Archangel – Part 21

archangel

Archangel – Part 21

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

 Part 21!!! That’s right! Fiuuuhh… Buat yang udah terkuras emosinya di part 20. Semoga terbayar yah di part 21 ini. Jangan lupa komen & masukannya kalo udah baca . Maaf kalo part ini ga sesuai keinginan kalian karena jalan ceritanya emang udah di-plot kaya gini dari awal.kekekek.
oKEY deh, kebanyakan bacot nih. Archangel tinggal menghitung beberapa part lagi ajh nih. Roman2nya ga bakalan nyampe part 25. Enjoy!😉

Lorong di sepanjang koridor lantai tiga rumah sakit Seoul sunyi. Malam semakin larut pada peraduannya. Tidak ada lagi hiruk pikuk dari para perawat dan pasien yang dirawat. Mesin-mesin penjual minuman kaleng tetap berdiri di tempatnya, tanpa ada yang menyentuh mereka sedikitpun.  Bahkan hingga ke toilet yang biasanya ramai didatangi keluarga para pasien pun sepi. Seisi kota tengah terlelap, dininabobokan dalam pelukan malam.

Beberapa orang terlihat duduk di bangku-bangku panjang yang disediakan rumah sakit. Mereka tertidur, terlelap dalam ketidaksadaran bahwa mereka beristirahat dalam duduknya. Kepala mereka tersandar pada tembok yang dingin dan kaku. Tak ada yang bisa dikatakan istirahat karena pada kenyataannya hanya tubuh mereka yang menuntut istirahat, bukan hati mereka.

Yeoja itu terduduk di salah satu ujung bangku, kedua tangannya ia simpan di antara paha yang ia rapatkan. Ia bahkan tidak menyandarkan kepalanya pada tembok, membiarkan kepalanya tertunduk selama beberapa jam yang tidak ia sadari.

Dalam hitungan detik ia mengangkat kepalanya. Mendesah pelan seiringan dengan kedua matanya yang terbuka. Ia terbangun tiba-tiba dan baru menyadari bahwa ia telah terlelap tanpa disadari. Ia menoleh, memandang sebuah pintu tak jauh dari tempatnya berada.

Pintu itu masih tetap sama seperti sebelum ia terlelap, tertutup dan beku. Ia menatap pintu itu beberapa detik, memikirkan apa yang dilakukan si penghuni kamar. Apa namja itu masih tertidur? Atau kah ia telah bangun dari tidur panjangnya? Yeoja itu menatap beberapa orang yang tertidur di dekatnya, dan dengan cepat melangkah menuju pintu yang dipandangnya tadi.

Ia menahan tangannya untuk memegang kenop pintu, dan memilih untuk berdiri kaku tepat di depan pintu. Ia menghembuskan nafas sambil memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan dirinya.

Ada ketakutan yang melintas dalam kepalanya, tapi ketakutan itu tak bertahan lama. Ia menguatkan hatinya bahwa Tuhan telah mendengar seluruh doanya.

KLEK

Pintu terbuka, menawarkan atmosfir yang berbeda pada Hyeri. Bahkan oksigen yang ada di sana terasa berbeda bagi Hyeri. Lebih dingin dan tidak menyenangkan. Hyeri melangkah, menutup pintu perlahan seolah tidak ingin membangunkan namja yang masih tertidur di ranjang.

Ia kembali menatap tubuh lemah itu, membuat sesuatu menyeruak dalam dadanya, dan itu tidak menyenangkan. Hyeri mendekat, berhenti tepat di samping Key. Ia menunduk, menarik kursi kecil dan duduk di samping ranjang. Ditatapnya Key dengan seksama, seiringan dengan tangan kanannya yang mulai bergerak.

Jika dua hari yang lalu ia hanya mampu terisak saat bertemu Key, kini ia ingin sekali menyentuh Key. Song seonsaengnim mengatakan bahwa ia akan membuat Hyeri kecewa untuk kedua kalinya dengan tidak bisa menyelamatkan Key. Semua orang tahu bahwa Tuhan akan benar-benar mengambil Key.

Hyeri mendesah pelan, kemudian mengulum senyum. Tangannya bergerak menyentuh mata Key yang telah tertutup selama nyaris empat minggu. Hyeri tersenyum kecil, ia rindu bagaimana kedua mata itu menatapnya, mengalirkan energi aneh yang membuat Hyeri merasa teduh dan damai. Tangannya bergerak turun, menyentuh hidung Key. Bergerak mengikuti bentuknya, hidung sempurna yang membuat Key terlihat begitu manly. Tangan Hyeri terus bergerak, kini menyentuh bibir Key. Mengusap pelan bibir yang pucat itu, kemudian ia tersenyum pilu. Ia rindu saat bibir itu menyentuh lembut bibirnya, memberi kehangatan yang tak tergambarkan.

Tangannya kembali bergerak menuruni dagu dan leher Key, terus turun ke bahu dan collar bone Key yang terasa begitu menonjol. Menandakan bahwa Key telah kehilangan banyak berat badannya selama ia koma. Membuat bibir Hyeri bergetar, keadaan Key sungguh menyedihkan.

Tangan Hyeri terus bergerak, hingga ia tiba pada tangan kiri Key. Perlahan Hyeri menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan Key. Membuat mereka seolah sedang berpegangan erat. Hyeri diam, dalam kepalanya terputar ulang kejadian saat ia selalu menolak Key. Mendorong tubuh namja itu, menghindarkan tubuhnya dari sentuhan tangan Key.

Setetes airmata telah meluncur. Hyeri marah pada dirinya sendiri. Andai saja kejadian itu bisa diulangi lagi, ia berjanji tidak akan menolak Key. Tidak akan mendorong tubuh namja itu hingga tersungkur di lantai, tidak akan meneriaki Key untuk menjauh darinya, tidak akan membiarkan Key terluka seorang diri, dan tidak akan membiarkan Key untuk….

Hyeri terisak, menundukkan kepalanya. Ia menatap lagi wajah Key, “Benarkah kau akan pulang bersama Tuhan? Bagaimana denganku?”

“Kau akan menyusul Minho di sana? Kau marah padanya?” tanya Hyeri lagi, ia tahu tubuh di hadapannya tidak akan merespon dan bahkan tidak mendengar sama sekali apa yang diucapkan Hyeri. Tapi Hyeri tetap menanyakan hal-hal bodoh yang tidak pernah berhenti berputar dalam kepalanya.

Hyeri mengusap airmatanya, membiarkan wajahnya dibasahi airmata yang baru meluncur. “Perusahaan… semuanya semakin memburuk. Aku tidak bisa membayar hutang perusahaan kita. It comes to an end, Key,”

Hyeri memaksa dirinya untuk tidak terisak, “Apa yang harus kulakukan? Beritahu aku!” lanjutnya pilu. Ia kemudian diam, membiarkan suara-suara mesin yang menopang hidup Key menguasai atmosfir. Ia tertunduk, menatap jari-jari tangannya yang bertautan dengan jari-jari tangan Key.

Hyeri menangis dalam sunyi, menangis begitu pilu. Tangis keputusaasaan karena ia tahu bahwa ia tidak bisa merasakan cinta Key dalam desahan nafasnya lagi.

Ia mengulum senyum, “Good night, sleep well.” gumamnya tertahan, kemudian melepaskan tautan jarinya di jari Key. Bergerak perlahan dan mengecup pipi Key yang begitu tirus.

***

“Hyeri-ssi.” panggil Jinki lagi. Entah sudah berapa kali Jinki memanggil nama Hyeri, tapi nyatanya yeoja itu masih tenggelam dalam lamunannya. Hyeri masih terdiam, menatap entah kemana dengan pikiran kalut.

Ia, Jinki, dan Aeri tengah mengadakan rapat kecil di ruangan Jinki. Membicarakan berapa jumlah uang tambahan yang perusahaan mereka dapatkan setelah hampir dua bulan sejak kebijakan baru. Semuanya telah bekerja keras, memberikan yang terbaik. Tapi nyatanya, seluruh kekayaan perusahaan tetap tidak bisa menutupi jumlah won yang harus segera dibayar.

“Kita masih memerlukan beberapa ratus juta won lagi agar angkanya sesuai. Dan waktu yang tersisa kurang dari satu minggu lagi sebelum jatuh tempo.” terang Aeri. Ia tah apa yang diucapkannya akan membuat semua orang merasa buruk. Tapi itu adalah kenyataan yang mau tidak mau harus mereka hadapi.

Hyeri menatap Jinki, “Apa yang akan terjadi jika kita tidak bisa membayar tepat waktu?”

Jinki terlihat ragu, ia menatap Aeri dan Hyeri bergantian. “Key menggunakan sertifikat perusahaan sebagai jaminan. Mereka akan menyita perusahaan dan semua asetnya,” Jinki melirik Aeri sekilas, kemudian kembali menatap Hyeri. “Kita akan bangkrut, Min Hyeri.”

Hyeri membulatkan matanya, menahan airmatanya agar tidak jatuh. Sementara bibirnya mulai bergetar. “Lalu apa yang harus kita lakukan pada para pegawai? Adakah cara lain selain melakukan PHK?” kini matanya tak berani menatap Jinki maupun Aeri.

“Kita akan melaporkan ini pada kantor pusat. Mereka yang akan mengurusnya. Tapi perusahaan ini akan tetap bangkrut, mungkin para pegawai akan ditransfer ke cabang lain.” terang Jinki pilu. Bahkan dirinya sendiri belum memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah perusahaan ini bangkrut. Seluruh strategi dan perkiraannya meleset, ia tidak bisa menyelamatkan perusahaan seperti yang telah ia, Aeri, dan Hyeri rancang.

Sesaat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak ada satu pun yang berani mengutarakan ketakutan maupun kesedihan, hanya diam sebagai satu-satunya cara terbaik. “Geurae, kita akan melakukannya.” ucap Hyeri memecah keheningan, membuat Jinki dan Aeri terlonjak. It comes to an end.

***

Hyeri berjalan menyusuri trotoar bersalju. Hanya menundukkan kepala sambil mengeratkan coat merah mudanya. Beruntung salju tidak turun siang itu, sehingga Hyeri bisa dengan mudah pulang ke rumah menggunakan bus.

Yeah! Ia baru saja dari tempat pegadaian. Menggadaikan mobil ungu pemberian Key adalah satu-satunya jalan untuk menyamakan angka yang mereka punya dengan angka yang harus mereka bayar. Hatinya sedih, menggadaikan hadiah pernikahan dari Key disaat ia tidak akan bisa berbicara dengan namja itu lagi adalah hal paling menyedihkan sedunia. Tapi setidaknya ia tidak akan membuat perusahaan yang telah dibangun Key direbut orang.

Hyeri terus melangkah, berbelok ke suatu tempat yang sudah lama tidak pernah ia kunjungi lagi. Seseorang tersenyum di seberang sana saat mengetahui keberadaan Hyeri. Hyeri tersenyum, melangkah ringan menghampiri si pemilik senyum.

Aigo! Hyeri-ssi? Benarkah kau Hyeri-ssi?” tanya yeoja tua itu, ia terlihat begitu senang melihat Hyeri. Hyeri hanya mengangguk sambil tersenyum, membiarkan yeoja tua itu memeluknya. “Lama tidak melihatmu, kau terlihat lebih kurus. Ah! Ani! Kau kurus sekali, apa kau sedang sibuk?” tanya ahjumma penjual bunga yang selalu menyediakan azalea kuning untuk Hyeri bawa ke tempat Minho.

