Moonlight Sonata – Part 3

moonlight-sonata

Main cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Aeri | Kim Ki bum [Key]

Supporting cast :

Choi Minho | Shin Eunyoung

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Thriller, Mystery, Romance

 Rating              : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

“Oh! Minho-ya?” yeoja setengah baya itu terkejut saat yang datang bersama Aeri adalah Minho – manta pacar putrinya. “Annyeonghaseyo, eommonim.” Minho membungkukkan badannya.

Aigo! Lama sekali kau tidak mengunjungiku Minho-ya. Oh! dan ini pertamakalinya kau berkunjung ke rumah baru kami setelah enam bulan kami pindah.” Eomma Aeri terlihat begitu senang dengan kedatangan Minho. Bagaimana tidak? Minho adalah namja pujaan Nyonya Kim untuk menjadi menantunya. Ia sangat senang saat mengetahui Minho berpacaran dengan putrinya, dan tentu saja ia berkali-kali memarahi Aeri saat tahu bahwa hubungan Minho dan Aeri telah berakhir.

Keduanya berjalan beriringan mengikuti Nyonya Kim ke dapur. Entahlah! Nyonya Kim itu sangat suka memasak, dan ia akan lebih senang mengajak tamunya untuk duduk di dapur dibandingkan di ruang tamu.

Aeri berjalan di belakang Minho, ia merasa benar-benar canggung pada Minho setelah apa yang diucapkan eomma-nya barusan. “Apa kalian sudah berbaikan? Syukurlah! Kurasa kaulah satu-satunya yang bisa membuat Aeri menjadi lebih baik.” kalimat itu terulang lagi di kepala Aeri.

Tentu saja keduanya tak ada yang menjawab pertanyaan Nyonya Kim, Minho tahu benar bahwa Nyonya Kim sangat merestui hubungan mereka dan tentulah ia akan sedih jika pada kenyataannya Minho dan Aeri tidak pernah sekalipun menyinggung untuk berbaikan.

Tapi di sisi lain, Minho merasa sangat senang. Setidaknya ia masih memiliki peluang untuk kembali bersama Aeri, meskipun yeoja itu belum terlihat mau berbaikan dengannya. Minho berbalik, menatap Aeri. Sementara Aeri hanya menatap Minho heran. Minho berjalan ke arah Aeri dan berhenti tepat di sampingnya. Digenggamnya satu tangan Aeri kemudian ia melanjutkan langkahnya. Langkah Minho terhenti saat ia menyadari Aeri tidak ikut melangkahkan kakinya.

“Eh?” Aeri hanya menatap Minho bingung, sesekali matanya beralih pada tangan kanannya yang digenggam Minho.  Minho hanya tersenyum, kemudian mengeratkan genggaman tangannya.  Aeri berjalan mengikuti Minho begitu saja, kepalanya tertunduk, memperhatikan jari-jari tangan mereka yang saling bertautan. Sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka bergandengan tangan? Senyuman itu tersungging begitu saja di wajah Aeri tanpa ia sadari.

Nyonya Kim menyodorkan goblet tinggi di hadapan Aeri dan Minho. Goblet bening itu kini berwarna hijau oleh minuman yang ada di dalamnya. “Jadi, kau pindah juga kemari?” Nyonya Kim membuka perbincangan mengenai Minho.

Keduanya terus berbincang tanpa menghiraukan Aeri. Mata Minho memang tetap fokus pada Nyonya Kim, tangan kanannya sesekali meraih goblet berisi minuman soda hijau itu, tapi tangan kirinya tetap menggenggam tangan Aeri di atas pahanya.

Selama hubungannya dan Aeri berakhir, rasanya Minho tidak pernah punya kesempatan untuk mendekati yeoja itu lagi. Aeri selalu mengelak dengan kesibukannya dalam orkestra setiap kali Minho mengajak kencan. Dan saat ini lah Minho merasa ia masih punya satu kesempatan untuk mendapatkan Aeri kembali. Oh! bahkan Minho yakin bahwa yeoja itu tidak sepenuhnya membenci Minho. Jika tidak, Aeri tidak akan tinggal diam saat Minho menggenggam tangannya.

Matahari semakin turun dan hari mulai gelap. Percakapan antara Minho dan Nyonya Kim begitu menarik, membuat keduanya lupa waktu. Bahkan Aeri permisi terlebih dahulu untuk beristirahat di kamarnya.

Nyonya Kim terkejut begitu mendengar apa yang diceritakan Minho mengenai keadaan Aeri akhir-akhir ini. Aeri terlihat begitu berantakan karena suara-suara piano tengah malam. “Aeri pernah beberapa kali menceritakan padaku soal suara piano itu. Tapi aku menganggap itu halusianasinya karena ia terlalu lelah berlatih piano.” Nyonya Kim kemudian diam, ia merasa sangat berdosa karena hal itu membuat putrinya menjadi kacau.

Minho tidak menceritakan keseluruhan yang ia dengar dari Aeri, ia hanya bercerita bahwa suara piano itu benar-benar membuat Aeri tertekan. Dan mereka harus melakukan sesuatu. “Jadi, apa rencanamu?” Nyonya Kim terlihat begitu pasrah pada apa yang akan dilakukan Minho untuk terapi Aeri. Oh! bahkan kini ia merasa sangat khawatir pada putrinya itu.

“Kita akan melakukannya step by step. Aku akan mengawasinya sepanjang hari.” Minho menatap tajam pada yeoja yang nyaris menjadi calon mertuanya itu. Nyonya Kim hanya mengangguk, ia tahu Minho akan melakukan hal terbaik untuk putrinya. Lagipula siapa tahu dengan kejadian ini Aeri dan Minho bisa kembali berbaikan.

