Gloomy Sunday – Part 1

Glommy Sunday

Gloomy Sunday

Main cast :

Lee [Onew] Jinki | Choi Minho

Supporting cast :

The rest of SHINee’s members | Kim Aeri [Imaginary character] | Rachael Kim [Imaginary character]

Author             : Song Eun cha

Genre              :Mystery, Horror, friendship

Length            : Sequel

Rating             : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

Hi! Akhirnya Euncha post New FF. Honesty, FF ini tadinya akan diikutsertakan u/FF party ultahnya Minho & Onew. Tapi, berhubung ga bisa ngejar deadline. Makanya ga jadi dikirim dan dipublish di blog probadi.hhe. Harap maklum yaa🙂
Mohon maaf u/kekurangan dan typo dan ketidalogisan cerita. ^^v
Karena alasan tersendiri, akhir2 ini Euncha kehilangan semangat buat nulis. Buat yang nunggu Moonlight Sonata Part 4, mudah2an ga lama lagi Euncha publish yaa. Terima kasih udah nunggu🙂
oKEY, selamat membaca Gloomy Sunday. Saran dan kritik yang membangun sangat diharapakan. Use proper language in commenting this story. So, it won’t mislead me. I’m -open hearted- accepting your critic as long as u know how to do it politely. Stupidity starts when we think that we are excellent!

Satu pagi di musim dingin tanpa salju. Sinar mentari sedikit menghangatkan kota Seoul, membuat orang-orang lebih bersemangat menyongsong akhir pekan mereka. Hiruk pikuk terdengar sejak subuh, semua orang begitu bersemangat dengan kegiatan mereka. Kembali merajut mimpi yang sempat tertunda karena gundukan salju yang membekukan kota.

 

Sunday is gloomy,
My hours are slumberless
Dearest the shadows
I live with are numberless

Lantunan irama jazz yang menyayat hati itu terdengar dari sebuah gramofon berwarna emas yang terletak di sudut kamar. Tapi anehnya, tak ada bangsawan manapun yang tengah menikmatinya. Hanya kamar tanpa penghuni yang terasa dingin dan kaku. Wajah-wajah yang tergantung di dinding seolah menjadi pendengar setia suara Billie Holliday yang merdu menyayat.

 

Little white flowers
Will never awaken you
Not where the black coaches
Sorrow has taken you

Angin berhembus ringan, menyibakkan tirai putih yang menggantung menutupi seperempat bagian jendela. Sinar mentari masuk melalui jendela yang terbuka lebar. Tapi sayangnya, itu sama sekali tidak menghangatkan hati yang terlanjur membeku.

 

Angels have no thoughts
Of ever returning you
Wouldn’t they be angry
If I thought of joining you?

Piringan hitam itu terus berputar, putaran yang begitu halus. Sama seperti saat gramofon itu dibeli si pemiliknya di sebuah toko antik dua tahun yang lalu. Tapi sayang, kali ini ia tidak lagi bisa menikmati piringan-piringan hitamnya dengan perasaan senang.

 

Gloomy is Sunday
With shadows I spend it all
My heart and I have decided
To end it all

Wanita itu menatap lagi ke bawah, membuat lututnya kembali bergetar hebat. Kedua tangannya berpegangan erat pada pagar pembatas beranda kamarnya. Ia melangkah perlahan, mengatur posisinya agar tepat berhadapan dengan jalan umum yang sering dilewati orang. Jari-jari kakinya yang pucat menekuk kuat, seolah menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh. Ia memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam, sementara air mata tak henti membasahi wajahnya. Ia begitu ketakutan. Tapi sungguh! Akan lebih baik jika ia segera mengakhiri penderitaanya selama ini.

Angin menyibakkan dress tidur putih sematakakinya, seolah memintanya untuk segera melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Air matanya masih mengalir deras saat ia menengokkan lagi kepalanya ke arah jendela. Menatap kamarnya yang rapi, serta gramofon tua di sudut kamar yang masih memutar lagu Gloomy Sunday. Ia menggeleng perlahan.

 

Let them know
That I’m glad to go
Death is no dream
For in death I’m caressi’n you

Ia kembali menatap ke bawah, memberanikan dirinya untuk tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh tidak pada waktunya. Matanya liar mengamati orang-orang yang berlalu lalang di bawahnya.  Belum terlalu banyak, pikirnya.

 

With the last breath of my soul
I’ll be blessin’ you

Ia memejamkan matanya, membuka memori-memori lama. Klise-klise itu berputar begitu cepat dalam kepalanya. Membuatnya begitu ketakutan dan menyesali apa yang telah dilakukannya sepuluh tahun yang lalu.

 

Dreaming
I was only dreaming
I wake and I find you asleep
In the deep of my heart here

Klise-klise itu terus berputar dalam kepalanya, begitu cepat seiringan dengan irama Gloomy Sunday yang nyaris mencapai bagian akhir. Ia kemudian membuka matanya perlahan, merasakan semilir angin yang seolah memeluknya erat. Lalu menatap jalanan sepi di bawah.

Piringan hitam itu terus berputar, hingga menimbulkan deritan kecil. Wanita itu melirik lagi kamarnya, melirik ke arah gramofon tua kesayangannya. Tersenyum kecil sebelum kembali menatap jalanan di bawahnya. Entah bagaimana, tapi ketakutannya seolah menguap. Berputar hilang bersamaan dengan piringan hitam itu. Rasa takut itu akan sirna, dosa itu akan terhapus jika ia segera mengakhiri segalanya.

