Unconsciuos Case – Part 2

Title                 : Unconscious Case

Author             : Song Euncha & Bella Jo

Main Cast   : Lee [Onew] Jinki | Choi Minho | Bluebell Constantia (OC)

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre          : Thriller, mystery, adventure, psycho, romance, friendship

Type/Length      : Sequel / 2 of 5

Rating               : PG 15

Summary         : “Minho, ada apa?” suara Kim ahjeossi memecah kepanikan Minho. Laki-laki itu menoleh dengan wajah bingung, “Se…sepertinya ada yang terjadi dengan Taemin, ahjeossi…”

Inspektur Skimhead mendecak putus asa. Ia dan timnya sudah menyisir seluruh daerah Althorp, termasuk Nobotte Wood. Namun tak ada seorang pun yang mengenal Vladimir Fox ataupun mengaku pernah mengenalnya. Malahan pemilik sebuah kediaman yang dikelilingi perkebunan Winch House menolak mentah-mentah kedatangannya. Pemiliknya seorang lelaki oriental tua yang tampak pemarah. Ia menggumamkan bahasa yang tak dikenal sang Inspektur lalu mengucap kata-kata seperti Natal dan tahun baru di sela-sela kalimatnya. Inspektur Skimhead akhirnya tak memaksa lelaki tua itu lebih jauh. Setelah menyisir daerah itu berkali-kali, akhirnya ia menghentikan sementara pencarian dan memutuskan untuk kembali ke kediaman Esther. Otaknya berpikir keras bagaimana cara agar wanita muda itu mengatakan di mana adiknya, walau dengan paksaan sekalipun.

“Inspektur, seluruh tim sudah berkumpul. Kami menunggu perintah Anda,” ucap seorang opsir dengan penuh hormat. Inspektur Skimhead menghela nafas panjang, lalu melirik kembali bangunan Winch House yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Hanya itu satu-satunya bangunan yang belum digeledah, tapi ia tak bisa menggeladah paksa begitu saja. Ia menghela nafas panjang. Jika saja Onew Lee ada di sampingnya sekarang, lelaki muda itu pasti akan memberikan saran atau malah membujuk si lelaki tua itu dengan cara yang… Ah, pasti ada yang dapat Onew lakukan untuk mempermudah penyelidikan! Lelaki botak itu mulai menyesali keputusannya meliburkan Onew.

“Baiklah, kita kembali ke kantor pusat. Besok pagi-pagi sekali kita akan mendatangi rumah saudari Vladimir Fox. Pokoknya, kita harus menyelesaikan kasus ini sebelum Natal tiba.” putusnya. Si opsir mengiyakan dan akhirnya rombongan mereka pun kembali ke London. Tak ada yang sadar bahwa sepasang mata memperhatikan mereka dengan tajam sedari tadi.

Langkah sepasang kaki berbalut boot hitam butut menyusuri jalan kecil dengan tumpukan alat-alat berkebun dan barang-barang bekas di sekelilingnya. Jalan itu berakhir di depan pintu sebuah rumah batu yang tampak usang dan kurang terawat. Di belakang rumah tersebut terhampar kebun sempit yang hanya berbataskan pagar kayu yang sudah lapuk dan keropos di sana-sini. Pemilik langkah kaki itu menarik nafas dalam-dalam sebelum membimbing senyum di wajahnya. Ia mengetuk pintu lapuk di depannya.

TOK TOK

Lelaki itu mendengar suara derap kaki yang bergemuruh di sepanjang lantai kayu. Rasa gugup menyergap dirinya saat pemilik rumah membukakan pintu. Seorang lelaki tua berambut uban dengan tubuh kecil tegap tampil di hadapannya. Wajahnya tak bersahabat dan mata sipitnya menatap tajam.

“Siapa kau?” tanya pemilik rumah parau. Lelaki asing berambut hitam di depannya tampak agak gugup. Kedua pasang mata sipit itu saling berpandangan saat si lelaki asing berkata, “Saya…saya Onew Lee. Saya mencari seseorang bernama Key, lelaki muda keturunan Asia. Apakah dia ada di sini?” tuturnya. Lelaki tua itu mengernyitkan alis, “Kau bilang namamu ‘Lee’?”

“Ya. Saya Onew Lee… Saya-“

“Taemin! Ke mari! Apa kau mengenal lelaki ini?” potong lelaki tua itu. Onew menggerutu dalam hati. Ia sudah mengumpulkan banyak keberanian untuk datang ke tempat asing itu. Setidaknya lelaki tua itu harus mendengarnya sampai selesai dulu, bukan? Keduanya diam sambil menanti kedatangan orang yang namanya dipanggil si pemilik rumah. Lelaki tua itu melirik Onew sekilas dan wajahnya mulai melembut. Pandangannya kembali ke dalam rumah saat seorang remaja berambut hitam berponi mendekati keduanya. Pandangan ramah dan kekanakan si remaja membuat hati Onew terasa hangat dan nyaman.

Ne, Kim ahjeossi?” ucap si remaja yang sepertinya bernama Taemin itu dengan bahasa yang tidak mengerti Onew. Lelaki tua tadi mengarahkan jempolnya pada Onew, “Kau mengenalnya? Marganya ‘Lee’. Namanya Onew Lee” Si lelaki langsung berbalik pergi, meninggalkan Onew yang bingung sementara Taemin terus memperhatikannya dari ujung rambut hingga kaki. Ia menatap lekat sepasang mata coklat kelam Onew yang dihiasi gurat lelah. Setelah beberapa detik ditelan canggung, Taemin buka suara. “Ah! Kau pasti anak  angkat keluarga Marquis Leincesterberry yang dibuang beberapa tahun lalu itu, ya?” gumamnya. Jujur saja kalimat itu agak menyinggung Onew, terutama kata ‘dibuang’ di sela-selanya. Onew hanya tersenyum tipis mengiyakan.

“Ah, maafkan aku. Bukan maksudku menyinggung. Aku juga minta maaf atas nama keluargaku karena membuatmu mengalami hal yang tidak menyenangkan seperti itu.” sesal Taemin. Senyum sendu kekanakannya mampu meluluhkan hati Onew. Opsir muda itu hanya balas tersenyum heran, “Kau…?”

“Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Lee Taemin, 19 tahun. Mmmm… Aku tidak punya nama Inggris, terlalu malas bergaul dengan kaum kulit putih yang pongah itu. Panggil saja aku Taemin. Aku yakin kau lebih tua dariku,” ujar Taemin ceria. Onew jadi mengerti kenapa Taemin minta maaf padanya. Lelaki yang lebih muda darinya itu melebarkan pintu dan mempersilakannya masuk, “Aku tidak tahu apa urusanmu di sini, tapi Kim ahjeossi selalu membiarkan setiap keturunan Asia keluar-masuk bangunan ini. Jadi, tak apa. Semua saling membantu. Yah, kau tau betapa sulitnya bagi kita hidup di sini.”

