Moonlight Sonata – Part 1

Moonlight Sonata – Part 1

Main cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Aeri | Kim Ki bum [Key]

Supporting cast :

The rest of SHINee’s members | Shin Eun young

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Thriller, Mystery, Romance

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

Hello..Hello…Hello… Euncha bawa FF baru nih. Itung2 penyegaran dari Archangel yaa.kekekek.
Nah, buat yang berekspektasi FF Untitled u/publish mohon maaf karena harus kecewa yah. Ada beberapa alesan kenapa Euncha mem-publish Moonlight Sonata lebih dulu.
However, please enjoy the story yah. Jangan lupa saran & komennya sangat ditunggu. Patronizing is not allowed!

Teng…

Teng…

Dentingan piano itu kembali terdengar dalam gelapnya malam. Yeoja itu semakin mengeratkan selimut yang telah menutupi seluruh tubuhnya, ia memejamkan kedua matanya, berusaha untuk tidur dan tak mendengar suara piano yang selalu berdenting setiap malam.

Tubuhnya semakin menggigil, keringat sebesar biji jagung tak henti menetes dari pelipisnya. Sebisa mungkin ia menahan nafasnya yang memburu, sementara bunyi detakan jantung memenuhi gendang telinganya. Melodi itu terus mengalun, melodi yang sama yang terdengar setiap malam dari piano hitam di ruang tengah.

***

Yeoja itu membuka kedua matanya cepat, seolah roh jahat baru terlepas dari tubuhnya. Ia segera menghembuskan nafas saat mendapati dirinya terbaring di atas ranjang berseprai putih. Keringat dingin masih menetes dari pelipisnya dan bahkan telah membasahi bantal dan sebagian seprai putih miliknya.

Cahaya matahari pagi menelusup melalui celah jendela dan tirai berwarna kuning pucat yang tertiup angin,  menandakan bahwa pagi telah tiba. Lamat-lamat terdengar kicauan burung pagi yang melintasi atap kamarnya.

Aeri – begitu nama yeoja itu – menghela nafas lega. Pagi telah tiba, itu artinya ia terbebas dari hal mengerikan yang sering ia alami beberapa malam belakangan ini.

Adalah kelima kalinya Aeri mendengar dentingan piano yang berasal dari lantai satu. Tepatnya dari ruang tengah di mana sebuah piano hitam berdiri dengan angkuh di sudut ruangan tak jauh dari perapian.

Awalnya ia merasa itu hanyalah halusinasi karena ia terlalu keras berlatih untuk kompetisi, tapi pada malam ketiga, akal sehatnya menyangkal bahwa itu adalah halusinasi. Diintipnya piano hitam di ruang tengah. Yeah! Piano itu benar-benar berdenting, memainkan sebuah melodi indah seolah seorang pianis tengah duduk dan memainkan jari-jarinya di sana. Tapi sayang, tak seorang pun berada di sana. Hanya melodi yang mengalun indah tanpa seorang pianis.

Perlahan Aeri bangkit,  meraih gelas tinggi berisi air mineral yang selalu ia siapkan di atas nakas di samping ranjangnya sebelum ia naik ke atas ranjang. Diteguknya air mineral tanpa ampun hingga membasahi kerongkongannya yang amat kering karena menahan takut semalam.

 “Melodi itu lagi.” gumamnya pelan.

Ia diam, menopang dagu dengan kedua tangannya. Pikirannya menerawang pada kejadian semalam. Apakah ia bermimpi? Tapi suara piano itu sangat nyata di telinganya dan bahkan ia ingat betul melodi yang selalu muncul dari piano itu.

Entahlah! Sampai saat ini Aeri sendiri masih belum bisa mengingat dengan baik apakah ia bermimpi mendengar suara piano itu, ataukah ia benar-benar mendengar suara piano saat ia terjaga?

***

“Selamat pagi sayang, cepatlah sarapan. Hari ini eomma membuatkanmu telur mata sapi dan roti panggang. Oh! matamu! Kau kurang tidur lagi semalam ? Jangan katakan kau mendengar suara piano itu lagi.” seorang yeoja setengah baya dengan perawakan kurus tinggi segera menyerbu Aeri dengan beberapa pertanyaan yang tak pelak membuat Aeri kebingungan untuk menjawabnya.

