Unconscious Case – Part 5 [END]

Title                 : Unconscious Case

Author             : Song Euncha & Bella Jo

Main Cast        : Lee [Onew] Jinki | Choi Minho | Bluebell Constantia (OC)

Suport Cast     : The rest of SHINee’s member

Genre              : Thriller, mystery, adventure, psycho, romance, friendship

Type/Length    : Sequel / 5 of 5

Rating              : PG 15

Summary      : Kau yang membunuh Taemin dan Jonghyun hyeong! Mengakulah! Semua bukti mengarah padamu-

Kedua kakinya terus melangkah, mengikuti ke mana batinnya meminta. Dalam kepalanya hanya ada satu nama-Onew. Bagaimanapun Onew tidak boleh meninggalkannya lagi. Tidak boleh! Bluebell telah melewati toko-toko kecil yang mulai tutup, juga melewati kelap-kelipnya kota yang mulai redup. Tapi ia tak kunjung menemukan Onew. Ia lantas berlari, berlari tanpa arah seiringan dengan rilisnya air mata. Hatinya begitu sakit, Onew benar-benar meninggalkannya lagi. Ia mengutuki dirinya yang begitu bodohnya membiarkan Onew pergi, tepat di depan matanya.

“Onew…..” teriak Bluebell. Gadis itu menghiraukan udara dingin yang kian menusuk. Ia berbalik, matanya liar mencari sosok bermata sipit itu. “Onew….” Teriaknya lagi, kali ini disertai isakan karena ia tak juga menemukan Onew. Tubuh Bluebell merosot, menyentuh tumpukan salju yang dingin. Ia terisak, Onew benar-benar meninggalkannya. “Aku mencintaimu, aku mencintaimu.” Bisik Bluebell sambil terisak, kini bibir merahnya berubah menjadi pucat. Menggumamkan kalimat cinta itu dengan hati yang terlunta.

Ia masih menangis saat kedua matanya menangkap sosok lelaki di toko perhiasan. Bukan toko perhiasan mewah di mana ada ruangan luas tempat memajang perhiasan. Hanya toko perhiasan kecil, di mana si pemilik toko menjajakan dagangannya dalam display lebar yang menghadap ke jalan. Bluebell bangkit, ia menyipitkan matanya karena seolah mengenal lelaki yang kini tengah menatap sesuatu dalam kotak berwarna merah.

Terseok-seok, Bluebell melangkah mendekati toko perhiasan itu. Hanya ingin memastikan bahwa lelaki yang tengah dipandanginya adalah lelaki yang sedari tadi ia cari. Bluebell terus mendekat, hingga ia bisa melihat benda apa yang tengah dipandangi si lelaki. Sebuah benda berkilau berbentuk melingkar, bertahtakan sebuah permata yang amat kecil di tengahnya. “Bells!” Onew terkejut, lantas ia menutup kotak merah dengan cepat dan menyembunyikannya di dalam saku coat. “A..apa yang kau lakukan di sini? Sudah kubilang untuk menungguku. Lihatlah dirimu!” Onew memperhatikan Bluebell yang berantakan. Wajah gadis itu memerah, matanya sedikit bengkak dan air mata setengah kering masih menghiasi wajahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” alih-alih menjawab pertanyaan Onew, Bluebell malah balik bertanya. Onew sempat terdiam, lalu memandang lagi nama toko tempat ia dan Bluebell berada. Ia kemudian mendesah, sepertinya rencananya gagal. “You caught me!” Onew kemudian mengeluarkan lagi kotak merah tadi dari saku coat-nya dan menaruhnya di atas display. Mata hijau Bluebell mengikuti kotak merah itu. Ia sempat berpikir, tapi tak lama ia membulatkan kedua matanya.

“Onew…” ia hanya menggumam pelan, tak berani berpikiran terlalu jauh. Ia takut akan dibawa terbang tinggi, lalu dijatuhkan. Onew tersenyum, lalu membuka kotak merah. Menampilkan lagi benda berkilauan yang sempat dilihat Bluebell. Mata hijau Bluebell berbinar, ia seperti sedang bermimpi. Baru kali ini ada seorang lelaki yang memperlihatkan benda berkliauan itu, terlebih lagi lelaki itu adalah lelaki yang disukai Bluebell.

“Onew-“

“Bells, tadinya aku ingin memberikan ini saat malam Natal. Tapi aku justru melanggar janjiku sendiri. Dan aku berencana memberikannya pada tahun baru nanti, 4 hari lagi. Tapi kau sudah lebih dulu melihatnya. Sayang sekali ini bukan kejutan lagi.” terang Onew, ia menatap intens mata Bluebell. Seketika jantung Bluebell berdetak tak karuan, ia merasakan lagi perasaan aneh yang membuat perutnya sakit. “Ini…” Blubell menggantungkan kalimatnya, menatap Onew dengan pandangan bertanya. Tentu saja Bells tidak bodoh, ia mengerti apa maksudnya seorang lelaki memberikan cincin pada seorang gadis. Tapi lagi, Bells tidak mau terlalu percaya diri. Ia tidak yakin bahwa Onew memang benar-benar memiliki perasaan serupa dengannya, mengingat Onew yang selalu mengedepankan urusan pekerjaan.

“Aku mencintaimu, Bells,” Ungkap Onew dengan semburat merah di wajahnya. Suaranya sedikit bergetar. Ia tidak percaya bahwa ia telah mengungkapkan kalimat yang selama ini dipendamnya. Bells membulatkan kedua matanya, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Aku mencintaimu, Bells. Dan aku bermaksud melamarmu dengan ini,” lanjut Onew. Bluebell kian terpana, ia tidak percaya bahwa Onew bermaksud untuk melamarnya. Sungguh! Meski ia begitu mengharapkan Onew mengucapkan kalimat itu, tapi ia tidak pernah berpikir bahwa Onew berniat untuk melamarnya. Seketika wajah Bells memerah, dan kedua matanya segera digenangi benda cair. Ia tersenyum.

“Onew, aku-“

“Kumohon. Tunggulah aku. Tunggulah aku,” Sambar Onew, membuat Bells mengerutkan dahinya. “Tunggulah aku pada hari pertama di tahun baru. Aku akan melamarmu dengan cincin ini, Bells,” lanjut Onew, lantas ia meraih kedua tangan Bluebell.

Apa?

Senyum di wajah Bluebell memudar, ada sesuatu yang mengusiknya “Kenapa aku harus menunggu 4 hari lagi? kenapa tidak sekarang?” tanyanya polos, seperti anak kecil yang menuntut mengapa satu tambah satu tidak bisa menjadi tiga.