Ia melangkahkan kaki kirinya lebih jauh dari yang kanan, perlahan tapi pasti. Hingga kini hanya kaki kanannya yang masih menjejak di plafon beranda kamar. Gemuruh dalam dadanya perlahan menguap, tergantikan dengan perasaan tenang yang muncul begitu saja.

 

My heart is tellin’ you
How much I wanted you
Gloomy sunday 

Ia tersenyum, kemudian memejamkan matanya. Membiarkan semilir angin menguasai dirinya. Perlahan ia melepas kedua tangannya yang memegang pinggiran pagar pembatas. Angin itu kini memeluknya semakin erat, kemudian meluncur bebas ke bawah bersamaan dengan tubuh mungilnya. Seolah ia dan angin itu adalah satu kesatuan, terjun bebas meninggalkan penderitaan yang menyiksa batinnya selama sepuluh tahun terakhir.

Brrruuuuuuuukkkkkkkkkkk

Tubuh wanita itu terhempas ke tanah beraspal. Menimbulkan debuman yang mengisyaratkan patahnya beberapa tulang di tubuhnya. Tak perlu waktu lama hingga orang-orang berkerumun di sana, mengelilingi tubuh yang tergeletak kaku. Warna merah itu segera bercampur dengan putih yang membekukan kota.

Salah satu di antara sekian banyak orang yang ikut berkerumun di sana melongok ke arah beranda-tempat wanita tadi terjatuh. Lantai sembilan apartemen Starlite, matanya menyipit memastikan apa beranda itu benar-benar tempat wanita tadi mengakhiri hidupnya.

***

Satu hari lagi tanpa salju. Cuaca memang terasa masih dingin, tapi tidak ada salju yang turun sejak pagi. Minggu ketiga bulan November, musim dingin memasuki puncaknya.

Hiruk pikuk terdengar di sekitar gang apartemen Stay7, suara sepeda yang dikendarai bocah pengirim harian umum itu terdengar di sepanjang gang. Suara botol-botol susu yang saling bersentuhan pun tak luput dari pendengaran. Memang akhir pekan akan menyenangkan apabila salju tidak turun.

Tidak terkecuali seorang namja berusia 24 tahun yang tengah sibuk dengan mesin cucinya. Ia menatap lagi buih sabun yang berputar bersama pakaian-pakaian kotor yang sejak dua minggu lalu tergeletak di keranjang cucian.

Ia tersenyum, menatap langit musim dingin yang cerah. Baiklah, akhir pekan ini akan sangat sempurna jika ditemani secangkir Espresso dan New York Times.  Oh! Tentu saja ini akhir pekan, lalu apa salahnya membaca New York Times? Terlebih lagi bagi lelaki dengan profesi detektif ini, mengetahui berita terbaru adalah hal wajib.

Lelaki ini bernama Lee Jinki, tinggi 177cm dengan rambut berwarna cokelat gelap. Pada dasarnya ia mengenakan kacamata minus, tapi arus modernisasi memaksanya untuk terbiasa dengan lensa kontak.

Sambil menunggu mesin cuci menyelesaikan cuciannya, ia duduk di dekat jendela yang menghadap ke beranda sempit. Ia duduk di single sofa berwarna maroon lusuh, menyandarkan bahu tegapnya di sana. Tangannya meraih cangkir Espresso, sementara matanya tak lepas dari New York Times yang telah berada di tangan kanannya.

Ia menyesap Espresso yang masih mengepulkan asap itu perlahan, lalu menaruh cangkir di atas meja hias di sampingnya. Matanya liar membaca headline dan subline news yang ditulis dalam bahasa Inggris itu. Tak sampai lima menit, ia telah menaruh New York Times ke atas pahanya. Mendesah ringan karena kecewa, tidak ada berita yang menarik Minggu ini. Hanya berita-berita umum seperti perkembangan ekonomi, politik terkini, juga kecelakaan lalu lintas. Tidak ada kasus yang menarik hatinya.

Ia beranjak, meraih lagi cangkir Espresso-nya dan menaruh New York Times ke atas meja hias. Menyeruput Espresso yang sangat ia rindukan. Tentu saja! kapan lagi ia bisa minum kopi kesukaannya tanpa diganggu analisa-analisa yang tak henti berputar dalam kepala?

Minggu ini akan menjadi hari Minggu yang menyenangkan baginya. Ia mendapatkan libur dari kantor tempat ia bekerja – Kantor Detektif Sherlock. Kasus yang baru saja ditangani Jinki berhasil membuat kepolisian daerah Gangnam berdecak kagum dan menggelengkan kepala.

Tentu saja ia mendapatkan penghargaan dan hadiah atas prestasinya yang membuat nama kepolisian daerah Gangnam terkenal seantero Seoul. Tapi bukan itu point-nya. Lee Jinki, namja tampan ini lebih fokus pada kebahagiaan tak bernilai yang ia rasakan tiap kali menyelesaikan suatu kasus. Uang memang penting, tapi yang lebih penting dari itu adalah kebahagiaan yang tentu saja tidak bisa dibeli dengan uang.

Ia melirik jam dinding cokelat dengan pendulum yang terus bergoyang di bagian bawahnya. Pukul 8.35, ia masih punya waktu beberapa jam sebelum menemui gadis yang selama ini ia perhatikan diam-diam. Tentu saja! gadis itu tidak akan menyangka bahwa ajakan Jinki adalah sebuah ajakan kencan. Dan mungkin gadis manapun akan menganggapnya seperti itu. Yeah! Lee Jinki, lelaki dingin yang kerjanya hanya memikirkan kasus dan analisa. Membosankan!

