Moonlight Sonata – Part 2

Moonlight Sonata – Part 2

Main cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Aeri | Kim Ki bum [Key]

Supporting cast :

Choi Minho | Shin Eunyoung

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Thriller, Mystery, Romance

 Rating              : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

Sore itu cuaca sangat bagus untuk menikmati bunga-bunga yang bermekaran di kebun rumah atau di sekitaran kota. Tidak hujan, dan tidak terik.  Aeri  baru saja duduk dengan secangkir lemon tea saat ia mendengar seseorang menekan bel rumah.

Dua kali bel itu ditekan oleh seseorang di luar sana. “Aeri-ya, bisa kau bukakan pintu sayang? Eomma sedang mencuci pakaian.” Aeri tak bergeming ia bahkan baru membuka ‘Eclipse’ milik Stephanie Meyer yang kini ada di tangannya.

Bel itu berbunyi lagi dan cukup untuk membuat Aeri  berdecak kesal, dihempaskannya ‘Eclipse’ di sofa tua berlapis permadani abu sebelum ia beranjak kasar menuju pintu depan.

Inilah salah satu hal paling menyebalkan dalam hidupnya! Ketika semua orang di rumah – selain ia dan eomma nya- tidak pernah peduli dengan hal-hal kecil yang seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh anggota keluarga. Aeri bahkan yakin bahwa kakak perempuannya – Hyun ae eonni– tengah bersantai di kamarnya sambil mendengarkan music player hitamnya yang nampak bodoh.

Annyeonghaseyo.” sapa seorang namja berambut blonde, poni panjangnya nyaris menutupi kedua matanya.

“Oh! Annyeonghaseyo.” gurat kekesalan di wajah Aeri segera berubah menjadi sebuah lengkungan manis, ia kemudian membungkukkan badannya sedikit.

“Aku Kim Kibum, tetangga baru di belakang rumahmu. Oh! aku sudah pernah berkunjung sebelumnya, tapi baru kali ini bertemu denganmu.” namja bernama Kim Kibum itu mengulurkan tangannya setelah ia membungkukkan tubuhnya.

“Ah! Geuroguna. Kim Aeri,“ Aeri  menyambut tangan Kibum untuk bersalaman. “mungkin saat kau berkunjung aku sedang tidak di rumah.” lanjutnya.

Sejenak namja yang tingginya sama dengan Lee Jinki itu menatap Aeri  dengan setelan hotpants garis-garis biru dan t-shirt merah muda berlengan pendek dengan gambar teddy bear di hadapannya.

“Oh! ini, sepertinya mereka salah alamat.” Kibum menyerahkan beberapa amplop berwarna coklat dan putih, beberapa diantaranya berukuran lebih besar dibanding yang lainnya. Aeri  meraih amplop-amplop itu dan membaca beberapa nama yang tertera di bagian belakang amplop.

“Sayang, siapa yang datang?” terdengar suara dari dalam rumah. Aeri  segera mengalihkan matanya dari amplop, membalikkan kepalanya ke sumber suara tanpa mempedulikan Kibum yang masih menatapnya.

“Kim kibum, tetangga baru di belakang rumah.” dengan cepat Nyonya Kim muncul dari dalam rumah, berhambur ke arah namja dengan t-shirt hijau bertuliskan ‘I AM’.

“Oh! Key, masuklah. Aku punya beberapa biskuit dan kudapan lain di dapur.” Nyonya Minmenarik tangan Key . “Yaa! Kenapa kau membiarkannya berdiri di luar?” ia kemudian menepuk tangan Aeri  ringan, meninggalkan Aeri  yang melongo di tempatnya.

Yeoja berusia 45 tahunan itu menarik namja yang diperkirakan seusia dengan anak bungsunya ke dapur. Sementara Aeri  – meskipun ia tampak bingung-  mengekor menuju dapur. Nyonya Kim melepas tangan Kibum saat mereka tiba di dapur , dengan cepat Kibum menarik salah satu kursi terdekat dan duduk.

“Oh! tidak usah repot-repot eomonim.” ucap Kibum begitu Nyonya Kim mengeluarkan beberapa jenis biskuit rumahan dan mengeluarkan cangkir putih bermotif bunga dari lemari di atas bak cuci.

Gwaencanha, kebetulan tadi siang aku membuat biskuit-biskuit ini. Oh! kuharap kau suka biskuit rumahan.” Nyonya Kim menyendokkan gula ke dalam cangkir, sementara matanya menatap Kibum.

“Suka sekali.” Kibum tersenyum manis kemudian mengambil salah satu biskuit berwarna coklat dalam piring dan menggigitnya kecil. Kibum memang suka makanan yang manis sejak ia kecil, begitu juga dengan biskuit rumahan yang ia pikir bentuk, rasa, dan aromanya selalu khas.

Biskuit berbentuk bulat dan sangat-sangat lebar, nyaris selebar piring kecil yang biasa digunakan sebagai alas cangkir. Selalu ada taburan chocochip di atasnya. Jika tidak, ia sangat suka aroma susu coklat yang telah tercampur dalam biscuit. Ia suka pada chocochip yang setengah menempel pada biskuit.

