Archangel – Part 18

archangel

Archangel – Part 18

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

 Fuiihhh… Finally part 18 nya muncul juga. Buat readers yang udah gendok nungguin, here you go dear. Song eun cha persembahkan 20 halaman Archangel. Mudah2an ga mengecewakan yaa. kekekek. *author udah kalap banget nulisnya* Buat part 19 nya, karena song eun cha lagi mood banget nulis, kemungkinan ga akan lama publish.hhe.
Seperti biasa, jangan lupa komen abis baca. Kritik & saran yang membangun sangat diterima.
Patronizing is not allowed!!! oKEY, selamat membaca😀

“Oh! Ya Tuhan! Uri Hye ri!!!” yeoja setengah baya itu berhambur saat ia membuka pintu, putri kesayangan yang sudah lama ia rindukan akhirnya datang. Ia memeluk putrinya.

Eomma kira kau tidak akan benar-benar datang hari ini. Oh! kau sendiri? Mana Kibum?” Nyonya Min membawakan tas coklat Hye ri, ia melongok ke luar, sedikit heran karena tidak mendapati menantunya.

“Ah! Hari ini Key masih mengurusi sesuatu eomma, akhir-akhir ini dia sangat sibuk. Dia menitipkan salam untuk eomma.” lagi-lagi hanya kehobohongan semacam itu yang terpikirkan oleh Hye ri sepanjang perjalanannya.

Wajah Nyonya Min terlihat kecewa “Ah! Geuroguna. Ya sudah ayo kita masuk, kau pasti lelah.”  kemudian menarik Hye ri ke dalam rumah.

“Jadi, kau akan menghabiskan akhir pekanmu di sini? Wah! Jinjja! Eomma senang sekali! Kau tahu? Sudah lama sekali kalian tidak pernah berkunjung kemari.” cerocos Nyonya Min, keduanya berjalan beriringan menuju lantai dua. Sementara Hye ri sibuk mengamati rumah nya yang dulu, ada beberapa benda yang tidak di tempatnya lagi. Ah! Selain itu ada perabotan rumah yang baru Hye ri lihat.

KLEK

“Jyaaa, kamarmu masih sama seperti dulu. Kau pasti sangat merindukannya.” Nyonya Min membuka pintu, ia masuk begitu saja ke dalam kamar Hye ri dan segera menaruh tas Hye ri di samping ranjang.

Hye ri sempat tertegun, diamatinya kamar dengan cat dinding berwarna ungu pucat itu. Masih sama seperti dulu, ranjang yang berukuran besar, lemari, meja belajar dan Oh! bahkan jam dinding hijau itu masih ada di dekat pintu.

Hye ri melangkahkan kaki ke dalam kamar, mengamati beberapa foto yang tertempel di dinding. Senyuman kecil terukir di wajahnya, memori-memori indah dalam foto kembali terulang dalam kepalanya. Dan Oh! poster boyband kesukaan Hye ri masih tertempel di atas cermin, membuat Hye ri terkekeh geli.

Nyonya Min duduk di tepi ranjang, menepuk tempat di samping nya agar Hye ri duduk di sana. “So, how’s life?” tanya Nyonya Min dengan mata berbinar, tak sabaran mendengar cerita putrinya. Tapi sayang pertanyaan itu justru membuat senyum di wajah Hye ri hilang, ia kembali mengingat hal yang paling ingin dilupakannya.

Waegeurae? Munje isseo?” tanya Nyonya Min lagi, ia menatap Hye ri penuh selidik. Hye ri memaksakan seulas senyum, ini bukan saat yang tepat untuk menceritakan kesakitannya, atau bercerita tentang perceraiannya.

Aniyeyo, everything is okay. Really, I’m fine. I do really fine.” susah payah Hye ri menahan airmata, menatap mata eommanya dan itu membuat airmatanya jatuh. Bodoh! Hye ri segera memeluk eommanya, meluapkan rasa sedihnya di sana.

Waegeurae?” Nyonya Min memeluk putrinya, mengelus punggung Hye ri lembut. Hye ri mulai terisak, berusaha menyembunyikan tangisan dalam pelukan eomma nya. “Terjadi sesuatu? Kau bertengkar dengan Kibum?” tanya Nyonya Min lagi. Dengan suara bergetar Hye ri berusaha menjawab “A…niyeyo… ani..yeyo..jeongma..yo.”

Geuraesseo wae?” tanya Nyonya Min lagi, nada bicaranya menurun, ia mulai cemas. Dan itu justru membuat Hye ri menangis semakin banyak, luka itu kembali dibuka. Ia mengingat lagi betapa hatinya sangat terluka dengan perlakuan Key hari kemarin dan beberapa hari sebelumnya.

Nyonya Min membiarkan Hye ri menangis, pikirnnya terus menebak-nebak apa yang terjadi pada putrinya. Apa namja itu telah menyakiti putrinya? Seberapa banyak?

Gwaencanha, aku hanya… merindukan eomma. Sudah lama aku tidak bertemu eomma, tiba-tiba aku merasa sedih.” Hye ri mengusap airmatanya setelah ia melonggarkan diri dari pelukan Nyonya Min, kemudian berusaha tersenyum.

Jinjja? Tidak terjadi apa pun antara kau dan Kibum?” tanya Nyonya Min penuh selidik, Hye ri hanya menggelengkan kepalanya.

Eomma bogosipheoyo..jeongmal bogosipheoyo.” ucap Hye ri lagi, ia kemudian tersenyum, berusaha meyakinkan bahwa segala sesuatunya baik-baik saja.

Aigo… seharusnya eomma datang ke tempat kalian.” Nyonya Min mengusap pipi Hye ri sayang, mengusap airmata Hye ri sebelum akhirnya menempelkan hidung nya pada hidung Hye ri, menggesekkannya pelan seperti yang selalu mereka lakukan.

Keduanya saling melempar senyum tak terartikan setelah saling melepas rindu, “Eomma, aku lapar. Ayo kita makan di luar!” ajak Hye ri tiba-tiba, membuat Nyonya Min tersenyum. “Kajja!” seru Nyonya Min, tak kalah semangatnya dengan Hye ri.

***

Hye ri melempar tas hitamnya ke atas ranjang, tubuhnya ikut dihempaskan di sana. Merentangkan kedua tangannya sambil menghembuskan nafas dalam, hatinya merasa senang. Setelah makan bersama eommanya, mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja. Jinjja! berbelanja selalu menyenangkan bagi Hye ri.

Ada banyak hal menyenangkan di luar sana, sudah berapa lama sejak terakhir kali Hye ri menikmati dunia luar dan bersenang-senang? Rasanya semua kegelisahan dalam hatinya hilang.

Hye ri beranjak, meraih beberapa tas belanjaan yang tercecer di lantai. Ia mengeluarkan beberapa barang belanjaannya dalam tas kertas berwarna hijau toska. Maskara, bedak tabur, lip palet, sunblock, dan lipbalm.

Dengan mata berbinar ia menatap benda-benda itu. Rasanya menyenangkan saat memiliki kosmetik-kosmetik baru dan mulai memakainya esok hari. Tangan Hye ri mengabsen satu persatu benda yang dibelinya di satu toko itu, meneliti kemasan dan tulisan yang tertera di sana.

Senyum di wajah Hye ri pudar saat tangannya mengabsen lipbalm yang dikemas dalam wadah berbentuk pipih, itu mengingatkannya pada sesuatu. Hye ri melepas segelnya, berjalan menuju cermin dan membuka tutupnya.

Tanpa melihat isinya, Hye ri segera menempelkan jari kelingkingnya pada lipbalm. Mengoleskannya perlahan pada bibir tebalnya, sementara pikirannya sibuk memutar memori yang pernah terjadi. Ditempelkannya kedua bibir Hye ri saat ia selesai mengoleskan lipbalm dengan aroma jeruk di tangannya, Hye ri diam, menatap dirinya dalam cermin. Pikirannya telah sampai pada memori di mana namja itu menatapnya.

Memori itu terus berjalan saat suara ponsel menginterupsi. Hye ri terlonjak, ia menatap tas hitamnya-di mana ponsel itu berbunyi. Hye ri berdecak kesal, kejadian sama persis dengan kejadian pagi itu. Suara ponsel! Oh sial! Itu mengingatkannya pada apa yang selanjutnya terjadi pagi itu.

Hye ri meraih ponselnya dalam tas, dilihatnya sebuh pesan singkat baru. Tentu saja tumpukan pesan singkat yang belum ia baca hari kemarin masih tersimpan rapi tanpa ia sentuh sama sekali. Hye ri berjengit melihat nama yang muncul, haruskah ia membacanya?

Hatinya masih menimbang saat jarinya begitu saja menekan tombol ‘read’ , memunculkan sebuah pesan.

Hari ini otakku telah berpikir keras, memikirkan ke mana lagi yeoja ku berlari.

Boleh aku memuji diriku karena aku tahu di mana ia sekarang?

Ingin berlari ke arahnya, membantunya mengobati luka yang kubuat. Tapi, ia terlihat lebih baik tanpaku.

Hubungi aku jika kau ingin pulang, aku akan datang menjemputmu.

XOXOXO

 Senyuman kecil terukir di wajah Hye ri, ia menundukkan kepalanya saat mengingat lagi kalimat ‘yeoja ku’ yang ditulis Key dalam pesannya. Jadi seharian ini Key mencarinya? Hye ri masih menimbang untuk membalas pesan Key atau tetap mempertahankan egonya. Hingga akhirnya ponsel itu hanya dipegangi nya di depan dada, sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang Hye ri kembali tersenyum, mengingat-ingat apa yang ditulis Key. How sweet it is.