Ia baru saja hendak beranjak saat ponsel yang ia simpan di saku celana rumahannya berbunyi. Memperdengarkan melodi Canon in D milik Pachelbel. Nama Mr.J menari-nari di ponsel layar sentuhnya. Jinki berdecak, bagiamana bisa Mr.J menghubunginya di hari libur seperti ini? terlebih lagi Jinki memang sedang dalam masa liburnya, batin Jinki.

Sedikit malas Jinki akhirnya menjawab panggilan dari pemilik kantor tempat ia bekerja. “Jinki-ya, kau sudah baca koran hari ini?” suara Mr.J segera menyerbu memenuhi gendang telinga Jinki. Sudah Jinki duga, bahkan lelaki misterius –yang tidak pernah diketahui rupanya- itu tidak berbasa-basi dulu. “Sudah! Tidak ada yang menarik!” terang Jinki malas, sepertinya Mr.J memang akan merusak hari liburnya dengan kasus baru.

“Bukan New York Times! Bacalah harian umum lokal!” suara Mr.J terdengar begitu lantang, ia tahu bahwa detektifnya yang satu ini selalu melupakan harian umum lokal. Jinki berjengit, beranjak ke luar dari flat sempitnya. Menuruni tangga besi yang menghubungkannya ke lobi flat.

“Oh! kau mendapatkan hari libur, Jinki-ssi?” tanya security yang baru saja masuk ke lobi sambil menenteng kopi dalam gelas kertas dan kantong kertas kecil -yang Jinki yakini berisi beef Croissant. Jinki tersenyum, “Akan segera berakhir setelah aku membaca ini.” Jinki meraih harian umum lokal di meja resepsionis, kemudian mengacungkannya ke arah security tadi.

Jinki melangkah menuju tangga besi- menuju flat sempitnya. Bahu kanannya terangkat, mengepit ponsel di antara telinga dan bahunya. Kedua tangannya sibuk membuka halaman harian umum lokal. Matanya segera menangkap subline news di kolom kiri bawah halaman utama.

“Seorang wanita terjun dari apartemen lantai 9”

“I’m on my way,” gumam Jinki. Dan dijawab oleh dehaman dari Mr.J di seberang sana.

Kedua mata Jinki liar menjelajahi setiap baris kalimat yang tertera di sana. Mulutnya berkomat-kamit tak jelas.

Park Minjung, 47 tahun. Ditemukan tewas di depan apartemen Starlite, Apgujeong tepat pukul 10.15am  KST. Korban diduga mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari beranda apartemennya di lantai sembilan pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. Polisi telah melakukan olah TKP dan tidak menemukan bukti mencurigakan. Kepala kepolisian setempat menyatakan bahwa ini adalah murni kasus bunuh diri. Korban diduga tertekan dengan masalah yang tengah dihadapinya. Polisi menemukan gramofon yang masih memutar piringan hitam di apartemen korban. Setelah diteliti, piringan hitam tersebut berisi rekaman suara penyanyi Billie Holiday yang berjudul Gloomy Sunday.

Gloomy Sunday?” tanya Jinki yang sebenarnya ia tujukan pada diri sendiri. Ia membuka pintu flat-nya, dan segera duduk di sofa lusuh kesayangannya. “Pernah dengar kasus serupa sebelumnya?” tanya Mr.J santai.

Jinki menaruh harian umum yang baru saja dibacanya di atas New York Times, lalu meraih cangkir Espresso-nya yang mulai dingin. “Hmm, sepuluh tahun yang lalu. Jung Ahjung ditemukan tewas dengan cara serupa. Kasus ditutup karena tidak ada bukti kuat. Diduga para pelaku lebih dari satu orang dan bekerjasama mengecoh polisi untuk menghilangkan jejak dari kasus tersebut.” Jinki berusaha membuka lagi ingatan lamanya mengenai kasus yang tidak sengaja ia baca di ruang detektif lain saat umurnya masih 15 tahun.

“Tidak sia-sia aku memberimu medali emas atas kemampuan mengingat yang begitu bagus!” Mr.J terkekeh di seberang sana. Jinki berdecak, ia tidak suka dengan cara bercanda atasannya. “Lalu? Menurutmu ini ada hubungannya dengan kasus Jung Ahjung?” tanya Jinki langsung pada point-nya.

Bravo! Sebelumnya aku telah mendiskusikan hal ini dengan Rachael Kim, pendapatnya serupa denganku.” terang Mr.J. Jinki berdecak, lagi-lagi Rachael Kim. Sampai kapan Mr.J akan menjadi satu peringkat di bawah Rachael Kim? batin Jinki. “Rachael Kim? kukira dia tidak benar-benar nyata.” cibir Jinki.

“Yaa! Suatu saat kau akan bertemu dengannya.” bela Mr.J, berusaha meyakinkan Jinki bahwa Rachael Kim yang selama ini menjadi satu-satunya partner terbaik Mr.J adalah nyata. “Aku akan mengakuinya jika ia telah benar-benar muncul di hadapanku.” kini Jinki terkekeh. Ujung bibir kirinya terangkat, menghasilkan seringai tajam yang sedikit mencemooh.

