Archangel – part 14

Archangel – Part 14

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : PG 15

Azalea kuning itu telah tersimpan rapi di dekat nisan. Hye ri mendesah ringan, ia tersenyum menatap foto Minho. “Jyaa. Aku akan mengunjungimu lagi nanti.” Ia kemudian berbalik dan melangkah ringan meninggalkan nisan Minho.

Ponselnya berbunyi lagi saat Hye ri baru melangkah keluar dari area pemakaman. Yeoja itu mengernyitkan dahi nya saat sebuah nama yang pernah meneleponnya beberapa bulan yang lalu kembali muncul di layar.

Yeoboseyo, Min Hye ri iyeyo.” Sapa Hye ri ramah, sementara pikirannya menebak-nebak mengenai apa yang akan dibicarakan si penelepon.

Si penelepon mulai berbicara setelah cukup lama berbasa-basi, Hye ri terus menyimak selagi kaki nya melangkah memasuki mobil.

Ne? Ah! Gwaencanhayo seonsaengnim, jongmalyo. Kokjonghajimarayo. Hemm… ne, aku baru saja mengunjungi Minho.” Hye ri mulai menyalakan mesin mobilnya.

Yang meneleponnya adalah Song Seonsaengnim, dokter yang dulu merawat Minho. “Sungguh! Aku sangat baik-baik saja seonsaengnim, tolong katakan padanya tidak usah cemas.” Hye ri kembali menjelaskan tentang keadaannya.

Sejujurnya ia cukup terkejut dengan telepon dari Song seonsaengnim, di mana dokter itu kembali menanyakan keadaannya atas permintaan penerima sumsum tulang belakang Hye ri.

Sambungan telepon singkat itu nyaris saja berakhir saat sesuatu melintas dalam pikiran Hye ri “Oh! seonsaengnim, tolong katakan padanya untuk tidak mencemaskanku lagi. Aku… katakan padanya aku sudah menikah dengan seorang namja yang sangat baik.” Yeoja itu menatap wajahnya di kaca spion atas, kemudian tersenyum sebelum akhirnya mengakhiri sambungan telepon.

Hye ri mengendarai mobilnya dengan kecepatan statis, diliriknya lagi jam tangan merah di tangan kanannya. Masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum ia harus bertemu dengan pemilik properti interior rumah di mana ia baru saja memesan kitchen set beberapa hari yang lalu.

***

Key kembali tertawa, entah sudah berapa lama ia bermain dengan anak-anak penderita kanker darah di rumah sakit tempat ia dirawat dulu.

Yeah! Ini adalah peringatan empat tahun saat Key menerima donor sumsum tulang belakang. Belakangan ini malaikat penjaga itu kembali mendatanginya dalam mimpi. Mimpi yang aneh dan sedikit berbeda dari mimpi-mimpi yang pernah Key alami bersama sang malaikat.

Yeoja bersayap itu menampakkan dirinya tanpa sayap, ia hanya tersenyum seperti biasanya di mana ada begitu banyak cahaya yang menghalangi Key untuk melihat jelas wajahnya. Malaikat penjaga itu berkata ‘Aku sangat mencintaimu Key, sungguh.’

Itu sangat aneh! Dan mau tidak mau membuat Key kembali teringat akan pendonornya. Tidak bisa ditebak memang, tapi mungkin saja dia sedang membutuhkan pertolongan.

“Kim ssi.” Seorang perawat muda berseragam hijau datang dari balik pintu, tangannya memegang sebuah papan dada di mana sebuah kertas yang Key yakin berisi jadwal minum obat pasien-pasien yang ada dalam ruangan ini.

Key memeluk namja kecil yang sedari tadi bermain dengannya kemudian beranjak mendekati sang perawat. “Song Seonsaengnim menunggu Anda di ruangannya.”

***

Tidak banyak yang dikatakan Song Seonsaengnim pada Key, ia terlihat sibuk dan tergesa-gesa.

“Ia baik-baik saja Kibum ssi. Dan ia bilang…” Song seonsaengnim menghentikan kalimatnya, ia merapikan letak kacamata nya kemudian kembali menatap Key.

“… ia bilang ia sudah menikah dengan seorang namja yang sangat baik. Jadi kau tidak perlu mencemaskannya lagi.” Song seonsaengnim tersenyum. Ia kemudian beranjak dan merapikan dokumen-dokumen di atas meja nya.

Geurae, kurasa hanya itu yang perlu aku sampaikan. Cwisonghaeyo aku tidak bisa menemanimu mengobrol Kibum ssi, ada beberapa pasien yang harus kutangani.” Ia menepuk bahu Key sebelum akhirnya meninggalkan ruangannya.

Key tersenyum, apa yang dikatakan Song seonsaengnim membuatnya lega. Setidaknya ada satu hal yang ia ketahui tentang identitas pendonornya itu, pendonor itu adalah seorang yeoja. Jinki benar! Jika pendonor itu bukan yeoja, maka malaikat penjaga tidak akan mendatanginya dalam mimpi.