“Aku harus menyelesaikan kasus itu, Bells.” terang Onew, sorot matanya meredup. Ada gurat tidak senang di wajahnya. Blubell berdecak, “Tidak! Hentikan itu sekarang! Berhentilah menyelidiki kasus itu!! Aku takut terjadi sesuatu padamu dan hari pertama di tahun baru itu tidak akan pernah datang untukku!” Bluebell menggelengkan kepalanya, berbicara dengan intonasi tegas.

“Kumohon, Bells. Sedikit lagi, sedikit lagi aku akan menyelesaikan kasus itu, lalu aku akan melamarmu dan kita akan menikah.” Onew berusaha meyakinkan Bluebell.

“Tidak! Aku tidak bisa menunggu! Aku tidak mau menunggu!” pekik Bluebell tertahan, ia jelas-jelas menahan tangisnya.

Onew menarik Bluebell dalam pelukannya, ia tahu bahwa gadis itu akan segera menangis. “Tidak! Kau tidak boleh membuatku menunggu lagi, Onew. Tidak boleh!” ucap Bluebell terisak, ia memukuli dada Onew ringan. Onew diam, membiarkan Bluebell meluapkan kekecewaannya. Bluebell menangis. Ia takut, takut jika Onew tidak menepati janjinya seperti yang sudah berlalu.

Perlahan Onew melonggarkan pelukannya, menatap wajah merah Bluebell. jari-jari tangannya mengusap bulir-bulir air yang mengalir dari pelupukmata gadis itu. “Look at me, Bells,.” bisiknya. Mata mereka bertemu, “Kumohon. Aku berjanji, kasus ini akan jadi kasus terakhir sebelum kita menikah. Dan aku akan menjadi polisi keamanan kota yang tidak terlibat dengan kasus seperti ini lagi. Kau tahu, Bells? Bukan hanya kau, aku pun merasa lelah dan takut sepertimu. Percayalah.”

Amarah yang sempat terlihat di wajah Bluebell meredup. Ia menangkap ketakutan yang dipancarkan sepasang mata sipit yang tengah menatapnya. “Kau percaya padaku kan, Bells?” tanya Onew, dan dijawab oleh anggukan dari Bluebell. “Maka dari itu, tunggulah aku. Aku berjanji.” Bluebell sempat mengalihkan pandangannya dari mata Onew, tapi tak lama ia menganggukan kepalanya.

“Terima kasih, Bells. Terima kasih karena sudah mempercayaiku. Aku mencintaimu.” bisik Onew. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Bluebell, menempelkan kening mereka. “Aku mencintaimu, Bells. Aku mencintaimu,” bisiknya lagi sebelum ia mengecup singkat kening Bluebell.

***

Lelaki bermata bulat itu mengerutkan dahinya saat membaca apa yang ia tulis dalam notebook-nya selama ia melakukan penyelidikan di Middlewich House. Ia membaca lagi barang-barang bukti temuannya, juga kesaksian para penghuni Middlewich House. Dan yang paling mengejutkannya adalah kenyataan bahwa tidak ada pelayan berwajah Asia di Middlewich House. Ia berdeham, berusaha mengenyahkan sesuatu yang baru saja melintas dalam pikirannya.

Kepalanya kembali memutar klise saat ia masuk ke kamar sang Earl dan tidak menemukan tanda-tanda adanya penyusup dan sejenisnya. Benar-benar pembunuhan terencana yang begitu rapi. Kemungkinannya ada dua. Pertama, si pelaku memang merupakan orang dekat Kim Jonghyun, itu diperkuat dari tidak adanya tanda pembukaan pintu secara paksa maupun bekas perlawanan. Kedua, pelakunya orang lain yang entah bagaimana mengetahui seluk-beluk Middlewich House. Seharusnya pelayan yang dimaksud Onew lah pelakunya, tapi mengapa pelayan itu justru tidak pernah ada?

“Malam itu Tuan Onew berlari ke luar Middlewich House. Aku mendengar suara tembakan beberapa kali dan mendapati Tuan Onew sudah tak sadarkan diri. Tapi Tuan, demi kebaikan Earl Ferrers yang sudah mempekerjakan saya di sini, saya berani bersumpah bahwa Tuan Onew sangat mencurigakan. Di Middlewich House, hanya orang tertentu yang boleh memiliki senjta api. Bahkan Earl sendiri tidak memilikinya. Pasukan penjaga keamanan Middlewich House tinggal di bangunan berbeda yang berjarak dua bangunan dari sini. Perlu waktu lebih dari lima menit untuk melakukan kejahatan terencana sekalipun.”

Kesaksian salah satu pelayan di Middlewich House kembali terngiang di kepala Minho. Dan itu membuat kepalanya pusing. Ia melihat lagi gambar buatannya tentang sketsa luka tembak di kepala Jonghyun. Ia meniliknya lagi, ini bukan tembakan biasa. Pastilah pembunuh itu merupakan penembak terlatih. Buktinya saja, tiga tembakan beruntun yang tepat mengenai bagian vital otak. Minho berpikir, tembakan seperti ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang pernah berlatih menembak. Yeah! Minho pun pernah berlatih menembak.

Tembakan jitu yang langsung mengenai bagian vital, artinya si pelaku sudah tahu di bagian mana yang akan membuat korbannya lumpuh seketika. Seperti seorang polisi yang tengah menembak seorang buronan.

DEG!

Lagi, pikiran Minho hanya tertuju pada satu orang saja yang mungkin melakukan hal itu. Tapi lagi-lagi hatinya menyangkal. Lagipula, orang itu tidak punya motif untuk melakukannya. Minho membuka-buka lagi halaman notebook-nya ke belakang, dan membaca catatan yang ia buat mengenai kasus Taemin. Dalam beberapa baris tertulis.

Lee Taemin, 19 tahun. Tewas dengan pisau yang selalu ia simpan di balik tubuhnya. Terdapat tanda-tanda perlawanan dari korban sebelum akhirnya ia kalah dan mendapatkan tikaman berubi-tubi di tubuhnya. Hanya ada dua sidik jari yang ditemukan, sidik jari Taemin dan Onew hyeong. Onew hyeong bersaksi bahwa ia melihat seorang lelaki dengan coat dan topi gelap, matanya sipit dan tajam. Ia tengah menyeret Elspeth sebelum akhirnya mengejar Onew hyeong ke Winch house. Hal janggal : tidak ada seorangpun di Nobotte Wood yang mengatakan pernah melihat lelaki dengan ciri-ciri seperti yang dilihat Onew hyeong. Terlebih lagi pada hari di mana Taemin tewas.

