Unconscious Case – Part 1

Title                 : Unconscious Case

Author             : Song Euncha & Bella Jo

Main Cast        : Lee [Onew] Jinki | Choi Minho | Bluebell Constantia (OC)

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre              : Thriller, mystery, adventure, psycho, romance, friendship

Type/Length    : Sequel /  1 of 5

Rating              : PG 15

Summary         : “Apa? Ada apa?” tanya Onew ngantuk. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Perasaannya bercampur aduk, antara marah dan bingung. Bluebell berkacak pinggang di hadapannya, “ ‘Ada apa’? kau masih menanyaiku ‘ada apa’??!! Onew Lee! Kau tidak tahu betapa cemasnya aku setelah menemukanmu terbaring di beranda kita dan tak juga bangun sampai pagi ini??!! KAU MASIH MENANYAIKU ‘ADA APA’????!!!!”

Firstly Press at SF3SI. Participating for December FF Party 2012 – Celebrating Minho and Onew birthday.

Hai… Euncha dan Bella Jo menulis FF kolaborasi pertama kami. Semoga menghibur…🙂
Kekurangan harap dimaklumi, dan kesalahan harap diperbaiki. Saran dan masukan yang membangun sangat diharapkan.

Waktu  mengalir bersama lalu musim. Saat cerah matahari beranjak lelah, angin berhembus resah dalam dingin musim gugur. Hilir mudik daun kering kekuningan terbang rendah bersama alur angin. Ranting-ranting kehilangan selimut daunnya, meranggas kering, berusaha keras bertahan diri menanti musim dingin. Bunga-bunga pinggiran taman tak lagi menunjukkan cerah warnanya. Kota kehilangan hijau rimbun dan ceria warna lain bersamaan dengan hilangnya terik. Matahari enggan menunjukkan semarak cahayanya, terlebih geraknya telah condong ke barat. Secercah lembayung senja melirik lirih di langit timur kota London yang masih berdiri congkak bersama penduduk angkuhnya. Oh, mungkin kota itu jarang tersentuh warna cerah di musim panas sekalipun.

Gaun-gaun tersibak rendah bersamaan dengan langkah-langkah panjang pemakainya. Lumpur memercak ringan dari kubangan-kubangan kecil berisi campuran air dan tanah. Para gentleman mengayun tongkat dengan dagu terangkat, pandangan matanya seakan muak melihat dunia yang berdiri pongah di sekitarnya. Para kuli sibuk mempercepat langkah, berharap matahari kian cepat tenggelam dalam gelap agar mereka dapat semakin cepat pulang ke rumah. Bau parfum bercampur bau amis daging, serta bau busuk sampah dan potongan kulit binatang -yang masih belum dibersihkan dari gantungannya- di selusuran lingkungan kumuh yang  penghuninya tak juga berkurang menyeruak indera penciuman. Para bangsawan yang mengaku dermawan bahkan tak dapat menahan diri untuk menutup hidung, berjanji pada diri mereka sendiri untuk mempercepat segala kegiatan agar mereka bisa segera mengangkat kaki dari tempat kumuh itu. Mereka tahu, tak pernah ada hal yang aman di East End, bahkan untuk segemerincing koin satu sen-an yang dibawa anak-anak pengemis. Maka tak mungkin pula nyawa mereka aman di sana.

Seorang lelaki tua menatap miris wilayah tersebut setelah mengunjungi wanita penjual bunga tempat ia biasa membeli seikat mawar untuk istrinya. Jika saja wanita kasar yang temasuk baik hati untuk ukuran penduduk East End itu tidak sakit keras, ia takkan mungkin mau melangkah ke sana. Berpakaian layaknya bangsawan seperti pakaian sehari-harinya memang sangat berisiko. Namun pakaian penduduk kumuh biasa malah jauh lebih berbahaya. Bisa saja orang salah mengira dia penghuni baru dan membunuhnya demi mengincar kepingan sepuluh sen yang terperangkap di kantungnya. Jadi begitulah tampilannya, gagah dalam balutan kemeja dan coat hitam kebesarannya, tak lupa tongkat sepanjang setengah tinggi badannya untuk menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa. Di belakangnya, mengekor seorang pria muda berwajah oriental dengan mata sipit dan jas usang yang agak kebesaran di tubuh tegapnya. Sebatang rokok terselip di bibir pria oriental itu, mungkin agar orang tidak terkecoh wajahnya yang tampak amat muda.

Si pria berdeham pelan berusaha mencairkan suasana sementara kakinya terus mengambil langkah panjang. Pria oriental itu mendongak memperhatikan punggungnya lalu tersenyum penuh arti. Si pria melirik dari balik topi tingginya, “Apakah polisi Scotland Yard sepertimu sudah terbiasa dengan suasana daerah ini? Benar-benar tidak nyaman,” tanyanya diselipi keluhan.

Pria oriental itu menarik puntung rokok dari lipatan bibirnya, lalu menghembuskan kepulan asap ke samping kanannya. Matanya menjelajah sesaat, semakin memperhatikan tempat kumuh yang percikan lumpurnya bahkan terasa lebih menjijikkan dari pada lumpur pusat kota London. “Jika pekerjaan Anda menangkap penjahat yang sehari-harinya keluar masuk East End, tentu hal ini takkan lagi menggangu Anda. Inspektur Skimhead juga sering meminta saya untuk memberi kawalan pada bangsawan seperti saat ini, jadi ini bukan lagi menjadi hal asing bagi saya.”

Pria tua itu mengangkat bibirnya sekilas membentuk garis tipis. “Yang paling kutekankan di sini adalah mengenai ‘udara’-nya.” Tangannya mengibaskan tongkat beberapa kali, membentuk gerak tubuh yang amat sering dijumpai pada kegiatan sehari-hari. Pria oriental itu mengerutkan alisnya sesaat lalu tertawa pelan saat menangkap maksud pria yang biasa dikenal dengan sebutan Lord Martin. Hidungnya mencoba mendengus semakin tajam dan aroma pekat menyeruak masuk menusuk-nusuk saraf pembaunya. “Jika itu yang Anda maksud, tentu saja jawabannya lebih segar di pasar daging kota London.”

Keduanya tertawa bersama, lalu melanjutkan perbincangan ringan mereka sampai akhirnya mereka dapat menghirup udara yang lebih segar dari pada di East End tadi. Lord Martin kembali berdeham saat matanya menangkap kereta kuda -yang biasa membawanya pulang ke rumah- telah menunggu tak jauh dari tempatnya berada. Ia berbalik sesaat, menatap pria berkulit seputih susu itu dengan tatap hangat khas dirinya. Ia menjabat tangan pria oriental itu sambil menepuk-nepuk bahunya dengan salah satu tangan yang masih terselip tongkat. Pria itu balas tersenyum penuh wibawa, susunan gigi kelincinya terlihat saat senyumnya semakin mengembang.