Key beranjak, merapikan jaket biru muda nya. Tapi tak lama ia segera mengerutkan dahinya, ada satu pertanyaan baru yang muncul dalam kepalanya.

Jika pendonor itu telah menikah dan hidup dengan baik, lalu apa arti dari mimpinya belakangan ini? apa artinya malaikat itu mengatakan bahwa ia sangat mencintai Key?

***

Key membuka pintu setelah memasukkan beberapa digit password, ia cukup lelah dengan kegiatannya hari ini di rumah sakit. Ditambah lagi ia harus menyempatkan diri berbelanja beberapa bahan makanan. Kini kedua tangannya sibuk dengan beberapa kantung belanjaan.

“Oh! Wasseo?” Hye ri- dengan apron ungu- segera berhambur ke arah Key, membantu namja itu dengan kantung-kantung kertas yang ia yakin berisi bahan makanan.

Hye ri berjalan menuju dapur dan diikuti oleh Key “Sepertinya aku sedikit terlambat. Yeah! Jalanan sangat padat.” Key menaruh dua kantung belanja ke atas meja, kemudian melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 16.30.

Gwaencanha, aku sudah menyiapkan hidangan penutup. Jadi kita tinggal membuat masakan inti.” Hye ri mulai mengeluarkan beberapa jenis sayuran ke atas counter dapur.

Key menarik satu kursi, menyandarkan tubuhnya dan menuangkan air dari water pitcher. Diteguknya air itu sementara tangan kirinya mulai melonggarkan dasi.

Sesaat ia mengistirahatkan tubuhnya sebelum mulai membuat masakan untuk makan malam mereka. Dilihatnya Hye ri yang mulai sibuk mencuci sayuran, yeoja itu berdiri membelakanginya. Ia menguncir rambut panjangnya, memperlihatkan tenguknya yang Key lihat kedua kalinya setelah pernikahan mereka.

Key hanya diam, memandangi Hye ri seperti ini benar-benar membuatnya merasa bahagia. Merasa memiliki keluarga kecil yang sesungguhnya, di mana ia duduk di kursi makan menunggu istrinya membuatkan makan malam.

Andai saja setelah makan malam akan ada hal lain yang lebih menyenangkan yang wajar dilakukan suami istri, maka hidup Key akan sangat sempurna. Ia tidak perlu memikirkan lagi tekanan dari kedua orangtuanya.

Suara nyaring dari sayuran yang dipotong mulai terdengar, Hye ri masih sibuk dengan dunianya saat potongan buncis itu terlempar ke lantai.

“Ouch!” Hye ri mengerang, segera dilepasnya pisau dapur itu dan memegangi ibu jari tangan kirinya.

Lamunan Key buyar, ia segera berhambur ke arah Hye ri. Yeoja itu meringis, jari tangannya teriris.

Key menarik tangan kiri Hye ri, dilihatnya darah segar mulai menetes. Ia menarik Hye ri ke dekat bak cuci piring dan menyalakan keran air. Ia menekan pangkal ibu jari Hye ri selagi air keran mencuci lukanya. “Aish! Gwaencanha, aku akan mengobatinya. Biar aku saja yang memasak.” Ia kemudian menarik Hye ri menuju ruang tengah, mendudukkan yeoja itu di sofa hijau mereka.

Key kemudian berlari menuju kamar sambil melepas jas dan melemparnya sembarangan ke atas sofa. Hye ri masih memegangi ibu jari nya yang semakin banyak mengeluarkan darah saat Key telah keluar dari kamar sambil membawa kotak p3k.

Dengan cekatan Key membasahi kapas dengan alkohol, membersihkan luka di jari Hye ri. Menempelkan plester kecil setelah memberi obat terlebih dulu. Hye ri hanya memandangi Key, memperhatikan wajah Key yang terlihat begitu gelisah.

Kedua ujung bibir Key tertarik, ia menatap Hye ri setelah selesai mengobati luka Hye ri. “Kau harus lebih berhati-hati, saat memasak pikiranmu harus fokus. Jangan memikirkan hal lain.” Key mengacak rambut Hye ri, kemudian merapikan obat-obatan ke dalam kotak.

Yeoja itu masih memperhatikan Key, sibuk dengan pikirannya sendiri. “Gwaencanha?” Key hendak beranjak saat ia menyadari kedua mata yeoja itu digenangi benda cair. Hye ri menganggukkan kepalanya pelan, bibirnya bergetar menahan tangis “Bagaimana bisa aku fokus jika aku terus memikirkanmu?” kemudian airmata itu luruh begitu saja.

Key berjengit, ia memandang kedua mata Hye ri. Ia tidak salah dengar kan? Hye ri terus memikirkan nya? “Min Hye ri, kau….” Kalimat Key terpotong begitu saja oleh Hye ri “Kenapa kau baik sekali padaku?” Hye ri memandang Key tajam, seolah Key baru saja melakukan kesalahan padanya.

“Apa yang kau katakan? Aku tidak punya alasan untuk itu, kau istriku Min Hye ri.” Key mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti apa yang dikatakan istrinya. Sementara hati nya mulai menebak-nebak ke mana arah pembicaraan Hye ri.