TOK TOK TOK

Minho terlonjak, dengan cepat ia memasukkan notebook ke dalam saku coat-nya. “Inspektur Skimhead di sini. Boleh aku masuk?” terdengar suara berat lelaki botak itu. “Silakan, Inspektur.” Minho berusaha menenangkan dirinya. Inspektur Skimhead muncul, lalu duduk di samping ranjang-di samping Minho. “Apa yang kau temukan?” tanya sang Inspektur.

“Belum terlalu jelas, Inspektur. Saya perlu beberapa bukti lagi.” Minho menyembunyikan temuannya. Ia belum terlalu yakin, terlebih lagi orang yang dicurigainya tidak punya motif, meski seluruh bukti mengarah orang itu.

Inspektur Skimhead terkekeh, “Ayolah, Minho. Aku tahu kau telah membuat analisa. Mari kudengar.” Desak Inspektur Skimhead. Sebenarnya ia tidak bisa percaya begitu saja pada orang Asia –kecuali Onew. Tapi sungguh, Onew dan Minho benar-benar orang yang sangat berguna dalam membantunya menyelesaikan pekerjaan rumit.

Minho menatap Inspektur Skimhead ragu, mata bulatnya memancarkan sedikit ketakutan. Ia masih menimbang sebelum akhirnya membuka mulut “Inspektur, ada sesuatu yang janggal di sini,” ia memulai. “Janggal? Maksudmu ini tentang Vladimir?” tanya Inspektur Skimhead. “Ini mengenai pelaku yang membunuh Taemin dan Jonghyun hyeong, sekaligus penculik Elspeth seperti yang Onew hyeong katakan,” lanjut Minho dengan suara bergetar.

Inspektur Skimhead memandang mata bulat Minho tajam, seolah tidak sabar mendengar penjelasan Minho. “Ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang Vladimir Fox,” ucap Minho. “Tolong dengarkan Saya dan jangan bertanya hingga saya selesai bercerita.” Minho melanjutkan dan Inspektur Skimhead tidak mengatakan apa pun.

“Vladimir Fox. Bekerja sebagai pengawal Lady Elspeth Windsor. Sebagai pelayan, ia tentu bukan orang sembarangan. Ia telah dilatih sebelum diperbolehkan menjadi seorang pengawal. Seorang pengawal bekerja mengawal Lady ke manapun dan melindunginya dari bandit. Sudah tentu ia pandai bela diri dan tahu bagaimana caranya menembak. Bahkan kemampuan menembaknya setara dengan para polisi. Bukan perkara sulit baginya untuk menghabisi seseorang hanya dalam dua atau tiga tembakan, atau bahkan satu.  Ia juga hafal tata letak kota dan beberapa distrik di kota dekat Scotland Yard. Ia dilatih seperti itu kalau-kalau ada situasi genting yang mengharuskan Lady jauh dari rumahnya. Perawakannya tinggi dan kurus. Punggungnya tegap, dan ia punya senyum menawan seperti seorang bangsawan. Dan Vladimir Fox, dia adalah keturunan Asia dengan mata sipit yang tajam. Begitu tajam seperti rubah. Nama aslinya adalah Key. Dan yang paling penting adalah deskripsi yang disebut Onew hyeong persis dengan rupa Key yang kukenal.”

Minho mendesah, akhirnya ia menceritakan apa yang sempat ia sembunyikan. Ia tahu seharusnya ia melindungi Key karena mereka sama-sama keturunan Asia. Tapi di sisi lain, Minho beranggapan bahwa menceritakan hal ini mungkin bisa sedikit mengecoh Inspektur Skimhead. Inspektur Skimhead jelas terlonjak mendengar ini. Tidak salah lagi! pelaku tunggal dari semua kasus yang dianggap mempermainkan kepolisian Scotland Yard adalah Vladimir Fox. Lelaki botak itu bangkit, “Jadi, sudah pasti dia pelakunya? Apa dia sudah kabur?” tanyanya geram.

“Tidak! Kurasa ia masih ada di Middlewich House. Memang dia lah yang menyamar sebagai pelayan di malam kunjungan Onew hyeong.”

 “APA?” Inspektur Skimhead semakin geram. “Tapi bukankah mereka mengatakan di sini tidak ada-“

“Key seperti adik kesayangan Earl Ferrers. Tentu semua orang akan melindunginya,” sambar Minho. Inspektur Skimhead semakin tak sabaran. Ia yakin bahwa ia akan berhasil menangkap si mata rubah jika ia bergerak lebih cepat. Selain itu, ia yakin bahwa Elspeth pun ada di Middlewich House.

***

Gadis itu menatap sendu ke arah pintu kamar. Sudah satu hari berlalu, tapi lelaki itu tak kunjung bangun. Ia bahkan sudah mengeceknya beberapa kali dan lelaki itu tetap terlelap seperti seorang bayi. Lantas si gadis kembali ke dapur, memakan makan malamnya seorang diri. Ia memberengut kecewa, lagi-lagi Onew tidur. Lelaki itu segera terlelap setelah mereka kembali dari acara jalan-jalan mereka malam itu. Dan ini adalah tanggal 28 Desember, yang artinya Onew telah terlelap nyaris 24 jam.

Bluebell menyantap supnya tanpa selera, pikirannya kembali menerawang pada kejadian malam sebelumnya. Di mana Onew mengatakan bahwa ia begitu mencintainya, dan itu membuat dada Bluebell kembali bergemuruh kencang. Semburat merah telah nampak di wajahnya, ia tidak sabar menunggu hari itu tiba. Hari di mana Onew akan melamarnya dengan cincin itu dan menikahinya. Tapi tak lama, kebahagiaan itu pudar, berganti cemas yang membuncah. Bluebell mengingat lagi kebiasaan tidur Onew yang makin memburuk. Lelaki itu telah beberapa kali tidur dalam waktu yang tidak wajar. Juga kunjungannya ke beberapa Dokter yang membuatnya semakin resah akan keadaan Onew.

Ia mendesah. Dalam hatinya bertekad, ia akan menyeret Onew ke Dokter seperti waktu itu. Tak peduli jika lelaki itu menolak atau bahkan meronta.

Bluebell baru saja hendak naik ke atas ranjang saat ia mendengar teriakan.

“Tidak! Tolong aku! Tolong aku!”

Gadis itu berlari menuju kamar Onew, sementara pikirannya menerawang memikirkan hal yang menakutkan. Belum sampai kakinya menjejak di depan pintu kamar Onew, lelaki itu telah nampak di hadapannya, berjalan sempoyongan sambil menggigit kuku jari tangannya.

