Archangel – part 16

archangel

Archangel – Part 16

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author              : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Romance, family, Friendship

Rating              : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

Jonghyun menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang dikelilingi tanaman tinggi. Eun young tak mengucapkan sepatah kata pun dan segera keluar dari mobil.

Eiii! Apa yang sebenarnya terjadi pada Shin Eun young? Jonghyun segera berlari mengejar yeoja itu, menghadang nya tepat di depan pagar.

“Apa yang terjadi? aku melakukan sesuatu yang membuatmu tidak senang?” Jonghyun kembali menatap Eun young dengan puppy eyes andalan nya. Ia tahu betul Eun young tidak akan menolak nya jika ia memperlihatkan puppy eyes.

Eun young berdecak kesal, Jonghyun selalu tahu kelemahannya atau kah memang Eun young menyukai segala sesuatu yang dilakukan Jonghyun?

Eoppseo, aku hanya sedang malas saja Jongie. Aku ingin tidur, bye!” Eun young memaksakan seulas senyum. Sungguh! Ia tidak bisa melepaskan dirinya dari Jonghyun.

“Heiii… kau membohongiku, cantik?” Jonghyun mengangkat alis kiri nya, menatap Eun young seolah sedang menginterogasi.

Eun young terkekeh, benar saja! Ia menyukai apa pun yang dilakukan Jonghyun, sekali pun itu adalah menggombalinya dengan kalimat-kalimat manis yang menghanyutkan.

Geumanhae, tidak terjadi apa-apa.”

“Kau tidak akan menolak ku kan?” Jonghyun menahan langkah Eun young lagi.

“Eh?” yeoja itu mengerutkan dahi nya, apa yang baru saja dikatakan Jonghyun? Menolak apa? Apa maksudnya Jonghyun…

“Kau tidak akan menolak ajakan makan siang besok kan?” pertanyaan Jonghyun membuat pikiran Eun young buyar, seketika ekspresi wajah Eun young berubah. Yeoja itu sedikit kecewa.

“Oh! Sure!” Jantung Eun young mencelos, nyaris saja ia berteriak senang menebak-nebak apa yang dimaksud Jonghyun.

Jonghyun tersenyum sebelum akhirnya memperhatikan Eun young hingga masuk ke dalam rumah nya.  Ia memalingkan wajahnya sambil tertawa hambar, mengutuki dirinya yang tidak punya keberanian hanya untuk mengatakan bahwa ia menyukai Eun young.

Aish! Sudah lebih dari tiga tahun ia mengenal Eun young, mengapa keberanian itu masih belum juga muncul?

Jonghyun melangkah ringan menuju mobilnya. Baiklah! Seperti nya ia harus mulai belajar menghilangkan rasa malu nya di depan Eun young.

***

“Apa saja jadwalku besok?” tanya Key sebelum Nicole beranjak dari kursi nya, tangannya memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sedikit pusing dan suasana hatinya sedikit kacau.

Nicole membuka buku berlapis kulit imitasi coklat nya, membalik halaman nya dengan apik dan membaca setiap baris tulisan yang dibuatnya.

“Hanya menghadiri pertemuan bulanan dengan Seoguk coorporation.” Nicole tak mengalihkan mata dari catatan nya.

“Jam berapa aku harus datang?”

“Jam 10, dan akan selesai pada jam 13.” Nicole menutup buku nya.

Well, kurasa aku akan punya banyak waktu luang untuk beristirahat besok.” Key mengangguk-anggukkan kepala nya ringan. Ia merasa hari-hari nya terlalu penat, dan ia butuh liburan untuk menyegarkan isi kepala nya.

Nicole tidak menanggapi, sudah nyaris satu tahun ini ia berusaha untuk bersikap biasa di hadapan Key. Tentu saja namja itu tidak tahu bahwa ia mati-matian mengobati lukan nya sendiri saat Key tiba-tibe menikah dengan Min Hye ri.

“Cola-ah.” Langkah Nicole tertahan, ia berbalik. Apa ada yang ia lupakan?

“Besok… bisakah kau menemaniku hingga acara itu selesai?” Key tersenyum.

Nicole sempat terdiam, ini kali pertama nya Key mengajak Nicole ke acara milik Seoguk coorporation. Biasanya Key akan pergi sendiri atau mengajak Jinki ke sana. Oh! seharus nya ia mengajak Min Hye ri ke sana tapi….

Sure.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Nicole, ia bahkan baru menyadarinya setelah Key mengijinkannya untuk pergi.

Nicole berdiri di balik pintu ruangan Key, dada nya berdebar. Apa yang baru saja dilakukannya? Mengapa ia begitu senang dan tidak bisa menunggu untuk hari esok?

***

Kim Aeri berjalan ringan menuju sedan merah nya yang diparkir di halaman restoran Jepang. Ia kembali mengusap airmata dengan sapu tangannya. Apa yang baru saja ia ceritakan pada Min Hye ri mau tidak mau kembali mengingatkannya pada kejadian itu.

Aeri tidak mengerti, apakah dirinya bodoh atau lebih dari itu? Bisa-bisa nya ia menolak Lee Jinki setelah sekian lama ia menunggu. Bukankah itu yang diharapkannya selama ini? Tapi mengapa hati nya masih merasa ragu? Ia belum sepenuhnya yakin pada Jinki.

“Biar aku saja yang menyetir.” Hye ri berhambur, mendahului Aeri ke arah pintu kemudi. Ia menatap Aeri, membuat Aeri tidak bisa menahan airmata nya lebih banyak lagi.

“Menangislah.” Hye ri menarik Aeri dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung Aeri ringan sambil membisikkan kalimat bahwa segala sesuatu nya tidak seburuk yang Aeri pikirkan.

Aeri menangis sebanyak yang ia bisa, hatinya terasa sakit. Ia tidak tahu apa yang dipikirkannya hingga ia membiarkan Jinki terlepas begitu saja dari nya. Dan jika ia menyesali nya, masih ada kah kesempatan lain agar Jinki kembali menawarkan hatinya lagi?

