Archangel – Part 24 [END] Skip

archangelArchangel – Part 24

Main cast :

Kim Ki bum [Key] | Min Hye ri | Choi Minho

Supporting cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Ae ri | Kim Jonghyun | Nicole [KARA] | Kim Hyoyeon [SNSD]

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              :Romance, family, Friendship

Rating             : NC 17+ [Skip version]

Credit poster : ART FACTORY

Sajangnim, Anda terburu-buru?” tanya resepsionis di lobi saat ia melihat Key berlari. “Ah! Ne, aku harus menemui istriku secepatnya.” tanggap Key dengan wajah sumringah, lantas ia berlari menuju lift. Tak sampai lima detik hingga Key memutuskan untuk naik tangga darurat, ia rasa lift itu terlalu lama untuk tiba di lobi.

Tanpa mengurangi kecepatan larinya, Key menaiki anak tangga darurat dan tak sabar untuk tiba di lantai tiga. Ia yakin, Hyeri akan melupakan emosi buruknya jika mendengar kabar ini. Key terus berlari, sementara pikirannya tak henti memutar ulang hari di mana ia menerima sumsum tulang belakang Hyeri.

Jantungnya berdebar semakin kencang saat ia telah tiba di lantai tiga, menyusuri koridor yang membawanya ke kubikal Hyeri. Kosong. Key tidak menemukan istrinya di sana. Sedetik kemudian ia baru ingat bahwa Hyeri tengah menangani CF bersama Jinki. Tanpa menunggu waktu lagi ia segera berlari ke tangga darurat, melanjutkan langkahnya hingga ke lantai lima.

Hanya beberapa langkah lagi hingga ia menjangkau aula. Pintu aula terbuka lebar, menampakkan beberapa staff yang berlalu lalang sambil membawa peralatan untuk kelengkapan syuting. Serta penampakan aula yang telah berubah menjadi atap rumah setengah jadi.

Senyum di wajah Key semakin mengembang saat ia melihat pagar pembatas besi dalam aula. Ia teringat akan konsep iklan minuman yang dibuat Hyeri. Konsep iklan yang diberi nama ciuman pertama itu benar-benar mengingatkan Key pada hal yang ia alami di Daegu setahun yang lalu.

Seorang namja akan membawa yeoja-nya ke atap rumah, memberi yeoja-nya minuman rasa jeruk untuk melepas dahaga sebelum mereka melihat kembang api dari atap rumah. Saat itu lah malaikat cinta datang dan memberkati keduanya dalam satu cinta abadi, dan mereka akan berciuman di tengah kembang api. Selesai.

Kini Key telah berada di daun pintu, mengedarkan pandangannya ke seisi aula. Mencari-cari sosok malaikatnya. Lima detik, hanya staff yang berlalu lalang. Sepuluh detik, Oh! kini mata Key justru tersita oleh sepasang sayap raksasa buatan yang menggantung di tengah aula. Sayap itu berwarna putih, lebarnya nyaris satu meter. Terbuat dari sejenis bulu burung sintetis. Key berdecak kagum, tidak mengira bahwa bagian dari pembuatan iklan ini akan membuatnya terpana. Sayap yang begitu besar, sesuai dengan ukuran tubuh manusia dewasa.

Kekagumannya semakin bertambah saat tiba-tiba ia melihat seseorang berjalan menuju sayap tersebut, berhenti tepat di tengah sepasang sayap tadi -berdiri membelakangi Key. “Bisa tolong naikkan lagi layarnya?” pintanya pada salah satu staff yang tengah mengerek tali layar. Key terpana, suara itu sangat dikenalnya.

Sosok itu memegang beberapa lembar kertas yang ditempelkan pada papan dada. Rambut panjangnya digulung ke atas, memamerkan tenguknya dengan sempurna. Kini satu tangannya berkacak pinggang, kepalanya mendongak menatap layar hitam dengan taburan bintang.

Key terus memperhatikan gerak-gerik sosok itu, ia bahkan tidak menyadari beberapa orang yang lewat menyapanya. Matanya berbinar memancarkan kekaguman dan kebahagiaan. Ternyata benar! Sosok itu adalah sosok yang selalu datang dalam mimpi dan menjaganya. Yeah! Sosok itu nyata, bukan hanya mimpi semu.

Seketika sosok itu menoleh ke samping kanannya, memutar tubuh bagian atasnya. Membuat sepasang sayap tadi seperti nyata menempel di punggungnya. Key kian terpana, tiba-tiba saja semua orang yang ada di sana menghilang, hanya menyisakan dirinya dengan sosok bersayap itu. Suasana aula berganti menjadi padang rumput tak berbatas. Ia seolah terbawa ke dimensi waktu di mana ia pertamakali bertemu malaikat bersayap itu.

“Kita coba lampunya!” teriak sebuah suara dari sudut aula yang tidak bisa Key lihat. Dan tak berapa lama, cahaya terang menyorot ke arah di mana sosok itu berdiri. Menyinari bagian atas tubuhnya, membuat wajah sosok itu tenggelam dalam cahaya menyilaukan. Key menutupi mata dengan tangan kanannya begitu saja, seolah tangannya bergerak tanpa perintah dari otak.

Satu, dua, tiga, Key menghitung dalam hati. Tapi sosok itu tidak juga mendekatinya seperti yang sering terjadi dalam mimpi. Perlahan Key menurunkan tangannya , dengan mata menyipit ia melangkah, menerobos cahaya silau itu. Langkahnya semakin cepat saat segala sesuatunya kembali seperti semula, para staff yang sibuk itu kembali terlihat di pandangan Key. Juga padang rumput yang tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi aula.

Sosok itu masih sibuk berbicara dan memberi arahan pada beberapa staff saat Key semakin dekat. Ia tahu sosok itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya, dan Key tidak ingin diketahui keberadaannya sebelum ia menjangkau sosok itu.

“Oh! Sajangnim, Anda datang melihat?” tanya seorang staff yang tengah mengatur lampu dari tangga. Membuat semua orang menoleh ke arah Key, begitu juga sosok yang sejak tadi menjadi satu-satunya objek utama di mata Key. Key tidak menghiraukan sapaan dari para staff, dan dengan cepat meraih pinggang yeoja yang baru saja membalikkan tubuhnya -menatap Key. Membuat yeoja itu terhuyung dan segera terjatuh ke pelukan Key.

Hyeri mengerjap-ngerjapkan matanya, terkejut dengan kedatangan Key yang tiba-tiba dan menyergapnya di hadapan banyak orang. “M-m-mwoya?” tanya Hyeri sewajar mungkin, menyembunyikan debaran jantungnya yang tiba-tiba saja menjadi cepat. Key tersenyum sambil terus mendekat, memperpendek jarak antara wajahnya dan Hyeri. Membuat Hyeri berontak dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Key. Bukan! Bukannya ia tidak senang dipeluk seperti itu, terlebih lagi beberapa minggu ke belakang ia dan Key sering terlibat dalam pertengkaran kecil. Hanya saja Hyeri rasa ini bukan tempat dan waktu yang tepat.

Key mempererat cengkeramannya di pinggang Hyeri saat yeoja itu berontak, ia tak sedikitpun berniat melepaskan Hyeri meski ia tahu ini bukanlah waktu dan tempat yang sesuai. Tapi ia tidak peduli! Karena yang ia pedulikan saat ini adalah cintanya pada Hyeri. Dan bagi Key, bukan suatu kesalahan jika semua orang mengetahui hal itu.

“Kenapa tidak pernah memberitahuku?” tanya Key tanpa basa-basi, membuat Hyeri berhenti melepaskan dirinya dari Key. Hyeri mengedarkan pandangannya ke sekitar, memastikan bahwa semua orang memang tengah memusatkan perhatian pada mereka. Aish! Benar-benar mencolok, batin Hyeri. “Maksudmu?” tanya Hyeri datar, kedua tangannya mendorong ringan dada Key agar suaminya menjauh. Tapi tentu saja itu sia-sia. “Kau harus memikirkannya!” terang Key, kini ia kembali mengeratkan kedua tangannya di pinggang Hyeri. “Aish! Neo mwohae? Lepaskan aku, Key! aku tidak ada waktu untuk bermain-main seperti ini. Semua orang melihat kita!” pekik Hyeri. Ia memukul dada Key, sementara kedua matanya kembali mengabsen beberapa pasang mata yang masih memperhatikan mereka.

Sirheo! Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kita selesaikan hal ini.” Key semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri, membuat yeoja-nya semakin panik. Ia tahu bahwa Hyeri sebenarnya sudah tidak marah lagi karena masalah Nicole. Ia hanya terbawa emosi masa kehamilannya. Hyeri berdecak, memalingkan wajahnya sekilas sebelum kembali menatap suaminya “Mwoya? Hal apa yang harus kita selesaikan? Tidak bisakah dibicarakan di tempat lain? Look! Mereka memperhatikan kita!” Hyeri tahu bahwa Key tengah menyinggung pertengkaran mereka karena Nicole. Oh! Hyeri benci harus membahas wanita itu.

“Yaa! Istriku merasa tidak nyaman jika kalian terus memperhatikan kami! Kembalilah bekerja!” teriak Key tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Hyeri. “Neee, Sajangnim!” ucap para staff serempak, terdengar kekehan di mana-mana sebelum semuanya kembali bekerja tanpa mempedulikan atasan mereka. Mereka kembali bekerja sambil tersenyum-senyum, tidak mengira bahwa kini atasan mereka seorang public affair.

“Ini soal kau dan aku.” jawab Key singkat, membuat Hyeri semakin jengkel. “Okay, kita akan bicara sebentar.” bisik Hyeri, kedua tangannya kembali mendorong dada Key agar namja itu menjauh darinya. Ia kembali berdecak saat yang ia rasakan adalah kedua tangan Key yang menarik pinggangnya semakin kencang. Lantas ia menatap Key dengan pandangan yang seolah mengatakan apa? “Jika kukatakan di sini, maka kita bicarakan di sini,” terang Key, membuat Hyeri menatapanya skeptis. “Aku bosnya.” tambah Key buru-buru.

Hyeri menghela nafas, Key benar-benar membuatnya jengkel. Baiklah, jika ia biarkan Key melakukan yang ia suka, mungkin namja itu akan segera menjauh. Dan ah! Hyeri belum mengatakan tentang kehamilannya. Apa ini moment yang tepat? batin Hyeri. “Baiklah, katakan!” pinta Hyeri, ia memutuskan untuk mengalah agar nanti lebih mudah untuk menceritakan soal kehamilannya.

“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya? Kau sengaja menyembunyikannya?” Key memulai interogasi. “Apa? Apanya yang tidak pernah kuceritakan? Ayolah, Kim Kibum! Jangan bermain tebak-tebakan seperti ini, bahkan aku telah menceritakan seluruh hidupku padamu.” Hyeri berdecak kesal, semakin tidak mengerti dengan kelakuan Key yang mulai aneh. “Ada satu yang kau sembunyikan dariku! Pikirkan!” tegas Key, ia terus menatap Hyeri dibalik lensa abunya. “Eopseo! Semua tentang Minho sudah kuceritakan padamu. Oh! bahkan kurasa kau tahu lebih banyak dariku.”

Hyeri kemudian mengerutkan dahinya, berusaha berpikir mengenai hal apa yang dimaksud Key. “Beri aku clue!” pinta Hyeri cepat saat melihat ekspresi Key tidak berubah. “Sesuatu yang berhubungan denganku dan Minho.” tanggap Key tak kalah cepat. Hyeri menghembuskan nafasnya dalam, memejamkan mata sesaat. Berusaha bersabar dengan Key. Tidak ada lagi yang ia sembunyikan dari Key, karena ia telah menyerahkan seluruh hidupnya pada Key. Lantas apa lagi yang diinginkan Key dengan mengatakan bahwa Hyeri menyembunyikan sesuatu tentang Minho? Apa ini yang terpikirkan oleh Key agar mereka berbaikan? Oh! bahkan alasan mereka bertengkar adalah Nicole, bukan Minho.

Listen, Key! jika ini adalah caramu untuk berbaikan, ini sangat buruk! Aku mencintaimu dan kini Minho adalah ke-“

“Kenapa tidak pernah memberitahu bahwa kau adalah pendonorku?” potong Key cepat, ia sangat tidak sabaran untuk tahu jawaban Hyeri. Seketika kekesalan di wajah Hyeri memudar. Bibirnya mengatup, merasa tidak siap untuk menceritakan hal ini. Ternyata Key telah megetahuinya. “Itu…” Hyeri menggantungkan kalimatnya, ia tidak berani menatap Key. Memandangi kerah kemeja Key lekat. “Selama ini aku selalu mencarimu,” Key kemudian terkekeh “Bodohnya aku karena selama ini aku mencari istriku sendiri.” lanjutnya tenang, lalu ia tersenyum. Hyeri masih diam, pikirannya belum menemukan alasan yang tepat atas pertanyaan Key.