Benar! Jangankan Rachael Kim, seperti apa rupa Mr.J saja Jinki tidak pernah tahu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui rupa asli Mr.J, seluruh detektif di kantor Sherlock mengakui hal itu. Mereka bahkan menduga bahwa Mr.J adalah nama rekayasa dari salah satu di antara sekian banyak detektif yang ada. Dan hal ini sempat membuat seluruh detektif kantor Sherlock saling mencurigai.

Mr.J ini hanya akan menghubungi para detektifnya melalui telepon. Tentu saja ia sangat cerdas! Ia menelepon dengan caller ID “Mr.J” yang akan tiba-tiba muncul di layar ponsel meskipun detektifnya tidak pernah menyimpan nomor dengan nama tersebut. Dan yang akan terjadi jika para detektifnya menelepon balik adalah suara udara kosong selama tiga detik, lalu sambungan terputus.

Hubungannya dengan Rachael Kim tidak kalah misteriusnya dengan identitas Mr.J. Rachael Kim selalu disebut-sebut sebagai detektif yang jauh lebih cerdas dibanding Mr.J. Tentu saja nama Rachael Kim dianggap sebagai nama rekayasa dan tidak pernah ada di dunia nyata. Tapi sayangnya, nama Rachael Kim memang telah dikenal di beberapa negara Eropa. Tidak pernah ada informasi yang jelas mengenai Rachael Kim. Wanita yang disinyalir berusia akhir 20-an itu selalu menampakkan dirinya dengan rupa berbeda. Ada yang mengatakan pernah melihat Rachael Kim sebagai wanita tua berusia 70-an dengan tongkat, lainnya mengatakan pernah melihat Rachael Kim sebagai wanita muda berusia 22 dengan tubuh seksi dan sering berkeliaran di bar.  Tak ada kejelasan dari berita-berita tersebut.

“Jadi, kau ingin aku melakukan apa?” tanya Jinki cepat. Ia tahu Mr.J akan sedikit berputar-putar jika meminta Jinki menangani kasus di hari libur yang bahkan diberikan sendiri oleh Mr.J. Di seberang sana Mr.J tertawa renyah, “Seperti biasanya, kau tidak bisa diajak bercanda, Jinki-ya.” perlahan tawa Mr.J menghilang, kini suaranya berubah menjadi sangat serius. “Seperti yang kukatakan barusan, kasus ini ada hubungannya dengan kasus Jung Ahjung sepuluh tahun yang lalu. Kukira pelakunya adalah seseorang yang memiliki hubungan dengan Jung Ahjung dan merupakan satu-satunya saksi kasus tersebut.”

“Siapa yang kau curigai?” tanya Jinki, dalam kepalanya tengah berputar analisis kecil. “Belum pasti, mungkin anggota keluarganya. Tapi yang jelas, kedua kasus ini berhubungan. Polisi menemukan gramofon yang tengah memutar piringan hitam berisi lagu Gloomy Sunday– Billie Holiday di TKP kasus Jung Ahjung. Selain itu,  Jung Ahjung tewas pada tanggal 21 Desember 2002, hari Sabtu. Beritanya muncul di harian umum lokal keesokan harinya, 22 Desember 2002, hari Minggu. Ini adalah pola yang sama.” terang Mr.J panjang lebar.

Jinki diam, kepalanya menoleh ke beranda flat-nya yang sempit, memandang langit mendung tanpa salju. Analisis yang baru saja berputar dalam kepalanya dengan cepat mengingatkannya pada tragedi besar di akhir tahun 60-an. Di mana banyak orang melakukan bunuh diri setelah mendengar lagu Gloomy Sunday. Hingga saat ini, tidak ada konfirmasi atas benarnya penyebab kasus bunuh diri yang besar itu adalah lagu karangan Rezső Seress.

“Mr.J, siapa saja yang sudah kau hubungi untuk mendiskusikan kasus ini?” tanya Jinki, kedua kakinya melangkah menuju mesin cuci yang telah berhenti berputar. Tangannya dengan cepat menekan mode auto-dry, kemudian berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. “Rachael Kim dan kau.” Jawab Mr.J singkat, ia tahu pertanyaan Jinki memiliki makna bahwa detektif itu setuju untuk menangani kasus yang baru saja dibicarakan.

Sesaat keheningan menyelimuti keduanya, Mr.J membiarkan Jinki melakukan kesibukan kecil yang ia tahu akan segera membawa Jinki ke kantornya. Jinki mengepit lagi ponsel di antara telinga dan bahu kanannya, kedua tangannya kini sibuk mengganti celana rumahan yang ia kenakan dengan denim hitamnya. Lalu meraih coat hitam tebal yang menggantung di balik pintu.

“Bisa minta seseorang menyimpan data mengenai kasus Jung Ahjung dan Park Minjung di ruanganku segera?” pinta Jinki, kini ia menyambar dompet dan kunci mobilnya di nakas. Melangkah cepat menuju ruang tengah, dan menyeruput Espresso-nya sampai habis sebelum bergegas menuju kantor detektif Sherlock.

***

Lelaki jangkung dengan mata bulat itu mengetuk-ngetukkan lagi kaki kanannya ke lantai. Sesekali matanya melirik arloji berwarna emas di tangan kirinya, lalu melirik pintu di belakangnya. Tidak ada seorang pun yang masuk. Diliriknya lagi dua buah map berwarna hitam yang dua puluh menit lalu berhasil ia bawa dari ruang arsip ke ruangan tempat ia menunggu seseorang.