“Euh… eomma, surat-suratnya kusimpan di meja di ruang tamu. Aku akan kembali ke ruang tengah. Dan Oh! senang berkenalan denganmu Kibum-ssi.” Aeri  membungkukkan badannya ke arah Kibum kemudian membalikkan tubuhnya, hendak meninggalkan dapur.

Kibum batal menggigit kecil biskuitnya “Key, panggil saja aku Key. It’s nice to meet you too.”  Aeri  berlalu begitu saja dan kembali ke ruang tengah, melanjutkan ‘Eclipse’ yang tertunda.

Beberapa menit berlalu, Aeri baru menyelesaikan 20 halaman ‘Eclipse’, tapi entah mengapa antusiasnya untuk menguak romantisme dalam buku itu menguap begitu saja. Pikirannya tidak bisa fokus.

Sejujurnya, tujuan utama ia membaca buku adalah untuk mengalihkan perhatiannya pada suara-suara piano yang sering ia dengar tengah malam. Tapi ia gagal. Mungkin memilih tempat di mana piano itu berada adalah pilihan yang salah. Sedari tadi mata Aeri tak henti melirik piano hitam yang berdiri kaku di sudut dekat perapian.

Aeri  bergerak perlahan mendekati piano hitam yang sudah berada dalam rumah itu sebelum ia dan keluarga menempatinya. Ada ketakutan dan keraguan saat Aeri mendekati piano. Dilemparnya ‘Eclipse’ ke atas sofa, kemudian kembali melangkah mendekati piano.

Kini ia telah berada di samping piano hitam yang entah mengapa jadi terlihat mengerikan bagi Aeri. Dengan ragu ia menyentuh beberapa tuts piano asal, menimbulkan melodi yang tak beraturan pula.

Teng…

Aeri  merinding, ia kembali mengingat dentingan piano tengah malam itu dan beberapa hal menakutkan menyangkut suara piano tengah malam. Benarkah piano ini yang berdenting setiap malam? Benarkah ada seseorang –tak terlihat – yang memainkannya setiap malam? Siapa? Mengapa? Mengapa hanya Aeri yang mendengar suara itu?

Dengan cepat ia menepis pikiran-pikiran anehnya, ia mulai duduk di bangku kayu, kedua tangannya bersiap memainkan sebuah melodi. Dipejamkannya kedua mata seiring dengan dihembuskan nafas panjang.

Teng…

Teng…

Jari-jari lentik Aeri mulai menari di atas tuts-tuts piano yang lama kelamaan menghasilkan sebuah melodi indah. Sesekali jari-jarinya bergetar di tengah-tengah permainan, ada sesuatu yang membuatnya takut saat memainkan melodi itu. Melodi yang selalu terdengar tengah malam, melodi yang sama yang akan dimainkannya dalam perlombaan ‘The Pianist’. Melodi Moonlight Sonata  milik Ludwig Van Beethoven.

Brengggg!!!!!

Aeri  menekan beberapa nada bersamaan dengan keras dalam satu hentakan. Menimbulkan suara gaduh yang memekakan gendang telinga. Ia kembali memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Sial! Ia terlalu takut untuk melanjutkannya. Jika seperti ini, bagaimana ia bisa tampil sempurna dalam perlombaan?

Plok..plok..plok..

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari daun pintu, membuat Aeri dengan cepat memalingkan wajahnya ke sumber suara.“Oh! Kau.” Aeri  berjengit, ekspresi khawatirnya segera hilang.

“Bagus sekali! Kenapa kau tidak melanjutkannya?” tanya Key yang masih bersandar pada bingkai pintu, ia kemudian melangkah menuju sofa tua berlapis permadani abu dan duduk di sana.

“Oh! aku… nothing.” jawab Aeri tergagap, ia beranjak dari bangku kayu dan berjalan mendekati Key.

Mianhae mengganggumu, aku tidak bermaksud menguping. Eomma-mu menyuruhku kemari dan berbincang sedikit denganmu, dan aku melihatmu bermain piano. Sungguh indah! Maka kuputuskan untuk menikmatinya, lagipula kelihatannya kau tidak menyadari kedatangnku.” ujar Key panjang lebar.

“Ah! Geuroguna! Aku memang tidak menyadari kedatangnmu. Jadi…” Aeri  menatap Key, ia menggantungkan kalimatnya karena tidak tahu apa yang akan ia bicarakan dengan orang asing yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Dan Oh! mengapa eomma-nya begitu baik pada namja berambut blonde ini?

“Sebenarnya aku juga memang ingin mendengarkan permainan pianomu, eomma-mu bilang kau seorang pianis dan tergabung dalam orkestra.” Aeri  berjengit, ia bisa menebak bahwa eomma-nya telah menceritakan banyak hal pada Key.

Key terus berbicara, sementara matanya berkeliling memandangi benda-benda yang ada di ruang tengah. “Aku baru pindah dari Daegu dua minggu yang lalu, aku suka musik klasik dan waltz tapi sayang tidak bisa memainkan alat musik apapun dengan baik. Dan aku senang saat mendengar permainan pianomu saat pertama kali aku menempati rumahku.” kini Key kembali menatap Aeri  yang masih berdiri di sampingnya.