“Terima kasih atas kawalanmu hari ini. Bahkan tak ada seorang pun yang berani mengusikku saat melihatmu berada di belakangku,” pria itu masih memerangkap tangan kanan sang polisi muda dalam jabatan tangannya. “Aku harus semakin sering meminta Inspektur Skimhead mengutusmu untuk mengawalku di lain waktu, tentu bukan hanya saat berkunjung ke East End.”

“Anda terlalu memuji saya, Lord Martin. Ini adalah pekerjaan normal yang biasa dilakukan polisi seperti saya. Namun, tentu saya akan sangat senang jika Anda memilih saya untuk mengawal Anda lagi di lain waktu,” balas si pria muda itu kalem. Sepasang alis tebal gelap mempertegas kedewasaan ucapannya. Lord Martin tersenyum, lalu melepas jabatan tangannya. “Hanya ada satu yang kurang, anak muda. Aku bahkan belum tahu siapa namamu walau tugasmu hari ini sudah berakhir. Jadi, bisakah setidaknya kau memperkenalkan diri sebelum kita berpisah di sini?”

Lelaki muda itu tertegun menyadari kecerobohan konyolnya. Ia tertawa canggung lalu menundukkan tubuhnya sekilas. “Nama saya Onew, Tuan. Onew Lee.”

***

Onew Lee sudah lama tinggal di kota London. Ia tak mengenal siapa orang tua kandungnya. Yang ia ingat hanyalah ia sudah dibuang di East End sejak masih bayi, lalu menghabiskan masa kecilnya yang suram bersama pukulan seorang pria botak –yang wajahnya bahkan tak lagi dapat ia ingat- di salah satu panti asuhan daerah kumuh tersebut. Seperempat mangkuk bubur untuk jatah makan sehari serta tumpukan pekerjaan yang diwajibkan padanya membuat ia berusaha kerasa kabur dari wilayah mnjijikkan itu, dengan tekad mendapat kehidupan yang jauh lebih baik di London. Sayangnya, London tak seramah yang ia kira. Lebih dari setahun ia terlunta-lunta di jalanan, tak jauh beda dari kehidupannya di East End. Namun perasaan cintanya akan kebebasan membuat ia dapat bertahan melewati masa-masa tersebut. Hingga akhirnya masa itu berakhir saat ia berhasil menolong seorang young Lady yang hendak dirampok dan diculik sekawanan bandit. Ia pernah melihat kawanan itu di East End, serta paham pula kelemahan kawanan bodoh itu. Setelah bertarung habis-habisan dengan mereka, akhirnya Onew bisa membawa young Lady itu kabur dari sana. Ia dihadiahi hal yang tak pernah dibayangkannya, hal yang lebih bagus dari piringan besar makanan yang terbayang dalam pikirannya saat ia menyelamatkan young Lady itu.

Onew diadopsi keluarga tersebut. Ia diberi nama dan dihadiahi makanan serta status keluarga yang baik. Onew tak menyia-nyiakan hal tersebut. Ia belajar keras dengan tujuan mendapatkan pekerjaan dan hidup mapan. Akhirnya Onew berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai polisi begitu ia menginjak usia dewasa. Sayangnya di tahun yang sama pula keluarga yang selama ini memeliharanya malah membuangnya karena menduga ia anggota keluarga Lee, keluarga oriental saingan dagang keluarga tersebut yang dikenal berperangai buruk. Onew pun didepak dari keluarga tersebut dan dipaksa menyandang nama keluarga Lee. Walau sedih, untungnya Onew tidak memiliki hati untuk keluarga tersebut. Ia menerima semua begitu saja, tapi bukan berarti ia beralih pada keluarga Lee.

Di pinggiran kota London -di mana para pekerja dan penjual roti hidup saling berdampingan dengan baik- Onew hidup bersama seorang gadis yang mengaku sebagai pemilik rumah sewa tersebut. Gadis itu bernama Bluebell Constantia, gadis berperawakan kecil dengan rambut merah kusam. Wajahnya putih walau agak kusam. Kelabu debu jalanan tak mampu menutupi kecantikan wajahnya, begitupun dengan kecantikan hatinya. Onew dapat hidup nyaman bersamanya, saling mebantu kehidupan satu sama lain.

Sayangnya, di tahun ke-tiga Onew bekerja, ia mendapat sebuah masalah serius. Masalah di mana misteri dan ketakutan terbesar merayapi hidupnya.

***

Kepolisian Scotland Yard sudah memasuki waktu pergantian shift. Onew melepas topi polisinya dengan gerak lelah. Seharian berkecimpung dalam kriminalitas yang menguras otak dan tenaga membuatnya ingin langsung membanting diri ke atas kasur, walau kasur kamarnya pun tak bisa disebut empuk. Inspektur Skimhead menyapanya sekilas saat mereka saling berpapasan di depan kantor polisi. Onew hanya membalas dengan senyum lemah lalu tangannya tampak menopang dahi. Inspektur Skimhead mengangkat alis dengan bingung. Ia berdeham sebelum menghentikan langkah Onew dengan panggilannya.

“Onew Lee!!”

“Ya! Siap, Inspektur!” sahut Onew tegas saking terkejutnya. Si pria berkepala plontos yang tadi memanggilnya pun tertawa pelan, “Santai saja, kita tidak sedang bekerja,” ia mendekati pia muda itu, “Ada apa denganmu? Wajahmu tampak pucat. Apa makan atau tidurmu bermasalah?”

“Tidak, inspektur. Justru saya rasa akhir-akhir ini saya tidur lebih lama dari biasanya, entah kenapa. Dan lebih anehnya lagi saya merasa lelah luar biasa begitu selesai bekerja atau beraktivitas.” jelasnya dengan suara pelan, sungguh sangat berbeda dari pribadi cerianya yang biasa.

“Oh, itu aneh. Mungkin kau harus memeriksakan diri ke Dokter. Apa kau perlu cuti?” tanya Inspektur Skimhead. Ia tahu Onew adalah anggota hebat yang kinerajanya amat memuaskan. Tentu saja kehilangan Onew di saat-saat penting -hanya karena menghiraukan penyakit kecil- akan menjadi hal yang sangat konyol. Tapi opsir muda itu tersenyum dan menggelengkan kepala, “Tidak perlu, Inspektur. Dokter bilang saya hanya perlu istirahat. Itu saja.”

“Oh, baiklah kalau begitu. Beristirahatlah yang cukup. Kau bisa pergi sekarang.”

“Baik, Inspektur. Terima kasih.”

