Unconscious Case – Part 3

Title                 : Unconscious Case

Author             : Song Euncha & Bella Jo

Main Cast        : Lee [Onew] Jinki | Choi Minho | Bluebell Constantia (OC)

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre              : Thriller, mystery, adventure, psycho, romance, friendship

Type/Length    : Sequel /  3 of 5

Rating              : PG 15

Summary      : Melihat mereka terus bersama membuatku iri tak karuan. Melihat mereka saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta membuatku amat cemburu. Kadang aku ingin sekali menculik Elspeth dari Key sehingga aku bisa memiliki gadis itu sepenuhnya. Kadang aku juga ingin sekali menghabisi siapa pun pria yang dekat dengannya, terutama orang-orang yang menyakitinya. Aku ingin sekali… ya, ingin sekali

TOK TOK TOK

Ketukan itu terdengar tiga kali sebelum seorang lelaki tua muncul dari balik pintu. Ia hanya membuka pintu sebesar tubuhnya, lalu melongokkan kepalanya. Matanya memandang sinis ke arah Inspektur Skimhead yang ada di hadapannya. Ia berdecak sebelum matanya mengabsen lelaki bermata sipit yang tidak asing baginya. “Onew?” tanyanya yang sebenarnya lebih ia tujukan pada diri sendiri. “Selamat siang, Kim ahjeossi,” sapa Onew seraya membungkukkan tubuhnya. Kim ahjeossi tersenyum sekilas, tapi senyumnya segera menguap begitu mengingat kedatangan Onew kali ini bersama dengan keturunan kulit putih yang picik dan angkuh.

“Datang untuk penyelidikan? Mencari Key? Pulanglah! Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa di sini. Lagipula, kami masih berduka dengan kepergian Taemin,” ucapnya ketus, lantas ia menutup pintu. Pintu belum tertutup sempurna saat tangan sigap Onew berhasil menahannya. Kim ahjeossi menatapnya, “Taemin! Kami datang untuk melakukan penyelidikan atas kematian Taemin, Ahjeossi,” Terang Onew cepat, membuat Kim ahjeossi menatap Onew dan Inspektur Skimhead bergantian. “Masuklah! Tapi tidak dengan lelaki berkulit putih itu!” tandas Kim ahjeossi.

“Terima kasih, Ahjeossi.” Ucap Onew, lantas ia menatap Inspektur Skimhead. “Inspektur, serahkan ini padaku. Tunggulah di tempat lain di Nobotte Wood, ada restoran kecil 3 kilo dari sini.” pinta Onew. “Baiklah, kuserahkan padamu. Tapi ingat! Jangan tertidur dalam penyelidikan, aku tidak mau menunggu berhari-hari hanya untuk orang yang sedang tidur!” Inspektur Skimhead memperingatkan. Onew hanya tersenyum, menanggapi ucapan Inspektur Skimhead sebagai kelakar kecil menjelang sore. Tak lama, Onew segera menghilang di balik pintu Winch house.

Kim ahjeossi membawanya ke ruang tengah,  di mana Minho dan Jonghyun tengah duduk-duduk dekat perapian sembari berbincang. “Tanyakanlah apa yang ingin kalian tanyakan pada mereka. Aku tidak mau membahas apapun tentang kematian Taemin. Oh! Sungguh anak muda yang malang,” ratap Kim ahjeossi sebelum ia meninggalkan ketiganya. “Selamat siang,” sapa Onew dan disambut oleh senyuman dari Minho dan Jonghyun.

“Kau sudah sehat, Hyeong?” tanya Minho. Onew hanya mengangguk. “Maaf mengganggu waktu kalian, tapi aku harus melakukan tugasku,” terang Onew, lantas ia duduk di sofa merah –tempat di mana ia terbangun setelah kematian Taemin. “Wah! Kedengarannya menarik!” ungkap Jonghyun dengan intonasi riang yang dibuat-buat. Onew berdeham pelan mendengarnya, menyadari tingkah Jonghyun yang seolah meremehkan dirinya.

“Apa yang sebenarnya terjadi setelah aku tak sadarkan diri? Apa ada hal aneh lainnya?” Onew membuka pembicaraan dengan notebook dan pena di tangannya. Ia memandang kedua lawan bicaranya dengan serius, persis seperti mengintrogasi seorang tahanan. Minho dan Jonghyun sempat bertukar pandang sebelum Jonghyun berkata, “Tidak. Tidak ada hal yang aneh. Kami hanya melaporkan kematian Taemin pada kepolisian setelah memastikan adik kecil kami itu memang sudah tidak bernyawa. Kim ahjeossi sempat mengurung diri selama tiga hari di dalam kamarnya. Hal itu cukup menyulitkan bagi Minho, terutama saat membujuk paman tua itu makan. Inspektur dari kepolisian itu sempat terkejut saat tau kau terlibat dalam hal ini. Sayangnya, Kim ahjeossi tidak mau membiarkannya masuk begitu saja walau Inspektur botak itu hanya ingin melihat keadaanmu. Lama-lama paman tua itu cukup merepotkan.” jelasnya diakhiri gerutuan. Matanya beranjak memandang ke luar jendela, tempat Kim ahjeossi menghabiskan waktu setiap hari.

Hyeong.” tegur Minho dengan suara rendah. Jonghyun menatapnya skeptis. “Apa? Aku benar, bukan? Kita semua jadi orang-orang yang paling dicurigai karena paman keras hati itu. Jika saja ia membiarkan polisi-polisi itu masuk, mereka dapat memastikan bahwa memang tidak ada hal yang mencurigakan di sini, bukannya berbalik menyerah dan menyebar rasa tidak percaya pada kita!” tandasnya tajam. Bayangan akan pandangan orang-orang atas dirinya serta kabar burung yang mengatakan bahwa ialah tersangka kasus pembunuhan itu membuatnya kesal. Bagaimanapun semua tuduhan itu merusak nama baiknya sebagai Earl Ferrers.

“Baiklah, aku paham akan hal itu,” potong Onew sebelum Minho sempat membalas ucapan Jonghyun. Tak ada hal penting yang dapat dicatatnya, setidaknya semua hal tadi pasti sudah diketahui Inspektur Skimhead. Kim Jonghyun bangkit dari duduknya, lalu melangkah ke dekat jendela. Tangannya terlipat di depan dada, sementara wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keramahan lagi. Sepertinya ada hal yang ia pendam dalam pikiran. Namun Onew tak bisa menebak apa itu. Jonghyun berbalik menatap Onew dengan tatap tajamnya, “Justru aku merasa ada hal yang aneh denganmu, Hyeong.” ucapnya dengan menekankan panggilan barunya pada Onew. “Bagaimana kau bisa yakin kalau itu penculik Elspeth Windsor? Bukti yang kau sebutkan tak cukup. Dan lagi, penggambaranmu akan sosok pelakunya juga aneh. Seharusnya kau tidak dapat melihat jelas di saat malam seperti itu, bukan? Kau mencurigakan!” tuduhnya langsung tanpa pikir panjang. Onew tertegun mendengar kalimat Jonghyun, ia merasa disudutkan dan hal itu sama sekali membuatnya tak senang. Ia hendak bangkit berdiri dengan penuh emosi.

