Archangel – Part 22 [SKIP]

archangelArchangel – Part 22

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hyeri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Shin Eun young | Nicole [KARA] | Kim Hyoyeon [SNSD]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : NC 17+ [Skip version]

Credit poster   : ART FACTORY

Welcome home!” seru Kim Hyoyeon seraya mendorong pintu rumah. Dibantu eomma-nya, Key berjalan menapaki rumah yang nyaris tiga bulan tidak ia kunjungi. Ada oksigen tersendiri yang memenuhi paru-paru Key saat ia masuk, oksigen yang sudah lama ia rindukan.

Jinki dan Aeri menyusul dari belakang. Jinki membawa keranjang berisi buah-buahan, sementara Aeri menjinjing tas besar berisi dus-dus biskuit dan makanan ringan lainnya. Sedangkan Hyeri terhuyung di belakang mereka, berusaha membawa tumpukan selimut yang begitu tebal.

Key duduk di sofa hijau di ruang tengah, sementara yang lainnya sibuk merapikan barang-barang milik Key. “Kau ingin sesuatu?” tanya Nyonya Kim, dan dijawab oleh gelengan kepala dari Key. “Geurae, sebentar lagi jam makan siangmu, eomma harus segera memasak.” Nyonya Kim melirik arlojinya kemudian beranjak meninggalkan Key.

Key memanjakan matanya dengan pemandangan di ruang tengah. Tidak luas memang, tapi ia punya beberapa kenangan manis di sana. Sebuah senyuman segera terukir di wajahnya saat ia melihat foto pernikahannya dan Hyeri masih terpajang rapi di dinding.

Matanya kemudian menatap televisi layar datar di mana ia dan Hyeri sering sekali menghabiskan waktu untuk menonton film. Key benar-benar merindukan melakukan banyak hal bersama Hyeri. Dan itu tiba-tiba saja membuatnya teringat pada Hyeri. Di mana yeoja itu? Key sempat melupakannya saat mereka keluar dari rumah sakit.

Matanya segera mencari sosok dengan blazer kuning itu, tapi tidak ada! Ia hanya menangkap sosok Jinki, Hyoyeon dan suaminya. Lalu di mana Hyeri?

Key beranjak saat Hyeri tengah melangkah menuju sofa. “Oh!” Key terperanjat, ia begitu senang melihat Hyeri. “Kau mau ke mana?” tanya Hyeri yang kini telah berdiri di hadapan Key. “Aku mencarimu.” jawab Key seadanya, membuat Hyeri sedikit tertunduk malu.

Hyeri menarik Key, memaksa namja itu untuk duduk di sofa. “Aku harus merapikan kamar, sedikit lagi kurasa. Setelah itu kau bisa beristirahat.” terang Hyeri lembut, ia hendak beranjak saat Key menahan tangannya. “Bisakah aku melakukan hal lain selain beristirahat?” tanyanya manja.

Hyeri mengerutkan keningnya, mencoba memahami apa yang dimaksud Key. “Kau ingin melakukan apa?” Key terlihat berpikir, memikirkan satu permintaan terbaik. Kapan lagi Hyeri akan mengabulkan keinginannya? “Aku ingin piknik.” ucap Key tenang, dan sukses membuat Hyeri menahan tawa setengah mati.

***

Para tamu yang datang mengantar Key kini tengah menikmati waktu minum teh. Mereka berbincang kecil di halaman belakang yang tidak luas. Menikmati sore yang cerah dengan biskuit yang dibawa Aeri.

“Ah! Kurasa Key tidak perlu terburu-buru untuk kembali ke kantor. Ada banyak hal yang perlu dibenahi sebelum ia kembali. Yeah! Menjadikan seolah tidak pernah terjadi apa pun sangat sulit.” Jinki kemudian menyeruput lagi tehnya.

“Kau benar! Akan lebih baik jika Key tidak pernah tahu keadaan perusahaan yang begitu buruk saat ia tidur.” Aeri menyetujui gagasan Jinki.

“Aku setuju dengan itu, tapi kurasa ia harus tahu suatu saat nanti.” tambah Hyeri, ia menyeruput lagi tehnya sampai habis kemudian beranjak. “Jyaa, nikmati waktu sore kalian. Kurasa aku harus mengecek Key.” ujarnya sambil mengedipkan mata pada Aeri.

Geurae, uruslah bayi besarmu, Min Hyeri.” gurau Aeri sambil terkekeh. Hyeri berlalu, meninggalkan Jinki, Aeri, dan Hyoyeon –kakak perempuan Key.

“Kurasa Hyeri banyak berubah.” celetuk Aeri setelah menggigit kecil biskuit berbentuk hati. “Maja! Kurasa ia mulai menyadari perasaan yang sesungguhnya.” timpal Jinki menyetujui.

“Ia benar-benar mencintai Key. Kau bisa lihat sorot matanya?” tanya Aeri, ia tersenyum kecil seolah merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan Hyeri. Jinki hanya mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Hyeri.

“Benar-benar perubahan besar. Akhirnya Hyeri mencintai Key,“ Jinki menatap Aeri sambil tersenyum. Aeri hendak mengatakan sesuatu saat Jinki mendahuluinya “lebih banyak dari yang bisa ia pikirkan. Geutchi?” kemudian keduanya terkekeh.

“Matahari benar-benar terbit setelah gelap.” ungkap Aeri.

“Hei! Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Hyoyeon yang sedari tadi hanya mendengar percakapan Jinki-Aeri. Membuat keduanya saling bertatapan, mereka lupa bahwa itu seharusnya menjadi percakapan pribadi antara mereka berdua.

Hyoyeon melipat kedua tangan di depan dadanya, memandang skeptis Jinki dan Aeri bergantian. “Kalian harus mengatakannya padaku.” desak Hyoyeon. “Oh! eonni, sorry to say this. Tapi kami tidak bisa menceritakannya padamu.” ungkap Aeri was-was. Ia tahu Hyoyeon sama keras kepalanya seperti Hyeri.

“Akhirnya Hyeri mencintai Key? Apa dulu ia tidak mencintainya?” tanya Hyoyeon. Jinki dan Aeri saling berpandangan. Celakalah! Hyoyeon sudah lebih dulu menangkap garis besarnya. Aeri mendesah, ia menatap Jinki lagi sebelum akhirnya mulai bercerita.

***

Lebih dari satu minggu berlalu sejak kepulangan Key ke rumah. Kesehatannya semakin membaik, ia bahkan mulai merasa bosan berada di rumah terus menerus. Ia mengutarakan keinginannya untuk kembali ke kantor.

Keadaan di rumah semakin membaik sebenarnya. Jika saja Nyonya Kim tidak bersikeras untuk tinggal di sana. “Eomma, aku sudah sehat. Biarkan Hyeri yang merawatku, eoh? Eomma, bagaimana bisa kita tinggal bertiga seperti ini?” keluh Key, ia mengaduk lagi buburnya.

Benar! Semenjak Key pulang, Nyonya Kim tetap bertahan tinggal di rumah Key. Ia bahkan sengaja membeli sofabed dan tidur di kamar Key, membuat ruang gerak Key dan Hyeri menjadi sempit.

“Yaa! Eomma mana bisa mempercayakanmu begitu saja pada Hyeri? Andwae! Eomma akan tetap tinggal sampai kau benar-benar sehat.” Nyonya Kim tetap bersikeras pada pendiriannya. Mungkin kenyataan  bahwa Hyeri lah pemilik sumsum tulang belakang yang selama ini menopang hidup Key telah membuat amarah Nyonya Kim reda, tapi pada kenyataannya hati Nyonya Kim kembali marah begitu ia mengingat soal perceraian Hyeri dan Key yang tertunda.

Eomma, aku bukannya tidak senang ada eomma di sini. Tapi jujur saja itu membuat ruang gerak antara aku dan Hyeri menjadi sempit. Kami tidak bisa melakukan apa pun dengan bebas jika ada eomma di sini.” keluh Key panjang lebar, kali ini ia melepas sendok dari tangannya.

“Apa? Apa yang akan kalian lakukan jika eomma tidak di sini?” tanya Nyonya Kim cepat dan sukses membuat Key kehabisan kata. “Aish! Sejak kalian menikah Hyeri belum juga mengatakan bahwa dalam perutnya ada bayi. Lalu, apa yang selama ini kalian lakukan?” Nyonya Kim menggerutu, kini ia menuangkan susu ke dalam gelas di samping Key. Kemudian menarik kursi terdekat dan duduk di sana.

