Moonlight Sonata – Part 4

moonlight-sonata

Main cast :

Lee Jinki [Onew] | Kim Aeri | Kim Ki bum [Key]

Supporting cast :

Choi Minho | Shin Eunyoung

Author             : Song Eun cha

Length             : SEQUEL

Genre              : Thriller, Mystery, Romance

 Rating              : PG 15

Credit poster   : ART FACTORY

Part 4 \(^o^)/ Adakah yang menunggu FF ini? oh! adakah yang masih mengingat FF ini? .kekek. Mianhae yah, part 4-nya lama syekaliii. Yakin kalian pasti udah pada lupa sama part2 sebelumnya. Tapi, mudah2an masih mau baca yaa. Akhir2 ini Euncha lagi jenuh dan tiba2 kangen horror, thriller, dan mystery i mangkeum *sambil rentangin tangan ala Yoogeun*
ini dia part 4. Enjoy!
untuk kekurangan dll nya harap dimaklumi yah teman2. Jangan lupa saran, komentar, dan kritik yang membangun. ^^;;

Jinki dan Aeri asyik berbincang sambil menyantap makan siang mereka – Spagheti. Jinki benar! Spagheti ini sungguh enak, bahkan Aeri begitu berselera menyantapnya. Padahal dua hari ini- semenjak kejadian malam itu- Aeri tidak berselera makan. “Kau begitu lapar?” tanya Jinki, ia terkekeh melihat Aeri yang makan begitu lahap. Bahkan saus spagheti itu sukses mengotori area sekitar mulutnya.

Mwo? kurasa begitu.” Aeri tersenyum kecut. Tapi ia tidak peduli, ia kembali melanjutkan acara makannya dengan lahap. Jinki tersenyum, ia menatap Aeri. Entah mengapa ada perasaan yang membuncah dalam hatinya tiap kali ia melihat gadis itu senang saat bersamanya.

“Makanlah yang banyak, aku yang traktir semuanya.”

Kalimat Jinki barusan sukses membuat Aeri menghentikan suapan ke dalam mulutnya. “Oh! tidak usah Jinki-ya, aku membayar makananku sendiri.” Aeri bukannya menolak niat baik Jinki, hanya saja ia tidak mau jika Jinki menyalahartikannya.

“Tidak! Aku yang bayar.” Oh! ternyata lelaki ini tidak mau kalah. Aeri hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu saat Jinki dengan cepat menyambarnya “Aku yang mengajakmu kemari, jadi aku yang membayarnya.”

Gadis itu kembali membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu dan dengan suksesnya Jinki memasukkan suapan spaghetti dari garpunya. Membuat Aeri tak bisa melanjutkan kalimat yang belum sempat ia ucapkan. “Makanlah.” Jinki tersenyum. Aeri terkekeh sebelum akhirnya ia berusaha menelan spaghetti yang memenuhi mulutnya. Well, Jinki memang sangat menyenangkan. Bahkan Jinki dengan mudah membuat Aeri tertawa hari ini.

“Dan jangan mengatakan kau kenyang setelah piring ini habis hanya karena aku yang akan mentraktirmu, makanlah sesuka hatimu.” seolah bisa membaca pikiran Aeri, Jinki segera melontarkan kalimat itu.

Aeri tersenyum, menatap kedua mata Jinki yang begitu teduh “Ne.”

Keduanya telah selesai dengan makan siang. Jinki masih meneguk sodanya, sementara Aeri masih sibuk dengan makanan penutup yang baru saja tiba di meja mereka. Aeri kembali tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan Jinki, sebenarnya lelucon itu sama sekali tidak lucu dan bahkan Aeri tidak tahu di mana letak hal yang perlu ia tertawakan. Tapi Jinki terlihat berusaha keras dan telah mempersiapkan lelucon itu untuk diceritakan pada Aeri. Maka, Aeri memutuskan untuk tertawa setiap kali mendengar lelucon-tidak lucu- yang dilontarkan Jinki.

Oh! Tentu saja Jinki tahu bahwa leluconnya tidak lucu sama sekali, tapi ia sangat menikmati saat Aeri tetap tertawa. Gadis itu terlihat begitu cantik saat ia tertawa, Jinki sangat senang melihatnya bahagia.  Jinki masih menikmati memandang wajah Aeri -yang tengah menikmati es krim buah- saat sesuatu mengganggu pikirannya.

“Aeri-ya.” si pemilik nama mengangkat wajahnya dari es krim buah. “Benarkah kau baik-baik saja? kurasa kau terlihat tidak sehat.”

Aeri menaruh sendok kecilnya, menelan es krim yang baru masuk dalam mulut. Aeri mendesah ringan, memejamkan matanya sesaat “I’m…  fine. Really.” sejujurnya Aeri tidak mau membahas masalah yang membuatnya terlihat kacau. Sungguh! Saat ini ia hanya ingin melupakan hal buruk itu.

Senyuman di wajah Jinki hilang, ia tahu Aeri tengah membohonginya. Jinki meraih ransel hitam yang sedari tadi teronggok di bangku di sampingnya, ia membuka salah satu zipper-nya dan mengeluarkan sesuatu. Benda berbentuk tabung kecil itu ia sodorkan pada Aeri “Ini milikmu ‘kan?”

