Archangel – Part 20

archangel

Archangel – Part 20

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship, Angst

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

 It comes to and end yaaahh… Udah pada bisa nebak kan yah, Archangel bakalan segera beres nih. Ga banyak bacot, Eun cha persembahakn Archangel part 20 ini. 26 halaman dong ah! semoga mengobati rasa kepo kalian yang tidak terbendung yahh.ekeke. 
Seperti biasanya, abis kepo jangan lupa komen. Kritik dan saran sangat dinantikan. Patronizing is not allowed!
Happy reading😀

Saranghae.” bisik namja itu seraya mengecup bibir istrinya lembut. Ia beranjak, kemudian mengendap keluar kamar setalah menyambar coat tebalnya. Kakinya melangkah gontai menuju dapur, diraihnya segelas air mineral dan meneguknya tanpa ampun. Ia kembali melangkah, pikirannya telah men-setting ke mana ia harus pergi. Kunci mobil yang selalu tergeletak di salah satu cabinet di ruang tengah itu segera disambarnya, kemudian berjalan menuju pintu.

Hanya beberapa menit, namja itu telah berada di luar rumah. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tahu mengenderai seperti itu bukan gayanya, tapi suasana hatinya yang amat buruk membuatnya mengacuhkan banyak hal. Suasana jalanan yang tidak terlalu ramai membuatnya menginjak gas semakin dalam. Sesekali diliriknya arloji yang bahkan tidak terpakai dengan baik di tangan kirinya. Ia mengerang lagi sambil meninju stir, setiap menit yang berlalu semakin membuatnya hancur. Kurang dari 10 jam lagi menuju perceraiannya dan semuanya akan berakhir begitu buruk.

Ia membanting stir, berbelok ke kiri kemudian menginjak rem tepat di depan sebuah bangunan yang diterangi lampu berkelap-kelip. Ia diam, memandangi bangunan bergaya Perancis yang sudah sering ia kunjungi bersama sahabatnya di saat-saat penat. Pikirannya menerawang, kembali membuka memori saat-saat ia sering berada dalam bangunan yang biasa disebut bar itu. Ia bersama Jinki sering minum untuk melepas lelah, atau hanya untuk merayakan sesuatu yang patut dirayakan. Tapi kemudian kebiasaan itu berubah, mereka datang bukan hanya untuk melepas lelah tapi lebih tepatnya untuk menghindari kenyataan yang tidak mau mereka hadapi.

Namja bernama Key itu kemudian merogoh saku dalam coat-nya, ia hendak menghubungi Jinki untuk minum bersama. Ia tahu apa pun saran dari Jinki tidak akan mengubah kenyataan bahwa hanya beberapa jam lagi ia dan Hye ri akan bercerai. Tapi setidaknya berbicara dengan Jinki bisa membuatnya merasa lebih baik. Tangannya hendak menekan dial number 5 saat sesuatu membuatnya urung melakukan hal itu. Ia memandangi wallpaper ponselnya sambil tersenyum pahit, wallpaper yang tidak pernah ia ganti nyaris satu tahun terakhir ini. Siapa pun yang melihatnya akan beranggapan bahwa dua anak manusia dalam foto itu saling mencintai dan sangat bahagia dengan keberadaan satu sama lain. Tak ada yang akan mengira bahwa mereka sama sekali tidak bahagia dengan kebersamaan mereka.

Key memandang wajah Hye ri, yeoja itu tersenyum sambil menyandarkan kepalanya dalam pelukan Key. Meskipun matanya terlihat sedikit sembab tapi orang lain akan mengira itu akibat cuaca dingin. Butiran salju kecil bertebaran di atas rambutnya, ia tersenyum, senyum yang begitu tulus dan memancarkan kebahagiaan. Matanya beralih pada foto dirinya sendiri, ia berdiri di belakang Hye ri. Memeluk yeoja itu dari belakang, sementara tangan kirinya terulur karena memegang kamera. Yeah! Key tidak akan pernah melupakan saat foto itu diambil, foto saat bulan madu meraka ke Paris. Saat Hye ri begitu ceria bermain dengan butiran salju dan berlari ke sana kemari, dan saat itu lah Hye ri berjanji akan berusaha untuk mencintai Key.

Setitik airmata jatuh saat Key memejamkan matanya, rasanya begitu sakit mengingat kenyataan bahwa segala usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Ia segera mengunci tombol ponselnya, membuat cahaya dalam ponsel mati, begitu juga dengan tampilan layar yang menjadi gelap.

Hatinya begitu sakit saat mengingat lagi ucapan Song Seonsaengnim. Setelah ia bercerai, ia akan segera melakukan serangkaian pemeriksaan dan perawatan seperti yang pernah dilakukannya empat tahun yang lalu. Ah! Dan bagaimana ia memberitahu kedua orangtuanya tentang perceraian dan penyakitnya? Sungguh! Key berharap bumi akan menelannya malam itu juga. Dirinya telah benar-benar gagal dalam menjalani hidup, juga gagal membahagiakan kedua orangtuanya.

Ia bersandar pada kaca mobil, mulai terisak di sana. Tidak ada gunanya ia menghubungi Jinki, Jinki tidak akan suka melihatnya menangis seperti anak perempuan. Key beranjak, menghapus airmatanya kasar sambil membuka pintu mobil. Ia rasa segelas cocktail akan membuat pikirannya lebih segar. Ia baru saja melangkahkan kaki kirinya keluar saat kepalanya tiba-tiba berdenyut. Dengan cepat membuatnya tak bisa menyeimbangkan tubuh, ia merasa kepalanya berputar-putar. Sedetik kemudian tulang-tulangnya terasa ngilu. “Andwae! Kumohon jangan sekarang, sekali ini saja. Jebal.” gumam Key. Ia kembali melangkah, mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya yang semakin menjadi.

Tubuhnya segera ambruk ke jok mobil saat ia baru berhasil berdiri. Ia terkapar tak berdaya, bibirnya bergetar dan kepalanya terpejam. “Andwae! Kumohon, jangan seperti ini.” keringat mengucur deras dari pelipisnya, dan dengan susah payah ia merogoh saku dalam coat-nya.

Ponsel itu telah digenggamnya, tangannya bergetar hebat saat ia hendak menelepon Jinki. Matanya mulai berkunang-kunang saat melihat layar ponsel. Fotonya dan Hye ri dalam ponsel terlihat semakin memudar, sedetik kemudian tubuhnya menegang seolah menahan sesuatu. Cairan pekat berwarna merah segera menetes dari hidungnya, membasahi jok mobil. Key mengerang, rasa sakit dan takut ini kembali ia rasakan.

Tubuhnya semakin melemas, seiringan dengan ponsel yang jatuh dari genggaman. Samar-samar ia seperti melihat seseorang berjalan ke arahnya, orang itu berpakaian serba putih. Memiliki sesuatu yang besar di belakang tubuhnya, memanjang ke bagian kanan dan kiri seperti burung raksasa. Key mengerjapkan matanya, pandangannya telah kabur. Tapi ia tahu orang itu tersenyum, dan membuatnya seolah terbawa ke masa lalu. Sosok itu semakin medekat “Dowajuseyo.” (Tolong aku) bisik Key lirih, kemudian semuanya menjadi gelap.

***

Namja itu mengerang saat ponselnya kembali menjerit. Ia sudah berkali-kali me-reject panggilan yang entah dari siapa datangnya. Tapi nyatanya, si penelepon tidak cepat menyerah. Ponsel Jinki kembali menjerit hanya beberapa detik setelah Jinki me-reject-nya. Jinki kembali mengerang sambil menendang guling yang entah bagaimana telah menindih kakinya.

Dengan malas tangannya kembali meraba ponsel yang ia taruh di atas nakas. Ia kembali mengerang sambil merapatkan selimut ke tubuhnya. Ditempelkannya ponsel ke telinga kiri “Eoh! Nugu-ya?” tanya Jinki tanpa basa-basi. Pikirannya masih setengah di alam mimpi saat suara di seberang sana mulai berbicara dengan tempo yang cepat seperti orang panik.

NE?????” tanpa perintah dari otak tubuhnya segera bangkit. Matanya yang masih mengantuk segera terbelalak, jantungnya berdebar hebat hingga suaranya terdengar jelas di gendang telinga. Si penelepon benar-benar telah membawa berita tidak menyenangkan. Tanpa berpikir lagi Jinki segera beranjak, menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan dirinya.

Kurang dari tiga puluh menit Jinki telah tiba di rumah sakit yang disebutkan Jack di telepon. Yeah! Bartender muda itu yang meneleponnya dan mengatakan bahwa Key ditemukan pingsan dalam mobilnya di halaman bar. Jack menambahkan bahwa keadaan Key tidak baik-baik saja, Dokter klinik – tempat Jack membawa Key- mengatakan Key harus segera dibawa ke rumah sakit. Dan Rumah sakit Seoul lah satu-satunya tempat yang terpikirkan oleh Jack.

Musen iyeyo?” (Apa yang terjadi?) tanya Jinki begitu ia memasuki koridor instalasi gawat darurat. Setengah berlari ia menghampiri bartender muda yang duduk di salah satu bangku panjang. Jack berdiri dan segera berhambur ke arah Jinki “Jinki sunbaenim, Key sunbaenim koma. Dokter bilang sesuatu terjadi padanya.”

Jinki tak mengatakan apa pun, ia sudah memperkirakan hal seperti ini akan terjadi. Ani! Ia sudah memperkirakan bahwa keadaan Key akan memburuk, tapi tidak pernah berpikiran akan seburuk ini. Ia menengok ke ruangan tepat di hadapan bangku Jack tadi, mencari seseorang dengan jas putih yang akan memasang wajah khas ala dewa penyelamat para pesakit.

“Oh! Seonsaengnim. Dia teman Key sunbaenim.” teriak Jack saat seorang Dokter keluar dari ruangan, wajahnya terlihat serius.

“Anda teman terdekatnya? Bisa bantu aku menghubungi keluarganya?” Dokter yang diperkirakan berumur 60 tahunan itu menatap Jinki, ada sedikit kelegaan yang terpancar dalam wajahnya.

Ne, saya akan segera menghubungi mereka setelah saya tahu apa yang terjadi pada Kibum.” ucap Jinki, ia berusaha keras untuk bersikap tenang karena pikirannya benar-benar kacau. Ia tahu Key tidak baik-baik saja dan yang ingin segera ia ketahui adalah separah apakah Key saat ini. Jinki mengikuti Dokter tersebut ke salah satu ruangan tak jauh dari tempat Key. Oh! ia bahkan tidak sempat melihat Key, ia terlalu tak sabaran untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Nyaris tiga puluh menit Jinki berbicara dengan Dokter. Ia berjalan tegap menuju ruangan tempat Key dirawat. Pikirannya menimbang, dengan cara apa ia harus memberitahu keluarga Key. Ini bukan hal kecil, menyangkut hidup pewaris perusahaan Kim yang terkenal di Korea. “Sunbaenim, bagaimana?” tanya Jack yang segera bangkit saat Jinki melewatinya.