“Oh! Thanks.” Aeri  tersipu, wajahnya sedikit memerah karena pujian Key.

“Lagu yang kau mainkan barusan-”

“Moonlight Sonata.” potong Aeri  cepat.

“Yeah! Moonlight Sonata, sangat indah! But, you know? It sounds creepy when you play it in the middle of night.”

Deg!

Jantung Aeri  berdebar, matanya menatap Key tajam. Tengah malam? Seingatnya ia tidak pernah memainkan piano tengah malam, jam termalam untuk pianonya adalah jam 8- setelah makan malam selesai. Di atas jam itu, Aeri  tidak akan menyentuh pianonya.

“Kau mendengarnya tengah malam?” Key hanya mengangguk ringan.

“Kapan kau mulai mendengarnya?”

“Hemm… I’m not sure butIt was two weeks ago I think.”

Aeri  hanya diam. Benar! Ia tidak berhalusinasi, bahkan ada orang lain yang mendengar suara piano itu.Pasti ada sesuatu di balik semua ini.

Are you okay?” Key telah berdiri di hadapan Aeri  sambil melambai-lambaikan tangannya. “Ah!” lamunan Aeri  buyar. Ia menatap Key, tapi pikirannya masih dipenuhi hal mengenai suara piano.

Mata Aeri  mengikuti arah Key yang tiba-tiba berjalan menuju piano. Namja itu duduk di bangku, kesepuluh jari tangannya diangkat setinggi tutus piano seolah akan memainkan piano. Aeri  mengangkat kedua alisnya bingung. “Sebenarnya aku bisa memainkan satu lagu.” terang Key, ia tersenyum sebelum akhirnya memainkan kesepuluh jari lentiknya di atas tuts-tuts piano.

Teng…

Teng…

Aeri  melongo, permainan Key tidak buruk. Tapi bukan hal itu yang membuatnya melongo. Key berjalan mendekati Aeri  setelah ia selesai memainkan melodi yang hanya berdurasi 50 detik itu.

“Tidak buruk bukan?” tanya Key.

“Itu, “ Aeri  memandang Key ngeri “itu lagu yang dimainkan dalam credit film The Ring kan?” Aeri  memastikan.

That’s Right!” Key tersenyum puas, ternyata pianis musik klasik itu tahu lagu yang dimainkannya. Key tertawa renyah, “Kau tahu? adegan yang paling kusuka adalah saat hantu wanita itu muncul dari dalam sumur tua, kemudian berjalan dengan tulang pinggangnya yang telah patah. Tak lama, ia akan keluar dari tv. That’s the best part!!!”  Aeri  memaksakan seulas senyum. Apa namja ini punya kelainan? Bagaimana bisa adegan seperti itu menjadi adegan yang paling ia suka? Sinting!

Well, sepertinya aku harus kembali ke rumahku. Oh ya! Kapan-kapan undang aku menonton orkestramu.” Aeri  hanya tersenyum, ternyata Key adalah tipe orang yang cepat akrab dan mudah berteman dengan siapa saja. Tapi di samping itu Aeri  bergidik ngeri, bagaimana bisa namja itu belajar memainkan lagu mengerikan seperti tadi? psikopat! umpat Aeri dalam hati.

Key berjalan ringan menuju daun pintu, kemudian berbalik saat ia nyaris sampai. “Oh! kau boleh berkunjung ke rumahku kapan-kapan. Aku akan dengan senang hati memamerkan beberapa trophy dan medali ski airku,“ Key mengangguk-anggukkan kepalanya ringan, sementara ia tersenyum penuh percaya diri.

“Tidak banyak, tapi kurasa cukup untuk membuatmu kagum padaku.” Aeri membelalakkan matanya . Lucu sekali! Namja di hadapannya memang lucu.

See ya!” Key menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya di dekat alis, kemudian mengangkat kedua jarinya seiring  dengan dikedipkan mata kirinya. Aeri  hanya tersenyum geli, dan menatap Key hingga namja itu menghilang. Oh! bahkan Key telah berhasil membuat rasa takut Aeri  pada Moonlight Sonata hilang karena permainan pianonya yang jauh lebih mengerikan.

Aeri  memutuskan untuk menyudahi membaca buku ataupun bermain piano, sepertinya tidur sore hari akan membuatnya lebih baik.

***

Namja bermata besar itu menatap pasiennya dengan seksama. Sementara pasien yang mengenakan cardigan abu dan mini skirt putih itu menatap tak sabaran. “Oh! jangan katakan bahwa aku berhalusinasi lagi.” yeoja itu mendengus kesal.

“Aku tidak mengatakannya.” jawab si namja tegas, ia tengah berpikir keras. Tapi konsentrasinya terganggu karena pasien yang masih setengah terbaring di kursi pasien itu tak hentinya berdecak kesal.