Klek

Pintu terbuka, menampakkan sosok lelaki berbalut coat hitam. Tubuhnya tidak setinggi lelaki yang tengah duduk tadi.  Kedua tangannya tersimpan rapi di saku coat-nya, ia berjalan sambil menundukkan kepala. Lelaki bermata bulat tadi segera bangkit “Annyeonghaseyo, Jinki sunbaenim.” sapanya sambil membungkukkan tubuhnya.

Jinki sedikit terkejut, baru menyadari ada seseorang dalam ruangannya. Lantas ia memandang lelaki bermata besar itu. “Siapa kau?” tanya Jinki enteng, lalu duduk di kursinya. “Choi Minho imnida, Aku detektif baru yang akan menjadi asisten Jinki sunbaenim.” ucap Minho riang, ia kemudian kembali duduk di kursi.

Jinki terlonjak, ia urung meraih dua map berwarna hitam di atas mejanya. “Asisten?” tanyanya. Meski terkejut, Jinki sukses menyembunyikan keterkejutannya dan bertanya dengan tenang. “Ne, mulai sekarang aku akan menjadi asisten Jinki hyung.” Senyum di wajah Minho semakin mengembang.

Hyung?” tanya Jinki yang lebih mirip dengan cibiran. Ia memandang Minho sambil mengangkat alis sebelah kirinya, lantas memnperhatikan Minho dari ujung rambut hingga batas dadanya yang terhalang oleh meja. Jinki melirik ke arah pintu sekilas, seolah mencari seseorang. “Tapi aku tidak perlu asisten.” terang Jinki ketus, ia lalu meraih map yang terletak paling atas dan mulai membukanya.

Lelaki bernama Minho itu sempat memberenggut saat mendengar apa yang diucapkan Jinki. Hatinya sedikit kecewa karena kehadirannya sama sekali tidak disambut dengan baik. Padahal, ia telah membayangkan bahwa hari-harinya sebagai asisten seorang Lee Jinki akan sangat menyenangkan. Selain itu, sosok Lee Jinki yang selama ini ada dalam kepalanya adalah detektif cerdas yang ramah dan keren. Baiklah, keren tidak selalu ramah.

Ia lalu menatap Jinki yang tengah membaca data dalam map. Mulut Jinki berkomat-kamit, membaca tulisan dalam map tanpa suara. “Park Minjung, 47 tahun. Istri anggota parlemen Korea yang bertugas di Syukaku, Jepang. Tewas pada hari Sabtu, 1 Desember 2012. Melompat dari beranda apartemennya di lantai Sembilan. Korban tewas seketika dengan tulang rusuk, punggung, dan pinggul sebelah kiri patah. Penyebab utama kematiannya adalah remuknya tulang kepala bagian belakang yang langsung mengenai otak kecil.” Terang Minho tiba-tiba, membuat Jinki mengalihkan pandangannya dari kertas dalam map. Tanpa mengatakan apa pun, Jinki kembali membaca tulisan dalam map. Seolah tidak pernah mendengar apa yang diucapkan Minho.

“Polisi mengatakan bahwa itu adalah murni kasus bunuh diri, alasan utamanya adalah ditemukan gramofon yang tengah memutar piringan hitam berisi lagu Gloomy Sunday milik Billie Holliday. Kasus dinyatakan selesai. Tapi rasanya, ada sesuatu yang aneh di balik kasus ini.” Minho melanjutkan, mengacuhkan pandangan sinis dari Jinki barusan.

Kini Jinki menatap Minho, menatapnya dengan rasa penasaran. “Tapi terkadang polisi tidak secerdas detektif. Mereka terlalu kolot dan monoton dengan peraturan dan etika yang harus selalu mereka jaga. Padahal, dilihat sekilas saja kasus ini bisa dengan mudah diidentifikasi sebagai kasus serupa seperti milik Jung Ahjung sepuluh tahun lalu.” Penuh percaya diri Minho melanjutkan. Kedua mata bulatnya menatap Jinki tajam.

Pandangan Jinki berubah menjadi sinis, menyipitkan sedikit matanya seolah mengejek Minho yang dianggapnya sok tahu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada map dalam genggamannya, mulai membaca apa yang tertera di sana. Mulutnya berkomat-kamit. Hanya beberapa detik hingga ia berhenti membaca. Lalu kembali menatap Minho dengan pandangan yang menyiratkan kekalahan.

Jinki menutup map dalam genggamannya, lalu melemparnya ke atas meja. Diraihnya map yang satunya, lalu membukanya dan dengan cepat membaca barisan kalimat yang tertera di sana. Sementara itu, Minho tersenyum memandang Jinki. Ia juga seorang detektif –meski tidak sehebat Jinki- dan ia tahu makna dari raut wajah Jinki barusan.

“Jung Ahjung, 38 tahun. Seorang pianis dan komposer asal Gwangmyeong-do. Istri seorang pegawai bank bernama Choi Siwon,” ucap Minho, membuat Jinki mengalihkan pandangannya pada Minho. Menatap lagi sepasang mata bulat yang kini tengah menatapnya penuh semangat. Melihat reaksi Jinki, Minho kemudian melanjutkan “Tewas pada hari Sabtu, 21 November 2002. Melompat dari lantai dua rumahnya di Seoul. Korban mengalami patah tulang rusuk, punggung, engsel sikut sebelah kiri, dan remuk tulang tengkorak bagian belakang. Polisi menemukan gramofon yang tengah memutar piringan hitam berisi lagu Gloomy Sunday yang dinyanyikan Billie Holiday. Pola yang sama, bukan?”

