Archangel – part 9

Archangel – Part 9

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Romance, family, Friendship

Beta Reader    : Onnes

Rating             : PG 15

Namja itu merapikan kembali sunglasses nya, matanya menjelajah bandara yang tidak terlalu ramai. Memperhatikan kalau-kalau ada sanak saudaranya atau mungkin temannya yang berdiri di salah satu sudut.

Ia berjalan sambil menarik kopor coklatnya , matanya menjelajah seisi bandara.

Cuaca cerah di penghujung musim panas ini membuat mood nya naik. Tiga tahun sudah sejak terakhir kali ia melihat langit Korea yang cerah.

Ia menarik nafas dalam, menghirup udara sebanyak yang ia bisa.

Aaahhh… aroma negara kelahirannya benar-benar menyegarkan rongga paru-paru.

Ia tersenyum saat seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Dibukanya sunglasses yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya.

Satu tangannya yang tidak menyeret koper ia rentangkan lebar-lebar ke arah sekumpulan orang yang ternyata berdiri di belakang orang yang tadi melambaikan tangan padanya.

Welcome Home Kim Jonghyun.” Ucap seorang yeoja dengan setelan denim dan tshirt pink berlengan pendek.

Jonghyun melepas koper yang ditariknya, kemudian memeluk yeoja itu “Sodam nuna, aku sangat merindukanmu.”

Jonghyun memeluk orangtua dan sanak keluarga yang ikut menjemputnya ke bandara. Hatinya benar-benar secerah cuaca hari ini.

Dalam pikirannya, ia telah menyusun banyak rencana mengenai apa saja yang akan ia lakukan di Korea. Tentu saja sebelum ia memulai bekerja sebagai salah satu staff di perusahaan milik pamannya.

Tiga tahun kuliah di Inggris benar-benar membuatnya merindukan Korea, merindukan segala sesuatu sampai hal terkecil.

Ia berjalan beriringan dengan keluarganya sambil berbincang, sementara tangannya tak lepas dari ponsel nya.

Tentu saja ada orang yang sangat ingin ditemuinya di Korea-selain keluarga dan sahabatnya.

Yeah! Yeoja itu sama-sama sekolah di Inggris dan mereka bertemu di sana.

Tapi sayang, yeoja itu pulang lebih dulu ke Korea saat Jonghyun masih dalam proses pendekatan.

Jonghyun sudah memberitahukan bahwa ia akan pulang hari ini.

Bukan! Bukan orang itu yang ingin ditemui Jonghyun saat ini. Ia masih punya banyak waktu untuk membuat surprise kecil bagi si yeoja.

Ada yeoja lain yang sangat ingin ia temui.

Sejak tiga tahun yang lalu, Jonghyun tidak bisa memastikan apakah yeoja itu benar baik-baik saja seperti yang selalu dikatakan padanya melalui pesan elektronik atau hubungan skype mereka.

Jonghyun hanya ingin memastikan bahwa yeoja itu benar baik-baik saja dan tidak menderita seperti sebelum ia pergi ke Inggris.

Yeoja manis yang merupakan cinta pertama Jonghyun.

***

Hye ri berlarian setelah ia menuruni taksi yang ditumpanginya dari kantor. Ia tak henti menatap layar ponsel.

Pesan itu sudah dikirimkan Kim Jonghyun tiga puluh menit yang lalu, dan kini namja itu tidak megiriminya pesan singkat lagi.

Aish! Hye ri berdecak kesal, mengapa heels 7 senti itu tiba-tiba membuat langkahnya menjadi sulit?

Mata Hye ri terus menjelajah isi bandara yang tidak terlalu ramai, kalau-kalau namja yang ia cari masih berada di sana.

Tapi mustahil! Sudah 30 menit berlalu, mana mungkin Kim Jonghyun masih mau menunggu nya.

Hye ri berjalan lemas setelah ia mendatangi bagian pendaratan dari Inggris, petugas yang berjaga di sana mengatakan pesawat yang baru datang dari Inggris telah mendarat 30 menit yang lalu.

Dan mengapa Kim Jonghyun tidak menjawab teleponnya? Apa namja itu marah?

