Fallen Angel – Part 1

Main cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri

Supporting cast :

Kim Kibum [Key] | Lee Taemin | Min Hyeri

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating              : PG 15

 Yeah!! Part 1. Adakah yang sudah menantikan? .kekeke. Oia, yang udah baca teaser-nya, tolong jangan men-skip apa pun di part 1 ini. Meski teaser diambil dari part 1, tapi ada banyak yang ga disertakan. Jadi, jangan sampe ada yang terlewat yaa🙂
Selamat membaca. Jangan lupa kritik dan saran yang membangun. Patronizing is not allowed!

Lelaki itu melangkahkan kedua kakinya, melangkah mengikuti ke mana batinnya meminta. Rasa penat yang semakin lama semakin menguasainya membuat ia jengah. Ingin rasanya berontak dan berteriak, menyuarakan batinnya yang begitu tersiksa. Langkahnya kian cepat, mungkin kini ia mulai berlari. Menapaki butiran halus berwarna kecokelatan. Kedua matanya menjelajah, mendapati deburan ombak dan pesisir yang sepi. Hanya garis horizontal yang membatasi antara langit dan luasnya biru yang membentang.

“Arrrrggghhhhttttt!!!!”

Ia berteriak, seiringan dengan sepasang sepatu yang baru ia lepas. Kini kedua kaki telanjangnya menembus butiran kecoklatan, membiarkan butiran-butiran itu menyelip di antara jari-jari kakinya, bahkan di sela-sela kukunya.

“Arrrrggghhhhttttt!!!!”

Ia berteriak lagi. Menyuarakan batinnya yang selama ini tersiksa, yang terkungkung ketidaktahuan tak berujung. Ia terus melangkah, menapaki ombak kecil yang membasahi bagian bawah denim-nya.  Beberapa klise mulai berputar dalam kepalanya. Begitu banyak dan cepat, seolah ia sedang menonton film di mana dirinya berperan sebagai peran utama. Ia melihat dirinya sendiri, seorang bocah lelaki dengan pipi bulat dan mata sipit. Memanggil-manggil sebuah nama yang hingga saat ini pun selalu ada dalam hatinya.

Eomma,” tanpa sadar ia menggumamkan nama itu. Nama yang selama ini selalu mencintai dan dicintainya. Sungguh! ia begitu mencintai malaikat bernama eomma yang selama ini selalu ada untuknya. Tapi mengapa? Mengapa justru malaikat itu membuat hidupnya tersiksa?

 “Arrrrggghhhhttttt!!!!”

Ia berteriak lagi. Seolah mengenyahkan ganjalan yang selama ini membuatnya sesak. Pada kenyataannya, itu sama sekali tidak membantu. Rasa sakit itu justru semakin menjadi dan membuatnya semakin sesak.

Mianhae.” Gumamnya lirih. Ia lalu kembali melangkah, menapaki deburan ombak yang kini telah menenggelamkan bagian bawah tubuhnya sebatas pinggang. Garis horizontal itu membelah cakrawala, menunjukkan betapa dekatnya langit dan laut. Lelaki itu terus melangkah, seiringan dengan klise-klise yang kini beputar terbalik dalam kepalanya. Klise itu terus berputar, dan kini telah tiba pada kejadian di mana dirinya berusia 6 tahun. Saat teman-temannya mengejeknya karena ia bahkan tidak tahu siapa ayahnya. Belasan tahun telah berlalu, tapi rasa sakit itu masih terasa. Cacian dari teman-temannya terus berputar dalam ingatan, membuat langkahnya semakin cepat. Kini air laut telah setinggi dadanya. Nafasnya mulai terengah, jantungnya berdebar cepat.

“Zzzraaassshhhhh…” deburan ombak beberapa meter di hadapannya bak mesin pengingat yang menjerit. Meminta dirinya untuk segera tiba di sana lebih cepat. Langkahnya terasa berat, air laut yang kini mencapai dagunya mulai menusuk. Kini dalam kepalanya terputar ulang sebuah klise di mana dirinya yang berusia 7 tahun duduk di hadapan seorang lelaki.

“Jinki-ya, mulai hari ini kau harus memanggilku appa, ara?”

Kalimat itu berdengung lagi di telinganya, seolah si pemilik suara baru saja mengucapkannya. Jinki memejamkan kedua matanya, hatinya terasa perih. Ada sesuatu yang menusuk di sana, dan itu membuatnya seolah akan mati. Tak ada seorangpun yang akan mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Tak seorangpun!

Appa mencintai Jinki.”

Lagi, suara berat itu berdengung lagi di telinganya. Begitu jelas. Jinki menyeret kedua kakinya, memaksa melangkah lebih cepat. Nafasnya terengah, seiringan dengan air mata yang menetes pelan membasahi kedua pipinya. Kini air laut telah mencapai bibirnya. Jinki berhenti. Kedua matanya liar menyapu sekitarnya, mendapati lautan sepi di sore hari. Matanya beralih pada garis horizontal di hadapannya. Tak ada lagi warna laut dan musim semi yang indah, tergantikan dengan warna kesuraman dan senja yang mencerca.

Ia kembali melangkah, memejamkan kedua matanya saat air laut telah menenggelamkan hidungnya. Terus melangkah hingga telinganya tidak mendengar lagi suara laut dan sunyinya senja. Seluruh tubuhnya telah tenggelam dalam air. Ia terus melangkah, semakin jauh hingga tubuhnya tidak bisa berdiri lagi. Kini ia terombang-ambing air laut.

Kekuatannya untuk menahan nafas dalam air telah habis, berkali-kali ia mengambil nafas. Menyebabkan air laut masuk ke dalam hidungnya. Ia tersedak, dan mulai ketakutan. Kedua kakinya sempat berontak, menendang-nendang air. Berusaha melepaskan diri dari jeratan ketakutan yang memeluknya semakin erat. Tapi sayang, tekadnya lebih kuat. Tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup, semuanya begitu hampa dan sunyi. Ia yakin, seluruh penderitaannya akan sirna begitu ia mengakhiri hidupnya. Membiarkan jiwanya lepas dari raga.

Air laut semakin banyak masuk ke dalam hidungnya, menembus kerongkongannya. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tetap bertahan, menunggu sang malaikat pencabut nyawa menghampirinya.

Ia membuka kedua matanya. Buram. Air laut yang kusam seolah menjadi pintu gerbang menuju akhirat. Tentu ia takut, tapi ini lebih baik baginya. Diingatnya senyuman malaikat yang paling ia cintai sebelum air laut menjadi begitu gelap dan mencekam. Tubuhnya semakin lemas, ia menggelepar saat paru-parunya telah dibanjiri air laut.

