Archangel – Part 19

archangel

Archangel – Part 19

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

 Hayeee \(^o^)/ akhirnya part 19 publish juga nih. Adakah yang udah menantikannya?.kekeke. Khusus untuk readers yang neomu yeppeo, Eun cha persembahakan 25 halaman Archangel part 19. Duh! semoga ga cape yah bacanya😛 Tadinya part ini mau dibuat lebih panjang, tapi karena TBC di part ini udah di-setting sedemikian rupa biar bikin readers dongkol .*plaakkk* maka jadilah 25 halaman ini. Semoga terhibur. Seperti biasa saran dan kritik yang membangun akan sangat diterima. Patronizing is not allowed! Nah,nah, mau part 20 segera publish? A-yo komen yang banyak!!! .kekekek. Sekian, selamat membaca ^^

 “Bisa tunggu di sini? Aku akan kembali tiga puluh menit lagi.” ucap Hye ri pada supir taksi yang telah mengantar dari rumah orangtuanya. Supir taksi itu hanya mengangguk, menyetujui permintaan Hye ri. Sedikit terburu-buru Hye ri memasuki toko serba ada yang ia lewati, ia berencana membuat makan siang spesial untuk Key. Hye ri terlah berpikir, tidak baik jika ia terlalu larut dalam egonya. Lagi pula Key sudah berusaha untuk meminta maaf dan melakukan banyak hal.

Langkah Hye ri semakin cepat, wajahnya berseri-seri saat memasuki pintu toserba. Pikirannya terus membayangkan bagaimana Key akan terkejut dan senang saat melihatnya berada di rumah nanti. Ini aneh, tapi mimpi Hye ri semalam sukses membuat Key tak lepas barang sedetikpun dari pikirannya.

Nyaris tiga puluh menit Hye ri berkeliling di bagian bahan makanan, dan pilihannya jatuh pada pasta. Tidak perlu waktu lama untuk membuat pasta, selain itu ia tidak mau memasak makanan yang akan membuatnya repot. Berbagai perlengkapan untuk membuat pasta telah berada di trolinya dan ia hanya perlu membeli bahan untuk membuat makanan penutup.

Hye ri mendorong trolinya ke bagian di mana bahan membuat agar-agar dan pudding di simpan. Tangannya begitu saja meraih bubuk pudding instan rasa mangga. Ia yakin Key akan menyukai pudding mangga dengan siraman vla rasa vanilla. Hye ri kembali mengecek belanjaannya sebelum ia menuju kasir, memastikan tidak ada satupun yang ia lewatkan.

Langkah Hye ri terhenti saat sesuatu melintas dalam pikirannya. Ia menepikan troli belanjaannya di salah satu sudut tak jauh dari rak susu, kemudian melangkah menuju tempat di mana toko ini memajang aneka jenis pakaian.

Hye ri berdecak kagum, matanya menjelajah beberapa jenis pakaian yang saat ini sedang trend. Bahkan di sana dipajang banner-banner besar artis ternama yang mengenakan produk salah satu merk pakaian yang dijual. Hye ri melangkah semakin cepat, tak sabar untuk menilik satu persatu pakaian yang ada di sana. Apa ia akan gila belanja lagi? setelah hari kemarin ia berbelanja dengan eommanya? Entahlah, Hye ri rasa berbelanja memang bisa membuatnya merasa lebih baik. Lagipula musim dingin akan segera tiba, akan lebih baik jika ia membeli pakaian musim dingin lebih awal.

Langkahnya semakin cepat, beberapa model coat telah tertangkap kedua bolamatanya. Mungkin ia bisa membeli satu atau dua, atau mungkin tiga untuk Key. Sedikit lagi Hye ri akan mencapai rak di mana coat-coat itu digantung saat tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia kenal, membuat senyuman di wajah Hye ri memudar. Ia mengerjapkan matanya, berusaha meyakinkan bahwa ia tidak salah lihat meskipun hati kecilnya menginginkan bahwa ia telah salah lihat.

Sosok itu begitu jelas, ia tidak mungkin salah. Bagaimana bisa? Seharian ini ia terus memikirkannya, dan kenyataan selalu membuat kebahagiaan kecil di hati Hye ri menguap begitu saja. yeah! Itu Key, namja itu berjalan berdampingan dengan yeoja berambut pirang yang sangat tidak asing di mata Hye ri. Dan, wait! Nicole menyelipkan tangannya di sikut Key? Dan Oh! mengapa Key diam saja? Hye ri tertegun, berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Key berhenti menghubunginya dan sekarang namja itu tengah berjalan-jalan bersama Nicole.

Mata Hye ri berpindah pada Nicole, memperhatikan yeoja dengan coat coklat itu terus berbicara dan menunjuk ke deretan coat yang digantung di salah satu rak. Mengapa? Mengapa rasanya mereka berdua terlihat serasi dan seperti sepasang kekasih di mata Hye ri? Lagi, Hye ri merasakan sesuatu yang besar dan tajam menghantam dadanya. Membuatnya merasa sakit dan sulit bernafas, ini bukan pertamakalinya Hye ri menyaksikan pemandangan memuakkan seperti ini. Jadi benar rumor yang selama ini ramai dibicarakan orang di kantor? Bahwa antara Key dan Nicole memang ada sesuatu yang lebih dari sekedar atasan dan sekretaris? Haruskah sekretaris menggandeng tangan atasannya?

Seketika perasaan benci itu kembali menyeruak memenuhi rongga dada Hye ri. Ia benci ini, padahal seharian ini ia mencemaskan Key. Aish! Mengapa ia harus mencemaskan namja yang justru sedang asyik berjalan-jalan dengan yeoja lain?

Tak ada hal lain yang terpikirkan oleh Hye ri selain meninggalkan tempat itu sejauh mungkin. Berpura-pura tidak pernah melihat hal ini. Hye ri hendak beranjak, tapi rasanya seluruh sistem geraknya berjalan sangat lambat. Otaknya telah memerintahkan pada kaki untuk bergerak, tapi kakinya tetap diam hingga Key menyadari keberadaannya.

Mata mereka bertemu, membuat Hye ri terkejut. Ia hanya membulatkan kedua matanya, melihat ke arah Nicole dan berlari sebelum Nicole menyadari keberadaannya.

“Min Hye ri!!!” Hye ri dapat mendengar panggilan Key, tapi itu justru membuatnya semakin ingin berlari lebih jauh. Ia sama sekali tidak berharap Key akan menangkapnya dan menginterogasinya, atau yang lebih buruk lagi Nicole akan ada di samping Key dan memandang Hye ri penuh kebencian. Hye ri benci melihat Nicole tersenyum ke arahnya, sementara Key berdiri tepat di samping Nicole.

Hye ri berlari secepat yang ia bisa, hingga nafasnya tersengal. Ia tidak peduli, yang perlu ia lakukan saat ini adalah berlari dan bersembunyi ke tempat yang tidak bisa dijangkau Key. Rasanya ingin menoleh ke belakang tapi takut jika Key justru berlari semakin cepat dan menangkapnya. Pikiran Hye ri kacau, ia bahkan lupa bahwa ia menaruh troli belanjaannya di dekat rak susu.

***

Yeoja itu mengangkat barang belanjaannya satu persatu, beberapa ia taruh di meja makan dan lainnya ia biarkan tergeletak tak beraturan di sofa hijau di ruang tengah. Ia duduk di salah satu kursi makan, menatap taplak meja yang mulai terlihat kotor karena debu. Pikirannya menerawang, memutar ulang kejadian tiga puluh menit yang lalu. Key bersama Nicole, mereka berbelanja bersama. Yeoja bernama Hye ri itu tersenyum hambar, ia tidak salah lihat dan mengapa rasanya selalu sama? Memuakkan!

Semangatnya untuk memasak telah menguap sejak ia melihat Key, apa ia harus menangis? Atau marah? Entahlah, Hye ri merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Jika ia muak dengan hal itu mengapa rasanya ia tidak punya hak untuk meluapkan amarahnya pada Key, atau pada Nicole? Hye ri ingin sekali menarik Key, menjauhkannya dari Nicole dan memaki yeoja itu saat mereka bertemu tadi. Tapi ada sesuatu yang membuatnya takut, ia takut jika Key justru akan memilih untuk pergi bersama Nicole dan meninggalkannya, sama seperti hari itu.

Hye ri menarik nafas panjang, jelas-jelas dalam dadanya ada ganjalan besar yang membuatnya tidak nyaman. Tapi ia berusaha untuk tenang, ia tidak berhak untuk marah pada Key. Itu pilihan Key jika ia lebih suka bersama Nicole, Hye ri tidak berhak untuk mencegahnya. Sama seperti Key yang tidak berhak mencegahnya untuk tetap mencintai Minho.

Hye ri beranjak, kembali mengumpulkan mood dan semangatnya. Baiklah, ia akan menganggap tidak pernah melihat Key dan Nicole tadi. Sesuai rencananya, ia akan tetap membuatkan makan siang spesial untuk Key. Oh! semoga namja itu tidak makan siang bersama Nicole. Bahan-bahan makanan yang baru ia beli segera ia tata di atas counter dapur, kemudian memakai apron ungu kesayangannya sebelum memulai acara memasak.

***

Mianhae, sepertinya aku tidak bisa datang ke acara Jinwoon. Biar nanti aku saja yang menghubunginya.” ucap Key saat ia tidak berhasil menemukan Hye ri. “Mwo? apa yang terjadi, Key?” tanya Nicole, ia masih tidak mengerti mengapa Key tiba-tiba berlari dan oh! apa yang dibeli namja itu? Nicole menyipitkan matanya, berusaha membaca tulisan dibalik tas plastik yang dijinjing Key. Ada beberapa kotak di sana, sepertinya kotak susu, pikir Nicole.

“Aku lupa hari ini aku harus mengurus sesuatu, Cole-ah.” Key memaksakan seulas senyum, meskipun matanya tetap liar menjelajahi penjuru toko. “Hei! Jangan bercanda, ini hari Minggu dan ya Tuhan! Kau tidak ingin bertemu Jinwoon?” decak Nicole jengkel, ia mulai menebak siapa yang baru dilihat Key hingga namja itu rela berlari dan meninggalkannya. Sama seperti kejadian setahun yang lalu di bandara.

Arasseo, aku sangat menyesal. Tolong kirim nomor Jinwoon padaku, akan kuhubungi ia secepatnya. Oh! besenang-senanglah.” Key menatap Nicole, tersenyum kecil sebelum akhirnya berlari meninggalkan Nicole begitu saja.

Nicole membeku di tempatnya, menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Selalu seperti ini, mengapa yeoja itu selalu mengusik kebahagiaan Nicole? Bahkan disaat yeoja itu dan Key akan bercerai sekalipun. Hye ri menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Baiklah, ia harus bersabar. Tidak lama lagi perceraian Key dan Hye ri akan selesai, dan saat itu lah Nicole akan lebih leluasa mengambil Key.

Nicole berjalan ringan menuju tempat di mana ia melihat coat-coat indah tadi dipajang. Mungkin pertemuannya dengan Jinwoon hari ini bisa membuat perasaannya lebih baik.

***

Wasseo?” pertanyaan yang tidak diduga segera menyambut saat Key masuk ke rumah. Terkejut dengan Hye ri yang menyambutnya penuh senyum, seolah tidak pernah terjadi apa pun. “Palli anja! Aku sudah membuat makan siang. Oh!kuharap kau belum makan siang bersama Nicole.” Hye ri menarik Key ke ruang makan, memaksa namja itu duduk di salah satu kursi yang ditariknya.