“Ya Tuhan! Kau ini lama sekali.” Sebuah suara terdengar dari belakang Hye ri saat yeoja itu berjalan menyusuri trotoar.

Hye ri segera berbalik, pupil matanya membulat saat melihat orang yang ada di belakangnya , sementara mulutnya yang setengah terbuka segera ia tutupi dengan kelima jarinya.

“Ya Tuhan Kim Jonghyun!” Hye ri segera berhambur ke arah namja dengan tshirt kuning itu.

Jonghyun melepas sunglasses nya dan membalas pelukan Hye ri.

“Hei! Tiga tahun tidak bertemu membuatmu lupa memanggilku oppa?” tanya Jonghyun dan tidak ditanggapi oleh Hye ri, karena yeoja itu masih sibuk memeluk Jonghyun.

Hye ri begitu merindukan namja yang merupakan cinta pertamanya itu.

Tidak! Hye ri sudah tidak menaruh perasaan cinta lagi pada namja ini semenjak ia mengenal Minho.

Tapi Jonghyun tidak pernah absen jika Hye ri sedang dalam kesulitan, ia selalu menjadi oppa yang baik bagi Hye ri.

Begitu juga sebaliknya, Jonghyun sudah tidak pernah memikirkan perasaannya pada Hye ri. Itu sudah sangat lama dan Jonghyun menganggapnya sebagai cinta monyet.

So, How have you been?” tanya Jonghyun setelah mereka selesai berpelukan.

Hye ri tersenyum sambil mengusap airmatanya yang tanpa terasa menetes “Fine, really fine.”

Hye ri begitu bahagia bisa bertemu dengan salah satu orang terbaik dalam hidupnya, dan itu membuat airmatanya kembali jatuh.

Jonghyun selalu baik padanya, melindungi Hye ri meskipun mereka tidak memiliki hubungan spesial lagi.

Bahkan saat itu Jonghyun pernah sengaja menemui Minho saat Hye ri pertama kali berpacaran dengannya. Hanya sekedar menanyakan keseriusan Minho pada Hye ri.

Tiga tahun tidak bertemu, entah mengapa itu membuat Hye ri kembali mengingat masa lalu. Termasuk Minho.

Di mana Jonghyun selalu ada di dekat Hye ri saat Minho baru saja meninggalkannya. Menghibur dan mengatakan bahwa segala sesuatunya tidak seburuk yang Hye ri pikirkan.

“Kurasa kau tidak benar-benar baik.” Ibu jari Jonghyun mengusap airmata yang menetes lagi di pipi Hye ri.

“Hmm… kita bisa bicara sambil makan. Kau belum makan kan?” Jonghyun menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hye ri.

Hye ri menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa bersuara karena kini bibirnya bergetar hebat menahan tangis.

Jonghyun merangkul Hye ri, kemudian mengajak yeoja itu berjalan menuju restoran kecil di mana keluarganya telah berada di sana lebih dulu.

“Oh! aku bahkan baru menyadari kau terlihat begitu feminim Min Hye ri. Lihat high heels itu.” Jonghyun menunjuk sepatu putih Hye ri.

Hye ri hanya tersenyum mengikuti arah tangan Jonghyun meskipun airmatanya masih menetes.

“Kukira yang akan datang ke bandara adalah yeoja dengan sneaker semata kaki dan ripped denim.” Goda Jonghyun.

Mereka berpandangan, kemudian saling melempar senyum tak terartikan.

Jonghyun menatap mata Hye ri dalam, ia tahu bahwa yeoja itu dalam keadaan yang sangat tidak baik. Ia rasa Hye ri tetap tidak bisa melupakan Minho, meskipun tiga tahun telah berlalu.

***

“Jadi, bagaimana perasaanmu padaku?”

Pertanyaan itu kembali berputar dalam kepala Hye ri.

Yeah! Seperti yang Hye ri duga, dinner yang ia lalui bersama Key adalah dinner yang dipenuhi dengan pertanyaan.

Pertanyaan yang bagi Hye ri lebih mirip interogasi.

Namja itu memang memberikan dinner romantis di mana ada sebuah lilin yang menyala di tengah meja, juga musik klasik yang mengalun lembut sepanjang dinner mereka.