“Kau ingat tentang malaikat yang sering datang ke mimpiku? Aku pernah menceritakannya dulu, saat pertamakalinya kau meninggalkanku di café.” Hyeri kembali menatap Key, kemudian mengangguk pelan. Ia tidak terlalu ingat dengan jelas karena saat Key bercerita panjang lebar, ia justru tertidur dengan cepat. “Dia selalu mendatangiku sejak aku di rumah sakit. Hingga aku sembuh, ia selalu mendatangiku. Mengatakan padaku untuk mencarinya setelah aku bangun. Kau tahu? Aku selalu mendatangi rumah sakit dan memohon pada Song seonsaengnim untuk memberitahu identitasmu, lalu pulang ke rumah tanpa mendapatkan hasil. Menemuimu dengan perasaan sedikit kacau,” Key terkekeh “Bodoh! Betapa bodohnya aku saat aku kembali ke rumah sakit lagi dan tetap mencari tahu identitas pendonorku. Padahal aku tinggal serumah denganya.” lantas Key menarik Hyeri lebih dekat, membuat tubuh mereka benar-benar rapat tanpa celah. Dengan cepat Key membenamkan wajahnya di leher Hyeri, menghirup aroma tubuh istrinya.

Gomawo, gomawo.” bisik Key seraya mengeratkan lagi pelukannya, seolah tak mau melepaskan Hyeri sedikitpun. Hyeri hanya diam, membiarkan dirinya merasa nyaman dalam pelukan Key yang begitu dirindukannya. Kepalanya terus berpikir mengenai cerita Key soal malaikat penjaga. Benarkah selama ini sang malaikat selalu mendatanginya? Oh! ia ingat bahwa malaikat itu adalah seorang yeoja bersayap, lalu apa saja yang telah dilakukan Key dan malaikatnya dalam mimpi? pikir Hyeri.

“Kau malaikatku, selamanya kau malaikatku, Min Hyeri. Geurasseo, jangan pernah pergi dariku. Ara?” bisik Key di telinga Hyeri, membuat yeoja itu tersenyum bahagia. Hyeri berjinjit agar ia bisa menjangkau bahu Key, kedua tangan yang tanpa sadar telah mengalung di leher Key semakin dieratkannya. “Hmmm.” gumam Hyeri pelan, ia merasa senang karena kini tidak ada lagi rahasia yang ia simpan dari Key. Dengan begitu hidup mereka akan lebih baik.

Sepuluh detik, keduanya benar-benar tenggelam dalam dunia di mana hanya ada mereka berdua -Kim Kibum dan Min Hyeri. Kini kedua tangan Hyeri berpindah pada kepala Key, mengelusnya pelan. Ia tidak tahu perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini, yang jelas ia tidak ingin berada jauh dari Key, selamanya. Key menjauhkan dirinya, tetap mencengkeram pinggang Hyeri. Ia kembali menatap Hyeri, “Oh! aku terlalu mementingkan diriku. Aku jadi lupa kenapa kau menyembunyikannya dariku. Nah, sekarang kau harus menceritakannya.” pinta Key, membuat Hyeri kembali pada dunianya.

“Oh! Itu, aku sedang mencari waktu yang tepat, Key. Lagipula saat itu yang paling penting adalah kesembuhanmu. Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain kau bangun dari tidur panjangmu saat itu. Juga, dibandingkan itu,” Hyeri menatap mata Key ragu “ada hal lain yang lebih penting yang ingin kukatakan.” lanjut Hyeri, lantas jantungnya tiba-tiba berdebar hebat. Merasa siap tidak siap untuk memberitahukan kehamilannya. Sementara pikirannya mengira-ngira akan seperti apa reaksi Key akan kehamilannya.

Gomawo. Dashi hanbeon, gomawo jeongmal. Kini aku yang akan menjagamu dengan baik, sama seperti sumsum tulang belakangmu yang menjagaku dengan sangat baik.” terang Key, meniru ucapan Song seonsaengnim. “Oh! hal penting apa yang akan kau ceritakan?” tanya Key, ia sedikit menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hyeri.

“Itu.. Key, kau ingat malam itu?” tiba-tiba Hyeri begitu tegang. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia hamil, apalagi memberikan test pack-nya pada Key. Itu cara yang buruk, pikir Hyeri. “Yang mana?” Key mengerutkan keningnya. “Saat hujan, Key. Saat kau pertamakali mandi setelah keluar dari rumah sakit.” terang Hyeri sedikit canggung, matanya sesekali berpaling dari mata Key. Key berejengit, oh! tentu saja ia mengerti ke mana arah pembicaraan Hyeri. Jadi, Hyeri sudah tahu tentang kehamilannya? Sebuah ide jahil tiba-tiba melintas dalam pikiran Key, ia tahu Hyeri akan berputar-putar hanya untuk mengatakan bahwa ia hamil.

“Oh ya, malam itu. Lalu apa?” tanya Key datar, sementara dalam hati ia tertawa geli. “Nah, kau tidak lupa kan apa yang terjadi setelahnya?” tanya Hyeri. Matanya berbinar, ia begitu yakin Key mulai mengerti arah pembicaraan. “Tentu aku tidak lupa! Tidak akan pernah lupa! Itu adalah saat kau mengatakan bahwa kau mencintaiku, iya kan?” Key semakin merasa puas melihat raut wajah Hyeri. “Ani! Bukan yang itu, Key. Setelahnya.” tambah Hyeri cepat, ia merasa tidak sabaran untuk sampai ke intinya. “Setelahnya? Apa?” tanya Key, membuat Hyeri mulai kesal.

“Oh! wait! Biar kuingat lagi. Kau masuk ke kamar saat aku baru selesai mandi, kau memarahiku karena demamku akan naik. Lalu kau mengatakan bahwa kau sangat takut kehilanganku, kau sangat mencintaiku. Lalu aku menciummu, setelah itu kita masuk pada tahap selanjutnya. Aku mendorong tubuhmu ke ranjang, hemm… lalu kancing kemejamu-“

“Kita melakukannya, Key! Kau ingat kan? Malam itu kita melakukannya!” pekik Hyeri, ia tidak sadar bahwa suaranya menggema di seluruh penjuru aula. Membuat semua staff yang tengah asyik bekerja kembali menatap mereka. Hyeri segera membulatkan kedua matanya saat menyadari bahwa ia begitu bodoh. Ah! Kali ini, celakalah ia. Hyeri mengabsen lagi beberapa pasang mata yang kini tengah menatap ia dan Key. Menatap dengan mata berbinar dan penuh harap untuk mendengar kelanjutan ceritanya. “Aish! Pabo-ya, jeongmal. Kau bodoh sekali, Key!” decak Hyeri, ia memukul dada Key.

Key terkekeh, “Arasseo, kau mau memberitahuku bahwa kau hamil, geutchi?” terang Key, membuat Hyeri membulatkan kedua matanya. Bagaimana bisa Key tahu apa yang akan disampaikannya? batin Hyeri. “Aku sudah tahu saat kau pingsan. Ini minggu kelima, Baby.” Seolah bisa membaca pikiran Hyeri, Key segera menjelaskan bagaimana ia mengetahui kehamilan Hyeri. Key kembali memeluk Hyeri, memejamkan kedua matanya. “Jinjja! Ini hadiah untukku! Gomawo, jeongmal gomawo.”

Key menjauhkan dirinya dari Hyeri, memberi sedikit ruang di antara mereka. Kemudian menatap mata Hyeri, “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku begitu bahagia hingga rasanya aku akan meledak saat ini juga. Sungguh! Tuhan pasti sangat menyayangiku dengan menciptakan dan mengirimmu kepadaku.” ia kemudian merengkuh rahang Hyeri, mendekatkan wajahnya dengan wajah Hyeri.

Saranghae, saranghae jeongmal, Min Hyeri.” bisik Key, lantas semakin memperpendek jarak di antara mereka. Sorak sorai dari para staff menggema di seisi aula, tapi Key tahu bahwa Hyeri tidak akan menolak untuk yang satu ini. Buktinya saja yeoja itu tidak lagi berontak untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman Key. Ia justru menaruh kedua tangannya apik di dada Key, ikut memiringkan kepalanya saat Key semakin mendekat.

Dada Hyeri berdebar tak karuan saat hembusan nafas hangat Key menerpa wajahnya. Ini memang bukan yang pertamakalinya, tapi pertengkarannya dengan Key membuat Hyeri seolah baru merasakan lagi hal ini. Kedua mata Hyeri menatap bibir tipis Key yang tidak lama lagi akan menyentuh bibirnya, “Na do, na do. Saranghae, yeongwonhi.” bisik Hyeri, sebelum ia sendiri yang menghapus jarak antara ia dan Key. Memejamkan kedua matanya, mengabaikan sorak sorai dari para staff yang memang sejak tadi menonton mereka. Kurang dari dua detik bibir mereka akan bersentuhan, saling menjalarkan kehangatan saat suara itu menginterupsi keduanya.

***

“Key, di sini rupanya.” suara itu begitu familiar di telinga Key dan Hyeri. Key berdecak, dengan terpaksa Key menghentikan gerakannya yang nyaris menjangkau bibir Hyeri. Ia menoleh ke sumber suara, tepat di belakangnya. Sedikit terkejut mendapati Nicole tengah berdiri di ambang pintu aula. “Nicole?” tanya Key heran, lantas menatap yeoja dengan skinny jeans dan kemeja longgar beige dengan seksama. Nicole tersenyum, setelah diam-diam matanya memperhatikan para staff yang kini tengah menatapnya. Tapi Nicole tidak mempedulikan hal itu, ia tahu pemandangan di depannya sangatlah tidak menyenangkan. Dan memanggil nama Key adalah pilihan yang tepat untuk menggagalkan adegan mesra itu.

Nicole terus menatap Key meski hatinya merasa tidak senang. Dalam hati ia mengutuki dirinya yang begitu berani kembali ke kantor ini. Satu jam lagi pesawat yang akan membawanya ke New York akan lepas landas, ia akan menetap di sana dalam jangka waktu yang tidak bisa dipastikan. Tentu saja! Hingga hatinya membaik dan melupakan bahwa Key telah menyakitinya dengan menikahi Hyeri. Ia masih ingat dengan jelas apa yang terjadi setelah Key koma. Selama satu tahun terakhir Nicole berhasil untuk tetap berdiri tegak, meyakini bahwa tidak ada cinta dalam pernikahan Key dan Hyeri. Tapi kenyataan selalu berpaling darinya, Hyeri justru terang-terangan mengatakan bahwa ia begitu mencintai Key. Saat itu Nicole berharap bahwa ia tengah bermimpi dan ucapan Hyeri hanyalah gertakan untuk menjauhkannya dari Key. Hanya selangkah lagi sebelum mereka bercerai dan Nicole akan mengabil Key kembali. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi, menjauh dari Key dan Hyeri.

Ia mendesah, mengenyahkan pikiran itu lagi dari kepalanya. Mengapa kejadian di rumah Key kembali terulang lagi dalam kepalanya? Batin Nicole. Sangat memuakkan mengingat bagaimana kini Hyeri memanggil Key, juga Key yang membiarkannya untuk pergi. Tidak ada kalimat pencegahan dari Key saat Nicole mengatakan ia akan mengundurkan diri dari perusahaan dan pergi ke New York. Bahkan saat Nicole menjelaskan alasan kepergiannya adalah hatinya yang terluka parah.

Hyeri muncul dari balik punggung Key, memandang Nicole dengan pandangan yang tak kalah heran dari Key. “Key, aku meneleponmu berkali-kali.” Nicole mengacuhkan Hyeri dan lebih memilih untuk tetap fokus pada tujuannya datang ke mari. Key berjengit, sedikit salah tingkah ia melepaskan Hyeri dari pelukannya dan merogoh saku celananya. “Mianhae, aku tidak sadar ponselku bergetar daritadi.” ucap Key, lantas ia lebih memilih untuk memandangi ponselnya dibanding Nicole.

Nicole melangkah mendekati keduanya, mengabaikan tatapan dari para staff. “Bisakah kita bicara sebelum aku pergi? Oh! mungkin kau bisa mengantarku ke bandara.” bisik Nicole, ia sengaja mengecilkan suaranya agar hanya Key dan Hyeri yang mendengarnya. Saat itu juga wajah Hyeri menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan apa yang diucapkan Nicole, ia dan Key kemudian saling berpandangan. Ada sesuatu yang berusaha disampaikan Key melalui tatapannya pada Hyeri, tapi sayangnya yeoja itu sama sekali tidak menangkap pesan Key. Ia memberenggut, menatap Nicole dan Key dengan wajah kesal “Geurae, Anda punya tamu, Sajangnim.” ucap Hyeri, lantas ia beranjak meninggalkan aula sambil menatap Key kesal.

