I need romance #1 – Tears on love [2.2]

I need romance #1 – Tears on love

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri

Author             : Song Eun cha

Length             : Two shoot

Genre              : Romance

Rating             : PG 15

Part 2!!! Adakah yang sudah menantikan? *plaaakkk*
Oh iya, maaf ya kalo part 2 nya kurang memuaskan dan kurang greget *?* namanya lagi belajar romance, masukan sangat diharapkan.
Juga, ada sesuatu yang janggal dalam ff ini. Euncha juga ga tau adanya di mana, waktu dibaca ulang ga ketemu ^^v bagi yang menemukannya harap memberikan koreksi yaa.
Terimakasih dan Enjoy!

Hyeri diam, ia sempat memandangi Jaesun yang meraung-raung. Menatap sedih bayi yang semakin menjauh darinya. Key terus membawa Jaesun ke dalam rumah. Meskipun kedua tangan bayi itu terulur ke arah Hyeri, seolah meminta Hyeri ada bersamanya.

Hyeri mendesah saat Hyoyeon menghampiri dan menyentuh kedua bahunya. “Bawa Jaehwa masuk. Tenangkanlah dirimu.” Bujuk Hyoyeon. Hyeri sempat menundukkan kepalanya sebelum ia meraih Jaehwa yang telah meraung-raung dan minta digendong.

Ia melangkah sambil menggendong Jaehwa, sementara tangan kanannya menjinjing tas berisi pakaian si kembar yang tadi ia masukkan ke dalam bagasi. Pikirannya menerawang, memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia masuk ke dalam rumah. Pikirannya sedang kacau. Dan sungguh! Ia tidak ingin membicarakan apa pun dengan Key.

Hyeri tiba di ruang tamu, dan mendapati Jaesun yang menangis begitu kencang. Wajah bayi itu memerah, terbatuk kerana lelah menangis. Meski ia dalam gendongan Key, tapi kedua tangannya tetap terulur ke arah pintu. Meronta tak sabaran saat ia melihat Hyeri.

Hyeri duduk di samping Key –di sofa ruang tamu.  Mendudukkan Jaehwa di paha kirinya, bayi itu segera memeluk Hyeri. Kini Hyeri mengulurkan kedua tangannya ke arah Jaesun, yang disambut tak sabaran oleh bayi itu. Didudukkannya Jaesun di paha kanannya, dan bayi itu segera memeluk Hyeri. Memeluk tak sabaran seolah ingin Hyeri menggendongnya.

Hyeri mengusap air mata di wajah Jaesun dan Jaehwa bergantian. “Uljima, eomma yeogisseo.” Ucap Hyeri serak. Kedua bayi itu tetap menangis, kini mereka kembali memeluk Hyeri seolah ingin digendong. “Uljima. Tangan eomma hanya dua, mana bisa menggendong kalian sekaligus, eoh?” kelakar Hyeri. Ia memaksakan diri untuk tekekeh meski kenyataannya air mata tengah meluncur di pipinya.

mma!!” teriak Jaesun di sela tangisannya, kedua tangannya berusaha mencapai leher Hyeri. Akhirnya Hyeri meraih Jaesun, menggendong bayi itu sambil menepuk-nepuk punggungnya pelan.

mma!!” Jaehwa ikut berteriak, tidak mau kalah dengan Jaesun. Kedua tangan mungilnya berusaha mencapai leher Hyeri. Hyeri mendesah, akhirnya kedua bayi itu memeluknya sambil terisak mengucapkan kata eomma yang belum bisa mereka ucapkan dengan sempurna.

Sedih. Tentu saja itu yang tengah dirasakan Hyeri. Tapi apa yang dilakukan Jaesun dan Jaehwa setidaknya membuat hati Hyeri merasa senang. Ada kesenangan tersendiri setiap kali bayi-bayi itu berusaha memanggilnya eomma. Hyeri tersenyum tipis sambil berusaha mengusap air matanya. Isakan-isakan si kembar masih terdengar di telinganya saat Key meraih Jaesun perlahan. Tentu saja bayi itu menolak dengan memeluk Hyeri lebih erat. Tapi Key tetap meraih Jaesun hingga bayi itu ada dalam pangkuannya. Jaesun merengek, meronta agar bisa kembali mencapai Hyeri.

“Tangan eomma hanya ada dua. Biarkan Jaehwa bersama eomma dulu. Kau tidak rindu pada appa?” tanya Key pada Jaesun, lantas ia mengusap air mata Jaesun. Jaesun menatap Key, seolah sedang memikirkan sesuatu. Bibirnya masih bergetar dan mengeluarkan isakan-isakan kecil.

mma…” gumamnya, satu tangannya menyentuh pundak Hyeri.

Hyeri tersenyum sambil mengusap air matanya. “Eomma di sini. Bukankah kau merindukan appa? Katakan pada appa Jaesun sedang sakit dan ingin appa merawatmu.” Kini Hyeri mengusap air mata dan keringat di wajah Jaesun.

mma…” gumam Jaesun lagi. Ia memang berada dalam pangkuan Key, tapi ia menyandarkan kepalanya pada pundak Hyeri. “mma…” gumamnya lagi sambil terisak. Hyeri mengelus kepala Jaesun, merasakan suhu tubuh bayi itu kembali naik.  Sesaat mereka hanya diam, membiarkan isakan-isakan dari mulut Jaesun dan Jaehwa menguasai atmosfir. Key terdiam, menyadari bahwa selama ini ia telah melupakan bayi-bayinya. Ia baru tahu bahwa Jaesun menjadi lebih rewel saat sedang sakit. Jaesun yang biasanya selalu ada dalam pangkuannya, kini justru menolaknya.

Tap tap tap

Langkah ringan itu menjadi getaran lain yang tertangkap gendang telinga Key dan Hyeri. Keduanya menatap ke arah pintu, mendapati Hyoyeon yang tengah menggandeng Kyungsan memasuki ruang tamu. Hyoyeon sedikit mengiba melihat apa yang ada di depan matanya. Mengharukan melihat pasangan suami-istri muda yang sedang bertengkar, dan kini bayi-bayi mereka tengah memeluk mereka. Kyungsan menatap aneh Hyeri dan Key bergantian, kedua matanya lalu menangkap Jaesun dan Jaehwa yang memeluk Hyeri sambil terisak.

Eomma, Jaehwa kenapa?” tanyanya polos, ia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hyoyeon. Hyoyeon menatap Hyeri dan Key bergantian sebelum ia menatap Kyungsan.

“Jaehwa dan Jaesun sedang rindu bermain bersama eomma dan appa mereka. Nah, sekarang bantu eomma membuat jus, ya?” Hyoyeon melangkah menuju dapur. Kyungsan mengikuti eomma-nya begitu saja, meski kedua matanya masih liar menatap Jaehwa. Berharap Jaehwa melihatnya dan ikut bersamanya untuk membuat jus.

Hyoyeon dan Kyungsan melewati Hyeri-Key. Langkah kecil Kyungsan terhenti saat ia baru saja memasuki ruang tengah. Ia lantas berbalik,  lalu berlari kecil ke arah Jaehwa. “Jaehwa, kau tidak mau membuat jus bersamaku?” tanyanya sambil menepuk-nepuk punggung Jaehwa. Jaehwa menoleh ke belakang, menatap Kyungsan sambil tetap terisak. Mata sipit Kyungsan menangkap air mata di wajah Jaehwa. “Kenapa menangis?” ia mengusap air mata di wajah Jaehwa, lalu bibirnya mulai bergetar seolah ia akan ikut menangis. “Ayo kita membuat jus. Aku janji, Jaehwa akan dapat jus lebih banyak dari milikku.” Bujuknya, lalu ia menyentuh jari-jari tangan Jaehwa.

Sedikit, isakan Jaehwa berhenti. Ia menatap Kyungsan yang beberapa hari ini telah menjadi teman bermainnya. Jaehwa menatap Hyeri, seolah meminta izin untuk ikut bersama Kyungsan. “mma, yung.” (Eomma, Hyung) ucapnya.

Hyeri tersenyum, “Kau ingin bermain dengan Kyungsan hyung? Pergilah.” Hyeri lalu menatap Hyoyeon yang telah berdiri di dekat Key. Hyoyeon mendekat, segera meraih Jaehwa.

“Jyaa, Kyungsan dan Jaehwa akan membuat jus di dapur. Ah! Kira-kira jus apa ya yang harus kita buat?” Hyoyeon melangkah menuju dapur sambil menggendong Jaehwa, sementara tangan kirinya menggandeng Kyungsan.

“Semangka!” pekik Kyungsan antusias.

Ani! Jus semangka akan membuatmu sakit perut. Ah! Biar eomma pikirkan…” dan percakapan mereka tidak terdengar lagi di telinga Hyeri dan Key, seiringan dengan sosok ketiganya yang menghilang di ruang tengah.

Kini hanya ada Hyeri dan Key, juga Jaesun. Atmosfir di antara mereka terasa begitu aneh. Baik Hyeri maupun Key tidak ada yang berani untuk memulai percakapan. “mma…” gumam Jaesun, membuyarkan lamunan Hyeri dan Key.

Hyeri meraih Jaesun, hingga bayi itu benar-benar ada dalam pangkuannya. “Demam Jaesun naik lagi, dia harus istirahat.” Hyeri lantas beranjak, berniat naik ke lantai dua dan meninggalkan Key begitu saja.

“Hyeri-ya.” Key menahan lengan Hyeri. “Mianhae.” Ucapnya serak, ia masih menundukkan kepalanya. Hyeri melirik Key, berdecak saat menyadari bahwa suaminya bahkan tidak sedang menatapnya. Hyeri beranjak, lalu melangkah . Memutuskan untuk tidak menanggapi Key adalah keputusan terbaik baginya. Ia berjalan melewati ruang tengah, menaiki tangga mahogani berlapis karpet merah darah, dan menyusuri koridor lantai dua.

Klek

Ia masuk ke dalam kamar, dan segera meraih gendongan bayi yang tersampir di box bayi. Digendongnya Jaesun menggunakan gendongan bayi sebelum akhirnya ia duduk di tepi ranjang dan menyusui Jaesun. Bayi itu dengan cepat menerima air susu, seiringan dengan isakannya yang tidak terdengar lagi. Hyeri meniupi kening Jaesun yang berkeringat, lalu mengusap air mata Jaesun yang mulai mengering. “Uljima, uljima. Kau tidak boleh menangis lagi jika ingin cepat sembuh,” bisik Hyeri. Ia lalu melanjutkan, “Cepatlah sembuh agar eomma tidak sedih lagi, eoh?” lantas air mata itu menetes lagi di pipi Hyeri. Hatinya kembali merasakan kesedihan yang mendalam. Mengingat lagi apa yang terjadi. “Cepatlah sembuh, my baby.” Hyeri berbisik, lalu mengecup kening Jaesun.

Hyeri tengah mengusap air matanya saat seseorang masuk ke dalam kamar. Ia menoleh, lalu segera memalingkan wajahnya saat tahu bahwa yang datang adalah Key. Lelaki itu telah melepas jas dan dasinya. Beberapa kancing kemeja lengan pendeknya telah terbuka. Ia duduk di samping Hyeri, menatap Jaesun yang begitu menikmati air susu. “Hyeri-ya, kita harus bicara.” Bujuknya.

“Tidak sekarang!” tukas Hyeri cepat. Ia kembali mengusap air matanya. Key mendesah. Ia tahu ia salah, dan seharusnya ia tahu tidak mudah untuk meredakan amarah Hyeri. Hyeri menggeser posisi duduknya hingga ia membelakangi Key.

“Aku akan menunggu sampai Jaesun tidur.” Ucap Key akhirnya. Ia memandangi Hyeri, lalu matanya berpindah pada Jaesun. Bayi itu memainkan kedua tangan mungilnya di wajah Hyeri.  Key menatap Jaesun nanar, dalam hatinya ada kesedihan yang tak bisa tegambarkan. Bayinya, yang biasanya selalu ada dalam pangkuannya, menolaknya. Apa kini Jaesun pun telah membenci dirinya? pikir Key. Ditatapnya bayi yang bahkan sama sekali menghiraukan keberadaannya. Bayi yang wajahnya nyaris serupa dengan wajahnya saat ia masih bayi.

