Jendela

SONY DSC

Pukul 22:29 malam saat aku menulis di atas halaman kosong ini. Tidak terlalu malam bukan, jika aku menceritakan sebuah kisah padamu. Hanya salah satu kisah yang tiba-tiba kuingat saat siang ini hujan badai membuat seisi kamarku porak poranda.

Kamarku tidak terlalu luas, ukurannya 3×4.5 meter. Bentuknya bukan persegi sempurna, ada sebuah dinding yang membuat perseginya mengecil. Sebuah ranjang big size di letakkan di sudut dalam, nyaris menempel ke dinding bata bercat ungu-putih. Iya, big size. Aku sengaja memilih ranjang big size untuk memenuhi hasrat tidurku yang begitu besar. Oh! aku lupa mengatakan bahwa aku begitu menyukai tidur. Ini terdengar gila! Tapi terkadang, aku akan mengantuk hanya dengan melihat bantal dan teman-temannya. Ranjang itu merupakan salah satu benda favoritku setelah cermin antik yang menempel di dinding dekat pintu masuk.

Letaknya menghadap tiga buah jendela besar yang berjejer rapi. Benar! Jendela kamarku begitu besar dan bisa dibuka layaknya pintu. Bahkan tubuh orang dewasa pun akan muat jika melewatinya. Jika kau membuka salah satunya, kau akan menemukan sebuah beranda kecil di sana. Tidak terlalu bagus. Hanya beranda sempit yang membuatmu bisa melihat atap rumah tetangga.

Malam itu aku tertidur pada jam tujuh dan sekian. Dan dengan cepat terlelap, terbawa ke alam mimpi yang menyenangkan. Kau tahu? Waktu yang paling menyenangkan bagiku adalah saat aku terlelap di atas ranjang kesayanganku ini. Melepas penat dan kegelisahan hidup. Saat itu, entah sudah berapa jam waktu berlalu. Aku terbangun dan melirik jam dinding di dekat cermin, pukul 10.30 malam. Lampu masih menyala, aku bangkit dan mendudukan tubuhku sambil terus berusaha mengumpulkan nyawa.

Nah, sebelum aku melanjutkan ceritaku. Kau yakin ingin mengetahuinya? Baiklah, aku tidak jamin jika kalian tidak bisa tidur setelahnya.

Suasana dalam rumah terasa sepi, bisa kupastikan semua orang telah terlelap. Aku hendak bangkit karena aku harus menggosok gigi dan memakai krim malam di wajahku. Dan saat itulah indera pendengaranku menangkap getaran suara kecil. Suara itu terdengar samar-samar, dan sedetik kemudian bisa kupastikan bahwa itu adalah suara tangisan. Aku setengah tidak percaya dengan getaran yang tertangkap kedua gendang telingaku.

Aku kembali memfokuskan diriku pada suara di balik salah satu jendela paling ujung dekat dinding. Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan lama. Benar! Itu suara tangisan! Seorang perempuan! Tidak salah lagi! Suara itu menghilang, membuat pikiranku melayang. Benarkah apa yang baru saja kudengar? Lalu, siapa yang tengah terisak tengah malam.

Aku diam, menunggu suara itu terdengar lagi. Oh! aku bahkan menahan nafas hanya untuk memastikan aku memang tidak  salah dengar. Satu, dua, tiga, suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas dan menyayat hati. Layaknya seseorang tengah menangis di samping beranda kamarku, tepatnya di atap tetanggaku. Oh! Ayolah! Siapa yang tengah menangis malam-malam begini? Di atap rumah?

Aku masih mendengarkan tangisan itu, tak berniat sedikitpun untuk beranjak. Tiba-tiba seseorang masuk ke kamarku, hendak membangunkanku. “Oh! kau sudah bangun rupanya? Kau belum menggosok gigi kan?” tanyanya, kemudian hendak mematikan lampu kamarku. Kesadaranku belum sepenuhnya kembali, maka kutempelkan jari telunjukku di bibir sambil menatap kakak perempuanku. “Apa?” tanyanya, dan membatku mengulangi gerakan tadi. Ia mengerutkan dahinya, kemudian aku melambaikan tangan kananku. Memberi isyarat agar ia mendekat ke arahku tanpa bersuara.