Tapi sungguh! Hye ri tidak bisa menikmati itu semua karena pertanyaan-pertanyaan Key yang membuatnya seolah berada di kelas statistika saat kuliah dulu.

“Perasaanku?” Hye ri bergumam pelan, ia sendiri bingung dengan perasaannya pada Key.

Key sangat baik padanya, selalu melakukan hal-hal manis yang sejujurnya selalu mengingatkan Hye ri pada Minho.

Key memang tidak mengatakan bahwa ia mencintai Hye ri, tapi semua yang Key lakukan seharusnya sudah cukup bagi Hye ri untuk mengerti bahwa namja itu jatuh cinta padanya.

Hye ri mendesah ringan, seolah mengeluarkan bongkahan es yang mengganjal dadanya.

Perlahan ia meraih bingkai putih yang selalu tersimpan di meja kecil di samping ranjangnya. Ditatapnya wajah tampan itu.

Telunjuknya menyentuh wajah dalam foto.

Tes.

Airmata segera meluncur, membasahi wajah dalam foto.

“Bolehkan aku mencintainya?” tanya Hye ri, seolah ia sedang bertanya pada wajah yang tersenyum itu.

***

Yeoja setengah baya itu tengah sibuk dengan bahan – bahan makanan untuk makan malam saat seseorang menekan bel rumahnya.

Sambil melepas apron biru dari tubuhnya, yeoja itu berjalan pasti menuju pintu depan.

Tanpa berbicara melalui interkom terlebih dahulu, ia segera membuka pintu.

“Oh! kau?” Nyonya Min terkejut melihat tamu yang datang.

Dengan cepat ia mengajak namja tampan itu ke ruang tamu nya yang apik dan rapi.

Kamshahamnida eommonim.”  Namja dengan vest merah yang dipadu jas biru tua itu membungkukkan tubuhnya sedikit saat yeoja itu menaruh cangkir berisi sirup ke hadapannya.

“Aku senang menerima kunjunganmu lagi Kibum ssi, tapi entah mengapa aku jadi merasa khawatir. Apa terjadi sesuatu?”  nyonya Min duduk di sofa merah maroon di hadapan Key.

“Oh! Mianhaeyo aku datang mendadak. Anda tidak usah cemas nyonya Min, aku hanya ingin menanyakan sesuatu.”

Key mulai bercerita, tidak langsung pada intinya memang. Ia memulai dari prestasi cemerlang Hye ri dan bagaimana yeoja itu tengah bersinar di perusahaan.

Nyonya Min berkali-kali mengucapkan terimakasih setiap kali Key memuji Hye ri, sesekali ia merendah karena merasa pujian Key itu terlalu berlebihan.

Key meneguk kecil sirup yang disajikan untuknya, sirup rasa jeruk itu segera menyeruak mebasahi kerongkongannya yang kering.

Baiklah! Key rasa ini saat yang tepat untuk menberitahu tujuan utamanya datang ke mari.

“Nyonya Min.” Key berdeham pelan, mempersiapkan diri untuk berbagai respon yang akan diberikan nyonya Min.

“Boleh aku tanya sesuatu?” dan hanya diiyakan oleh anggukan kecil dari nyonya Min.

“Siapa itu Choi Minho?”

Nyonya Min nyaris tersedak sirup nya saat ia mendengar pertanyaan Key.

Ia menatap Key, benarkah putrinya tidak pernah bercerita tentang Choi Minho?

Sejenak ia berpikir mengenai apa yang akan dikatakannya pada Key. Menimbang-nimbang apakah yang akan ia katakan tidak menimbulkan hal yang buruk bagi putrinya.

Nyonya Min menaruh cangkirnya dengan apik ke atas meja, menarik nafas yang cukup dalam. Ia telah memutuskan untuk menceritakan siapa itu Choi Minho pada Key.

Dari sorot mata, senyuman dan bagaimana cara Key memuji Hye ri, nyonya Min tahu bahwa namja itu menyukai putrinya. Begitu juga saat namja itu terlihat begitu khawatir saat mengantar putrinya yang mabuk ke rumah.

Tenggorokan Key tercekat, hatinya mencelos saat mendengar apa yang diceritakan nyonya Min.