“Kau tidak seharusnya berkata begitu hanya karena sosok yang disebut Onew hyeong mirip dengan Key!” Ternyata kali ini Onew kalah cepat dari Minho. Laki-laki berbadan tegap itu masih duduk dengan tenang di tempatnya walau pandangan kedua orang yang sering bertandang ke Winch house itu sudah saling tebas dengan pandangan tajam. “Aku tahu Key adalah orang terdekat bagimu saat ini. Tapi tetap saja kau tidak bisa melepaskannya dari jerat hukum jika ia memang bersalah.” tambahnya.

“Ia. Tidak. Bersalah.” Jonghyun menekan setiap kata yang diucapkannya. Badannya dicondongkan dengan penuh amarah, “Dan selama hal itu memang masih belum terbukti, tak ada yang boleh menyalahkannya begitu saja. Bahkan dalam kasus kematian Taemin sekalipun!”

“Jangan kabur dari kenyataan hanya karena kau membenci Taemin!” kali ini Minho bangkit dari tempat duduknya dengan penuh amarah. “Key satu-satunya tersangka yang paling dicurigai! Dan kau tahu bahwa perasaan yang ia pendam untuk Elspeth bahkan merupakan satu kesalahan besar!” rentetan kalimat itu keluar dari mulutnya dengan berbagai penekanan. Jonghyun semakin naik darah mendengarnya.

“Jangan menuduh sembarangan hanya karena kau membenci Key!” balas Jonghyun. Tangannya sudah terkepal keras. Bisa saja kepalan itu melayang tanpa kendali emosi. “Hanya karena Key terus menjadi saingan hidupmu selama ini, jangan pernah berpikir kau bisa menjatuhkannya dengan kasus ini. Dan aku tidak pernah membenci Taemin. Kami memang sering bertengkar, namun aku tak pernah membencinya. Ia seorang adik yang berharga bagiku, sama berharganya dengan Key dan dirimu. Aku tak punya alasan untuk membunuhnya!” kilah Jonghyun. Urat-urat lehernya tampak jelas, menunjukkan amarah yang sebentar lagi akan meledak dalam bentuk tindakan. Nafasnya sudah terengah, seakan menahan hal besar yang hendak meledak dalam dirinya. “Dan aku pikir kau juga mencurigakan, Choi Minho!!”

“Kau!!”

“Cukup kalian berdua!”

Jonghyun dan Minho menoleh ke arah Onew yang tiba-tiba saja memotong perseteruan mereka. Sepasang mata cokelat kelam itu menatap keduanya intens, seperti tatapan guru yang menangkap basah perkelahian muridnya. Entah bagaimana pandangan itu membuat Jonghyun maupun Minho ciut dan menyadari betapa bodohnya pertengkaran mereka tadi. Perlahan mereka menenangkan diri dan kembali duduk, walau masih dalam posisi berjauhan. Onew menghembuskan nafas kesal melihat tingkah kekanakan keduanya. Ia menahan kepalanya yang sempat diserang nyeri hebat hanya karena mendengar perang kata kedua lawan bicaranya itu. Ia ikut duduk kembali di sofa lalu mencatatkan beberapa hal yang baru diketahuinya dari pertengkaran tadi. Sepertinya orang-orang Winch House ini memiliki hubungan yang rumit.

“Pokoknya, Key tidak mungkin bersalah. Ia sama sekali tidak bersalah, aku yakin itu!” tandas Jonghyun lagi. Minho menyipitkan mata melihat tingkah aneh Earl Ferrers, seakan ada yang memang disembunyikannya. Onew juga merasakan hal serupa. Ia semakin curiga dengan tingkah Jonghyun. Klise akan penjelasan Jonghyun mengenai hari di mana Elspeth menghilang kembali melintas dalam pikirannya. Yah, Jonghyun salah satu orang yang paling mencurigakan selain Key. Ditambah dengan kenyataan bahwa Key adalah orang yang amat penting bagi Jonghyun. Bau misteri semakin menyengat kasus itu. Onew jadi begitu mencurigai Jonghyun.

“Di mana kau saat kematian Taemin?” tanya Onew memecah keheningan yang sempat tercipta. Jonghyun dan Minho -yang sedari tadi diam dengan pandang tertunduk- menoleh ke arahnya. “Earl Ferrers?” sambung Onew. Sekilas gurat ketakutan tampil di wajah laki-laki bertubuh pendek namun tegap itu. Ia membuka topinya lalu memainkan benda hitam panjang itu dengan tangannya sesaat. “Aku berada di kediamanku, Middlewich House,” sahutnya beberapa saat kemudian. Agaknya ia berubah gelisah.

“Apa ada yang orang yang dapat membuktikan hal itu?” tanya Onew lagi. Sisi polisinya kembali mendominasi ruangan yang temaram hanya dengan cahaya perapian itu. Sesaat Jonghyun menelan ludah, “Yeah, tentu! Para pelayanku dapat menjadi saksi alibiku. Kau dapat menanyai mereka jika kau tak percaya.”

“Benarkah?” tanya Onew sekali lagi. Jonghyun mengiyakan lalu menyesap tehnya, menelan cairan itu bersama kata-kata yang mungkin saja dapat meluncur dari bibirnya. Kecurigaan Onew semakin kuat. Ia tahu pelayan Jonghyun tak dapat dipercaya begitu saja. Pelayan yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Ferrers pasti akan selalu berpihak pada Tuannya, bahkan walau harus berbohong sekalipun. Opsir muda itu mengalihkan pandangannya pada Minho yang tengah menatap Jonghyun. Tak perlu baginya menanyakan alibi lelaki itu, sudah jelas ia ada di Winch House beberapa saat sebelum Onew melangkah keluar dari sana. Ia menghela nafas panjang.

“Minho, aku ingin bicara denganmu sebentar. Itu pun jika kau tak keberatan.”