Onew melangkah gontai di sepanjang perjalanan pulang. Jalan yang biasa ia lalui terasa jauh lebih panjang dari biasanya, membuat langkahnya semakin berat. Rasa kantuk mendera diri dan setiap inderanya. Hanya beberapa langkah lagi ia akan sampai di tempatnya tinggal, namun kantuknya tak tertahankan lagi saat ia sampai di beranda rumah papan berukuran sedang tersebut. Ia pun dikuasai alam mimpi hanya dalam hitungan detik.

***

Waktu berlalu dengan cepat. Bluebell yang biasa bekerja di sebuah toko roti di seberang jalan diizinkan pulang lebih cepat. Hari itu hari peringatan tiga tahun Onew tinggal bersamanya, hari yang diakui pria itu pula sebagai hari kelahirannya. Sampai sekarang pun Bluebell masih heran bagaimana bisa Onew yang seorang yatim piatu tahu kapan ia lahir. Namun gadis itu tak mau terlalu menghiraukan hal tersebut. Yang terpenting baginya adalah dapat tinggal dengan nyaman bersama Onew, lelaki manis yang selalu memperlakukannya dengan baik serta bertanggung jawab dengan seluruh pekerjaan yang diberikan padanya. Keseriusannya dalam bekerja tidak mengurangi daya humor lelaki itu, membuatnya semakin manis di mata Bluebell.

Berjam-jam berlalu sejak kepulangan Bluebell. Berbagai hidangan sederhana namun lezat telah terhidang di atas meja kayu lapuk yang setidaknya masih kuat menampung makanan-makanan tersebut. Sebenarnya ia sempat bimbang mengingat kemungkinan uangnya tidak akan cukup untuk menyediakan hidangan Natal apalagi tahun baru nanti. Tapi Bluebell memfokuskan pikirannya hanya pada ulang tahun Onew ini. Yang lain nanti saja baru ia pikirkan lagi.

Bluebell mulai tak sabar. Seharusnya Onew sudah pulang satu jam lalu, namun lelaki itu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Gadis yang semakin cemas itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar dan mencari Onew. Tapi begitu kakinya menginjak pintu beranda, ekspresi cemasnya berubah takut dan terkejut.

“Ya Tuhan, Onew!! Apa yang terjadi padamu??!!”

Lelaki itu tak bangun juga. Bahkan suara dengkurannya pun tak terdengar. Bluebell semakin gelisah. Haruskah ia memanggil Dokter? Tapi ia sudah menghabiskan semua uangnya untuk menyiapkan hidangan istimewa yang telah dingin di atas meja. Onew sendiri tak kunjung bangun walau lima jam telah berlalu. Dengan berat hati Bluebell memakan hidangan tersebut sendiri, tanpa tawa dan lelucon yang biasa Onew lontarkan di dua tahun sebelumnya. Hanya beberapa hidangan yang ia anggap tahan lama yang ia tinggalkan kalau-kalau lelaki itu terbangun.

***

Matahari menyembulkan diri dengan malu-malu, menunjukkan waktu telah memasuki pagi. Semilir angin dingin yang berubah agak hangat membangunkan Bluebell dari tidurnya. Ia hampir terjaga semalaman menjaga Onew sampai akhirnya ia tertidur. Bluebell kembali melirik Onew yang masih terlelap. Baiklah, lelaki itu memang sering kesiangan akhir-akhir ini, namun tidur dua belas jam begitu saja tanpa terbangun sedikitpun benar-benar tidak wajar. Akhirnya Bluebell kembali mengguncang tubuh Onew, jauh lebih kuat dari guncangannya kemarin malam. Tak ada hasil. Onew sama sekali tak sadar dari alam mimpinya.

“ONEW!!”

PLAAKK!!

Baiklah, Bluebell memang keterlaluan sampai menampar Onew dengan kerasnya. Tapi kesabaran gadis itu ada batasnya, kesabaran yang megalahkan semua rasa cemasnya. Untunglah usahanya membuahkan hasil, lelaki itu terbangun walau wajahnya tampak lelah dan amat letih.

“Apa? Ada apa?” tanya Onew ngantuk. Ia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Perasaannya bercampur aduk, antara marah dan bingung. Bluebell berkacak pinggang di hadapannya, “ ‘Ada apa’? kau masih menanyaiku ‘ada apa’??!! Onew Lee! Kau tidak tahu betapa cemasnya aku setelah menemukanmu terbaring di beranda kita dan tak juga bangun sampai pagi ini??!! KAU MASIH MENANYAIKU ‘ADA APA’????!!!!”

Dan rentetan kata itu berhasil membuka mata Onew lebar. Suara seraknya bergumam tak percaya, “Apa??!!”

***

Sedikit terhuyung, Onew berjalan menyusuri gang sempit pemukiman para penjual roti tempat ia tinggal tiga tahun terakhir. Kepalanya masih berdenyut, detak jantungnya tak beraturan. “Selamat pagi, Onew Lee.” sapa lelaki gemuk dengan kumis hitam yang menutupi mulutnya. “Selamat pagi, Mr. Milles,” Onew balik menyapa, memaksakan seulas senyum sambil membungkukkan tubuhnya.

“Oh! kau terlihat tidak sehat. Terlibat dalam kasus rumit?” kelakar Mr.Milles, lantas ia menurunkan karung tepung dari bahunya. Menepuk kedua tangannya, lalu berkacak pinggang. Onew terkekeh, “Tidak! Aku hanya sedikit lelah,” terang Onew sekenanya.

Mr.Milles menarik nafas, hembusan nafasnya terlihat begitu jelas dan berat. “Banyaklah beristirahat di waktu luang, Onew Lee. Opsir sepertimu sangat diperlukan untuk menjaga keamanan kota. Terlebih lagi wilayah kecil seperti tempat kita ini.”

Onew kembali tersenyum, merasakan enerji positif dari kalimat Mr.Milles. Itu benar! Wilayah kecil seperti tempat tinggalnya ini sangat rawan dari serangan bandit, akan menjadi runyam jika para bandit kampungan itu menerobos wilayahnya. “Thanks, Mr.Milles. Saya akan bekerja lebih keras lagi.” ucap Onew akhirnya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya.

Angin berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering yang telah gugur dari pohonnya. Onew merapatkan lagi coat cokelat lusuhnya, berjalan lebih cepat agar segera tiba di kantor kepolisian Scotland Yard.

TING

Lonceng kecil yang telah usang itu berbunyi saat Onew membuka pintu, membuat beberapa kepala menoleh ke arahnya. “Onew Lee!” pekik sebuah suara, membuat Onew terkejut. Si pemilik suara lantas berhambur ke arah Onew, kedua tangannya memegang dua buah mug hitam berisi kopi. Disodorkannya satu mug ke hadapan Onew, “Minumlah. Kita masih punya waktu bersantai lima menit.” katanya, lalu membawa Onew ke ruangannya.