***

Tok..tok..tok…

Lamunan Aeri buyar saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia segera beranjak, menjauhi jendela kamar di mana ia sedang memandangi tanaman-tanaman tinggi yang mulai tak terawat. “Oh! Minho-ya?” entah mengapa Aeri terkejut, seharusnya ia tidak punya alasan untuk terkejut. Tapi sungguh! Kedatangan Minho ke kamarnya membuat jantung Aeri berisik tak karuan.

Feeling better? Aku akan pulang. Bye!” Minho tersenyum, walaupun hatinya sedikit ragu untuk meninggalkan Aeri. Benar! Minho merasa cemas. “Secepat itukah?” kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Aeri, dan sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa ucapannya sangatlah bodoh. Minho bisa saja berpikiran yang tidak-tidak. Tapi sungguh! Aeri merasa lebih aman jika Minho ada di dekatnya.

Ani! Maksudku, kau akan pulang sekarang?” bodoh! Aeri kembali mengutuki dirinya, sudah jelas kedatangan Minho ke kamarnya untuk memberitahu Aeri bahwa ia akan pulang. Minho kembali tersenyum, ia tahu saat ini Aeri menginginkan Minho untuk berada di dekatnya. Bolehkan Minho merasa senang?

Perlahan tangan Minho bergerak, menyentuh pipi kiri Aeri dan mengusapnya lembut “Kau mau aku tinggal lebih lama?” yeoja itu memang terlihat menginginkan Minho untuk tiggal lebih lama, tapi sedetik kemudian Minho bisa melihat gurat keangkuhan di wajah yeoja itu.

“Oh! Pulanglah.” katanya ketus. Kemudian membalikkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada. Minho terkekeh, yeoja itu tidak berubah. Minho menaruh kedua tangannya di bahu Aeri, memutar tubuh yeoja itu agar menghadapnya seperti semula. “Aku akan mengunjungimu lagi.” ucapnya manis. “Tidak perlu, aku tidak memintanya.” sergah Aeri buru-buru. Bodoh! Aeri justru senang mendengar Minho akan kembali mengunjunginya, tapi mengapa mulutnya malah menolak hal itu?

Minho kembali tersenyum, ia tahu yeoja itu sangat keras kepala. Perlahan tangan kanannya kembali menyentuh pipi Aeri, mengusapnya lembut. “Aku akan tetap kemari meskipun kau tidak memintanya, Aeri-ya.” terang Minho dan sukses membuat semburat merah itu terlihat di wajah Aeri.

Aeri masih memandang Minho, sementara wajah Minho merengsek mendekati wajah Aeri.  Yeoja itu hanya diam, tidak memalingkan wajahnya seperti beberapa hari yang lalu. Membuat Minho terus mendekatkan wajahnya ke wajah Aeri. Aeri memejamkan matanya saat hembusan nafas Minho menerpa wajahnya hangat. Ia tidak tahu bahwa ia begitu merindukan Minho menyentuhnya seperti ini.

Bibir Minho telah menyentuh bibir Aeri, hanya sentuhan ringan. Minho telah memejamkan matanya dan hendak membuat ciuman itu menjadi lebih hangat saat suara mengagetkan terdengar dari luar kamar Aeri.

Krosaaakkkk…. Bruuukkkk…..

“Oh!” dengan cepat Aeri memalingkan wajahnya ke arah luar jendela yang ada di belakangnya, sementara mata Minho ikut memperhatikan sumber suara. Keduanya segera berjalan menuju jendela, dan melongok ke bawah. Beberapa tanaman terlihat rusak seperti tertimpa sesuatu, sementara tanah di sekitarnya membentuk tapak-tapak tak beraturan. Minho dan Aeri sempat melihat sesuatu berkelebat menuju pagar pembatas kayu antara rumah kebun belakang Aeri dan tetangganya.

Jantung Aeri mencelos, ia merasa lega karena suara itu telah mengacaukan aksi Minho. Aeri benar-benar merasa terbuai oleh sentuhan Minho. Jika saja suara itu tidak muncul, ia pasti sudah benar-benar mengijinkan Minho menciumnya. Dan itu artinya, sama saja memberi jalan Minho untuk kembali mendekatinya. Bukan! Aeri bukannya tidak ingin namja itu kembali bersamanya, ia justru sangat menginginkan hubungannya dan Minho bisa kembali seperti semula. Tapi untuk saat ini, perlombaan ‘The Pianist’ jauh lebih penting bagi Aeri. Ia tidak mau konsentrasinya terbagi-bagi.

“Hanya kucing kurasa.” Aeri berusaha memecah atmosfir aneh yang tiba-tiba ia rasakan. Minho berdecak kesal, disaat Aeri tidak menghindarinya, mengapa justru seekor kucing bisa mengacaukan semuanya?

“Bukankah kau bilang kau mau pulang?” tanya Aeri, membuyarkan pikiran Minho. Minho  berjengit, yeoja di sampingnya telah kembali menjadi yeoja  keras kepala dan angkuh. “Geurae, aku pulang. Bye!” Minho menyentuh pipi Aeri lagi, mengusapnya lembut sebelum ia berjalan menuju daun pintu.

“Jika kau memerlukanku, kau bisa menghubungiku kapan saja.” Minho membalikkan badannya saat ia tiba di daun pintu, kemudian kembali melangkah setelah Aeri menganggukkan kepalanya.

***

Semilir angin malam membuat dedaunan dan tanaman tinggi di sekitar rumah bergaya Eropa kuno itu bergoyang. Menimbulkan gemerisik yang terdengar seperti suara orang berbisik. Lonceng angin yang dipajang di atas jendela kamar yeoja itu ikut bergoyang, menimbulkan suara indah yang terdengar mencekam. Yeoja itu masih terlelap dalam tidurnya saat sayup-sayup terdengar suara dentingan piano dari lantai satu.

