Archangel – part 13 [SKIP]

archangel

Archangel – Part 13

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Nicole [KARA]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : NC 17 [Skip version]

Hye ri dan Key tiba di kamar mereka, keduanya terlihat begitu lelah dengan acara jalan-jalan di hari terakhir di Paris.

Beberapa tas kertas dihempaskan Hye ri begitu saja ke lantai, ia tidak tahu bahwa ia dan Key sudah berbelanja sebegitu banyak.

Jinjja! Ia rasa Key lah yang menjadi yeoja saat ini, ia bahkan tidak bisa mengontrol nafsu berbelanja nya saat melihat beberapa barang bagus. Dan Hye ri yakin mereka memerlukan bagasi tambahan saat pulang ke Seoul nanti.

Hye ri masih merebahkan tubuhnya di atas sofa – berdampingan dengan Key- saat Key tiba-tiba memeluknya, menghirup aroma rambutnya dalam-dalam.

Keduanya saling berpandangan, “I love you, baby.” Bisik Key tiba-tiba sebelum akhirnya ia menciumi wajah Hye ri. Menciumi mata, hidung, pipi dan kemudian menyentuh bibir Hye ri dengan bibirnya.

Perlahan Key menarik tubuh Hye ri agar yeoja itu terduduk, dan dalam hitungan detik  decakan-decakan kecil mulai menggema dalam kamar hotel.

Ciuman itu terjadi begitu saja, sentuhan lembut dan hangat telah berubah menjadi sentuhan yang memburu dan sedikit tergesa-gesa.

Hye ri masih terbuai dengan ciuman panasnya dengan Key saat tangan Key yang telah berada di pinggang nya itu kembali naik dan berhenti tepat di samping bagian sensitif Hyeri. Hye ri membelalakkan kedua matanya cepat.

Didorongnya dada Key cepat dan melepaskan ciuman mereka “Stop it!”

Nafas Hye ri tersengal dan ia mulai ketakutan. Minho belum pernah menyentuhnya seperti ini.

Key tidak menghiraukannya dan kembali melanjutkan yang sempat tertunda. Hye ri ketakutan, yeoja itu tidak lagi merasa terbuai dengan ciuman Key seperti biasanya. Berkali-kali ia berusaha menjauhkan Key dari tubuhnya, mengatupkan bibirnya agar ciuman panas itu tidak seliar sebelumnya.

Tubuh Hye ri mulai gemetar, ia tidak bisa menahan rasa takutnya atas semua sentuhan Key yang semakin menjadi di setiap inchi tubuhnya.

STOP IT!!!” kalimat itu kembali meluncur dari mulut Hye ri seiringan dengan tersungkurnya tubuh Key ke atas lantai.

Kesadaran Key baru kembali, ia terkejut dengan perlakuan Hye ri yang sedikit kasar. Apa ia baru saja melukai yeoja itu?

Hye ri memandang Key dengan mata yang dipenuhi ketakutan, sedetik kemudian pandangan itu berubah menjadi pandangan mengiba.

Key bangkit, kemudian mendekati Hye ri “Mianhae aku…”

“… jangan sentuh aku seperti itu!” Potong Hye ri cepat, ia telah menaruh satu tangan di depan dada nya, sementara satu tangannya lagi ia julurkan ke arah Key seolah melarang namja itu untuk mendekat.

Key berjengit, apa yang baru saja ia dengar? Ia tidak boleh menyentuh Min Hye ri? Istrinya sendiri?

“Min Hye ri kita sudah menikah.” Key berusaha tenang, ia tidak mau menerima jika Hye ri menolaknya seperti itu.

Hye ri sempat menghindar saat Key berusaha mendekapnya, yeoja itu terlihat sangat ketakutan dan mulai menangis.

Sorry, aku membuatmu takut…” Key berusaha mendekap istrinya lebih erat.

Tapi dengan cepat Hye ri segera meloloskan tubuhnya dari dekapan Key, ia memandang Key tajam “… jangan pernah menyentuhku seperti itu!” ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“… jangan pernah hingga aku mengijinkanmu menyentuhku!” ia memandang Key sekali lagi sebelum akhhirnya berlari menuju kamar mandi dan mengunci diri di sana.

Key diam, ia tidak sedang bermimpi kan? Apa yang diucapkan Hye ri?

Seketika rasa sesak itu menyeruak memenuhi dada nya, membuatnya seolah sulit bernafas. Mengapa Hye ri masih menolaknya meskipun mereka telah menikah? Dan bahkan Hye ri pun telah berjanji untuk berusaha mencintainya.

Key tersenyum pahit, benarkah hidupnya akan semenyedihkan ini? Ia tahu Hye ri belum mencintainya, tapi apakah ia harus menolaknya seperti tadi?