 “Tolong aku! Dia akan membunuhku!” teriak Onew lagi, ia terlihat begitu histeris. Bluebell berlari dan segera meraih kedua tangan Onew. “Onew, apa yang terjadi? siapa yang akan membunuhmu?” tanyanya panik. Tapi Onew menghiraukannya, seolah Bluebell tak nampak di hadapannya.

“Tidak! Tolong aku! Menjauh dariku!” teriaknya lagi, kali ini ia menutup kedua telinganya dengan tangan. Mendudukkan dirinya di sudut ruangan dengan kedua kaki yang ditekuk. “Tidak! Menjauh dariku!” kini Onew membenamkan wajah di antara lututnya, kemudian mulai terisak seperti anak kecil.

Bluebell menghampiri Onew dengan kepanikan yang telah mencapai ubun-ubun. Ia menyentuh bahu Onew, “Onew, apa yang terjadi? Ini aku, Bluebell.” bisik Bluebell. Onew masih terisak, “Tolong aku! Tolong aku!”

Perlahan lelaki itu mengangkat wajahnya, memandang Bluebell dengan wajah bercucuran air mata. Ia benar-benar terlihat ketakutan, seperti seorang anak kecil yang baru saja bermimpi buruk. “Tenanglah, aku di sini. Siapa yang mengejarmu?” tanya Bluebell sendu. “Bells,” panggil Onew, lelaki itu kemudian berhambur ke arah Bluebell dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat gadis itu. “Tolong aku, Bells. Aku takut! dia akan membunuhku!” gumam Onew di tengah isakannya.

Meski bingung, Bells tetap memeluk lelaki itu. Berusaha memberikan ketenangan untuknya. “Tenang, aku di sini. Kau akan aman.” Gumam Bells, meski dalam pikirannya ia merasa ada yang aneh dengan Onew. Onew benar-benar seperti seorang anak berusia 10 tahun.

***

Onew terus tertidur setelah kejadian malam itu. Ia sesekali terbangun dan berteriak histeris. Meneriakkan hal yang sama bahwa ada orang yang akan membunuhnya. “Lelaki bermata rubah itu! Dia penculik Elspeth! Aku lah sasaran berikutnya!”

30 Desember, Bluebell tidak tahu lagi bagaimana cara menenangkan Onew setiap kali lelaki itu terbangun dan berteriak histeris. Tapi tak lama, Onew akan kembali tertidur dan melakukan hal yang sama. Bluebell melirik lagi Onew yang terlelap di atas ranjang, wajahnya begitu damai seperti seorang bayi. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Onew, lalu menyibakkan anak rambut yang menghalangi mata Onew. “Tunggulah di sini,” bisik Bluebell sebelum akhirnya ia mengecup kening Onew. Gadis itu lalu beranjak, meninggalkan Onew. Ia berencana menemui beberapa Dokter untuk memeriksa Onew. Uangnya memang tidak banyak, tapi uang yang selama ini ia tabung akan cukup untuk membayar Dokter.

***

Onew terbangun dari tidurnya saat mendengar suara dua orang yang tengah beradu mulut di dekatnya. “Kau yang membunuh Taemin dan Jonghyun hyeong! Mengakulah! Semua bukti mengarah padamu-“ ucap sebuah suara berat.

“Hentikan! Tutup mulutmu jika kau tidak ingin bernasib sama dengan dua orang itu!” tanggap suara lain yang lebih nyaring dan rendah.

“Berhentilah bermain api! Kau tidak punya celah lagi untuk mengelak. Kembalikan Elspeth dan larilah jika kau ingin selamat,” ancam si suara berat. Lantas laki-laki yang satunya lagi tertawa melengking. Membuat bulu kuduk Onew meremang.

“Kau pikir aku takut? bahkan aku bisa membunuh satu kompi polisi sekalipun!” ancamnya geram. Onew bangkit dari ranjangnya, mengambil pistol dalam saku seragamnya dan mengendap menuju dapur –di mana pertengkaran tengah terjadi.

Onew memang tidak tahu mengapa dua laki-laki yang ia duga sebagai Minho dan Key itu bisa ada di rumah Bluebell dan Oh! Bluebell! Di mana gadis itu? Jangan-jangan Key…

Pikiran Onew terhenti saat tangannya begitu saja membuka pintu kamar perlahan. Onew mengintip melalui celah pintu. Satu laki-laki bertubuh tinggi yang tentu saja adalah Minho, dan laki-laki lain yang lebih pendek yang tidak bisa ia lihat wajahnya dengan jelas. Laki-laki itu memakai topi dan coat gelap.

DEG!

Seketika jantung Onew berpacu cepat. Lelaki itu sudah pasti Key! si mata rubah yang merupakan dalang dari semua kasus yang ada. Onew mengendap perlahan, berusaha tidak membuat suara. Ternyata penyelidikan Minho membuahkan analisis yang sama dengan dirinya bahwa Key lah dalang dari semua kasus ini.

“Haha! Kurasa kau juga harus mati seperti Taemin dan Earl.”

KLEK KLEK

Si mata rubah memasukkan selongsong ke dalam senjata apinya, lalu menodongkannya ke hadapan Minho. Minho bergeming, jelas-jelas ia ketakutan. “Tu..tunggu dulu! aku sudah menawarkan padamu untuk melarikan diri. Aku berusaha membantumu h-“

DOR

 Satu tembakan tepat di kening Minho sukses membuat lelaki itu kehilangan nyawa. Ia bahkan tidak sempat menyelesaikan kalimat yang telah ada di ujung lidahnya. Tubuh Minho menggelepar di atas lantai, kedua matanya terbelalak dan tak lama ia berhenti bergerak. Onew membungkam mulutnya. Ia menyesal tidak bisa menyelamatkan Minho karena terlalu santai. Di luar itu, ia seharusnya telah mengantisipasi bahwa Key akan bertindak jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan siapapun.

“HAHAHAHAHAAHA!!!” Key tertawa, tertawa dengan suara melengkingnya yang menakutkan. Ia menatap puas mayat Minho. Seperti seekor singa jantan yang baru menang melawan singa jantan lainnya. Onew mengendap mendekati Key. Ia berniat untuk berada di belakang Key dan menembak lelaki itu. Jantungnya berdebar keras tiap kakinya mengambil langkah. Sudah lama ia menantikan saat ini. Dengan ini, ia akan bebas dari segala tuduhan dan akhirnya berhasil mengungkap kasus pelik menyebelkan itu. Ya, dengan menyelesaikan kasus ini, ia akan hidup tenang bersama Bluebell!

