Jinki datar, membuat Hyun yeong menganga.

Jinki berbalik dan segera menarik Key yang masih sempoyongan di belakangnya.

“Ayo kita pulang, kau mabuk sekali Key. Aish! Dan besok kita ada meeting.” Jinki segera menyampirkan satu tagan Key di pundaknya dan berjalan meninggalkan bar itu, mengacuhkan Hyun yeong yang berteriak-teriak memakinya.

***

Beberapa namja berumur setengah baya kembali saling berpandangan saat seseorang yang mereka kenal sebagai pemilik perusahaan itu terlihat tidak fokus dan tidak sehat di sela-sela presentasinya.

Cwisonghamnida.” Namja yang sedang mempresentasikan mengenai kenaikan pemasukan perusahaan itu berdeham pelan kemudian memalingkan wajahnya ke belakang, tangannya yang tidak memegang kertas menutupi mulutnya.

Semua orang yang hadir di sana menyadari bahwa pemilik perusahaan mereka tengah dalam kondisi tidak sehat.

Wajahnya pucat, ia tak hentinya menginterupsi apa yang ia presentasikan karena terbatuk atau bahkan membekap mulutnya seolah mau muntah.

Namja lain yang duduk di kursi paling depan segera menyadari apa yang sedang terjadi.

Ia tahu apa yang terjadi pada atasannya semalam, dan tentu itulah penyebab utama ia terlihat tidak sehat.

Oh! dan ia rasa semua orang pun tahu bahwa penyebab utama atasan mereka terlihat tidak sehat adalah minuman keras.

Perlahan namja itu beranjak dari kursinya, dengan lembaran kertas di tangannya ia mendekati sang atasan yang masih membalikkan tubuhnya dan terbatuk.

“Biar aku saja yang lanjutkan Key.” Jinki berbisik dan segera diiyakan oleh Key.

Key membungkukkan tubuhnya pada semua yang hadir di meeting, kemudian segera berlari meninggalkan ruangan meeting.

Hye ri -yang duduk beberapa bangku di samping Jinki-, matanya mengikuti arah Key berlari kemudian sempat tertegun saat Key menghilang di balik pintu berwarna coklat.

Ia tidak menunjukkan ekspresi mengiba maupun bertanya, ia hanya diam dengan pikirannya sendiri.

Tak lama ia segera memfokuskan dirinya pada Jinki yang tengah melanjutkan presentasi Key.

Hei! Sepertinya ia kenal namja itu.

Itu kan namja yang pernah menabraknya di toilet dan tanpa sengaja bertemu saat ia selesai menengok Minho di pemakaman.

Namja itu terlihat seperti tangan kanannya Key. Oh! apakan ia menceritakan pertemuan mereka di pemakaman pada Key? Juga menceritakan bahwa di sana ia tengah menemui pacarnya yang telah meninggal pada Key?

Beberapa menit berlalu, semua orang bertepuk tangan setelah Jinki menyebutkan sebuah nama yang beberapa bulan ini ada di balik kenaikan keuangan perusahaan.

Min Hye ri segera berdiri dari kursinya, ia membungkukkan badannya ringan ke segala arah sambil tersenyum.

Ia mengucapkan beberapa kalimat pendek yang intinya berterimakasih pada semua orang yang juga telah berusaha keras pada musim ini. Hye ri meminta kerjasama dari semua orang agar situasi seperti ini bisa terus berlanjut bahkan berkembang.

Hye ri masih sibuk dengan beberapa kalimat yang bahkan ia tidak sempat menyusunnya di rumah karena ia mabuk berat semalam, sementara semua orang tengah menyimak dan memandang kagum ke arahnya.

Kecuali seorang yeoja berambut pirang yang duduk beberapa kursi di hadapannya memandangnya penuh benci.

Yeoja itu- Nicole- sesekali memutar bolamatanya saat Hye ri mengucapkan beberapa kalimat.

Hye ri tidak tahu apa yang dipikirkan Nicole saat ini, yang ia tahu sepertinya sekretaris itu kini sedang dalam mood yang tidak baik.

Hye ri tengah dalam kalimat terakhirnya saat pintu utama terbuka dan membuat semua orang memandang ke arah sana bersamaan.

Key berjalan sedikit terhuyung, mulutnya ia tutupi dengan saputangan merah tua yang sesekali ia gunakan untuk mengelap mata dan dahinya.

Key segera menyadari suasana hening dalam ruangan rapat yang mendadak karena dirinya.

