Unconscious Case – Part 4

Title                 : Unconscious Case

Author             : Song Euncha & Bella Jo

Main Cast        : Lee [Onew] Jinki | Choi Minho | Bluebell Constantia (OC)

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre              : Thriller, mystery, adventure, psycho, romance, friendship

Type/Length    : Sequel /  4 of 5

Rating              : PG 15

Summary         : “Key, rupanya itu kau.” gumam Onew pelan,

Seberkas cahaya menerobos masuk, memaksa lelaki itu membuka kedua matanya yang masih terasa berat. Ia mengerjap beberapa kali sebelum indera penciumnya membaui aroma kalkun panggang. Ia membuka kedua matanya, aroma itu begitu menggoda dan membuat perutnya semakin berteriak minta diisi. Perlahan ia bangkit, menyadari dirinya berada di sebuah kamar yang cukup luas, dengan segala perabot yang mewah. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran ranjang, mengerang saat merasakan denyutan hebat di kepalanya. Tangan kanannya menyentuh pelipisnya, “Akh!” lelaki itu mengerang lebih keras. Sebuah luka yang telah dibalut perbanlah yang merupakan sumber nyeri itu.

Sedetik kemudian ia menyadari bahwa dirinya berada di salah satu kamar di Middlewich House. Beberapa klise kembali berputar dalam kepalanya. Ingatan bahwa Earl Ferrers telah tewas semalam menyerbu memorinya. Yeah! Lelaki itu! Ia melihat lelaki dengan coat dan topi gelap itu semalam. Lelaki itu lah yang telah membunuh Earl Ferrers. Ia melirik ke luar jendela yang setengah tertutupi gorden, menatap salju tebal yang menyelimuti jalan. Sepertinya hari sudah siang, tidak ada waktu lagi. Penyelidikan harus segera dilakukan sebelum pembunuh itu lari terlalu jauh, pikirnya. Lantas ia bangkit, dan hendak meraih coat cokelatnya yang tersampir di sofa dekat perapian saat pintu terbuka.

KLEK

Seorang pelayan muncul sambil mendorong meja kecil yang ditutupi penutup makanan berwarna perak. Ia melangkah pasti mendekati Onew. Onew sempat terperanjat saat menatap sepasang mata sipit itu, mata sipit yang begitu tajam. “Anda sudah bangun, Tuan?” tanya si pelayan, lalu menghentikan meja kecil yang ia dorong di samping ranjang. Ia membuka penutup makanan di atas meja kecil tadi, menampilkan potongan roti panggang dengan aroma bawang bombay dan potongan kalkun panggang berwarna cokelat mengkilap.

“Aku harus segera pergi. Semalam… Earl Ferres…” Onew tiba-tiba terbata, perasaannya kembali didera rasa takut tidak jelas saat mengingat suara tembakan dan aksi kejar-kejarannya dengan lelaki bertopi dan coat gelap. Si pelayan membeku, ia menundukkan kepalanya. Lalu bebalik menghadap Onew dengan masih menundukkan kepalanya. “Benar. Earl Ferrers tewas tiga hari yang lalu. Tiga tembakan di kepalanya.” Terang si pelayan, suaranya bergetar seolah menahan tangis yang akan segera meledak.

“Ti..tiga hari yang lalu? Bukankah Earl Ferrers tewas semalam?” Lagi, Onew dikejutkan dengan pernyataan orang-orang yang mengatakan bahwa ia telah melewatkan beberapa hari dengan tidur. Pelayan berwajah Asia itu sedikit mengangkat wajahnya, menautkan kedua alisnya mendengar pertanyaan konyol Onew. Apa opsir itu tidak sadar bahwa ia telah tertidur selama tiga hari? pikirnya.

“Benar, Tuan. Tiga hari yang lalu. Earl Ferrers tewas pada dua malam sebelum Natal tiga hari yang lalu.” terangnya lagi dan membuat Onew membeku di tempatnya. Lagi! kejadian seperti ini terulang lagi. Ia melihat pelaku pembunuhan dan pingsan. Lalu terbangun, seakan semuanya baru terjadi kurang dari 12 jam. Tapi kenyatannya, waktu berlalu lebih lama dari perkiraannya. Tiga hari. Meski episode kali ini jauh lebih singkat dari yang sebelumnya, tapi Onew merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Sepertinya Bells benar, ada hal aneh dari kebiasaan tidurnya yang tidak wajar itu. Ya Tuhan! Bluebell! Onew baru ingat akan janjinya untuk menemui gadis itu pada malam Natal untuk mengatakan hal yang sangat penting.

Ia nyaris melompat, menyambar coat-nya dan memakainya cepat. “Anda mau ke mana, Tuan?” tanya si pelayan. “Aku harus pergi!” tanggap Onew cepat, lantas ia memeriksa lagi barang-barangnya di tiap saku yang ada di pakaiannya. “Tidakkah sebaiknya Anda makan terlebih dahulu, Tuan? Anda tertidur selama tiga hari. Saya yakin tubuh Anda memerlukan enerji,” bujuk si pelayan, membuat Onew kembali teringat akan perutnya yang sedari tadi bergejolak minta diisi. “Makanlah, lalu bersihkan diri Anda. Lagi pula di luar salju cukup lebat. Saya yakin beberapa jam lagi salju akan reda. Kami akan mengantar Anda dengan kereta kuda.” si pelayan melanjutkan dan sukses membuat Onew menurutinya.

Kini Onew menyandarkan lagi tubuhnya yang memang terasa begitu lelah. Dipakainya serbet dan bersiap menyantap makanan yang telah disediakan. Si pelayan menuangkan teh ke dalam cangkir. “Ini teh herbal. Bisa membantu mempercepat penyembuhan luka di pelipis Anda,” terang si pelayan. Onew merasakan kekakuan pada si pelayan perlahan mulai menghilang. Ia terlihat lebih luwes dibandingkan malam di mana pertama kali ia melihatnya. Onew menyesap teh yang disodorkan padanya, merasakan hangatnya teh herbal membasahi kerongkongan keringnya. Kemudian ia mulai menyantap hidangan dengan lahap,  hingga tidak menyadari bahwa si pelayan memperhatikannya seksama. Memperhatikan dengan kedua mata rubahnya seolah tengah menyelidiki sesuatu.