Hye ri menutup kedua matanya, membiarkan cairan bening menyakitkan itu menetes lagi untuk yang terakhir. “Bagaimana bisa kau tetap seperti ini padaku setelah aku menyakitimu begitu banyak? Kau gila?!” Hye ri mulai memukul-mukul dada Key.

Key hanya diam, membiarkan Hye ri memukul dada nya. Kini ia sudah faham ke mana arah pembicaraan Hye ri. Perlahan ia berusaha meraih tangan Hye ri yang memukulnya, menatap Hye ri setelah berhasil menangkap kedua tangannya. “Listen! I’ve told you, I’ll never… ever… give up. I’ll be waiting for the day when you realize that you love me.

Hye ri hanya memandangi kedua mata Key yang terlihat teduh, airmata nya kembali menetes saat menyadari ada kesenduan mendalam dalam mata Key. Dan Hye ri lah yang menyebabkan segalanya.

Key hendak menenggelamkan Hye ri dalam pelukannya saat yeoja itu beranjak “Mungkin aku harus memutuskan sesuatu untuk membuat penderitaanmu berakhir, Key.” Kemudian berjalan menuju kamar sambil melepas apron ungu nya, meninggalkan Key seorang diri.

Hye ri berjalan lurus menuju kamar, berharap ia segera sampai sebelum Key memanggil nya lagi. Ditutupnya pintu kamar perlahan, kemudian menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Terisak pelan sambil menundukkan kepala “Mianhae Key, we should end this earlier….”

***

Matahari terus berputar pada poros nya, begitu juga bumi yang menandakan pergerakan waktu. Musim terus berganti, bunga-bunga yang bermekaran itu terlihat lebih indah saat musim panas, tapi kini telah berganti. Menyisakan ranting-ranting rontok tanpa dedaunan.

Sudah nyaris satu tahun sejak Key dan Hye ri menikah, kehidupan mereka tidak monoton. Memang selalu ada banyak hal baru dan menyenangkan yang mereka lewati bersama. Memasak bersama, mencuci pakaian di atap rumah, menonton film horror , atau mungkin hanya menikmati teriknya musim panas di bawah pohon ek rindang di belakang rumah mereka.

Tapi nyata nya hal-hal itu tetap saja tidak membuat Hye ri melupakan Minho.Yeoja itu terus-terusan menolak Key untuk menyentuhnya, ia masih menyebut nama Minho dalam tidurnya. Membuat Key tertekan dan merasa hidupnya telah gagal. Ingin sekali untuk menyerah dan mengakhiri semuanya, tapi sayang rasa cinta nya pada Hye ri justru semakin bertambah. Dan itu membuatnya tersiksa.

Belum lagi tekanan dari kedua orang tua Key yang terus-terusan meminta seorang cucu. Key benar-benar merasa lelah dan ingin sekali untuk menyerah. Apa semuanya akan menjadi lebih baik jika ia menyerah saat ini?

“Key, aku sudah membuatkan kentang panggang Keju. Oh! bekalmu sudah kusiapkan dalam kotak di atas meja makan.” Suara Hye ri membuyarkan lamunan Key yang masih merapikan dasinya dalam kamar.

Hye ri menatap Key, yeoja itu telah siap dengan setelan blazer kuning nya. Ia terlihat sangat cantik dengan rambut panjang hitamnya yang dibiarkan terurai.

Key hanya tersenyum memandang Hye ri, andai saja yeoja ceria itu juga tersenyum karena nya.

“Kau sakit?” tanya Hye ri setelah beberapa detik ia menyadari Key hanya memandanginya.

“Oh! aniya.” Sergah Key, ia kembali menatap dirinya di depan cermin dan berusaha merapikan dasinya saat yeoja itu tiba-tiba telah berada di samping nya. Membalikkan tubuh Key hingga mereka saling berhadapan, kemudian merapikan dasi Key.

“Jyaa! Kau sudah siap, sarapan lah. Aku harus pergi lebih awal.” Hye ri menatap Key dengan seulas senyum manisnya. Key hanya mengangguk ringan, ia hanya memandangi punggung Hye ri yang semakin menjauh dari pandangannya.

Benarkah ia akan menyerah dan mengakhiri semuanya? Molla, tapi Key rasa ia memang seharusnya mengambil sebuah keputusan. Ia tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini. Sang pendonor sumsum tulang belakang nya pasti akan sangat kecewa jika mengetahui kehidupan Key semenyedihkan ini.

***

Minggu ke tiga musim gugur.

Hye ri mendesah ringan, ini sudah ketiga kalinya ia menyalakan mesin mobil. Namun tujuannya masih saja belum jelas.

Sekali lagi ia melirik arloji di tangan kanan nya, 8.50.

Sudah terlalu siang untuk pergi ke kantor dan lagipula ia tidak ada semangat untuk mengerjakan tugas kantor ataupun bertemu dengan orang kantor.  Apalagi dengan atasannya yang pagi ini ia biarkan pergi sendirian.

Sejenak Hye ri hanya memandangi pelataran rumahnya yang sepi, matanya menjelajah ke sekitaran rumah tetangga. Dilihatnya pula beberapa orang yang berjalan melewati dirinya.