“Kibum-ah, eomma tidak tahu apa yang terjadi antara kalian sebelum ini. Dan eomma tidak mau ikut campur karena kalian sudah dewasa. Tapi kalian jangan gegabah dalam menentukan sesuatu, jangan karena ini adalah hidup kalian berdua, maka kalian seenaknya mengambil keputusan. Kalian harus memikirkan apa yang akan terjadi pada keluargamu, juga keluarga Hyeri. Apa pun yang kalian lakukan akan berimbas pada kami.” terang Nyonya Kim panjang lebar. Ia tidak ingin secara langsung menyinggung masalah perceraian, ia ingin Key mengerti dengan ucapannya.

Key diam sambil menundukkan kepalanya. Sedetik kemudian menyadari ke mana arah pembicaraan eomma-nya. Benar! Ia baru saja mengingat hal yang ia lupakan. Dan itu membuat dadanya merasa sakit. Ia ingat bahwa sebelum ia koma, ia dan Hyeri akan bercerai. Sungguh! Hari-hari menyenangkan semenjak ia bangun telah membuatnya lupa akan hal itu. Hyeri selalu ada di dekatnya dan menuruti keingiannya, benar-benar tidak menunjukkan bahwa ia adalah istri yang ingin diceraikan. Oh! apakah Hyeri juga melupakannya? Atau sengaja mengulur waktu?

“Kalian saling mencintai. Cobalah selesaikan masalah dengan kepala dingin. Selesaikan dengan cara-cara yang biasa dilakukan suami istri, itu tidak terlalu buruk.” saran Nyonya Kim, ia kemudian beranjak menuju salah satu kitchen counter dan mulai mengupas buah pir.

Eomma tidak mau mendengar ada perceraian. Tidak ada satu pun dalam sejarah keluarga Kim tentang perceraian. Eomma harap kau tetap mempertahankan itu,”  kemudian ia melanjutkan “Berilah eomma cucu, hemm? Eomma dan appa akan sangat senang memiliki cucu darimu.”

Key diam, kini ia tahu bahwa eomma-nya mengetahui soal perceraian itu. Terlebih lagi Key sedang tidak ingin berdebat apa pun dengan eomma-nya “Ne, arasseoyo.”

***

Musim semi kian memasuki fase terbaiknya. Bunga-bunga yang bermekaran, serta cuaca cerah membuat banyak orang senang untuk terus berada di luar rumah.

Hyeri dan Key tengah berdiri di teras rumahnya, mengantar Nyonya Kim yang akhirnya memutuskan untuk pulang ke Daegu. Hyeri menarik kopor berwarna merah ati menuju mobil. Dibantu suami Hyoyeon, kopor itu dimasukkan ke dalam garasi.

“Jaga dirimu. Jangan pernah minum alkohol lagi, ara?” Nyonya Kim mengusap pipi putranya. “Ne, arasseo. Eomma tidak usah cemas lagi.” tanggap Key ringan.

“Tidak boleh sama sekali menyentuh alkohol! Ingat itu! Eomma tidak mau kau hanya mengerti dan tidak melaksanakannya.” tambah Nyonya Kim, tangan kanannya meneyentil kening Key.

Namja itu mengerang kecil “Geurae eomma, arasseoyo. Yaksokhaeyo.” ucapnya sambil menaikkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan. “Eomma pulang. Jangan lupa dengan Hyeri. Ingat apa yang eomma katakan.” bisik Nyonya Kim sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Key. “Arasseoyo.” bisik Key sembari menepuk pundak eomma-nya.

Nyonya Kim memeluk Key beberapa detik sebelum akhirnya melangkah menuju mobil. “Tidak ada yang tertinggalkan, eomma?” tanya Hyeri. Nyonya Kim menggeleng. Mereka kemudian saling berpelukan “Jagalah Key sebaik yang kau bisa. Untuk kali ini aku akan percaya sepenuhnya padamu, tolong jangan khianati kepercayaanku. Hemm?” bisik Nyonya Kim.

“Ne, eommonim. Aku berjanji, akan menjaganya sebaik yang aku bisa. Gomawoyo sudah percaya padaku.” ungkap Hyeri bahagia, sementara pikirannya kembali menerawang pada percakapannya semalam dengan Nyonya Kim.

FLASH BACK

Hyeri menutup pintu kamar perlahan agar tidak menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan Key yang telah terlelap tiga puluh menit lalu. Ia mengendap, berjalan menuju dapur. Kedua mata Hyeri segera menangkap sosok yeoja yang sudah beberapa minggu tinggal di rumahnya. Yeoja itu duduk membelakangi Hyeri, bisa ditebak ia tengah menyeruput lemon tea yang biasa diminumnya sebelum tidur.

.”Oh! Hyeri-ya, palli anja!” (cepat duduk) dagunya menunjuk kursi kosong di hadapannya. Hyeri segera duduk di sana.

“Kibum sudah benar-benar tidur?” ia memastikan. “Ne, dia sudah tidur.” jawab Hyeri yakin, entah mengapa pertanyaan ibu mertuanya barusan membuat Hyeri merasa seperti seorang ibu yang baru saja menidurkan bayinya.

Nyonya Kim menaruh cangkirnya, lalu mendesah ringan. “Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu. Sangat penting.” ucapnya tanpa basa-basi. Jantung Hyeri mulai berdebar tak karuan, ia yakin ini ada hubungannya dengan surat cerai yang ditemukan ibu mertuanya dalam mobil Key sesaat setelah Key koma.

“Boleh kutahu mengapa kalian memutuskan untuk bercerai?” tanya Nyonya Kim datar. Tidak ada amarah dalam matanya, ia berbicara begitu bijaksana. Seperti seorang guru konseling yang ingin memberi solusi pada murid bermasalah.

Hyeri diam, hanya mampu memandangi taplak meja. Ia tengah berpikir keras, haruskan ia menceritakan tentang Minho?

“Apa ada orang ketiga? Siapa yang membiarkan orang itu masuk dalam kehidupan kalian? Kibum kah? Ia punya yeoja lain?” Nyonya Kim segera melancarkan serentetan pertanyaan yang tak pelak membuat Hyeri membeku seketika. Hyeri tidak tahu harus mengatakan apa, situasinya benar-benar tidak menguntungkan baginya. Andai saja Kim Aeri ada di sampingnya.

Nyonya Kim menatap Hyeri intens, “Atau, kau yang mengijinkan orang ketiga itu masuk?” tanya Nyonya Kim penuh curiga.

Hyeri menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia tidak punya pilihan lain, lagipula rahasia ini sudah terlalu lama ia simpan. Serapi apa pun ia menyembunyikannya, suatu saat nanti akan ada yang menciumnya.

Eommonim, ada sesuatu yang tidak pernah diketahui siapa pun.”

“Tentang apa?”

There’s another man in my life. A hidden man.” terang Hyeri, kali ini ia mengalihkan pandangannya dari taplak meja. Dan dengan berani menatap mata ibu mertuanya. Sementara Nyonya Kim terhenyak, ini mengejutkan! Ia tahu putranya tidak mungkin bermain wanita seperti yang ia pikirkan sebelumnya, tapi kenyataan ini jauh dari perkiraannya.

“Minho. Namanya Choi Minho.” tambah Hyeri. Nyonya Kim hanya diam, melipat kedua tangan di depan dadanya. Nama yang diucapkan Hyeri sangat asing di telinga Nyonya Kim, dan sudah jelas ia tidak mengenalnya.

Perlahan dan berhati-hati Hyeri mulai bercerita. Cerita yang begitu panjang dan tak ada detil yang terlewatkan. Ia menceritakan bagaimana hubungannya dan Minho, juga bagaimana penyakit Minho telah ikut mengubah hidup Hyeri. Dan lagi, dada Hyeri terasa sesak saat ia menceritakan bagaimana Minho tidak terselamatkan hanya satu hari sebelum operasi.

“Aku menyetujui untuk mendonorkan sumsum tulang belakangku pada pasien lain. Sesuai janjiku pada Minho.” terang Hyeri ditengah isakannya. Nyonya Kim membeku, ia sempat membulatkan kedua matanya saat menangkap kata sumsum tulang belakang. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, ia tahu apa yang sebentar lagi akan ia dengar.

Tapi perkiraan Nyonya Kim meleset, Hyeri justru melanjutkan ceritanya tentang Minho. Tanpa menyinggung siapa penerima donornya. Cerita Hyeri terus berlanjut, hingga pada pertemuannya dengan Key. Juga Key yang mulai terbiasa untuk selalu bertemu dengannya di luar tugas kantor. Ia terus menceritakan apa yang selama ini terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. Hingga ceritanya sampai pada Key yang memutuskan untuk menceraikan Hyeri, membuat Nyonya Kim mulai terisak.