“Hyeri-ya!” panggil Key, ia terlihat bingung. Mengejar Hyeri yang emosinya kembali muncul dan meninggalkan Nicole, atau membiarkan Hyeri. Key mengerang frustasi, ia tidak bisa mengabaikan Nicole. Ia telah membuat Nicole terluka terlalu banyak. “Oh! Cole-ah. Kau pergi hari ini? seharusnya kau memberitahuku lebih awal.” ucap Key akhirnya. “Aku ingin memberi kejutan,” terang Nicole, ia kemudian melanjutkan “Jyaa, waktuku tidak sampai 60 menit. Jadi, bisakah kita pergi ke tempat yang kusuka?”

Key menatap Nicole, menatapnya dengan kebingungan yang tergambar jelas. Hatinya menimbang mengenai apa yang sebaiknya ia lakukan. “Eottae?” tanya Nicole lagi. Key masih menatap Nicole, merasa tak mampu mengucapkan kalimat apa pun. Otaknya tengah berpikir keras sambil sesekali ia melirik ke arah pintu aula. Wait! Ini pernah terjadi sebelumnya. Kejadian itu terputar ulang lagi dalam kepala Key, bagaimana ia telah melakukan kesalahan dengan membiarkan Hyeri meninggalkan aula dengan hati yang terluka. Seketika perasaan tidak menyenangkan itu menderanya lagi, bagaimana ia begitu frustasi saat ia tidak bisa menemukan Hyeri di manapun. Dan itu membuatnya gila.

Kaki Key melangkah begitu saja menuju pintu aula, mengabaikan Nicole yang masih menunggu Key menanggapi ajakannya. Dengan cepat Nicole mengejar Key. Tidak! Sekali ini saja! setidaknya sebelum Nicole benar-benar pergi dan tidak bisa bertemu Key lagi. “Key,” panggil Nicole saat mereka berjalan di lorong lantai lima. Tanpa menghentikan langkah lebarnya Key menoleh, hanya menoleh tanpa mengatakan apa pun. “Key, kau mau ke mana?” tanya Nicole. Baiklah, sepertinya ia memang kalah telak. Key bahkan tidak mengistimewakannya lagi seperti dulu. “Aku harus menyusul istriku.” tanggap Key, ia terus berjalan menuju lift tanpa menoleh ke arah Nicole.

“Key, pesawatku akan segera lepas landas. Tidak bisakah kau mengantarku ke bandara?” Nicole menahan tangan kanan Key, menatap namja itu dengan kekesalan yang mulai memuncak. Key diam, ia kembali menatap Nicole. Pikirannya seolah baru tersadar bahwa ia telah mengabaikan Nicole. “Oh! Mianhae, aku akan mengantarmu. Tunggulah.” ia kemudian kembali melangkah. “KEY!!!” Nicole berteriak kesal. Ia tidak mengerti mengapa rasanya ia ingin marah pada Key. Key menoleh, menatap Nicole dengan sorot mata meredup. Ia kemudian meraih kedua tangan Nicole, “Listen! aku akan mengantarmu ke bandara, hemm? Tapi sebelum itu aku harus menyusul Hyeri. Aku dan Hyeri akan mengantarmu ke bandara.” terang Key, ia kemudian tersenyum sebelum akhirnya kembali melangkah meninggalkan Nicole.

Nicole hanya diam, menatap punggung Key yang semakin menjauh darinya. Membiarkan namja itu menaiki lift dan benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia tersenyum getir, kemudian melirik arlojinya. Masih ada cukup banyak waktu. Well, sebaiknya ia pergi ke café atau mungkin ke tempat lain yang akan membuat perasaannya lebih baik. Nicole melangkahkan kakinya anggun, berjalan sambil menegakkan kepalanya seolah tidak terjadi apa pun. Otaknya terus berpikir mengenai tempat menyenangkan mana yang akan dikunjunginya. Ah! Mungkin café dekat bandara akan sangat sempurna! Itu akan memudahkannya saat pesawat akan lepas landas, pikirnya.

***

Namja itu segera berlari begitu pintu lift terbuka. Acuh tak acuh dengan beberapa staff yang menyapanya di koridor lantai tiga karena kedua kakinya hanya memiliki satu tujuan. Kakinya melangkah semakin cepat, sementara jantungnya berdebar tak karuan. Ia takut jika yeoja-nya tidak bisa ia temukan seperti yang pernah terjadi. Jantungnya mencelos saat ia tiba di kubikal Hyeri, yeoja itu ada di sana. “Hyeri-ya.” panggil Key cepat, membuat yeoja yang tengah merapikan barang-barangnya ke dalam tas itu semakin gusar. Ia beranjak, mengabaikan Key dan melangkah begitu saja melewati Key. “Jebal! Berhentilah untuk tidak mendengarkan penjelasanku.” Key menahan satu tangan Hyeri, yeoja itu menatapnya penuh amarah. “Aku tidak perlu mendengarkan penjelasan apa pun. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu dijelaskan!” tandasnya, kemudian kembali beranjak.

Key berdecak kesal. Baru saja ia berbaikan dengan Hyeri, tapi semuanya menguap begitu saja. “Hyeri-ya, listen! Jebal, kendalikan dirimu. Belajarlah untuk mendengarkanku dulu, okay?” Key berusaha menahan dirinya agar tidak ikut meledak seperti Hyeri. Jinjja! Mengapa wanita hamil harus diserta emosi yang buruk? pikir Key.

Hyeri membalikkan tubuhnya, membuatnya kini berhadapan dengan Key. Ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil memandang Key skeptis, seolah menunggu namja itu memberi penjelasan.

“Berhentilah cemburu terhadap Nicole, dia itu sahabatku.”

Mwo? cemburu? Kau bilang aku cemburu? Sudah kubilang aku hanya tidak suka melihat kalian terlalu dekat! Terlebih lagi jika itu terjadi di dalam kantor. Itu skandal, Key! Skandal!” pekik Hyeri. Key memutar bolamatanya kesal, “Kau cemburu, Min Hyeri. Itu namanya cemburu.” Key tetap meyakinkan. Sebenarnya, Key merasa begitu senang dengan kecemburuan Hyeri. Karena itu artinya Hyeri benar-benar mencintainya. Tapi di lain sisi, cemburu ala Hyeri benar-benar membuatnya kelabakan.

Hyeri mendengus, “Terserah apa pendapatmu, Kim Kibum! One thing for sure, aku sangat marah!” terang Hyeri, lantas kembali berbalik dan melangkah meninggalkan Key. “Hyeri-ya geumanhae! Jangan jadikan itu sebagai alasan jika kau memang ingin marah, eoh?” lagi, Key menahan tangah Hyeri. Berusaha menenangkan istrinya. Hyeri menautkan kedua alisnya, sebagai substitusi atas ketidakmengertiannya terhadap kalimat Key. “Aku tahu emosimu buruk, dan dengan mudah menjadi lebih buruk. Tapi kita bisa mencari cara lain untuk mengalihkan emosimu. Ayolah, itu tidak baik untuk bayi kita.” Key tersenyum, berharap emosi Hyeri akan mereda karenanya.

“Bayi kita? Mulai sekarang ini bayiku! Aku benci kau, Kim Kibum! Aarggh, aku benci!!! Pergi dariku!” Hyeri memukul-mukul dada Key, menjauhkan Key darinya. Meluapkan seluruh emosi yang bergejolak dalam dadanya. Ia tidak mengerti mengapa ia seburuk ini, benar-benar bukan tipenya. Tapi setiap kali ia mengingat bagaimana kedekatan Key dan Nicole, itu semakin membuat Hyeri membenci keduanya.

Key menangkap kedua tangan Hyeri yang masih sibuk memukuli dadanya. Ia mulai kesal dan tidak mengerti bagaimana lagi caranya membuat yeoja ini tenang. “Lepaskan! Pergi dariku! Aku benci dirimu!” racau Hyeri saat Key kini telah mengunci kedua tangannya. Hyeri menatap Key setelah kedua tangannya resmi tidak bisa bergerak sama sekali. “Kau menyakitiku, Key. Aku benci! Kita bercerai!” ucap Hyeri sendu, lantas matanya mulai digenangi benda cair.

Key menghembuskan nafasnya, berusaha seapik mungkin melakukannya tanpa suara. Memejamkan kedua mata untuk menenangkan dirinya. Lagi-lagi Hyeri mengucapkan kalimat itu, kalimat yang muncul hanya karena dorongan emosinya yang terlampau buruk. Key mulai jengah, kali ini ia harus mengajari Hyeri sesuatu. Setidaknya agar Hyeri tidak semudah itu mengatakan kalimat cerai meskipun mereka sedang bertengkar.

“Ikut aku!” Key melepas satu tangan Hyeri, dan menarik yang satunya. Berjalan di depan Hyeri, membuat yeoja itu meronta. “Sirheo!” Hyeri menahan langkahnya. Tapi Key tidak peduli, ia terus menarik Hyeri menuju tangga darurat. Benar! Tangga darurat adalah tempat yang tepat di saat seperti ini. Tidak akan ada orang yang mendengar teriakkan Hyeri. Karena Key tahu, bahwa Hyeri bukan yeoja yang mudah menyerah dengan keinginan dan keegoisannya. “Lepaskan, Key! kau menyakitiku!” lagi, Hyeri berusaha melepaskan cengkeraman Key yang mulai membuat pergelangan tangannya sakit. Tapi Key bergeming, terus menarik Hyeri hingga mereka tiba di lobi. Sementara batinnya terus memohon agar mereka segera tiba di halaman parkir.

Dengan cepat Key membuka pintu mobilnya, memaksa Hyeri untuk masuk dan duduk. Melesat ke pintu satunya lagi dan segera duduk di bangku kemudi. “Pakai sabuk pengamanmu!” titah Key dan tidak dihiraukan oleh Hyeri. Yeoja itu hanya menunduk, membiarkan bulir-bulir air mata membasahi mini skirt-nya. Tentu saja Key tahu bahwa Hyeri tengah menangis, tapi kali ini ia ingin Hyeri benar-benar mengerti perasaannya dan belajar untuk tidak selalu mengikuti emosinya. Tanpa berkata apa-apa, Key memasangkan sabuk pengaman Hyeri. Menyalakan mesin mobil dan dengan cepat melesat meninggalkan halaman perusahaan.

“Berhenti! Turunkan aku, Kim Kibum!” setelah beberapa menit akhirnya Hyeri membuka mulutnya. Menghapus air mata di wajahnya, meskipun cairan itu kembali jatuh. Key tidak menjawab, dan menginjak gas semakin dalam. Sementara batinnya terus memohon agar mereka segera tiba di tempat tujuan. Ia tahu kecepatan mobil ini akan membuat Hyeri mual dan tidak sehat.

“Aku bilang berhenti! Hentikan mobilnya sekarang juga!” Hyeri berteriak, memandangi Key penuh amarah dan kekecewaan. Tidak ada tanggapan dari Key, membuat Hyeri melepas sabuk pengamannya. Mengetahui itu, Key menginjak gas semakin dalam. Membuat laju mobilnya melampaui batas normal. Hyeri memandang Key tak percaya, dengan cepat ia memakai sabuk pengamannya lagi. Guncangan dalam mobil membuatnya mual dan pusing, sehingga ia kini berpegangan kuat pada pegangan pintu. “Kau menyakitiku, Key! Aku benar-benar membencimu!” kini Hyeri mulai terisak, merasa hatinya terluka karena perlakuan Key.

“Berhenti bicara! Kau membuat kepalaku sakit, Min Hyeri!” tukas Key tanpa beralih dari jalanan yang lengang di hadapannya. Sementara Hyeri semakin terbelalak mendengar ucapan Key. Ini kali keduanya Hyeri melihat Key marah dan berubah menjadi makhluk paling menyeramkan. Ia hanya menunduk, merasakan sakit hati seiringan dengan air matanya yang semakin deras. Tanganya berpegangan erat pada pegangan pintu, sementara tangan yang lainnya ia taruh di atas perutnya. Seolah menjaga janin yang mungkin saja tersakiti karena kecepatan mobil yang tidak bersahabat.

Key menghentikan mobilnya dengan apik tepat di depan rumah yang didominasi dinding bata. Mematikan mesin mobil dan menyisakan keheningan di antara mereka berdua. Sepanjang perjalanan Hyeri selalu memalingkan wajahnya dari Key, menatap ke luar jendela, entah memikirkan apa. Key menatap Hyeri yang masih menatap ke luar jendela, “Kita sudah sampai.” ucap Key, berusaha memecah atmosfir kaku antara mereka. Hyeri mengusap air matanya, kemudian menatap Key kesal “Apa yang akan kau lakukan? Kau mau memulangkanku?” tanya Hyeri bertubi-tubi.