Onew tak begitu memperhatikan omongan lawan bicaranya sementara keduanya mulai menjelajah rumah. Ternyata isi rumah tersebut jauh lebih bagus dari tampilan luarnya. Dari penjelasan Taemin, Onew jadi tahu bahwa rumah itu milik lelaki keturunan Korea yang berlayar ke Inggris di masa mudanya. Hidup sebagai pendatang di London ternyata tidak mudah. Beratnya hidup membuatnya sulit percaya pada orang-orang kulit putih. Lelaki itu selalu memperlakukan keturunan Asia -terutama Korea- dengan sangat baik dan akhirnya meninggal. Lalu mewariskan hartanya pada si anak, yaitu lelaki tua yang Onew temui tadi. Kenyataan bahwa ayahnya tewas karena dibunuh penduduk setempat membuat lelaki tua bernama Kim Youngwoon itu mendendam pada orang Inggris dan tak pernah mau berhubungan dengan orang kulit putih manapun. Namun ia tetap bersikap baik pada keturunan Asia, sama seperti ayahnya.

“Sebenarnya Kim ahjeossi punya banyak saudara, makanya ada banyak orang yang sering keluar-masuk tempat ini. Oh, ya! Kebun miliknya bukan hanya yang dibatasi pagar kayu itu. Di luar pagar kayu itu masih miliknya.” celoteh Taemin panjang lebar. Onew hanya menanggapi dengan anggukan sesekali. Baru kali ini Onew bersyukur memiliki darah -yang sepertinya- keturunan Asia. Namun sekarang, Ia berpikir keras bagaimana ia harus bertanya tentang Key.

“Oh, ya. Apa urusanmu ke sini?”

Akhirnya!‘ pikir Onew. Tanpa sadar ia tersenyum cerah, “Oh, aku mencari lelaki bernama Key. Menurut saudarinya -Esther- kemungkinan besar ia berada di sini. Apa mungkin kau tahu sesuatu tentang itu?” tanyanya langsung. Ia jadi berubah antusias. Padahal sedari tadi ia merasa amat lelah sekaligus amat rindu pada ranjangnya di rumah. Ia menatap Taemin penuh harap, sementara keduanya masih terus berjalan menyusuri koridor.

“Oh, Key hyeong? Sampai kemarin malam dia ada di sini, tapi dia keluar tadi pagi. Katanya ada hal yang perlu ia urus. Aku tidak tahu kenapa, tapi Key hyeong yang biasanya ceria dan cerewet malah sangat depresi akhir-akhir ini.,” gumam Taemin. Keduanya sampai di suatu ruangan besar di ujung lorong. Di sana duduk dua orang lelaki yang wajahnya juga tampak asing untuk negara kulit putih seperti Inggris. Yang seorang bersenderkan tembok di dekat perapian, sementara yang satunya sibuk menuliskan sesuatu di sudut ruangan. Lelaki berbaju mahal di dekat perapian melambaikan tangan ke arah mereka, senyum terulas tipis di bibir kemerahannya.

“Hai, Hyeong. Apa kau tahu Key hyeong ke mana? Ada yang mencarinya. ” Taemin menunjuk sekilas ke arah Onew yang tersenyum canggung di ambang pintu. Lelaki di hadapannya tampak sangar. Warna rambutnya aneh, seperti lapisan tiga warna. Lelaki itu memandangnya tajam seperti pemangsa, tampak raut tidak suka di sana. Onew menelan ludah. Hal baik apa yang bisa ia harapkan di rumah orang? pikirnya.

Lelaki berwajah garang itu mengatakan sesuatu pada Taemin dengan bahasa yang tak dapat Onew mengerti. Taemin hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan itu. Kemudian laki-laki itu berjalan menghampiri Onew, tangannya ia julurkan, menanti genggaman salam dari Onew. Ia tersenyum dan Onew mulai merasakan keramahan dari senyumnya. Wajah lelaki di hadapannya berubah manis, seperti anak anjing mungil yang penurut dan ingin disayang.

Good evening, Mr. Lee. Namaku Tyson Nathaniel Ferrers, beberapa orang memanggilku Earl Ferrers. Kau bisa menyebutku Kim Jonghyun di sini. Senang berkenalan denganmu,” tutur laki-laki itu ringan. Onew terperangah. Ternyata lelaki muda di hadapannya ini bahkan sudah menyandang gelar Earl, pasti ia dari keluarga penting. Tiba-tiba ia agak salah tingkah dan berubah hormat seperti sikapnya bekerja di kepolisian.

“Senang berkenalan dengan Anda juga, Sir. Saya Onew Lee,” ucapnya gugup. Jonghyun terbahak melihat tingkahnya lalu menepuk-nepuk bahu lelaki itu setelah berjabat tangan, “Tidak perlu kaku begitu. Kita semua bersaudara di sini. Kau seperti tentara saja.” ucapnya geli. Ia membimbing Onew menuju perapian dengan santainya. Onew sendiri tiba-tiba sadar akan sikapnya yang memang berubah seharian ini. Tidak biasanya ia seperti ini. Ada apa dengannya?

“Ah, Minho! Beri salam pada tamu kita!” ujarnya nyaring pada lelaki berbadan tegap yang terlalu sibuk dengan tumpukan buku di sekitarnya. Orang itu hanya melempar senyum ramah sekilas sebelum melanjutkan kegiatannya. Jonghyun menggeleng-gelengkan kepala sambil menghembus nafas malas, “Dasar! Dia selalu dingin begitu. Jangan terlalu dimasukkan ke hati, ya. Temannya memang hanya buku dan kasus.”

“Memangnya apa pekerjaannya?” tanya Onew penasaran.

“Ah, dia hanya detektif swasta yang kurang terkenal. Setahun lalu ia gagal masuk Scotland Yard karena kurang koneksi. Sayang sekali untuk bocah pintar sepertinya,” celoteh Jonghyun miris. “Oh ya, namanya Choi Minho. Dia yatim piatu yang dipungut Kim ahjeossi tujuh tahun lalu.”

“East End?” tanya Onew lagi. Jonghyun tersenyum kecil sambil menuang teh ke dalam tea set di atas meja. “Bukan. Nasibnya sedikit beruntung karena ayahnya sempat mendapat pekerjaan di London sebelum meninggal.” Lelaki itu menyodorkan secangkir teh Darjeeling pada Onew seraya duduk di hadapannya, “Dan kau? Apa urusanmu ke mari? Sepertinya kau berhubungan dengan kawanan polisi yang diusir Kim ahjeossi siang tadi.”

“Oh, tebakan Anda tepat sekali,” jawabnya malu. Akhirnya Onew menceritakan maksudnya datang ke tempat itu sekaligus libur yang diberikan atasannya karena panjang tidurnya yang abnormal. Jonghyun mendengarkan dengan seksama sambil menyesap tehnya sesekali.

“Intinya kau mencari Key, kan?” simpul Jonghyun. Earl muda itu bangkit lalu menambah kayu bakar ke dalam panasnya perapian. Onew mengangguk ringan. Air muka Jonghyun berubah tegang walau ia berusaha menutupinya mati-matian. Onew mulai memasang mata siaga.

“Memang benar Elspeth diculik. Aku, Key, dan Taemin bersama dengannya saat itu. Tentu bukan hanya kami. Puluhan orang diundang Duke of Windsor Gregory di hari itu dalam sebuah jamuan makan malam. Aku datang sebagai tamu kehormatan, sementara Taemin datang untuk mengirimkan bahan makanan yang dipesan bangsawan itu. Lady Elspeth tidak suka keramaian, dia meminta Key yang tengah berbincang denganku dan Taemin untuk menyingkir dari tempat pesta bersamanya. Kami memutuskan pergi ke kediamanku dengan kereta kuda terpisah. Elspeth dan Key, sementara aku dengan Taemin. Kami sempat terhenti saat ada gerombolan polisi Scotland Yard memaksa kami berhenti untuk melakukan pemeriksaan dadakan. Mereka menyebutkan bahwa ada pencuri kabur yang suka menyembunyikan diri di kereta kuda.” ungkap Jonghyun. Pikiran Onew mulai mengawang. Ia memang mengingat pemeriksaan tersebut karena sempat terlibat sekilas di dalamnya.