“Aku tahu aku lah yang patut disalahkan atas ini. Aku terlalu egois untuk terus mencintai Minho, padahal sudah jelas Tuhan tidak menciptakan Minho untukku, juga sebaliknya,” ungkap Hyeri pilu.

“Setelah Key membawaku ke pengacara Jung, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.” Hyeri tersenyum kecil, seolah sedang menertawakan kebodohannya sendiri. “Seharusnya aku senang, bukan? Tapi aku justru merasa sedih, aku sangat sedih. Rasanya ingin menghindari perceraian ini. Dan yang kupikirkan saat itu adalah mungkin aku mulai terbiasa dengan kehadiran Key di sampingku.”

Nyonya Kim tak memberi tanggapan, ia tetap menatap Hyeri sambil sesekali menyeka air matanya. Seolah meminta Hyeri untuk terus melanjutkan ceritanya. “Tapi saat Key koma, aku baru menyadari bahwa apa yang kupikirkan salah besar.” Hyeri menghela nafas.

“Aku tidak hanya terbiasa dengannya, tapi aku mulai kecanduan dengan keberadaannya di dekatku. Saat itu, saat aku tidak bisa melihatnya, tidak bisa menyentuhnya hanya untuk memastikan bahwa ia masih berada di tempat yang sama denganku…” Hyeri diam, mau tidak mau air mata itu menetes. Hatinya kembali memutar ulang perasaan sedih tak terbendung.

“Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Aku tidak bisa menemukan oksigen di manapun. Pikiranku tidak bisa memikirkan hal yang lain selain Key. Aku merasa sakit, eommonim. Di sini.” Hyeri menempelkan tangan kanan di dadanya,.

“Dan saat itu, aku menyadari bahwa aku begitu mencintai Key. Aku sangat takut kehilangannya, sangat takut. Lebih besar dari rasa takut saat aku kehilangan Minho.” Hyeri mengakhiri ceritanya, seiringan dengan air matanya yang terus menetes.

Eommonim, kau harus percaya padaku. Aku sungguh mencintai Key, lebih besar dari yang bisa siapa pun pikirkan. Aku benar-benar mencintainya. Tuhan benar-benar menciptakannya untukku, aku sangat yakin.” Hyeri meraih kedua tangan Nyonya Kim sambil terisak.

Nyonya Kim diam, ia melihat ketulusan dari diri Hyeri. Sejujurnya ia sangat tidak suka dengan awal cerita Hyeri tentang bagaimana egoisnya ia untuk tetap mencintai Minho dan membiarkan putranya menderita, memendam rasa cinta seorang diri. Tapi kemudian ia memahami bahwa Hyeri akhirnya menyadari apa yang seharusnya ia lakukan.

Sedetik kemudian Nyonya Kim tersenyum kecil, tangan kanannya hendak bergerak mengusap kepala Hyeri. Tapi ia mengurungkan niatnya. “Eommonim, aku sangat mencintainya. Jadi biarkan aku tetap bersama Key, aku tidak menginginkan perceraian itu lagi. Ijinkan aku untuk tetap bersamanya, jangan halangi aku untuk bersamanya. Hemm? Aku akan menjaganya dengan baik. Sungguh! Aku berjanji.” terang Hyeri panjang lebar, ia menatap mata ibu mertuanya meskipun air matanya terus mengalir.

Nyonya Kim tersenyum bijak, ia menangkap ketakutan di mata Hyeri. Mungkin saat itu ia terlalu jahat dengan menyalahkan Hyeri atas kejadian yang menimpa putranya. Tapi setidaknya, dengan kejadian itu Hyeri akhirnya menyadari tentang perasaannya pada Key.

Dwaesseo, aku tahu kau mencintainya. Kau sangat mencintainya kan?” tanya Nyonya Kim, dan hanya dijawab oleh anggukan dari Hyeri. “Arasseo, aku melihatnya dari matamu. Kini kau memandang Key dengan cara yang berbeda. Mianhae, karena aku terlalu menyalahkanmu tentang apa yang menimpa Kibum. Aku nyaris kehilangan Kibum empat tahun yang lalu dan aku sangat ketakutan saat itu. Aku takut kali ini Tuhan akan benar-benar membawanya,”

Hyeri mengusap air matanya, dan senyuman kecil tersungging di wajahnya. “Jagalah Kibum dengan baik.”

Gomawoyo, jeongmal gomawoyo.” ucap Hyeri terisak, ia sangat bahagia bahwa ibu mertuanya akan tetap merestui kebersamaannya bersama Key. Nyonya Kim meraih kedua tangan Hyeri, menggenggamnya erat. “Dan boleh aku minta sesuatu?”

“Berilah kami cucu. Hemm? Seorang anak akan memperkuat cinta kalian, percayalah!” lanjut Nyonya Kim dan sukses membuat Hyeri membeku. Tentu saja seharusnya ia tidak terkejut dengan permintaan itu, karena ia sudah sering mendengarnya. Tapi kali ini rasanya lain, ia merasakan ketegangan lain dalam hatinya.

Ne. Aku akan berusaha, eommonim.”

END OF FLASHBACK

“Jyaa, aku sudah rindu dengan Daegu. Baik-baiklah kalian, jangan lupa berkunjung jika Kibum sudah sehat.” ucap Nyonya Kim sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil. Hyeri berjalan menuju teras rumah sambil melambaikan tangannya. Ia dan Key terus menatap mobil yang ditumpangi Nyonya Kim, hingga mobil itu menghilang dari pandangan keduanya.

“Jyaa! Kau ingin makan siang apa? Kurasa sudah waktunya aku memasak.” tanya Hyeri. Key sempat terhenyak, ia merasa dunianya telah kembali. Kembali pada kebersamaannya dengan Hyeri, yeah! Hanya mereka berdua. Dan mengapa itu membuatnya gugup? Entahlah! Ada banyak yang harus ia bicarakan dengan Hyeri. “Oh! aku ingin cream soup.” jawab Key singkat, kemudian ia melenggang ringan ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan Hyeri.

Di atas meja bertaplak merah muda itu telah tersaji dua mangkuk cream soup jagung dengan potongan keju dan daging sapi. Tak lupa jus jeruk dalam gelas tinggi ikut mempercantik jam makan siang. Key telah duduk di salah satu kursi saat Hyeri melepas apronnya.

Palli meokgo!” (Cepat makan!) Hyeri duduk di hadapan Key, kemudian mulai menyendok cream soup buatannya. Ia diam, mengecap lagi rasa cream soup yang baru ditelannya kemudian memandang Key. “Eottae?” tanya Hyeri was-was, karena di lidahnya cream soup itu terasa tidak enak. Key menyendok lagi cream soup-nya, lalu memandang Hyeri dengan pandangan yang sulit diartikan. “Hmmm… not so bad.” ucapnya, kemudian menyendok lagi cream soup dan dengan susah payah menelannya.

Hyeri menyipitkan kedua matanya, “Aish! Geumanhae! Kita makan di luar saja.” Hyeri menarik sendok Key, segera menaruhnya ke dalam mangkuk sup. “Hei! Aku sedang makan.” protes Key, ia berusaha meraih sendoknya lagi. “Tidak usah memaksakan. Rasanya memang buruk, kau bisa kembali ke rumah sakit jika menghabiskannya,” ungkap Hyeri, ia menundukkan kepalanya. “Mianhae, aku tidak bisa memasak dengan baik.” tambahnya.

Key hanya diam. Sejujurnya ia terkejut dengan permintaan maaf dan sikap Hyeri yang aneh. Sebelumnya ia tidak pernah terlihat menyesal apalagi meminta maaf karena masakannya tidak enak. “Gwaencanha, kau tahu kan aku akan selalu memakan masakanmu?” Key berusaha untuk menghibur, ia tahu ini bukan tipe dirinya, tapi apa yang terjadi pada Hyeri membuat Key mengernyitkan dahinya berkali-kali.

“Kita makan di luar saja, eottae? Ah! Bagaimana kalau di restoran bergaya country side kesukaan kita?” wajah Hyeri terlihat begitu berseri. Key kembali mengerutkan dahinya, kesukaan kita? Ia tidak salah dengarkan? Hyeri tidak pernah mengatakan sesuatu atas kepemilikan mereka berdua, kecuali pernikahan mereka yang tidak menyenangkan bagi Hyeri. “Oh! bagaimana kalau kita berbelanja setelahnya? Dan Oh! kita akan makan malam di luar. Sejujurnya aku malas memasak untuk makan malam. Kau setuju kan? Ya? Ya?” Hyeri terlihat begitu antusias, bahkan ia mencondongkan tubuhnya ke arah Key.