Samar-samar, ia melihat sebuah sosok meluncur dari permukaan laut. Kedua mata Jinki mulai terpejam, saat ia menyadari bahwa sosok itu mengulurkan tangannya. Itu adalah malaikat, malaikat yang jatuh dari surga, memiliki sayap seputih salju. Malaikat itu tersenyum ke arah Jinki sebelum segala sesuatunya menjadi gelap di mata Jinki.

***

Lelaki itu melangkahkan kedua kakinya pasti, menapaki lantai marmer berwarna abu. “Annyeonghaseyo, Jinki-ssi.” Sapa seorang security yang menyambutnya di lobi. Lelaki yang dipanggil Jinki itu menundukkan tubuhnya seraya tersenyum, lalu ia melanjutkan langkahnya.

Ting!

Terdengar bunyi saat lift berhenti di lantai lima. Ia berjalan santai menyusuri koridor tak panjang di sana. Langkahnya terhenti beberapa meter di hadapan pintu aula. Perlahan, ia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya. Sementara kepalanya mengira-ngira, apa yang akan terjadi setelah ia masuk? Ragu-ragu tangannya terulur ke arah kenop pintu, nyaris saja menyentuhnya saat pintu tiba-tiba terbuka.

“Jinki-ya! Palli deuroga!” (Cepat masuk!) seorang lelaki dengan mata rubah dan rambut cokelat terang segera menarik Jinki. Tidak memberi Jinki kesempatan untuk membuat rileks dirinya. Kini Jinki telah berada dalam aula yang dipenuhi orang-orang penting dari perusahaan. Diabsennya kesepuluh orang yang kini memandang ke arahnya.

Annyeonghaseyo, Lee Jinki imnida.” Sapanya, lantas ia membungkukkan tubuhnya. Kesepuluh orang tadi bangkit, membalas salam Jinki sambil membungkukkan tubuhnya.

Yeorobundeul, ini Lee Jinki. GM baru perusahaan kami.” Terang lelaki yang tadi menarik Jinki ke dalam ruang rapat. Sepuluh orang yang lain hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali duduk. Lelaki berambut terang itu lantas melangkah menuju satu-satunya kursi kosong di ujung. “Jyaa, Jinki-ssi silakan.” Ucapnya, mempersilakan Jinki menyampaikan sesuatu.

Jinki yang tadi sempat duduk segera bangkit. Ia berdeham pelan, berusaha mengenyahkan rasa gugupnya. “Seperti yang sudah disampaikan oleh Kim sajangnim, aku adalah GM baru diperusahaan ini. Jika boleh menceritakannya, sebenarnya aku ini lebih dari seorang GM bagi Kim sajangnim,” Jinki melirik lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan Sajangnim tadi, lalu tersenyum kecil. Sepuluh orang lainnya memperhatikan Jinki, menunggu lelaki itu meneruskan kalimatnya. “bisa dibilang aku adalah tangan kanan Kim sajangnim. Sajangnim mempercayakan banyak hal penting padaku. Maka dari itu, aku berharap Anda sekalian pun bisa mempercayaiku seperti Sajangnim. Dan tentunya, aku akan mengerjakan dengan baik apa-apa yang Anda sekalian percayakan padaku. Mari bekerjasama dan membuat prestasi sebaik mungkin.” Jinki mengakhiri pidato singkatnya dengan membungkukkan lagi badannya.

Yang lainnya bertepuk tangan, menyambut keberadaan Jinki sebagai GM baru. Mereka lalu membahas agenda rapat yang mencakup kerangka acuan kerja dan kontrak-kontrak yang akan membawa mereka menuju target pencapaian.

Matahari semakin naik, memantulkan kilaunya melalui gedung-gedung pencakar langit di Seoul. Hiruk pikuk semakin terasa saat memasuki jam makan siang itu. “Aku harap kerjasama yang baik. Terima kasih.” Kim sajangnim menyudahi rapat hari itu. Semua orang merapikan map masing-masing. Beberapa masih saling berbincang kecil sambil berlalu meninggalkan aula.

Jinki masih merapikan kertas-kertas ke dalam mapnya saat lelaki yang tadi dipanggilnya sajangim telah ada di sampingnya. “Wah, hari ini kau hebat sekali, GM.” Lelaki itu tersenyum nakal.

“Tapi aku sedikit gugup.” Tanggap Jinki singkat, lalu kembali pada kertas-kertasnya.

“Gugup? Tapi tadi kau terlihat begitu santai, Jinki-ya!” lelaki itu meninju pundak kiri Jinki. Lalu menyandarkan pinggangnya pada meja, melipat kedua tangan di depan dada.  “Geurae, kita harus merayakan ini! kutraktir kau makan siang.” Tawarnya penuh semangat.

Jinki telah selesai dengan kertas-kertasnya dan segera memasukkan beberapa map ke dalam tas. Berdecak pelan sambil mendelik, “Traktir? Tidak bisakah aku mendapatkan uangnya saja? Jinjja! Sampai kapan kita akan makan siang berdua, Key?”

Key terkekeh, tidak mempedulikan omelan Jinki. Lelaki itu merangkul bahu Jinki, “Sampai salah satu di antara kita punya kekasih.” Guyon Key, lalu berjalan mendahului Jinki. Jinki berdecak. Tapi ucapan Key ada benarnya, sudah berapa lama mereka berteman? Dan pertanyaan lain yang muncul adalah sudah berapa lama mereka tidak punya kekasih? Jinki tersenyum kecil, lalu mulai mempercepat langkahnya. Berusaha menyusul Key sebelum lelaki itu naik ke dalam lift dan meninggalkan Jinki seperti yang sudah-sudah.

***

Keduanya telah berada di salah satu restoran kecil tak jauh dari kantor. Berbincang sambil menikmati makan siang mereka. “Kurasa menjadi GM adalah langkah awal yang cocok untuk memulai segalanya.” Key membuka pembicaraan.

Jinki menelan makanannya, “Langkah awal? Kau pikir aku mau kemana?” tanyanya polos, lalu kembali menyuapkan bulgogi. Key menatap Jinki kesal, berpikir apa sahabatnya itu benar-benar bodoh atau hanya bertingkah bodoh untuk mencari perhatian.

“Ini tahun kedua sejak kita bersahabat, Jinki-ya. Tapi aku masih belum paham apa kau ini benar-benar bodoh atau tidak.” Jelas Key sekenanya. Jinki terkekeh, lantas meneguk soju dari gelas kecilnya.