“Saat kereta kami dihentikan, kami memutuskan untuk turun dan melihat sekeliling sesaat. Aku… aku tidak begitu mampu mengingat kejadian tersebut karena terlalu mabuk. Taemin memapahku kembali ke kereta kuda dan ingatanku hanya sampai di situ. Begitu bangun, aku sudah ada di kediamanku dan mendapat berita bahwa Elspeth hilang diculik malam itu. Buktinya adalah sobekan gaunnya di dekat lokasi kejadian dan teriakan yang sempat didengar beberapa orang malam itu. Selebihnya, aku tidak tahu lagi.”

Onew mendecak dalam hati mendengar kisah gantung itu. Ia butuh keterangan yang lebih banyak. Ada terlalu banyak tersangka dalam cerita Jonghyun. Ia mengambil pena dan buku kecil dari saku jasnya dan menuliskan keterangan penting yang disampaikan Jonghyun. Ia kembali bertanya, “Key masih dinyatakan hilang dan paling dicurigai sebagai tersangka dalam kasus ini. Bukankah Key sempat datang ke mari? Apa yang ia katakan?”

“Ia hanya diam. Amat sulit diajak bicara. Yang ia sebut hanya nama Elspeth. Kondisinya cukup aneh. Ada beberapa bekas bercak darah di kemeja dan wajahnya. Entah itu miliknya atau bukan, aku tidak tahu. Seperti orang linglung yang dihinggapi berbagai kebingungan dan ketakutan. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa ia jadi seperti itu. Setelah makan, ia mengemasi beberapa potong roti lalu pergi membawanya.” jawab Jonghyun. Kerutan halus tampil di keningnya yang kusam. Matanya menyiratkan ada beberapa hal yang tengah ia pikirkan. Entah itu berupa kebingungan, cemas, atau justru ketakutan.

“Apa kau tahu di mana Key sekarang?” tanya Onew lagi. Sepertinya ia memang harus bertanya langsung pada Key selaku orang terdekat Elspeth saat itu. Jonghyun tersenyum lemah lalu menggeleng pelan. Onew mengerang frustasi. Ia mengacak rambutnya sekilas sementara sakit kepala mendera otaknya, membuatnya sulit berpikir jernih. Ia tak tahu sampai kapan dapat menahan rasa kantuknya.

“Satu pertanyaan lagi,” gumam Onew, berusaha untuk kembali fokus pada pekerjaannya. “Apa Key memang mencintai Elspeth?”

Jonghyun tersenyum penuh makna, senyum yang sangat aneh bagi Onew. Seakan ada banyak hal yang tersembunyi dari tarikan garis di bibir tipis lelaki bersuara nyaring itu. “Dia memang mencintai Elspeth sekaligus membencinya. Tekanan yang diberikan Duke of Windsor Gregory selama menjadi pengawal pribadi gadis itu membuatnya tertekan. Sebagai orang muda, kau pasti tahu bahwa antara rasa cinta dan benci hanya dibatasi garis tipis yang disebut kesadaran.”

***

Onew menyandarkan punggungnya pada tembok batu yang dingin. Ia memutuskan untuk melewatkan malam sambil berpikir di rumah itu. Kim Youngwoon tidak melarangnya, malah memperlakukakannya dengan jauh lebih baik dari pertemuan pertama mereka tadi. Earl Ferrers kembali ke Middlewich House –kediamannya yang cukup jauh dari tempat itu. Sementara Minho masih berada di tempatnya. Onew tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki pendiam itu walau di dalam hatinya ia sangat berharap Minho mau membantunya menyelidiki kasus tersebut. Taemin mengatakan dia ingin pulang sebentar ke rumah keluarga Lee di London untuk mengantarkan beberapa pesanan pelanggan. Ia berjanji akan kembali ke Winch House malam itu.

Mata Onew tertuju pada perapian yang tak jauh dari tempatnya duduk, menahan kantuk luar biasa dan berusaha untuk tetap berpikir.

“Dua hari sudah cukup… dua hari sudah cukup…” gumamnya pelan pada diri sendiri.

“Apa yang kau katakan?”

Onew terlonjak kaget dari tempatnya duduk, sementara Minho ternyata sudah duduk di sampingnya. Bibir Minho menyunggingkan senyum tertahan saat melihat Onew memegang dada, seolah berusaha menormalkan kembali detak jantungnya. “Maaf jika aku mengagetkanmu, Hyeong.”

H..hyeong?”

“Jonghyun hyeong mengatakan kalau kau lebih tua dari kami. Jadi kami harus memanggilmu ‘Hyeong’, jika kau tidak keberatan tentu saja.” jawab Minho tenang dengan suara beratnya yang khas. Onew terseyum kecil sambil menggeleng pelan, “Tentu saja aku tidak keberatan. Suatu kehormatan bagiku diterima dengan baik di rumah ini.”

Minho balas tersenyum, lalu pandangannya berubah serius. Onew jadi ikut tenggelam dalam suasana serius yang diciptakannya. “Aku mendengar percakapanmu dengan Jonghyun hyeong tadi. Dan aku jadi ikut merasa penasaran dengan apa yang menimpa Elspeth. Aku ingin membantumu menyelidiki kasus penculikan Elspeth Windsor  itu,” ucapnya tenang dan tegas. Ia menambahkan, “Ada sedikit hal yang kuketahui tentang malam itu, Hyeong.”

“Apa itu?”

“Sebenarnya, Taemin tidak menyukai Elspeth dan keluarganya. Taemin salah satu orang yang paling keras menentang hubungan Key dan Elspeth -yang terlibat dalam romansa beda kasta itu. Alasan yang paling kuat dari rasa bencinya adalah perlakuan Duke of Windsor Gregory pada keluarga Lee. Bangsawan itu sering menuduh keluarga Lee melakukan kecurangan dagang atau mengirimkan sayuran busuk padanya. Namun beliau tetap selalu memesan sayur dan buah dari keluarga Lee.

“Lalu? Spertinya kau curiga Taemin adalah pelaku kasus ini.”

Minho mengangguk menanggapi ucapan Onew. Ia memperhatikan sekeliling, memastikan Kim Youngwoon tidak ada di dekat mereka. Ia mendekat ke arah Onew, lalu berujar dengan suara pelan, “Taemin selalu membawa pisau tajam di saku belakangnya. Hanya ada beberapa orang yang tahu bahwa Taemin bisa amat kasar pada perempuan, terutama yang ia benci. Ada beberapa saksi yang mengatakan bahwa mereka melihat Taemin bersama Elspeth dan Key sesaat sebelum gadis itu hilang. Taemin juga sempat hilang beberapa jam setelah kejadian itu. Tapi ternyata, ia ditemukan tengah mengantarkan buah pesanan seorang janda tak jauh dari sini. Aneh sekali, bukan?” Minho menautkan jari-jari kedua tangannya sambil memandang Onew serius, “Aku curiga, Hyeong. Taemin adalah adik kesayangan Key di sini. Key pasti mau melakukan apapun demi melindunginya. Jika saja Taemin memang sangat membenci Elspeth sampai menculik dan membunuhnya, jika saja Key tahu dan terlibat jauh di dalamnya, Key pasti bertindak untuk melindungi Taemin walau hal itu membahayakan ataupun merugikan dirinya sendiri.” ujarnya.