Jinki berdecak pelan, ia rasa lelaki di hadapannya memang telah menghafal detil kedua kasus tersebut. Jinki mendesah pelan, menutup map dalam genggamannya kemudian melemparnya ke atas meja. Lantas ia memasukkan kedua tangan di saku coat-nya, menyandarkan bahu tegapnya ke sandaran kursi. “Jadi, Choi-“

“Minho, Choi Minho.” sambar Minho. Matanya berkilat-kilat, ia tahu detektif Jinki mulai mengetahui kemampuannya. Jinki menganggukkan kepalanya pelan, menatap lagi lelaki dengan warna rambut yang nyaris sama dengannya itu. “Kau pernah menjadi polisi?” tanya Jinki santai.

“Ya. Tiga tahun. Aku bertugas di wilayah Dongdaemun. Tapi aku memutuskan untuk menjadi detektif satu setengah tahun yang lalu. Yeah! Kurasa Sunbaenim sudah tau bagaimana stereotype polisi. Lamban, tidak berguna, dan bodoh. Meski pada kenyataan-”

“Aku tidak bertanya mengapa kau berhenti jadi polisi. Siapa yang membawamu kemari?” tanya Jinki cepat, menghiraukan Minho -dengan mulut yang setengah terbuka- menelan ucapan yang telah sampai di ujung lidahnya.

Meski Jinki terlihat belum menyukai Minho, tapi lelaki jangkung itu tidak lantas menyerah. “Mr.J.” jawab Minho tak kalah cepatnya. Jinki mengerutkan dahinya, kemudian terkekeh pelan. “Berapa kasus yang telah kau tangani hingga Mr.J mengutusmu untuk menjadi asistenku. Cih! Makhluk tanpa rupa itu tidak percaya padaku rupanya. Padahal ia telah merusak hari liburku yang berharga.” serapah Jinki, mengingat bagaimana pagi itu Mr.J menelepon dan menghancurkan laundry day-nya.

“Hanya lima belas.” terang Minho dengan suara merendah. Jinki berdecak. Meski Minho mengatakannya dengan suara merendah, tapi nyatanya lelaki itu memang mengucapkan kalimat rendahan itu untuk meninggikan dirinya.

“Tidak buruk!” tanggap Jinki datar. Sebagai detektif pemula, Minho bisa digolongkan sebagai detektif yang hebat. Menyelesaikan satu kasus bukanlah perkara mudah, bahkan bagi detektif senior sekalipun. Dan lelaki jangkung itu telah menyelesaikan lima belas kasus dalam kurun waktu satu setengah tahun. Jinki diam, sepertinya Mr.J memang tidak sembarangan memilih orang. Pastilah ada alasan mengapa Minho diutus untuk menjadi asistennya dalam memecahkan kasus ini.

“Apa yang kau tahu tentang Gloomy Sunday?” kini Jinki memulai sesi training pada calon asistennya itu. Minho membenarkan posisi duduknya, tetap menegakkan punggungnya dan matanya berkilat-kilat. “Gloomy Sunday, lagu ciptaan seorang pianis dan komposer autodidak asal Budapest, Hungaria bernama Rezső Seress. Diciptakan pada tahun 1933 dengan judul asli Vége a világnak yang berarti The end of the world. Lalu diubah menjadi Szomorú Vasárnap yang berarti hari Minggu yang kelam. Dikenal sebagai lagu pengiring kematian pada eranya karena banyak korban yang bunuh diri setelah mendengar lagu ini. Mereka seolah terhipnotis oleh lagu tersebut, kemudian melakukan bunuh diri,” Minho menelan ludah.

Gloomy Sunday sangat meledak pada eranya. Bahkan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, Seperti Bahasa Inggris, Perancis, Finlandia, dan Spanyol. Dirilis dalam tujuh versi berbeda oleh 56 penyanyi yang berbeda pula. Beberapa penyanyi yang pernah menyanyikan lagu ini adalah Sarasvatī, Heather Nova, Bjork, Ray Charles, Sarah Brightman, Sinead O’Connor, dan Billie Holiday. Dan versi yang paling terkenal dan dijadikan standar interpretasi Gloomy Sunday adalah versinya Billie Holiday.” Minho menghentikan kalimatnya. Lalu mendesah ringan, kekecewaan yang sempat meliputinya karena sikap Jinki sudah mulai menguap.

Jinki menyipitkan matanya, ia memang pernah mendengar cerita mengenai lagu Gloomy Sunday. Tapi, apa yang ia tahu tidak sebanyak Minho. Dan penjelasan Minho barusan membuatnya semakin tertarik dengan lagu ciptaan Rezső Seress itu. “Hanya itu?” tanya Jinki sambil memincingkan matanya, menuntut penjelasan lebih dari Minho.

Minho tersenyum. Mudah ditebak bahwa detektif Jinki belum terlalu dalam terhadap kasus ini.  “Ini seperti lagu kutukan yang memerlukan tumbal. Gloomy Sunday bukan hanya mengorbankan para pendengarnya, tapi juga penyanyi dan bahkan Rezső Seress sendiri. Rezső Seress bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemennya pada hari Minggu tahun 1968. Menurut berita yang tersebar, Rezső ketakutan bahwa ia tidak akan bisa membuat lagu yang akan menjadi hit setelah Gloomy Sunday,” Minho kembali menunjukkan seberapa dalam ia telah masuk ke dalam kasus Gloomy Sunday.