Akhirnya namja itu menghela nafas panjang “Kau hanya perlu istirahat lebih banyak, berhentilah bermain piano.” ia menatap yeoja yang kini menghujamnya dengan pandangan penuh emosi.

Geumanhae Choi Minho! I’m sick and tired of this!” yeoja itu beranjak dari kursi pasien dan hendak meninggalkan ruang periksa.

“Kim Aeri! Dengarkan aku!” Minho menahan satu tangan Aeri, sementara Aeri  tak terlihat ingin berlama-lama lagi dalam ruangan itu. “Aku ini psikiatermu! Kumohon dengarkan aku, dan menurutlah padaku.” Minho terlihat kesal, tapi ia berusaha untuk bersabar dan menahan dirinya untuk tidak marah.

Mwo? menurutimu? Kau tidak mengerjakan tugasmu sebagai psikiaterku. Apa yang kau katakan? Berhenti bermain piano? Oh! holly shit! Bukankah itu yang kau inginkan dari dulu?” emosi Aeri  meledak-ledak seperti biasanya.

“Kim Aeri, kumohon jangan bawa-bawa masalah pribadi kita. Itu sudah berakhir.” sekali lagi Minho berusaha untuk menahan amarahnya, meskipun sebenarnya kata-kata Aeri membuatnya kesal.

“Bagus jika kau mengingatnya, Dokter. Seharusnya kau juga ingat bagaimana hubungan kita berakhir dengan sangat buruk.” mendengar itu Minho hanya memalingkan wajahnya sekilas dan tersenyum hambar.

Geumanhae! Aku serius,beristirahatlah dan,” Minho menggantungkan kalimatnya, pandangannya berpindah ke lantai marmer merah tua dalam ruangannya. “Kurangi latihanmu, itu akan membuatmu lebih baik. Percayalah. Oh! dan berhentilah membaca fiksi.”

***

Aeri  duduk di jok samping pengemudi, ia hanya diam. Tak henti mengutuki dirinya dalam hati, betapa bodohnya ia saat membentak Minho di ruang periksa tadi. Ia seharusnya bisa menahan emosi, terlebih saat ini ia dan Minho sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi selain Dokter dan pasien. Benar! Hubungan cintanya dan Minho sudah berakhir lama, dan penyebab utamanya adalah permintaan Minho agar Aeri berhenti bermain piano.

“Hidupmu terlalu berharga untuk menjadi seorang pianis, aku tidak suka melihatmu lelah dan tertekan. Berhentilah bermain piano dan menikah denganku.”

Satu kalimat panjang itu kembali terngiang di telinga Aeri. Betapa bodohnya Minho telah mengatakan itu pada Aeri. Minho berdeham pelan, berusaha mencairkan atmosfer yang terasa kaku “Obat yang kuberikan… kau masih memilikinya?”

Aeri  menatap Minho “Ah! Masih ada beberapa butir lagi. Yeah… kurasa.” jawab Aeri  ragu. Ia tidak ingat apakah obat yang diberikan Minho masih tersisa atau tidak. Tangan kanan Minho membuka dashboard dan mengambil tabung plastik kecil berisi tablet-tablet kecil berwarna kuning pucat.

“Simpanlah. Dan minum saat kau memerlukannya saja.” Minho menyodorkan tabung plastik tadi ke arah Aeri yang disambut Aeri cepat.“Thanks.”

Minho menepikan mobilnya saat mereka tiba di depan sebuah rumah bergaya Eropa kuno –Quenn Anne- yang didominasi oleh batu-batu pualam berwarna abu. “Kita sudah sampai.” dengan cepat Aeri  melepas sabuk pengamannya, membuka pintu mobil dan segera berlari kecil setelah mengucapkan terimakasih. Aeri  baru saja hendak menuju pagar tinggi rumahnya saat Minho telah keluar dari mobil dan menghadangnya

“Soal yang tadi itu,” Minho menggantungkan kalimatnya kemudian menatap Aeri, sementara Aeri  hanya menatap kerah coat Minho. “Aku minta maaf telah mengatakan hal itu padamu. Dua tahun yang lalu, beberapa bulan yang lalu, minggu yang lalu, hari yang lalu, bahkan jam yang lalu. Aku tidak bermaksud menghancurkan mimpimu, aku-”

“Sshhttt!” telunjuk Aeri telah menempel di bibir Minho, pertanda agar Minho tidak melajutkan kalimatnya. Aeri tidak suka jika Minho membahas hal itu lagi dan menyalahkan dirinya karena kebodohan di masa lalu. Namun Aeri  segera menarik telunjuknya begitu mata mereka bertemu.

Geumanhae! Itu sudah berlalu. And I’m sorry for my bad attitude this evening. Bye!” Minho menarik tubuh Aeri sebelum Aeri sempat menyentuh pegangan pagar. Ragu-ragu Aeri berusaha menatap mata Minho, sementara ia membiarkan Minho mendekap tubuhnya.

Aeri  mengerjap-ngerjapkan matanya dan dengan cepat, menghindari mata Minho saat namja itu terus mendekat ke arahnya. Tidak! Ia tidak boleh melihat mata bulat dan wajah yang tampan itu lagi. Tidak boleh! Aeri menatap kerah coat Minho, sementara Minho terus merengsek mendekati wajah Aeri.