Gwaencanha.” Bisik Hye ri lagi, kini ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang Kim Aeri selama ini. Selalu mendengarkan keluh kesah Hye ri dan membiarkan Hye ri menangis dalam pelukannya, setelah itu akan kembali berbuat sesuka hati dan kembali pada Aeri saat hati nya terluka.

Hye ri berpikir, mungkin kini saat nya untuk menjadi dewasa dan membiasakan diri nya untuk mendengarkan, bukan hanya ingin didengarkan.

Hye ri masih menepuk-nepuk punggung Aeri, sementara mata nya menjelajahi jalanan sekitar. Ia menyipitkan kedua mata nya saat menangkap sosok yang seperti nya ia kenal. Awalnya ia membantah, tapi mobil hitam itu tidak bisa membohongi nya.

Namja itu baru saja keluar dari mobil, berlari ke arah pintu yang satu nya lagi dan membukanya dengan cepat. Yeoja berambut pirang yang tidak asing itu tersenyum, ia tetap memandangi si namja selagi kaki nya melangkah ke luar mobil.

Tak lama keduanya berjalan berdampingan menyusuri trotoar. “Key…” Hye ri menyebutkan nama Key tanpa suara, diperhatikannya lagi Key yang tengah berbincang sambil sesekali tertawa. Pikiran Hye ri serasa berputar, kejadian ini seperti nya pernah terjadi. Dan lagi, entah mengapa ini membuatnya tidak senang. Ada sesuatu yang membuat hati nya berdebar aneh, membuat perutnya sakit tanpa alasan.

Mata Hye ri terus mengikuti ke mana Key dan Nicole melangkah “Oh! Ayo kita kembali ke kantor.” Aeri tiba-tiba melepaskan dirinya dari Hye ri dan menyadari sahabatnya tengah mematung menatap sesuatu di belakang nya.

Waegeurae?” Aeri memutar kepala nya, berusaha melihat apa yang sedang diperhatikan Hye ri. “Oh! gwaencanha, ayo kita kembali ke kantor.” Hye ri buru-buru mendorong Aeri, memaksa yeoja itu berjalan ke pintu yang satu nya lagi. Sementara diri nya cepat-cepat masuk ke dalam mobil, tidak mau melihat ke mana Key dan Nicole pergi.

Hye ri tak mengatakan sepatah kata pun selama perjalanan mereka kembali ke kantor, apa yang baru saja dilihatnya benar-benar mengganggu pikirannya. Itu wajar, mereka adalah atasan dan sekretaris, tapi… Aish! Hye ri mengutuki dirinya, apa yang sedang dipikirkan nya?

***

“Hari ini aku akan pulang larut.” Ucap Key, ia mengenakan vest merah nya.

Hye ri tetap fokus pada maskara yang tengah ia oleskan pada bulu mata nya “Oh! kau ada meeting?”

“Ah! Setelahnya aku akan pergi bersama Nicole. Ada kontrak kerjasama baru dari perusahaan yang baru berganti manajemen. Molla, mungkin akan selesai larut malam.” Terang Key acuh tak acuh, ia meraih jas biru tua yang menggantung di pintu lemari.

Hye ri menurunkan maskara nya, berhenti memoles bulu matanya, ia memandang pantulan Key dalam cermin.

Key masih merapikan kancing lengan kemeja nya saat menyadari Hye ri memandang pantulan dirinya di cermin. Ia balik memandang pantulan diri Hye ri dalam cermin, mata mereka bertemu. Mereka saling berpandangan.

Hye ri mengerjapkan mata nya, segera menghindari mata Key. Kemudian mengambil acak benda di atas meja riasnya “Oh! geurae.”

Benda berbentuk bulat pipih kecil itu telah berada di tangan Hye ri, ini belum saat nya ia mengenakan lipbalm yang memberikan efek super mengkilap itu. Seharusnya ia mengenakan lipbalm yang lebih kering, memoleskan lipstik berwarna peach kemerahan sebelum akhirnya menggunakan lipbalm mengkilap tersebut.

Ia melirik pantulan Key di cermin, namja itu masih memperhatikannya. Dengan cepat Hye ri membuka tutup lipbalm berbentuk pipih, ia tidak fokus hingga tutup berwarna biru dengan hiasan merah muda itu terlempar ke atas karpet krem.

Hye ri mendesah, ia membungkukkan tubuhnya. Tapi tutup lipbalm itu seolah menghilang begitu saja. Ia kembali pada posisi nya, kembali mencuri pandang pada Key melalui cermin. Namja itu masih memperhatikannya, membuat Hye ri merasa wajahnya memanas.

Jari kelingking nya menyentuh bagian lipbalm yang berwarna merah muda itu. Kemudian mengoleskannya perlahan ke bibir bawah. Matanya memang menatap cermin, tapi bukan memperhatikan ke mana kelingking nya melukis.

“Oh!” yeoja itu berjengit saat lipbalm itu ia oleskan asal pada bibirnya. Ia segera mengambil tissue dan mengelapnya kasar. Melempar tissue itu ke atas meja rias dengan geram, jari kelingking nya hendak menyentuh bagian lipbalm saat wadah yang ia pegang terjatuh begitu saja ke atas karpet.

Yeoja itu berdecak kesal, membungkukkan tubuh nya yang masih terduduk di kursi rias. Tangannya belum sampai meraih wadah pipih itu saat Key telah ada di hadapannya, berdiri dengan kedua lututnya.

Hye ri hanya diam saat namja itu tersenyum, menyentuhkan jarinya pada isi lipbalm. Mata Hye ri terus memperhatikan mata Key, sementara namja itu mulai mengoleskan lipbalm ke bibir tebal Hye ri. Menyapukan aroma guava yang menggoda itu dengan rapi, mata nya tak lepas dari bibir Hye ri.