“Ayo keluar!” Key tidak menanggapi pertanyaan Hyeri, dengan cepat membuka pintu dan keluar dari mobil. Hyeri berdecak kesal, lantas air matanya kembali jatuh. Key memperlakukannya dengan buruk, batin Hyeri. Ia masih diam, ingin berlari menjauhi rumah orangtuanya. Bagaimana bisa ia menemui keluarganya dalam keadaan seperti ini?

Key membuka pintu, melepas sabuk pengaman Hyeri tanpa mengatakan sepatah katapun. Yeoja itu hanya menatapnya sendu. “Ikut aku!” pekik Key, ia menarik tangan Hyeri untuk keluar dari mobil. “Sirheo!” tolak Hyeri. Kali ini ia tidak bisa menahan air matanya, membiarkannya menganak sungai dan berubah menjadi isakan. Key tidak mempedulikan Hyeri dan tetap memaksa istrinya untuk keluar dari mobil. “Sirheo!” teriak Hyeri, ia menahan dirinya untuk tetap berada dalam mobil. “Neon mwohae?” (Apa yang kau lakukan?) tanya Hyeri di tengah isakannya. Ujung bibir Key terangkat, “Cerai! Kau bilang ingin bercerai kan? Ikut aku! Kita akan bercerai di depan kedua orangtuamu!” dalam satu gerakan Key berhasil menarik Hyeri keluar dari mobil.

Key terus menyeret Hyeri menuju pintu depan meski ia tahu istrinya tengah meronta dan menangis semakin histeris. “Sirheo! Lepaskan! Aku mau pulang!” bisik Hyeri tertahan, ia tidak mau suaranya terdengar oleh siapa pun yang ada dalam rumahnya. Genggaman Key begitu kuat mencengkeram tangannya, membuat Hyeri meringis. Tapi itu tidak seberapa, karena hatinya tengah teriris. Ia tidak bersungguh-sungguh dengan meminta cerai, kalimat itu meluncur begitu saja saat emosinya mencapai klimaks. Dan kini Key benar-benar akan menceraikannya. Semudah itu kah? Jadi, Key memang telah merencanakan ini. Oh! Key sungguh jahat! Benar-benar jahat, batin Hyeri.

***

Keduanya telah berada di depan pintu, Key masih menggengam tangan Hyeri erat. Ia merapikan jasnya sebelum tangannya yang bebas hendak menekan bel interkom. “Hapus air matamu! Wajahmu begitu jelek saat menangis.” ucap Key, ia melirik Hyeri. Menatap istrinya tajam, tatapan yang mengancam. Hyeri menahan tangisnya mati-matian, mengusap air matanya kasar. Kemudian memandang Key seperti anak kecil yang baru saja dihukum karena makan biskuit sebelum tidur.

Yeoboseyo, emmonim. Ini aku, Kim Kibum.” ucap Key setelah ia menekan bel interkom dan seseorang bicara di balik pintu melalui interkom. “Omooo! Kalian.” terdengar teriakkan kecil dari interkom, tak lama pintu terbuka. “Ya Tuhan, uri Hyeri.” Nyonya Min segera menyerbu Hyeri begitu ia membuka pintu. Memeluk putrinya sayang. “Annyeonghaseyo.” Key membungkukkan tubuhnya saat Nyonya Min melepaskan pelukannya dari Hyeri. “Annyeonghaseyo. Kibum-ah, kau tampak begitu sehat. Aku senang melihatmu.” Nyonya Min membalas salam Key, ia menatap Key dari ujung rambut hingga kaki. Kedua matanya berbinar, memancarkan kebahagiaan yang teramat sangat.

“Kalian datang mendadak? Ada apa? Oh! masuklah.” Nyonya Min terlalu bahagia dengan kunjungan mendadak putri dan menantunya, hingga ia lupa untuk mempersilakan keduanya masuk. Key dan Hyeri berjalan berdampingan mengikuti Nyonya Min. Mereka berjalan menuju ruang tamu. “Oh! jadi, apa yang terjadi?” tanya Nyonya Min saat mereka telah duduk di sofa di ruang tamu.

“Kami datang untuk memberi kabar baik, Eommonim. Oh, di mana Abonim?” wajah Key berseri-seri. Sementara Hyeri semakin menundukkan kepalanya. Hatinya mengumpat, bagaimana bisa Key mengatakan perceraian adalah kabar baik? Pasti Key sudah gila, pikir Hyeri. “Kabar gembira? Apa itu, Kibum-ah? Oh! tapi kau kenapa, Hyeri-ya? Kau sakit? Oh! kau menangis.” Nyonya Min menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Hyeri, ia kemudian berhambur ke arah Hyeri saat menyadari putrinya tengah menangis.

“Apa yang terjadi?” tanya Nyonya Min, melupakan kabar baik yang akan disampaikan Key. Ia menarik dagu Hyeri agar menatapnya, ingin melihat wajah Hyeri dengan jelas. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Ia menangis karena terlalu bahagia, Eommonim.” terang Key, lantas meraih tangan kiri Hyeri dan menggenggamnya erat. Hyeri berusaha untuk meronta, tapi eomma-nya lebih penting dari Key. Maka, Hyeri memutuskan untuk menatap eomma-nya. Mencari perlindungan di sana.

“Bahagia? Hyeri-ya, apa yang terjadi? benar yang dikatakan Kibum?” Nyonya Min menatap Key dan Hyeri bergantian. Wajah Hyeri tidak menampakkan bahwa ia bahagia, terlebih lagi air matanya yang menunjukkan kesedihan hatinya, bukan kebahagiaan. Hyeri tidak mengatakan apa pun, bibirnya bergetar hebat menahan tangis yang akan segera meledak. Ingin sekali berteriak dan mengatakan bahwa Key telah begitu jahat padanya. Tapi yang mampu ia lakukan hanyalah menggelengkan kepalanya, membuat Nyonya Min semakin cemas.

“Kibum-ah, apa yang terjadi?” tanya Nyonya Min makin tak sabaran. Key tersenyum, ia rasa ia tidak bisa bermain-main terlalu lama. Sebentar lagi istrinya akan meledak dalam tangisan yang sangat dramatis. “Emmonim, Hyeri sedang hamil.” ucap Key akhirnya, membuat kekhawatiran di wajah Nyonya Min memudar. “Mwo? Hyeri, hamil? Jinjja? Jinjja, Hyeri-ya?” Nyonya Min kembali menatap putrinya, Hyeri hanya mengangguk pelan. Oh! pintar sekali seorang Kim Kibum, ia mengatakan kehamilan Hyeri sebelum mengatakan bahwa ia akan menceraikannya, batin Hyeri.

Omooo! Hyeri-ya, uri yeppeun dari Hyeri.” (Ya Tuhan! Putri cantikku, Hyeri.) Nyonya Min lantas memeluk Hyeri. Meluapkan kebahagiaannya, ini lah yang ia tunggu-tunggu selama setahun terakhir. Ketika pelukan itu menghangatkan tubuhnya, Hyeri tak bisa bertahan lebih lama. Tangisnya pecah begitu saja. Oh! ini bukan tangis bahagia.

Nyonya Min memeluk putrinya semakin erat, mengelus rambut Hyeri lembut. Membisikkan kalimat-kalimat yang menyatakan bahwa ia begitu bahagia dengan kabar ini. Hyeri hanya mengangguk, membiarkan tangisan menguasainya. Sementara itu Key hanya tersenyum. Membawa Hyeri ke tempat orangtuanya merupakan cara yang ampuh untuk meredakan emosi Hyeri.

“Ah! Mianhae, aku terlau bahagia. Jadi, kalian akan makan malam di sini?” tanya Nyonya Min sambil menyeka air mata harunya. Ia menatap Hyeri dan Key bergantian. Key berdeham, “Jika tidak keberatan, kami akan menginap. Ini mendadak, jadi kami tidak membawa baju ganti.” ungkap Key ragu. Selama pernikahannya dengan Hyeri, ini pertamakalinya ia menginap di rumah mertuanya. “Aigo! Tentu tidak! Eomma sangat senang kalian menginap di sini. Kaja! Kalian harus beristirahat sebelum makan malam.” lantas Nyonya Min bangkit, kemudian mengajak Hyeri dan Key meninggalkan ruang tamu.

Hyeri masih sesenggukan saat Key menarik tangannya, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Bukan menarik tangan Hyeri kasar dan membuat yeoja itu kesakitan, tapi menarik tangan Hyeri lembut.  Keduanya tidak bicara saat Nyonya Min membawa mereka ke kamar Hyeri di lantai dua. “Jyaa! Seprainya baru saja diganti seminggu yang lalu. Beristirahatlah! Oh! aku akan membawakan pakaian ganti untukmu, Kibum.” ucap Nyonya Min kemudian menghilang begitu saja.

Hyeri duduk di tepi ranjang, sementara Key berjalan ke sana ke mari. Memperhatikan kamar Hyeri yang baru kali ini dikunjunginya. “Ini pertamakalinya aku masuk kamarmu.” ujarnya, matanya kini meneliti barisan foto di dinding dekat meja belajar. Membuat sebuah lengkungan di wajahnya mengembang. Ada begitu banyak foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Terutama foto-foto Hyeri dengan wajah polos, yang menunjukkan usia mudanya dalam foto.

Mata Key kini beralik pada deretan nove-novel detektif dan misteri di rak meja belajar bagian bawah. Ia tersenyum kecil saat melihat nama Agatha Christie di sana. Ia ingat, itu adalah novel-novel yang Hyeri beli saat Key mengajaknya berkencan dulu. Mata Key kini beralih pada sesuatu yang tertempel di atas cermin, “Hei! Ini Boyband kesukaanmu? Jinjja!” ia kemudian terkekeh. “Hei look! Bahkan wajahku jauh lebih cantik dibandingkan dia!” Key menunjuk salah satu member boyband dalam poster yang berdiri di ujung kanan, membawa pentungan yang ditempelkan di bahunya. Ia kemudian terkekeh, tapi nyatanya Hyeri sama sekali tak bergeming.

Key kembali melangkah, matanya liar mencari-cari objek menarik yang bisa mengundang tawanya. Kini ia membuka lemari meja belajar, memandang deretan kecil buku mengenai design dan beberapa agenda. Tidak ada yang menarik, pikir Key. Lantas ia membuka lemari di bawahnya dan menemukan sederetan buku tebal yang bentuknya lebih kecil dari buku tulis pada umumnya. Key menarik salah satunya, dan segera mengetahui bahwa itu adalah diary. Dengan cepat ia menaruh diary itu ke tempat semula.

“Bersenang-senang?” tanya Hyeri, ia menatap Key tajam. Key menghampiri Hyeri, duduk di sampingnya. “Tentu saja! ada banyak hal menyenangkan di sini! Oh! boleh aku membuka lemari bajumu?” goda Key, ia kemudian mengedipkan satu matanya. “Kau jahat sekali, Key! kau paling jahat!” pekik Hyeri tertahan, lantas ia kembali menangis dan memukul-mukul Key. Ia bahkan berusaha mendorong Key dari ranjang.

“Yaa! Apa yang kau lakukan? Omo! Baby-“

“Aku benci kau, Kim Kibum! Pergi dari sini sekarang!” pekik Hyeri lagi. Kali ini ia beranjak, lalu kembali mendorong tubuh Key penuh amarah. “Jika kau akan mengatakan pada eomma dan appa tentang perceraian saat makan malam, kau tidak akan berhasil! Sebaiknya katakan sekarang dan aku akan mengusirmu dari rumahku! Cepat pergi! Kau jahat! Tidak berperasaan! Kau menceraikan wanita yang baru saja mengandung anakmu! Kau jahat! Kau brengsek!” cacian itu mengalir dari mulut Hyeri tanpa henti, bahkan semakin tak terkendali. Hyeri terus memukuli Key sekuat tenaganya, meski pada kenyataanya itu sia-sia.

Key tersenyum kecil, sedikit kewalahan menghadapi Hyeri tidak membuatnya lantas menyerah. Dengan sigap ia menangkap kedua tangan Hyeri yang masih berusaha memukulnya. Membuat yeoja itu semakin berontak. “Baby, Listen!” Key berusaha menenangkan. “Sikkeuro! Aku tidak mau mendengar apa pun! Aku benci dirimu! Cepat pergi! Cepat pergi!” bisik Hyeri di tengah isakannya, ia kembali memukul-mukul dada Key. Tubuhnya kemudian merosot saat menyadari cengkeraman Key begitu kuat dan ia tidak bisa berbuat apa pun. Ia menangis sambil membenamkan wajah d antara kedua pahanya.

Listen! aku hanya bercanda. Kau pikir aku akan benar-benar menceraikanmu? Ayolah, kau tidak ingat apa saja yang harus kulalui untuk bisa seperti sekarang? Dan kau pikir aku akan menceraikanmu?” Key berjongkok di hadapan Hyeri, mengelus rambut Hyeri.