Onew langsung bangkit dari duduknya. Wajahnya terlihat sangat serius. “Kita harus bertemu dengan Taemin sekarang juga! Dia pasti tau sesuatu!!”

Minho tak sempat menghentikan langkah cepat Onew yang segera keluar rumah. Ia hanya dapat memandang punggung lelah Onew lalu mengalihkan pandangan pada bukunya yang ada di sudut ruangan, buku catatan data penyelidikan kasus penculikan Elspeth yang ia kumpulkan sebelum bertemu dengan Onew. Minho kembali duduk, bersandarkan tembok sambil tetap berpikir. Ruangan yang temaram dengan cahaya perapian itu tampak semakin gelap bersamaan dengan kasus penculikan Elspeth yang mungkin saja telah berubah menjadi pembunuhan.

***

Onew berlari keluar Winch House dengan langkah yang terasa amat berat. Matanya semakin berat. Meski begitu, semangat untuk menemui Taemin -setidaknya demi mendapatkan lebih banyak keterangan- masih ada di benaknya. Tapi ia sudah tak mampu lagi melangkah, dan langkahnya pun  terhenti seraya jatuh terjerembab di atas tanah yang dingin. Ia tidak tahu kenapa masih terus merasa begitu lemah walau perutnya sudah kenyang terisi makanan. Nafasnya mulai tak teratur, sementara matanya semakin berat. Ia benar-benar butuh tidur sekarang.

Tidak apa-apa kalau lima menit saja, bukan? Onew Lee, hanya lima menit… hanya lima menit…”

Onew terus mengulang kalimat itu dalam benaknya, sementara matanya mulai tertutup rapat. Berbagai rasa campur aduk dalam hati dan pikirannya. Kasus penculikan itu, Esther, Winch House, Key, Taemin, Minho. Ah, bahkan Bluebell… gadis itu pasti menunggunya dengan cemas di rumah.

***

“Aaaaaakkkhhh!!!! Lepaskan aku! Kumohon lepaskan aku!!”

Onew langsung bangkit dari pembaringannya dan mencari asal suara itu. Suara seorang gadis yang sangat lemah dan tak berdaya. Onew semakin mempercepat larinya saat si pemilik suara berteriak, “Kumohon… Aku masih ingin bersama Ayahku… Aku masih ingin tinggal di Windsor… Kumohon, lepaskan aku!!!”

Onew sampai di sebuah perkebunan dengan ilalang tinggi menjulang. Ia melihat seorang pria berbadan tinggi dengan pisau mengkilat berada di tangan kanan yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Tangan kirinya memegang ikatan yang menjerat erat tangan dan tubuh seorang gadis yang berjalan terseret-seret di belakangnya. Gadis itu terus menangis histeris sementara si lelaki yang memakai topi dan coat warna gelap itu tak mau menghentikan langkahnya. Onew terkesiap. Tindak kejahatan terpampang jelas di hadapannya. Ia menyesal tidak membawa pistolnya hari itu. Lelaki itu tampak kuat, Onew tak tahu harus berbuat apa.

“Hey, lepaskan dia!!” teriak Onew lantang dengan segenap keberaniannya. Kedua orang itu mendengar suara Onew dan menoleh cepat. Awan berarak, membiarkan cahaya bulan menembus sesaat menerpa daratan, memperlihatkan sepasang mata tajam layaknya seorang pembunuh menatap mangsanya. Mata itu menatap langsung ke arah Onew, mata sipit yang amat mengerikan. Onew disergap ketakutan luar biasa. Pemilik mata itu menyimpul tali yang mengekang si gadis pada kayu terdekat dan segera berlari ke arah Onew.

Onew terkejut menyadari ialah yang menjadi sasaran pria mengerikan dengan pisau di tangannya itu sekarang. Ia langsung berbalik lari, berjanji dalam hati untuk kembali menyelamatkan si gadis jika ia bisa meloloskan diri dari pembunuh berdarah dingin yang tengah mengejarnya kini. Dengan segenap tenaga, laki-laki bertubuh kecil namun tegap itu melangkah dengan cepat menembus ilalang.

Nafasnya tak karuan. Langkah pembunuh di belakangnya terdengar jelas menapak tak jauh darinya. Onew semakin ketakutan. Ia memutuskan untuk berlari ke arah Winch House. Beberapa belokan menuju rumah itu membuat jaraknya dan si pembunuh terpaut jauh.

“Akh!” Tiba-tiba Onew terjerembab jatuh. Ia langsung berusaha bangkit, berdiri dengan hati yang semakin ketakutan dan debar jantung yang semakin tak karuan.

Hyeong, ada apa? Apa yang terjadi?  Kenapa kau berlari begitu?” suara Taemin memecah fokus Onew, membuatnya kembali tak memperhatikan langkahnya. Ia jatuh lagi, kali ini menghantam batu besar sehingga membuat kepalanya terluka parah.

“Di sana ada pembunuh, Tae… kita harus lari! harus lari!” ucap Onew lemah. Kesadarannya mulai menghilang sementara ia berusaha mati-matian untuk tetap sadar. Taemin terus memanggil-manggil namanya namun Onew sudah tak mampu menjawab dan hanya dapat memandang Taemin dengan pandangan berbayang tak jelas.

Tiba-tiba pembunuh tadi sudah ada di belakang Taemin -yang masih belum beranjak dari tempatnya. Onew tak dapat melihat dengan jelas lagi. Yang ada hanya teriakan Taemin dan suara memercik serta tikaman di telinga Onew. Sepertinya Taemin sempat bergerak menjauh dari sana, suara langkah kakinya semakin menjauh. Teriakan Taemin melemah dan Onew semakin ketakutan. Ia berusaha mengumpulkan tenaganya, sesedikit apapun yang masih tersisa. Sepertinya si pembunuh itu terlalu fokus pada Taemin. Tak lagi terdengar suara dari lelaki muda itu, baik rintihan pelan sekalipun. Onew langsung membuka matanya lebar-lebar dan bangkit dari tempatnya. Ia beranjak menuju Winch House dengan langkah tertatih dan darah menetes dari kepalanya. Pakaiannya juga tampak dinodai percikan darah, sepertinya milik Taemin. Onew tak sempat lagi memikirkannya. Ia terlalu takut.

TOK TOK TOK

Minho langsung beranjak cepat membuka pintu mendengar gedoran paksa tersebut. Decakan meluncur dari bibirnya sebelum ia menggerutu, “Siapa lagi di malam hari seperti ini?”

KLEK

“Minho….”

Onew terjatuh ke pelukan Minho begitu pintu terbuka. Minho membelalakkan matanya lebar. Darah memenuhi wajah dan pakaian Onew. Ada apa ini? Sayangnya Minho bahkan terlalu kaget untuk berkata-kata. Matanya yang memang besar masih melotot lebar. Nafas Onew semakin tak karuan di pelukan Minho, dan lelaki berbadan tegap itu jatuh belutut dengan tubuh lemah Onew di pelukannya.

H-hyeong?”

