Gerbong

Image Sore itu hujan turun begitu derasnya. Sudah nyaris dua jam berlalu, dan tidak ada tanda-tanda hujan akan reda. Beberapa orang menyebutnya dengan badai karena membuat seluruh kota banjir. Aku dan temanku – Alice- tengah berbincang di jendela, aku berdiri di beranda dan Alice di dalam kamar-dekat jendela. Kagiatan kami bukan semata-mata tidak ada kerjaan, di saat semua orang sibuk menyelamatkan rumah mereka dari banjir. Justru saat itu aku dan Alice tengah melakukan tindak penyelamatan untuk kamarku.

Yeah! Hujan badai lagi-lagi memporak porandakan isi kamarku. Lebih ganas dari sebelumnya. Membuat benda-benda berceceran dan oh! bahkan aku telah melakukan evakuasi pada cermin antik kesayanganku. Air tak henti membanjiri seisi kamar dari berbagai arah. Dari atap, bahkan merembes melalui tembok. Sungguh! Kurasa ini badai pertama yang begitu menakutkan. Beruntung angin tidak terlalu kencang sehingga atap rumahku masih selamat.

Kami terdiam setelah merasa lelah dengan kegiatan membuang genangan air dari dalam kamar. Saat itu kami memperhatikan ruma-rumah di seberang rumahku. Ada tiga rumah yang kami perhatikan. Ketiganya terletak berseberangan dengan ruahku, jaraknya sekitar 5-6 meter. Dibatasi rel kereta api tua yang memanjang. Tentu saja itu rel mati, jadi jika kau ingin mencapai rumah di seberang, kau cukup melangkah melalui rel tersebut.

Ketiga rumah itu keadaannya lebih parah dari rumahku. Badai benar-benar menyapu rumah mereka. Hingga kami lihat genangan air sebatas lutut orang dewasa itu mulai menerobos masuk ke dalam rumah. Para penghuni rumah terhuyung-huyung, menyelamatkan diri mereka dari terjangan banjir. Beberapa anak kecil terlihat berlarian ke luar rumah, tapi wajah mereka memancarkan kebahagiaan. Menceburkan diri mereka ke dalam banjir sambil bersorak sorai.

Saat itulah perbincangan antara aku dan Alice dimulai. Aku masih memegangi baskom yang kugunakan untuk menampung air, sementara Alice masih memegangi alat pengepel lantai. Perbincangan kami mencakup berbagai aspek, mulai dari pandir hingga cerita misteri. Kami terpingkal-pingkal dengan cerita Alice tentang teman dan adik laki-lakinya. Alice berhenti bercerita setelah sedemikian rupa mengatur nafasnya yang tersengal karena tawa.  Aku tiba-tiba teringat akan cerita lama yang memang kualami sendiri. Maka kuputuskan untuk membawa cerita ini ke dalam obrolan kami.

Baiklah, sebelum aku memulainya, kupastikan kalian tidak sedang sendirian membaca tulisan ini. Akan lebih baik jika kalian memutar piringan hitam favorit kalian di atas gramofon.

Ini terjadi saat usiaku masih anak-anak, 10 tahun jika aku tidak salah. Seperti yang kuceritakan tadi, bahwa di depan rumahku terdapat rel kereta mati yang memanjang begitu jauh. Yeah! Dulunya itu adalah rel kereta aktif yang digunakan sebagai jalur kereta api. Tentu saja pada jaman dahulu keadaan ini begitu berbahaya bagi penduduk yang tinggal. Kudengar, tak jarang terjadi beberapa kecelakaan di sepanjang rel. Hingga akhirnya rel itu dimatikan, aku sendiri tidak tahu apa alasannya. Yang jelas, meskipun rel itu mati, bangkainya tetap seperti masa-masa hidupnya. Tertancap rapi di jalurnya, sebagai hasil dari jaman penjajahan dan saksi bisu dari apa-apa yang terjadi di tempat tersebut.

Entah kali keberapanya, pemerintah kota setempat memperingatkan untuk tidak membangun rumah atau bangunan lain di sepanjang rel tersebut. Alasannya sendiri adalah karena masih ada kemungkinan jika rel itu kembali dihidupkan. Nah, aku sendiri tidak terlalu yakin bahwa itu alasannya. Karena dengan kondisi yang seperti sekarang ini, mustahil untuk menghidupkan kembali rel itu. Yang sama artinya dengan menggusur begitu banyak rumah yang telah berdiri kokoh di atas rel tersebut.