Benar! Pelayan keturunan Asia itu memang sengaja menahan opsir Scotland Yard itu untuk berada lebih lama di Middlewich House. Ia harus memperhatikan gerak-gerik sang opsir. Tidak! Tidak boleh terlewatkan sedikitpun. Karena begitu si opsir mulai bergerak, ia pun juga harus bergerak!

***

Sesuai perkiraan si pelayan, salju mereda seiringan dengan waktu siang yang semakin turun menuju sore. Setelah merasa lebih baik dan mempersiapkan dirinya, akhirnya Onew berpamitan pulang. Tentu saja setelah ia melakukan perbincangan alot dengan si pelayan dan beberapa orang kepercayaan Earl Ferrers. Perlahan tapi pasti, Onew naik ke dalam kereta kuda. “Hati-hati di jalan, Tuan.” Ucap si pelayan.

Kereta kuda mulai berjalan, menembus timbunan salju yang menutupi sekitar Middlewich House. Hanya derit roda yang berputar yang terdengar oleh gendang telinga Onew. Ia diam, memikirkan beberapa hal yang baru saja terjadi. Didampingi orang-orang keperayaan Earl Ferrers, Onew mendatangi makam sang bangsawan. Memberikan penghormatan terakhir yang seharusnya ia lakukan tiga hari yang lalu.

Perbincangannya dan orang-orang kepercayaan Earl Ferrers mau tidak mau membuatnya merasa tersudutkan. Sama seperti kasus Taemin, di mana kesaksian Onew sama sekali dianggap tidak logis dan meragukan. Ia mendesah, merasakan denyutan di pelipisnya.

“Maaf, Tuan. Tapi malam itu tak ada satupun dari palayan kami yang melihat adanya penyusup. Apalagi jika pelakunya berlari di koridor utama. Kami hanya mendengar suara tembakan sebanyak tiga kali disusul rentetan tembakan lain beberapa menit kemudian.” Satu kalimat panjang dari penasehat keluarga Ferrers kembali terngiang di kepala Onew. Pernyataan yang sama seperti yang dilontarkan Inspektur Skimhead. Onew lalu berpikir, mengapa pembunuhan itu terjadi tepat di mana ia melakukan kunjungan pada si Tuan rumah?

DEG!

Seketika jantung Onew berdebar tak karuan, debaran menakutkan yang tidak tertahankan. Jangan-jangan pembunuh itu memang mengincarnya dan mengikutinya. Yeah! Tidak salah lagi. Itu pasti karena Onew telah melihatnya tengah menyeret Elspeth hari itu. Tiba-tiba kedua lutut Onew gemetar, ia sampai tidak bisa duduk dengan baik dan segera menyandarkan tubuhnya pada kursi berlapis kain beludru ungu itu. Ia menaruh tangan di dadanya, mengatur nafasnya sebisa mungkin. Dengan cepat ia menggeser jendela dan memandang ke luar. Kedua mata sipitnya menjelajah liar jalanan berlapis salju tebal, memastikan bahwa tidak ada yang sedang mengikutinya.

Onew menutup kembali jendela kereta. Lalu berusaha menenangkan dirinya. Kasus ini semakin rumit dan benar-benar telah menjeratnya. Sepanjang perjalannya menjadi opsir, ia tidak pernah dikejar atau bahkan menjadi sasaran pelaku kejahatan. Tentu ia seorang penegak keadilan dan pembasmi kejahatan, tapi baru kali ini ia merasa takut akan kejahatan itu sendiri. Kini kepalanya kembali memutar ulang beberapa klise.

“Tiga buah tembakan tepat mengenai otak. Caliber 45 dan diduga jenis senjata yang digunakan adalah Colt M1911A1. Tidak ada tanda-tanda perlawan dari Earl Ferrers. Ia tewas seketika sebelum menyadari pelaku akan benar-benar menghabisinya.”

Kalimat si pelayan bermata sipit itu kembali terngiang di kepala Onew. Caliber 45 melalui Colt M1911A1, senjata yang sama dengan miliknya. Onew memejamkan matanya, berusaha mengingat lagi aksi kejar-kejarannya dengan si lelaki bertopi dan coat gelap itu. Ia ingat bahwa ia menembakkan peluru sampai habis, dan tak ada satupun yang mengenai lelaki itu. Tapi, mengapa senjata yang digunakan untuk membunuh Earl Ferrers sama dengan miliknya? Apakah Onew melewatkan kejadian di mana senjata miliknya dicuri si pelaku dan digunakan sebagai alat pembunuhan? batinnya.

“Akh! Come on!” Onew mengerang pelan, memaksa dirinya untuk mengingat  hal-hal yang mungkin ia lupakan. Urutan kejadian saat ia berkunjung ke Middlewich House berputar begitu cepat dalam kepalanya. Dan satu-satunya hal yang tetap bersarang dalam kepalanya adalah pelayan berwajah Asia yang sangat mencurigakan. Benar! Pelayan itu bahkan tidur di kamar yang hanya berjarak dua kamar dari Earl Ferrers. Onew mulai menyusun analisisnya. Pertama, si pelayan itu menyusup ke kamar Onew dan mencuri senjatanya, lalu menyusup ke kamar Earl Ferrers dan membunuhnya. Setelah itu, dengan cepat ia kembali ke kamar Onew dan mengembalikan senjata Onew ke tempatnya semula. Lalu berlari di koridor menuju kamar Earl Ferrers, seolah ia baru mendengar suara tembakan dan berbaur dengan yang lainnya, pikir Onew.