“Jika kukatakan ya, apa eomma akan mempercayaiku?” Aeri duduk di salah satu kursi di dekat jendela kemudian meraih gelas berisi susu cokelat kesukaannya.

Yeoja yang dipanggil eomma itu tak bergeming, ia kembali pada teflon berukuran medium-nya yang telah berisi telur setengah matang.

Eomma sudah bilang itu hanya mimpi sayang, kau terlalu lelah sehingga berhalusinasi mendengar suara piano setiap malam. Apa persiapan sebelum kompetisi itu membuatmu tertekan?” yeoja itu kini membalikkan telur setengah matangnya dengan hanya menggerakkan teflon ke atas, seolah melempar telur ke udara dan segera menangkapnya dengan permukaan teflon.

Aeri hanya diam, mungkin saja eomma-nya itu benar. Ia memang merasa lelah dengan kesibukannya saat pertama kali mendengar dentingan piano tengah malam. “Eomma benar, mungkin aku hanya berhalusinasi. Aku perlu refreshing sebelum kompetisi.”

Aeri akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan bahwa ia pernah mengintip ke ruang tengah saat suara piano itu terdengar. Menganggap itu hanyalah bagian dari mimpinya tentang suara di tengah malam.

Aeri menghabiskan sarapannya dalam diam, pikirannya terlalu sibuk membedakan antara mimpi dan kenyataan yang seharusnya ia ingat. Benar! Persiapan untuk kompetisi “The Pianist” tingkat nasional itu sedikit banyak membuat Aeri tertekan.

Dentingan piano selalu memenuhi gendang telinganya nyaris sepanjang hari. Pikirannya harus tertuju pada kertas – kertas partitur di hadapannya, sementara jari-jarinya harus dengan cepat menterjemahkan tangga-tangga nada menjadi alunan melodi indah yang menyejukkan hati pendengar.

Setelah menyelesaikan sarapannya, Aeri bergegas menuju ‘Mélodie’, rumah musik di mana ia menghabiskan waktu 15 tahun untuk menjadi pianis seperti saat ini. Aeri sudah bermain piano di berbagai tempat dan memenangkan beberapa lomba. Bermain piano di acara – acara yang diadakan oleh bangsawan-bangsawan kota pun sudah sering dilakukannya.

Aeri belajar bermain piano saat usianya 5 tahun, bakat dan kemampuannya mendorong Aeri untuk terus melanjutkan pelajarannya.  Dan ia memutuskan untuk bergabung dengan orkestra pada usia 18 hingga saat ini- usianya 21 tahun.

Kini Aeri tengah memulai karir solonya sebagai pianis, bukan lagi bermain dalam orkestra. Dan kompetisi “The Pianist” adalah jembatan luas bagi Aeri untuk mencapai cita-citanya. Tiga minggu lagi kompetisi  akan dilaksanakan, tentu saja Aeri harus berusaha lebih keras agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang diinginkannya.

Aeri melangkah pasti menyusuri koridor sempit dengan dinding bermotif tangga nada berwarna biru. Dentingan piano yang menghasilkan melodi indah mulai terdengar. Melodi ‘Pastoral Sonata’. Tak salah lagi! hanya orang itu yang memainkannya.

“Oh! Wasseo?” namja bermata sipit itu menghentikan permainan pianonya saat Aeri menyembulkan kepalanya di balik pintu berwarna putih. Aeri berjalan menuju loker kecil yang berderet di sudut kiri ruangan, dan menaruh tasnya setelah membuka loker no. 7 .

“Permainanmu semakin baik Jinki-ya, haruskah aku waspada?” kini Aeri berjalan ke arah Jinki. Jinki terkekeh, ia sempat menundukkan kepalanya dan menatap jari-jari besarnya.

“Hei! Itu artinya kau tidak pernah waspada terhadapku?”namja itu berusaha menggoda Aeri seperti biasanya. Berharap sedikit saja Aeri mengerti maksud hatinya, tapi sayang yeoja itu kelihatanya terus berpura-pura untuk tidak mengerti apa yang selama ini diutarakan Jinki. Dan jawaban atas pertanyaan Jinki hanyalah kekehan kecil dari mulut yeoja berambut semi keriting itu.

Sudah beberapa bulan terakhir ini Jinki menyadari bahwa ia benar-benar kewalahan mengatasi kekagumannya pada sosok yeoja bernama Kim Aeri. Yeoja dengan sedikit keangkuhan dan percaya diri yang tinggi itu entah bagaimana membuat hati Jinki menyerah.

