[FF KEY B’DAY PARTY] Clue [1.2]

Clue – part 1.2

Author             : Song Eun cha

Main Cast        : Kim Key bum | Min Hye ri | Lee Jinki

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre              : Thriller

Type/Length    : Two shots

Rating              : PG 16

Firstly press at: SF3SI

Summary         : The culprit is in here. No one can leave, you and I or anyone else.

22 September 2012

Hye ri kembali merapatkan jaket hitam milik Key yang sedari tadi menyampir di kedua bahu nya. Hembusan angin malam musim gugur benar-benar menusuk hingga tulang. Ia mempercepat langkahnya yang diikuti oleh Key yang sedari tadi berjalan berdampingan dengannya.

Drrrttt

Ponsel Hye ri bergetar lagi, ia melirik Key sekilas kemudian membaca pesan singkat tersebut sambil memunggungi Key. Kedua ujung bibir Hye ri terangkat, wajahnya berseri-seri saat membaca pesan dari orang yang sangat ditunggunya.

From : Jinki Lee at 22.34

Kuharap kau tidak lupa dengan janji kita besok. Kau akan mati jika kau membatalkannya! Ya Tuhan! Kau tidak tahu betapa aku menunggu sangat lama untuk ini? kekek.

Hye ri mengulum senyum, segera menyembunyikan ponsel ke saku denimnya saat menyadari Key melongok dari balik punggung nya.

Nugu?” tanya Key penuh selidik, entah mengapa ia merasa gerak-gerik Hye ri hari ini sangat mencurigakan.

“Oh! Lee Jinki, kau tidak lupa kan besok kita diundang ke pesta kebunnya?” Key memaksakan seulas senyum. Hatinya mencelos, benar saja! kecurigaannya selama ini memang benar, bahwa diam-diam Jinki juga mengincar Hye ri.

Sial! Jinki tidak pernah main-main dalam bersaing, Key harus bergerak cepat jika tidak mau Jinki meminta Hye ri untuk jadi kekasihnya. Key tertunduk, menendang kerikil kecil dengan kaki kanannya. Aish! Bahkan ia tidak punya keberanian hanya untuk mengatakan ia menyukai yeoja yang sudah lama ia dekati ini.

Keduanya berhenti saat tiba di pelataran rumah yang didominasi dinding bata, Hye ri berbalik menghadap Key.

Gomawo.” Ucapnya seraya melepas jaket hitam Key yang menghangatkan tubuhnya sejak mereka turun dari bus.

Key meraih jaketnya dan memakainya begitu saja saat yeoja itu berbalik. Pikirannya terlalu kacau untuk menerima kenyataan bahwa ia tengah bersaing dengan Jinki. Ia tidak bisa menang jika Jinki adalah saingannya, selalu seperti itu sejak mereka di bangku sekolah dasar.

“Euh… Hye ri-ya…” Key menarik tangan Hye ri sebelum yeoja itu mencapai pegangan pintu gerbang. Hye ri berbalik, mata mereka bertemu.

Deg..deg..deg… lagi-lagi jantung Key berisik tak karuan! Ya Tuhan! Jika seperti ini terus bagaimana bisa ia menang dari Jinki?

“Besok… bagaimana jika kita pergi bersama ke rumah Jinki?” jantung Key mencelos, tidak apa-apa kah jika ia mengajak Hye ri pergi bersama?

Hye ri mengerutkan dahinya, mengusap dagu dengan ibu jari dan telunjuknya sambil menyipitkan mata curiga. “Tapi Jinki bilang akan menjemputku.” Benar saja dugaan Key! Jinki memang sudah bergerak lebih cepat.

Key memutar bolamatanya, seolah berpikir tentang alasan apa yang harus ia katakan agar Hye ri mau pergi bersamanya. Ia tahu, saat Jinki menjemput Hye ri besok. Namja licik itu akan meminta Hye ri menjadi kekasihnya sebelum mereka tiba di rumah Jinki. Tidak boleh! Sebelum itu terjadi, Key harus lebih dulu meminta Hye ri menjadi kekasihnya. Ia yakin Hye ri pun menyukainya…errr… setidaknya jika Jinki tidak muncul di hadapan mereka dan membuat pendirian Hye ri goyah.

Seolah bisa membaca pikiran Key, Hye ri tersenyum kecil. Menatap Key dengan sedikit rasa geli.

Geurae, kita akan pergi bersama.” Key menatap Hye ri tak percaya, jinjja? Yes! Jinki akan kalah telak.

“… tapi itu jika kau bisa menjawab pertanyaanku.” Lanjut Hye ri dan sukses membuat senyuman di wajah Key lenyap. Key berdecak kesal dalam hatinya, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada yeoja aneh yang suka main tebak-tebakan dan memecahkan teka-teki permainan detektif? Sungguh! Tuhan benar-benar tidak adil, mengapa Min Hye ri sangat cocok dengan Lee Jinki yang pintar itu?

Key setengah membuka mulutnya sebelum ia menerima tawaran Hye ri, sementara otaknya sibuk berpikir pertanyaan macam apa yang akan dilontarkan Hye ri.