Ada keinginan dalam hatinya untuk bertukar posisi dengan orang-orang yang baru saja dilihatnya.

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Hye ri sejak semalam. Tentu saja ia tidak mungkin menceritakannya pada Key, karena itu sama saja dengan menambah masalah.

Mata Hye ri beralih pada tangannya yang sedari tadi telah siap di atas stir mobil. Dipandangi jari manis kirinya yang mengenakan sebuah cincin berlian putih kemudian tersenyum kecut.

Kini bertambah lah hal yang membuat kepalanya semakin pusing.

FLASHBACK

“Baik orangtuaku maupun orangtuamu tidak tahu bahwa kau masih mencintai Minho. Dan kita telah sepakat untuk merahasiakannya. Hanya kau, aku dan Tuhan yang tahu hal ini.” ucap Key, ia tak beranjak dari meja makan kemudian kembali meneguk lemon tea buatan Hye ri untuk menghilangkan mabuknya.

“Dan Minho.” Timpal Hye ri cepat.

“Yah, dan Minho.” Key mengiyakan apa yang baru saja diucapkan istrinya, meskipun itu membuat hatinya kembali sakit.

“Sebelum kita menikah dulu, aku telah berjanji padamu untuk membuatmu bahagia dan melupakan Minho.” Lanjut Key, kali ini ia melonggarkan lagi dasinya.

Hye ri hanya diam memandang suaminya.

“Tempo hari aku tak sengaja bertemu appa saat pulang rapat dari Incheon, kemudian kami makan siang bersama.” Key menghela nafas, yang akan ia sampaikan bukanlah hal biasa.

“Lalu?”

Appa bertanya padaku, kapan kita akan memberinya seorang cucu?” Key kembali menghela nafas.

Hye ri hanya diam memandangi Key, jujur saja ia tidak terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan Key. Bahkan kedua orangtuanya lebih dulu menanyakan hal itu padanya. Lagipula pertanyaan itu sudah sangat sering ia dapat dari kedua orang tua Key, maupun orang tua nya.

“Lalu, apa yang kau katakan ?” tanya Hye ri ringan.

“Aku dan Hye ri sedang berusaha. Kuharap Appa dan eomma bisa sedikit lebih bersabar lagi.”  Kali ini Key mengalihkan pandangannya dari Hye ri.

Namja berambut coklat terang itu lebih memilih untuk kembali menyesap lemon tea untuk menenangkan pikiran dan mengembalikan kesadarannya.

“Bagaimana menurutmu?” Key melontarkan pertanyaan sambil tetap memandangi cangkirnya.

Hye ri diam beberapa saat, ia sedang memikirkan kalimat apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Key tanpa sedikit pun menyinggung bahwa mereka akan kembali berusaha untuk saling mencintai.

Tidak mungkin!

Karena setelah satu tahun pernikahannya ini, Hye ri sama sekali belum mencintai suaminya itu. Bahkan bayangan Minho selalu mengikuti Hye ri kemanapun.

“Jawaban yang bagus sajangnim, aku akan memikirkan jawaban lain kalau-kalau mereka menanyakannya lagi. Tidak usah khawatir.” Hye ri beranjak dari kursinya kemudian melenggang ringan menuju kamar.

Langkahnya terhenti saat sebuah pertanyaan kembali terlontar dari mulut suaminya “Mengapa kita tidak benar-benar berusaha mencoba nya?”

Hye ri tak mempedulikan apa yang diucapkan Key, ia memilih untuk berpura-pura tidak mendengarnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.

END OF FLASHBACK

 

Hye ri kembali tersenyum pahit mengingat percakapan dengan Key beberapa hari lalu.Ia tidak menyangka hidupnya akan berakhir semenyedihkan ini.

Hidupnya benar-benar gagal, ia benar-benar tak bisa hidup dengan baik tanpa Minho di sisinya. Apa yang harus ia lakukan dengan dirinya? juga dengan Key?

Hye ri kembali mendesah ringan, terlalu banyak yang harus dipikirkannya.

Ia kemudiam mengambil tas nya yang sedari tadi teronggok di jok samping. Mengambil ponsel flip ungu kesayangannya. 11 panggilan tak terjawab dan 15 pesan.

Ia sudah tahu dari siapa asalnya panggilan dan pesan itu, tanpa mengeceknya lagi Hye ri segera mematikan ponselnya. Kemudian meninggalkan mobilnya begitu saja.

***

Namja dengan tubuh yang cukup berotot itu duduk di kursi kayu yang ada di halaman rumahnya. Peluh masih menetes dari kening dan lehernya. Ia kembali meneguk air mineral sampai habis sambil sesekali melonggarkan bagian depan t-shirt putih tanpa lengan nya.

Ia baru saja hendak merapikan iPod beserta headset yang mengepit lehernya saat tiba-tiba muncul seorang yeoja dengan pakaian formal lengkap duduk di sampingnya.

“Min Hye ri?” Jonghyun terkejut dengan kedatangan mantan pacarnya yang terlalu pagi dan mendadak.