Kakakku mendekat, melompat ke atas ranjang dan tak sabar menunggu apa yang ingin kukatakan. Tapi aku hanya diam, kembali memberi isyarat padanya untuk tidak bersuara. Lalu, aku mengangkat telunjukku di samping pipi, mengisyaratkan bahwa ada sebuah suara di luar sana.

“Apa?” tanyanya lagi. Oh! aku benar-benar harus membuatnya mendengar suara itu. Karena jika tidak, ia akan mengomeliku saat aku menceritakannya nanti. Ia akan mengatakan bahwa itu adalah imajinasiku yang terlalu sering menulis cerita misteri.

Aku tetap tidak  bersuara dan meminta kakak perempuanku itu untuk mendengar suara tangisan. Walla! Suara itu kembali terdengar, sekitar dua atau tiga kali. Kakakku sempat membulatkan kedua matanya. Aku tahu ia bukan tipe penakut, tapi saat itu bisa kulihat gurat ketakutan di wajahnya.

“Suara tangisan?” tanyanya meyakinkan. Aku mengangguk pasti! “Kau mendengarnya kan?” aku menatapnya ngeri. Kami tetap terdiam selama beberapa detik, mendegarkan suara yang membuat bulu kudukku tiba-tiba saja meremang.  Satu, dua, tiga, tangisan itu berhenti. Lantas kakakku beranjak dari ranjang, “Sudah berhenti.” gumamnya dan sekonyong-konyong meninggalkan kamarku. Bisa kudengar langkah kakinya yang menjauh dari kamarku, lalu terdengar suara pintu tertutup dan sakelar lampu yang ditekan. Kupastikan ia segera tidur, membuat atmosfir semakin tidak menyenangkan bagiku.

Aku terdiam, menatap jendela paling ujung dekat dinding. Memastikan bahwa suara itu tidak akan terdengar lagi. Aku segera bangkit saat tidak ada suara apa pun dari beranda, melangkah menuruni anak tangga menuju kamar mandi. Aku menggosok gigi, mencuci wajah, tangan dan kakiku sebelum kembali ke dalam kamar. Memakai krim malam sebelum akhirnya menyalakan lampu tidur.

Aku duduk di tepi ranjang, memandang lagi jendela paling ujung di dekat dinding. Tidak terdengar suara apa pun selain kesunyian malam yang tiba-tiba terasa mencekam bagiku. Aku naik ke atas ranjang, merapikan bantal, kemudian menarik selimut. Kutatap lagi jendela itu, tidak ada suara apa pun. Apa kalian pikir aku gila jika tetap tidur dalam kamarku setelah mendengar suara itu?

=FIN=

13 thoughts on “Jendela

  1. Ihh waaaw..
    Euncha beneran denger suara itu?
    Kalo aku langsung pindah tidur di kamar orang deh..haha
    Masalahnya suara itu muncul berkali2 gitu.. Hiiii

    Btw,kapan ni archangel yg terakhir bakal publish?
    Udah kangen ni ama Key-Ri couple😀

  2. Anehnya aku tak merinding.wkwkwk
    mungkn sudah terbiasa d khdpan nyata mengalami hal” yg kurang masuk(?) akal,eh
    archangel eun cha *nagih ff kumat.. He

  3. eonni biukin takut aja… ranjangku pas di depan jendela, lho… ntar kl aq denger yang gimanaaa gitu atau liat sesuatu dari celah jendela gimana?

    tapi itu bneran pengalaman eonni? gak pernah terjadi apa2 lagi setelah itu?

  4. Woah,, baru baca skrg postingan ini.
    Baca ini mengingatkanku sm kejadian sktr 5 th yg lalu deh, jaman jd maba, pernah denger suara tangisan perempuan juga di kampus. Tp itu kejadiannya bakda maghrib. Dan smpe 3 hr berturut2 di jam yg sama suara itu terus ada. Dan akhirnya dosen nyerah buat gak ngadain lg kuliah di atas jam 5 sore.
    Dosennya juga ketakutan kyknya… Kkk~

  5. sama.. aq jg pernah denger ky gitu kak cuma yg ku denger itu bukan tangisan, suaranya aneh g pernah dnger suara begitu deh. waktunya pas jam1 atau 2 pagi dan di rumah aq cuma sendiri.. hii

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s