Meskipun masih bingung, tapi Key tetap mengikuti keinginan Hye ri. Matanya segera menangkap dua piring spaghetti dan dua goblet yang ia yakini berisi Virgin Pina Colada. Sementara Hye ri berjalan dan duduk di kursi di seberang Key. Ia menatap Key yang masih terkejut dengan apa yang ada di atas meja.

“Kau tidak mau makan?” tanya Hye ri, ia menatap Key penuh harap. “Oh! sure! Aku akan makan, it looks great!” hanya itu yang mampu diucapkan Key di tengah keterkejutannya. Key mulai mengambil garpu, sementara Hye ri menyeruput Virgin Pina Coladanya.

Ragu-ragu Key menyuapkan spaghetti ke dalam mulutnya, sesekali ia mencuri padang ke arah Hye ri. Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa ia berubah dalam waktu singkat? batin Key. Hye ri mulai asyik dengan spaghettinya saat menyadari Key terus-terusan memandangnya. Ia menaruh garpunya, menggigit bibir bawahnya kemudian meneguk Virgin Pina Coladanya.

Ada sedikit kecemasan yang terpancar dari mata Hye ri, “Aku sudah tidak marah. Mianhae, aku terlalu egois,” Hye ri menatap Key dengan sorot mata yang meredup. Sementara Key justru tersontak dengan kalimat Hye ri, ia sama sekali tdak pernah berpikiran Hye ri akan meminta maaf. “Aku tidak seharusnya terlalu lama mempertahankan egoku. Itu kekanak-kanakan.” Hye ri terkekeh.

Key menarik goblet, meneguk Virgin Pina Colada sampai setengahnya. “Mianhae, aku yang seharusnya meminta maaf padamu dan yang tadi itu-“ Key belum menyelesaikan kalimatnya saat Hye ri menyambar “Tidak! Kita tidak usah membahas yang tadi. Aku akan menganggap tidak pernah melihatnya.”

 Hye ri menundukkan kepala, menatap spaghetti dalam piringnya, entah mengapa rasanya ada sesuatu yang membuat dadanya sesak. Pikirannya kembali memutar ulang kejadian beberapa jam yang lalu, saat ia tanpa sengaja melihat Key bersama Nicole. Dan itu membuatnya muak, sangat muak.

“Soal kejadian waktu itu, ” Hye ri kembali menatap Key. “Aku akan meminta maaf pada Nicole besok.” lanjut Hye ri, kemudian tersenyum kecil dan kembali menyeruput Virgin Pina Colada-nya.

Key menatap Hye ri, sungguh ia tidak bisa memahami apa yang sebenarnya dipikirkan istrinya. Dengan cepat emosinya berubah dan itu membuat Key semakin gila. Sedetik kemudian Hye ri menyadari Key yang hanya menatapnya, yeoja itu memandang Key dan taplak meja bergantian. Wajahnya sedikit memerah saat matanya kembali menatap Key. Rasa-rasanya baru kali ini Key melihat Hye ri seperti itu.

Key terus memandangi Hye ri, ada kebahagiaan aneh tak tergambarkan saat ia melihat wajah Hye ri yang bersemu merah seolah menyembunyikan malu. Key tidak mengerti apa yang mebuat Hye ri malu, tapi yang jelas wajah yang seperti itu membuat Key semakin menggilai Hye ri.

“Kita akan segera bercerai,” ucap Hye ri, membuat Key terhenyak. Wajah bersemu merah itu telah berganti dengan wajah yang terlihat tegang. “Aku harap hubungan kita akan baik sebelum hari itu tiba.” lanjut Hye ri, ia memaksakan seulas senyum. Sementara Key hanya diam, ia seolah kembali disadarkan akan kenyataan yang paling ingin dihindarinya. Ia kembali menatap Hye ri, berharap tatapannya bisa merubah pendirian Hye ri soal perceraian itu. Tapi tentu saja itu tidak menghasilkan apa pun.

Hye ri menatap Key lagi sebelum ia kembali memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya. Apa yang baru diucapkannya itu benar-benar membuat spaghetti buatannya terasa hambar. Hye ri merasa aneh, tapi perceraian mereka yang tinggal dua minggu lagi entah bagaimana membuat Hye ri merasa tidak nyaman. Ada perasaan janggal yang mengganggunya.

Sesaat suasana menjadi hening, pembicaraan singkat soal perceraian itu membuat mereka terganggu. “Oh! Haruskah kita makan malam di luar nanti? Kau terlihat kurus, Key.” Hye ri berusaha memecah atmosfir aneh di antara mereka. “Oh! sure!” jawab Key singkat, ia tersenyum. Key menundukkan kepalanya, menatap gulungan spaghetti dalam piringnya. Dengan sedikit malas ia kembali memasukkan spaghetti ke dalam mulut. Rasanya tidak buruk dan membuat selera makannya kembali.

***

Key duduk di sofa hijau sambil menumpu wajah dengan kedua tangannya, kaki kanannya sesekali ia hentak-hentakkan ringan ke lantai. Sekali lagi ia melirik ke pintu kamar, kemudian melirik lagi arlojinya. Sudah lebih dari tiga puluh menit, mengapa Hye ri belum keluar juga? pikir Key. Pikirannya menimbang untuk menghampiri kamar dan mengetuk pintu atau tetap menunggu. Sejujurnya, Key masih merasa bersalah pada Hye ri setelah kejadian beberapa hari terakhir ini. Ditambah Hye ri yang tiba-tiba meminta maaf padanya, itu membuat Key semakin bingung.

KLEK

Pintu kamar terbuka, spontan membuat Key segera menoleh ke sana. Ia sedikit terperangah dengan penampilan Hye ri. Bukan! Bukan yeoja dengan dress musim gugur yang feminim dan cantik. Yeoja itu justru terlihat sangat santai dengan coat merah yang dipadukan dengan skinny jeans berwarna hitam. Sementara rambut panjangnya ia gulung ke atas, dikenakannya jepit berbentuk ribbon cantik dengan warna yang senada dengan coat-nya.

Kajja!” seru Hye ri yang telah berdiri di hadapan Key.

“Apa aku terlihat aneh?” tanya Hye ri buru-buru saat Key beranjak dari duduknya dan menatapnya seperti tadi. Key berjengit, ia baru menyadari bahwa ia terlalu terpaku dengan penampilan Hye ri. “Oh! aniya! kau terlihat cantik dengan warna merah.” ucap Key akhirnya, membuat wajah Hye ri ikut-ikutan berwarna merah. Sejujurnya Key ingin mengatakan hal yang lebih dari sekedar cantik, tapi rasanya ia kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya.

Hye ri hanya menundukkan kepalanya, berpura-pura memeriksa kancing coat untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas. Hye ri rasa ada yang aneh dengan suhu tubuhnya hari ini. “Kajja!” kini Key membuyarkan lamunan Hye ri, ia berjalan begitu saja menuju pintu depan.

Hye ri diam menatap punggung Key, wajahnya meberengut kesal. Menyadari dirinya hanya berjalan sendiri, Key menghentikan langkahnya. Berbalik dan menatap Hye ri penuh tanya, ia memiringkan kepalanya sebagai isyarat agar yeoja itu segera beranjak dan mengikutinya. Sementara raut kesal di wajah Hye ri belum hilang,  yeoja itu justru mengerucutkan bibirnya. Membuat Key berpikir, adakah yang salah dengan dirinya?

Raut kesal itu kemudian berubah menjadi sebuah lengkungan kecil yang indah, setengah berlari Hye ri menghampiri Key yang telah berada di ambang pintu. Mengapit lengan namja itu sambil tersenyum riang “Kajja!”, kemudian menarik Key keluar rumah. Key terhenyak, dengan mulut setengah terbuka ia hanya mampu menatap lengannya yang diapit Hye ri. Ia tidak sedang bermimpi kan? Mengapa yeoja ini terlihat begitu manis? Meskipun tidak mengerti, tapi Key akhirnya memilih untuk mengubur rasa penasarannya. Baginya lebih baik tetap dalam ketidak tahuan, dibandingkan ia harus bertanya dan membuat Hye ri berubah lagi. Tiba-tiba ucapan Hye ri siang tadi kembali terulang di kepala Key, membuatnya sedikit kecewa. Mungkin ini yang dimaksud Hye ri dengan hubungan yang baik.

Keduanya baru saja menapaki halaman rumah, hanya beberapa langkah menuju mobil hitam Key yang terparkir rapi di halaman. “Oh! Bida?!” (Turun hujan?!) pekik Hye ri, ia mendongakkan kepalanya. Key segera menarik Hye ri menuju teras rumah, membuat yeoja itu tersadar bahwa hujan telah mengguyur tubuhnya. Keduanya diam, menatap langit malam musim gugur yang benar-benar suram. Hye ri mengacak poni sealisnya yang basah, sementara Key menepuk coat hijau tuanya. “Aish! Bagaimana bisa hujan turun mendadak seperti ini?” gerutu Hye ri. Key terkekeh melihat kekesalan Hye ri yang seperti anak kecil.

“Kelihatannya hujan ini akan bertahan sepanjang malam.” gumam Key, suaranya terdengar tidak jelas di tengah hujan deras. Hye ri memberenggut, ia menatap Key dengan wajah cemberut. Sudah nyaris tiga puluh menit mereka berdiri di teras rumah, berharap hujan akan segera berhenti. Key menatap Hye ri, mata mereka bertemu. “Kurasa jalanan akan sangat licin dan berbahaya jika kita berkendara di cuaca ekstrim seperti ini.” seolah bisa membaca pikiran Hye ri, penjelasan itu segera ia lontarkan. Membuat Hye ri semakin lesu.

“Ck! Apa boleh buat, malam ini kita makan di rumah saja.” ujar Hye ri, ia kemudian masuk ke dalam rumah tanpa menunggu tanggapan dari Key. Hye ri terlampau kecewa dengan cuaca yang tiba-tiba berubah. Padahal ia sudah membayangkan makan malam menyenangkan yang akan dimilikinya dan Key, di tempat kencan pertama mereka.

Key hanya mengekor, masih terkekeh kecil menanggapi tingkah laku istrinya. Key kemudian menarik salah satu kursi di ruang makan saat Hye ri menuju counter dapur, kemudian mengambil sesuatu di lemari di atas bak cuci piring. Yeoja itu mengeluarkan dua cup mie instan, kemudian segera mempersiapkan mie instan tersebut untuk diseduh. “Jadi, kita akan makan mie lagi?” goda Key, ia menopang dagu dengan tangan kanannya.

“Oh, tidak seharusnya aku membuat spaghetti tadi siang. Mianhae Key, tapi saat ini aku sedang malas memasak.” gerutu Hye ri, ia tak sedikitpun berpaling dari mie instan. “Arasseo, aku akan makan apa pun yang kau buat untukku.” tanggap Key ringan, ia masih tersenyum melihat tingkah Hye ri. Tapi di sisi lain, ucapan Key justru membuat Hye ri menahan tangannya yang hendak menuangkan air panas ke dalam salah satu cup. Ia kemudian berbalik, menatap Key yang memperhatikannya dari meja makan. Mereka saling berpandangan, membuat senyuman di wajah Key memudar, apa ia melakukan kesalahan? batin Key.

Ini aneh, tapi Hye ri terus memandang Key. Menatap lurus sepasang bolamata yang dilapisi lensa berwarna abu. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan dirinya saat mendengar apa yang barusan dikatakan Key. Hal aneh yang membuat jantungnya berdetak terlalu cepat dari yang seharusnya, yang membuat laju aliran darahnya terasa panas. Hye ri merasakan ketulusan dari ucapan Key, dan itu lagi-lagi membuat sosok Key semakin tak bisa lepas dari pikirannya. Keduanya masih saling menatap hingga Hye ri menarik kedua ujung bibirnya, menghasilkan senyuman paling tulus yang pernah ia punya. “Gomawo.” ucap Hye ri singkat. Key hanya tersenyum, tidak berani melontarkan pertanyaan mengapa sikap Hye ri berubah menjadi sangat manis.