Susah payah akhirnya Onew berada di belakang Key, pistolnya tertodong tepat di bagian otak kecil Key. Satu tembakan akan menghilangkan nyawa Key kurang dari satu detik. Nafas Onew tertahan, peluh mengalir di kedua pelipis dan keningnya. Ia terus mengulang serantai kalimat di dalam hati.

Semua akan selesai dengan satu tembakan… semua akan selesai dalam satu tembakan….

Sebutir keringat kembali jatuh. Ia mengambil nafas di sela rasa sesak yang mulai menyerang dada. Dengan tangan gemetar, Onew telah bersiap menarik pelatuk. Ya, hanya satu tembakan… hanya satu tembakan…

“Tidak semudah itu!”

Key berbalik, sebelah tangannya bergerak cepat memelintir tangan Onew dalam satu gerakan. Onew terlonjak, ia langsung meronta keras, melepaskan diri dari cengkraman kuat Key. Dengan cepat ia berlari menuju kamar. Sayangnya ia gagal, Key telah lebih dulu mendorong meja dan melumpuhkan langkah Onew. Onew tersungkur ke lantai dengan pistol yang nyaris terlepas dari genggamannya.

 “Jangan main-main, Key! kau akan mati di tanganku!” pekik Onew, ia berusaha bangkit kemudian berlari menuju kamar.

“Dalam mimpimu!”

Kali ini Onew hanya dapat melihat bibir pucat yang tengah tersenyum dingin ke arahnya. Kedua mata rubah itu tersembunyi di balik topi. Entah kenapa suara itu terdengar amat familiar. Namun Onew tak lagi mampu berpikir saat Key maju dan menyerang dirinya.

Keduanya terlibat dalam pergulatan sengit, adu tinju dan tendang. Cakaran dan geraman. Erangan dan suara amuk memenuhi ruangan, disambut suara barang berjatuhan tak terkendali. Key mengunci tubuh Onew dengan menindihnya. Sebelah tangannya menggenggam pisau yang baru ia cabut dari saku belakangnya. Gila! Pisau itu persis pisau yang menrenggut nyawa Taemin. Onew belum mau mati di sini, ia harus bertahan hidup!

Dengan sekali tendangan kuat ia berhasil menjatuhkan Key dan langsung bangkit berdiri. Key hendak kembali melawan, namun Onew langsung menendangnya hingga lelaki itu tersudut di kamar Onew. Opsir muda itu langsung mengarahkan pistol yang ia genggam susah payah sejak tadi ke arah Key. Nafasnya sesak tak karuan, bersamaan dengan peluh yang membanjiri sekukur tubuhnya. Anehnya, tawa Key malah membahana memenuhi ruangan, seakan bukan dia yang kalah dalam pertarungan sengit itu. Lelaki itu membalikkan tubuhnya menghadap Onew. “Kau menang!” ucapnya, entah bagaimana pisau yang tadi ia genggam telah berganti dengan pistol serupa yang tengah digenggam Onew. Mulut senjata itu tertodong tepat ke arah Onew. Masih dengan nafas terengah, Onew mendekati Key hati-hati. “Tetap di tempatmu!”

Key diam saat Onew terus mendekat. Sebenarnya Onew bisa saja menembak Key saat itu juga. Tapi rasa penasaran yang begitu besar terlalu mengusainya. Ia ingin melihat wajah Key sepenuhnya, selama ini topi gelap itu selalu menghalangi pandangannya. Ia ingin memastikan bahwa Key adalah pelayan yang ia temui di Middlewich House.

Satu, dua, tiga…

Langkah Onew semakin mendekat. Perlahan kegelapan yang menutupi wajah Key memudar, tergantikan dengan cahaya yang menerpa kulit putihnya. Cahaya itu terus bergerak, memperlihatkan bibir dan hidung Key dengan jelas. Seperti mengerti keinginan Onew, Key kemudian melepaskan topi yang selama ini menutupi sebagian wajanya. Seringaian tampil jelas lewat bibir dan cahaya manik coklat yang tertuju pasti pada Onew. Topinya mendarat mulus di lantai saat bibirnya pun mengatakan jelas satu kata.

“PEMBUNUH!!!”

Tidak…ini tidak mungkin!!

Ini tidak dapat dipercaya!!

Gila! Benar-benar gila!!

Pasti ada yang tengah mempermainkanku saat ini!

Onew terbelalak, kedua matanya nyaris melompat. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kepalanya berputar-putar, ia seolah sedang bermimpi. Apa yang ada di hadapannya seharusnya Key, lelaki berwajah Asia dengan mata setajam rubah. Tapi bukan itu yang ditangkap matanya, bukan itu! Ia seakan merasa takdir tengah mempermainkannya. Tentu, ini sangat tidak logis! Seharusnya yang ia lihat adalah sosok Key, sosok pria bermata rubah dengan kulit putih pucat dan seringaian lebar di wajahnya! Seharusnya yang ia lihat adalah sosok yang persis dengan pelayan di Middlewich House!!

Tapi bukan itu yang ia lihat…

Mata itu, hidung itu, bibir itu… Ia tidak melihat Key di manapun. Yang terpampang jelas di depannya adalah sesosok pria yang tengah menodongkan pistol ke arahnya. Pria yang tengah terpampang di permukaan tipis cermin. Demi Tuhan! Itu dirinya!! Itu bayangan dirinya!!

“Tidak mungkin!” pekiknya ketakutan. Ia berbalik ketika mengingat bahwa Minho telah mati. Ia berlari ke dapur. Dan benar saja! Minho terkapar tak bernyawa di atas lantai dengan tembakan di kepalanya. Onew menjauh, menggelengkan kepalanya cepat. Ia kemudian membuka selonsong pistolnya, dan mendapati hanya satu peluru yang berkurang. “Tidak mungkin! Tidak mungkin!” ia berteriak, menutup kedua telinga dengan tangannya. Matanya menatap langit-langit seolah ada yang tengah mengawasinya.

***

Minho baru saja turun dari kereta kuda. Menatap rumah kayu berwarna putih di hadapannya. Begitu rapi dan indah, ia yakin bahwa gadis pemilik rumah itu sama cantiknya dengan rumah yang tengah dipandanginya. Ia melangkah, memasuki halaman rumah dan mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban. Ia tahu ini tidak sopan, tapi ia harus segera menemui Onew.