Dan akhirnya ia memutuskan untuk terlelap di atas ranjang kesayangannya, melupakan hal-hal buruk yang membuat mood nya kacau. Mungkin besok atau lusa ia bisa menghubungi Key untuk menjemputnya pulang, dan memulai hari seolah tidak pernah terjadi apa pun. Yeah! Itu lebih baik.

***

Namja itu melirik lagi ponselnya, sudah tiga puluh menit berlalu dan tidak ada satupun pesan singkat yang masuk. Ia yakin bahwa yeoja itu  telah membaca pesannya. Apa ia masih marah? Bodoh! Tidak semudah itu menyembuhkan luka yang telah ia buat. Terlebih lagi luka itu terlalu dalam dan menyakitkan.

Namja itu melempar ponselnya ke atas sofa, kemudian melenggang menuju dapur. Membuka lemari es dan mencari sesuatu yang bisa menyegarkan kerongkongannya. Tangannya begitu saja meraih gelas tinggi berisi cairan sedikit kental berwarna kuning pucat dan putih.

Gelas  tinggi itu ia taruh di atas counter dapur, sementara dirinya sibuk mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya yang belum diisi dari pagi.

Satu cup mie instan, ia tahu itu tidak sehat. Tapi jinjja! mood  buruk membuatnya tidak tahu ingin makan apa, dan makanan instan selalu menjadi pilihan terbaik.

Key tengah menunggu hingga mie instan yang baru ia seduh siap untuk dimakan. Tangannya kemudian meraih gelas tinggi yang tadi ditaruhnya di counter dapur. Minuman dengan aroma nanas itu terlihat segar, sambil duduk Key mulai menyesapnya ringan. Menyesapnya lagi saat minuman itu membasahi kerongkongannya.

Key terus meneguknya sambil berjalan menuju sofa di ruang tengah, mengecek lagi ponselnya kalau-kalau ada pesan singkat yang masuk. Key memberengut kecewa, pesan yang ditunggunya tidak kunjung datang. Pikirannya terus mengira-ngira apa yang sedang dipikirkan dan dilakukan Hye ri saat ini, sementara ia kembali menyesap minuman di tangannya.

Key kembali berjalan menuju dapur, tangannya menaruh gelas tinggi di atas meja saat meyakini bahwa mie instan nya sudah hampir siap.

Dak.

Gelas yang ia taruh di atas meja menimbulkan suara, membuatnya tiba-tiba teringat sesuatu. Entah bagaimana suara singkat itu mengingatkannya pada kejadian saat ia bersusah payah mendapatkan Hye ri, ia ingat bagaimana yeoja itu selalu menghindarinya. Memorinya terus berjalan mundur hingga ia sampai pada kejadian di mana ia pertama kali bertemu Hye ri.

Key tersenyum hambar, kenangan itu manis, tapi kemudian segera berubah menyakitkan. Ia melirik lagi gelas yang ditaruhnya di atas meja, kemudian mengusap gelas itu. Ia baru sadar bahwa yang ia minum adalah Virgin Pina colada tanpa rum, membuat senyum hambar itu kembali tersungging di wajahnya.

Pastilah Hye ri yang membuat minuman itu dan menaruhnya di dalam lemari pendingin. Hanya yeoja itu yang akan membuat minuman ini tanpa rum. Key mendesah, pikirannya kembali kacau. Dan itu membuat nafsu makannya menguap. Key berjalan begitu saja menuju ruang tengah, meraih ponsel dan kunci mobil. Sepertinya sedikit alkohol bisa membuatnya lebih baik.

***

Key melangkahkan kakinya ke bar bergaya Perancis yang biasa ia kunjungi bersama Jinki. Tempat itu terlihat lebih ramai dari biasanya, mungkin karena ini akhir pekan dan malam sudah semakin larut.

“Oh! Key sunbaenim, lama tidak melihatmu. Kau sendirian?” bartender muda bernama Jack segera menghampiri Key yang baru duduk di salah satu sudut kosong.

“Hai Jack! Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini. Bisa buatkan aku Sangria?”  pinta Key dan diiyakan oleh tawa renyah dari Jack.

Tak lama bartender muda itu telah mengocok minuman yang dipesan Key, sementara mata Key mulai menjelajah ke setiap sudut bar. Matanya memeperhatikan beberapa yeoja yang tengah menari di lantai dansa, tidak bisa dipungkiri bahwa dentuman musk beat itu membuat Key bergairah untuk turun dan bergabung.

Sementara di sudut lain, beberapa namja terlihat menikmati minumannya di sofa besar. Tentu saja mereka tidak akan lupa dengan yeoja cantik berpakaian serba minim yang harus menemani mereka semalam suntuk.

Key mengeluarkan ponsel dari saku jaket baseball nya, kemudian menghubungi satu-satunya nama yang terlintas di pikirannya. Hanya tiga kali terdengar nada sambung hingga si pemilik ponsel di seberang sana menjawabnya.

“Sudah kuduga kau masih hidup Lee Jinki! Kau sibuk? Bisa temani aku di tempat biasa?” tanya Key tanpa basa-basi, kemudian memutus sambungan telepon setelah Jinki mengiyakan ajakannya.

“Satu goblet Sangria selesai.” Jack menyodorkan goblet dengan warna kehijauan ke arah Key.

Thanks.” Key segera meraih goblet dan menyesap Sangrianya ringan. Red wine dengan campuran buah-buahan itu membuat pikirannya lebih segar. Jinki benar! Alkohol selalu lebih baik untuk menghilangkan penat.

Jack berlalu ke sudut lain saat ada tamu yang datang, meninggalkan Key tanpa mengucapkan sepatah katapun. Key kembali menjelajahi bar sambil terus menyesap Sangria nya, matanya kembali tersihir oleh lantai dansa yang terlihat semakin panas. Suara riuh terdengar dari sana, seolah mengundang Key untuk segera turun ke lantai dansa dan menunjukkan kemampuannya.

Key melirik arlojinya, baru lima menit berlalu sejak ia menelepon Jinki. Ia masih punya waktu beberapa menit sebelum Jinki datang. Kaki Key melangkah begitu saja menuju lantai dansa, sementara Sangria di tangannya semakin berkurang, seiringan dengan langkahnya menuju lantai dansa.

Key menaruh goblet kosong nya ke meja yang ia lalui, kemudian mulai menari saat dentuman musik beat kembali diputar Dj. Tubuhnya bergerak begitu saja mengikuti irama musik, membuat beberapa yeoja yang baru melihat Key berteriak kagum dan mulai mendekatinya. Gerakan Key semakin liar dan tak terkendali, suara musik beat serta lampu disko yang berwarna-warni semakin membangkitkan gairahnya untuk terus bergerak sepanjang malam ini. Ia melupakan masalah yang mengganjal pikirannya dan membuatnya penat seharian ini.

Entah berapa menit berlalu, akhirnya Key berjalan meninggalkan lantai dansa setelah berhasil meyakinkan yeoja-yeoja itu bahwa ia perlu minum dan berisitirahat. Dengan nafas terengah ia berjalan menuju sudut di mana ia memesak minuman pada Jack.

“Bersenang-senang, huh?” tanya Jinki dengan t-shirt putih bergaris hitamnya, ia telah duduk di kursi yang tadi di tempati Key dan tengah menyesap sesuatu yang Key yakini adalah vodka.

Key tidak mengindahkan pertanyaan Jinki, ia memberi kode pada Jack untuk memberinya gelas kemudian menuangkan vodka milik Jinki ke dalam gelasnya.

“Tidak juga, hanya bermain sedikit.” jawab Key asal.

Jinki menyesap lagi vodkanya, rasanya selalu lebih baik dibanding terakhir kali ia mencicipinya dan ia yakin akan selalu seperti itu. “Jadi, apa yang terjadi? kalian bertengkar lagi? Oh! kau belum menjelaskan soal perceraian itu. Kalian serius?” Jinki menaruh gelasnya ke atas meja bar, menegakkan tubuhnya sambil menatap Key penuh selidik.

Key tersenyum kecut, menaruh gelasnya sambil tetap menggenggamnya. “Maja! Aku akan bercerai, ” Key menahan kalimatnya, berfokus pada gelasnya. Sementara Jinki masih menunggu penjelasan lebih rinci dari Key. “Hye ri and I can’t stand any longer Jinki-ya, we should end this sooner.” Key tertawa hambar, lalu menguk vodka dalam gelasnya sampai habis.

“Kau tidak berusaha mempertahankannya? I mean, you love her so much.” tanya Jinki, kini ia mengangkat botol vodka dan menuangkannya pada gelas Key yang telah kosong.

Key diam, ia menatap cairan berwarna kecoklatan dalam gelasnya. Kemudian menggoyang-goyangkan gelasnya ringan, membuat cairan di dalamnya ikut bergoyang. Ia tersenyum kecut, sementara pikirannya kembali memutar ulang kejadian malam itu. Saat ia mabuk berat dan alkohol itu menguasai dirinya.

Seketika wajah sembab Hye ri yang dipenuhi ketakutan itu kembali muncul dalam kepalanya, begitu jelas seolah sedang terjadi di depan matanya. Itu membuat hati Key dipenuhi amarah, sedih, rindu, dan kecewa. Semuanya bercampur menjadi satu, membuat Key bingung. Sepertinya waktu itu Jinki salah besar, semuanya tidak akan terselesaikan hanya dengan sex.

Key mengalihkan pandanganya pada Jinki, menangkap pandangan mengiba dari sahabatnya kemudian memaksakan seulas senyum. “Hye ri akan lebih bahagia dengan mencintai Minho seumur hidupnya, tanpa harus terbebani oleh keberadaanku di sampingnya.” Key kemudian meneguk vodkanya sampai habis.