Jinki menegakkan punggungnya. Menaruh jari telunjuk di bibirnya sambil menatap Minho, menunjukkan bahwa ia semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak. Minho mengulum senyum. “Tahun 1997, penyanyi bernama Billy Mackenzie yang pernah merekam lagu Gloomy Sunday -pada tahun 1982- juga bunuh diri di dekat rumah ayahnya. Di Hungaria, lagu ini telah dilarang untuk diperdengarkan karena telah memakan banyak korban. Bahkan dalam siaran radio BBC pun Gloomy Sunday dilarang keras untuk diudarakan.”

“Lalu?” tanya Jinki singkat. Ia sangat tidak sabar untuk sampai pada akhir kisah di mana lagu Gloomy Sunday ini akhirnya menghilang seperti yang pernah ia dengar. Minho tersenyum penuh kemenangan, ia yakin betul bahwa setelah ini detektif Jinki akan melupakan bahwa ia tidak butuh asisten. “Karena larangan-larangan tersebut, akhirnya Gloomy Sunday hilang dari peredaran dan mulai terlupakan. Terlebih lagi dengan adanya perang Adolf Hitler tahun 1930-an, Gloomy Sunday telah benar-benar terlupakan. Oh! bahkan versi asli dari lagu ini telah musnah.”

Minho menyandarkan punggungnya, mendesah ringan penuh kemenangan. Kini, detektif Jinki tidak bisa menolaknya untuk menjadi asisten dalam kasus Gloomy Sunday ini.

“Menurutmu, apa dalang dari kasus Gloomy Sunday kita kali ini adalah penggemar Rezső Seress?” tanya Jinki serius. Namun, Minho justru menanggapinya dengan kekehan kecil. Sungguh! Pertanyaan Jinki terdengar seperti lelucon kacangan. “Oh! Mianhaeyo, Sunbaenim. Itu lucu sekali. Kurasa dalangnya memang membuat pola kematin dari lagu Gloomy Sunday.” ucap Minho buru-buru begitu menangkap keseriusan yang kental di wajah Jinki.

“Berapa usiamu?” tanya Jinki random, membuat Minho kembali terlonjak. “22” jawab Minho cepat. “Geurae, kau ikut aku ke Rumah sakit Seoul. Kita akan melihat keadaan mayat Park Minjung. Setelahnya, kita akan memeriksa apartemennya.” Jinki beranjak, berjalan cepat menuju pintu sambil mengeratkan coat-nya.

Minho segera bangkit, ia nyaris saja melompat saking senangnya. Ia kemudian mengekor Jinki, berjalan meninggalkan ruangan Jinki menuju lobi kantor Detektif Sherlock. “Kita akan mulai menyelidiki kasus ini, Hyung?” tanya Minho yang kini telah menyamakan langkahnya dengan Jinki.

Jinki terkekeh, “Hei! Jangan percaya diri dulu. Aku hanya ingin tahu seberapa cerdas dirimu untuk menjadi asistenku.” sergah Jinki, menyembunyikan kenyataan bahwa ia memang memerlukan Minho untuk kasus ini. Ia lalu berjalan lebih cepat, meninggalkan Minho di belakangnya.

“Jinki-ssi! Aku tidak tahu kau sudah kembali bertugas.” sapa seorang Detektif -bertubuh pendek dan bulat dengan kumis tebal yang nyaris menutupi mulutnya- yang berpapasan di lobi. “Tentu! Mr.J tidak akan membiarkanku bersantai di rumah.” terang Jinki sambil tertawa kecil.

=TBC=

11 thoughts on “Gloomy Sunday – Part 1

  1. keren…keren…keren….
    wahh.. ide segar nih, jadi bayangin OnHo couple jadi detektif kyak Sherlock gitu… pasti cool banget tuh… kira2 member SHINee yg lain masuk ke cast g ya?? jadi penasarn dehh….
    Eun Cha unnie.. keep writing!!
    ta tunggu part selanjutnya..

    tapi sebenarnya aku masih penasaran ma moolight sonatanya, hehehe…..

    • Hi, Sisca🙂
      .kekek. iyh nih, kebetulan otakku lagi dipenuhi kasus pembunuhan dll *plaaakkk*
      lanjutannya ditunggu yaa. Mudah2an suka.
      Dan u/Moonlight Sonata-nya segera menyusul.
      Thank u😉

  2. Eun Cha-ssi, ini ff pertama yg saya baca di blog Lollipop. Malam minggu disuguhin bacaan yg bikin dahi berkerut🙂 Saya pernah nonton informasi tentang Gloomy Sunday di salah satu tv swasta, mereka nyebutnya lagu kutukan, siapapun yang ngedenger lagu ini akan terpengaruh untuk bunuh diri. Saya salut kamu bisa bikin ff menggunakan kisah Gloomy Sunday. Kira2 kemana aja Eun Cha-ssi nyari referensi sampai bisa bikin ff ini ya? Di part satu ini sepertinya Jinki masih kurang informasi ttg Gloomy Sunday, kalah sama Minho😉 Saya ngerasa baca novel detektif nih.. Bedanya klo baca novel tapi masih penasaran, bisa langsung baca lanjutannya.. Eun Cha-ssi, saya tunggu part selanjutnya ya.. Keep writing..🙂