Jinki memaksakan seulas senyum, ditatapnya wajah si bartender muda yang terlihat lelah. Ia memang makhluk malam yang tidak pernah tidur hingga pagi menjelang, tapi ini sudah lewat pagi hari dan ia terlihat seperti vampire yang kekurangan darah. “Aku akan menghubungi keluarganya, kau tidak perlu cemas. Terimakasih sudah membantu. Beristirahatlah.” Jinki menepuk bahu kiri Jack. Bartender itu mengangguk meskipun ia terlihat masih penasaran dengan keadaan Key yang sebenarnya. “Hubungi aku jika kau memerlukan bantuan, Sunbaenim.” ucapnya kemudian melenggang meninggalkan koridor instalasi gawat darurat.

Jinki sempat menatap punggung Jack beberapa detik sebelum akhirnya ia melangkah menuju kamar di mana Key dirawat. Oh! kini pikirannya kembali menimbang, siapa yang harus ia beritahu lebih dulu? Orangtua Key, atau istrinya-Min Hye ri?

***

“Apa yang terjadi?” suara itu membahana memenuhi koridor instalasi gawat darurat. Jinki mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, kemudian segera beranjak begitu melihat siapa yang datang. Dua orang itu jelas tidak asing di mata Jinki, dan rasanya sudah cukup lama sejak terakhir kali Jinki melihat keduanya.

“Oh! Annyeonghaseyo.” Jinki membungkukkan tubuhnya di hadapan suami-istri Kim yang baru saja datang dengan kepanikan yang terlihat jelas dari wajah mereka. Tuan Kim tersenyum sekilas, menanggapi salam dari Jinki. Sementara Nyonya Kim sama sekali tidak bisa fokus dengan segala sesuatu yang ada di sekitarnya, ia terlihat begitu panik dan bahkan tangannya gemetar.

“Apa yang terjadi pada Kibum? Mengapa ia masuk rumah sakit? Ia kecelakaan? Menabrak sesuatu?” tanya Nyonya Kim bertubu-tubi, matanya terlihat menerawang. Jinki tersenyum iba, sepertinya ia harus memutar otak lebih keras agar Nyonya Kim tidak pingsan saat ia bercerita apa yang sebenarnya terjadi nanti.

“Kibum sedang beristirahat. Sebaiknya kita berbicara di tempat lain yang lebih sepi, aku sudah berbicara dengan Dokter tadi.” ajak Jinki lembut, ia menatap Tuan Kim. Menangkap pandangan Tuan Kim yang sepertinya sudah sangat akrab bagi Jinki.

Sepertinya Tuan Kim memang sudah sangat mengenal Jinki dengan baik. Namja itu telah menganggap Jinki seperti putranya sendiri. Selain kecerdasan otak Jinki, pembawaan Jinki yang begitu tenang dan penuh pertimbangan itu membuat Tuan Kim sempat mengharapkan Jinki mau memimpin salah satu perusahaan cabang miliknya. Tuan Kim tahu, bahwa Jinki bukan anak dari keluarga biasa. Appa-nya memiliki perusahaan, bukan hanya di Korea. Tapi sampai saat ini, Tuan Kim tidak mengerti mengapa Jinki tidak mau memimpin perusahaan milik appa-nya seperti Key dan lebih memilih bekerja menjadi tangan kanan Key di perusahaan Kim.

Tuan dan Nyonya Kim mengikuti Jinki. Tuan Kim tahu ada yang tidak beres dengan putranya, sementara Nyonya Kim terlihat semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia membiarkan suaminya menyeret tubuhnya mengikuti Jinki.

Aigo! Uri Kibum, uri Kibummie…. Yeobo…” Nyonya Min nyaris ambruk saat mendengar cerita Jinki. Kepalanya terasa pecah dan dunianya runtuh. Ia menangis sejadinya, berharap bahwa pagi ini ia belum bangun dari tidurnya dan masih terlelap di atas ranjang.

Tuan Kim hanya diam, ia memeluk istrinya dan berusaha menenangkan. Ini terlalu mengerikan, batinya terus bertanya, benarkah kali ini Tuhan akan mengambil Kibum darinya? Sementara Jinki nyaris kehabisan kata-kata, ceritanya masih belum selesai tapi Nyonya Kim telah rubuh lebih dulu.

“Aku pun sudah bertemu dengan Song Seonsaengnim, Dokter yang dulu merawat Key. Song Seonsaengnim mengatakan kasus seperti ini jarang terjadi, dan penyebab terjadinya gangguan pada sumsum tulang belakang hasil operasi itu adalah gaya hidup Key yang tidak sehat.” Jinki menghela nafas, masih ada beberapa hal yang harus ia sampaikan.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Uri Kibum selalu menjaga kesehatannya, uri Kibum tahu bahwa ia harus selalu seperti itu dan menjaga sumsum tulang belakangnya dengan baik. Ia sudah berjanji untuk terus hidup sampai tua.” terang Nyonya Kim di tengah isakannya.

Jinki kembali diam, ia tidak bisa mengatakan bahwa Key beberapa bulan belakangan ini melupakan hal itu dan lebih senang untuk tenggelam dalam genangan alkohol yang membuatnya melupakan kenyataan untuk sesaat. Jinki menarik nafas dalam, mengumpulkan seluruh kekuatannya.

“Akhir-akhir ini Key memiliki banyak masalah, ia sering meneleponku. Sekedar menemaninya minum, tapi…” Jinki menggantungkan kalimatnya, ia kembali menatap Tuan dan Nyonya Kim. “… tapi aku lihat, itu seperti bukan Key. Ia terlalu menyenangi minuman-minuman keras itu. Ia bilang itu selalu membuatnya lebih baik, dan saat itu ia pernah beberapa kali pingsan tanpa alasan. Saat itu aku merasa ada yang tidak beres, terlebih mengingat bahwa ia adalah penerima donor. Tapi Key tidak mengindahkannya dan lebih memilih untuk berlari dari kenyataan yang ia hadapi.”

“Lalu, apa Song Seonsaengnim mengatakan-“

Geuraeyo, Song Seonsaengnim mengatakan bahwa Key harus melakukan perawatan seperti empat tahun yang lalu. Hingga Song Seongsaengnim dapat memastikan apakah sumusum tulang belakang itu masih bisa bekerja normal atau justru tidak akan berfungsi sama sekali.” Jinki segera memotong pertanyaan Tuan Kim. Ia tahu itu akan membuat suasana hati Tuan dan Nyonya Kim semakin buruk. Tapi bagi Jinki, akan lebih baik jika tidak menunda hal menyakitkan seperti ini.

“Bagaiaman dengan operasi lagi? Apa Song Seongsaengnim mebahas soal itu?” tanya Tuan Kim, mencari celah diantara keterhimpitan perasaannya.

“Song Seongsaengnim tidak menbahasnya, tapi aku menanyakannya. Ia bilang, akan sangat kecil kemungkinan sukses untuk operasi kedua. Perbandingannya hanya 1 banding 100.”

Tuan Kim memejamkan matanya, ini lebih buruk dari yang ia pikirkan. Rasanya kali ini Tuhan memang tidak akan memberinya kesempatan untuk memiliki Kibum lebih lama. Sedetik kemudian ia mengutuki dirinya sendiri, ia merasa bahwa ia belum menjaga Kibum dengan baik.

Ketiganya hanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. “Mana Hye ri? Apa yang sedang dilakukannya? Apa ia sedang menjaga Kibum di dalam? Oh! Apa ia tidak merawat Kibum dengan baik selama ini? Apa yang terjadi di sini?” Nyonya Kim melepaskan diri dari pelukan suaminya, ia kembali menghujani Jinki dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menunjukkan betapa ia seperti orang yang setengah kehilangan akal sehatnya saat ini.

Jinki menatap Tuan Kim, seolah meminta persetujuan. Sementara hatinya kembali menimbang, haruskah ia memberitahu mereka bahwa penyebab utama Key menjadi kecanduan alkohol adalah istirnya? Juga perceraian mereka? Oh! tiba-tiba saja Jinki ingat bahwa hari ini adalah hari perceraian Hye ri dan Key. Ia mengutuki dirinya dalam hati, pastilah semalam Key pergi untuk minum di bar dan Jinki bisa pastikan bahwa malam itu Key hendak meminta untuk menemaninya.

“Hye ri… dia belum tahu. Aku belum memberitahunya.” terang Jinki akhirnya. Ia tahu bahwa ia sangat marah pada Hye ri si kepala batu itu. Tapi akan lebih buruk jika Jinki membeberkan segala sesuatunya tentang Hye ri. Biarlah Hye ri yang akan menerangkan hasil perbuatannya selama ini.

Nyonya Kim segera bangkit. “Siapa pun tolong hubungi Hye ri, dia pasti akan mati lemas mengetahui ini. Oh! aku harus merawat Kibum. Tidak! Tidak ada siapa pun yang bisa merawat Kibum sebaik diriku. Dan Oh! di mana mobil Kibum? Mungkin ia meninggalkan ponselnya di sana. Oh! Pasti Hye ri sangat mencemaskannya saat ini.” Nyonya Kim kembali meracau, tak ada yang bisa dilakukan Tuan Kim maupun Jinki selain mengikuti keinginan Nyonya Kim.

Nyonya Kim segera berjalan cepat setelah Jinki menyerahkan kunci mobil Key dan memberitahu di mana Jack memarkirkan mobil hitam itu. Ia kembali menatap Tuan Kim setelah Nyonya Kim menghilang dari pandangan mereka. “Ada yang belum kau katakan, Jinki-ya?” rupanya Tuan Kim sangat peka dengan gerak-gerik Jinki.

“Ada sesuatu yang harus aku beritahu mengenai Hye ri dan Key. Aku tahu aku tidak berhak menceritakan ini karena ini adalah urusan Jinki dan Hye ri. Tapi kurasa lebih baik memberitahu Anda lebih dulu, aku yakin Key maupun Hye ri tidak akan ada yang mau bercerita soal ini. Aku ingin mengatakan ini karena memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.” terang Jinki panjang lebar. Tuan Kim hanya diam, memandang Jinki serius. Menunggu namja itu menceritakan sesuatu yang ia yakin bukanlah hal yang baik.

Jinki menarik nafas dan mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Key dan Hye ri. Tuan Kim terus menyimak, tetap berusaha tenang dengan apa yang diceritakan Jinki. Meski pada kenyataannya itu benar-benar membuatnya terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka aka nada hal serumit itu dalam kehidupan rumah tangga putranya. Tuan Kim berdeham pelan, menarik nafas dalam. “Jinki-ya, tolong jangan katakan apa pun tenatang hal ini pada istriku.” pintanya dan diiyakan dengan tatapan dari Jinki.

***

Plaaaakkkkkkkk

Tangan Nyonya Kim mendarat begitu saja di pipi Hye ri. Amarahnya semakin memuncak setelah ia menemukan sebuah map besar berisi salinan surat perceraian Key dan Hye ri. Nyonya Kim terlalu marah, andai saja saat itu Key tidak koma. Pastilah ia pun akan marah besar pada putranya. Bagaimana bisa mereka akan bercerai tanpa sepengetahuan Tuan dan Nyonya Kim? Padahal selama ini hubungan mereka terlihat sangat baik, Oh! ataukah itu semua hanya sebuah sandiwara? Nyonya Kim tidak bisa membayangkan jika pada kenyataannya pernikahan Key dan Hye ri hanyalah pernikahan kontrak seperti dalam drama-drama.