Hye ri kembali berbalik, mengucurkan air panas pada kedua cup mie instan. “Oh, Key! Bisa bantu aku mengambilkan gelas dan water pitcher? Aku rasa akan lebih menarik jika kita makan sambil menonton.” Key tidak mengatakan apa pun, namja itu segera beranjak dari duduknya. Mengambil dua buah mug yang mereka beli sebelum menikah, dan water pitcher bersisi air hangat.

“Tambahan kimchi akan lebih baik.” gumam Key, ia membungkukkan tubuhnya setelah membuka lemari pendingin. Mencari kotak kimchi di rak bawah lemari es.

Hujan turun semakin deras, angin bertiup cukup kencang dan petir sesekali menggelegar setelah kilatan muncul. Beberapa stasiun televisi memberitakan cuaca buruk malam itu, dan menghimbau masyarakat untuk tidak bepergian.

“Ini badai kedua di musim gugur. Ah, kurasa musim gugur akan segera berakhir.” gumam Key, matanya masih tak lepas dari pembaca berita dalam televisi. “Menyebalkan! Oh, sebaiknya kita memutar dvd. Ada beberapa film yang belum kita tonton.” Hye ri yang duduk di samping Key segera beranjak dan melenggang menuju televisi. Ia menaruh cup mie instannya di pinggir meja, kemudian mengambil sesuatu dalam lemari kecil di samping televisi.

Key mematikan lampu, menggantinya dengan lampu yang redup saat film dimulai. Ia duduk senyaman mungkin dengan bantal kursi yang telah ia taruh di atas pahanya. Film apa pun yang diputar Hye ri, meskipun Hye ri tidak memperlihatkan bungkus filmnya, Key tahu bahwa itu bukanlah film yang menyenangkan. Akan ada adegan pembunuhan atau beberapa jenis makhluk tidak menyenangkan yang akan membuatnya terlonjak dan berteriak ketakutan.

Key meremas cup mie instannya yang telah kosong, menahan gertakan giginya yang semakin tak terkendali. Wanita tua dengan wajah mengerikan itu kembali muncul secara tiba-tiba, diiringi instrumen yang mengerikan. Key memejamkan matanya saat salah satu pemain mati dengan cara mengenaskan. Jantungnya masih berdebar hebat, sedikit enggan Key membuka matanya. Ia memastikan bahwa adegan dalam film sudah cukup aman untuk jantungnya. Key memalingkan wajahnya saat wanita tua itu kembali muncul dengan seringai mengerikan, wajah keriput yang dipenuhi jahitan di bagian mata dan bibir, serta gigi-gigi yang menghitam. Instrumen yang dimainkan masih terdengar mencekam, Key tidak berani menatap layar televisi. Perlahan matanya beralih pada Hye ri yang duduk tegak di sampingnya, yeoja itu duduk bersila dengan tubuh yang condong ke depan. Matanya tak sedikitpun berkedip menatap makhluk-makhluk atau adegan-adegan tak wajar.

“Euh.. Hye ri-ya bisakah kita-“

JDAAARRRRRR

Kalimat Key terputus saat petir menggelegar, diiringi aliran listrik yang padam. Membuat televisi dan seluruh lampu di rumah mereka padam. Ini tidak wajar, tapi Key merasa lega. Ia lebih baik ada dalam kegelapan dibandingkan menonton film berjudul “Dead Silence” itu.

“Oh, aku akan memeriksanya sebentar. Kau tunggu di sini, arasseo?” Hye ri hanya bergumam pelan sebagai jawaban ya. Key beranjak, berjalan perlahan sambil meraba-raba furnitur yang ada di ruang tengah. Ia meraih ponselnya yang ia taruh di lemari pajangan di sana, dengan bantuan cahaya kecil dari ponsel Key berjalan menuju dapur. Mencari senter dan lilin untuk menerangi mereka hingga listrik menyala.

***

Key dan Hye ri duduk berhadapan, keduanya menekuk kaki dan menopang dagu dengan kedua lutut. Hanya cahaya temaram dari beberapa lilin beraneka warna yang menerangi mereka. Apa boleh buat, mereka tidak punya genset. Lilin-lilin itu adalah lilin sisa saat ulangtahun Hye ri musim panas lalu. Hye ri bersikeras menyimpannya karena lilin-lilin itu masih cukup panjang untuk kembali dinyalakan suatu saat. Key tidak mengerti mengapa Hye ri mau menyimpan benda yang bagi Key adalah sampah, tapi buktinya, lilin-lilin itu berguna di saat yang tidak terduga seperti ini.

Key telah menyusun lilin-lilin itu dalam beberapa wadah. Setiap wadah berisi lebih dari lima lilin. “Jigeum eottohkaji?” tanya Hye ri, ia memberenggut kecewa. Key hanya tersenyum, ia lebih asyik memandangi Hye ri dari jarak dekat seperti ini. “Eoh?” tanya Hye ri lagi, ia memaksa Key untuk memberinya jawaban. “Kita nikmati saja suasana seperti ini.” jawab Key acuh tak acuh. Hye ri meniup poni sealisnya ringan, ia benar-benar kecewa dengan hari ini. Seharusnya setelah kejadian buruk di toserba itu, Hye ri akan mendapatkan bayaran atas kekecewaannya. Tapi nyatanya, lagi-lagi hanya kekecewaan yang diterimanya.

 “Bagaimana jika kita mengobrol saja?” usul Key, entah mengapa ide itu muncul begitu saja. Hye ri menatap Key, “Apa yang akan kita bicarakan?”. Pikirannya mulai mencari-cari topik yang bagus untuk dibicarakan. “Apa saja, hal-hal yang kita suka.”

Hye ri memutar bolamatanya, memikirkan topik yang bagus untuk dibicarakan. Keduanya mulai berbincang, dari urusan kantor hingga hal-hal konyol yang mereka alami. Selera humor keduanya sangat baik, dan itu membuat mereka tidak menyadari bahwa malam semakin larut. Hye ri kembali tertawa, wajahnya seperti kepiting rebus yang baru matang. Apa yang baru saja diceritakan Key benar-benar membuatnya nyaris meledak. “Geumanhae,” Key mengusap pipi Hye ri, meminta yeoja itu untuk berhenti tertawa. Salah satu tangannya menyambar gelas berisi air mineral dan menyodorkannya pada Hye ri. “Oh, mianhae. Tapi… itu sangat-“ Hye ri tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena tangan Key yang mengelus pipi Hye ri kini telah menutup bibirnya. Hye ri diam, tawanya segera hilang. Ditatapnya wajah Key dalam cahaya redup, kemudian berpindah pada jari-jari tangan Key yang menempel di bibirnya. Dan lagi-lagi ada sesuatu yang membuat Hye ri merasa janggal dengan perasaannya.

Geumanhae, minumlah.” Key melepas tangan yang menutupi bibir Hye ri, kemudian menyodorkan gelas. Hye ri tak mampu mengatakan apa pun, ia rasa wajahnya semakin memanas. Ia meneguk air mineral perlahan sembari menundukkan kepalanya, dan wajahnya semakin merah karena tangan Key kini tengah mengacak rambutnya. “Aish! Bagaimana bisa seorang yeoja tertawa seperti itu?” decak Key.

“Oh, kurasa aku ingin makan sesuatu.” Hye ri segera menaruh gelas ke atas meja, menyambar salah satu wadah berisikan lilin. Dan tanpa melirik Key lagi ia segera berlalu ke dapur. Meninggalkan Key yang menatapnya heran.

“Es krim?” tanya Key tak percaya saat Hye ri membawa bucket es krim.

Palli meokgo!” (Cepat makan!) Hye ri tak mengindahkan keterkejutan Key, ia menyodorkan sendok pada Key kemudian membuka tutup bucket.

“Ah… es krim memang yang terbaik di saat hujan.” gumam Hye ri setelah menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya, tanpa sadar ia mendesah lega. Key menatap Hye ri heran, sedikit malas ia menyendokkan es krim ke dalam mulutnya dan dengan cepat itu mebuatnya bergidik. “Ya Tuhan! Kau gila? Bagaimana bisa kau makan es krim di saat seperti ini?” lagi-lagi Key berdecak kesal, kelakuan Hye ri memang tidak bisa ditebak.

Hye ri tak mempedulikan Key, ia asyik dengan es krim yang lumer dalam mulutnya. Key menancapkan sendoknya pada es krim, satu suapan sudah cukup untuknya. Ia kembali menatap Hye ri, sungguh! Rasanya itu membuat Key semakin gila. Benarkah? Benarkah mereka akan segera berpisah? Lalu apa yang akan dilakukan Key setelah mereka berpisah nanti? Pemikiran itu kembali mengusik Key. Ia tahu, bagaimanapun hari itu akan datang, dan Key harus menghadapinya. Jika saja bumi bisa menelannya pada hari itu.

“Hye ri-ya.” Hye ri hanya menatap Key, tangannya masih sibuk dengan es krim. “Setelah kita bercerai nanti, apa yang akan kau lakukan?” tanya Key, membuat Hye ri menahan sendok yang nyaris masuk ke dalam mulutnya. Ekspresi wajah Hye ri berubah, sorot matanya meredup. Ia menancapkan sendoknya di samping sendok Key tadi. Hye ri menghela nafas pelan, menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab pertanyaan Key. “Yang akan kulakukan? Kau sendiri bagaimana? Kau akan bersama Nicole?” Hye ri malah balik bertanya.

Molla!” jawab Key kesal, benarkah Hye ri lebih bahagia jika ia harus bersama Nicole? Benarkah Hye ri akan melepaskan Key dan membiarkan Nicole mengambilnya? batin Key. Rasanya ia tidak mau menerima jika memang kenyataannya seperti itu. “Kita akan mengambil jalan kita masing-masing. Itu akan lebih baik.” terang Hye ri. Sedetik kemudian ia mengutuki dirinya, mengapa ia mengatakan hal semenyakitkan itu? Ia tahu Key akan lebih baik tanpanya, lagipula ada Nicole yang nantinya akan bersama Key. Dan inilah yang selama ini diinginkan Hye ri, lepas dari Key dan mempertahankan cintanya hanya untuk Minho. Tapi mengapa saat ini rasanya berbeda? Ia merasa dirinya akan lebih menyedihkan tanpa Key.

Key hanya diam, menahan perasaan marah bercampur sedih dalam hatinya. “Aku sudah terlalu lama membuatmu sakit. Aku bahkan tidak bisa memikirkan hal apa pun untuk bisa menebusnya.” ucap Hye ri lagi, ia semakin intens menatap Key. “Mengapa kau….” Key menatap Hye ri lekat, berusaha menerobos ke dalam bolamatanya. “… mengapa kau tidak berusaha untuk menebusnya dengan dirimu? Mengapa kau tidak pernah berusaha untuk mencintaiku? Mengapa kau lebih memilih untuk menyerah?” serangkaian pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Key, ia bahkan tidak bisa mengendalikannya. Emosinya terlanjur memuncak, rasanya ia tidak bisa menahan lagi perasaan yang menyiksanya beberapa bulan ini.

“Kibum-ah…”

“Aku mencintaimu, sudah berapa ratus ribu kali aku mengatakannya? Bahkan aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri, tidakkah itu cukup sebagai alasan bagimu untuk berusaha mencintaiku? Eoh?” nafas Key menderu, ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Ia tidak peduli jika saat ini ia harus meledak di hadapan Hye ri.