***

Jalanan Kota London sudah memperlihatkan betapa sibuknya orang-orang menyambut Natal yang akan datang dua hari lagi. Semarak hiasan dan bunga-bunga mengisi ruas-ruas jalan. Tampak suka cita tergambar jelas di wajah penduduk London, bahkan di wajah pengemis yang masih sibuk menahan dingin di sudut gang. Para wanita sibuk berbelanja keperluan Natal bersama anak-anak mereka, para pria bolak-balik mengangkat kotak-kotak berisi rangkaian hiasan Natal, sementara anak-anak berlarian menikmati riuhnya persiapan Natal tahun itu. Semua bersorak, semua bergembira. Termasuk gadis berambut merah yang tengah berjalan di seberang barisan toko makanan. Ia memperhatikan suasana kota yang hanya dapat dinikmatinya setahun sekali itu dengan senyum tergambar di wajah ovalnya. Namun tak ada yang tahu bahwa ia menyimpan kecemasan mendalam di relung hatinya.

Apa kami bisa menikmati Natal bersama tahun ini? Bisa saja ia tertidur sepanjang hari lagi. Semua semakin mengkhawatirkan, batinnya. Matanya sibuk memandang barisan roti hangat yang terpajang di depan toko kue. Memorinya kembali pada saat-saat di mana ia baru mengenal Onew tiga tahun lalu. Hingga saat ini, tak ada seorang pun lelaki yang mampu menggantikan rasa nyaman yang ia rasakan terhadap lelaki itu. Ia menghembuskan nafas pelan saat matanya menangkap pemandangan sepasang kekasih saling menggenggam tangan di depan toko bunga. Si lelaki memberikan beberapa kuntum mawar merah pada si wanita. Indah sekali. Sebersit rasa iri muncul di hati gadis itu. Tunggu, kenapa ia harus merasa iri?

“Bluebell Constantia, sadarkan dirimu!! Kau harus sadar akan posisimu! Kau dan dia hanya teman serumah. Hanya. Teman.” gadis itu menepuk-nepuk pipinya yang memang sudah memerah karena dingin. Ia memejamkan mata sesaat dan menarik nafas dalam-dalam. Lalu bersiap untuk kembali menghadapi kehidupan.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“GYAAA!!!”

Bluebell terlonjak ke belakang begitu ia membuka mata. Sosok Onew Lee tiba-tiba saja sudah berada tepat di depannya, bahkan dengan jarak wajah yang amat dekat. Bluebell berusaha mengontrol detak jantungnya yang tak karuan. Ia memandang Onew sebal, walau hatinya senang sekali mendapati lelaki itu ada di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan?! Kau hampir membuat jantungku keluar dari rongganya!” omel Bells, bibirnya ia tarik maju. Onew terkekeh melihat reaksi gadis mungil itu. Tangannya spontan mengacak rambut merah kusam gadis putih itu. Senyum khasnya tertarik jelas membentuk garis indah di bibirnya, “Maaf mengagetkanmu. Aku sedang melaksanakan pekerjaanku sebagai opsir Scotland Yard, Bells. Lihat lelaki  yang tengah membeli buah di sana? Dia adalah sumber informasi penting saat ini,” ujarnya santai sambil menunjuk seorang lelaki pendek bertubuh tegap yang tengah tersenyum manis setelah bertransaksi dengan penjual buah. Perlahan sorot mata Onew berubah, suaranya rendah saat berkata, “Sekaligus tersangka bagiku.”

“Eh?”

Onew kembali tersenyum, matanya yang sipit seakan tertutup saat melakukannya “Ah, pokoknya dia orang yang amat penting bagiku sekarang.” bohongnya. Kali ini Bluebell yang menyipitkan mata hijaunya, “Kenapa kau bekerja lagi? Bukankah inspektur Skimhead menyuruhmu berlibur?! Sudah, lupakan saja kasus menggelikan itu! Biarkan saja polisi lain yang menanganinya!” ucapnya sebal.

“Tidak bisa, Bells. Ini pekerjaanku. Lagi pula-”

“Ah, apa aku melewatkan sesuatu?” Omongan Onew terpotong saat lelaki yang ia dan Bells bicarakan tadi sudah berdiri di sampingnya. Lelaki itu menatap Bells dengan tatap ramah, senyum lebarnya manis sekali. Entah kenapa Onew tidak suka dengan pemandangan di depannya, terutama saat Bluebell balas tersenyum. Kedua orang itu menatap Onew, membuat lelaki itu menyadari posisinya. “Oh, ya. Bells, ini temanku, Earl Ferrers. Dan Earl, ini teman serumahku, Bluebell Constantia.”

Kedua manusia beda gender itu saling berjabat tangan. Tanpa diduga Earl Ferrers menarik lengan Bells lebih jauh dan mengecup punggung tangannya yang berbalut sarung tangan cokelat. “Senang berkenalan dengan Lady secantik Anda.” ucapnya pelan namun jelas. Semburat merah muda muncul di pipi Bluebell, cepat-cepat ia tarik tangannya.”Senang berkenalan dengan Anda juga, Sir.”

“Kau bisa memanggilku Kim Jonghyun. Itu nama kecilku.” ujar Jonghyun cepat. Bluebell hanya bisa tersenyum canggung dibuatnya.

“EHEM!!” suara Onew mengembalikan mereka pada dunia nyata. Semburat di pipi Bluebell semakin jelas saat lelaki yang tinggal serumah dengannya itu tiba-tiba saja menariknya ke balik punggung. “Sudah saatnya kita pergi, Earl. Masih ada banyak hal yang harus kita selesaikan.” ujarnya berwibawa. Jonghyun menahan senyum geli, “Oh, tentu. Aku akan kembali lebih dulu ke kereta kuda. Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan dengan Miss Constantia.” Wajah Onew memerah saat pandangan Jonghyun menyiratkan hal lain padanya.

“Mmmm… Jadi, ada hal yang ingin kau bicarakan denganku?”

Suara Bluebell membuat Onew berbalik. Tiba-tiba keduanya berubah canggung saat saling berhadapan. Ya, sepertinya mereka berdua melihat pandangan Jonghyun sebelum beranjak pergi tadi. Bells memainkan lipatan gaunnya dengan gelisah, berharap Onew takkan mengatakan hal yang dapat membuatnya kecewa ataupun sedih. Sementara itu Onew salah tingkah di tempatnya. Berhari-hari tidur tanpa melihat Bluebell membuatnya rindu, bahkan setelah mereka saling bicara semalaman kemarin. Ia menilik penampilan gadis itu hari ini. Gaun merah yang Bells pakai amat sesuai dengan suasana Natal yang tengah membalut kota, membuatnya semakin cantik dengan semburat merah menghiasi pipinya. Onew menelan ludah saat mata gadis itu balas menatap tepat di matanya. “Onew?” bisik gadis itu.

Onew belum juga berkata-kata saat tangannya menjulurkan sebuket mawar ke arah Bluebell. Gadis itu terbelalak dengan rona riang. Ia langsung menerima rangakaian mawar indah itu dan memeluknya. Onew tersenyum damai melihatnya.