Hye ri diam, terlihat jelas ia terkejut dengan tamparan yang baru mendarat di pipinya. “Emmonim, aku bisa jelaskan.” ucap Hye ri saat Nyonya Kim melontarkan pertanyaan tentang perceraian mereka. Terlihat jelas bahwa Hye ri sangat terkejut. Nyonya Kim yakin, baik Key maupun Hye ri sama-sama telah sepakat untuk merahasiakan perceraian mereka. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? batin Nyonya Kim.

Tubuh Nyonya Kim merosot saat ia menceritakan apa yang sebenanrnya terjadi pada Kibum empat tahun yang lalu. Hatinya terasa sangat sakit menghadapi kenyataan bahwa Kibum harus kembali mengidap penyakit mematikan itu. Rasanya ia benar-benar tidak bisa jika harus mengulangi rasa takut itu sekali lagi. Dan kali ini Tuhan tidak akan main-main, Ia akan benar-benar mengambil Kibum darinya.

Nyonya Kim mulai terisak dan menangis sejadinya, meluapkan seluruh ketakutannya. Sementara itu Hye ri mematung di tempatnya, seolah kehilangan separuh akal sehatnya. Apa yang baru saja ia dengar membuat kedua lututnya lemas. Pikirannya mengaduk-aduk memori lama dan memutarnya kembali, dan dalam sekejap membuat Hye ri dihinggapi rasa takut seperti empat tahun yang lalu. Hye ri mengusap airmatanya, segera beranjak dan ingin berlari menemui Key. Ia tahu saat ini ia tidak bisa berbicara apa pun dengan Key, tapi setidaknya dengan melihat Key, ia akan tahu seberapa buruk keadaan Key saat ini.

ANDWAE!!! Jangan pernah menemui Kibum ku lagi, ia sakit karenamu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika Kibum tidak pernah bangun lagi.” langkah Hye ri tertahan, Nyonya Kim menatapnya penuh kebencian. Ia hanya bisa memandang punggung Nyonya Kim yang berjalan menjauhinya. Rasanya dunia Hye ri kembali runtuh untuk kedua kalinya dan itu rasanya menyakitkan.

***

Yeoja itu berjalan lemas, ia tidak tahu ke arah mana kakinya melangkah. Hanya dalam hitungan menit hidupnya terasa jungkir balik. Ponselnya berdering, menampilkan sebuah nomor yang tidak dikenalnya. Ia masih menimbang untuk menjawab atau mengabaikannya saat tangannya begitu saja menekan tombol “answer” pada ponselnya. Si penelepon segera memeperkenalkan dirinya, dan dengan cepat Hye ri mengenalinya. Itu adalah pengacara Jung, ia berkali-kali menghubungi Key karena keduanya belum juga datang. Dengan suara serak Hye ri menceritakan apa yang terjadi pada Key, hanya garis besarnya saja. Key sakit parah dan tengah koma, dan satu-satunya pertanyaan Hye ri saat itu adalah “Bisakah perceraian ini ditunda?”

Hye ri menghembuskan nafas, entah mengapa jawaban ya dari pengacara Jung membuat hatinya lega. Setidaknya ia belum akan berpisah dengan Key hingga Key bangun nanti, oh! tentu saja Key harus bangun.

Hye ri melirik jam tangannya, sudah nyaris jam 12 siang. Ia bahkan tidak merasa bahwa waktu telah berlalu secepat itu. Ia melangkah menuju lobi, duduk di salah satu bangku lobi dengan pandangan kosong. Tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, telalu banyak hal yang membuat kepalanya sakit. Haruskah ia memberitahu orangtuanya? Tentang Key? Atau tentang perceraian mereka? Oh! atau tentang Key yang ternyata seorang penerima donor? Hye ri berjengit, ada sesuatu yang baru disadarinya.

Setengah berlari ia kembali ke instalasi gawat darurat, yang ia dengar Key akan dipindahkan ke lantai tiga –ruang rawat khusus pasien penderita kanker- siang ini setelah Dokter yang dulu menanganinya datang. Yeah! Hye ri harus menemui Dokter itu, menanyakan berbagai kemungkinan yang tiba-tiba saja muncul dalam kepalanya. Dan oh, ia baru ingat ada Dokter lain yang sudah dikenalnya di rumah sakit ini. Mungkin Dokter yang dulu menangani Minho bisa membantunya.

***

Sudah lebih dari tiga puluh menit Hye ri menunggu, hanya duduk di bangku panjang di depan kamar Key di lantai tiga. Ibu mertuanya bersikeras untuk tidak mengijinkan Hye ri melihat Key, dan tak ada yang bisa melakukan apa pun untuk Hye ri.

Yeoja itu hanya tersenyum hambar, tentu saja ia tidak bisa menerima hal ini. Tapi dalam pikirannya, mungkin ini adalah hukuman pertama atas perbuatannya pada Key selama ini. Benar! Tuhan tengah menghukumnya saat ini. Ia melirik lagi pintu kamar Key yang berjarak beberapa meter di samping kirinya, tak ada seorang pun yang keluar. Ia menghela nafas, berusaha bertahan dalam keadaan yang kacau ini.

“Kau mencemaskannya?” sebuah suara mengejutkan Hye ri, dengan cepat ia menengokan kepalanya ke sumber suara-tepat di samping kanannya. Hye ri tidak menjawab, ia hanya menatap mata si pemilik suara. Namja itu kemudian menyandarkan punggungnya, memasukkan kedua tangan pada saku celana kanan dan kirinya. “Oh! atau mungkin kau merasa bersalah?” tanyanya lagi, sementara matanya menatap langit-langit.

“Apa yang kau bicarakan, Jinki-ssi?” desis Hye ri. Ia tahu, namja itu akan selalu membencinya untuk alasan yang Hye ri sendiri tidak bisa menerimanya. Bisakah seorang sahabat begitu benci pada orang yang membuat sahabatnya menderita? batin Hye ri.

Jinki menghembuskan nafas, kemudian menegakkan tubuhnya seperti semula. Merengsek mendekati wajah Hye ri dan menatap kedua matanya tajam “Aku tanya, kau mencemaskannya atau hanya merasa bersalah padanya?”

Hye ri menyipitkan mata, memang ada hal lain yang tersirat dalam pertanyaan Jinki. Hal yang tentunya tidak menyenangkan bagi Hye ri. “Kurasa jantungku telah berhenti berhenti berdetak, Jinki-ssi,” jawab Hye ri, ia menghindari mata Jinki. “Aku tahu kau membenciku, tapi percayalah aku sangat mencemaskan Key. Kurasa aku akan mati jika sesuatu terjadi padanya saat ini.” lanjut Hye ri, kini ia menatap lantai putih yang diinjaknya.

Jinjja? Tidakkah kau seharusnya merasa senang? Yeah! Setidaknya ia tidak akan menghalangimu lagi  untuk mencintai kekasihmu.”

Hye ri diam setelah sempat membulatkan kedua matanya. Tentu saja ia tersontak dengan apa yang baru diucapkan Jinki. Jinki memang membencinya, tapi Hye ri sama sekali tidak pernah sedikit pun mengira bahwa namja itu berani mengucapkan kalimat yang tidak sepantasnya diucapkan.

Hye ri menarik nafas dalam, berusaha menahan amarahnya yang tersulut dengan cepat hanya oleh satu pertanyaan dari Jinki. Dipandanginya namja itu dengan tatapan sinis “Kau tidak berhak men-judge diriku seperti itu!”

Jinki terkekeh “Kau tahu? Ini sangat lucu! Seperti dalam drama. Kuharap semuanya berakhir serupa.”

“Kau senang?”

Jinki menghentikan kekehannya, menatap Hye ri tanpa ekspresi. “Kau senang? Kau senang menertawakanku? Manusia macam apa dirimu?” Hye ri menatap tajam Jinki, menatapnya dengan penuh kebencian. Ternyata selain sulit ditebak, Jinki adalah jenis manusia yang tidak punya perasaan.

“Tertawalah sesuka hatimu! Aku tidak peduli! Saat ini, aku tidak peduli pada siapa pun selain Kibum.” Hye ri mengepalkan tangannya, menahan amarah sekaligus kesedihan dalam dirinya. Ia bersusah payah menahan airmatanya sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Jinki, berjalan tegak seolah tidak terjadi apa pun.

“Kubilang jangan menyesal.” Jinki menahan satu tangan Hye ri, membuat yeoja itu berhenti melangkah. Hye ri diam, mencerna apa yang dimaksud Jinki. Rasanya Jinki terlalu banyak bicara dengan satire dan itu membuat Hye ri jengkel.

“Kau menyesal?”

“…”

“Kau menyesal karena baru menyadari bahwa kau sangat mencintainya? Kau takut kehilangannya? Benar! Dia! Kim Kibum.” dengus Jinki, tangannya masih menahan pergelangan kiri tangan Hye ri. Sementara kedua matanya tetap menatap lurus ke depan, tak sedikitpun melirik ke arah Hye ri.

Hye ri diam, tiba-tiba saja hatinya bergetar. Getaran kecil yang mampu membuat bulu kuduknya meremang dan hatinya terasa perih. Ia kembali berpikir, memutar ulang beberapa klise menyenangkan yang dilaluinya bersama Key. Ia tidak tahu perasaan aneh apa yang dirasakannya belakangan ini, perasaan aneh yang membuatnya selalu ingin marah saat melihat Key bersama Nicole, perasaan aneh yang membuatnya merasa tidak rela untuk bercerai dengan Key, dan perasaan aneh yang membuat jantungnya berdebar tak karuan saat Key menatap matanya.

Ia berpikir keras dengan apa yang dikatakan Jinki. Benarkah saat ini ia baru menyadari bahwa ia sangat mencintai Key? Sedetik kemudian Hye ri tertawa hambar, menertawakan kebodohannya sendiri. Oh! bahkan ia sama sekali belum sadar bahwa ia mencintai Key, yang ia rasakan saat ini hanya perasaan aneh dan takut yang membuatnya tidak bisa bertahan hidup tanpa Key.

Akhirnya Hye ri memutuskan untuk tetap diam, tidak memperpanjang masalah dengan Jinki adalah salah satu cara untuk memperpanjang hidupnya. “Kurasa belum terlambat jika kau mau mengatakannya pada Key.” seolah bisa membaca pikiran Hye ri, Jinki kembali menahannya dengan sebuah kalimat singkat. Kalimat yang entah mengapa membuat hati Hye ri sedikit lebih baik, yeah! Hanya sedikit.

“Berhentilah menjadi jenis manusia yang munafik, Min Hye ri! Seorang designer sepertimu bahkan tidak mengerti apa yang sedang dirancang oleh hatimu.”

Hye ri masih tak bergeming. Designer? Apa? Apa yang sedang dirancang oleh hatinya? Pola apa yang dirancang di sana sehingga menimbulkan perasaan-perasaan aneh yang ia sendiri tidak mengerti? Perasaan aneh yang keseluruhan polanya berujung hanya pada sebuah nama- Key.

“Cobalah untuk membacanya dan mulai men-design ulang pola itu dengan lebih baik. Agar semua orang bisa melihatnya, agar semua orang bisa menikmati betapa indahnya design yang kau ciptakan.”

