Archangel – part 17

archangel

Archangel – Part 17

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

Bisikan-bisikan kecil itu terdengar lagi saat Hye ri melangkahkan kaki nya ke dalam lift yang cukup sesak. Ia menoleh ke belakang, membuat suara berbisik itu seketika hilang. Sementara wajah-wajah di belakang nya berusaha acuh tak acuh dengan keberadaan Hye ri. Akhirnya Hye ri tidak mempedulikan bisikan-bisikkan kecil yang terdengar saat ia melangkah ke suatu tempat di dalam kantor.

Hye ri baru saja melempar tas ke atas meja kerjanya, bahkan ia belum sempat duduk di kursinya saat Aeri berhambur ke arahnya. “Oh! Hye ri-ya.” Membuat Hye ri berjengit. “Jangan katakan kau tidak mengetahuinya?” Aeri melempar tatapan membunuh pada Hye ri, yeoja itu hanya mengernyitkan dahi.

“Apa yang kau bicarakan eonni?” Hye ri mendorong tubuh Aeri yang mengunci ruang geraknya, kemudian duduk dan menyalakan komputer. Aeri menarik kursi kerjanya ke samping Hye ri, memutar tubuh Hye ri hingga mereka berhadapan. “Kau sungguh tidak mengetahuinya?” tanya Aeri lagi tak percaya.

Hye ri kembali memandangi Aeri dengan wajah memberengut karena ia benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan sahabatnya itu. Aeri memalingkan wajahnya sekilas sambil berdecak kesal, kali ini ia tidak tahu apa ia harus kesal pada sahabatnya atau pada semua namja di dunia ini.

Hye ri masih menatap Aeri seolah menunggu penjelasan. “Listen! beberapa hari ini ada rumor tidak menyenangkan tentang dirimu di kantor, dan pagi ini semua orang melihat Key datang bersama Nicole!” Aeri terlihat berapi-api, Hye ri bahkan yakin bahwa Aeri menjelaskan semuanya dalam satu nafas.

“Apaa?!” Hye ri tak menyadari bahwa ia nyaris berteriak, itu mengejutkan! Sejak kejadian di mana Key meninggalkannya untuk menemui Nicole, ia jarang sekali membahas apa pun dengan Key. Key selalu pulang larut setelah Hye ri tidur, dan pagi hari nya mereka hanya berkomunikasi secukupnya.

Aeri masih menatap Hye ri tak sabaran, ingin mendengar apa yang sebenarnya sedang terjadi antara Hye ri dan suaminya. “Oh! itu… akhir-akhir ini ada banyak rapat penting di luar yang harus Key hadiri. Makanya, ia lebih sering terlihat bersama Nicole.” Hanya itu kebohongan terbaik yang sempat terpikirkan oleh Hye ri. Ia memaksakan seulas senyum meskipun hati nya merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang menghantam nya keras-keras.

Aeri diam, menatap Hye ri dengan pandangan menginterogasi. Ia tahu betul sahabatnya itu tengah berbohong, dan kebohongan Hye ri kali ini benar-benar buruk. Aeri memutar bolamata nya kesal “Kau memang pandai berbohong Min Hye ri, tapi tidak padaku, katakan apa yang sebenarnya terjadi?”

Hye ri berjengit, menatap Kim Aeri dengan sorot mata yang meredup. Ia menghindari mata Aeri sambil mendesah ringan. Beberapa klise tiba-tiba berputar ulang dalam ingatannya, kejadian di mana ia mendengar percakapan bahwa Key akan menjemput Nicole pagi itu, ditambah kejadian di mana Key meninggalkan Hye ri hanya untuk menemui Nicole. Tidak bisa dipungkiri bahwa klise itu membuat Hye ri muak dan ingin meluapkan amarah nya pada Key.

Ragu-ragu Hye ri menatap mata Aeri “Aku dan Key…” ia menghembuskan nafas ringan. Menahan ganjalan yang memenuhi rongga dada nya dan membuatnya sesak, sementara dirinya mempersiapkan diri untuk memberitahu Aeri sebuah berita besar. Aeri masih menunggu Hye ri melanjutkan kalimatnya saat speaker di koridor ruang kerja mereka berbunyi. Menimbulkan dengungan singkat yang memekakan telinga.

Keduanya segera kehilangan fokus atas pembicaraan mereka, kemudian diam saat suara seseorang yang sudah sangat mereka kenal berbicara melalui speaker. Suara lembut dan berirama tetap milik resepsionis kantor mereka. Keduanya saling berpandangan setelah sang resepsionis selesai mengumumkan hal penting.

“Apa yang terjadi?” Aeri mendesis, ia menatap Hye ri lebih tajam dari sebelumnya. Seolah dengan tatapannya ia mampu menceburkan Hye ri ke dalam sungai terdekat dari tempat mereka. Tapi sayang dalam ruangan mereka tidak ada sungai atau mungkin kolam, sehingga Hye ri masih aman di tempatnya.

Aeri segera beranjak, memberi isyarat pada Hye ri untuk ikut beranjak dan mengikutinya menuju aula di lantai 5. Keduanya hanya diam, bukan hanya Aeri yang bertanya-tanya mengenai apa yang akan diumumkan atasan mereka sepuluh menit lagi, Hye ri pun sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada percakapan penting antara ia dan Key pagi ini, lalu mengapa tiba-tiba Key meminta semua orang berkumpul di aula?

***

Arloji di tangan Lee Jinki masih menunjukkan pukul 8.15 menit, ia bahkan baru saja duduk dan membuka file-file yang harus ia tangani hari ini saat ponselnya berdering singkat dan menunjukkan nama Key di layarnya.

Tak lama ia berjalan ringan, menyapa Nicole di meja kerjanya sebelum masuk ke ruangan Key. Tidak ada ketukan ringan seperti biasanya, Jinki hanya merasa sedikit aneh dengan panggilan Key sepagi ini. Apa sahabat nya itu sedang sakit? Atau sedang gila karena cinta sepihaknya?

Jinki menyembulkan kepalanya setelah ia memutar kenop pintu, didapatinya Key yang terlihat sibuk dengan beberapa map. Ia bahkan tidak duduk di kursinya, bediri di samping meja sambil membolak-balik kertas dalam map hitam.

“Oh! wasseo? Masuklah, aku perlu bantuanmu.” Key menutup map hitam nya saat menyadari kedatangan Jinki, ia menarik Jinki dan memaksanya untuk duduk di sofa merah dalam ruangannya.

Jinki sempat mengedarkan pandangannya pada meja Key, berusaha membaca sesuatu yang ada di sana. Ini aneh! Apa hari ini mereka akan mengadakan rapat mendadak? Dengan perusahaan mana lagi? Oh! Jinki rasa dirinya masih belum mau menyiapkan diri untuk fokus pada pekerjaan, pikirannya masih sibuk merangkai rencana untuk menginterogasi Kim Aeri.

“Kuserahkan perusahaan padamu.” ucap Key yang tiba-tiba telah duduk di hadapan Jinki, membuat Jinki terlonjak dan lamunannya buyar begitu saja.

“Apa?!” Well, kalimat Key sukses membuatnya terkejut.

“Kuserahkan perusahaan padamu. I mean, selama aku mengurus urusanku sendiri. Hanya dua minggu, I promise.” Key menatap Jinki dengan pandangan memelas, seperti anak anjing yang dibuang pemiliknya di pinggir jalan dan ditemukan oleh seorang yeoja penyuka anjing.

Jinki segera menelan keterkejutannya, badannya yang sempat condong ke arah Key itu kini kembali pada posisinya semula-bersandar santai pada sofa merah sambil bertumpang kaki. Ia berdeham pelan untuk menunjukkan karismanya. Bodoh! Seharusnya ia tidak seterkejut tadi, apa itu karena diam-diam ia pun ingin seperti Key- memimpin sebuah perusahaan? “Memang apa yang akan kau urus?” tanya nya acuh tak acuh.