Hye ri memperlihatkan seulas senyum yang dipaksakan, wajahnya tak bersemangat.

Tak ada cahaya di wajahnya, hanya segurat kesedihan yang terpancar dari sana. Kesedihan yang mendalam dan Jonghyun tahu itu.

 “Kau tidak bekerja?” tanya Jonghyun basa-basi, ia tahu benar bahwa Hye ri sedang dalam masalah. Ani! Jonghyun sudah tahu Hye ri dalam masalah saat ia menikah dengan Key.

“Apa yang harus kulakukan?” Hye ri tak mempedulikan pertanyaan standar dari Jonghyun dan memilih untuk langsung ke intinya.

Jonghyun menatapnya, dilihatnya yeoja yang kini hanya menunduk dan menatap benda berkilauan di jari manisnya.

“Kau bertengkar dengan Key? Atau kau masih mengingat Minho? Atau kalian bertengkar karena Minho?” Jonghyun segera menghujani Hye ri dengan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Key dan Minho.

Hye ri masih menundukkan kepalanya, yeoja itu masih terlalu sibuk berpikir apa yang sebenarnya menjadi masalah.

Jonghyun menempelkan kedua tangannya di pipi Hye ri, menangkup wajah yeoja itu agar menatapnya.Wajah yeoja itu telah basah oleh air mata, ragu-ragu ia menatap Jonghyun.

Jonghyun tersenyum tipis seraya mengusap air mata Hye ri dengan jari tangannya. “Aku tidak tahu berapa kali aku harus memberitahumu tentang hal ini. Baik Minho maupun Key, mereka berdua bukanlah masalah. Masalahmu selama ini adalah dirimu sendiri.”

Hye ri hanya diam, ia tahu itu. Ia tahu bahwa ia lah satu-satunya masalah dalam hidupnya.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Aku sudah terlalu lama menyakiti Key dan aku ingin segera mengakhirinya.” Air mata nya kembali jatuh.

Jonghyun menghela nafas, ia tahu ini tidak mudah bagi Hye ri. Tapi mau tidak mau Hye ri harus berusaha melupakan Minho agar ia bisa bahagia.

“Lupakan Minho. Kau mencintai Key.” Ucap Jonghyun datar. Airmata Hye ri masih terus menetes, sementara ia mulai menggelengkan kepalanya ringan. Mengisyaratkan bahwa ia tidak bisa melakukan apa yang dikatakan Jonghyun.

“Saat hidup memberimu seratus alasan untuk menangis, maka tunjukkanlah bahwa hidup juga memberimu seribu alasan untuk tertawa.” Lanjut Jonghyun, ia tersenyum sambil kembali mengusap airmata di wajah Hye ri kemudian memeluk yeoja itu.

Jonghyun terus membisikkan kalimat-kalimat penenang yang mengatakan bahwa Hye ri tidak melakukan kesalahan dengan memilih Key.

Keduanya masih dalam posisi itu, mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan dari balik semak. Sepasang mata yang kemudian digenangi benda cair, sebelum akhirnya si pemilik berlari menjauhi keduanya.

***

Ting tong

Hye ri nyaris melompat dari sofa dan berlari menuju pintu depan, tanpa berbicara melalui interkom ia segera membuka pintu.

Bau alkohol menyeruak begitu pintu dibuka. Didapatinya dua orang namja yang mabuk, satu diantaranya terlihat lebih bisa mengendalikan diri di banding namja yang satu nya lagi.

Hye ri segera berdiri di samping namja yang berjalan sempoyongan, menyimpan lengan besarnya di atas bahu kemudian berjalan menuju kamar.

“Ya Tuhan! Kenapa kalian mabuk lagi?” Hye ri berdecak kesal, sementara Jinki yang ada di sisi lain membopong tangan Key hanya diam. Pengaruh minuman keras itu masih membuat kepalanya pusing.

Satu bulan terakhir ini Hye ri selalu menunggui Key yang pulang larut tanpa kabar. Dan segala sesuatu nya selalu terjawab dengan kepulangan Key bersama Jinki dalam keadaan mabuk, namja itu tidak pernah mengatakan apa pun setelah ia sadar. Dan tak lama, hal itu terulang lagi.

Hye ri mendesah ringan sembari menghempaskan tubuh Key yang berat ke atas ranjang. “Oh! Jinki ssi, bisa bantu aku menggantikan pakaian nya? Aku akan membuatkan teh madu untuk kalian.” Tanpa menunggu persetujuan Jinki, Hye ri segera mengeluarkan piyama dari dalam lemari, kemudian berlalu meninggalkan Jinki dan Key.

“Ck! Geurae! Ingat, ini yang terakhir.” Jinki berdecak kesal, sesuram itu kah kehidupan rumah tangga Key? Sehingga istri nya sendiri tidak mau menggantikan pakaian untuknya? Jinki kemudian mencibir, Ah! Ia ingat. Bahkan Key belum pernah menyentuh yeoja nya sama sekali setelah satu tahun pernikahan mereka.