Entah sudah berapa lama Key memperhatikan Jaesun. Hingga kedua tangan Jaesun tidak lagi bermain-main di wajah Hyeri. Hingga nafas Jaesun terdengar begitu halus dan teratur, hingga kedua mata Jaesun benar-benar terpejam.

Hyeri mengusap lagi kening Jaesun, meniupi rambut-rambut tipis yang tumbuh semakin banyak di dekat pelipisnya. Kini Jaesun tertidur pulas, melepaskan rasa penat dan demam yang dirasakannya. Hyeri beranjak, dengan hati-hati membaringkan Jaesun dalam box bayi. Menyelimuti Jaesun dengan hati-hati agar ia tidak terbangun. Diusapnya lagi keringat di pelipis Jaesun, lalu Hyeri tersenyum kecil. Hyeri beranjak, menyampirkan gendongan bayi di box. Lantas berlalu begitu saja menuju pintu.

“Hyeri-ya.” Key menahan lengan Hyeri. Istrinya hanya menatap malas. “Kita harus bicara.” Lanjut Key. Hyeri berdecak, menghembuskan nafasnya pelan. Matanya melirik lagi Jaesun sekilas. Dalam hatinya, Hyeri ingin membuat masalah ini menjadi jelas sejelas-jelasnya. Tapi sungguh, ia merasa begitu lelah. Dan satu-satunya yang ia inginkan adalah beristirahat.

“Aku lelah, Key.” jawabnya, ia menatap kedua mata Key sendu. Keduanya hanya diam, membiarkan atmosfir sepi dalam ruangan menguasai. Perlahan, Hyeri melepaskan tangan Key yang menggenggam lengannya. Dan berlalu meninggalkan kamar, meninggalkan suaminya begitu saja.

***

Lelaki itu terdiam, tidak mampu mengatakan apa pun saat genggaman tangannya terlepas dari lengan istrinya. Langkah kecil itu begitu ringan dan lemah, semakin menjauh dari indera pendengaran Key. Ia mendesah, tidak mengejar istrinya adalah satu-satunya pilihan terbaik yang mampu ia pikirkan.

Ia tersenyum hambar, apa yang dilakukannya salah. Tidak seharusnya ia membuat rencana konyol yang membuatnya-tanpa sadar- mengabaikan orang-orang yang sangat ia cintai. Ia mendesah lagi, menghempaskan ganjalan yang kian mendesak dadanya. Mungkin nanti, setelah amarah istrinya mereda. Ia akan mencobanya lagi, pikirnya. Lantas ia mengganti pakaiannya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Berusaha menenangkan diri.

Key merasa baru saja memejamkan matanya beberapa menit saat suara-suara berisik terdengar dari luar kamar. “Kyungsan-ah, jangan berlari di koridor!” suara khas Hyoyoen terdengar. Diikuti suara langkah kaki kecil yang begitu cepat di lantai tigerwood.

Key mengerjapkan matanya, lalu bangkit. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menundukkan kepalanya yang terasa sedikit pusing. “Eomma, boleh aku bermain di sana?” terdengar suara Kyungsan yang begitu nyaring dari koridor lantai dua. Disusul derap langkah cepat menuju balkon sempit di ujung koridor. Dari dalam kamar, Key bisa memperkirakan bahwa kini Hyoyeon tengah mengejar Kyungsan yang telah berada di balkon sempit.

Kesadaran Key mulai kembali, teringat lagi akan hal yang terjadi sebelum ia terlelap. Ia melirik arloji di tangan kirinya, pukul tiga sore. Lalu ia melirik box bayi. Jaesun tidak di sana lagi. Ia bangkit, lalu melangkah gontai sambil mengucek matanya. Sepertinya mandi akan membuatnya lebih baik, pikir Key.

Dua puluh menit berselang, Key telah mengganti pakaiannya dengan t-shirt abu dan celana selutut. Ia melangkah menuju meja rias sambil menggosok rambutnya denga handuk. Mengecek ponsel layar sentuhnya. Dua buah pesan singkat.

From : Han Yeorin at 1:47pm

Key, aku meneleponmu berkali-kali. Gwaencanha? Tidak terjadi apa-apa, kan?

From : Han Yeorin at 2:09pm

Kuharap tidak terjadi hal buruk. Tadinya aku ingin menelepon ke rumahmu, tapi Jinwoon bilang semuanya akan menjadi lebih buruk. Aku sangat cemas. Tolong beri aku kabar secepatnya.

Key menghela nafas. Ia memang tidak mengecek ponselnya setelah Hyeri memergokinya di toko perhiasan bersama Yeorin pagi tadi. Dan tenttu saja saat itu pikiran Key begitu kacau. Hingga ia meninggalkan Yeorin seorang diri. Padahal wanita itu masih bingung untuk menentukan pilihan.

To : Han Yeorin at 3:24pm

Tidak berjalan sesuai rencanaku. Mungkin menjadi buruk karena aku tidak pernah memperkirakan ini. Well, kuharap malam ini Hyeri mau mendengar penjelasan. Aku sudah mengatakan bahwa dia itu keras kepala, bukan? Keke. Maaf, aku tidak bisa menemanimu sampai selesai. Kuharap kau dan Jinwoon tidak kecewa.

Sent.

Key menaruh ponselnya di meja rias. Lalu melangkah menuju pintu. Sebentar lagi waktu makan malam, mungkin Hyeri dan yang lainnya tengah berada di dapur. Atau mungkin di ruang tengah, pikir Key.

Key berjalan santai menuruni tangga mahogani berlapis karpet merah darah, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. Ia melirik ke arah dapur, terdengar kekehan kecil milik Kyungsan yang diikuti omelan dari Hyoyeon. Key melangkah menuju dapur. Kedua matanya menangkap sosok Hyoyeon yang tengah membuat sesuatu, ia berdiri membelakangi Key. Di meja makan, ada Kyungsan yang tengah bermain-main bersama Jaehwa yang duduk di kursi bayi. Key mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok yang belum ia temukan.

Wanita itu tengah menggendong bayinya, berdiri di dekat jendela dapur. Menunjuk sesuatu sambil mengucapkan hal yang tidak bisa didengar Key. Key melangkah, memasuki dapur. Ia menghampiri Jaehwa yang sedang asyik bermain sendok dan mangkuk bersama Kyungsan. “Sedang bermain apa?” Key menarik kursi di samping Jaehwa, lalu duduk di sana.

Kyungsan melirik Key, “Kami sedang bermain penjual mie, Samcheon. Mau ikut?”

“Hemm, Samcheon jadi penonton saja.” Key tersenyum kecil. Kyungsan lalu kembali pada mangkuk-mangkuknya. Anak berusia lima tahun itu kini menggerak-gerakkan sumpit dalam mangkuk, seolah sedang mengaduk mie. Kini Key memperhatikan Jaehwa yang berusaha mengambil mangkuk dengan kedua tangan mungilnya. Mangkuk itu terlihat begitu sulit diraih oleh Jaehwa. Mungkin karena ukurannya terlalu besar bagi Jaehwa.

Key meraih mangkuk yang sedari tadi berusaha diraih Jaehwa. “Mangkuk ini terlau besar untukmu.” Lalu ia menyodorkannya pada Jaehwa. Bayi itu menyambar mangkuk cepat, lalu mendongakkan kepalanya menatap Key. “Ppa!” pekiknya sambil tersenyum, memperlihatkan gusi berwarna merah mudanya. Dua buah gigi depan di bagian bawah mencuat samar. Key menatap Jaehwa, melihat wajah yang nyaris mirip dengan wajahnya saat masih bayi dulu. Dalam hatinya, ia tiba-tiba merasakan kesedihan yang besar. Kesibukannya beberapa minggu ke belakang benar-benar membuatnya melupakan Jaesun dan Jaehwa. Dan saat ini lah ia merasakan rindu yang begitu besar. Rindu yang seharusnya bisa mengalahkan keegoisannya untuk memilih hal yang lain.

Key meraih Jaehwa, menggendong bayi itu sambil menciumi pipi bulatnya. “Kau bertambah berat, My baby.” Ucapnya. Jaehwa terkekeh-kekeh saat ciuman-ciuman Key mendarat di pipi bulatnya. Key mengangkat tubuh Jaehwa ke udara, membuat bayi itu bergidik ketakutan. Tapi Jaehwa terkekeh setelah ia kembali ke pangkuan Key. “Kyungsan-ah, tidak apa kan jika Jaehwa bermain dulu bersama samcheon? Sebentar saja.”  Key melirik Kyungsan yang kini sedang menatap Jaehwa. Kyungsan mengangguk, lalu kembali pada permainan penjual mienya.

Key membawa Jaehwa ke dekat jendela, menghampiri Hyeri dan Jaesun yang dengan cepat menyadari keberadaan mereka. Hyeri berjengit, “Oh! Hyung sedang melihat layang-layang.” Terang Hyeri pada Jaehwa. Jaehwa kini menatap ke luar jendela. Kedua matanya menerawang megamati benda-benda di luar sana. Pohon, bunga-bunga, jalan, juga awan musim panas yang berarak seolah mendekati rumah mereka.

“caaaaa!” pekik Jaehwa, tangan kanannya menunjuk-nunjuk sesuatu yang melayang di udara. Bentuknya seperti burung raksasa berwarna merah. Jaehwa menggerak-gerakkan tubuhnya tak sabaran, seolah ingin lepas dari pangkuan Key dan meraih benda yang tengah melayang di udara sana.

“Itu layangan. Jika sudah bisa berlari, Jaehwa akan memainkannya bersama Hyung.” Ucap Key, ia menatap Jaehwa yang semakin antusias pada layangan di luar sana. Kini kedua tangan Jaehwa terulur, seolah berusaha meraih layangan. Key melirik Jaesun, tersenyum miris saat melihat Jaesun hanya menyandarkan kepalanya di dada Hyeri. Wajahnya memberengut. Kedua matanya menatap Jaehwa yang begitu ceria, seolah iri karena Jaehwa begitu sehat dan bisa bermain-main.

Key mengelus wajah Jaesun, “Kau ingin bermain bersama Jaehwa?” tanyanya. Jaesun menatap Key dengan mata sayunya. Lalu ia menunjuk Jaehwa, seolah berusaha untuk menggapai Jaehwa.  Jaehwa yang masih asyik melihat layang-layang menoleh ke arah Jaesun, ia mengulurkan tangan kanannya agar bisa menyentuh tangan Jaesun.

“caaa!” gumam Jaehwa sambil menepuk-nepuk tangan Jaesun. Kepala Jaesun tidak bersandar lagi pada dada Hyeri, kini ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jaehwa. Matanya kemudian menatap benda melayang di luar jendela.

“Buuuu!” gumam Jaesun, ia menunjuk layang-layang. Senyuman kecil menghiasi wajahnya. Kedua matanya berbinar mengikuti gerakan layang-layang.

Key tersenyum. Kenyataannya, ia memang merindukan bayi kembarnya. “Sepertinya mereka ingin bermain layang-layang.” Key menggeser tubuhnya, membuatnya dan Hyeri berdiri berdempetan. Hyeri menatap Key sekilas, lalu terkekeh. Wanita itu ikut-ikutan menatap ke luar jendela. Kedua matanya memang memperhatikan layang-layang yang bergerak ringan tertiup angin musim panas, tapi pikirannya tengah memikirkan hal lain.

“Jika Jaesun sudah sehat, aku akan mengajak keduanya berjalan-jalan.” Terang Hyeri.

“Kau tidak berniat mengajak appa mereka?” goda Key. Ia berusaha untuk mencairkan suasana. Hyeri melirik Key, menatap suaminya sebal sebelum akhirnya terkekeh.

“Kurasa ia sibuk.” Tanggap Hyeri singkat. Kini ia mengalihkan pandangannya pada si Kembar. Dua bayi itu berbicara dengan bahasa bayi yang tidak bisa dimengerti Hyeri. Keduanya terlihat begitu ceria. Bahkan Jaesun terlihat lebih baik dibandingkan diam dalam gendongannya seperti beberapa menit yang lalu.