Sedikit bingung Onew meraih mug dari Inspektur Skimhead, dan mengikuti lelaki itu ke ruangannya. “Nah, bagaimana istirahatmu? Kau tidak terlihat lebih baik.” tanya Inspektur Skimhead setelah ia dan Onew duduk di kursi lipat yang dibatasi oleh meja kerjanya. “Seharusnya lebih baik setelah aku tidur dua belas jam tanpa terbangun sedikitpun,” terang Onew, sorot matanya meredup mengingat bagaimana pagi ini Bluebell membangunkannya. Lalu ia menyesap kopinya, merasakan kopi hangat itu membuat tubuhnya lebih segar.

Mata Inspektur Skimhead terbelalak, “Dua belas jam? Itu sangat bagus.” Lelaki itu lalu menyesap kopi dalam mug-nya, menyandarkan punggung tegapnya di sandaran kursi. Onew diam, memandangi tumpukan map di atas meja Inspektur Skimhead. Sementara pikirannya kembali menerawang pada ranjang di rumahnya yang tiba-tiba ia rindukan.

“Ada kasus yang perlu kita selidiki. Cukup rumit.” terang Inspektur Skimhead, lantas ia kembali duduk tegak. Onew mengalihkan pandangannya dari tumpukan map, memandang Inspektur Skimhead. Inspektur Skimhead menaruh mug di mejanya, “Kasus penculikan. Elspeth Windsor , 17 tahun. Putri bungsu bangsawan Windsor Gregory, bangsawan dengan gelar Duke¹ –gelar tertinggi dalam aristokrat Inggris.” Lanjut Inspektur Skimhead, tersirat ketakutan dalam nada bicaranya barusan.

“Penculikan? Bagaimana bisa seorang putri bangsawan diculik?” tanya Onew. Inspektur Skimhead menggedikkan kedua bahunya, lalu meraih lagi mug-nya. “Diperkirakan ada orang dalam yang terlibat. Dan yang paling dicurigai adalah Vladimir Fox, pengawalnya.” Inspektur Skimhead menyesap lagi kopinya. Berusaha mengenyahkan kekhawatiran yang kembali menyergapnya.

Benar! Pagi ini ia mendapat laporan kehilangan atas nama Elspeth Windsor  langsung dari orang kepercayaan Duke of Windsor Gregory. Mengatakan bahwa putri bungsunya hilang. Dan tentu saja berita ini membuat geger kepolisian Scotland Yard. Tentu ini merupakan tugas besar bagi Inspektur Skimhead, ia harus mengerahkan opsir-opsir terbaiknya.

“Jadi, aku akan melibatkanmu dalam kasus ini, Onew. Kuharap kau mempersiapkan dirimu.” Inspektur Skimhead memandang Onew. “Siap, Inspektur!” jawab Onew sigap, melupakan rasa lelah dan kantuk yang sedari tadi menderanya. “Minumlah kopimu dan kembali ke rumah. Kuberi satu hari libur untukmu. Kau terlihat lelah, istirahatlah yang cukup. Besok kita akan melakukan penyelidikan.”

“Oh! Tidak perlu, Inspektur. Saya siap melakukan penyelidikan hari ini. Lagipula, kita tidak bisa menunggu lebih lama untuk mengetahui keberadaan putri bungsu bangsawan Windsor.” Onew berusaha mengelak, meski pada kenyataannya ia memang membutuhkan tidur.

Dengan cepat Onew menyesap lagi kopinya, menghabiskannya dalam beberapa teguk. “Nah, Saya sudah kembali segar, Inspektur.” terang Onew, meyakinkan bahwa dirinya siap untuk bertugas. Inspektur Skimhead memandang Onew, seolah menyelidiki sesuatu melalui mata sipit opsir muda itu.

***

Kaki berbalut boot hitam itu melangkah, menyusuri gang sempit di mana begitu banyak kubangan air yang tidak bisa dihindari. Rumah-rumah dengan atap rendah berderet nyaris tanpa jarak, ayam ternak berkeliaran ke sana ke mari. Bau tidak menyenangkan menyeruak, menerobos hidung kedua laki-laki itu. Tidak kalah dengan East End, wilayah ini sangat kumuh dan padat.

Inspektur Skimhead melirik lagi catatan kecil di tangannya, lalu matanya menjelajah deretan rumah yang berjejer dekat lahan kosong yang tidak terawat. Matanya menatap deretan rumah tersebut, sementara tangan kirinya menarik puntung rokok yang terselip di antara lipatan bibirnya. “Kurasa ini tempatnya,” lantas ia melangkah, mendekati salah satu rumah dengan dinding kayu yang dicat warna merah.

Tok tok tok

Diketuknya pintu rumah itu. Hanya beberapa detik hingga seorang wanita bermata biru itu membuka pintu. Matanya sembab dan rambutnya tidak tergulung rapi. “Kami dari kepolisian Scotland Yard. Kedatangan kami untuk melakukan pemeriksaan pada Vladimir Fox,” ucap Inspektur Skimhead tegas. Tapi wanita yang ditaksir berusia pertengahan 30 itu lantas menangis, menundukkan kepalanya sambil terisak.

Inspektur Skimhead dan Onew saling berpandangan, sama-sama merasa bingung dengan apa yang terjadi. Satu-satunya hal yang Onew mengerti adalah kenyataan bahwa Elspeth Windsor benar-benar diculik Vladimir Fox.

Dua puluh menit lamanya wanita yang mengaku sebagai kakak perempuan dari Vladimir Fox bercerita sambil terisak. Ia menceritakan bahwa adiknya –Vladimir- tidak pulang ke rumah satu hari sebelum Elspeth dinyatakan hilang. Onew menatap wanita itu, seolah merasakan kesedih yang dirasakannya. “Kami adalah keturunan campuran. Ada darah Asia dalam tubuh kami,” terang wanita bernama Esther itu. Onew hanya mengangguk, pantas saja ia merasa tidak asing dengan wajah Esther. “Aku telah memperingatkan Vladimir untuk menjaga dirinya dan berhati-hati, terlebih lagi saat mengetahui bahwa ia dipekerjakan untuk menjadi pengawal putri bungsu Duke of Windsor Gregory.” lanjutnya. Ia kemudian menyusut lagi air mata dengan sapu tangan murahan yang digenggamnya.

“Jadi, menurut Anda, Vladimir benar-benar membawa Elspeth pergi?” tanya Onew. Esther memandang Onew, sorot matanya menunjukkan penyangkalan besar. Tapi pada kenyataannya, apa yang terjadi berlainan dengan apa yang diharapkannya. “Vladimir jatuh cinta pada Elspeth. Berkali-kali aku memintanya untuk berhenti bekerja sebagai pengawal Elspeth, tapi itu membuat Vladimir semakin tak tergoyahkan. Tapi sunguh, aku tidak menyangka ia akan membawa Elspeth pergi.” Esther kembali terisak, wajah dan hidungnya telah memerah.