Choi Minho…

Jelas saja Key terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui, kini ia tahu apa yang dimaksud Jinki dengan Choi Minho yang bahkan tidak bisa menyentuh Min hye ri.

Tapi ada hal lain yang membuat Key terkejut.

Kematian Minho yang disebabkan oleh kanker darah.

Sungguh! Ia tahu bagaimana rasanya menjadi Minho, mungkin. Karena ia nyaris mengalami hal serupa dengan Minho jika saja malaikat penjaga itu tidak datang menyelamatkannya.

Key tertegun, kini ia tahu mengapa Hye ri selalu mengatakan bahwa kedekatannya dengan Key tidak akan menimbulkan masalah apapun. Everything is okay

Nyonya Min menyeka lagi airmata dengan ujung lengan dress rumahan nya. Menceritakan Minho mau tidak mau membuatnya harus membuka kenangan lama yang mengharukan.

Yeoja yang semakin tua itu mengingat lagi bagaimana putrinya selalu berusaha mencari pendonor bagi Minho. Hingga akhirnya ia sendiri lah satu-satunya donor yang sesuai untuk Minho.

Diingatnya lagi bagaimana hati putrinya hancur saat sumsum tulang belakangnya yang sudah sesuai itu tidak  bisa menyelamatkan Minho satu hari sebelum operasi.

Key menatap nyonya Min “Mianhaeyo…” hanya itu yang mampu Key ucapkan untuk menghibur nyonya Min.

“Oh! gwaencanha, jeongmal. Aku hanya merasa sangat sedih.” Nyonya Min tersenyum, ia kembali mengusap airmatanya.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat Hye ri melupakan Minho dan menata kembali hidupnya. Aku tahu itu sulit tapi…” nyonya Min menghentikan kalimatnya, airmatanya tumpah tak terkendali.

Key berhambur ke arah nyonya Min, ia duduk di samping nyonya Min dan berpikir keras mengenai apa yang harus ia lakukan.

Perlahan, Key mengumpulkan keberaniannya. Mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

“Nyonya Min…” nyonya Min menatap Key.

“Bolehkah aku mendapat ijinmu untuk membuat Hye ri melupakan Minho? bolehkah aku mencintai Hye ri? Menjadikan Hye ri milikku?” nyonya Min terperanjat. Pertanyaan beruntun Key barusan membuatnya terkejut.

Ia memang tahu bahwa Key menyukai Hye ri, tapi ia tidak menyangka bahwa namja itu akan mengambil keputusan yang begitu cepat.

“Kau sudah memikirkannya? Benarkan kau sudah memikirkan bahwa kau mencintai Hye ri dan akan membuatnya bahagia?”

Key sempat terdiam mendengar rentetan pertanyaan nyonya Min, sementara hatinya bertanya pada diri sendiri mengenai pertanyaan nyonya Min barusan.

Benarkah ia sudah memikirkannya?

Key tersenyum, ia sempat mengutuki dirinya yang bahkan memikirkan jawaban untuk pertanyaan itu.

Tentu saja jawabannya sudah ada sebelum ia mendatangi nyonya Min, memang itulah tujuannya datang.

Key mengangguk pelan “Aku sudah memikirkannya, bahkan itu membuatku menderita karena selalu memikirkannya.”

Nyonya Min tersenyum, segurat kelegaan terlukis di wajahnya.

Tangan Key menggenggam kedua tangan nyonya Min yang sedari tadi ditaruh di atas pahanya.

“Kuberikan ijin itu padamu, Kim Ki bum.” ucap Nyonya Min, setetes airmata kembali jatuh.

Ingin sekali rasanya Key berteriak, memberitahu dunia bahwa ia sangat bahagia. Ia bisa melanjutkan langkahnya tanpa dihinggapi perasaan bahwa ia tengah merebut pacar orang.

“Jika begitu, aku akan menikahi Hye ri secepatnya. Aku hanya perlu menunggu Hye ri menerimaku dalam hidupnya.”

Nyonya Min terkesiap, ia tidak menyangka Key bahkan telah berpikir untuk menikahi putrinya. Ternyata namja itu tidak main-main.

“Buatlah Hye ri bahagia.” Ucap nyonya Min sebelum akhirnya mereka mengakhiri percakapan yang dipenuhi airmata kesedihan dan kebahagiaan itu.