Ia memandangi semua orang sambil tersenyum sungkan. Senyumnya pudar saat matanya bertemu dengan Hye ri yang masih berdiri di tempatnya.

Keduanya hanya saling berpandangan dengan pikiran masing-masing.

Perasaan Hye ri masih terasa campur aduk karena ia tidak ingat apa yang terjadi saat ia mabuk. Eomma nya hanya bilang bahwa Aeri datang bersama Key malam itu.

Dan pagi ini Hye ri belum sempat bertemu Aeri untuk menanyakan apa yang terjadi saat ia mabuk. Ia hanya khawatir jika ia tanpa sengaja mengatakan sesuatu pada Key saat ia mabuk.

Sementara Key masih sibuk dengan banyak pertanyaan dalam kepalanya mengenai siapa itu Choi Minho. Selain itu, rasanya ia ingin tahu apa yang ada dalam pikiran yeoja yang sedang berpandangan dengannya mengenai kejadian dalam box telepon tempo hari.

Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa menyadari bahwa semua orang tengah memandangi mereka. Menyadari bahwa keduanya saling bertatapan dengan pikiran masing-masing, memunculkan asumsi bahwa ada sesuatu yang tidak diketahui yang lain.

Beberapa orang mulai saling berbisik, beberapa hanya menganggukkan kepalanya , mengiyakan rumor yang selama ini menyebar di kantor mereka mengenai sang atasan dengan designer perusahaan yang tengah bersinar itu.

Jinki berdeham keras, membuyarkan pikiran semua orang.

“Baiklah, kau bisa meneruskan pidatomu Min Hye ri.” Seketika semua orang kembali memfokuskan diri mereka pada Hye ri.

Dengan cepat Key berjalan, kemudian duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Jinki.

Agenda meeting terus berjalan seiring dengan naiknya matahari musim panas yang terik.

Segala sesuatunya berjalan lancar di samping insiden Jinki yang melanjutkan presentasi Key dan beberapa detik pandangan antara Key dan Hye ri.

Semua orang perlahan meninggalkan ruang rapat sambil berbincang dengan rekan mereka. Gelak tawa tentunya terdengar di setiap sudut.

Beberapa ada yang berbincang atau bahkan mengucapkan selamat pada Key atas prestasi perusahaan mereka.

Min Hye ri pun tak kalah bersinar dari Key, beberapa orang ikut menyalami dan berdecak kagum atas prestasi cemerlangnya.

Hye ri melirik ponsel flip ungu yang sedaritadi ia taruh di saku blazer coklatnya dengan mode meeting.

Jam 11.30, dengan cepat ia mengubah ponselnya ke mode normal.

Ia merapikan lembaran-lembaran kertas yang berserakan di hadapannya dan memasukkannya ke dalam map biru, kemudian beranjak dan hendak meninggalkan ruang meeting begitu saja karena jam di ponselnya mengingatkan ia pada janjinya dengan sesorang.

Beruntung ia ingat bahwa ia sama sekali belum mengucapkan terimakasih pada atasannya dan namja yang kini ia tahu bernama Lee Jinki.

Perlahan ia mendekati keduanya yang baru saja selesai berbincang dengan salah satu staff administrasi kantor.

Jinki dan Key segera menyadari kedatangan Hye ri. Jinki tersenyum , yeah! Akhirnya yeoja itu mengetahui identitasnya, sementara Key berusaha bersikap datar meskipun sebenarnya jantungnya mulai berisik tak karuan.

Kamshahamnida sajangnim, meeting hari ini membuatku mengenal beberapa staff yang tidak kukenal sebelumnya.” Hye ri tersenyum sambil membungkukkan badannya ke arah Key.

Ne, prestasimu sangat baik. Kuharap akan terus berlanjut dan jauh lebih baik.” Key tersenyum, sejenak ia mengenyahkan berbagai pertanyaan dalam kepalanya agar ia bisa memandang yeoja itu tanpa gangguan apapun.

Hye ri pun sama seperti Key, saat itu ia ingin sekali mengenyahkan berbagai pertanyaan mengenai Key dan apa yang terjadi saat ia mabuk kemarin agar ia bisa memandangi Key.

Melihat wajah pucat itu… Oh! Sungguh, Hye ri benar-benar merasa bahwa namja di hadapannya adalah Choi Minho. Wajah pucat dan senyuman itu… Hye ri rasa ia sudah gila!

Jinki berdeham, sepertinya ini yang dinamakan berada dalam posisi yang tidak menyenangkan. Hanya menjadi pengamat dan pendengar antara dua orang yang mungkin tengah saling jatuh cinta.