Hye ri hanya mampu menundukkan kepalanya, berusaha keras menahan airmatanya. Ia tidak mengerti dengan perasaan aneh yang terus-terusan mengganggunya, perasaan aneh yang membuatnya tidak ingin berpisah dari Key.

Marhaebwa! Tidak adakah sedikitpun diriku dalam hatimu? Benarkah hanya ada Minho?eoh? mengapa kau menerima percaraian itu begitu saja? kau tahu aku akan sangat kacau tanpamu.”

“Kibum-ah-“

Wae? Mengapa hanya dirimu yang tidak bisa memandangku? Aku, Kim Kibum. Semua orang menghormatiku, setiap yeoja akan selalu kagum dengan pesona dan kharismaku. Aku bisa membuat yeoja manapun menyukaiku, tapi mengapa hanya dirimu yang tidak bisa? Apa aku tidak cukup baik di matamu? Mengapa hanya bisa ada Minho dalam hatimu?eoh? kau tidak tahu seberapa lelahnya aku-“

Geumanhae!” Hye ri mengangkat wajahnya, menatap Key dengan setetes airmata yang baru saja meluncur bebas di wajahnya. Ia tidak peduli, Key tidak akan melihat airmatanya dalam gelap.

Aniya! mengapa aku harus menghentikannya? Kau tidak pernah menghentikan dirimu untuk tetap mencintai Minho, lalu mengapa aku harus berhenti untuk membuatmu mencintaiku? Aku ingin kau tahu isi hatiku, aku ingin mencari kemungkinan jika kau akan jatuh cinta padaku. Apa aku salah? Mengapa aku tidak bisa seperti Minho di matamu? Haruskah aku mati seperti Minho agar kau mau mempertimbangkan diriku?” nafas Key semakin tak beraturan, ia telah benar-benar mencapai klimaks dari emosi yang selama ini dipendamnya.

Geumanhae! Apa yang kau bicarakan?!” Hye ri tidak menyadari bahwa suaranya melengking tajam. Key menundukkan kepalanya, tangan kanannya memegang dada, seolah menahan rasa sakit di sana. Nafasnya semakin memburu, setetes airmata membasahi pipinya. Key tidak mengerti mengapa ia egois seperti ini, tapi itu membuatnya merasa lebih baik.

“Apa yang kau bicarakan degan mati seperti Minho? kau sudah gila? Jebal, jangan pernah mengingatkanku apa pun lagi tentang Minho. Itu menyakitiku, Key.” Suara Hye ri mulai bergetar, pembicaraannya dengan Key membuat tangisnya tak bisa dicegah.

Key diam, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan tulang-tulangnya terasa ngilu seperti terbentur benda keras. Ia memejamkan matanya, apa pertengkaran ini yang membuat kepalanya pusing? Key memaksa untuk mengangkat kepalanya, ia kembali menatap Hye ri yang tiba-tiba menjadi buram dalam pandangannya. Key merasa tubuhnya kedinginan, ini memang sedang badai, tapi mengapa ia baru merasa kedinginan?

Ia mengerjapkan matanya, tapi itu membuat kepalanya semakin pusing. Sedetik kemudian keringat mengucur dari pelipisnya. Sementara itu suara tangis Hye ri mulai terdengar, dan itu membuat Key merasa semakin aneh dengan dirinya. Ia merasa kepalanya berputar, suara-suara di sekitarnya menjadi tidak jelas.

Key tahu ada yang aneh dengan tubuhnya, tapi ia memaksa untuk tidak mengindahkannya. “Aku,” Key menggantungkan kalimatnya, bibirnya hendak mengatakan pada Hye ri bahwa ia pernah seperti Minho. Dan Key berharap Hye ri akan bisa mulai menerimanya jika ia mengetahui itu. “Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” akhirnya justru kalimat membosankan itu yang kelur dari mulut Key.

Tangisan Hye ri semakin menjadi, ia mulai memukuli dada Key “Neo pabo-ya jeongmal! Kau tidak boleh mencintaiku, Key! Aku tidak pantas, aku telah menyakitimu lebih banyak dari yang bisa kau bayangkan, aku-“ ucapan Hye ri terhenti saat Key menarik Hye ri dan membenamkan wajah Hye ri dalam pelukannya. Hye ri masih memukul dada Key untuk beberapa saat, hingga ia berhenti dan hanya menangis dalam pelukan Key.

Key memeluk Hye ri semakin erat, menghirup aroma rambut Hye ri yang sudah sangat dirindukannya. “Tetap seperti ini, jebal.” gumam Key seraya mengecup puncak kepala Hye ri, airmatanya tak bisa ia tahan lagi.

***

Entah berapa lama waktu yang berlalu, derasnya hujan serta sambaran petir membuat keduanya enggan untuk saling melepaskan diri. Membiarkan diri mereka meluapkan emosi masing-masing dan terhanyut dalam perasaan aneh yang selama ini mengganggu.

Key melepas pelukannya saat kepalanya kembali berdenyut, kali ini semakin memburuk. Ditatapnya wajah Hye ri yang setengah tertunduk, kemudian menarik dagunya agar mereka saling menatap. Jari tangan Key mulai mengusap airmata di wajah Hye ri “Wae uro?” (Kenapa menangis?) tanya Key serak. Hye ri tidak menjawab, airmatanya masih menetes meskipun tidak ada suara tangisan lagi. Key memaksakan seulas senyum, menyadari betapa egois dirinya tadi dengan memaksa Hye ri untuk menjawab semua pertanyaan retorikya.

Kepala Key terasa berputar-putar, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ia segera menarik rahang Hye ri kemudian bebisik “Saranghae, jeongmal.” sebelum akhirnya mengecup bibir Hye ri, hanya kecupan ringan penuh kasih. Key mengerjapkan lagi matanya saat kepalanya terasa semakin tak karuan. Ia menjauhkan bibirnya dari bibir Hye ri, hanya sebatas dua jari. Kemudian menarik nafas pelan, semuanya justru semakin buruk. Hanya aroma tubuh Hye ri yang ia ingat sebelum suara badai dan cahaya temaram dari lilin-lilin kecil menghilang begitu saja.

***

Mianhada.” ucap Hye ri lagi, ia membungkukkan tubuhnya. Kemudian ditatapnya sang lawan bicara yang masih melipat kedua tangan di depan dadanya penuh benci. Sejujurnya Hye ri enggan melakukan ini, ia memang bersalah karena telah menampar Nicole di depan banyak orang. Tapi Nicole lah yang lebih pantas untuk disalahkan karena mulutnya yang kotor. Hye ri menatap Nicole, ia rasa sudah lebih dari cukup ia mengatakan kata maaf sebanyak tiga kali.

“Aku sudah minta maaf, itu masalahmu jika kau masih ingin aku meminta maaf.” ujar  Hye ri, ia menahan kekesalannya karena tingkah Nicole yang semakin tidak menyenangkan di matanya. Nicole menarik sudut kiri bibirnya, menghasilkan seringai licik yang sempurna. Ia berjalan santai ke samping Hye ri, “Sejujurnya, kau tidak perlu minta maaf,” terangnya sinis. “Key sudah meminta maaf padaku. Meskipun tentunya kaulah yang jelas-jelas bersalah dan seharusnya melakukan hal ini lebih awal sebelum mood-ku semakin buruk.” lanjut Nicole, ia kemudian berhenti tepat di samping Hye ri.

Hye ri menolehkan kepalanya ke arah Nicole, menatap yeoja berambut pirang itu tajam. “Apa yang kau inginkan?” tanya Hye ri cepat, ia sudah mengerti ke mana arah pembicaraan Nicole. Nicole terkekeh sambil memalingkan wajahnya sekilas, “Sebenarnya aku ingin permintaan maaf yang lebih dari ini. Tapi sayang, Key memintaku untuk tidak memperpanjang urusan ini denganmu.”

Hye ri menggeretakan giginya, menahan amarah yang semakin memuncak dalam setiap detik percakapannya dengan Nicole. Apa benar Key mengatakan hal seperti itu pada Nicole? Apa itu artinya Key tidak ingin Nicole bermasalah lagi dengannya? Lalu mengapa Hye ri merasa tersudutkan dengan itu? Seolah Key tidak ingin ia dan Nicole memiliki urusan apa pun dengannya.

“Perceraian kalian…” Nicole kembali tersenyum, “Aku harap hubungan kita baik sebelum hari itu tiba. Aku tidak ingin ada rumor lagi di kantor. Citraku bisa rusak jika mereka menganggap aku lah yang mengambil Key darimu. Pada kenyataannya, ada satu hal yang mereka tidak tahu.” Nicole berjalan ke belakang Hye ri, memegang kedua bahu Hye ri dari belakang, kemudian berbisik “Bahwa pada kenyataannya, Key lebih memilih diriku dibanding kau.”

Hye ri hanya diam, mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Tidak! Ia tidak boleh meledak lagi di depan Nicole. Ia tahu apa yang diucapkan Nicole adalah bohong, meskipun dalam hatinya ada ketakutan kecil yang membisikkan bahwa itu adalah kenyataan. Hati Hye ri terus-terusan berusaha menyangkal hal itu, Key tidak akan bertingkah seperti tadi malam jika benar ia lebih memilih Nicole.

“Jyaa, aku harus kembali untuk merapikan beberapa hal. Dan oh, kurasa aku harus menemui Key. Dia baru saja memberitahuku bahwa ia sedang sakit.” Nicole mendorong ringan tubuh Hye ri hingga menjauh darinya, kemudian berjalan meninggalkan Hye ri.

Hye ri memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam, Nicole selalu berhasil membuat emosinya memuncak hanya dalam hitungan detik. Benarkah Key memberitahu Nicole tentang keadaannya? Apa Key baru saja menelepon Nicole? Atau mengiriminya pesan singkat? lalu apa yang kemudian mereka bicarakan? Aish! Hye ri mengacak rambutnya, ia rasa ia benar-benar telah gila. Apa yang sebenarnya ia cemaskan? Tentu saja Key lah yang seharusnya ia cemaskan, karena namja itu tiba-tiba pingsan setelah menciumnya dan ia mengatakan hanya merasa lelah. Dan pagi ini, Hye ri tidak bisa mengantarnya ke dokter karena ada beberapa hal kantor yang harus segera ia tangani.

Jinjja! Sebaiknya Hye ri menyerahkan pekerjaannya terlebih dahulu pada Jinki sebelum bersiap merawat Key di rumah. Oh! ataukah Key justru sedang tidak ada di rumah dan akan pergi ke suatu tempat bersama Nicole? Hye ri segera berjalan, menendang-nendang pavingblock yang diinjaknya. Terlalu banyak hal tidak wajar yang mengganggu pikirannya.

***

Key mengancingkan kemejanya, beranjak dari ranjang pemeriksaan di klinik tak jauh dari rumahnya. Ia segera duduk di kursi hitam di hadapan namja berjas putih yang baru saja memeriksanya.

Namja itu menulis sesuatu dalam secarik kertas, dari balik kacamata bundarnya ia menatap baris demi baris tulisannya dengan seksama. Ia menaruh penanya kemudian mengambi secarik kertas lain yang berukuran lebih besar.

“Kim ssi, sebaiknya Anda ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan darahmu, ada sedikit gejala yang janggal. Di sini terlihat kenaikan jumlah sel darah putih yang tidak wajar. Dan dari gejala yang Anda ceritakan, itu sama seperti gejala-“

“Leukimia?” sambar Key cepat, ia memandang sang Dokter dengan sorot mata yang meredup.