***

Sesuatu yang menyentuh pelipis dan rambut bagian depan Key membuat namja itu terbangun dari tidurnya.

Ia menutup lagi matanya saat cahaya menyilaukan menerobos masuk tanpa permisi. Ia bergumam ringan, menandakan bahwa ia sudah bangun dari tidurnya.

Tapi tangan halus itu masih mengusap pelipisnya dengan lembut, si pemilik tangan sesekali bersenandung kecil, menyenandungkan irama lagu pengantar tidur.

Semilir angin yang menerpa wajah, serta senandung yang terdengar membuat Key semakin ingin memejamkan matanya lagi.

Suara itu berhenti bersenandung, meskipun tangan lembutnya masih tetap mengusap pelipis Key.

“Tidurlah, baby.” Bisiknya, membuat Key dengan cepat membuka matanya kembali.

Hei! Sepertinya suara itu tidak asing baginya.

Key melihat sebuah senyuman di atas wajahnya, terlalu banyak cahaya memang, tapi ia bisa melihat senyuman itu dengan jelas.

Sejurus kemudian Key menyadari bahwa dirinya tengah tertidur di atas paha yeoja itu.

Yeoja yang selalu mendatanginya dalam mimpi, yeoja yang selalu menemani Key, malaikat penjaga.

Key tahu ia sedang bermimpi dan entah mengapa baru kali ini ia tidak ingin terbangun dari mimpinya bersama sang malaikat penjaga.

Ia belum mau kembali pada kenyataan bahwa ia harus berusaha memenangkan hati Hye ri lagi saat bangun nanti.

Key tersenyum, matanya setengah terbuka karena cahaya menyilaukan yang selalu mengitari sang malaikat penjaga itu membuat matanya sakit.

Yeoja itu kembali bersenandung, suara gemericik air, semilir angin, burung-burung kecil dan suara rerumputan membuat Key semakin terkantuk-kantuk.

“Tidurlah baby, kau bersamaku. Everything is okay.” Ucap malaikat penjaga dan sukses membuat Key tersontak.

Kalimat singkat terakhir yang diucapkan si yeoja entah mengapa mengingatkan Key pada seseorang.

Key bangkit dan berusaha melihat yeoja itu. Tapi sayang, dengan cepat Key menutup mata dengan lengan kanannya, terlalu banyak cahaya.

Key masih menutupi matanya yang terasa sakit karena cahaya saat yeoja itu mulai memeluknya.

“Tidak usah terburu-buru baby, kau sudah bersamaku.” Bisik yeoja itu.

Ia ingin melihat yeoja itu selagi mimpinya belum berakhir, tapi sayang matanya masih terasa sakit meskipun ia telah memejamkannya cukup lama.

“Kau… siapa kau?” Key memuji-muji dirinya dalam hati yang begitu hebat bisa melontarkan pertanyaan itu dalam mimpinya.

Yeoja itu melepas pelukannya, ia menatap Key.

Perlahan Key membuka kedua matanya, ia bisa melihat sosok itu, tapi tidak dengan wajahnya yang silau.

Yeoja itu tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Key.

Deg!

Jantung Key berdebar, ia tahu apa yang akan terajadi setelah ini dan kemudian ia akan terbangun dari mimpinya.

Tidak! Jangan dulu! pinta Key dalam hati.

Hembusan nafas yang hangat mulai menerpa wajah Key, ingin sekali Key menghindar dan menghentikan yeoja itu untuk sekedar memperpanjang waktu dan bertanya banyak padanya.

Yeoja itu terus mendekat, membuat Key memjamkan kedua matanya karena silau.

“Aku? Malaikat penjagamu, baby.” Bisiknya, kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Key, kali ini bukan hanya memberikan tekanan ringan di sana, tapi juga sedikit sensasi yang membuat bibir Key terasa basah.

Key membuka kedua matanya kasar, jantungnya berdebar-debar, keringat dingin masih menetes dari pelipisnya.

Perlahan mata Key menjelajahi tempat di sekitarnya, menyadari bahwa ia berada dalam kamarnya.