Teng…

Teng…

Lama-lama dentingan itu berubah menjadi sebuah melodi indah yang membangunkannya dengan sempurna. Ia memasang telinganya tajam, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi seperti yang sering terjadi setiap kali dentingan suara piano itu terdengar. Hanya dalam hitungan detik, tubuhnya telah dibanjiri oleh keringat. Jantungnya berdebar hebat, sementara deretan giginya menimbulkan suara gemeretak karena getaran dari tubuhnya.

Ia berusaha beranjak, mengusir rasa takutnya. Diraihnya tabung plastik kecil yang ada di nakas dekat ranjang. Beberapa tablet berwarna kuning pucat itu segera ia telan bersamaan dengan satu gelas air mineral yang mengalir membasahi kerongkongannya.

Yeah! Aeri harus menyelesaikan semuanya malam ini juga, ia harus tahu siapa sosok yang selalu memainkan Moonlight Sonata dan menyebut nama Eleanor setiap malam. Tubuhnya masih menggigil saat Aeri meraih senter dari laci meja. Ia berjalan menuju pintu setelah menyampirkan selimut merah muda di tubuhnya, sementara ponselnya ia taruh di saku piyama. Kalau-kalau terjadi sesuatu, ia akan berteriak dan segera men-dial tombol 2 – nomor telepon Minho.

Aeri nyaris memutar kenop pintu saat ia mendengar derap langkah kaki menaiki tangga, suara itu semakin jelas.

“Eleanor….”

Bisikan itu mulai terdengar, membuat Aeri urung melakukan niatnya. Ia berjalan mundur beberapa langkah.

Derap langkah kaki itu terus mendekat, bisikan-bisikan yang memanggil-manggil nama Eleanor terus terdengar. Membuat Aeri semakin menjauh dari pintu, mendudukkan tubuhnya di sudut kecil antara lemari pakaian dan meja belajarnya. Kedua mata Aeri terbelalak, tubuhnya semakin menggigil. Ia tidak bisa melawan rasa takutnya lagi, ia benar-benar takut.

Derap langkah kaki itu berhenti tetap di depan kamar Aeri. Aeri menekuk kedua kakinya, menenggelamkan wajah di antara lututnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi telinganya. Ia ingin sekali berteriak dan membangunkan semua orang, tapi kerongkongannya terasa kering, lidahnya kelu. Tak sedikitpun suara yang bisa ia hasilkan selain gemeretak dari gigi-giginya.

Gemetaran, ponsel itu ia keluarkan dari saku piyama, berusaha membuka kunci tombol dan men-dial nomor 2. Tapi sia-sia, Aeri terlalu takut. Tubuhnya menggigil hebat, membuat ponsel layar sentuhnya terlempar ke kolong ranjang.

Sial! Rutuk Aeri dalam hati. Apa yang harus ia lakukan?

Tek

Seseorang memutar kenop pintu dari luar, sedetik kemudian pintu kayu itu terdorong. Sedikit celah mulai terlihat, dan lama-lama celah itu semakin membesar.

Aeri memandang pintu, menunggu apa yang akan ia lihat saat pintu itu terbuka dengan sempurna. Kedua mata Aeri semakin terbelalak saat sosok itu terlihat, tidak jelas. Hanya silhuet seseorang yang ia yakin adalah namja.

Silhuet itu memasuki kamar dan berbisik “Eleanor, kau di mana sayang?” Aeri membekap mulutnya dengan salah satu tangan, ia benar-benar takut. Sosok itu berjalan ke arah ranjang, mengibaskan tangannya kasar pada seprai putih yang sudah berantakan. Ia terlihat marah karena tidak mendapati yang ia cari di sana.

“Eleanor, kau di mana sayang? Jangan bersembunyi dariku.” bisik suara itu lagi. Aeri menahan nafasnya saat silhuet itu berjalan ke arahnya. “Kau di sana sayang? Datanglah padaku.” Aeri ingin berlari, silhuet itu telah menemukannya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia begitu takut hingga seluruh alat geraknya lumpuh total.

Silhuet itu semakin mendekat ke arah Aeri, tangannya terulur seolah hendak menyentuh Aeri. “Eleanor…”

“HEIII! KAUUUU!!!!” sebuah suara dari arah pintu segera terdengar, membuat silhuet tersebut berbalik.

“KIM AERI, MASUKLAH KE KAMAR MANDI!!!!” teriak suara yang baru saja datang dan Aeri tahu itu adalah suara Minho. Sosok itu sempat berbalik menatap Aeri, entah kekuatan dari mana, tiba-tiba saja kedua kaki Aeri berlari menuju kamar mandi sebelum sosok itu menangkapnya dan melarikannya.

Kenop pintu kamar mandi telah berhasil diputar Aeri, ia segera masuk ke dalam dan menguncinya rapat-rapat. Membiarkan rasa takutnya lolos melalui desahan hebat dari mulutnya, kedua tangannya ia taruh di dada, merasakan detakan jantung yang begitu kencang.

Lamat-lamat terdengar suara dari dalam kamar. “HEI!!! JANGAN LARI!!!” terdengar suara Minho.

Traaakkkk….

KLIK!

Lampu kamar segera menyala saat Minho menekan saklar di dekat pintu.

Sreeeggggg….

Braaakkk…..

“Aaarrgghhhh!!!!” teriakan Minho membuat tubuh Aeri semakin menggigil di balik pintu kamar mandi, membayangkan apa yang sedang terjadi .

Praaanggggggggg…..