***

Salju turun cukup lebat pagi itu, menutupi seluruh jalanan kota. Tapi itu tidak menghalangi orang-orang untuk melakukan aktifitasnya di luar rumah, termasuk yeoja yang baru keluar dari sedan merah nya.

Ia mengeratkan coat merah muda nya lagi saat ia mulai menyusuri trotoar, kedua tangannya yang dibalut sarung tangan ia gosok-gosokkan sambil sesekali menghembuskan uap dingin dari mulutnya.

Rush our segera ia dapati begitu memasuki lobi kantor, beberapa orang terlihat berlarian dan berlalu lalang.

Cuaca buruk semalam membuat semuanya menjadi kacau, Aeri yakin mereka terlelap dalam tidurnya di antara badai salju semalam.

Tapi tidak dengan Aeri, kedua matanya terlihat sayu, sementara lingkaran hitam terlihat begitu jelas di sekitar kedua matanya.

Sudah beberapa hari ini Aeri tidak bisa tidur dengan baik, bukan karena ia tertekan oleh urusan pekerjaan.

Ia tertekan oleh kedekatannya dengan Jinki. Sejak kecelakaan itu Aeri dan Jinki menjadi semakin dekat, bahkan setelah luka di tangan Jinki sembuh sekalipun keduanya tetap dekat.

Aeri bahkan selalu menghabiskan waktu makan siangnya bersama Jinki, tapi mengapa itu justru membuatnya sedih dan tertekan?

Jinki selalu baik padanya, tapi sayang Aeri tidak melihat bahwa namja itu berniat menjalin hubungan yang lebih dari teman dengannya.

Kecewa? Tentu saja, mungkin selama ini Aeri terlalu banyak berharap. Jika seperti ini Aeri lebih memilih untuk tidak mengenal Jinki sebaik saat ini.

Aeri berjalan tenang menuju lift yang baru saja turun ke lantai satu. Beberapa langkah lagi sebelum pintu lift terbuka, yeoja itu menghentikan langkahnya.

Ia menangkap sosok yang berdiri beberapa meter di hadapannya, ia sudah mengenal baik siapa itu. Ia berdecak kesal dalam hati, mengapa ia harus bertemu dengan namja itu sepagi ini?

Aeri ingin sekali berlari menuju lift dan berpura-pura tidak melihat namja itu, tapi ia sudah tidak punya kesempatan.

Namja itu sudah menyadari keberadaan Aeri lebih awal dan tentu saja ia tahu bahwa Aeri pun menyadari keberadaannya.

Dengan sedikit ragu Aeri mengangkat wajahnya, menatap namja yang sudah menyuguhkan senyuman paling manis.

Ting

Pintu lift terbuka, membuat Aeri bersorak dalam hati. Akhirnya ia terselamatkan, Aeri tersenyum ringan seraya membungkukkan tubuhnya kemudian segera masuk ke dalam lift dan menekan angka tiga.

Senyuman di wajah Jinki pudar, mengapa Kim Aeri tidak berhambur ke arahnya kemudian menyapa nya dengan manis seperti yang selalu ia lakukan?

Jinki baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat pintu lift tertutup tepat di depan batang hidung nya. Ia bahkan masih sempat melihat wajah Aeri sebelum pintu itu tertutup. Adakah sesuatu yang salah? Tanya Jinki dalam hati.

Ia kemudian berjalan ringan menuju tangga darurat, sepertinya naik tangga akan membuat tubuhnya berkeringat. Itu akan lebih baik.

***

Aeri mendesah ringan saat ia duduk di kursi kerjanya, ia menaruh tas dan menyampirkan coat nya di kursi.

Matanya kemudian melirik ke samping kiri nya, memperhatikan meja kosong yang sudah beberapa hari ditinggalkan pemiliknya.

Sudah nyaris satu minggu sejak hari pernikahan Hye ri dan Key, keduanya masih dalam masa liburan.

Yeah! Seharusnya kemarin adalah hari terakhir liburan mereka, tapi Aeri tidak mendapati Hye ri di mejanya, atau pun mobil Key terparkir di tempat biasanya.

Aeri kembali mendesah, hatinya terasa sangat kacau dan ia membutuhkan Hye ri untuk berbagi.

Oh! tapi apakah Hye ri benar-benar menikmati bulan madunya? Benarkah mereka ber ‘bulan madu’? mengingat keadaan Hye ri yang masih belum menerima Key dalam hatinya.

Aeri harap ‘bulan madu’ itu berjalan seperti yang seharusnya, setidaknya itu mengurangi satu masalah dalam pikiran Aeri.

PC yang sudah lebih dari satu tahun ini menjadi rekan kerja terbaiknya itu mulai Aeri nyalakan, menimbulkan suara halus dari kipas pendingin.

Aeri berusaha menyingkirkan pikirannya tentang Jinki dan akan fokus pada pekerjaannya, yeah! Setidaknya hingga jam makan siang nanti.