Jinki hanya diam, sepertinya yeoja bernama Hye ri itu jauh lebih keras kepala dari yang ia bayangkan. Ingin sekali memikirkan sesuatu yang mungkin bisa menjadi solusi bagi masalah pelik yang tengah di hadapi Key, tapi sayang kali ini mood Jinki sama buruknya dengan Key. Masalah yang sedang ia hadapi membuat kepalanya selalu berdenyut setiap saat. Dan akhirnya Jinki kembali meneguk vodka dalam gelasnya, mengabaikan Key yang semakin larut dalam kesedihan.

Malam semakin larut, suasana bar tidak seriuh sebelumnya. Beberapa pasangan mulai menghilang entah ke mana, mungkin cek in ke hotel atau bahkan menyewa ruang karaoke di lantai dua.

Empat botol vodka yang kosong tergeletak tak beraturan di depan meja tempat Jinki dan Key berbincang. Kepala Jinki mulai pening, ia rasa ia terlalu banyak minum. Ia melirik arlojinya, sudah pukul 3 dini hari. Kemudian diliriknya Key yang masih duduk di sampingnya, namja itu masih menuangkan vodka ke dalam gelasnya.

Jinki mengedarkan pandangan ke meja panjang di hadapannya, menghitung jumlah botol yang tergeletak di sana. Dengan susah payah akhirnya ia menyebutkan angka lima saat menunjuk botol yang tengah dipegang Key.

Hei hei! Itu keterlaluan! Key tidak pernah minum sebanyak itu, itu tidak baik untuknya. Jinki beranjak, kemudian merangkul bahu Key dan memaksa namja itu turun dari kursinya, “Ayo kita pulang Key, kau minum terlalu banyak!”

Key menepis tangan Jinki, kemudian meraih botol vodka  yang tinggal setengah, “Sirheo! Aku masih mau minum!” Jinki berdecak, tak menghiraukan ucapan Key dan kembali menarik namja itu dengan paksa. Ya Tuhan! Ia rasa Key benar-benar frustasi, tapi alkohol tidak akan menyelesaikan masalahnya, itu hanya akan menundanya hingga kesadaran Key kembali.

Akhirnya dengan susah payah Jinki berhasil membuat Key mau melepaskan botol vodkanya, dengan bantuan Jack ia membawa Key ke dalam mobil. Mobil hitam Key yang dikendarai Jinki segera melaju dengan kecepatan statis setelah sebelumnya Jinki berhenti di depan sebuah supermarket- membeli empat botol jus jeruk untuk menghilangkan mabuknya.

Entah apa yang ada dalam pikiran Jinki saat ia begitu saja membelokkan mobil ke taman kota tak jauh dari rumah Key. Jinki menginjak rem, berhenti di salah satu sudut taman yang gelap dan sepi. Diliriknya lagi Key yang masih tak sadarkan diri.

Beberapa menit berselang, Jinki berhasil membujuk Key untuk meminum dua botol jus jeruk yang rasanya begitu menyengat. Key sempat menolak, ia mengerjapkan matanya saat jus jeruk itu mengembalikan kesadarannya. Keduanya hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. “Kenapa kau membawaku kemari?” tanya Key.

“Hei jangan bercanda! Di rumah tidak ada istrimu kan? Aku tidak mau mengurusmu yang mabuk itu!” cibir Jinki kemudian terkekeh.

Key ikut terkekeh, setidaknya guyonan Jinki mampu membuatnya tertawa sekaligus kembali mengingatkannya pada Hye ri. Oh! Hye ri. Key merogoh saku jaket baseballnya, mengeluarkan ponsel layar sentuhnya. Hatinya dag dig dug mengira-ngira jika ada balasan pesan singkat dari Hye ri. Tapi nihil, ada beberapa pesan singkat memang, tapi itu dari Nicole, bukan Hye ri!

Key memberengut kecewa, ia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku jaket baseballnya. “Oh ya! Ngomong-ngomong, darimana kau tahu Hye ri tidak ada di rumah?.” tanya Key akhirnya, membuat Jinki kembali terkekeh.

“Aku ini sahabatmu, tanpa kau ceritakanpun aku sudah tahu.” Jinki mengangkat dagunya sombong kemudian kembali terkekeh.

Key sempat terkekeh sebelum akhirnya ia diam, bayangan Hye ri kembali memenuhi isi kepalanya. Bahkan alkohol sekalipun tidak bisa membuatnya melupakan Hye ri barang sebentar. Seketika rasa sesak menyeruak di rongga dada Key, membuatnya kesakitan dan sulit bernafas. Jinki menangkap perubahan di wajah Key, “Tidak usah memaksakan bercerita, aku sudah tahu semuanya.” Terang Jinki.

“Tidak! Kau belum tahu semuanya Jinki. Aku sangat mencintai Hye ri dan pasti aku sudah gila karena akan menceraikannya, tapi kau tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Semua di luar kendaliku, aku benar-benar frustasi, aku-“

“Aku sudah tahu Key. Kau meracau saat mabuk tadi.” terang Jinki, membongkar kebohongannya pada Key. Membuat Key sempat tertegun, ternyata Jinki tidak sehebat yang ia kira. Jinki hanya sangat cerdas, seperti Sherlock. Mengumpulkan bukti sebanyak yang ia bisa, kemdian membuat hipotesa.

Key tersenyum hambar, benarkah setiap kali mabuk ia tidak terkendali seperti itu? “Aku sangat mencintainya, then what am I supposed to do? Aku akan mati tanpanya.” tanya Key lagi, kali ini bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak dan sesuatu membuat matanya berair.

“Kau tahu kenapa Hye ri menampar Nicole tempo hari?” Jinki mengalihkan pembicaraan, membuat Key diam.

Molla! Aku tidak mengerti secara detail bagaimana hubungan kalian setelah menikah. Yang kutahu ia hanya mencintai Minho sepanjang hidupnya. Tapi menurutku, ia mulai terbiasa denganmu, Key.” terang Jinki, membuat bongkahan es di dada Key mulai mencair.

“Aku tidak bisa mengatakan ini dengan pasti, tapi kurasa ia mulai menyukaimu.  Kau tidak pernah memikirkan apa yang saat itu dikatakan Nicole hingga Hye ri menamparnya?”

Key tersontak dengan apa yang diucapkan Jinki, benarkah Hye ri mulai menyukainya? Meskipun hanya sedikit? Kepalanya segera memutar ulang kejadian tempo hari, saat ia mendapati Hye ri menampar Nicole. Ia terdiam, selama ini ia percaya begitu saja saat Nicole mengatakan bahwa Hye ri menamparnya tanpa alasan. Bodoh! Seharusnya ia lebih mempercayai Hye ri dibanding Nicole.

Key kembali menatap Jinki, seolah meminta Jinki memberinya penjelasan lebih karena otaknya tidak bisa mencapai apa yang dipikirkan Jinki. “Kurasa mereka membicarakan tentangmu. Itu yang membuat Hye ri menampar Nicole.” terang Jinki akhirnya. Key kembali diam,  sementara pikirannya sibuk mengira hal apa yang kedua yeoja itu bicarakan tentang dirinya. Sefatal itukah hingga membuat Hye ri kehilangan kendali dan menampar Nicole?

“Kau bisa memikirkannya baik-baik,” ucap Jinki begitu saja, ia tidak berminat melanjutkan pembicaraan ini. Sementara Key masih terlihat berpikir keras, memikirkan apa yang sebenrnya dibicarakan dua yeoja itu. “Jangan memikirkannya terlalu keras, kepalamu akan sakit.” tambah Jinki, ia kemudian terkekeh.

Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Jinki dengan masalahnya bersama Kim Aeri, dan Key dengan masalahnya bersama Hye ri. Lama keduanya diam, tak ada satupun diantara mereka yang ingin menginterupsi atau berusaha melupakan bahwa mereka sedang menghadapi masalah besar yang memuakkan.

Pikiran Key menerawang, memutar ulang beberapa kejadian dan mencoba memikirkan apa yang ia lewatkan. Lagi, dalam kepalanya hanya ada bayangan Hye Ri. Hanya ada Hye ri, dan itu membuat kepala Key sakit. Key mengerjapkan matanya, berusaha mengenyahkan perasaan aneh yang tiba-tiba membuat kepalanya sakit. Tapi sia-sia, semakin ia mengerjapkan mata, semakin rasa sakit itu menyerang kepalanya. Key menatap Jinki, berusaha mengalihkan pikirannya dari Hye ri.

Are you okay?” tanya Jinki saat menyadari Key menatapnya. Key hanya diam menatap Jinki, ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi kepalanya sakit. Tak lama Key merasa tubuhnya kedinginan, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Hei! Jangan berpikir terlalu keras.” guyon Jinki, ia terkekeh lagi untuk mencairkan suasana. Sepertinya Key terlalu serius menanggapi sarannya untuk memikirkan apa yang dibicarakan Hye ri dan Nicole saat itu.

Jinki menghentikan kekehan kecilnya saat mendapati Key tetap menatapnya. Key berkeringat, bahkan keringat itu mulai menetes dari pelipisnya. Sementara tubuhnya terlihat menggigil. “Key, apa yang-“ belum sempat Jinki menyelesaikan kalimatnya, Key telah ambruk ke arahnya.

***

Yeoja itu berjalan ragu, menyusuri koridor sepi yang hanya diterangi lampu redup. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya sedikit gemetar menahan rasa takut yang entah bagaimana menyerangnya begitu saja. Kedua mata bulatnya menjelajah setiap sudut yang ia lewati, berusaha mencari tahu tempat apakah yang tengah ia lalui. Hanya ada pintu-pintu coklat yang tertutup, setiap pintu memiliki nomor berurut.