“Hyeri-ya.” Panggil Key. Intonasi suaranya merendah. Hyeri melirik Key lagi. “Kita perlu bicara.” Lanjut Key. Hyeri sempat mengalihkan pandangannya dari Key, menatap bingkai jendela di hadapannya. Lalu mendesah ringan seolah menghempaskan ganjalan dalam dadanya.

***

Key dan Hyeri telah berada di ruang baca yang selama ini merangkap menjadi ruang kerja Key. Ruangan yang tidak luas, terletak di samping ruang tengah. Hanya ada dua lemari besar berisi buku-buku, sebuah meja-kursi, dan sofa berwarna merah tua. Keduanya kini duduk berdampingan di sofa merah, memiringkan tubuh mereka agar saling berhadapan.

“Hyeri-ya, aku mengerti apa yang ada dalam kepalamu.”

No, you don’t!” tandas Hyeri cepat.

Key mendesah. Memang tidak mudah mengajak Hyeri bicara jika emosinya sedang buruk. Terlebih lagi saat ini ia masih berada dalam sebuah kesalahpahaman. “Okay, aku tidak mengerti. Tapi beri aku waktu untuk menjelaskan. I won’t take longer than three.” Key berusaha memberikan penawaran.

I’ll hear for two.” Jawab Hyeri singkat.

“Baiklah, dua menit. Tapi berjanji untuk tidak mengatakan apa pun sebelum aku meyelesaikan ceritaku.” Tuntut Key. Ia tahu Hyeri tidak bisa bersabar untuk menyerang Key dengan pemikiran-pemikiran fiktif yang hanya ada di kepalanya. Key diam, menunggu Hyeri menyetujui permintaannya. Hyeri terlihat kesal dengan permintaan Key.

“Baiklah.” Jawab Hyeri ragu.

Key menegakkan tubuhnya. Ia harus bebicara cepat dan tidak melewatkan satu hal pun. “Han Yeorin adalah teman semasa kuliahku dulu, kami berada di kelas yang sama. Setelah lulus, ia melanjutkan sekolahnya ke Harvard University dan baru kembali dua bulan yang lalu. Memulai bisnisnya sendiri dengan memimpin anak perusahaan milik keluarganya yang sempat bangkrut. Ia menemuiku dan meminta bantuan agar mau melakukan kerjasama dengan perusahaannya yang baru saja bangkit dari kebangkrutan,” Key menghentikan kalimatnya. Menatap Hyeri penuh harap. Berharap Hyeri akan menanggapinya dengan gumaman singkat seperti bagaimana dulu ia menanggapi komentar yang diberikan Key mengenai design buatannya. Tak ada respon dari Hyeri, Key melanjutkan kalimatnya. “Dua minggu yang lalu, aku setuju dengan tawaran kerjasama itu. Dan mulai membuat kontrak dengan Yeorin. Kami sering bertemu untuk membahas surat kontrak-“

“Di toko perhiasan?” sambar Hyeri. Ia benar-benar terlihat tidak tenang dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk segera tiba pada intinya.

“Aku belum selesai-“

“Lalu mencoba cincin?” tambah Hyeri tak sabaran.

Geumanhae! Kau selalu seperti ini Hyeri-ya. Aku lelah!” Apa yang diucapkan Hyeri ternyata membuat Key merasa tidak  dihargai. Key berdecak kesal, kedua matanya menatap Hyeri tajam. “Hyeri-ya, kau selalu seperti ini. Tidak pernah mendengarkanku sebelum aku selesai. I’m sick and tired of this!” terang Key.

Mwo? aku yang seharusnya mengatakan hal itu, Key!” dengan cepat amarah Hyeri tersulut. Ia terlihat begitu tak sabaran untuk meluncurkan keluhannya selama ini pada Key. “Aku yang seharusnya mengatakan lelah karena mengerjakan segala sesuatunya seorang diri. Kau tidak pernah tahu bagaimana sulitnya merawat bayi-bayi kita seorang diri, kau tidak tahu betapa rewelnya Jaesun saat ia sedang sakit, kau tidak tahu bahwa aku selalu me-“

“Aku sudah pernah mengatakan untuk memakai jasa baby sitter jika kau lelah. Dan kau sendiri yang menolaknya.”

“Ini bukan masalah baby sitter, Key. Kau tidak tahu bahwa hatiku merasa lelah dengan semua ini. Aku selalu membutuhkanmu berada di dekatku, tapi nyatanya kau tidak pernah ada untukku, Key.” Hyeri tak peduli, ia melanjutkan keluhannya pada Key. “Dan kau telah mengecewakanku, Key. Di saat Jaesun sakit kau justru tengah sibuk mencoba cincin bersama-“

“Hyeri-ya stop it! Stop it!” Key bangkit. Keinginannya untuk memberi Hyeri kejelasan menguap begitu saja. Semuanya justru semakin buruk karena Hyeri selalu mengikuti emosinya dan tidak berusaha untuk mendengarkan penjelasan Key. “Kita akan bicara setelah emosimu reda.” Ucap Key. Lalu ia melangkah menuju pintu, meninggalkan Hyeri yang mulai terisak di ruang baca.

***

Malam tiba, terasa begitu panas dan membuat semua orang tak bisa terlelap. Begitu juga dengan Jaesun. Bayi itu terus menangis hingga wajahnya memerah, berkali-kali ia terbatuk dan nyaris muntah. Hyeri mondar-mandir di dalam kamar. Ia menggendong Jaesun sambil mengipasinya dengan kipas tangan. Keringat membanjjiri pelipis Jaesun, rambut tipis di kepalanya begitu basah. Ia terus menangis, bahkan menolak air susu yang diberikan Hyeri. Hyeri berdecak, tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk membuat Jaesun berhenti menangis.

Tiga puluh menit berlalu. Setelah membawa Jaesun ke balkon, akhirnya bayi itu berhenti menangis dan mulai terlelap.  Hyeri mendesah, akhirnya ia bisa juga naik ke atas ranjang dan terlelap seperti yang lainnya. Hati-hati, Hyeri menidurkan Jaesun di atas ranjang –di samping Jaehwa yang sudah lebih dulu terlelap. Hyeri lalu merebahkan tubuhnya di samping Jaesun, merapikan lagi selimut si kembar sebelum ia memejamkan kedua matanya.

Hyeri membuka matanya saat sayup-sayup terdengar suara kekehan yang tidak ia ketahui apakah itu milik Jaesun atau Jaehwa. Ia mengerang pelan, merasa tidurnya terusik. Ia mengerjap sebelum melirik ke arah si kembar. Dilihatnya si kembar sedang tertawa kecil saat sebuah tangan menggelitik perut bulat mereka bergantian. “Aigo! Kau lucu sekali.” Terdegar suara yang tidak asing di telinga Hyeri.  Hyeri menatap Key yang telah berbaring di sisi lain – di samping Jaehwa. Ia lalu melirik jam dinding, pukul 11. Sungguh! Ia telah terlelap selama satu jam dan sama sekali tidak menyadari kapan Key masuk ke dalam kamar.

“Aku tidak bisa tidur di ruang tengah.” Ucap Key saat ia menyadari Hyeri telah bangun dan kini tengah menatapnya. Dan terdengar sebagai excuse di telinga Hyeri. Hyeri menggeliat sebelum akhirnya ia menumpu kepala dengan tangan kirinya, menatap si kembar yang terkekeh-kekeh sambil memainkan tangan Key. Tangan kanan Hyeri terulur, menyentuh kening Jaesun. Sudah tidak demam. Pandangannya lalu berpindah pada Key yang masih menggoda si kembar dengan menggelitik perut mereka bergantian.

Hyeri terdiam. Rasanya ia rindu menatap Key seperti ini. Menatap Key sebelum tidur seperti yang selalu ia lakukan. Hyeri terus menatap Key, lelaki itu tertawa kecil setiap kali si kembar terkekeh. Ia bahkan tidak tahu bahwa Hyeri tengah memperhatikannya. “Apa aku tampan seperti biasanya?” tanya Key tiba-tiba, membuat Hyeri tersadar dari lamunannya. Hyeri menaikkan kedua alisnya, menatap Key lalu berpindah pada si kembar. Mempertanyakan apa Key bertanya padanya, karena bahkan kedua mata Key masih menatap si kembar. “Aku bertanya padamu. Mana mungkin aku menanyakan hal ini pada bayi-bayiku.” Key terkekeh, lalu mengalihkan pandangannya pada Hyeri.

Hyeri terkesiap, dan entah mengapa itu membuat wajahnya memanas. “Oh! kenapa menanyakan hal bodoh seperti itu?” sanggahnya, menyembunyikan rasa malu yang entah bagaimana tiba-tiba menyergapnya.

“Pertanyaan bodoh? Ah! Geurae! Sudah tentu jawabannya ‘ya’, kan? Tidak seharusnya aku menanyakan itu.” Gurau Key, ia lalu terkekeh. Membuat Hyeri menggembungkan pipinya menahan cercaan pembelaan seperti yang biasa ia lakukan.

“Tertawa sesuka hatimu, Sajangnim” ucap Hyeri.

Sajangnim?” tawa Key terhenti. Kini ia menatap Hyeri serius.

“Apa?” tanya Hyeri datar.

Ani! Aku hanya rindu saat kau memanggilku seperti itu. Aku benar-benar merindukanmu.” Gumam Key lirih. Hyeri diam, sibuk memikirkan kenyataan bahwa ia pun begitu merindukan Key. Ingin rasanya memeluk Key, membenamkan dirinya dalam pelukan Key dan mengatakan bahwa ia lelah seorang diri. Tapi, hal yang baru saja terjadi membuat perasaan itu kalah. Sedetik kemudian, Hyeri mengutuki dirinya. Mengutuki rasa rindu tak terbendungnya pada Key yang justru telah melukainya dengan mencoba cincin bersama wanita lain.

Kini Key menjauhkan tangannya dari si kembar, membiarkan dua bayi itu saling memainkan jari-jari satu sama lain. Ia menyentuh pipi Hyeri, “Hyeri-ya, aku sangat merindukanmu. Mianhae karena aku telah membuatmu sedih dan membiarkamu lelah seorang diri,” ucapnya. Tidak ada respon dari Hyeri, “Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Sungguh! Aku tidak memiliki hubungan yang lain dengan Yeorin selain teman. Dia akan menikah akhir pekan ini.” Key mendesah. Setidaknya ia telah memberitahu Hyeri bahwa ia tidak memiliki hubungan lain dengan Yeorin.

Hyeri masih diam, hanya menatap Key seolah menunggu suaminya melanjutkan cerita. “Yeorin akan menikah dengan Jinwoon. Cincin pernikahan mereka… aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini. Ini benar-benar konyol,” Key tersenyum hambar.

“Key, maaf mengganggumu. Tapi, bisakah kau mengantarku ke suatu tempat setelah kita selesai dengan kesepakatan awal?” Yeorin terlihat sedikit gelisah. Kedua matanya melirik ponselnya berkali-kali.

“Apa yang terjadi?” tanya Key penasaran.

Yeorin mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu menaruhnya di atas meja. Key mengerutkan dahinya, menatap heran pada kotak berwarna merah yang ia yakini berisi cincin. Seolah mengerti dengan isi kepala Key, Yeorin membukanya. Menampakkan sepasang cincin pernikahan yang berkilauan. “Ini konyol! Tapi cincin Jinwoon terlalu kecil. Aku sudah menghubungi tokonya, tapi Jinwoon tidak bisa datang sama sekali. Oh! Ini konyol! Jinwoon bahkan mengatakan ini adalah ukuran jarimu!” Yeorin terkekeh.

“Jinjja? Lucu sekali! Baiklah, aku akan mengantarmu. Sebaiknya kita ke toko perhiasan dulu. Jika kita datang siang nanti, mungkin mereka tidak akan segera melayani keluhanmu.” Tawar Key dan diiyakan oleh Yeorin.