Ne, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini.” terang Hyeri singkat. “Oh! tapi aku tidak punya azalea kuning untukmu, kau mau menemui Minho kan?” tanya ahjumma penjual bunga cepat.

Gwaencanha, aku hanya akan menemuinya sebentar. Sudah lama aku tidak ke sini.” Hyeri tersenyum lagi. Hyeri segera melangkah menuju area pemakaman setelah berpamitan pada ahjumma penjual bunga.

Langkah Hyeri dengan cepat membawanya ke tempat Minho. Sudah lama ia tidak ke tempat ini dan rasanya tidak ada yang berubah. Hanya saja mungkin ia melupakan beberapa hal. Hyeri terus melangkah, menuju tempat yang bahkan telah dihafal oleh kedua kakinya

Nisan itu tetap berdiri di tempatnya, menunjukkan senyuman dari wajah tampan yang tertempel di sana. “Sudah lama aku tidak mengunjungimu, Minho-ya.” Hyeri memulai percakapan. Merasa sedikit canggung dengan rutinitas tidak masuk akal yang telah lama ia tinggalkan. Berbicara sepanjang hari dengan nisan.

“Kau merindukanku?” tanya Hyeri kemudian tersenyum kecil. “Tapi bagaimana jika aku tidak merindukanmu?”

“Itulah alasan mengapa aku tidak pernah datang lagi kemari. Ani! Kurasa aku mulai menyukai hidupku tanpamu, Minho-ya.” Hyeri menatap foto Minho yang tertempel di nisan. Wajah yang selalu sama, tersenyum dengan cara yang sama. Tapi kini Hyeri menemuinya dengan perasaan yang berbeda.

Sesaat Hyeri hanya diam, memandang wajah Minho di nisan. Membiarkan semilir angin musim dingin menusuk tulangnya. “Kau tahu hidupku saat ini kan? Bagaimana menurutmu?” tanya Hyeri lagi.

Maja! Dia pun memutuskan untuk meninggalkanku, sama seperti dirimu.” kini Hyeri tersenyum hambar, “Apa yang telah kulakukan di kehidupan yang lalu? Mengapa kalian meninggalkanku?” lanjutnya, menyisipkan sedikit emosi dalam nada bicaranya.

Hyeri menengadahkan kepalanya, menatap langit musim dingin yang mendung tanpa salju. Ia menggigit bibir bawahnya sebelum kembali menatap wajah Minho di nisan, “Kuharap kau memaafkanku, Choi Minho. Kuharap kau memaafkanku karena aku benar-benar mencintainya.” ucap Hyeri, ia kemudian menyentuh nisan Minho. Jari tangannya bergerak menyentuh foto yang tertempel di sana, mengelusnya pelan seolah sedang menyentuh wajah Minho.

Kemudian beranjak tanpa menghiraukan lagi nisan yang biasa ia tangisi berjam-jam. Langkahnya terasa begitu ringan meninggalkan area pemakaman. Tak ada lagi kalimat – aku akan menemuimu lagi- seperti yang biasa ia ucapkan sebelum meninggalkan nisan Minho.

Ia berjalan menyusuri jalanan luas yang cukup sepi, tak ada orang yang mau berjalan di tengah cuaca dingin seperti ini. Hyeri terus berjalan, mengikuti ke mana kedua kaki berbalut boot abu itu membawanya. Menaiki bus dan berhenti di salah satu halte tak jauh dari tengah kota.

Ia memandang sekitar, baru menyadari bahwa dirinya telah berada di sebuah kedai kopi. Kedai kopi yang pernah ia datangi bersama Jonghyun setahun yang lalu. Kedai kopi bergaya Perancis itu cukup ramai, beberapa pasangan terlihat menghabiskan waktu sambil bercengkrama. Menyeruput kopi dalam cangkir berwarna krem, dan sesekali menyendokkaan cake beraneka rasa ke dalam mulut mereka.

Hyeri berjalan, mengincar sebuah meja kosong di sudut dekat jendela. Ia tidak biasa minum kopi, tapi rasanya secangkir kafein akan membuatnya lebih baik.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pramusaji dengan seragam berwarna orange, ia mengenakan celemek putih yang mentupi bagian pinggang hingga ke bawah lututnya.

“Oh! aku ingin kopi yang bisa membuat pikiranku lebih tenang,” ia menatap pramusaji berambut mangkuk dengan warna cokelat terang. Menilik pakaian si pramusaji dan segera menyadari bahwa si pemilik rambut mangkuk itu adalah sang barista kafe tersebut.

Si barista mengulum senyum, “Bagaimana kalau secangkir espresso dengan sedikit gula? Digabung dengan Maritozzi, roti oval khas Italia yang dibuat dengan kismis dan manisan kulit jeruk. Anda bisa memilih tanpa isi atau dengan isi selai sesuai selera Anda.” Tawar si barista mantap. Barista dengan perawakan kurus tinggi itu tersenyum, membuat wajahnya sama persis seperti tokoh-tokoh dalam manga.

“Atau Anda bisa memilih Crostatta di Ricotta, variasi keju dengan pasta frolla. Anda bisa memilih topping buah-buahannya sendiri. Kami menyediakan kiwi, stroberi, ceri, dan blueberry. Tapi saya sarankan Anda memilih topping kiwi, rasanya sangat segar.” tambah si barista.

Hyeri menganggukkan kepalanya pelan, “Secangkir Espresso dan Maritozzi akan sempurna!”

Si barista akhirnya pergi, ia bahkan sama sekali tidak mencatat pesanan Hyeri, seolah telah menghafalnya di luar kepala.

Hyeri kembali menjelajahi isi kafe, mencari-cari sesuatu yang menarik perhatiannya. Tapi nyatanya, hanya taplak meja berwarna krem dengan polkadot coklat kopi yang menarik perhatiannya. Musim dingan telah benar-benar tiba, dan akan segera memasuki puncaknya.

Hyeri mendesah, tiba-tiba saja memandangi jari manis tangan kirinya. Sebuah benda berkilauan bertengger dengan cantiknya di sana, kembali mengingatkan Hyeri pada apa yang terjadi setahun yang lalu. Benar! Sudah satu tahun tepat semenjak pernikahannya dengan Key. Ia ingat, salju yang ringan itu jatuh ke bumi, membekukan hatinya yang buntu.

Beberapa klise berputar dalam kepalanya, bagaimana sedihnya ia saat menghadapi pernikahan yang ia anggap sebagai sebuah kesalahan. Dan akhirnya ia tidak punya pilihan dengan melanjutkan apa yang telah dipilihnya. Klise itu terus berputar hingga Hyeri tidak menyadari bahwa sang barista telah membawakan pesanannya.

“Secangkir Espresso dan Maritozzi.” ucap sang barista sembari menaruh cangkir putih kecil dengan gambar menara Eiffel. Ia kemudian menaruh selai berwarna kuning dan merah. “Selamat menikmati. Dan oh! selamat hari natal.” tambah sang barista, ia tersenyum. Menunjukkan wajah dan semangat mudanya pada Hyeri.

Hyeri berjengit, ia memandang si barista. “Oh! benarkah natal akan segera tiba?” tanyanya ragu. “Ne, tiga hari lagi.” jawab sang barista singkat, ia kemudian melenggang meninggalkan Hyeri.

Hyeri tertegun, secepat itu kah waktu telah berlalu? Ia bahkan tidak mengingat tanggal lagi semenjak Key koma. Yang ia ingat hanyalah bagaimana caranya berdoa dan meminta agar Key segera bangun. Meski pada kenyataannya Tuhan jelas memiliki rencana yang lain untuknya.

Ia tersenyum pahit, meraih cangkir espresso-nya. Ujung cangkir itu nyaris menyentuh bibirnya saat ia menangkap sesuatu di cangkir itu. Gambar sebuah menara Eiffel yang lagi-lagi mengingatkannya pada salah satu kenangannya bersama Key. Ia menatap gambar menara Eiffel, di mata Hyeri, menara tersebut bergerak, kemudian membesar sesuai ukuran sesungguhnya. Dan tak lama, ia melihat dirinya sendiri bersama Key. Setahun yang lalu, saat salju turun dengan indahnya. Ia berlari kesana kemari, bermain di antara salju. Sementara Key tak henti membidiknya dengan kamera di tangannya.

Hyeri tersenyum hambar, lagi-lagi yang ia lakukan adalah membohongi Key. Mengatakan bahwa ia akan berjanji untuk mencintai Key. Tapi kenyataannya, ia tak pernah berhenti menyakiti Key dengan segala kebohongannya.

Hyeri menyeruput Espresso-nya, tidak terlalu buruk. Kemudian meraih sepotong Maritozzi. Dan itu membuatnya menyadari bahwa perutnya begitu lapar. Ia meraih lagi sepotong Maritozzi dan itu membuatnya merasa lebih baik.

Hyeri baru saja hendak meraih Maritozzi keempat saat ponselnya berbunyi. Menampilkan sebuah nama yang semenjak setahun yang lalu menjadi bagian dari hidupnya.

Yeoboseyo. Ne, Hyoyeon eonni. Museun iyeyo?” tanya Hyeri. Ia tahu kakak perempuan Key ini akan membawa sebuah berita mengenai Key. Hyeri sudah pasrah, apakah kakak iparnya akan membawa berita baik atau buruk.

Hyeri nyaris menjatuhkan ponselnya saat mendengar apa yang dikatakan Hyeoyeon. Ia berharap bahwa pagi ini ia belum bangun.

***

Hyeri berjalan dengan langkah pendek, sengaja menggunakan tangga untuk bisa mencapai lantai tiga rumah sakit Seoul. Pikirannya kosong, tidak tahu apa yang akan dilakukan saat ia sampai di ruangan itu.

Tap tap tap

Langkah kakinya terasa hampa dan tanpa arah. Seluruh mata yang berada di koridor tak jauh dari kamar Key segera tertuju ke arah Hyeri. Menatap Hyeri dengan tatapan penuh iba. Tuan Kim, Kim Hyoyeon dan suaminya, Kim Aeri, dan Lee Jinki. Mereka segera beranjak dari duduknya saat Hyeri tiba.

Hyeri menatap mereka satu persatu. “Hyeri-ya!” Aeri berhambur ke arah Hyeri memeluk sahabatnya dan dengan cepat terisak. Hyeri hanya diam, seolah seluruh emosinya hilang.

Pandangan Hyeri kini beralih pada kakak ipar yang meneleponnya tiga puluh menit yang lalu. Yeoja berambut pirang itu menghampirinya, menggenggam kedua tangan Hyeri setelah Aeri melepas pelukannya pada Hyeri.

“Semua orang sudah mengucapkan selamat tinggal pada Key. Ia sedang menunggumu.” ucap Hyoyeon, ia memaksakan seulas senyum di wajah sedihnya. Hyeri hanya menatap Hyoyeon, ia terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.

Jeongmal?” tanya Hyeri tiba-tiba. “Benarkah ia sedang menungguku? Lalu apa yang akan terjadi setelah aku menemuinya? Ia akan meninggalkanku?” tanya Hyeri tanpa emosi. Membuat semua orang saling berpandangan.