Sang Dokter sedikit terhenyak dengan pertanyaan Key, tak banyak pasien yang segera menyadari penyakit mematikan dengan ekspresi yang datar seperti ini. “Anda sudah mengetahuinya, Kim ssi? Tentu saja ini baru diagnosa sementara, Anda harus melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.” terang sang Dokter dengan nada bicara yang sangat tenang.

Key diam sejenak, berusaha memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia sudah dinyatakan sembuh dan tetap bertahan hidup selama empat tahun berkat cangkok sumsum tulang belakang dari malaikat penjaganya, tapi mengapa tiba-tiba hal seperti ini terjadi?

“Dokter, bisakah Anda melakukan penelitian ulang? Aku seorang penerima donor, apa mungkin hal seperti ini terjadi?” tanya Key mulai tak sabaran, rasa-rasanya tidak mungkin jika ia kembali menderita penyakit mengerikan itu lagi. Dan itu artinya sumsum tulang belakang yang diterimanya tidak berguna lagi.

Sang Dokter mengernyitkan dahi “Anda penerima donor sumsum tulang belakang? Maksudnya Anda pernah menderita Leukimia sebelumnya?” tanyanya penuh keheranan.

Key hanya diam, ia terus menatap sang Dokter penuh ketakutan. Ia rasa kali ini ia akan benar-benar mati jika penyakit itu kemnbali mengikuti dan hidup bersamanya. Pikiran Key semakin kacau, dulu ia pernah membaca beberapa artikel yang mengatakan kegagalan dalam operasi sumsum tulang belakang. Setelah melakukan operasi, pasien belum sepenuhnya dinyatakan sembuh. Mereka harus menunggu kerja sumsum tulang belakang baru, mencaritahu apakah tubuh mereka bisa menerima sumsum tulang belakang yang baru dan bekerja secara normal. Dalam hatinya Key mengira-ngira, setelah empat tahun berlalu, apakah tubuhnya tidak bisa menerima sumsum tulang belakang milik malaikat penjaganya?

Key mulai ketakutan, seketika perasaan takut yang telah lama ia lupakan menyergap dan memeluknya begitu erat. Membuat tubuhnya terasa menggigil dan matanya berair. “Apakah ada kemungkinan jika aku terkena Leukimia untuk kedua kalinya?” suaranya bergetar, tubuhnya gemetar.

Sang Dokter menghela nafas, ia memandang Key melalui kacamatanya sekilas. Kemudian melepasnya, “Kim ssi, aku tidak bisa mengatakan banyak karena aku belum mengetahui kepastiannya terhadap tubuh Anda. Sebaiknya Anda segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit di mana Anda melakukan operasi. Dan usahakan untuk tidak melukai tubuh Anda, Anda tidak lupa kan, luka di tubuh akan sangat berbahaya?”

Key seolah kehilangan setengah kesadarannya, ia hanya mampu menatap Dokter tua itu dengan mata berair. Ini akan sangat buruk, ia akan kehilangan Hye ri, sekaligus sumsum tulang belakangnya yang sangat berharga.

***

Yeoja itu menginjak gas mobil lebih dalam, diliriknya lagi ponsel yang ia taruh di tempat khusus di dekat CD player. Ia gelisah, ingin sekali menghubungi seseorang yang baru saja dilihatnya di toko perhiasan tadi. Tapi rasanya ia tidak berhak untuk melakukannya. Apa yang akan ia katakan? Menanyakan mengapa suaminya yang sedang sakit itu bukannya beristirahat di rumah dan justru berada di toko perhiasan bersama sekretaris kantornya? Atau berteriak dan memaki wanita jalang yang sedang memilih sebuah benda berkilau bersama suaminya?

Yeoja itu menginjak gas mobil semakin dalam, tidak peduli dengan batas kecepatan yang seharusnya digunakan di jalan yang tengah ia lalui. Pikirannya sedang tidak beres dan hatinya benar-benar kesal. Beberapa mobil di sekitarnya telah menekan klakson, menandakan bahwa cara berkendara yeoja itu tidak rapi dan membahayakan pengendara lain. Ia memutar stir, berbelok ke kiri dan menghentikan mobilnya di sebuah lapangan sekolah dasar yang cukup luas.

CKIIITTTT

Suara rem yang diinjak mendadak membuat beberapa pasang mata yang tengah asyik memperhatikan bola di seberangnya menoleh. Namun beberapa detik kemudian mereka kembali pada aktifitas mereka, mengacuhkan sumber suara yang sempat membuat aktifitas mereka terhenti beberapa detik.

Yeoja itu mendengus kesal, ia meninju stir mobil berkali-kali. “Pabo-ya! Neo pabo-ya Kim Kibum! Jeongmal!!” . Amarahnya semakin memuncak saat pemandangan memuakkan yang baru saja dilihatnya kembali terputar ulang dalam kepalanya. “Arrrghhhttttt!” ia menjerit sejadinya, tidak mengerti mengapa ia harus semarah ini. Kemudian menundukkan kepalanya di atas stir mobil sambil terisak.

***

“Yaa! Kau masih marah?” namja itu kembali mengguncang lengan yeoja di sampingnya. Si yeoja tidak menjawab, ia justru memalingkan wajahnya. Menunjukkan betapa kesalnya ia pada si namja.

Geurae, katakan apa salahku, eoh? Maka semuanya akan jelas di sini.” Namja bertubuh kekar itu mulai kebingungan, ia masih saja tidak mengerti akan perubahan sikap yeoja yang selama ini dekat dengannya itu. Ia tidak merasa melakukan kesalahan, tapi mengapa yeoja itu terus-terusan menolak ajakannya?

“Berhenti mempermainkanku, Kim Jonghyun.” desis yeoja bermata bulat itu, ia menatap Jonghyun penuh kebencian. Membuat Jonghyun semakin mengerutkan dahinya.

“Bisa kau jelaskan di bagian mana aku mempermainkanmu?”

“…” yeoja itu memalingkan wajahnya sekilas sembari tersenyum hambar, benarkah Kim Jonghyun sama sekali tidak menyadarinya? Atau kah ini memang bagian dari ke-playboy-annya? Jinjja! Seharusnya ia mendengarkan apa yang dikatakan teman-temannya di Inggris mengenai Kim Jonghyun. Tapi sudah terlambat, ia terlanjur jatuh cinta pada Jonghyu dan salahkah jika ia beranggapan bahwa Jonghyun pun mencintainya? Oh, ia rasa ia sudah gila. Bahkan Jonghyun telah mengatakan lebih dari dua kali bahwa Jonghyun benar-benar mencintainya. Tapi mengapa Shin eun young sama sekali tidak mempercayainya?

“Kau selalu mempermainkanku dengan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Listen! selama ini aku berusaha untuk bersabar, tapi rasanya ini keterlaluan!” tukas Eun young.

Jonghyun tersenyum, jadi selama ini Eun young menganggapnya main-main? Jangan bercanda! Ia sudah lemas setengah mati hanya untuk bisa mengatakan langsung pada yeoja itu bahwa ia sangat mencintainya. Dan Eun young justru menganggap ia telah mempermainkannya? Jonghyun menatap Eun young tajam, berusaha menelisik kedua bolamata yeoja itu. Mencari tahu apakah tak ada sedikitpun rasa cinta untuknya di sana.

“Kau meragukanku? Kau menganggapku mempermainkanmu? Kau tidak tahu berapa lama waktu yang kugunakan hanya untuk bisa mengucapkan kalimat itu padamu? Lalu apa alasanmu mengatakan aku hanya bermain-main denganmu?” Jonghyun menghujami Eun young dengan serentetan pertanyaan yang membuat Eun young semakin jengah.

Eun young balik menatap Jonghyun tak kalah tajam, seolah dengan tatapannya itu ia bisa menusuk kornea mata Jonghyun. “Min Hye ri.” desis Eun young, ia jelas tidak terlalu mengenal yeoja bernama Min Hye ri itu. Tapi mengucapkan namanya saja sudah membuat darahnya mendidih.

Ekspresi wajah Jonghyun berubah, antara terkejut dan heran. Jonghyun terkekeh pelan, “Min Hye ri? Apa yang kau bicarakan?” tanya Jonghyun penasaran, jangan katakan bahwa selama ini Eun young cemburu pada Min Hye ri.

Mwo? apa yang kubicarakan? Berhenti bersikap seolah kau tidak berdosa, Kim Jonghyun! Kau masih mencintainya kan? Min Hye ri, cinta pertamamu.” kini Eun young mengatupkan bibirnya dengan kuat, menahan tangis yang sepertinya akan segera meledak.

Jonghyun tertawa, jadi benar dugaannya. Eun young cemburu pada Hye ri, tapi apa yang telah dilakukan Jonghyun hingga Eun young berpikiran seperti itu? Ia tidak merasa telah mempermainkan siapa pun di sini, apalagi Eun young yang sangat dicintainya. “Kau cemburu?” pertanyaan itu ia lontarkan begitu saja, membuat semburat merah di wajah Eun young nampak jelas.

“Jangan bodoh! Yeoja mana yang tidak seperti itu jika melihat namja yang disukainya selalu bersama yeoja lain, terlebih lagi yeoja itu adalah cinta pertamanya.” dan akhirnya airmata itu jatuh bebas dari kedua mata bulat Eun young.

Jonghyun terkekeh lagi, ia menggosok tenguknya. Eun young cemburu? Sebesar itu kah rasa cemburunya? Dan entah mengapa itu membuatnya merasa senang, bukankah itu artinya Eun young sangat mencintainya?

Jonghyun melangkah ringan sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Ia berhenti di belakang Eun young, kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Eun young. Sementara dagunya ia tumpukan pada bahu kanan Eun young. “Kukatakan sejujurnya, saat ini aku tidak memiliki perasaan apa pun lagi padanya selain seperti seorang kakak pada adik perempuannya.” ucap Jonghyun tenang, ia kembali tersenyum.

Eun young diam, amarahnya yang telah mencapai puncak itu segera melesat turun dan seolah hilang tertiup angin. Lututnya tiba-tiba terasa lemas. “Kotjimal! Kau selalu menyukainya seperti dulu.” Eun young tetap bersikeras dengan pendapatnya, meskipun sejujurnya ia senang jika pada kenyataannya Jonghyun memang tidak menyukai Min Hye ri lagi sebagai seorang cinta pertama.

Geuraesseo, apa yang harus kulakukan agar kau percaya? Eoh? Apa pun yang kukatakan kau selalu menganggapnya bohong.” tanya Jonghyun santai, ia justru memejamkan matanya, menghirup aroma rambut Eun young.

Tubuh Eun young terasa semakin lemas saat Jonghyun mengeratkan pelukannya di pinggang Eun young. Tentu saja sehasrusnya Eun young senang, tapi sungguh! Ia terlalu gugup untuk bisa merasa senang. Eun young segera menjauhkan tubuhnya dari Jonghyun, kemudian berbalik sehingga mereka saling berhadapan.

Ditatapnya mata Jonghyun sembari mengusap airmatanya yang setengah kering. “Mulai saat ini, berjanjilah untuk tidak menemuinya. Berjanjilah untuk tidak menemuinya tanpa sepengetahuanku lagi.” ujar Eun young ketus. Ia merasa lega, akhirnya ia berhasil menyuarakan isi hatinya yang selama ini ia simpan. Jonghyun tersenyum, ia kembali mendekati Eun young, kemudian meraih kedua tangan Eun young. “Yaksok.” (Janji), ucapnya seraya menaikkan jari kelingkingnya di hadapan Eun young.