“Kau…tapi…bagaimana bisa,” Bluebell masih belum bisa mengendalikan keriangannya, “Bagaimana bisa buket mawar ini muncul begitu saja?”

“Sepertinya Earl Ferrers terlalu mempesonamu sampai kau tak menyadari bahwa aku menyembunyikan buket mawar itu di balik punggungku sejak tadi,” jawab Onew sedikit kecewa. Rasa tidak senang kembali menghinggapi hatinya. Bells sadar akan hal itu dan merasa bersalah. Onew berusaha tersenyum. “Itu tidak penting. Tadinya aku ingin membawakannya ke rumah. Tak disangka malah kita bertemu di sini. Itu saja. Aku harus pergi sekarang.” Onew beranjak dari tempatnya sambil melambai sekilas pada Bluebell. Ia terperangah dengan sikap aneh Onew.

“Onew, tunggu!”

“Mmm?” Onew enggan berbalik. Ada rasa yang menghantui hatinya. Ingin sekali ia meledak tanpa tau sebabnya, tapi ia sadar bahwa ia tak bisa melontarkan kemarahan yang tak jelas sebabnya begitu saja. Terutama pada Bluebell. Ia bergeming dari posisinya, menanti lanjutan kata gadis itu. Bluebell menggigit bibir dengan alis bertaut. Onew agak aneh hari ini, dan itu cukup mengganggunya, pikir Bluebell.

“Apa kau akan pulang malam ini?” tanya gadis itu pelan, suaranya setengah berbisik. Terdengar jelas ia menyimpan harapan yang amat kuat dari pertanyaantersebut.

“Maaf, Bells. Sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini.” jawab Onew datar.

“Kalau begitu, bagaimana dengan besok? Besok malam Natal, bukan? Setidaknya kau bisa pulang besok… Jadi, jadi kita bisa memasang hiasan Natal bersama seperti tahun-tahun sebelumnya… Kita…”

Bluebell tak bisa melanjutkan kata-katanya saat Onew tiba-tiba saja berbalik dan memeluknya erat. Setitik air mata meleleh keluar dari kelopak matanya. Dadanya terasa begitu sesak saat kehangatan tubuh lelaki itu menyelimutinya. Perasaannya tak tentu saat itu, membuat pikirannya tak mampu bekerja normal. Ia terlalu dihantui rasa cemas dan takut. Dibalik itu, ia amat merindukan Onew berada di sisinya seperti biasa, merindukan senyum dan tawa hangat yang ditujukan hanya padanya, merindukan setiap waktu yang biasa mereka habiskan bersama dalam suka dan duka. Ia begitu merindukan segala hal yang ada pada diri Onew.

“Ssst… jangan menangis, Bells,” suara rendah itu berusaha menghiburnya. Bahkan Bluebell sendiri tak sadar bahwa ia telah menangis deras dalam dekapan Onew. Ia ingin menumpahkan semua perasaannya, tapi lidahnya tak sanggup merangkai kata. Ia hanya bisa diam sesenggukan seraya menenggelamkan kepalanya di dada lelaki itu. Onew mengelus punggungnya, menjalarkan kehangatan lewat sentuhan yang ia berikan. Tangis Bells malah semakin deras.

“Sssst… Listen, Bells. Aku benar-benar minta maaf tak bisa pulang malam ini. Tapi aku berjanji akan menyelesaikan semua hal ini secepatnya dan kembali besok. Mmm?” bisiknya di telinga Bluebell. Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap lurus ke arah Onew. Matanya tampak meragukan ucapan yang baru saja ia dengar. Onew tersenyum sendu sambil menghapus bekas laju air di pipi kemerahan gadis itu. “Kita akan menghabiskan malam Natal bersama. Kau harus menungguku karena ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu besok. Jadi percayalah, aku akan pulang.” bisiknya lagi.

“Kenapa tidak kau katakan sekarang saja?”

Onew menggeleng pelan, “Tidak bisa. Aku menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan waktu yang tepat dan saat ini bukanlah waktunya. Kau harus bersabar, Bells. Percayalah padaku.” Ia melepas dekapannya dari gadis mungil itu. Bluebell menangkap gurat lelah tampil jelas di wajah Onew. Walau debaran-debaran telah mengisi dadanya, rasa cemas kembali mendominasi hatinya. Ia hanya bisa diam memandangi punggung Onew yang menjauh dan akhirnya hilang di balik keramaian jalan.

“Lalu apa yang harus kulakukan jika kau tidak juga kembali?” bisik Bluebell dengan bibirnya yang telah berubah pucat diterpa angin dingin. Butiran salju kembali turun. Beberapa orang bersorak-sorai gembira. Tapi tidak dengan gadis bergaun merah itu. Hatinya pun seakan diterpa angin musim dingin, dingin dan beku.

***

Kereta kuda tua yang dikendalikan seorang kusir bermantel hitam memasuki area Middlewich House. Halaman bersalju membuat tapak kuda bergerak panik melawan licinnya butiran es. Kedua penumpangnya turun dan bergegas memasuki rumah batu yang mewah nan megah itu. Beberapa pelayan tampak menyambut keduanya, si Tuan rumah langsung memerintahkan mereka menyediakan hidangan untuk tamunya.

“Sepertinya salju akan terus turun malam ini. Sebaiknya kau menginap di sini, Hyeong.” ucap si empunya rumah-Earl Ferrers. Tamunya masih terperangah dengan keindahan rumah yang lebih tepat disebut puri tersebut. Ia mengangguk lalu tersenyum sekilas, “Sebenarnya hal itu pula yang aku pikirkan sebelum tiba di sini. Terima kasih.”

“Anda sudah sampai, Tuan?”

Seorang lelaki berpakaian pelayan muncul lalu memberi hormat pada Earl Ferrers. Bangsawan muda itu tersenyum, “Ya. Kau sudah menerima pesan yang kukirimkan sebelum sampai tadi?”

“Ya, Tuan.”

“Bagus. Selebihnya hanya disesuaikan dengan keadaan saja. Kau tak mau situasi semakin runyam, bukan?”

Si pelayan mengangguk lalu mengantarkan keduanya menuju ruang baca yang letaknya jauh di dalam rumah. Onew mengernyitkan alis sambil memperhatikan pelayan itu. Postur tubuhnya tampak familiar. Sedari tadi lelaki itu terus menunduk, membuat Onew kesulitan menatap wajahnya. Yang jelas, sepertinya pelayan itu bukan orang Eropa.

“Minta Mrs. Bolton menyiapkan kamar untuk tamuku. Ia akan menginap malam ini.” ujar Jonghyun sebelum si pelayan undur diri. Tampaknya lelaki yang masih amat muda itu tertegun dan gerak tubuhnya agak panik. Jonghyun memberi tatapan menenangkan dan pelayan itu pun pergi.