***

Hye ri kembali menuangkan madu ke dalam teh hangat yang baru ia buat. Sementara pikirannya sibuk memikirkan perubahan Key yang begitu drastis.

Key adalah namja yang sangat baik dan sabar, selalu mengingatkan Hye ri untuk menjaga kesehatan. Tapi mengapa namja itu justru jadi sering mabuk-mabukkan? Apa kehidupan mereka telah membuat Key begitu tertekan?

Hye ri memukul kepalanya sendiri. Apa yang baru saja ia pikirkan? Bodoh! Tentu saja Key tertekan dengan kehidupan mereka yang mengerikan. He couldn’t stand any longer, pikir Hye ri. Seperti nya ia harus berbicara serius dengan Key untuk hidup mereka.

Hye ri tidak bisa terus-terusan membuat Key terluka hanya karena keegoisannya untuk mencintai Minho.

KLEK

Pintu kamar terbuka, Jinki berjalan sambil menenteng jas nya. Sedikit terhuyung ia berjalan menghampiri Hye ri di meja makan. Duduk tepat di hadapan yeoja itu dan mulai menyesap teh madu dalam salah satu cangkir.

Namja itu tanpa sadar mendesah ringan saat minuman dalam cangkir itu membuat pengaruh alkohol memudar dalam dirinya.

“Kurasa ia tertidur. Kau bisa merawatnya besok pagi.” Ucap Jinki tanpa sedikit pun beralih dari teh madu nya.

Jinki meraih cangkir lain yang ia tahu dibuat Hye ri untuk Key dan menghabiskan isinya dengan cepat. Teh madu itu benar-benar baik untuk menghilangkan mabuk dengan cepat.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Jinki setelah ia menaruh cangkir ke atas meja. Hye ri memandang Jinki penuh selidik, seolah berusaha membaca pikiran Jinki.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi masalah antara kalian. Tapi kurasa akan lebih baik jika kalian mengakhiri nya.” Jinki memandang Hye ri, yeoja itu hanya diam.

Jinki beranjak, kemudian mengenakan jas nya “Tapi kuingatkan sesuatu Min Hye ri. Jangan menangis saat kau menyadari kau sangat mencintai nya, itu akan sangat terlambat.” Jinki tersenyum, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Hye ri.

Hye ri hanya memandangi punggung Jinki, namja itu meraih tas nya yang tergeletak di sofa kemudian berjalan menuju pintu depan dan menghilang begitu saja.

Kalimat Jinki begitu menusuk bagi Hye ri, tapi Jinki benar! Akan lebih baik jika ia mengakhiri segalanya, dengan begitu hidup Key akan lebih baik.

***

Namja dengan jas biru tua itu kembali melirik arlojinya, pukul lima sore. Ia berjalan cepat menyusuri lobi saat seseorang menepuk bahunya.

“Tergesa-gesa sajangnim? Bagaimana jika kita ke bar?” Key menyipitkan matanya ke arah sumber suara. Mata sipit itu tersenyum jahil padanya seperti biasa.

Key memalingkan wajahnya sekilas kemudian tersenyum “Kaja!” ia kemudian merangkul bahu Jinki. Akhir – akhir  ini ia selalu pergi ke bar bersama Jinki sehabis jam kantor. Yeah! Hanya sekedar menghilangkan kejenuhan hidup.

Kurang dari sepuluh menit keduanya telah berada di bar bergaya Perancis yang selalu mereka datangi di saat-saat penat. Keduanya mulai berbincang ringan sambil menunggu sang bartender muda mengocok cocktail untuk mereka.

“Jadi, bagaimana dengan rumah tanggamu?” Jinki memulai percakapan yang lebih berat.

“Menurutmu?” Key tak melepas pandangannya dari Jack yang tengah menuangkan White Russian ke dalam gelas pendek yang lebar.

Jinki terkekeh “Kurasa kau harus mulai bersikap tegas Key.” Ia kemudian menarik satu goblet berwarna hijau yang ia yakini berisi campuran tequila dan jus jeruk nipis.

Yeah! Setidaknya minuman dengan kadar alkohol yang ringan itu cukup membuat hati dan pikirannya lebih baik.

Tentu saja ia suka alkohol, tapi kali ini ia minum karena mood nya benar-benar buruk. Ia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya sehingga yeoja itu membuat hatinya menohok tak percaya.

Bagaimana bisa Kim Aeri menolaknya setelah selama ini ia melakukan pendekatan habis-habisan? Apa ia memang tidak cukup menarik di mata Kim Aeri?

Key meraih White Russian dan menyesapnya ringan, merasakan vodka dan campuran kopi liquer di dalamnya. Tidak terlalu buruk.

“Kau ini bicara apa?” Key memandang sahabat yang tengah menyesap Margarita hijau miliknya.

Jinki menelan Margarita nya, menyipitkan mata saat tequila itu memberikan sensasi seperti minuman soda pada hidungnya. “Istri mu masih menolakmu? Ayolah Key! Kau ini suaminya! Kau takut?” Jinki kembali menyesap minumannya.