“Tae…min… Taemin…. di..a sudah….” Onew tak mampu melanjutkan kalimatnya dan kehilangan kesadaran. Minho semakin panik. Ia mengguncang tubuh Onew, namun lelaki itu tak juga bangun.

“Minho, ada apa?” suara Kim ahjeossi memecah kepanikan Minho. Laki-laki itu menoleh dengan wajah bingung, “Se…sepertinya ada yang terjadi dengan Taemin, ahjeossi…”

***

Seberkas cahaya menyilaukan memaksa lelaki itu untuk membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya ia mendapati langit-langit putih dan dinding batu kusam di dekatnya. Ia mengerang, kepalanya terasa pusing. “Hyeong!” terdengar pekikan di sampingnya, lantas dua tangan yang kuat meraih tengkuk dan punggung lelaki itu.

“Akh!” Onew mengerang lagi. Kali ini kepalanya tidak hanya pusing, tapi juga berdenyut hebat. “Gwaencanha, Hyeong?” tanya suara berat yang telah dikenal Onew. Onew tidak menjawab, ia hanya mampu mengerang pelan. Kepalanya terasa berputar-putar, sementara pelipisnya masih berdenyut perih.

Dibantu Minho, Onew kini menyandarkan tubuhnya pada sofa merah tua tempat ia berbaring. Ia diam beberapa saat untuk mengembalikan kesadarannya. Perlahan Onew mengaduk memori dalam kepalanya, mengingat lagi apa yang terjadi sebelum ia terbangun dan mendapati kepalanya berdenyut hebat.

Beberapa klise segera terputar ulang dalam kepala Onew. Dimulai dari kedatangannya ke Winch house, perkenalan singkatnya dengan Taemin, Jonghyun, dan Minho. Lalu rasa kantuk yang menyerangnya dan ah! Pembunuh itu!

“Taemin!” pekik Onew tertahan. Ia hendak bangkit, namun segera urung saat kepalanya berdenyut semakin hebat. Ia mengerang, tangan kanannya menyentuh pelipis kanannya. Ada perban yang melilit kepalanya, dan sedikit rasa hangat yang Onew rasakan saat menyentuh pelipisnya yang berdenyut.

“Tenang, Hyeong. Kau aman di sini.” ucap Minho, ia kemudian menuangkan teh hijau ke dalam cangkir. Sementara Onew masih terdiam, berusaha mengingat lagi apa yang terjadi. Dalam kepalanya kembali berputar kejadian di mana pembunuh itu mengejarnya, lalu Taemin yang menghampirinya dan semuanya menjadi gelap. Hanya percikan darah yang ia ingat.

DEG!
Seketika jantungnya berdebar hebat, darahnya berdesir kencang. Percikan darah itu, percikan darah yang muncul setelah erangan kecil dari mulut Taemin. Onew kembali beranjak, mengabaikan rasa sakit di pelipisnya. “Hyeong, kau mau ke mana?” tangan Minho menahan Onew. “Taemin! Aku harus bertemu dengannya!” terang Onew histeris. Kini ia telah bangkit, berjalan dengan kaki gemetarnya.

Hyeong, tenangkan dirimu.” Lagi, tangan kuat Minho berhasil mengembalikan Onew ke atas sofa. Onew sempat meronta dan memanggil-manggil Taemin histeris. “Tenang, Hyeong. Tenangkan dirimu.” ucap Minho sembari menyodorkan cangkir berisi teh hijau pada Onew. Memaksa opsir Scotland Yard itu menyesap teh. Susah payah, akhirnya Onew mau menyesap teh hijau hingga habis. Nafasnya mulai tenang, tidak ada lagi teriakan histeris dari mulutnya yang memanggil nama Taemin.

Satu,dua,tiga…

 Jantung Onew mulai kembali pada ritme normal. Lelaki itu menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya. Memejamkan kedua matanya sambil mengulangi kegiatan menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali. Perlahan pikirannya mulai tenang, meski itu membuat denyutan di pelipisnya semakin menjadi. Onew kemudian menatap perapian yang berada di seberang sofa merah tempatnya berbaring. Memandangi percikan kembang api kecil saat kayu -yang sepertinya sedikit basah- terbakar.

“Taemin.” gumam Onew lagi, kali ini suaranya pelan dan bergetar. Minho dan Jonghyun yang ada dalam ruangan itu saling berpandangan, seolah memikirkan hal yang sama. “Hyeong, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Minho, ia menyipitkan kedua matanya. “Pembunuh itu… dia yang menculik Elspeth.” Terang Onew, mengingat lagi kejadian tidak jelas dalam kepalanya.

“Penculik Elspeth?” tanya Minho dan Jonghyun bersamaan. Terdengar jelas bahwa mereka terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan opsir Scotland Yard itu. “Kau melihatnya, Hyeong?” tanya Minho lagi. Perlahan Onew mengalihkan pandangannya dari perapian, lalu menatap mata bulat Minho. Onew mengangguk, “Dia ada di Althorp,” terangnya singkat.

“Di Althorp? Hyeong, bagaimana-”

“Dia membawa Elspeth! Lelaki itu mengenakan topi dan coat berwarna gelap. Tubuhnya tinggi kecil, tapi ia terlihat begitu sigap dan kuat. Ia membawa sebilah pisau.” Onew melanjutkan, membuat Minho dan Jonghyun mengerutkan lagi dahi mereka.

Onew menatap Minho dan Jonghyun dengan mata sipitnya, menangkap raut wajah tak percaya dari keduanya. Ia lalu memejamkan kedua matanya, berusaha mengingat lagi detil dari kejadian yang ia lihat. Lelaki itu menyeret wanita yang berteriak-teriak ingin tetap tinggal di Windsor. Tidak salah lagi! dia pasti Elspeth Windsor . Lalu lelaki itu mengejar Onew, mengejarnya hingga ke Winch house. Onew bertemu Taemin hanya beberapa meter di dekat Winch house, lalu terdengar erangan Taemin diikuti percikan darah.

Minho dan Jonghyun masih terlihat kebingungan, saat Onew tiba-tiba bangkit. Berjalan tertatih menuju kursi kayu dekat perapian dan menyambar coat cokelatnya. “Aku akan kembali ke Scotland Yard. Kematian Taemin harus segera dilaporkan dan ditangani. Yeah! Meski ini Althorp, tapi kematian Taemin ada hubungannya dengan hilangnya Elspeth Windsor .” Lantas Onew beranjak menuju pintu. Tangannya telah menyentuh kenop pintu saat ucapan Minho menahannya.

Hyeong, kematian Taemin telah ditangani lima hari yang lalu.”

Onew diam, mencerna apa yang baru saja diucapkan Minho. Lima hari yang lalu? Jangan gila! Taemin baru saja mati beberapa jam yang lalu, pikir Onew. Onew berbalik, menatap Minho yang kini duduk di sofa. Matanya mengabsen Jonghyun yang tengah menyesap teh- memandanganya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Apa maksudmu, Minho-ya? Taemin baru saja mati beberapa jam yang lalu di hadapanku,” desis Onew, ia melangkah mendekati Minho. “Tidak! Taemin tewas lima hari yang lalu, Hyeong. Lima hari yang lalu kau datang kemari dan berkenalan dengan kami. Dan di hari itu juga Taemin tewas, alat pembunuhnya adalah pisau yang selalu ia sembunyikan di balik tubuhnya,” terang Minho, membuat kepala Onew berputar-putar.