Jinki megerutkan dahinya saat melihat Aeri masih berdiri di sampingnya dan tidak pergi ke ruangan di samping untuk memainkan piano hitam kesayangannya. “Boleh aku menggunakan piano ini?” sedikit ragu Aeri meminta Jinki untuk pindah dari piano putih yang tengah dalam kendali Jinki.

Jinki kembali mengerutkan keningnya sebagai subtitusi atas pertanyaan mengapa? “Belakangan ini aku lebih tertarik pada warna putih, kelihatannya permainanku akan lebih baik dengan si putih ini.” Aeri mengelus pinggiran piano putih dengan senyum lebar yang dibuat-buat.

Jinki masih bingung, tidak biasanya yeoja yang sudah satu tahun menjadi partner-nya dalam orkestra ini ingin bermain dengan piano warna putih.

Terdengar absurd, tapi peracaya atau tidak, yeoja ini hanya akan bermain piano jika pianonya berwarna hitam. Aeri bilang itu seperti panggilan jiwa, piano hitam terlihat begitu mengagumkan bagi Aeri. Warna hitam memberikan kekuatan unik bagi Aeri yang membuat permainannya sempurna. Seperti kekuatan magis yang mengendalikan seluruh kemampuannya.

Tak lama Jinki mengangguk – anggukkan kepalanya saat sebuah ide melintas. Ide yang sangat cemerlang pikirnya. “Benarkah kau ingin memainkan piano ini? apa kau tidak takut permainanmu akan menjadi buruk?” Jinki berusaha meyakinkan Aeri .

Tidak! Bukan meyakinkan, tapi membuat Aeri masuk dalam jebakan Jinki tepatnya. Aeri hanya mengangguk mantap, ia yakin betul dengan keinginannya itu. Ia tak perduli lagi dengan kekuatan-kekuatan dari piano berwarna hitam yang selalu membuat permainannya bagus. Yang jelas sejak ia mendengar dentingan piano dari ruang tengah rumahnya malam itu, ia benar-benar takut dengan piano berwarna hitam.

I have a condition.” ujar Jinki cepat, sesuai dengan apa yang telah disusunnya beberapa detik yang lalu. Aeri hanya mengerutkan dahinya.

“Hari Minggu ini jam 11 di Taman kota, eottae?” Aeri membulatkan kedua bolamatanya, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut.

Is it a date?”

“Itu jika kau masih ingin memainkan piano putih ini.” Jinki mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, berusaha bersikap acuh tak acuh dengan ucapannya barusan.

Sure!” Aeri tersenyum lebar, ternyata namja pendiam ini bisa juga mengajak seorang yeoja berkencan. Jinki segera beranjak dari bangku kayu kemudian mempersilakan Aeri mengambil alih piano putih.

“Oh! apa kau mau pulang bersama?” Jinki menyembulkan kepalanya dari balik pintu tak lama setelah ia mengambil ransel hitamnya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

Aeri berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengatakan tidak dan sukses membuat Jinki gagal lagi.

***

Minggu kedua musim semi.

Matahari memancarkan sinar hangat yang membuat semua orang ceria. Tidak terlalu terik, dan tidak terlalu mendung. Beberapa jenis bunga bermekaran di musim ini, membuat jalanan kota berwarna-warni.

Jam 10.45, namja itu kembali melirik arloji di tangan kirinya. Kemudian kembali diedarkan pandangannya ke sekitar taman kota yang mulai dipadati sejumlah pasangan kekasih yang menghabiskan akhir pekan bersama.

Masih belum datang!

Namja itu kemudian menilik dirinya sendiri dari ujung sneaker putih nya hingga rambut coklat gelapnya yang tertata rapi , entah untuk yang keberapa kalinya. Kaki kanannya tak henti menghentak-hentak tanah tempatnya berpijak, menandakan bahwa ia telah menunggu terlalu lama. Tidak! Tepatnya ia datang terlalu cepat.

Ia kembali menggerutu. Aish! Apa yeoja itu melupakan janjinya tiga hari yang lalu? pikirnya. Namja bernama Lee Jinki itu mulai mengutuki dirinya sendiri, nyalinya terlalu kecil untuk kembali menanyakan pada Aeri apakah ia tidak lupa dengan ajakan kencan Jinki saat di ruang piano?