“Hei! Jangan terlalu serius, Key! Kau selalu seperti itu. Taking everything serious and comparing to what happened in real life.” Jinki lalu tertawa, membuat Key memutar kedua bola matanya.

“Jadi, kurasa kau telah mempersiapkan diri untuk naik jabatan.” Celetuk Key setelah membiarkan Jinki tertawa sampai puas. Tanpa berhenti mengunyah bulgogi dalam saladnya, Jinki menatap bingung ke arah Key. “Jangan berpura-pura bodoh! Kau bermaksud untuk menjadi sepertiku, kan?” sambar Key buru-buru.

Lantas Jinki terkekeh setelah berhasil menelan makanannya. “Kau berpikir aku akan merebut posisimu, Key? Kelihatannya kau mulai ketakutan.” Jinki menyipitkan mata sabitnya, menatap Key penuh curiga.

“Jangan gila! Aku pemilik perusahaan, mana mungkin menyerahkannya padamu!” terang Key angkuh.

Jinjja? Bagaimana jika prestasiku lebih baik dibandingkan dirimu?” tanya Jinki yang terdengar seperti sebuah ancaman serius di telinga Key.

Key meneguk soju dalam gelas kecilnya tanpa ampun, lalu menatap Jinki serius. “Berhenti berputar-putar, Jinki-ya! Kau mengerti arah pembicaraanku.” Terang Key. Seketika kekehan Jinki terhenti, ia meneguk lagi soju-nya sebelum menegakkan lagi punggungnya.

Molla! Ini posisi terbaik untukku, Key.” Jawab Jinki akhirnya, terlihat jelas bahwa ia tidak suka membahas ini.

Key ikut-ikutan menegakkan tubuhnya, ini bukan pertamakalinya ia membicarakan hal ini dengan Jinki. Dan sungguh! lelaki itu selalu menunjukkan ekspresi yang sama. Ekspresi menolak dan terusik. “Jinki-ya, tapi Tuan Lee tempo hari-“

“Dia bukan appa-ku, seharusnya kau tidak membicarakan diriku dengannya.” Potong Jinki. Ia lalu menuangkan soju ke dalam gelasnya, menghabiskannya dalam sekali teguk lalu menuangkannya lagi.

“Jinki-ya, aku tidak bermaksud ikut campur. Calm down! Tapi, tidakkah kau berpikiran untuk memimpin perusahaan? Karirmu akan sempurna!” Key berusaha menenangkan Jinki yang mulai tak terkendali.

“Tidak! Dan aku sudah memikirkannya ribuan kali!” Kini Jinki meneguk soju dari botolnya langsung. “Dan jangan katakan bahwa aku tidak memikirkannya dengan baik. Kau tahu aku yang terbaik dalam segala hal!” sambar Jinki sebelum Key sempat mengatakan apapun. Key hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, si jenius Jinki memang misterius. Meski sudah memasuki tahun kedua persahabatan mereka, tapi Key tetap tidak bisa membaca pikiran lelaki itu.

Geurae, kita hentikan pembicaraan tidak menyenangkan ini. Mungkin saat kau sendiri, kau bisa memikirkannya lagi dengan lebih jenius,” terang Key, lantas ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jinki “Kuberitahu, itu tidak terlalu buruk.” Lalu segera menegakkan tubuhnya lagi, kembali pada posisi semula.

Keduanya kembali pada makan siang dalam diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing. Kini hidangan penutup telah tersaji di meja mereka. Jinki menyuapkan lagi pudding mangga, merasa aneh karena harus menghabiskan makanan penutup dalam diam. “Jadi, bagaimana dengan Nicole?” tanya Jinki tiba-tiba, membuyarkan lamunan Key.

“Apa?”

“Bagaimana hubunganmu dengan Nicole?” ulang Jinki. Ia benar-benar berusaha membuka topik baru.

“Oh! eopsseo! Biasa saja.” jawab Key cepat. Jinki menyipitkan matanya seolah sedang menyelidiki.

Jinjja? Kau tidak memikirkannya atau mungkin-“

Key terkekeh, “Sudah kukatakan kami hanya berteman. Don’t take everything seriously, Jinki-ya.” Sambar Key, ia meniru kalimat Jinki.

“Tapi rumor sedang menyebar, Key. Lagipula, di drama mana atasan dan sekretaris tidak memiliki hubungan?” kelakar Jinki, lantas ia terkekeh. Merasa puas dengan guyonannya. Key menekuk wajahnya, terlihat bahwa ia tidak senang dengan guyonan Jinki yang sama sekali tidak lucu.

“Terserah!” cibir Key, ia lantas menyuapkan pudding-nya kasar. Sementara Jinki terkekeh puas.

Well, kita bicarakan wanita lain saja, eottae?” tawar Jinki setelah ia berhenti terkekeh. Ia menatap Key yang masih terlihat marah. “Jadi, wanita itu mendatangimu lagi?” tanya Jinki, berpura-pura antusias. Key hanya mengerutkan dahinya. Senyum di wajah Jinki semakin mengembang, “Wanita yang selalu menciummu sebelum kau bangun tidur.” Terang Jinki, membuat wajah kaku di wajah Key memudar.

“Dua minggu ini tidak ada.” Jawab Key lesu, ia menaruh piring pudding-nya. Terlihat jelas bahwa itu mengganggunya. Ia terlihat begitu cemas.

“Kau merindukannya?” tanya Jinki serius. Dan tidak dijawab oleh Key. “Carilah dia!” tambah Jinki.

Key terkekeh, lalu mengambil lagi piring pudding-nya. “Jangan bercanda! Jika sudah tahu siapa orangnya, sudah kucari dari dulu.” jelas Key.

“Jika bukan malaikat kematian, mungkin suatu hari dia akan menampakkan wajahnya.” Lagi, Jinki terkekeh. Merasa kalimatnya kali ini akan sukses membuat Key naik pitam. Tentu saja! Sejak mereka saling mengenal, Key tidak pernah absen menceritakan soal malaikat penjaga yang selalu mendatangi tidurnya. Ia bilang itu adalah malaikat yang telah menyelamatkannya dari penyakit leukemia dua tahun yang lalu. Bahkan Key terlihat jatuh cinta pada malaikat yang belum pernah ia lihat wajahnya itu. Tidak masuk akal, tapi Jinki tertarik dengan cerita Key tentang malaikatnya itu. Seperti cerita di masa kanak-kanak, mungkin sejenis dengan teman khayalan, pikir Jinki.