“Kau juga memperkerjakan orang Asia?” tanya Onew dengan nada mencela, “Kupikir kau menghargai warga Asia.”

“Memberi pekerjaan sama artinya memberi kesejahteraan hidup, Hyeong. Lagi pula ia bukan sekedar pelayan biasa. Dia pesuruhku, orang yang bertugas melayani sekaligus menjadi penjagaku. Dia spesial.” jelas Jonghyun. Dengan santai dituangkannya teh panas ke dalam tea set yang baru saja dibawakan seorang maid. Ia menyodorkan teh itu, “Silakan duduk. Kau ingin menyelesaikan pekerjaanmu dengan cepat, bukan?”

“Ya.” jawab Onew. Ia kembali bertingkah layaknya mengintrogasi orang, “Aku ingin kau menjelaskan lebih jauh bagaimana situasi saat Elspeth Windsor hilang.”

Jonghyun menyesap tehnya lalu berkata tidak senang, “Sudah kukatakan bahwa malam itu aku mabuk. Aku tidak bisa mengingat rentetan kejadiannya. Tiba-tiba saja aku sudah terbangun di Middlewich House ini.”

“Kalau begitu, apa hubunganmu dengan Elspeth Windsor?”

Kali ini Jonghyun tampak tertegun dan menelan ludah. Ia melirik pintu dengan agak cemas. Onew memperhatikan gerak-geriknya seksama. “Apa kau punya hubungan khusus dengan Lady Elspeth, Earl?” Jonghyun belum menjawab, ia hendak kembali meraih cangkir tehnya. Namun Onew langsung menjauhkan benda itu darinya. Jonghyun kembali menelan ludah. “Kata-katamu akan ikut tertelan jika kau meminum teh ini.” tandas Onew tajam.

Tiba-tiba saja Jonghyun tertawa lemah. Ia mengangkat kedua tangannya dengan mimik kalah. “Baiklah, aku menyerah, opsir. You caught me.” Onew menaikkan alisnya, masih belum mengerti apa maksud Jonghyun. Bangsawan muda yang membawa darah Asia dari pihak ibunya itu mendekati rak buku tak jauh dari sana, lalu menyenderkan tubuhnya. Pandangannya melayang jauh, mengembalikan segala klise ke dalam kepalanya.

“Aku memang punya perasaan khusus pada Elspeth, tapi ia tak menganggapku lebih dari sahabatnya,” gumam Jonghyun lemah. Tatapannya tampak sedih. “Akulah yang mengenalkan Elspeth pada Key, membuat sahabat kecilku itu menjadi pengawal gadis yang kucintai. Tak kusangka baik Key maupun Elspeth saling tertarik satu sama lain. Sungguh, hal itu sempat membuat hatiku hancur saat Key menceritakan perasaannya. Tapi aku semakin tak berdaya saat Elspeth juga menceritakan bahwa ia pun punya perasaan pada Key. Menarik, bukan? Aku kalah dari seorang lelaki miskin yang sudah kuanggap sebagai adik dan sahabatku sendiri. Aku kalah sebelum bertanding.”

Onew mengurungkan niatnya untuk mencatat di buku kecil berwarna merah yang masih ia pegang. Ia mendengarkan secara seksama. Emosi tampak mengambil alih ekspresi lelaki yang menjadi lawan bicaranya itu. Tangan Jonghyun tampak terkepal erat, mungkin sebentar lagi ia akan meledak.

“Melihat mereka terus bersama membuatku iri tak karuan. Melihat mereka saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta membuatku amat cemburu. Kadang aku ingin sekali menculik Elspeth dari Key sehingga aku bisa memiliki gadis itu sepenuhnya. Kadang aku juga ingin sekali menghabisi siapapun pria yang dekat dengannya, terutama oran-orang yang menyakitinya. Aku ingin sekali… ya, ingin sekali,”Jonghyun berceloteh seperti anak kecil yang hilang kendali. Onew seakan melihat orang gila yang mengeluarkan semua isi hatinya dengan bebas. Lelaki itu menahan nafas, bersiap pada segala kemungkinan buruk yang ada.

TOK TOK TOK

Tiba-tiba saja ekspresi Jonghyun berubah, seakan menyadari hal yang amat gawat. Ia tampak panik, tapi segera berusaha mengendalikan dirinya dengan dehaman. Pelayan berwajah Asia tadi datang sambil membawakan beberapa hidangan kecil. Tampaknya si pelayan dan Jonghyun saling bertukar pandang, bangsawan muda itu menelan ludah dibuatnya. Si pelayan keluar dari ruangan dengan aura menyeramkan mengelilinginya. Onew menyadari pemandangan ganjil di hadapannya itu. Jonghyun berdeham lagi, “Po…pokoknya itu hanya keinginan yang tak mungkin kulakukan saja. Itu hanya sekedar keinginan yang tak tersampaikan, tak lebih.”

“Apakah keinginanmu itu bisa saja kesampaian jika memang ada yang membenci Elspeth?” tanya Onew lagi.

“Mungkin. Jika orang itu terlalu membencinya. Tak ada yang akan tahu aku membunuh orang, terutama dengan kuasaku. Hahaha.” candanya. Onew tidak ikut tertawa. Kecurigaannya terhadap Jonghyun malah menguat. Menurut Minho, Taemin cukup membenci Elspeth. Bisa saja Jonghyun yang cemburu pada Key mengambil kesempatan itu untuk membunuh Taemin dan menjatuhkan segala kesalahan pada Key yang masih menghilang. Atau malah bisa saja ia dan Key menculik Elspeth entah untuk tujuan apa lalu membunuh Taemin. Tindakannya membela Key mati-matian tadi siang juga sangat mencurigakan. Selain itu, Elspeth sama sekali belum ditemukan baik dalam keadaan hidup ataupun mati. Oh, ya. Bukankah saat itu Jonghyun pernah mengatakan…

“Earl, apa kau pernah berpikir membenci Elspeth?” tanya Onew lagi. Pertanyaannya disambut senyum getir lelaki itu. Pandangan Jonghyun menerawang, seakan sedih bercampur sesal. “Pernah. Aku pernah membenci gadis menawan itu. Bukankah aku pernah mengatakannya padamu, Hyeong?” Jonghyun menatap Onew dengan matanya yang tampak lelah. “Cinta dan benci itu sangat mirip. Yang memisahkan keduanya hanyalah sebuah garis tipis yang disebut kesadaran.”