Betapa bodoh dirinya jika Aeri benar-benar lupa pada ajakan kencan yang telah disetujui sebagai bayaran atas penggunaan piano putih yang biasa digunakan Jinki. Mata Jinki segera beralih pada kerumunan orang saat lamat-lamat terdengar suaranya dipanggil.

“Oh! yeogi da!” Jinki melambaikan tangannya pada yeoja dengan cardigan tipis berwarna beige yang berjalan di tengah kerumunan orang. Tak lama yeoja itu tiba di hadapan Jinki, membuat  Jinki sempat tertegun memperhatikan penampilan yeoja yang diajaknya berkencan itu.

Bukan! Jinki bukan tertegun karena terpesona oleh penampilan cantik sang pujaan hati di hari kencan mereka. Jinki justru telah dibuat berpikir keras oleh Aeri . Apa Aeri benar-benar tidak menganggap ajakan Jinki sebagai sebuah kencan di mana ia harus berdandan cantik agar menarik hati?

Oh! Jinki rasa dirinya salah telah menilai Aeri akan segera jatuh cinta padanya hanya dengan sebuah ajakan kencan.

Jinki terus memandangi Aeri dengan setelan ripped denim dan cardigan cardigan tipis berwarna beige, sementara beberapa centi bagian bawah denimnya tenggelam dalam sneaker putih semata kaki.

“Apa?” tanya Aeri saat menyadari Jinki terus menatapnya.

Tak ingin kencannya berantakan, Jinki cepat-cepat mengembalikan kesadarannya. “Ah! Kau mau kita pergi ke mana dulu? taman bermain? Mall? Atau kau mau kita ke café?”

***

Jinki hanya memandang yeoja yang duduk di hadapannya, kini mereka duduk di salah satu meja dengan taplak garis-garis berwarna hijau pastel dan merah muda. Sementara si yeoja tengah asyik memandangi buku-buku fiksi yang baru saja dibelinya di toko buku. Ia terlihat bingung memilih judul mana yang harus ia baca terlebih dulu.

“Kau sangat menyukai cerita romantis?” Jinki berusaha memulai percakapan. Aeri segera mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya dari salah satu buku dengan gambar ilustrasi sepasang kekasih di atas jembatan yang baru saja ia buka bungkusnya.

“Oh! sejak kecil aku suka cerita seperti ini. Mereka selalu menggambarkan seorang namja adalah makhluk paling kuat dan selalu melindungi yeoja. Akan sangat sempurna jika namja itu menunggangi kuda putih.” terlihat gurat keangkuhan di wajah Aeri, ia kemudian terkekeh pelan.

Jinki hanya menganggukkan kepalanya, sejujurnya ia tidak tahu harus memulai perbincangan apa agar mereka menjadi lebih akrab di hari kencan mereka. Ia terkejut saat Aeri memintanya untuk pergi ke toko buku. Oh! Ayolah! Kencan macam apa yang akan didapat Jinki dengan pergi ke toko buku? Namun demi yeoja yang telah lama dipujanya, Jinki rela bersabar menunggui Aeri yang tenggelam dalam dunianya selama 2 jam.

Perbincangan mereka terasa lebih hangat setelah seorang pramusaji membawakan secangkir latte dan Americano ke meja mereka. Aeri tak lagi berkutat dengan buku-buku fiksi miliknya dan lebih memilih untuk mendengarkan cerita-cerita Jinki.

“Oh ya, bagaimana dengan persiapanmu?” Jinki mengalihkan pembicaraan setelah Aeri berhenti tertawa karena lelucon yang dilontarkannya.

Fine.” jawab Aeri singkat dan datar, meskipun Jinki melihat perubahan ekspresi wajah Aeri .

Jinjja? Kau terlihat tidak baik.” Jinki memandang Aeri, menatap curiga yeoja itu. Aeri berjengit saat Jinki menanyakan hal itu. Apa ia benar-benar terlihat tidak baik? Tapi Jinki benar, Aeri memang sedang tidak baik. Suara piano tengah malam itu benar-benar mengganggunya. Sepertinya Aeri harus segera menemui psikiaternya lagi sebelum ia menganggap dirinya gila.