“Hyeri-ya.” Hyoyeon berusaha mengembalikan kesadaran Hyeri. Yeoja itu terlihat terpukul dan kehilangan akal sehatnya. Hyoyeon ingin sekali melakukan sesuatu untuk menguatkan Hyeri. Tapi nyatanya, ia hanya bisa memberitahu Hyeri tentang kenyataan mengerikan. Song seonsaengnim akan melepas seluruh alat yang menempel di tubuh Key selama dua bulan ini. Tidak ada perkembangan apa pun pada diri Key, hanya alat-alat itu lah yang membuatnya bisa bertahan hidup.

Geuraesseo wae? Setelah mereka melepas alat-alat itu… apa Key akan….” Hyeri menatap Hyoyeon, kemudian menatap semua orang bergantian. Seperti anak kecil yang tengah menebak sebuah teka-teki yang ia sendiri tidak yakin dengan jawaban miliknya. Tak ada yang berani mengatakan apa pun pada Hyeri, mereka meluapkan kesedihan dalam diam.

KLEK

Pintu kamar terbuka, Nyonya Kim keluar sambil terisak. Ia mengenakan coat berwarna cokelat, sementara tangannya meremas saputangan yang telah basah. Hyeri hanya menatapnya datar, tidak ada lagi yang ingin ia katakan pada ibu mertuanya. Ia juga tidak peduli jika ia kembali menerima tamparan atas hal ini.

Nyonya Kim tetap menangis, menatap Hyeri sekilas kemudian berhambur ke arah suaminya. Hyeri kemudian menatap pintu yang baru saja ditutup, pikirannya menimbang antara tetap berdiri di tempatnya atau kah segera masuk dan semuanya akan berakhir.

“Hyeri-ya, sekarang giliranmu. Key sedang menunggumu.” Hyoyeon berjalan mendekati Hyeri, menaruh kedua tangannya di bahu Hyeri, berusaha menguatkan Hyeri.

Hyeri masih diam saat semua orang tengah memandangnya, seolah menunggu Hyeri untuk segera masuk. Hyeri terus menatap pintu sambil membulatkan kedua matanya. Tidak ada airmata yang menetes, ia bahkan merasa seluruh akal sehatnya telah hilang.

Sirheo! Aku tidak akan menemuinya. Aku akan membiarkannya untuk terus menungguku.” ucap Hyeri dan membuat semua orang tersontak. Lee Jinki tetap berdiri di tempatnya, menghembuskan nafas pelan karena menyadari betapa Hyeri sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya.

“Hyeri-ya, kau tidak boleh seperti ini. Biarkan Key pergi.” Hyoyeon berusaha memeluk Hyeri, tapi yeoja itu menepisnya. Menjauhkan dirinya dari siapa pun, membuat Hyoyeon mulai terisak.

“Hyeri-ya, sampai kapan kau akan keras kepala? Kau belum merasa ini semua cukup? Kau akan terus melukai Key?” kini Aeri kembali mendekati Hyeri, membiarkan Hyoyeon dan yang lainnya berada di belakang mereka.

Aniyo, andwaeyo. Aku tidak akan membiarkannya pergi. Dia hanya menungguku, jika aku datang maka ia akan segera pergi. Eonni, tidakkah kau berpikir jika aku tidak pernah menemuinya mungkin ia akan terus menunggu?” Hyeri tersenyum, seolah sedang menerangkan sebuah ide paling hebat dalam kepalanya.

Plaaakkkk

“Hyeri-ya ireonna!” tamparan itu mendarat begitu saja di pipi Hyeri. Aeri bahkan terisak setelah tangannya menampar Hyeri. Hyeri mengusap pipinya yang memanas, ia menatap Aeri. Aeri justru berharap Hyeri akan marah, tapi kenyataannya Hyeri malah tersenyum.

Andwaeyo, sirheoyo. Meski kau membunuhku sekalipun, aku tetap tidak akan menemuinya.” Hyeri tersenyum getir, menahan airmata yang telah memenuhi pelupuk mata. Ia memandang semua orang bergantian, sebelum akhirnya menjauh. Melenggang meninggalkan mereka.

***

KLEK

Yeoja itu masuk ke dalam rumahnya. Melenggang ringan melewati ruang tengah dan ruang makan. Ia masuk ke dalam kamar seolah tidak terjadi apa pun. Ia membuka lemari pakaian, meneliti pakaian-pakaian yang tergantung rapi.

Tangannya kemudian menyentuh jas berwarna biru tua, di mana sebah vest merah selalu tergantung bersama jas biru tersebut. Ia tersenyum, meraih jas biru itu kemudian duduk di tepi ranjang. Ia mengingat bahwa suaminya senang sekali memakai jas biru tua itu dengan vest berwarna merah di dalamnya. Ia memeluk jas tersebut dan menghirup aromanya, aroma yang sama yang selalu ia rasakan setiap kali suaminya memeluknya.

Ia tersenyum, matanya menyapu setiap sudut kamar yang sedikit gelap. Hingga matanya terhenti pada sebuah keranjang persegi berisi pakaian kotor. Ia beranjak, melempar jas biru itu ke atas ranjang. Dipungutinya satu persatu pakaian yang ada dalam keranjang. “Ya Tuhan! Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak menumpuk cucian?” gumamnya sambil memperhatikan pakaian-pakaian yang nyaris semua milik semuanya.

“Ck! Kurasa aku harus mencucinya.” Ia meraih keranjang tersebut, memeluknya sambil melangkah menuju lantai dua. Di mana ia dan suaminya kadang-kadang mencuci pakaian bersama. Terawa saat yang dilakukan suaminya hanyalah menjahilinya dengan busa-busa sabun.

***

Namja itu menaruh serbet putih setelah ia mengusap area bibirnya. “Ini daebak sekali, Eunyoung-ah.” ujarnya, membuat si pemilik nama tertunduk malu. Yeoja bernama Eunyoung itu beranjak dari kursinya di hadapan si namja, kemudian mulai membereskan piring-piring di atas meja. “Lain kali akan kubuatkan makanan yang lebih juara dari ini.” ujarnya mantap.

“Kau berencana menjadi chef di restoranmu sendiri?” tanya Jonghyun. Eunyoung hanya tersenyum, melanjutkan aktifitasnya membereskan meja. “Lalu untuk apa aku kuliah jurusan management?” tanyanya ketus, membuat Jonghyun terkekeh.

“Itu hal biasa. Kau memiliki restoran keluarga, meskipun tidak kuliah menjadi koki, kau bisa jadi kokinya.” terang Jonghyun, ia membantu Eunyoung membereskan gelas-gelas. Mereka sedang berada di restoran keluarga milik Eunyoung. Ini hari Rabu, hari libur untuk restoran. Dan inilah kesempatan bagi Eunyoung untuk menghabiskan waktu bersama dengan Jonghyun. Di restoran keluarga yang terletak di depan rumahnya.

Eunyoung beranjak setelah selesai menumpuk seluruh piring dan menghilang di balik pintu dapur. Jonghyun terus memandanginya hingga Eunyoung menghilang dari pandangannya. Ia pun hendak mengikuti Eunyoung dengan membawa gelas-gelas ke dapur. Mencuci piring bersama mungkin akan terasa lebih romantis, pikir Jonghyun.

Jonghyun baru saja beranjak saat ponselnya berbunyi, menampilkan sebuah nama yang merupakan cinta pertamanya, sekaligus salah satu penyebab mengapa Eunyoung sulit sekali mempercayainya. Jonghyun diam, menatap layar ponselnya yang terus berbunyi. Ia menoleh ke arah pintu dapur kalau-kalau Eunyoung mendengar suara ponselnya.

Ia telah berjanji untuk tidak menemui Hyeri tanpa sepengetahuan Eunyoung. Tapi meskipun ia memberitahu Eunyoung, ia tahu Eunyoung tidak akan suka itu. Terlebih lagi Eunyoung lebih suka menyembunyikan perasaan tidak sukanya. Dan ini adalah bulan keempat hubungannya dengan Eunyoung, ia tidak mau merusak semuanya hanya dengan sebuah kesalahfahaman kecil. Ia telah berjanji, bagaimanapun keadaannya , ia akan menemui Hyeri dengan Eunyoung di sampingnya.

Ponselnya berhenti berdering, membuat Jonghyun menghela nafas lega. Ia melirik lagi pintu dapur saat ponselnya kembali berdering, memunculkan sebuah nama yang sama. Ia kembali diam, membiarkan ponsel itu terus berbunyi hingga akhirnya berhenti dengan sendirinya.

Jonghyun mulai berpikir saat ponselnya kembali berbunyi, memikirkan apa yang akan dikatakan Hyeri. Oh! tentu saja yeoja itu akan meminta Jonghyun untuk menemuinya, apa ia sedang dalam masalah? Sebesar apa? Pikiran-pikiran itu terus berputar dalam kepala Jonghyun. Bagaimanapun ia tetap menganggap Hyeri sebagai adiknya sendiri, ia tidak akan membiarkan Hyeri terluka seorang diri.

Ponselnya kembali berdering setelah berhenti beberapa detik. Apa yang sedang terjadi pada Hyeri? Apa ia dalam bahaya hingga ia tak henti menghubungi Jonghyun? Jonghyun hendak menjawab panggilan Hyeri saat dengan sendirinya ponselnya berhenti berdering. Jonghyun mendesah lega, kemudian menatap lagi pintu dapur.

Ditatapnya layar ponselnya sambil menghitung dalam hati, “Mianhae.” gumamnya pelan seraya menekan tombol power hingga ponselnya mati. Ia menaruh ponsel ke dalam saku coat-nya, ia tahu mungkin ada hal penting yang akan disamapaikan Hyeri. Tapi kali ini saja, kali ini saja Jonghyun ingin menikmati kebersamaannya bersama Eunyoung. Tanpa ada kesalahfahaman kecil yang akan merusak segalanya.

Jonghyun beranjak, mengambil gelas-gelas dan melenggang menuju dapur. Setelah harinya dan Eunyoung selesai, ia akan menelepon Hyeri untuk menanyakan apa yang terjadi.

Pukul 4.30 pm. Eunyoung kembali memaksa Jonghyun untuk pulang, ia khawatir cuaca akan menjadi buruk saat malam tiba. Jonghyun sempat mengulur waktu, tapi pada kenyataannya kini dirinyalah yang tidak pernah bisa menolak keinginan Eunyoung.

Yeoja itu terlalu berharga untuk ditolak keinginannya. Lagipula Eunyoung tidak pernah menginginkan hal yang macam-macam. Meskipun lebih muda dua tahun dari Jonghyun, tapi yeoja itu terlihat begitu dewasa dan pengertian. Ia tipikal yeoja manis yang lebih senang diam saat marah atau tidak menyukai sesuatu.

Jalga! Jangan lupa hubungi aku setelah tiba di rumah. Ara?!” Eunyoung merapikan lagi coat Jonghyun, menatap namja itu beberapa detik sebelum mendorong punggung Jonghyun untuk segera pulang.

Jonghyun segera masuk ke dalam mobil putihnya, melambaikan tangan pada Eunyoung sebelum mobilnya melaju perlahan, meninggalkan halaman restoran keluarga Eunyoung. Jonghyun masih saja memandangi Eunyoung dari kaca spion saat ia tiba-tiba ingat akan ponselnya yang ia matikan.