***

Onew berjalan dengan kepala tertunduk melewati koridor panjang Middlewich House. Ia dibawa pelayan berwajah Asia tadi menuju kamarnya setelah gagal menanyai pelayan-pelayan rumah itu. Pelayan lain berada di bangunan terpisah dari bangunan utama tersebut. Anehnya, hanya Earl Ferrers dan pelayan berwajah Asia itu yang menghuni bangunan utama. Bangunan pelayan memiliki jam malam di mana pada jam tersebut mereka tak bisa diganggu lagi, kecuali jika ada perintah langsung anggota keluarga Ferrers. Sungguh tak mengenakkan jika Onew harus menganggu jam malam mereka demi beberapa pertanyaan. Lagi pula, bisa saja pelayan-pelayan itu berbohong demi keselamatan Tuannya, bukan?

“Ini kamar Anda, Tuan.”

Onew mengangguk pelan saat pelayan membukakan pintu kamarnya. Kamar yang cukup mewah, menampakkan betapa kayanya keluarga Ferrers. Onew masih mengedarkan pandangannya saat tanpa sadar ia bertanya. “Di mana kamar Earl Ferrers?”

“Kamar beliau berjarak sepuluh kamar dari sini, kamar paling ujung. Beliau tidak suka diusik orang lain makanya memilih kamar itu.” jelas si pelayan, tangannya menunjuk ruangan di ujung koridor. Wah, tampaknya pelayan satu ini benar-benar dekat dengan Jonghyun. Ia bahkan tahu alasan sang Earl memilih kamar tersebut.

“Dan kau? Di mana kau tidur?”

Pelayan itu tampak menelan ludah, kepalanya semakin tertunduk dalam, “Kamar saya berjarak dua kamar dari kamar beliau.”

“Oh, aneh juga. Tidak biasanya pelayan tidur di deretan kamar yang sama dengan kamar tuannya. Selain itu jarak kamar kalian terlalu dekat untuk ukuran orang yang tak suka keributan seperti Earl Ferrers.” ujar Onew langsung. Si pelayan agaknya panik dibuat Onew. Opsir muda itu semakin curiga dengan gerak- gerik pelayan itu.

“Tu…Tuan meminta Saya untuk berada tak begitu jauh darinya untuk jaga-jaga dari kemungkinan terburuk. Begitu, Tuan… Jika tak ada perlu lagi, Saya mohon diri.” pelayan itu cepat-cepat hendak menutup pintu.

“Tunggu!” Suara Onew membuat si pelayan membeku di tempatnya. Onew menatapnya penuh selidik “Apa kau tahu di mana Earl Ferrers enam hari yang lalu, tepatnya saat Lee Taemin mati terbunuh?”

Pelayan itu berbalik menatap Onew lurus. Wajah oval yang tampak agak tirus serta bibir kemerahan dengan lekuk sempurna miliknya dapat Onew lihat dengan jelas. Laki-laki itu menatap Onew lurus-lurus dengan mata sipitnya yang tajam, tajam seperti rubah. Sedetik kemudian Onew membeku. Ia merasa familiar dengan sinar mata yang seakan memangsa dirinya itu.

“Saat itu beliau sedang bersama dengan saya di Middlewich House.” ujar lelaki itu dengan suara bergetar di akhir kalimatnya, seakan ada hal lain yang ia sembunyikan lewat kalimatnya barusan.

***

Malam semakin larut. Gelapnya tak lagi mampu ditembus cahaya rembulan yang tampak samar dibalik arak awan. Salju terus turun bersama derasnya suara angin. Panasnya perapian tak lagi mampu menjadi penghangat utama ruangan di mana Onew bebaring dengan gelisah. Ia merasa sangat lelah, namun pikirannya seakan melarang lelaki itu untuk tidur. Begitu banyak data yang telah ia dapatkan, terutama mengenai hubungan rumit antara beberapa penghuni Winch House, juga Elspeth Windsor. Sekarang ia harus mencari bukti lain yang dapat menguatkan dugaannya. Kali ini Onew menduga kuat Jonghyun-lah tersangka kasus penculikan dan pembunuhan itu. Jonghyun benar, kuasanya sebagai Earl Ferrers dapat menghindarkannya dari tuduhan sebagai pelaku kasus tersebut. Namun bukti masih belum cukup. Apalagi mengingat tidak ditemukannya sidik jari di pisau Taemin.

Kalau ditinjau dari pisau tersebut malah Onew-lah yang dicurigai sebagai pelakunya. Tapi ia sendiri berani bersumpah demi apa pun zat suci di dunia ini bahwa ia tidak bersalah. Ia melihat lelaki yang menculik Elspeth, ia mendengar sendiri suara tikaman dan rintihan Taemin, bahkan ia masih mengingat jelas warna cipratan darah di hari naas itu. Sungguh, kepala Onew terasa amat sakit hanya dengan mengingat rentetan kejadian itu. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur, dengan harapan bisa terbangun esok paginya. Ia juga tak bisa melupakan begitu saja janjinya pada Bluebell Constantia.

Onew memeluk senjata api yang ia bawa demi jaga-jaga. Ia tak mau terjadi hal buruk di rumah besar itu, terutama hal yang menyangkut keselamatan hidupnya. Jika ada orang jahat yang berniat membunuhnya di rumah itu, ia yakin bisa melawan dengan senjata yang telah menemaninya selama tiga tahun hidupnya itu. Dengan pikiran itu pula Onew memejamkan matanya dan mulai terlelap.

***

Kim Jonghyun bergerak gelisah di dalam kamarnya yang luas. Ia tampak was-was. Opsir yang tengah menginap di kediamannya itu tampaknya amat curiga dengan segala tindakan dan keterangan yang ia buat. Ia sendiri salah karena bicara terlalu banyak. Jika dibiarkan, bisa saja rahasia yang dipendamnya akan ketahuan dan semua rencananya akan gagal. Pria itu semakin panik memikirkan kemungkinan tersebut.

KLEK

Jonghyun terlonjak dari tempatnya. Ia tidak menyangka pintu kamarnya tak terkunci di saat pikirannya tengah kalut. Jonghyun diam di tempatnya, menduga satu orang yang paling ia yakini masuk ke ruangannya tersebut. Sepasang kaki masuk dan Jonghyun langsung tertegun melihat benda yang tengah dibawa orang itu langsung mengarah padanya. Pikirannya kosong sementara kakinya mulai melangkah mundur, “Tu..tunggu dulu… Apa yang mau kau lakukan?”

Orang itu bejalan semakin dekat, membuat Jonghyun mengangkat kedua tangannya dengan panik, “He…hei… Aku percaya padamu selama ini… Kenapa kau malah mengkhianati kepercayaanku? Aku…aku bahkan membawamu ke rumah ini, memberikan apa pun yang kau inginkan… apa lagi yang kurang?”