Lamunan Aeri buyar saat Jinki melambai-lambaikan satu tangannya di hadapan wajah Aeri . “Ah! Mianhae, aku teringat sesuatu tadi.” Aeri terkekeh pelan, menutupi rasa bersalahnya pada Jinki karena ia melamun di tengah perbincangan mereka.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Aeri ketika seorang pramusaji merapikan cangkir mereka. Jinki hanya menatap Aeri , menunggu pertanyaan dari yeoja itu.

“Menurutmu, apa terdengar gila jika seorang pianis berhalusinasi mendengar suara piano?” Aeri menatap Jinki serius, sementara Jinki hanya terkekeh. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ditanyakan Aeri .

“Apa kau berhalusinasi mendengar suara piano?” cibir Jinki, bagaimana bisa seorang pianis berhalusinasi mendengar suara piano? Tentu saja suara piano akan selalu memenuhi gendang telinganya sepanjang hari, jika tidak! Maka ia bukan seorang pianis.

Ani! Aku tahu ini terdengar gila. Tapi,” Aeri terdiam, ia tengah berpikir keras. “Oh! Lupakan!”

***

Dengan cepat Jinki menarik tangan Aeri yang telah beranjak dari kursinya dan hendak berjalan menuju pintu café. “Jika kau merasa jenuh dengan latihan-latihanmu yang berat, datanglah padaku.”

Aeri hanya menatap Jinki, entah mengapa kedua bola mata Jinki membuat hati Aeri merasa hangat. “Thanks.” Aeri menyunggingkan sebuah senyum kemudian kembali berjalan menuju pintu café dan diikuti oleh Jinki dari belakang.

Aeri merasa lebih baik dengan acara jalan-jalannya bersama Jinki hari itu. Setidaknya kini ia punya teman yang bisa diajak bercerita tentang halusinasinya itu. Bukan! Bukannya Aeri tidak pernah bercerita pada siapapun soal suara piano tengah malam itu. Hanya saja, mungkin Jinki yang sesama pianis akan lebih memahaminya dibandingkan keluarga di rumah, sahabatnya Shin Eunyoung atau bahkan Choi Minho- psikiater-nya.

***

Eleanor…

Eleanor…

Sonata ini kupersembahkan untukmu

Melodi cinta di bawah sinar bulan purnama

Datanglah padaku

Hanya kau yang memainkan sonata ini untukku

Eleanor…

Eleanor…

Gadisku Eleanor… selamanya kau adalah milikku.

 

Yeoja itu berjalan perlahan, turun dari atas ranjang berkelambu putihnya. Mengenakan sandal rumah berbulu, membuka pintu kamar perlahan hingga menimbulkan suara berderit kecil. Matanya masih terpejam seperti saat ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang beberapa jam yang lalu.

Bisikkan yang memanggil-manggil namanya terus menggiringnya menuju ruangan di lantai satu. Menuruni tangga mahogani yang dilapisi karpet merah tua, melewati dinding-dinding batu pualam. Langkahnya terhenti di daun pintu sebuah ruangan yang gelap.

Hanya sinar bulan dari luar jendela yang menerangi ruangan itu. Jendela yang terbuka membiarkan angin berhembus masuk, menyibakkan tirai putih. Angin malam menerpa wajah yeoja berambut coklat itu, membuat rambut semi keritingnya berayun-ayun ke belakang.

Yeoja itu terus berjalan, mendekati sebuah piano hitam yang berdiri kaku di sudut dekat perapian. Si pemilik suara yang sedari tadi memanggilnya merengsek mendekati yeoja itu. Dipeluknya si yeoja kemudian mulai menciuminya. Si yeoja hanya diam.

“Eleanor, kau sudah datang sayang? Maukah kau memainkan sonata dalam C minor ini untukku? Di bawah sinar bulan, sebagai bukti cinta kita.”

Yeoja itu tak menunjukkan ekspresi apapun, ia kemudian duduk di atas bangku kayu di hadapan piano hitam. Jari-jari lentiknya mulai menari di atas tuts-tuts piano hingga menghasilkan sebuah melodi yang sangat indah. Sangat indah! Namun melodi itu berubah menjadi melodi yang mencekam di tengah kesunyian malam.

***

Aeri membuka kedua matanya cepat, seperti yang ia lakukan beberapa hari belakangan ini. Terbangun tiba-tiba setelah mendengar dentingan piano tengah malam. Yeah! Ia mendengarnya lagi, melodi itu lagi. Dan bahkan ia mendengar suara seseorang yang menyebut-nyebut satu nama.