“Hyeri-ya, gwaencanha?” pertanyaan itulah yang justru meluncur dari mulut Key. “Apa aku terlihat tidak sehat?” Hyeri balik bertanya. “Oh! Ani, ayo kita bersiap-siap.” Key memilih untuk tetap menyimpan rasa penasarannya, mungkin nanti ia bisa mencari tahu.

***

Keduanya telah duduk di salah satu meja di dekat jendela, sambil menunggu pesanan datang mereka berbincang mengenai banyak hal. Mulai dari hal-hal kecil seperti keadaan kantor yang sudah lama tidak Key datangi, hingga pekerjaan rumah yang akhir-akhir ini membuat Hyeri sedikit kewalahan.

Seorang pramusaji telah meletakkan pesanan mereka di atas meja, kemudian melenggang untuk melayani pengunjung yang lain. Key melahap chicken blackpapper-nya, terlihat jelas bahwa ia begitu kelaparan. Sementara Hyeri menyeruput jus stroberinya santai. Key mengabaikan Hyeri yang diam-diam tengah memperhatikannya. Perutnya sudah terlalu lama memakan makanan tanpa rasa yang diwajibkan Dokter, dan kali ini Key merasa ia menemukan hidup yang sesungguhnya. Jinjja! Ia rasa ia akan pesan beberapa jenis makanan lagi setelah ini.

“Kentang panggang keju dan Salmon saus anggur.” seorang pramusaji datang dan meletakkan dua buah piring di atas meja. Satu piring berbentuk persegi, dan satunya lagi berbentuk bulat lebar. Hyeri tersenyum pada pramusaji tersebut, kemudian ia mulai meraih sendok dan garpu.

“Ah! Kau pesan sebanyak ini? kau akan memakan semuanya?” Key terperangah dengan makanan yang dipesan Hyeri, matanya mengabsen kentang panggang keju dan Salmon saus anggur yang aromanya begitu menggugah. Ia kemudian melirik chicken blackpapper-nya dan merasakan ada ketimpangan yang begitu besar.

Key merengut saat Hyeri mulai memotong kentang panggang keju dan memasukkannya ke dalam mulut. Makanan itu terlihat begitu enak saat Hyeri melahapnya. “Massita?” tanya Key, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Hyeri. Hyeri memotong lagi kentang panggang keju, dan dengan lahap mengunyahnya. “Hmm, jinjja massita. Oh! kurasa aku akan beralih pada salmon ini.” Hyeri segera menyingkirkan piring kentang dan meraih piring salmon.

Key menjilat bibir bawahnya saat ia melihat Hyeri mencolek saus anggur dari ikan salmon. Saus berwarna merah yang begitu kental dan beraroma sedap. “Ah! Pilihanku memang tidak salah. Sausnya sangat sempurna!” ucap Hyeri, kemudian tanpa ragu mulai memotong ikan salmon dan mencicipinya.
Jinjja massita?” tanya Key lagi, kali ini ia benar-benar tidak tahan untuk ikut mencicipi salmon saus anggur milik Hyeri. Tapi yang diajak bicara hanya bergumam tak jelas, ia tetap fokus pada salmon paling enak yang tengah disantapnya.

“Kau tidak makan?” tanya Hyeri dengan mulut penuh, ia menatap heran pada Key yang justru berhenti makan. “Ah!” Key berjengit, ia baru sadar bahwa ia hanya memperhatikan Hyeri. Ia kembali pada chicken blackpapper yang tiba-tiba tidak menarik di matanya.

Hyeri tersenyum geli, ia kemudian menaruh sendok dan garpunya. Disodorkannya kedua piring miliknya ke hadapan Key. “Arasseo, aku hanya bercanda. Aku memesan ini untukmu, aku hanya perlu mencicipi sedikit untuk memastikan ini enak. Palli meokgo!”

Key menatap Hyeri, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ada kesenangan yang membuncah di dalam dadanya. “Gomawo.” ucapnya singkat, kemudian segera menyingkirkan piring chicken blackpapper-nya. Meraih kedua piring yang baru saja disodorkan padanya. Dengan cepat Key mencicipi kedua makanan itu, karena sejak tadi ia sangat tidak sabaran untuk mencicipinya.

Manhi meokgo! Ini akan mempercepat masa pemyembuhanmu.” Hyeri tersenyum sambil menopang dagu dengan tangan kirinya. Entah mengapa ia merasa sangat senang melihat Key makan dengan lahapnya.

“Kau tidak makan?” tanya Key. “Oh! aku sudah memesan pasta, mungkin akan segera datang.” Hyeri menengokkan kepalanya ke satu arah di mana para pramusaji biasanya keluar sambil membawa pesanan. Key menatap tiga piring di hadapannya dan Hyeri bergantian, “Ini terlalu banyak! Bagaimana jika kita makan berdua saja?” tawarnya.

“Oh! ani! Kau memerlukan banyak asupan gizi. Makanlah!” tolak Hyeri, ia kembali menyeruput jus stroberinya. Key memang terbiasa mendengar penolakan dari Hyeri, tapi kali ini ia tidak ingin ditolak. Terlebih lagi perubahan sikap Hyeri yang membuat Key merasa bahwa Hyeri benar-benar mencintainya. Key memotong kentang, “Aku tidak menerima penolakan.” ucapnya ketus, sementara tangan kanannya telah menyodorkan garpu dengan kentang panggang ke arah Hyeri. Seolah meminta yeoja itu memakannya.

Hyeri berjengit, ia menatap garpu dan mata Key bergantian. Dilihatnya Key tersenyum kecil, memandang Hyeri dengan pandangan yang seolah mengatakan bahwa Hyeri harus segera memakannya. Ada perasaan aneh di diri Hyeri, Key belum pernah menyuapinya seperti ini dan rasanya ada sengatan kecil di jantung Hyeri yang membuatnya berdebar lebih kencang.

Aigo! Jalhaesseo.” ucap Key begitu Hyeri menerima suapan kentang dari Key. Ia merasa begitu senang menyuapi Hyeri seperti ini. “Nah, sekarang giliranmu.” Hyeri masih mengunyah kentang saat tangannya begitu saja meraih sendok, ia mencondongkan tubuhnya agar bisa memotong salmon. “Aaaaa.” Hyeri menyodorkan potongan salmon dalam sendoknya, meminta Key untuk menerima suapan darinya. Dan tentu saja dengan senang hati Key menerimanya.

Mereka tertawa, merasa senang dengan apa yang dilakukan satu sama lain. Mereka tenggelam dalam dunia mereka, saling menyuapi hingga makanan di atas meja habis tak tersisa.

***

Jaemi isseosseo?” tanya Hyeri, ia melirik Key di jok di sampingnya. Key hanya bergumam pelan, tangannya sibuk mengecek tas-tas kertas yang berisi barang belanjaannya. “Ah! Aku kenyang sekali hari ini. Jinjja! Kurasa berat badanku akan naik.” ungkap Hyeri, tapi ia terlihat begitu senang. Setelah makan siang, keduanya berbelanja. Hingga tiba waktu makan malam dan mereka makan di restoran kecil di sekitar pusat perbelanjaan. Tak tanggung-tanggung, mereka memesan begitu banyak jenis makanan. Dan semua itu ditunjukkan pada Key untuk mempercepat penyembuhannya.

“Kurasa kita harus sering-sering melakukan ini.” terang Key, ia melirik Hyeri yang tengah fokus pada jalanan di hadapannya. “Aish! Uangmu akan habis jika kita melakukan ini terlalu sering, Sajangnim.” goda Hyeri, ia kemudian terkekeh. Key menaruh tas belanjaannya, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Euh, Hyeri-ya. Boleh aku bertanya?” senyuman di wajah Key telah hilang. “Mwo?” Hyeri tidak mengalihkan padangannya dari jalan. “Ngomong-ngomong, di mana mobilmu?” tanya Key was-was, tentu saja ia tidak benar-benar buta tentang hal itu. Ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan. Jinki yang menceritakan segalanya lewat telepon saat Key bersikeras untuk kembali ke kantor dalam waktu dekat. Tidak mudah memang untuk mendesak Jinki, tapi pada akhirnya semua kekuasaan dan kendali tetap akan kembali pada Key.

Hyeri sempat kehilangan keseimbangan dan membuat mobil yang dikendarainya oleng, tapi dengan cepat ia mengembalikan konsentrasinya. Membuat mobil yang ia kendarai melaju statis seperti sebelumnya. “Oh! itu. Wae?” Hyeri balik bertanya, ia mengulur waktu untuk memikirkan alasan yang bagus.