Key menghela nafas, memandang Jinki dengan tatapan yang sedikit mengiba. “Perceraianku, dua minggu lagi aku akan bercerai.” Key kembali menghela nafasnya, sementara Jinki dengan cepat menegakkan tubuhnya. Lagi-lagi kalimat singkat Key membuatnya terlonjak, ia tahu bahwa selama ini Key tidak bahagia dengan pernikahannya. Dan bahkan Jinki sendiri pernah mengatakan pada Hye ri untuk mengakhiri semuanya, tapi sungguh! Ini membuatnya terkejut, mereka tidak main-main.

“Jangan katakan apa pun padaku! Sekarang bantu aku untuk membuat rapat kecil, semua staff harus datang. Aku akan mengumumkan penyerahan tugas selama dua minggu ini secara resmi.” Key sempat memandang Jinki dengan sorot mata yang meredup sebelum ia beranjak dan tidak membiarkan Jinki mengasihani nya.

Key meraih beberapa file yang tercecer di atas meja, merapikannya dengan cepat. Jinki memandang sahabatnya, ini aneh. Mengapa Key tidak berusaha mencegah semua ini? Ia justru terlihat ingin segera menyelesaikan semuanya, apa pagi ini ia salah makan sesuatu?

“Hei, apa yang terjadi?” Jinki telah berdiri di samping Key – di samping meja kerja Key, membuat Key berhenti merapikan file ke dalam map. Sesaat keduanya hanya saling berpandangan, Key enggan menceritakan detil nya pada Jinki karena itu sama saja dengan mengingatkannya pada kenyataan yang tidak pernah ingin ia hadapai. Sementara Jinki berusaha membaca pikiran Key melalui matanya.

Key kembali menghela nafas “I’ll tell you later on.” Ucapnya seiringan dengan suara ketukan pintu.

“Masuklah.” Key setengah berteriak, keduanya memandang pintu. Nicole muncul dengan cangkir berwarna krem di tangannya. “Oh! Mianhaeyo mengganggu, aku membawakan minum untuk Jinki ssi.” Nicole memandang Key dan Jinki bergantian.

“Taruh saja di sana.” Pandangan Key mengarah pada meja di dekat sofa merah yang tadi diduduki Jinki, pandangannya pada Nicole terlihat tidak sabar. Seolah meminta Nicole untuk segera meninggalkan mereka.

Nicole sempat memandang Key dengan pandangan yang seolah meyakinkan sesuatu sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu. “Jadi, sampai mana kita?” tanya Jinki, fokusnya benar telah buyar oleh kedatangan Nicole.

“Bantu aku mengumumkan penyerahan tugas secara resmi.” Jawab Key kemudian meraih map besar yang telah berisi seluruh file yang ia perlukan, berjalan ke luar tanpa menghiraukan Jinki yang masih berpikir di tempatnya.

Key berjalan menuju lift, berjalan menyusuri koridor setelah sampai di lantai lima. Resepsionis kantor mereka telah mengumumkan melalui speaker agar semua staff berkumpul sepuluh menit lagi.

Tak lama, aula lantai lima telah dipenuhi seluruh staff. Mereka terlihat bingung dengan rapat mendadak ini, membuat bisikan-bisikan kecil terdengar di setiap sudut. Hye ri dan Aeri berdiri berdampingan di bagian tengah kumpulan staff.

“Maaf meminta kalian berkumpul secara mendadak.” Suara Key yang berbicara melalui pengeras suara membuat bisikan-bisikan kecil itu berubah menjadi senyap, tidak ada lagi percakapan kecil antara staff, semuanya segera berdiri tegap dan memperhatikan Key.

Key melirik Jinki- yang berdiri di samping nya- sekilas, kemudian menyapukan pandangannya pada seluruh staff di hadapannya. Matanya mencari sosok yang pagi ini memakai coat putih sebatas mini skirt nya. Oh! sudah berapa kali Key mengingatkannya untuk tidak memakai mini skirt di musim semi?

Mata mereka bertemu, sosok itu tengah memperhatikannya, sama seperti staff yang lain. Key terus menatap nya, membuat sosok itu terlihat sedikit salah tingkah. Tak lama mengembangkan senyuman kecil, membuat Key ikut-ikutan menarik kedua ujung bibirnya. Yeoja itu sangat cantik!

Jinki berdeham, mengingatkan Key bahwa kelakuannya mengundang perhatian staff yang tengah menunggu nya.  Key berjengit, kemudian kembali mengalihkan pandangannya dari Hye ri. “Aku akan mengumumkan penyerahan tugas secara resmi.” Key melanjutkan kalimatnya, membuat suara berbisik kecil kembali terdengar di setiap sudut.

Para staff saling berpandangan kemudian berbisik tentang apa yang ada dalam pikirannya. “Hei, apa yang terjadi?” tanya Aeri di tengah-tengah bisikan kecil yang semakin menggema memenuhi aula. Hye ri memutar bolamatanya, memandang Aeri dengan kebingungan yang serupa “Nado mollayo.”

“Ada hal yang harus kuurus dua minggu ke depan, dan aku akan sangat sibuk.” Terang Key lagi, membuat bisikan-bisikan kecil itu terhenti. Semuanya menatap Key, mulai mengira-ngira urusan apa yang akan membuat Key sibuk sehingga ia harus menyerahkan tugasnya secara resmi.

Key kembali menatap Hye ri, ingin melihat ekspresi apa yang ditunjukkan istri nya tentang hal yang akan Key urus dua minggu ke depan. Oh! tentu istri nya tidak akan lupa apa yang akan terjadi dua minggu lagi.

“Mungkin kalian akan jarang melihatku di kantor, maka dari itu…” Key melirik Jinki yang terlihat sedikit kaku di tempatnya. “… aku akan mengumumkan penyerahan tugas secara resmi pada Jinki agar ia bisa leluasa mengerjakan tugasnya, begitu juga dengan kalian yang akan terus berhubungan dengan Jinki selama aku mengurus urusanku.” Lanjut Key panjang lebar, dan bisikan-bisikan kecil itu kembali terdengar.

Sajangnim, urusan apa yang akan Anda urus sehingga Anda meninggalkan kantor selama dua minggu? Apa ada hubungannya dengan perusahaan kita? Kelihatannya sangat serius.” Salah satu staff yang berdiri beberapa baris di belakang Hye ri mengajukan pertanyaan, wajahnya terlihat sedikit cemas.

Key tertawa renyah sambil menganggukkan kepalanya “Aku ingin sekali menjelaskan lebih rinci mengenai masalah apa yang akan kuurus, tapi sayang aku tidak bisa memberitahu sebelum masalahnya selesai. Kalian tahu? Terkadang kami tidak bisa transparan terhadap beberapa hal, sekalipun itu menyangkut kelangsungan perusahaan. Kami memiliki kewajiban untuk melindungi para staff kami dari ancaman dan rasa takut.”

Key menyapukan pandangannya pada seluruh staff, berusaha tersenyum bijak agar tidak ada asumsi bahwa ia akan meninggalkan perusahaan untuk mengurus perceraiannya.

Suasana hening, tak ada pertanyaan lagi yang terlontar. Semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing, mengira-ngira apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam perusahaan.

“Dan aku akan menyerahkan tugasku pada Jinki, secara resmi.” Key menarik Jinki, menepuk bahunya sekilas kemudian tersenyum. “Mulai hari ini hingga dua minggu ke depan, atasan kalian adalah Lee Jinki. Perlakukan Jinki seperti kalian memperlakukanku.” Terang Key.

Annyeonghaseyo, kurasa kita sudah saling mengenal bukan? Mari bekerja sama hingga dua minggu ke depan.” Jinki membungkukkan badannya, dan disambut oleh para staff. Semuanya terlihat baik-baik saja dengan Jinki yang akan menggantikan Key.

Hanya berselang beberapa menit, rapat singkat itu segera dibubarkan. Beberapa staff segera berhambur ke arah Key dan Jinki. Beberapa kembali menanyakan perihal yang akan ditangani Key, beberapa memberi semangat pada Jinki, dan beberapa lainnya acuh tak acuh berjalan meninggalkan aula sambil berbincang.