Ia segera menyadari di mana dirinya berada saat bau kloroform menyeruak dari sebuah pintu yang sedikit terbuka. Ia melirik nomor yang tertera di pintu-299- jantungnya berdebar semakin kencang dan nafasnya mulai memburu. Perlahan tangannya meraih pegangan pintu, berusaha mendorong pintu untuk memberikan celah lebih besar untuk tubuhnya.

Erangan kecil terdengar saat yeoja itu mendorong pintu, suara erangan yang begitu memilukan.  “Andwae!” bisik yeoja itu saat sepenuhnya menyadari suara siapa yang ia dengar. Ia mendorong pintu kasar dan segera berhambur ke arah namja yang terbaring di atas ranjang. Namja dengan piyama rumah sakit berwarna biru pucat itu terbaring pasrah di atas ranjang, ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Sementara tubuh lemahnya sesekali bergerak menahan sakit.

Minho-ya!!!” yeoja bernama Hye ri itu berlari, kini ia ingat bahwa kekasihnya-Minho- tengah sakit. Hye ri menyentuh tangan Minho, menarik kedua tangan Minho agar namja itu mau menatapnya dan membiarkan Hye ri melakukan sesuatu untuk membuat rasa sakitnya berkurang.

Hye ri mundur beberapa langkah hingga punggungnya menyentuh layar pendeteksi jantung di belakangnya. Ia menyadari bahwa namja yang terbaring itu bukanlah Minho, melainkan Key. Hye ri menggelengkan kepalanya, ia segera mengingat bahwa Minho telah tiada. Kini pikirannya sibuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Key ada di sana?

Key terlihat begitu kesakitan, kedua tangannya kini hanya mampu meremas seprai ranjang rumah sakit. Sementara keringat telah membanjiri tubuhnya dan itu membuat Hye ri ketakutan. Rasa takut yang lebih besar dibanding ketakutannya saat kehilangan Minho dulu. Hye ri masih belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi, satu-satunya yang ia tahu adalah Key sedang sakit. Sakit keras yang mungkin bisa membuatnya kehilangan nyawa.

“Apa yang terjadi, Key? Apanya yang sakit?” Hye ri kembali berhambur ke arah Key, meraih kedua tangan Key. Mengucapkan dua pertanyaan itu dengan tangan bergetar. Yang diajak bicara hanya diam, dan malah menatap Hye ri dengan mata yang digenangi benda cair.

“Jangan menakutiku, Key. Kupanggilkan Dokter, yah! Dokter.” hanya itu yang terpikirkan oleh Hye ri. Yeoja itu segera beranjak, dengan kedua kaki yang terasa lemas ia bergerak mencari tombol panggilan darurat. Baru satu langkah saat Key menahan tangan Hye ri, meminta yeoja itu untuk tidak menjauh darinya. “Kajimara! You stay here!” pinta Key dengan suara serak.

Hye ri semakin bingung dengan permintaan Key, matanya melirik tombol darurat di seberangnya dan Key bergantian. Ia tidak tahu apa yang harus didahulukannya, menekan tombol darurat atau kah mengikuti keinginan Key untuk tetap di sampingnya. Hye ri nyaris melepaskan tangan Key saat Key kembali mengerang kesakitan. Namja itu bahkan meninju ranjang sekuat yang ia bisa.

Gwaencanha? Gwaencanha? Kau mendengarku, Key?” kini Hye ri berdiri dengan kedua lututnya agar bisa mensejajarkan wajahnya dengan wajah Key. Key tidak menjawab, ia memejamkan mata seolah menahan rasa sakit yang amat sangat. “Andwae! Kau mendengarku, Key? Aku tahu kau mendengarku, Key. Katakan kau baik-baik saja.” kali ini Hye ri menarik tangan kanan Key, menggenggam dengan kedua tangannya dan menempelkannya di pipi.

Key membuka matanya perlahan, seiringan dengan airmatanya yang rilis begitu saja. Ia tersenyum ringan dan dengan susah payah mengangguk. Hye ri tersenyum, entah mengapa senyuman Key membuat hatinya sedikit lega. “Kau tidak boleh sakit, tidak boleh! Berjanjilah kau akan sembuh, hemm?” Hye ri menggenggam tangan Key semakin erat.

Key hanya tersenyum, ia kemudian menarik wajah Hye ri hingga mencapai wajahnya. “Saranghae.” bisik Key pelan, pelan sekali dan nyaris tidak terdengar jika saja Hye ri tidak berada sedekat itu dengan Key. Hye ri menjauhkan wajahnya dari Key, menatap Key dengan perasaan takut yang semakin memuncak.

Na do… na do.” Hye ri menganggukkan kepalanya, sementara tangannya semakin erat menggenggam tangan Key. Key tersenyum sebelum ia kembali memejamkan matanya kuat-kuat, seolah menahan rasa sakit yang teramat sangat. Tak lama, Hye ri merasakan tangan Key melemah dan dingin. Dalam hitungan detik tangan Key terlepas dari genggaman Hye ri, seiringan dengan mata Key yang terus terpejam.

ANDWAEEEE!!!!!!” jerit Hye ri sejadinya. Ia membuka kedua mata dan mendapati dirinya terbaring di atas ranjang. Nafasnya memburu, tubuhnya telah basah oleh keringat yang juga membasahi seprai. Kedua matanya menatap langit-langit kamar, apa yang baru saja dialaminya sangat menakutkan.

Hye ri menarik nafas perlahan dan menghembuskannya melalui mulut. Hal itu dilakukannya berulang-ulang hingga ritme detakan jantungnya kembali normal. Kepalanya kembali memutar mimpi buruk yang baru ia alami, dan itu membuat airmatanya jatuh tak terkendali. Ia tidak mengerti mengapa ia bermimpi seperti itu, yang jelas ia sangat ketakutan. Yeah! Ia sangat takut kehilangan Key.

Dengan tubuh yang masih gemetar Hye ri beranjak, meraih gelas di atas nakas dan meneguk isinya tanpa ampun. Matanya kini tertuju pada tas hitamnya yang tergeletak di samping ranjang, dan tanpa pikir panjang ia menyambarnya. Dengan cepat ponsel flip ungu itu telah berada dalam genggamannya, matanya segera menjelajah hal-hal yang mungkin ia lewatkan beberapa jam ke belakang. Hatinya mencelos, tidak ada panggilan atau pun pesan singkat dari Key. Benarkah namja itu baik-baik saja? batin Hye ri.

Pukul 3.17 dini hari, apa ini waktu yang tepat untuk menghubungi Key? Hanya untuk menanyakan apa ia baik-baik saja? Aish! Hye ri rasa ia mulai gila, pasti Key baik-baik saja dan tengah tertidur pulas. Mengapa ia harus mencemaskannya seperti ini?

Hye ri mengusap lagi airmatanya yang sesekali jatuh, dadanya kembali berdebar hebat saat mengingat bau kloroform dan ruangan rumah sakit. Seolah mengingatkannya pada hal yang telah lama ia lupakan. Kini ia menatap cabinet di salah satu sudut kamarnya, berjalan cepat ke sana dan membuka kunci pintunya. Dengan tergesa ia mencari-cari dokumen penting yang ia taruh dalam map besar berwarna kekuningan.

Dokumen-dokumen di dalam sana telah tersusun rapi sehingga tidak perlu waktu lama bagi Hye ri untuk menemukan dokumen yang ia cari. Hye ri berjalan menuju ranjang saat map besar berwarna kekuningan itu telah berada di tangannya. Ia duduk di tepi ranjang, membaca lagi tulisan yang tertera dalam map sebelum membuka isinya.

Beberapa deretan kalimat singkat yang menerangkan nama instansi itu sedikit banyak membuat Hye ri ketakutan. Sudah lama ia tidak membuka map itu dan seolah melupakannya. Dan saat ini, map besar kekuningan itu mengingatkannya lagi pada kejadian empat tahun yang lalu. Hye ri menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan seolah melepaskan ganjalan dalam dadanya. Yeah! Map besar itu selalu membuat jantungnya dag dig dug tak karuan.

Perlahan Hye ri menarik dokumen dalam map, matanya bersiap melihat lagi beberapa baris tulisan yang sudah nyaris ia lupakan. Dengan cepat mata Hye ri menjelajah setiap baris tulisan yang ada di sana. Ada sebuah tanggal, satu hari setelah kepergian Minho. Saat itu lah Hye ri menandatangani surat itu, hanya tiga puluh menit sebelum melakukan transfer sumsum tulang belakang. Matanya berhenti pada baris kalimat yang menyatakan bahwa Hye ri mendonorkan sumusum tulang belakangnya pada seseorang yang diberi nama ‘Anonymous’.

Pikiran Hye ri menerawang, saat itu ia ada dalam ruangan yang sama dengan sang penerima donor. Sama-sama terbaring tak sadarkan diri, kemudian dipisahkan setelah Dokter mengambil sumsum tulang belakangnya. Sudah empat tahun berlalu, entah mengapa mimpinya barusan tiba-tiba saja membuatnya teringat akan sang penerima donor. Apa benar ia hidup dengan baik? Hidup dengan sumsum tulang belakang Hye ri? Tapi, mengapa ia justru memimpikan Key yang terbaring di atas ranjang? Apa jangan-jangan Key adalah…

Hye ri tersenyum geli, bodoh! Mana mungkin Key adalah sang penerima donor? Terlalu bagus untuk sebuah kebetulan. Lagipula Key tidak pernah terkena kanker darah, ia adalah namja yang sangat sehat. Hye ri memasukkan dokumen itu ke dalam mapnya, berjalan ringan ke arah cabinet dan menyimpannya di tempat semula. Ini aneh, tapi ia rasa ia mulai ingin mengetahui identitas sang penerima donor. Yeah! Setelah empat tahun berlalu, hanya ingin memastikan bahwa orang itu tidak menyia-nyiakan sumsum tulang belakangnya. Mungkin ia bisa menghubungi Song Seonsaengnim nanti.