Lima hari yang lalu? Apa yang sebenarnya terjadi? lima hari telah berlalu? Mengapa rasanya waktu baru berjalan beberapa jam saja? batin Onew. Ia hanya mampu memandangi Minho dan Jonghyun, menatap dua pasang mata yang begitu mencurigakan. Pasti ada yang disembunyikan keduanya, pikir Onew. “Aku akan kembali ke Scotland Yard.” ucapnya, kemudian berbalik dan meninggalkan Minho dan Jonghyun.

BLAM

Pintu tertutup. Jonghyun menaruh cangkirnya di atas meja kecil dekat perapian. “Minho-ya, kupikir ada yang janggal di sini,” ucapnya singkat. Minho menatap Jonghyun, “Kupikir kematian Taemin lah yang janggal, Hyeong. Juga kesaksian opsir Scotland Yard itu,” tanggap Minho. Jonghyun lalu beranjak, memasukkan kayu bakar ke dalam perapian. “Ia melihat Elspeth dan penculiknya di Althorp. Tidak mungkin!” desis Jonghyun.

***

Gadis itu menatap lagi ke luar jendela, kedua kakinya terus melangkah menyusuri ruang tamu sempit di rumahnya. Entah sudah berapa lama ia mondar-mandir di sana, sambil sesekali melirik ke arah jendela. Berharap seseorang segera datang. Ia mendesah ringan, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang selama lima hari ini terus berputar dalam kepalanya. Tapi nyatanya, itu tidak membuatnya merasa lebih baik. Ia malah semakin kacau.

Sudah lima hari Onew tidak pulang. Laki-laki itu meninggalkannya dalam perjalanan pulang setelah dari Dokter. Tentu saja Bluebell tau bahwa Onew tengah melakukan penyelidikan ke Nobotte Wood di Althorp. Tapi sungguh! Mengapa lelaki itu tidak juga kembali? Dan yang membuat kekhawatiran Bluebell semakin memuncak ialah kedatangan Inspektur Skimhead yang menyatakan bahwa Onew tidak pernah datang ke kantor kepolisian Scotyard. Yang artinya, kepoolisian Scotland Yard sama sekali tidak menerima berita dari Onew.

Bluebell menggigit bibir bawahnya, merasakan kekhawatiran yang semakin memuncak. ‘Onew sedang tidak sehat, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? apa lelaki itu makan dengan baik? Apa lelaki itu tidak lupa minum obat?’ batin Bluebell. Ia terperanjat saat menyadari sesuatu. Lima hari lamanya lelaki itu tidak pulang dan tidak memberi kabar. Mungkinkah justru ia tertidur selama lima hari? pikir Bluebell. Gadis itu lalu berlari menuju kamarnya, tergesa-gesa mengenakan coat merah lalu berlari menuju pintu depan. Ada satu tempat yang harus didatanginya, sehubungan dengan masalah tidur Onew.

KLEK

Belum sempat Bluebell menyentuh kenop pintu saat pintu tiba-tiba terbuka. Menampilkan sosok lelaki berbadan tegap dengan coat cokelat lusuhnya. “Onew!” pekik Bluebell, ia tidak sadar bahwa suaranya begitu nyaring saat memanggil nama Onew. Perasaan aneh segera memenuhi hati gadis itu, perasaan aneh yang membuatnya sakit perut dan melompat memeluk Onew. Tapi tentu saja ia tidak melakukan hal konyol itu.

“Apa yang terjadi?” Tanya Bluebell panik saat mendapati perban yang melilit kepala Onew. Onew melangkah dengan kaki gemetarnya, melangkah menuju dapur tanpa menghiraukan pertanyaan Bluebell. Bluebell mengekor, kedua matanya memperhatikan gerak-gerik Onew yang terasa aneh.

Onew terus melangkah dengan tubuh limbungnya, kepalanya terasa berputar-putar dan pelipisnya berdenyut hebat. Ia merasa aneh, langkahnya terasa begitu ringan seolah kedua kaki bebalut boot hitamnya tidak menapaki bumi. Kedua tangannya segera membuka lemari di mana Bluebell biasa menyimpan roti untuk persediaan makanan. Lalu meraih loaf terdekat. Ia mencari piring dan pisau, sedikit terburu-buru mendudukkan tubuhnya di kursi. Kedua tangan gemetarnya memotong loaf asal, dan dengan cepat memasukkan potongan loaf ke dalam mulutnya. Mengunyahnya seperti serigala lapar yang baru mendapatkan mangsa.

“Onew, apa yang terjadi?” tanya Bluebell lagi. Kedua tangannya sibuk membuat teh hangat ke dalam cangkir. Lagi, Onew tidak menanggapi pertanyaan Bluebell. Lelaki itu terlalu sibuk makan, makan dengan lahapnya seolah melewatkan makan untuk waktu yang lama. Bluebell menaruh cangkir teh ke hadapan Onew, lalu duduk di hadapan lelaki itu. Onew masih fokus pada loaf-nya yang hampir habis. Bluebell tahu ada yang tidak beres, sesuatu yang buruk telah terjadi pada laki-laki di hadapannya.

Kedua mata hijau Bluebell menatap Onew. Memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Kedua mata Onew merah, seperti seseorang yang begitu lelah dan tidak tidur lebih dari tiga hari. wajahnya kusam dan tidak bercahaya, rambutnya berantakan dan terlihat kumal. Selain itu coat lusuhnya terlihat lebih kotor dibandingkan lima hari yang lalu. Bluebell terus memperhatikan Onew, memperhatikan dengan seksama. Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat jantungnya berdebar tak karuan, dan membuat darahnya berdesir saat ia menatap Onew seperti ini. Menatap lelaki itu sesuka hati, sementara lelaki itu sama sekali tidak menyadarinya. Membuat Blubell merasa Onew hanyalah miliknya, dan hanya bisa dilihat seperti itu oleh dirinya.

Kini Onew telah selesai dengan loaf-nya, ia meneguk teh buatan Bluebell dengan cepat. Bluebell masih memandangi Onew saat tanpa ia sadari Onew menatapnya, “Bells, hari ini kau memasak? Adakah yang bisa kumakan? Aku sangat lapar.” Akhirnya Onew buka suara, membuat Bluebell terperanjat. Gadis itu kembali pada dunianya, menatap Onew salah tingkah. “Oh! aku… aku memasak kari.” Jawab Bluebell, berusaha menyembunyikan kegugupannya saat sepasang manik cokelat itu menatapnya.

Onew tersenyum, baru menyadarai bahwa ia sama sekali belum menyapa Bluebell. Ia merasa begitu lapar dalam perjalanannya kembali ke Scotland Yard. Rasa lapar yang begitu besar dan tidak tertahankan. Oh! bahkan ia rasa ia nyaris mati jika tidak segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa dirinya merasakan perasaan aneh saat melihat gadis berambut kemerahan di hadapannya itu. Perasaan aneh seperti rindu yang membuatnya merasa lega saat melihat Bluebell. Kini Onew yang memperhatikan Bluebell, memperhatikan sepasang mata hijau yang menyorotkan gurat kekhawatiran, memperhatikan rambut kemerahan yang tidak tergulung dengan rapi, juga kantung mata yang seolah menunjukkan bahwa gadis itu kurang tidur.