Key tersenyum, menjauhkan dirinya dari Hye ri saat bibir yeoja nya telah mengkilap sempurna. Warna merah muda yang begitu lembut membuat bibir Hye ri terlihat segar dan menggoda. Hye ri merapatkan kedua bibirnya, seolah meratakan lipbalm yang ada di sana.

Ini sedikit aneh, tidak ada namja yang memakaikan lipstik atau sejenisnya pada yeoja mereka. Dan apa yang baru saja dilakukan Key benar-benar telah membuat Hye ri kehilangan setengah kesadarannya. Ia terus memandangi Key, seolah ada magnet dari diri namja itu.

Key masih mendongakkan kepala nya, menatap yeoja yang tak henti menatap nya. Matanya beralih pada bibir Hye ri, kemudian kembali menatap mata Hye ri saat wajahnya merengsek begitu saja tanpa perintah dari otak.

Hye ri semakin menundukkan kepala nya mendekati Key, ia menahan nafas nya saat bibir Key akan segera menjangkau bibirnya. Mata nya telah terpejam saat hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya bersamaan dengan deringan ponsel dari atas ranjang.

***

Key nyaris menjangkau bibir Hye ri saat suara ponsel nya menginterupsi. Ia membeku, berharap deringan ponselnya berhenti dan ia akan melanjutkan gerakannya. Shit! Key mengumpat dalam hati, bunyi ponselnya semakin nyaring. Perlahan ia menjauhkan wajahnya dari Hye ri, kemudian bangkit dan menyambar ponselnya.

Oh! Key berjengit, nama Nicole muncul di layar. Ia baru ingat bahwa ia meminta Nicole untuk meneleponnya pagi ini. Key melempar pandang ke arah Hye ri yang kini memandangnya, seolah menunggu untuk Key memberitahu panggilan dari siapa.

“Oh! Jinki meneleponku, kurasa ini sangat penting. Jinjja! Ia tidak pernah menelepon sepagi ini.” Key mengacungkan ponselnya, kemudian berjalan keluar kamar dan menjawab telepon setelah ia berada di ruang tengah.

Blam.

“Ah! Ne,ne. Kau sudah persiapkan semuanya kan?” Key menjawab telepon seiringan dengan langkahnya yang semakin cepat menjauhi kamar.

Ia berdiri menghadap counter dapur yang dipenuhi beberapa piring berisi sarapan nya.

“Aku sudah mengaturnya, kujamin tidak akan lama. Kurasa akan selesai sebelum jam 5.” Key menundukkan kepalanya, memainkan jari tangan kirinya pada pinggiran counter dapur.

“Oh! Nicole! Kau tidak lupa kan pagi ini aku akan menjemputmu?” Key masih menatap pinggiran counter.

Tak lama sambungan telepon itu berakhir, Key berbalik sementara tangannya hendak memasukkan ponsel ke saku celana saat sesuatu mengejutkannya.

“Oh! Hye ri-ya.” Key terbata, yeoja itu telah berdiri beberapa langkah di hadapannya. Ia memandang Key dengan pandangan yang sulit diartikan.

Key menatap Hye ri penuh selidik, apa Hye ri mendengar percakapannya barusan bersama Nicole?

Hye ri melangkah menuju counter dapur, mengambil piring berisi nasi goreng ke atas meja “Oh! kuharap nasi goreng ini belum dingin.” Ia kemudian meraih kursi dan duduk acuh tak acuh.

Key menarik kursi di hadapan Hye ri, memandang yeoja itu sejenak sebelum akhirnya menyantap sarapan.

Keduanya makan dalam kesunyian, hanya gesekan antara sendok dan permukaan piring yang terdengar.

Key melirik arloji nya setelah ia selesai dengan sarapannya, sementara Hye ri telah merapikan piring ke bak cuci. Key beranjak saat kalimat Hye ri menahannya “Key, bagaimana jika kita pergi bersama?”

“Eh?” Key menaikkan satu alisnya, mengapa Hye ri tiba-tiba mengajaknya pergi bersama?

Key sempat berpikir beberapa detik ,rasanya tidak mungkin jika ia harus mengatakan ia akan pergi bersama Nicole pagi ini.

***

Hye ri mendesah ringan saat pintu kamar tertutup. Ia menatap wajahnya yang terasa sangat panas di cermin. Mengapa hal seperti itu membuat jantung nya berdebar tak karuan? Andai saja Jinki tidak menelepon Key sepagi ini… Aish!

Hye ri menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman yang entah sejak kapan menghiasi wajahnya. Ia menatap dirinya untuk terakhir kali dalam cermin, merapikan rambutnya dan menyemprotkan sedikit parfum ke lehernya.

Dirapikannya lagi dress selutut berwarna coklat itu, memeriksa kancing blazer abu nya sebelum akhirnya melangkah menuju pintu. Well, ia belum merapikan sarapan di atas counter dapur.

Hye ri melangkah menuju counter dapur, matanya segera menangkap sosok Key yang tengah berbicara dengan Jinki melalui telepon.

Sambil tersenyum riang Hye ri melangkah, tidak ingin mengejutkan namja itu dengan kedatangannya untuk menyiapkan sarapan.

“Kurasa akan selesai sebelum jam 5. Oh! Nicole! Kau tidak lupa kan pagi ini aku akan menjemputmu?” langkah Hye ri terhenti begitu saja. Bukankah Key sedang berbicara dengan Jinki? Mengapa ia menyebutkan nama Nicole?

Hye ri memasang telinga nya tajam, berusaha menyimak apa yang dibicarakan Key di telepon. Tanpa sadar ia menahan nafasnya. Apa yang terjadi? mengapa ini membuatnya tidak senang?

Key berbalik setelah menyudahi percakapannya, ia terkejut dengan keberadaan Hye ri.

Acuh tak acuh Hye ri melangkah menuju counter dapur kemudian menyantap sarapannya. Ia hanya diam, pikirannya sibuk menebak-nebak tentang apa yang ia dengar beberapa menit yang lalu.