Nyaris saja Minho menjangkau bibir Aeri saat yeoja itu memalingkan wajahnya.Minho melengos, hatinya sedikit sakit. Ternyata tidak mudah menjadikan Aeri miliknya lagi seperti dulu. Ingin sekali berteriak untuk meluapkan kekecewaannya. Berteriak untuk menyesali kebodohannya dua tahun yang lalu.

Minho tersenyum hambar,  akhirnya ia mengelus pipi kanan Aeri dengan tangan kirinya yang telah berada di sana.“Masuklah!” Aeri tak berkata apa-apa, ia hanya membungkukkan badannya ringan kemudian membuka pagar.

“Oh! katakan pada eomma -mu aku tidak masuk karena sudah malam.”

“Eh?”

Minho mengacungkan telunjuknya rendah, menunjuk salah satu kamar di lantai dua yang lampunya menyala. Meskipun tidak jelas, tapi terlihat sosok yang mengintip dari balik tirai berwarna ungu tua dari kamar paling depan di lantai dua.

Aeri  mengikuti arah telunjuk Minho “Ah! Geurae.” Minho segera masuk ke dalam mobil dan melesat meninggalkan pelataran rumah tersebut setelah Aeri masuk.

***

Teng…

Teng…

Aeri membuka matanya cepat, seketika kesadarannya segera kembali begitu ia mendengar dentingan piano dari ruang tengah. Yeoja itu memasang telinganya lebih tajam, memastikan bahwa suara itu benar-benar suara piano. Melodi itu terus mengalun di tengah malam yang sunyi.

Tidak salah lagi! Aeri  tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Dengan cepat ia meraba sesuatu yang ia taruh di meja kecil di sampingnya. Diraihnya tabung kecil dan mengeluarkan beberapa tablet berwarna kuning pucat dengan tangan gemetar, membuat isinya berhamburan ke lantai.

Aeri segera menelan beberapa tablet yang berhasil jatuh ke tangannya, ditelannya bulat-bulat sebelum ia meneguk segelas air dengan cepat.

Dak! Gelas tinggi itu disimpan begitu saja, menimbulkan suara keras. Ditariknya selimut merah muda hingga menutupi seluruh tubuhnya. Aeri  berusaha memejamkan matanya dan tertidur, tapi sia-sia! Obat yang diberikan Minho sama sekali tidak membuatnya merasa lebih baik, malah semakin kacau. Dentingan piano itu terdengar lebih nyaring.

“Eleanor…”

“Eleanor…”

Deg!

Aeri  menutup kedua matanya rapat-rapat saat ia mendengar bisikkan kecil yang menyebut satu nama.

“Datanglah padaku…” Bisikkan itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Tubuh Aeri  semakin menggigil, bahkan gigi-giginya menimbulkan suara gemeretak kecil karena getaran dari tubuhnya. Aeri menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, berusaha mengalihkan suara piano dan bisikan aneh itu dari telinganya.

“Eleanor…”

“Eleanor ku sayang…” Bisikkan itu semakin dekat, disertai derap langkah kaki yang teratur mendekati kamar Aeri . Aeri  menggeleng-gelengkan kepalanya di dalam selimut.

Get out from me…”

Get out from me…”

Get out from me…”

Aeri  menggumamkan kalimat itu beberapa kali.

“Eleanor…” Bisikkan itu semakin mendekat dan terus mendekat, seolah sang pemilik suara kini berada di samping Aeri .

Get out from me…”

Tubuh Aeri semakin menggigil, dengan rasa takut ia memberanikan diri membuka kedua matanya. Aeri seolah mati rasa, ia hanya mampu membelalakkan kedua matanya pada bayangan yang terlihat dari balik selimut. Ada seseorang di sana!

“Eleanor…”

“Mainkan Sonata C dalam minor sayang…” Bisikkan itu terdengar lagi seiring dengan bayangan yang semakin mendekat dan seolah menggapai selimut Aeri. Tubuh Aeri semakin menggigil, ia tidak bisa lagi menahan rasa takutnya. Kedua matanya kembali ditutup rapat-rapat, sementara kedua tangannya menutupi telinga.

“Eleanor…”

“Eleanor…”

SHIKKEURO!!!!” Aeri berteriak sejadi-jadinya, seiringan dengan gerakan otot mata yang membuat kedua matanya terbuka dengan cepat. Nafas Aeri  memburu, keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya.Sunyi.

Lamat-lamat terdengar suara burung pagi, disertai seberkas sinar menyilaukan yang menelusup melalui celah-celah jendela. Aeri menatap langit-langit kamarnya, kedua bola matanya bergerak-gerak menyusuri langit-langit kamar.

“Sayang, apa yang terjadi?” seketika pintu kamar terbuka, Nyonya Kim dengan apron birunya telah berdiri di daun pintu. Aeri masih menatap eomma-nya, kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

Gwaencanha?” Nyonya Kim segera berhambur ke arah Aeri dan duduk di samping ranjang. Aeri masih diam, berusaha mengatur nafas dan mengembalikan kesadarnnya.