Hye ri kembali ke atas ranjang sambil menggenggam ponsel ungunya, memutuskan untuk kembali tidur dan menghubungi Key pagi nanti dan mungkin Song Seonsaengnim. Matanya kembali terpejam, tapi itu tidak membuatnya tidur. Yang ada dalam kepalanya hanyalah namja bernama Kim Kibum. Hye ri membuka matanya, kembali mengecek ponselnya. Tangannya begitu saja membuka pesan-pesan singkat yang belum dibacanya sejak dua hari yang lalu.

Lengkungan kecil mulai terbentuk di bibir Hye ri, seiringan dengan pesan-pesan singkat yang baru saja dibacanya.

From : Nae Kim Key at 10:13am

Ya Tuhan! Aku melukainya lagi… Min Hye ri, kau di mana? Aku tidak menemukanmu di toilet wanita.

From : Nae Kim Key at 10.42

Mianhae, aku tidak seharusnya membentakmu di depan semua orang. Beritahu aku kau di mana? Mengapa kau tidak ada di tangga darurat?

From : Nae Kim Key at 11.10

Jebal… aku mencemaskanmu. Aku tahu kau marah padaku, setidaknya beritahu aku kau baik-baik saja. Ah! Kurasa itu pertanyaan bodoh, kau tidak baik-baik saja.

From : Nae Kim Key at 13.48

Beritahu aku kau ada di mana Min Hye ri! Ini tidak lucu! Kau ingin membuat Kim sajangnim-mu gila dan membuat perusahaan kita berantakan? Ayolah, aku akan menerima konsekuensi apa pun asalkan kau memberitahuku keberadaanmu. Aku akan sangat gila tanpamu.

Hye ri terus menjelajahi pesan-pesan singkat yang dikirim Key dua hari lalu padanya. Dan itu membuat senyumnya semakin mengembang. Entah bagaimana, tapi deretan kalimat yang menyatakan bahwa Key sangat cemas itu membut Hye ri bahagia. Apa ia seorang maniak? Bahagia saat suaminya sendiri cemas dan nyaris gila karenanya? Yeah! Ia rasa ia seorang maniak.

Deretan pesan singkat itu membuat jantung Hye ri kembali berdebar, debaran aneh seperti orang yang baru jatuh cinta. Menggelikan! Apa ia mulai menyukai Key? Atau selama ini ia memang telah menyukainya? Tapi, bagaimana dengan Minho? Aish! Molla! Bahkan hari kemarin ia sama sekali tidak mengingat Minho dalam kepalanya. Mata Hye ri masih dimanjakan dengan pesan-pesan singkat dari Key saat ia berjengit dan menyadari sesuatu. Hei! Sejak kapan ia menyimpan nomor Key dengan nama ‘Nae Kim Key’ ? Hye ri menundukkan kepalanya, wajahnya telah memerah seperti kepiting rebus. Ia menutup ponsel flip, memutuskan untuk berhenti membaca pesan singkat lain dari Key. Ia rasa ia akan mati lemas jika membaca semuanya.

***

Bau menyengat menyeruak ke dalam hidung Key, membuatnya mau tak mau tersadar. Ia mengerang pelan, merasakan kepalanya yang pening dan tubuhnya yang terasa sedikit ngilu. Sesosok bayangan buram segera tertangkap oleh kedua matanya, “Ireonasseo?” tanya suara yang tidak asing di telinga Key. Key mengerjap-ngerjapkan matanya, membiasakan matanya dengan cahaya silau yang tidak bersahabat. Sedikit demi sedikit bayangan di hadapannya berangsur jelas dan Key segera mengenali siapa itu.

“Oh!” Key mengerang lagi saat ia berusaha bangkit, dan itu membuat kepalanya semakin pening. “Kau tidur saja.” titah Jinki, kali ini ia mendorong tubuh Key agar kembali tidur. Tapi namja bernama Kim Kibum itu tidak peduli, ia kembali berusaha untuk bangkit dan duduk sambil bersandar.

Jinki duduk di bangku dekat ranjang, menatap Key yang terlihat lebih pucat dari sebelumnya. “Tadi kau pingsan dan sekarang kita ada di klinik di sekitar komplek rumahmu.” terang Jinki sebelum Key bertanya apapun. Key hanya diam, berusaha membiasakan dirinya dengan kondisi tubuh yang sedikit aneh. Jinki menoleh ke belakang, seolah mencari tahu kalau-kalau ada orang lain yang masuk ke ruangan yang hanya ditutupi tirai putih itu “Dokter bilang kondisimu sangat buruk, kau terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.”

Arasseo, hari ini aku melewatkan makan.” Key menanggapinya acuh tak acuh, membuat Jinki memutar bolamatanya jengkel. “Apa ini ada hubungannya dengan kejadian saat kau pingsan beberapa bulan yang lalu, Key?” tanya Jinki penuh selidik. Key diam, matanya mendelik. Pertanyaan Jinki mau tak mau mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan yang lalu, juga pada kejadian saat ia bersama Nicole, dan mungkin Jinki ada benarnya.

“Aku hanya terlalu lelah, Jinki. Aku hanya perlu istirahat dan makan lebih teratur.” Kini Key telah duduk bersandar, matanya liar mencari-cari ponselnya. Dengan cepat ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, mengeceknya dan harus menelan kekecewaan. Lagi-lagi tak ada pesan singkat yang masuk. Semarah itu kah Hye ri padanya? batin Key.

“Berhenti mencemaskannya. Saat ini kaulah yang seharusnya ia cemaskan.” ucap Jinki seolah bisa membaca pikiran Key. Jinki tahu, kemanapun dan apapun yang dilakukan Key. Hanya akan ada Hye ri dalam pikirannya, sekalipun Key dalam keadaan tidak sehat sekalipun.

Key tidak menanggapi ucapan Jinki, ia bangkit dan hendak memakai sepatunya saat menyadari selang panjang di tangannya mempersempit ruang geraknya. Ia sempat menatap Jinki sekilas, kemudian menatap selang panjang itu sampai ke labu infus yang tergantung di seberangnya. Ragu-ragu Key melepas plester kecil yang merekatkan beberapa senti selang pada punggung tangannya, ia meringis saat mencabut selang yang tertancap di tangannya. Tentu saja ini bukan pertamakalinya ia berhubungan dengan benda seperti itu, Key hanya sudah lama melupakannya dan tidak menyangka bahwa ia bisa mencabut selang itu tanpa bantuan perawat.

Sempat terdiam saat merasakan kepalanya kembali berdenyut, tapi kemudian Key mengabaikannya dan beranjak. Meraih jaket baseballnya yang menyampir di kursi yang diduduki Jinki. “Sebaiknya kita pulang, mau mengantarku?” Key berdiri di hadapan Jinki, menunggu namja itu beranjak. Tentu saja ia tidak bisa menyetir dalam keadaan seperti ini, kepalanya benar-benar pening.

Jinki berdecak kesal, menikah dengan Hye ri benar-benar membuat Key terjangkit penyakit keras kepala milik Hye ri. “Kuantar kau pulang setelah kau mendengarkanku.” Jinki sama sekali tak beranjak dari tepatnya. “Apa?” tanya Key tak sabaran, ia masih bediri di hadapan Jinki.

“Dokter bilang ini serius.” Jinki melemparkan tatapan tajam yang seolah bisa menusuk kornea Key saat itu juga. Sejujurnya Jinki malas untuk membahas hal ini, Key lah yang seharusnya lebih awas mengenai kesehatannya sendiri.

Sorot mata Key meredup, ia terlihat tidak senang dengan hal yang dibahas Jinki. Key duduk di tepi ranjang, menatap dinding putih di hadapannya. “Arasseo, aku hanya perlu beristirahat. Terimakasih sudah mencemaskanku.” ujarnya tanpa sedikitpun menatap Jinki.

“Kau melupakan sesuatu, Key. Sudah berapa lama kau tidak check up?” Jinki tak menanggapi ucapan Key, melontarkan pertanyaan yang sukses membuat Key tertegun. Jinki benar! Key telah melupakan hal itu, hal yang dulu sangat tidak boleh terlewatkan olehnya. Tapi Song Seonsaengnim mengatakan bahwa ia tidak perlu melakukan check up sesering dulu. Key mengalihkan pandangannya dari tembok, menatap Jinki dengan wajah berdosa-seperti anak kecil yang tertangkap basah makan biscuit coklat di malam hari.

I’m okay, sebaiknya kita pulang sekarang.” Key memaksakan seulas senyum kemudian beranjak sembari memakai jaket baseballnya. “Kau masih melupakannya?” tanya Jinki, ia tak sedikitpun beranjak dari kursinya. Tentu! Tentu saja ia tidak mau membahas ini, karena itu sama saja mencari perkara. Tapi bagi Jinki, lebih baik mengingatkan selagi ia menyadari sesuatu yang tidak disadari Key. Itu lebih baik bagi Jinki, mengingatkan apa yang ia ingat sebelum menyelesaikan masalah lainnya.

Key tidak menjawab, ia hanya memandang Jinki dengan tatapan yang seolah mengatakan apa?Geumanhae, aku tidak mau membahas betapa aku seharusnya tidak perlu mengingat atau mengkhawatirkan Hye ri saat ini. Perlu kau tahu Jinki-ya, itu di luar kendaliku.” Protes Key, berusaha menghentikan pembicaraan Jinki yang mengusik dirinya.