Hye ri memejamkan matanya, mengutuki dirinya yang begitu cengeng. Kemudian ia melepaskan tangan Jinki yang mencengkeram pergelangan tangannya, berjalan begitu saja seolah tidak pernah mendengar apa yang diucapkan Jinki. Tentu saja! ia rasa ia harus belajar lebih banyak mengenai design yang diciptakan oleh hati.

***

Yeoja itu masih duduk di bangku panjang di koridor lantai tiga, matanya terlihat sayu dan kantung matanya tergambar jelas. Terpatri kelelahan dan kesedihan di wajahnya. Ia mendesah, melirik lagi ke arah pintu tak jauh dari tempatnya duduk. Dan masih tetap sama, tak ada siapa pun yang keluar.

 Sudah tiga hari Key terbaring tak sadarkan diri, dan yeoja itu- Min Hye ri- sama sekali tidak diperbolehkan untuk melihat Key. Sama sekali tidak! Ibu mertuanya menyalahkan Hye ri seratus persen atas kejadian ini. Tak ada yang bisa diperbuat Hye ri selain mencari-cari kesempatan untuk masuk ke kamar Key. Tapi sepertinya mustahil, Nyonya Kim selalu berada di sana hampir seharian dan itu membuat Hye ri semakin frustasi.

Segalanya terasa begitu menyesakkan bagi Hye ri, hingga ia benar-benar merasa sulit bernafas. Ia tak bisa menceritakan ini pada eomma-nya, yang Nyonya Min tahu hanyalah Key yang saat ini sedang terbaring tak sadarkan diri. Sementara permasalahan yang terjadi sebelum itu, Hye ri tidak berani menceritakannya. Itu akan membuat segalanya lebih rumit bagi Hye ri.

Ia tidak peduli lagi dengan dirinya, ia tidak ingat apa pagi ini ia sudah sarapan atau belum. Ia juga tidak mempedulikan apa pakaiannya saat ini rapi dan baik dilihat atau tidak. Satu-satunya yang ada dalam pikiran Hyeri adalah Key, dan hanya Key.

Hye ri mendengus, lagi-lagi hatinya harus terluka ketika melihat tamu yang baru keluar dari kamar Key. Batinnya mengiba, bahkan orang lain bisa dengan mudahnya menemui Key. Sementara dirinya –yeoja dengan status istri sah Key- sama sekali tidak bisa melihat Key selama tiga hari ini.

Kebanyakan yang datang adalah para staff di kantor, mereka akan menyapa Hyeri dan menyampaikan rasa iba mereka. Mengatakan bahwa mereka akan terus berdoa untuk kesembuhan Key dan menjaga perusahaan dengan baik selama Key tidak ada. Hyeri hanya bisa tersenyum, mengucapkan banyak terimakasih. Yeah! Hanya itu yang bisa ia lakukan.

Ia masih terduduk, menunggu kesempatan kecil agar ia bisa menyusup sebentar saja. Melihat tubuh Key untuk melepas kerinduannya. Entahlah, rasa rindu itu begitu bergejolak di dalam hati Hyeri. Ia rindu menyapa Key, melihat senyum Key, dan ia rindu untuk menyentuh Key, walau hanya seujung jari.

“Kau belum makan dari tadi, pergilah untuk makan.” sebuah suara lembut membuyarkan kegalauan Hyeri. Ia hanya bisa tersenyum, bukan perasaan lega yang ia dapatkan saat itu. Melainkan perasaan terpuruk yang membuatnya merasa semakin buruk.

“Lihatlah, kau sangat berantakan. Sudah berapa kali kau melewatkan makan?” tanya suara itu lagi, kali ini si pemilik suara mengelus rambut Hyeri penuh kasih sayang. Hyeri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ringan, ia benar-benar tidak ingat sudah berapa kali ia melewatkan makan sejak Key terbaring koma.

“Makanlah sedikit saja, hemm? Eomma tahu kau tidak bisa makan dengan baik saat ini. Tapi setidaknya, jangan buat eomma mencemaskan dua orang sekaligus.” kali ini Nyonya Min mengelus punggung Hyeri, punggung yang terasa begitu dingin.

Hyeri tersenyum kecil, menatap eomma-nya dengan genangan airmata. Ia menggelengkan kepalanya ringan, “Ani eomma, aniyo. Mana bisa aku makan di saat seperti ini?” suaranya mengiba, seperti anak kecil yang sedang sakit dan tidak mau dibawa ke dokter.

Nyonya Min memaksakan seulas senyum, sebenarnya tak ada yang bisa ia lakukan. Hatinya merasakan ketakutan yang serupa dengan Hyeri, dan bahkan lebih takut dari yang bisa ia bayangkan. Melihat putrinya menderita adalah ketakutan terbesar dalam hidupnya.

“Jika tidak makan, kau mau ada dua orang yang dirawat? Tidak kan? Bertahanlah untuk Kibum.” ucap Nyonya Min, ia kembali tersenyum. Tangannya beralih, menggenggam kedua tangan Hyeri lembut. Berharap genggaman tangannya bisa membuat Hyeri kuat.

Eomma, jigeum eottohkaji?” (Sekarang bagaimana?) airmata Hyeri telah jatuh, “Jigeum eottohkaji? aku takut. Takut sekali.” lanjutnya sambil terisak.

Sorot mata Nyonya Min meredup, sejenak pikirannya buntu. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk membuat putrinya merasa lebih baik. “Hyeri-ya, uri yeppeun dari Hyeri,” (Hyeri-ya, putri eomma yang cantik.) Nyonya Min memaksakan seulas senyum. “Kau percaya bahwa di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika?” tanya Nyonya Min, Hyeri hanya mengangguk.

“Ada begitu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, mengapa hal tidak masuk akal bisa terjadi? Dan itu bukan hanya cerita. Kau pernah mendengarnya kan? Ada beberapa kejadian di mana seseorang tetap bertahan hidup meskipun Dokter telah mengatakan ia tidak punya harapan hidup, dan kau tahu? Bahkan seorang bayi yang jatuh ke hutan kerana kecelakaan pesawat bisa tetap bertahan hidup?”

Hyeri menganggukkan kepalanya pelan, menatap eomma-nya seolah mencari perlindungan. “Kau mencintainya kan?” Nyonya Min semakin mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Hyeri.

“Kau sangat mencintai Kibum kan? Kalian saling mencintai dan itu akan menjadi kekuatan.” terang Nyonya Min, ia menelisik kedua mata Hyeri. Hyeri membeku, ia tidak tahu jawaban atas pertanyaan eomma-nya itu.

“Cinta kalian akan menjadi kekuatan. Percayalah, kalian seharusnya bisa berkomunikasi dengan batin kalian. Katakan padanya kau sangat mencintainya dan menginginkan ia untuk kembali bersamamu.” tambah Nyonya Min, kali ini ia tidak bisa menahan airmatanya.

Hyeri masih diam, hanya bisa menatap eomma-nya dengan airmata yang terus mengalir. Berpikir keras mengenai ucapan eomma-nya. Tak lama ia mengangguk “Aku sangat merindukannya, eomma. Sangat. Aku takut jika ia pergi dariku, aku tidak bisa bernafas tanpanya, eomma,” Hyeri kembali terisak.

Yeogi, manhi apayo, eomma. Manhi apayo.” (Di sini sakit sekali eomma. Sakit sekali.) ia melepas genggaman eomma-nya, menaruh satu tangan di dadanya. Kian terisak saat merasakan betapa terluka batinnya saat ini.

Nyonya Min segera membenamkan Hyeri dalam pelukannya, mengelus punggung Hyeri lembut sembari membisikkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. “Uljimarayo. Uri yeppeun dari Hyeri, uljima.” (jangan menangis. Putri cantikku Hyeri, jangan menangis)

Sesaat keduanya saling meluapkan kesedihan. Membagi rasa susah dan saling meyakinkan satu sama lain. Meyakini bahwa sebuah keajaiban akan selalu muncul. Ponsel Hyeri berbunyi, menginterupsi keduanya. Sebuah nama muncul dilayar, nama yang sudah tiga hari ini ditunggu Hyeri.

Hyeri melepaskan dirinya dari pelukan Nyonya Min, mengusap airmatanya dan memandang Nyonya Min sebentar. “Seonsaengnim?” ucapnya pelan. Ia memandang lagi eomma-nya, seolah mengatakan sesuatu melalui pandangannya.

***

Hyeri tetap menegakkan tubuhnya, mengangkat kepalanya dan tersenyum. Ada perasaan aneh saat melihat Dokter yang sudah lama tidak dilihatnya. Sang Dokter terlihat sama, tidak banyak yang berubah kecuali warna rambut yang memutih dengan cepat.

Ada perasaan tidak menyanangkan saat melihat wajah sang Dokter yang tiba-tiba membawa Hyeri pada kenangan masa lalunya bersama Minho, tapi di sisi lain ada sebuah kelegaan bahwa sang Dokter tidak berubah padanya.

Aigo, kau benar-benar telah tumbuh menjadi wanita dewasa, Min Hyeri.” ucap sang Dokter, wajah lelahnya tak lepas dari Hyeri. Hyeri hanya tersenyum, “Sudah lama kita tidak bertemu, Seonsaengnim. Anda terlihat sama.”

Song Seonsaengnim tersenyum, kemudian melepas kacamatanya. “Mianhaeyo, aku baru bisa menemuimu hari ini. Padahal kau sudah menghubungiku tiga hari yang lalu. Ada apa? Kelihatannya serius?” tanya Song Seonsaengnim.

Gwaencanhayo, Anda pasti sibuk. Sebenarnya aku ingin meminta sedikit bantuan.” ujar Hyeri. Sambil menahan tangis. Hyeri mulai menceritakan tujuannya, menceritakan bahwa suaminya tengah dirawat di rumah sakit ini dan telah terbaring koma selama tiga hari. Tangis Hyeri akhirnya pecah, meskipun ia telah berusaha untuk menahannya setengah mati. Keadan Key saat ini benar-benar membuat Hyeri seolah kembali pada empat tahun yang lalu. Begitu menakutkan.

Jeongmalyo? Mengapa tidak kau ceritakan di telepon? Aku akan lebih cepat menemuimu jika mengetahui hal ini lebih awal.” Song Seonsaengnim terlonjak, ia kembali memakai kacamatanya. Terkejut sekaligus iba pada yeoja di hadapannya. Empat tahun yang lalu, yeoja itu terisak di hadapannya karena Tuhan telah mengambil kekasih yang sangat dicintainya. Dan kini, setelah empat tahun berlalu. Yeoja itu kembali terisak di hadapannya karena suaminya tengah koma karena penyakit yang sama. Sungguh yeoja yang malang, pikir Song seonsaengnim.

Dan entah mengapa itu membuat Song seonsaengnim teringat akan salah satu pasien lamanya. Seorang pasien lama yang menemukan keajaiban dalam hidupnya dan tiba-tiba harus kembali lagi ke rumah sakit ini dengan penyakit yang sama. Ia merasa antara Hyeri dan pasien lamanya itu ada satu kesamaan, keduanya sama-sama tidak beruntung.

Song seonsaengnim telah melakukan berbagai hal untuk menenangkan Hyeri terlebih dahulu sebelum memulai percakapan yang lebih serius. Ia mengajak Hyeri untuk duduk di sofa coklat. “Jadi, suamimu juga mengidap leukemia?” Song seonsaengnim kembali meyakinkan, Hyeri hanya menganggukkan kepalanya.