Tidak! Mungkin Key ada benarnya. Mungkin saja yang datang dalam mimpinya benar-benar seorang malaikat penyelamat, atau mungkin malaikat kematian. Sama seperti dirinya. Setiap kali ia mendengarkan cerita Key, ia selalu memikirkan siapa gerangan yang telah membawanya ke tepi pantai hari itu. Malaikat bersayap putih? Seperti sebuah mimpi, tapi setelah malaikat itu mengulurkan tangannya, Jinki benar-benar tidak ingat apa-apa.

“Dia itu malaikat penyelamat, Jinki-ya. Geumanhae, sebaiknya kita segera kembali ke kantor.” Usul Key akhirnya, mengakhiri pembicaraan tidak jelas mereka sepanjang makan siang ini.

***

Matahari semakin turun, bersembunyi di bagian bumi yang lain. Kini sinarnya berganti dengan kegelapan. Lelaki itu baru saja tiba di depan flat mungilnya, merogoh saku celananya.

Klek.

Pintu terbuka, Jinki segera melepas sepatunya. Kedua tangannya baru saja meraih sandal rumah saat sesuatu yang ia lihat membuatnya membeku. Ia lantas memakai sandal rumahnya cepat, setengah berlari ke dalam. “Eomma!” panggilnya tak sabaran, ia berjalan menuju ruang tengahnya yang sempit. Tidak ada siapa-siapa. Lalu ia berbelok ke arah dapur. Langkahnya terhenti saat kedua mata sabitnya menangkap sosok wanita setengah baya berambut pendek ikal. “Eomma!” pekiknya lagi, lantas ia berhambur ke arah wanita yang tengah memakai apron itu.

“Jinki sayang, eomma sudah lama menunggumu.” Nyonya Lee segera memeluk Jinki. Memeluk putra tersayangnya penuh cinta.

Eomma tidak meneleponku dulu?” serbu Jinki tak sabaran. Ia begitu senang bisa bertemu eomma-nya.

Nyonya Lee menarik Jinki, memaksa putranya untuk duduk di kursi makan. Lantas ia mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya. Disodorkannya gelas itu ke arah Jinki, “Eomma bukan anak kecil, eomma bisa datang kemari kapanpun eomma mau, kan?” Nyonya Lee duduk di kursi di samping Jinki.

Jinki meneguk air cepat, menaruh gelas ke atas meja. “Tapi setidaknya aku bisa menjemput eomma di halte bus.” Nyonya Lee hanya tersenyum, merasakan cinta yang besar dari putranya.

“Tidak perlu mencemaskan eomma seperti itu, Jinki-ya. Kau pasti sangat sibuk. Eomma dengar kau dipromosikan menjadi GM, benarkah?” tanya Nyonya Lee. Dan dijawab oleh anggukkan kecil dari Jinki. “Omoo!!! Jinjja? Kau membanggakan eomma, Jinki-ya.” Lagi, Nyonya Lee memeluk putranya, merasa begitu bahagia karena putra yang ia besarkan dari kecil itu tidak pernah absen untuk membuatnya bangga. “Tetaplah seperti ini, Jinki-ya. Tetaplah menjadi putra eomma yang tak pernah absen membuat eomma bangga.”

Sesaat keduanya hanya diam, membiarkan atmosfir sepi menguasai. Saling merasakan kerinduan dan rasa cinta yang besar antara ibu dan anak yang tak pernah putus, meski kini mereka tidak tinggal satu atap lagi. “Jyaa, kita harus merayakannya, Jinki-ya. Look! Eomma memasak banyak makanan kesukaanmu.” Nyonya Lee melepaskan pelukannya dari Jinki, mengusap air matanya sekilas.

Kini wanita itu melangkah menuju counter dapur, mengambil beberapa jenis masakannya, lalu menaruhnya ke atas meja. Kedua mata Jinki berbinar, melihat beberapa jenis makanan kesukaannya tersaji di sana. Ikan gurame yang digoreng kering, sapo tahu, capjae, dan beberapa jenis lainnya. “Eomma, ini terlalu banyak.” Ujar Jinki, kedua matanya tak lepas dari jenis-jenis makanan yang tersaji di atas meja.

Ani! Kita harus merayakannya. Jadi, jangan menolak ini, ara?”

Jinki tersenyum lebar, menatap lagi eomma-nya penuh rasa bahagia dan terimakasih. Ia beranjak, mencuci kedua tangannya. Lalu meraih lagi segelas air mineral sebelum kembali duduk di kursinya tadi. Nyonya Lee telah duduk di hadapannya. Keduanya telah siap menyantap hidangan saat tiba-tiba pintu kamar Jinki terbuka. Memunculkan sosok jangkung dengan rambut kemerahan. Sosok itu mengucek matanya, dan terlihat sedikit linglung. Seketika senyum di wajah Jinki memudar, rahangnya mengeras.

“Oh! Taeminnie. Palli anja! Kami sudah siap untuk makan malam. Oh! kau belum mengucapkan selamat pada Hyung, Hyung baru saja dipromosikan menjadi GM di kantornya.” Terang Nyonya Lee sumringah. Ia melambaikan tangannya pada lelaki jangkung yang dipanggilnya Taeminnie tadi.

Taemin, segera menatap ke arah meja makan. Lalu matanya mengabsen Jinki. Ia segera menegakkan punggungnya, terlihat sedikit gugup. “Oh! H-hyung, benarkah itu? Chukhahamnida.” Ucapnya sungkan. Terlihat jelas bahwa ia begitu tegang. Melihat Jinki yang hanya diam menatapnya, Taemin mendekat, lalu mengulurkan tangan kanannya. “Chukhahamnida, Hyung.” Ucapnya lagi, ia tersenyum.

Jinki menatap Taemin yang telah berdiri di sampingnya. Ia menatap Taemin tajam, seolah dengan tatapannya ia mampu membuat Taemin terjengkang. “Chukhahamnida, Hyung.” Ulang Taemin lagi. Lelaki tampan itu tahu bahwa orang yang dipanggilnya Hyung itu masih membencinya seperti saat pertamakali mereka bertemu. Nyonya Lee menyadari apa yang terjadi. Bukan! Memang ini yang selalu terjadi jika Jinki bertemu Taemin.

“Jinki-ya, kau tidak mendengar Tae-“

“Lee Temin.” Jinki beranjak dari duduknya, kini ia dan Taemin saling berhadapan. Saling menatap tajam.

Chukhahamnida, Hyung.” Lagi, Taemin berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa tegang. Setidaknya, ia selalu berusaha membuat hubungannya dan Jinki menjadi baik. Meski pada kenyataannya, ia sudah muak dengan tingkah laku lelaki angkuh yang harus ia panggil Hyung itu.