Sure!” Key mendesah ringan, menarik nafas dalam. Ia tahu akan selalu ada banyak teka-teki yang harus ia pecahkan sebelum mendapatkan Hye ri. Tapi itu tidak masalah, toh agar bisa berkencan hari ini dengan Hye ri pun Key telah memecahkan kasus detektif yang dibuat Hye ri.

Hye ri melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum kecil kemudian merengsek mendekati Key, membuat jantung namja itu semakin berisik tak karuan.

“Jawab pertanyaanku dengan cepat! Kau tidak boleh berpikir lebih dari dua detik, arasseo?!”

Dengan sedikit gugup Key menganggukkan kepalanya. “Fokus!” ucap Hye ri lagi.

“Apa warna rambutmu?” tanya Hye ri cepat.

Chesnut brown.” Jawab Key cepat.

“Sebelum kau mewarnainya?” tanya Hye ri lagi tak kalah cepat.

“Hitam.”

“Apa warna alismu?”

“…Sebelum kau mewarnainya.” Tambah Hye ri lagi.

“Hitam.”

“Apa warna aspal yang kau injak?”

“Hitam.”

“Lalu kapan kelelawar tidur?”

“Malam.”

Pletakkk.

“Awww.” Key mengerang, ia mengusap kepalanya yang baru dijitak Hye ri.

Yeoja itu mendengus “Kubilang fokus! Kelelawar itu tidur siang hari! Aish!” Hye ri memanyunkan bibirnya kesal. Sekali lagi matanya mendelik ke arah Key.

Key mengutuki dirinya! Benar saja! permainan warna hitam itu membuatnya tidak fokus. Mana ada kelelawar tidur di malam hari?! Aish! Gagal sudah rencananya. Key menatap Hye ri dengan puppy eyes nya, berharap Hye ri akan tetap menyetujui ajakannya besok. Karena jika tidak, tamatlah sudah cinta nya pada Hye ri selama ini.

“Jadi, kau akan tetap pergi bersama Jinki besok? Hmm, ayolah! Jinki mungkin akan sibuk untuk persiapan pesta kebun.” Key kembali berusaha meyakinkan Hye ri untuk pergi bersamanya besok.

Hye ri memandang Key “Kau benar juga! Sepertinya Jinki akan sangat sibuk besok. Geurae, aku akan pergi bersamamu.” Hye ri mengangguk-anggukkan kepalanya, diiringi senyum yang mengembang di wajah Key. Yes!!!

“Besok aku akan datang jam 9, bersiaplah.” Ucap Key mantap, dan ditanggapi oleh senyuman dari Hye ri.

***

23 September 2012

Key mematut lagi dirinya di depan cermin, memeriksa lagi denim dan kemeja kotak-kotak hijaunya yang tidak ia kancingkan, membiarkan t-shirt putih nya terlihat begitu saja. Ia mengacak sedikit rambut Chesnut brown nya untuk mendapat kesan bad boy, kemudian berlalu.

Pukul 8.50, Key telah menekan bel rumah Hye ri sebanyak dua kali. Jinjja! Jantung nya berdebar lebih kencang dari yang seharusnya, hingga rasanya akan melompat dari rongga dada nya jika saja itu bisa terjadi. Key mengedarkan pandangan nya ke sekitar rumah Hye ri, kaki kanan nya mengetuk-ngetuk marmer abu yang diinjaknya, sementara tangan kirinya yang memegang bunga azalea berwarna kuning tetap ia sembunyikan di balik tubuhnya.

“Oh! Wasseo?” Key segera mendapati sosok Hye ri dengan dress putih berenda selutut yang dipadu dengan jaket kulit hitam, sementara roll rambut masih menggulung rambut bagian depannya.

Key sempat tertegun memandang Hye ri, yeoja itu terlihat lebih cantik dari biasanya. Ia mengenakan make up tipis dan maskara yang membuat bulu matanya naik 35°.

Hye ri sempat melambaikan tangannya di hadapan wajah Key hingga namja itu kembali pada alam sadar nya “Oh! bisa tunggu aku lima menit lagi?” dan Key hanya mampu menganggukkan kepalanya.

Blam!

Pintu kembali tertutup, meninggalkan Key yang masih membeku di luar rumah.

***

Tangan Key kembali bergerak, berusaha meraih tangan Hye ri yang tersimpan rapi di atas kedua pahanya. Belum sempat tangannya meraih tangan Hye ri, ia segera menariknya kembali. Aish! Mengapa rasanya sulit sekali mengatakan bahwa ia menyukai yeoja di sampingnya.

Akhirnya Key hanya menatap Hye ri, mengagumi yeoja yang hari ini terlihat begitu cantik dan berbeda. Dan sungguh! Rasanya Key tidak ingin membagi hal ini dengan Jinki, atau dengan siapa pun di pesta kebun nanti.

Mata Key kini beralih pada azalea kuning di tangan Hye ri, bunga itu telah diserahkannya sebelum mereka naik ke dalam taksi yang mereka tumpangi saat ini, tapi ia sama sekali tidak berani mengatakan apa maksud dan tujuannya.