What a coincidence!” gumam Song seonsaaengnim pelan, ia kembali teringat akan pasien lamanya yang kini tengah terbaring koma di salah satu ruangan di lantai tiga. “Aku tidak tahu mengapa aku harus menemui penyakit ini lagi dalam hidupku. Meski bukan aku yang mengalaminya, tapi sungguh! Aku benar-benar takut, Seonsaengnim.” lagi, Hyeri kembali terisak sambil menundukkan kepalanya.

Arasseo,” Song seonsaengnim sempat terdiam. Sebuah klise kembali terputar dalam kepalanya. Klise di mana yeoja itu menangis dalam ruangannya, menangis karena Minho tidak terselamatkan. Bagi Song seonsaengnim, ini sangat menyedihkan. Melihat orang yang sama menangis di waktu yang berbeda dan karena hal yang serupa.

“Apa yang bisa kubantu, Hyeri-ssi?”

Hyeri menyeka airmatanya meskipun airmatanya kembali berjatuhan tanpa kendali. “Mereka bilang ini jarang terjadi, seorang penerima donor hidup dengan baik selama empat tahun. Kemudian tubuhnya tiba-tiba menolak sumsum yang telah menopang hidupnya selama empat tahun. Aku hanya mencari kemungkinan, apa suamiku bisa melakukan operasi lagi?” mata Hyeri berkilat-kilat, berharap akan menemukan titik terang dalam kegelapannya saat ini.

“Ia, penerima donor? Empat tahun yang lalu?” kedua alis Song seonsaengnim saling bertautan. Sebuah kebetulan ataukah jangan-jangan. Pikirannya terputus saat Hyeri melanjutkan kalimatnya. “Aku tahu ini terdengar konyol. Aku tidak tahu bahwa Key pernah dirawat di rumah sakit ini, sama seperti Minho.”

Song seonsaengnim merapikan letak kacamatanya, memeperhatikan Hyeri dengan seksama. “Hyeri-ssi, siapa nama suamimu? Mungkin ia salah satu dari pasien-pasien kanker yang sedang kutangani saat ini.”

“Kibum, Kim Kibum. Namanya Kim Kibum. Kumohon, Anda harus menolongnya, Seonsaengnim. Empat tahun yang lalu Anda tidak bisa menolong Minho, kumohon untuk kali ini Anda harus bisa menyelamatkan Key. Kumohon….” tangisan Hyeri kembali pecah, ia bahkan telah beranjak dari kursinya, menghampiri Song seonsaengnim dan membiarkan tubuhnya terduduk di lantai.

Song seongsaenim diam, seperti ada sebuah suara ‘klik’ dalam kepalanya saat mendengar nama Kim Kibum. Pasiennya empat tahun yang lalu, sekaligus penerima donor sumsum tulang belakang dari Hyeri. Benarkah Hyeri tidak mengetahui hal ini sama sekali? Pikir Song seonsaengnim.

“Hyeri-ssi, bangunlah.” Song seonsaengnim menarik tangan Hyeri. “Andwaeyo, Seonsaengnim. Berjanjilah untuk menolong Key, kumohon. Aku akan melakukan apa pun yang Anda minta asalakan Anda bisa menyelamatkan Key. Dowajuseyo.” Hyeri kembali terisak, ia menangis tak terkendali.

“Tenanglah, Hyeri-ssi. Ayo kita bicara dengan hati yang tenang, kita akan bicarakan untuk itu.”

Sudah nyaris tiga puluh menit berlalu, mereka membicarakan berbagai pengobatan untuk bisa menyelamatkan Key. Tentu saja semuanya harus dilakukan secara bertahap, untuk mencari tahu kecocokan jenis-jenis pengobatan itu dengan penyakit yang ada di tubuh Key. Sesekali Song seonsaengnim mengajak Hyeri untuk membahas kejadian-kejadian empat tahun yang lalu. Bukan! Bukan untuk mengorek lagi luka lama Hyeri mengenai Minho. Tapi itu dilakukannya untuk mencaritahu kebenaran atas pemikirannya mengenai Hyeri dan Kibum.

“Hyeri-ssi, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Sesuatu yang lain.” ucap Song seonsaengnim setelah mereka selesai berbicara mengenai jenis-jenis pengobatan untuk Key. Hyeri tak menjawab, hanya menatap Song seonsaengnim sebagai jawaban ya.

“Soal penerima donormu itu… tidakkah kau ingin mengetahui identitasnya?” tanya Song seonsaengnim tenang. Hyeri tersenyum kecil, sejenak ia kembali teringat kejadian nyaris setahun yang lalu, di mana Song seonsaengnim tiba-tiba menghubunginya dan membicarakan si penerima donor yang bersikeras ingin mengetahu identitasnya.

Hyeri menggeleng, “Biarkan itu tetap menjadi rahasia Tuhan, Seonsaengnim. Aku mendonorkan milikku bukan karena pamrih, aku melakukannya dengan ikhlas. Dia tidak bisa hidup dengan baik jika mengetahui diriku. Dia akan merasa berhutang nyawa padaku, aku tidak suka jika ia terus-terusan mengikutiku dan mengucapkan terimakasih dengan berbagai cara.”

Song seonsaengnim tersenyum, pendirian Hyeri tetap sama seperti empat tahun yang lalu. Tapi alangkah baiknya jika Hyeri tahu identitas penerima donornya. Song seonsaengnim beranjak, membuka salah satu kabinet dalam ruangannya dan mengambil satu dari sekian banyak map besar berwarna hitam. Kembali duduk di kursinya dan mulai membukanya, membuat Hyeri mengerutkan dahi.

“Tidak seharusnya aku melakukan ini, Hyeri-ssi. Dan tugasku adalah menjaga amanat dari para pasienku. Tapi sejujurnya, suamimu mengingatkanku pada pasien lamaku,” terang Song seonsaengnim, ia menatap Hyeri sejenak kemudian kembali pada mapnya.

“Maksud Anda? Anda punya pasien lama yang bernasib sama dengan suamiku? Lalu, bagaimana keadaannya? Ia tetap hidup?”

Song seonsaengnim tidak menjawab, tetap fokus pada lembaran-lembaran kertas dalam map. “Ini dia.” katanya setelah menemukan data yang ia cari. “Baik, hidupnya sangat baik.” jawab Song seonsaengnim akhirnya.

“Kuharap Key akan bernasib sama dengannya.” Hyeri tersenyum hambar.

“Benar, aku pun mengharapkan hal yang sama. Kau tahu? Dulu, keadaan pasien itu jauh lebih buruk dibanding Minho. Aku bahkan tidak bisa memikirkan cara lain lagi untuk menyelamatkannya. Tubuhnya begitu kurus, seluruh rambutnya telah rontok, dan wajahnya sangat pucat. Rasa-rasanya aku ingin menangis setiap kali melihatnya.” kenang Song seonsaengnim.

Hyeri hanya tersenyum, menganggap itu hanyalah curahan hati seorang Dokter. “Tapi ia benar-benar mendapatkan sebuah keajaiban Hyeri-ssi. Ia mendapatkan donor hanya beberapa hari setelah aku mendiagnosa bahwa ia tidak terselamatkan,”

“Kau harus percaya pada keajaiban dan rencana Tuhan, Hyeri-ssi. Pasienku, ia hidup dengan baik selama empat tahun setelah mendapat donor dari relawan yang tidak pernah mau disebutkan namanya.” terang Song seonsaengnim, ia melepas kacamatanya dan meletakannya di samping map. Kemudian memandang Hyeri serius.

Hyeri berjengit, ia merasa ada sesuatu yang lain yang sebenarnya ingin Song seonsaengnim sampaikan padanya. “Menerima.. donor? Empat tahun? Seonsaengnim, apa maksud Anda menceritakan ini padaku?”

“Sudah kukatakan seharusnya aku tetap menjaga ini sebagai rahasia antara aku dan Tuhan. Tapi aku merasa harus membawamu dalam rahasia ini.”

Hyeri tertegun, ia berpikir keras menghubungkan cerita Seonsaengnim dengan berbagai hal yang ia alami, juga dengan Key. Hyeri membulatkan kedua matanya saat menemukan benang merah antara seluruh cerita yang ia dengar.

“Apa Anda ingin memberitahuku bahwa Kibum adalah…. “ Hyeri menggantungkan kalimatnya, rasanya ia tidak mau melanjutkan kalimat yang ingin ia sangkal. Kepalanya kembali mengaduk-aduk klise empat tahun yang lalu, berusaha memutar ulang dan memperhatikan detilnya.

Dalam kepalanya terputar ulang kejadian di mana ia berlari kesana kemari hanya untuk Minho. Lalu Minho tidak bisa terselamatkan dan ia menangis sambil menatap lantai putih di ruangan Song seonsaengnim kemudian menyetujui untuk mendonorkan sumsumnya pada pasien lain.

Ia melihat dirinya yang terbaring di ranjang, telah mengenakan pakaian seperti pasien. Di mana ada banyak perawat yang mengelilinginya, menyiapkan berbagai alat untuk operasi. Beberapa perawat mendorong ranjang, membawa Hyeri ke ruangan yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Hyeri kembali teringat, bagaimana jantungnya berdebar hebat saat ia masuk ke dalam ruangan operasi di mana ada begitu banyak perawat dan Dokter. Perawat menempatkan ranjang Hyeri tepat di samping ranjang lainnya, kedua ranjang itu hanya dibatasi tirai. Sehingga Hyeri tidak bisa mengetahui siapa yang terbaring di ranjang satunya lagi.

Klise lain segera menyusul, ia menikah dengan Key. Menemui Minho saat Song seonsaengnim tiba-tiba menghubunginya. Mengatakan bahwa si penerima donor entah mengapa merasa Hyeri sedang kesulitan dan ingin memastikan bahwa Hyeri baik-baik saja.

Kemudian ia pulang ke rumah, bertemu dengan Key dan terjadi pertengkaran kecil seperti biasanya.

“Maaf untuk mengatakan ini, Hyeri-ssi. Tapi Kim Kibum adalah penerima donor sumsum tulang belakangmu empat tahun yang lalu.” ucap Song seonsaengnim, mematahkan seluruh penyangkalan Hyeri.

Hyeri menggelengkan kepalanya, sementara klise itu tidak mau berhenti berputar dalam kepalanya. Saat-saat Key selalu mengejarnya, memastikan bahwa ia akan membuatnya melupakan Minho. Saat Hyeri selalu menolak Key, membiarkan namja itu memendam perasaannya seorang diri. Seketika rasa bersalah itu menyeruak dalam diri Hyeri, ia baru menyadari betapa egois dirinya. Betapa jahat dirinya terhadap Key selama ini, ia tidak menjaga Key dengan baik sesuai janji seorang malaikat penjaga.

Andwae, itu tidak benarkan, Seonsaengnim?” Hyeri kembali menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Song seonsaengnim hanya diam, menatap Hyeri iba.

Hyeri terkekeh pelan, “Tidak mungkin! Mana mungkin Kibum… ini hanya lelucon kan?” tanya Hyeri lagi.

Tak ada jawaban dari Song seonsaengnim. Hyeri kembali terisak, kali ini lebih histeris dari sebelumnya. Berbagai klise di masa lalu terus berputar dalam kepalanya, membuat penglihatannya kabur dan segala sesuatunya berputar dengan cepat. Dan tak lama semuanya menjadi gelap.