Key mengatur nafasnya yang masih memburu, sementara pikirannya masih mengingat kejadian dalam mimpi.

Sudah beberapa hari ini sang malaikat penjaga tidak pernah mendatanginya lagi dalam mimpi, mungkin semenjak Key meminta Song seonsaengnim untuk menghubungi pendonor sumsum tulang belakangnya dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Dan yeoja itu kembali mendatanginya dalam mimpi, meninabobokannya.

Sejenak pikiran Key menerawang, mengapa yeoja itu tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang?

Mengapa yeoja itu mengatakan untuk tidak terburu-buru? Everything is okay

Key memutar memori dalam kepalanya, mengingat lagi siapa yang selalu mengatakan kalimat itu belakangan ini padanya.

Key tersenyum hambar, apa itu karena ia terlalu sering mendengar Hye ri mengucapkannya? Sehingga kalimat memuakkan itu terbawa dalam mimpi?

Entahlah!

Key tidak ingin berlama-lama dalam pikirannya mengenai sang malaikat ataupun Hye ri.

Yang ia tahu saat ini adalah ia harus segera beranjak ke kamar mandi dan bergegas memulai satu hari yang sibuk lagi dalam hidupnya.

***

“Bagaimana dengan Choi Minho?” tanya Key akhirnya setelah ia berputar-putar bertanya banyak hal pada Hye ri.

Hye ri hanya memandang Key, ia tidak terkejut karena Aeri telah menceritakan apa yang terjadi saat ia mabuk.

Potongan beef steak itu kembali Hye ri masukkan ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan santai seolah pertanyaan Key adalah pertanyaan biasa yang tidak memerlukan jawaban segera.

Key menatap Hye ri, dengan sedikit kesal ia berusaha sabar menunggu yeoja itu menjawab pertanyaannya.

Apakah Hye ri masih akan berbohong tentang namja bernama Choi Minho itu padanya?

Hye ri meneguk air mineral dalam gelasnya setelah beef steak itu berhasil ditelannya “Everything is okay, Key.”

Lagi, kalimat itu yang terlontar dari mulut Hye ri, membuat Key benar-benar kehabisan kesabarannya.

Ia benar-benar merasa telah dipermainkan habis-habisan oleh Hye ri.

Mengapa yeoja itu masih saja menyembunyikan sesuatu dari Key? Apa Hye ri benar-benar tidak berniat memberi Key kesempatan? Lalu apa artinya hari-hari menyenangkan yang mereka lalui setelah membahas design? Apa artinya kejadian di box telepon itu?

Key meneguk air mineral dalam gelasnya kemudian menarik nafas dalam, menguatkan dirinya untuk tetap bersabar.

Kali ini ia tidak mau mendengar kalimat-kalimat Hye ri yang terkesan mempermainkannya, jika Hye ri tidak menanggapinya dengan serius maka lebih baik semuanya berakhir di sini. Pikir Key.

“Minho sakit? Leukemia?” tanya Key lagi dan kali ini sukses membuat Hye ri menjatuhkan garpu yang ada dalam genggamannya.

Hye ri menatap Key, tentu saja kali ini ia terkejut. Apa ia juga meracau tentang penyakit Minho saat ia mabuk? Tapi Aeri tidak mengatakan apapun soal itu.

Berusaha menutupi keterkejutannya, Hye ri meraih gelasnya dan kembali meneguk air mineral.

“Kurasa aku sudah selesai.” Hye ri segera meraih tas tangannya dan hendak beranjak saat tangan Key dengan cepat menahannya.

“Minho tidak bisa diselamatkan?” tanya Key lagi. Hye ri membulatkan pupil matanya, sepertinya Key tahu lebih banyak dari yang ia kira.

Yeoja itu kembali beranjak tanpa menghiraukan pertanyaan Key, ia benar-benar merasa terusik dengan pertanyaan itu.

Tidak ada seorang pun yang boleh mengatakan betapa menyedihkannya Minho karena ia tidak terselamatkan meskipun operasi telah berada di depan mata.

“Menghindariku lagi? Tidak bisa menjawab pertanyaanku?” lagi, Key menghujani Hye ri dengan serentetan pertanyaan yang benar-benar tidak ingin dijawab oleh Hye ri. Yeoja itu yakin Key sudah mengetahui segalanya.