“Oh! Annyeonghaseyo, kita bertemu lagi.” Dengan cepat Hye ri mengalihkan matanya pada Jinki, ia membungkukkan badannya.

Ne, senang bertemu denganmu lagi Min Hye ri.” Jinki ikut-ikutan membungkukkan badannya.

Sejenak Hye ri memandang Jinki dengan tatapan penuh kecurigaan apakah namja itu telah bercerita pada Key soal pertemuan mereka di pemakaman.

Dan jika Hye ri beranggapan ia bisa membaca pikiran Jinki melalui gerak-gerik, sorot mata dan ekspresinya, maka ia salah besar.

Tidak segampang itu membaca pikiran seorang Lee Jinki, ia sangat pandai menyembunyikan apa yang ia pikirkan. Bahkan ia pandai mengelabui orang agar orang tersebut tidak mencurigainya mengenai hal tertentu, seperti yang terjadi di pemakaman.

Geurayo, kurasa aku harus pergi ke kamar kecil.” Jinki menepuk bahu Key, kemudian tersenyum pada Hye ri.

“Sampai jumpa.”

Hye ri dan Key masih memandangi Jinki hingga namja itu menghilang dari pandangan mereka.

Sesaat atmosfir antara keduanya terasa aneh dan canggung, dunia mereka telah kembali, begitu juga dengan pertanyaan-pertanyaan dalam kepala mereka mengenai satu sama lain.

Key baru saja hendak mengajak Hye ri untuk makan siang bersama saat yeoja itu kembali melirik ponsel flip ungu nya.

“Oh! Mianhae sajangnim, aku sedang terburu-buru. Annyeonghaseyo.”

Key menarik satu tangan Hye ri yang tidak memegang map. Kali ini pikirannya kembali terganggu, mengapa yeoja itu menghindarinya lagi?

Apa karena kejadian di box telepon itu? Atau karena kejadian di mana ia mabuk berat? Key rasa Hye ri sudah tahu bahwa ia ikut mengantar Hye ri ke rumahnya malam itu.

“Kau sedang menghindariku lagi?” Hye ri segera berbalik, ia memandang Key dengan pandangan yang sulit diartikan.

Ia kemudian tersenyum ringan “Aku benar-benar sedang terburu-buru, Key.”

“Aku harus menjemput seseorang di bandara, sungguh! Aku tidak sedang menghindari siapapun.” Tambah Hye ri buru-buru, membuat Key tersenyum hambar.

Akhirnya Key hanya bisa memandangi punggung Hye ri yang melenggang menjauhinya, sekali lagi ia mengutuki dirinya sendiri yang selalu kalah dari Hye ri.

Mengapa bahkan ia tidak bisa membuat Hye ri kehabisan alasan untuk menghindarinya?

“Apa kau keberatan juga jika menemaniku dinner setelah jam kantor?” Key setengah berlari, ia kembali menahan tangan Hye ri sebelum yeoja itu benar-benar meninggalkan ruang meeting.

Hye ri sempat terdiam. Oh! haruskan ia menerima ajakan Key lagi? Lalu apa lagi yang akan terjadi? Key akan mengonterogasinya mengenai kejadian di box telepon? Juga mengenai pertanyaannya yang belum Hye ri jawab mengenai Minho? ataukah ia akan membahas apa yang terjadi saat Hye ri mabuk?

Sungguh! Pikiran Hye ri kini dipenuhi banyak ketakutan jika saja Key memang mengajaknya dinner untuk tujuan itu.

Key masih menunggu, sementara pesan singkat yang masuk di ponsel Hye ri tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk dibalas.

Sure!” jawab Hye ri akhirnya. Benarkan ia tidak bisa menolak ajakan Key?

=TBC=

7 thoughts on “Archangel – part 8

  1. aaahhh Jinkiii your so cool… *triak histeris*
    aigo author kw mmbuatku smkin cinta ama nae yeobo ‘Jinki’ *author: -_-” ㅋㅋㅋ~

    wahwahwahh hyeri hmpir mmbocorkn semua rhasianya sndiri.
    btw hyeri mau jmput siapa?? ada cast baru kah???
    okeyy Nextt!!!!

  2. “… itu semua karena aku selalu melihat
    Minho dalam dirinya, semua yang dilakukan
    Key terlalu indah… sama seperti yang
    dilakukan Minho padaku…” sediiihhh knpa Hyeri bilang begitu..??!! Aeri benar Hyeri menyakiti hati Key😦
    Tapi bagus bgt tulisanya kaa euncha, bener2 deh ^^

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s