    • Annyeong eonni🙂
      gomawo udah mampir k sini lagi dan baca Gloomy Sunday ini.
      Iya, cerita ini pun dibikin setelah beberapa kali aku nonton news tentang Gloomy Sunday dan coba downloat lagu versi Billie Holiday-nya. Dan terciptalah ide ini.kekekek.
      u/referensinya sendiri, ada beberapa sumber yang dijadikan acuan.kekek. nanti mungkin akan ter-reveal seiring berjalannya ff ini.
      Mudah2an suka dan ceritanya menghibur. Tolong dinantikan yaa lanjutannya~
      Thank u, eonni😉

  3. akhirnya siap juga baca cerita ini…

    ide ceritanya keren karena ngangkat tema dari lagu sakral *?* satu itu. Bella pernah denger ttg Gloomy Sunday, tapi g bgt tahu. eonni download musiknya? serem, g?
    nnt Bella cari tahu lagi, d ttg lagunya supaya lbh ngerti ceritanya…

    awalnya Bella bingung ama latarnya karena banyak hal yg berhubungan dengan barat *kyk nakanan n koranny* tapi ternyata latarnya d Korea, y? hehe…

    ada beberapa bagian yg terasa ambigu dan agak membingungkan tapi kl dicerna baik2 ngerti juga, sih… *reader dodol*. but overall ceritany bagus n menarik, bikin penasaran dan kening sedikit berkerut. hehe… sayang kali g jadi eonni post d SF3SI, padahal unik begini.

    Bella tunggu kelanjutanny, y, eonn! Fighting!!

    • Hi, Bella. Udh lama ga main k sini nih.kekek. makasih loh udh nyempetin waktu baca FF ini😛

      Iyah, aku download musiknya. enak ko bella. jazz gitu. coba dh Bella download yang versi Billie Holiday nya. Klo yag versi Bjork mah agak horror bwaannya.kekek.

      iyh, bnyk yg brhubungan dgn Barat. kekek. mungkin itu jdi kekurangan yh, Bella. soalnya jdi bkin bingung juga. maafkanlah ^^v

      Nah, yang terasa ambigu yg mana ajah nih Bella. biar bsa aku perbaiki.
      .kekek. ga apa2 lah, yang penting ff-nya aku publish di sini.hhe.

      oKEY, nantikan yah lanjutannya. Thank U, Bella😉

  4. Eun cha’s back back back *ala sherlock😀
    Akhirnya km posting ff jg, aku udh kangen ama ff km apalgi yg kyak gini, g tau knp aku suka bgt mystery² kyak gini pdahal otakku g gt ngeh soal detektif²an atopun mystery ckckk aneh #abaikan
    Gloomy Sunday. Wktu baca judulnya aku mikir, kayaknya ga asing. Pas baca aku langsung ingat, aahh lagu kematian itu…
    Emang serem sihh lagunya. waktu prtama denger aku merinding & g berani denger ampe lagunya abis. Aku pernah jail mutar ni lagu di depan adeku yg umur 5 taun hasilnya dia lari ketakutan kkk~ #kakak gila
    Wahh Jinki ama Minho jd detektif *bayangin OnHo di MV sherlock* hyaa kereeeeeeennnnn!!!
    Mr. J? Jonghyun?😄
    Kyaknya kasusnya ribet yaa?!
    Hwaa Daebakk!! ^^)b aku yg baca aja udh mumet mikirin kasusnya ><

    Next part ditunggu ne.. Fighting p(^0^)q

    • Asiiikkk. SHINee-nya juga udah mau comeback *apa deh -_-a*
      iyh nih, Ummul. udh lama juga yh aku g publish ff. kangen? wah, makasih loh. kalo sama akunya kangen jg g nih? *plaaakkk*

      Hii, jail bgt nih Ummul diputerin depan dedenya. bisa2 dy mimpi buruk ^^v

      .kekek. Siapakah Mr.J? semoga terungkap di part2 berikutnya.hhe.
      hemm, sepertinya cukup rumit kasusnya.
      Thank u, Ummul😉

  5. wuaaaah, author daebak!!
    ak pling suka nih crita2 historical gini.
    bkin penasaran n bkin ga sabar buat baca next partnya! hee
    fighting thor!! (9′-‘)9

  6. Wowowow…. Aku belajar lagi jadi detektif..
    Detektif FF *gubrak

    Bener-bener mistery nih FF,, bnyak yg belum terungkap,
    dari kasus bunuh diri sampe Mr J ma Rachael Kim…
    Belum dapat clue di part ini, masih pemanasan kayanya ya, apa otak aku yang gak mudeng? Molla
    *mendesah pilu(?)

    hebat Cha,, bisa bwt ff detektif, ini pasti gak gampang kan, bener” harus ngefeel dan pinter” bwt reader ngerutin dahi(?)
    501 jempol bwt km ..
    Ditunggu part 2 nya nee😀
    perasaan ada yang kurang. Ah, gak ada typo *digampar

  7. U pmbca pmla ff yq br-gnre horor n mstry aQ rsa ff ni tdak trllu mnaktkan,
    euncha eonni, ini ff mstry prtma yq aQ bca jd part brktna jqn trllu srem ya. .

    Tdak dsnqka jinki bqtu dinqn dqn minho, tp akhr na lluh jqa dqn pnqthuan minho yq ckup dlm tntnq gloomy snday. .

    Sdkit tkut n deq2an, part brkut na aQ tnqu eonni

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s