“Kita sudah sampai Key.” Hye ri membuyarkan lamunan Key, membuat Key baru menyadari bahwa taksi yang mereka tumpangi telah berhenti tepat di depan sebuah rumah dengan desain artdeco berwarna putih.

“Ah! Ne.” Key tidak berkutik, ia mengikuti Hye ri keluar dari taksi dan melangkah menuju gerbang hitam yang tinggi itu. Jantung nya dag dig dug, tak lama lagi mereka akan bertemu Jinki, matilah jika Jinki melakukan yang ditakutkannya.

Key sempat tertegun, diam di tempat merupakan satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya untuk mengulur waktu. “Kau kenapa? Kajja!” tanpa babibu lagi Hye ri segera menarik tangan Key, membuat Key semakin lemas, apa ini saatnya untuk menyatakan cinta?

“Euh Hye ri-ya, wait!” Key menahan langkahnya, membuat Hye ri ikut-ikutan berhenti dan memandangnya seolah mengatakan apa?

“Hye ri ya sebenarnya aku…” Key menggantungkannya, jantung nya semakin berisik tak karuan dan kini ia tak berani menatap mata Hye ri.

Hye ri mengangkat kedua alisnya, menunggu Key melanjutkan kalimatnya.

“…sebenarnya aku me-“

Kreeettttt

Tiba-tiba pagar tinggi rumah Jinki terbuka perlahan, membuat keduanya memandang ke arah suara.  Kalimat yang sempat tersusun dalam pikiran Key buyar, ia menatap heran pagar yang telag terbuka cukup lebar.

“Apa pintu ini terbuka otomatis? Atau Jinki mengendalikannya di dalam rumah?” tanya Key tiba-tiba, entah mengapa hal kecil itu terasa begitu janggal baginya. Setau Key, tidak ada pintu di rumah Jinki yang bisa dikendalikan oleh alat, semuanya dikendalikan secara manual.

“Kurasa Jinki yang mengendalikannya dari dalam, sudahlah ayo kita masuk Key. Sepertinya hanya kita yang belum ada di sana.” Hye ri kembali menarik Key, dengan tidak sabaran yeoja itu berlari menuju pintu depan.

Keduanya kembali diam saat mendapati pintu telah terbuka sedikit, saling memandang dengan pikiran masing-masing. “Sebaiknya kita cepat masuk.” Seolah bisa membaca pikiran Key, Hye ri kemudian mendorong kenop pintu.

Sepi, mereka tidak mendapati si pemilik rumah atau teman-teman mereka yang seharusnya telah berada di sana. Mata Key menyapu ruang tamu yang cukup luas dan rapi itu, memperhatikan dengan seksama beberapa pintu yang ada di sana, berharap ada seseorang yang keluar dan menyambut mereka. Yeah! Setidaknya itu akan membuat Key merasa sedikit lega dengan suasana aneh ini.

“Mungkin mereka di kebun belakang.” Key berusaha mengenyahkan pikiran aneh yang terus berputar dalam kepalanya, ia menoleh ke belakang saat tidak ada jawaban dari Hye ri.

Yeoja itu terbelalak menatap tangan kananya, wajahnya pucat seperti baru melihat hantu. “Hye ri-ya apa yang-“ pertanyaan Key terhenti saat ia melihat bercak darah yang sedikit mengering di telapak tangan Hye ri, membentuk menyerupai gagang pintu.

Hye ri memandang Key penuh ketakutan “Sesuatu telah terjadi Key….” Ucapnya getir, kemudian berjalan menuju pintu dan memeriksa gagang nya. Key hanya mengekor dan matanya terbelalak saat mendapati ada bekas darah di sana.

“Sebaiknya kita pulang.” Key Manahan tangan Hye ri saat yeoja itu berjalan memasuki bagian rumah.

There must be something wrong Key. Kita harus mencaritahunya, apa yang terjadi pada Jinki, Jonghyun, Taemin dan Minho?” ucap Hye ri serak, wajahnya masih terlihat sedikit syok.

Key memandang Hye ri, ia menimbang dengan apa yang diucapkan Hye ri dan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Hye ri kembali menarik tangan Key “Hye ri, ini bukan permainan detektif. Berbahaya! Sebaiknya kita pulang dan lapor polisi.” Akhirnya Key memutuskan untuk mengambil jalan paling aman.

Ekspresi wajah Hye ri berubah, ketakutan yang sempat terpancar di wajahnya menghilang. “Oh! Ayolah Key, bagaimana jika sesuatu terjadi pada yang lainnya? Bagaimana jika semuanya terlambat setelah kita melapor polisi?”

Key sempat berdecak kesal, ia tahu ada maksud lain dari perkataan Hye ri. Dan hanya ada satu kata yang tepat untuk Hye ri saat ini- freak!. Sempat-sempatnya ia bermain detektif di saat yang tidak tepat ini?

Key melangkah begitu saja saat Hye ri terus menariknya ke dalam, yeoja itu melalui bingkai pintu besar yang membawa mereka ke ruang tengah keluarga Lee.