“Kau mimpi buruk?” eomma -nya kembali bertanya. Aeri diam beberapa detik, kemudian berusaha bangkit dan duduk bersandar pada ranjangnya. “Gwaencanha?” Nyonya Kim menyentuh pundak putri bungsunya.

Nafas Aeri mulai terautur, keringat tak lagi mengucur membasahi tubuhnya meskipun tubuhnya masih lengket karena bermandikan keringat. Perlahan kesadaran Aeri kembali dan ia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban atas pertanyaan eomma- nya.

“Kau mimpi buruk sayang, sekarang segeralah mandi dan sarapan. Eomma membuat kentang panggang keju.” ia memeluk putri bungsunya sebelum ia berlalu begitu saja.

Aeri beranjak dari ranjangnya, sesaat ia masih terduduk di tepi ranjang meskipun kedua kakinya telah mengenakan sandal berbulu. Ia menunduk, kedua tangannya menopang keningnya. Sepertinya itu memang hanya sebuah mimpi buruk. Yeah! Hanya mimpi buruk. Minho benar, ia harus lebih banyak beristirahat dan menjauh dari piano untuk beberapa saat.

Aeri baru saja menyetujui bahwa itu adalah sebuah mimpi buruk saat kedua kakinya menginjak butiran-butiran tablet berwarna kuning pucat yang bertebaran di lantai. Tidak! Ia tidak bermimpi. Obat-obat itu berceceran karena ketakutannya semalam. Ia ingat saat obat yang ia minum sebelum tidur itu tidak membuatnya lebih baik dan memutuskan untuk meminum beberapa butir lagi saat terbangun tengah malam.

Aeri  memutar kepalanya ke arah meja kecil di samping ranjang. Gelas tinggi yang kosong. Ia tidak bermimpi, sungguh! Sepertinya ia harus menemui Choi Minho lagi. Sial!

***

“Heii, sampai kapan kau akan mengaduk minumanmu seperti itu?” yeoja berambut hitam panjang itu memandang sahabat di hadapannya. “Ne?” sahabatnya berhenti mengaduk minuman dan menatap si yeoja heran.

“Aish! Dari tadi kau hanya mengaduk-aduk minumanmu dan aku yakin kau tidak mendengarkan apa yang kubicarakan. Jinjja! Menyebalkan sekali.” dengus yeoja bernama Shin Eunyoung.

“Oh! Mianhae Eunyoung-ah, tadi kau bicara apa?” Aeri menatap Eunyoung, merasa bersalah karena telah melamun padahal ia tahu Eunyoung sedang menceritakan sesuatu. “Sudahlah! Aku sudah malas menceritakannya lagi.”

“Oh!Mianhae.” Aeri menatap Eunyoung dengan mata sayu dan menyesal. “Dwaesseo! Kau memikirkan suara piano itu lagi?” tanya Eunyoung seraya menyeruput frappe cappuccino-nya yang tinggal setengah. Aeri hanya mengangguk lesu, sementara pandangannya kembali pada soda berwarna coklat yang kembali ia aduk-aduk.

“Kau sudah menemui Minho?” Aeri mengangguk lagi.

“Apa katanya?” Eunyoung menaruh gelas tingginya, kini ia terlihat antusias.

“Aku perlu istirahat dan,” Aeri menghentikan kalimatnya, kemudian menatap Eunyoung. “Berhenti bermain piano.” lanjut Aeri jengkel.

“Oh! Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan!” umpat Eunyoung. Aeri kembali mengaduk minumannya sementara Eunyoung kembali pada frappe Cappucino-nya. Keduanya mulai sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Aeri-ya, tidakkah kau sebaiknya mencari tahu tentang siapa itu Eleanor?” kata Eunyoung akhirnya setelah ia selesai dengan frappe cappuccino. Aeri mengangkat wajahnya, menatap Eunyoung dengan mata berbinar.

Brilliant! Mengapa tidak pernah terpikirkan olehnya? umpat Aeri dalam hati. “Brilliant!” kini Aeri meneguk minuman yang sedari tadi hanya diaduk-aduknya.

“Yaa!!Yaa!! pelan-pelan Kim Aeri! Itu soda!” pekik Eunyoung melihat sahabatnya meminum soda dengan sangat cepat.

Dak!

Aeri menaruh gelasnya yang telah kosong ke atas meja. Wajah suramnya telah berganti menjadi wajah penuh asntusias yang berbinar-binar. “Gwaen….canha?” Eunyoung sedikit khawatir melihat sahabatnya yang berubah drastis hanya karena satu kalimat darinya. Aeri menghembuskan nafas panjang dan memejamkan matanya sesaat. Kemudian menatap Eunyoung mantap “Kau mau membantuku mencari tahu tentang Eleanor?”

Seketika ekspresi wajah Eunyoung berubah, rasa khawatir di wajahnya telah hilang. “Oh! Tapi tidak sekarang Kim Aeri, aku ada kencan dengan Kim Jonghyun. Dan lagipula aku ini takut hantu.” Eunyoung melirik arloji di tangan kirinya kemudian beranjak.