Jinki diam, ia hanya menatap Taemin dengan pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya. Menatap Taemin penuh kebencian. “Apa yang kau lakukan di sini?” alih-alih menerima ucapan selamat dari Taemin, Jinki malah menanyakan hal yang memuakkan. Taemin mencibir, menarik lagi uluran tangannya. Raut wajahnya lantas berubah.

“Ck! Sudah kuduga akan seperti ini.” gumam Taemin kesal. “Aku menemani wanita yang dinikahi appa-ku ke rumah anaknya yang manja dan menyebalkan.” Tambah Taemin. Ia sengaja menggunakan kalimat itu, karena Jinki akan segera menyambarnya begitu ia mengatakan kata eomma. Ia tidak peduli jika ucapannya itu akan membuat Jinki naik pitam. Karena itulah yang Taemin inginkan. Ia ingin membuat Jinki marah hingga mencapai klimaks, ia ingin membuat Jinki kesal, dan ia ingin membuat Jinki terusik.

“Kau-“ Jinki menahan kepalan tangannya. Ia tidak pernah memukul siapapun kecuali orang jahat yang berusaha mengusiknya. Tapi keberadaan Lee Taemin benar-benar telah mengusiknya, bahkan sebelum ia tahu bahwa di dunia ini ada makhluk bernama Lee Taemin.

“Jinki-ya, Taeminnie, geumanhae! Apa yang kalian lakukan? tidak bisakah kalian bersikap manis di depan eomma?” Nyonya Lee menggebrak meja, seiringan dengan tubuhnya yang bangkit dari kursi.

Jinki menghela nafas, menahan amarahnya. “Kau tidak seharusnya berada di sini. Pulanglah.” Ucapnya kemudian. Lalu memilih untuk kembali duduk. Ia meneguk air mineral, lalu meraih piring dan mengisinya dengan nasi. Bersikap datar seolah Taemin dan kejadian beberapa detik lalu tidak pernah ada.

Taemin menatap Jinki penuh benci, nafasnya naik turun. Ingin rasanya meninju Jinki seperti yang sudah dipendamnya sekian lama. Tapi, ia bukan seorang anak yang senang membuat orangtuanya marah atau sedih. Taemin tahu, eomma-nya akan sangat sedih jika ia dan Jinki berkelahi dalam arti sebenarnya. Taemin berdecak kesal, ia lantas berjalan cepat menuju kamar Jinki dan segera keluar setelah meraih jaket hitamnya. “Eomma, ayo kita pulang!” pekik Taemin. Ia melangkah mendekati Nyonya Lee, dan hendak meraih tangannya saat kalimat Jinki sukses menghentikannya.

Eomma akan tetap di sini bersamaku.” Ucap Jinki datar, ia bahkan tetap meneruskan makannya tanpa sedikitpun melirik Taemin.

Taemin berdecak kesal, ia bahkan telah mengepalkan tangan kanannya, bersiap meninju Jinki. Tapi lagi, jika ia melakukan itu. Artinya ia kalah dari Jinki. Maka, Taemin memutuskan untuk menahan amarahnya. Ia melirik Nyonya Lee sekilas sebelum akhirnya beranjak meninggalkan dapur.

“Taeminnie!” panggil Nyonya Lee. Tapi Taemin bergeming, ia terus berjalan dan tak lama terdengar suara pintu yang dibanting. Sunyi. Hanya gesekan sendok dan piring yang terdengar di sana.

“Apa kau senang seperti ini terus?” tanya Nyonya Lee, membuat Jinki menghentikan gesekkan antara sendok dan piring yang ia ciptakan. Ia menaruh sendoknya, lalu meneguk air mineral. Menatap eomma-nya setelah bersusah payah mengenyahkan amarah yang nyaris mencapai ubun-ubun.

Eomma, hari ini aku baru diangkat menjadi GM. Tidak bisakah hari ini hanya ada untukku?” tanya Jinki santai, meski tersirat begitu banyak tuntutan di dalamnya.

“Sampai kapan kau akan tetap egois seperti ini, Jinki-ya? Kau bahkan selalu melukai Taeminnie. Ia selalu berusaha untuk berbaikan denganmu tapi-”

Eomma geumanhaeyo.”

“Kau anak yang baik dan patuh. Tidak bisakah kau mematuhi eomma untuk yang satu ini? tidak bisakah kau menganggap Taemin sebagai adikmu dan memperlakukannya dengan baik?” cecar Nyonya Lee. Kini ia mulai terisak, kepalanya memutar ulang masalah yang terjadi dalam hidupnya.

Eomma, mana bisa aku-“

Appa Taemin telah menyelamatkan hidup eomma. Membuat eomma merasa hidup sebagai wanita seutuhnya. Tidak bisakah kau melengkapi kebahagiaan eomma dengan membuat segalanya menjadi sempurna?”

Eomma aku-“

“Kau tidak bisa memaafkan eomma karena satu pertanyaan dalam hidupmu tidak pernah akan eomma jawab?” lagi, Nyonya Lee menyambar kalimat Jinki.

Eomma, kita tidak akan membahasnya hari ini-“

“Kau tidak tahu betapa sakitnya hati eomma setiap kali kau melontarkan pertanyaan itu, Jinki-ya. Eomma selalu berharap kau mengerti alasan eomma untuk tidak menjawabnya.”

Jinki diam. Selalu itu yang dilontarkan eomma-nya setiap kali hal seperti ini terjadi. Jinki memang sudah cukup dewasa untuk mengerti keadaan ini. Tapi sungguh, pikirannya begitu buntu. Ia tidak pernah mendapat jawaban tepat atas satu-satunya pertanyaan dalam hidupnya selain dugaan-dugaan buruk terhadap eomma-nya. Nyonya Lee kian terisak, terlihat jelas bahwa wanita itu amat terluka. Tentu Jinki sedih melihat hal itu, tapi tidak bisakah eomma-nya itu menjawab satu-satunya pertanyaan dalam hidup Jinki? Menjawab satu-satunya hal yang menyebabkan Jinki ingin mengakhiri hidupnya dua tahun yang lalu?

“Pikirkan itu baik-baik, Jinki-ya. Jika kau tetap seperti ini, artinya kau tidak mau eomma hidup bahagia.” Nyonya Lee beranjak. Mengusap lagi air matanya. Diraihnya tas merah di atas sofa ruang tengah.