Lima hari telah berlalu, itu yang diucapkan Minho. meski pada kenyataannya Onew masih tidak bisa mencerna bahwa ia tertidur selama lima hari dan sama sekali tidak menyadarinya. Lima hari! pastilah Bluebell mencemaskannya. Perasaan bersalah segera menyeruak memenuhi dada Onew. “Aku akan menceritakan apa yang terjadi setelah makan.” Terang Onew akhirnya, ia tahu bahwa gadis dihadapannya benar-benar khawatir akan dirinya. ‘Tidak seharusnya aku tertidur selama lima hari’, pikir Onew. Tapi sungguh! Itu di luar kendalinya.

***

Pagi itu salju turun cukup lebat. Dinginnya udara menusuk hingga ke tulang rusuk. Beberapa kegiatan terhenti karena salju lebat yang tak kunjung usai, tapi laki-laki itu terus melangkah. Mengeratkan coat cokelatnya sambil menundukkan kepala, sementara kepulan asap terus muncul dari lipatan bibirnya.

TING

Lonceng tua itu berbunyi saat si lelaki memasuki kantor kepolisian Scotland Yard. Sekelompok opsir yang tengah berkumpul di salah satu meja di tengah ruangan segera menoleh ke arah pintu. Salah satu di anatar mereka yang berbadan agak gemuk dan berkepala botak nyaris melompat saat mengetahui siapa yang datang. “Onew!” pekiknya, ia lantas memisahkan diri dari kumpulan opsir yang tengah mendiskusikan sesuatu di meja. “Selamat pagi, Inspektur.” Sapa Onew, ia mematikan rokoknya lalu memberi hormat pada Inspektur Skimhead. “Dari mana saja dirimu? Kami kewalahan tanpamu!” ucap Inspektur Skimhead, lelaki botak itu lalu merangkul Onew. Memaksa opsir muda itu mengikutinya ke ruangan lain.

Inspektur Skimhead melambaikan tangannya pada sekumpulan opsir yang masih sibuk mendiskusikan sesuatu di meja, sebagai tanda bahwa mereka harus tetap melanjutkan diskusi tanpa dirinya. “Kau sudah sarapan, Onew?” tanya Inspektur Skimhead. Onew belum sempat menjawab, “Matilda! Bawakan kopi dan roti panggang ke ruanganku. Onew perlu sarapan!” teriaknya pada pelayan kepolisian Scotland Yard yang biasa menyiapkan makan. Onew sempat melihat wanita paruh baya dengan pakaian lusuhnya yang berwarna biru tua. Wanita itu tersenyum pada Onew, sebelum akhirnya menghilang di pintu lain.

“Oh! Tapi Saya sudah sarapan, Inspektur.” Onew merasa tidak enak pada perlakuan Inspektur Skimhead yang mengistimewakannya. Ini aneh! Seharusnya Inspektur Skimhead memarahinya karena ia pergi ke Nobotte Wood tanpa sepengetahuannya dan tidak kembali untuk waktu yang cukup lama. Tapi kenyataannya, sambutan yang begitu hangat seperti inilah yang diterima Onew.

Kini Onew dan Inspektur Skimhead telah duduk berhadapan di ruang Inspektur Skimhead. Kedua mata Onew menangkap tumpukan map di atas meja Inspektur Skimhead. “Onew, ada beberapa hal yang ingin kudiskusikan dengamu. Sudah lama aku menunggu hari ini.” ujar Inspektur Skimhead. “Tentang Elspeth Windsor ?” tebak Onew. Inspektur Skimhead terkekeh, “Jangan terburu-buru, Onew. Itu akan kita simpan untuk waktu makan siang,”

TOK TOK TOK

Terdengar ketukan pintu yang menginterupsi keduanya, lalu disusul dengan kedatangan Matilda yang membawa baki berisi secangkir kopi dan piring kecil berisi beberapa helai roti panggang. Inspektur Skimhead segera merapikan tumpukan map di atas mejanya asal, lalu menaruhnya ke lantai. “Letakkan di sini saja.” ucapnya dan dituruti oleh Matilda. Tak lama, wanita paruh baya itu segera menghilang.

“Aku ingin membicarakan tentang Lee Taemin, juga kematiannya yang begitu janggal.” Lanjut Inspektur Skimhead. Seketika rahang Onew mengeras, darahnya berdesir cepat. Entah mengapa, ada ketakutan tersendiri saat mengingat bahwa Taemin mati di hadapannya enam hari yang lalu. Dan itu membuat Onew teringat pada laki-laki yang diduga adalah pelaku penculikan Elspeth.

Inspektur Skimhead menangkap gurat ketakutan yang muncul tiba-tiba di wajah Onew. “Minumlah kopimu,” perintahnya, berusaha membuat Onew lebih rileks. Tanpa pikir lagi, Onew segera menyambar cangkir kopi dan menyesapnya buru-buru. Ia tidak menyadari bahwa tangannya bergetar. Inspektur Skimhead memandang Onew beberapa detik sebelum akhirnya meraih sebuah map dari tumpukan map yang tadi ia taruh di lantai.

“Lee Taemin, 19 tahun. Keturunan Asia yang tinggal di Nobotte Wood, Althorp. Ia tinggal di Winch house milik Kim Youngwoon, bekerja sebagai pengantar sayur dan buah-buahan untuk Kim Youngwoon,” Inspektur Skimhead membaca beberapa baris tulisan dalam map. Onew bergeming dan tetap menyesap kopinya. “Ia ditemukan tewas enam hari yang lalu pada sore hari menjelang malam. Ia tewas dengan sepuluh tikaman di tubuhnya, dan penyebab utama kematiannya adalah tikaman yang tepat mengenai jantungnya. Alat pembunuhan berupa pisau kecil yang diduga selalu disimpan Taemin di balik pakaiannya,” lanjut Inspektur Skimhead.

Onew masih diam, kini ia melahap roti panggang. “Aku bertemu Choi Minho, seorang detektif swasta dari Althorp. Hari di mana Taemin ditemukan tewas adalah hari yang sama dengan hari di mana kau datang ke Winch house, kan?” tanya Inspektur Skimhead dan membuat Onew mau tidak mau menghentikan kegiatannya mengunyah roti. Susah payah roti itu ia telan, lalu menyesap lagi kopinya. Ia memandang Inspektur Skimhead yang kini menuntut penjelasan darinya.

“Benar, itu hari yang sama dengan kunjunganku ke Althorp. Dan lelaki itu yang membunuh Taemin di hadapanku,” terang Onew sendu, ia mengingat lagi cipratan darah yang muncul setelah terdengar erangan dari Taemin. Dan itu membuat bulu kuduknya meramang. “Lelaki itu? Maksudmu penculik Elspeth?” interogasi Inspektur Skimhead. Onew mengangguk. Perlahan ia menceritakan apa yang terjadi di hari kunjungannya ke Winch house, hingga terjadilah pembunuhan Taemin di depan matanya.