Key menatap Jinki, menahan gelas yang nyaris menyentuh ujung bibirnya. Jinki tersenyum, ia tahu sahabatnya itu tengah memandanginya dengan begitu banyak pertanyaan yang siap menyerang Jinki.

“Jangan bodoh! Kau ini namja! Seharusnya kau yang memegang kendali. Jika seperti ini terus, tidak kah kau berpikir akan seperti apa kehidupanmu nanti?” Key tersenyum hambar, kemudian menyesap lagi White Russian nya.

Jinki benar! Akan seperti apa kehidupannya jika ia terus-terusan membiarkan Hye ri membuatnya tersiksa? Oh! atau kah ia harus mengakhiri segalanya?

“Tentunya kau tidak mau menyia-nyiakan sumsum tulang belakang dari malaikatmu kan?” Jinki menaruh goblet nya ke atas meja bar, bergeser mendekati Key.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Key mulai menumpukkan dagunya ke atas meja bar setelah ia melonggarkan dasinya.

Jinki kembali meneguk Margarita nya dan hendak membisikkan sesuatu di telinga Key saat deringan ponsel di samping nya kembali mengganggu.

Diliriknya ponsel layar sentuh yang tergeletak di atas meja bar tepat di hadapan Key. Entah sudah berapa kali ponsel itu berbunyi, dan ia tahu Key menyadari itu. Tapi tak ada satu pun dari panggilan-panggilan itu yang dijawabnya.

Nama yang sama menari-nari di layar ponsel “Kau tidak menjawabnya?” Jinki mengalihkan pembicaraan. Key terkekeh, kemudian kembali meneguk White Russian nya.

Ponsel itu kembali berdering setelah sempat berhenti beberapa detik, masih nama yang sama yang muncul di sana.

“Hei Key! Istrimu menelepon lagi, sebaiknya kau jawab sekali saja.” Jinki berdecak kesal, suara ponsel itu benar-benar mengganggu nya.

Key tersenyum ke arah Jinki, kemudian meraih ponsel layar sentuhnya. Ditatapnya nama yang paling ia cintai menari-nari di layar.

Ia terkekeh dan hanya menatap layar ponsel, membuat Jinki kembali berdecak kesal.

“Yaa!! Kuberitahu caranya menjawab telepon.” Oh! rupanya suara ponsel Key telah benar-benar membuat Jinki jengkel.

Jinki menjulurkan satu tangannya, kemudian hendak menyentuh tulisan YES di layar saat panggilan itu terhenti dengan sendirinya.

“ck! Kenapa kau tidak menjawabnya? Itu membuat kepalaku semakin pusing! Oh Jack! Bisa bawakan aku vodka? Kurasa aku benar-benar kacau hari ini.” Jinki meneguk habis Margarita nya, kemudian melambaikan tangan ke arah bartender muda yang sedang mengocok minuman di salah satu sudut.

Key memasukkan ponsel nya ke saku jas “Jangan bercanda! I’m kinda busy!” ia terkekeh kemudian kembali meneguk minuman nya.

Jinki memutar bolamatanya kesal, ia rasa Key sudah mulai mabuk. Wajar saja jika Key lebih senang menegak minuman keras itu hingga mabuk, kehidupan rumah tangga nya benar-benar kacau.

“Dia sudah meneleponmu berkali-kali, setidaknya kirimi ia pesan singkat agar ia berhenti meneleponmu. Jinjja! Itu membuat kepalaku sakit!”

Key mengangkat gelasnya ke hadapan Jinki sambil tersenyum “Bagaimana bisa aku megirimi nya pesan dengan minuman di tanganku Lee Jinki?”

Jinki berdecak kesal, baiklah! Sebaiknya ia mengakhiri pembicaraan soal telepon itu.

Bartender bernama Jack itu menyodorkan gelas berisi bongkahan es dan sebotol minuman berwarna kecoklatan ke arah Jinki. “Oh! thanks.” Jinki hanya mengangkat satu tangannya, kemudian mulai menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya.

“Jadi, sampai di mana kita?” tanya Jinki lagi.

“Apa yang harus kulakukan pada Hye ri?” ucap Key, nada bicara nya sudah menunjukkan bahwa kesadaran nya semakin banyak menghilang.

Jinki meneguk habis vodka dalam gelas nya dalam satu kali tegukan, kemudian tersenyum licik “I tell you something, Key.”  Ia mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Key.

Key hanya diam, menunggu Jinki mengatakan sesuatu yang ia yakin adalah sebuah solusi brilliant untuk masalahnya.

You just don’t know …” Jinki menggantungkan kalimatnya, mengedarkan matanya ke penjuru bar seolah memastikan agar orang-orang di sana tidak ikut mendengar apa yang akan dikatakan nya pada Key.

“… how funny when a few words turn into sex is.” Bisik Jinki, ia kemudian menjauhkan diri nya dari Key, menuangkan lagi vodka ke dalam gelasnya sampai penuh. Terkekeh pelan sebelum akhirnya kembali meneguk minuman itu.

Key diam, ia memang sudah mabuk. Tapi telinga nya masih tajam untuk menangkap apa yang baru saja diucapkan Jinki pada nya. Seperti nya Jinki benar, mulai saat ini ia harus mulai mengambil kendali atas kehidupannya bersama Hye ri.