Tangan kananya sudah bersiap di atas mouse, pikirannya telah menyusun icon dan folder mana saja yang akan ia klik untuk melanjutkan pekerjaan saat wallpaper di layar PC nya kembali membuatnya tertegun.

Aeri tersenyum kecut memandangi wallpaper dalam layar PC nya. Sial! Ia baru ingat bahwa ia memajang foto nya bersama Jinki di sana.

Foto saat Jinki mengajaknya ke taman hiburan, hanya sebuah selca yang diambil saat mereka berada dalam bianglala paling tinggi. Aeri begitu bahagia saat itu, ia benar-benar merasa menjadi yeoja yang spesial bagi Jinki.

Annyeonghaseyo eonni.” Aeri segera mematikan PC nya saat sebuah suara muncul dari samping kirinya, membuat ia terkejut setengah mati.

Aeri berjengit saat mendapati Hye ri telah duduk di kursinya. Yeoja itu tersenyum lebar ke arah Aeri, memamerkan deretan gigi nya yang rapi.

“Min Hye ri!” dengan cepat Aeri berhambur ke arah sahabat yang sangat dirindukannya. Ia memeluk erat Hye ri, membuat Hye ri sedikit kewalahan mengatur nafas.

Keduanya mulai berbincang ringan setelah selesai melepas rindu. Aeri terlihat sedikit tidak sabaran menunggu cerita bulan madu Hye ri.

Jaemi isseosseo.” Hanya satu kalimat singkat yang Hye ri lontarkan untuk bulan madu nya ke Paris. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan hal lain yang terjadi di sana pada Aeri. Hye ri tahu, baik Aeri, atau siapa pun akan berubah membenci nya jika tahu ia menolak Key untuk menyentuh nya.

“Jyaa! Igo, aku membawakan ini untukmu eonni.” Hye ri segera mengeluarkan tas kertas berukuran cukup besar yang sempat ia taruh di bawah meja kerja nya beberapa menit yang lalu. Mata Aeri berbinar melihat tas kertas ungu yang sedikit mengkilap, hati nya mulai menebak-nebak apa yang dibawakan Hye ri untuknya.

Sesaat pikiran Aeri tentang Jinki teralihkan oleh obrolan kecilnya bersama Hye ri.

“Euh, Hye ri-ya… makan siang ini, bisa kah kita makan bersama? Aku sangat merindukanmu, jinjja.” Ragu-ragu Aeri memandang Hye ri tak lama setelah ia mengeluarkan sebuah tas cantik berwarna merah yang diberikan Hye ri barusan.

Hye ri tersenyum, menyipitkan kedua matanya “Arasseo.” Jinjja! Ia pun sangat merindukan Aeri.

“Oh! siang ini Key membuat acara makan siang bersama. Hemm, I’m not really sure about what he said, but.. We’ll have lunch together.”

***

Siang itu semua staff dan pegawai kantor telah berkumpul di salah satu ruangan rapat di lantai 5. Tentu saja mereka tidak mengadakan rapat siang itu, melainkan menghadiri undangan makan siang yang diadakan sang atasan.

Untuk merayakan pernikahan sekaligus kepulangannya dari Paris, Key sengaja membuat pesta kecil-kecilan dengan mengundang semua staff makan siang.

Suasana hiruk pikuk segera terasa sesaat setelah Key menyampaikan kata sambutan. Tentu saja semua orang bahagia dengan ini, tapi tidak dengan sang sekretaris yang justru absen menghadiri acara makan siang ini.

Tidak semua orang, tapi mungkin ada segelintir orang yang mengetahui kedekatan antara atasan mereka dan sekretarisnya sebelum sang atasan tiba-tiba dekat dan menikah dengan designer yang tengah bersinar di perusahaan mereka.

Yeah! Hal yang tidak penting memang, tapi ini sangat menarik untuk diperbincangkan sesekali di tengah kejenuhan pekerjaan.

Hye ri duduk di samping Key, tapi keduanya tidak saling bicara. Hanya menikmati makan siang mereka. Begitu juga dengan Aeri dan Jinki, bahkan Aeri memilih tempat duduk yang cukup jauh dari Jinki. Tentu saja! Aeri telah memutuskan untuk menjauh dari Jinki, setidaknya agar suasana hatinya menjadi lebih baik.

Semua orang terlihat menikmati makan siang mereka, kini mereka menikmati hidangan penutup yang telah tersaji di atas meja.

Key dan Hye ri saling berpandangan saat salah satu staff menanyakan semenyenangkan apa bulan madu mereka di Paris. “Jaemi isseosseo, Key sangat baik padaku.” Terang Hye ri sebelum Key sempat mengatakan apa pun. Dan kalimat itu segera di sambut oleh suara riuh dari staff lain.