Aeri mengerang, tubuhnya terasa sakit, terutama di bagian kepala dan leher. Diedarkannya pandangan ke sekitar sebelum ia bangkit dan meneguk segelas air mineral di meja kecil di sampingnya. Tapi Aeri mengurungkan niatnya untuk bangkit saat ia melihat sekelilingnya. Jendela yang terbuka lebar dan tirai putih yang tertiup semilir angin pagi.

Alangkah terkejutnya Aeri saat ia mendapati sebuah perapian di kamarnya. Tidak! Ini bukan kamarnya. Aeri segera bangkit dan seketika ia merasa ada angin yang berhembus di sekitar tenguknya dengan cepat.

Ia terperanjat saat mendapati dirinya tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bersandar pada tuts-tuts piano. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa ia terbangun di pagi hari dan mendapati dirinya di ruang tengah? Tertidur di atas piano, padahal semalam ia tidur di kamarnya?

Sial! Aeri rasa dirinya memang sudah gila!

***

Jari-jari lentik gadis itu menari dengan cepat di atas tuts-tuts piano, mengalunkan sebuah melodi indah.

“Aeri -ya, are you okay?”seorang namja tua bertubuh sedang dan tinggi menginterupsi permainan Aeri . Tapi yang diajak bicara tak bergeming, ia terus memainkan piano dengan tatapan kosong entah ke mana. Meskipun jari-jarinya terus menciptakan melodi, namun tidak seindah seharusnya karena ada beberapa nada yang turun dan tak teratur.

Breeenngggg!!!!

Gadis itu menekan beberapa nada asal secara bersamaan sehingga menimbulkan bunyi kasar yang menggema di seluruh ruangan. Ia menghela nafas “I’m sorry  Mr.James, aku tidak bisa fokus .” Aeri mendongakkan kepalanya, menatap tutor-nya yang sedari tadi berada di sampingnya.

Wajahnya dipenuhi kekecewaan. Aeri tahu permainannya akan semakin buruk jika ia terus-terusan dihantui suara piano tengah malam itu. Namja berdarah campuran Inggris – Canada itu memandangi Aeri dengan mata birunya. Kedua alisnya bertautan seiring dengan jari telunjuk dan jempol kanannya yang mengelus dagu.

What’s happen?” Mr.James dengan tubuhnya memaksa Aeri untuk menggeser duduknya, kemudian duduk di bangku kayu hitam di samping Aeri . Meskipun namja berdarah campuran itu bisa berbahasa Korea, namun ia lebih memilih untuk berbicara dalam bahasa ibunya sendiri.

I don’t know, I justa little bit depress.” Ungkap Aeri dengan suara tertahan. Ia menatap mata biru sang tutor,  berharap tutor-nya bisa memberikan solusi atas masalahnya.

Mr.James tersenyum, jari-jari panjangnya mulai menekan-nekan beberapa nada indah yang Aeri tau adalah Prelude No. 4 milik Chopin. “Aeri -ya… when I was on your age. I remember that I was so passionate, I played better than my friends,” Mr.James menghentikan kalimatnya, jari-jarinya terus memainkan Prelude No.4 yang bernuansa sedih.

Mr.James menengadahkan wajahnya, kedua matanya terpejam seolah ia tengah kembali ke masa yang ia ceritakan. “I realized that I stood on a crossroad, where I have to choose one of the ways. Being a pianist was my big dream, but…” Namja berambut merah keemasan itu diam, begitu juga dengan Aeri .

I depressed, between pursue my dream as a pianist or leave the dream and life as a normal human being…” Mr.James membuka kedua matanya, kemudian menatap Aeri .

“… but then I realized, I was born to be a pianist. No matter what’s happen, no matter how depress I was, “ Mr. James menekan beberapa nada bersamaan dengan tekanan bertenaga. Menghasilkan suara berisik yang menggema tak beraturan.

Ia menghentikan permainannya “I can go through all the ways. And here I am. A famous pianist, I even travel overseas just to play piano.”

Aeri memandang mata biru Mr.James, ia tahu maksud Mr.James baik. Tapi sungguh! Bukan itu yang ia maksud. Sejenak Aeri bertepekur, apa mungkin ia tertekan karena tengah berada dalam persimpangan jalan untuk masa depannya seperti yang dikatakan Mr.James?