Sepi. Hanya ruang tamu luas yang rapi, semilir angin bertiup saat Key melangkah ke sana, membuat bulu kuduknya meremang.

“Hye ri-ya, sebaiknya kita-“ lagi-lagi Hye ri membuat Key memotong kalimatnya.

“Sshhh! Kau dengar sesuatu?” Hye ri mengangkat telunjuk tangan kanan setinggi dagunya, kedua matanya menyipit seolah tengah berkonsentrasi penuh pada sesuatu yang di dengarnya.

Key mempertajam pendengarannya, berusaha menangkap suara yang dimaksud Hye ri. Tapi nihil, tak ada suara apa pun yang terdengar selain hembusan angin dari ventilasi ruang tengah dan benda-benda kristal yang saling bersentuhan karena tertiup angin.

“Hei! Jangan menakutiku.” Decak Key, ia mulai ketakutan. Sementara matanya mulai menjelajah sudut-sudut kecil di penjuru ruangan hanya untuk memastikan tidak ada yang bersembunyi di sana.

Hye ri melangkah menuju salah satu pintu berwarna coklat di sudut dekat jendela. Seingat Key, Jinki selalu mengatakan bahwa itu adalah ruang kerja appa nya dan tidak ada seorang pun yang boleh masuk ke sana selain Tuan Lee. Jika sampai itu terjadi, celakalah!

“Hye ri-ya, apa yang kau-“ lagi kalimat Key terputus saat Hye ri mengulurkan satu tangannya, member kode pada Key untuk tidak bersuara. Sementara ia semakin mendekat ke arah pintu, telinga  nya terpasang tajam.

“Sshhhtt! Kau dengar itu Key?“ Terang Hye ri, ia semakin mengendap mendekati pintu. Sementara tangan kanannya terulur hendak memutar kenop pintu.

Key mulai panik saat telinga nya menangkap suara yang dimaksud Hye ri. Seperti suara botol yang disumbat gabus, kemudian gabusnya ditarik sehingga menimbulkan suara lucu sesaat. Tak lama setelah nya terdengar suara erangan kecil, suara itu terdengar berat dan kesakitan. Seketika berbagai hal berkelebat dalam pikiran Key.

Klek.

Hye ri memutar kenop pintu, ia sempat melirik Key sebelum akhirnya mendorong pintu perlahan, menimbulkan suara berderit pelan.

“Hye ri-ya, kita tidak boleh masuk ke sana. Itu ruang kerja Tuan Lee.” Key berusaha memperingatkan, tapi Hye ri tak mengindahkannya dan justru masuk ke dalam ruangan itu. Key tidak punya pilihan lain dan terpaksa menyeret kaki nya untuk ikut masuk. Langkahnya terhenti karena ia menabrak punggung Hye ri yang nyaris membuatnya terjengkang ke belakang jika saja ia tidak sigap menjaga kesimbangan tubuhnya.

Hye ri membeku di tempatnya – hanya beberapa senti dari pintu- , Key berjalan ke samping Hye ri, melongok wajah yeoja itu. Ia terbelalak, membekap mulut dengan kelima jari tangannya. Dengan sedikit ragu Key menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah yang ditatap Hye ri. Mata Key terbelalak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Katakan ini hanya mimpi! Batin Key.

Minho terduduk di kursi kerja, kepalanya tertunduk seolah sedang tidur, kedua tangannya terkulai begitu saja ke samping pinggiran kursi. Tapi entah mengapa hal itu membuat Key memikirkan hal yang lain. Ada aura janggal yang dirasakannya begitu kuat adalam ruangan itu.

Key masih terpaku di tempatnya saat Hye ri mulai mengendap mendekati Minho. “M..m..Minho-ya.” Panggil Hye ri, satu tangannya hendak menyentuh Minho. Tak ada jawaban dari Minho, membuat Hye ri memandang Key dengan mata penuh ketakutan.

Key berdeham pelan untuk menghilangkan rasa takutnya, berusaha melemaskan otot-otot tubuhnya yang mulai menegang dengan berjalan ringan ke depan meja-menghadap Minho-. “Hei! Kenapa kau tidur di sini Minho-ya? Mana yang lainnya?” tanya Key gugup, sementara jantung nya berdebar kencang.

Masih tidak ada jawaban dari Minho, Key dan Hye ri saling berpandangan dengan pikiran masing-masing. Hye ri kembali mengendap, mendekati Minho sambil menundukkan kepalanya, berusaha menatap wajah Minho yang tertunduk.

“Minho-ya.”

Sreeetttt…. Bruukkk…

Tubuh Minho ambruk ke lantai berlapis karpet biru tua begitu Hye ri mengguncangkannya, namja itu terkulai lemas di atas karpet dengan posisi tertelungkup. Hye ri segera mundur, kembali membekap mulutnya saat menyadari sebuah lubang kecil menganga di bagian belakang kepala Minho, ada cairan setengah kering yang menempel pada rambutnya.

Key terbelalak, ia berharap apa yang dilihatnya adalah mimpi. Seketika kedua matanya menjelajah dudukan kursi yang setengah basah oleh cairan kental berwarna merah. Key melongok ke arah dudukan kursi, hanya untuk memastikan ia tidak salah lihat. Dan hasilnya semakin mencengangkannya, darah itu membasahi dudukan kursi, bahkan sudah hampir mengering.