Ani! Aku hanya sudah lama tidak melihatnya.” jawab Key cepat, ia tahu Hyeri tidak akan menceritakan apa yang telah terjadi selama Key koma. “Oh! aku menitipkannya di rumah Aeri eonni, saat itu aku ke sana dan yah kau tahu? Saat mengetahui kau koma aku merasa tidak bisa mengendalikan diriku. Jadi aku ke rumah sakit bersama Aeri eonni. Kurasa aku melupakan mobilku. Mungkin nanti aku akan mengambilnya saat ada waktu yang tepat.” terang Hyeri panjang lebar. Ia rasa cerita karangannya cukup bagus.

“Kalau begitu kita ke sana sekarang. Kita ambil mobilmu sekarang.” ucap Key tenang dan sukses membuat Hyeri menginjak rem mendadak.

Mwo?” Hyeri membelalakan kedua mata bulatnya. Memandang Key dengan rasa bersalah yang besar. Oh! ia yakin Key sudah tahu apa yang terjadi dengan mobil ungu yang ia belikan untuk Hyeri setelah pernikahan mereka.

“Itu… bisakah kita-“

“Kenapa kau merahasiakannya dariku?” potong Key, kini ia menatap Hyeri serius.

“Kau takut itu akan mengganggu kesehatanku?” tanya Key lagi.

Hyeri hanya diam, tak berani menatap mata Key. Ia tahu namja itu akan marah karena perbuatannya. Ia menarik nafas panjang sebelum kembali menatap mata Key. “Aku tidak bisa memikirkan cara lain. Mianhae.”

Key mendesah ringan, jika boleh jujur tentu saja ia marah dengan apa yang dilakukan Hyeri. Tidak! Ia bukan marah karena Hyeri menggadaikan mobil pemberiannya untuk membayar hutang perusahaan, tapi ia marah karena Hyeri tetap merahasiakan ini darinya. Ia tidak suka saat Hyeri mengorbankan dirinya dan berpikir bahwa ia bisa menyelesaikan masalah besar seorang diri.

“Jatuh temponya masih beberapa bulan lagi, Key. Mungkin uang tabunganku akan cukup untuk menebus beserta bunganya. Aku berjanji akan membawa mobil itu kembali ke rumah.” terang Hyeri cepat, ia tidak mau bertengkar dengan Key. ia takut pertengkaran kecil akan merambat pada hal lain, terutama pada perceraian yang Hyeri rasa telah Key lupakan.

Key berdecak kesal, rasanya ingin menjitak kepala Hyeri yang sekeras batu itu. “Aish! Apa yang harus kulakukan padamu? Di mana kau menggadaikannya? Besok kita ke sana. Besok kita akan mengambilnya kembali.”

Mwo? Oh! tapi Key, uangku-“ Hyeri terlihat resah dan berusaha untuk membujuk Key.

“Yaa! Kau pikir aku ini siapa? Aku ini suamimu, Min Hyeri! Aku yang akan membawa mobil itu kembali padamu. Aish! Aku kesal sekali.” decak Key, ia menahan nafas beratnya. “Mianhae.” Hyeri hanya mampu menundukkan kepalanya.

“Kau pikir aku tidak punya uang untuk itu, huh?” tanya Key lagi. “Ani, ani! Bukan itu maksudku, Key. Tapi-“ kalimat Hyeri segera disambar oleh Key “Listen! ini bukan tipeku, tapi kau harus tahu bahwa suamimu ini sangat kaya! Bahkan harga mobil itu tidak akan mengurangi seperempat dari tabunganku. Arasseo?” terang Key kesal. Ia menatap Hyeri berapi-api.

Hyeri terbelalak, selama ini ia tidak pernah menyentuh hal-hal pribadi milik Key. Apalagi menyangkut uang, yang terpenting adalah Key tetap memberinya uang untuk keperluan mereka sehari-hari. Tapi apa yang baru saja diucapkan Key benar-benar membuatnya terkejut. Hyeri tidak tahu bahwa suaminya sekaya itu. Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu, dan itu membuat Hyeri begitu kesal. Andai saja ia tahu Key punya uang sebanyak itu, Hyeri tidak usah bingung mencari tambahan uang untuk membayar hutang perusahaan. Dan ia tidak perlu menggadaikan mobil ungu kesayangannya.

“YAA! Kau ini menyebalkan sekali!” teriak Hyeri penuh emosi. “Yaa! Yaa! Min Hyeri, aku tidak bermaksud besar kepala di depanmu. Tapi seharusnya kau tahu ini sejak dulu. Semua orang begitu iri padaku karena aku tampan dan punya banyak uang. Tapi tidak seharusnya kau-“ Key menghentikan kalimatnya saat ia melihat Hyeri menangis.

Yeoja itu menggeretakan gigi-giginya, nafasnya mulai tak beraturan seiringan dengan air matanya yang mulai rilis. “Hyeri-ya, mianhae. Aku tidak bermaksud membuatmu rendah di depanku, aku hanya ingin kau membagi kesulitanmu denganku. Aku tidak suka saat kau menyimpannya seorang diri dan beranggapan kau bisa menyelesaikannya. Kau istriku, anggap saja kita adalah team work. Kita harus menghadapi permasalahan bersama, arasseo?!”

Tapi Hyeri justru menangis semakin banyak, nafasnya semakin tak beraturan. Seperti seekor serigala murka yang akan segera menerkam mangsanya. “Euh, Hyeri-ya. Aku kan sudah minta maaf, kau tidak usah menangis seperti itu. Kita akan mengambil mobilmu besok, okay?”

SIKKEURO! BUKAN ITU YANG MEMBUATKU MARAH!” teriak Hyeri, membuat Key terkejut bukan main. “Jika saja aku tahu kau memiliki uang sebanyak itu, aku tidak usah tertekan karena harus mencari cara untuk menyamakan angka yang perusahaan miliki dengan angka yang harus dilunasi. Aku sangat tertekan hingga aku ingin mati. Kau tahu? Kau sangat menyebalkan, Kim Kibum! Kau bodoh! Kau bodoh!” Hyeri memaki Key sambil memukul dada namja itu berkali-kali. Meluapkan kekesalannya.

Key hanya diam, menerima pukulan kecil dari Hyeri. Ia merasa bersalah mendengar apa yang terjadi pada Hyeri. Ia merasa ia bukan suami yang baik karena membiarkan Hyeri menderita seorang diri. Jinjja! Itu membuat Key membenci dirinya.

“Aku benci! Aku benci sekali padamu, Key! Neo paboya! Jeongmal!” caci Hyeri lagi sambil terisak. Tak ada yang terpikirkan lagi oleh Key selain membenamkan Hyeri dalam pelukannya, ia mengusap kepala Hyeri lembut. “Mianhae, sshhhttt! Uljima! Uljima!” bisik Key sambil mengecup puncak kepala Hyeri. Ia tidak tahu apa yang terjadi saat ia koma begitu buruk, dan ia yakin Hyeri telah tertekan lebih banyak dari yang bisa Key pikirkan.

Hyeri tetap menangis dalam pelukan Key, meluapkan seluruh kekesalan atas penderitaan yang ia tanggung sendiri selama Key tidak ada di dekatnya. “Uljima. Itu tidak akan terjadi lagi, trust me! Kau tidak akan melalui kesulitan seorang diri lagi, karena kau memiliki diriku untuk bersandar saat kau lelah. Berjanjilah untuk selalu membaginya denganku.” bisik Key, ia kemudian mengecup puncak kepala Hyeri lagi.

***

Musim semi akan segera berakhir, begitu juga dengan konflik yang terjadi dalam rumah Key dan Hyeri. Kesehatan Key semakin membaik, ia terlihat begitu segar dengan berat badan yang berangsur normal dan potongan rambut pendek seperti seorang namja yang baru tiga bulan pulang wamil. Dokter sudah memperbolehkan Key melakukan aktifitas normal, meskipun ada banyak obat-obatan yang harus tetap dikonsumsi Key sebelum ia dinyatakan benar-benar sehat.

Hubungannya dan Hyeri pun semakin baik. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbagi tawa dan kebahagiaan layaknya suami istri yang saling mencintai. Key merasakan betapa besarnya perhatian yang diberikan Hyeri semenjak ia bangun dari koma. Membuat Key merasa bahwa Hyeri benar-benar mencintainya. Tapi sekali lagi Key harus memastikan apa yang dirasakannya, Hyeri tidak pernah mengatakan apa pun tentang perasaannya saat ini pada Key. Juga tentang perceraian mereka yang sempat tertunda.