Mobilnya terus melaju, semakin jauh dari restoran keluarga Eunyoung. Jonghyun menyalakan ponselnya, memasang handsfree dan menaruh ponsel pada tempat khusus dalam mobil. Beberapa panggilan tak terjawab segera muncul dalam riwayat panggilan, dengan cepat pesan-pesan singkat menyusul, beberapa diantaranya adalah pesan suara.

Jonghyun membuka salah satu pesan singkat dari Hyeri.

From : Hyeri  at 2.13pm

“Jonghyun-ah, eodi ya? Aku membutuhkanmu.”

 

Tangannya kemudian menekan tombol ‘read’ pada pesan yang lain.

From : Hyeri  at 2.15pm

“Kau mematikan ponselmu?”

 

From : Hyeri  at 2.18pm

“Jonghyun-ah, saat semuanya berakhir mengerikan, apa yang harus kulakukan?”

 

From : Hyeri  at 2.25pm

“Malaikat itu akan datang lagi, dan ia akan membawa Key.”

 

From : Hyeri  at 2.30pm

“Kurasa ia tidak akan keberatan jika aku memutuskan untuk ikut bersamanya.”

 Jonghyun membulatkan matanya, pesan yang baru saja dibacanya membuatnya terlonjak. Mobilnya sempat tak terkendali sebelum akhirnya Jonghyun membanting stir ke kiri. Menepikan mobilnya. Dengan tangan gemetar, Jonghyun terus menjelajahi pesan-pesan singkat dari Hyeri. Dan membaca salah satu pesan suara yang dengan cepat memperdengarkan suara Hyeri. Suara itu sedikit terisak dan serak.

“It’s about to an end. Mengulangi kejadian empat tahun yang lalu rasanya tidak menyenangkan. Seperti tidur dan terjebak dalam mimpi buruk,” Hyeri diam, terdengar isakan kecil seolah Hyeri sedang menjauhkan ponsel darinya.

“Maja! Aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintai Key, tapi ini sudah benar-benar terlambat. Tuhan sedang menghukumku.” lalu terdengar suara tangisan, tangisan pilu yang sangat mengiba. Kemudian pesan suara berakhir.

Jonghyun segera menyadari apa yang sedang terjadi. Sesuatu yang buruk terjadi pada Key, apa namja itu telah… pikiran Jonghyun segera terputus oleh sebuah panggilan. Panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Tanpa ragu Jonghyun segera menjawabnya, berharap itu adalah Hyeri.

Terdengan suara seorang namja yang tidak dikenal Jonghyun. “Jonghyun-ssi. Aku tahu kau tidak mengenalku. Aku Lee Jinki, teman Kibum-suami Min Hyeri. Apa Hyeri bersamamu? Kami tidak bisa menemukannya di manapun.”

Deg!

Jonghyun terperanjat, sedetik kemudian ia menyesal. Merasa bersalah pada apa yang telah dilakukannya beberapa jam yang lalu. Mengabaikan Hyeri yang tengah membutuhkan pertolongan. Kini pikiran Jonghyun dipenuhi fantasi liar yang mengerikan. Bagaimana jika benar telah terjadi sesuatu yang buruk pada Hyeri?

“Apa yang terjadi?” akhirnya hanya pertanyaan itu yang bisa Jonghyun ajukan pada Jinki. Perlahan dan singkat Jinki menceritakan apa yang terjadi. Keadaan Key dan Hyeri yang terlihat begitu terpukul. Jonghyun sempat membeku, ia bahkan tidak tahu bahwa namja bernama Kibum itu telah dua bulan koma. Terlebih lagi penyebabnya adalah kanker darah, penyebab yang sama dengan kepergian Minho. Kini Jonghyun mengerti mengapa dalam salah satu pesannya Hyeri mengatakan mengulangi kejadian empat tahun yang lalu.

“Kalian sudah mencarinya ke rumah Hyeri?” tanya Jonghyun. Jonghyun tahu tidak ada tempat bagi Hyeri untuk bersembunyi selain tempat Minho, dan jika ia tidak berada di sana, seharusnya Hyeri berada di rumahnya. Yeah! Itulah yang Jonghyun tahu dan orang lain tidak. Hyeri hanya akan merasa aman di rumahnya sendiri, saat ia sedih atau pun ketakutan.

Tapi lagi-lagi jawaban tidak lah yang dikatakan Jinki. Jinki tidak menemukan mobil Hyeri di halaman rumahnya, dan semua orang meyakini Hyeri berada di tempat lain. Membuat Jonghyun berpikir keras, kemana lagi Hyeri pergi. Atau jangan-jangan. Jonghyun segera mengakhiri sambungan telepon dengan Jinki. Ia harus bergerak cepat, bagaimana jika Hyeri benar-benar memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?

***

Jonghyun menepikan mobil putihnya di halaman rumah dengan cat kuning pucat itu. Seperti yang dikatakan Jinki, tidak ada mobil ungu milik Hyeri terparkir di sana. Jonghyun keluar dari mobil, berjalan menuju pintu. Ia tahu Hyeri tidak ada di sana, tapi entah mengapa hatinya terus mendorongnya untuk masuk.

Jonghyun hendak menekan bel, hanya untuk memastikan bahwa Hyeri benar-benar tidak ada di dalam. Sekali lagi Jonghyun mencoba sebuah peruntungan, ia memutar kenop pintu dan terlonjak saat pintu tidak dikunci.

Ia masuk, pikirannya sedikit kacau. Antara senang dan takut. Senang karena ia yakin Hyeri ada di dalam, dan takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya. Atau kah mungkin ada perampok?

Jonghyun terus masuk ke dalam, ia tidak mengenal seluk beluk rumah yang ia datangi untuk kedua kalinya. Dulu, saat Hyeri baru menikah, Jonghyun pernah datang ke sana bersama Eunyoung. Hanya kunjungan singkat untuk formalitas.

Jonghyun terus melangkah, melewati ruang tamu, ruang tengah yang langsung terhubung ke dapur. Tidak ada siapa pun. “Hyeri-ya! Ini aku, Kim Jonghyun.” panggil Jonghyun, tapi tak ada sahutan.

Jonghyun terus melangkah dan berhenti di depan pintu yang ia yakini sebagai pintu kamar tidur. Ia tahu ini tidak sopan, tapi demi kebaikan semua orang, Jonghyun tanpa ragu membuka pintu. Matanya menjelajah kamar yang sedikit gelap. Ia berjalan setelah menemukan sakelar lampu, kamar terlihat rapi dan tidak ada tanda-tanda perampokan. Hanya sebuah jas biru tua yang Jonghyun temukan di atas ranjang.

“Hyeri-ya!” panggil Jonghyun lagi, ia melirik sebuah pintu dalam kamar. Masih tak ada jawaban, membuat jantungnya berdebar hebat. Pikirannya mulai liar, membayangkan Hyeri yang terkapar dalam bathtube dengan darah bercucuran. Ia menepis pikiran aneh itu, dan degan cepat membuka pintu dalam kamar.

Jantungnya mencelos, hanya kamar mandi kosong yang didapatinya. Lalu, di mana Hyeri? Jonghyun berlari ke luar kamar, mencari lagi tempat yang belum ia datangi di rumah itu. Ia berjalan menuju kebun belakang, tapi tak ada Hyeri di kebun kecil itu. Dan satu-satunya tempat yang belum ia datangi adalah lantai dua yang merupakan tempat untuk mencuci.

Jonghyun berlari menaiki tangga, dengan cepat matanya menangkap sosok yeoja yang terbaring di salah satu sudut atap berlantai beton itu. “Hyeri-ya!” panggil Jonghyun, ia segera berhambur ke arah Hyeri dengan perasaan takut yang membuncah. Ia takut jika Hyeri tidak bernyawa lagi.

Jonghyun menarik tubuh Hyeri, membuat yeoja itu terduduk. Sebuah kelegaan terpancar dari wajah Jonghyun saat melihat Hyeri masih membuka kedua matanya dan menghembuskan nafas dari hidungnya. Hanya saja ada beberapa luka di tubuhnya, Jonghyun rasa ia terjatuh.

“Apa yang kau lakukan? Hemm? Semua orang mencemaskanmu.” terang Jonghyun, ia mendekap tubuh Hyeri.

Hyeri hanya diam, tatapannya kosong, sementara wajahnya terlihat begitu sembab. Sedetik kemudian ia seperti baru tersadar, terperanjat saat melihat Jonghyun. “Ini aku, Kim Jonghun.” ucap Jonghyun buru-buru.

Hyeri mendesah ringan, seiringan dengan airmatanya yang kembali menetes. Sedikit kelegaan terpancar dalam wajahnya sebelum akhirnya ia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Jonghyun.

Uljima.” Jonghyun mengelus rambut Hyeri, tidak ada kalimat lain yang bisa ia katakan untuk membuat Hyeri lebih baik. Jonghyun membiarkan Hyeri menangis dalam pelukannya, sementara kedua matanya menjelajahi sekitar.

Sebuah keranjang berisi pakaian, tali tambang yang menjuntai, dan sebuah kursi berkaki tiga. Oh! dan bau deterjen masih tercium. Jonghyun pastikan Hyeri terjatuh saat akan menjemur pakaian. Jonghyun semakin mengeratkan pelukannya pada Hyeri, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Nyaris saja, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Hyeri, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya.

Gwaencanha?” Jonghyun melepas pelukannya, menatap wajah sembab Hyeri, kemudian beralih pada beberapa luka di lengan dan kakinya. “Aku terjatuh dan semuanya menjadi gelap. Kupikir aku telah berada bersama Minho saat aku membuka mata.” terang Hyeri putus asa.

“Sshh. Kau tidak boleh seperti itu. Tidak boleh.” Jonghyun mengusap airmata di wajah Hyeri. Hyeri masih terisak saat Jonghyun menggendongnya, membawa yeoja itu turun dan mengamankannya ke ruang tengah. Jonghyun mendudukkan Hyeri di sofa panjang berwarna hijau, sementara tangannya dengan cepat merogoh saku coat-nya.

“Jinki-ssi, ia ada di rumahnya. Aku ada di sana, bisakah siapa pun datang kemari?” ucap Jonghyun, kemudian melempar ponselnya ke atas meja. “Di mana kau menyimpan kotak obat?” tanya Jonghyun. Hyeri tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah kamarnya.

Jonghyun menghilang di balik pintu kamar dengan cepat. Hyeri masih diam, menatap kosong ke satu titik. Pikirannya masih menerawang, ia belum bisa mengendalikan dirinya. Lagi, ia merasa perih dalam dadanya saat mengingat lagi Key akan benar-benar meninggalkannya.

Matanya menangkap sebuah bingkai besar yang tertempel di dinding. Menampakkan foto dirinya dan Key saat pernikahan mereka. Hyeri memang tersenyum dalam foto, tapi kedua matanya terlihat begitu sedih. Tidak sesuai dengan Key yang tersenyum begitu bahagia. Dan lagi-lagi itu membuatnya merasa bersalah, ia kembali terisak sambil menutup wajah dengan kedua tangannya. “Mianhae, mianhae.”

***

25 Desember

Seluruh kota tengah bersuka cita, merayakan hari natal yang penuh berkah. Beberapa pohon natal telah menghiasi pusat kota. Tak hanya itu, pusat-pusat perbelanjaan, restoran, dan kafe-kafe pun memiliki pohon natal yang dihias begitu indah. Salju kecil turun sejak pagi, membuat orang-orang semakin betah berada di rumah dan merayakan white christmast bersama keluarga dan orang-orang terkasih.