Yeoja itu masih memperhatikan Key di tengah kerumunan orang yang masih berada dalam aula, mencari-cari kesempatan untuk mendekatinya dan menanyakan urusan penting apa yang membuatnya menyerahkan tugas pada Jinki.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Aeri lagi, Hye ri tidak menjawab. Matanya sibuk memperhatikan gerak-gerik Key, seolah takut satu pergerakan kecil saja akan membuatnya kehilangan Key.

“Yaa! Hye ri-ya! Apa yang…” Aeri mengguncangkan tubuh Hye ri, tapi kalimatnya terputus saat Hye ri justru melenggang begitu saja menghampiri Key dan Jinki yang baru selesai berbincang dengan salah satu staff.

***

Sedikit lagi Hye ri akan menjangkau Key saat langkahnya tertahan oleh sekretaris suaminya. Yeoja berambut pirang itu tiba-tiba saja telah berdiri di hadapan Hye ri. Oh! bahkan Hye ri tidak menyadarinya semenjak ia masuk ke dalam aula.

Nicole melipat kedua tangannya di depan dada, mengangkat sudut bibir kanannya sambil menatap Hye ri dengan pandangan yang merendahkan. Hye ri menyipitkan matanya, menatap Nicole tak kalah tajam.

Cwisonghaeyo, kukira kau menghalangiku.” Ucap Hye ri singkat, kemudian bergerak ke samping Nicole untuk melewati yeoja itu. Berusaha acuh tak acuh dengan kelakuan sinting sekretaris suaminya itu.

Lagi, Nicole menghalangi Hye ri. Membuat Hye ri berdecak kesal, apa lagi yang diinginkan nya?

Hye ri memandang Nicole dengan pandangan yang seolah mengatakan apa?

Nicole tersenyum, memandangi Hye ri dari ujung rambut hingga kaki. “Jadi, Key akan sibuk mengurusi perceraian kalian?” tanya Nicole enteng, membuat Hye ri membulatkan kedua matanya.

“Key yang memberitahuku. Tentu saja! Kami selalu bersama-sama hingga larut, tidak ada yang tidak aku tahu.” Terang Nicole sebelum Hye ri sempat bertanya dari mana ia tahu soal perceraiannya dengan Key.

Hye ri memandang Nicole tajam, berusaha membaca pikiran Nicole melalui matanya. “Key… mengatakannya… pada…mu?” tanya Hye ri terbata, ia tidak percaya jika benar Key telah menceritakan perihal perceraiannya pada Nicole. Apa mungkin selama ini di antara mereka…

“Kau pikir siapa yang akan memberitahuku?” cibir Nicole, ia kembali tertawa.

Hye ri hanya diam, ia tidak percaya bahwa Key benar-benar telah menceritakan soal perceraiannya ini pada orang lain. Memang Nicole adalah sekretarisnya, tapi haruskah Key menceritakan perceraiannya juga? Lalu, apa lagi yang diketahui Nicole selain perceraian?

“Itu bukan urusanmu!” desis Hye ri, ia berusaha acuh terhadap Nicole dan kembali bergerak menjauhi yeoja itu. Berusaha menjangkau Key yang masih berdiri di tempatnya.

Oh! Rupanya Nicole belum selesai, ia kembali menghalangi langkah Hye ri. Membuat Hye ri memandangnya dengan kesal. “Perlukah aku memanggil suamiku untuk mengusirmu dari hadapanku?” ancam Hye ri, Nicole benar-benar pandai membuat emosinya naik dengan cepat.

Nicole terkekeh “Suami? Listen, Kim Hye ri… Oh! Min Hye ri, tidak lama lagi kau akan kembali menjadi Min Hye ri. Geurae, nikmatilah hidupmu sebagai Kim Hye ri selama masih ada waktu.”

Ouch! Hye ri memalingkan wajahnya sambil menahan mulutnya yang setengah terbuka. Apa yang baru dikatakan Nicole? Dasar sinting! Well, sebaiknya Hye ri menjauh sebelum ia melakukan hal di luar nalar. Ia bisa menemui Key setelah mereka keluar dari aula.

Hye ri tak mengatakan apa pun dan memutuskan untuk meninggalkan aula. Ia baru saja berbalik saat kalimat itu meluncur dari mulut Nicole “Ordo I have to call You Kim’s widower?”

Plaaaakkkkk!!!!

Dalam satu gerakan Hye ri melayangkan sebuah tamparan tanpa perintah dari otak, bersamaan dengan Key yang telah berada di belakang Nicole. Membuat beberapa orang yang masih berada dalam aula memandang ke arahnya.

Hye ri terkejut bukan main. Pertama, ia tidak menyadari bahwa tangannya begitu saja menampar Nicole. Dan yang kedua, bagaimana bisa disaat yang bersamaan Key telah berada di belakang Nicole?

Hye ri memandang Nicole yang tengah kesakitan memegangi pipi kirinya, kemudian memandang Key yang sama terkejutnya dengan Hye ri. Kemudian memandangi tangan kanannya yang baru saja menampar Nicole sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“APA YANG KAU LAKUKAN MIN HYE RI?!!!!” suara itu menggema di setiap penjuru aula. “Gwaencanha?” Key mengahampiri Nicole, menyentuh wajah yeoja itu dan mengkhawatirkan luka di pipinya.

Hye ri tersontak, ia terkejut bukan main. Tidak percaya bahwa Key membentaknya di depan umum. Oh! selain itu Key memanggilnya dengan nama Min Hye ri di saat mereka tidak berdua. Key hanya akan menggunakan nama itu saat mereka berdua tapi mengapa kali ini….

Seketika rasa perih menetes di dalam dada Hye ri, merembes begitu saja dengan cepat. Hye ri merasa aneh, kepalanya terasa berputar-putar, pipi nya memanas karena kini ia tahu semua mata tengah tertuju padanya.

“Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan Key? Kau tidak seharusnya membentak Hye ri. Ya Tuhan Hye ri, gwaencanha?” Aeri berhambur dari belakang, menundukkan kepalanya agar bisa memandang wajah Hye ri yang setengah tertunduk.

Hye ri membeku di tempatnya, hanya memandangi karpet dengan motif abstrak yang diinjaknya. Sementara rasa sakit itu ia biarkan terus memenuhi rongga dadanya, rasanya benar-benar aneh dan itu sangat memuakkan bagi Hye ri.

Ia memandangi Key yang masih mengkhawatirkan Nicole, sementara diam-diam yeoja itu tersenyum puas ke arah Hye ri. Mata Hye ri kemudian mengabsen Jinki yang entah sejak kapan telah berada di samping Key, memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan terakhir, mata Hye ri mengabsen Aeri yang ada di samping nya. Yeoja itu terlihat kesal, kemudian pandangannya berubah mengiba saat menatap Hye ri.

Hye ri menepis tangan Aeri yang menggenggam lengannya ringan, sebelum akhirnya ia beranjak menjauhi semuanya. Setengah berlari meninggalkan aula, ia menundukkan kepalanya, tidak ingin siapa pun melihat airmatanya yang mulai menetes.

Semua orang masih memperhatikan Hye ri hingga yeoja itu menghilang dari aula. Beberapa orang berpura-pura acuh tak acuh dan memulai percakapan kecil mengenai hal lain. “Apa yang kau lakukan Key?” tanya Aeri lagi, ia melirik ke arah pintu aula yang terbuka lebar. Menimbang antara meminta penjelasan Key atau mengejar Hye ri yang ia yakin tengah membutuhkannya.

Key hanya menatap Aeri sekilas, seolah tidak bisa menjawab pertanyaan Aeri, Key berusaha acuh tak acuh. “Gwaencanha?” ia kembali mengkhawatirkan Nicole. Membuat Aeri berdecak kesal.

“Kau tidak mengejar istrimu?” Aeri kembali menghujani Key dengan pertanyaan, ia benar-benar kesal pada Key. Sungguh! Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?

Aeri mencibir saat tak ada respon dari Key. “Hye ri tidak seharusnya menampar Nicole.” Ucap Key datar, ia tidak berani menatap mata Aeri.