Key? Akan menjemput Nicole? Pagi ini? Lagi, sesuatu seolah menghantam dada Hye ri dan membuat dirinya merasa sulit bernafas. Seharusnya tidak ada yang perlu Hye ri cemaskan, akan lebih baik jika sejak dulu ia membiarkan Key bersama Nicole. Tapi mengapa perasaan ini…

Hye ri meneguk air mineral dalam gelasnya tanpa ampun, ia beranjak dan merapikan piring ke dalam bak cuci. Ia dapat merasakan Key yang mulai beranjak di belakang nya.

“Key, bagaimana jika kita pergi bersama?” Hye ri segera melontarkan pertanyaan itu sebelum Key menghilang dari pandangannya dan melesat menemui Nicole.

Key masih diam memandangi Hye ri saat yeoja itu berlari menuju kamar, meraih tas tangan nya dan tas hitam Key. Kemudian mengapit lengan Key dan menariknya ke pintu depan “Kajja!” ia tersenyum penuh semangat.

Tidak banyak yang dikatakan Key, ia membiarkan Hye ri menariknya menuju mobil. Keduanya segera melesat menuju kantor.

Keduanya masih diam seperti biasa, tak ada banyak hal yang biasa mereka bicarakan saat berdua. Ragu-ragu Hye ri melirik Key yang masih fokus pada jalanan yang lengang. “Key, aku tahu kau akan pulang larut. Tapi mungkin aku akan menunggu mu untuk makan malam.”

Ckiiiittttt

Key menginjak rem mendadak, menepikan mobilnya ke tepian pagar pembatas jalan.

“Apa???!!!” Key tidak sadar ia baru saja berteriak.

Hye ri merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena tubuhnya nyaris tersungkur pada dashboard jika saja ia tidak mengenakan sabuk pengaman. Ia memandangi Key dengan wajah yang seolah menunggu jawaban, ia rasa ia tidak perlu mengulangi kalimatnya.

“Aku akan menunggumu untuk makan malam.” Akhirnya Hye ri mengulangi kalimatnya datar, Key tidak mengatakan apa pun. Ia kembali menjalankan mobilnya dan diam sepanjang perjalanan

Tak lama keduanya telah tiba di halaman parkir kantor, Key berlari menuju pintu satunya dan membukakan pintu untuk Hye ri. Yeoja itu segera keluar sambil merapikan blazer nya, Key berlari hendak kembali ke dalam mobil. Oh! ia rasa Nicole telah menunggu nya beberapa menit yang lalu.

Grab.

Hye ri menahan lengan Key “Kita masuk bersama.” Hye ri tersenyum, memperlihatkan wajah tak berdosanya. Dalam hatinya ia tahu bahwa Key akan pergi dan menemui Nicole, tapi ia tidak mau itu terjadi. Ia tidak mau Key menemui Nicole dengan alasan yang ia sendiri tidak tahu apa.

Lagi, Key mengangkat sebelah alisnya. Apa Hye ri sengaja melakukan ini? ini kali pertama nya Hye ri mengajaknya pergi bersama, kemudian masuk ke dalam kantor bersama.

Kajja!” Hye ri menyambar tas Key dalam mobil kemudian mengapit lengan suaminya dan menariknya menuju pintu utama. Ia akan terus menarik Key hingga namja itu sampai di ruangannya, ia tidak akan mendengar jika Key mengatakan apa pun. Ia tidak mau Key menemui Nicole pagi ini.

Hye ri masih menarik Key saat tiba-tiba ia merasa tangan Key sangat berat dan ia tidak mampu menariknya lagi. Hye ri menoleh, namja itu menahan langkahnya. “Waegeurae? Kau tidak ingin terlambat kan?” Hye ri tidak mau mendengar Key akan menyebut nama Nicole.

Neon waegeurae?” Key menatap Hye ri dengan wajah sedikit kesal, ia tidak mengerti mengapa pagi ini Hye ri tiba-tiba bersikap aneh.

Hye ri memutar bolamatanya, ia sibuk mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Key. “Kita belum pernah kan pergi bersama dan masuk ke dalam kantor bersama? Hari ini suasana hatiku sedang baik.” Hye ri nyengir, memamerkan deretan giginya.

“Hanya jika suasana hatimu baik? Kau tidak memikirkan hatiku selama ini?” senyum di wajah Hye ri pudar, perlahan ia melepas genggaman tangannya. Ditatapnya wajah Key yang terlihat kesal.

Hye ri menghindari mata Key, ia memang tidak pernah memikirkan perasaan namja itu. Sementara Key menghela nafas,  berusaha menahan emosinya.

Mianhae.” Key segera mengucapkan kalimat itu, kemudian berbalik dan hendak berjalan menuju mobil. “Jangan temui Nicole!” Key menahan langkahnya, otaknya berusaha mencerna apa yang baru ia dengar. Ia berbalik, menatap Hye ri yang tengah menatapnya. Key berusaha menelisik kedua mata Hye ri, memastikan apa yang sedang dipikirkan yeoja nya.

“Apa?”

Ragu-ragu Hye ri menatap Key “Apa yang akan dikatakan orang jika kau datang ke kantor bersama Nicole?” Ia menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya. Menatap Key dengan rasa kesal yang dibuat-buat.

Ekspresi Key berubah, ia mengutuki dirinya yang sepersekian detik lalu sempat berpikiran bahwa Hye ri merasa cemburu. Key berdecak kesal dalam hati “Mereka tidak akan berpikiran apa-apa, dia sekretarisku dan aku atasannya.” Ia kembali berbalik dan melangkah, acuh tak acuh pada Hye ri yang masih mematung di belakang nya.

Jawaban Key benar-benar menusuk hati Hye ri. Entah mengapa Hye ri merasa harga dirinya jauh lebih rendah dibanding Nicole di mata Key. Seolah Key dan Nicole adalah dua orang sederajat yang memang pantas bersama, sementara Hye ri adalah orang asing yang sama sekali tidak punya hak bahkan untuk mengenal keduanya.