Hyeri tetap menangis dan tidak menanggapi ucapan Key. “Aku hanya tidak suka saat kau mengatakan kalimat cerai begitu mudahnya. Aku ingin kau belajar untuk mengendalikan emosimu. Perceraian itu tidak akan pernah ada dalam hidup kita, kita akan selalu bersama. Hemm? Kau pikir aku bodoh, hingga aku begitu mudahnya menceraikan istriku?”

Hyeri masih tidak menanggapi, menangis sesegukan seperti anak kecil. Key memeluknya, “Kau takut jika aku menceraikanmu, kan? Jadi mulai sekarang jangan pernah mengucapkan kata itu lagi, ara? Aku sangat mencintaimu, juga bayi kita.” Lalu Key memaksa Hyeri untuk mengangkat wajahnya, saling berpandangan. “Mianhae, aku telah membuatmu takut.” bisiknya sambil mengusap air mata di wajah Hyeri. Kemudian memaksa Hyeri untuk berdiri.

Key mendekap Hyeri, “Jyaa, berhentilah menangis. Satu hal yang harus selalu kau ingat, Min Hyeri. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan menjagamu, juga bayi kita, menjaga keluarga kita, dan menjaga kebersamaan kita. Maka, mulailah untuk selalu percaya padaku.” ia kembali mengusap air mata di wajah Hyeri, kemudian menempelkan keningnya di kening Hyeri.

“Jadi, itu hiks… kau tidak akan menceraikanku, kan? Itu tidak benar, kan? Kau tidak akan hiks pernah meninggalkanku?” Hyeri berusaha menyudahi tangisnya.

Key teresenyum “Kau sudah tahu jawabannya.” kemudian mendekatkan lagi wajahnya ke wajah Hyeri. “Jangan pernah katakan lagi soal perceraian. Jangan pernah! Sekalipun! You know that I’m a mess without you.” bisiknya, kemudian mengecup bibir Hyeri.

Hyeri menerima ciuman Key begitu saja. Dadanya berdebar tak karuan. Ini lah yang dinantikannya selama ini, merasakan hangatnya bibir Key yang penuh cinta. Key menarik pinggang Hyeri- membuat mereka tanpa jarak sedikitpun- seiringan dengan kedua tangan Hyeri yang mengalung di leher Key.

Tembok kaku, rak buku, serta matahari senja yang menelusup melalui celah ventilasi menyaksikan betapa dua anak manusia itu sangat membutuhkan satu sama lain. Kini mereka adalah satu kesatuan, terikat oleh kesucian cinta mereka yang begitu agung. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka kecuali kehendak Tuhan.

Jarum jam terus bergerak, keduanya semakin larut dalam ungkapan cinta yang memabukkan. Tak satu pun berniat untuk menyudahi kegiatan ini. Tidak ada lelah dan bosan.  Hyeri menarik Key hingga mereka terjatuh ke atas ranjang. Key menahan tubuh dengan lutut kirinya, ia tidak mau tubuhnya benar-benar menindih Hyeri. Kini ia melepaskan ciuman mereka dan dengan cepat mulai menjelajahi leher Hyeri. Menghirup aroma tubuh Hyeri di sana.

Mereka saling melempar senyum tak terartikan sebelum kembali mendekat dan saling menyalurkan hasrat. Tapi ketukan itu benar-benar menginterupsi keduanya.

“Hyeri-ya, Kibum-ah, sebaiknya kalian mandi dulu. Eomma menaruh pakaian untuk Kibum di dekat meja setrika. Setelah itu turunlah, makan malam akan segera siap.” terdengar suara Nyonya Min dari balik pintu, membuat Key dan Hyeri saling berpandangan geli. Mereka terkekeh sebelum akhirnya beranjak, “Nee, Eomma. Kami akan segera turun.” ucap Hyeri.

***

Malam itu cuaca sangat bagus, tidak turun hujan. Hyeri dan Key menikmati makan malam yang sangat menyenangkan. Selera makan Hyeri sangat baik, terlebih ia memakan masakan eomma-nya sendiri. Semuanya berlangsung begitu cepat bagi Key, mungkin karena ia merasa begitu bahagia. Ia tahu, setelah ini akan ada lebih banyak batu sandungan yang ditemuinya. Tapi itu tidak masalah, selama Hyeri selalu ada bersamanya, ia akan melaluinya dengan baik.

Key tengah berbincang dengan ayah mertuanya di ruang tengah sambil menikmati pudding mangga. Mereka berbincang sambil menonton televisi, membicarakan begitu banyak hal saat ponsel Key bergetar. Memunculkan sebuah pesan singkat dari nomor asing. Key meminta ijin untuk membaca pesan di ponselnya sebelum ia menekan tombol ‘read

From +718xxxx at 19.17

Aku sudah tiba di NY tiga puluh menit yang lalu. Woaah! Cuaca di sini benar-benar bagus, Key. Aku tidak menunggumu untuk mengantarku ke bandara tadi. Yeah! Kupikir berjalan-jalan sendiri lebih baik.

Kudengar Hyeri sedang mengandung. Jinjja? Chukhae, Key. kau akan menjadi ayah. Kelak jangan menjadi sahabat yang menyebalkan lagi, ara? Kekekek. Semoga harimu menyenangkan :)

-Nicole-

Key terdiam. Ia tidak berniat melupakan Nicole siang tadi. Tapi kenyataannya ia memang melupakan yeoja itu. Ia benar-benar sahabat yang menyebalkan, pikirnya. Ia tahu bahwa ia telah membuat Nicole pergi ke New York hanya karena kenyataan bahwa yeoja itu memang menyimpan perasaan untuknya. Mungkin nanti- jika Nicole kembali ke Korea- ia akan menjadi sahabat yang lebih baik, tanpa harus menyakiti hati Nicole. Key terkekeh sebelum akhirnya membalas pesan singkat Nicole.

You’ve got an awesome flight, right?
Thanks. Imagining how wonderful to be a father is, it makes me get stomatache. I’m very happy! Terimakasih telah menjadi sahabat yang baik. Mungkin nanti, Hyeri akan mengajariku bagaimana menjadi sahabat yang baik.

Enjoy your days there, take care `ㅂ’

Message sent.

***

Hyeri masih berdiri di sana. Di depan sebuah nisan yang sudah lama tidak ia kunjungi. Matanya menatap foto itu, foto yang menampilkan wajah namja tampan bermata bulat. “Lama tidak bertemu, kau baik-baik saja kan?” tanya Hyeri, lantas ia tersenyum lagi. “Kau tahu aku sangat bahagia saat ini, Minho-ya,” Hyeri menundukkan kepala seraya mengelus perutnya yang mulai membuncit. “Kau tidak akan percaya ini! Tapi dalam perutku benar-benar ada seorang bayi.” terangnya riang.

Ia kemudian mendesah ringan, “Gomawo. Jeongmal gomawo, karena kau telah mengajariku banyak hal, Minho-ya. Kau mengajari bagaimana untuk menjadi ikhlas, mengajariku untuk mencintai orang di dekatku, dan mengajariku bagaimana hidup dengan baik.” Hyeri kemudian mendongakkan kepalanya, memejamkan matanya di bawah terpaan angin musim panas.

Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya kembali menatap wajah tampan itu. “Kau tahu aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintainya dan akan hidup bahagia dengannya. Terimakasih karena kau telah menjagaku dari sana. Kau selalu menjagaku dan mengawasiku, bukan?” Hyeri terkekeh, ia kemudian melanjutkan. “Dia yang terbaik untukku. Dan akan selalu begitu, Minho-ya. Kau tahu dia kan? Kim Kibum. Kau pasti lebih tahu dibandingkan diriku.”

Hyeri menatap lagi wajah tampan Minho sebelum ia menyimpan azalea kuning di hadapan nisannya. Menyentuh foto yang tertempel di nisan seolah tengah menyentuh pemiliknya. Ia mendekat, kemudian berbisik. “Aku mencintaimu, Minho-ya. Terimakasih sudah menjadi kenangan abadiku. Kau dan cintaku akan selalu hidup dalam kenangan.”

Hyeri tersenyum, menatap lagi nisan Minho sebelum akhirnya berbalik. Melangkah mendekati seorang namja dengan kemeja merah lengan pendek yang tengah berdiri beberapa meter di hadapannya. “Kaja!” Hyeri segera mengamit lengat namja itu, tak sabar untuk segera pergi ke tujuan berikutnya. Namja itu tersenyum, melirik nisan Minho sekilas sebelum akhirnya berjalan berdampingan dengan Hyeri. Merangkul Hyeri sambil sesekali melontarkan kalimat yang membuat Hyeri tertawa.

“Kau mau makan dulu?” tanya Key saat mereka meninggalkan area pemakaman. “Ani! Aku ingin segera ke sana.” jawab Hyeri cepat, hatinya memang tidak sabar untuk melihat rumah barunya yang tengah dalam tahap finishing. “Oh! kalian sudah mau pulang?” tanya ahjumma penjual bunga saat melihat Hyeri dan Key. “Ah! Ne, ahjumma. Kami akan pulang.” Hyeri berjalan menghampiri ahjumma penjual bunga. Ahjumma itu tersenyum, menatap Hyeri dengan mata berbinar. “Tidak usah terlalu sering datang kemari saat perutmu semakin besar. Biar aku yang menaruh azalea kuning di nisan Minho setiap hari.” tawar ahjumma itu, ia mengelus lagi perut Hyeri. Hyeri terkekeh, “Arasseo. Minho akan tahu kapanpun aku merindukannya kan?” keduanya kemudian tertawa. “Jyaa, berbahagialah, Hyeri-ssi. Aku senang melihatmu bisa tersenyum seperti ini. Aigo! Uri yeppeun Hyeri-ssi, Minho-ssi akan senang di sana.” ungkap ahjumma penjual bunga, lantas ia mengusap pipi Hyeri.

“Hmm, gomawoyo.” Hanya kalimat itu yang bisa Hyeri sampaikan. Ia tidak menyangka bahwa ahjumma penjual bunga sangat mengkhawatirkannya. “Oh! Ahjumma tidak usah khawatir. Key menjagaku dengan baik, aku akan sangat bahagia bersamanya.” Hyeri kemudian tersenyum ke arah Key yang berdiri beberapa meter di hadapannya. “Arasseo, arasseo.” gumam Ahjumma itu, ia kemudian kembali merapikan beberapa jenis bunga dalam ember hijau.

Na kalke.” (Aku pergi) ucap Hyeri akhirnya, ahjumma itu lantas meninggalkan bunganya dan memeluk Hyeri. “Berbahagialah.” bisiknya lagi sebelum akhirnya membiarkan Hyeri dan Key pergi. Dengan kedua mata tuanya, ahjumma itu menatap Hyeri dan Key. Melihat sepasang suami istri yang begitu bahagia dan saling mencintai. Ia benar-benar tidak menyangka akan ada hari seperti ini, di mana yeoja itu tersenyum begitu cerah. Tidak ada lagi air mata dan kegalauan yang selalu mengitarinya. Menangisi nisan kekasihnya seperti dulu. Ia kemudian menganggukkan kepalanya ringan. Itu benar! Tidak ada yang bisa menentang kuasa Tuhan! Sekalipun badai yang begitu dahsyat menyerang dan meluluh lantahkan seisi kota, tapi akan ada hari di mana semuanya kembali seperti semula. Seolah tak pernah terjadi apa pun dan memulai kehidupan yang baru.

***

Setengah berlari Hyeri memasuki halaman rumah barunya. Rumah yang dibuat dengan design Elizabethan itu didominasi oleh dinding putih dan beberapa feature berwarna cokelat kayu yang berderet memanjang sepanjang dinding. Membuat dinding itu seolah memiliki motif garis vertikal. Di bagian belakang rumahnya terdapat bangunan terpisah yang terbuat dari dinding bata, menjulang tinggi dan memiliki cerobong asap.

Ia membuka pintu, menyusuri ruang tamunya dengan mata berbinar. Matanya menjelajahi ruangan dengan dinding berwarna cokelat itu, menilik lantai tigerwood yang begitu mengkilap. Ia kemudian berjalan menuju sudut di mana dua buah single sofa berwarna putih tertata rapi saling berhadapan, dengan meja persegi berwarna hijau pucat di tengahnya. Dua buah kursi Elizabethan dining arm diletakkan di masing-masing sisi sofa. Membuat kesan vintage begitu sempurna. Oh! tak lupa beberapa cushion ikut mempercantik sofa.

Hyeri kemudian menatap perapian yang sejajar dengan salah satu sofa, perapian yang terbuat dari tumpukan bata yang rapi itu membuat Hyeri berdecak kagum. Matanya kemudian beralih pada jendela berbentuk persegi dengan tinggi tiga meter, tirai berwarna ash menggantung begitu anggun. Lalu Hyeri mendongakkan kepalanya, mengabsen lampu gantung yang begitu antik dan kuno. Warnanya cokelat seolah terbuat dari kayu, memiliki enam cabang seperti akar yang merambat dengan rapi. Di setiap cabangnya seolah tertancap lilin putih yang tinggal setengah.