***

Butiran-butiran salju yang ringan berjatuhan, membuat jalanan di kota Seoul dengan cepat menjadi putih. Hari kedua musim dingin, cuaca tidak terlalu buruk dengan suhu 12°C pagi ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, musim dingin seperti ini sama sekali tidak membuat aktifitas Seoul yang padat berubah sedikitpun.

Pukul 7.45 pagi, jalanan padat seperti biasanya. Kendaraan berlalu-lalang di jalurnya, beberapa orang terlihat berjalan cepat sambil mengeratkan coat tebal mereka. Termasuk yeoja dengan coat berwarna hitam itu, ia berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya.

Langkahnya semakin cepat saat ia memasuki lobi sebuah gedung di kota Seoul. Gedung tempatnya bekerja yang sudah satu minggu ini tidak ia datangi. Beberapa orang menyapanya dengan hormat, tersenyum untuk memberikan semangat di musim dingin yang menusuk. Tapi bisikan-bisikan kecil tak luput dari telinganya, bisikan-bisikkan yang terkesan mencaci dan menyepelekannya.

Ia terus melangkah menuju ruangannya, mengabaikan bisikan-bisikan yang merendahkannya serta senyuman yang entah mengapa tiba-tiba terlihat palsu di matanya.

“Hyeri-ssi.” langkahnya terhenti saat suara seseorang memanggilnya, disertai dengan kemunculan seorang namja ber-coat coklat tua dari koridor lantai tiga. Hyeri menoleh, memaksakan seulas senyum hormat pada namja bernama Lee Jinki yang terakhir kali ia temui di rumah sakit pada hari pertama Key koma.

Jinki mendesah pelan, membuat uap kecil muncul dari mulutnya. Ia menatap Hyeri dengan ekspresi yang slit diartikan. Tidak ada guratan kesal atau pun keangkuhan yang biasanya ditunjukkan Jinki pada Hyeri, namja itu justru terlihat cemas.

Museun iyeyo?” tanya Hyeri malas. Ia tahu Jinki akan menyampaikan pemikiran-pemikiran piciknya menganai seberapa besar Hyeri telah menyakiti Key.

Jinki menggigit bibir bawahnya, menatap Hyeri penuh keraguan. “Ikutlah denganku.” Katanya dan tanpa persetujuan Hyeri ia menarik satu tangan Hyeri menuju ruangannya di lantai satu. Hyeri sempat membulatkan kedua matanya, apa yang dilakukan Jinki? Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya? Apa yang akan dipikirkan mereka?

Tapi pada akhirnya, Hyeri membiarkan Jinki menariknya. Hyeri terlalu lelah untuk melakukan perlawanan. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan Key yang sudah 7 hari terbaring koma, tak ada perkembangan apa pun. Lagipula kondisi Hyeri saat ini pun tidak sehat. Ia terbaring lemas di rumah sakit selama dua hari setelah ia pingsan di ruangan Song seonsaengnim.

Jinki mentup pintu, ia bahkan memastikan tak ada orang di dekat ruangannya sebelum ia mentup pintu dan menghampiri Hyeri yang masih berdiri di ambang pintu. “Sejak Key menyerahkan perusahaan padaku, ia belum kembali. Dan itu artinya seluruh kekuasaan dan tanggung jawab ada di tanganku,” ucap Jinki pelan, ia menatap Hyeri dengan sorot mata yang dipenuhi ketakutan.

Hyeri hanya memandang Jinki tanpa ekspresi. Jinki mengambil map berwarna coklat tua dari mejanya, dan dengan cepat membukanya. “Selama Key bertanggung jawab atas perusahaan ini, tidak pernah ada kendala serius yang kami hadapi. Semuanya selalu bisa diatasi. Termasuk persoalan keuangan perusahaan. Mungkin ada saat di mana perusahaan-“

“Katakan saja intinya.” potong Hyeri, ia benar-benar malas mendengarkan Jinki. Jinki menggigit lagi bibir bawahnya, menatap Hyeri dengan sorot mata yang Hyeri artikan sebagai ketakutan. Dan ini pertamakalinya Hyeri melihat Jinki seperti itu.

“Aku tidak tahu apa yang dilakukan Key selama ini untuk menyelamatkan perusahaan. Fax ini sampai di mejaku pagi ini, benar-benar terlalu pagi.” Jinki menyodorkan map coklat di tangannya, membiarkan Hyeri membaca tulisan yang ada di dalamnya.

Hyeri mulai menjelajahi tulisan dalam satu lembar kertas tersebut dan dengan cepat matanya membulat, jantungnya mencelos dan tiba-tiba saja lututnya menjadi lemas.

“Seoguk corporation adalah partner terbaik kita. Aku tidak tahu Key pernah meminjam uang sebesar ini untuk perusahaan kita. Dan Seoguk corporation telah mengirimkan rincian angka yang harus kita lunasi. Lihatlah tanggal jatuh temponya, hanya dua bulan. Kita akan bangkrut, Min Hyeri!”

Map itu terjatuh dari tangan Hyeri, dengan cepat satu tangannya berpegangan pada pinggiran meja, sementara tangan yang lain memijat pelipisnya pelan. Dengan cepat kepalanya terasa berputar-putar, bahkan angka yang tertera di kertas tadi membuat Hyeri merasa tidak bisa bernafas.

“Bagaimana dengan simpanan perusahaan? Saham?” tanya Hyeri, ia berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Diraihnya lagi map yang telah terjatuh ke lantai dan berusaha untuk terlihat tenang.

“Jumlahnya tidak akan sebesar itu. Aku sudah menghitung seluruh kekayaan perusahaan tanpa menyentuh gaji para pegawai.” jawab Jinki, ia pun berusaha untuk tetap tenang. Menjadi panik akan membuat segalanya semakin buruk, pikir Jinki.

“Bagaimana dengan anggaran pengeluaran perusahaan? Bisakah kita memangkasnya? Mematikan beberapa fasilitas pegawai, atau mungkin kita bisa-“

“Tenanglah, Min Hyeri. Kita harus memikirkannya dengan kepala dingin. Aku yakin Key pasti telah memikirkan bagaimana perusahaan kita akan membayar hutang ini saat ia meminjamnya.” Jinki duduk di sofa coklat dalam ruangannya, menarik nafas perlahan.

Sedikit tertatih Hyeri berusaha duduk di sofa di hadapan Jinki, berusaha menenangkan dirinya. Meskipun sejujurnya ia sangat ingin membenamkan dirinya di bagian bumi paling dalam untuk menghindari semuanya. Hidupnya benar-benar tidak menyenangkan. Tuhan tengah mengujinya, atau kah justru menghukumnya?

“Tolong jangan katakan ini pada Tuan Kim. Apa pun yang terjadi jangan beritahu siapa pun kecuali aku telah mengijinkannya. Pastikan tak ada satu pun anggota keluarga Key yang tahu tentang ini. Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama, aku mempercayaimu, Min Hyeri.” Jinki menegakkan tubuhnya, menatap Hyeri penuh harap.

Hyeri hanya diam, masih berusaha mengembalikan kesadarannya. “Apa yang harus kita lakukan, Jinki-ssi. Aku sangat takut! sungguh!” ucap Hyeri disertai setitik airmata di wajah lelahnya.

“Kita akan menyelesaikannya bersama. Trust me!” Jinki memaksakan seulas senyum meskipun ia sama takutnya dengan Hyeri. Ia tahu ia cerdas, tapi ia sama sekali belum pernah menghadapi hal seperti ini. Dan itu yang membuatnya satu langkah di belakang Key.

***

Rapat segera digelar setelah Jinki, Hyeri dan Aeri mengadakan konferensi kecil di ruangan Jinki. Sejujurnya ini lebih mengacu pada kinerja kekerabatan dibanding perusahaan. Jinki hanya akan mempercayakan rahasia ini pada Hyeri dan Aeri-orang terdekatnya setelah Key di perusahaan.

Jinki hanya mengatakan bahwa terjadi penurunan drastis pada saham perusahaan yang menyebabkan mereka harus lebih giat dan mencari cara untuk membuatnya stabil kembali. Beberapa fasilitas pegawai telah dicabut, pengeluaran perusahaan dengan cepat dipangkas.

Kabar baiknya adalah para pegawai tidak keberatan dengan kebijakan-kebijakan baru di bawah kepemimpinan Jinki, meski terkadang masih terdengar selintingan kecil yang menyuarakan ketidaknyamanan pegawai dengan kebijakan baru.

Hyeri masih berada di salah satu bilik di toilet wanita saat ia mendengar pembicaraan dua orang yeoja di dalam toilet. “Aish! Aku tidak suka dengan perubahan ini. Lagipula aku tidak yakin Jinki-ssi bisa memimpin sebaik Kim sajangnim” ucap seorang yeoja dengan suara berat.

“Kau pikir cuma dirimu yang merasa tidak nyaman? Selama ini perusahaan kita belum pernah seburuk ini. Aku penasaran, sebenanarnya Kim sajangnim itu sakit apa sih?” tanggap yeoja lainnya dengan suara lembut.

Molla! Mereka bilang penyakitnya cukup serius hingga ia perlu dirawat. Tapi mengapa kita tidak boleh sembarangan menengoknya? Hanya orang-orang tertentu saja yang diijinkan menengok ke rumah sakit. Tidakkah ini mencurigakan, Sunyeong-ah?” tanya yeoja bersuara berat, dan kini Hyeri tahu yeoja bersuara lembut yang menjadi lawan bicaranya bernama Sunyeong.

Jinjja? Mengerikan. Aku yakin ada yang tidak beres! Semuanya terjadi secara bersamaan.” Pekik Sunyeong menahan kengerian.

Keduanya diam sesaat. “Sunyeong-ah, kau sudah dengar gosip ini?” tanya si yeoja dengan suara berat. Tak terdengar tanggapan dari Sunyeong. “Tentunya kau masih ingat dengan rumor antara Kim sajangnim dan Nicole dulu, mereka digosipkan memiliki hubungan lain sebelum seluruh kecurigaan terpatahkan karena pernnikahan Kim sajangnim dengan Min Hyeri,”

Sunyeong diam, “Kau juga ingat kan saat Kim sajangnim menyerahkan tanggung jawab pada Jinki-ssi selama dua minggu? Ia mengatakan harus mengurus sesuatu yang penting. Seluruh kantor berasumsi bahwa ini ada hhubungannya dengan penurunan saham dan keuangan perusahaan. Tapi itu hanya lah alibi untuk menutupi kebenaran, Sunyeong-ah.”

“Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Sunyeong. “Kim sajangnim tengah mengurus percaraiannya dengan Min Hyeri. Kudengar soal perselingkuhan. Ada beberapa pegawai kita yang pernah melihat Kim sajangnim bersama Nicole di luar jam kantor.”

Hyeri membelalakan kedua matanya di balik bilik. “Omo! Jadi Kim sajangnim benar-benar berselingkuh dengan Nicole? Aish! Mengapa dulu ia tidak menikah dengan Nicole saja?” Sunyeong berdecak kesal.