Eomma.” Baru saja beberapa langkah saat Jinki menghentikannya. Nyonya Lee menghentikan langkahnya, berharap yang terlontar dari mulut putra kesayangannya adalah kalimat maaf. “Eomma, aku akan melakukan semua hal yang eomma inginkan. Maka dari itu, beritahu aku,” Jinki menggantungkan kalimatnya. Entah bagiamana, hal yang akan ia ucapkan membuat dadanya sesak. Membuatnya seolah nyaris mati saat itu juga.

Nyonya Lee masih membelakangi Jinki, “Berhenti bicara jika yang kau lontarkan adalah pertanyaan yang sama.” Terangnya sambil terisak.

Jinki diam, ia tahu bahwa yang akan ia lontarkan adalah pertanyaan sama seperti yang lalu. Pertanyaan yang tidak pernah mendapatkan jawaban. Pertanyaan yang membuat hidupnya begitu menderita. “Eomma, siapa ayah kandungku?” meski ia tahu itu menyakiti eomma-nya, tapi ia tetap melontarkan pertanyaan yang sama.

Nyonya Lee diam. “Ketahuilah bahwa eomma sangat mencintaimu, Jinki-ya.” Lagi, jawaban serupa kembali terlontar dari mulut Nyonya Lee. Menyisakan kesedihan mendalam bagi Jinki. Nyonya Lee beranjak, melanjutkan langkahnya meninggalkan Jinki.

Tak lama, kesunyian menyelimuti Jinki. Hanya Jinki yang tinggal di sana, seorang diri dalam kesunyian yang menyiksa. Ia berdecak sambil memijit antara kedua matanya. Diteguknya lagi air mineral tanpa ampun, lalu kembali duduk di kursinya. Dalam kepalanya kembali berputar klise-klise lama, di mana dirinya begitu tersiksa dengan pertanyaan itu. Bagaimana orang-orang di sekitarnya mencaci dan merendahkannya hanya karena ia tidak tahu siapa ayah biologisnya. Jinki memejamkan matanya, membiarkan cairan bening itu rilis. Batinnya begitu terluka. Siapa? Siapakah dirinya sebenarnya?

“Aaarrgghhttttt!!” Jinki mengerang, seiringan dengan tangan kananya yang menyapu piring di atas meja. Beberapa piring kini berubah menjadi kepingan porselen yang berserakan di atas lantai dapur.

Jinki menangis, menangis dalam sunyi. Membiarkan rasa sakit itu menyiksanya lagi. Tak ada seorang pun yang menemaninya, atau minimal menghiburnya. Mengatakan padanya bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak seburuk yang ia bayangkan. Tak ada seorang pun.

***

Eonni, gwaencanhayo?” pertanyaan singkat itu membuyarkan lamunan gadis yang terpaku pada sebuah flat screen. Gadis berambut semi keriting itu menoleh ke samping kirinya, menengadahkan kepalanya agar bisa melihat si sumber suara. “Apa yang kau lamunkan?” tanya suara itu lagi.

“Oh! Ani! Aku hanya-“

“Oh! sebaiknya kita segera pergi makan siang, Eonni. Aku sangat lapar.” Gadis dengan rambut cokelat sebahu itu memanyunkan bibirnya, menumpu dagunya dengan tangan kiri pada pembatas antara kubikalnya dan kubikal gadis yang ia panggil eonni.

“Ah! Kajja!” ucap gadis berambut semi keriting. Dengan cepat ia menyimpan file kerjanya, lalu mematikan flat screen. Ia beranjak, dan tanpa banyak bicara berjalan mengikuti gadis yang baru 6 bulan ini menjadi rekan kerjanya.

Keduanya telah berada di restoran Jepang tak jauh dari kantor. Restoran Jepang adalah tempat favorit mereka. Entah bagaimana keduanya begitu mengidolakan masakan Jepang. Kim Aeri –gadis dengan rambut semi keriting- menyukai Sushi layaknya, sementara Min Hyeri – gadis dengan rambut cokelat sebahu- begitu menyukai Sashimi. Dan tentu saja kedua hidangan itu telah tersaji di hadapan mereka.

Mereka duduk di kursi tinggi seperti di bar, “Eonni, menurutmu, apa aku ada peluang untuk dipromosikan?” tanya Hyeri, ia menoleh ke arah Aeri yang sibuk dengan Sushi-nya.

“Mungkin saja.” jawab Aeri santai. Sedikit acuh tak acuh dengan pertanyaan Hyeri. Sementara Hyeri menaruh sumpitnya, menumpu dagu dengan tangan kanannya. Terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu yang pelik.

Aeri melirik, menatap penasaran pada Hyeri, “Kau baru saja diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan dan belum satu tahun bekerja. Tidak usah terburu-buru, semua ada waktunya.” Tambah Aeri, berusaha menghibur Hyeri. Ia lalu kembali pada Sushi-nya yang sempat terabaikan.

Hyeri masih dalam posisinya, melirik Aeri sambil menyipitkan mata. “Eonni, tidakkah sebaiknya akhir pekan ini kita pergi ke suatu tempat?” tanyanya, membicarakan topik yang lain.

Eodi ya?” tanya Aeri singkat. Ia tidak mempertanyakan mengapa Hyeri tiba-tiba mengganti topik pembicaraan. Gadis itu sudah sering seperti itu. Entah memang sifatnya yang aneh atau ia tengah menghindar.

“Hemm,” Hyeri terlihat berpikir. “Bagaimana jika kita melakukan pyjamas party? Kita bisa melakukan hal-hal menyenangkan!” seru Hyeri antusias. Aeri justru terkekeh.

“Terdengar lucu.” Tanggap Aeri ringan. Hyeri memberenggut, ia tahu itu adalah kalimat penolakan dari Aeri.

Waeyo? Bukankah itu akan menyenangkan? Bagaimana jika kita melakukannya di rumahmu, Eonni?” serang Hyeri, dan sukses membuat Aeri tersedak. Gadis itu dengan cepat menyambar air mineral di dekatnya, meneguknya tanpa ampun.

Gwaencanhayo?” tanya Hyeri sedikit panik. Ia tidak lagi menumpukan dagu pada tangan kanannya.

“Hmmm…gwaencanha,gwaencanha,” jawab Aeri cepat, meski sebenarnya ia terlihat belum baik-baik saja. Hyeri menyodorkan air mineral miliknya saat melihat gelas Aeri telah kosong. Aeri menyambarnya. “Oh! mungkin lain kali kita bisa melakukannya. Aku baru ingat akhir pekan ini aku sudah membuat janji dengan adik-adikku.” Lanjut Aeri.