Aeri memutar tubuhnya mengikuti arah Eunyoung “Siapa Kim Jonghyun? Oh! jangan katakan dia pacar barumu!” umpat Aeri. Eunyoung hanya tersenyum “Bye!” ia melambaikan tangannya tanpa berbalik menghadap Aeri. Aeri hanya melongo di kursinya, memandangi punggung Eunyoung, hingga akhirnya yeoja itu meghilang dari pandangan Aeri.

***

Brenggggg……

Yeoja itu menekan beberapa nada bersamaan dengan penekanan yang terlalu dalam, sehingga menghasilkan suara berisik yang memekakan telinga. Ia memejamkan matanya, dengan penuh konsentrasi ia berusaha menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sementara namja jangkung berambut blonde kemerahan yang sedari tadi berdiri di sampingnya mulai berdecak kesal.

I’m sorry.” ucap Aeri akhirnya, ia hanya mampu menatap wajah tutor-nya dengan penuh penyesalan. Kurang dari dua minggu perlombaan ‘The Pianist’ akan dilaksanakan, tapi rasa takut Aeri pada melodi indah milik Beethoven belum juga hilang. Alih-alih bermain lebih baik, Aeri justru tidak pernah bisa mencapai setengah jalan dari enam menit Moonlight Sonata yang harus dimainkannya nanti.

Mr.James duduk di sofa putih tak jauh dari Aeri, ia mendesah ringan “What’s wrong Aeri?” Aeri menundukkan kepalanya, menatap tuts-tuts hitam dan putih yang masih disentuh oleh jari-jarinya.

I don’t know.” hanya kalimat itu yang mampu Aeri berikan sebagai alasan pada Mr.James. Ia tahu Mr.James kesal dengan permainan piano Aeri beberapa hari ini, dan ia akan sedih jika Aeri tidak bisa mengikuti perlombaan itu. Aeri beranjak dari piano hitamnya, kemudian duduk di samping Mr.James.Ia hanya mampu menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya ia rapatkan.

 Ia tidak mengerti mengapa ia begitu takut memainkan Moonlight Sonata. Jika ia masih tidak bisa menyelesaikan Moonlight Sonata saat perlombaan nanti, jangan harap ia akan menjadi pianis dan keluar dari orkestra.

Aeri baru saja hendak membuka mulutnya saat Mr.James mendahuluinya “All you need is rest,” tangan kanan Mr.James yang besar menggenggam kedua tangan Aeri. Aeri mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Mr.James. “Take a rest.” lanjut Mr.James, kali ini ia mengeratkan genggamannya di kedua tangan Aeri.

Seulas senyum terukir di wajah Mr.James, senyuman mendamaikan dari orangtua pada anaknya. Seolah memberikan cahaya pada hati Aeri yang terasa gelap dan mencekam. “Thanks.” Aeri membalas Mr.James dengan senyuman terbaiknya.

***

Sesekali Minho melirik arloji di tangan kirinya, sedikit lagi pekerjaannya akan selesai dan ia bisa pergi untuk makan siang. Dan Oh! Jam makan siang bahkan sudah lewat. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hari ini, banyak sekali pasien yang datang dan berkonsultasi.

Minho mengangkat wajahnya dari tumpukan kertas yang tengah ia tulisi sesuatu saat pintu ruangannya diketuk.“Oh! Masuklah!” Minho segera menghentikan pekerjaannya saat kepala seorang yeoja menyembul dari balik pintu.

Dengan sebuah senyuman sungkan yeoja itu berjalan menghampiri Minho dan duduk di kursi di hadapan Minho. “Kau tidak meneleponku dulu, eh?”

Sejenak yeoja itu terlihat ragu, ia memutar bola matanya. Menatap benda-benda yang ada di meja Minho. “Mianhae mengganggu waktu sibukmu, aku,” yeoja itu menggantungkan kalimatnya, matanya beralih pada mata besar Minho. “Aku benar-benar membutuhkanmu.” lanjut yeoja itu, membuat Minho menatap curiga.

Minho segera merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya, memasukkannya ke dalam satu map besar berwarna hitam. “What’s happen?” tanya Minho, sementara ia berusaha untuk tenang.

Perlahan Aeri mulai menceritakan bagaimana suara-suara piano itu mengganggunya. Berkali-kali ia menekankan bahwa ia tidak gila dan tidak sedang berhalusinasi, ia yakin pastilah ada sesuatu di balik ini semua. Begitu juga bisikan-bisikan kecil yang memanggil-manggil nama Eleanor dan terus memintanya untuk memainkan Moonlight Sonata. Suara Aeri mulai bergetar dan ia menghentikan kalimatnya saat tangisan itu pecah.

Ditatapnya Minho dengan mata sembabnya, berharap Minho tidak lagi menganggapnya tertekan karena persiapan lomba. Tapi Minho hanya diam, ia memandangi Aeri dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Aeri.