Geumanhae!” Hye ri menggerakkan tangannya kasar, membuat genggaman tangan Key terlepas.

Hye ri berjalan cepat melewati beberapa meja sambil menahan amarah. Ia benar-benar tidak suka disudutkan seperti itu.

Key mengejar Hye ri, tentu saja ia bisa mengejar yeoja itu jika saja seorang pramusaji tidak mencegahnya dan meminta Key untuk membayar makanan mereka terlebih dahulu.

Oh! Sial! Gerutu Key dalam hati. Ia mengeluarkan beberapa lembar won secara asal, bahkan ia tidak melihat angka yang tertera dalam bon.

Pramusaji itu memanggil Key untuk menyerahkan kembalian saat Key berlari melewati pintu kaca dan menarik tangan Hye ri yang masih berjalan cepat di trotoar-beberapa meter dari restoran yang baru mereka tinggalkan.

“Lepaskan!” seru Hye ri, ia kembali menggerakkan lengannya kasar agar genggaman Key terlepas. Tapi sayang, kali ini Key telah menggenggam tangannya lebih erat, membuat usaha Hye ri sia-sia.

“Hye ri-ya listen!” Key berusaha menarik Hye ri agar yeoja itu berhenti berontak.

Sirheo!” Hye ri berusaha melepaskan genggaman Key, ia bahkan tidak mau melihat wajah Key saat ini.

Hye ri terus meronta minta dilepaskan, sementara mulutnya terus meneriakki Key untuk melepaskannya, membuat Key kehabisan kesabaran. Benarkah selama ini Hye ri tidak pernah menyimpan perasaan pada Key? Benarkah dalam hati Hye ri hanya ada Minho seorang? Apakah selama ini Key tidak pernah ada artinya bagi Hye ri?

“MIN HYE RI STOP IT!” teriak Key akhirnya, ia tidak perduli dengan pandangan orang yang tengah berjalan di trotoar ataupun pengendara mobil yang melintas di sana.

Hye ri berhenti berontak, ia tahu bahwa Key tidak akan membiarkannya pergi sebelum Key mendapatkan apa yang ia inginkan dari Hye ri – jawaban atas pertanyaan-pertanyaan retoriknya.

Sesaat keduanya hanya diam, Key masih berusaha mengontrol emosinya yang semakin tak terkendali setiap mengingat Hye ri yang pergi begitu saja menghindarinya.

What do you want?” Hye ri mengangkat wajahnya , memandang Key dengan wajah bercucuran airmata. Mungkin selama ini ia selalu terlihat tegar di hadapan banyak orang, menutupi kesengsaraan hatinya dengan senyuman palsu di wajah. Tapi itu semua tidak akan berlaku lagi jika yang di hadapkan adalah persoalan Minho.

“Jangan menghindariku, jebal.” Key merendahkan intonasi bicaranya, ia merasa berdosa telah membuat Hye ri menangis. Perlahan ia longgarkan genggaman tangan yang mungkin membuat Hye ri kesakitan.

“Mengapa kau menyembunyikan soal Minho dariku?”

Hye ri diam, kini matanya tak berani lagi menatap mata Key. Sesaat ia memikirkan pertanyaan Key, mengapa ia menyembunyikan soal Minho dari Key?

Oh! bahkan Hye ri tidak tahu mengapa ia menyembunyikan Minho dari Key. Ia tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari Key, atau dari orang lain, atau dari siapapun tentang Minho. Ia hanya tidak suka jika harus membahas betapa menyedihkannya Minho karena tidak terselamatkan.

“Jangan tanyakan apapun tentang Minho padaku, jebal. Aku tidak mau bercerita apapun tentang Minho, aku tidak mau orang-orang tahu seberapa menyedihkannya Minho saat ia tidak terselamatkan… aku… Minho-ya..Minho-ya…” tubuh Hye ri merosot, airmatanya tak terbendung lagi. Hatinya sakit setiap kali ia menyebut nama Minho, benarkah Minho semenyedihkan itu?

Hye ri tak bisa melanjutkan kalimatnya lagi, itu percuma saja. Luka itu akan semakin menganga setiap kali bibirnya menyebut nama Minho.