Keduanya telah berada di toko perhiasan di kawasan Apgujeong. Duduk di kursi tunggu, pelayan di toko pehiasan itu tengah menangani cincin baru untuk Jinwoon. Sedikit sulit karena Jinwoon tidak datang dan hanya mengukur diameter jari manisnya saja. Key menatap sepasang cincin yang tersimpan dalam kotak di hadapannya. “Benarkah cincin ini adalah ukuranku?” tanyanya yang lebih ia tunjukkan pada diri sendiri. Lalu ia meraih cincin milik Jinwoon. Melepas cincin pernikahannya dan memakai cincin milik Jinwoon. Ia berdecak kagum. “Wah! Bagaimana bisa Jinwoon tahu ukuran jariku?” Key mengacungkan kelima jari tangan kirinya, menunjukkan cincin Jinwoon yang sangat pas di jari manisnya.

Yeorin tertawa, “Kukira dia pernah jatuh cinta padamu, Key.” guraunya. Ia lalu meraih cincin satunya lagi dan memakainya. “Aneh! Padahal milikku sudah sesuai ukuran.” Terangnya. Ia masih teratwa geli saat melihat Key mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang menyampir di tangannya. Benda itu berbentuk kotak, lebih besar dari kotak cincin dan berwarna ungu.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Key. Ia membuka kotak. Memperlihatkan sebuah jam tangan dengan tatahan batu permata kecil berjumlah tujuh di sekeliling bingkainya. Yeorin terkagum-kagum melihat hadiah yang dipersiapkan Key untuk istrinya. Dalam hatinya, ia sangat megaharapkan jika Jinwoon akan lebih romantis dan perhatian dari Key.

Ia baru saja akan mengucapkan kekaguman sekaligus rasa irinya saat ia menangkap sosok lain di belakang Key. Seorang wanita dengan kemeja longgar berwarna kuning tengah menatap Key, ia terlihat menahan amarah. Sementara kedua matanya digenangi benda cair.

“Oh!” seru Yeorin, ia tidak tahu siapa wanita yang ada di belakang Key. Key menoleh dan segera menyembunyikan kotak tadi.

“Hyeri-ya, apa yang kau lakukan di sini?” Key terlihat panik.

“Ini terdengar seperti dalam drama. Tapi percayalah, itu yang sebenarnya terjadi.” Key melanjutkan ceritanya. Hyeri hanya diam. Sedikit rasa bersalah menyeruak dalam dadanya, seharusnya ia mengetahui lebih awal. Dengan begitu, perasaannya akan lebih baik dan dia bisa memeluk Key lebih cepat.

“Jam tangan? Apa yang kau lakukan dengan jam tangan itu?” tanya Hyeri akhirnya. Key tersenyum hambar. Rencana yang telah disusunnya dua bulan lalu benar-benar telah gagal.

“Hyeri-ya, jika kau lebih tenang, semuanya akan menjadi kejutan. Sayang sekali, itu sudah bukan kejutan lagi.” Key memberengut kecewa. Kini matanya berpindah pada si kembar yang kembali mengantuk dan mulai memejamkan matanya, meski sesekali segera terbuka.

“Kejutan?” Hyeri mengerutkan dahinya. “Key, kau tidak bermaksud menggunakan itu sebagai al-“

“Ah! Kurasa aku mengantuk. Bagaimana jika kita tidur sekarang, eoh?” Key segera menguap. Ia lalu merapikan selimut si kembar. Lalu segera memejamkan matanya tanpa menunggu Hyeri melanjutkan kalimatnya. Key tersenyum, hatinya merasa lebih tenang. Lagi pula, sebentar lagi kesalahpahaman ini akan selesai, batinnya.

***

Hyeri memasang dasi Key tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah percakapannya semalam, ia tidak tahu harus melakukan hal tepat seperti apa. Bukannya tidak percaya pada Key, terlebih lagi berita mengenai pernikahan Yeorin dan Jinwoon itu baru ia dengar dari Key. Dan satu-satunya hal yang bisa membuat Hyeri percaya akan seluruh cerita Key hanyalah Yeorin. Jika apa yang diceritakan Key adalah hal yang sebenarnya terjadi, seharusnya wanita itu menemui Hyeri dan memberinya penjelasan.

“Hari ini aku akan pulang cepat. Mungkin setelah makan siang.” Ucap Key, membuyarkan lamunan Hyeri. Key menatap Hyeri dengan wajah berseri-seri.

“Tidak perlu memaksa jika kau memang sibuk, Key. Jaesun sudah tidak demam dan ia terlihat begitu sehat,” Hyeri melirik si kembar yang sedang sarapan bubur bersama Hyoyeon di dapur. “Tidak perlu cemas, aku bisa menanganinya sendiri.” Hyeri merapikan dasi Key, lalu menepuk-nepuk bagian bahu jasnya. “Jyaa, pergilah.”

Key meraih tas hitamnya. “Aku akan pulang cepat!” terangnya lagi. Ia tersenyum pada Hyeri, tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sesaat keduanya hanya saling berpandangan. Merasakan bahwa mereka merindukan saat-saat normal yang selalu mereka lalui setiap pagi. Di mana hanya ada mereka berdua di ruang tamu. Hyeri merapikan dasi Key, lalu Key akan mencium istrinya sebelum ia pergi. “Aku akan pulang cepat. Jadi kumohon, jangan larang aku untuk bertemu jagoan-jagoanku lebih awal.” Terang Key lagi, membuat Hyeri kehabisan kata. Ia tidak mengatakan apa pun, kedua tangannya membeku di pundak Key.

Mereka saling menatap, merasakan lagi dunia di mana hanya ada mereka berdua. Mereka terus bertatapan, hingga tanpa sadar Key semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri. Hyeri diam, seluruh alat geraknya lumpuh total. Ia hanya mampu membiarkan hembusan nafas hangat Key menerpa wajahnya. Key terus mendekat, hingga bibirnya berhasil mencapai bibir Hyeri. Memberikan kecupan kecil di bibir Hyeri. Yeah! Hanya kecupan kecil, seperti saling menempelkan bibir dan membiarkannya seperti itu selama beberapa detik. Hyeri memejamkan kedua matanya, menerima kecupan kecil itu. Sungguh! Rasanya sudah begitu lama saat terakhir kali ia menerima kecupan pagi seperti ini. Dan Hyeri tidak bisa menyangkal bahwa ia amat sangat merindukan ini.

Saranghae.” Bisik Key setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Hyeri. “Aku pergi. Baik-baik di rumah. Aku akan pulang cepat, I promise.” Key mengelus pipi Hyeri. Hyeri hanya diam, tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Key berlalu, berjalan cepat menuju pintu depan. Perasaannya begitu senang. Ia tahu, kesalahpahaman ini akan segera selesai. Dan malam ini akan menjadi malam menyenangkan yang tak terlupakan.

***

Ting tong

Bel itu di tekan dua kali. Hyeri berjalan cepat menuruni tangga mahogani berlapis karpet merah darah, melewati ruang tengah dan tamu. Ia membuka pintu dan terkejut mendapati wanita dengan rambut panjang bergelombang yang ia lihat di toko perhiasan bersama Key. “Annyeonghaseyo, Han yeorin yeyo. Kau pasti Hyeri kan?” sapanya ramah. Sesaat Hyeri masih membeku di tempatnya, tidak percaya bahwa wanita bernama Yeorin itu akan menampakkan rupanya di hadapan Key. Apa ia datang karena permintaan Key? pikir Hyeri.

Kini keduanya telah berada di ruang tamu. Hyeri duduk setelah menyodorkan cangkir berisi sirup rasa melon. Yeorin menyeruputnya anggun. “Maaf mengganggumu. Tapi aku tidak punya waktu selain hari ini.” terangnya.

“Yeorin-ssi, boleh kutahu apa maksud kedatanganmu?” tanya Hyeri penasaran. Yeorin menaruh cangkirnya, kemudian terkekeh.

“Ah! Mianhaeyo. Aku terlalu sibuk mengamati rumah ini. Sungguh! Ini rumah yang bagus!” pujinya. Perlahan tapi pasti, Yeorin menceritakan bagaimana hubungan pertemanannya dengan Key. Juga teman-teman lainnya yang ada dalam satu kelas, bagaimana ia melanjutkan sekolah di Harvard University dan baru kembali dua bulan lalu. Cerita mengenai perusahaan keluarganya yang bangkrut pun tak luput, juga bagaimana ia akan mulai merintis ulang usaha keluarganya.

“Jinwoon adalah lelaki yang baik. Kami berada di kelas yang sama selama kuliah di Korea. Tapi aku baru menyadari bahwa ia benar-benar menyukaiku saat ia bahkan sengaja bersekolah di Harvard University. Di sanalah Jinwoon melamarku setelah kami lulus. Ia juga mengerti dengan keadaan keluargaku yang telah bangkrut. Sungguh! Ia lelaki terbaik sedunia.” Terang Yeorin. Kedua matanya memancarkan kilatan cinta yang begitu besar setiap kali bibirnya mengucapkan nama Jinwoon.

Hyeri hanya diam. Benar saja! kali ini ia telah membuat Key kecewa dengan tidak mendengarkan penjelasannya. Jujur saja, saat itu Hyeri terlalu terbawa emosi. Lagi pula, wanita mana yang tidak segera naik pitam jika melihat suaminya tengah mencoba cincin bersama wanita lain? “Hyeri-ssi. Saat itu Key sedang membantuku untuk menukarkan cincin Jinwoon. Ukurannya terlalu kecil. Jinwoon bahkan marah dan mengatakan bahwa cincin itu adalah ukuran Key. Dan hari kemarin, Key penasaran dengan apa yang dikatakan Jinwoon dan mencoba cincin itu untuk memastikan bahwa cincin itu memang ukurannya.”

Lagi, Hyeri hanya bisa terdiam. Ia benar-benar telah salahpaham dan membuat Key marah. Seketika rasa bersalahmenyeruak dalam dadanya, ia begitu menyesal membuat Key uring-uringan karena tidak bisa menjelaskan hal ini padanya. Yeorin tersenyum, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Acaranya akhir pekan ini. Jika tidak keberatan, datanglah bersama Key. Tentu saja aku akan marah jika ia tidak datang ke acara pernikahanku dan Jinwoon, kami bertiga sungguh teman baik. Tapi, aku akan mengerti jika kau masih merasa tidak nyaman denganku karena kesalahpahaman ini.”

Hyeri menatap kartu undangan berwarna putih yang disodorkan Yeorin di atas meja. Kedua mata Hyeri menangkap inisial Y dan J di sana. Sungguh! ia nyaris saja mengacaukan hidupnya hanya karena kesalahpahaman. Yeorin beranjak, “Jyaa, aku harus pergi. Terima kasih untuk waktumu. Kuharap kalian akan datang ke acara pernikahanku. Oh! bawalah si kembar jika kau tidak keberatan, aku ingin bertemu mereka. Sayang sekali saat ini mereka sedang tidur.” Ungkap Yeorin agak kecewa. Ia berpamitan, dan tak lama menghilang dari pandangan Hyeri.

Hyeri mendesah, menatap nanar halaman rumahnya. Sungguh! Ia tidak mengerti mengapa keadaan saat itu membuatnya begitu yakin bahwa Key tengah bermain di belakangnya. Ia mengutuki dirinya. Jika saat itu ia memberi Key kesempatan untuk menjelaskan, semuanya akan membaik lebih cepat, pikir Hyeri.

***

Rumah bergaya Elizabethan itu telah diterangi lampu-lampu. Memancarkan kemegahannya di tengah kesunyian malam. Angin malam musim panas berhembus ringan, membawa udara panas yang membuat orag-orang merasa sedikit pengap. Meja makan baru saja dirapikan. Tumpukan piring yang berjumlah tiga, juga dua buah mangkuk kecil teronggok di bak cuci. Dibasahi tetesan air yang terus menetes dari keran yang tidak ditutup dengan benar.

Jaesun dan Jaehwa merengek sambil menggeliat kecil. Mengacak-acak rambut tipis mereka sambil mengerang. Hyeri meraih Jaesun yang lebih dulu menangis, meninabobokannya dalam pangkuan Hyeri.

“Biar aku yang bawa Jaesun ke kamar.” Hyoyeon mendekat saat melihat Jaesun telah terlelap. Ia meraih Jaesun hati-hati.