“… mungkin aku harus belajar lebih banyak lagi bagaimana caranya menjadi istri yang baik.” Lanjut Hye ri, ia memandang Key ragu, sorot matanya meredup. Sebuah perdebatan tengah berlangsung dalam pikiran Hye ri, ia tahu beberapa hari terakhir ia telah berbuat jahat pada Key dengan melarang namja itu menyentuhnya.

Key menatap Hye ri, hatinya merasa sedikit lega. Seperti nya Hye ri memang akan kembali berusaha untuk menerima diri nya. Key tersenyum tipis “gomawo.” Ucapnya singkat, ingin sekali rasa nya memeluk Hye ri dan mengecup kening yeoja itu jika saja mereka tidak sedang berada di kantor.

Hye ri hanya tersenyum, ia sendiri tidak yakin apa ia bisa kembali mencoba untuk mencintai Key seperti yang sudah-sudah?

***

Pukul 7.20, Minggu pertama musim semi. Key bergegas menuju mobil hitam nya yang terparkir rapi di halaman rumah setelah ia menyelesaikan sarapan.

Diliriknya lagi arloji di tangan kiri nya, dan itu membuatnya semakin tergesa-gesa. Suara mesin mobil yang halus segera terdengar begitu Key menyalakan mesin. Kemudian ia segera melesat menuju kantor.

Diusapnya lagi keringat yang sesekali menetes dari kening dan leher nya. Belum terlalu siang memang, tapi cuaca di musim semi hari ini cukup terik, ditambah lagi segala yang ia lakukan selalu tergesa-gesa.

Bagaimana tidak?

Sudah nyaris tiga bulan sejak pernikahannya dengan Hye ri, tapi rasanya hidup Key malah semakin berantakan. Yeoja itu selalu mengatakan bahwa ia akan berusaha untuk mencintai Key, tapi pada kenyataan nya hal itu tidak pernah terjadi.

Hye ri memang selalu menyenangkan di setiap suasana, ia selalu menjadi istri yang baik bagi Key. Menyiapkan sarapan, mencuci pakaian dan sesekali membersihkan rumah. Ia juga menantu yang baik bagi kedua orangtua Key.

Meskipun begitu, Key tahu bahwa Hye ri belum sedikit pun membuka hati untuknya. Setiap malam Hye ri selalu tidur lebih awal, membelakangi Key hingga pagi tiba.

Dan pada akhirnya, Key hanya bisa memeluk yeoja itu setelah ia terlelap. Key rasa itu sudah cukup baginya, namun kebahagiaan kecil itu akan segera lenyap saat  Hye ri mengigau menyebut-nyebut nama Minho.

Tidak hanya sekali, hal itu telah terjadi beberapa kali. Dan itu jelas membuat hati Key terluka, benarkah ia sama sekali tak ada dalam hati Hye ri? Meski dalam mimpi sekali pun? Menyedihkan!

Hye ri juga telah menolaknya untuk pergi ke kantor bersama, membuat Key selalu berpikir tentang penolakan apa lagi yang akan diterima nya nanti?

“Hei! Kau juga terlambat?” sapa Jinki yang juga berjalan cepat mengejar lift. Key hanya menoleh sekilas sambil mengenakan jas hitam nya “Oh! ya.”

Tak lama keduanya segera tiba di lantai 5, berhambur ke salah satu ruangan terbesar di sana, di mana keduanya yakin bahwa orang-orang penting dari perusahaan lain telah menunggu mereka.

***

Agenda rapat hari itu terus berjalan, semua mata masih memperhatikan Key saat tiba-tiba tubuh Key ambruk ke atas lantai berlapis karpet abu itu. Suara riuh segera menggema dalam ruangan, beberapa orang berhambur ke arahnya, termasuk Jinki.

“Oh! kurasa sejak pagi ini ia sudah tidak sehat.” Ucap Jinki sebelum seorang pun bertanya tentang kesehatan Key.

Jinki memutuskan untuk menyudahi rapat hari itu dan berjanji akan melanjutkan agenda mereka di lain hari. Tentu saja itu dilakukannya setelah ia meminta maaf beratus-ratus kali pada orang-orang penting yang hadir.

Jinki masih duduk di bangku kecil di dekat ranjang klinik, wajah nya terlihat ragu. Sementara ponsel nya ia pindah-pindahkan dari tangan kanan ke kiri dan sebaliknya. Apa ia harus menelepon Min Hye ri?

Tentu saja semua orang akan berpikir bahwa Jinki harus menghubungi Hye ri, tapi mereka tidak tahu betapa Min Hye ri tidak akan mempedulikan hal ini.

Jinki kembali melempar pandang ke arah Key yang terbaring di atas ranjang klinik.

“hmmm…” erang Key pelan, ia berusaha membuka kedua matanya. Jinki segera berhambur ke arah Key.

Gwaencanha?” Jinki memastikan. Key masih mengerang pelan, berusaha bangkit dan mengingat-ingat di mana dirinya berada.