Benar! Hasil analisanya menunjukkan bahwa seluruh bukti pembunuhan mengarah pada Onew. Hanya laki-laki itu yang paling mungkin membunuh Taemin dan Jonghyun. Di hari pertama kunjungannya ke Winch house, lelaki itu menanyai semua orang mengenai Key. Dan Taemin lah yang ia curigai terlibat dalam penculikan Elspeth. Onew lalu pamit pulang, ia berhalusinasi bahwa ada orang yang tengah menyeret Elspeth dan mengejarnya. Saat itu lah Taemin datang, berusaha menolong. Tapi malangnya, Onew yang sudah tahu di mana Taemin menyembunyikan pisau segera meraih pisau itu. Lalu menikam Taemin bertubi-tubi. Setelah itu ia tertidur selama lima hari agar bebas dari tuduhan. Di hari di mana ia berkunjung ke Middlewich House. Kecurigaannya berpindah pada Jonghyun, ia berjalan dalam tidurnya sambil memegang pistol. Dengan mudah masuk ke kamar Jonghyun yang hanya berjarak sepuluh kamar dari kamarnya. Tanpa basa-basi, ia menembak Jonghyun tepat di kepalanya. Melumpuhkan sang Earl tak lebih dari 30 detik. Lalu ia berlari di koridor, seolah mengejar lelaki bertopi gelap yang telah menembak Jonghyun.

Yang paling menguatkan analisis Minho adalah keadaan Onew yang janggal. Jam tidurnya yang tidak normal, serta emosi lelaki itu yang tidak stabil. Memang, halusinasi amat sulit diterima logika. Tapi Minho yakin dengan pasti bahwa Onewlah pelakunya, bahkan walau tanpa motif sekalipun.

Minho yakin Inspektur Skimhead tidak akan percaya analisisnya dan pastilah ia akan terkejut karena opsir kesayangannya itulah pelaku pembunuhan Taemin dan Jonghyun. maka dari itu, Minho telah mengecoh sang Inspektur untuk mengejar Key. Tapi tentu saja Minho tak mengatakan di mana Key sebenarnya. Minho memang tahu bahwa Key lah yang menjadi pelayan malam itu. Ia bahkan menyelinap ke bangunan tempat tinggal para pelayan untuk menemui Key. Lelaki bermata rubah itu bahkan menangis di hadapannya, meminta Minho untuk melepaskannya dan membiarkan ia dan Elspeth menjauh dari Scotland Yard.

Minho membuka pintu. Tidak di kunci! “Selamat siang! Onew hyeong,” panggilnya, tak ada jawaban. Ia melangkah lagi menuju ruangan lain yang segera ia ketahui sebagai dapur. “Hyeong, kau di sana? ini aku, Choi Minho.”

KLEK

Pintu tak jauh dari dapur terbuka, menampilkan sosok Onew yang seperti orang linglung. “Hyeong, aku-“

“Diam di situ!” Minho terlonjak, ia menahan langkahnya karena kini opsir itu tengah menodongkan pistol padanya. Sorot mata lelaki itu tampak aneh, seakan kosong dan dingin. Benar-benar bukan Onew yang biasanya. “Hyeong, tolong turunkan pistol itu. Kau membuatku takut.” pinta Minho tenang. Ia tahu, Onew melakukan dua pembunuhan tanpa disadari, dan kali ini bisa saja Onew melakukan hal serupa padanya.

“Kau yang membunuh Taemin dan Jonghyun hyeong! Mengakulah! Semua bukti mengarah padamu-“ ucap Minho.

“Hentikan! Tutup mulutmu jika kau tidak ingin bernasib sama dengan dua orang itu!” balas Onew garang.

“Berhentilah bermain api! Kau tidak punya celah lagi untuk mengelak, Onew hyeong. Larilah jika kau ingin selamat.”

“Kau pikir aku takut? bahkan aku bisa membunuh satu kompi polisi sekalipun!” ancam Onew geram.

Minho berusaha mundur perlahan, tidak mau sedikit saja pergerakannya akan menimbulkan hal fatal.

“Haha! Kurasa kau juga harus mati seperti Taemin dan Earl.”

KLEK KLEK

 “Tu..tunggu dulu! aku sudah menawarkan padamu untuk melarikan diri. Aku berusaha membantumu h-“

DOR

Satu tembakan telah merenggut nyawa Minho kurang dari satu detik. Tubuh Minho menggelepar, kedua matanya terbelalak. Tamat sudah riwayat detektif yang baru beberapa hari bergabung dengan tim impiannya itu. Setitik penyesalan muncul di hati Minho sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

***

Bluebell membeku dalam duduknya. Ia tidak percaya dengan apa saja yang baru Dokter ucapkan tentang Onew. “Dokter, apa Anda yakin? Mungkin saja ada yang salah.” tanya Bluebell berusaha menghibur diri. Tapi sayanganya, sang Dokter kembali mengucapkan hal yang sama.

“Sindrom Kleine-Levin atau disebut juga Sleeping Beauty. Menyerang satu dari satu juta orang di dunia. Penderita akan mengalami episode panjang dari tidurnya. Gejala awal, penderita akan mengeluh lelah dan perlu tidur. Ia akan tetap merasa seperti itu meski ia telah terlelap beberapa hari tanpa bangun. Pada episode kedua tidurnya, ia akan tidur lebih lama dari tiga hari dan bangun jika lapar dan ingin buang air. Ia akan marah jika seseorang mengusiknya ketika ia ingin tidur. Pada episode berikutnya, keadaan akan semakin buruk. Penderita akan bertingkah seperti anak kecil dan ketakutan. Ia akan mengalami hal menakutkan dalam mimpinya yang ia anggap seperti nyata. Dan kenyataan yang seolah seperti mimpi. Ia akan mengalami kebingungan dan tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan. Penyakit ini tidak bisa sembuh, Miss Constantia. Dan sampai saat ini belum ditemukan apa penyebabnya. Teman Anda akan mengalami episode ketiga dalam tidurnya yang akan memakan waktu lebih dari dua bulan, bahkan mungkin enam bulan. Lambat laun, ia akan melupakan memori dalam kepalanya.”

Bluebell tidak bisa mengucapkan apa pun. Ini adalah Dokter ke lima yang ia datangi, sekaligus Dokter ke tiga yang mengatakan hal serupa-bahwa Onew terkena Sindrom Kleine-Levin. Gadis itu hanya diam, dan tak lama setetes air mata meluncur bebas membasahi pipinya. Apa yang harus ia lakukan pada lelaki yang amat dicintainya? Onew akan melupakan segalanya, segala yang terjadi antara mereka, dan bahkan mungkin akan melupakan Bluebell.

Gadis itu mulai terisak, dan tanpa sadar menangis di hadapan Dokter. Ia membekap mulut dekat kelima jari tangan kanannya yang terasa dingin. Sungguh! Batinnya mengatakan kali ini ia akan benar-benar kehilangan Onew.