“Maaf merepotkanmu, Eonni. Tolong tidurkan ia di box bayi. Aku akan mengurus Jaehwa.” Hyeri menyerahkan Jaesun ke pangkuan Hyoyeon. Dengan cepat Hyeri meraih Jaehwa yang masih mengerang di kursi bayi. Menenangkan bayi itu sambil meninabobokannya dalam pangkuan.  Dua puluh menit berlalu, hingga Jaehwa terlelap. Hyeri mendesah, melirik jam dinding di ruang tengah yang telah menunjukkan pukul 7.30. Ia berjalan menaiki tangga mahogani berlapis karpet merah darah, menyusuri koridor lantai dua dan memasuki kamarnya. Kedua kakinya melangkah menuju box bayi, menatap Jaesun yang terlelap damai. Hati-hati, ia menidurkan Jaehwa di samping Jaesun. Membagi selimut Jaesun dengan Jaehwa.

Hyeri menatap keduanya beberapa menit, merasa tenang karena semuanya kembali normal. Jaesun sudah tidak demam lagi dan ia bisa kembali tidur dan bermain bersama Jaehwa. Hyeri mendesah, tangannya terulur, mengelus pipi Jaesun dan Jaehwa bergantian. Menatap lekat dua wajah serupa. Wajah yang jauh lebih mirip dengan Key dibandingkan dirinya. Kedua mata si kembar sama seperti mata Key, kecil tapi tajam. Yang berbeda hanyalah bibir mereka, Jaesun memiliki bibir tipis seperti Key, sementara Jaehwa memiliki bibir tebal seperti Hyeri.

Senyuman itu terus mengembang di wajah Hyeri. Pikirannya menerawang. Sungguh! ia tidak menyangka perjalanannya bersama Key sudah sejauh ini. Dan bahkan mereka telah memiliki si kembar yang seharusnya menjadi penguat cinta mereka. Hyeri mengutuki dirinya, ia lupa bahwa seharusnya ia selalu mempercayai Key. Jika saja Key selalu terbuka akan segala hal pada Hyeri, tentunya Hyeri tidak akan mencurigai Key seperti apa yang telah terjadi. Terlebih lagi, wanita manapun akan marah jika melihat suaminya mencoba cincin bersama wanita lain.

Hyeri beranjak, berjalan menuju meja rias. Memakai krim malam sebelum menyisir rambutnya. Ia melirik jam dinding, Key belum juga pulang. Bukankah lelaki itu berjanji akan pulang sehabis makan siang? Lalu, apa yang sedang dilakukannya? Hyeri bingung, tidak berani berpikiran lain-lain setelah kedatangan Yeorin. Tapi, seharusnya Key memberikan kabar.

Hyeri mendesah, mungkin Key tengah mengurus sesuatu dan ia lupa memberi kabar. Hyeri meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan singkat.

To : Double K at: 7:54

Di mana? Kurasa tadi pagi kau bilang akan pulang lebih awal. Jaesun sudah sehat, ia sudah tidur dalam box bayi bersama Jaehwa. Aku masih menyimpan shrimp soyu di lemari pendingin, kau bisa menghangatkannya saat pulang nanti. Jangan pulang terlalu malam. Jaga kesehatanmu dan hati-hati di jalan ^^!

Sent.

Hyeri tersenyum kecil. Rasanya sudah lama sejak terakhir kali ia mengirimkan pesan singkat jika Key pulang terlambat. Ia menunggu selama dua menit. Tidak ada balasan dari Key. Hyeri mendesah kecewa, ditaruhnya ponsel ke atas meja rias. Lalu beranjak menuju ranjang. Sepertinya hari ini ia terlalu lelah dan perlu tidur lebih awal, pikirnya.

Entah sudah berapa lama Hyeri terlelap. Ia terbangun saat terdengar melodi Tears on Love milik Yiruma di telinganya. Melodi itu tidak terdengar keras, hanya melodi samar yang dimainkan pelan. Dan sejujurnya, itu membuat Hyeri semakin enggan membuka matanya. Melodi Tears on Love terus mengalun lembut di telinga Hyeri, seiringan dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Hyeri menoleh ke belakang. Lelaki itu tersenyum, membenahi posisi kepalanya. Tentu Hyeri terkejut dengan kedatangan Key yang tiba-tiba, ditambah lagi suaminya itu kini tengah memeluknya dari belakang. Melodi Tears on Love yang terdengar melalui headset itu terus mengalun indah. Membuat malam terasa begitu panjang. Hyeri tersenyum, membiarkan posisinya tetap seperti itu. Dengan Key yang memeluknya dari belakang.

“Kapan kau pulang?” tanya Hyeri.

“Baru saja.” jawab Key singkat, ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Hyeri. Menghirup aroma rambut istrinya. Aroma rambut yang sama, seperti yang selalu ia hirup saat pertamakali jatuh cinta pada Hyeri.

“Kau bermaksud romantis dengan melodi ini?” sindir Hyeri. Meski pada kenyataannya ia begitu menikmati Tears on Love.

“Menurutmu ini romantis?” Key balik bertanya. Membuat Hyeri tersenyum sebal. Sejujurnya, hal kecil ini bisa digolongkan ke dalam hal romantis. Saat ia tertidur lelap, malas menunggu suaminya yang pulang larut. Tiba-tiba suaminya datang, memeluknya dari belakang sambil menempelkan headset dengan melodi Tears on Love milik Yiruma. Sungguh romantis untuk pengalihan fokus pada alasan kenapa ia pulang larut, pikir Hyeri.

Not so bad,” Hyeri terkekeh, membuat Key ikut terkekeh. Lelaki itu menyadari bahwa apa yang ia lakukan sama sekali tidak romantis. “Tapi itu tidak akan membuatku lupa bahwa hari ini kau pulang larut, Double K.” lanjut Hyeri.

“Yaa! Sudah berapa kali kubilang untuk tidak memanggilku dengan nama itu. Itu nama kecilku. Ayolah! Aku seorang bad boy saat itu.” Protes Key. Tapi ia justru semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Hyeri. Dan bahkan ia mulai menggelitik perut Hyeri.

“Ah! Hentikan, Double K! Sudah kubilang untuk tidak menggelitik perutku.” Hyeri berusaha menjauhkan tangan Key dari perutnya. Hingga ia memutar tubuhnya dan saling berhadapan dengan Key. Kini mata mereka bertemu, membuat waktu seolah terhenti beberapa detik. Hyeri menarik headset yang kini menyelip di antara telinga kiri dan bantal, lalu memindahkannya ke telinga kanan. Masih melodi yang sama yang terdengar. “Kau bilang akan pulang cepat.” Keluh Hyeri. Matanya kini memperhatikan wajah bersih tanpa cela di hadapannya, tangan kanannya mulai menyentuh pipi Key.

Mianhae. Seharusnya aku menceritakan ini padamu,” terlihat gurat penyesalan di wajah Key. Hyeri tidak menanggapi, menatap Key seolah menunggu Key melanjutkan ceritanya. “Sebenarnya aku menangani dua kontrak sekaligus. Dengan perusahaan milik Yeorin, dan perusahaan yang waktu itu pernah bekerja sama membuat produk minuman.”

“Kau menerima lagi kerjasama dengan perusahaan itu, Key? Bukankah mereka membuat kita rugi?” sambar Hyeri. Ia ingat betul bagaimana perusahaan itu meminta pihak Key membuat iklan untuk produk minumannya. Di mana ia sendiri susah payah menjadi produser iklan di  tengah masa kehamilan yang membuat emosinya begitu buruk.

“Tidak! Kali ini aku membuat perjanjian yang alot, serta peraturan tertulis yang sticky. Ini bagus untuk keuangan perusahaan kita.” terang Key sumringah. “Tapi, mungkin aku terlalu serakah dengan mengambil dua kontrak sekaligus. Aku tidak menyangka, itu akan menghabiskan seluruh waktuku. Waktu untuk bermain dengan jagoan-jagoanku, juga untuk berdua bersamamu. Mianhae…” lagi, kalimat penyesalan itu terucap dari bibir Key. Raut wajahnya berubah, terlihat jelas penyesalan di sana.

Hyeri terdiam, kini tahulah ia alasan dibalik kelakuan Key yang terlihat aneh belakangan ini. Key memang tidak bermaksud mengacuhkan Hyeri dan bayi-bayi mereka. Tapi keadaan yang memaksa Key melakukan hal yang tidak ia sadari itu. Hingga muncullah asumsi negatif atas hal itu. Hyeri menggenggam tangan Key yang masih mengelus pipinya, “Seharusnya kau berbagi ini denganku. Aku mungkin tidak bisa membantu, tapi setidaknya akan akan membantu untuk mengerti hal ini.” terang Hyeri.

Mianhae. Aku terlalu percaya diri bisa melakukan segalanya dengan baik seorang diri. Aku lupa bahwa kaulah yang seharusnya jadi partner terbaik dalam hal apa pun.”

Mianhae,” ucap Hyeri tiba-tiba, membuat Key mengerutkan dahinya. “Mianhae karena aku bersikap egois, karena aku selalu merasa aku lah yang paling lelah.” Hyeri memberengut kecewa. Kecewa atas sikapnya yang selama ini berpikiran egois.

“Tidak! Aku memang melupakan bahwa seharusnya aku ikut menjaga dan merawat bayi-bayi kita. Kuharap aku punya waktu 27 jam dalam satu hari,” key terkekeh di sela penjelasannya. “Aku tahu kau pasti lelah. Aku tidak tahu jika kau setuju atau tidak, tapi mungkin kau bisa mempertimbangkan untuk menggunakan jasa baby sitter. ” usul Key.

Hyeri tersenyum, kini ia tidak memandang negatif lagi atas usulan itu. “Mungkin aku akan memikirkan untuk menggunakan jasa pembantu rumah tangga. Itu jika keuanganmu tidak keberatan, Double K.” Hyeri terkekeh lagi, menutupi mulut dengan jari tangan kanannya.

“Tidak, tidak! Aku akan menabung uang setiap bulannya untuk jasa pembantu rumah tangga.”  Keduanya lalu terkekeh. Telah melupakan ketegangan yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Sesaat mereka hanya saling memandang, saling mengagumi. Hingga sesuatu melintas dalam pikiran Hyeri.

“Key, tadi siang Yeorin datang. Ia menyerahkan undangan pernikahannya. Mianhae, aku telah berpikiran yang tidak-tidak tentang kalian.” Sesal Hyeri, ia menggigit bibir bawahnya.

Kini tangan Key terulur, menyentuh pipi Hyeri. “Aku mengerti jika kau cemburu. Tapi setidaknya, dengarkan penjelasaku sampai tuntas. Kau selalu percaya kan bahwa aku tidak akan pernah berpaling darimu? Dan aku yakin, kau tidak akan lupa apa saja yang harus kulalui untuk bisa sampai di titik ini. Aku seorang idiot jika aku benar-benar mencampakkanmu.” Tegas Key. Hyeri hanya diam, menyesali sifat buruknya yang tidak pernah bisa mendengarkan penjelasan Key hingga tuntas. “Tentu kita akan datang ke pernikahan Yeorin dan Jinwoon, kan? mereka ingin bertemu Jaesun dan Jaehwa.”

Lagi, keduanya hanya diam, membiarkan atmosfir malam mengusai keduanya. “Oh! sepertinya kau melupakan sesuatu.” Pekik Key, ia lantas melepas headset di telinganya dan Hyeri. Ia bangkit sembari menarik Hyeri. Key beranjak menuju lemari pakaian, membuka laci dan mengambil sesuatu yang tidak bisa Hyeri lihat. “Kajja!” Key menarik Hyeri ke luar kamar. Membawa istinya ke balkon sempit di ujung koridor.

“Ada apa?” tanya Hyeri bingung. Ia mengingat lagi kejadian di mana Key membawanya ke atap rumah di daegu untuk melihat kembang api. Key memaksa Hyeri untuk berdiri di tepi beranda, berpegangan pada pagar teralis besi. “Key, apa yang-“ Hyeri tak bisa melanjutkan kalimatnya saat kedua tangan Key telah melingkar di pinggangnya, lelaki itu menumpukan dagu di bahu kanan Hyeri.