Hari itu seharusnya semua aktifitas yang berhubungan dengan pekerjaan dan kepenatan diliburkan. Tapi tidak dengan salah satu gedung di tengah kota Seoul, gedung milik salah satu perusahaan ternama yang akan segera bangkrut.

Seluruh pegawai telah berkumpul di aula di lantai lima. Dengan coat tebal khas natal mereka telah berjejer rapi. Beberapa terlihat sedih dan cemas, bahkan ada yang masih mengusap airmatanya. Beberapa yang lainnya hanya memandang lurus, memandang seorang yeoja dengan coat berwarna merah.

“Maaf untuk meminta kalian datang di hari natal.” ucap yeoja yang tengah berdiri di hadapan semua pegawai. Ia merapikan lagi kancing coat merahnya, kemudian menatap semua orang yang ada di hadapannya.

“Hari ini aku berbicara bukan sebagai Min Hyeri, designer perusahaan ini. Aku berbicara sebagai Kim Hyeri, istri dari Kim sajangnim yang selama ini menjadi atasan kalian semua,” Hyeri memaksakan seulas senyum.

“Aku hanya perlu waktu lima menit untuk menjelaskan apa yang terjadi.” lanjutnya, kemudian menatap Aeri dan Jinki yang berdiri di samping kanan dan kirinya.

“Kim sajangnim, ia sakit. Penyakit lama yang masih hidup dalam tubuhnya. Kami merahasiakan ini dari kalian agar kalian tidak perlu cemas. Tapi nyatanya, Tuhan punya rencana lain.” Hyeri mendesah pelan, memaksa dirinya untuk tidak menangis.

“Dokter akan melepas seluruh alat yang menempel di tubuhnya selama dua bulan ini. Dan Tuhan akan menjalankan takdirnya,” Hyeri menggantungkan kalimatnya. Sekuat apa pun ia berusaha, tetap saja airmatanya luruh dengan mudah, membasahi kedua pipinya.

“Aku mewakili suamiku-Kim Kibum- ingin mengucapkan terimakasih atas kerja keras kalian selama ini. Dan maaf karena tidak bisa mempertahankan perusahaan ini.” lalu ia mulai terisak. Ia mengatur nafasnya, menatap satu persatu para pegawai yang juga mulai menitikkan airmatanya.

“Jinki-ssi telah memberitahu kalian tentang apa yang terjadi pada perusahaan. Kalian telah bekerja keras, tolong jangan bersedih. Kalian akan dipindahkan ke kantor pusat dan ke kantor cabang lain.” lanjut Hyeri, ia memaksa untuk tersenyum di tengah tangisnya.

Beberapa pegawai mulai terisak di tempatnya, beberapa hanya menundukkan kepalanya. “Terimakasih semuanya. Terimakasih banyak.” Hyeri membungkukkan tubuhnya 90°. Membungkuk selama tiga puluh detik.

“Terimakasih dan selamat hari natal.” ucapnya setelah kembali menegakkan tubuhnya. Memandang seluruh pegawai satu persatu kemudian beranjak dari tempatnya. Merapikan beberapa dokumen yang harus ia tandatangani. Yeah! Dokumen pembayaran hutang pada Seoguk Coorporation, meskipun Key menyerahkan tanggung jawabnya pada Jinki. Tapi dalam hal ini hanya Hyeri –istri Key- lah satu-satunya yang boleh menandatangani surat.

Beberapa pegawai segera berhambur ke arah Hyeri. Ada yang memeluk Hyeri, dan beberapa menyampaikan bela sungkawanya sambil terisak.

***

Salju turun semakin lebat, cuaca di luar benar-benar menusuk. Lampu-lampu kota telah menyala, memancarkan warna-warni khas hari natal. Beberapa orang dengan kostum Santa klaus berada di jalanan sekedar untuk memberi balon warna-warni pada anak-anak, atau hanya mengucapkan selamat hari natal.

Rumah-rumah dihiasi berbagai hiasan natal, beberapa manusia salju terpajang di teras rumah penduduk. Lampu-lampu rumah menyala, ruang keluarga dipenuhi seluruh anggota keluarga. Duduk di meja lebar, dan sesekali tertawa sambil menyantap kalkun panggang.

Tapi semua itu sangat kontras dengan apa yang terjadi di salah satu kamar di rumah sakit Seoul. Tidak ada anggota keluarga yang berkumpul sambil tertawa, juga tidak ada kalkun panggang yang tersaji di atas meja.

Yeoja itu duduk di samping ranjang, menggenggam erat tangan suaminya. Ia tidak menangis dan tidak tertawa. Hanya menatap suaminya selama berjam-jam. Dalam ruangan itu hanya terdengar suara alat-alat medis yang selama ini menopang hidup suaminya.

Tik tok tik tok

Suara jam tangan membuyarkan yeoja itu dari lamunannya. Diliriknya jam tangan kuning yang melingkar di tangan kanannya. Sudah pukul 4 sore, dan itu artinya Dokter dan Pendeta akan segera masuk. Ia mendesah lagi, masih tetap tidak percaya bahwa Tuhan benar-benar akan membawa Key.

Annyeong.” akhirnya hanya kalimat singkat itu yang mampu diucapkannya. Ia tidak mau terlalu banyak berbicara yang  nantinya justru akan membuat dirinya semakin sedih. Ia melirik pintu, belum ada yang masuk atau pun mengetuknya. Itu artinya ia masih punya waktu beberapa menit lagi.

Ia mengeratkan jari-jari tangannya yang saling bertautan dengan jari-jari tangan Key. “Tuhan sedang menghukumku dengan mengambilmu dariku. Tuhan ingin aku belajar bagaimana mencintai orang yang sangat mencintaiku, Tuhan juga ingin aku belajar bagaimana caranya untuk tidak egois,” ia kemudian mendesah, dan mau tak mau airmata itu menetes.

“Kuharap kau akan lebih baik di sana. Kau akan bertemu Minho.” lanjutnya kemudian terkekeh kecil. “Saat kita bertemu lagi nanti, aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu. Aku sangat mencintaimu lebih dari yang bisa kupikirkan. Geurasseo…” Hyeri mengusap airmatanya.

“Tunggulah aku di sana.” bisiknya lirih. Ia kemudian mengecup punggung tangan Key, melepaskan tautan jari mereka.

Saranghae.” bisiknya, kemudian merengsek mendekati wajah Key. Mengecup bibir Key, membiarkan bibir mereka saling bersentuhan selama beberapa detik. Dengan ciuman terakhir itu, Hyeri harap Key tahu bahwa ia sangat mencintainya. Hyeri bangkit, mengusap airmatanya kasar. Ia menatap lagi wajah Key untuk terakhir kalinya sebelum ada yang masuk.

Hyeri berbalik saat matanya menangkap sebuah pergerakan kecil di tangan Key. Hyeri kembali berbalik sehingga ia menghadap Key, kedua matanya membulat. Memperhatikan lagi tubuh Key dengan teliti, ia yakin tangan Key bergerak saat ia berbalik. Hyeri memperhatikan tubuh Key, dari kepala hingga ujung kakinya.

Hyeri semakin membulatkan kedua matanya saat kali ini matanya benar-benar menangkap pergerakan dari tangan Key. Ia mendekati tubuh Key lagi, dengan cepat meraih tangan kiri Key. “Key, kau mendengarku? Kau mendengarku?” ia berbisik di telinga Key.

Tangan Key kembali bergerak, meski hanya gerakan kecil tapi Hyeri benar-benar merasakannya. Kali ini ia yakin bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan. “Ya Tuhan!” gumamnya pelan, ia kemudian berlari ke sisi lain. Dengan cepat menekan tombol yang menempel di dinding  secara membabi buta, sementara matanya tak lepas dari tubuh Key.

Ia berhambur lagi ke arah Key setelah meyakini bahwa Dokter dan perawat akan segera datang. Digenggamnya lagi tangan Key, berharap tangan Key akan kembali bergerak. Atau mungkin yang lebih ajaib lagi adalah Key akan membuka matanya.

Bibir Hyeri bergetar, mulutnya mulai membaca doa. Sementara matanya tak pernah lepas dari Key. Ia menimbang, antara tetap menjaga Key atau kah berlari keluar dan memanggil seseorang. Ia yakin ia tidak sedang berhalusinasi dengan apa yang dilihatnya. Ia yakin bahwa Key menggerakkan tangannya.

Satu, dua, tiga

Hyeri memaki para perawat yang tidak kunjung datang. Ia kembali melirik pintu dan Key bergantian. Tidak ada pilihan lain, ia akan membuka pintu dan berteriak memanggil siapa pun. Ia yakin di luar ada Hyoyeon dan yang lainnya. Hyeri baru saja berbalik saat ia mendengar namanya dipanggil.

“Hyeri-ya.” panggil suara itu serak.

Hyeri meneteskan airmatanya, telinganya benar-benar mendengar suara itu. Suara yang sangat dirindukannya, suara Key.

Hyeri diam, memejamkan matanya sambil menarik nafas perlahan. Memastikan bahwa suara itu pun bukan halusinasinya. “Hyeri-ya.” lagi, Hyeri mendengar suaranya dipanggil. “Hyeri-ya.” dengan cepat Hyeri berbalik, dan Key benar-benar telah membuka matanya.

Hyeri berhambur, meraih tangan kiri Key dengan cepat. “Ireonasseo? Ireonasseo? Terimakasih, Tuhan.” Gumam Hyeri sambil menempelkan tangan Key ke pipinya.

“Aku haus. Bisa bawakan aku air?” pinta Key serak, ada seulas senyum di wajahnya.

***

Beberapa perawat berlarian sambil membawa perlengkapan medis, mereka berlari sambil berbisik-bisik. Membuat beberapa pengunjung rumah sakit di lantai tiga itu melihat heran, mereka ikut menebak-nebak apa yang terjadi pada pasien di salah satu kamar di lantai tiga.

Seonsaengnim.” panggilan itu diucapkan serentak oleh beberapa orang saat melihat Song seonsaengnim berlari ke kamar Key. Mereka terlihat tidak sabaran dan ingin segera masuk. “Semuanya tolong tunggu di luar.” hanya kalimat singkat itu yang dicapkan Song seonsaengmin sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kamar Key, diikuti beberapa perawat yang telah siap perlengkapan mereka.

Nyonya Kim dan yang lainnya hanya bisa duduk pasrah, menunggu Song seonsaengnim keluar. Sementara yeoja itu- Hyeri- ia hanya diam di dekat pintu. Ia menggigit jari tangannya, matanya hanya menatap lantai. Ia terlihat begitu tegang dan tidak tenang.

Sudah 15 menit berlalu, pintu masih tertutup rapat. Rasanya ini terlalu lama, pikir Hyeri. Diabsennya seluruh anggota keluarga Key satu persatu, juga Jinki dan Aeri, serta Jonghyun yang beberapa menit lalu baru saja datang bersama yeoja berambut panjang yang rasanya tidak asing di mata Hyeri.

Hyeri mengabaikan semua orang, ia berjalan mendekati jendela di ujung koridor. Ia mengelap kecil jendela dengan telapak tangannya, sehingga ia bisa melihat apa yang berada di luar jendela. Tidak terlalu banyak yang bisa ia lihat, hanya butiran salju kecil yang melayang dan jatuh ke tanah. Salju itu semakin banyak dan membuat jalanan menjadi putih. Beberapa meter di hadapan rumah sakit, ia bisa melihat sebuah rumah makan kecil. Rumah makan itu kelihatannya tidak tutup di hari natal. Seorang namja bertubuh gemuk baru saja melambaikan tangan pada seseorang dalam mobil hitam, kemudian masuk ke dalam sambil mengeratkan coat-nya.