Hyeri hanya diam, sesekali menepuk punggung Aeri ringan. Sementara sesuatu berkecamuk dalam pikirannya. Apa? Apa yang sebenarnya disembunyikan Aeri dari dirinya? bukankah mereka telah berteman selama enam bulan? Tapi mengapa gadis itu selalu menolak setiap kali Hyeri meminta untuk berkunjung ke rumahnya?

=TBC=

27 thoughts on “Fallen Angel – Part 1

  1. biarpun berita diluaran sana g enak didenger dan bikin bt. tapi ff km yg saru nih bnrn d tgg loh cha.

    layaknya berita hari kemaren yg bnyk bngt kejutaannya dr si abang ayam. sama halnya dengan ff satu ini.. part 1 aja dah kerasa bngt konfliknya knp sih ama si abang ayam cha??? sempet envy sama persahabatan jinkey trs envy jg liat kemesraan jinki sma eommanya. hikksss kerasa bngt genesnya hati bang ayam gara2 dia maksa ibunya buat jawab hal yg plng dia benci. sebenernya knp sih cha?? nah klo taemin knp jg cha dateng2 lngsng di ajak brntem aja ma dubbu??

    huufffttt masih penasaran nih sbnrnya knp dan ada apa d ff ini?? bakal mellow dan butuh tissue bnyk kayanya.. ceritanya ternyata beda jauh sama versi archangel. tp g kalah rame y cha??? penasaran… lanjut dong cha √^^√

    • Tenang eonn, biarkanlah berita di luaran sana merebak tak terkendali. Yang paling penting dalam mengagumi dalah menjadikan kekaguman kita terhadap idol sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri kita ^^9

      .hhe. banyak bener pertanyaannya eonn? ^^v
      yup! di part ini masih banyak yang misterius eonn. mau kepo? nantikan kelanjutannya yaa *plaaakkk*
      Thank u, Eonni😉

      • hahahaha…. parah bngt keliatan pisan baca ff sambil galaunya… hehe iya cha.. jd motivator ajalah…termasuk nih ff motivasi pisan… jd jgn telat postingnya y cha… semangat trs menulisss

  2. Waah, . .
    Syukur deh, ff nhe dah klwar, sdah lma mnanti klwrna ff bru. .

    Trnyata ff ni crta sblum ff archangel ya eonni..? Awl na smpat bngung cih, dan mkir lgi2 key jdi sajang dan nicole lgi yg jdi skretriz na. .
    Tpi aQ lngsung ktwa sat mmbca “sudah berapa lama mereka tidak mempunyai kekasih”
    Dan pa yg dsmbunykan aeri ya.?
    Tpi knpa jinki bgtu bnci taemin ya. ? Dan apa yg dsmbunykan ibuna jinki ttg ayhnya

    • iyh, ini ceritanya sama dmulai pas awal Archangel. cuma ini menceritakan sisi Jinki-Aeri.kekek.

      Nah, penasarannya nanti terjawab di part2 yang akan datang. semoga masih mau nunggu yaa~ Thank u😉

  3. finally ff ini di post juga… kalo diliat dari setnya ff ini sblm archangel ya eon? wah berarti kita kembali ditarik ke kisah awal archangel nih😀

    kebetulan banget saat ini aku jg lg baca ff lain yg abang ayam dan taem sodaraan tp saling benci, tapi aku suka bngt sm karakter taem disini eon! dia jadi cooooool uhhh~!
    jinki jg punya adik (tiri) unyu bin tampan gitu kok malah benci banget?-_- padahal taemin dan appanya baik kan ya? trs taemin jg keliatannya sayang kok sm ‘eomma’nya. atau jinki ngerasa perhatian eommanya teralihkan ke taemin? molla~
    jinki jg hbt bngt bisa selamat dari maut, hihi kalo diperhatiin dua sahabat ini -jinkibum- sama2 punya angel deh! *ya iyalah judul ffnya aja berbau angel semua-_-*

    dan kim aeri jg misterius banget ih! nyembunyiin apa dia dirmhnya? komenku segini aja eon, semoga part dua cpt posting deh… hwaitiiing!!! (^^)9

    • That’s right! ini kejadian berbarengan sama kisahnya Key-Ri couple di Archangel, cuma ini kisahnya Jin-Ri couple aja.hhe.

      iya nih, di sini Taemin cooolll to the max, dan nantikan di part2 berikutnya saat Taemin akan jadi semakin keren!! .hha.

      nah,nah, penasarannya ditahan dulu yaa. Semoga mau nunggu part2 berikutnya.
      Thank u, mahdaa😉

  4. Baru part 1 konfliknya udah kecium,,
    Jinki dan Eommanya harmonis bgt tp langsung keluar macan(?) pas Taeby keluar kamar, sebenci itu kah kau pada adik tirimu Jinki?
    Jinki dan Eommanya sama sama kasian,
    Jinki pengen tau ayah kandung nya , Eommanya pny alasan tersendiri nyembunyiin jwbannya, kayanya nyonya Lee terluka bgt kalo nginget prtanyaan putra nya..
    Udah kebayang sih jwabn nya,tp takut salah.plaaaakkk

    aku berasa baca archangel versi Jinki Aeri.kekeke
    kayanya ff ini sepanjang Archangel ya plaaaakk
    banyak konflik nih, bakal seru nih, jadi pengen cepet cepet klimaks(?) penasaraaaaannn..

    Euncha, ditunggu chap selanjutnya, mianhe kalo koment aku kaya jawban esay Ujian sekolah *mengenang SMA😀
    Ehm, cieee g ada typo. Apa aku nya yang gak nemu? *ditonjok Euncha

    • Nah, Hikma nebak apa nih soal alesan eomma-nya Jinki ga mau jawab pertanyaan Jinki? tell me, tell me! .kekek.

      Yup! bakalan lebih banyak konflik nih di Fallen Angel ini. Duh! aku juga ga sabaran nih mau me-reveal-nya satu per satu *eciyeehh*

      Wah,wah, ga ada typo kah? ayoo cari lagi.hhe.
      Thank u, Hikma😉

  5. Owh jadi ini Archangel versi abang chicken ya? Spontan jadi inget nyesek2nya baca versi Key-Ri couple..
    Kalo diliat dari part awal sih kyknya bakal panjang + banyak konflik ni ff nya. Harus siap2 mental biar kuat bacanya.. Haha *apasih?

    Ditunggu kelanjutannya ya onnie..😀

    • yup! ini cerita jaman Archangel, tapi versi Jinki-Aeri couple nya.. pada penasaran jga kan kenapa Aeri nolak Jinki di Archangel? juga mau pergi kemana Jinki di akhir Archangel? nah, semuanya bakal diceritakan di Fallen Angel ini.