Bruukkk… Krosakkk…

Tak lama terdengar derap langkah kaki cepat mendekati pintu kamar mandi.

“Kim Aeri, ini aku, Choi Minho. Buka pintunya, gwancanha?”  Minho mengetuk-ngetuk pintu dengan panik. Namja itu terus mengetuk pintu sambil memutar-mutar kenop pintu yang terkunci dari dalam, ia sangat takut jika Aeri jatuh pingsan di dalam kamar mandi atau mungkin lebih buruk lagi.

Tak lama pintu terbuka, Minho segera melihat wajah Aeri yang begitu ketakutan. Kedua tangannya masih mengeratkan selimut merah muda yang menyampir di tubuhnya. Sementara wajah Aeri terlihat sangat kacau, matanya sembab dan bahkan air mata masih mentes di sana. Tubuhnya bahkan masih menggigil hebat, ia terlihat seperti kehilangan akalnya. Tatapannya kosong dan mengiba.

Dengan cepat Minho menarik yoeja itu ke dalam pelukannya “It’s okay, it’s okay.”  Aeri hanya diam membiarkan Minho memeluknya, dan tak lama suara isakan itu terdengar bahkan semakin keras. Aeri menangis sejadi-jadinya, ia tidak sedang berhalusinasi. Sosok itu memang ada, dan nyaris saja menjangkau Aeri jika Minho tidak datang.

It’s okay, kau aman. Menangislah baby.” Bisik Minho lagi, kali ini ia semakin mengeratkan pelukannya. Sesekali bibirnya mengecup puncak kepala Aeri. Sementara pikiran Minho sibuk mengenai sosok yang baru saja dilihatnya. Aeri tidak sedang berhalusinasi, seharusnya ia mempercayai yeoja itu sejak dulu.

Sosok itu bukan hantu, ia nyata dan bahkan melompat melalui jendela kamar Aeri. Ini tidak bisa terus dibiarkan, Aeri bisa celaka. Dan dentingan piano itu pun nyata. Minho benar-benar mendengarnya, dan mengikuti sosok itu berjalan menaiki tangga mahogani. Psikopat! Orang itu pasti seorang Psikopat! batin Minho.

“Ya Tuhan!!!! Apa yang terjadi? Oh! Kim Aeri!!!!” derap langkah kaki yang cepat terdengar menuju kamar Aeri. Eomma, appa dan kakak perempuan Aeri -Hyun ae- segera menerobos memasuki kamar Aeri. Mereka masih mengenakan pakaian tidur mereka, bahkan Hyun ae terlihat belum sadar sepenuhnya.

Minho menengok ke arah pintu, sementara ia masih memeluk Aeri. “Oh!Eommonim, orang itu. Suara piano itu nyata, ada sosok yang ingin mencelakai Aeri. Seorang psikopat!” Semua orang terkejut mendengar ucapan Minho. Seorang psikopat? Ingin mencelakai Aeri? Siapa? Mengapa?

Tuan Kim berhambur ke arah jendela yang telah pecah, pecahan jendela itu benar-benar menghabiskan seluruh kaca yang ada di sana. Nyaris bingkai jendela nya saja yang tersisa, membuktikan bahwa makhluk yang melewati jendela itu seukuran dengan tubuh manusia dewasa pada umumnya. Ia kemudian melongok ke bawah, melihat ke arah tanaman-tanaman di halaman belakangnya. Gelap! Tidak ada apapun yang terlihat.

Hyun ae yang sedari tadi masih belum sadar sepenuhnya tersontak saat ia mendengar kata ‘psikopat’. Itu semua nyata! Bahkan jendela yang pecah menjadi bukti kaku di sana. Jadi, selama ini adiknya tidak berhalusinasi? Dan seluruh anggota keluarga tak ada yang mempercayainya, membiarkan Aeri sendirian dalam ketakutan.

Nyonya Min membekap mulutnya sendiri, dadanya naik turun. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat ia berhambur ke arah Aeri yang masih diam dalam pelukan Minho.

Minho melonggarkan pelukannya pada Aeri agar Nyonya Kim bisa melihat putrinya. “Aeri-ya, gwaencanha?” meskipun tahu putri bungsunya tidak baik-baik saja, tapi Nyonya Kim tetap bertanya.

Wajah Aeri masih terlihat seperti orang bingung, pikirannya masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Sedetik kemudian, ia segera sadar dengan kehadiran eomma nya.  “Eomma…” Nyonya Kim segera memeluk putrinya erat, air matanya mulai menetes. Sungguh! Jika Minho tidak merencanakan tinggal di rumahnya tanpa sepengetahuan Aeri, tentu saja putrinya telah dicelakai oleh psikopat itu.

***

Jam masih menunjukkan pukul 1.30 dini hari, semua orang tidak ada yang kembali tidur kecuali Aeri yang tidur di kamar Hyun ae, dan tentu saja Hyun ae menjaganya di sana. Minho menyesap lagi cokelat hangatnya, sementara Tuan dan Nyonya Kim masih menatap Minho dengan wajah cemas. Keduanya menunggu Minho melanjutkan kalimatnya.

“Tenang saja, aku akan terus menjaga Aeri. Dan psikopat itu, kita akan segera menemukannya.” Minho menaruh cangkirnya, menatap kedua orang tua Aeri mantap. “Bagaimana bisa kita mengatahui siapa psikopat itu, Minho-ya?” tanya Tuan Kim ragu.

Minho tersenyum, ia mengangkat tangan kanannya. Memandangi jari-jarinya yang sedikit lebam, serta darah kering yang menempel di sela kuku-kukunya. “Aku sudah menandainya, orang itu… tangan kirinya terluka. Luka itu tidak akan hilang kurang dari satu minggu.” terang Minho.