Hyeri tersenyum kecil, entah mengapa kejadian biasa dan simpel itu membuatnya merasa benar-benar telah kembali ke dunia nyata. Ia melirik lagi anggota keluarga Key, beberapa meter di sampingnya. Kemudian menatap lagi jendela dan kembali tersenyum seraya berbisik “Terimakasih, Tuhan. Kau tidak mengambilnya dariku.”

Entah sudah berapa lama waktu berlalu, semua orang segera beranjak dari duduknya saat mendengar suara pintu dibuka. Beberapa perawat keluar sambil mengobrol kecil, wajah mereka tidak setegang saat mereka masuk. Song seonsaengnim keluar, ia melangkah ringan dan mencari seseorang.

“Bagaiamana, Seonsaengnim?” tanya Nyonya Kim tak sabaran. Song seonsaengnim yang telah melepas kacamatanya itu tersenyum ringan, “Ini benar-benar sebuah keajaiban, Nyonya Kim. Kurasa tiga hari lagi Kibum bisa dipindahkan ke ruang ICU.” terangnya berseri-seri. Nyonya Kim membekap mulut dengan kelima jari tangan kanannya, ia menangis haru.

It’s what they called with the miracle of christmast.” tambah Song seonsaengnim, matanya kemudian mengabsen orang-orang yang ada di dekat kamar Key. “Oh! Di mana Hyeri-ssi?” tanyanya saat tak kunjung menangkap sosok Hyeri.

“Dia di sana.” tunjuk Tuan Kim ke arah jendela di ujung koridor. Mata Song seonsaengnim mengikuti arah yang ditunjuk Tuan Kim. Memandangi Hyeri yang tengah menatap ke luar jendela beberapa detik. Song seonsaengnim tersenyum lagi, “Ini benar. Hanya pendonornya lah yang bisa mengendalikan sumsum belakang di tubuh Kibum.” membuat Tuan dan Nyonya Kim mengerutkan keningnya.

“Apa maksud Anda, Seonsangnim?” tanya Tuan Kim.

“Sumsum tulang belakang di tubuh Kibum seolah tertidur. Tidak bekerja dan tidak merespon apa pun, dan tiba-tiba seperti terbangun. Kembali berfungsi normal. Yeah! Kurasa Hyeri memang memerintahkan sumsumnya yang ada di tubuh Kibum untuk segera bangun.” terang Song seonsaengnim, ia kemudian terkekeh dengan analogi tidur yang ia buat.

Tuan dan Nyonya Kim saling berpandangan, mereka mulai mendapatkan sesuatu dari ucapan Song seonsaengnim. “Seongsaengnim, apa maksud Anda dengan sumsum tulang belakang Hyeri yang ada di tubuh Kibum?” tanya Tuan Kim dengan suara bergetar.

“Hyeri tidak menceritakannya pada kalian?” tanya Song seonsaengnim heran. Tuan dan Nyonya Kim hanya menggeleng. Song seonsaengnim seolah baru tersadar akan sesuatu. Ia kemudian merogoh kacamata di saku jasnya, kemudian memakainya.

“Ah! Cwisonghamnida. Aku tidak seharusnya mengatakan ini pada Anda. Tapi Hyeri sudah tahu kepada siapa ia mendonorkan sumsum tulang belakangnya empat tahun yang lalu. Mungkin jika sudah cukup sehat nanti, Anda bisa meminta Kibum untuk datang padaku dan kembali menanyakan tentang identitas pendonornya itu. Aku akan memberitahunya.” terang Song seonsaengnim, dan sebelum pasangan Kim itu menanyakan apa pun ia segera beranjak. Berjalan ringan menuju lift.

Tuan dan Nyonya Kim kembali berpandangan, mereka sudah tahu apa yang dibicarakan Song seonsaengnim. “Ya Tuhan! Jadi Hyeri adalah…” Tuan Kim hanya mampu menatap istrinya, ia tidak berani melanjutkan kalimatnya sendiri. Itu terlaul mengejutkan!

***

Namja itu berjalan tanpa arah, menjejakkan kaki telanjangnya di atas rerumputan basah. Ia menoleh lagi saat terdengar suara tangisan, tangisan yang begitu pilu dan menyayat hati. Ia berlari menuju sumber suara, berharap kali ini menemukan yeoja yang sedang terisak itu. Seharusnya ia takut, takut jika yeoja yang tengah terisak itu bukan manusia. Tapi entah mengapa keinginannya begitu besar untuk menemukan si sumber suara.

Key melangkah, mendekati sebuah gang kecil yang sedikit gelap. Jantungnya mulai berpacu saat suara tangis itu semakin dekat di telinganya. “Siapa di sana?” tanyanya setengah berteriak. Tidak ada sahutan, hanya suara tangisan yang sama.

Key terus mendekat dan mendekat saat tiba-tiba sebuah cahaya redup menerangi si sumber suara. Key terperanjat, ia mundur beberapa langkah saat mengenali siapa yang tengah menangis. Yeoja itu menekuk kedua lututnya, membenamkan wajah di atas lututnya, pakaian putihnya robek di bagian bawah, kedua kakinya telanjang dan sayap putih itu terlihat basah.

Yeoja itu masih menangis, seolah belum menyadari kehadiran Key. Key melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapa-siapa. Perlahan ia kembali mendekati si yeoja yang sudah lama tidak datang ke dalam mimpinya itu. Ini pertamakalinya ia melihat yeoja bersayap itu menangis dan begitu menyedihkan. Dengan tangan gemetar Key berusaha menyentuh pundak si yeoja, “g..gwa..gwaencanha?”

Tangisan yeoja itu berhenti, seiringan dengan tangan Key yang menyentuh pundak si yeoja. Membuat Key semakin ketakutan, ia segera menarik tangannya dari pundak yang dingin itu dan kembali mundur beberapa langkah.

Yeoja itu mengangkat wajahnya perlahan, seiringan dengan Key yang segera menghalangi mata dengan tangan kanannya. Ia tahu akan ada cahaya yang begitu menyilaukan, dan itu akan membuat matanya sakit.

Satu, dua, tiga

Tidak ada cahaya menyilaukan. “Kibum-ah? Kau datang?” tanya yeoja itu sambil terisak. Perlahan Key menyingkirkan tangannya, dilihatnya si malaikat penjaganya itu. Key terlonjak, menutup mulut dengan kelima jari tangan kanannya.

“Kau…” Key tercekat, ia merasa sulit untuk melanjutkan kalimatnya. Yeoja itu beranjak, kini ia berjalan mendekati Key, “Kau datang?” tanyanya lagi, dan terus mendekat. Membuat Key tersudut ke dinding gang.

Key mengerjapkan matanya, semakin dekat yeoja itu di matanya, ia semakin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “K..kau.. bagaimana bisa?” Key malah balik bertanya.
Yeoja itu mengerutkan dahinya, “Kau takut padaku? Kau tidak lupa padaku kan?”

Sesungguhnya bukan perasaan takut yang menghinggapi Key. Ia hanya terkejut dengan wajah si malaikat yang selama ini tidak pernah bisa dilihatnya karena cahaya menyilaukan yang selalu megitari wajahnya. Dan kini ia bisa melihat wajah itu, wajah yang selalu meninabobokannya. Juga wajah yang sangat ia rindukan.

“Min Hyeri?” tanya Key.

Yeoja itu tidak menjawab, ia justru semakin mendekat dan memeluk Key. “Kau datang, akhirnya kau datang. Gomawo, jeongmal gomawo.” ucapnya, terselip kebahagiaan dalam nada bicaranya. Key hanya diam, ia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, bagaimana bisa malaikat penjaganya adalah Min Hyeri? Apa yang sebenarnya terjadi?

Key berusaha memutar otaknya, mengingat lagi apa yang terjadi sebelum ini. Apa yang sedang dilakukannya sebelum akhirnya ia berada di tempat entah di mana. Perlahan ia ingat, bahwa ia tengah berada di dalam mobil, kepalanya terasa sakit dan segala sesuatunya menjadi kabur. Ia ingat ada seseorang dengan sayap seperti burung berjalan ke arahnya, mengulurkan tangannya kemudian memeluknya erat.

“Apa yang terjadi?” dibanding menanyakan mengapa yeoja itu berwajah sama dengan Min Hyeri, Key justru ingin tahu mengapa yeoja itu terlihat berbeda dari yang selalu ia lihat. Yeoja itu terlihat begitu sengsara. “Terimakasih kau sudah datang dan menemukanku, kau menepati janjimu, Kibum-ah.” jawab yeoja itu dan tentu saja tidak dimengerti oleh Key.

Tak ada percakapan lain, yeoja itu kemudian membimbing Key untuk berjalan mengikutinya. Berjalan menuju jalan yang luas dan begitu terang sambil berpegangan tangan. Sobekan di pakaian yeoja itu perlahan hilang seiringan dengan langkah mereka, sayapnya berangsur kering dan kedua kakinya terbalut sepatu putih.

Key memperhatikan perubahan-perubahan itu, dan dirinya menunggu satu lagi perubahan yang seharusnya segera ia lihat. Cahaya menyilaukan yang mengitarai wajah si yeoja. Langkah mereka semakin jauh, tapi cahaya menyilaukan itu tak kunjung kembali.

Seolah bisa membaca pikiran Key, yeoja itu tersenyum ke arahnya. Senyum manis milik Min Hyeri yang selalu dirindukan Key, membuat Key sedikit salah tingkah. “Kau… Min Hyeri?” tanya Key, ia tetap tidak bisa percaya jika yeoja yang kini berjalan bersamanya bukanlah Min Hyeri.

Yeoja itu tersenyum, kemudian menghentikan langkahnya. Menarik key agar mau berhadapan dengannya. “Kau selalu mengingatku sejak pertamakali kita bertemu, empat tahun yang lalu. Kau juga tidak pernah lupa bahwa aku adalah malaikat penjagamu, kau tahu aku akan selalu menjagamu, geutchi?”

“Jadi, kau bukan Min Hyeri?”

Yeoja itu kembali tersenyum, “Terimakasih kau telah menepati janjimu, janjimu untuk mencari dan menemukanku setelah kau bangun hari itu. Kau tahu aku sangat mencintaimu, itu lah sebabnya aku memilihmu untuk kujaga.” ia kemudian kembali berjalan, meninggalkan Key di belakangnya.

Key segera menyamakan langkahnya dan menahan tangan si yeoja, “Kau bukan Min Hyeri?” hanya jawaban dari pertanyaan itu yang Key inginkan saat ini. Ia begitu merindukan Hyeri, hingga ia menginginkan bahwa yeoja yang tersenyum manis di hadapannya adalah Hyeri. Ia ingin Hyeri memperlakukannya sama seperti yeoja yang selama ini hadir dalam tidrnya.

Yeoja itu mendekati Key, menaruh kedua tangannya di dada Key. Membuat jantung namja itu berdebar kencang. “Ini terakhir kalinya kita bertemu, akan kuberitahu siapa diriku.” Yeoja itu merengsek mendekati Key “Aku, malaikat penjagamu.” ucapnya kemudian mendaratkan ciuman singkat di bibir Key.