“Menurut Anda, ke mana Vladimir akan membawa Elspeth? Dia pasti tahu bahwa Scotland Yard bukanlah tempat yang aman untuk melarikan diri.” Tanya Onew lagi. Ia terlarut dalam kasus penculikan ini, melupakan bahwa seharusnya Inspektur Skimhead lah yang memimpin interogasi semacam ini. Tapi di sisi lain, Inspektur Skimhead justru senang. Seperti ini lah cara kerja Onew yang membuatnya menjadi salah satu opsir terbaik kepolisian Scotland Yard.

Esther mengusap lagi air matanya, kemudian memandang Onew dan Inspektur Skimhead penuh keraguan. “Kami tidak akan menangkap dan memenjarakan Vladimir jika ia tidak terbukti menculik Elspeth. Kami akan mencari tahu keberadaan Vladimir, dia akan menjadi saksi.” Terang Onew buru-buru, ia tahu kedua mata Esther tak henti memancarkan ketakutan yang besar. Esther kembali memandang Onew dan Inspektur Skimhead bergantian, menelisik mata dua orang di hadapannya, memastikan bahwa kedua orang anggota kepolisian itu memang akan menolong Vladimir. Lagi pula, Esther begitu sedih dengan perginya Vladimir yang membuat hidup keluarga mereka semakin terlunta-lunta.

Esther menatap Onew, seolah memberikan isyarat melalui tatapannya. “Oh! Inspektur, bisa tinggalkan kami sebentar?” pinta Onew, ia segera mengerti maksud tatapan Esther barusan. Inspektur Skimhead tidak banyak bertanya. Ia lantas menjauh, membiarkan Onew berbicara bersama Esther. Lelaki itu berjalan menuju lahan kosong yang terletak beberapa meter dari rumah Vladimir. Merogoh sesuatu di saku kemeja kirinya, dan tak lama kepulan asap itu muncul dari mulutnya.

Kini, hanya Onew dan Esther. Wanita itu sempat terdiam beberapa detik, masih ragu apa ia benar-benar bisa mempercayai Onew. “Katakanlah. Aku tidak akan mengkhianati keluargaku. Kita sama-sama memiliki darah Asia, meski pada kenyataannya itu tidak terlalu menguntungkan di tempat ini.” terang Onew, dan itu mengingatkannya lagi pada alasan mengapa ia ditendang oleh keluarga yang telah mengasuhnya. Esther mengusap air matanya, lalu merengsek mendekati Onew. Berbisik tepat di telinga opsir muda itu “Kami memiliki perkebunan keluarga di Nobotte wood, 65km di tenggara Scotland Yard. Carilah Vladimir di sana. Tidak! Namanya Key, itu nama aslinya. Keluarga di perkebunan hanya mengetahui nama lahirnya.” terang Esther. Onew mengangguk. Entah mengapa, mendengar nama Key membuatnya membayangkan bahwa wajah lelaki itu akan sama orientalnya dengan dirinya.

“Baiklah, Saya akan mencarinya ke sana. Terima kasih sudah membantu kami dalam penyelidikan ini. Tenanglah. Kuharap Key tidak benar-benar menculik Elspeth.” Entah mengapa setelah mendengar nama asli Vladimir, Onew merasa begitu akrab dengan lelaki yang bahkan belum pernah ia temui. Onew hendak beranjak saat Esther menahan tangannya, “Kumohon, aku mempercayaimu. Key adikku satu-satunya, ia juga tulang punggung keluarga kami di sini. Jangan tangkap dia meskipun kenyataannya dia benar-benar menculik Elspeth. Aku yakin putri bangsawan itu juga mencintai Key.” bisik Esther, kedua mata birunya menatap Onew tajam.

***

Bluebell mengaduk lagi kualinya, mencium aroma yang muncul dari kepulan asap kualinya. Ah! Tidak salah lagi! sup kentangnya akan memilik rasa yang sempurna. Ia menaburkan sejenis rempah-rempah untuk menambah rasa pada supnya, lalu melirik ke meja makan –yang ada di belakangnya. Matanya berbinar menatap dua buah mangkuk dan piring yang telah tertata rapi di sana, begitu juga dengan sendok dan gelas. Rasanya ia tidak sabar menunggu waktu makan malam tiba, yang artinya adalah Onew akan segera pulang.

Hari ini Bluebell sengaja ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan supnya. Ia merasa bersalah saat mengingat lagi bagaimana pagi ini ia membangunkan Onew. Memang menyebalkan bahwa Onew tidur selama 12 jam tanpa terbangun sedikitpun. Oh! bahkan Onew tertidur sebelum ia berhasil masuk ke dalam rumah. Jelas saja itu menyebalkan bagi Bluebell, ia tidak bisa menghabiskan malam bersama Onew untuk sekedar mengobrol atau hanya memandangi wajah Onew semalaman. Tapi, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Onew, apalagi menampar Onew hanya untuk membangunkan lelaki itu. Onew pasti sangat lelah dengan pekerjaannya.

Dan inilah kesempatan bagi Bluebell untuk menebus kesalahannya. Ia yakin, Onew akan suka dengan sup kentangnya. Oh! ia lupa bahwa Onew selalu suka masakannya. Bluebell baru saja mematikan api saat terdengar suara pintu depan dibuka seseorang, derap langkah kaki terdengar mendekat. Dengan cepat Bluebell menuangkan sup panas ke dalam mangkuk, ia tahu Onew sudah pulang. “Ouch!” gadis itu mengerang saat sup panas mengenai telunjuk kirinya, tapi dengan cepat ia menghisap jari telunjuknya.

Bluebell tergesa-gesa meninggalkan kualinya saat terdengar suara pintu lain yang dibuka lalu ditutup. Ia harus segera menyapa Onew, mungkin laki-laki itu mengira Bluebell masih marah padanya dan segera masuk ke kamar. Bluebell melepas apronnya cepat, lalu merapikan lagi rambutnya seiringan dengan langkahnya menuju kamar. Satu, dua, tiga, Bluebell menghitung dalam hati sebelum ia mengetuk pintu.