“Apa atasan juga harus menjemput sekretarisnya?” lagi langkah Key terhenti, otaknya berusaha mencerna apa yang sebenarnya dimaksud Hye ri. Sementara Hye ri membekap mulut dengan kelima jari tangannya saat menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Bodoh! Yeoja itu segera mengutuki dirinya, ia tidak tahu mengapa mulutnya mengucapkan kalimat seperti itu.

Key berbalik, kembali memandang Hye ri yang masih membeku di tempatnya. Memandangi Key dengan tatapan yang seolah mencabik-cabik tubuh Key. Tidak salah lagi! berhentilah menjadi orang bodoh Key! Rutuk key dalam hati, yeoja itu benar-benar tengah cemburu. Jika saja Jinki ada di dekatnya, Jinki pasti sudah menghabisinya karena tidak bisa mengerti perasaan yeoja.

Key hendak membuka mulutnya saat bunyi ponselnya menginterupsi. Dilihatnya nama Nicole menari-nari di layar, Key menatap Hye ri dan layar ponselnya bergantian. Otaknya berpikir keras, antara membiarkan Nicole menunggu lebih lama atau kah meninggalkan Hye ri yang tengah berusaha mencegahnya untuk pergi.

Mianhae.” Ucap Key akhirnya, seiringan dengan langkahnya menjauhi Hye ri menuju mobil. Hye ri membelalakan matanya, hatinya mencelos. Key melangkah menjauhinya saat ponsel itu ia tempelkan di telinganya. Oh! bahkan Hye ri tidak bisa mendengar percakapan Key di telepon. Pastilah itu Nicole. Hye ri hanya diam, tubuhnya masih membeku di sana. ia hanya mampu memandangi Key hingga namja itu menghilang dari pandangan Hye ri.

Hye ri tersenyum hambar sambil memalingkan wajahnya, harga dirinya benar-benar terluka saat ini. Key meninggalkannya demi Nicole! Jangan gila! Key meninggalkan istrinya sendiri demi sang sekretaris? Seperti dalam novel.

Hye ri berjalan gontai memasuki pintu utama, matanya menatap lantai marmer abu. Ia tidak menghiraukan sapaan beberapa staff yang lewat, hatinya benar-benar terluka. Key tidak seharusnya memperlakukan Hye ri seperti itu, setidaknya meraka belum resmi bercerai saat ini.

***

Namja itu berjalan menuju salah satu sudut bar yang belum terlalu ramai, kedua tangannya sibuk melepas kancing jas serta melonggarkan dasinya.

Sedikit terhuyung yeoja berambut pirang dibelakangnya mengikuti. Ia duduk di kursi tinggi di samping si namja saat mereka tiba di salah satu sudut yang sedikit gelap.

“Berikan aku virgin pina colada!” seru si namja pada seorang bartender yang menghampiri keduanya.

“Berikan aku minuman yang sama.” Kata si yeoja.

Bartender itu menghilang, mempersiapkan minuman yang mereka pesan di sudut lain.

“Jadi, apa saja jadwalku besok?” Key memutar kursinya menghadap Nicole.

Nicole memutar bolamata jengkel “Oh! Ayolah Key, kita sedang di bar. Tidak bisakah kita membicarakan hal lain?”

Key terkekeh, Nicole benar! Tujuannya mengajak Nicole ke bar bukan untuk membicarakan masalah pekerjaan. Ia hanya ingin menghindar dari Hye ri, membiasakan dirinya tanpa Hye ri hingga perceraian mereka tiba.

Bartender tadi menyodorkan dua goblet berwarna kuning pucat ke hadapan mereka, kemudian berlalu ke sudut lain.

Key menyambar goblet nya dan segera menyesapnya ringan. Tidak buruk! Cocktail itu cukup untuk membuat kepalanya sedikit segar. Nicole ikut-ikutan menyesap cocktailnya di samping Key, kemudian memulai percakapan ringan.

Tidak ada hal aneh yang terjadi antara mereka, hanya perbincangan ringan yang sebenarnya bisa saja menyerempet pada hal tidak menyenangkan bagi Hye ri yang masih berstatus sebagai istri Key. Keduanya terus berbincang, tanpa menyadari hari semakin larut. Bar mulai dipenuhi para pengunjung dan beberapa yeoja berpakaian serba minim, dentuman musik beat mulai terdengar di lanta dansa.

Key sempat menolak, tapi setelah Nicole kembali memaksa untuk yang ketiga kalinya akhirnya Key menurut begitu saja saat Nicole menariknya ke lantai dansa. Oh! Nicole ingat! Key cukup pandai di lantai dansa. Awalnya Key hanya menggerakan kakinya ke kanan dan ke kiri, sudah lama ia tidak menari, rasanya sedikit aneh. Nicole kembali menariknya ke tengah-tengah, ia mulai menggerakkan tubuhnya seirama dengan dentuman musik beat yang menggema di setiap sudut bar.

Suasana semakin ramai, membuat Key melupakan beberapa hal yang awalnya tidak ingin ia lakukan. Ia melepas jas biru tua dan vest merahnya, melemparnya ke sofa terdekat kemudian mulai menggerakkan tubuhnya sambil melepas beberapa kancing kemejanya.

Key terus bergerak, ia tidak sadar bahwa tariannya membuat beberapa yeoja mendekat ke arahnya. Mereka mulai berebut untuk bisa menari bersama Key. Tampan, seksi, dan menarik tentu saja yeoja-yeoja liar itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan Key.

Nicole menarik Key saat namja itu menari dengan yeoja entah keberapa, hati Nicole merasa tidak senang melihatnya. Bagaimana bisa Key mengabaikan dirinya yang tidak kalah menarik di atas lantai dansa? Key menurut begitu saja saat Nicole menariknya dan mengalungkan kedua tangan di lehernya, mengajak Key bergerak lebih liar lagi.