Orang itu melangkah semakin dekat. Mulut benda yang ditujukan pada Jonghyun sudah menempel di pelipis laki-laki itu. Keringat dingin menyelimuti kening Jonghyun, sementara tubuhnya gemetar ketakutan. Mata yang tengah memandangnya seakan mata malaikat pencabut nyawa yang berkilat penuh amarah. Nafasnya tercekat, sementara ia menelan ludah dengan nafas tertahan, “Sudah kuduga kau yang melakukannya… kau yang membunuh Taemin!” serapah Jonghyun di tengah ketakutannya. Tapi laki-laki itu bergeming, seolah cacian Jonghyun adalah hembusan angin malan yang lalu begitu saja. “A…apa karena ucapanku? Apa karena tindakanku…? apa yang membuatmu berbalik seperti ini…? kumohon… jauhkan benda itu dari…”

DOR  DOR DOR

Tiga peluru yang bersarang di otaknya menghentikan ucapan Jonghyun. Earl itu langsung jatuh merosot tanpa nyawa. Langkah si penarik pelatuk mundur perlahan, matanya menatap kosong korbannya yang tak lagi sanggup berkata-kata. Dengan cepat ia tinggalkan tempat itu.

Beberapa menit kemudian pemilik sepasang kaki lainnya sampai di depan pintu kamar Jonghyun. Ia menatap tak percaya pemandangan yang ada di hadapannya. Mendengar suara lain di koridor, ia langsung berlari mengejar asal suara. Tak perlu lagi memeriksa keadaan korban. Sudah pasti lelaki itu tak lagi bernyawa.

***

Onew berlari di sepanjang koridor. Setelah terbangun karena suara tembakan dan melihat tubuh Jonghyun sudah terbujur kaku tak bernyawa, ia mengejar sebuah suara yang seakan berlari kencang menapaki lantai kayu rumah itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu utama terbuka kasar. Orang yang tengah dikejarnya sudah menapaki tumpukan salju di luar. Onew mempercepat larinya. Tiba-tiba saja ia tersandung lantai kayu yang mencuat dan terjatuh menghantam lantai dengan keras. Kepalanya kembali berdarah, namun ia tak menghiraukan luka tersebut dan kembali berlari. Akhirnya ia sampai di ujung pintu dan mendapati seorang lelaki berdiri tak jauh dari tempat itu. Awan kembali berarak, membiarkan cahaya bulan menampakkan sepasang mata tajam mengerikan yang tengah memandang ke arah Onew. Pandangan mata yang Onew kenal, coat dan topi gelap yang Onew kenal, postur tubuh yang juga Onew kenal.

LAKI-LAKI ITU LAGI!!

Lagi-lagi lelaki yang Onew lihat di malam enam hari lalu itu, si penculik sekaligus pembunuh Taemin. Onew menahan nafas. Ia kembali berhadapan dengan kedua mata itu. Orang itu berbalik hendak pergi, membuat Onew spontan mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan tembakan ke arah lelaki itu berkali-kali. Tak ada satupun yang mengenainya, malah laki-laki itu berlari semakin jauh. Onew mengumpat keras. Kepalanya sakit sekali dan darah yang keluar semakin deras. Ia jatuh berlutut menahan kepalanya saat pandangan matanya sudah berkunang-kunang dan tak dapat melihat dengan jelas lagi.

“BERHENTI KAU, SIALAN!!!” teriak Onew histeris. Ia berusaha menguatkan diri sementara sebelah tangannya terus menembak. Namun sosok lelaki itu semakin jauh dan akhirnya menghilang di balik hujan salju. Onew mengumpat berkali-kali. Suaranya semakin lemah dan akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.

***

Lilin-lilin Natal telah terpasang indah di sudut-sudut rumah. Berbagai kue dan hidangan sedap tersaji manis di atas meja bertaplak kain merah kotak-kotak. Christmas Carrol terdegar indah dari luar rumah. Pohon Natal mungil terpajang di sudut ruang tamu, berhiaskan berbagai hiasan sederhana, tak lupa dengan bintang di atasnya.

Gadis pemilik rumah berputar dengan anggunnya di depan cermin. Gaun merah muda dan rambut berhiaskan jepit bunga yang ia beli beberapa hari lalu membuat dirinya yang memang cantik tampil semakin anggun. Ia tersenyum lebar. Hatinya berdebar menanti kedatangan lelaki yang telah ia tunggu sejak kemarin, lelaki yang memberikannya sebuket bunga mawar indah padanya. Lelaki itu berjanji akan mengatakan hal penting yang bahkan membutuhkan momen tepat untuk mengatakannya. Pipinya bersemu merah sementara jantunya berdebar dalam irama romansa yang tak karuan. Ia ingin segera bertemu laki-laki itu, berharap hal yang akan dikatakan lelaki itu sesuai dugaannya, sesuai keinginannya.

Ia duduk di depan perapian dengan berpangku tangan. Senyumnya terus mengembang. Semakin tak sabar menunggu waktu berjalan cepat. Berbagai hiasan Natal membuat hatinya berubah damai. Ia berharap lelaki itu memang kembali padanya, sesuai janji yang ia dengar. Walau hatinya masih cemas, ia tetap menanti dengan penuh debar. Cepatlah waktu berlalu… cepatlah ia datang padaku, batinnya.

“Bells…”

Gadis itu membuka matanya perlahan dan mendapati lelaki yang ia tunggu tengah tersenyum di hadapannya. Wajah lelaki itu tak lagi dipenuhi gurat lelah seperti beberapa hari belakangan ini. Senyum yang begitu ia rindukan. Tanpa sadar Bluebell langsung bangkit dan memeluk lelaki itu dengan erat dan penuh kebahagiaan. “Akhirnya kau datang juga… aku sudah menantimu sejak tadi,” bisiknya setengah mengomel. Lelaki itu menanggapi dengan pelukan yang semakin erat.

“Ada yang ingin kukatakan padamu,”

Perlahan Bells melepaskan pelukannya, memandang Onew dengan penuh harap. Kedua tangan lelaki itu membelai pipi Bells penuh sayang. Senyumnya yang berubah sendu membuat ekspresi Bluebell berubah perlahan. Kecemasan langsung menyergap hatinya.

“Sekarang adalah saat yang tepat, Bells. Aku ingin kau mendengarnya baik-baik,” ujar Onew setengah berbisik. Bells mengangguk perlahan. Onew menghembus nafas pelan. “Aku mencintaimu, Bells. Sangat mencintaimu,” ungkapnya. Jantung Bluebell seakan mencelos mendengar pernyataan gamblang itu. Ingin sekali ia memeluk Onew kegirangan sambil membalas pernyataan tersebut. Sayangnya Onew langsung menyambung kalimatnya “Tapi kita tak bisa bersama.”