“Sempurna, bukan?” tanya Key yang baru saja memasuki rumah. Ia memasukkan tangan di saku celana kanan dan kirinya, menatap puas kesempurnaan rumah barunya. Hyeri hanya tersenyum, ia kemudian berlari menuju sudut lain. Menaiki tangga yang terbuat dari kayu mahogani berlapis karpet merah darah. “Oh! Baby, hati-hati!” pekik Key, ia dengan cepat mengejar Hyeri menuju lantai dua.

Yeoja itu dengan cepat mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, seolah menyamakan tata letak setiap ruangan dan benda di sana dengan ingatannya. “Annyeonghaseyo, Kim-ssi.” beberapa orang pekerja menyapa Hyeri, mereka tengah memasang bingkai jendela di koridor paling ujung dekat kamar tamu. “Oh! Annyeonghaseyo,” Hyeri membungkukkan tubuhnya sambil terus berjalan, matanya bahkan tidak fokus pada para pekerja. “Aku hanya datang melihat rumah, mohon jangan merasa terganggu.” ucap Hyeri dan dengan cepat melesat menuju sebuah pintu di ujung lain koridor.

Dengan nafas tersengal ia menatap takjub kamar tidurnya. Sama persis seperti design yang ia buat di flat screen. Kamar luas dengan dinding yang dilapisi wallpaper abu bernuansa rose vintage, dan sebuah jendela besar di dekat ranjang. Hyeri melangkah, mendudukkan dirinya di tepi ranjang berseprai white vintage. Ia membungkukkan tubuhnya, menyentuh ujung seprai yang menjuntai menyentuh lantai. Bentuknya lucu seperti renda.

Senyum di wajah Hyeri makin mengembang saat matanya mengabsen nakas yang terbuat dari pohon cemara Australia di samping kiri ranjang. Meja rias yang terbuat dari bahan serupa berdiri anggung di samping kiri kaki ranjang. Cerminnya besar dan berbingkai antik. Mata Hyeri semakin dimanjakan dengan ornamen-ornamen seperti lampu tidur, bingkai foto yang tergantung di dinding, serta kursi anyam yang semuanya merupakan design Elizabethan atau lebih dikenal dengan jaman Renaissance.

“Kau suka dengan rumah Renaissance-mu, Ms.Kim?” tanya Key dari daun pintu, namja itu bersandar di bingkai pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Hyeri menganggukkan kepalanya “Ini sangat sempurna, Key! Seluruh hidupku akan seperti Ratu Elizabeth. Lihat cermin itu!” Hyeri menunjuk cermin di meja rias. “Tunggulah hingga aku membuatkanmu replika Buckingham Palace.” gurau Key. Ia kemudian melangkah menuju sebuah pintu yang akan menghubungkannya ke tengah koridor.

“Kau akan lebih terkejut melihat ruangan ini.” terang Key, lantas ia berjalan menuju pintu berwarna senada dengan dinding kamar mereka. “Itu kamar mandi?” tebak Hyeri. “Tidak! Pintu kamar mandi yang itu.” Key menunjuk pintu lain di dekat lemari pakaian tiga pintu yang tertanam di dinding.

KLEK

Key membuka pintu dan segera menghilang di sana. Hyeri beranjak dari ranjang, berjalan mengikuti Key. Kedua matanya segera membulat melihat ruangan apa itu. “Ya Tuhan!” Hyeri terkagum-kagum pada ruangan yang jauh lebih kecil dari kamarnya barusan. “Bagaimana menurutmu? Bayi kita akan suka tinggal di sini.” Mata Key menjelajah dinding dengan wallpaper berwarna baby green. Sebuah box bayi berwarna putih terletak di salah satu sudut, sebuah sofa panjang, lemari kecil dan meja khusus untuk mengganti popok bayi. Beberapa jenis mainan telah tersusun rapi dalam ruangan itu.

Hyeri mendekati meja khusus untuk mengganti popok bayi, meraih sepasang sepatu mungil berwarna merah. Sepatu itu begitu mungil, bahkan tangannya jauh lebih besar dibandingkan sepatu itu. Seketika darahnya berdesir cepat, jantungnya berdebar tak karuan saat membayangkan makhluk mungil itu akan segera hadir di antara ia dan Key. Hyeri sangat tidak sabaran menunggu hari itu tiba, membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Air matanya menetes, alangkah bahagianya ia saat ini.

“Kau senang?” tanya Key yang telah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hyeri, menumpukan dagunya di bahu kanan Hyeri. Hyeri hanya mengangguk sambil mengusap air matanya. “Berjanjilah untuk terus merasa bahagia seperti ini. Setelah rumah ini, aku akan menyiapkan hadiah lain untukmu.” bisik Key. Hyeri membalikkan tubuhnya, “Ani, Key! ini sudah lebih dari cukup. Ini benar-benar rumah impianku. Dan yang lebih penting dari itu adalah kau ada bersamaku.” Hyeri mengalungkan kedua tangannya di leher Key, kemudian mengecup bibir Key sekilas.

Maja! Aku hampir menghabiskan tabunganku untuk rumah ini. Tapi tidak masalah! Hadiah yang kau berikan padaku jauh lebih berharga dari ini. Bayi kita. Terimakasih, kau memberiku seorang bayi.” terang Key. Ia kemudian mengecup bibir Hyeri, dengan senang hati Hyeri menyambutnya, melakukan hal yang belakangan ini menjadi kegiatan favoritnya.

Kini Hyeri mendorong Key ke sofa, membuatnya menindih namja itu. Key tersenyum, “Oh! kurasa dua, atau tiga. Empat! Bagaimana jika kau memberiku empat orang bayi?” goda Key, membuat keduanya terkekeh.

Matahari semakin naik, menunjukkan musim panas yang memasuki puncaknya. Menyinari rumah luas yang sepi itu. Tapi, tidak lama lagi rumah itu akan dipenuhi begitu banyak manusia untuk merayakan betapa indahnya kehidupan.

***

Musim terus berganti, hari demi hari, bahkan detik demi detik terus berlalu di bawah kuasa Tuhan. Setiap musim datang bergantian, menawarkan atmosfir yang berbeda. Siang itu salju turun ringan, hanya butiran-butiran putih yang melayang di udara sejak pagi. Tidak ada badai, hanya hembusan angin khas musim dingin yang begitu menusuk.

“KIM KIBUUUUUMMMMM” teriakkan itu terdengar dari salah satu ruang bersalin di rumah sakit Seoul. Namja itu berlari dengan pikiran kalut, dua orang temannya terhuyung-huyung di belakang, berusaha menyamakan langkah dengannya. “Ya Tuhan! Kenapa jalanan macet sekali?” gerutu si  namja sambil melepas coat abunya dan dengan cepat temannya meraih coat itu.

“Sudah lah Key, lebih baik kau berjalan lebih cepat!” teman yang kini memegang coat abunya. itu berlari lebih cepat. “Hei Jinki-ya! Aku bahkan sedang berlari.” pekik Key kesal.

“Kenapa kita tidak naik lift?” keluh Key dengan nafas tersengal.

“Kau tidak melihat antrian untuk naik lift? Kita bisa sampai setelah Hyeri selesai bersalin.”

Geumanhae! Kenapa kalian bertengkar? Aigo! Kurasa Hyeri sedang berjuang saat ini.” tukas Aeri yang terhuyung di belakang keduanya. Heels 7 sentinya benar-benar membuat kakinya sakit saat berlari.

“Key! Kau lama sekali!” seorang yeoja berambut pirang segera beranjak dari kursi tunggu begitu ia melihat Key. “Jalanan macet sekali, Noona. Bayinya sudah lahir?” tanya Key was-was, tangannya dengan cepat melepas dasi, lantas mulai menggulung lengan kemejanya sebatas sikut.

Hyoyeon menarik Key menuju pintu ruang bersalin “Palli! Daritadi dia berteriak memanggil namamu.” kini Hyoyeon mendorong pintu bersalin sedikit, dan dengan cepat seorang yeoja keluar.

“Ya Tuhan Kibum akhirnya kau datang. Cepat masuk!” tanpa basa-basi Nyonya Min menarik Key dan keduanya segera menghilang di balik pintu kamar bersalin.

Jinki dan Aeri segera duduk di bangku tunggu, bergabung bersama Hyoyeon sambil mengatur nafas. “Ya Tuhan! Sepertinya Hyeri sedikit manja.” celetuk Hyoyeon. Membuat Jinki dan Aeri segera menatapnya. “Sudah lebih dari tiga puluh menit kurasa, tapi bayinya masih belum lahir. Ia terlalu cepat merasa bayinya akan lahir. Aish!” omel Hyoyeon. Jinki dan Aeri hanya diam, merasa tidak memiliki kalimat yang tepat untuk menanggapi hal itu.

Sementara itu dalam ruang bersalin.

“Dorong lebih kuat lagi, Nyonya.” perintah seorang Dokter yang dari tadi telah berdiri di hadapan Hyeri.

“Aarrggghh…. Andwae! Aku tidak bisa!” ucap Hyeri terengah. Ia mendorong lagi agar bayinya segera lahir. Keringat mengucur deras dari pelipisnya, dan air matanya semakin menjadi. Key segera berjalan ke samping kanan Hyeri, segera meraih tangan Hyeri yang tengah meremas pinggiran ranjang. Digenggamnya erat tangan Hyeri. “Aku datang, baby. Gwaencanha, gwaencanha.” Key berusaha menenangkan meskipun ia sendiri merasa sangat tegang.

Suasana dalam ruangan ini benar-benar tidak menyenangkan, lebih buruk dari kamar operasi, pikir Key. Hyeri berbaring di atas ranjang, melebarkan selangkangannya dan ditutupi oleh kain berwarna hijau muda. Selang infus memanjang dari lengan kiri hingga labu infus yang tergantung, sementara ada tiga orang perawat yang berjaga di sekitar Hyeri.

Sang Dokter telah berpakaian lengkap, berada tepat di hadapan tempat keluarnya bayi. Terus memaksa Hyeri untuk mendorong lebih kuat. Sementara Hyeri telah terlihat begitu lelah dan bayi belum kunjung lahir.

“Key, manhi apa! Manhi apa!” teriak Hyeri, ia meremas tangan Key kuat. Key menundukkan tubuhnya agar ia sejajar dengan wajah Hyeri. “Tenang baby, kau bisa melakukannya. Sekarang tarik nafas dalam,” Key ikut menirukan menarik nafas, “Good! Lalu keluarkan perlahan. Beri sedikit dorongan. Yeah! Seperti yang sering kau lakukan di rumah. Kau pasti bisa.” Hyeri mengikuti arahan Key, ia menghembuskan nafas sambil mendorong lebih kuat.

“Eeerrgggghhhhhh……” erang Hyeri. Ia mendorong sekuat tenaga hingga kepalanya sedikit terangkat, seolah ingin memastikan apa bayinya sudah keluar atau belum. “Ya Tuhan! Lebih kuat lagi, Nyonya. Kepalanya sudah keluar.” ucap salah seorang perawat.

“Ayo Hyeri, sedikit lagi. Kau bisa! Pegang tanganku yang kuat!” dibandingkan memegang tangan Key, kini Hyeri justru melepaskan genggaman tangan Key. Ia malah merangkul leher Key dan mengepit leher suaminya.

“Akh! Ya Tuhan, Hyeri-ya! Aku tidak bisa bernafas!” pekik Key tertahan. “Terus, Nyonya! Lebih kuat, sedikit lagi!” ucap perawat. Dan tak ada satupun yang menghiraukan atau bahkan menyadari keadaan Key.

“Eeerrrggghhhhh….” erang Hyeri, mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya. Mengabaikan rasa sakit yang telah menguasai tubuhnya. Ia tidak tahu bahwa melahirkan seorang bayi akan sebegini menyakitkan dan menguras tenaganya. Oh! bahkan ia merasa akan mati karena rasa sakit luar biasa yang baru pertamakali ia rasakan. Ia kembali mengerang sambil mendorong sekuat tenaga, hatinya tak henti membaca doa agar bayi yang sangat ia nantikan segera lahir. Dan yang paling penting adalah ia ingin mengakhiri rasa sakit yang menderanya.

“Ooooooooaaaaaaaaaaaa”

Tangisan itu terdengar seiringan dengan hentakan terakhir yang dilakukan Hyeri. Tangisan yang memekakan telinga dari makhluk hidup yang baru melihat dunia. Hyeri mendesah lega, tangannya terlepas begitu saja dari leher Key. Key yang beberapa detik lalu sulit bernafas segera menarik nafas sebanyak yang ia bisa, terbatuk sedikit karena cekikan kecil yang tidak disengaja itu.

Key melihat perawat membawa bayi yang berlumuran darah ke sudut yang dihalangi tirai putih. Sementara suara tangisan itu tak henti terdengar di telinganya, membuatnya begitu senang karena kini ia telah menjadi seorang ayah.