Kedua orang tua Aeri terlihat begitu cemas, mereka takut untuk mengetahui siapa psikopat itu sebenarnya. Mereka takut, setelah kejadian ini, bukan hanya nyawa Aeri yang terancam, tapi juga nyawa seluruh anggota keluarga Kim. Termasuk Choi Minho yang terlibat dalam hal ini.

Minho masih menatap jari-jari tangannya dengan senyum penuh kemenangan “Kita harus bergerak cepat.” gumamnya.

***

Sore itu Nyonya Kim masih sibuk di dapurnya dengan persiapan makan malam dan beberapa jenis kudapan baru yang ia buat. Aroma panggangan kentang keju menyeruak sampai ke halaman belakang rumahnya, membuat Tuan Jung – tetangga mereka- menyapa Nyonya Kim dari luar jendela dapur.

“Oh! Nyonya Kim, bau masakanmu enak sekali.” Seru namja tua itu, tangannya menggedor salah satu jendela dapur. Ia mengenakan sarung tangan kebun berwarna kuning yang terlihat kotor oleh tanah, tangan kirinya memegang sekop kecil yang biasa digunakan untuk mencabut tanaman. Topi kebunnya yang terbuat dari anyaman itu membuatnya sangat mudah dikenali.

“Kau mau aku mengirimnya ke rumahmu, Tuan Jung? Aku yakin istri dan anakmu akan menyukai ini.” Nyonya Kim mengangkat satu loyang kentang keju yang telah selesai dipanggang.

“Tentu!” sahut Tuan Jung dari luar jendela, kemudian berlalu.

Satu loyang kentang keju terakhir yang baru saja dimasukkan Nyonya Kim ke dalam microwave dan setelah itu ia bisa memulai kudapannya.

Teng tong

Seseorang menekan bel rumahnya, Nyonya Kim sudah tahu siapa yang datang. Ia berjalan cepat menuju pintu depan rumahnya. “Akhirnya kau datang Kibum-ah, aku baru saja bersiap membuat makanan penutup.” Nyonya Kim kemudian berjalan menuju dapur dan diikuti oleh Key.

Nyonya Kim sangat menyukai anak tetangga barunya itu. Saat pertama kali mereka berkunjung, Key dengan lihainya menunjukkan bakat memasak yang luar biasa. Ia bahkan membuatkan Nyonya Kim pancake blueberry yang paling enak untuk kudapan sore.

Sama dengan dirinya, Key sangat pandai membuat bermacam-macam kudapan. Dan hal itu membuat Nyonya Kim sering memintai Key bantuan untuk membuat beberapa jenis kudapan baru setiap harinya.

Dan tentu saja namja berambut blonde itu dengan senang hati menerima ajakan Nyonya Kim untuk memasak. Selain melakukan hal yang ia suka, ia juga bisa diam-diam memperhatikan anak bungsu Nyonya Kim yang selalu memainkan piano tengah malam itu. Sambil menyelam, tentu Key bisa minum air bukan?

Key mulai memasukkan bahan-bahan ke dalam mangkuk adonan, sementara Nyonya Kim mengambil beberapa bahan tambahan yang belum sempat ia persiapkan.

Kali ini mereka akan membuat pastry yang Key beri nama ‘Rose Lady Finger’, hanya pastry berjenis lady fingerpastry seukuran telunjuk dengan bentuk memanjang- yang dilapisi es krim strawberry sebelum ditumpuk lagi oleh lady finger yang lain. Taburan gula tepung dan strawberry sebagai sentuhan akhir di puncaknya.

Mianhaeyo eommonim, bisa bantu aku menaburkan susu bubuk ini?” Key menunjuk susu bubuk yang masih terbungkus rapi di samping mangkuk adonan, sementara tangan kanannya masih sibuk mengaduk adonan.

Nyonya Kim segera meraih susu bubuk dan membuka pembungkusnya. Tidak biasanya Key meminta tolong hanya untuk memasukkan bahan dalam adonan saat tangannya sibuk mengaduk adonan. Biasanya ia akan menggunakan tangan kiri untuk memasukkan bahan tambahan.

Dengan sendirinya mata Nyonya Kim tertuju pada tangan kiri Key. Nyonya Kim sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya, namun dengan cepat ia berusaha menutupi keterkejutannya dengan menaburkan susu bubuk ke dalam adonan.

“Oh! tanganmu kenapa?” Nyonya Kim menunjuk tangan kiri Key, di mana perban tebal membalut telapak tangan kirinya. Key berhenti mengaduk adonan “Oh! ini?” ia mengacungkan tangan kirinya, sementara Nyonya Kim memandang Key tajam.

“Tanganku melepuh.” jawab Key singkat, kemudian kembali mengaduk adonannya. Ia acuh tak acuh dengan pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Kim. Nyonya Kim terus menaburkan susu bubuk, dipandanginya tangan kiri dan wajah Key bergantian. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengganggu pikirannya, sesuatu yang dikatakan Minho dini hari tadi. Apakah ada hubungannya?

“Melepuh?” tanya Nyonya Kim lagi, ia yakin ada sesuatu yang tidak beres. “Hmm, dua hari yang lalu kami kembali ke Daegu karena auntie-ku berulangtahun. Aku memasak beberapa jenis makanan, dan Samgyetang itu berhasil membuat tanganku melepuh.” Key mengalihkan pandangan dari adonan ke mata Nyonya Kim.

“Ah! Geurae. Kau harus lebih berhati-hati Kibum-ah, Samgyetang itu selalu disajikan dalam mangkuk besar dan tentu saja kuahnya akan lebih banyak dari kuah sayur biasa.” Nyonya Kim berusaha untuk tenang dan terus mengorek informasi mengenai luka di tangan Key hingga ia merasa yakin bahwa luka itu tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam.