Gemerlap lampu disko dan hentakan musik beat membuat suasana semakin panas, Nicole kembali menarik Key setelah ia melepas blazer merahnya. Tarian Nicole semakin liar di atas lantai dansa, ia menyukai kegiatannya yang membuat mata para namja hidung belang tertuju padanya. Key terus menari, tanpa ia sadari ia mulai membenamkan wajahnya di leher Nicole. Aroma tubuh Nicole menyeruak ke dalam hidung nya, terlalu menyengat!

Key tetap seperti itu, membuat Nicole senang. Hingga sesuatu melintas dalam pikirannya, ia tiba-tiba mengingat yeoja yang selalu ia hirup aroma tubuhnya. Seketika pikirannya menerawang, membayangkan yeoja yang mungkin tengah menunggunya untuk makan malam. Key mengangkat wajahnya dari leher Nicole, ia sempat menimbang. Diliriknya arloji di tangan kananya, jam 1 dini hari. Oh! Shit! Key berjalan menjauh dari lantai dansa saat Nicole menahannya “Kau mau ke mana?” , Nicole kembali menggoda Key untuk tetap berada di lantai dansa.

“Oh! aku, aku perlu minum.” Key melepas tangan Nicole, kemudian segera menjauh dari lantai dansa. Ia duduk di salah satu sudut “Bisa berikan aku air mineral?” pinta Key dan dijawab dengan kernyitan dahi oleh si bartender.

Key mengatur nafasnya selagi si bartender mengambilkan pesanannya, ia mengusap keringat dengan sapu tangan biru nya. Oh! kegiatannya barusan benar-benar menguras enerji. Nafasnya terasa berat dan sedikit sesak, dada nya berdebar-debar dan kepalanya sedikit berdenyut. Key rasa ia kecapean.

Bartender tadi baru saja menyodorkan segelas air mineral tanpa es pada Key, saat namja itu dengan cepat meneguknya sampai habis. Ia melirik sekilas ke arah lantai dansa, di mana Nicole baru saja tertawa pada seorang namja kemudian turun dan berjalan ke arahnya. Key masih melihat Nicole yang entah mengatakan apa padanya, saat pandangannya tiba-tiba kabur dan segalanya menjadi gelap.

***

Yeoja itu kembali mendesah, sudah lewat jam 23 dan suaminya masih belum pulang. Selarut inikah rapat yang ia temui bersama sang sekretaris?

Hye ri berdecak kesal, menatap lagi beberapa sajian yang khusus ia buat untuk makan malamnya dengan Key. Ia bahkan telah menunggu Key lebih dari 5 jam. Tapi namja itu sama sekali tidak memberinya kabar setelah meninggalkannya di halaman parkir tadi pagi.

Ia melirik lagi ponsel flip ungu nya, masih tetap sama. Tidak ada telepon maupun pesan singkat sama sekali. Ia beranjak, berjalan menuju ruang tengah dan menyingkap sedikit tirainya. Hanya jalanan sepi yang diterangi rampu redup. Mobil hitam itu belum melintas di sana.

Hye ri mulai berjalan mondar-mandir di ruang tengah, mengibas-ngibaskan tangan kanan nya yang memegang ponsel. Pikirannya sedikit lebih kacau dibanding yang lalu-lalu, entah mengapa ia yakin bahwa Key tidak sedang bersama Jinki saat ini. Ia yakin bahwa Key tengah bersama Nicole, dan itu membuat hatinya semakin tidak tenang.

Malam semakin larut, hanya suara jarum jam yang terdengar di ruang tengah. Dengan mata berkaca-kaca Hye ri melirik jam dinding berwarna putih itu, sudah lewat jam 1. Ia berjalan lemas menuju meja makan, seluruh hidangan yang dipersiapkannya sudah lebih dari dingin, bahkan basi. Tubuhnya terduduk begitu saja di salah satu kursi makan, menatap nanar taplak berwarna hijau toska bersalur merah muda. Airmata nya menetes, di mana Key saat ini? Hye ri menumpukan wajahnya pada meja makan, pikirannya terus mengira-ngira di mana dan sedang apa Key saat ini. Hingga akhirnya rasa lelah dan cemas itu membuatnya tanpa sadar tertidur di meja makan, dengan kepala yang masih bertumpu di sana.

***

KLEK

Key memutar kenop pintu setelah memasukkan beberapa digit password. Sedikit terhuyung ia masuk ke dalam rumah, lampu ruang tengahnya masih menyala. Key berjalan ringan, kepalanya masih sedikit pusing setelah ia pingsan tadi.

Ia telah berada dalam mobil saat membuka matanya, di sana Nicole sibuk memmberinya berbagai macam obat yang membuat Key terbangung dari pingsan. Sedikit bersusah payah Key berhasil menolak Nicole untuk membawanya ke rumah sakit. Jinjja! Key tidak menyangka ia akan pingsan hanya karena menari.

Langkah Key terhenti saat melewati dapur, ia membelalakan matanya saat melihat Hye ri tertidur dengan kepala di atas meja makan. Mata Key segera menangkap piring-piring berisi makanan yang telah dingin.

Deg!

Jadi yeoja itu benar-benar menunggunya untuk makan malam? Rasa bersalah segera menyeruak di dalam hati Key. Perlahan Key mendekati Hye ri, ditatapnya yeoja yang tengah tertidur pulas. Mulutnya sedikit terbuka, sementara wajahnya terlihat lelah.

Key berdiri dengan kedua lututnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Hye ri, ia menatap yeoja itu setelah sekali lagi mengabsen piring-piring berisi makana dingin di atas meja. Seketika Key merasa dada nya sesak, ia telah berbuat jahat dengan membiarkan istrinya menunggu untuk makan malam sementara dirinya bersenang-senang bersama yeoja lain di bar.