Malam itu hujan turun cukup deras, menandakan musim semi memang akan segera berakhir. Key telah berpikir beberapa hari, dan menurutnya ini lah waktu yang tepat untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Ia harus memperjelas status hubungannya dengan Hyeri. Mungkin saja perhatian Hyeri selama ini hanyalah substitusi dari rasa bersalahanya, dan pada akhirnya Hyeri tetap meminta perceraian itu.

Key sempat merasakan ada ganjalan yang begitu besar di dadanya. Meskipun tidak mau, tapi ia harus tetap menghadapi kenyataan. Dan jika pada akhirnya Hyeri tetap pada pendiriannya untuk mencintai Minho, Key akan menerimanya dengan lapang. Ia pikir lebih dari cukup mendapatkan cinta dan perhatian dari Hyeri seperti selama ia sakit. Setidaknya jika mereka bercerai nanti, hubungannya dengan Hyeri akan sebaik teman dekat.

Hyeri membuka pintu kamar, mendorong pintu dengan punggungnya. Sementara kedua tangannya sibuk dengan nampan berisi makan malam Key, buah-buahan dan obat yang harus diminum Key.

“Oh!” Hyeri berjengit saat mendapati Key berjalan dari kamar mandi, namja itu menggosok-gosokkan handuk pada rambutnya. Sementara tetesan kecil air menetes membasahi bahunya. Nampan itu segera Hyeri simpan di atas nakas di samping ranjang, kemudian segera berhambur ke arah Key. Menarik tangan Key dan memaksa namja itu duduk di tepi ranjang. “Kenapa kau mandi?” Hyeri menaruh punggung tangannya di kening Key.

Key hanya memandang Hyeri bingung, tangannya berhenti menggosokan handuk ke rambut. “Aish! Lihatlah, demammu naik kurasa. Kau harus minum obat penurun demam setelah makan. Oh! kau mau aku memasakan sup untukmu?” Hyeri bicara panjang lebar, sementara Key dengan tenang meraih lemon tea hangat di atas nampan, kemudian menyesapnya ringan.

Gwaencanha, sudah berapa lama aku tidak mandi? Empat bulan? Jinjja! Mana bisa bos Kim tidak mandi selama itu?” Key terkekeh, kemudian kembali menyesap lemon tea-nya. Berusaha acuh tak acuh dengan ucapannya karena sebenarnya ia merasa sedikit pusing setelah mandi. Ia rasa itu karena ia sudah lama tidak mandi, ia hanya mengandalkan handuk basah yang mengelap tubuhnya selama ini.

Hyeri memanyunkan bibirnya, ia mencibir sambil memutar bolamata. “Aigo! Jyaa, sekarang kau makan dulu. Kurasa aku harus membuat jus jambu untuk menurunkan demammu bos Kim. Kau bilang akan kembali ke kantor minggu depan, bagaimana jika kau sakit lagi?” omel Hyeri, ia kemudian menunggu Key menghabiskan lemon tea-nya.

Diraihnya cangkir lemon tea yang telah kosong dari tangan Key, menaruhnya ke atas nampan. Dengan gesit ia meraih piring berisi nasi dan telur dadar lengkap dengan sayuran rebus, kemudian menyodorkannya pada Key.

Hyeri beranjak setelah Key maraih piring makan malamnya. Pantatnya belum sepenuhnya beranjak dari ranjang saat tangan Key manahannya. Mata Hyeri memandang Key dan piring yang telah kembali berada di atas nampan bergantian. Ia menaikkan kedua alisnya memandang Key, seolah mengatakan apa?

“Kau tidak perlu melakukannya, istirahatlah. Demamku akan sembuh setelah aku makan dan meminum obat-obat ini.” Key memandang isi nampan sekilas, kemudian tersenyum hambar.

Hyeri terlihat berpikir sejenak, Key benar! Tubuhnya memang merasa lelah dan perlu beristirahat. “Aniya! Kau tidak boleh menyepelekan penyakitmu, Key. Setelah Dokter mengatakan kau sembuh total, aku akan menuruti keinginanmu untuk beristirahat.”

“Kau mencemaskanku?” lagi, gerakan Hyeri tertahan saat ia baru saja mulai beranjak. “Kau mencemaskanku? Atau kau hanya merasa bersalah padaku?” senyuman di wajah Key telah hilang, ia menatap Hyeri serius, menghujani Hyeri dengan pertanyaan yang beberapa hari ini terus berputar dalam kepalanya.

Hyeri memandang Key, tidak ada lagi senyum di wajahnya. Semenjak Key bangun dari koma, Hyeri sama sekali belum mengatakan bahwa ia sangat mencintainya. Bahwa kejadian itu telah menyadarakan perasaannya terhadap Key. Bahwa Hyeri ingin melupakan perceraian itu dan hidup normal bersama Key. Tapi Hyeri tidak tahu bagaimana cara mengatakannya, itu memang terdengar mudah tapi tidak bagi Hyeri. Ia terlalu sering menolak Key dan membuat namja itu kecewa, ia takut jika Key justru akan menolaknya jika Hyeri menyatakan perasaannya.

“Kau mencemaskanku?” tanya Key lagi, kini wajahnya terlihat tidak sabaran. Hyeri mengalihkan pandangannya pada seprai berwarna krem kemudian kembali pada mata Key , inikah saatnya untuk menyatakan bahwa ia mencintai Key? pikir Hyeri. Tapi bagaiaman jika Key menolaknya dan akan tetap menceraikannya?

Aniya.” jawab Hyeri datar. Ia putuskan untuk mengulur waktu, dirinya belum siap untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Key. Ia masih ingin menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan Key, tanpa terganggu masalah perceraian atau pun perasaan yang belum diketahui Key.

Key menghela nafas, seolah menghembuskan perasaan sakit melalui hidungnya. Ia tersenyum hambar. Sepertinya selama ini ia salah jika mengira Hyeri telah mencintainya. Ia terlalu percaya diri. “Jadi kau merasa bersalah padaku? Kau tidak perlu melakukan ini semua, aku me-” belum sempat Key menyelesaikan kalimatnya, Hyeri segera menyambar.

Aniya! aku tidak merasa bersalah padamu sedikitpun, Key.” Hyeri memandang Key tajam, membuat namja itu berjengit. Key menyipitkan matanya seolah ingin membaca apa yang sedang dipikirkan Hyeri. Sungguh! Kali ini apa lagi? Mengapa Hyeri pandai sekali membuat hati Key terluka?

Geuraesseo wae?” bisik Key serak. Ia menahan nafas, bersiap mendengar jawaban Hyeri yang ia yakin akan lebih menyakitkan dari semua pemikirannya. Key tahu, Hyeri tidak akan pernah bisa melupakan Minho dan mencintainya, tapi mengapa rasa cintanya pada Hyeri tidak pernah berkurang sedikitpun?

Hyeri kembali mengalihkan pandangannya pada seprai berwarna krem itu, kemudian memaksakan seulas senyum. Rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Key. Emosi Key tidak stabil, dan itu bisa saja menimbulkan perdebatan kecil dengan Key, itu bisa mengganggu kesehatannya. Tangan kanan Hyeri merengsek menyentuh handuk yang masih bertengger di kepala Key, menggosoknya pelan pada rambut Key “Geumanhae, kita akan membicarakan ini lain kali.” kemudian menarik handuk dan kembali beranjak.

Marhaebwa!” Key kembali menahan Hyeri, ia tidak mau menunggu apa pun lebih lama lagi. Dengan begitu ia akan berhenti berharap bahwa Hyeri telah mulai mencintainya.

Hyeri menghela nafas, ia sungguh tidak ingin membahas hal itu. Bukan karena itu akan menyulut pertengkaran seperti yang sudah-sudah, tapi ia sungguh merasa belum siap untuk mengatakan ini. Ada perasaan malu yang begitu besar setiap kali Hyeri berusaha untuk mengatakannya. Tidak bisa dijelaskan, tapi mungkin ini lah yang selama ini disebut dengan Woman’s pride.

Hyeri pikir akan lebih baik jika ini mengalir begitu saja. Ia berharap Key akan tahu bahwa ia begitu mencintainya, tanpa harus mengucapkan kalimat itu langsung dari mulutnya. Tubuhnya bergerak begitu saja tanpa perintah dari otak, melakukan banyak hal demi Key. Ia hanya tidak mau hal yang lebih buruk terjadi pada Key, ia tidak mau ketakutannya saat Key koma menjadi nyata. Karena Hyeri pikir ia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa Key, ia telah kecanduan oleh Key dan akan segera mati jika tidak ada Key.