“Tadi kau pingsan.” Seolah bisa membaca pikiran Key, Jinki segera menjelaskan apa yang terjadi di ruang rapat.

“Kau tidak memberitahu Hye ri kan?” Oh! Holly shit! Jinki sudah tahu bahwa Key akan lebih memperhatikan Hye ri dibandingkan keadaan nya sendiri.

“Kau bisa mempercayakan semuanya padaku.”

“Sudah berapa lama kau tidak sehat?” tanya Jinki saat Key telah duduk bersandar di ranjang, kini Jinki telah memasukkan ponsel ke saku celananya. Ia pikir tidak penting lagi memberitahu Min Hye ri.

Molla. Aku hanya merasa sedikit… lelah.” Jawab Key acuh tak acuh, ia memijat pelipisnya.

“Haruskah aku memanggil psikiater?” tanya Jinki serius dan sukses membuat Key terperanjat. Key menatap Jinki tajam, berusaha menyelidiki apa yang dimaksud sahabatnya.

“Apa yang kau bicarakan? Aku hanya perlu sedikit istirahat. Well, kurasa kita…” Key melirik arloji nya sekilas, dan kalimatnya segera terpotong saat Jinki menyambar.

“… kau terlihat tertekan. Apa kehidupan rumah tangga mu seburuk itu?” tanya Jinki penuh selidik.

Key hanya diam, memandangi Jinki sembari membatin. Mungkin Jinki benar, satu-satu nya hal yang membuatnya merasa lelah adalah kehidupan rumah tangga nya bersama Hye ri. Jika Key boleh jujur, ia benar-benar tertekan dan frustasi. Lebih banyak dibanding saat ia belum menikah.

Bukan hanya bagaimana caranya membuat Hye ri mau melupakan Minho dan berusaha mencintainya, tapi juga ia harus mempersiapkan kebohongan-kebohongan di hadapan orangtua nya dan orangtua Hye ri mengenai kehidupan rumah tangga mereka.

“Sebaiknya kita kembali ke kantor Jinki-ya, jam 3 sore ini aku akan ke Daegu.”

Mwo? Daegu? Kau gila Key? Dokter bilang kau perlu istirahat.” Sela Jinki, ia tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam kepala Key.

Gwaencanha, aku dan Hye ri harus menghadiri acara makan malam bulanan keluargaku. Kaja! Jika tidak cepat Hye ri akan menungguku terlalu lama.” Key mencabut selang yang menempel di tangannya begitu saja kemudian beranjak dari ranjang. Membuat Jinki berdecak kesal. Jinki rasa sahabatnya itu telah benar-benar gila karena cinta.

***

Gwaencanha?” Hye ri memiringkan kepalanya, berusaha menatap wajah Key.

Key mengalihkan fokusnya pada Hye ri sekilas “Ah! Gwaencanha.” Kemudian kembali pada jalanan yang tidak terlalu ramai. Ia kembali tebatuk kecil.

Jinjja? Kau terlihat tidak sehat. Haruskan kita ke klinik? Bagaimana jika kita batal ke Daegu? Aku akan me…”

Ani! Gwancanha, jinjja. Mereka sudah menunggu kita dan mempersiapkan segala sesuatu nya.” Sela Key cepat, ia tidak mau ada sesuatu pun menghambat perjalanan mereka ke Daegu. Mungkin Hye ri cemas, tapi yang lebih penting dari itu adalah Key tahu bahwa yeoja itu sedang berusaha untuk menghindar dari acara keluarga.

Tentu saja acara keluarga akan selalu menyudutkan mereka. Pertanyaan-pertanyaan kedua orangtua mereka tentang kapan Key dan Hye ri akan memberi mereka cucu. Sangat menggelikan!

Mobil yang dikendarai Key terus melaju dengan kecepatan statis. Key masih fokus pada jalanan di hadapannya, sementara Hye ri menyandarkan kepalanya pada bantalan jok. Ia terlihat lelah dan tak lama kemudian tertidur pulas.

***

Hye ri mengerjap-ngerjapkan matanya saat sebuah suara membuyarkan mimpinya. “Hye ri-ya, ireonna.” Hye ri tidak sadar bahwa sepanjang perjalanan ia tertidur pulas.

Dengan sedikit malas Hye ri membuka kedua matanya, sosok Key segera tertangkap kedua matanya. Namja itu terlihat pucat, apa ia sakit? Batin Hye ri.

Wasseo, palli ireonna.” Sekali lagi Key menepuk pipi Hye ri agar yeoja itu segera beranjak.

Hye ri mengerang ringan kemudian mengedarkan pandangan ke luar jendela setelah seluruh nyawa nya terkumpul.