Key memalingkan wajahnya sesaat, kini ia telah mengetahui mengapa Hye ri selalu menghindari percakapan yang membahas Minho. Key menarik nafas dalam, ia tahu itu sangat menyedihkan. Bahkan mungkin Key jauh lebih memahami perasaan menyedihkan itu dibandingkan Hye ri.

Yeah! Key pernah ada dalam situasi menyedihkan itu, situasi di mana ia nyaris tak terselamatkan.

“Hye ri-ya…” panggil Key seraya menggerakkan tangannya yang masih menggenggam tangan Hye ri.

Tapi Hye ri tak bergeming, ia tetap menangis dan tak sedikitpun menengadahkan kepalanya untuk sekedar menatap Key.

Beberapa orang yang lewat mulai memperhatikan mereka, bahkan diantaranya sambil berbisik-bisik.

“Hye ri –ya.” Key menggerakkan tangannya lagi, berharap Hye ri mau menanggapinya, tapi sia-sia. Hye ri justru menangis semakin keras.

Beberapa pejalan kaki kembali melewati mereka, memperhatikan keduanya. Memandang sinis ke arah Key, karena tentu saja mereka akan mengira bahwa Key lah yang telah membuat Hye ri menangis.

Well, memang benar Key lah yang membuat Hye ri menangis. Tapi itu berbeda dengan apa yang orang-orang pikirkan.

“Yaa! Hye ri-ya.” Kali ini Key berbisik, matanya tetap mengawasi pejalan kaki yang memandang sinis ke arahnya.

Entah sudah berapa kali Key memanggil-manggil Hye ri seraya menggerakkan tangannya yang menggenggam tangan Hye ri, tapi yeoja itu masih tetap menangis dan tak menghiraukan Key sedikitpun.

Tes.. tes..tes…

Beberapa titik air menetes dari langit. Key mendongakkan kepalanya dan dalam hitungan detik tetesan itu membesar, membasahi jalanan kota Seoul.

Key berjongkok di hadapan Hye ri, berusaha menangkup wajah yeoja itu agar mau mendengarnya sebentar saja. Setidaknya hanya untuk beranjak dari tempat itu dan menghindari hujan.

Key berdecak kesal saat Hye ri sama sekali tak menggubrisnya, padahal hujan semakin deras dan membasahi tubuh mereka.

“Min Hye ri jebal… kau bisa melanjutkan tangismu setelah kita berteduh, okay?” akhirnya Key berhasil membuat yeoja itu melihatnya, meskipun ia tidak tahu apa Hye ri menyimak ucapannya.

=TBC=

9 thoughts on “Archangel – part 9

  1. wah key punya saingan nih!! dan itu jjong suamiku kedua wkwkw

    aku bakal labil milih diantara key atau jjong kl si abang dino yg tokoh ketiganya. semoga saja abang dino hanya sebagai tokoh penghibur hye ri

  2. Hhh!! akhirnyaa~
    Tinggal 1 hal lg yg blm trungkap(?) malaikat pnjaganya Key.
    Hmm trnyata bener ada cast baru, bling² dino. Tp kyakny aku kurang stuju dg komen di atas, mngnai cnta sgi3 Key-Hyeri-Jong. Diawal part emng dijelasin klo sprtinya Jong lg ska ma seorng yeoja tmn kliahnya di Inggris, tp itu bkn hyeri. & kyaknya td ada bgian yg blg klo Jong udh ga ada prasaan lg ma hyeri. itu sihh mnurtku.
    Drpd mnebk² mnding lanjut dulu: D

  3. Everything is okay… Key berjuanglah demi Hyeri, walaupun Hyeri tidak peka atau kurang peduli padamu huhu~
    Archangel Kereeennnn

  4. akhirnya bisa komen juga hihihi.
    Sorry buat authornya baru bisa komen di part ini. Mianhae..

    yak. bang dino kau keren sekalee~
    Aku sih ngiranya yang ada cinta segitiga itu Jinki-Aeri-Jonghyun deh. Menurut feelingku sih gitu HAHA

    Akkkkkhhh Kibum-aaaaaa!??
    Gregetan banget sama hyeri >< ayolah……….

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s