“Kau adalah penerima donor.” ucap Jinki datar, ia kemudian beranjak dari kursinya. Mengeluarkan kunci mobil Key dalam saku celananya, dan berjalan begitu saja hendak meninggalkan Key.

“Apa maksudmu?” tanya Key tajam, ia tidak mengerti mengapa sahabatnya itu tiba-tiba mengingatkan bahwa ia adalah penerima donor. Tentu saja Key tidak akan melupakan hal itu hingga ia mati sekalipun. Jinki menahan langkahnya, berbalik dan menatap Key “Kau lupa bahwa kau adalah penerima donor. Alkohol dalam jumlah rata-rata sekalipun sangat berbahaya untukmu, bisa kau pikirkan sebesar apa bahaya yang mengancammu jika dalam satu hari ini kau hanya mengkonsumsi alkohol?” Jinki memaksakan seulas senyum, tidak ingin Key beranggapan bahwa ia tengah bertindak sok tahu atau sejenisnya.

Key diam, ia terhenyak. Jinki benar, sejauh itu kah ia telah melupakan tentang dirinya sendiri? Hingga ia begitu akrab dengan alkohol beberapa bulan ini? Oh! Key rasa ia perlu menyegarkan pikirannya dari makhluk bernama Min Hye ri.

Keduanya hanya diam hingga Jinki beranjak dari kursinya dan menarik Key begitu saja. Key tidak melakukan perlawanan, ia membiarkan Jinki menyeretnya keluar dari klinik. Bertambahlah hal yang membuat kepalanya semakin pening.

***

Key terbangun dari tidurnya saat suara Jinki memanggil-manggil namanya. Namja bermata sipit itu tetap mengguncangkan tubuh Key meskipun Key telah mengerang pelan, menandakan bahwa ia telah bangun.

Ireonna! Aku pulang. Aku membuat bubur untukmu di dapur, bye!” ucap Jinki dan berlalu tanpa menunggu Key menanggapi ucapannya.

Key mengerjapkan matanya, kepalanya masih terasa pening tapi ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang, mengumpulkan nyawanya sambil memandang jendela kamar yang diterpa sinar matahari pagi. Key melirik weker di nakas, jam 8 pagi. Dengan cepat ia mencari ponselnya, mengeceknya saat ponsel layar sentuh itu telah berada di tangannya. Ada pesan masuk! Dengan cepat jarinya menekan tombol ‘read’ dan lagi-lagi harus menelan kekecewaannya karena pesan itu bukan berasal dari Hye ri.

From : Nicole at 7.23

Yaa! Kenapa sms ku semalam tidak kau balas? Key, Jinwoon dan yang lainnya mengadakan pesta. Kita akan pergi bersama kan? Jam 10 di café Espresso. Jinwoon akan memberitahukan tempatnya jam 10.

Key mengucek matanya, memastikan bahwa ia tidak salah membaca. Jinwoon? Benarkah Jinwoon telah kembali ke Korea? Tiba-tiba saja hati Key merasa senang. Jinwoon adalah teman lamanya, juga teman Nicole. Ia, Nicole, dan Jinwoon adalah sahabat baik semasa pertukaran pelajar di Kanada dulu. Persahabatan mereka terus berlanjuut hingga mereka kembali ke Korea dan lulus kuliah. Hingga Jinwoon pergi ke Australia untuk mengurus bisnis milik keluarganya. Dibandingkan dirinya, Jinwoon jauh lebih dekat dengan Nicole. Tentu saja saat itu Key mencurigai sesuatu di antara mereka, hingga kecurigaannya tak tuntas karena kepergian Jinwoon yang mendadak.

Pesan singkat itu secara tidak langsung mengingatkan Key akan masa-masa kuliahnya dulu bersama Nicole dan Jinwoon. Jauh-jauh hari sebelum ia mengenal Hye ri. Yeah! Key rasa pikirannya akan lebih segar jika ia bertemu Jinwoon dan bernostalgia.

Jari-jari tangan Key bergerak cepat membalas pesan dari Nicole.

To : Nicole at 8:09

Call! I’ll be there at 10. Ngomong-ngomong, kapan Jinwoon kembali ke Korea? Ia tidak mengabariku? Aish! Jinjja!

Key melempar ponselnya ke atas ranjang, beranjak dengan cepat menuju kamar mandi. Ia rasa ia harus besiap-siap dan ah! Bubur buatan Jinki tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

***

Key menepikan mobilnya di halaman parkir sebuah café bernama Espresso. Café itu belum terlalu ramai dan Key yakin café itu baru saja buka. Tanpa berlama-lama Key segera masuk ke dalam Café, dan segera menghampiri yeoja dengan coat berwarna coklat kotak-kotak.

Wasseo? Duduklah, aku sudah memesankan Latte untukmu. Oh! kau sudah sarapan?” Nicole menunjuk kursi di hadapannya, kemudian kembali menyesap kopi dalam cangkirnya.

Gomawo, tapi aku sudah sarapan.” jawab Key santai, ia sempat memperhatikan strawberry cake di hadapan Nicole. Nicole tak menanggapi Key, meskipun ekspresinya berubah tapi ia tetap menyesap kopinya santai. Yeah! Jika Key sudah sarapan, itu artinya istrinya yang membuatkan sarapan. Baik sekali yeoja itu mengijinkan Key pergi bersamanya, batin Nicole.

“Oh! jadi kapan Jinwoon kembali? Jinjja! Ia sama sekali tidak memberitahuku.” Key memulai percakapan.

Nicole menaruh cangkirnya, menarik piring kecil berisi strawberry cake ke hadapannya. “Semalam. Aku sudah mengirimmu pesan dan meneleponmu berkali-kali, Key. Jinjja! Apa sih yang sedang kau lakukan?” Nicole berdecak kesal, kemudian menyendokkan cake ke dalam mulutnya.

Key terkekeh, ia memang sempat melihat ada pesan masuk dari Nicole saat ia di taman bersama Jinki. Yeah! Tapi tentu saja saat itu ia sedang tidak ingin membaca pesan selain dari Hye ri.  “Aku sudah tidur.” Jawab Key sekenanya, percakapan mereka terinterupsi saat seorang pramusaji membawakan secangkir latte untuk Key.

Nyaris Key mengangkat cangkir dan menyeruput lattenya saat ia menyadari sesuatu. Ia tersenyum kecil melihat latte art di cangkirnya. Latte art itu berbentuk hati, hati dengan sebuah kunci di tengahnya. Key mengalihkan pandangannya pada Nicole, menatap Nicole sambil mengangkat satu alisnya.

Nicole tersenyum, ia tahu Key baru saja menyadari latte art di cangkirnya. “Waegeurae?” tanya Nicole berusaha menahan rasa senangnya. “Kau yang memesan ini?” Key mengangkat cangkirnya, sedikit memiringkannya ke arah Nicole.

“Kau suka?” Nicole balik bertanya. Key terkekeh, kembali memandang latte art dalam cangkirnya. “Nice art.” tanggap Key sebelum akhirnya menyesap latte, membuat Nicole memberengut kecewa. Yeoja itu berdecak kesal sebelum akhirnya kembali menyendokkan cake ke dalam mulutnya.

Sejujurnya Key ingin mengucapkan terimakasih karena Nicole telah memesankan latte art itu untuknya. Tapi sayang, latte art itu justru kembali mengingatkan Key pada Hye ri. Yeah! Latte art itu memang sangat sesuai untuk Key, ia adalah kunci yang berusaha membuka hati seorang Min Hye ri. Dan seperti latte art itu, yang akhirnya memudar dan rusak setelah Key menyesapnya.

Sejenak keduanya hanya diam, Key sibuk dengan lattenya dan Nicole dengan cakenya. “Jinwoon sudah memberitahukan tempatnya?” tanya Key memecah keheningan antara mereka. Nicole menyendokkan lagi cake ke mulutnya, kemudian merogoh saku coatnya. “Oh! ini Jinwoon.” Nicole mengangkat ponselnya, ia menyesap kopinya cepat sebelum menjawab telepon.

“Jinwoon! Aku sudah bersama Key. Jadi, di mana kau akan mengadakan pesta? Jinjja! Key sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu.” Nicole mengerling ke arah Key, mebuat Key kembali terkekeh.

Mwo? Ah! Ne,ne,ne,ne,ne? aish! Geurae..hemmm…” Nicole menyudahi sambungannya dengan Jinwoon. Meletakkan ponselnya dengan manis ke atas meja dan kembali menyesap kopinya.

“Apa? Jinwoon bilang apa?” tanya Key tak sabaran.

“Ia bilang pestanya diundur, jam 12 ini dia akan menghubungiku lagi untuk kepastian tempatnya. Ia bilang harus mengurus sesuatu di rumahnya. Aish! Menyebalkan.” Gerutu Nicole.

Key melirik arlojinya, jam 10.25. Akan sangat merepotkan jika Jinwoon kembali mengabari pada jam 12 dan Key tengah berada di rumah. “Kau akan menunggunya?” tanya Key ragu, sejujurnya itu kembali mengingatkannya pada Hye ri. Entah mengapa Key yakin bahwa Hye ri akan pulang hari ini. Besok tidak libur dan tentu saja Hye ri tidak mungkin berangkat dari rumah orangtuanya ke kantor. Akan semakin kacau jika saat Hye ri pulang Key tidak ada di rumah.