Didapatinya sebuah rumah sederhana berlantai dua yang didominasi oleh dinding batu pualam. Samping kanan halaman yang dipenuhi berbagai jenis bunga berwarna-warni itu menyejukkan mata, sementara sebuah pohon apel yang Hye ri lihat beberapa bulan lalu masih tetap berada di tempatnya. Di samping sebuah kamar yang menghadap ke halaman – kamar Key dulu.

Key dan Hye ri berjalan beriringan menuju pintu tinggi berwarna hitam setelah keduanya mengeluarkan beberapa barang dari bagasi. Tidak terlalu banyak, hanya travel bag sederhana milik keduanya, dan beberapa tas berisi oleh-oleh.

Key meraih satu tangan Hye ri yang tidak menjinjing tas, kemudian menggenggamnya erat-erat tak lama setelah Hye ri mengetuk pintu. Yang kedua orangtua mereka tahu adalah kehidupan mereka begitu bahagia dengan kehadiran satu sama lain.

***

Sebuah ruang makan yang cukup luas telah dipenuhi oleh semua anggota keluarga. Berbagai jenis makanan telah tersedia di atas meja panjang bergaya Queen Anne.

Key dan Hye ri telah berganti pakaian dan duduk berdampingan di hadapan kedua orang tua Key, sementara kakak perempuan Key dan suaminya duduk di samping eomma Key. Tak lupa paman Key yang saat itu sedang ada urusan di sana telah duduk di hadapan kakak perempuan Key.

“Jadi, setiap hari kalian sibuk dengan pekerjaan?” tanya Tuan Kim.

“Bukankah kami selalu seperti itu appa?” Key balik bertanya dengan nada guyon nya yang khas, ia melempar senyum ke arah appa dan eomma nya kemudian kembali menyumpit nasi.

Tuan Kim terkekeh, tentu saja Key sama seperti dirinya waktu muda. Hanya sibuk dengan pekerjaan kantor. Tapi sepertinya anak muda jaman sekarang jauh lebih canggih dalam hal membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

“Kapan-kapan kalian harus meluangkan waktu.” Timpal Nyonya Kim, yeoja itu menatap Key dan Hye ri bergantian. Ia kemudian tersenyum ke arah suaminya setelah melongok putri sulung nya yang tengah berbadan dua.

Hye ri menelan nasi dalam mulutnya, kemudian memaksakan meneguk segelas air mineral “Kami akan selalu meluangkan waktu untuk berkunjung ke mari eommonim.”

Nyonya Kim tersenyum “Ani! Bukan itu. Maksudku luangkanlah waktu untuk kalian berlibur berdua saja.”

Hye ri memaksakan senyum, diliriknya Key dengan ragu. Kemudian memutuskan untuk kembali meneguk air mineral.

Aigo! Perut putriku sudah semakin besar. Aku tidak sabar menggendong bayi yang ada di dalamnya.” Nyonya Kim melongok lagi putrinya.

Semua mata temasuk Hye ri pun ikut memandang kakak perempuan Key yang akan segera menjadi seorang ibu. Yeoja itu terlihat begitu bahagia, ia menatap suaminya sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit.

“Oh! Nuna, ngomong-ngomong berapa lama lagi kau akan melahirkan?” Key mengangkat sumpit setinggi mulutnya.

“Dokter bilang masih dua bulan lagi Key. Jinjja! Aku tidak sabar menunggu kelahiran bayi pertamaku.” Yeoja itu kembali mengelus perutnya, kedua matanya berbinar.

Chukhae eonni, aku akan menjadi orang yang sangat menunggu kelahiran bayimu.” Seru Hye ri ceria, ia menempelkan kedua tangannya di depan dada.

“Jadi, kapan kau akan menyusul?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut nyonya Kim, membuat Hye ri dan Key terperanjat. Keduanya saling melirik ragu, tidak tahu apa yang harus dikatakan.

“Euh… eomma harus bersabar, aku dan Hye ri…” Ragu-ragu Key menatap mata eomma nya, ia takut jika eomma nya tahu bahwa ia sedang berbohong.

“Sudah nyaris tiga bulan, apa kau sudah membawa Hye ri ke dokter kandungan? Setidaknya untuk memastikan apa benar dalam perutnya belum ada bayi?” Hye ri sempat tersedak, tapi ia berhasil menahan agar air dalam mulutnya tidak keluar lagi. Itu mengejutkan!

Hye ri terbatuk kecil, sementara otaknya berpikir keras mengenai jawaban paling tepat atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan untuknya. “Hemm… aku… mungkin…”

“…mungkin tidak lama lagi.” Sambar Key, ia menatap Hye ri dengan pandangan yang seolah mengatakan sepertiitusaja.

“ck! Kalian ini, jangan terlalu lama menunda. Tidak baik jika Hye ri melahirkan di usia tiga puluhan.” Eomma Key mulai mengomel, menatap keduanya dengan pandangan tak sabaran.