Masih kuingat hari itu aku baru saja pulang dari sekolah. Setengah berlari bersama teman-temanku menuju rumah. Saat itu orang-orang berkumpul di jalanan seolah sedang menonton Sesutu. Hiruk pikukpuk segera terasa dan entah mengapa rasanya membat bulu romaku meremang. Aku dan teman-teman kecilku baru saja menuruni jalan yang sedikit curam saat kulihat beberapa gerbong kereta api tua berjalan di atas rel tua itu. Suara gesekan besi gerbong dan rel menggema, membuatku merasa ini bukanlah hal yang baik.

Gesekan itu terus terdengar, seolah itu adalah jeritan dari si gerbong tua. Kuperhatikan gerbong itu, seluruh bagiannya berkarat. Dari bagian dalamnya tercium bau tidak menyenangkan, rantai yang menghubungkan satu gerbong ke gerbong lainnya berderit pelan seolah menjerit.

Aku terus berjalan, hingga tiba di depan rumahku, dan hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, gerbong kereta itu berhenti. Saat itu, aku bagaikan berada di dalam sebuah dongeng. Di mana saar gerbong itu melewati rumahku, cahaya matahari segera menghilang. Tertutup oleh gerbong dan menyisakan kegelapan yang mencekam.

Beberapa petugas berseragam biru kusam keluar dari gerbong, begitu pula masinis yang tadi mengendalikan gerbong-gerbong itu. Mereka kemudian berbincang dengan orang yang dituakan di tempatku. Tak berapa lama, mereka pergi.

Rasa penasaranku begitu besar, aku berlarian ke sana kemari. Mencari tahu mengapa mereka meninggalkan gerbong-gerbong tua dan menyeramkan itu di depan rumah kami. Hingga aku tahu bahwa gerbong-gerbong tua itu sengaja di simpan di sana agar warga tidak lagi membat rumah atau pun bangunan lain di sana. “Sampai kapan mereka akan menyimpannya di sana?” tanyaku saat itu. Dan jawaban atas pertanyaanku adalah “Uncertainly.”

Aku mendesah, memasuki rumah dengan lesu. Entah mengapa kehadiran gerbong itu membuatku ketakutan, berbeda dengan anak-anak lain seusiaku yang terlihat begitu senang dan mulai bermain dalam gerbong-gerbong tua itu. Gerbong-gerbong yang kuyakini tidak dipakai di masa ini. Mungkin dipakai pada masa-masa penjajahan negara-negara Eropa di dunia.

Aku sendiri juga tidak mengerti mengapa aku takut pad agerbong tua itu. Mari kugambarkan lagi seperti apa rumah makhluk tua itu. Panjangnya sekitar 200 meter, jumlah gerbongnya aku tidak tahu pasti. Seluruh tubuhnya berkarat, membuat gerbong itu terlihat berwarna kuning kotor. Padahal aku yakin warnanya adalah hitam saat gerbong-gerbong itu pertamakali dibuat. Gerbong-gerbong tersebut memiliki dua bentuk berbeda. Satu seperti gerbbong kereta pada umumnya, memiliki jendela dan ruangan di dalam di mana kami tidak bisa memasukinya karena pintunya terkunci. Dan satunya lagi berbentuk seperti gerbong pengangkut, seperti huruf U. Rantai-rantai yang menghubungkan tiap gerbong sama berkaratnya, begitu berat dan memuakkan.

Hari itu entah sudah minggu keberapa sejak gerbong tua tinggal di dekat rumahku. Aku mulai melupakan ketakutan tersendiri yang menderaku sejak kedatangan gerbong itu. Aku mulai mengabaikan ketakutan yang terkadang sering muncul saat aku mendekati gerbong itu. Aku bahkan tidak pernah mencapai seberang dengan melewati gerbong itu dan memilih untuk memutar jalan.