Ia mengingat lagi bagaimana mencurigakannya sikap dan gerak-gerik si pelayan dan Earl Ferrers saat mereka saling berhadapan. Seolah menyembunyikan sesuatu. “Ah!” Onew berteriak, sesuatu baru saja melintas dalam pikirannya. Tidak salah lagi! Si mata rubah itu adalah mata yang sama dengan mata tajam penculik Elspeth. Kini mengertilah Onew mengapa pembunuhan selalu terjadi saat ia melakukan kunjungan ke rumah korban. Si mata rubah itu memang mengincarnya, dan ingin menjadikan Onew sebagai tersangka tunggal dari pembunuhan orang-orang yang telah mengetahui kasus Elspeth. Sekejap ia merinding, menyadari betapa dekatnya ia dengan si pelaku selama ini. Mungkin saja ia mati selama tertidur jika si pembunuh memang menginginkan kematiannya. Namun rasa takut itu berubah menjadi amarah, ia benar-benar telah dibodohi si pelayan yang sepertinya…

“Key, rupanya itu kau.” gumam Onew pelan, ia menggeretakan giginya kesal.

Onew menimbang, antara harus kembali ke Middlewich House dan segera menangkap Key atau melanjutkan perjalannya pulang ke Scotland Yard. Ia kemudian membuka jendela kecil di hadapannya, berbicara pada sang kusir. “Sudah berapa jauh kita dari Middlewich House?” sang kusir menolehkan kepalanya sedikit. “Sudah sangat jauh, Tuan. Kita sudah mencapai lebih dari setengah perjalanan menuju Scotland Yard.” terangnya. Onew sempat berpikir sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menemui orang yang bisa membantunya. “Tolong bawa aku ke Winch House.” Pinta Onew.

Dugaannya semakin kuat. Ia benar-benar yakin bahwa lelaki itu adalah Key. Ya, pasti itu Key! Namun satu hal terbersit dalam kepalanya, sebuah hal yang ganjil. Jika yang Onew pikirkan mengenai rentetan kejadian itu memang benar, lalu Onew terbangun oleh suara tembakan apa?

***

Lelaki bermata bulat itu masih sibuk dengan coretan-coretan analisisnya di atas notebook. Berkali-kali alisnya berkerut saat memikirkan hal-hal yang baru saja ditulisnya.  Kematian Kim Jonghyun mau tidak mau cukup mengusiknya. Itu terlalu mendadak dan mengejutkan. Kepolisian Althorp bahkan ikut-ikutan mengintrogasinya. Dan yang lebih konyol lagi, ia menjadi salah satu terduga yang mungkin membunuh sang Earl. Minho terkekeh, itu menggelikan. “Pembunuh yang cerdas,” gumamnya pelan. Tentu Minho akan menjadi salah satu terduga karena ia terlibat pertengkaran mulut dengan Jonghyun di hari terakhir pertemuan mereka.

Minho mengacuhkan hal itu, lalu menyesap lagi teh hijaunya. Memaksa dirinya untuk tetap tenang. Caliber 45 dengan jenis senjata Colt M1911A1 adalah pistol standar yang digunakan polisi, detektif, dan pengawal. Siapa pun bisa jadi pelakunya. Tunggu! Detektif? Polisi? Pengawal? Tiba-tiba saja Minho mengingat seseorang. Seseorang yang bahkan berada di tempat kejadian saat sang Earl tewas, sama seperti kasus Taemin.

KLEK

Minho terlonjak dan nyaris melompat saat seseorang membuka pintu dan muncul di depannya. Pikirannya buyar dengan kedatangan orang tersebut. Kedua mata Minho bahkan sempat memancarkan ketakutan seperti baru melihat malaikat pencabut nyawa.

“Onew hyeong?” tanyanya. Onew melangkah mendekati Minho, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa dekat perapian. Minho segera menaruh notebook-nya ke dalam saku coat dan berhambur ke arah Onew, “Hyeong-“

“Sebentar, Minho. Aku perlu waktu untuk menghirup udara,” sambar Onew sambil merentangkan kelima jari tangan kirinya ke arah Minho. Lantas ia memejamkan kedua matanya sambil menghirup nafas dalam-dalam. Minho membiarkan Onew melakukan apa yang ingin dilakukannya, meski dalam kepalanya berkecamuk begitu banyak pertanyaan.

Onew membuka matanya, lalu menatap Minho. “Kau harus membantuku, Minho. Kaulah satu-satunya yang bisa membantuku,” pinta Onew cepat. “Apa, Hyeong? Apa yang harus kulakukan?” tanya Minho tak sabaran. Minho segera meraih cangkir dan menuangkan teh hijau ke dalamnya saat melihat Onew kembali mendesah ringan. Sepertinya opsir Scotland Yard itu sedikit tertekan. Onew menyambut cangkir dari Minho, lalu menyesap isinya pelan.

Listen, orang itu mengincarku. Dia! Lelaki dengan topi dan coat gelap yang menculik Elspeth!” terang Onew setelah ia selesai dengan teh hijaunya. Minho hanya mengerutkan dahi, bahkan kebenaran adanya lelaki itu pun masih belum jelas hingga sekarang. “Kau boleh tidak mempercayaiku saat kematian Taemin, tapi kali ini kau akan mempercayainya. Kau harus tahu apa yang terjadi di Middlewich House.” Onew begitu berapi-api, rasanya ia tidak sabar untuk kembali ke Middlewich House dan membekuk Key.

“Apa yang terjadi di sana, Hyeong?” Minho segera mengeluarkan notebook dan penanya. Bersiap mencatat informasi penting yang akan segera didengarnya dari Onew. “Penculik Elspeth adalah lelaki bermata sipit, mata sipit yang tajam seperti rubah yang siap memburu mangsanya. Dan pada hari kunjunganku ke Middlewich House, ada seorang pelayan berwajah Asia yang diakui Earl Ferrers sebagai pelayan spesialnya,” Onew menatap Minho yang matanya berkilat-kilat memantulkan kobaran api kecil dari perapian.