“Yaa! Tapi bukan itu masalahnya. Masalah yang sebenarnya adalah ada namja lain di hidup Min Hyeri.” terang yeoja bersuara berat. “Jamkamman! Jadi Hyeri yang berselingkuh lebih dulu, kemudian ia dan Kim sajang akan bercerai? Lalu Kim sajang telah menentukan pelabuhan perikutnya pada Nicole?” tanya Sunyeong.

“Kira-kira seperti itu.” ucap yeoja bersuara berat, kemudian terdengar suara seperti compact powder yang ditutup. “Ya Tuhan! Aku tidak menyangka masalahnya semengerikan itu. Lagipula Min Hyeri itu. Kurasa ia tidak berguna! Kau lihat? Sinarnya semakin redup. Dulu seisi kantor sering menyebut-nyebut bahwa ialah penyelamat keuangan perusahaan. Tapi sekarang? Apa yang dia lakukan? Jinjja!” cibir Sunyeong.

“Oh! sudahlah. Kuharap perusahaan kita tidak bangkrut karena kasus memalukan ini.” ucap yeoja dengan suara berat kemudian terdengar suara langkah kaki yang menjauh.

Hyeri masih menahan gertakan giginya setelah ia tidak mendengar lagi suara di luar bilik. Perlahan ia mendorong pintu bilik, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru toilet. Dengan cepat melangkah menuju washtafel, mencuci kedua tangannya, menggosoknya dengan cepat. Dan dalam hitungan detik ia mentup keran air dengan kasar, membuat cipratan air terkena wajahnya. Ia menatap wajahnya di cermin, wajah lelah yang sangat menyedihkan.

Ia menunduk, menumpu kedua tangan pada pinggiran washtafel. “Aku tidak akan membiarkan perusahaan ini bangkrut. Aku akan menyelamatkannya, Kim Kibum. Maka dari itu, “ Hyeri menghembuskan nafas beratnya, membiarkan airmatanya rilis begitu saja. “Maka dari itu kau harus bangun.”

***

Salju turun lebat sejak malam dan suhu semakin menurun. Prakiraan cuaca mengatakan akan terjadi badai salju malam ini di beberapa kota di Korea. Akses menuju luar kota pun segera ditutup untuk menghindari adanya warga yang bepergian menggunakan kendaraan.

Orang-orang di jalanan sibuk membicarakan cuaca yang amat buruk dan tidak menguntungkan itu.

Hyeri berjalan lemas menyusuri koridor lantai tiga rumah sakit. Ia menundukkan kepalanya. Gairah hidupnya benar-benar hilang. Ini adalah minggu kedua semenjak kebijakan baru di perusahaan dibuat sekaligus minggu ke tiga Key koma. Segalanya justru semakin memburuk bagi Hyeri.

Tak ada perkembangan pada kesehatan Key, namja itu hanya bertahan hidup dengan bantuan alat-alat yang menempel di tubuhnya. Semua orang telah kehilangan harapan. Bahkan pagi ini ia mendengar bahwa Nyonya Kim- eomma Key- telah terbaring tak sadarkan diri setelah Song seonsaengnim mengatakan bahwa satu-satunya hal yang bisa ditunggu adalah keajaiban.

Hyeri terus melangkah, ini kesempatan  baginya untuk bertemu Key meskipun mungkin ini adalah saat-saat terakhir Key. Hyeri tidak bisa menangis lagi, airmatanya telah kering. Di sinilah segalanya akan berakhir, akhir tragis dari keegoisannya.

Tap tap tap

Langkah kaki di hadapan Hyeri terhenti. Hyeri menatap sepasang sepatu cantik berwarna putih beras itu. Ia mengangkat wajahnya dan memandang si pemilik sepatu. Yeoja itu telah berdiri beberapa meter di hadapannya, rambut pirangnya kini telah berubah menjadi hitam dan jauh lebih pendek dari sebelumnya.

Hyeri tersenyum hambar, ia sama sekali tidak ingin berdebat tentang apa pun dengan yeoja itu. Hyeri kembali melangkah, berhenti tepat di hadapan si yeoja kemudian dengan malas menndukkan kepalanya sedikit. Oh! bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun Hyeri tidak menginginkannya.

Hyeri telah menegakkan tubuhnya lagi dan hendak kembali melangkah saat tamparan itu mendarat di pipi kanannya. Hyeri memegangi pipinya yang mulai memanas, berdecak kesal dengan apa yang dilakukan Nicole. Dengan cepat ia menatap Nicole penuh kebencian.

Bibirnya baru saja hendak mengatakan kalimat cacian saat Nicole lebih dulu menyambarnya “Apa yang kau lakukan pada Key?”

Mwo?”

Nicole memalingkan wajanya sekilas, “Jangan berlagak bodoh! Kau yang menyebabkan Key seperti ini. Kau yang membuatnya tenggelam dalam penderitaan ini. Oh! dan apa lagi yang terjadi di balik keadaan perusahaan?” tanya Nicole semakin kesal, wajahnya memerah di cuaca yang sangat dingin itu.

“Apa yang kau-“

“Aku tidak akan memaafkanmu jika Tuhan benar-benar mengambil Key dariku.” ucap Nicole tajam sebelum akhirnya melangkah.

Pikiran Hyeri masih menerawang saat dengan cepat tangannya menahan tangan Nicole. Ia berbalik hingga kembali berhadapan dengan Nicole, menatap Nicole tajam meskipun kedua matanya digenangi benda cair. “Apa kau bilang? Mengambil Key darimu? Dia milikku! Aku lah yang seharusnya marah pada Tuhan jika Ia benar-benar mengambil Key. Kau! Jung Nicole! Kau sama sekali tidak berhak untuk itu. Key milikku! Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Aku tidak akan membiarkan kau masuk ke dalam lingkaran di mana hanya boleh ada aku dan Key!”

Kalimat itu meluncur dengan cepat dari mulut Hyeri tanpa ia sadari. Seolah segala sesuatunya memang telah berada di sana. Hyeri kembali menatap Nicole penuh benci, tamparan yang didaratkan Nicole di pipinya kembali membuat emosinya naik. Tangan kanannya dengan cepat terangakat, hendak menampar Nicole. Namun ia segera mengepalkan tangan kanannya, mengurungkan niatnya untuk membalas Nicole. Itu tidak ada gunanya saat ini. Ia kembali teringat dengan kejadian saat ia menampar Nicole di ruang rapat. Dan itu berimbas sangat buruk padanya.

“Kuingatkan sekali lagi, Jung Nicole! Berhenti bertingkah bahwa kau lebih berharga bagi Key dibandingkan aku. Aku lah satu-satunya yeoja yang dicintai Key, dan akan tetap seperti itu. Jadi berhanti mengikuti hidup kami.” ucap Hyeri untuk terakhir kalinya, kemudian kembali melangkah tanpa menghiraukan Nicole.

***

Hyeri telah berada di kamar Key, ia duduk tanpa gairah. Menatap tubuh suaminya yang terlihat seperti mayat hidup. Tubuh itu terbaring di atas ranjang, begitu kurus dan menyedihkan. Terlihat seperti tulang berbalut kulit, tak ada lagi rambut coklat terang yang nyaris menutupi kedua matanya. Yang tersisa hanyalah topi rajutan berwarna abu yang menutupi kepala tanpa rambutnya. Sementara berbagai alat menempel di tubuhnya. Alat pendekteksi jantung, alat untuk membantu pernafasan dan begitu banyak alat yang Hyeri tidak mengerti untuk apa fungsinya.

Hyeri mendesah, airmatanya jatuh lagi. Ia meraih tangan kiri Key dan menggenggamnya begitu erat. “Semuanya memburuk saat kau tidak ada,” ucap Hyeri sendu. “Tapi kau tidak perlu cemas, aku, Jinki dan Aeri eonni akan menyelesaikan semuanya untukmu. Semuanya akan baik-baik saja saat kau kembali.” lanjutnya, sementara airmatanya mulai membasahi seprai ranjang.

Ia memalingkan wajahnya, membiarkan lagi airmata tak terkendali itu berjatuhan. “Geurasseo,” ia mengatupkan kedua bibirnya, menahan suara tangisan yang dalam hitungan detik akan segera pecah. “Geraesseo, kau harus bangun. Jebal… kau harus bangun. Aku benar-benar tidak bisa tanpamu. Kau harus bangun, Kim Kibum! Kau harus bangun!” bisik Hyeri.

Tak ada pergerakan apa pun dari Key, seolah Hyeri tengah berbicara dengan batu. Oh! batu! Itu mengingatkan Hyeri pada Minho. Hyeri mengusap airmatanya meskipun airmatanya kembali berjatuhan. Ia menggenggam tangan Key lebih erat seolah tidak ingin melepaskannya, kemudian menempelkan tangan Key di pipi kirinya.

“Kau harus bangun, berjanjilah.” Hyeri menangis dalam sunyi. Meluapkan seluruh kesedihannya. Hanya tembok kaku dan suara dari alat-alat yang menopang hidup Key selama tiga minggu ini yang terdengar. Mereka menjadi saksi betapa yeoja itu benar-benar takut kehilangan namja di hadapannya.

Hyeri mengusap airmatanya, kemudian menatap langit-langit kamar seolah ada seseorang di sana. “Kumohon, jangan ambil dia. Kau tidak boleh mengambilnya dariku! Tidak boleh!” ucap Hyeri, ia memegang tangan Key semakin erat seolah ingin menyembunyikan Key dari seseorang yang diajaknya bicara.

Andwae! Kau tidak boleh mengambilnya. Kumohon… aku belum mengatakan padanya. Tuhan, aku belum mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Aku sangat mencintainya lebih besar dari yang bisa aku pikirkan. Kumohon, aku belum mengatakannya….” kini tubuhnya merosot ke lantai, membiarkan dinginnya lantai menyeruak membekukan tubuhnya. Kemudian terisak.  Dalam kepalanya terdengar kalimat-kalimat Jinki, Aeri dan Jonghyun yang mengatakan bahwa dirinya mencintai Key. Kini Hyeri menyadari bahwa apa yang diucapkan oleh orang-orang itu adalah benar. Ia mencintai Key lebih banyak dari yang bisa ia bayangkan.

Ia benar-benar merasakan ada kepingan yang hilang dalam hatinya saat Key tidak di sisinya, dan itu membuatnya sakit. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya bernafas tanpa Key. Kini ia menyadari bahwa ia memang mencintai Key dan telah melupakan Minho dari hatinya. Hanya Key satu-satunya yang bisa melengkapi kepingan yang hilang itu. Melengkapi hati Hyeri yang dingin dan sunyi. Hanya Key, tidak ada yang lain.

Jebal, jangan ambil dia dariku. Aku sangat mencintainya, Tuhan…”

=TBC=

38 thoughts on “Archangel – Part 20

  1. Huuuuuaaaaa😥 Dahsyat! speechless aku thor.. sukses smpe bikin tearing nih.
    Part 20 ini Daebak!!! d^^b meskipun ada bbrp typo tpi no problem🙂

    keadaan Min Hyeri bener2 buruk bgt deh.. & kata2 jinki bner2 nusuk –> “Kau menyesal karena baru menyadari bahwa kau sangat mencintainya? Kau takut kehilangannya? Benar! Dia! Kim Kibum.” dengus Jinki.
    “Berhentilah menjadi jenis manusia yang munafik, Min Hye ri! Seorang designer sepertimu bahkan tidak mengerti apa yang sedang dirancang oleh hatimu.”
    Jleb.. jleb Jinki sadis hhe ^^v tpi suka karakter jinki disini ^^*

    Baca part ini feelnnya dpt bgt thor Too sad~😥 duh berasa bgt gmn sakitnya, kalo kta baru sadar mencintai ssorg itu, terlebih lagi org tsb adalah penerima donor sumsum kta & skg dlm keadaan Koma. :'(( *hehe jdi kyk curhat ya?