“Sepertinya luka di tanganmu itu lebar.” Tambah Nyonya Kim lagi, ia menunjuk perban yang nyaris membungkus seluruh telapak tangan Key. Key kembali memandang tangan kirinya “Lumayan.” jawabnya singkat.

Key kembali pada adonannya, acuh tak acuh pada rasa penasaran Nyonya Kim terhadap lukanya. Sementara Nyonya Kim terus memandang Key, mengapa rasanya Key seolah tidak mau membahas soal luka itu? Biasanya Key akan membahas apapun yang ditanyakan Nyonya Kim.

“Lukanya sudah lumayan baik, jadi Dokter membalutnya dengan perban. Anda tahu Nyonya Kim? saat kuah Samgyetang yang panas itu membuat tanganku melepuh, Dokter bahkan tak mengijinkan sehelai benang pun menempel di sana,” terang Key, ia tiba-tiba berhenti mengaduk adonan dan memandang Nyonya Kim.

“Anda tahu? luka itu sangat mengerikan, bahkan aku bisa melihat daging tanganku sendiri.” bisik Key tajam, membuat Nyonya Kim bergidik. Key tertawa ringan, kemudian ia mencolek adonan dengan telunjuk tangan kanannya, mencoba adonan yang telah selesai ia buat.

Nyonya Kim masih memandangi Key dengan berbagai pertanyaan dan praduga dalam pikirannya. Mengapa Key tiba-tiba terlihat aneh di matanya? Ia seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Oh! dan bahkan ceritanya soal luka mengerikan itu mungkin saja hanya trik Key agar Nyonya Kim tidak terus bertanya soal luka itu.

“Boleh aku melihatnya?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Nyonya Kim, membuat Key berhanti menjilat adonan di jarinya. Bahkan jari tangan Key masih berada dalam mulutnya saat ia menoleh ke arah Nyonya Kim. Raut wajahnya berubah, menunjukkan penolakan yang begitu jelas.

Sejenak Key hanya memandang Nyonya Kim, ia merasa aneh karena Nyonya Kim kelihatannya begitu tertarik dengan luka di tangan kirinya itu. Key melepaskan jari tangan dari mulutnya, kemudian tersenyum “Tentu, aku tidak akan memperlihatkan luka mengerikan ini pada seorang wanita.” ucap Key tenang, ia kemudian mengambil cetakan adonan di lemari di atas bak cuci piring.

Deg!

Nyonya Kim hanya diam, jantung nya memompa darah lebih cepat dari yang seharusnya. Entah mengapa ucapan Key barusan malah membuatnya takut.

***

Minho menepikan mobilnya di depan gedung biru berlantai empat.  Ia hendak membuka sabuk pengaman yang menyampir di tubuh menumpang yang duduk di sampingnya, saat penumpang itu lebih cepat membukanya.

“Terimakasih sudah mengantarku, tapi kurasa kau tidak perlu seperti ini, Choi Minho.” Aeri menatap Minho. Yeoja itu belum terlihat sehat meskipun 2 hari telah berlalu sejak kejadian itu. Minho tidak mengijinkan Aeri untuk kembali berlatih piano, tapi hal itu justru kembali menimbulkan pertengkaran antara keduanya. Aeri kembali menuduh itu adalah akal-akalan Minho untuk membuatnya berhenti bermain piano.

Minho benar-benar kewalahan menghadapi Aeri yang begitu keras kepala, bahkan setelah kejadian mengerikan itu. Minho hanya belum bisa membiarkan Aeri jauh dari rumah, ia masih belum menemukan psikopat yang menyusup ke rumah keluarga Kim dan memainkan piano setiap malam di sana.

Aeri telah membuka pintu mobil dan hendak keluar saat tangan Minho menahannya.“Take care.” ucap Minho lembut, ia menatap lurus ke mata Aeri. Membuat jantung yeoja itu berdebar tiba-tiba. “Ne.” jawab Aeri singkat, kemudian berjalan menuju pintu masuk Mélodie.

Minho masih memperhatikan gadis pujaannya yang nyaris menghilang di pintu masuk Mélodie. Ia hendak menginjak gas dan meninggalkan tempat itu saat ia menangkap sosok seorang namja yang tiba-tiba muncul mengagetkan Aeri.

Minho urung melakukan niatnya, diperhatikannya namja yang hanya terlihat dari belakang itu. Namja itu berambut cokelat gelap, ia tidak lebih tinggi dari Minho, dan ia mengenakan tshirt putih yang dipadu dengan jaket biru tua.

Aeri tertawa saat namja itu mengatakan sesuatu padanya. Oh! Sungguh! Bahkan Aeri tidak tertawa seperti itu saat ia bersama Minho. Namja itu kemudian menaruh punggung tangan kirinya di kening Aeri, dengan cepat Aeri menurunkan tangan si namja dan mengatakan sesuatu.

Minho tersenyum hambar, ia memalingkan wajahnya sekilas. Jadi, sudah ada namja lain rupanya? Sesaat Minho merasa namja berambut cokelat gelap itu adalah rival-nya, tapi sejurus kemudian ia merasa namja itu tidak pantas menjadi rival-nya.  Minho yakin bahwa ia masih memiliki tempat istimewa di hati Aeri. Karen jika tidak, yeoja itu tidak akan membiarkan Minho menciumnya dua hari yang lalu. Minho masih memperhatikan keduanya saat sesuatu menarik perhatiannya. Tangan kiri namja itu dibalut perban.

Deg!