      .hhe. iyh sih, bau2nya mah bakalan ga kalah panjang dan menguras emosi kaya Archangel ^^v mudah2an diberi kekuatan yaa Hwayong🙂

  6. wohooo udh ada part 1nya…

    jinki kasian ya..
    eommanya ada bnrnya juga ya. yg ptg jinki tau eommanya sayang sm dia. tp ada egoisnya jg sih si eommanya itu. jinki dicerca lingkungan sekitarnya karena jinki gak tau ayah kandungnya.
    jinki lbh sakiiiit kan jadinyaaa /ceritanya lgi dramatis/

    oh.. jd ini diceritain dr sisi jinkinya itu sblm key nkh sm hyeri ya.. hihihi

    sama2 punya malaikat penyelemat nih ceritanya si jinki n key. tp klo si key didatengin terus dlm mimpi. eh jinki mlh udh lupa abis ketemu malaikat itu ngapain lgi. hahaha

    ditunggu cha lanjutannya…

  7. Ohhh baru ngerti, ini cerita Archangel tapi dalam segi Onew-Aeri. Seru seruuuu! Jadi kembali mengulang cerita Archangel tapi lebih jelas hehehhehee.

    Gak nyangka sosok Jinki ternyata menyimpan banyak rahasia. Penasaran kelanjutannya😀

  8. Heh! jadi yang mau bunuh diri itu emang Jinki yaa, bukan Jinki kecil -_- aishh aku hrs lbh konsentrasi lain kali..
    Eumm.. seperti Jinki, aku juga penasaran siapa malaikat yang menyelamatkan dia dr percobaan bunuh dirinya? Apa mungkin Aeri? O.o
    Jinki dan Taemin saudara tiri yaa.. Apa Jinki g setuju eomma-nya menikah dengan appa-nya Taemin, makanya dia begitu membenci Taemin?
    Trus knp eomma Jinki menyembunyikan masalah appa kandung Jinki? Ad apa sebenarnya? Aigo~ ada banyak pertanyaan di kepalaku Eun Cha..
    Termasuk Aeri, dia kayaknya aneh banget dehh.. apa yg dia sembunyikan? hmmm ‘.’)?
    Next Next!!!😀

    • Iya, yang mau bunuh diri Jinki udah gede. Eh, tapi kayanya aku nih yang salah, Ummul. soalnya waktu di teaser itu aku ga menyertakan bahwa bayangan Jinki pas dia masih kecil itu udah berlalu belasan tahun lamanya. Jadi ambigu juga jadinya.hhe.
      ow..ow..ow.. yang menyelamatkan Jinki pas bunuh diri masih rahasia.keke. ^^v
      .hhe. iyh, ini pasti banyak banget pertanyaan,masih gantung2 sih dijelasinnya.hhe. mudah2an klo part2 berikutnya udah keluar, ga akan penasaran lagi yaa ^^

  9. aahhhhh…. DAAAEEEBBBAAAKKKK…!!!!
    Baru part 1 ja dah mainin emosi kayak gini, jadi g sabar wat mbaca part selanjutnya…!!! akhirnya “uri magnae” taemin keluar juga ya, tapi knapa hrus bermusuhan sih ma jinki?
    mang da sesuatu yg mnyebabkan jinki ngotot banget ya wat tau siapa siapa ayah kandungnya? mang apa salahnya punya saudara tiri?
    lalu ada apa juga dengan kehidupan aeri? kok kayaknya ni ff menyuguhkan banyak misteri tentang kehidupan Jin-Ri couple nih,

    aaahhhh……. terlalu banyak kata ‘ada apa’ dalm kepalaku gara2 mbaca ff ini
    bikin tambah penasaran deh….

    pokoknya.. keep writing deh!! ta tunggu next part-nya..
    eun-nie… FIGHTING!!!

  10. Waaah, ketinggalan baca nih..🙂
    Kesimpulan saya karena belum baca Archangel, Jinki-Key bersahabat.
    Di bag. awal yang Jinki-nya mo bunuh diri itu apa waktu Omma-nya nikah sama Appa-nya Taemin? Kenapa siy kok duo Lee itu saling benci? Aeri itu bakalan pasangan sama Jinki ya? Keduanya seperti punya konflik keluarga yang berat ya…
    Mudah2an di part selanjutnya saya bisa lebih ngerti jalan ceritanya dan gak kelewat lagi baca part selanjutnya..
    Ok Eun Cha, segini aja dulu ya komen saya🙂

    • Wah, eonni. Mian nih aku baru ngeuh komennya blm ak reply ^^v

      iya eonn, Jinki sama Key bersahabat. Tanpa baca Archangel dulupun bisa nyambung aja ko eonn baca ff ini.hhe.
      Makasih yah eonni sudah baca ff nya😉

  11. Telat bgt baru nemu FF ini . .

    ini side story jinki-aeri ya. . baru part 1 aja udah bikin penasaran. .sbenernya ada apa dngan keluarga jinki dan keluarga aeri..
    jadi pngen cepet-cepet bca lanjutan part 2 nya. . .

    euncha-ssi, .FIGHTING

  12. Wah…, saengi… eon menitikkan air mata….
    #emang dasar cengeng gak ketulungan…

    Ternyata itu yang buat jinki frustasi kemaren…
    apakah appa kandung Jinki gak bertanggungjawab ketika eommanya mengandung?
    Makanya eomma Jinki gak mau bahas ttg ayahnya…?
    Tapi, gak adil juga buat Jinki. Udah segede itu msh gk tau siapa ayah kandungnya…
    agak gimanaaa…. gitu….
    Jadinya Jinki ku rada2 ‘labil’
    Tapi tetep cinta…. #dijambak MVP

    Eon suka Part 1. Feelnya dapet banget untuk penggambaran perasaan jinki
    dan demi semut-semut yg selalu berkonvoi…
    tuh, persahabatan JinKibum buat iri…
    Aeri agak misterius, ya….
    tapi gpp… Jinki dan Aeri yg misterius… klop, dah…
    #dalem hati, nyessek… (Jinki cuma buat aku…..) #abaikan…

    • Hai eonni. wah, don’t cry eonni *puk puk puk*

      .hhe. nah, semuanya hanya eomma Jinki yang tau. Mari paksa eomma Jinki mengatakannya.hheh.
      Iya nih, Jinki dan aeri agak2 setipe gitu eonn. makanya mereka cocok *Miina eonn ngamuk*
      Makasih yh eonni sudah baca😉

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s