“Oh! kurasa sekretarismu yang terpelajar ini tidak seharusnya mengucapkan kalimat bodoh yang menunjukkan betapa tidak terpelajarnya ia!!” desis Aeri. “Hei! Jaga mulutmu!” Nicole yang sedari tadi diam tiba-tiba membuka mulutnya, memandang Aeri tajam seolah dengan pandangannya itu ia bisa merobek mulut Aeri.

Tapi Aeri tidak goyah, ia malah memandang Nicole semakin tajam. “Apa yang kau katakan?” ragu-ragu Key bertanya pada Nicole.

“Aku tidak mengatakan apa pun.” Ucap Nicole datar. Oh! Ya Tuhan! Sudah cukup, kini Aeri tahu betapa sekretaris kantor mereka ini sangat pintar berakting.

Aeri menatap Nicole dan Key bergantian “Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Key… aku baru tahu bahwa kau adalah seorang pecundang!” desis Aeri, ia kemudian beranjak. Meninggalkan aula dengan emosi yang telah mencapai ubun-ubun.

Sungguh! Mengapa semua namja begitu menyebalkan di matanya?

***

Hye ri mempercepat langkahnya, kini ia berlari. Berbelok ke pintu tangga darurat. Yeah! Itu tempat paling aman untuk menangis, di sana tidak akan ada siapa pun yang melihat airmatanya.

Hye ri terus menuruni tangga, membiarkan airmatanya menetes membasahi setiap anak tangga yang dilewatinya. Ia tidak peduli saat sepatunya terantuk anak tangga atau pun membuat kakinya terkilir, ia tidak peduli jika ia akan tersungkur dan mati saat itu juga.

Hatinya benar-benar sakit, bagaimana bisa Key lebih memilih untuk membela Nicole dibandingkan dirinya-istri Key- ?.

Tanpa sadar isakan itu pecah, ia menaruh tangan kirinya di dada, seolah menahan rasa sakit yang terasa di sana. Pandangan Hye ri semakin kabur oleh airmatanya, ia berlari semakin cepat.

Bruukkk

Tubuhnya terjatuh pada penghubung lantai, rasa perih mulai menjalari kakinya. Tapi ia tidak peduli, ia menangis sejadi-jadinya sambil memegangi dadanya yang terasa begitu perih. Hingga ia membungkukkan tubuhnya karena rasa sakit itu semakin menjadi dan membuatnya ingin mati saja.

Beberapa menit berlalu, Hye ri merasa lelah. Airmatanya sudah kering, dan kini ia benar-benar merasa mengantuk. Jinjja! Menangis selalu menguras tenaganya.

Hye ri mengedarkan pandangannya ke dinding, di mana tertulis angka 3 yang sangat besar. Ia kemudian menilik dirinya sendiri yang masih terduduk di penghubung tangga, ia baru menyadari bahwa ia begitu menyedihkan.

Perlahan Hye ri beranjak, menahan rasa sakit di sekitar tumit dan lutut nya. Ia mengerang saat mendapati beberapa luka di sana.

Dengan langkah diseret Hye ri menuruni anak tangga hingga lantai satu. Memasukkan kedua tangannya di saku coat, ada beberapa lembar won di sana. Ia rasa itu cukup untuk naik bus dan makan tokpokki. Emosinya masih sangat buruk saat ini, Hye ri sangat memerlukan seseorang. Yeah! Hanya orang itu.

                                                                           ***

Hanya memerlukan waktu sepuluh menit hingga Hye ri tiba di area pemakaman. Seharusnya ia bisa sampai dalam waktu lima menit, tapi dengan keadaan kaki nya yang dipenuhi beberapa luka, itu membuat langkahnya terhambat.

Ahjumma penjual bunga, di mana Hye ri selalu membeli azalea kuning terkejut dengan kondisi Hye ri. Ia membantu Hye ri mencuci lukanya dan memberi obat seadanya. Ahjumma itu menatap Hye ri iba, meskipun Hye ri mengatakan ia hanya terjatuh tapi ahjumma itu tahu bahwa yang sakit bukanlah kaki nya saja, tetapi juga hatinya.

Aigouri yeppeun yeoja Hye ri ssi.” Ahjumma itu memeluk Hye ri, membuat Hye ri semakin mengasihani dirinya.

Ahjumma itu mengambil seikat azalea kuning, memaksa Hye ri untuk menggenggamnya.

“Oh! Hari ini aku tidak membawa uang, mungkin lain kali aku akan membelinya.” Hye ri menyodorkan lagi azalea kuning dari tangannya pada ahjumma. Ahjumma itu menggelengkan kepalanya ringan, memaksa Hye ri untuk menggenggam lagi azalea kuning “Kau boleh membawanya, anggap saja itu hadiah dariku karena kau selalu membeli azalea kuning setiap hari.”

“Oh! gomawoyo.” Hye ri terharu, memaksakan seulas senyum sambil menarik azalea kuning itu sebatas dadanya. “Kau akan menemui Minho kan?” tanya ahjumma itu lagi dan hanya dijawab oleh anggukan kecil dari Hye ri.

Aigo…” ahjumma itu mengusap wajah Hye ri, wajahnya sangat mengiba. Kemudian kembali memperhatikan Hye ri dari ujung rambut hingga kaki. Rambut yang tidak serapi biasanya, serta coat putih yang terlihat sedikit kotor di beberapa bagian. Ditambah lagi ia datang dengan beberapa luka di kaki nya, pasti lah sesuatu yang buruk baru saja menimpanya.

Gwaencanhayo ahjumma, aku hanya lupa membawa dompetku.” Hye ri berusaha bersikap senormal mungkin, ia tahu ahjumma penjual bunga tengah mengkhawattirkannya.

“Suami mu yang membuatmu seperti ini?” ahjumma itu melontarkan pertanyaan yang sukses membuat Hye ri terlonjak.

“Oh! Aniyo, aniyeyo. Aku hanya terjatuh.” Hye ri mengelaknya buru-buru, ia menekankan intonasi bicaranya. Sementara pikirannya kembali memutar ulang klise di mana Key membentaknya dan lebih memilih untuk mengkhawatirkan Nicole. Benar, Key yang telah membuatnya seperti ini.

Airmata itu nyaris jatuh lagi “Aniyo, uri Kibum… dia memperlakukanku sangat baik. Jinjjayo, ahjumma pernah bertemu dengannya dua kali kan?” Hye ri kembali meyakinkan, ia tidak mau membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk.

Ahjumma itu hanya menganggukkan kepalanya sembari mengelus pipi Hye ri dengan penuh cinta. Hye ri tersenyum, menatap ahjumma penjual bunga yang begitu baik padanya. Jinjja! Tuhan benar-benar menyayangi nya, Hye ri akan selalu bertemu orang baik di setiap hari yang menyakitkan.

“Jyaa, aku harus menemui Minho sebelum bus terakhir lewat.” Hye ri menahan airmatanya, memaksakan seulas senyum kemudian berlalu sambil menyeret langkahnya menuju area pemakaman.

Ia mempercepat langkahnya meskipun itu membuat beberapa luka di kaki nya kembali berdenyut. Ia tidak bisa menahan airmatanya lagi, kejadian siang tadi kembali terulang dalam kepalanya. Membuat rasa sakit itu kembali menyeruak dalam dada nya.

Wajah tampan itu tersenyum, tetap tersenyum seperti empat tahun yang lalu – saat pertama kali nya tertempel di nisan.

Hye ri memaksakan diri untuk tersenyum meskipun airmata nya justru jatuh semakin deras. Bibirnya bahkan tak mampu mengucapkan nama Minho seperti biasanya, hatinya terlalu sakit untuk mengucapkan sebuah kalimat.

Hye ri menundukkan kepalanya, menempelkan tangan kirinya di dada seolah menahan rasa sakit yang kembali menerjangnya di sana. Menangis sejadi-jadinya, sambil terisak ia berusaha bercerita pada Minho. Mengatakan bahwa hatinya terluka karena Key.

Hari semakin larut, Hye ri benar-benar merasa lelah. Entah berapa lama waktu yang ia habiskan untuk bercerita pada Minho dan menangis sebanyak yang ia bisa. Azalea kuning itu ia letakkan di nisan Minho, mengusap airmata dengan ujung lengan coat nya.