“Kau pasti lupa, kan?” bisik Key di telinga Hyeri. Hyeri mengernyitkan dahinya, dan belum sempat ia mengatakan apa pun saat Key mendahuluinya. “Happy birthday.”

Hyeri tertegun. Ia tidak salah dengarkan? Ya Tuhan! Bagaimana bisa ia lupa dengan hari ulangtahunnya sendiri? Jinjja! Sepanjang usianya hingga saat ini, ia belum pernah sekalipun melupakan hari ulangtahunnya. Hyeri terkejut, sekaligus ingin tertawa. “Key, aku melupakan hari ulangtahunku sendiri!” pekik Hyeri. Seperti seorang anak kecil yang baru saja berhasil menyusun puzzle tanpa bantuan orang lain. Hyeri membalikkan tubuhnya, hingga ia dan Key berhadapan. “Ini pertamakalinya dalam hidupku.” Terangnya.

Key terkekeh, “Selamat karena kau melupakannya.” Gurau Key, membuat Hyeri memanyunkan bibir tebalnya. Key terkekeh, kini ia memperlihatkan benda yang tadi diambilnya dari dalam lemari. “Selamat ulangtahun, istriku.” Bisik Key, ia membuka kotak berwarna ungu yang pernah Hyeri lihat saat di toko perhiasan.

Hyeri tak kuasa mengucapkan sepatah katapun, kedua matanya berbinar menatap benda dalam kotak. Sebuah jam tangan dengan tatahan permata kecil berjumlah tujuh. “Key, jadi ini-“

“Sebenarnya ini hadiah ulangtahunmu. Kau tahu? Aku hanya pandai mengkritik design, dan aku sangat kesulitan memilih design tanpa dirimu,” Key terkekeh. “Aku menghabiskan begitu banyak waktu selama dua bulan terakhir untuk ini. It supposed to be a surprise.” Lanjut Key.

Hyeri meraih jam tangan dalam kotak, kedua matanya berbinar dan tangannya gemetar. Sungguh! ini terlalu mewah baginya. Ia berasal dari keluarga yang biasa saja, dan tidak pernah membayangkan memiliki hal-hal mewah seperti ini. Tapi Key selalu memberinya banyak kejutan yang tak pernah terpikirkan oleh Hyeri. “Key, sungguh! Ini terlalu mewah untukku. Berapa banyak won yang kau habiskan untuk ini?” alih-alih berteriak senang, Hyeri justru khwatir dengan jumlah uang yang dikeluarkan Key untuk hadiah ulangtahunnya.

Key terkekeh, “Sudah kuduga kau akan menanyakan ini. Hyeri-ya, listen! Simpanlah ini sebagai aset keluarga kita. Jika suatu hari perusahaan bangkrut dan aku bukan Kim sajangnim yang banyak uang lagi, setidaknya kita masih punya jam tangan dan rumah ini sebagai tabungan bagi Jaesun dan Jaehwa.” Ujar Key serius. Hyeri tersenyum, lalu memeluk Key erat. Ia begitu bahagia, Key benar-benar selalu memikirkan Hyeri dan bayi-bayi mereka. Salah! Jika selama ini Hyeri berpikiran Key telah melupakannya dan bayi-bayi mereka.

Thank you so much, sweet heart. You are a great husband and father.” Bisik Hyeri, matanya telah digenangi benda cair. Lalu ia memeluk Key lagi. Meluapkan rasa rindu dan senang bersamaan.

Key memeluk Hyeri erat, merasakan bahwa saat-saat berdua seperti ini lah yang seharusnya lebih sering mereka lakukan saat merasa lelah dan penat. Ia tahu, dalam hidup mereka tidak selamanya hanya cinta dan kebahagian yang didapat. Tapi terkadang, air mata akan menghiasi kisah cinta mereka. Dan dari situ lah, mereka akan belajar bagaimana caranya membangun fondasi yang kokoh, membuat dinding-dinding tinggi, atap yang teduh, serta hiasan emosi yang akan membuat rumah cinta mereka hidup dan berwarna.

Key melepaskan pelukan mereka lalu menatap Hyeri. “Kau suka?” tanyanya. Hyeri hanya menganggukkan kepalanya, memandangi jam tangan dan Key bergantian. “Jadi, apa aku tidak dapat hadiah?” goda Key, ia tersenyum nakal.

“Hadiah? Kukira kau sudah mendapatkan hadiah dengan memelukku saat aku tidur.” Goda Hyeri tak mau kalah. Keduanya terkekeh sesaat sebelum kekehan-kekehan itu hilang ditelan sunyinya malam. Tergantikan dengan decakan-decakan kecil yang terdengar dari balkon, memenuhi koridor lantai dua, lalu kamar mereka.

Kini Key telah mendorong Hyeri ke atas ranjang, menjadikan dirinya berada di atas Hyeri. Menahan kepala Hyeri dengan tangannya, bibirnya masih tetap menghujani Hyeri dengan ciuman-ciuman rindu yang sarat akan tuntutan. Rasa rindunya begitu membuncah di dada Key, membuat Sesuatu dalam dirinya bergolak. Tak bisa lagi menahan rasa rindu yang jika dibiarkan lagi akan segera membunuhnya.

Tuk!

Sesuatu mendarat di kepala Key, menghentikan ciuman-ciumannya pada Hyeri. Key menoleh ke ranjang –di sampingnya- dan menemukan benda plastik berbentuk angka delapan dengan cairan di dalamnya. Ia tahu betul benda milik siapa itu. Lantas ia dan Hyeri segera melirik ke arah di mana si empunya benda itu berada.

ppa!!!” pekik Jaesun. Ia memanjat box bayi, kini dadanya menahan berat tubuhnya pada pinggiran box bayi. Kepalanya telah berada di luar box, sementara kedua kakinya melayang-layang dalam box.

ppa! mma!” pekik Jaehwa yang justru terduduk di box bayi, ia berusaha bangkit dengan berpegangan pada pagar-pagar kecil.

Key dan Hyeri saling berpandangan, mereka terkekeh. “Oh! kurasa bayi-bayi kita terbangun lagi tengah malam.” Ucap Hyeri sebelum ia melepaskan dirinya dari cengkeraman Key. Beranjak menuju box bayi dan meraih Jaesun yang nyaris jatuh.

 

=FIN=

46 thoughts on “I need romance #1 – Tears on love [2.2]

  1. Hal pertama yg terpikirkan setelah baca ff ini adalah … pengen cepet nikah dan punya baby yg super cute kaya mereka Jaesun dan Jaehwa. ga cuman Yeorin dan Jinwoon yg pngn ktm mereka. rasanya klo bisa aku jg penasaran pngn ketemu …
    “ppa” ga kebayang lucunya wkt Jaehwa mangil key pas d meja makan… dan ngebayangin adegan mereka d jendela sambil liat layangan. Manis bngt aslinya jadi ngiler pngn pnya keluarga sendiri^^ …

    “Aku sudah pernah mengatakan untuk memakai jasa baby sitter jika kau lelah. Dan kau sendiri yang menolaknya.”

    “Ini bukan masalah baby sitter, Key. Kau tidak tahu bahwa hatiku merasa lelah dengan semua ini. Aku selalu membutuhkanmu berada di dekatku, tapi nyatanya kau tidak pernah ada untukku, Key.” Hyeri tak peduli, ia melanjutkan keluhannya pada Key. “Dan kau telah mengecewakanku, Key. Di saat Jaesun sakit kau justru tengah sibuk mencoba cincin bersama-”

    ciiiieee hye ri … jadi ini toh alesannya nolak pake jasa baby sitter ” Aku selalu membutuhkanmu berada di dekatku,…. -supaya bisa deket kim sajangnim selalu hehehehehe B-). cieee … cieeee

    oh ya -maaf klo salah- saya kurang ngeh sama bagian ini
    Sesaat Hyeri masih membeku di tempatnya, tidak percaya bahwa wanita bernama Yeorin itu akan menampakkan rupanya di hadapan Key.
    dihadapan key, atau d hadapan hye ri cha ???

    cha, km smpt nls ada sesuatu yang janggal dalam ff ini. apa karna peran hyoyeon g bnyk d ceritain cnth ja wkt yeorin dtng smpt bertanya2 kok hyoyeon g ikut di ceritain y??? (sbnrnya g pntng jg sih dia ada atw g) trus pas key kaya mereka ulang adegan d tk cicin sma Yeorin. itu teh key cuman ngebayangin aja atau bnrn cerita ke hyeri ????
    #abay kan !! cmn iseng nanya ja cha, d pikir2 lg bahkan akhir2 ni saya sering nntn drama korea yg alur ceritanya jg g mesti pake penjelasan dulu -malah curcor-,-.

    Oh y buat ending ceritanya … Kim sajangnim selalu sukses bikin Envy … adegannya romantis pisan. pantes ja hye ri selalu membutuhkan key. wooong suami kaya gini mah langka di dunia nyata. pastinya hari itu jd salah satu ulang tahun romantis yg hye ri pnya.

    terlepas dr semua tepo dan beberapa pertanyaan g pntng yg saya ajukan d atas. FF I need ronance ini sukses bikin saya senyam senyum sendiri dan bkn pngn cpt2 nikah + pnya anak cute. ENVY …. romantis bngt lah kim sajangnim^^.V

    • Haaa… Iya, eonni. lucu banget! biasalah, anak aku sama Key emang begitu *plaaakkk*
      Hooh, alesannya itu eonn. Hyeri pengen merawat kedua bayinya bareng2 sama Key tanpa ada campur tangan baby sitter *korban baby sitter*

      Haa, iya! bener eonn! harusnya di hadapan Hyeri. nah, ketemu kan yang janggal! Nanti aku benerin secepatnya eonn. Thank u😉

      Iyh eonn, asa ada lagi dan yang janggal teh.kekek. maklum eonn aku masih belajar *excuse* tapi makasih loh eonn buat masukan dan koreksinya. mudah2an ke depannya jadi lebih baik b^^

      Udh ah eonn, jgn senyam-senyum sndiri. ntr bisi dikira ga waras ^^v

      Thank u , eonni😉

  2. kesalahpahaman?
    manusia emang selalu begitu
    malaikat penolong hyeri sma key itu si kembar
    bagus banget ff
    aku suka.suka..suka..

  3. Oh! tidak si kembar, mengganggu aktivitas malam KeyRi tuh!! kekeke

    kenapa yah ngeliat couple yg satu ini, bawaannya bikin senyum-senyum sendiri🙂 *cocok!
    setiap plot-plot kejadian mereka berdua pasti suka mikir “bakal apa lagi nih? bakal kayak gimana lagi nih? ngikut tiap alurnya enak bisa ngalir gtu aja ”

    Wah eonni udh makin expert nih dlm ber-analogi ^^b —-> “Key memeluk Hyeri erat, merasakan bahwa saat-saat berdua seperti ini lah yang seharusnya lebih sering mereka lakukan saat merasa lelah dan penat. Ia tahu, dalam hidup mereka tidak selamanya hanya cinta dan kebahagian yang didapat. Tapi terkadang, air mata akan menghiasi kisah cinta mereka. Dan dari situ lah, mereka akan belajar bagaimana caranya membangun fondasi yang kokoh, membuat dinding-dinding tinggi, atap yang teduh, serta hiasan emosi yang akan membuat rumah cinta mereka hidup dan berwarna.”

    memang cuma > LOVE is the master KEY for everything yeah! ^^~

    sangat dinantikan utk karya-karya berikutnya ya eon🙂🙂🙂

    • .kekekek. Kalo ga diganggu, nanti ada yang kesenengan dong? ^^v

      Wah, jinjja? udh baguskah itu? .kekek. tapi tetap harus belajar nih sebelum bisa dibilang expert.
      Thank u eunyoung, nantikan I need romance 2 yah. ratingnya langsung NC 17 *plaaakkkk*

      • ne chotta. Analoginya oKEY!