Tidak! Ia bahkan tak pernah sedikitpun ragu akan impiannya menjadi seorang pianis terkenal. Kecuali satu orang yang sempat membuatnya ragu, orang yang dulu sempat dikasihinya sepenuh hati.

“Mr.James, it’s-” Aeri tersenyum hambar “I see.” Akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan ceritanya.

 

=TBC=

11 thoughts on “Moonlight Sonata – Part 1

  1. Wooaaaa ayamku lucu disini,haha
    penasaran ma pemain melodi tengah malam nya,td nya aku kira itu jinki,tp bukan ya.. *tebakan aneh.. Lgian jinki kan imut jd agak gmna~ gto jd org misterius.eh

    penasaran penasaran,lanjutan ny d cptin ya cha,,hehe
    menarik crtanya..

  2. Assyiikk mystery lg, castnya jinki lg..
    waahh itu yg main piano siapa?
    trus yg manggil² ‘eleanor’ siapa?
    Eleanor itu siapa?
    Aeri trbangun diatas piano, brarti yeoja yg sblmnya main piano itu Aeri dong, koq dia g sadar yaa? apa Aeri itu Eleanor? jangan² yg slalu main piano tiap malm itu dia sndiri?!
    Eehh key nya blm nongol disini, Oo.. jangan² key yg jd hantunya trus manggil²Aeri dg ‘Eleanor’?
    wahh udah kebanyakan pertanyaan yaa?? hehehe..😀
    penasaran aku, next part ditunggu yaa!!

    • Iyh dong, Ummul. Harus yang misteri *apa deh?*
      kn biar penyegaran dari Archangel yg K-drama banget itu.hha.

      Nah, nah, nah, pertanyaannya ditahan dlu yh. nti akan ter-reveal one by one di tiap part *eciyeehhh*

  3. woah~ grgr dazzling autumn aku jadi tertarik baca ff misteri nih! serasa pengen nebak-nebak jalan cerita berikutnya😀

    aku berasumsi kalo yg main piano itu sbnrnya aeri.-. mngkin si aeri jg main pianonya itu di bwh alam sadarnya, nah loh kebawa dazzling autumn kan-_-

    onkey jadi maincast lageee! tapi key kok blm nongol disini? atau jangan-jangan… yg manggil elanor itu key ya? berarti aeri=elanor?

    aaaah! atau mngkin d khdpn sblmnya mrk pernah bersama? ohh oke ini mulai ngawur-_-

    udah ah komennya segini aja deh eon, aku mau loncat ke part berikutnya:mrgreen:

    • Congratulation, Mahdaa. kmu akhirnya kena virus Dazzling Autumn *biasanya yg abis bca DA, ska kbawa2* .kekekek.
      Nah,nah, nah, pertanyaannya mgkin bsa dicari tau di part selanjutnya.
      Harap sabar nunggu part2 selanjutnya yaa. FF ini masih on going soalnya.kekekek.
      Thank u😀

  4. Annyeong Eun Chaaaaaaaaaa
    #gaknyante

    aku hadir kembali di Lollipop World-nya Eun Cha-ssi.
    ehm, tau2 udh part 3 yg di publish. Untg udh ada Library-nya.

    Yap, ini nih aku demen, Eun Cha-ssi main tebak2an lagi kyk FF sblmnya(read:Clue). Genre begini nih, bikin penasaran.^^

    Woah, gak ngerti mw komen apa, hihi, soalnya FF Eun Cha udh oke sih.^^
    Key-nya belom muncul, tp kalo Main Cast perempuannya si Aeri, b’arti main pasangannya Jinki(keinget Archangel).
    Tp ini FFnya Eun Cha, pasti ada Key juga.

    #skip to next part

  5. saengi…. eon maunya baca FF Jinki duyu, eh, dapetnya yg horor…
    Sumpah, baru baca satu paragraf, eon hampir aja mau stop baca…
    eon gak kuat baca n nonton yg genre beginian….
    nonton MAMA di DVD aja, minta ditemenin keponakan umur 7 th!

    Tapi, tadi, eon sedikit maksa diri… dan akhirnya kesampean jg sampe akhir… #fiuh…
    dan, emang gak nyesel… eon penasaran…. heheheheee….
    Kirain tuh, makhluk tak kasat mata, pemain melodi tengah malam Jinki…
    ternyata bukan….

    eh, tuh, aerinya, reinkarnasi Eleanor atau apa, ya???
    #ngaco, ya…. lanjut dulu, deh….

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s