Tok tok tok

Tak ada jawaban. ‘Apa ia mengira aku masih marah padanya?’ batin Bluebell. Perlahan Bluebell memutar kenop pintu, mendorong pintu seukuran tubuhnya. Ia menghela nafas, melihat lelaki itu telah tergolek di atas ranjang. Bahkan Onew belum melepas sepatu boot-nya. “Onew!” panggil Bluebell, lantas ia mengguncangkan tubuh Onew. Lelaki itu bergeming, tetap memejamkan kedua matanya seolah tidak pernah mendengar suara Bluebell. “Onew!” panggil Bluebell lagi, kali ini ia mengguncang tubuh Onew lebih keras. Masih tidak ada respon, lelaki itu bahkan mulai mendengkur. Bluebell menghela nafas, kekesalannya kembali muncul. Belum sampai satu menit Onew sampai di rumah dan ia segera terlelap begitu tubuhnya menempel pada ranjang.

Dengan perasaan kesal, akhirnya Bluebell mengalah. Membiarkan Onew terlelap, yang artinya ia akan makan malam sendiri lagi. Bluebell melepas sepatu boot Onew, lalu merapikan posisi tidur lelaki itu. Ditatapnya wajah lelaki itu. Sepertinya benar, Onew memang kelelahan. Ah! Hari esok Bluebell harus memaksa Onew pergi ke dokter, pikir Bluebell.

***

Onew melangkah gontai menapaki halaman sempit rumahnya. Ia tidak tahu mengapa ia merasa begitu lelah dan benar-benar memerlukan tidur. Tidak biasanya ia seperti ini. Bahkan Inspektur Skimhead membatalkan penyeledikan mereka ke Nobotte Wood di Althorp hanya karena Onew tidak fokus dan terus menguap. Entah sudah berapa gelas kopi yang ia minum selama singgah perjalanan mereka ke tempat yang dipenuhi perkebunan dan ladang berburu itu, tapi nyatanya itu tidak sedikitpun mengurangi rasa kantuk yang mendera Onew.

Malam belum terlalu larut, dan Onew telah diijinkan pulang oleh Inspektur Skimhead. Mereka akan melanjutkan penyeledikan besok pagi jam 9. Lagi-lagi Onew menguap sepanjang perjalanannya, ia benar-benar merasa sangat lelah. Seperti tidak tidur untuk waktu yang lama, dan satu-satunya hal yang ia perlukan saat ini adalah tidur.

KLEK

Onew memutar kenop pintu rumahnya, melangkah begitu saja menuju kamar. Ia tahu seharusnya ia menyapa Bluebell terlebih dahulu dan mengatakan bahwa ia akan melewatkan makan malam karena rasa katuk yang terus menderanya. Tapi sayangnya, Onew bahkan tidak memiliki tenaga untuk melakukan hal itu. Kedua matanya begitu berat, dan tubuhnya terasa remuk. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, meski ia mencium aroma sedap dari dapur. Dan dalam hitungan detik, ia segera terlelap.

Onew mengerang pelan, ia masih merasa ngantuk saat perutnya terasa begitu lapar. Susah payah ia membuka kedua matanya yang begitu berat. Ah! Sepertinya ia baru tertidur dua jam dan harus terbangun karena lapar. Onew menggeliat, menguap lebar sebelum akhirnya beranjak dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia menatap dirinya, menatap seragam polisi yang masih menempel di tubuhnya. Ia rasa ia benar-benar lelah, hingga tidak sanggup untuk mengganti pakaian. Baiklah! Ia rasa ia harus segera makan, selain itu ia harus meminta maaf pada Bluebell. Gadis itu pasti tidak senang karena dirinya pulang dan tertidur begitu saja tanpa mengatakan apapun. Terlebih lagi kejadian di pagi hari saat Bluebell membangunkannya sudah lebih dari cukup bagi Onew untuk meminta maaf pada Bluebell.

Onew baru saja hendak beranjak saat kedua matanya menangkap dua sosok yang tidak asing. Kedua sosok itu duduk di kursi kayu di hadapan Onew. Menatap Onew penuh selidik. Onew merasa ada sesuatu yang salah, lantas ia melirik jendela kamar. Ah! Rupanya sudah pagi. Baiklah, ia tertidur hingga pagi dan terlambat menemui Inspektur Skimhead. Hei! Seterlambat apakah ia hingga Inspektur Skimhead datang ke rumahnya? Dan ah! Wajah Bluebell seolah sedang bertanya-tanya, ada segurat kekhawatiran yang tergambar di wajah cantik gadis itu.

“Sudah bangun, Onew?” tanya Inspektur Skimhead, lantas ia menyesap lagi rokoknya yang tinggal seperempat. Onew merasa sangat malu. Celakalah! Inspektur Skimhead pasti sangat murka, pikir Onew. “Oh! Selamat pagi, Inspektur.” Onew segera bangkit dan menegapkan tubuhnya, memberi hormat pada Inspektur Skimhead. “Kurasa kau perlu memeriksakan dirimu ke dokter,” ucap Inspektur Skimhead, ia kemudian beranjak dari kursinya.

“Saya hanya merasa terlalu lelah, Inspektur. Maafkan saya.” Onew segera meminta maaf, ia tahu bahwa Inspektur Skimhead sedang menyindirnya. Inspektur Skimhead menatap Onew, melihat gurat-gurat lelah di wajah opsirnya. Kedua mata Onew sedikit merah, juga wajahnya terlihat begitu berantakan. Seperti orang yang sama sekali belum tidur selama tiga hari. “Apa tidur dua hari sudah cukup bagimu?” tanya Inspektur Skimhead, membuat Onew terbelalak.

“Du-dua hari?” Onew tergagap, pasti Inspektur Skimhead sedang menyindirnya lagi. Ia hanya terlelap hingga pagi, mana mungkin dua hari sudah berlalu? Kedua mata Onew menatap Inspektur Skimhead dan Bluebell bergantian. “Maafkan Saya, Inspektur. Saya terlambat menemui Anda untuk perjalanan ke Nobotte Wood. Saya akan segera bersiap-siap.” Onew membungkukkan tubuhnya sebagai permintaan maaf, kemudian hendak beranjak saat tangan Bluebell menahannya.

Gadis itu menatap Onew penuh kekhawatiran. “Onew, kau benar-benar tertidur selama dua hari,” terang Bluebell cemas. Onew membelalakkan lagi kedua matanya. Tidak mungkin! Pasti Bluebell dan Inspektur Skimhead telah besekongkol untuk mengerjainya, pikir Onew.

***

Murung dan bingung.

Inspektur Skimhead memutuskan untuk tidak mengikutsertakan Onew dalam penyelidikan kasus penculikan Elspeth. Ada banyak yang dikhawatirkan inspektur kepala itu, salah satunya adalah nama baik kepolisian Scotland Yard. Lelaki paruh baya berkumis tebal dan berkepala botak itu hanya mengatakan bahwa ia dan tim baru bentukannya akan segera melakukan penyelidikan ke Nobotte Wood, mereka akan menyisir seluruh daerah Althorp bila perlu. Sayangnya, Onew masih menyembunyikan kenyataan bahwa Vladimir Fox adalah keturunan Asia bernama asli Key. Serta kebenaran bahwa tempat itu merupakan perkebunan keluarga yang kemungkinan dihuni banyak orang Asia. Entah kenapa, ia enggan memberitahukan semua itu.