Tangan kanan Key mengusap pipi Hye ri lembut, tersenyum pahit atas perbuatannya pada Hye ri. Digendong nya  tubuh mungil Hye ri ke dalam kamar, menidurkan yeoja itu di atas ranjang yang masih rapi. Tangan Key terhenti saat ia hendak menarik selimut hingga telinga Hye ri – yeoja itu selalu tidur dengan selimut hingga telinga nya.

Key menurunkan selimut yang baru sampai leher Hye ri, kemudian menatap wajah Hye ri lagi. Oh! Ya Tuhan! Key benar-benar mencintainya, wajah Hye ri bak malaikat yang selalu ada dalam pikiran Key. Beberapa hari yang ia lewati bersama Nicole sama sekali tidak mengurangi rasa cinta nya pada Hye ri. Key tersenyum pahit saat mengingat perceraian mereka hanya beberapa minggu lagi, apa ia sudah gila dengan menceraikan yeoja yang sangat dicintainya?

Wajah Key merengsek mendekati Hye ri, menundukkan kepalanya untuk menjangkau kening sang istri. Mengecup nya ringan dan berbisik dengan suara tertahan “Jalja uri Hye ri.” Kemudian menarik selimut hingga telinga Hye ri.

***

“Kim  Aeri!” panggilan itu terdengar di telinga Aeri, ia sempat berhenti beberapa detik namun kembali melanjutkan langkahnya melewati lobi. Oh! apa ia sudah gila? Ia benar-benar merindukan Jinki dan itu membuatnya berhalusinasi mendengar suara Jinki.

“Kim Aeri!” panggilan itu kembali terdengar, disertai derap langkah kaki yang semakin mendekat. Aeri membeku, ia tidak sedang berhalusinasi. Itu benar-benar suara Jinki. Sedikit gugup Aeri berbalik, mempersiapkan dirinya menghadapi Jinki setelah beberapa minggu mereka tidak saling berkomunikasi.

Jinki telah berdiri di hadapan Aeri, namja itu berusaha tersenyum seraya mengatur nafasnya. “Oh! Annyeonghaseyo.” Sedikit canggung Aeri membungkukkan badannya, menyapa Jinki dengan sangat formal, seperti saat mereka pertama kali bertemu.

Annyeonghaseyo.” Mau tidak mau Jinki harus balas menyapa Aeri dengan cara yang formal juga. Sesaat Jinki memperhatikan Aeri, rasanya sudah sangat lama semenjak kejadian itu. Kejadian di mana Aeri menolaknya begitu saja dan mereka berhenti berkomunikasi. Menggelikan!

“Lama tidak bertemu, kau terlihat kurus.” Ucap Jinki, matanya tak lepas dari Aeri. Yeoja itu kembali menatap Jinki ragu, memalingkan wajahnya saat mata mereka bertemu. “Ah! Jinjja? Sepertinya aku sedikit lelah. Bagaimana denganmu?” Aeri berusaha bersikap senormal mungkin, meskipun jantung nya berisik tak karuan.

Not so bad.” Jinki mengangguk-anggukkan kepala nya ringan. “Euh Aeri-ya, bagaimana jika siang ini kita makan bersama?” Jinki kemudian menahan nafasnya setelah melontarkan tawaran itu pada Aeri, jantung nya berdebar menunggu jawaban yang akan diterimanya.

Sejenak Aeri terlihat berpikir, tidak dipungkiri ia sempat terlonjak saat mendengar ajakan Jinki. Pastilah itu bukan makan siang biasa seperti yang sudah-sudah, Aeri yakin ada hal lain yang akan disampaikan Jinki padanya.

Aeri kembali menatap mata Jinki dengan ragu, hatinya ingin sekali menerima ajakan itu. “Mianhae, aku sudah ada janji dengan Hye ri siang ini. Mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama.” Aeri berdecak kesal dalam hati, mulutnya benar telah mengkhianati dirinya.

Wajah Jinki terlihat kecewa, ia menganggukkan kepalanya ringan. “Ah! Geurae, mungkin lain kali aku harus lebih cepat.” Jinki hendak memulai percakapan lain dengan Aeri saat yeoja itu tiba-tiba membungkukkan badannya “Annyeonghaseyo.” Ucapnya, dan tanpa menunggu balasan dari Jinki, ia segera berjalan cepat menuju tangga darurat.

Jinki tersenyum hambar, memalingkan wajahnya sekilas kemudian kembali memperhatikan punggung Aeri yang semakin menjauh darinya. Cerdik! Yeoja itu berlari menuju tangga darurat karena menunggu lift sama saja dengan memberikan waktu pada Jinki untuk mengejarnya.

Jinki memasukkan kedua tangan di masing-masing saku celana kanan dan kirinya, berjalan ringan menuju lift. Ada sesuatu yang harus ia cari tahu tentang Kim Aeri, ia yakin Aeri tidak benar-benar menolaknya begitu saja. Yeoja itu tidak akan menangis jika memang ia tidak menyukai Jinki. Masih ada satu kesempatan lagi jika Jinki bergerak lebih cepat dari sekarang.

=TBC=

29 thoughts on “Archangel – part 16

  1. Tuh kan hyeri,km it cinta ma key,tp knapa g sdar”..
    Cpt btalkn prcraianny sblm trlmbat,
    ini lg aeri ma jinki,knpa aeri nolak jinki.. Bnr” bkin gereget nih ff.
    Smpah feel ny dpt bgt,daebak thor

  2. Aaiishh!! Yaa!! Min hyeri kw bnar² mmbuatku kesal stengah mati, akhirnya kw mrsaknnya kn, knp tdk² sdar² jg sihh.. Pabo!!!
    Kyaknya key sakit, apa ini ada hbgnnya dg pnyakitnya bbrp thn sblmnya?

    & sm sprti jinki, aku bingung knp aeri mnolak Jinki pdhl jls² dia jg suka.