You did it well, you did it well.” Key kembali mendekati Hyeri, mengusap peluh di kening Hyeri kemudian mengecupnya. “Gomawo.” ucap Key lagi. Hyeri hanya tersenyum kecil, tenaganya benar-benar terkuras habis. Kini ia merasa begitu lelah dan haus, matanya pun terasa begitu berat.

Perawat tadi baru saja menggendong bayi yang telah dibungkus selimut kecil. “Bayinya laki-laki. Beratnya 3kilo. Lihatlah, ia begitu sehat.” kemudian meminta Hyeri untuk menggendong bayinya perlahan dan memberikan air susu pertama.

Mata Hyeri berbinar menatap makhluk mungil yang dibalut selimut. Begitu mungil dan bergerak-gerak dalam balutan selimut. Jantungnya berdebar, tak sabar melihat rupa malaikat kecil buah cintanya dengan Key. Setitik air mata kembali meluncur dari kedua matanya saat membayangkan bagaimana ia akan menyentuh makhluk yang selama sembilan bulan terakhir hidup dalam rahimnya.

Hyeri bangkit, dibantu Key ia mendudukan dirinya sambil bersandar pada ranjang. Rasa sakit yang sedari tadi menderanya tiba-tiba menguap begitu saja saat kedua tangannya terulur dan bersiap menggendong bayi mungil yang sangat ditunggu-tunggunya selama ini. Tangannya sedikit gemetar saat hendak meraih bayinya. Ujung jarinya belum sempat menyentuh selimut bayi saat perutnya merasa sakit lagi. “Omo! Perutku.” pekiknya tertahan, kedua tangannya yang terulur urung menjangkau bayinya. “Wae? Kenapa dengan perutmu?” tanya Key panik, ia memandang perawat.

Omo!! Sakit sekali.” kini Hyeri berteriak, membuat perawat yang satunya lagi segera melongok ke bagian selangkangan Hyeri yang masih terbuka lebar. “Seonsaengnim, ada satu bayi lagi!” pekik si perawat, membuat Dokter yang baru saja melepas penutup kepala itu kembali memakainya dan berhambur ke arah Hyeri.

Perawat yang menggendong bayi segera menjauh, membawa bayi Hyeri ke balik tirai di sudut lain. Hyeri kembali mengerang, rasa sakit itu kembali menerjang tubuhnya. Jantungnya kembali berdebar hebat dan rasanya ia tidak siap mengalami rasa sakit seperti tiga puluh menit yang lalu.

Key kembali meraih tangan Hyeri, mengelus kening Hyeri yang dengan cepat kembali dibanjiri keringat. Meniupinya perlahan agar membuat istrinya lebih rileks. “Manhi apha!” teriak Hyeri, ia merasakan sesuatu akan kembali menembus bagian vitalnya. “Arasseo, arasseo. Ada seorang bayi lagi, aku yakin kau bisa!” Key memberi semangat, kali ini ia merasakan kebahagiaan yang membuncah dalam dadanya. Bayi kembar? Sungguh! Ia tidak pernah membayangkan Tuhan memberinya begitu banyak hadiah.

Seorang perawat melebarkan paha Hyeri, bersiap pada posisi semula saat pertamakali Key masuk ruang bersalin. Sang Dokter telah bersiap di hadapan tempat keluarnya bayi. “Dorong lebih kuat, Nyonya. Ini akan lebih cepat!” pinta sang Dokter, diiringi erangan dari Hyeri yang berusaha melahirkan bayi keduanya.

“Eeeerrrgghhhhhh…. Andwae! Andwae! Aku tidak bisa!” pekik Hyeri, air mata itu mengalir deras. Nyonya Min mengelus kepala Hyeri “Kau bisa melakukannya, Hyeri-ya. Sedikit lagi. Kau anak yang kuat.”

Hyeri menggelengkan kepalanya, mata sayunya menatap Key dan Nyonya Min bergantian. Mengisyaratkan bahwa ia begitu lelah dan tidak bisa menahan rasa sakit yang membuatnya merasa mau mati. Ia memejamkan kedua matanya, seiringan dengan rilisnya air mata lelah. Oh! mengapa Key juga tidak ikut merasakan ini? pikir Hyeri.

Sementara itu Key memegang tangan Hyeri semakin erat, wajahnya begitu cemas melihat Hyeri yang seolah ingin menyerah. Key kembali mengusap kening berpeluh Hyeri, meniupkan semilir udara dari mulutnya. “Tenanglah, Baby. Yang kau perlukan adalah tenang dan sedikit dorongan. Kau bisa melakukannya, hemm? Aku di sini.” Key berusaha menyemangati Hyeri. “Andwae, Key! Ini sakit sekali! Eeerrrgghhhhh….” terang Hyeri, lantas ia kembali mengerang sekuat tenaga. “Ara,ara. Kau yeoja yang kuat dan tidak mudah menyerah kan? Berusahalah sedikit lagi, Baby.” Hyeri hanya menggelengkan kepalanya, mengenggam tangan Key semakin kuat seiringan dengan erangannya yang kembali terdengar.

“Ooooooooaaaaaaaaaaaa”

Tangisan itu terdengar hanya dalam hitungan detik. Begitu nyaring dan memekakan telinga, lebih nyaring dari yang sebelumnya. “Bayi kedua laki-laki.” ucap sang Dokter, lantas ia menggendong bayi yang berlumuran darah itu. Menyerahkannya pada salah satu perawat. Hyeri mendesah lega saat Key memeluknya, membenamkan wajah Hyeri dalam pelukannya.

Rasa sakit itu masih mendera tubuhnya, namun segera menguap saat ia melihat kedua perawat yang membawa bayinya. Seketika dadanya berdebar hebat. Bukan debaran ketakutan seperti sebelumnya, melainkan debaran yang menyiratkan kebahagiaannya.

“Nyonya, silakan memberi susu pertama pada kedua bayi Anda.” titah sang Dokter yang kini mengelap kedua tangan dengan handuk putih. Hyeri bangkit –dibantu Key dan eomma-nya- lalu memposisikan dirinya untuk segera meraih salah satu bayi. Tubuhnya terasa begitu tegang saat tubuh mungil itu berada dalam genggamannya, merasakan tangan mungil itu menggenggam erat jari telunjuknya. Hatinya bergetar, lalu meneteskan air mata. Baginya kini, tak ada yang lebih membahagiakan selain menjadi seorang ibu dan melihat dua malaikat kecilnya.

***

“Jinki-ya! Kukira kau tersesat.” Key berlari kecil menuju halaman rumahnya saat Aeri hendak membuka pagar kayu bercat putih. Dengan cepat Aeri kembali masuk ke dalam mobil, udara dingin benar-benar membuatnya menggigil meski baru beberapa detik berada di luar. Key membuka lebar pagar rumahnya, mempersilakan mobil Jinki memasuki pelataran rumah.

Jinki dan Aeri segera berlarian menuju teras sambil mengeratkan coat mereka. “Jinjja! Kukira kau bercanda dengan mengatakan rumah gaya Elizabethan! Hyeri benar-benar membuatnya jadi nyata.” Jinki berdecak kagum, mengedarkan pandangannya pada feature luar rumah Key. “Mungkin ini salah satu dari sekian banyak dari yang kau maksud bahwa Hyeri itu unik.” Key terkekeh.

Ketiganya kini tengah menaiki tangga mahogani menuju lantai dua. Aeri tak henti berdecak kagum setiap kali matanya menangkap benda-benda unik dan terkesan vintage di rumah Key. “Jika tinggal lama di sini, mungkin aku bisa merasa tengah hidup dalam buku Harry Potter.” canda Aeri, membuat Jinki dan Key tertawa.

“Hyeri-ya.” Aeri berhambur ke arah ranjang saat ia membuka pintu kamar. Hyeri tengah menggendong bayi. Aeri tidak yakin bayi yang mana yang tengah digendong Hyeri. “Aeri eonni! Senangnya kau mengunjungi rumah kami.” pekik Hyeri tertahan. Aeri menghampiri Hyeri, menaruh sebuah bungkusan besar -yang sedari tadi dijinjingnya- di meja dekat lemari pakaian.

“Jadi, apa ini adalah Jaesun?” tanya Aeri, ia menatap bayi yang tengah tertidur pulas sambil menggenggam erat jari telunjuk Hyeri. “Aniyo! Dia Jaehwa. Hyung-nya- Jaesun- sudah tidur lebih dulu.” Hyeri menoleh ke arah box bayi yang tengah ditunggui oleh ibu mertuanya. “Bagaimana rasanya mempunyai bayi kembar? Ah! Kau pasti sangat senang.” ungkap Aeri, ia menghembuskan nafas dalam –seolah ikut merasakan kebahagiaan Hyeri. “Sangat senang jika keduanya tidak menangis bersamaan, Eonni. Jinjja! Mereka berdua akan membuatku kembali kurus dengan cepat.” terang Hyeri lalu terkekeh pelan.

Aeri hanya tersenyum menatap Hyeri. Meski kini sahabatnya terlihat jauh lebih gemuk, tapi ia begitu bahagia. Tidak ada lagi ungkapan kesedihan dari mulutnya yang menyatakan bahwa ia begitu merindukan Minho dan tersiksa karena ketidakhadirannya. Tidak ada lagi ungkapan keraguan yang menyatakan bahwa ia tidak tahu harus berbuat seperti apa pada Key.

Aeri menatap ke luar jendela, pandangannya menerobos ke halaman samping. Menatap butiran salju yang semakin lebat, menutupi ranting-ranting pohon dan sebagian atap bangunan lain. Sungguh, siapa pun yang menyaksikan kisah Hyeri dan Key akan merasa bahagia seperti dirinya. Tidak akan ada yang menyangka bahwa salju tahun lalu benar-benar membuat Hyeri terpuruk dan nyaris jatuh. Aeri mendesah ringan, memejamkan kedua matanya sambil menikmati hiruk pikuk yang mulai terdengar dari luar kamar-mendekat menuju kamar.

Annyeonghaseyo.” pintu kamar terbuka, memunculkan sosok yeoja jangkung berambut panjang. Rambut hitamnya terurai begitu indah saat ia membungkukkan tubuhnya. Kedua tangannya menggenggam parsel buah dalam keranjang. “Oh! Eunyoung-ah!” pekik Hyeri. Lantas yeoja bernama Eunyoung itu mendekat, memberi salam pada orang-orang yang ada dalam ruangan itu. Ditaruhnya parsel buah ke atas meja dekat lemari pakaian-di mana ada begitu banyak bingkisan di sana.

“Apa kabar, Hyeri-ya? Aigo! Bayinya sedang tidur.” Eunyoung mengecilkan suaranya, menatap malaikat kecil yang tengah tertidur damai tanpa beban di pangkuan Hyeri. “Hemm, biar kutebak. Bayi ini pasti Jaehwa kan?” Eunyoung menatap Hyeri mantap, begitu yakin dengan jawabannya. “Hei! Kau hebat sekali! Bagaimana kau tahu dia itu Jaehwa?” Aeri berdecak kagum.

Eunyoung terkekeh, “Jinjja? Itu Kim Jaehwa? Ah! Aku hanya asal tebak.” gurau Eunyoung membuat Hyeri dan Aeri tertawa pelan. “Oh! Mana Jonghyun?” tanya Hyeri, ia baru ingat bahwa tadi Eunyoung datang sendiri. “Ah! Dia sedang memarkirkan mobil di halaman bersama Key oppa. Jinjja! Ban mobilnya sempat terperosok saat dalam perjalanan. Kurasa ada sedikit kerusakan.” terang Eunyoung. “Kerusakan yang serius? Tidak apa-apa kah jika membiarkan mobilnya?” tanya Hyeri cemas, “Gwaencanhayo, Jongie oppa bilang ia akan menanganinya dengan baik.” lantas Eunyoung tersenyum lagi.

***

Satu jam berselang, kini semua orang telah berada di ruang makan di lantai satu. Meja panjang khas jaman Elizabethan yang lebar itu dipenuhi berbagai jenis makanan. Mulai dari pie apel hingga kalkun panggang. Beberapa piring dan gelas telah tertata rapi sesuai dengan jumlah orang yang ada di sana.

Hiruk pikuk terdengar di setiap sudut, begitu juga gelak tawa yang menyiratkan kebahagiaan tak terbendung. Jinki tengah menata beberapa jenis pastry ke atas baki saat Aeri menghampirinya. “Ah! Salju tahun ini benar-benar membuatku bahagia. Tidak ada lagi air mata dan keputusasaan, menurutmu bagaimana?” tanyanya, ia menyenderkan tubuhnya pada salah satu counter dapur. Jinki menahan tangannya yang hendak menyuapkan pastry ke dalam mulutnya, kemudian menatap Aeri. “Maja! Kurasa ini salju terbaik sepanjang masa. Geutchi?” ia kemudian memasukkan pastry tadi ke dalam mulutnya dan mengunyahnya cepat.