Masih tersirat sedikit kekesalan di wajah Eun young, namun beberapa detik kemudian kekesalan itu telah sirna. Berganti dengan senyuman indah yang begitu cerah seperti sinar mentari pagi. Ia menatap Jonghyun beberapa saat, kemudian jari kelingkingnya segera mengait jari kelingking Jonghyun. “Yaksok.” (Berjanjilah). Keduanya saling melempar senyum tak terartikan, kemudan tertawa. “Mulailah untuk mempercayaiku, Shin Eun young.” ujar Jonghyun seraya mengacak rambut Eun young. Eun young menggembungkan pipinya, berpura-pura kesal atas perlakuan Jonghyun yang membuat rambut indahnya berantakan. Tapi kemudian ia tersenyum, senyum yang memancarkan kebahagiaan.

***

Salju pertama telah turun di kota Seoul, hanya butiran-butiran salju ringan yang melayang jatuh dari langit. Orang-orang mulai mengenakan coat tebal berlapis mereka karena suhu yang semakin menurun. Namja itu mempercepat langkahnya menuju sebuah kedai kopi, suhu yang menusuk ini membuatnya memerlukan sesuatu yang hangat.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pramusaji saat namja itu telah duduk di salah satu kursi kayu di sudut dekat jendela.

“Tolong buatkan aku Vanilla latte. Oh, apa menu makanan untuk musim ini?” tanyanya ringan. “Menu andalah di musim ini adalah pancake cocoa dengan siraman gula merah, Tuan. Cocok diminum dengan berbagai jenis kopi, rasanya tidak terlalu manis. Selain itu ada Delightful macaroon, rasanya masih sama seperti tahun lalu.” terang sang pramusaji.

“Kalau begitu aku pesan pancake cocoa saja.” ucap si namja. Pramusaji tadi segera berlalu setelah ia mencatat dan mengulang pesanan.

Namja itu kembali mengeratkan coat hitamnya, ini hari pertama salju turun tapi dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang rusuk. Sambil menunggu pesanannya tiba, ia mengedarkan pandangan ke seisi kedai. Tak begitu banyak orang, hanya ada dua atau tiga pengunjung yang duduk di sudut jauh darinya tengah berbincang atau hanya menyesap kopi.

Matanya berhenti pada sepasang kekasih yang duduk di sudut dekat pintu masuk. Kedua pasangan itu berbincang sambil sesekali tertawa, sudah dipastikan mereka tengah membicarakan begitu banyak hal yang menyenangkan. Yeoja dengan syal merah muda itu kembali tertawa saat si namja menceritakan sesuatu padanya, tawa yeoja itu kelihatannya semakin tak terkendali. Tak lama, si namja mengusap pipi yeoja-nya. Namja itu kemudian meraih botol air mineral yang ada di meja, kemudian menyodorkannya pada si yeoja. Yeoja itu masih tertawa hingga akhirnya ia meraih botol air mineral dan meneguknya. Ia berhenti tertawa dan si namja mengacak rambutnya sayang. Mereka tersenyum, kemudian si namja merangkul yeoja itu.

Namja yang memperhatikan dua sejoli itu segera memalingkan wajahnya, ia memandang taplak meja berwarna putih dengan garis kotak berwarna coklat muda. Apa yang baru saja dilihatnya kembali mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang semakin tidak bisa ia lupakan dalam setiap detik hidupnya. Ia tertawa hambar, menertawakan hidupnya yang akan semakin kacau setelah hari di mana ia menandatangani surat percaraian itu.

Tangan namja itu bergerak perlahan, merogoh saku dalam coat-nya. Benda bulat berlapis kain beludru berwarna ungu pucat itu ia taruh di atas meja, kemudian menatapnya lekat. Ia membuka tutupnya perlahan, dan tampaklah benda berkilauan berwarna putih. Benda itu tipis dan panjang, dengan sesuatu berbentuk kunci yang menggantung di tengahnya. Namja itu menatap kalung yang ia beli dua minggu ]lalu bersama sekretarisnya. Ini terdengar lucu, tapi kalung itu adalah hadiah. Yeah! Hadiah yang akan diberikannya pada sang istri sebelum mereka bercerai. Yeah! Besok adalah hari perceraiannya dengan istri yang tidak pernah mencintainya.

Lamunan si namja buyar saat pramusaji membawakan pesanannya. Dengan cepat ia merapikan benda bulat itu dan segera memasukkannya ke saku dalam coat. Ia tersenyum pada pramusaji, berusaha memperlihatkan bahwa ia bukan namja yang tengah bermuram durja. Ia mulai menyesap latte-nya, dan tanpa sadar mendesah ringan.

Kenikmatan kecil itu segera terinterupsi oleh deringan ponselnya. Ia menaruh cangkir, kemudian merogoh saku luar coat-nya. Tanpa pikir panjang, ia segera menjawab setelah melihat nama siapa yang muncul. Seseorang di seberang sana segera mengatakan maksud dan tujuannya, suara itu terdengar parau dan sedikit suram, sesuram berita yang dibawanya.

“Yeoboseyo, Kim ssi. Saya perawat dari Rumah Sakit Seoul, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Song Seongsaengnim meminta Anda untuk segera menemuinya. Ia bilang ini sangat serius, dan akan lebih baik jika Anda tidak menunda-nunda.”

Jantung Key berdebar kencang, lututnya lemas dan tiba-tiba saja ia merasa suasana di sekitarnya menjadi tidak jelas. Ia yakin, apa yang akan didengarnya dari Song seonsaengnim bukanlah kabar baik. Benarkah? Benarkah kali ini ia akan kehilangan Hye ri, sekaligus nyawanya sendiri?

***

Hye ri masih menundukkan kepalanya, ia tidak bisa menangis, juga tidak bisa tertawa. Benarkah? Pertanyaan itu terus memenuhi kepalanya. “Kuharap hubungan kita akan tetap baik setelah bercerai nanti.” ucap Key dengan suara serak, ia memaksakan untuk tetap menatap Hye ri yang duduk di dekat meja rias di sampingnya. Ada ketakutan yang begitu besar dalam diri Key. Ketakutan karena akhirnya hari besok tiba, hari di mana segalanya akan berakhir setelah ia dan Hye ri menandatangani surat perceraian. Ia merasa dirinya sangat kacau, ditambah lagi kenyataan menakutkan yang harus dihadapinya setelah ia berpisah dengan Hye ri. Yeah! Pertemuannya dengan Song seonsaengnim sukses membuat dunia Key runtuh. Dokter yang pernah merawat Key empat tahun lalu itu mengatakan bahwa terjadi ketidakwajaran dalam sistem kerja sumsum tulang belakangnya. Ada sesuatu yang mebuatnya tidak bisa bekerja seperti yang telah dikerjakannya selama empat tahun. Dan itu artinya, akan sangat besar kemungkinan sumsum tulang belakang itu tidak bisa berfungsi.

Key menghela nafas panjang, seolah menghempaskan ganjalan besar dalam dadanya. Hidupnya akan segera berakhir dengan sangat menyedihkan. Ia mengusap airmatanya cepat, takut jika Hye ri tiba-tiba mengangkat wajahnya dan melihat airmata Key.

“Jyaa, sebaiknya kita tidur. Kita tidak boleh terlambat besok.” ucap Key setelah tidak ada tanggapan dari Hye ri. Ia menatap Hye ri sekali lagi sebelum beranjak dan naik ke atas ranjang, berpura-pura merapikan bantal untuk menyembunyikan lagi airmatanya.

Hye ri tak banyak bicara, ia mengikuti apa yang dikatakan Key. Mengikuti namja itu naik ke atas ranjang setelah menyalakan lampu kecil. Hye ri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya saat ini, semuanya terasa tidak masuk akal. Ia hendak membaringkan tubuhnya saat pertanyaan Key menghentikannya “Bisakah malam ini, kau tidur dan tidak membelakangiku?”. Mereka berpandangan, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hye ri tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya, tapi ini membuatnya sedih, hati kecilnya terus berbisik bahwa ia sama sekali tidak menginginkan perpisahan ini. Ia tahu dirinya akan sangat buruk tanpa Key. Ia tahu bahwa ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia telah begitu terbiasa dengan keberadaan Key di dekatnya.

Hye ri mengutuki dirinya, ini sudah terlalu terlambat untuk menyesal. Ini adalah keputusan yang telah diambilnya dan ia jelas tidak bisa mundur. Key akan lebih baik tanpanya, tidak akan ada lagi penderitaan jika Key berpisah dengannya. Hye ri menyunggingkan senyum di tengah kegalauan hatinya, ia memandang lurus ke dalam mata Key. Entah bagaimana, tapi ia mulai merasa bahwa sepasang bolamata itu begitu teduh dan menyejukkan hatinya.

***

Keduanya diam, Key sama sekali tak bisa mengatakan apa pun dengan bibirnya yang bergetar. Sekuat tenaga ia menahan airmatanya. “Kemudian, aku akan berjalan seorang diri seperti sebelum aku bertemu denganmu.” lanjut Hye ri dengan suara bergetar, ia semakin menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Key. Kedunya sama sekali tak bisa memejamkan mata. Sesuai keinginan Key, Hye ri tidak tidur membelakanginya. Hye ri justru tidur dalam pelukan Key, menjadikan tangan kiri Key sebagai alas kepalanya, semantara tangan kanan Key merangkul bahu kiri Hye ri dengan erat, membuat mereka saling berhadapan meskipun pada kenyataannya mereka saling menyembunyikan wajah.

Key hanya bergumam pelan sebagai tanda bahwa ia masih mendengarkan cerita Hye ri. Keduanya memutuskan untuk menceritakan apa yang selama ini tidak mereka ceritakan tentang satu sama lain, mulai dari perasaan Key yang entah bagaimana merasa nyaman saat ia berada dekat Hye ri, hingga kenyataan bahwa ada orang tersembunyi dalam hidup Hye ri. Seseorang yang bahkan selama ini tidak pernah Hye ri ceritakan pada siapa pun.

Geurasseo, jika kau menikah dengan Nicole. Aku ingin kau bahagia, dan oh! katakan padanya untuk bersikap baik padaku, aku berjanji akan lebih baik dari diriku saat ini.” Hye ri memejamkan matanya setalah berhasil mengucapkan kalimat menyedihkan itu. Bahkan dalam pikirannya, ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa hidupnya saat mengetahui Key akan menikah dengan Nicole. Meskipun Key tidak pernah mau membicarakan Nicole pada Hye ri.

Key kembali bergumam pelan, airmatanya semakin tak bisa ia cegah. Hye ri akan benar-benar melepaskannya, dan setelah itu Key akan berjuang sendiri melawan penyakitnya. Tangan kanan Key meraih rahang Hye ri, seiringan dengan wajahnya yang merengsek mendekati Hye ri. Perlahan bibirnya mencari bibir Hye ri, “Hemm… aku akan baik-baik saja. Neo do (kau juga), berjanjilah.”

Hye ri menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa mengatakan apa pun lagi karena airmatanya telah menganak sungai. Nafas hangat Key berhembus di wajah Hye ri, meskipun tidak melihat matanya, tapi Hye ri tahu bahwa namja itu pun tengah menangis -sama seperti dirinya. “Saranghae, Min Hye ri.” Bisik Key serak, bibirnya kemudian meraih bibir Hye ri, memberinya tekanan dan lumatan kecil. Key memperdalam ciumannya, seolah itu adalah terakhir kalinya ia bisa mencium Hye ri.

“Ingatlah, bahwa aku pernah membuka hatimu, satu kali. Meskipun akhirnya hatimu kembali tertutup.” Key mengecup bibir Hye ri lagi sesaat, kemudian beranjak perlahan. Meraih sesuatu yang telah ditaruhnya di atas nakas. Benda bulat berlapis  beludru ungu pucat itu telah ada di tangannya, dengan cepat dibukanya dan diraihnya benda berkilauan yang ada di dalamnya.