Inspektur Skimhead memberikan cuti pada Onew selama dua minggu. Itu artinya, Onew tidak diperbolehkan bekerja sampai tahun baru. Dan tentu saja inspektur Skimhead pasti akan menjadikan liburan tahun baru untuk kembali meliburkannya, jika saja kesehatan Onew belum membaik. Onew merasa teramat sangat kecewa pada dirinya sendiri. Hanya karena ketiduran selama dua hari, membuatnya benar-benar kehilangan kepercayaan atasannya tersebut. Inspektur dengan tegas menyuruhnya memeriksakan diri ke dokter hari itu juga. Bluebell juga ikut-ikutan memaksanya. Onew yakin dia cuma kelelahan. Ya, pasti hanya kelelahan. Bukan hal lain.

“Anda hanya kelelahan. Tidak ada gangguan lain. Anda tidak perlu khawatir.”

Ucapan dokter jelas membuat Onew girang sekaligus membuat Bluebell tidak percaya. Gadis itu menautkan alis, “Anda pasti salah, Dok. Tidak mungkin orang yang tidur dua hari berturut-turut hanya menderita kelelahan biasa. Pasti ada yang salah dengan dirinya. Saya yakin!” ucapnya ngotot. Dokter yang rambutnya sudah dipenuhi uban itu hanya tersenyum bijaksana, “Kenapa Anda begitu khawatir, Miss? Bagaimana keadaannya saat tertidur? Bukankah dia-” tanya si dokter bijaksana.

“Tapi dia bahkan tak sadar saat melakukannya. Oh, aku tidak tahu, Dokter. Begitu aku bangun, makanan yang kusediakan di dekatnya sudah habis dan air di kamar mandi tampak berkurang. Mungkin saja semua kegiatan berupa makan dan buang air itu hanya dugaan. Bisa saja…bisa saja… itu dilakukan oleh orang lain! Ah, atau tikus! Bisa saja, bukan? Aku yakin Onew benar-benar sakit! Aku yakin, Dokter!” potong Bluebell. Semua kemungkinan terburuk muncul di kepalanya. Jelas Onew adalah orang yang amat berharga baginya, dan di relung hatinya ia merasa harus menjaga lelaki oriental itu.

Listen, Miss. Anda tidak perlu khawatir. Saya benar-benar yakin dia hanya kelelahan. Jika Anda masih belum yakin, saya akan meresepkan obat penenang padanya sehingga dia dapat beristirahat cukup dan baik saat ia merasa lelah. Okay?” ujar si Dokter kalem. Bluebell menarik nafas dalam-dalam dan akhirnya mengangguk setuju. Onew -yang tak sadar menahan nafasnya sedari tadi- mulai menghembuskan nafas lega. Ia tidak mau dibebani kewajiban makan obat atau terapi atau… ah, apapun itu yang menyulitkannya dan pekerjaannya. Akhirnya mereka pun undur diri dan pulang setelah menebus resep.

“Kau harus memakan obatnya dengan benar, Mr. Lee! Aku akan menjadi pengawasmu!! Akan kupastikan kau sembuh sebelum Natal, sehingga kita bisa menghias rumah bersama dengan semua pernak-pernik Natal sepeti tahun-tahun sebelumnya!” ucap Bluebell tegas. Onew tersenyum kecut mendengarnya. Sebenarnya ia enggan mengkonsumsi obat-obatan, tapi kelihatannya kali ini Bluebell benar-benar akan memaksanya. Ia tersenyum, sebuah rencana muncul di otaknya.

Allright, Miss Constantia. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan, apapun yang kau senangi,” tuturnya sambil tersenyum manis. Topi cokelat yang sama lusuh dengan coatnya itu ia lepas, lalu ia mengambil langkah mundur di depan Bluebell. Rambut hitam setengkuknya yang agak kemerahan dihembus sepoi angin dingin. Bluebell mengernyitkan dahi, “Kenapa kau berkata begitu? Aku jadi tak yakin-” Gemuruh mulai melanda dada gadis itu seiring senyum Onew yang semakin lebar dan jarak mereka yang entah kenapa semakin dekat. Bluebell menelan ludah.

“Aku hanya penasaran, young Lady,” lanjut Onew. Sinar mata pemangsa yang menggoda berbinar di manik cokelat kelamnya. “Kenapa kau begitu peduli padaku? Aku hanya seorang penyewa di tempatmu. Tidakkah kau kira kita terlalu dekat? Apa kau punya alasan logis yang dapat menjelaskan kedekatan kita? Oh, atau setidaknya kekhawatiranmu yang berlebihan?” Onew tersenyum penuh arti sambil melirik sepasang mata hijau gadis berambut merah itu. Ia menangkap munculnya semburat merah muda di pipi gadis itu. “Jangan-jangan, kau memiliki perasaan khusus padaku?” tanyanya to the point.

Kalimat tadi jelas membuat Bluebell salah tingkah, tampak dari wajah dan telinganya yang memerah. Suaranya bergetar, sementara tangannya sibuk menggenggam ujung sweater-nya. “Si…siapa bilang? Memangnya siapa yang peduli padamu?! Aku tidak merasa-”

“Oh, kalau begitu kau tidak peduli padaku?” potong Onew dengan wajah yang terlihat sedih. Hati Bluebell malah terenyuh melihat ekspresi polos lelaki itu, ia hanya mampu terdiam sambil mengalihkan pandangannya ke kerah coat Onew. Langkah keduanya terhenti. Onew tersenyum, “Yang mana yang benar, Bells? Kau pasti peduli padaku, bukan? Wajahmu menunjukkannya dengan jelas, Bells.” bisiknya sambil meraih wajah kemerahan Bluebell. Panas menjalar dari kedua permukaan kulit yang saling bersentuhan itu, mengedarkan sengatan listik ringan  ke jantung Bluebell yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku yakin, Bells. Kau menyukaiku, bukan?”

Bisikan Onew tepat di telinga kiri Bluebell sontak membuat tubuh gadis itu seakan diserang ribuan volt listrik. Sentuhan lelaki itu pada pipinya saja sudah hampir membuat tingkahnya tak terkendali. Apalagi dengan rentetan kata yang disertai terpaan nafas hangat Onew yang menembus hawa dingin itu? Panas segera menjalar cepat di sekujur tubuh Bluebell, dadanya bergemuruh keras dan ia terus berdoa agar Onew tak dapat mendengarnya. Ia terus mengalihkan pandangannya ke arah lain, sementara nafasnya tertahan. Hanya satu kata yang berhasil keluar dari bibirnya, “Ti..tidak…”

“Apa kau mencintaiku, Bells?”