I’m not crazytrust me Minho-yapleaseplease…” Aeri menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara suaranya telah tenggelam dalam tangisan. Dengan cepat Minho beranjak dari kursinya, berhambur ke arah Aeri dan memeluk yeoja itu. Aeri terisak saat Minho membenamkannya dalam pelukan hangat Minho yang nyaris ia lupakan.

“Sshhttt! I believe in you, Baby. Uljima.” Minho mengusap kepala Aeri lembut, berusaha menenangkan yeoja itu. Sementara pikiran Minho mulai memutar ulang seluruh cerita Aeri. Eleanor? Moonlight Sonata?

Minho sempat berpikir bahwa Aeri mengalami tekanan jiwa yang cukup hebat karena persiapan perlombaan yang menyebabkan ia berhalusinasi. Tapi jika itu yang terjadi, seharusnya Aeri berhalusinasi bahwa piano-piano itu yang memanggilnya untuk terus bermain, bukan bisikkan seseorang yang menyebut nama Eleanor. Lagipula, siapa itu Eleanor?

Aeri melonggarkan dirinya dari pelukan Minho, ia tidak tahu sudah berapa lama ia menangis. Yang jelas ia merasa lelah dan mengantuk. “Mianhae.” bisik Aeri.

Gwaencanha, feeling better? Hemm?” Minho menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Aeri. Dan Aeri hanya mengangguk ringan sebagai jawaban atas pertanyaan Minho. Ya Tuhan! Minho benar-benar merasa iba pada yeoja di hadapannya, selama ini ia mengenal Aerisebagai sosok periang dan sedikit angkuh. Satu satunya hal yang Minho tahu bisa membuat Aeri sangat sedih adalah saat eomma Aeri masuk rumah sakit.

Well, ada banyak hal janggal yang Minho tangkap dari cerita Aeri. There must be something wrong,  pikirnya.“Tenanglah, kita akan melakukan sesuatu untuk itu.” lanjut Minho lagi.

Minho berjalan menuju cabinet di belakang mejanya, meraih tas hitamnya “Oh! Kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan bersama?” Sejenak Aeri hanya memandang Minho, dan sedetik kemudian ia segera mengiyakan ajakan Minho. Oh! sudah berapa lama mereka tidak makan bersama? Mengapa rasanya ia rindu sekali untuk makan bersama Minho?

=TBC=

7 thoughts on “Moonlight Sonata – Part 2

  1. Pertanyaan”ku dipart 1 msh blm trjwab nihh!!
    tp stidaknya dipart ini bs dpastikn klo key bkn hantu, sprti yg aku pkirkn dipart 1 hehe., tp ttp msh penasaran ma key di sini.
    next part ditunggu thor😉

  2. huaaa~ Finally pt. 2!
    dan… ternyata author suka nonton the ring juga ? sama dong!😄 ‘-‘)/
    huaa ada key nya jugaa~
    Okey, Ditunggu next part ff Archangel + Moonlight Sonata nya!!^^
    fighting^^9

  3. Misteri nya belum terungkap,,malah makin rumit,bingung nebak.plaakk
    euncha ky guru fisika(?), pinter bgt nguras otak aku.lol
    clue ny udah dpt lagi,tp msh blm yakin… Haha jd suka main detektif.plaak

    ehm..ehm..key agak mencurigakan, adduuhh msa scene ky gtu dia ska,mengerikan…

    Eh jinki g muncul ya disini,pasti lg sibuk ma neng ayam *dirajamMVP..

    Lanjutkan euncha… Harus cepat lagi.hehe
    FIGHTING ^^

  4. Key….
    Satu2nya orang yg bisa dicurigai.. Gmn bisa dy malah suka sm yg bgituan,
    #pegang dagu sambil manggut2

    Eh, Minong jadi ex-bf Aeri?
    Kirain bakalan sm siapa gitu..
    Errr…. Minho gak percaya kyknya ya sm curhatan Aeri. #poorAeri

    snifft..snifft..
    Aku mencium aroma cinta segitiga nih.

    Ada Taemin gak ya?hehe#jiwaTaemintssayakumat

  5. ampuuunnn…..
    Demi scene The Ring si hantu keluar dr TV yg buat aku shock dan parno satu bulan…
    aaaaahhhhhh…….
    Ni FF buat merinding, saeng….. #jambak Eun Cha….

    Jantung eon dugeun2… bacanya….
    eon gk suka misteri n horor….. bangettt!!!!
    Tapi kenapa eon mau baca lagi pert selanjutnya….????
    andweee…..

    Kayaknya krn eon penasaran, Jinki nya mana???
    Dia main cast tapi gk muncul2..
    Posternya pun tampang Jinki yg dipasang….
    kok, dia ngilang????

    Apa emang dia sosok si pianist tak kasat mata…???
    apa justru si tetangga baru????
    atau malah eomma Aeri sendiri..???!!#@^%&*()_-=.<"'
    #ditinggal eun cha…..

    OK, tuh, tebakan yg terakhir paling gak masuk akal…
    udah ah, eon mau lanjut dulu…
    eh, ntar…, mau minum dulu…. masih deg2an….

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s