***

Angin dingin masih berhembus, ikut membekukan hati pejalan kaki Kota London yang masih berjalan dengan pongahnya. Kuncup hijau daun masih enggan mengisi ranting kering, bahkan salju pun masih enggan mencair. Langit masih tampak gelap, seakan ikut merasakan mendung yang tengah malanda hati beberapa penduduknya. Waktu masih berjalan seperti biasa, tetap tak mau ditarik mundur meski ratusan penduduk kota itu memohon-mohon sekalipun. Itu pulalah yang dirasakan seorang gadis berambut merah yang tengah melangkah gontai menuju satu bangunan putih kusam yang tak begitu jauh darinya.

“Oh, Miss… Kau datang lagi?” sapa seorang petugas jaga yang tengah berdiri di samping gerbang. Gadis itu hanya menyunggingkan seulas senyum yang dipaksakan. Ia kembali melanjutkan langkahnya ke dalam. Lelaki tadi hanya menggelengkan kepalanya prihatin, “Sayang sekali untuk gadis muda secantik dirinya… Apa dia tidak sadar tak ada lagi gunanya menanti orang yang tak lagi jelas kapan kembali bermasyarakat?”

Beberapa perbincangan dengan petugas yang biasa ia temui dan ia pun diminta menanti di ruang biasa yang ia datangi. Matanya menatap sekeliling dengan sendu, tak tahu sampai kapan ia akan tetap mendatangi ruangan itu di masa depan nanti. Di sana amat tenang, hanya ada satu meja kayu dan beberapa kursi coklat yang mengelilinginya. Di atas meja terletak sekeranjang makanan yang gadis itu bawa bersamanya.

KLEK

Suara pintu mengusik ketenangan gadis itu, membuat campuran rasa menyerbu hatinya. Di ambang pintu berdiri seorang lelaki yang tengah menunduk dengan gurat lelah memenuhi wajahnya. Pandangan lelaki itu kosong. Tangannya yang terborgol, sementara kakinya melangkah lemas menuju kursi di seberang gadis itu. Si gadis kembali memaksakan senyum saat lelaki itu dapat ia pandang dengan leluasa di hadapannya. Petugas yang mengantarkan lelaki itu undur diri, menonton keduanya lewat kaca transparan yang membatasi ruangan.

“Hai.” sapa si gadis.

Lelaki itu mengerjapkan sepasang mata sipitnya sesaat sebelum bertanya dengan suara parau, “Kau siapa?”

Sungguh, pertanyaan itu menusuk hati si gadis. Dadanya mulai terasa sesak sementara air mata hendak menjebol keluar kelopak matanya. Ia meraih tangan lelaki itu dengan gemetar. “Onew, ini aku…. Aku Bluebell…” ujarnya dengan suara bergetar.

“Oh, Bells… Itu kau…,” jawab si lelaki dengan nada datar. Matanya beralih memandang Bluebell dengan tatap kosongnya, “Maaf… entah kenapa aku tak bisa mengingat dengan jelas. Kurasa akhir-akhir ini aku terlalu lelah.” gumamnya murung. Pandangannya beralih pada keranjang yang dibawa Bluebell dan gadis itu dengan segera mengeluarkan isinya. Onew menatap seluruh makanan itu sesaat sebelum menyambarnya dan melahapnya. Ia seperti pengemis yang tak makan berhari-hari.

“Bagaimana tidurmu?” tanya Bells, berusaha diperhatikan dan mengalihkan pembicaraan.

“Tidak lebih baik.” jawab Onew di sela kunyahannya. Gadis itu tertunduk lemas. Sudah satu tahun Onew berada di rumah sakit jiwa itu dan tak ada satupun pengobatan yang berhasil menyembuhkannya. Sungguh! Onew tidak gila! Dia menderita Kleine-Levin. Tapi tidak ada yang memepercayai Bluebell. Inspektur Skimhead. Yeah! Lelaki yang selama ini menjadikan Onew sebagai opsir terbaiknya lah yang justru menjebloskan Onew ke rumah sakit jiwa ini. Ia terlampau kecewa bahwa pelaku dari kasus yang rumit itu adalah opsir kesayangannya.

Onew. Keadaannya semakin hari malah semakin buruk. Terakhir Bluebell dengar lelaki itu tertidur selama empat bulan dan hanya bangun untuk makan dan buang air. Sungguh, hidup macam apa itu?

“Apa ada hal lain yang kau butuhkan?” tanya Bluebell lagi. Lelaki itu tak menanggapi. Ia hanya terus mengunyah makanannya dalam diam. Bluebell yakin, sebentar lagi lelaki itu akan kembali tertidur dalam waktu yang lama. Buliran air mata akhirnya meluncur di pipi mulusnya.

“Onew,dengarlah… Mungkin ini terakhir kalinya aku mengunjungimu….”

Onew menghentikan gerakannya. Ia mendongak menatap Bluebell, matanya menyiratkan keterkejutan. Gadis itu mulai terisak dengan sebelah tangan berusaha menahan laju tangisnya. “Aku…aku sudah tidak bisa menunggumu lagi. Aku tidak bisa begini selamanya… Aku…aku harus menikah,” isakan gadis itu semakin kuat, “…dan sudah ada yang melamarku…”

Onew membatu di tempatnya. Matanya semakin berisi, kesadarannya semakin penuh. Akhirnya ia menangkap apa maksud Bluebell. Gadis itu menggenggam erat tangannya, geraknya masih bergetar hebat, “Untuk kali ini saja…untuk kali ini saja… Maukah kau mengatakan kau mau melepaskanku? Katakanlah kalau kau ingin aku berbahagia maka aku akan menikah sesuai dengan permintaanmu berbulan-bulan lalu… Kumohon…”

Onew bangkit tiba-tiba dari duduknya. Dengan gerak cepat ia memeluk gadis itu. Tatapannya menyiratkan rasa takut. “Tidak, Bells…! tidak bisa! Tidak boleh!! Kau tidak bisa meninggalkanku sendiri begitu saja!! Jangan tinggalkan aku, Bells.” ujarnya dengan suara parau bergetar. Matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir yang sama derasnya dengan air mata Bluebell. Gadis itu balas memeluk Onew dan melanjutkan tangisnya. “Aku…aku mencintaimu, Bells!! Aku mencintaimu… tolong, jangan tinggalkan aku……….”