“Jonghyun hyeong mempekerjakan orang Asia?” tanya Minho yang sebenarnya ia tujukan pada diri sendiri. Onew mengangguk pasti sebagai tanda bahwa Minho tengah memikirkan hal yang sama dengannya.

“Aku menangkap gerak-gerik mencurigakan antara Earl Ferrers dan pelayan itu selama mereka saling berhadapan. Seolah ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Dan Oh! kau tidak akan percaya ini.” kini Onew menegakkan tubuhnya, menatap Minho dengan mata berkilat. “Kecurigaanmu selama ini benar! Jonghyun memang terlibat dalam penculikan Elspeth,” ujar Onew dan sukses membuat Minho terperanjat. “M..maksud Hyeong, Jonghyun hyeong yang menculik Elspeth?” tanya Minho dengan suara sedikt bergetar. Selama ini ia memang mencurigai Key, Jonghyun dan Taemin terlibat dalam kasus hilangnya Elspeth. Ia selalu merasa ada yang disembunyikan mereka setelah kasus penculikan Elspeth Windsor santer terdengar.

Earl Ferrers memiliki motif kuat untuk melakukannya. Kau tahu? Malam itu aku menanyainya banyak hal. Dan ia menceritakan bahwa ia terlibat romansa sepihak dengan Elspeth,” lanjut Onew, membuat Minho terbelalak tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Jonghyun menaruh perasaan pada Elspeth, tidak sama sekali! “Bahkan ia lah orang yang memperkenalkan Elspeth pada Key, lelaki yang sudah dianggapnya sebagai adik. Nyatanya, Earl Ferrers kalah sebelum berperang. Elspeth terang-terangan mengatakan padanya bahwa ia jatuh cinta pada Key, begitu juga sebaliknya.”

Minho mengangguk mantap, analisis kecil tengah berputar dalam kepalanya. Tapi itu belum cukup untuk menyimpulkan mengapa Jonghyun lah yang tewas, bukan Key. Ia menatap Onew dengan pandangan yang seolah mengatakan bahwa ia memerlukan keterangan lebih. “Ini analisisku. Kurasa Earl Ferrers berpura-pura membantu Elspeth dan Key dalam pelarian mereka dengan menyembunyikan mereka di Middlewich House. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menghabisi Key dan merebut Elspeth. Tapi sayang, rencana busuknya telah lebih dulu dicium Key sehingga lelaki itu membunuhnya lebih dulu.”

Caliber 45, Colt M1911A1?” tanya Minho. Ia tiba-tiba teringat akan dugaannya mengenai senjata pembunuhan Jonghyun. Rahang Onew tiba-tiba mengeras, kilatan di matanya memudar. Minho menyipitkan matanya penuh selidik, “Hyeong, apa senjatamu-“

“Dia memakai senjataku, Minho. Key, dia lah pelayan berwajah Asia yang kutemui di Middlewich House. Sepertinya kedatanganku ke Middlewich House merupakan kesempatan baginya untuk menghabisi Jonghyun. Kau mengerti, kan? Makan atau dimakan! Dia menyusup ke kamarku dan mencuri Colt M1911A-ku, lalu menyusup ke kamar Earl Ferrers dan membunuhnya. Dengan cepat kembali ke kamarku dan mengembalikan senjata ke tempatnya. Lalu berlari di koridor dan membaur dengan yang lainnya, seolah ia baru saja mendengar suara tembakan. Cerdik sekali!” terang Onew, kilatan di matanya kembali muncul. Ia terlihat begitu geram dan tidak sabar untuk segera membekuk Key sebelum lelaki itu kabur ke tempat lain.

Minho terlonjak! Ia memang telah sampai pada analisis bahwa pelayan itu adalah Key, tapi tidak pernah memikirkan bagaimana Key menghabisi Jonghyun. Ternyata cinta bisa membuat siapa pun menjadi buta. Hubungan Jonghyun dan Key sangatlah baik, layaknya adik- kakak. Tapi sungguh mengenaskan, Jonghyun mati di tangan anjing yang ia pungut di pinggir jalan.

Minho menaruh notebook-nya ke saku coat, lalu bangkit. “Hyeong, kurasa belum terlambat jika kita kembali ke Middlewich House dan menangkap Key! Aku yakin rubah itu masih menikmati kemenangannya di istana Jonghyun hyeong.” Minho hendak beranjak saat tangan Onew menahannya, “Sebelum itu, bisakah kita pergi ke suatu tempat? Aku harus menemui seseorang yang sangat penting.” kilatan di mata Onew hilang, tergantikan dengan sorot mata yang begitu redup dan sendu.

***

Hari itu salju tidak turun, tapi langit tak juga cerah. Gumpalan awan kelam berarak mengikuti arah hembusan angin. Kereta kuda itu terus berjalan, menembus putihnya jalanan yang beku. Deritan roda yang berputar tidak lagi memenuhi gendang telinga, tertelan oleh hiruk pikuk yang mulai terdengar di setiap sudut. 27 Desember, Onew dan Minho tengah dalam perjalanan menuju Scotland Yard. Jarak yang cukup jauh antara Althorp dan Scotland Yard memakan waktu lebih dari setengah hari.

Sepanjang perjalanan Onew merasa begitu lelah, bahkan sudah tidak bisa dihitung berapa kali ia menguap. Ia merasa begitu lelah dengan kasus ini, juga dengan banyak hal yang tidak dimengertinya. Tapi sepanjang perjalanan itu pula, hatinya merasa cemas. Memikirkan gadis berambut merah yang telah menunggunya pada malam Natal. Oh! bahkan kini tiga hari telah berlalu semenjak malam Natal. Onew mendesah, seolah menghempaskan ganjalan yang ada di dadanya. Ia telah berjanji pada Bluebell untuk mengatakannya malam itu. Benar! Ia begitu mencintai gadis itu dan baru memiliki keberanian setelah tiga tahun. Tidak! Bukan keberanian yang selama ini ia kumpulkan, melainkan kepingan-kepingan golden untuk melamarnya. Dalam hatinya, ia telah merancang banyak rencana. Membelikan rumah yang jauh lebih baik untuk Blluebell. Lalu mereka akan menikah dan hidup bahagia dengan beberapa orang anak.