Seketika tempat keduanya berdiri dipenuhi cahaya menyilaukan yang terpancar dari langit, semuanya begitu terang hingga kembali pada satu warna yang begitu suci-putih.

Suara itu baru saja terdengar di telinga Key, sedikit memekakan. Suara yang berasal dari sebah mesin pendeteksi detak jantung yang terletak tak jauh dari tubuhnya. Tiba-tiba saja Key merasa lelah, Key merasa tubuhnya begitu lemah hingga merasa sulit untuk bergerak.

Tenggorokannya kering dan ia sangat membutuhkan air. Matanya menjelajah tempat ia berada, menyadari bahwa kini ia terbaring. Tangan kirinya masih mengepal, tapi yeoja bersayap itu tidak lagi menggenggam tangannya.

Kepalanya terasa pening saat ia kembali berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ditengah kebingungannya ia menangkap sesosok yeoja dengan coat merah berdiri menghadap pintu, seperti hendak meninggalkannya.

“Hyeri-ya.” Key memaksakan diri untuk memanggil yeoja dengan coat merah itu meskipun tenggorokannya terasa sakit. Ia tidak terlalu yakin bahwa yeoja itu adalah Hyeri, tapi tidak ada lagi yeoja dengan tubuh mungil dan tinggi sebatas rata-rata dalam hidupnya selain Min Hyeri.

“Hyeri-ya” panggil Key lagi. Yeoja itu masih mematung di tempatnya. “Hyeri-ya.” panggil Key lagi, kini ia yakin bahwa yeoja itu adalah istrinya, ia melihat benda berkilauan itu di tangan kiri Hyeri.

Hyeri berhambur, meraih tangan kiri Key dengan cepat. “Ireonasseo? Ireonasseo? Terimakasih, Tuhan.” gumam Hyeri sambil menempelkan tangan Key ke pipinya. Wajah itu sama dengan wajah yang baru saja ditemuinya dalam mimpi. Wajah sedih yang penuh kesengsaraan, tapi kemudian berganti menjadi wajah yang dihiasi senyum manis.

Susah payah Key akhirnya tersenyum kecil, ia benar-benar merindukan Hyeri dan begitu senang saat Hyeri menitikan airmata bahagia untuknya. Ingin rasanya Key memeluk Hyeri, mengusap airmata Hyeri, mengatakan bahwa ia sangat merindukan Hyeri hingga rasanya ia nyaris mati. Tapi tubuhnya begitu lemah, ia merasakan dahaga yang begitu dahsyat. “Aku haus. Bisa bawakan aku air?” akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

Hyeri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia beranjak cepat, langkahnya terdengar sedikit terburu-buru di telinga Key. Perlahan mata Key mengikuti Hyeri, mengikuti Hyeri yang meraih gelas di meja di sudut ruangan. Mengisi gelas dengan air yang beruap, tangannya meraih sendok dengan cepat.

Ia membantu Key untuk bangkit, begitu sabar dan hati-hati. Dirangkulnya Key seperti bayi, kemudian mulai menyendokkan air dan  membantu Key meminum air itu sedikit demi sedikit. Hyeri tidak banyak bicara, ia terus membantu Key untuk minum. Sesekali ia meniupi air dalam sendok sebelum memberikannya pada Key.

Key meminum setiap sendok air yang diberikan Hyeri sembari memandangi wajah Hyeri. Ada perasaan lega yang memenuhi relung hatinya karena Hyeri lah  yang pertama kali dilihatnya saat ia membuka mata.

“Kau lelah?” tanya Hyeri yang menyadari Key tak henti menatapnya. Key tersenyum tipis “Aku baru saja berjalan jauh. Jauh sekali.”

Hyeri tersenyum, senyum yang sama seperti yang dilihat Key dalam tidurnya. Key membalas senyuman Hyeri, tersenyum sambil menatap mata Hyeri. “I like it when you smile,” ucap Hyeri tiba-tiba, menahan tangannya yang hendak menyendokkan air. “But I love it when I’m the reason.” lanjutnya kemudian segera menyendokkan air.

***

Bumi terus berputar pada porosnya, membuat siang berganti dengan malam. Dan begitu seterusnya. Seperti sebuah perumpamaan, bahwa akan terbit terang setelah kegelapan. Sama seperti roda kehidupan manusia, mereka tidak selamanya berada di atas dan bahagia. Ada kalanya mereka berada di bawah dan begitu terpuruk.

Tapi Tuhan akan tetap menjalankan takdirnya. Menjalankan takdir yang berbeda pada setiap ciptaannya. Ia menciptakan kehidupan beserta seluruh keajaiban yang tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Itulah bagaimana Tuhan menunjukkan kekuasaannya pada manusia, agar manusia selalu percaya bahwa Tuhan lah satu-satunya zat yang menciptakan mereka.

Hari terus berganti, seiringan dengan musim dingin yang akan segera tiba di penghujung masanya. Namja itu duduk sambil menyandarkan tubuhnya di ranjang, ia melahap lagi potongan buah apel yang baru saja disodorkan padanya.

“Kau mau lagi?” tanya yeoja yang selalu dipanggilnya eomma.

Aniyo eomma, aku sudah kenyang.” Ia tersenyum tipis pada eomma-nya, kemudian mengedarkan pandangannya ke luar jendela seolah mencari seseorang.

Eomma, di mana Hyeri?” tanya Key, membuat eomma-nya berhenti menusukkan garpu pada buah apel. “Kau selalu mencarinya, kau sangat merindukannya?” tanya Nyonya Kim.

Key terkekeh pelan, “Eomma ini bicara apa? Tentu saja aku selalu merindukannya, dia itu istriku.” Matanya kemudian kembali menengok ke luar jendela, berharap Hyeri segera tertangkap oleh kedua matanya. Nyonya Kim memberengut “Lebih sering dibanding kau merindukan eomma?”

Key kembali terkekeh “Eomma, itu tidak bisa dibandingkan. Kalian berdua adalah yeoja terbaik dalam hidupku. Eomma, Hyoyeon eonni, dan Min Hyeri. Kalian memiliki tempat spesial di hatiku.” terang Key, membuat Nyonya Kim tersenyum simpul.

Nyonya Kim menaruh piring berisi potongan buah apel ke atas meja tak jauh dari ranjang. Hatinya merasa begitu lega melihat kesehatan Key yang semakin membaik. “Kurasa ia sedang di kantor, perlukan eomma meneleponnya?” Nyonya Kim telah mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya.

“Oh! gwaencanha, mungkin tidak lama lagi Hyeri akan datang.” Key melirik jam dinding di hadapannya, sudah pukul 4 sore. “Beristirahatlah sambil kau menunggu istrimu yang cantik.” Nyonya Kim kemudian mendorong tubuh Key pelan hingga putranya terbaring sempurna, kemudian menarik selimut hingga leher Key.

Ia kemudian beranjak, duduk di sofa coklat beberapa langkah dari ranjang Key. Duduk sambil menyandarkan kepalanya. Perlahan ia mulai merasa mengantuk. Ia tersenyum ke arah Key sebelum memutuskan untuk memejamkan matanya. Kali ini ia yakin tidurnya akan sangat baik, seiringan dengan kesehatan Key yang semakin membaik.

Yeah! Sudah hampir tiga minggu semenjak Key dipindah ke ruangan ICU. Song seonsaengnim tak henti mengatakan hal ini dengan keajaiban. Kesehatan Key semakin membaik, jumlah sel-sel darah putih dan merahnya telah kembali pada jumlah normal, rambut di kepalanya kembali tumbuh dengan cepat, begitu juga berat tubuhnya yang menanjak sedikit demi sedikit.

***

Butiran-butiran putih itu tidak lagi jatuh dari langit dan membuat kota menjadi putih dan dingin. Tidak ada lagi omelan-omelan kecil yang keluar dari mulut orang-orang karena cuaca yang tidak menguntungkan.

Pohon-pohon yang gundul mulai ditumbuhi dedaunan, bunga berwarna-warni mulai bermekaran. Memberikan sentuhan warna baru bagi kehidupan di musim yang baru.

Hiruk pikuk telah terasa sejak pagi, jalanan begitu padat dan orang-orang berjalan dengan langkah cepat. Begitu juga dengan salah satu gedung perusahaan yang beberapa bulan lalu telah dinyatakan bangkrut. Para pegawai libur selama dua minggu, sebelum akhirnya mereka ditransfer ke kantor cabang lain. Tapi pada kenyataannya, mereka kembali bekerja di kantor yang sama. Kantor pusat telah mengatur segalanya sehingga perusahaan itu kembali berdiri dengan keangkuhannya yang telah dikenal banyak orang.

Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi, tapi yeoja itu berjalan terburu-buru menuju pintu utama. “Oh! Hyeri-ssi, hari ini Kim sajangnim akan pulang ke rumah?” tanya salah satu secuirity yang berpapasan dengan Hyeri di lobi.

Ne, kau bisa datang ke rumah setelah jam kantor selesai.” ucap Hyeri cepat, ia kemudian melanjutukan langkahnya. Tak lama ia telah berada di halaman parkir, sedikit terburu-buru mencari kunci mobil dalam tas tangannya.

Ponselnya berbunyi, “Yeoboseyo? Ne, Hyoyeon eonni? Ne, ne, algetseumnida. Aku sedang berada di parkiran kantor dan akan segera ke rumah sakit. Ne, arasseoyo. Katakan padanya aku juga sangat merindukannya.”

Hyeri memasukkan ponsel ke dalam tas tangannya, bersegera masuk ke dalam mobil hitam milik Key yang mulai ia gunakan beberapa minggu ini. Dengan cepat ia melesat menuju rumah sakit, hatinya begitu bahagia dan rasanya ia akan meledak.

Sungguh! Tuhan telah menunjukkan kekuasaannya. Dan Hyeri yakin bahwa Tuhan begitu mencintainya, itulah sebabnya Ia mengirim Key untuk Hyeri.

=TBC=

39 thoughts on “Archangel – Part 21

  1. Yeah part 21 nya udh publish lagi :-bd

    Waaahhhhh deudio!!! kim sajangnim siuman🙂 eh trnyata ada teteh hyoyeon-nya ya? hhe
    duh dikira kim sajangnim bakal ikut menyusul minho juga thor? pasti bakal bener-bener berat, jalan yg harus Hyeri hadepin klo itu smpe kejadian. baru ditinggal koma aja udh berantakan kayak begitu, aplg klo di tinggal seumur hidup?
    kim sajangnim gk punya simpanan kyk invest atau saham apapun lagi u/ menyelamatkan perusahaannya?

    eh, kemana keberadaan nicole ya? dia bener2 sudah menyerahkah? *duh trlalu bnyk nanya nih ^^v

    ahhh next part, aku tinggal menunggu plot2 romantisnya ya thor😉 btw eunjjong couplenya, sesuatu!! bwahaha *abaikan

    keep writing~
    Fighting..