Inspektur Skimhead mengerutkan dahinya, mengelus dagu dengan ibu jari dan jari telunjuknya. “Kau melihatnya? Benar-benar melihatnya?” tanya Inspektur Skimhead, seolah tidak percaya bahwa Onew telah melihat lelaki dengan topi dan coat gelap itu. “Tentu! aku melihatnya. Dia menyeret Elspeth dan mengikat gadis itu di pohon.” Terang Onew berapi-api. Meski kejadian itu tidak jelas dan berlangsung begitu cepat, tapi Onew masih mengingatnya dengan baik,

“Inilah yang membuatku harus membahas ini denganmu, Onew,” Inspektur Skimhead menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Onew menatap Inspektur Skimhead penuh tanya, ia yakin ada sesuatu yang tidak ia ketahui dalam kasus ini. “Tidak ada saksi yang mengatakan bahwa mereka pernah melihat lelaki dengan topi dan coat gelap di sekitar Winch house sore itu. Tidak ada seorangpun!” terang Inspektur Skimhead, membuat Onew terperanjat.

“Aku benar-benar melihatnya!” pekik Onew. Ia merasa tersudutkan saat Inspektur Skimhead mengatakan tak ada seorang pun saksi yang melihat si penculik di sekitar Winch house. Selama ia menjadi opsir Scotland Yard, baru kali ini keterangannya diragukan. Terlebih lagi yang meragukannya adalah Inspektur Skimhead. “Tidak ada tanda-tanda seseorang mengejarmu ke Winch house. Dan pada alat kejahatan, hanya ditemukan sidik jarimu dan Taemin.” Inspektur Skimhead melanjutkan. Ia kembali menghela nafas, terlihat jelas bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.

Onew terbelalak. Mencerna ulang apa yang baru saja ditangkap gendang telinganya. Sidik jarinya? Tidak mungkin! Ia bahkan tidak pernah menyentuh pisau itu. Yeah! Sama sekali tidak. Oh! atau kah ia melupakan beberapa hal sebelum kepalanya terantuk dinding batu dan semuanya menjadi gelap? pikir Onew.

“Yang jadi pertanyaanku adalah, apa kau terlibat pergulatan dengan lelaki itu? Tim penyelidik menduga bahwa kalian bertiga terlibat pergulatan kecil sebelum akhirnya kau jatuh pingsan dan Taemin tewas,” Inspektur Skimhead berusaha menenangkan Onew, juga menenangkan dirinya sendiri. Ia lalu melanjutkan, “Tapi yang membuat kami bingung adalah tidak ditemukannya sidik jari ketiga. Onew, apa kau benar-benar melihat lelaki itu?” tanya Inspektur Skimhead lagi, kali ini ia menegakkan tubuhnya. Menatap Onew tajam seraya melipat kedua tangan di depan dadanya.

“Kau meragukanku, Inspektur? Aku memang tidak ingat jika aku terlibat dalam pergulatan dengannya dan Taemin. Yang kuingat lelaki itu mengejarku lalu menyerang Taemin yang saat itu hendak menolongku. Yeah! Itu wajar jika kalian tidak menemukan sidik jari ketiga. Bisa saja lelaki itu mengenakan sarung tangan,” terang Onew datar, berusaha menyembunyikan ketakutan yang tiba-tiba menyergapnya.  Meski pada kenyataannya bayangan di mana lelaki itu mengacungkan pisau kembali berputar dalam kepala Onew. Dan lelaki itu sama sekali tidak memakai sarung tangan.

Inspektur Skimhead mengerutkan dahinya beberapa detik, lalu mendesah ringan. “Kita akan melakukan lagi penyelidikan ke Nobotte Wood. Kau harus ikut denganku. Kau tahu? Kasus hilangnya Elspeth Windsor  seperti sebuah kasus yang sengaja di design untuk mempermainkan kepolisian Scotland Yard.” terang Inspektur Skimhead berang. Ia mengingat lagi selintingan-selintingan yang beredar di masyarakat tentang cara kerja kepolisian Scotland Yard yang dianggap lamban dan tidak bisa menangani masalah kecil.

“Siap, Inspektur!” Onew menegakkan tubuhnya. Perasaan takut yang tadi menyergapnya tiba-tiba menguap. Berganti dengan semangat yang seolah mengguyur tubuhnya. “Oh! Choi Minho akan bergabung dengan kita. Kurasa darah Asia akan sangat membantu dalam kasus ini.” ucap Inspektur Skimhead sebelum ia beranjak dan meninggalkan Onew.

Onew tertegun, mengingat lagi informasi-informasi yang diberikan Inspektur Skimhead tentang kematian Taemin dan penculikan Elspeth. Juga kabar mengejutkan bahwa detektif swasta dari Althorp itu akan bergabung dalam penyelidikan. Wait! Apa saja yang sudah diketahui Minho dan tidak diketahuinya? Pikir Onew. Ia segera beranjak menyusul Inspektur Skimhead. Ia yakin, ada sesuatu yang tidak diceritakan Minho padanya tentang hari di mana Taemin tewas. Seketika kalimat Jonghyun yang menyatakan bahwa Minho gagal masuk kepolisian Scotland Yard kembali terngiang di kepala Onew. Ini hal yang kurang baik, pikir Onew.

To be continued…

10 thoughts on “Unconsciuos Case – Part 2

  1. haaaaa????? kok bisa onew tidur 5 hari g bangun2?? gila.. pantes aja bangun” dia langsung kelaperan, ckkkccckkkkk….
    trus siapa donk yg bunuh taemin?? dan dimana key?
    aku jadi curiga lo onew itu punya kepribadian ganda, tapi kayaknya g sich, soalnya tubuhnya ada kok, truz ini gmana donk?
    aahhhh….bikin penasaran!!!
    sumpah ni kayak nonton conan ma sherlock, bikin deg-deg an and bertanya2..

  2. Duuh pkran Q psinq, “prtma aQ crqa sma key n taemin, bsa jd manq dia plku na pnclikan itu, yq k-dua aQ crqa sma mihno stlah taemin twaz, al na tdi minho mnqtkan klw taemin twaz dqn pisau yq sllu d-bwana dan yq thu tntnq pisau it minho kan. . ? Tp knpa minho skrnq ikut brqbunq dnqn kplsian. . ?
    Jdi apa yq trjadi sbnar na. . ?
    Truz apakah jonghun bnar2 mbuk mlam it.? Atw tu smua hnya rkysa ja bsa jdi jonghun plkuna”.

    “Ooh bkan skranq aQ mncurgai smua ornq sbqai plku na”

  3. Iihh komen ku knp g masukk ㅠ.ㅠ

    Aku bingung..
    Sebenarnya Onew kenapa? Jangan blg dia kyak Key di dazzling auntumn..O.O Andwae!!!
    Tapi tapiii yg ngebunuh taemin siapaa? jinja Onew?bgmna dg Minho & Jonghyun, mrk bisa aja jd trsangka kn?! ahh Key jugaa..aduhh bingung!!
    Ahh mending lanjut ke part selanjutnya…

    • lagi error mungkin wp-nya. tapi ini udh masuk kan? .kekek.

      .hhe. engga ih, kasian Onew masa dibikin gila juga?
      Semuanya bisa jadi tersangka di sini.kekek.
      oKEY, silakan ke part selanjutnyaa😉

  4. Ini udah di posting di sf3si jg kan eon? Aku udah baca part satunya disana soalnya.

    Penasaran deh ini sbnrnya yg pembunuh siapa coba? Huhuuuu baby taemin knp matiiii eonniiii? Hikseuuu😥

  5. Andwae Taemin-ah!! #plak
    Aku curiga sama Onew deh. Entah kenapa mengingatkanku dengan cerita Billy si 24 wajah yang punya kepribadian banyak. O.O
    Mianhae kalau beda. ^^v

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s