ANDWAE!! MINHO-YA APA YANG-“ Key hendak berhambur ke arah Minho saat Hye ri menahan Key dengan satu tangannya, mengisyaratakan agar Key tetap diam di tempatnya. Hye ri kembali mengendap mendekati Minho sambil sesekali melirik Key. Dengan kaki gemetar Hye ri berjongkok di samping tubuh Minho, menyelipkan bagian bawah dress putihnya di antara kedua lipatan belakang lututnya, mata nya menatap Minho lekat sementara tangan kanannya mengeluarkan sesuatu dari saku jaket kulitnya –sapu tangan-.

Dengan dilapisi sapu tangan Hye ri mulai menyentuh urat nadi leher Minho, diam beberapa detik dengan konsentrasi penuh. Kemudian berpindah pada urat nadi tangan Minho, pupil matanya sempat membulat, kemudian memandang Key sekilas sebelum akhirnya menaruh telunjuk di dekat lubang hidung Minho.

Hye ri tertunduk membelakangi Key, membuat Key semakin tak sabaran. Hati nya terus mengira-ngira apa yang akan dikatakan Hye ri meskipun sebenarnya ia sudah tahu apa yang terjadi pada Minho.

“Key, dia tewas. Seseorang telah membunuhnya.” Ucap Hye ri getir, ia menatap Key penuh ketakutan. Key mundur beberapa langkah, tak percaya apa yang dikatakan Hye ri. Apa yang sebenarnya terjadi? Pikiran Key kacau, rasanya ia tidak bisa berpikir apa yang harus dilakukannya, ia terlalu terkejut dan ketakutan dengan keadaan ini. Ia nyaris berteriak saat sesuatu berkelebat dalam pikirannya, dengan cepat ia merogoh saku denim nya, mengeluarkan ponselnya.

“Ada yang tidak beres, kita harus telepon polisi.” Ucap Key serak, jari tangannya yang gemetar berusaha menekan tombol 911.

Wait Key! Lihat ini!” nyaris saja tangan Key menekan tombol dial saat kalimat Hye ri menghentikannya. Hye ri berjalan mendekati meja, di mana ada sebuah buku tebal dengan halaman yang terbuka.

“Apa yang kau lakukan? Kita harus telepon polisi, ini pembunuhan!” pekik Key, ia tidak mau jika membiarkan hal ini terlalu lama, hanya untuk menuruti sifat aneh Hye ri yang menganggap ini adalah permainan detektif. Minho mati! Dan itu tidak lucu.

“Ini pesan kematian.” Ujar Hye ri dan sukses membuat keinginan Key untuk menelepon polisi menguap. Pesan kematian? Apa-apaan ini? Ini sungguh tidak lucu! Key berjalan mendekati Hye ri, sementara ponsel itu kembali ia masukkan ke saku denimnya. Ia menatap yeoja yang terlihat serius mengamati sesuatu dalam secarik kertas yang terbuat dari perkamen.

Hye ri menyodorkan kertas itu saat Key berada di samping nya, membuat alis Key bertautan saat melihat sesuatu yang tertulis di sana. Sebuah lingkaran di baris pertama,  dan dua angka di baris kedua – 12, 5. Key dan Hye ri saling berpandangan, otak mereka segera sibuk memikirkan apa makna pesan kematian yang ditinggalkan Minho. Tapi pikiran Key sangat kacau, ia tidak bisa tenang untuk memikirkan apa yang dimaksud Minho dalam pesannya.

“Sebaiknya kita pergi dan melapor polisi Hye ri-ya. Ini pembunuhan.” Tanpa menunggu persetujuan dari Hye ri, Key segera berjalan menuju pintu. Meraih kenop pintu yang entah sejak kapan tertutup.

Klek..klek..klek…

Key mulai panik saat ia tidak bisa membuka pintu dan tak lama ia menyadari bahwa mereka berdua terkunci dalam ruangan itu. “Heiii!!! Yang di luar sana! Buka pintu!! Hei Lee Jinki!!! Ini tidak lucu!!! Buka pintu nya!!!!” teriak Key tak sabaran, lantas ia menggedor-gedor pintu. Tapi hasilnya nihil, tak ada siapa pun di luar sana.

Key menendang pintu setelah beberapa menit ia berteriak dan menggedor-gedor pintu frustasi. “Tenanglah Key, jangan membuatku takut.” Key menolah ke arah Hye ri, ia baru sadar bahwa ia sempat melupakan Hye ri. Yeoja itu terlihat tenang, duduk bersila di bawah jendela yang berada di seberang meja, kepalanya tertunduk mengamati kertas perkamen yang dipegang nya.

“Kita terkunci, pelakunya sengaja melakukan ini.” Hye ri mengangkat wajahnya, menatap Key kemudian beranjak.