Hye ri bangkit, sambil mengusap airmata ia duduk bersila. Kemudian menyipitkan matanya, berusaha menangkap benda apa yang sedang dipegang Key. “Aku, pernah menjadi kunci itu, satu kali.” ucap Key, ia kemudian memakaikan kalung itu pada Hye ri. Hye ri tidak mampu mengatakan apa pun, di saat seperti ini pun Key masih sempat memikirkannya. “Biarkan aku tetap hidup dalam kenanganmu. Kau akan mencintai Minho, dan aku akan tetap mencintaimu seperti ini. eoh?” lanjut Key dengan mata berkaca-kaca, ia membiarkan airmatanya jatuh di hadapan Hye ri.

Hye ri hanya menganggukkan kepalanya, mau tidak mau airmatanya kembali jatuh. Di dunia ini, hanya ada satu orang bodoh. Yeah! Hanya dirinya, orang paling bodoh yang telah menyia-nyiakan Key. “Gomawo, Key.” dengan susah payah akhirnya ia bisa mengucapkan terimakasih. Key tesenyum di tengah tangis sunyinya, kemudian segera memeluk Hye ri. Memeluk yeoja itu erat seolah tak ingin melepaskannya.

Suara jam dinding di kamarnya terdengar begitu jelas, setiap detik terasa begitu lambat. Hye ri kini membelakangi Key, meskipun ia masih dalam pelukan Key. Ia segera memejamkan matanya begitu mendengar suara Key yang menanyakan apa ia sudah tidur. Perlahan Key beranjak, menarik tangannya hati-hati agar tidak mengganggu Hye ri. Bisa Hye ri rasakan bahwa Key tengah duduk di sampingnya, menatapnya. Sesuatu yang lembut menyentuh wajah Hye ri, bergerak dan mengelus pipi kanannya. “Saranghae.” Suara Key terdengar lagi, kemudian Hye ri bisa merasakan kecupan singkat di bibirnya.

Mata Hye ri masih terpejam saat ia mendengar suara pintu dibuka, merasakan di sekelilingnya hanya kekosongan yang sunyi. Tak lama, suara mesin mobil terdengar dari halaman rumahnya. Hye ri bangkit, ia berjalan cepat menuju ruang tamu dan terisak dalam kegelapan. Menatap nanar mobil hitam yang melaju meninggalkan halaman rumah.

***

Sinar matahari yang menelusup melalui celah-celah ventilasi menyilaukan mata Hye ri. Yeoja itu mengerang pelan, berusaha membuka matanya yang terasa berat. Angin bertiup, membuat tirai di ruang tamunya bersentuhan dengan dinding. Hye ri berhasil membuka matanya, ia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, kemudian bernjak menuju kamar mandi.

Key tidak pulang, mengapa semalam namja itu memilih untuk pergi, padahal itu adalah malam terakhir mereka? Hye ri berjalan lemas, tidak ada hal lain yang bisa dipikirkannya selain menandatangani surat itu dan segalanya akan berakhir. Oh! mungkin ia pun harus segera mengemasi barang-barangnya dan kembali ke rumah orangtuanya.

Hye ri telah siap saat jam dinding di ruang tengahnya menunjukkan pukul 9 pagi. Ia melirik lagi ponselnya, tidak ada panggilan atau pun pesan singkat dari Key. Apa namja itu telah mempersiapkan diri untuk langsung datang ke tempat pengacara Jung? pikir Hye ri. Hye ri mengetuk-ngetukkan ponsel ke meja, entah mengapa ia merasa gelisah. Tidak ada alasan yang pasti yang membuatnya merasa gelisah seperti ini.

Hye ri terlonjak saat sebuah nama muncul di ponselnya, ia menunggu beberapa detik. Mengapa ibu mertuanya tiba-tiba menelepon? Apa jangan-jangan mereka sudah tahu tentang perceraian ini?

Sedikit ragu akhirnya Hye ri menjawab telepon, berusaha bicara setenang mungkin. “Yeoboseyo, Eommonim, waegeurayo?”

MWO?????” Hye ri nyaris menjatuhkan ponselnya, apa yang baru saja didengarnya seolah membuat dunianya runtuh.

***

Hye ri berlarian meyusuri lorong rumah sakit tempat di mana dulu Minho dirawat. Airmatanya terus menetes sepanjang perjalanan, ini seperti sebuah mimpi. Key koma, apa yang sebenarnya terjadi semalam?

Pikiran Hye ri semakin kacau saat ia telah tiba di lorong kamar rawat Key. Ia melihat ibu dan ayah mertuanya, kakak perempuan Key beserta suaminya, juga Lee Jinki. Mereka duduk di bangku di depan kamar Key dengan wajah amat gelisah. Dan segera beranjak begitu melihat Hye ri.

Hye ri menatap mereka satu persatu dengan tatapan penuh ketakutan, telinganya sama sekali tidak siap mendengar apa yang terjadi pada Key. Apa Key mengalami kecelakaan? Apa ia menabrak pagar pembatas? Atau ia ditabrak? Apa yang menabraknya? Sebuah mobil? Atau truk yang besar? Oh! Hye ri tidak bisa membayangkannya lagi. matanya beralih pada pintu kamar di sampingnya.

Eommonim, apa yang terjadi? apa yang terjadi pada Key? Ia baik-baik saja kan?” Hye ri berhambur, ia segera meraih kenop pintu dan hendak membukanya saat ibu mertuanya menahan tangan Hye ri.

Hye ri menatap ibu mertuanya dengan wajah yang amat kacau, airmatanya tidak mau berhenti. “Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan denganmu.” ucap sang ibu mertua. Ia sempat terdiam dan memandangi orang-orang yang ada di hadapannya satu persatu, ada sesuatu yang jelas-jelas mereka sembunyikan dari Hye ri.

Hye ri mengikuti ibu mertuanya begitu saja, ia dibawa ke ruangan lain yang jauh dari kamar Key. “Apa yang terjadi pada Key? Aku harus melihatnya.” Hye ri semakin tak sabaran saat ia telah berada di sebuah ruangan seperti ruang pertemuan kecil.

Plaaaakkkkkkkk

Bukannya jawaban yang ia dapatkan melainkan sebuah tamparan di wajahnya. Hye ri terbelalak, memegangi pipi kanannya yang baru saja ditampar. Ia tidak sedang bermimpi kan? Ibu mertuanya yang lemah lembut itu baru saja menamparnya?

Air mata Hye ri jatuh lagi, perlahan ia menatap ibu mertuanya. “Emmonim, waeyo?” tanya Hye ri serak, tamparan itu benar-benra membuat hatinya terluka. Sang ibu mertua menatapnya penuh kebencian, matanya yang berkaca-kaca segera ia alihkan dari Hye ri. Ia melempar sebuah map ke atas meja. Mata Hye ri segera mengikutinya, kini mengertilah ia mengapa tamparan itu mendarat di wajahnya.

Sebuah map besar bertuliskan nama kantor pengacara Jung. “KALIAN AKAN BERCERAI? KALIAN GILA?HUH?” Nyonya Kim berteriak meskipun air matanya telah menetes. “Emmonim, aku bisa jelaskan.” terang Hye ri pelan, ia begitu ketakutan. Hatinya menimbang, benarkah ia akan mengatakan bahwa penyebab perceraian ia dan Key adalah Hye ri yang hanya bisa mencintai Minho. Oh! Minho! Bahkan ibu mertunya ini tidak tahu siapa Minho.

SHIKKEURO! Aku tidak mau mendengar apa pun darimu. Bagaimana bisa kalian akan bercerai tanpa sepengetahuan kami? Apa yang terjadi? Oh! ya Tuhan! Lihatlah Kibum ku sekarang!” Nyonya Kim terisak, kesedihannya jauh lebih kuat dari amarahnya. Pikirannya melayang pada kejadian empat tahun yang lalu, bagaimana jika kali ini Key tidak akan bangun lagi?

Tangis Hye ri pecah, ia menyadari ini sangat buruk dan akan membawa banyak orang tak bersalah dalam lingkaran keegoisannya yang seperti batu. “Emmonim, apa yang terjadi pada Key?“ tanya Hye ri, ia tahu ibu mertuanya begitu marah. Tapi satu-satunya yang ingin ia dengar saat ini hanyalah apa yang sebenarnya terjadi pada Key, bukan ceracaan dan makian.

“Kenapa? Kenapa kau membuat Kibum ku seperti ini? apa yang kau lakukan padanya? eoh?” Nyonya Kim tidak menjawab pertanyaan Hye ri, ia malah balik bertanya. Membuat Hye ri semakin tenggelam dalam kebingungannya. “Apa yang kau lakukan padanya hingga ia begitu akrab dengan alkohol setiap hari? Molla? Uri Kibum, uri Kibum tidak boleh mengenal alkohol. Itu akan mengancam hidupnya.” lanjut Nyonya Kim, tangisanya semakin tak terkendali. Hye ri diam, menatap ibu mertuanya tajam. Satu hal yang ia ketahui saat ini adalah alkohol yang menyebabkan Key koma. Semalam namja itu minum lagi? pikir Hye ri.

 “Eommonim, Kibum-“

Uri Kibum, dia sangat lemah. Dia tidak bisa seperti kita, ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti kita. Ia berbeda! Ia harus menjaga hidupnya.”

Tangisan Hye ri terhenti, ia terus mendengarkan ibu mertuanya. Berusaha menangkap apa yang tersirat di setiap kalimatnya.

“Kibum adalah penerima donor! Ia tidak bisa sekuat kita. Dan kau telah membuat sumsum tulang belakang itu tidak bekerja lagi! Aigo, uri Kibum, uri Kibum. Bagaimana bisa Dokter mengatakan penyakit itu menghinggapinya lagi?” tubuh Nyonya Kim merosot, ia memegangi dadanya sambil terus terisak.

Hye ri tertegun, rahangnya mengeras. Jelas-jelas ia baru mengetahui hal ini. Jadi selama ini Key? Ia seorang penerima donor? Ia pernah menderita penyakit yang sama seperti Minho? Seketika pikiran Hye ri terasa kacau, memori dalam kepalanya terus mengaduk-aduk klise lama yang nyaris terlupakan. Kemudian memutar ulang dalam kepalanya, membuat perasaan takut dan sedih itu segera memeluk Hye ri erat.

“Kibum, Ia pernah menerima donor? Kapan? Ia pernah terkena Leukimia? Itu tidak benarkan?eoh?” Hye ri mundur beberapa langkah, menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia merasa kepalanya begitu sakit. Nyonya Kim tidak menjawab, ia semakin terisak. Hye ri segera berbalik, berusaha berlari dan menemui Key saat dengan cepat tangan Nyonya Kim telah menahannya.

ANDWAE!!! Jangan pernah menemui Kibum ku lagi, ia sakit karenamu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika Kibum tidak pernah bangun lagi.” ucap Nyonya Kim tajam, membuat Hye ri tertegun. Kini ia merasakan lagi bagaimana rasanya langit runtuh dan menghimpitnya di sela-sela bumi.

=TBC=

48 thoughts on “Archangel – Part 19

  1. aish!! lagi-lagi TBC.

    WOW thor dahsyat bgt cuma dlm sekitar 2 minggu, part 19 bisa sepanjang ini! Daebak!
    tiba-tiba mertuanya nampar Hye Ri aduh miris bgt😥
    ada perasaan cukup puas sma Min Hye Ri nih terutama Nicole hehe over confident bgt ya sekertaris yang satu itu -_-
    sepertinya Archangel bentar lagi bakalan beres😦 mudah-mudahan happy ending & harus bikin surprise/gebrakan yg tak terduga yak keke (PR buat author).

    eunjjong couple-nya sesuatu!!

    next part sekilat ini ya thor ^^~
    Keep writing!!