“Jyaa, aku harus pulang Minho-ya. Aku merasa lelah hari ini.” Hye ri berbalik dan berlalu begitu saja. Ini aneh, baru kali ini Hye ri menemui Minho tanpa rasa rindu yang meluap. Hye ri yang biasanya datang dengan kesedihan mendalam hanya karena ia begitu merindukan Minho dan mengharapkan keberadaan Minho di sisinya, kini justru datang dan bercerita tentang Key. Hanya nama Key yang keluar dari mulut Hye ri, tidak ada nama lain.

Hye ri berjalan meninggalkan area pemakaman yang mulai gelap. Kembali menyeret langkahnya karena suasana di sana membuat bulu kuduk nya meremang. Angin musim gugur benar-benar menusuk hingga ke tulang rusuk, membuat yeoja itu sesekali bersin dan semakin  mempercepat langkahnya.

Ia terus berjalan dan baru menyadari bahwa ia tidak mengecek ponselnya. Dirogohnya saku kiri coat nya, mengeluarkan ponsel flip ungu kesayangannya. Ada banyak pesan singkat dan panggilan tak terjawab. Hye ri sama sekali tidak berniat mengecek dari siapa pesan singkat dan panggilan-panggilan itu berasal, Hye ri ingin bersikap egois dengan tidak ingin memikirkan orang-orang yang mengkhawatirkannya.

Ponsel itu belum sempat dimatikannya saat nama Kim Aeri muncul di layar, Hye ri sempat berpikir tapi kemudian ia menjawabnya. Suara Aeri segera menyerbu gendang telinga Hye ri, membuat yeoja itu menjauhkan telinganya dari ponsel.

Hye ri membiarkan Aeri mengomelinya sebelum akhirnya ia meminta Aeri untuk melakukan sesuatu. “Eonni, bisa minta security mengantarkan mobil dan tas ku ke rumah? Kurasa aku tidak ingin kembali ke kantor. Oh! dan pastikan Key tidak tahu hal ini.” pinta Hye ri dan diiyakan begitu saja oleh Aeri.

Sambungan telepon baru saja terputus saat telepon lain menyusul. Hye ri membulatkan kedua matanya. Oh! sudah berapa lama ia melupakan orang ini? Sambil berjalan Hye ri menjawab panggilan.

Yeoboseyo, eomma.” Hye ri nyaris berteriak senang sekaligus terharu. Sudah berapa lama ia tidak berkunjung ke rumah eomma nya semenjak ia menikah?

Nyonya Min tidak bicara banyak, ia hanya menanyakan kapan Hye ri bisa mengunjungi nya. Nyonya Min begitu merindukan putrinya dan ingin menghabiskan waktu bersama.

“Ah! Hari ini aku dan Key tidak bisa eomma, kami sibuk. Mungkin besok aku bisa datang, eottaeyo?” Hye ri berusaha meyakinkan, karena dirinya pun saat ini tengah membutuhkan eomma untuk berada di samping nya.

Sambungan telepon terputus, Hye ri menatap layar ponselnya. Ada rasa penasaran untuk mengecek isi pesan-pesan singkat yang masuk. Apa salah satunya dari Key? Apa Key mengkhawatirkannya? Jari Hye ri telah membuka kotak masuk, dan nyaris saja membaca salah satu pesan singkat dari Key saat tiba-tiba kejadian memuakkan siang tadi kembali berputar dalam kepalanya. Dan akhirnya jari Hye ri justru menekan tombol power off, kemudian memasukkan ponselnya ke saku coat.

***

“Key… aku baru tahu bahwa kau adalah seorang pecundang!” kalimat itu menusuk tepat di dada Key, membuatnya sempat tertegun. Benar! Ia seorang pecundang, mengapa ia bahkan tidak bisa membela harga diri istrinya? Bahkan ia membiarkan Hye ri berlari meninggalkan aula, seharusnya ia mencegahnya.

Key menatap Aeri yang setengah berlari meninggalkan aula, ia masih sempat melihar gurat kekesalan di wajah Aeri. Apa yang akan dilakukannya jika sahabat Hye ri sendiri telah membencinya? Sungguh! Key merasa dirinya benar-benar seorang pecundang.

Key melirik ke arah Jinki yang masih di tempatnya, dan tanpa mengatakan apa pun berjalan menuju pintu utama yang terbuka lebar.

“Key, kurasa pipi ku memar. Bisa antar aku ke klinik?” Nicole segera menahannya, membuat langkah Key terhenti.

Key berbalik, menatap Nicole “Kau bisa mengompresnya dengan es, maafkan istriku atas kejadian ini.” Key membungkukkan badannya pada Nicole kemudian segera berlari meninggalkan aula, ia tak peduli saat Nicole terus memanggil-manggil namanya. Yang ada di pikirannya hanyalah menemukan Hye ri secepat mungkin dan meminta maaf padanya.

Key mengikuti arah kaki nya berlari, pikirannya kalut. Tanpa ia sadari kaki nya berbelok begitu saja ke dalam toilet wanita, untunglah toilet wanita itu sepi. Key berjalan gusar mengabsen setiap bilik yang ternyata kosong.

Key berlari, mengejar lift yang nyaris saja tertutup. Dengan tidak sabaran akhirnya lift tiba di lantai tiga. Ia berlari menyusuri koridor bagian pemasaran, berjalan ke salah satu meja yang sudah sangat dikenalinya. Berharap ia melihat sosok itu di sana, meskipun ia yakin sosok itu pasti sedang menangis.

Kosong.

Hanya layar PC yang mati dan meja kosong tanpa pemiliknya. Key sempat melirik tas hitam Hye ri, masih teronggok di atas meja. Yeoja itu masih berada dalam kantor, dan dengan cepat Key berlari menuju lobi. Otaknya bekerja keras memikirkan kira-kira ke mana yeoja nya berlari.

Kaki Key berlari menuju tempat parkir, hatinya mencelos. Ternyata mobil Hye ri masih tetap di tempatnya semula, lalu ke mana perginya Hye ri?

“Aaaarrgghhh!!” Key mengerang, menendang ban mobil belakang Hye ri kesal. Ia mengacak rambutnya frustasi, ke mana ia harus mencari Hye ri?

Tubuh Key merosot, bersandar pada mobil ungu itu. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Benar-benar bodoh! Ia merogoh saku jas nya, mengeluarkan ponsel dan segera mendial tombol 9. Hanya mencoba sebuah kemungkinan, mungkin saja Hye ri mau menjawab teleponnya.

Sudah kesembilan kalinya, dan yang Key dengar hanyalah nada sambung yang memuakkan. Key menaruh lagi ponselnya, Hye ri benar-benar tidak mau menjawab panggilannya. Ke mana sebenarnya yeoja itu? Apa ia baik-baik saja? Pikiran Key sangat kacau, bagaimana jika hal buruk terjadi pada Hye ri?

Kekalutannya belum berakhir saat ia mengingat ada satu tempat yang belum ia datangi. Yeah! Tempat itu, pastilah Hye ri ada di sana. Key berlari, menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya di lobi. Tapi ia tidak peduli dan segera berbelok ke pintu tangga darurat.

Key terus menaiki tangga, melewati angka-angka besar yang tertulis di dinding. Nafasnya mulai tersengal, ia bahkan telah melonggarkan dasinya. Key berhenti, nafasnya memburu saat ia telah berada di depan pintu darurat di lantai lima. Yeoja itu tidak ada, ia menghela nafas kecewa. Ia seorang pecundang, ia tidak mengenal Hye ri dengan baik hingga otaknya tidak bisa memikirkan lagi ke mana yeoja itu menghilang. Atau mungkin… Key berjengit, masih ada satu tempat lagi.

***

KLEK

Pintu terbuka, Key segera masuk ke dalam rumahnya yang gelap. Hanya lampu-lampu kecil yang menyala. Ia melangkah, melewati ruang tengah dan dapur.