Eomma harus bersabar, selagi menunggu eomma kan bisa fokus pada bayi nuna.” Key tidak melirik Hye ri, sejujurnya suasana ini membuat dirinya tersudut. Kedua orangtuanya semakin tak sabaran untuk mendapat kabar bahwa Hye ri tengah mengandung, tapi bagaimana bisa seorang bayi ada dalam perut Hye ri sementara Key tidak pernah menyentuh yeoja nya?

Sedikit cemberut Nyonya Kim kembali menatap Key “Arasseo, tapi jangan lama-lama.”

Hye ri hanya bergumam pelan mengucapkan kalimat persetujuan yang tidak terdengar oleh siapa pun, ia kemudian kembali pada makan malamnya yang tiba-tiba terasa hambar di lidahnya.

***

Hye ri masih membantu Nyonya Kim merapikan piring-piring di ruang makan saat Key tiba-tiba menariknya. “Eomma, kupinjam istriku dulu.” ucap Key, menarik Hye ri begitu saja tanpa menunggu persetujuan eomma nya. Meninggalkan eomma nya yang hendak mengomel, tapi yeoja setengah baya itu kemudian tersenyum.

Sedikit terhuyung Hye ri berusaha menyamakan langkah dengan Key yang membawanya ke lantai dua. “Kita mau ke mana?” nafas Hye ri sedikit tersengal. Key tidak menjawab dan terus menarik Hye ri setelah ia melirik lagi arloji nya sekilas.

Tak lama keduanya tiba di atap rumah, tidak ada apa-apa hanya langit malam kota Daegu dan semilir angin yang menusuk tulang. “Key apa yang ak…” Key kembali menarik Hye ri ke tepian pagar, membuat yeoja itu kehabisan nafas dan memotong kalimatnya sendiri.

Key menyodorkan sekaleng minuman ringan pada Hye ri, yeoja itu hanya mengernyitkan dahinya. Meraih minuman kaleng itu dan segera membukanya. Aroma jeruk yang segar segera menyeruak membasahi kerongkongan Hye ri, membuat yeoja itu tanpa sadar mendesah lega.

“Sudah tidak lelah?” tanya Key, ia kembali menyesap soda jeruknya ringan. “Lalu kita mau apa di sini?” Hye ri tidak menghiraukan pertanyaan Key.

Key kembali melirik arlojinya, ia kemudian menaruh kaleng minumannya di tepi pagar dan berjalan ke belakang Hye ri. Berhenti tepat di belakang yeoja itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang istrinya dengan sedikit ragu, sambil menumpukan dagunya pada pundak Hye ri.

“Key apa yang kau…” Hye ri terkesiap, ia berjengit saat kedua tangan Key melingkar di pinggang nya serta hembusan nafas Key yang membuat tenguknya merinding.

“.. sebentar saja, aku tidak akan berbuat macam-macam.” Key menyambar kalimat Hye ri, ia melirik lagi arlojinya kemudian berbisik di telinga Hye ri. “Tidak lama lagi, 5,4,3…” Key mulai menghitung mundur.

Hye ri hanya diam menolehkan kepala ke arah pundak kanannya, pikirannya menebak-nebak apa yang akan dilakukan Key. Pikirannya segera buyar saat ia mendengar bunyi letusan yang mengejutkan, diiringi dengan pancaran warna-warni yang melesat di udara.

“Oh!” Hye ri segera menolehkan kepalanya ke arah di mana kembang api berwarna-warni tengah melesat dan meluncur di udara. Warna hijau itu baru saja melesat kemudian pecah menjadi percikan api kecil dan segera digantikan oleh warna merah yang meluncur ke bawah.

Hye ri terpaku selama lima menit, kembang api itu begitu indah. Ditambah lagi gelapnya malam yang hanya diterangi sinar bulan, serta kesunyian di atas atap, benar-benar membuat hati Hye ri merasa tenang. Semua rasa penat dalam kepalanya seolah pecah bersamaan dengan percikan-percikan kembang api.

“Kau suka?” tanya Key saat kembang api itu mulai mengecil dan hanya menunjukkan warna hijau dan biru saja. Hye ri hanya bergumam pelan sebagai jawaban ya.

“Di sana ada sebuah kuil..” Key menunjuk ke arah di mana kembang api tadi terlihat. “… minggu pertama musim semi, mereka akan menyalakan kembang api sebagai ucapan syukur atas datangnya musim semi, juga…” Key menggantungkan kalimatnya.

“Juga apa?” Hye ri menolehkan kepala ke arah pundak kanannya, seketika ekspresi wajahnya berubah saat ia menyadari wajahnya dan wajah Key berjarak sangat dekat. Key memutar tubuh Hye ri, membuat mereka saling berhadapan.

“Juga sebagai perayaan bagi mereka yang sedang jatuh cinta di musim semi.” Key kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Hye ri.