Key masih menimbang saat Nicole membuyarkan pikirannya “Sure! Key, bagaimana jika kita berjalan-jalan selagi menunggu kabar dari Jinwoon?” Yeoja itu mengangkat satu tangannya ke arah pramusaji di balik cake display , dengan cepat mengeluarkan beberapa lembar won yang sudah ia perkirakan setara dengan angka yang tertera dalam bill.

“Ambil saja kembaliannya.” ucap Niole setelah ia melihat angka dalam bill, ia kemudian beranjak dan menarik Key keluar café sebelum namja itu menyetujui ajakannya. Ia tahu, Key akan menimbang terlalu banyak hal untuk menyetujui ajakannya.

***

Key melirik lagi arlojinya, sudah jam 11.30. Ia dan Nicole sudah berkeliling ke banyak tempat untuk menghabiskan waktu. Mereka sudah mengunjungi beberapa toko untuk sekedar melihat-lihat atau Nicole yang terkadang membeli satu dua barang untuk dirinya sendiri. Dan di sinilah mereka, berkeliling di sebuah toko serba ada.

Key kembali menguap sambil sesekali mengecek ponselnya, tidak ada pesan singkat ataupun panggilan dari Hye ri. Sampai berapa lama yeoja itu akan berkeras kepala? pikir Key. Key berusaha menghilangkan rasa bosannya, dengan menanggapi ucapan Nicole yang sedari tadi bicara tanpa henti. Yeoja itu tetap mengepit tangannya kirinya di tangan kanan Key sambil terus berbicara menganai banyak hal.

Key menguap, menanggapi celotehan Nicole tidak membuat rasa bosan atau kantuknya hilang. Jinjja! Meskipun sedang berada di toko, tapi Key sama sekali tidak berminat untuk berbelanja. Sedikit malas Key mengedarkan pandangan ke penjuru toko sejauh yang bisa kedua matanya tangkap, mungkin ada sesuatu yang menarik.

“Key! Lihat itu! Coat dengan bulu-bulu itu sangat bagus kurasa, cocok untuk musim dingin.” Celoteh Nicole lagi, ia menunjuk ke satu arah yang ada di sampingnya. Key memutar kepalanya, hendak mengikuti arah yang ditunjuk Nicole, namun ia berhenti saat matanya menangkap seseorang yang tengah berdiri beberapa meter di hadapannya.

Mata mereka bertemu, membuat mata bulat yeoja di hadapan Key semakin membesar. Yeoja itu terkejut saat mata mereka bertemu, seolah tidak pernah memperkirakan bahwa Key akan menyadari keberadaannya. Ia terlihat sedikit kebingungan, melempar pandang ke arah Nicole yang masih belum menyadari keberadaannya. Akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah seribu, menjauhi keduanya sebelum Key sempat mencegahnya.

“Min Hye ri!!!” panggil Key. Ia berlari begitu saja, meninggalkan Nicole yang tiba-tiba terperanjat oleh teriakan Key. Nicole masih belum menyadari apa yang terjadi, ia berlari mengikuti Key yang dalam sekejap menghilang dari pandangannya.

=TBC=

43 thoughts on “Archangel – Part 18

  1. aigoo finally ini FF nongol juga hhe
    arghhhhh gemes beneran! TBCnya knp cuma smpe disitu thor??😦

    Virgin Pina Colada tanpa Rum! \(^0^)/

    Gak lama lagi, sepertinya kasus donor sum sum tulang itu akan terungkap.. Gimana reaksi Hye ri & kim sajang yah?? *curious
    Ah! Min Hye Ri bener bener deh, masih tetep aja berusaha menyangkal perasaannya sama Kim Sajang! aish..
    WOW Jin Ki ssi~ memang sahabat yg pengertian dan lebih mengenal baik sifat Kibum, di banding Kibumnya sendiri keke apaaa mereka ?? *eh*
    jadi khawatir sma kondisinya Kim sajang nih thor. Gak rela kalo smpe terjadiii.. x_x
    “tiba-tiba aku rindu dgn moment-moment kebersamaan Kim sajang & Hye Ri thor😦 ”
    scene mellow gini jadi butuh hiburan dari scenenya eunjjong couple deh bwahaha ^^v

    ‘eh btw, knpa Min Hye Ri beli lip balm yg Orange flavor ya? bukannya yg passion fruit flavor?’ hahaha *gk penting*😀

    baca part ini sambil dengerin lagu Kiss The Rain – Yiruma, feelnya dapet bgt!!😥 *bawaannya lgs mellow* Really! ^^
    Part 19 jangan lama-lama yah thor?! serius nih..
    I’ll always be waiting~

    Fighting!
    Keep writing eun cha ssi~🙂

    • Harap bersabar menunggu part selanjutnya.kekekke.
      aish! kayanya Virgin Pina Colada itu udah jadi racun banget yh d ff Ini?.kekek.
      wah, no comment soal Jinki-Kibum. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu apa yang terjadi antara mereka *eh?*
      kita nantikan kondisi kim sajang selanjutnya.hhu. kayanya part ini penuh kegalauan yah?heheh.

      Pgn jg sih membahas eunjjong couple, tpi pgn fokus ke KeyRi couple dlu biar cerita lebih jelas *apa deh ini?-_-a*

      .hha. kenapa orang flavour coba? kn yg passion fruit flavor Hye ri udah punya.hha. *ga penting*

      yups, mudah2an ga lama lagi part 19nya.kekek.
      Thank you :*

  2. Finally! *helanafas*
    ih nicole nih emang pengen ditonjok banget-______- cewek kegatelan ih.-. *emosi
    Oh iya, gaada kritik buat ff mu thor. DAEBAK!
    aku speechless dan nunggu next part nya;) hehehe

  3. pengen buang jauh2 deh tuh kata tbc !! ah kesel konflik gk selesai2!! ntar hye ri berpikiran key selingkuh ama nicole, trus berantem lagi, baikan lg, berantem lg, baikan lg, berantem lagi -.-” udh ngerasa lg nntn kdrama

    kebwa emosi jdnya aku eon. oh btw kok eon bisa kenal jenis2 alcohol sih? aq jg lg bkin ff dan kyknya butuh salah satu jenis alcohol buat dimskin ke ffku.. tp apa ya?

    part 19 gk lama kan? gk sabar nih!!! brp chap lg? ini udh msk klimaks blm?

    • Wah, maafkan author yang udah kepengaruh drama Korea yah.hha.

      Itu aku dapet baca2 artikel soal jenis2 alkohol Hana. Kalo buat cocktail di part ini yang namanya ‘Sangria’, itu ak tau dari buku SHINee in Barcelona. Waktu di Barcelona Key selalu pesen Sangria ke setiap tempat makan yang mereka datengin😛
      Kamu bisa search ajah di google soal jenis alkohol/cocktail yang terkenal ^^~

      Mudah2an ga lama lagi part 19 udh bsa publish😉
      Kalo ga melenceng sih sampai part 25 dan sekian.hhe. mudah2an ga lebih deh, udah kepanjangan jg soalnya.hhe.
      Klo klimaks sih menuju kyanya, u/klimaksnya mgkin di part 19/20 udh nyampe.kekek.
      Gomawo Hana ^^~

  4. Tuhh kan bener, key nya sakit kbanyakn minum sihh, aishh smpe kpn hyeri kyak gt, gregetan aku bacanya..

    Eun cha-ssi !!!!
    bisakah kw mnghilangkan kata TBC??
    sumpah mengganggu banget ><
    jd ini ada 25 part yaa?? aisshh msh 7 part lg. masih lamaa. Thor klo bisa langsung publish ampe part akhir aja. Rasa penasaranku kayaknya udah nyampe di ubun² iniii ≧.≦

    • wah.wah.wah… aku juga pengennya lanjut ajah nih ga usah ada TBC. Tapi nti bosen & cape dong kalo kepanjangan.kekekek.
      Mudah2an ga melenceng dan jadinya sampe part 25 ajh.hhe.
      Langsung publish sampe part akhir? hemm…. nantikan yaah🙂
      Gomawo Ummul ^^~

  5. Ikhhh nicole lama2 gatel juga yaa..
    Sini aku garuk pake garpu.. Hahaha
    Lagi2 salah paham..
    Cape juga jadi Key-Hyeri couple..
    Cape hati..haha
    Next part yuuu

  6. aku jadi khawatir kalo pnyakitnya key kambuh lagi… u.u tp mungkin bntar lagi kasus donor itu kebongkar…
    aigoo, itu jangan sampe hyeri salah paham sama key yg lagi jalan sama nicole u.u
    bbrpa part ini udah nysek bgt loh~

  7. Wah virgin pina colada tanpa rum muncul lg. Naaah akhirnya hyeri dpt pencerahan nih! Hbt dia udah bisa ngelupain Minho! Dan kyknya key hyeri bakalan sgra tau mngenai sumsum tulang blkng itu. Can’t wait for the next chapter!

  8. mimpinya itu super menyesakkan… kirain tadinya key yg mmg dirawat, rupanya mimpi ttg minho yg berubah jadi key…. tuh kan, Hyeri sendiri dah ngaku kl dia jg cinta sama Key, but i think she’s too late…

    trus, key bakal sakit lagi, gt? jangan buat ceritanya sad ending kayak Dazzling autumn, y…. jgn sampe key mati… jebal….

    trus, trus, kok tiba2 ada jyeri d situ? udah pulang balik ceritanya, gitu?