“Aku…aku juga mencintaimu, Onew… terlalu mencintaimu…”

Keduanya hanyut dalam laju air mata yang masih mengalir deras. Onew mendongakkan kepalanya, hendak menghapus genangan air di pipinya. Namun matanya malah menangkap satu sosok yang berdiri di sudut ruangan, sosok ber-coat coklat dan bertopi hitam yang tengah menyunggingkan senyum ke arahnya. Hatinya langsung dicengkram rasa takut dan tanpa sadar ia langsung mendorong gadis di pelukannya.

“Tidak! Menjauhlah dariku!! Jamgan ganggu aku! Jangan bunuh aku!! TOLONG!!!”

“Onew…” Bells menatap bingung sekaligus panik lelaki itu. Onew beranjak ke sudut ruangan, menyembunyikan kepalanya dalam lipatan lengan dan lututnya. Ia terus menangis kencang dan berteriak ketakutan seperti melihat hantu. “TIDAK! Menjauh dariku!! Menjauh dariku!!”

“Onew…”

Petugas yang mengawasi langsung masuk ke dalam begitu melihat pemandangan tersebut. Bluebell langsung ditarik mundur sementara dua petugas lain berusaha menyuntikkan obat penenang pada Onew. Laki-laki itu terus meronta keras, bahkan berbagai makian dan teriakan minta tolong terus meluncur dari mulutnya. Bluebell berusaha keras mendekatinya, tapi petugas terus menarik paksa dirinya.

“Tidak! Onew! Kumohon…aku ingin melihat kondisinya!” racau Bluebell. Gadis itu terus dipaksa meninggalkan ruangan. Begitu pintu tertutup, Bluebell tak lagi mendengar teriakan Onew. Lelaki itu tampak kembali tak sadarkan diri, kembali tenggelam kepada ketidaksadaran yang menguasainya berbulan-bulan hingga menjeratnya dalam satu kasus yang bahkan tak ia ketahui pasti kebenarannya.

Blubell terisak di tempatnya. Hatinya begitu terluka. Onew tidak menepati janji untuk melamarnya pada hari pertama tahun baru. Bahkan satu tahun telah berlalu, dan hari pertama di tahun baru yang Bluebell nanti tidak pernah datang menghampirinya.

=FIN=

-EPILOG-

Lelaki bermata sipit itu menyesap lagi teh dalam cangkirnya. Ia menatap ke luar jendela yang ditutupi salju. Wajahnya berseri-seri. “Apa yang sedang kau lakukan, Key?” tanya seorang gadis yang kini menghampirinya. Gadis itu berkulit putih dan bermata biru, rambut ginger-nya ia biarkan terurai. “Aku sedang menikmati hidupku bersamamu, Elspeth.” Key menaruh cangkirnya ke atas meja, lalu memeluk Elspeth.

“Kau bahagia?” tanya Key, dan dijawab oleh anggukkan kecil dari Elspeth. Key melonggarkan pelukannya, kini ia menatap mata biru Elspeth. Meraih wajah gadis itu agar menatapnya, “Benarkah kau bahagia meski kini kau bukan seorang Windsor lagi?” tanya Key serius. Elspeth tersenyum manis, ia mengusap pipi Key.

“Aku tidak peduli dengan kekayaan dan gelar kebangsawanan yang selama ini kumiliki. Aku tidak memerlukannya, Key. Satu-satunya yang kuperlukan adalah dirimu. Dan aku sangat bahagia menjadi Elspeth Fox.” ucapnya riang. Keduanya kemudian tertawa, sebelum akhirnya mendekatkan wajah mereka. Saling memberi kehangatan di tengah dinginnya salju di luar sana.

Benar! Key akhirnya melarikan Elspeth ke tempat yang jauh dari Scotland Yard. Kini mereka tinggal di Roseend di desa Rosegate. Sebuah rumah di daerah peternakan dan perkebunan yang luas. Key akan memulai hidup barunya dengan Elspeth. Ia akan bekerja sebagai seorang petani dan peternak. Dirinya telah merangkai apa-apa saja yang akan ia lakukan untuk Elspeth.

Ia mendesah lega, setelah perjalanan yang begitu panjang. Akhirnya Tuhan merestui ia dan Elspeth untuk bersama. Meski Taemin dan Jonghyun harus menjadi korban. Benar, kedua laki-laki itu telah membantunya dalam melarikan Elspeth. Mereka bahkan melakukan begitu banyak hal untuk melindungi Key. Taemin yang membuat kesaksian palsu mengenai malam hilangnya Elspeth, lalu ia yang selalu mengantarkan makanan ke tempat persembunyian pertama mereka di sebuah rumah kumuh di gang sempit. Lalu Jonghyun yang begitu berbesar hati memberi mereka tempat untuk bersembunyi meski pada kenyataannya Key tahu Jonghyun menyukai Elspeth.

Key berjanji untuk membahagiakan Elspeth dan tidak akan pernah meninggalkan gadis itu. Mengorbankan apa yang ia punya, seperti pengorbanan yang telah dilakukan Elspeth untuknya. Juga yang telah dilakukan Taemin dan Jonghyun yang bahkan mengorbankan nyawa mereka.

=FIN=

4 thoughts on “Unconscious Case – Part 5 [END]

  1. Eerr komenku g msuk lg trnyata -_-
    okey komen ulang!

    Nahh kann kayak dazzling auntumn..
    Jinki yg ngebunuh tp g sngaja dan karena Sleeping Beauty Syndrom? O.o
    astagaa aku br tau kalo penyakit ini bisa seberbahaya ituu..

    Ahh iya chukkaehamnida \(^^)/ ff km menang!
    ff klian ini emang keren, dae to bakk ^^)b skali lg chukkae ditunggu krya” selanjutnya^^

    • kayanya wp aku nya lagi error nih, beberapa kali komenmu ga masuk yah?

      .ekekek. udah gampang ketebak yah jalan ceritanya? ^^v
      setau aku sih kalo seberbahaya sampe ngebunuh gtu masih dalam imajinasi aku, cma kepikiran pas baca sindrom ini bkin orang gbsa bedain mimpi dan kenyataan. kayanya begitu doang jg udh nyeremin dan bahaya juga.hhe.

      Ne, ga nyangka nih menang. Pdahal masih banyak kekurangan.hhe. tapi memotivasi diri u/lebih baik lagi.
      Ne, nantikan karya2 berikutnya, juga karya duet bareng Bella
      Thank u, Ummul😉

  2. Hai eon, reader baru dan langsung baca ff ini hari ini juga.
    Tuhkan benar, sesuai dugaanku Onew itu pelakunya. *bangga

    Ceritanya daebak kayak lagi baca novel!! \(^^)/
    Oh ya, chukhahamnida ff ini jadi juara!! Ditunggu ff selanjutnya^^

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s