Jantung Hye ri berdebar tak karuan, ia tidak tahu mengapa jantung nya selalu seperti ini setiap kali wajahnya berdekatan dengan wajah Key, padahal ini bukan yang pertama kalinya bagi Hye ri. Key bahkan sudah sering menciumnya mesra.

Ragu-ragu Hye ri menatap mata Key, ia melihat pancaran cinta yang amat besar di sana. Tapi sayang ia tidak bisa membalasnya, karena dalam hatinya masih bertengger satu nama yang tidak akan pernah bisa tergantikan – Choi Minho. Dan pada akhirnya Hye ri hanya tersenyum, memberikan senyum terbaik yang ia punya pada Key sebagai permintaan maaf karena ia tidak bisa membalas cinta Key.

Tangan kanan Key menyentuh pipi kiri Hye ri, mengusapnya lembut, sementara ujung bibir kanan nya terangkat “I like it when you smile…” . Hye ri hanya memandangnya, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan nya pada Key.

“… but I love it when I’m the reason.” Lanjut Key, kini kedua ujung bibirnya terangkat dengan sempurna, menghasilkan senyuman indah yang seharusnya bisa membuat Hye ri melupakan Minho.

Senyuman di wajah Hye ri pudar, ia tahu ke mana arah pembicaraan Key. “Ayolah Key, jangan memulainya.” Hye ri tahu pembicaraan seperti ini akan selalu berujung pada pertengkaran kecil antara mereka.

“Aku tidak akan pernah berhenti Min Hye ri, aku akan tetap menunggu hingga kau…” Key menghentikan kalimatnya, wajahnya terus merengsek mendekati wajah Hye ri. “…hingga kau menyadari bahwa kau mencintaiku.” Lanjut Key saat jarak antara mereka hanya sebatas lima jari.

Hye ri memandang mata dan bibir Key bergantian. Ia tidak pernah mengerti mengapa perlakuan Key yang seperti ini membuatnya tidak pernah bisa menghindar. Bagaimana namja itu mendekapnya, mengelus pipinya lembut dan hembusan nafas hangat itu selalu membuat Hye ri seolah berada dalam mimpi.

Ani Key! Aku akan menyakitimu.” Ucap Hye ri sendu, ia sudah lebih banyak menyakiti Key dari yang  bisa ia bayangkan.

Key kembali mendekatkan wajahnya, ia mulai memiringkan kepalanya “Bagaimana jika kita mencobanya? Melakukan yang eomma ku katakan.” Dalam satu gerakan lagi bibir Key akan menjangkau bibir Hye ri.

“Aku tidak bisa Key, aku…” Hye ri tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, ia seolah tersihir oleh tatapan lembut Key dan hembusan nafasnya yang hangat. Hye ri hanya memejamkan kedua matanya saat ciuman lembut itu menyentuh bibirnya.

Kedua tangan Hye ri mengalung begitu saja di leher Key, bibir nya bergerak mengikuti gerakan Key. Membalas ciuman suaminya dengan lembut. Ada perasaan aneh yang seolah melesat dari perut ke dadanya, dan itu membuatnya merasa senang.

Decakan-decakan kecil itu terus menggema di atas atap, keduanya segera saling melumat satu sama lain saat bibir mereka terlepas sesaat. “Saranghae, jeongmal saranghae.” Bisik Key di sela-sela ciuman mereka.

Entah mengapa kali ini Key merasa bahwa kehidupannya akan menjadi lebih baik. Ia tahu bahwa Hye ri hanya belum menyadari bahwa dirinya telah menggantikan Minho di hati Hye ri. Yang perlu Key lakukan adalah meyakinkan Hye ri bahwa Key telah menggantikan segala peran Minho di hati Hye ri dengan sempurna, bahkan jauh lebih baik dibanding Minho.

=TBC=

5 thoughts on “Archangel – part 13 [SKIP]

  1. hye ri kpn drimu bs nerima key?
    klo gak mw key ny buat aku aja ya.

    aeri knpa jd ngejauhin jinki?
    jinki kpan mw nembak aeri ny?

  2. Aiishh…senangya jadi Hyeri yg dicintai Key sepenuh hati.
    Hyeri tolong hapus Minho difikiranmu!!
    Oke..saya mulai greget sama nih FF kekekeke

  3. kyaaaaaaaaaaaaa…so excited…..ahrna nemu FF yg sense na tinggi …… stiap adegan tergambar nyata liku alur critana penggambaran situasinya mantep……..ga kalah sama pnuls laskar pelangi & AAC dah…….johahae jincha jincha jincha………, dan archangel ni critana bener2 bkin aq pnasarn trus ke part brikutna udah kea ala nnton drama ga mau distop alo belom kelar……pi btw koq part 13 ada diskip yaaaa…waeyo?…….,,, geurigo mianhaeyo Song Eun Cha baru bisa ninggalin jejak setelah baca sampai part ini ……mian mianhaeyo

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s