  9. itu knp lgi TBC nya nongol,, lnjut aja thor, gak ush da TBC,..
    hehehe..

    akhirnya si hyeri mulai mkirin key,, senengnya hatiku.., turun panas demam ku(?)
    hehe..

    behhh,, hyeri pasti sakit hai lgi nie, ngeliat key-nicole..,
    kasian hyeri,,
    krimin pw u/next partnya y eun cha

  10. apa key bakal sakit lagi? apa mereka bakalan tau siapa pendonor dan penerima donor? molla…
    nicole lagi -_-
    spertinya hyeri udh mulai sadar…

  11. kenapa cig hyeri tdk jdi2 menghbngi key, trus apalgi nhe mslah yg akan mrka hdpi tmbh runyam ja, aplgi dgn kondsi key saat ini, apa mrka akn brtngkr hbat ya???
    euncha-ssi pstikan key baik2 ja ya

  12. ada pa dengan lip balm orange??
    trz masalah mnuman nanas itu apa?? emg hye ri bsa wat mnuman kyak gtu ya??
    akhirnya mereka bertemu juga, yahh walaupun timingnya tidak terlalu tepat..!! nicole knapa c jdi orang k3 di saat seperti itu???
    jadi penasaran wat klanjutannya..
    lanjut truz Eun-nie…

    • Bakalan sakit lg nih sih key > < hye ri kebanyakan mikir ah udh tau udh ad rasa sama sih key masih aj k pikiran ci minong😥

  13. my summary.. hehehe

    “Sampe nangis aku baca part 18-20 eonnie.. ditambah lagi lagu yg kuputar pas baca ini ost dari the moon embraces the sun tambah mengalir ni air mata (krakternya hyerinya kaya aku banget, ada poni sealis dan smuanya .. leby)”

    Eonnie, aku boleh minta part 21-24 gag eonnie ^^

    ***

    hyeri tiba dirumah ummanya, hatinya sangat tenang setelah kembali kerumahnya yang lama, tempat kelahirannya, tempat dia berteduh waktu hujan, dan tempat dia bergurau bersama umma dan appanya serta mendiang minho.

    next…

    hyeri tidak memperdulikan masalahnya saat ummanya menanyakan keadaan keluarnya dengan key, ummanya merasa ada yang tidak baik dengan keluarganya, namun hyeri berbohong lagi mengenai keluarganya bersama key.

    malamnya hyeri mengambil ponsel flip ungunya ditasnya, lalu dia melihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dilayar ponselnya, dan betapa senangnya ia saat nama pengirim pesan singkat itu adalah suaminya sendiri yaitu key.

    key mencoba untuk menyuruh hyeri pulang, banyak sekali pesan singkat yang dikirimkan key kepada hyeri yang membuat hyeri tersenyum sumbringan.

    sisi lain saat pulang dari kantornya key melakukan kebiasaannya yang baru bulan kemarin dia lakukan yaitu bersenang-senang kebar. key mabuk-mabukan lagi, namun kali ini lebih parah dari yang terdahulu. (bukan karakter key yg sebenarnya…hehhe).

    saking mabuknya, jinki membelikannya 4 botol jus jeruk dan membanting setir ke sebuah taman dan menyuruh key untuk meminumnya. Lalu saat kesadaran key mulai kembali, tiba-tiba pandangan key gelap dan tubuhnya terjatuh. jinki pun membawa key kerumah sakit dan saat ia sadar , jinki mencoba memberitahukan key tentang penyakit lamanya.

    namun key bersikap datar dan tidak memperdulikannya, dia mencoba untuk mencari hyeri namun dicegat oleh jinki.

    keesokan harinya key mencari ponselnya dan melihat apakah ada pesan singkat dari hyeri atau tidak, dan hasilnya tetap nihil. Tidak ada satupun pesan ataupun panggilan masuk dari hyeri melainkan pesan dan panggilan masuk dari nicole yang mengundangnya ke pesta atas kembalinya jinwoon.

    dan dia menemui nicole sesuai dengan janjinya di pesan singkat itu, pukul 10 ia telah sampai di cafe expresso. disana ia berbincang2 tentang masa lalu mereka saat berada 1 sekolah. mereka bertiga memang telah mengenal telah lama hingga sekarang.

    jinwoon menghubungi nicole dan mengatakan bahwa ia akan datang pukul 12 dan itu membuat key tambah tidak sabaran bisa bertemu lagi dengan sahabatnya yang satu itu. nicole membuat waktu mereka yang tinggal 1 jam 30 menit itu untuk berjalan2. Walaupun masih ada sedikit keraguan dihati key, dia masih berfikir jika nanti hyeri akan pulang kerumah.

    akhirnyanya key dan nicoleh pergi berjalan2 kekota, dan dalam waktu yang bersamaan pula hyeri juga pergi ke toserba untuk membeli bahan2 untuk masak. hyeri berencana untuk membuatkan makanan special untuk key .

    namun hal itu sepertinya tidak akan terjadi , karna hyeri bertemu dengan key yang sedang bersama nicole. apa yang terjadi setelah itu yaa??
    ****

  14. Daebakk….
    Ikut senyum2 sambil nangis pas baca sms yang dikirim sama Key…heran deh kenapa nicole selalu deket-deket sama key,,#emosi tingkat dewa…
    pengen cepet2 lanjut baca part selanjutnya…..

  15. aigoooo…
    yaaaa!!!!!nicol!!!!! kok keganjenan bgt sih….
    key jg…
    ngapain sih mau ja di gandeng2 ma nicol…
    betul2 prustasi aq dgn makhluk2 nih…😥

  16. sejujurnya awal baca archangel part 18 sempet kepikiran, euncha tau bnyk ttg alkohol yah?? LOL
    ada virgin pina colada, shangria, vodka (udh sering dngr namanya sih klo yg ini, hehe) *abaikan*

    di part ini, jujur suka bgt karena ada jinki yg bnyk nongol disini, ahahaha😄 *dijitak*
    aku suka bgt ama cerita jinki yg care bgt sama key, selalu ada buat key (ciahh)
    pdhl dia jg lg ada mslh ama aeri (yg sayangnya msh blm terlalu dikupas -?-) tp masih sempet2nya aja mikirin ttg mslh key, aigoo jinki, pngn bgt bisa punya pacar kyk kamu😛 *ditendang*

    btw, pendeskripsian kamu ttg jinki di bar yg “t-shirt putih bergaris hitamnya” mengingatkanku pd foto2 jinki pas di buku shinee in barcelona, hahahaha😄 *abaikan saja komen ini*

    key jgn2 sakit lagi yah??
    aduh pas jinki mengingatkan key yg penerima donor entah knp takut key knp2 lg😥
    apalagi hyeri sempet mimpiin key yg sekarat gtu di rumah sakit, aduh, moga2 gak ada apa2 sama key ><

    aihh gak tau knp yah, perasaan saya kok blg pertemuan ama jinwoon itu cuma akal2an si nicole doang buat ketemu ama key yah???
    klo bnr cuma akal2an mah bnr2 deh si nicole, minta ditenggelamin di sungai han kyknya *kesel sendiri*

    • .hha. iyh, di FF ini emang ada banyak banget jenis alkohol. Tadinya sih biar bkin ff ini beda, soalnya kya soju ato vodka kan udah ga asing lagi. jdi nyari referensi lah jenis2 alkohol yang lazim *?* juga.

      Eciyeeh,,, jiwa MvP muncul nih, Putto? .kekek. ^^v

      wah! majayo! penggambaran Onew di sini emang aku ambil pas yang lagi di Barcelona itu loh yang baju putih garis2 item.kekek. ada juga nih yang notice🙂

      .hha. kalo mau tenggelamin mba2 itu, aku dukung deeehhh.hhe.

      • salut~ sampe dibela2in cari referensi jenis2 alkohol coba, salut bgt ama euncha *2thumbs* ^^

        wahahaa iyaaa😄
        entah knp klo baca ff ada bau2 (?) jinki / onew meskipun dia bkn main cast pasti bakal aku perhatiin peran dia di ff itu gmn, ahahahahaaa😄

        yg soal baju itu, pasti aku inget bgt, soalnya suka bgt jinki pke baju ituuu, hihihi~ :3 *muachh*

  17. aigooo bner” panas feelnya dpt eon…
    hye ri knp rasanya susah bgt ya bilang kata cinta……

    ahhh tapi eon konfliknya bener” bgus …. bikin penasaran eon…
    daebak deeh… lanjut ya eonn
    ditunggu pwnya

  18. Finally baca Part 18, kyaaa, smakin gemes ama kim-hye ri couple.
    Knapa kalian berdua egois sekali sih? Smoga balikan yaa?
    Kangen part2 mreka romantis
    Eun cha-sshi, pls keep writing
    Lanjut part 19

  19. hahaha
    jinki sm key mreka brdua sakit hatiny bs brengan y
    jatuh cintany jg?
    ap mgkn pnyakit key bkal dtg lg?
    ap hye rin mkin mrah sm key?

  20. Chinguya…..

    Apakah aku bolej baca dulu baru coment di part yang diprotect ?

    Emang sich ini gak adil buat authornim, yaaaa Ampun aku gak tahu harus comen apa….;(

    chinguyaaa………….

  21. Aish>< gemesin deh nih kapel key-hyeri hahaha
    Tuhkan hyeri baru sadar kalo sebenernya dia suka sama sajangnim-nya haha hadeuh cubit deh cubit '-')-C(-_-") wkwk
    Oiya author, once again. Maaf aku baca and coment ficnya ditengah" part, dari part 16 smpe yang ini, fyi aja aku baca part awalnya dari blog SF3SI. Berhubung wktu ntu gatau blog yg ini, jadi baca yang awalnya di blog yg sf3si. Aku bukan sider thor hehe okesip

  22. Kacau rumah tangga Key dan Hyeri TT
    Sedih liat Key nya mabuk ga terkendali,,,dan benci sama Hyeri yg ga nyadar2!
    Haduhhhhh…..penasaran kan saya…

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s