“Semua jendela terkunci dan tidak bisa dibuka dari dalam.” Hye ri memutar-mutar kenop jendela yang terkunci rapat. “Ini telah direncanakan Key, ruangan ini terletak di ujung bagian rumah yang menjorok ke kebun belakang. Kau ingat? Di kebun belakang ada banyak pohon dan bahkan seingatku ada hutan kecil.  Ponsel kita di luar service area!” Hye ri mengacungkan ponsel flip ungu nya.

Key merogoh saku denim nya, mengambil ponsel yang sempat disimpannya kembali di sana. That’s right! Semua yang dikatakan Hye ri benar, ponsel nya di luar service area. Key mengerang tertahan, hatinya takut sekaligus kesal. Siapa yang berbuat seperti ini? Bagaimana jika pelakunya juga telah membunuh yang lain? Juga merencanakan membunuh ia dan Hye ri?

Hye ri mendekati Key, kemudian meraih kedua tangan Key. “Percayalah aku sangat takut Key, aku ingin pulang. Tapi mungkin ini sebuah permainan dari pelakunya, jika kita bisa memenangkan permainan ini, kita bisa pulang.” Lalu yeoja itu berhambur ke pelukan Key, memeluk Key erat.

Jantung Key kembali berdebar, debaran ketakutan dan rasa senang. Bercampur aduk membuatnya merasa aneh. Kedua tangan Key bergerak perlahan, mengumpulkan keberanian untuk memeluk yeoja yang sangat ia sukai. Dan itu membuatnya merasa lebih baik, rasa takutnya tadi mulai menguap. Ia baru menyadari betapa pecundang nya ia saat ketakutan dan panik seperti tadi, harusnya ia melindungi Hye ri, bukan sebaliknya.

“Ayo kita pecahkan bersama-sama, kita akan pulang bersama.” Hye ri melepaskan dirinya dari pelukan Key, mengusap airmata yang menetes di wajahnya seraya tersenyum memandang Key.

Uljima, aku akan membawamu pulang. I promise.” Ucap Key mantap, kemudian ikut mengusap airmata Hye ri. Membuat keduanya tersenyum malu.

***

Key dan Hye ri kini duduk bersila di bawah jendela di seberang meja, seperti sedang mengerjakan tugas kelompok, keduanya sibuk memikirkan apa makna di balik pesan kematian Minho. Beberapa kemungkinan sempat terpikirkan oleh mereka menganai lingkaran dan angka 12, 5 itu.

“Kurasa 12,5 itu adalah waktu kematian. Mungkin Minho sempat melihat jam saat pelaku telah berada di hadapannya dan menodongkan pistol padanya.” Ungkap Key untuk yang entah keberapa kalinya. Hye ri mengernyitkan dahi “Lalu, apa jam 12.5 bisa menunjukkan pelakunya?” ia menatap Key.

“Mungkin pelaku nya adalah orang yang datang pada jam 12.5.” terang Key, hanya itu yang terpikirkan olehnya. Petunjuknya terlalu sedikit, selain itu ia masih memikirkan apa makna lingkaran pada baris pertama yang ditulis Minho.

“Bagaimana kita tahu siapa yang datang jam 12.5? lagipula siapa saja bisa datang pada jam itu Key.” Sergah Hye ri, sejak tadi pikirannya selalu menolak pendapat Key. “Selain itu lingkaran ini sangat membingungkan.” Hye ri menunjuk lingkaran yang digambar Minho sambil memonyongkan bibirnya kesal.

“Hye ri-ya, apa dalam seri detektif yang kau baca ada pesan kematian seperti ini? Mungkin Minho menirunya dari seri detektif.” Ungkap Key frustasi, tak ada lagi yang terpikirkan olehnya mengenai lingkaran dan angka 12,5 itu.

Hye ri menatap Key kecewa, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku suka permainan detektif, tapi itu hanya permainan Key. Tidak seperti ini, ini membuatku takut.” Hye ri memberengut kecewa, kemudian menundukkan wajahnya.

Key menangkup wajah Hye ri agar menatapnya “It’s okay, kita akan memecahkannya bersama. There is no need to be worry, as long as we are together.” Ucap Key membuat Hye ri semakin menundukkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah di wajahnya.

Keduanya segera memfokuskan diri pada ketas perkamen tadi, salah tingkah dengan kelakuan mereka barusan. Dengan jantung berdebar Key berusaha kembali berpikir mengenai apa makna dari pesan kematian Minho.

“Jika kode-kode ini mengarah pada nama atau profesi seseorang. Kita bisa mulai memikirkan siapa saja tamu yang akan datang hari ini.” Ucap Hye ri.

“Aku tidak tahu siapa saja yang diundang Jinki selain kita berlima. Aku, kau, Jjong, Minho dan Taemin.” Terang Key, ia kembali memperhatikan lingkaran yang dibuat Minho dalam kertas.

“Ah! Benar, hanya kita berlima.” Gumam Hye ri lesu.

Ne, hanya kita berlima. Tidak ada yang- Hei!!!” Key menatap Hye ri, memperlihatkan kertas perkamen yang sedari tadi membuat kepala mereka pusing.

Look! Ini adalah angka! Bukan lingkaran!” Key menunjuk lingkaran dalam kertas.