Ia telah mengecewakan Bluebell dengan tidak pulang malam itu. Pastilah Blubell telah lebih dari sekedar kecewa padanya. Oh! atau mungkin itu akan membuat Bluebell berubah pikiran? pikir Onew. Mengingat reaksi apa yang akan diperlihatkan Bluebell nanti membuat Onew mati-matian menahan rasa kantuknya. Ia tahu, jika ia tidur maka ia tidak bisa mengendalikan dirinya. “Hyeong.” Minho mengguncangkan tubuh Onew. Lelaki itu terperanjat, terbangun dari lamunannya. “Hyeong, kita sudah sampai.” Minho lantas menenteng tas hitamnya, lalu turun dari kereta kuda. Ia menapaki tanah bersalju Scotland Yard, kedua mata bulatnya berbinar menatap gedung kecil bertuliskan Scotland Yard Police. Memorinya akan hari di mana ia ditolak masuk ke tempat itu kembali berputar, meninggalkan rasa muak yang memenuhi dadanya.

“Ayo!” Onew menepuk bahu Minho, membuyarkan lamunan detektif itu. Dengan langkah gemetar Minho mengikuti Onew ke dalam kantor kepolisian Scotland Yard. Jantung Minho berdebar tak karuan, darahnya berdesir cepat, dan itu membuat kedua lututnya lemas. Tapi kali ini lain, hal-hal itu ia rasakan bukan atas dasar ketakutan dan kekecewaan seperti yang pernah ia alami. Melainkan karena ia begitu senang akhirnya ia akan terlibat dalam regu kepolisian Scotland Yard dalam menguak kasus penculikan Elspeth, juga dua kasus kematian yang mengikutinya.

TING

Bel tua itu berbunyi, membuat beberapa kepala menoleh ke arah Onew dan Minho. Wajah-wajah frustasi para opsir berubah menjadi wajah penuh kemurkaan. Beberapa diantaranya bahkan mengepalkan tangan mereka. “Onew!” pekik lelaki berkepala botak, ia segera mematikan benda yang sedari tadi terselip di lipatan bibirnya. “Semakin kacau! Semakin kacau!” ujarnya berang. Ia menarik Onew tanpa mempedulikan Minho, seolah Minho tidak tampak di hadapannya. Onew tidak sempat mengatakan apa pun pada Minho karena ia telah lebih dulu ditarik Inspektur Skimhead ke ruangannya. Dan tinggal lah Minho di ruangan utama kepolisian Scotland Yard, bersama para opsir berkulit putih yang memandang sinis ke arahnya.

***

Inspektur Skimhead membanting pintu ruangannya, lalu menjatuhkan tubuh tambunnya di kursi yang kemudian menimbulkan suara bederit kecil. Onew tidak berkata apa-apa, ia hanya duduk di hadapan Inspektur Skimhead. Ia tahu bahwa sang Inspektur tengah marah besar. Meski begitu, Onew tetap menenangkan dirinya. Ia punya banyak informasi yang akan membuat emosi atasannya meleleh.

“Sungguh! Nama baik kepolisian Scotland Yard diambang kehancuran! Orang-orang Duke of Windsor Gregory tidak tinggal diam, Onew! Meraka mendatangiku dua kali setiap hari dan mencaci kinerja kita yang begitu buruk! Tapi yang lebih buruk dari itu, campur tangan orang-orang suruhan bangsawan itu membuat penyelidikan semakin rumit dan kabur.” Inspektur Skimhead begitu berapi-api, ia bahkan mengucapkan kalimat panjang itu dalam satu tarikan nafas.

“Dan kau! Kau ke mana saja, Onew? Kau tahu kau sangat penting dalam penyelidikan ini. Oh! aku benci kasus yang melibatkan darah Asia!” cercanya, ia menggeram. Onew tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana. “Tenang, Inspektur. Saya datang membawa banyak informasi. Bahkan Anda tidak akan percaya jika Saya mengatakan bahwa Saya tahu keberadaan Vladimir Fox.” terang Onew santai. Air muka sang Inspektur segera berubah, wajah merahnya tadi berubah menjadi normal. “Kau tahu di mana si rubah itu?” Inspektur Skimhead mencondongkan tubuhnya ke arah Onew.

Onew hanya mengangguk santai, membuat Inspektur berkepala pelontos itu semakin tak sabaran. Perlahan Onew mulai menceritakan perjalanannya ke Middlewich House, juga percakapannya dengan Earl Ferrers yang membuat sang Inspektur terkejut bukan main. Tidak bisa dipungkiri, bahwa nama Earl Ferrers sempat masuk dalam daftar terduga. Tapi kemudian, Duke of Windsor Gregory sendiri yang memintanya untuk menghapus nama Earl Ferrers dari daftar terduga. Inspektur Skimhead berdecak kesal saat mendengar cerita Onew yang menyatakan bahwa Earl Ferrers memiliki motif yang sangat kuat untuk menculik Elspeth. Sang Inspektur menggerutu, dugaannya semakin kuat bahwa kasus penculikan Elspeth memang sengaja dirancang untuk mempermainkan kepolisian Scotyard Land.

Tibalah Onew pada cerita di mana ia mendengar suara tembakan dan melakukan aksi kejar-kejaran dengan lelaki bertopi dan coat gelap di tengah salju. Kali ini semangat di wajah Inspektur Skimhead meredup, dahinya berkerut seolah tengah memikirkan hal lain. “Onew,” potong Inspektur Skimhead. “Aku telah mendapat informasi tentang senjata api yang digunakan sebagai alat pembunuhan. Kau yakin Vladimir telah mencurinya darimu? Lalu mengembalikannya diam-diam setelah ia membunuh Earl Ferrers?” Lagi, rasa kecewa menyergap Onew. Sama seperti saat ia menjelaskan bagaimana ia melihat cipratan darah setelah terdengar erangan dari Taemin. Inspektur Skimhead menunjukkan ekspresi yang sama, ekspresi ragu dan tidak percaya.