Orang-orang menyebit waktu ini sebagai Twilight. Yeah! Kalian tahu, saat sore begitu larut dan nyaris mencapai malam. Warna jingga dari matahari yang makin menyembunyikan rupanya itu membuat orang-orang segera masuk ke dalam rumah. Tapi tidak denganku dan teman-tamn. Kami telah asyik bermain sejak sore dan enggan meninggalkan permainan ini hanya karena sore telah usai dan akan segera berganti menjadi malam.

Kami bermain di sebuah gang besar dekat rumah temanku. Kami berjanji bahwa itu adalah permainan terakhir sebelum kami pulang. Kami bermain lompat bintang, di mana kami berdiri melingkar. Kemudian salah satu dari kami akan menyanyikan lagu tentang bintang sambil menunjuk setiap anak. Dan anak yang ditunjuk saat lagu berhentu harus melompat, menginjak kaki temannya. Begitulah permainan masa kecilku, begitu sederhana dan menyenangkan.

Saat itu aku terpilih menjadi bintang dan segera melompat temanku yang jaraknya begitu jauh. Kami tertawa, karena temanku itu berbuat curang. Kakinya telah kuinjak, tapi ia dengan cepat berlari dan menyanyikan lagu tentang bintang. Menunjuk dirinya sendiri saat lagu usai dan segera melompat menginjak kakiku. Benar-benar curang! “Hei! Kau curang!” pekikku sambil tertawa. “Benar! Dia curang! Ayo kita serang!” ujar temanku, kemudian kami beramai-ramai menyerangnya. Menginjak kakinya bertubi-tubi.

Matahari benar-benar tak terlihat, terantikan oleh kelamnya malam yang sepi. Orangtua dari salah satu temanku melarang kami untuk terus bermain dan meminta kami untuk pulang ke rumah masing-masing. Tentu saja tidak mudah membuat kami menyudahi permainan ini. Tapi orangtua selalu mempunyai cara ampuh untuk mengalahkan anak-anak. Yup! Dengan menakut-nakuti kami bahwa hantu gerbong akan ikut bermain jika kami tidak menyudahi permainan. Saat itulah kami semua segera berpencar tanpa basa-basi. Lari kocar-kacir ke rumah masing-masing.

Aku berlari ke rumah saudaraku. Rumah saudaraku itu bisa dibilang jalan pintas menuju rumahku. Tentu saja alasannya karena aku tidak mau melewati gerbong tua itu. Dengan nafas tersengal aku tiba di rumah saudaraku, tanpa mengatakan apa pun segera menyerbu ke sebuah pintu yang akan membawaku ku ruang tengah rumahku. Saat itu lah aku mendengar panggilan dari ayahku. Beliau memintaku untuk meminjam buku dari tetanggaku. Ah! Aku sebenarnya tidak mau, karena itu artinya aku harus melihat gerbong itu lagi.

Terpaksa aku berjalan menuju pintu depan. Rasanya sia-sia tadi aku pulang melalui rumah saudaraku jika akhirnya aku harus berhadapan lagi dengan gerbong itu. Aku berjalan menyusuri koridor kecil rumah saudaraku dan dengan cepat telah berada di ambang pintu. Tanganku telah terulur hendak memutar kenop pintu saat aku mendengar sesuatu dari seberang gerbong.

Suara itu begitu ramai di tengah heningnya waktu malam. Aku penasaran karena suara-suara itu terdengar seperti suara anak-anak seusiaku. Oh! mungkin salah satu dari kami kembali bermain, atau lebih buruknya mereka semua kembali bermain tanpaku. Ah! Aku marah sekali. Perlahan aku menundukkan kepalaku, mengintip melalu celah bawah gerbong. Aku melihat ada beberapa bayangan, mereka sedang bermain. Kupastikan jumlahnya 5-6 orang. Lalu kudengar salah satu dari mereka menyanyikan lagu tentang bintang, tak lama suara lompatan dan cekikikan anak-anak menyusul.

Aku semakin membungkukkan tubuhku, mencoba melihat lebih jelas siapa yang ada di balik gerbong dan tengah bermain permainan yang sama dengan yang baru saja kumainkan dengan teman-temanku. “Hei! Kau curang!” terdengar pekikan dari seorang anak perempuan. Deg! Tiba-tiba saja darahku berdesir hebat, kepalaku berputar. Aku seolah terbawa ke dimensi waktu lain. Suara itu, benar! Aku mengenali suara itu. Suaraku sendiri.  “Benar! Dia curang! Ayo kita serang!” timpal sebuah suara lain, yang kukenali sebagai suara milik temanku. Aku semakin membungkuk, ah sial! hanya bayangan-bayangan itu saja yang bisa kulihat.