DEG

Bluebell langsung mengalihkan pandangannya, menatap langsung ke dalam manik kelam Onew. Mata sipit Onew serasa memangsa dirinya, membekukannya seperti batu. Sementara darah mengalir deras dalam pembuluh darahnya. Nafas keduanya seakan bersatu, sementara detak jantung terus berpacu. Hidung keduanya menempel, menciptakan uap-uap putih hasil nafas panas mereka yang beradu dengan udara beku. Selama ini Bluebell tak pernah memikirkan bagaimana perasaannya pada lelaki yang telah tiga tahun tinggal seatap dengannya itu. Ia hanya merasa nyaman, ia tahu itu. Tapi setiap senyuman dan tawa Onew membuat hatinya bahagia. Ia ingin mereka terus bersama. Ia ingin Onew bisa selalu berada di sisinya dan tentu saja dalam keadaan sehat. Ia belum mau kehilangan sinar mata penuh semangat Onew dari hidupnya -yang selama ini ia anggap tak berharga.

Onew kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Bluebell. Senyum merekah jenaka di bibir tebalnya, “Benar begitu ‘kan, Miss Bluebell Constantia?” bisiknya dengan suara parau.

Bluebell langsung terkesiap menyadari posisinya. Ia merangsek lepas dari sentuhan Onew. Warna merah tergambar jelas di kulit putihnya. Matanya menangkap senyum nakal pada bibir lelaki di hadapannya dan rasa sebal langsung menyadap semua akalnya. Ia mengepalkan tangan lalu berkata lantang, “Tidak! Aku tidak mencintaimu! Aku tidak peduli padamu! Lakukan semuanya sesukamu!!!” dan gadis itu pun berbalik pergi. Onew tertawa-tawa di tempatnya, sadar bahwa Bluebell sudah tau bahwa dia hanya bercanda. Yah, mungkin dia agak kelewatan kali ini, tapi hanya ini satu-satunya cara untuk…

“Bells, aku tidak akan pulang selama dua atau tiga hari! Jangan cemaskan aku, okay?” teriak Onew menembus keramaian orang yang lalu lalang. Langkah Bluebell terhenti saat akal sehat kembali penuh dalam pikirannya.  Ia berbalik lagi, namun sosok Onew sama sekali tak dapat ditemukannya. Bluebell menepuk kening saat menyadari kebodohannya. Ia melepas nafas kesal sementara matanya menjelajah resah, “Kenapa aku bisa setolol ini? Dia pasti berkata begitu hanya agar bisa lepas dariku! Ah, dia pasti pergi ke Nobotte Wood. Bagaimana aku harus menjelaskan semua ini pada inspektur Skimhead?” gumamnya gelisah.

Pandangan mata manusia yang terbatas tak mampu membelah keramaian kota London dalam sekali pandang. Dalam semilir angin dingin dan cuaca yang amat tak bersahabat, lebih banyak pikiran yang membayangkan fish and chips panas tersuguh di hadapan mereka untuk menghangatkan isi perut yang ikut ditusuk gigil dingin. Tak ada seorang pun yang sadar ataupun peduli pada lelaki muda ber-coat coklat tua yang telah menyewa seekor kuda dan langsung membawanya membelah keramaian kota kelabu itu dalam langkah kencang yang pasti. Si penunggang memandang jalan dalam pelukan rasa lelah. Yang ada di pikirannya hanya satu saat ini, Nobotte Wood di Althorp.

To be continued…

10 thoughts on “Unconscious Case – Part 1

  1. Hhmm krna mta blm mnqntk jd mnjljah llipop dlu aah. .
    Eeeh, trnyta da ff bru lqi nhe syukr deh nqak hror. .
    Kekekek. .

    Tp knpa dqn onew eonni. ? Tdur slma12 jam, sllu mnqntk bhkan tdr smpai 2 hri apa bnar onew hnya klelhan. . ?

    Wkt bluebell mbnqunkn onew knp dtmpr cih, lbh baik dbnqunin dqn pnci ja kan kshan tu tp msh mndnq cih dri pd d-sram dqn air pnaz hehehe

    aaaa. . Jdi vladimir fox tu key ya nqak kpkran td, knpa esther mw mcrtkan dmn key hnya pda onew n mnyrh inspktr mnqlkan mrka, bkan kah onew n inspktr sm2 plsi. ? Ktana key sdh tdax plnq krmh shri sblum elspeth windsor dculix, ap bnar key yq mnclik na eonni.?
    Oiya, dsni minho blum mncul nih tp nqak pa2 krna sdah da key yq mnqntkan, stdak na rsa rndu dhti sdah trobti. .” aduh kceplosan”

    Oooh. . Bhkan prtnyaan aQ aqk bnyk nhe, jd pnsran

  2. Aaaaa Eun Cha! jd ini ff km??
    Beberapa hari yg lalu aku sempet sihh liat di twitter sf3si. Aku g tau klo itu ff mu. Aaahh..aku ketinggalan lg..
    Km collab ama Bella Jo yaa? hwaaa pasti kerenn! tp aku blm bs baca skrng huhuhu… ㅠ.ㅠ

  3. mang onew kena sindrom sleeping beauty ya?? kq tidurnya mpe 2 hari g bagun2,
    wahh… kayaknya ada sesuatu nih ma tubuh onew.. lho Key masuk cast tho, hehehe…. aku mau juga donk dikawal Key, hehe[ngarep]
    gimana nih nasib onew and tentunya Key y? kira2 dah ditemukan lm ma police, jadi penasaran….
    lanjutt ya thorr…

  4. Huwaa!! Kerenn! aku berasa baca novel. Daebakkkk!!!!^^)b

    Onew Lee, ada apa denganmu? Tidur selama 2 hari g bangun²?O.o
    yg makan & make air di kamar mandi siapa? klo aku sihh yakin itu onew, g mungkin tikus -_- apa dia ngalamin sleep walking?katanya org yg kena sleep walking bs tdr smbil ngerjain aktifits yg biasa dkrjakan org pas sadar.
    Tp dia g bangun² selama 2 hari. Apa iya sleeping beauty syndrome? ‘.’)?

    Aahh.. Key! Dia jd pnculik? Jinja? atau jangan² malah Elspeth yg minta Key buat bawa dia kabur? atau mgkin mrka kawin lari(?) Ahh molla.. drpd nebak g jelas mnding langsung ke part selanjutnya…
    *lompat ke part 2

    • Nah,nah,nah, di part ini masih belum banyak clue. jadi masih banyak yang dipertanyakan.kekek.
      aku no comment dlu yaa, jawabannya akan segera terungkap.
      Thank u, Ummul udah baca😉

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s