Mengapa tiba-tiba Minho merasa hatinya tidak tenang? Ia kembali mengingat saat ia meraih tangan kiri psikopat itu, menggenggamnya dengan kuat, bahkan menancapkan kukunya sekuat tenaga agar psikopat itu tidak melarikan diri melalui jendela.

Apa namja itu…

Minho segera melepas sabuk pengamannya dan baru saja keluar dari mobil saat Aeri dan namja dengan jaket biru tua itu segera menghilang di balik pintu utama Mélodie. Minho menghentikan langkahnya yang baru menapaki tangga kedua di halaman Mélodie, ia tidak boleh gegabah. Aeri akan berpikiran lain terhadap tindakannya.

Minho kembali ke dalam mobil dan dengan cepat melesat menuju tempat prakteknya, ada beberapa pasien yang sudah membuat janji dengannya hari ini.

***

“Oh! tanganmu kenapa?” tanya Aeri yang baru menyadari telapak tangan kiri Jinki dibalut perban. Jinki menghentikan Pastoral Soanata yang sedang ia mainkan, kemudian mengangkat tangan kirinya. “Aku mencederai tanganku sendiri.” terang Jinki singkat, ia kemudian kembali bermain piano.

Aeri masih duduk di sofa putih di belakang Piano, ia memperhatikan tangan Jinki lagi. “Jinjja? It looks terrible!” Jinki menghentikan permainannya lagi, jari-jarinya masih menekan tuts-tuts piano.

Ia mendesah ringan, kemudian berbalik menghadap Aeri. “Kemarin aku tidak hati-hati saat menutup bagasi mobil.” akhirnya Jinki mau bercerita. Aeri terlonjak, ia segera berhambur ke arah Jinki. Menggenggam tangan kiri Jinki dengan hati-hati dan memperhatikannya “Aigo! Kau seorang pianis, kau harus menjaga tanganmu dengan baik Jinki-ya. Tangan ini adalah hidup kita.”  Aeri berceloteh panjang lebar, membuat kedua sudut bibir Jinki terangkat.

“Kau cemas?” tanyanya. “Oh?!” Aeri baru sadar bahwa ia terlalu mencemaskan Jinki barusan. Tentu saja ia cemas, tangan adalah nyawa bagi seorang pianis. Dan Jinki baru saja bertindak ceroboh dengan melukai tangannya. Tapi Aeri rasa Jinki telah mengartikan rasa cemasnya dalam arti yang lain.

Danghyeonghajyeong. Kita adalah pianis, tangan ini adalah hidup kita. Kau harus menjaganya dengan baik, Jinki-ya.” lanjut Aeri tenang. Ia berusaha agar namja itu tidak salah mengartikan kebaikannya.

Jinki masih menatap Aeri dengan senyum mengembang di wajahnya, bagaimana ia tidak senang? Yeoja itu baru saja berhambur ke arahnya dan mengomelinya karena tidak hati-hati. Bolehkah Jinki sedikit berharap?

“Tapi kelihatannya tidak seburuk yang kukira, kau masih bisa bermain piano.” Aeri mendekatkan wajahnya pada tangan kiri Jinki, memperhatikan balutan perban di sana seolah ia sedang melihat amoeba yang membelah diri.

Deg!

“Oh! Dokter bilang lukanya ringan, I’m okay! Really!” Jinki cepat-cepat menarik tangannya dari genggaman Aeri. “Ah! Sudah siang, kau mau makan siang bersamaku? Ada café yang menjual spagheti enak di dekat stasiun.”

Aeri sempat berpikir, tentu saja ia akan menolak ajakan Jinki seperti yang sudah-sudah. Tapi cacing dalam perutnya yang sudah mulai berdemo membuat Aeri mengiyakan ajakan Jinki, lagipula Spagheti itu sepertinya enak, pikir Aeri.

=TBC=

18 thoughts on “Moonlight Sonata – Part 3

  1. hehehhe mian baru komen setelah part 3-nya muncul hehe ^^v awalnya sih gk berani baca part2 selanjutnya, agk horror. tpi2 setelah baca part 3 ini hemm seruuu 😀😀

    luka di tangan kirinya. Key atau Jinki?
    feeling aku sih eon, itu Jinki. alasannya, coz cuma Jinki yg bisa main-in piano dan ternyata dia juga punya ketertarikan sma Aeri.
    Ah! liat karakter Jinki yg misterius, itu tanda2 dia kyk org psikopat ^^v psti ada karakter yg dia sembunyi-in hehe
    itu sih berdasarkan analisis aku sendiri *halah hehe

    eonni ad bbrp yg typo, slh stunya yg ini : Silhuet itu semakin mendekat ke arah Hye ri.🙂

    next part eonni sangat dinantikan hhe😀😀

    • .hha. jgn takut pda horror *pdahal skarang2 ak suka horror sndiri*
      .hhe. Nah, tebakannya nti disamain ajh sma part2 berikutnya biar seru *plaakk*

      iyh, bnyk bgt malahn typo-nya. Duh! ktauan deh itu cast awalnya Min Hyeri lgi.kekek. ^^v
      udh dibenerin sih, tpi gtau msih ada typo-nya apa engge.kekek.

      oKEY, nantikan yaa. gomawo🙂

  2. Di incar 3 namja tampan,
    pengeeennnn..plaakk

    Wowowow…
    Iseng” jd sherlock(?), menguak mistery yg menarik…

    Jinki atau Key?
    Soalny kduanya pny luka d tangan kiri, bsa main piano smua kan, klo g slh d part 2 key prnah nunjkin main piano, yg serem gtu musiknya.. Trus kduany jg trtarik ke Aeri,, woaaa euncha aku perlu clue lg.eh

    ad bebrapa typo,tp aku lupa lg.plaaak
    no problem lah..kekeke

    ditunggu klnjtanny Cha, FIGHTING

    • aku juga pengen *plaaakkk*

      iyh, dua makhluk *?* itu memang mencurigakan banget2 deh ^^v
      nantikan clue lainnya.hhe.

      iyh, bnyk bgt ko typo-nya. aku kurang awas sma typo.hemm. tpi udh diperbaiki sih, cma ga tau msih ada apa engga *plaaakkk*
      wuah, gomawo yh pokonya ^^!