Bells terdiam. Ia serasa dilambungkan tinggi-tinggi ke atas lalu dijatuhkan begitu saja. Hatinya hancur berkeping-keping sementara ia masih tak bisa menerima kenyataan yang baru didapatnya. Onew melepaskan pelukan Bells darinya lalu melangkah mundur, menjauh dari gadis itu. “Maafkan aku.” bisiknya. Bluebell melangkah maju, mengejar sosok lelaki yang begitu ingin ia rengkuh kembali. Setidaknya ia harus tahu alasan lelaki itu! Ya, alasannya!!

“Menyerahlah. Kalian takkan bisa bersama.”

Suara rendah yang terdengar dingin itu…. Bluebell mendongak sesaat sebelum Onew berhasil digapainya. Onew malah dicengkram sesosok asing yang menyembunyikan keseluruhan tubuhnya di balik Onew. Bulu kuduk gadis itu berdiri saat melihat mulut pistol sudah terarah ke pelipis lelaki berkulit putih yang perlahan memucat itu. Yang dapat Bells lihat hanyalah sepasang mata coklat sipit yang seakan hendak memangsa siapa pun yang dilihatnya. Pandangan itu menatap tepat ke manik hijau Bluebell, gadis itu merasakan sengatan rasa takut yang menyebar cepat ke sekujur tubuhnya.

“Ja..Jangan…,” bisik Bluebell tertahan. Lelaki asing itu semakin mencengkram leher Onew, membuat korbannya tak bisa bernafas. Onew pasrah saja dicengkram sosok itu, matanya menatap sendu ke arah Bluebell. Seolah mengatakan tak ada yang dapat mereka perbuat. Spontan Bells menjerit panik. Mata tajam bagai mata rubah itu menyiratkan senyuman. Sungguh reaksi yang diinginkannya.

“Kumohon…lepaskan dia!” Bells kembali bersuara saat ia mendengar rintihan Onew. Dadanya dicengkram takut luar biasa, sementara air mata mengalir deras di kedua belah pipinya. Lelaki itu diam. Yang terdengar hanyalah nafas Onew yang tinggal satu-satu dan suara kecil sesenggukan Bluebell. Lagi-lagi sepasang mata rubah itu menyiratkan senyuman. Kali ini Bells tau itu bukan reaksi biasa.

“Kalian tak bisa bersama… Karena dia MILIKKU!”

DOR

“ONEEEEEWWW!!!”

BUK

Suara kayu bakar yang jatuh saling menimpa membuat Bluebell terbangun dari mimpinya. Nafasnya masih terasa sesak dan air mata ikut mengalir di ujung matanya. Semua terasa begitu nyata, memaksanya untuk percaya bahwa hal itu mungkin terjadi. Gadis itu menatap linglung sekitarnya sambil berusaha menenangkan diri. Ia bangkit dari kursi tempat ia tertidur. Sinar mentari menembus jendela ruangan tersebut. Pagi Natal sudah datang rupanya. Bluebell mendesah kecewa saat melihat keadaan rumahnya masih sama dengan kemarin malam, hanya saja beberapa lilin sudah habis dan padam. Tak ada tanda-tanda kehadiran orang lain. Gadis itu mendekati cermin dan melepas semua hiasan dan aksesoris yang melekat di tubuhnya.

“Dia tidak datang.” bisiknya pada diri sendiri. Semua perasaan buruk kembali melanda dirinya, membuat tetes air matanya jatuh perlahan.

“Onew, di mana kau?”

To be continued…

8 thoughts on “Unconscious Case – Part 3

  1. Hhmm. .
    Tdak bsa brkmentr p2 nhe dbuat na, tdk bsa mnentkan kta2 yq bnar. .

    Klw mnrut aQ, pmbnuhny plyan jonghyun deh, dn stu lqi td d-ktkan klw plyan jonghyn tu jq ornq asia, aQ crqa it key dan bkankah swktu brtnqkr dqn minho, jonghyun mti2an mmbla key. .

    Dn mmpi bluebell td, aQ kra tu manq knytaan, td smpt mkir sih “bkan na onew trluka. ? Truz kox bsa dtanq mnpti jnji na. ? Dn bell trkjut dqn kdtnqan onew yq shrusny brlmurn drah d-kpla” tp aQ trbwa suasna dn mnqanqp bnran trjdi hnqa suara kyu bkar yq jtuh mmbyarkn khyln Q. .

    Hhmm
    Bener2 rmit nhe ksuz, dn bhkn td aQ blnq nqak bsa kmen p2, tp skranq lmyan pnjnq tuk dktakan sbuah kmen
    huuff. .

    • Nah, di antara Jjong sama Key, siapakah pelaku sebenarnya? .kekek. aku no spoiler yaa.
      Ne, komenmu memang panjang Heyri-ssi. tapi no problem. aku seneng ko, kn berarti kamu bener2 baca ffku.hhe.
      Oh iya, klo boleh blang. sejujurnya ak agak pusing sama tulisanmu, gatau di laptop ak ajh ap gmna, itu semua huruf ‘g’ berubah jadi ‘q’ sama ada beberapa singkatan yg aku kurang mengerti. jdi mhon mf kl ada statement2mu yg tidak terjawab yaa.
      Thankn u, Heyri😉

  2. Fiuhhh*elus dada ahh jinja aku pikir beneran syukur cm mimpi..
    Yg pasti pembunuh itu adalah pelayan Jonghyun tp yg jd pertanyaannya siapa pelayan Jonghyun? Key kah? entah tp aku cm kepikiran key sekarang. Ni orang yg paling g jelas dr semuanya..
    Next next!!!

    • “Ni orang yg paling g jelas dr semuanya..” <– baiklah, aku jelaskan, Ummul. Key itu calon suamiku. Nah, jelaskan sekarang? *plaaakkk* .hhe. lucu baca komenmu yg bagian ini.kekekek.

      • kkk setelah baca ampe akhir, aku sndiri jg jd brasa lucu dg komen”ku sndiri😄 aku bener” g cocok jd detectiv ckckk..

  3. Itu pelayan jjong kyknya key deh! Pnggmbran tokohnya mengacu ke dia bngt!

    Dan onew jgn blng dia PINGSAN lagiiii… Onew jg aneh nih kyknya emng punya penyakit atau apa gt, ga normal bngt soalnya…

    Pdhl awalnya kupikir yg bunuh taem itu jjong lh eon, ternyata bukan, ffnya unpredictable bngt lah!

    • Apa pelayan Jjjong adalah Key? ah! aku no comment dan no spoiler yaa, mahdaa.hhe.

      selain unpredictable, kyanya agak absurd juga nih ff. ^^v
      Tapi di luar smua itu, semoga menghibur yaa. Thank u😉

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s