    • .hha. iyh nih, ak jg kaget jadinya panjang begini *eh?*
      aish! selamat dh yh akhirnya puas juga tuh sama Min Hye ri yang mulai jatuh.ahahahah.

      Yup! Archangel bakalan beres kyanya ga lama lagi😛 amiin, mudah2an bisa bikin surprise deh di endingnya😀

      oKEY, oKEY. Nantikan pokonya, nantikan Song eun cha menikah sama Onew *eh?* .ahahahahah.

  2. Bener” tuh tbc gak tepat bgt, author pntr bgt bwt hati saya dongkol *diinjek
    feelny dpt bgt smpah,aku smpe kbwa emosi… Arrgghtt *jitak jidat onew.eh
    uri kibum koma lagi,hueee jngn ktakan ini brakhr sedih,, kpan klimaksny thor,gereget saya

  3. kyyaa!! itu tbc nya rese!!! eh padahal ini udh 25 halaman? hehe berarti panjang ya?

    eon gila banjir ini air mata!! ya ampun key kasihan bgt, udh mau cerai, leukemianya kambuh lagi ckckck
    coba key gk kawinnya ama hye ri tapi sama aku, kan jalan ceritanya jd beda. lebih membahagiakan #plak!

    sabar sabar, key yg asli msh sehat walafiat ini cuma ff. tp ff eon gila bisa ngebuat aku jd kesel! lanjut

    • Iyh nih, panjang banget yah. Pasti ngos-ngosan yah bacanya? .ekekek. ^^v

      wah, jinjja? bagian manakah yang bikin Hana banjir?
      waduh, ak jg mau tuh nikah sama Key. Ceritanya bakal tmbah berantakan kayanya.ahahahah.

      Tenang, tenang Hana, ini cuma cerita ko. Jgn kebawa mimpi yah. *plaakkk

  4. AAAARRRRRRGGGHHHHHH!!
    AISSHHH IGE MWOYA ???!!!!
    *loncat²sambil jambak rambut frustasi*
    Eun Cha-ssi kw dgn sukses mmbuatku kesel frustasi & penasaran tingkat dewa.
    aku sdikit lega, sedikiit aja tp, seenggaknya krn pnykit key mrk ga jd cerai & akhirnya Hyeri tau pnyakit key.
    Tp aisshh…knp eommanya key ngelarang hyeri ktmu key? Yaa! eommonim(?) asal kw tau pndonornya key itu adlh hyeri.
    Dokter Song! di mana dirimu?cpt beritahu mrka semua siapa hyeri sebenarnya.
    Eerrrgghhhh!!! *reader mulai gila*
    Hhhh… oKey, ini daebak emosiku kyaknya trkuras(?) habis gara² bc part ini.
    Aku cm butuh 1 hal sekarang,
    ‘Part 20’ Thor!!!
    a-yo thor sgera slsaikn part 20 nya, fighting!!! ‘-‘)9

    • Ummullll…. aku jgn ditimpuk Onew yah? *eh?*
      sepertinya part ini nguras emosi yah? coba ngurs bak mandi.ahahahah.
      oKEY, oKEY, part 20 semoga ga lama lagi dan ga kalah menguras emosinya dari ini.kekekek.
      Gomawo😀

  5. lama bngt g mampi k sini ….

    maaf y thor sblm nya br bs ninggalin jejsk dsini ..

    gereget mskin parah k hye ri pngn list reaksinya setelah tau pnykt key .. tp malah tbc duluan ..

    eunjjong couple… setiap adegannya bkn ngakak+romantis klo ngebayangin …

    siipp thor d tgg lanjutan partnya … FIGHTING

  6. Author, aku nangis loh beneran pas tau sakit Key kambuh. Masalah keluarga juga makin rumit ditambah eomma key benci hyeri. ;_;;;;

  7. tuh kan sebenernya si hyeri itu cemburu sama key argggghhhh frustasi sendiri jadinya…
    dan itu si key jangan sampe penyakitnya kambuh… jangan sampe sad2 lagi hueeee ;;-;;

  8. Argh! ayolah cepat terungkap kalo kioppa sang recipient-_,- dan semoga gajadi cerai. tapi apa ibunya kioppa bakal ngijinin kioppa kembali ke hyeri jika nanti memang gajadiu cerai? doh-_____-

  9. Hikseu ㅠㅠ knp ceritanya malah jadi gini eon? Kasian bngt Key…

    Ya ampun kalo sampai mrk jadi brrti si Hyeri emg udah ga punya hati nih! #esmosi-_-

    Jadi gmn tuh kalo key kena leukimia lg? Dia hrs dpt donor lg gitu?

  10. luar biasa…. knp kayaknya jadi sad ending gini? andwaeeee!!!!!!! jangan, dong, thor… jebal… masa udah so sweet banget percintaan mereka malah jadi gini lagi? huweeee……..

  11. Astagaaaa

    sumpah nih aku bela-belain baca ff sampe tengah malem gini gara2 Key n Hye ri!!
    Authornya emang daebaaaaak!!
    sukses bikin aku begadang cuma buat baca ni ff
    oiya, ini tamatnya happy kan ga sad ending?
    *berharap happy ending

    ayo lanjutkan authoooor!!

  12. yaaa, euncha-ssi, bagaimna ini ibu key sdh bnci, dan aplgi hyeri tdk dprblhkan bertmu dgn key lgi,,,
    sedih minta ampun

  13. ooohhhh… knapa penyaakit key harus kambuh lagi c..?? udah gitu mw cerai jg, ahh, semuanya tambah membuat penasarn..!! moga aja ibu kim masih merestui mereka dan happy ending dech…
    aduh, knapa tbc-nya pas klimaks c.. bkin jantung berhenti mendadak (shock tingkat akut!!)
    eun-nie, pintar bget ngaduk2 emosi, mpe nangis bombay nich…
    T_T

    • Keyyyyyyy > < jd inget kejadian ci minho lg huhuhu T_T bener2 ngerasa gak ♏ǻυ kehilangan key cerita ny meresap d hati nangis bombai nihhhh :'
      Ci minong kan bias akuuuu \(˚☐˚!!)/ \(!!˚☐˚)/ kalo ingetin kejadian minho d part1 aku ny T_T sedihh

  14. keyyyyyy-ah
    jgn matiii… ya tuhan q semakin kasihan melihat hye ri…
    semangatlah key.. karena malaikat penjagamu adalah istrimu sendiri…
    oemmonim jgn begitu sama hyeri itu sngt menyakitkan…

  15. Oh my god.
    Author,km udah sukses buat airmataku mengalir n tenggorokanku terasa ada yg ngeganjel.;(;(
    part 19 sedih bgt.
    Semoga…,key bisa selamat.
    Jangan sampe nanti malah hye ri yg terpuruk kalo key,cowo yg dia mulai cintai.ninggalin dia juga buat slama2’y.
    Jadi,ntar hye ri jiarah’y k 2 makam dong.
    Oow.:(:(

  16. huehee, ternyata bnrn mau ketemuan ama jinwoon iia, berarti nicole selamat yah, hahaha😄

    sempet takut hyeri ngambek lg gara2 liat key ama nicole, mana nicole pke nyangkutin tangan gtu, aishhh~
    tapi untung hyeri udah lmyn bisa control emosi yah, syukurlah~ fiuuh~

    sukaaa ><
    yaampun itu hyeri udh kyk abg labil lg kasmaran, kkk😄
    hyeri yg malu2 pas diliatin ama key, hyeri yg kesel krn gak digandeng tangannya ama key pas mau keluar rmh, hyeri yg kesel krn gak jd makan brg key diluar, hyeri yg tau2 ngajak mkn es krim pdhl suasana lg dingin krn ujan, aihh bnr2 berasa beda bgt ama karakter hyeri yg biasanya~ *gemess*

    loh itu??
    itu key kambuh lagi sakitnya???
    andweeee T_T
    aduhh please key jgn kyk minho T_T
    itu hyeri donor sumsum tulang belakang lg aja ke key, bisa gak sih????

    • wah, selamat yah? gpp Putto, jorokin ajh ke sungai Han *emosi*

      “yaampun itu hyeri udh kyk abg labil lg kasmaran…” <– aaaaa syukaa deh sma kalimat ini.hhe. si Hyeri emang keliatan beda banget yh di part ini? labilnya ga ketulungan.hhe.

      wah, kn Hyeri udah pernah donor. klo donor lagi, mati dong Hyeri.kekeke.
      Eh, pw part2 berikutnya udah aku kirim email yaa. selamat membaca lanjutannya😉

      • wahh!! nicole jatoh ke sungai han!!
        maaf gak sengaja kesenggol, bnrn deh gak sengaja, suerrr *ngibrit* LOL

        bangettt~
        beda bgt, yg biasanya kebanyakan merenung trus nangis2 *lebay* eeh skrg jd bocah labil, kkk~

        ohh gtu yah??
        yaahh gak bisa donor lg dong, huweeee~
        terus keynya gmn???
        key nya jgn mati, pleaseeee T_T
        ayo cari donor buat key😥

        aah iyaa euncha, pw sudah diterima, jeongmal gamsahabnida song euncha~ *bow* *peluk cium* ㅋㅋㅋ ;D

  17. Aaaaaaaaa, udah selesai baca ampe part 19nya!!!
    Tetep nggak suka bagian TBCnyaa! Kenapa harus TBC sih eun cha-sshi? Hehehe
    Aneh deh aku, oh iya, aku minta password 20-25 dong eun cha-ssi
    Soalnya tempo hari cuman ampe part 19 aja PW nya.
    Daebak bisa bikin aku sampe ikutan emosi kyak gini thor
    FF-nya Daebak! Keep Writing ya thor
    Aku email ya abis gini buat minta PWnya, gomawo eun cha-ssi

  18. bneran netesin air mata deh baca part19
    hyeri msh gak mw nyatain cintany sm key?
    key bkalan sdar gak y?
    mw liat ekspresi jinki ke hye ri?

  19. Ya amppuuun sedih bgt…

    Awalnya emhg kesel bgt sama hye ri, tapi kasian dia +.+ ,mungkin hye ri harus ngalamin ini dulu ya..huahuahuahua*nyari lap kompor(?)

  20. Sumpah ini ceritanya keren banget huaaaaa (>.<) Haloo eun chaa saya reader baru ini ,gk mau berhenti bacanya pdhl bsok ujian xD ternyata ini FFnya udh lumayan lama yaa ,untung ketemu FF keren" begini salut deh sama authornyaa hhhe kalo bisa bnykin jg dong cerita jinki nya (^^)

  21. Hiyaaa rasanya ditampar ibu mertua itu…. Nyesss bingit. Rasakan itu hyeri HAHAHA /ketawasetan/
    Part in sumpeh bikin gue emosi thor, mpe pngen banting hape hiks ;;;;
    Ibunya key kaga tau yah kalo menantunya itu yang donorin sum2 tulang belakangnya sama key? Hufff
    Lanjutbaca

  22. Sedih bacanyaaaaaaaaa T.T
    Sukses sudah chap 19 membuat saya tegang dan nangis!! yampun ibu Key sayang bgt ya sama Key😦 inget waktu chap 1 yg ibu Key berjuang demi Kibum yg bertahan sendiri huhuhuhu~ #amazing Kereeeeeeeeeeeeennnnn ceritanya

  23. Yawlah thor! Ane galau tor._. Yaa, aku tau ff ini tahun 2012 dan saya baru baca 2014 *ketinggalanbanget*. Kebetulan aku baru didunia korea=)) tapi serius deh thor, aku nangis masa?:( ini ff pertama yg sukses bikin aku sesegukan tiap baca:( Daebakk!!

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s