  3. akhirnya nongol jg ff ini😀
    hyaa eun cha-ya, jinja! part ini menegangkan. Trus itu, siapa sosok itu? Key atau Jinki?! aku agak curiga ama Key dehh. Tp kalo ingat 2 ff mystery km sbelumnya yg endingnya mengejutkn, bs aja Jinki jg jd trsangkanya. Aishh molla ><
    lanjut lanjutt🙂

  4. Eumm… Suspect nambah satu lagi, Lee Jinki.

    Aku nebak sih ya, cuma nebak loh ya Eun Cha-ssi,
    tersangkanya si Jinki, dia pgn menang di The Pianist+cintanya yg gak dibales2, jd dy neror Aeri.
    Kenapa tangan Key terluka juga? Mungkin karena dy mw nangkep Jinki yg kabur lewat Jendela tp gagal, malah dy ikut terluka.
    Trs entar Key yg di kambing-hitamin duluan.

    Haaahhh… Baca Moonlight Sonata menguras pikiran, #usap peluh di dahi

    Sekian review tebak2an dr saya. Moga gak nyinggung Eun Cha-ssi.

    Ditunggu next part-nya ya,,,

    • wah, ada nuna main ksini lagi🙂

      .kekek. silakan menebak ajh, ga dilarang ko ^^v
      Hemm, analisisnya boleh juga nih.kekek.
      Nah, nah siapakah sebenernya psikopat itu. Nanti disamakan sma part2 berikutnya yaa *plaakkk*

      Wah, sama sekali ga menyinggung ko, nuna. senenng malahan klo reader ikut menganalisis dan menebak2 siapa pelakunya.kekek.
      Gomawo ^^~

  5. Kalo masalah bikin penasaran…eun cha eonnie deh jagonya. Awalnya aku mikir pelakunya Key loh, tapi pas baca terakhir yang Onew juga luka….udah deh bingung antara dua makhluk ganteng itu yg mana beneran psikopat.

    Ditunggu kelanjutannya😀

    • .kekek. kalo akunya, bikin penasaran juga ga? *plaaakkk* *narsis*

      Hemm, di antara cowo ganteng itu, siapakah psikopat sebenarnya? Nantikan yaa, Almira-ssi🙂
      Gomawo udah baca😉

  6. Perasaanku aja atau memang Eun Cha suka sama cerita yang berbau misteri, thriller, horror dan sejenisnya ya? Saya juga suka siy, karena bikin penasaran. Mian saya baru komen di part ini. Selesai baca part satu langsung gk sabar baca part selanjutnya..🙂
    Di part 2, Jinki sebagai main cast gak nongol, di part itu lebih menjelaskan hubungan Aeri dan Minho. Apalagi di part ini, rasanya Minho yang jadi main castnya.. Kayaknya yang ngintip Aeri dan Minho kissing si Key, sempet mikir juga klo Key yang psiko, tapi Jinki juga mungkin karena dia pinter main piano..
    eeeh, intinya saya penasaran siapa yang psiko. Kira2 ff ini sampai part berapa ya? Eun Cha-ssi, ditunggu part selanjutnya..🙂

    • Wah! ya ampun. Lydia eonn, komennya blm aku bls ternyata, mianhaeyo *bow*
      iyah eonn, aku peyuka cerita2 misteri, horror, thriller dan sdikit psycho.hhe.
      yups, di part ini kyanya khilaf eonn, kbnyakan minhonya.hhe.
      oKEY, gomawo yh eonni. part 4-nya sudah ada ko.🙂

  7. eh… udh baca part 1-3nya..
    dan baru ngeh. emang ortu n eonninya aeri gak dgr gitu ya dentingan piano tgh malam itu?

    td di awal2–sekitar part 1 ato 2 gtu smpt mikir malah mino yg psikopatnya. hahahahaha gara2 dia kan nyuruh aeri berhenti jd pianis gtu.

    klo diliat2 smpe part 4 kmrin, kmungkinan bsr itu key ya. soalnya kynya dia tau seluk-beluk rumah aeri. trus ada di part sblmnya key blg dia ky nunjukkin sesuatu. ya yg piano berbunyi tengah malam itu.

    ah pokoknya.. lanjutannya tetep ditunggu. hehehe

  8. Aeri beruntungnya kamu….
    3 namja tampan mencintaimu…
    Kalo kamu ragu…
    Kasih Jinki buatku…

    Maksudnya mau buat ouisi, gitu… jadinya obat mules,
    buat yang baca pengen be’ol2… #eh, nyebut itu lagi….

    Aduh, eon pusing…
    JinKey punya luka di tangan kiri
    Psikopat berkepribadian misterius nan pemalu spt Jinki bnyak…
    yang berkepribadian hangat, periang di luar untuk menutupi sisi lainnya
    juga bnyak di buat di film2….
    Jadi dua2nya punya kans untuk jd psikopat….

    #adeuw… muter2 ngomongnya, jadi tebakannnya siapa?
    gak tau, deh, bingung, eon ikut eun cha aja…
    maunya siapa… eon pasrah…. #gubrak…

    Yang penting, Jinki buat eon aja, ya….
    #dilempar piano….

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s