Onew mengeluarkan senjatanya, lalu menaruhnya di atas meja. “Selongsongnya kosong. Saya menghabiskan peluru untuk menembaki lelaki itu.” Inspektur Skimhead memandang senjata api milik opsirnya, lalu menatap mata sipit Onew. “Anda ingin mengatakan tidak ada sidik jari lain selain milikku?” tebak Onew. Ia bahkan telah mendengar hal tersebut dari orang kepercayaan Earl Ferrers sebelum ia diperbolehkan kembali ke Scotland Yard. “Anda boleh mencurigai Saya, Inspektur. Tapi ingat! Ini adalah pembunuhan berencana, Vladimir tentu telah mempersiapkan segalanya dengan baik.” terang Onew, berusaha mengenyahkan rasa kecewa atas reaksi Inspektur Skimhead.

Inspektur Skimhead kembali menegakkan punggungnya, menatap Onew dengan sorot mata meredup. “Lalu, di mana Vladimir sekarang?” tanyanya. “Jika kita belum terlambat, ia seharusnya masih ada di Middlewich House, bekerja sebagi pelayan. Satu-satunya pelayan berwajah Asia dan satu-satunya pelayan yang tinggal di bangunan utama Middlewich House.” Inspektur Skimhead sempat berpikir sebelum akhirnya ia bangkit dan beranjak. “Aku tidak bisa menunggu waktu lebih lama untuk menangkap rubah itu!” ujarnya sambil melangkah ke luar ruangan.

Onew mengekor, meski ia ingin sekali menemui Blubell terlebih dahulu. Tapi sepertinya ia memang harus kembali ke Middlewich House. Langkah Onew terhenti saat Inspektur Skimhead menghentikan langkahnya dan berbalik menghdap Onew. “Kau! Kau mendapat cuti sampai tahun baru!” tukasnya enteng, lantas ia kembali melangakah, membuat Onew membelalakkan kedua matanya. “Apa? Anda bercanda, Inspektur? Mana bisa-“

Listen! namamu sudah terkenal di kepolisian distrik lain di Scotland Yard, mereka telah menganggapmu sebagai salah satu dari sekian yang terlibat dalam dua kasus pembunuhan yang mengikuti kasus penculikan Elspeth. Berterimakasihlah padaku karena aku telah berusaha menutupinya, walaupun gagal.” ungkapnya setengah berbisik. “Tapi Inspektur-“ Onew berusaha membela diri dan menuntut haknya. Ia tahu semua orang pasti mencurigainya, tapi posisinya benar-benar tidak menguntungkan. “Onew! Kau tertidur setiap kali pembunuhan terjadi. Dan keteranganmu dianggap lelucon. Maka dari itu, pakailah waktu detensimu untuk berisitirahat!” desis Inspektur Skimhead, membuat Onew membeku di tempatnya.

Onew menatap punggung Inspektur Skimhead yang menjauh darinya. Lelaki botak itu kini menghampiri Minho yang duduk kaku di salah satu kursi. Mereka berbicara, membicarakan hal yang tidak bisa di dengar Onew. Mata Minho membelalak sebelum akhirnya ia tersenyum, kemudian mendekati Onew. “Hyeong, Inspektur Skimhead memasukkanku dalam tim! Ini bukan mimpikan?” ungkap Minho sumringah. Mata bulatnya terlihat semakin besar. Onew mendesah pelan, tentu saja itu kabar buruk baginya. Tapi ia ingat bagaimana Minho begitu ingin bergabung dengan kepolisian Scotland Yard.

Ia tidak boleh egois. Lagi pula, mungkin hari liburnya bisa ia gunakan untuk menebus kesalahan-kesalahannya pada Bluebell, pikirnya. Onew menaruh kedua tangannya di bahu Minho, menatap mata bulat lelaki jangkung itu. “Lakukan yang terbaik, Minho. Tangkap Key sebelum ada korban lain yang jatuh. Aku tahu, yang selanjutnya menjadi sasaran Key adalah kita berdua. Orang-orang yang tahu dan menyelidiki kasus hilangnya Elspeth,” Minho mengangguk mantap. “Carilah tempat tinggalku setelah selesai penyelidikan.” Lanjut Onew.

Hari itu juga Inspektur Skimhead beserta timnya –termasuk Minho- segera meluncur ke Middlewich House. Onew jelas sedih melihat rombongan tim penyidik di mana seharusnya ia berada di sana. Mobil yang ditumpangi Inspektur Skimhead dan timnya telah menghilang dari pandangan Onew. Lelaki itu baru menyadari bahwa ia merasa sepi dan menyedihkan. Lalu ia menyeret langkahnya meninggalkan kantor kepolisian Scotland Yard. Oh! sebaiknya ia membelikan sesuatu untuk Bluebell, pikirnya.

***

Gadis berambut merah itu tengah asyik di dapur, melupakan kegelisahannya selama ini dengan membuat panekuk cokelat. Memasak kudapan bisa dengan mudah membuatnya merasa senang. Meski pada kenyataannya ia akan kembali merasa sedih saat memakan kudapan buatannya seorang diri. Yeah! Seorang diri, tanpa ditemani lelaki bermata sipit itu. Bluebell segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan Onew dari pikirannya barang sekejap. Setidaknya hingga ia kembali menyadari bahwa dirinya memang sendiri.