Hye ri mengernyitkan dahi “Ini adalah angka Hye ri-ya, angka dalam Sino Korea yang berbunyi ‘O’ “ lanjut Key makin tak sabaran.

Hye ri membulatkan kedua matanya saat menangkap apa yang dimaksud Key. “Maja! Ini angka! Angka dalam Sino Korea yang berbunyi ‘O’ “ . Tentu saja keduanya sudah tahu angka berapa itu, tapi hanya untuk memastikan, keduanya menghitung dalam hati bersamaan. Menghitung mulai dari angka satu dalam Sino Korea. Il (1), I (2), sam(3), sa(4), O(5).

“Lima?” keduanya menyebutkan angka itu secara bersamaan dengan pikiran masing-masing.

“Key apa itu artinya…” Hye ri menggantungkan kalimatnya, menatap Key penuh ketakutan.

“Kurasa itu benar Hye ri-ya, pelakunya ada di antara kita berlima. Tamu-tamu yang diundang Jinki.” Sorot mata Key meredup, suaranya terdengar pelan. Keduanya sempat tertegun dengan temuan mereka sementara jantung mereka berdebar kencang, hanya ada dua orang yang tersisa yang mungkin menjadi pelaku- Jonghyun dan Taemin.

“Jika benar lingkaran itu adalah angka, kenapa Minho menulis angka lima dalam Sino Korea? Mengapa ia tidak menulisnya dalam native Korea agar mudah ditebak bahwa lima yang dimaksud adalah jumlah tamu undangan?” tanya Key yang lebih pada dirinya sendiri.

Ani! Justru Minho sangat cerdas Key. Jika ia menulis angka lima dalam native Korea, pelaku nya bisa saja segera menyadari bahwa itu adalah pesan kematian yang ditinggalkan Minho yang mengarah padanya kemudian menghilangkannya.” Terang Hye ri, meniru ucapan tokoh utama dalam salah satu seri detektif favoritnya.

“Sebaiknya kita memikirkan angka 12, 5 ini.” Key berusaha mengalihkan pembicaraan.

“12 dan 5, angka 12 dan 5…nama… seorang tamu.. Kim Jonghyun..Lee Taemin…KJ..LT…” gumam Hye ri tak jelas, pikirannya terus menerka apakah angka 12 dan 5 itu bisa menyusun sebuah nama antara Kim Jonghyun dan Lee Taemin.

Berbeda dengan Hye ri, Key justru memikirkan apa angka 12 dan 5 itu juga merupakan kode dari angka atau huruf.

“Key! Kurasa ini alfabet!” pekik Hye ri tiba-tiba, membuat konsentrasi Key buyar. Ia menatap Hye ri penuh tanya.

“12 adalah alfabet L, dan alfabet ke 5 adalah E. But it doesn’t make sense. Apa huruf L itu menunjukkan Lee Taemin? Lalu apa artinya huruf E?” Hye ri memberengut kecewa, ternyata memecahkan teka-teki tidak semudah dalam seri detektif yang selalu dibaca atau ditontonnya. Dalam seri, para detektif itu selalu dengan mudah menemukan jawaban atas petunjuk kecil yang ditinggalkan korban atau pelaku.

“Huruf E double bisa dibaca I (Lee), tapi seharusnya Minho menulis 5 kuadrat atau 55 jika pelakunya adalah Taemin.” Gumam Hye ri pada dirinya sendiri.

Key diam, melanjutkan pemikiran-pemikirannya yang sempat buyar tadi. Tapi ia tidak bisa fokus, apa yang diucapkan Hye ri sedikit banyak mengganggu pikirannya. Dan hasilnya, Key justru memikirkan alfabet yang dikatakan Hye ri.

“Double E, 5 kuadrat atau 55 akan menjadi ambigu Hye ri-ya. Kau tahu siapa saja yang bermarga Lee?” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Key, ia mengucapkannya tanpa sedikit pun menatap Hye ri dan tetap sibuk dengan pemikirannya.

“L dan E. Apa itu menunjukkan status atau kegemaran? Alfabet L dan E, alfabet ke 12 dan 5… 12, 5…berhubungan dengan Sino Korea, native Korea…- ya Tuhan! Kita sudah tahu pelakunya Hye ri-ya!!” Pekik Key, ia beranjak dari duduk bersilanya. Menatap Hye ri dengan penuh ketakutan, membuat yeoja itu berjengit dan ikut beranjak. Ia memandang Key tak sabaran karena otak nya belum menemukan apa yang dipikirkan Key.

Nugu? Siapa pelakunya?” tanya Hye ri.

“Kau benar! 12 dan 5 adalah alfabet, berhubungan dengan lingkaran di baris pertama yang berarti angka lima dalam Sino Korea.” Terang Key dengan suara bergetar, pikirannya masih belum bisa menerima bahwa pelaku nya adalah orang itu, bagaimana bisa? Apa motifnya?

“Siapa? Siapa L dan E?” Hye ri semakin tak sabaran.