Tubuhnya terasa remuk, hari ini ia berlari ke sana ke mari. Dan terakhir ia mendatangi Minho. Yeah! Ahjumma penjual bunga itu memberitahu Key bahwa Hye ri baru saja meninggalkan area pemakaman. Oh! selain itu ahjumma penjual bunga meminta Key untuk menjaga Hye ri dengan baik. Apa Hye ri menceritakan kejadian siang tadi? Aish! Ia benar-benar suami yang buruk.

Perlahan Key membuka pintu kamar, hanya lampu tidur yang menyala. Ia menarik nafas lega saat yeoja yang sedari tadi dicarinya telah tertidur.

Ia masih berdiri di ambang pintu, memandang Hye ri dari sana. Ini pertama kalinya Hye ri tidur dengan posisi yang tidak membelakangi Key. Yeoja itu tertidur menghadap tempat di mana Key biasanya tidur, satu tangannya terulur ke atas bantal yang biasa digunakan Key. Andai saja saat ini Key tengah tertidur di sana bersama Hye ri…

Pikiran itu buyar, sambil mengendap Key memasuki kamar. Mengambil selimut dari dalam lemari kemudian menutup pintu kamar. Sepertinya malam ini ia akan tidur di ruang tengah. Itu lebih baik dibandingkan Hye ri yang akan langsung melihat mukanya saat bangun nanti. Mungkin besok pagi Key bisa melakukan surprise kecil sebagai permintaan maaf pada Hye ri.

***

Cahaya matahari menelusup melalui celah-celah tirai yang tersibak angin, kicauan burung kecil yang melintas di atap kamar membuat Hye ri terbangun.

Sambil menguap ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, mata nya terasa masih berat. Jinjja! Hari kemarin telah menguras seluruh enerji nya. Hye ri memandang langit-langit kamar hingga seluruh kesadarannya terkumpul.

Ia kemudian melirik ke samping kiri nya, mengelus seprai yang masih rapi. Yeoja itu memberengut kecewa, ternyata Key tidak pulang. Hye ri beranjak, menelan rasa kesalnya yang tiba-tiba kembali menyeruak memenuhi rongga dada.

Setelah menghela nafas dalam, ia menyemangati diri. Yeah! Hari ini ia akan pulang ke rumahnya, bertemu dengan eomma nya, tidur di kamarnya yang dulu. Mungkin itu akan membuatnya lebih baik, membiasakan dirinya tanpa Key mulai saat ini.

Nyaris tiga puluh menit berlalu, Hye ri baru saja berganti pakaian. Mandi benar-benar membuat pikirannya lebih segar, ditatapnya lagi dirinya di depan cermin. Dari ujung rambut hingga kaki, matanya masih terlihat sembab dan ah… sepertinya celana pendek yang ia kenakan menjadi longgar.

Kriuuukkk…

Suara kecil itu seolah menjawab pertanyaan dalam kepala Hye ri, ia belum makan sejak kemarin siang. Tanpa pikir lagi Hye ri melenggang menuju dapur, mungkin ia bisa membuat sandwich spesial untuk mengisi perutnya.

“Oh! Ireonasseo? Kemarilah, aku membuatkan nasi goreng kesukaanmu.” Hye ri menahan langkahnya, ia terkejut saat mendapati Key tengah sibuk di dapur. Sementara di atas meja tersaji dua piring nasi goreng dengan parutan keju di atasnya.

Hye ri tertegun, kapan Key pulang? Ia bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Beberapa detik Hye ri hanya diam, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia terkejut, sekaligus senang.

“Yaa!!! Kau mendengarku?” Key melambaikan tangannya saat menyadari Hye ri hanya diam.

Yeoja itu masih diam, ia mengamati Key. Mengamati namja yang tengah berbicara kepadanya, namja yang mengajaknya sarapan nasi goreng dengan parutan keju yang paling ia suka, namja yang tersenyum begitu manis padanya seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Seketika rasa sakit itu muncul lagi, membuat Hye ri merasa muak dengan senyuman Key. “Ayolah, kau tidak mau makan? Hei! Jangan bercanda, aku sudah membuatnya hanya untukmu.” Goda Key, ia menunjukkan ekspresi seperti orang marah. Yeah! Setidaknya hanya itu yang terpikirkan olehnya untuk mencairkan suasana, setelah sarapan ia akan meminta maaf pada Hye ri.

Nasi goreng itu terasa begitu menggoda bagi perut Hye ri, tapi kali ini Hye ri lebih memilih untuk menyelamatkan harga dirinya ketimbang perutnya. Mana bisa Key memperlakukannya seperti itu? Seolah tidak pernah terjadi apa pun.

“Aku tidak akan makan apa pun bersamamu.” Ucap Hye ri, kemudian berbalik dan hendak meninggalkan Key.

Senyuman di wajah Key hilang, ia menyadari bahwa usahanya gagal. “Hye ri-ya aku…” kalimat Key segera terpotong “Aku akan meminta maaf pada Nicole saat aku bertemu dengannya nanti, jika itu yang ingin kau katakan.” Membuat jantung Key mencelos, tentu saja Hye ri masih terluka karena kejadian kemarin.

“Bukan itu Hye ri-ya aku….” Key melepas apron ungu milik Hye ri yang ia kenakan sembarangan, kemudian berhambur ke arah  Hye ri. “Aku tidak ingin makan apa pun bersamamu! Anggap saja itu hukuman karena kau membiarkanku terjatuh kemarin.” Hye ri memutar tubuhnya agar ia membelakangi Key, ia tidak mau melihat wajah Key saat ini.

“Kau terjatuh? Di mana? Apanya yang sakit?” Key kembali berhambur ke arah Hye ri, mencari-cari luka di tubuh Hye ri saat yeoja itu kembali berbalik dan membelakangi nya. “Bukan urusanmu!” ucap Hye ri ketus, ia kembali berjalan meninggalkan Key.

Mianhae.” Akhirnya kalimat yang sedari tadi Key tahan meluncur begitu saja, Key menahan nafas setelah mengucapkannya. Jantung nya berdebar lebih cepat saat menunggu reaksi apa yang akan diperlihatkan Hye ri.

Mianhae karena aku tidak menjaga harga dirimu, karena aku membiarkanmu berlari meninggalkan aula, karena aku tidak mencegahnya dan karena aku… “ Key menggantungkan kalimatnya, membuat Hye ri berbalik dan menghadapnya.

Akhirnya mata mereka bertemu, Key menatap kedua mata sembab itu. Pastilah Hye ri menangis lebih banyak dari yang ia bayangkan hari kemarin. “… karena aku tidak bisa menemukanmu hingga kau pulang ke rumah. Kukira kau ada di tangga darurat tapi..” Key tidak melanjutkan kalimatnya, itu membuatnya kembali teringat betapa pecundangnya seorang Kim Kibum.

Hye ri masih diam, ujung bibir kanannya terangkat. Namja itu mencarinya, boleh Hye ri merasa senang? Sungguh! Rasanya ia ingin berhambur kea rah namja itu dan memeluknya erat, ingin menceritakan seberapa kesalnya Hye ri pada Key hari kemarin.

“Jadi, kau mau sarapan bersamaku? Eottae? Kau belum makan dari kemarin?” pinta Key dengan puppy eyes. Nyaris saja Hye ri melupakan ego nya saat melihat kedua mata Key, tapi sesuatu yang berkelebat dalam pikirannya membuat keinginannya kalah.

Andwae. Aku tetap akan menghukummu.” Membuat Key membulatkan kedua matanya. “Bisa belikan aku mie jajang?” pinta Hye ri cepat. Key mengernyitkan dahinya, berpikir apa nasi goreng buatannya benar-benar tidak menarik perhatian Hye ri?

Key sempat menimbang “Jika aku membelikanmu, kau mau sarapan bersamaku?”. Hye ri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya ringan. Key terlonjak senang, meraih ponsel di atas counter dapur dan hendak menekan tombol salah satu rumah makan terdekat yang menjual mie jajang “Tidak! Tidak delivery service, aku ingin kau yang membelikannya untukku. Berjalan dengan kedua kakimu dan membawakannya langsung di atas tanganmu.”