Tidak ada yang tahu, mungkin saja itu akan membuat segala nya berubah menjadi lebih baik

=TBC=

20 thoughts on “Archangel – part 14

  1. Jangan cerai dong! Hyeri itu cuman labil dan belum sadar sepenugnya. Hah, ini juga si jinki kenapa jadi semakin manas-manasin buat pisah sih😦

    Keren! Ditunggu lanjutannya🙂

  2. malaikat penjaga yg muncul di mimpi key itu semacam sisi lain dr hyeri. mksdnya perasaan asli hyeri tnpa disela dgn perasaan dy ke minho yg bkin hyeri “buta”

    hyeri.. masih nanya knp key baik sm dy.. ya iyalaaah kan cinta… aduuuhh gemes

    kyknya perlu menghadirkan minho dlm mimpi hyeri deh.. minho nyuruh hyeri agr hyeri mengikhlasknnya pergi n mnrima serta mncintai key

    ato soal malaikat penjaga.. kyknya hyeri perlu tau siapa yg menerima sumsumnya. hahahaha

    gemes sumpah..

  3. Ya ampun hyeriii..
    Masih aja mikirin minho sih..
    1 tahun nyuekin ayang Key??
    Bener2 keras hati yaa..
    Kalo aku semenit bareng Key aja udah melting kayaknya..haha😀

  4. aigoo hyeriiii key kurang apa sih… knpa kamu blm sadar2 juga kalo kamu juga cinta sama key, kasian kan si key ngenes gtu nasibnya T.T
    ini si jinki juga ikutan nyesek kekeke
    daebak, aku sampe geregetan bacanya >ㅅ<

  5. Yak! Baca part ini aku jd gemes sndri, firasatku jg ga enak jgn2 mrk mau cerai lg! Trs nnti hyeri bakal nyesel gt? #sotoy-_-v

    Ini kyknya si hyeri butuh pencerahan deh, skali-kali gt mimpiin minho yg nyuruh dia utk membalas prsaan key…

    ㅋㅋㅋ bang jinki ternyata bisa galau jg, grgr dijauhin sm hyeri! Mknya bang pdkt jgn trllu lama😀

  6. sebenernya yg ini udh baca di SF3SI, komen ulang deh..
    haduh hyeri,, tolong sadar…
    tuhkan key jadi mabuk gitu…:\
    jinki…km juga kasihan… TT TT

  7. hhhmmmm..
    kasihan key, kalau hyeri ngak mau lebih baik kamu sama aku aja, nama kami samakan …?
    kidding euncha-ssi
    hekhekhek

  8. IGE MWOYA????
    ishh bingung sama hyeri, maunya apa???
    tau sih dia cinta mati sama minho, tapi kan minhonya udah tenang di surga, lanjutkannlah hidupmu hyeri ya~~
    kasian key ampe kayak gitu, kesiksa bgt kayaknya, huhuu, yg sabar iia key😥 *pukpuk*
    oh!!
    apa jgn2 si minho blm ngerelain si hyeri buat key kali yah?? *dijitak*

    aihh bang jinki~~
    udah bagus2 anak org mau plg malah diajakin ke bar -_-”
    tp bingung jadinya ama aeri, knp dia nolak jinki yah??
    apa dia ngira jinki cuma maen2 aja gtu???
    muka mu playboy bgt sih bang *dicekek jinki*

  9. aku malah seneng kalo mereka cerai, soalnya key disini disakitin banget.
    ngomong2 aku nemu kata yg akah kurang nyaman dibacanya p3k, mungkin seharusnya P3K.tapi gak tau jg sih.

    • iyah, Key emang disakitin banyak banget sama Hyeri di sini. Salahin aja si kepala batu Hyeri ^^v
      Oh iya, P3K itu singkatan yaa, seharusnya ditulis kapital.heheh. maaf yaa *bow*
      Masukannya aku terima untuk perbaikan ke depannya kalo aku nulis kata P3K lagi. Tapi mohon maaf u/ yang di sini bakalan tetap seperti ini, soalnya biar aku nya tau ada perubahan di setiap tulisan.
      Makasih loh yaa, Eve u/masukannya😉

  10. Key baik banget jd cwok skaligus suami😥 ,hyeri ya ampun kau sudah mensiasiakan cwok sebaik dia ,nanti kau akan nyesel ,hayo hayo cpt sdr sma bukalah hatimu mu untuk key oppa atau berikan ke aku ajah kalo bner gk mw dgn suka hati nerima nih😄,udh lupain ajah minho dia udh tenang kok disana :” manusia kan emg harus natap ke depan

  11. Key mabuk-mabuk an muluuu….Sedih kehidupan rumah-tangga Hyeri dan Key😥
    Sumpah Hyeri tuh jahat bgttt ga bisa mencintai Key,,padahal Key baik banget dan tulus mencintai dia huhuhuhuu~~
    Jinkiiiiii punya rencana apa kau buat Key dan Hyeri????
    Lanjutt ka eunchaaaa

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s