        Eh? I need romance ada part 2 nya?? nugu? nugu?
        lanjutan Keyri couple ini kah?😀 ehehehe *bnyk nanya*

        Ah! sepertinya ada k tidak puasan dri author-nya sendiri nih klo rating naik ^^v kekeke

      • yup! Akan ada session 2, 3, dan unditentified session.
        Cast-nya gmna mood aja *plaakkk*
        tapi kemungkinan ga akan key-Ri couple dlu .gegara kemaren ntn SHINee Wonderful vacation. agak gmna gtu sma Kim sajang *curcol*

        .hha. eh, justru author memuaskan *?* ketidakpuasan pembaca *eaaa. alay*

  4. oooo/////so sweet… jadi pengen nikah ma Key#dikroyok Locket sedunia!!! hehehehe….
    ceritanya romantis beud… aku suka aadegan romantis waktu Key masang headset di telinga Hye ri dan meluk dari belakang, sumpah.. aku pengen banget ntar lo aku nikah, suamiku ngelakuin hal kayak gitu juga.. hehehe…
    Unnie dapat inspirasi darimana c wat aadegan romantis kayak gini??
    jadi iri ma hye ri deh, keke…
    Eun Cha unnie, keep writing ya..
    ku tunggu ff roman selanjutnya, hehehe….

    • wah, mudah2an nikah nanti bisa dapet cowok seromantis Key yaa😀
      .kekek. ga tau juga dapet inspirasi dari mana, tiba2 kepikiran aja bikin adegan begitu ^^v
      oKEY, nantikan yaa Sisca😀
      Thank u😉

  5. yeaay akhirnya di post jugaa^^
    wah, akhirnya masalah kesalahpahaman terungkap. jadi, jinwoon dan yeorin nikah? waah chukkae *loh?
    double k ? wahahahaha. namanya sungguh badboy.
    key sajangnim sungguh romantis… hahahah x3
    ditunggu ff Key-Ri couple lagi ya eonnie^^

  6. Hyaaaaaaaa~ Jaesun Jaehwa kalian mengganggu sajah…
    *yadongkumat.plaaak*

    tuh kan bener lagi dugaanku,, hwaaa *tebarbunga*
    rasanya begitu menyenangkan saat perkiraanku tak meleset seperti biasanya..hehe curcol

    mmmm.., Cha,, ada typo.hihi *Euncha natap males*
    bersalahmenyeruak >> spasi nya ngumpet(?).ehh
    penjelasaku >> ‘n’ nya diculik.ehh lagi
    cuma itu yang aku ingat haha…
    Kayanya aku jd pemberantas neng typo.wkwkwk

    walaupun Hyeri keras kepala,egois,gak mau ngedengerin penjlasan org lain smpai tuntas, motong pembicaraan org, ya pkoknya minta di jambak karakter Hyeri,. Tapi, Key tetep aja cintong ma Hyeri, kuat bgt, knapa gak sama aku aja *inget onew woy.ckckck

    ngebayangin moment sikembar lucu,pasti ngegemesin,penggambarannya ngeuna, aku masuk dalam cerita..
    DAEBAK Euncha,, TOP bgt…
    Aku suka,walaupun end nya keganggu si kembar. *yadong lagi…

    • ah ada yang lupa,, itu pas bagian Key nyeritain percakapannya ma Yeorin pas di toko perhiasan ke Hyeri, gak ada kata ‘flashback’ nya Cha, emang sih tulisannya pake italic, tapi itu terlihat bagi yang baca di PC, aku kan baca nya di hp, hurufnya gak italic, jadi aku sempet bingung pas bagian itu, apa HP aku nya yang kuno.. hehehehe

    • eiii, Hikma ketauan nih. kan, kl si kembar ga ganggu, reader ada yang kesenengan nih ^^v

      Eh, gpp loh Hikma. aku malahan seneng ada yang kasih koreksi. memang aku kalo nulis selalu ada typo. padahal udah dibaca berkali2, ngerasanya udah oKEY. tapi kl udah publish ajh, baru deh katauan.kekek.
      kl gtu, HIkma berarti Mrs. Typo corrector yaa.hhe.

      .hhe. namanya juga udh cinta, jdi yah mau gmna lagi?

      Iyah, yang itu di-italic? wah, dari hp ga italic yh jdinya?
      Tadinya sih ak mau ngikutin di novel2 gitu, kl flashback ga ada tulisan flashback-nya. Tapi kl baca dari hp jadi ga asik yh?
      oKEY deh, next kl ada flash back begituan, ak pake tulisan dlu.kekek.

      Thank u, Hikma😉

  7. Hhaaah, berakhr lqi deh ff na.
    Tp Jaesun n Jaewha knpa d-qnqu tu eomma n appa na.?
    Kekekek. . .

    Oiya, eonni bkan kah tdi d-blanq klw kmu msih dlam msa blajar mmbuat ff yq brgenre romnce tp klw mnrut aQ kmu dah ahli deh, eun eonni mmbuat alur na bda dah tdk trpkrkan olh yq laen cnthnya sat key mmkaikn hndst n bbrpa adqan d-blkon. Biasana klw adqn rmntiskan yq biasa dlkukan mrka akn prqi k-lstran dqn mmbrikan bbrapa kjtan. .
    Tpi klw ini bda, aQ ska bnqet adqan sat key mmkaikan hndset pda hyeri, aaaa pnqen deh sprti itu. Andaikan nsib heyri sma dqan hyeri. . Huufh

    Stu lqi, klw mnrut aQ tdak da yq jnqqal deh dlm ff ini. Hnya sja aQ kpkiran klw tdak slah umr si kmbar bru 6 bln kan eonn ? Tpi dah bsa pnql “mma n ppa” mski tdk jlaz cih dan sdah bsa brpganqan smbil bndri d-box bayi.
    hehehe, jqn mrah ya eonni aQ tdak brmksud mnylahkn kox, aQ hnya pnsran ja, al na aQ kan blm pnya bayi jdi tdk taw pa2 tntnq prkmbnqan bayi trsbt jqankan pnya nkah ja blum. .
    Kekekek

    ff na bquz bnqet deh rtusan jmpl buat eonni, pdhal d-part 1 aQ smpat mrah n crqa jqa ma key lho, tpi krnq aQ mlah snyum2 sndri dbuat na. .
    Aaarrgg gemez deh

    • soalnya si kembar blm mau punya adik lagi.hha. *ngarang*

      wah? jinjja? tapi beneran ak masih blm pede bkin romance.hhe. bakalan belajar lebih banyak lagi deh, mudah2an nanti bisa lebih bagus bkan hanya dari segi penulisan, tapi juga dari plot dan keunikan *?*
      Makasih loh udh baca FF2 ku yang kebanyakan absurd.keke. b^^

      ah! soal bayi ak jg blm berpengalaman.kekek. jdi inilah kekurangannya. Aku ga yakin, mungkin di sini umur si kembar terlalu muda yah?
      Soalnya ak pernah liat ponakan temennya ibu aku, dia itu badannya kya yang udh gede dan udh mummbling sama parroting jg, ak kira umurnya setaunan lebih. ternyata blm nympe setaun.kekek.
      Tapi aku baca2 lagi, emang sih agak g msuk akal si kembar umur 6 blan udh bsa begitu2 *kaya yang aku ceritakan*
      makasih loh buat masukannya, next mudah2an aku bisa buat yang lebih baik😉

  8. Aaahhh Jinja! aku gemes banget ama si kembar.
    Mma! ppa! yung!
    Kyaaa!!! Sumpah yaa rasanya aku pen ketemu mereka, trus nyubitin pipi mrka >/// “Sesaat Hyeri masih membeku di tempatnya, tidak percaya bahwa wanita bernama Yeorin itu akan menampakkan rupanya di hadapan Key.” Pasti maksdnya Hyeri kn..
    Jg soal flashbacknya. Aku jg bukanya dr hp & sama kayak Hikma hurufnya g italic. Eumm mungkin prlu dtambahin kata ‘flashback’ atau semacam tanda gt biar reader yg bacanya lewat hp g bingung😀
    Soal typo eumm molla aku g ingat. aku udh terlalu larut ama critanya jd g gt prhatiin hhe😀

    Oiya sesuatu yg ganjal. Eumm.. sebelumnya aku mau nanya ini si kembar umurnya berapa yaa?
    Aku sebenernya agak susah ngbayangin yg ini -> “Hyeri duduk di samping Key –di sofa ruang tamu. Mendudukkan Jaehwa di paha kirinya, bayi itu segera memeluk Hyeri. Kini Hyeri mengulurkan kedua tangannya ke arah Jaesun, yang disambut tak sabaran oleh bayi itu. Didudukkannya Jaesun di paha kanannya, dan bayi itu segera memeluk Hyeri. Memeluk tak sabaran seolah ingin Hyeri menggendongnya.”
    Trutama bgian Hyeri mndudukkan jaehwa trus mengulurkan ke2 tangannya ke arh Jaesun. Nahh Jaehwanya siapa yg megang? apa si kembar ini udh cukup besar & udh bs menopang tbuhnya sendiri?
    Kalo g salah td ada bag. Jaesun dipangkuan Key tp dia bersandar di pundak Hyeri. Aku rasa jaesun masih ckp kecil buat bersandar dipundak hyeri, kyaknya kepalanya blm nyampe dehh hhehe..
    Aahh mian komenku kepanjangn & agk bnyk bcotnya *bkn agk lg emg bnyak
    Abaikan aja komen g pentingku d.atas😀 aku suka bangett. kyaknya km salah dehh klo km bilang br belajar. ini udahh sweet banget tauukk, aku sukses senyum² sendiri malah td sempet berkaca² karena terharu :’) #semoga g dianggap gila
    intinya ini dae to the bakk!!!! d(^^)b

    Endingnya ahaha.. si kembar ganggu aja dehhh. Duo J ama aku aja sinii, jangan ganggu appa & eomma😄
    Seperti biasa aku ttp nunggu karya km selanjutnya. Fighting ne!!! p(^0^)q

    • .hha. kl aku mah pengen nyulik mereka deh. aku jadiin pajangan di kamar aku *?* lucu banget soalnya.kekek.

      haaa… iyh, Ummul. itu harusnya Hyeri. bakal ak bnerin secepatnya *sekrang lagi males. plaaakkkk*
      Nah, soal itu. kayanya penggambaran aku buruk banget yah.hhe. maksudnya itu pas Jaehwa didudukin di paha kirinya Hyeri, itu bayi duduknya madep ke Hyeri. kan bayi biasanya suka langsung nempel gitu sama ibunya. jdi secara ga langsung Jaehwa itu berat tubuhnya numpu ke Hyeri *duh bingung yaa?*
      Terus yang bagian Jaesun digendong Key, tapi nyender ke kepala Hyeri. itu kan Jaesun lagi digendong Key, jdi dia kedudukannya *?* lbih tinggi dan bsa menjangkau pundak Hyeri.
      Eh, tapi mf kl msalnya ga masuk akal. soalnya scene ini terinpirasi dari foto aku waktu bayi. aku digendong sama Ayah, dan di sebelahnya ada ibu aku ^^v dan kepala aku sejajar sama pundak ibu.

      Ih, gpp loh, Ummul. aku seneng ada yang memberi masukan soal kekurangan dan kesalahanku. aku jga ga tau sbenernya bayi umur 6 bulan itu udh bisa ngapain aja *plaakkk* masih kurang riset nih.hhe.

      .kekek. seriusan ini so sweet banget? ah! syukurlah klo sweet-nya nyampe.kekek. mungkn sbelum bkin ff so sweet begini, ak hrus nonton film mutilasi dlu kali yaa? .kekek.

      .hhe. Duo J blm mau punya dede tuh katanya.kekek.

      Eh, iyh ktanya Hikma jg kl d hp jdi ga italic. oKEY, next FF klo ada flashback, aku kasih tulisan dlu biar ga bingung. Thank u yaa😀

      Woah! iyh nih, kyanya kl pnya bayi kembar hrus pikir2 dlu soal repot dan capenya, apalagi kl dua2nya udh sakit. ah! sedihnya jadi double.

      Thank u, Ummul😉
      Ah, seriusan kamu reader setia Lollipop ini b^^ *terharu*
      gpp komenmu panjang, ak seneng malah bacanya.