  3. Key ayo batalkan perceraian! Hyeri sudah hampir sadar!!!! Wah iyanih jadi takut key sakit lagi😦 kan ga lucu aja gitu tiba2 sakitnya kambuh

  4. Hayo loohh..
    Hyeri ga sadar kan kalo dia udah suka..
    Cemburu juga kan akhirnya..
    Kasian juga liat couple jinki-aeri..
    Sempet kaget juga knpa aeri nolak jinki? Haha
    Yu mari lanjut ke next part😀

  5. nah kan nah kan hyeri cemburu >< aigooo, makin geregetan…
    huaaa si key masih so sweet aja sama hyeri padahal dia jauh lebih sakit dari pengorbanan hyeri…
    ayo, batalkan perceraiannya kkk~
    aeri ayo terima jinki gzzz kasian tuh pada galau kan u.u
    jjong biasanya narsis gtu masa ga berani sih ngungkapin perasaannya ke eun young.. kekeke
    nice fanfic ^^

  6. Aku suka part ini ngebayangin Hyeri cemburu itu lucu bgt😀

    Dan adegan pas key ngolesin lipbalm ke bibirnya hyeri omo omo omo itu sweet bgt! Sygnya kgiatan mrk terinterupsi sm tlponnya nicole #otakyadong=.=”

    Kalo gini caranya bisa2 aku berpaling ke key nih #eh?-_-“

  7. tuh kan… tuhkan!! nah, mulai cemburu jadinya. makanya jangan nyia2in key gt aja…. #ngomel

    gregetnya dapet, rasa bersalah key ke hyeri juga terasa. perasaan hyeri makin keliahatan, bahkan sampe cemburuan…. sayangnya masih ragu2 buat nyadarin itu…

    but still, key is such a sweet man in this story. melting deh ngebayangnnya…..

  8. Hye ri plin plan nih, giliran udah mau bubaran aja baru cemburu, dari dulu cemburunya dikemanain tuh author?
    gemes sendiri deh bacanya

    lanjut part 17🙂

  9. Akhirnya… rasa penasaran TBC di part 15 udah terbayar disini,,,
    Hehehhehehe,,,,
    Aku suka banget sama ff ini soalnya gak cuma main cast yang punya masalah, tpi support cast juga punya permasalahan sendiri2..

    Tetep deh empat jempol buat Euncha….
    FIGHTING….😄

  10. sukaaaaaaaaa!!!!
    suka bgt sama part ini :3
    key pinter lah deket2 sama nicole, jadi bisa liat perasaan hyeri yg sebenernya, untung key pinter yah bisa tau hyeri cemburu😄
    kirain key bakalan ada ‘main’ sama nicole, hahaha..
    seru kali yah klo bnrn ada apa2 antara key-nicole trs hyeri tau *dicekek hyeri*

    sbnrnya tuh nyeri suka sama key, tapi dirinya sendiri gak mau ngakuin perasaan itu, jadilah gini, giliran key ngejauh hyeri nempel2, giliran key ngedeket malah dijauhin sama hyeri, hyeri plin plan -_-” *jitak*

    yaampun eunchaaaaa!!
    paling suka pas adegan key makein lipbalm ke hyeri, sumpah itu sweeeeeeeeeet bangeeeeeeeeettt ><
    dpt inspirasi darimana sih kamu bisa bikin adegan romantis gtu????
    sederhana, tapi so sweet :3

    jjongie~
    aduh si abang jjong ini tipe2 PHP yah kyknya -_-
    jujurlah bang sama eunyoung *gemess*

    si jinki juga, aihh~
    geregetan tiap baca part jinki-aeri, jinkinya udah blak-blakan gtu si aeri msh aja kabur, knp toh mbak??
    klo emang gak mau sama bang jinki nanti aku ambil lg jinkinya😄 *ditimpuk*

  11. eon dapet feelnya
    daebak dehh

    tapi kebanyakan tokohnya keras kepala ya…..
    aigoo… bikin emosi

    keren dehh aq suka
    cuma rasanya agak berbelit-belit,, hehehehehhe
    jempol deh buat eonni

  12. Annyeong, mian aku baru baca FFnya pdahl udh berbulan2 yg lalu eun cha-sshi ksi aku passwordnya, hehe
    Haduh, membingungkan prasaan yeoja2 ini, knpa klo suka nggak bilang, pke nangis sndiri2 gt. Aku pnasaran ama part slnjutnya. Lanjjjuuut, gomawo.

  13. tuh kan hye ri gak konsisten?
    tp dpkir-pkir cinta itu emg kyk gitu.
    gengsiny lbh ketara

    aeri knpa makin niat mngindar dr jinki?

  14. Hmm…
    Belakangan kondisi kesehatan key memburuk?? Apa apa ni?
    Dan apa itu yang di rasakan hyeri..
    Masih banyak spekulasi yg mengganggu pikiran.

  15. Nahkan hyeri jeles etdah baru sadar pas key-nya sama nicole ;u;
    Key macem ngasih kesempatan sma nicole nih QAQ ngga deng jangan ah key
    Hai. Aku reader baru, aku udah baca part 1-15 part 13nya ga baca sih, di sf3si :’3 nyari part 16nya nemu disini, gapapa kan yak?
    Ceritanya complicated banget ;;;
    Lanjutbaca

  16. Karena ditolak hye ri,lalu mgkn si key cri pelarian kali ya hhha mnurut aku adegan ngolesin lip balm itu sumpah paling romantis abs,hhhe suka bgt sma adegannya gk lebay tapi ngena ampe diulang” baca parat ini,udh jd suami tmbh romntis ajah si key ,si hye ri jg udh kelimpungan tuh bngung sma perasaan nya sndiri

  17. Deg-degan waktu Key ngolesin lipbalm ke bibir Hyeri😮 jujur itu bener2 so sweet…Key dan Hyeri tuh emang cinta satu sama lain, tapi Hyeri nya ini knpa blom sadar2 juga!! Huft..Key selingkuh? Hyeri cemburu? Haha
    Sukaaaa ff Archangel ini🙂

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s