Selanjutnya, seperti yang sudah kuperkirakan. Apa yang dibicarakan anak-anak itu sama persis seperti yang aku dan teman-temanku lakukan. Bahkan aku masih hafal kalimat apa yang akan diucapkan siapa. Aku terdiam, terpaku seolah kehilangan akal sehatku. Perlahan aku berjalan mendekati gerbong, dan suara-suara itu tedengar semakin jelas dan nyata. Kubungkukan lagi tubuhku agar bisa melongok ke kolong gerbong. “Nicholas!” teriakku memanggil nama salah satu teman yang tadi bermain bersama. Aku yakin sekali bahwa mereka kembali bermain tanpaku. Tidak ada sahutan. “Matilda!” aku memanggil nama temanku yang lain dan hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban meskipun masih kulihat bayangan-bayangan anak-anak itu tengah bermain. Aku berjalan ke ujung gerbong, membulatkan tekadku untuk menyeberangi gerbong dan melihat Nicholas dan yang lainnya.

Kakiku hendak melangkahi rantai penghubung gerbong paling ujung saat tiba-tiba aku tercengang. Menatap halaman rumah orang yang kosong, tempat di mana aku baru saja mendengar suara anak-anak tengah bermain. Kuedarkan pandangaku, mecari kalau-kalau ada tanda-tanda anak-anak baru saja bermain di sana. Oh! bahkan aku mengharapkan melihat ekor gaun Matilda yang terbuat dari renda berwarna apricot di ujung gang.  Tapi pada kenyataanya aku tidak melihat siapa pun, tak seorangpun! Begitu sepi dan mencekam.

Aku terdiam beberapa detik, seolah terhisap dalam ketidakpercayaanku terhadap apa yang baru saja kualami. Tiba-tiba rantai gerbong yang tengah kuinjak ini mengeluarkan suara berderit pelan, berayun dengan gerakan yang seolah digerakkan oleh sesuatu. Bulu kudukku merinding, kutatap gerbong yang seolah tengah menyeringai padaku sebelum akhirnya aku lari tunggang-langgang. Membuka pintu rumah tetanggaku dengan kasar, melupakan buku yang seharusnya kupinjam untuk ayah.

Alice menatapku, terlihat bahwa ia merasa ngeri dengan apa yang kualami saat aku masih kanak-kanak. “Kau seperti melihat rekaman dirimu sendiri,” ucap Alice, ia kemudian melanjutkan “Kau tahu itu apa? Itu adalah sejenis jin yang menirukan kalian dan bermain seperti kalian.” terangnya membuatku kembali didera rasa takut itu.

Kini, beberapa tahun telah berlalu. Gerbong itu tidak lagi disimpan di sana, karena meninggalkan begitu banyak cerita menyeramkan bagi warga. Bahkan, kudengar ada seorang warga yang meninggal tak lama setelah ia membuang air panas ke gerbong. Entahlah! Aku juga tidak tahu pasti akan hal itu, tapi yang jelas aku sangat senang gerbong itu tidak lagi menghantuiku dan warga lainnya. Sejak gerbong itu dibawa lagi ke tempat asalnya –entah di mana- sinar matahari dengan setianya menyinari rumahku setiap pagi, menawarkan atmosfir baru untuk menyongsong hari.

Aku menyudahi ceritaku, membuat aku dan Alice terdiam beberapa saat. Entah karena kami merasa ngeri atau mungkin Alice tengah memikirkan pengalaman mistisnya semasa kecil untuk diceritakan padaku.

Nah, aku peringatkan kalian. Jangan pernah bermain saat twilight ya, jika tidak ingin jin-jin itu menirukan kalian.