  9. Aaahhh komenku bener² kepanjangan, ampe kepotong tuhh komen..ckckk..
    aku salin komen yg kepotong dsini yaa biar g bingung

    Nahhh benerkan cuma salah paham. Hyeri sihh trlalu egois g mau denger penjelasan Key jadinya ribetkan..
    Oh jd Hyeri sendiri yg g mau make jasa baby sitter. Emang sihh lebih enak klo qt sndiri yg ngerawat baby lbh berasa gimanaaa gituuu. *kayak berpengalaman aja gue* Mimpi aku dr dulu tuhh pengen punya anak kembar. Tapi ngebayangin gimana repotnya Hyeri ngurusin si kembar. Kayaknya aku msti mikir 2 kali dehh.ㅋㅋㅋ~ #curcoldikit😄
    Aku setuju dgn Aeri & Hikma.
    Aku jg bingung dg ini -> Sambungannya kutipan yg diasamping emot ituu..
    Hiks mianhae euncha km hrs baca komen panjang bin aneh ku ini..*bow

  10. gyaaaa ini so sweet bangeeeet eonni~ coba aja yayang tetem bs seromantis kim sajangnim u.u

    ntahlah mau komen apalg ini, pkknya speechless deh. ahh iya eon, aku ada bbrp hal ganjal disini. yg prtama umur sikembar brp? trs kan ada scene yg jaehwa apa jaesun (ntahlah aku lupa-.-) duduk di pangkuan key tp kplanya nyandar di bahu hyeri, ini sikembar apa udah segede itu ya?

    kyknya udah segitu aja deh, mslh typo aku udah gak merhatiin._._. adegan di kasur yg pake headset+backhug itu sesuatuuuuu banget, semoga nnt aku kalo udah nikah sm taemin bs gitu jg >///< *dirajam taemints sejagat raya*

    • iyh Mahdaa. setelah diskusi sama Ummul a.k.a taurusgirl, trnyat umur si kembar terlalu kecil di sini u/bisa mlakukan kegiatan2 yg aku ceritakan d ff.
      .kekek. ini kelemahanku nih, kurang nyari tau soal ini. smoga dimaafkan yah, next aku bkalan lebih bnyk cari referensi soal umur bayi + kegiatannya.
      u/ Jaesun nyender k bahu Hyeri itu. kn ceritanya Jaesun lagi digendong Key, jdi dia kedudukannya lebih tinggi dari yg sbenernya dan kepalanya bsa nyender ke bahu Hyeri. Eh, mf tapi kl g msuk akal ^^v

      Ah! romantiskah adegan yg dipakein headset+backhug-nya? .kekekek.
      smoga nanti Taemin begitu juga yh sma mahdaa.kekek ^^v

      Iyh, mudah2an ga ada halangan. rencananya emg mau bkin I need romance #2 dst dgn couple yg berbeda2.kekek.
      Nah, yg bkalan muncul di I need romance #2 msih rahasia yaa. mudah2an mau nunggu.
      Thank u😉

  11. Aahh ne ne.. aku ngerti, kmren itu aku ngebayanginnya Jaesun duduk dipangkuan Key. Klo duduk jelas g nyampe kn, tp trnyata Jaesunnya digendong, msk akal koq aku bs bayangin skrng😀
    Tp sbnernya bayi umur 6 bln blm bisa nopang tubuhnya sndiri. Ini brdasarkn pngalamanku sihh. Aku ngrawat bayi tante ku dr umur 8bln. Dia br bisa tengkurap, klo mau duduk bdannya msh hrs dtopang..

    Omo! jd sbelum buat ff ini km nnton film mutilasi? inspirasi ff ini dr film mutilasi? O.O
    Eohh.. karakter hyeri di archangel itu kyaknya mirip km dehh, aku br ingat, hyeri sukanya nnton film thriller/horror kn?!

    Aaahh Jinja? ^^)7 hihihi.. abisnya ff km daebakk sihh aku suka😀

    Oiyaa aku baca komen diatas, ada I Need Romance 2 yaa? castnya bukan KeyRi? jd siapa? Jinki-Aeri kah? aahh jd penasarannn..

    • ne, begitu maksudnya.kekek. mf kl di ff-nya kurang dimengerti ^^v

      iyh sih, steleh dipikir2 lagi, kyanya umur 6 bulan itu terlalu kecil u/bisa melakukan hal2 yg dilakukan si kembar di cerita ini.keke. next, aku lebih bnyk cari tau lagi soal usia bayi+aktifitsanya.
      kl bleh cerita sih, beberapa kegiatan si kembar ini ak adopsi dari foto2 ak wktu bayi. wktu umur 8bln itu, ada fto dmna ak udh berdiri pas umur sgtu *walopun brdirinya sambil megang apapun yg ada di sebelah* jdi ak ngiranya mgkin umur 6bln udh bsa duduk2 *plaakkk*
      tapi emg terlalu kcil yg umur sgtu.hhe. ^^v
      Thank u loh u/perbaikan+masukan soal usia si kembar ini.

      .hha. g sengaja itu nontonnya. wktu ak lgi makan, taunya lgi pda ntn film mutilasi gtu. dari situ otak ak jdi penuh sama hal2 bgtuan, agak susah mkirin romance. jdi deh, bkin ini u/mengembalikan suasana romance *plaaakkk*
      .kekek. g jg ko, Ummul. itu ngmbil yg ska film horror/thriller-nya ajh. sisanya kya kepala batu, nyebelin, dll itu mh sifat Hyeri ajh *ga mau disamain* ^^v

      iyh, rencananya bkalan ada I need romance #2, dst dengan couple berbeda. u yg #2 g akan key-Ri couple. mgkin Aeri-Jinki ato Eunyoung-Jonghyun, ato mngkin Taemin dn couple-nya.
      mdah2an g ada halangan, kl g keberatan tlg ditunggu yaa😉

  12. Kak….endingnya sempurna tapi terganggu karena dua anak kembar itu hahahhaha.

    Aaaaaa suka banget sama caranya key :’) dan kim sajangnim ternyata romantis banget pas bagian key pulang telat terus masangin headset ke telinga hyeri terus meluk hyeri dari belakang. Oke kak, sukses banget pengen calon suami kayagitu *apasih –”

    Aku ngebayangin gimana tampang si kembar waktu manggil “mma” sama “ppa”. Pasti lucu menggemaskan banget. Baru sadar, si kembar ini jago bikin kedua orang tuanya jadi baikan. #thepowerofbaby hahahha.

    Hmmmm posisi hyeyeon eonnie disini cuman pelengkap aja yah *pukpuk. Tapi cukup membantu, kalo kata awards mah bakal jadi pemenang “Pembantu Wanita terbaik” hahhahaha. Sebelum komen aku cukup panjang dan makin kacau, lebih baik aku sudahi :p

    Ditunggu untuk karya selanjutnya kak, siapapun pairingnya😀 Btw, aku penasaran sama Moonlight Sonata *kode hahahahhaha

    • .ekekek. kl ga diganggu, nanti ada yang kesenengan dong bacanya ^^v *plaaakkk*

      wah, romantiskah? iyh nih, si kembar bisa aja. mereka juga ga seneng kl ortunya berantem terus.

      .kekekek. yup! Hyoyeon cuma peran pembantu nih, kl kebanyakan takut bablas jadi 24 part *plaakkk*
      oKEY, thank u, Almira~
      Nantikan FF Moonlogh sonata dan FF lainnya yaa😉

  13. lanjut lanjut yg part 2..
    aduuh.. yg bikin sedih ngebayanginnya itu pas jaesun nangis digendongan key tp tangannya terulur ke arah hyeri itu loh.. T.T

    dan ikutan nangis pas bagian jaesun bergumam “mma” itu T.T

    key smcm dpt blsn gtu ya dr jaesun wkwkwk key ngabaikan jaesun eh giliran jaesun yg gak mau digendong key.. wkwkwk

    masalahnya ini semacam dejavu gtu ya.. mengingatkan saat2 ky gini jg pas di archangel.. salah phm gr2 nicole..

    ah.. jd.. bisa disimpulkan.. jaesun itu sakit karena terserang virus rindu.. rindu sama appanya.. hihihihi

    eh itu smpt khawatir jaesun jatuh.. posisinya rawan bgt..

    untung ya jinwoon melarang yeorin dtg menemui hyeri pas hyeri lagi marah itu.. bisa berabe..

    oh ya.. jd i need romance ini smcm stand alone gtu ya? eh apa deh itu namanya.. ah smcm berseri2 gtu tp dgn sub judul yg beda gtu kan?

    ditunggu seri2 yg lainnya🙂

    • .hha. bisa, bisa. Jaesun kayanya sakit rindu sama appa-nya. lucu juga ngebayanginnya ^^v

      kl stand alone mungkin engga, soalnya lebih dari satu part. iyah, mungkin bisa dibilang seri dengan sub judul yang berbeda dan couple berbeda.

      oKEY, thank u🙂 mudah2an mau nunggu.kekek.

  14. aq ngasi 100 jempol deh euo cha ma ff nya. untuk eun cha jg…
    feel nya dpt bgt pokoknya family bgt deh….;-)

  15. astaga.. itu yg comment panjang” yaa.. hahhaa.
    ak malah bingung mau ngsh comment panjang, abis’a ff’a egm keren bgt loohh.
    kya bukan pertama kali bkin ff romance, kya udh berpengalaman bgt..

    itu mah waktu bca ampe ketawa” sendiri + nangis donk..
    tp bener da jd pngn cepet” nikah + punya anak,, hahahhaa..

    great job eonn🙂🙂
    lanjutkan!!😀😀

    • .kekek. iyh, pada panjang2. soalnya di part ini banyak hal janggal, jdi readers memberikan masukan🙂
      Jinjja? syukurlah kalo romance-nya nyampe, mudah2an bisa sering2 bikin romance.hhe.

      Eciyeeehhh… yang pengen cepet2 nikah dan punya anak *ehem* nanti nikahannya jgn lupa undang2 yaa ^^v

      Thank u, Feby😉

  16. Ihh suka deh pas “adegan ranjang” #eh?
    Maksudnya pas Key sama Hyeri ngobrol hadep2an gitu.. Spontan bikin aku lirik ke samping juga, tp Kim Sajangnim nya ga ada #miris T_T
    Untuk segi cerita ga usah diragukan lagi deh. Aku suka banget sama pemilihan kata2nya. Onnie selalu bisa bikin sesuatu yg biasa jadi moment yg sweet bgt bagi aku (ex:pas liat layang2). Pokonya DAEBAK deh ^^
    Ditunggu serial Key-Ri selanjutnya ya onnie🙂

    • Kim sajangnya ga ada? iyh lah, kn lagi sama akuuu.hhe. ^^v
      wah? jinjja? adegan liat layang2 itu so sweet? .kekek.
      oKEY, nantikan yaa. mudah2an masih mau menunggu kisah mereka.
      Thank u, Hwayong😉

  17. Waaahhh..Daebak tulisan ka Euncha!😀
    Sedih Senang banget bacanya,,,awalnya aku kira Key selingkuh??! Kekeke~ ternyata itu efek dia lelah dgn kerjaannyaa.

    Terharu saat Hyeri mengusap air mata di wajah Jaesun dan Jaehwa bergantian. “Uljima, eomma
    yeogisseo.” Ucap Hyeri serak. Kedua bayi
    itu tetap menangis, kini mereka kembali
    memeluk Hyeri seolah ingin digendong.
    “Uljima . Tangan eomma hanya dua, mana
    bisa menggendong kalian sekaligus, eoh?”
    kelakar Hyeri. Ia memaksakan diri untuk
    tekekeh meski kenyataannya air mata tengah
    meluncur di pipinya. ㅠㅠㅠㅠㅠ~

    Hyeri lupa sama hari ulangtahunnya??? Haha yg bener aja, Key so sweet banget dah ama istrinyaaa dan sempet2nya ngegodain Hyeri buat minta hadiah juga? ckckck
    Sempurna bgt ka euncha ff romancenya…….
    penasaran sama lagu Tears on Love-Yiruma hhehehe~

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s