Key mendekat ke arah Hye ri, matanya menyapu setiap penjuru ruangan seolah mencari sosok lain selain Hye ri. Hye ri hanya diam saat Key terus merengsek mendekatinya, kedua tangannya seolah mendekap Hye ri, kemudian wajahnya berhenti tepat di samping telinga Hye ri.

“12 dan 5 adalah alfabet dalam bahasa Korea, bukan bahasa Inggris. Alfabet ke 12 adalah Thiet (T) dan alfabet ke 5 adalah Mieum (M). That’s right! Pelakunya adalah-“

“Taemin.” Bisik Hye ri, seiringan dengan Key yang menjauh darinya. Keduanya saling menatap tak percaya. Benarkah Taemin yang menembak kepala Minho? kenapa?

Klek. Tiba-tiba terdengar suara kenop pintu, membuat Key dan Hye ri menoleh ke sumber suara bersamaan. Keduanya berpandangan sebelum Hye ri mengendap menuju pintu.

Wait! Biar aku saja, kau tetap di belakangku.” Key menahan Hye ri, kemudian berjalan hati-hati di depan Hye ri. Key terus mengendap, ia bahkan menahan nafas saking takutnya. Siapa itu? Apa Lee Taemin? Atau kah teman-teman yang lainnya?

Key menjulurkan tangan kanan nya pada kenop pintu, mata dan telinga nya tetap awas. Ia tidak boleh melewatkan sesuatu apa pun. Pikirannya semakin melayang pada fantasi menakutkan yang sangat liar, bagaimana jika seseorang telah berdiri tepat di depan pintu dan menodongkan pistol tepat di depan kepalanya?

Dengan tangan gemetar Key memutar kenop pintu, kemudian mendorong nya pelan hingga menimbulkan suara berderit.

Tidak ada siapa pun, mereka hanya mendapati ruang tengah yang sepi seperti saat beberapa menit yang lalu. Key sempat melirik lagi mayat Minho sebelum ia melangkah keluar. Kasihan Minho! ia harus segera menelepon polisi dan ambulan.

“Taemin-ah? Kau di sana?” teriak Key, ia ingin memastikan bahwa Taemin lah yang barusan membuka kunci pintu di mana ia dan Hye ri terjebak. Tak ada jawaban apa pun. “Jinki-ya, itu kau?” teriak Key lagi, kali ini ia memanggil nama Jinki. Tak ada sahutan apa pun. Key menarik Hye ri tak sabaran menuju pintu depan, rasanya ingin segera berlari dan meninggalkan rumah Jinki.

Klek..klek…klek…

Andwae! Jangan katakan…” Key mengerang frustasi sambil terus berusaha membuka pintu. Tapi ia tidak mendapatkana apa yang diinginkannya, pintu depan telah terkunci.

“Key!” pekik Hye ri dari belakang, membuat Key menoleh. Matanya segera menatap sosok yang berkelebat dengan cepat dari arah ruang tengah ke kebun belakang. Ia kemudian menatap Hye ri sekilas sebelum berlari mengikuti sosok itu ke kebun belakang. Hye ri mengekor, pikirannya menebak apa yang akan mereka lihat di kebun belakang.

Key membuka pintu kaca yang menjadi akses menuju pintu belakang, dengan hati-hati melangkah menuju kebun belakang. Sepi, yang didapatinya hanyalah perlengkapan pesta yang cukup mewah. Dua buah meja bertaplak rapi dan gelas yang disusun membentuk piramida, beberapa jenis makanan bahkan telah terhidang di meja yang satu nya lagi. Sesuatu yang tak terduga memang telah terjadi.

Mata Key menyapu kebun belakang dengan seksama, mencari sosok yang berkelebat tadi dan menghilang di sini. Pastilah itu seseorang, Taemin kah? Mata Key terhenti saat ia melihat sosok yang terbaring di atas rumput kebun tak jauh dari ruangan di mana Minho ditemukan tewas. Hye ri berlari lebih dulu “Key! Itu Taemin!” teriak Hye ri saat ia telah berada di dekat tubuh Taemin.

Key berlari mendekati Hye ri, nyaris saja ia menjangkau Hye ri saat yeoja itu berbalik dan menatap Key penuh ketakutan- sama seperti saat ia menyadarai Minho telah tewas-. “T..Tae..Taemin tewas.” Suara Hye ri bergetar, satu tangannya ia selipkan ke saku jaket kulitnya seolah menyimpan sesuatu.

Key terbelalak, lidahnya tercekat hingga tak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya. Apa yang sebenarnya terjadi? pikir Key.

=TBC=

8 thoughts on “[FF KEY B’DAY PARTY] Clue [1.2]

  1. Woah! Ini seru bngt eon, sumpah aku jadi tegang bacanya.. I’m so curious yeaaah~ *dance sherlock*

    I’m going to the next chapter ^^;;

  2. ohh,,,I’m so curious yeah..
    sajik so naega…
    itu bnar g ya tulisannya??? hehe…
    duh jadi penasaran nih, cpa kah dalang di balik semua ini, semoga bukan jonghyun, atau jangan2 jinki yg melakukannya?? aduhh.. I’lm so curious yeh…
    mohon pw-nya ya unnie… gomawoo…

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s