Key memandang Hye ri, sepertinya kesalahannya kemarin sangatlah fatal dan membuat Hye ri benar-benar terluka. Geurae, ia akan melakukan apa pun agar yeoja nya mau mengisi perutnya. “Kau akan memaafkanku? Jika aku melakukannya kau akan memaafkanku atas kejadian kemarin?“ Key berusaha meyakinkan.

Sorot mata Hye ri meredup, tapi ia kembali tersenyum sambil menganggukkan kepanya ringan.

“Baiklah! Kau tunggu di sini! Jangan menyentuh apa pun di atas meja makan ini! Kita akan sarapan bersama, jangan mulai tanpa diriku, ara?!” Key berlari ke ruang tengah, meraih kunci mobil di meja. “Jangan menyentuh apa pun sebelum aku kembali, ara?!” sekali lagi Key meyakinkan Hye ri sebelum ia meninggalkan rumah dan lagi-lagi hanya dijawab oleh anggukkakn kecil dari Hye ri.

Blam.

Pintu tertutup, Hye ri menatap mobil Key yang menjauh dari halaman rumahnya. Menatapnya lekat sambil menghela nafas. “Mianhae.” Bisik Hye ri, ia menahan airmatanya agar tidak jatuh. Ia berjalan menuju kamar, mengusap kasar airmatanya yang jatuh tanpa seijin Hye ri. Berdecak kesal karena menyadari betapa cengeng dirinya saat ini. Ini menyakitkan, tapi ia harus mulai terbiasa tanpa Key. Menghindari melakukan aktifitas harian bersama Key, agar nanti ia tidak usah menderita saat melakukan hal-hal itu tanpa Key.

***

Key menginjak gas cukup dalam,  senyum itu tak henti menghiasi wajahnya. Nyaris saja ia merasa bahwa Hye ri tidak akan memaafkannya. Untung saja, ternyata yeoja itu memaafkannya hanya dengan mie jajang.

Key menginjak gas semakin dalam, tak sabar ingin segera kembali ke rumah dengan dua porsi mie jajang. Ia membayangkan bagaimana reaksi Hye ri nanti, yeoja itu pasti akan sangat senang dan makan dengan lahap. Yeah! Mereka akan makan bersama, makan bersama yang menyenangkan. Ia akan menceritakan hal-hal lucu yang membuat Hye ri tertawa seperti biasanya, kemudian mengusap wajah Hye ri jika ia tertawa hingga wajahnya memerah dan….

Ckiiiittttt….

Key menginjak rem mendadak saat sesuatu melintas dalam pikirannya. Mengapa ia baru menyadarinya? Min Hye ri, mengapa ia begitu cerdas? Key segera membanting stir dan memutar balik mobilnya, menginjak gas secepat yang ia bisa untuk kembali ke rumah.

Tidah boleh! Min Hye ri! Kau tidak boleh melakukannya, batin Key. Ia menginjak gas semakin dalam, jantung nya berdebar kencang, pikirannya mulai kacau. “Arrgghhht! Neo paboya Kim Kibum!” ia meninju stir kesal.

Key membanting pintu mobilnya saat ia tiba di halaman rumah, berlari secepat yang ia bisa. Mobil ungu itu masih di tempatnya, Key membuka pintu.

Hening… semuanya rapi seperti saat ia meninggalkan rumahnya beberapa menit yang lalu. Key berjalan menuju dapur, sarapan yang ia buat masih utuh tapi ia tidak menemukan Hye ri. “Andwae! Kau tidak boleh melakukannya Min Hye ri.” Gumam Key frustasi. Key berlari menuju ruang tengah, menuju halaman belakang dan yang terakhir adalah kamar.

Hanya itu tempat terakhir yang menjadi harapannya, dengan tangan bergetar Key memutar kenop pintu. Hanya kamar yang rapi seperti biasanya, Key berlari menuju kamar mandi dan hasilnya tetap sama.

“Aarrgghhhttt…..” Key mengerang frustasi, Hye ri benar-benar melakukannya. Mengapa ia baru menyadarinya? Mengapa ia berpikir sebegitu mudahnya mendapatkan maaf dari Hye ri setelah ia membuat hatinya terluka.

Key terduduk di karpet dalam kamarnya, mengacak rambutnya. Kalimat yang diucapkan Aeri kembali terngiang dalam kepalanya , benar! Ia adalah seorang pecundang. Pecundang yang membiarkan istrinya pergi membawa luka dalam hati.

Key hendak meninggalkan kamar saat sesuatu di cermin menarik perhatiannya. Secarik kertas dengan tulisan tangan yang tidak terlalu rapi karena ditulis terburu-buru.

Aku – Mrs.Kim Ingin sekali menikmati mie jajang bersama Mr.Kim Keybum, rasanya pasti daebak!

Tapi entah mengapa dada ku masih terasa sakit saat melihatmu menjauh dariku, seolah mengacuhkanku, sama seperti hari kemarin.

Rasanya benar-benar sakit dan aku harus mulai mengobatinya sendiri.

Yeah! Sendiri… aku harus mulai terbiasa tanpa dirimu…

Ini aneh, seharusnya aku merasa senang tapi… molla, aku tidak mengerti dengan apa yang kurasakan. kuharap aku mati bersama Minho.

Kim Hye ri Min Hye ri

Key tertegun membaca tiap baris kalimat yang ditulis Hye ri.

Tes.

Airmata itu akhirnya jatuh membasahi kertas yang ia pegang, memudarkan coretan terakhir dalam surat itu.

=TBC=

53 thoughts on “Archangel – part 17

  1. ahh Finally ni FF nongol juga ^^~ *tau kan thor gmn rasanya nunggu next part FF sequel?? apa lg TBCnya bner2 ngebunuh rasa penasaran readers keke [smpe bikin uring-uringan]😄

    Cieeee cieeee… Min Hye Ri udh mulai kesem-sem nih ceritanya ma Key?? > Yaaa~ Min Hye Ri.. it means u love him!! U dont know it?? or actually u already know it but you dont want to admit it? secara gk sadar Minho hanya dijadikan sbg sebuah alasan to cover up or disclaim her true feelings towards Key, right?. *hehe sotoy
    kliatan sirik deh ini reader..keke. habis, how perfect Key to be a husband!! *Ooops lirik Jjong ^^V

    Ehh di part ini, perasaan aku jdi ikut dmainin deh thor.. campur aduk hhe, marah, kesel, sedih, semuanya dapet dan itu tertuju pada KEY, Hye Ri, & terutama Nicole! you know lah ya! ..klo buat mba2 itu gk ada sisi sedihnya hehe *peace..
    tapi tapi.. part ini blm begitu menyedihkan sama blm gereget bgt thor buat aku except surat dari Min Hye Ri itu. sukses bikin berkaca-kaca!😥 seperti sbuah bongkahan batu besar yg menghujam dada.. -sesak rasanya- hehe *bahasa FF dah..

    waduh! miannhe commentnya kepanjangan ^^~

    Hwaiting thor for the next part!! I’ll always be waiting ^^
    Keep Writing~

  2. Akhirnya keluar juga part yg ini ,, nunggunya kaya nunggu teaser2 SHINee keluar .. halah#Lebay ,,, blm saya baca sihh ,, jadi tuggu komen panjang dari saya setelah habis membaca part ini ,,, here we ,,, here we GO!!