“Aku,” Hyeri menggantungkan kalimatnya, matanya menatap Key dengan sorot mata yang meredup. “Aku takut kehilanganmu…” Hyeri tidak tahu apa yang baru saja ia bicarakan , kalimat itu seolah telah berada dalam mulutnya begitu saja.

Key membulatkan kedua bola matanya, seolah tak percaya dengan apa yang baru dikatakan Hyeri. Benarkah yeoja itu takut kehilangan dirinya? apa saja yang terjadi selama ia koma?

“Min Hyeri, kau-”

“Kau tidak akan mengerti betapa takutnya saat melihatmu tertidur berhari-hari dengan banyak alat menempel di tubuhmu, kau tidak akan mengerti betapa frustasinya saat aku bahkan tidak bisa menyentuh ujung jarimu hanya untuk memastikan kau masih ada,” Hyeri menggantungkan kalimatnya, mata mereka kembali saling bertemu.

Perlahan kedua mata Hyeri digenangi benda cair, membuat Key menjadi buram dalam pandangannya. Hyeri menghela nafas, “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Key. Lebih besar dari yang pernah kau pikirkan. Aku sangat mencintaimu.” Hyeri mendesah, beberapa ganjalan seolah terlepas dari dadanya.  Ia sudah mengatakannya, dan ia tidak peduli jika Key menolaknya.

Hyeri masih memandangi Key saat namja itu menarik Hyeri dalam pelukannya. Memeluknya erat sambil mengecup puncak kepalanya. “Mianhae…” bisik Key, membuat airmata Hyeri rilis dengan sempurna membasahi pakaian Key.

Mianhae…” bisik Key sekali lagi, ia merasa sangat bersalah telah membuat Hyeri ketakutan.  Tapi di sisi lain ia begitu bahagai karena Hyeri baru saja mengatakan bahwa ia mencintai Key, sangat mencintai Key. Oh! Key harap ia tidak sedang bermimpi saat ini, dan jika ia bermimpi sekalipun, ia harap ia tidak pernah bangun.

Hyeri meluapkan seluruh ketakutannya dalam pelukan Key, menangis sebanyak yang ia bisa. Ia merasa hatinya benar-benar terluka dengan semua ketakutannya akan kehilangan Key, juga dengan tekanan saat ia tidak diperbolehkan menemui Key saat  koma.

Pelukan Key membuat Hyeri merasa lebih baik, ini lah yang selama ini diperlukan Hyeri. Sebuah tempat untuk bersandar dan meluapkan kesedihan. Perlahan Hyeri melepaskan dirinya dari pelukan Key, menundukkan kepala sambil mengusap air matanya. Ia menatap Key, kemudian tersenyum. “Ah! Mianhae.” punggung tangannya kembali mengusap airmata yang masih menetes. Ia merasakan wajahnya memanas, baru menyadari bahwa ia benar-benar telah mengutarakan perasaannya pada Key.

“Hyeri-ya.” Panggil Key, yeoja itu dengan ragu menatap Key. Ia tahu apa yang akan dibicarakan Key, dan itu membuat perutnya sakit.

Key masih belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang terjadi, yang ia tahu adalah ia telah melewatkan banyak hal selama koma. Dan apa yang baru saja diucapkan Hyeri membuat dadanya berdebar, ada sesuatu yang menggebu-gebu dalam dirinya dan itu membuatnya senang.

Mianhaegomawo…” Key tersenyum, jari tangannya ikut mengusap air mata Hyeri. Hyeri memutar bolamatanya, berusaha agar air matanya berhenti menetes “Oh! kurasa aku akan membuatkan jus untukmu.” Hyeri kembali beranjak, ia ingin berlari secepat mungkin karena kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Begitu merah dan panas.

Dwaesseo.” Key kembali menahan Hyeri, ia mengusap lagi air mata di wajah Hyeri. “Tetaplah di sini,” pinta Key, tangannya mengusap lembut pipi Hyeri.

“Aku juga sangat mencintaimu. Selalu mencintaimu seperti saat pertamakali aku mencintaimu.” lanjut Key sumringah, ia tidak tahu bagaimana meluapkan kebahagiaannya saat mendengar bahwa Hyeri begitu mencintainya.

“Aku tidak sedang bermimpi kan? Aku benar-benar mendengar bahwa kau mengatakan kau sangat mencintaiku? Benarkah, kau mencintaiku, Min Hyeri?” tanya Key memastikan.

Hyeri hanya diam, memandangi Key saat namja itu merengsek mendekatinya. Key melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hyeri, menariknya perlahan agar yeoja itu mendekat. Mata Hyeri mengikuti gerakan bibir Key yang terus mendekat ke arahnya, tanpa ia sadari kedua tangannya telah berada di dada Key.

“Key, aku-“ jantung Hyeri berdebar begitu kencang, hingga gendang telinganya menangkap suara debaran itu. “Kau telah mengatakannya, kau mencintaiku. Gomawo.” membuat Hyeri kehabisan daya, ia merasa lemas dengan tatapan Key yang seperti itu.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.” bisik Key, membuat mata Hyeri terpejam menikmati hembusan nafas yang hangat di wajahnya. “Nado, Saranghae.” Key kembali berbisik sebelum ia menyapukan bibirnya pada bibir Hyeri, melumat bibir yeoja itu dengan lembut. Hyeri merasakan suhu tubuh Key di bibirnya, rasa hangat itu kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya.

Decakan-decakan kecil mulai terdengar memenuhi kamar mereka, ciuman itu terlepas sesaat saat keduanya mengambil nafas. Saling memandang dan melempar senyum tak terartikan sebelum kembali saling melumat.

Hyeri menghembuskan nafasnya yang terasa berat di tengah ciuman mereka, menandakan ia mulai terbuai oleh ciuman yang semakin lama terasa semakin panas. Kedua tangannya telah mengalung di leher Key dengan sempurna, sementara satu tangan namja itu mulai menjelajahi lehernya, bergerak turun mengikuti lekuk tubuh Hyeri.

Hyeri tidak mengerti mengapa sentuhan Key di tubuhnya membuat ia merasa bahagia. Jantungnya berdebar begitu kencang dan tenaganya seolah menghilang begitu saja. Oh! ia rasa ia sudah begitu mabuk. Mabuk karena perlakuan Key yang membuat tubuhnya serasa disengat aliran listrik kecil.

***

Key kembali merengkuh rahang Hyeri saat yeoja itu masih mengambil nafas, memberikan ciuman hangat yang dengan cepat berubah menjadi panas. Desahan-desahan yang lolos dari bibir Hyeri membuat sesuatu dalam dirinya semakin bergejolak, ingin meluapkan sesuatu yang menghentak-hentak dalam dadanya.

Tidak ada perlawanan seperti yang sudah-sudah, Hyeri malah terlihat menginginkan sentuhan yang lebih dari ini. Key melepas ciuman mereka, menatap lagi wajah semu merah yeoja-nya. Ia suka melihat Hyeri yang seperti itu,  mata sayu dan nafasnya yang tersengal membuat Key ingin menguasai Hyeri sepenuhnya.

Saranghae.” bisik Key lagi sebelum ia membenamkan wajahnya di leher Hyeri, menghirup aroma tubuh Hyeri sebanyak yang ia bisa. Dan itu membuatnya semakin menggebu-gebu.

“Key,” Hyeri menahan dada Key saat namja itu hendak merengkuhnya lagi. Ia mengambil nafas dalam-dalam, berusaha mengontrol dirinya. Key tidak menjauh, ia menahan gerakannya saat bibirnya hanya berjarak lima jari dari bibir Hyeri. Matanya tetap menatap bibir Hyeri selagi menunggu apa yang ingin dikatakan Hyeri. Apa pun yang dikatakan Hyeri, Key tidak mau tahu lagi. Yang ia inginkan hanya meluapkan gejolak yang terus bergemuruh dalam dirinya. Ia tahu Hyeri tidak ingin menolak ini.

Nafas Hyeri tetap memburu, ia tidak bisa mengontrol dirinya. Sentuhan-sentuhan yang diberikan Key membuatnya terbuai dan menginginkannya semakin jauh. Hyeri menatap mata Key “kau masih demam.” ucap Hyeri serak, kemudian matanya berpindah pada bibir Key, seolah menginginkan untuk segera mendarat di bibirnya.