    Next part, I’ll be waiting soon~ hhe
    Keep writing ^^

    • Maafkan lah typo itu. Maklumlah, yang ngetik kan jari. jari ga punya mata *excuse*

      Iyh buruk banget keadaan Hyeri di sini, ah tapi seneng kan? Hayoo ngaku ^^v
      Karakter Jinki memang selalu keren deh. Aish~

      Iyh nih Eunyoung, dirimu kaya lagi curcol gitu.kekekek.😛

  2. Muncul jg nih ff,,
    ad bbrapa typo cha,tp gpp, dimaklum. Eh *diketekin eun cha

    akhirnyaaaaaaaa Hyeri sadar klo dia cinta ma key,aigoo entah mengapa aku seneng bgt..

    Ayo key cpt bangun!!
    Kau berhak bahgia,jangan mati dlu.eh
    itu kata” ayam eh maksdku onew aku suka walaupn menusuk… Woaaaa nambah cinta ma onew *abaikan

    eun cha-ssi,bwt key ma hyeri tetep brsatu,jangan dimatiin key nya.. Ya ya ya bwt end nya se sweet mungkn *bnyk maunya

  3. banjir eon… jakarta banjir ama air mataku T.T #lebaymodeon

    eon aku bingung mau ngomong apa -.-” sedih bgt… plis eon jgn berakhir sedih. berakhir bahagia ya.. plis…
    dan itu kata2 hye ri kpd nicole manteb bgt. jleb bgt dgn mngatkn kibum milikku! wah keren…

    aku berharap konfliknya jd seru.. sampai ngebuat readers tersulut emosinya.. dan eon udh berhsil. jinjja! ak kesel bgt ama hye ri yg keras kepala dn munafik🙂

    lanjut!

  4. Hwaaaaaaa!!!
    Aku telattt.. Ya ampunn akhirnyaaaaa…

    Aaaahhh.. author, Eun cha-ssi.. Aku specchless! Daebak! miapa ini bener² daebakk! Dahsyat badai angin topan! Cetar membahana pokoknya! *apa ini -_-?*
    Hyeri, udah sadarkn, skrg gmana? key-nya koma ituu.. dokter Song jg knp cm crita ke Hyeri aja knp g crta org tuanya key yg sbenernya soal Hyeri.
    Dan ada apa dgn perusahaan?! Jangan sampe bangkrut dehh!!
    Ishh Nicole minta dibanting(?) kali yaa? enak aja ngaku², key itu milik aku tauukk. Eh, salah milik Hyeri maksudnya hhehe ._.V *abaikan.

    Hhhh *ambil napas dl* prasaan dr awal ampe akhir part ini, konflik mulu dehh. Aku aja bacanya deg deg-an. Mana nyesek banget lagi ㅠ.ㅠ Part ini kh klimaksnya? Semoga dipart depan smuanya mulai mmbaik, baik itu keadaan key jg prusahaannya.
    Okey! akhir kata NEXT PART DITUNGGU! Hhehe..😀

    • Ummulll…. kamu ke mana ajh nih telat? aku udah nunggu kamu buat nongol.kekekek.😛
      Woow, komenmu bener2 Oh La La dehh

      Sabar, sabar, tarik nafas dalam, keluarkan pelan-pelan. Tahan emosi..hahahah. Key juga milik aku tauk…. si Nicole kita bakar ajh >.< *eh?*

      Ne, kira2 seperti itu. Part ini klimaksnya, ga lama lagi bakalan beres ini FF😛
      terimakasih emosinya udah terkuras di FF ini.kekekek. ^^v

      • wahh aku ditungguin tohh😀
        iya nih akhir²ni jarang main kesini, pas ksini eehh tau² part 20 udah ada malah skrg part 21 jg udah ada. ada ff br jg trnyata. Aku bener² ketinggalan.
        Okey dehh aku mau baca Moonlight Sonata dl, aku suka genrenya hhehe..

  5. Akhirnya hyeri ngaku juga cinta sama key! Rada deg-degan di chapter ini…
    Takutnya pas hyeri udh mulai sayang sama key, eh key semakin buruk kondisinya. Andwaeeee😦

    Nicole itu semacam hama yg harus dibasmi sepertinya thor. Kesel banget setiap ada nama dia..-_-

    Ditunggu lanjutannya

  6. Aduuhh aku stress sendiri bacanya..
    Nyesek jadi hyeri..
    Dia harus ngalamin itu untuk kedua kalinya..
    Please jangan dibikin mati ya Key nyaa T__T

  7. duh ini part yang ngejleb banget, dan ngelimaks banget T.T kasian kioppa-_- itu nicole msh aja ngarepin kioppa, daaan akhirnya secara tdk sadar hyeri blg dia cinta kioppa ke nicole haha

  8. Hikseu ㅠㅠ part ini beneran dpt sad nya eonni. Ya ampun suka bngt deh sm jinki pas “Kau menyesal karena baru menyadari bahwa kau sangat mencintainya? Kau takut kehilangannya? Benar! Dia! Kim Kibum.” dengus Jinki.
    “Berhentilah menjadi jenis manusia yang munafik, Min Hye ri! Seorang designer sepertimu bahkan tidak mengerti apa yang sedang dirancang oleh hatimu.”
    Yah emang sih terkesan sadis, tapi seenggaknya itu bs nyadarin hyeri.

    Bagian hyeri sm nicole jg bgs banget eon! Pasti si nicole speechless deh.

    Aaaah kalo scene sad gini aku malah rindu sm jjong-eun yong dan aeri-jinki. Apa kabar mrka? Apalg si aeri ga prnh mucul dia.

    Komenku segini aja deh eon, curious bngt sm part brktnya nih🙂

  9. feelnya tetep dapet, walau ga senyesak parts sebelumnya. aish… jinja mi hye ri! neo paboya!! skrg sadar ttg perasaannya d saat udh hmpr terlambat gini… kelihatanny mmg bakal sad ending, y? hiks… hiks….

  10. Hwaah disini konflik nya bertumbah ruah jadi satu. Rasanya ini part yang paling banyak konflik dan paling mendebarkan.
    Keren keren. Pepatah emang bener ya. Kita ga akan tahu seberapa berharganya sebelum kehilangan .
    Jangan sad ending eonni u,u

  11. huhuhuhu, Bener2 menguras emosi,
    Ga bisa ngebayangin gimana perasaan Hye ru ketika dia dihadapkan lagi pada kenyataan bahwa dua laki2 yang pernah dan sedang ia cintai mengalami hal yang sama dan jangan sampe deh keduanya berakhir dg nasib yang sama
    happy ending lah jangan sad ending
    huhuhu
    ga kuat kalo harus baca sad ending

  12. Wwaaah, crta d-past ini sksez mmbuat blu kduk dan tnqan ku brdri,
    hyeri sgat kshan dmn dia hruz brda d-dlm situasi yq dia rskan 4 thn lalu,
    dan sykurlah skrang hyeri sdah mnydari prasaannya sndri, dan mmprinqti nicole spya jqan msuk k-dlam lngkran yg hnya bleh dtmpti oleh key dan hyeri. .
    Jdi nicole sbaiknya kmu mnyrah, d-saat hnya key sja yq mncintai hyeri kamu tdak bsa mmbuat key mlrik mu, aplqi skranq yq hyeri sdah mnyadri prasaannya tdk akan ada clah buat mu nicole. .
    Key cpat smbuh ya, hyeri sdah mnanti mu tu

  13. AHHH…..so sad!! tolong jangan ambil Key Tuhan, tolong akhirnya happy ending ya… aduh Q jadi ikut nagis nih.. g bisa bayangin lo Key oppa gundul, kira2 dia masih ganteng g ya???!! apapun keadaannya.. Key oppa bangunlah.. Hye ri sudah menyatakan cintanya padau, kau bisa dengar kan?!
    Hye ri, kau juga harus tetap bertahan way Key, jangan sakit,

    Eun-nie.. kau..Dae to the Bak, Daebak!!!! 100 jempol deh, ni ff kereeeen banget!! jeongmal!!
    seoga kelanjutaanya, lebih keren lagi..
    Semangat wat Eun cha unnie…
    Fighting!!!!🙂

    • Akhirnya si hye ri tau juga Ɣªήğ nerima donor sum2 tulang dr dia sih key gak lain suami ny sendiri, nyeselkan akhirnya😐
      Pingin banget narik rambut ny nicole ,,,

      Gak banyak koment deh FF ny TOP bikin aku nangis bombai :’ *suurrtt buang ingus ambil tisu T_T gak ad kata telat buat baca FF ini

  14. keyyy bngunlah
    qsangat merasa kasihan sama hye ri. sekarang q mendukung hyeri
    kau dengar itu nicole berhentilah masuk dalam lingkaran key dan hye ri. key mencintainya dan hye ri sangat mencintai key walaupun ia baru sadat

  15. Euncha. .makasii bwt pw nya. .

    haduh key. . nekat bgt sih kamu. .
    tuhkan jadi sakit lagi. .

    sumpah nyesek bgt baca part ini, seolah2 aku ikut ngalamin kdjadiannya. . .
    walaupun ada setitik typo tp tetep keren bgt. . .

  16. Aaaaaaaaaa, eun cha-ssi benar bkin kepo x_x
    Kereeen bangeett part inii, akhirnya si hyeri menyadari klo dia cinta ama Key, dan akhirnya ia tau bahwa key adalah penerima sumsum tulang belakang miliknyaaaa, tetep penasaran ama part selanjutnya. !!!
    Hwaitiing!!!

  17. aku suka sikap jinki waktu marah sma hyeri
    biar hyeri it bs sdar,
    emg bener deh klo penyesalan sllu dtgny belakangan.
    buat nicole smoga dy brhenti nempel k key..
    hyeri udh ngmng kyk gitu
    dan msh berani dket-dket key..
    jdny gak tw malu deh

  18. Huaaa akhirnya hye ri..kau nak*geleng2..

    Awalnya aku rada males pas tau part nya bejibun. Tp pas baca. Nggak nyeseeeeeel! Haha..love your story so much

  19. Aduhh key koma, perusahaan ada masalah ;;; pukpuk yah hyeri
    Feelnya dapet banget. Apa2an itu nicol maen nampar, berasa nicol jadi org paling pnting bagi key yah? Pake nyalahin hyeri /esmosi/ hooo gue seneng bnget pas hyeri ngomong sama nicol tntang perasaannya hyeri sama key ;;
    Lanjut baca

  20. Suka kata2 iniiiiiii….. ”Kini Hyeri menyadari
    bahwa apa yang diucapkan oleh orang-
    orang itu adalah benar. Ia mencintai Key
    lebih banyak dari yang bisa ia bayangkan.”
    Huwaaaaaaaaaaaaaa Key bangun Key!!!! Hyeri kacau tanpamuuuu….. T.T
    Daebak Archangel!

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s