  2. seblmnya aq pikir gk ada harapan gitu… udhbyakin ntr endingnya sad. tp ternyata…
    taraaaa!!! key bangun lg #jogetrdd

    senengnya bkn main aq thor. sampe kelepasan teriak. huhuhu udah ya thor jgn ada konflik lg… ini udh klimakskan? udh sisanya tinggal yg manis manis #emng permen?

    semngat thor!! cepet lanjut ya!!🙂

  3. seblmnya aq pikir gk ada harapan gitu… udh bayangin ntr endingnya sad. tp ternyata…
    taraaaa!!! key bangun lg #jogetrdd

    senengnya bkn main aq thor. sampe kelepasan teriak. huhuhu udah ya thor jgn ada konflik lg… ini udh klimakskan? udh sisanya tinggal yg manis manis #emng permen?

    semngat thor!! cepet lanjut ya!!🙂

  4. Waaahh cepet ya…
    Gomawo euncha-ssi key nya gak di mati’in(?) + perusahaan ny g jd bangkrut
    Bnrkan bnrkan, tuh cwek yg d mimpi key hyeri versi malaikat(?)

    terbaca(?) lucu, baru bangun langsg mnta minum, kan biasanya ska blg ‘aku dimana’. kok aku g brhnti ktwa ya pas scene it *kelainan

    eoh,key pny teteh toh… Hyoyeon eonni.. Nyampe klimaks jg mslh angst(?)nya.. Tinggal nunggu moment moment sweet key ma hyeri..

    Lnjtn ny cpt lg ky part ini ya.hehe FIGHTING

  5. Huwaaa Kim Sajangnim akhirnya kau bangun jg hikss \(*T▽T*)/
    Awal part nyesek pake banget, tp diakhir part akhirnya bisa bernafas lega jg. Senangnya semuanya membaik \(^^)/
    Wahh iya nihh kyaknya g bakalan nyampe 25 part.
    Tp Jinki-Aeri nya jangan lupa yaa, mereka jg hrs disatuin thor😀
    Next! Next! Next!!!

  6. Mau ngucapin Thanks ke authornya :p
    Chapter ini bener-bener bikin lega hahahhaa…
    Key sembuh dan semuanya jadi bahagia lagi🙂

    Gak sabar nunggu lanjutannya. Pengen tau next kehidupan Key sama Hyeri gimana😀

  7. tadi mlm.. baca sampai part 20 sampai jam 3 pagi karena sking penasarannya. n bkl lanjutin bc part ini klo gak inget klo udh ngerasa pusing

    dan part 20 & 21 ini bkin aku nangiiiiiisss huaaaaaaa huaaaaaa
    tp part ini nangis haru bahagia… itu pas bagian hyeri nyuapin key buat minum kenapa romantis banget… huaaaaa huuaaaaaaaa

    bnr2 bikin perasaan campur aduk.. hiks hiks hiks
    td mlm gak bs komen di part sblmnya. sklian di sini aj ya..
    pas bagian key mulai2 kambuh lgi penyakitnya itu bnr2 kyk apa ya.. semacam karma gtu buat hyeri ya.
    dan akhirnya hyeri n ortu key tau siapa pendonor n yg menerima donor sumsum dr hyeri.

    oh gimana kbr jinki aeri? hahahahaha
    mulai adem ayem gtu ya tuh 2 org. wkwkwk meskipun masij misteri… tsaaaahh

    btw penulisannya udh bagus eun cha..
    sebelum2nya kan 1 paragraf masih 1 kalimat gtu. skrg udh bnr.. 1 paragraf trdiri dr bbrp kalimat. hehehe tp masih ada bbrp yg kurang pas pada pemenggalan paragrafnya.. /gimana jelasinnya ya?/ tp overall udh cukup bagus😉

    oh ada 3 kata yg slh penulisannya
    fikir >> pikir
    aktifitas >> aktivitas
    kesalahfahaman >> kesalahpahaman
    eh itu gak ya yg ketiga?
    aku lupa T.T

    eunchaaa minta pw part 22 T.T

    • Waduh! Ya Tuhan, Rahmi. Sampe jm.3 subuh? ckckck ga tanggung jwab loh kl sakit ^^v

      waah, part 20 itu memang menguras emosi banget.kekek. tapi senangkan dgn part ini?
      Ne, kira2 itu sejenis hukuman lah buat Hyeri. *Yakin di part2 sebelum ini readers pada benci banget sama Hyeri*
      Jinki-Aeri couple ada porsinya sndiri. nantikan ajh yh pkonya *plaaakkk*

      Ne, ada perubahan dari part ke part. Soalnya kn dpt msukan jg dri pas jaman2 Dazzling Autumn & Clue.
      Nah, kurang pas pemenggalannya itu kya gmna yh? *garuk2 kepala*

      Waah, gomawo lag i koreksinya. Itu yang benernya itu yang disebelah kanan kan?

      Eh, pw part 22nya ternyata ak lupa ksih yh? .kekek. tapi udh ak krim ko, dicek ajh yh emailnya.
      Gomawo😀

  8. authoorrrr..😀 akhirnya key siuman😀 hihihihii senangnyaaa.. deg”an sampe berkaca” bca ceritanya.. aku juga suka bkin FF gini, tapi tapi tapi kalimat” dlm cerita aku monoton euy.. kudu banyak belajar nih sama author song eun cha😀

  9. Waahh DAEBAK ni Euncha..
    Berniat untuk menangis dalam sunyi tapi ga bisaa T__T
    Berbagai ekspresi keluar pas baca part ini..
    Semoga tinggal cerita yg seneng2 aja yaa😀

  10. Miracle is another name of hard work…
    setelah masa-masa suram menyesakkan akhirnya muncul juga kebahagiaan itu… /sigh/ lega bgt…
    so sweet bgt momentnya key-hyeri kalo pas lagi ga ada masalah u.u ini ga jadi cerai kan? kekeke
    feelnya dapet banget deh, ikutan tegang pas hyeri tegang… tapi senengnya ga ketulungan pas mereka bahagia…
    semangat buat key dan hyeri ^^

    • “Miracle is another name of hard work” <– that's right!
      eottae? suka kan sama part ini?
      pasti emosinya udah terkras deh di part sebelumnya.kekekek.
      Nantikan lanjutannya yaa~ Gomawo😉

  11. fiiiuuuuhhh …. setuju sama komen2 sblmnya .. ga tau knp kerasa bngt perubahaannya.. cara penyampaian dan gaya bahasanya eun cha sukses bikin ngerasa ada d dunia lain.. entah karena efek udah lama g pernah mampir k sini ksli ya… tp yg pasti makin lama eun cha makin deaaabaaakk … Keren bngt ff nya. g nyangka bakal seseru ini !!!!!! Selamat y … ini ff yg jadi favorit saya bngt #hehe apa sih g penting …. pokok nya Archangel like miracel. kereeeennn…

    oh y satu lagi pas set eunjjong coupel. restoran dpn rumah eun young. kerasa bngt lah pas ngrbayangin adegan mereka berdua … super sweet .. hahaha .. ga nyangka tegelsm terlalu jauh dlm imajenasi versi saya sambil baca tiap kata dr ff ini … like this lah…

    • Haiii…. Aeri eonni. kemana sajakah dirimu selama ini? .kekekek.
      wahhh, gomawo. pujiannya bkin aku berasa direbutin Onew sma Key looh *plaakkk
      Ne, gomawo lagi nih. berkat encourage-nya, akhirnya bsa jga bkin FF romantis, meskipun masih belajar. Senang banget banyak yg baca dan suka b^^d

      .keke. jinjja? awas ah, jangan smpe kebwa mimpi lagi.kekek. ^^v

  12. Chukkae! Akhirnya key siuman juga, gak kebayang nih kalo misalnya key gak selamat mgkn si Hyeri jadi gila ya?._.v

    Suka banget sama kata2 ini >>> “I like it when you smile,” ucap Hyeri tiba-tiba, “But I love it when I’m the reason.” Kyaaa~ dulu yg ngucapin Key, skrg Hyeri. Aku nungguin scene romantis mrk nih eon.

    Btw, nicole apa kabar ya?.-.

  13. Huwaaahh daebak daebak
    Banjir air mata diawal , senyum senyum sendiri diakhir cerita
    Lega banget rasanya eonni.
    Aaah saya kaya ngerasain gimana sedihnya jadi Hye Ri u,u

    Tinggal Jinki sama Aeri yang belum bersatu

  14. huweee eonni….
    part ini menguras airmata TT TT
    that miracle~ tp mereka gk jadi cerai kan?
    barista cafe itu taemin ya? ciri2nya kaya taemin pas di iklan kiss note :3
    btw, aeri sm jinki gmn tuh?

  15. Yeeeee. .
    Akhrnya, ku kra mmanqa akn jd sad endnq,
    sykurlah key smbh, prshaan kmbli, n ibu nya key sdh q’ bnci ma hyeri lq. .
    Seneng bnget nhe, sprti trbwa dlam alur crtanya. .

  16. wuuaaahhhhhhh….. sungguh mengharukan!! ku kira key oppa bakal mati, udah nangis meraung2@ wat geger seisis kos, tapi untunglah ‘miracle’ itu datang!!! Eun cha unnie daebak dech pokoknya.. sumpah feelnya dpat banget, dari part yg sebelumnya dah mengaduk2 emosi nich…
    semoga setelah ini yg manis2 ya..??
    ku baru sadar lo da hyeoyon juga disini, maklum g baca dri awal, hehe….
    wah, taemin cuma jadi cameo ya?? semoga ntar lo dah sembuh, Key-Ri bisa dateng lgi ke restoran itu, n taemin bsa muncul lagi, yahhh walaupn jadi cameo doank, hehehe…..

    wat Eun-nie.. tolongg pw wat part 22 ya.. jadi penasaran nih…
    gomawoo….

  17. sangat mengharukan
    key akhirnya kau selamat….
    q sempat deg2an saat dokter mau melpas semua peralatan key… emang author sangat daebak.. bisa mmbuat orang kena serangan jantung…

  18. waduh. . .bingun harus komen gmana. . .
    part ini sukses bikin nangis. .padahal aku bcnya di tempat kerja. . untung gak ada yang liat. .*lho? malah curhat. .
    tapi endingnya bikin lega. .

    makasii ya euncha. .😄

  19. anyeong, saya redear baru disini. cerita2nya bener2 buat aku sedih. ku pìkir key nya gak sadar. jdi ingin tau cerita selanjutnya. tp knpa part relanjutnya pake pw? minta pw nya dong author? bnr2 penasaran nih cerita nya.🙂

    • Hallo, yuki-ssi. salam kenal ^^
      makasih udah main ke Lollipop.
      Oia, u/dapet pw-nya kamu bsa baca aturannya di halaman Password. Tapi u/skarang FF Archangel udah g di-proteksi dan ada skip version untuk rating NC-nya ^^

  20. key udah siuman..
    hyeri kpn nyatain cintany sm key?
    perceraiannya?
    ak hrap dbtalkn.

    dan brhrp jg jinki sm aeri bs kmbli dket.

  21. Mengaharukan sekali ;;;;;;;;;;;;
    Spchls nih ;A; Key bangun dari sleepyng beauty(?) nya karena di kisseu sama sang istri, aduh comnt gue ngelantur saking seneng keynya sadar huaaa ;;;;;
    Feelnya dapet banget mamen, emosi, tangis sedih(?), tangis haru,semuanya jadi satu haha complicated banget. Hiks
    Great fiction.

  22. Key bangun juga akhirnyaaaaaaa,,,,huwaaaaaaa sedih rasanya jadi Hyeri T.T putus asa bgt klo Key ga bangun!
    Oke, suka suka sukaaaaaaaaaa… #2jempol buat kaa euncha🙂

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s