13 thoughts on “Gerbong

  1. Jangan pernah bermain saat twilight…
    org tua juga suka blg gtu.. jgn maen saat senja.. gak baik.. n trnyata emang bnr.. saat senja.. mndkti waktu magrib datang, jin2 n setan itu ‘berkeliaran’
    aku bc itu dr postingan ttg keajaiban langit menjelang waktu shalat, klo g slh judulnya itu..

    yg buang air panas itu… aku jg sring dikasih tau mama, kalau buang air pns tuh minta izin. kan di dunia ini ada makhluk gaib, gak hanya yg ‘jht’ tp ya bs dblg penunggu lah tp gak ganggu. nah ktnya minta izin klo mau buang air pns.

    itu.. bnrn ya pengalaman kamu? hehehe

    • Bener banget! ga lagi deh main2 pas waktu begitu >.<"
      Ih, kayanya seru deh pstingan keajaiban langit menjelang waktu sholat. Boleh minta link artikelnya ga? ^^

      aku jg pernah nonton ftv gitu soal buang air panas, dan bisa bawa hal buruk juga. Ah! jdi serem deh kalo abis msak mie, air nya suka didiemin dlu di panci sampe dingin.kekek.

      .hha. kira2 seperti itu, Rahmi🙂

      • akhirnya ketemu..
        www(.)facebook(.)com/notes/info-dunia-akhir-zaman/rahasia-warna-langit-ketika-waktu-sholat-tiba/307960162646572
        hahahahahaha

        eh baru ngeh.. komenku yg itu *nunjuk* komen ke-603 di blog ini.. hohohohooho

      • Wah, aku udah baca artikelnya, Rahmi. Suerr bagus banget \(^o^)/
        Jadi tau enerji2 positif yang dipancarkan bumi tiap pergantian waktu solat.
        Thanks udah sharing😉
        Pantesan ajh deh, ini cerita gerbong pas banget keliaran di luar rumah ga jelas.kekekek.

        Wah? serius? eh, ko bisa tau komennya ke 603? ^^v

  2. serem iih… waktu pertama baca aku bertanya2 ini pengalaman eonni beneran? atau ini cerita fiksi karangan eonni? atau ini diambil dari kisah nyata yang pernah ada? yang manapun, tetep aja ini serem… gak bisa dipungkiri kalo keberadaan makhluk2 kyk gitu mmg byk muncul d saat twilight, makanya anak bayi juga dilarang keluar rumah saat twilight, takutnya dia ngeliaht yang enggak2… #kok jadi merinding sendiri waktu ngetik ini, y…#

    • waah, Bella. tuh, kamu jadi merinding sendiri bacanya.kekek.
      Aku juga jadi suka merinding ga jelas *plaaakkkk*

      sebenernya gaya penulisan ini tuh aku ngikutin gayanya Edgar Allan poe di salah satu kisah tengah malamnya – Tell-Tale Heart. Di mana tiap cerita dituangkan dalam sudut pandang orang pertama , di mana orang pertamanya itu bukan penulis.kekekek.
      setelah baca itu, aku jadi tertarik buat nyeritain pengalaman pribadiku dengan gayanya Allan poe itu. Biar cerita lebih menarik ^^v
      tapi sejujurnya, ga berharap lagi sih bakalan menulis midnight story seperti ini yg artinya aku harus mengalami kisah2 tidak menyenangkan terlebih dahulu.kekekek.

  3. Serem, ini kisah nyata ya euncha?
    Tapi percaya gk percaya sih katanya emang gak boleh keluyuran waktu magrib..
    Adik kostku jg pernah ngalamin.. dia ktmu jin berwujud bapak2.. diingetin dia klo udah magrib, dia disuruh pulang juga
    itu posisnya dia dikampus dan cuma berdua sm tmnnya.
    Sbnernya dia gk tw klo yg ngobrol sm dia ternyta bkan manusia.. yg tw malah tmennya. Tmennya lihat bapak2 itu gak napak tanah.. kakinya gak ada..
    Abis kejadian itu gak ada lg yg berani kekampus magrib2 takut ada yg nemenin >_<

    • Heheh. Kira2 seperti itu.
      Emang ko, kalo waktu Magrib itu, tepatnya pas sebelum Adzan dan masuk waktu mau malem, kalo b.Inggrisnya sih Twilight. Itu emang katanya setan2 lagi keluyuran. Dan bagusnya sih buat yang muslim langsung masuk rumah dan sholat.hihi.
      Haduh, jangan sampe deh mengalami hal yang tidak menyenangkan karena keluyuran pas magrib2.

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s