Panekuk itu berbentuk bulat dan berlapis tiga. Kini Bluebell tengah menyiramkan cokelat cair dari panci sambil bersenandung kecil. Ia kemudian menaburkan gula tepung. Sedikit saja, karena gula tepung sangat mahal. Dan terakhir, ia menaruh buah stroberi di atasnya. Gadis itu mendesah, melepas apronnya riang. Lalu duduk di salah satu kursi dan memandangi dua piring berisi panekuk. Kini, rasa sepi itu kembali menyergapnya dan memeluknya begitu erat. Sudah nyaris tiga hari berlalu sejak malam Natal, dan Onew belum juga menampakkan batang hidungnya. Ditambah lagi desas-desus mengenai kematian seorang Earl di Althorp membuat Bluebell semakin gelisah, menebak-nebak apakah Onew ada hubungannya dengan kasus itu.

Bluebell masih memandangi panekuk sambil menopang dagu dengan tangan kanannya saat seseorang membuka pintu depan. Ia melirik malas ke arah pintu yang sebenarnya tidak bisa ia lihat, menebak bahwa yang datang adalah Mr.Milles yang akan mengundangnya makan malam atau seorang tukang pos yang membawakan surat-surat penawaran rumah di wilayah lain di luar Scotland Yard. Bluebell mendesah, kemudian melangkah gontai menuju pintu depan. Wajahnya benar-benar tidak bersemangat dan jika saja ia bukan gadis ramah, mungkin ia sudah mengusir tamu yang datang tanpa mengetuk pintu itu.

Bluebell belum tiba di depan pintu saat kedua mata hijaunya menangkap sosok yang sangat ia rindukan. Ia membulatkan kedua matanya, berusaha memastikan apa ia sedang bermimpi atau tidak. “Kau kenapa?” tanya Onew yang mulai melangkah mendekati Bluebell, membuat gadis itu semakin membelalakan kedua matanya. “O..Onew?” tanyanya yang lebih ia tujukan pada diri sendiri. Onew malah terkekeh, “Kau pikir siapa, Miss Constantia?” Onew menarik Bluebell yang masih berdiam diri menuju sofa lusuh di ruang tamu, memaksa gadis itu duduk. Ia kemudian duduk di samping Bluebell.

Mata Bluebell yang tadi sempat terbelalak tak percaya kini kembali terbelalak. Tapi bukan karena terkejut, melainkan karena ia merasa senang dengan apa yang kini ada di hadapannya. Onew menyodorkan sebuket bunga mawar merah yang begitu indah. “Selamat hari Natal, Bells. Maaf terlambat,” ucap Onew setengah berbisik. Bluebell segera meraih bunga itu dari tangan Onew, menyesap aromanya ringan. Dalam hatinya, ada perasaan bahagia yang begitu membuncah. Dan rasanya kali ini ia ingin memeluk Onew, meluapkan kerinduannya pada lelaki itu.

“Terima kasih, Onew.” Akhirnya Bluebell membuka mulut. Ia tersenyum, kemudian memeluk Onew. Bells tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebahagiaannya, rasanya ia ingin menggenggam Onew dan tidak akan pernah melepaskannya. Bluebell semakin mengeratkan pelukannya saat ia mengingat mimpinya pada malam Natal, mimpi di mana Onew mengatakan bahwa ia sangat mencintai Bluebell, lalu meninggalkannya. “Bells, aku tidak bisa bernafas.” ucap Onew dengan suara seperti orang tercekik yang dibuat-buat. Bluebell menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia masih ingin memeluk Onew seperti itu. Karena itu membuatnya sangat bahagia, seolah Onew hanya miliknya seorang.

Lelaki bermata sipit itu lalu tersenyum simpul. Kedua tangannya memeluk Bluebell dan semakin menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa ia pun memang merindukan Bluebell. Dan itu membuat keinginannya untuk melamar Bluebell semakin tak tegoyahkan.

Semilir angin khas musim dingin berhembus ringan, menerbangkan salju-salju kecil yang masih melayang. Berhembus seolah saling berkejaran, ikut bersuka cita menyaksikan dua anak manusia yang saling melepas rindu. Bluebell tidak tahu berapa lama ia menenggelamkan dirinya dalam pelukan Onew. Ia merasa begitu hangat dan nyaman, dan itu semua membuatnya merasa aman. “Bells,” panggil Onew. Lelaki itu berusaha melepaskan Bluebell dari pelukannya. Gadis itu sempat menggelengkan kepalanya, tapi tak lama akhirnya ia membiarkan Onew melepaskan dirinya.

“Kau baik-baik saja, Bells?” tanya Onew saat menyadari pipi Bluebell basah. Bluebell mengangguk, meski air mata itu kembali menetes. Ia mengusapnya cepat, “Aku baik-baik saja, Onew. Asalkan kau di sini, aku pasti baik-baik saja.” ucap Bluebell. Ia tidak menyadari bahwa ucapannya menyiratkan makna lain bagi Onew.

“Bells, kau-“

“Oh! kau sudah makan? Aku baru saja membuat panekuk. Kau pasti suka.” Tanpa menunggu tanggapan dari Onew, Bluebell menariknya menuju dapur. Memaksa lelaki itu menghabiskan dua piring panekuk yang baru saja dibuatnya. Onew tidak bisa berkata apa-apa, yang ia lakukan hanya mengikuti keinginan Bluebell. Yeah! Untuk menebus kesalahannya pada Bluebell. Onew menyantap panekuk dengan lahap, sesekali kedua matanya mencuri pandang ke arah Bluebell- yang tengah memandanginya sambil menopang dagu.

“Kau tidak bosan memandangiku?” kelakar Onew, ia kemudian terkekeh. Bluebell hanya menggelengkan kepalanya, seolah mengucapkan sebuah kalimat saja akan mengganggu konsentrasinya yang sedang memandangi Onew. Onew melahap lagi potongan panekuk, lalu menganggukkan kepalanya. “Miss Constantia, kau tahu kan di dunia ini tidak ada yang gratis?” tanya Onew, membuat Bluebell terperanjat. Onew kemudian menyeringai, berusaha menakuti Bluebell. Ia mencondongkan tubuhnya, seolah berusaha menjangkau Bluebell. Seringai dan tatapan tajam Onew seolah menghipnotis Bluebell, ia sama sekali tidak bisa memerintahkan alat geraknya untuk menjauh.