  3. I’am Back .. back … Back ,, back ….
    Gila .. Daebak lah part ini !!!!
    suka banget lah dengan kata2 ini
    “Key… aku baru tahu bahwa kau adalah seorang pecundang!”
    asa keren pisan aeri hehehheheh
    trus ,, geuleh banget sama si nicole ,,, ema2 itu maunya apaan sih ,,
    tp lb kesel lagi sama hye ri ,, ayo laaaaahhh kenapa sih padahal key udah minta maaf gitu … masa segala sesuatunya bakal berakhir gitu aja ,,, sayang banget lah !!!
    part ini bener2 menguras emosi ,, huuftftftftftfttftf

  4. eh, ternyata ff nya kalo di blog pribadi kamu itu udah sampe part 17 *o* tapi sayang. ada bbrp part yang di protect u.u
    hehe bytheway! aku nunggu next part nya ya^^
    aku sampe kebawa emosi. pengen nampol nicole *eh wkwk.
    benerr ya~ aku tunggu next partnya hehehe

  5. mwo?? wae? wae? wae??!! maksudnya kenapa hye ri? mau bunuh diri? tp katanya hye ri mau mengunjungi ibunya? aku jd bingung…

    ya ampun aku jd kesel ama nicole. bermuka dua!! konfliknya mantep. tp menurutku ttp hye ri yg salah. key gk salah apa2 kan? dia mencintai hye ri, tp hye ri selalu mengabaikannya. dan ttp mempertahankan minho dihatinya. key sudah berusaha agar hye ri bisa mencintainya tp ternyata hye ri malah memaksa dirinya agar ttp mencintai minho bkn key. hye ri gk usaha!! dan pas keynya mulai menjauhinya, dia yg beranggapan key pecundang! aku jd kesel ama hye ri, terlalu egois, terlalu labil!

    sampai skrng kok blm ngungkit2 masalah donor sumsum tlng blkng lagi? tp setelah hye ri tahu kl sumsumnya didonor ke key bisa baikan gk ya? nanti hye ri jd makin sayang ama key saat tahu kl key dulu nasibnya sama kyk minho.. ya semoga.. cepat lanjut ya!!

    • wah, wah, aku kalo boleh jujur suka takut nih sama komen2nya hana. Tolong jangan marah sama Min Hye ri yah, aku jg ksel banget tuh sama cewek itu. Ko bsa2nya gituin Key *lho?*

      u/soal sumsum tulang belakang itu, aku sengaja pilih di part belakangan buat ngebahasanya. Soalnya pengen fokus dulu ke konflik Key-Hye ri yang cukup serius, sampe mereka lupa sama masa lalu.
      Nah, mari dilihat di part2 selanjutnya apa yang terjadi kalo Hye ri udah tau Key yang nerima sumsum tulang belakangnya.
      Thank you yh hana buat saran2 dan masukannya😀

      Oia, part 18 nya udah publish. Kamu bisa cek email buat tau passwordnya. Selamat membaca \(^o^)/

  6. Aaarrrggrhhh!!!
    rasanya aku pengen nyumpel mulutnya nicole pake kandang ayamnya bang jinki *eh(?)
    aishh aku bener² kesel tingkat akut ama Nicole. Ama Key jg bisa² nya dia ngebelain nicole di dpn umum gt.
    Hye ri-ya blm kh kw mnyadari prsaan mu sndri?? Tp knp mlah pergi??
    Sumpah thor ini daebak ‘-‘)b

  7. Sebel sama key disini! Kan dia udh janji buat jaga Hyeri dan sekarang malah lebih milih Nicole. Rada kesel nih sama nicole-_-
    Makin gregetan bacanya!!! Hahahha

  8. Aduuh Hyerii..
    Kenapa pake kabur segala siihh..
    Sumpah part ini bikin nyesek deh..
    Udah ah mau lanjut part selanjutnyaaa😀

  9. padahal aku udah mulai senyum2 sendiri pas baca reaksi hyeri yg nunjukin dia itu cemburu… tapi kok endingnya tetep nyesek T.T
    kyaa~ apa yg mau dilakuin hyeri… sampe kapan key ngenes terus nasibnya u.u

  10. Ini udah positif kalo hyeri jg suka sama key! Aaaah kau speechless gatau mau ngomong apa lg. Yg ada di pikiranku cuma terbang ke part selanjutnyaaa…

  11. Ini udah positif kalo hyeri jg suka sama key! Aaaah aku speechless gatau mau ngomong apa lg. Yg ada di pikiranku cuma terbang ke part selanjutnyaaa…

  12. konflik perasaannya rumit banget…. speechless deh bacanya. nicole… ah, lupakan ttg dia. kenapa sih kisah key-hyeri ini ga bs damai dan indah bgt saja….. #nangis nyesek….

  13. Eun cha, kau sukses buat aq mewek-mewek.. hikss..

    sedih bgt ceritanya,, nyesekkk…

    ARRgghhhhhh nicole,, sungguh jahat dirimu,,.
    key juga knp mesti ngebelain nicole,, buat hyeri tambah sakit hati aja…
    kesell bgt ma nicole… uuuuhhhhh… #esmositingkatdewa#

  14. huwaaaaaa, minggat nih si hye ri ceritanya *ga nyante

    hadeh, ni orang udah suka sama key masih aja ga mau ngaku2, bikin tambah gregetan aku sama mereka
    jujur aku kira hye ri mau maafin key, eh malah dia pergi ninggalin key, ga nyesel apa kalo key entar malah sama aku (?) amien, *di keroyok Lockets
    hehehe

  15. aduhh… bikin penasaran aja sich…!!! emang kayaknya tuh lo da perasaan haruz diomongin yar ga wat salah paham kayak key ma hye ri.. i like this ff, bikin penasaran truz…!!!!

  16. Sangat setuju dengan komen2 yang diatas,, part ini sukses buat aku kesel, kecewa, sedih nyampe nangis,,,
    nyesek bgt pas bagian key marahin Hyeri,, sama pas baca suratnya Hyeri,, gak nyangka kalo bakalan ada adegan Hyeri nyampe nampar Nicole segala…ckck Hyeri,, buruan gih baikan sama key,, dia tuh sayang banget lho sama kamu….

    • .ekekekek. selamat terkuras yah emosinya ^^v

      “Hyeri,, buruan gih baikan sama key,, dia tuh sayang banget lho sama kamu…” <– lucu banget deh komenmu yang bagian ini. Syuukaa b^^

  17. pada part ni aq cm mau bilang selamat ma eun cha….
    telah berhasil membuat emosiku turun naik…
    good jobs eun….🙂🙂🙂

  18. AAAAA!!!!!
    kesel ketika key nampar hyeri :@
    kasian ketika hyeri nangis2 di tangga😥
    (sempet) bengong ketika hyeri minta dibeliin jjangmyeon o.O
    nyesel ketika tau hyeri ngebohongin key dan dia kabur dr rumah, ketika baca surat dr hyeri buat key, huweeeee T___T
    sumpah part ini bnr2 fokus ke kehidupan rumah tangganya key ama hyeri yg lg kacau2nya, huks~
    sukses bikin nyesek bacanya, serius deh~~😥

    • Eh, yang nampar itu Hyeri ke Nicole looh. Key ga main gampar2an.hhe. ^^v
      iyh nih, ini fokus banget sama kekcauan rumah tangga mereka.kekek.
      mudah2an ga cape yaa bacanya, thank u😉

      • ehh iyaaaaa, key marahin hyeri mksdnya, aishhhh~
        maaf2 saking emosinya ama key jd semua kesalahan kyknya ada di key jadinya *ngeles*😛
        wkakakakakk~

        bacanya sih gak capek chaa, hatinya yg capek ngerasa diaduk2 perasaannya ama euncha lewat archangel ><

  19. Aigoo eonni aq nyesek bacanya…. TT

    #emosi tingkat dewa….
    aq marah sama hye ri,, kok gg bilang aja siih perasaanya ama kibum…
    wahhh gg diduga-duga lohhh kalo akhirnya hye ri pergi kermh eommanya,,
    kata”nya bagus eonni,, gg bosen bacanya

  20. Aaaaaaaahh, aku bgung hrus koment mulai dr mana?
    Si hye ri udh mulai cinta ama key, dan nggak ada rasa lg ama minho
    Tapi knapa egois sih?
    Bkin penasaran deh TBC-nya, hadeh
    Lanjut part selanjutnya

  21. Auwhhh konfliknya bikin gereget.
    Hyeri udah cinta kan sama key? Iyalah pasti buktinya hyeri cemburu kalo key sama nicole.
    Scene diaula itu bner2 bikin emosi eh demi apa ;u;
    Note yang dibaca key ko nyesek sih apalagi kalimat terakhir huaaaa;;;;;
    Nice fiction, really

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s