“Ini seperti cerita di negeri dongeng, Jinki-ya. And it comes to an end. Menyenangkan bukan jika kita ada di halaman terakhir dongeng ini?” Aeri mengerlingkan matanya, mencoba menggoda Jinki. Jinki hanya terkekeh, kemudian menyeruput teh pahit dari cangkir putih bercorak bunga.

Aeri melipat kedua tangan di depan dada, matanya tak lepas dari Hyeri dan Key yang tengah berdiri di dekat perapian. Keduanya menggendong bayi yang Aeri tidak tahu yang mana Jaesun dan Jaehwa. Penuh kehati-hatian Key menyuapkan pastry berbentuk bulat ke mulut Hyeri, mereka kemudian tertawa setelah menatap bayi dalam gendongan Key yang sedikit terusik karena gerakan Key barusan. Hyeri lantas mencium bayi dalam gendongan Key, lalu mencium bayi dalam gendongannya. Dan terakhir ia mencium bibir Key sekilas. Mereka berbincang, membiacarakan hal yang tidak bisa di dengar Aeri.

“Kau iri pada mereka?” suara Jinki membuyarkan lamunan Aeri. Namja itu telah bersandar pada pinggiran counter dapur di samping Aeri, melipat kedua tangannya di depan dada. Aeri menahan senyum di wajahnya, “Kau pikir begitu?” ia balik bertanya. Jinki menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Aeri dengan jelas, memperhatikan wajah Aeri sambil mengerutkan dahinya. “Terlihat begitu jelas!” ujarnya.

Aeri terkekeh, “Benar! Aku sangat iri. Look! Kau tidak iri juga?” ia menunjuk Hyeri dan Key dengan dagunya. Jinki menatap Hyeri dan Key, menggosokkan ibu jari dan telunjuknya ke dagu. “Jika kau iri, cepatlah memiliki bayi seperti Hyeri.” goda Jinki.

Aeri terkekeh sebelum ia mendekatkan wajahnya ke wajah Jinki, lalu berbisik tepat di telinganya “Kalau begitu, segeralah pergi dan kembali. Aku akan menunggumu di sini.” lantas ia mengecup pipi Jinki cepat dan berlari menjauhi Jinki sebelum namja itu menyadari apa yang dilakukannya.

Jinki sempat tertegun di tempatnya, menyentuh pipi kirinya yang baru saja menerima kecupan kecil dari Kim Aeri. Seketika senyuman itu mengembang di wajahnya. Ia kemudian menatap Aeri yang berlari menuju meja makan dan berjalan santai mengejarnya.

Aeri segera meraih dua gelas wine di atas meja. Menunggu Jinki yang akan segera tiba di hadapannya. Ia kemudian menatap lagi Hyeri dan Key yang masih asyik berbincang di dekat perapian, mengabsen Jonghyun dan Eunyoung yang masih berkutat membuat sejenis minuman dalam blender, kedua orangtua Key dan Hyeri, juga sanak saudara yang lainnya. Ah! Aeri rasa ini benar-benar halaman terakhir dalam sebuah dongeng. Dan ia bahagia berada di halaman terakhir sebuah dongeng bahagia.

Ia mendesah ringan sambil memejamkan kedua matanya, berharap Jinki telah berada di hadapannya saat ia membuka mata. Aeri menghembuskan nafas sambil menggembungkan pipinya, lalu membuka mata dan mendapati Jinki telah berdiri di hadapannya. Jinki meraih salah satu gelas di tangan Aeri, lalu menyesapnya ringan. “Tunggulah. Berjanjilah untuk menungguku.” gumam Jinki pelan, ia menatap Hyeri dan Key. Aeri tersenyum bahagia, ada kebahagiaan besar yang membuncah dalam dadanya. Ia kemudian meninju pundak Jinki ringan.

Kau tahu? Cinta itu seperti petir. Kau tidak akan pernah tahu kapan ia datang. Dan kau tidak akan sempat menghindar saat ia menyambarmu. Seperti Hyeri dan Key, cinta telah mengikat keduanya dalam satu ikatan suci yang tidak terpisahkan. Kehendak Tuhan dan skenarionya telah membawa mereka ke dalam bahtera kehidupan yang telah diombang-ambing badai. Menenangkan badai itu dan membawa keduanya dalam lautan luas yang begitu tenang dan damai.

***

Hyeri menepuk-nepuk lagi pantat Jaehwa saat bayi itu mengerang pelan dan menangis. “Aigo! Kami membangunkanmu? Oh! kau ingin bermain dengan Hyung-mu?” dan Jaehwa menangis semakin kencang, membangunkan Jaesun yang tengah tertidur pulas di pangkuan Key. Kini bayi kembar itu menangis, menghasilkan keselarasan suara yang memekakan telinga. Key dan Hyeri mulai kewalahan menenangkan keduanya. Key lalu berinisiatif untuk mendekatkan Jaesun dan Jaehwa, menempelkan tangan Jaesun pada tangan Jaehwa.

Kedua bayi itu menyadari keberadaan satu sama lain, perlahan kepala mereka bergerak dan melihat satu sama lain. Masih sedikit terisak saat tiba-tiba mereka memainkan tautan jari mereka. Tertawa kecil saat tangan-tangan kecil itu saling merasakan keberadaan satu sama lain. Key dan Hyeri membulatkan matanya, menatap kagum pada bayi kembar mereka. Kedua bayi itu kini tertawa kecil, “I like it when you smile,” ucap Hyeri tiba-tiba. “But I love it when I’m the reason.” Key melanjutkan, keduanya tertawa kecil sebelum Key mengecup kening Hyeri.

=FIN=

21 thoughts on “Archangel – Part 24 [END] Skip

  1. Annyeong haseyo.
    yuloff imnida. aku reader baru.
    kyeoptaaaaaaaaa. igeo, daebakk, eun cha-ssi! aku baca ini sampe berasa banget ceritanya. speechless deh. ahahaha mereka unyu bangeeeeeet kyaaaaaa :3 udah gitu bahasanya yang ngga terlalu baku tapi ngga terlalu ‘nyeleneh’ bikin feel ff ini berasa banget! kyaaaaaaaaaaaaa deh pokonya :>

    cerita nya aeri sama jinki dilanjut sendiri dong, eun cha-ssi. Ne? *maksa* ahahahahaha aku suka cerita mereka. komunikasi antara mereka berdua, skinship, konflik. aaaaaaah mau deh pokonya cerita yg lanjutan dari cerita mereka disini ahahaha

    anyway, you’ve become one of my favourite ff’s author🙂

    bangawoyoooo~
    *bow*

    • Wah, makasih loh udah baca series yang super panjang ini. Mudah2an ga cape yaa😉

      Ceritanya Jinki-Aeri udah ada sih, judulnya ‘Fallen Angel’ tapi sayang baru teaser dan part 1 aja. Lnjutannya belum ada *bow*

      Wah, makasih loh. langsung terharu nih jadi salah satu author favoritnya yuloff-ssi,
      Gomawo sudah berkunjung yaa😉

  2. Akhirnya selesai juga…..
    Oh gosh….aku baca ampe jam setengah 4….!!!!!

    Tapi beneran ini seru banget, walaupun ada art yang gk bisa aku baca, tapi ini tetep daebak, alur ceritanya halus…
    Mengalir, bahasanya juga enak dibaca, perfect….🙂🙂🙂

    kira kira kapan yaaaa authornim cetak buku yang kedua🙂🙂🙂 setelah archangel

    • Sampe jam set.4? Wah, ga tanggung jawab loh kalo kepala kunang2 ^^v

      Oiya, emailmu baru kebaca nih. udah aku bales, coba dicek yaa u/pw yang kamu minya. Siapa tau masih penasaran sama part yg diprotect.

      .hhe. thank u buat pujiannya. Mudah2an tulisan2 berikutnya tulisannya lebih bagus dan ga berantakan kaya yang ini.heheh.

      Buku kedua? Wah, jadi terharu. Nantikan yaa.hehe.

      Thank u😉

  3. Akhrnyaaa kelar baca part 24 hhhha,sedih sm seneng jg sih sedih krn crtanya udh habis mwnya sih lnjut trus*plakkk hhha sng krn brkhr bahagia kisa hyeri dan key,hohoho hyeri hamil dan ngelahirin anak kembar dan key juga udh nemuin siapa malaikat penjaganya itu,yap endingnya happy ever after bgt ,ini FF plg keren deh ,bahasa sm critanya bgs ditmbh adegan” romantisnya hhhe dan sukses deh bwt perpaling dr jinki ke key ,xD ,sma jg euncha ini FF sukses bikin mata pnda gk tdur aku bcanya borong sih jam stgh 5 pagi selesai tdur bntr jam 6 lnjut wkakaka T.T gk bsa berenti,ditunggu loh karya” FF slnjutnya ,DAEBAK! Bwt authornya ksh 2 jmpol (y)^^(y)

  4. Annyeong eonni
    sebelumnya izinkan aku meperkenalkan diri (?)
    namaku devi, 95 lines, kpop lovers terutama DBSK, Suju, sama SHINee
    Pas lagi jalan2 di blog eonni aku tahu klo eonni ternyata juga suka sama hal2 berbau horror sama kayak akuuuu n bias kita sama loh eonn aku juga cinta sama Key A.A
    aku rasa kita jodoh (?)
    awalnya aku baca ff ini karena ngeliat rekomendasi dari blog apa ya aku lupa T__T
    pas baca sinopsis yang dikasih sama empunya (?) blog aku langsung tertarik buat baca n ternyata ffnya udah sampe finish
    aku minta maaf ya eon soalnya baru komen di chapter ini karena sepertinya tidak memungkinkan bagiku untuk mengkomen setiap partnya >.<
    sekali lagi maaf ya eon T___T
    FF eonni menarikkk walapun awalnya eonni bilang lebih suka nulis dengan genre horor daripada romance tapi feel di ff ini berasa banget. Apalagi konfliknya yang sebenernya sederhana namun membuat banyak masalah di ff ini…
    satu hal yang aku suka dari ff ini adlah karena pernikahan key sama hyeri hampir runtuh bukan karena adanya orang ketiga or semacamnya seperti kebanyakkan cerita lain melainkan karena keegoisan mereka berdua terutama Hyeri yang ga mau ngerelain kepergian minho aduh sumpah eonn pas baca rasanya nyesek banget jadi key yang harus saingan sama sseorang yang udah pergi jauh… hal itu jadi warna tersendiri bagi ff ini… jadi beda banget eon… good jod eonni b^^d
    Tapi aku merasa alurnya di beberapa part agak monoton jadi sempet boring juga bacanya menurut aku ffnya jadi terlalu datar *maaf kesoktahuan-ku eonni dan maaf juga klo aku terlalu frontal T__T aku ga maksdu ngebash eon beneran aku hanya mengeluarkan isi hati (?) aku buat ff eonni yang keren ini ^^v
    tapi past twistnya di chapter 21 *p.s : itu chapter fav aku lohh eon *ga ada yang nanya *plak
    aku merasa ff ini klimaks banget dan berhasil bkin aku meleleh karena konflik yang cerdas banget bkin aku sebagai reader ga nyangka dengan jalan ceritanya yang akan kyk gini.
    Tema yang eonni ambil memang sedikit umum tapi dengan kemamuan hebatmu sebagai penulis kamu berhasil bikin cerita yang luar biasa eonn bkin aku stress sendiri bacanya karena ngiri n mulai mikir kapan ya aku bakalan bisa nulis kayak gini T__T

    Hiii kyknya komen aku kepanjangan dehhh maaf sekali lagi eonni klo ada kata-kata yang kurang berkenan *.*
    salam kenal eonni ^^
    ditunggu karya selanjutnya !!😀

    • Hai, Devi. Terima kasih sudah mampir ke sini dan baca Archangel sampe selesai.
      wah, suka horror dan suka Key juga? What a good combination!.heheh.

      Santai aja, memang di beberapa part terasa membosankan. Ada beberapa pembaca juga yang merasa seperti itu ko.heheh.
      Di luar kekurangannya, semoga ceritanya menghibur yaa😀
      Thank u dan salam kenal juga😉

  5. Kereeennnnnn (^^)/ huwaaaaahh 2 jempol buat kaa Euncha hehe~
    Bahagianya Key dan Hyeri yaa,, tegang saya pas bagian Hyeri melahirkan kekkekeke dapet bayi kembar??! Yampuuunn sempurna sudah rumah keluarga Kim ini.
    Kaa Euncha bener2 tulisan dan imajinasinya keren😀
    Aku mau minta pw kaa euncha hehe tp belom sempet kirim email..

  6. hwa,, co sweet bngt,walaupun blum baca bagian tngahnya..tpy udah lumayan paham.bahasanya aku suka,tapi ini bukan nc.bikin was2

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s