Key tersenyum, ia semakin mendekatkan bibirnya pada Hyeri. Ia tahu yeoja-nya menginginkan hal yang sama. “Kuberitahu, aku akan baik-baik saja. Trust me!” dalam satu gerakan ia kembali menjangkau bibir Hyeri. Memberinya lumatan-lumatan yang sedikit tergesa-gesa.

Hyeri menerima ciuman panas itu, membalasnya dengan penuh kesadaran. Tidak ada lagi rasa takut atau perasaan bahwa ia akan mengkhianati Minho jika melakukan hal ini. Setiap respon yang diberikannya pada Key dilakukan dengan kesadaran penuh.

Hyeri tidak melakukan perlawanan, tubuhnya menerima begitu saja sentuhan-sentuhan yang diberikan Key, membiarkan Key menguasai dirinya. Dalam hatinya, ada keinginan tulus untuk menyerahkan dirinya pada Key. Menjadikan dirinya milik Key, seutuhnya, tanpa tercemari perasaan bahwa hanya Minho lah yang boleh menyentuhnya. Hati kecilnya benar-benar menginginkan hal itu, menyerahkan dan mempercayakan seluruh hidupnya pada Key.

Hyeri semakin larut dalam sentuhan Key pada tubuhnya. Tak ingin sedikitpun melepaskan dirinya dari genggaman Key.

Hyeri memejamkan kedua matanya, kedua tangannya berpegangan erat pada bahu Key. Menahan rasa sakit saat tubuh Key bergerak tanpa kendali di atasnya. Ia tidak mengerti, rasa sakit itu perlahan hilang. Tergantikan dengan kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Tidak bisa dijelaskan, tapi ia merasa bahagia saat Key menguasai dirinya.

Perlahan kedua tangannya turun, menyentuh punggung polos Key. Tangannya mulai meraba, mencari-cari sesuatu di sana. Dan berhenti saat indra perabanya merasakan goresan memanjang di ruas tulang punggung di bagian tengah. Perlahan satu tangannya menyentuh goresan itu, goresan yang mulai menipis dan sedikit mengganjal. Inikah luka yang serupa dengan luka miliknya? batin Hyeri.

Lalu kapan ia akan mengatakan pada Key bahwa ia lah pendonor sumsum tulang belakang yang kini ada di tubuh Key?

***

Key membuka kedua matanya saat cahaya yang menyilaukan memaksanya untuk mengakhiri tidur lelapnya. Ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk. Dilihatnya tirai biru yang telah terbuka sedikit dan tertiup angin dari celah ventilasi. Meskipun cahaya yang masuk tidak terlalu menyilaukan karena sepertinya di luar langit mendung, tapi itu cukup untuk segera membangunkan Key.

Ia mengerang pelan, rasanya masih ingin untuk terlelap dan melanjutkan mimpi indahnya semalam. Suara kendaraan yang samar-samar melintas di jalanan terdengar oleh Key, menandakan bahwa ini sudah lewat dari pagi.

Ia meragangkan otot tubuhnya sambil menguap malas. Ia beranjak dan terduduk di ranjang, membiarkan selimut yang menutupi tubuhnya melorot hingga pinggangnya. Key hendak beranjak saat menyadari bahwa ia sama sekali tidak memakai pakaian. Ia berjengit, dengan cepat melirik ke sampingnya. Tenyata itu bukan mimpi!

Key mendapati ranjang yang ia tiduri begitu berantakan, dengan seprai yang tidak rapi. Juga hal lain yang membuatnya sangat yakin bahwa semalam ia tidak bermimpi. Tapi di mana yeoja itu?

Key mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, berharap ia menemukan Hyeri, tapi nihil. Ia bahkan harus kecewa saat mendapati pintu kamar mandi yang setengah terbuka, menandakan bahwa tidak ada orang di dalamnya.

Key beranjak sambil menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut. Ia rasa ia harus cepat mandi dan menemukan Hyeri.

Tiga puluh menit berlalu, Key telah berganti pakaian dengan celana selutut dan tshirt hitam. Ia menatap ranjang sambil mengerutkan keningnya, ranjang itu telah rapi dan berganti bed cover. Key melangkah ke luar kamar, berharap segera menemukan Hyeri di ruang tengah atau di dapur. Tapi nihil, ia tidak menemukan Hyeri. Key menatap meja makan yang telah dipenuhi beberapa piring berisi makanan. Nasi goreng dengan parutan keju di atasnya, dan oh! ada telur mata sapi dengan taburan bawang goreng, dan segelas susu.

Key mengedarkan pandangannya ke seisi dapur, tapi tetap tidak menemukan Hyeri. Ia hendak mencari Hyeri ke lantai dua saat perutnya telah lebih dulu berdemo minta diisi. Key menarik kursi, memutuskan untuk mendapatkan sarapannya dulu sebelum ia mencari Hyeri.

Dilahapnya nasi goreng kesukaannya, ia tersenyum saat mendengar suara mesin cuci dari lantai dua. Ia yakin bahwa Hyeri tengah mencuci, mencuci seprai dan bed cover yang kotor atas pebuatan mereka semalam.

=TBC=

10 thoughts on “Archangel – Part 22 [SKIP]

  1. Nama : Diyah Retno
    Nama id : diyret
    alamat e-mail : diyahdiret@yahoo.com
    summary :sblm hyeri mngenal key. Dulu ia berpacaran dengan minho. Tapi nasib malang menimpa hubungan hyeri dan minho. Minho mengidap penyakit kanker darah (Leukimia). Sampai akhirny hyeri ingin memberikan sumsum tulang belakang nya untuk minho agar ia bisa sembuh dari penyakitnya. Namun takdir berkata lain sebelum hyeri memberikan sumsum tulang belakangnya minho telah tiada.
    Hyeri telah berjanji kepada minho bahwa dia akn tetap memberikan sumsum tulang belakangnya.
    Disisi lain key sangat membutuhkan pedonor sumsum tulang belakang ia juga mengidap penyakit leukimia seperti minho. Dan akhrnya hyeri memberikan sumsum tulang belakang nya kepada key. Namun hyeri meminta kepada pihak rumah sakit agar menyembunyikan identitasnya dari keluarga penerima pendonor.
    Key telah kembali sembuh, ia memimpin sebuah perusahaan yang cukup terkenal. Hyeri bekerja diperusahaan key. Hyeri menjadi seorang designer. Sampai key menyukai hasil design hyeri. Akhrnya key menyukai hyeri.
    Namun apa daya hyeri tdk pernah menyukai orang lain selain minho. Sampai akhrnya key berjanji akn membuat hyeri melupakan minho. Dan akhrnya mereka menikah. Namun sdh 1thn mereka menikah hyeri msh blm bisa melupakan minho. Key yang sdh tdk sanggup lg akhrnya mngajak hyeri utk bercerai, walaupun dirinya tdk mengingkan hal itu karena key sangat mencintai hyeri.
    Sebelum sidang perceraian dilakukan key masuk rumah sakit karena penyakit leukimianya dlu. Key koma selama beberapa bulan. Hyeri mulai menyadari bahwa dirinya sangat sangat sangat mencintai key,

    saya bleh mnta pw epsd 13,15,22, sm 24 ny bleh?
    hehehe maf y mntany kebanyakan eun cha ssi ^_^
    saya tunggu emailny y
    Gomawoyo ^____^

  2. Auwhhh so swit tau gak sih >< itu key-hyeri berakhir di ranjang aigoo
    Turut bahagia dah gue kekekeke
    ;A;;; suka dehsama part yang inih QAQ
    Lanjutbaca

  3. Gak nyangka si key yg udh sekarat,bisa sehat kmbali dan juga berbagai masalah sdikit” udh teratasi mgkn ini yah yg disebut takdir dan kekuatan cinta hhhha ,dan AKHIRNYA stlh skian lama terbelenggu dlm masa lalu si hyeri ngebuat pernyatan cinta bwt suaminya si key ,huaa knp dari dulu ajah akhrnya luluh jg kan xD chukaee yaa ,hhi memasuki part part akhir ini tmbh tegang (o_o)

  4. Omg!😮
    “Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Key.
    Lebih besar dari yang pernah kau pikirkan.
    Aku sangat mencintaimu.” -Hyeri
    Kyaaaaaa senangnyaaaaa dengan kata2 Hyeri…Key kau saking senangnya sampe begituan(?) Kekkeekeekekekekek ^^v
    Bagus part ini😄

  5. Key~~ baru saja mandi udah gituan -_-
    sedih banget pas Key yg koma di RS, smpet nyimpulin klo Hyeri egois, gk rela Key pergi .. pdahal dia-nya udah bnyak nyakitin Key..
    pinter ngubek-ngubek emosi readers nih ^^ good job😀

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s