“Kau harus membayarnya malam ini.” bisik Onew parau.

***

Gadis dengan gaun merah muda itu berlari ke sana ke mari, kedua matanya tak henti menjelajahi keramaian kota yang diterangi lampu berwarna-warni. Tangannya masih menggenggam permen kapas saat kedua matanya menangkap bangunan kecil yang begitu terang dan berwarna ceria. “Kita ke sana!” Bluebell menarik tangan Onew. Hatinya begitu senang malam ini. Akhirnya Onew berjanji untuk menghabiskan malam ini dengan melakukan hal yang disukai Bluebell.

TING

Lonceng kecil di atas pintu berbunyi saat gadis bermata hijau itu mendorongnya. Lantas ia menatap nanar cupcake aneka warna yang dipajang di display. Matanya liar menjelajahi jenis-jenis pastry cantik yang dipajang di atas stand kecil berbentuk melingkar seperti air terjun kecil. Onew menautkan kedua alisnya melihat tingkah laku Bluebell yang seperti anak kecil. Kini gadis itu mendekati si pemilik toko yang berdiri di belakang display. Pemilik toko itu seorang lelaki tua dengan rambut beruban, ia memakai coat hitam dan tubuhnya sedikit bungkuk. Ia terlihat begitu ramah dan tersenyum pada setiap orang yang datang. Bluebell mengatakan sesuatu pada si pemilik toko, kemudian berlari ke arah Onew dan mengamit lengan lelaki itu. “Ayo kita pergi!” ajaknya riang. Onew tidak mengerti, tapi kemudian ia mengikuti Bluebell.

Malam semakin larut, sudah banyak tempat yang Onew dan Bluebell kunjungi. Pasar malam, taman kota, dan toko kue. Sebenarnya Onew ingin mengajak Bluebell menonton teater. Tapi sayang, teater adalah tempat bagi para bangsawan. Ia tidak mau jika Bluebell merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri karena melihat Ladies bergaun mewah dan berhiaskan hiasan rambut yang berkilau. “Sekarang kita mau ke mana?” tanya Onew. Kini mereka berjalan berdampingan.

“Kita pulang saja. Aku lelah.” jawab Bluebell, ia menguap sambil mengeratkan lagi coat-nya. Onew menatap Bluebell. Memperhatikan feature wajah gadis itu. Sepasang mata hijau yang bulat, hidung yang lancip, serta bibir mungilnya yang semerah darah. Onew tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri yang merasuk ke dalam kalbunya saat ia melihat wajah itu. Dan saat itu lah, sesuatu terbersit dalam pikiran Onew. “Bells, bisa tunggu di sini sebentar?” pintanya, ia menarik Bells ke pinggir jalan tepat di dekat sebuah rumah berdinding batu.

Bluebell terperanjat, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. “Tidak! Kau mau ke mana?” tanyanya panik. Bluebell tahu, pastilah Onew akan meninggalkannya lagi seperti waktu itu. “Sebentar saja, Bells. Aku janji.” Kini Onew menaruh kedua tangannya di bahu Bluebell. “Tidak! Sebentar yang kau maksud adalah kurun waktu yang lebih dari satu hari,” tandas Bluebell, kini ia meraih satu tangan Onew dan mencengkeramnya kuat.

“Hanya sebentar.” Onew berusaha meyakinkan Bluebell lagi. “Tidak mau! Dan jangan berjanji untuk kembali pada hari tertentu. Aku tidak mau menunggu!” pekik Bluebell, pancaran matanya begitu tajam. Memandang Onew seolah ingin mengurung lelaki itu dalam bola matanya. Onew meraih kedua tangan Bluebell, “Listen, Bells. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu seperti waktu itu. Aku hanya perlu ke suatu tempat, sebentar. Kau bisa menghitungnya. Hemm…. 20 menit.” Ucap Onew tenang.

Bluebell menggelengkan kepalanya dan ia berusaha mencengkeram tangan Onew lagi. “Baiklah, 10 menit. Tunggulah 10 menit di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Mengerti?” Onew menegaskan intonasi bicaranya dan membuat Bluebell terdiam. Akhirnya, gadis berambut merah itu hanya mampu menatap nanar punggung Onew yang berlari menjauh darinya.

Salju kembali turun, membuat wajah Bluebell memerah. Sudah 5 menit Bluebell menunggu dan itu membuatnya semakin ketakutan. Ia tidak mengerti, apakah ia bodoh atau sejenisnya. Yang jelas, ia telah membiarkan Onew pergi lagi darinya. Seketika perasaan takut itu menghinggapinya, memutarkan klise di mana lelaki itu meninggalkannya, juga mimpi buruk Bluebell yang menyiratkan hal serupa. “Tidak!” pekik Bluebell tertahan. Tanpa pikir lagi ia melangkahkan kaki kurusnya, mencari-cari keberadaan Onew.

To be continued…

2 thoughts on “Unconscious Case – Part 4

  1. Aaa… aku jadi bingung lg sekarang. Sebelumnya aku yakin kalo pembunuhnya itu pelayannya Jonghyun yg berarti Key. Tapi sekarang aku ragu, memang Key yg paling mencurigakan di sini tapi… aku jg merasa ada yg aneh dgn Onew, aku trus kepikiran dgn Dazzling Auntumn km cha. jangan-jangan Onew kayak Key-di Dazzling Auntumn- g sadar kalo dia sendiri yg udah ngebunuh orang.
    Ahh part depan end kn.. LANJUUUUTTT!!!

    • Hemm… kekekek. semua orang bner2 mencurigakan di sini.
      Wah, semuanya udh pada kena demam Dazzling Autumn nih sepertinya.
      Nah, jawabnnya ada di part akhir ko. mudah2an ga bkin menohok yaa ^^v

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s