Aeri terbelalak, dengan cepat ia meraih tabung plastik itu dan menggenggamnya erat, seolah menyembunyikannya dari Jinki. “Dari mana kau-”

“Aku menemukannya terjatuh di dekat loker. Satu minggu yang lalu.” seolah bisa membaca pikiran Aeri, Jinki segera menjelaskan dari mana ia mendapatkan tabung kecil berisi tablet-tablet berwarna kuning pucat tersebut. Aeri terlihat berpikir keras, untuk beberapa detik ia tidak berani melihat mata Jinki. Ia tidak ingin menceritakan hal ini, tapi Jinki terlanjur menemukan obat itu. Dan Aeri yakin Jinki tidak buta soal obat itu.

“Itu obat penenang kan? Kau tertekan?” Jinki kembali menyerang Aeri dengan pertanyaannya. Kini Aeri menatap Jinki, ia masih ragu untuk bercerita pada lelaki itu. “Waktu itu kau pernah bercerita berhalusinasi mendengar suara piano, apa itu yang terjadi? kau berhalusinasi?” Jinki kembali menghujani Aeri dengan serentetan pertanyaan yang benar-benar menyudutkan Aeri. Well, Aeri tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau suara piano itu kembali berputar dalam kepalanya.

Jinki adalah seorang pianis, sama seperti dirinya. Aeri rasa Jinki akan jauh lebih memahami perasaannya dibandingkan siapa pun yang tahu cerita ini. Aeri mendesah pelan sebelum ia menceritakan suara piano tengah malam itu pada Jinki.

Jinki terus menyimak cerita Aeri, lelaki itu terlihat begitu tenang dan tak sedikitpun menginterupsi cerita Aeri sebelum ia selesai bercerita. Aeri kembali merasa ketakutan saat ia menceritakan bagaimana suara piano itu mengganggunya, juga bisikan yang memanggil nama Eleanor. Ia menghentikan ceritanya saat airmata ketakutan tak bisa ia bendung lagi. Aeri seolah mengalami kejadian mengerikan itu lagi saat ia menceritakan hari-hari di mana dentingan dan bisikkan itu membuatnya merasa kehilangan akal sehat.

Aeri membenamkan wajah di kedua tangannya yang bertumpu pada meja, kedua bahunya bergetar hebat dan isakan itu mulai terdengar jelas di telinga Jinki. Jinki ingin sekali memeluk gadis itu, berharap sebuah pelukan bisa membagi kesedihan dan ketakutannya. Tapi sayang, Jinki terlalu takut untuk melakukannya. Ia takut jika gadis itu akan menolaknya lagi. Jinki mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menyentuh tangan gadis itu, memberikan genggaman hangat yang mungkin bisa membuatnya lebih tenang.

Perlahan tangan kanan Jinki bergerak, berusaha menyentuh tangan Aeri.
Jinki mengutuki dirinya yang entah mengapa selalu bergerak lambat untuk mendekati gadis itu. Oh! bahkan kini jarak antara tangannya dan tangan Aeri terasa begitu jauh, hingga membuat Jinki membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa menjangkaunya. Tangan Jinki belum menjangkau tangan Aeri saat gadis itu mengangkat wajahnya, membuat Jinki dengan cepat menarik tangannya.

The things make me crazy, Jinki-ya. I’m sick and tired of this…” Aeri terisak, sementara jari-jari tangannya sibuk mengusap airmata yang terus jatuh. Jinki memaksakan seulas senyum, ia tahu senyuman bukanlah ekpresi yang tepat untuk ditunjukkan dalam keadaan seperti ini. Ia hanya tidak tahu bagaimana membuat gadis itu merasa tenang.

Arasseoarasseo… aku mempercayaimu.” Bisik Jinki, tangan kanannya bergerak sendiri menggenggam tangan Aeri.

“Kau bisa membagi ketakutanmu denganku, aku akan melakukan apa yang kubisa untuk membuatmu merasa lebih baik,” Kini Jinki merasakan jantungnya berdebar hebat, sementara tubuhnya terasa seperti baru saja dialiri listrik jutaan watt.  Ia baru menyadari bahwa tangannya telah menggenggam tangan Aeri. Dengan sedikit ragu Jinki mengeratkan genggamannya di kedua tangan Aeri, berusaha mencegah gadis itu menarik tangannya dari Jinki. “Itu jika kau tidak keberatan untuk melibatkanku dalam hal ini.” lanjut Jinki cepat. Yeah! Mungkin saja Aeri kembali menolak niat baiknya seperti yang sudah-sudah.

Lengkungan indah itu terlihat di wajah Aeri, dan membuat Jinki merasa lega. “Gomawo… Jinki-ya.”

***

Jinki dan Aeri berjalan beriringan menyusuri trotoar yang tidak terlalu ramai. Mereka berjalan menuju halte bus. Selesai dengan makan siangnya, Aeri tidak berniat kembali ke Mélodie. Kejadian buruk yang ia ceritakan pada Jinki beberapa menit yang lalu membuat Aeri merasa baru saja mengalaminya lagi, dan itu membuatnya takut untuk menyentuh piano. Sementara Jinki berniat kembali berlatih piano setelah mengantar Aeri ke halte bus.

Mereka duduk di bangku halte, berbincang mengenai banyak hal sambil sesekali tertawa. Keduanya tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang terus memperhatikan sejak mereka keluar dari café.

Aeri masih tertawa saat Jinki tiba-tiba menghentikan ceritanya, ia memandang sesuatu di belakang Aeri. Aeri memutar kepalanya, mengikuti arah pandang Jinki. Sebuah mobil hitam menepi di belakang Aeri, membuat Aeri berdecak kesal saat ia menyadari siapa pemilik mobil itu. Seorang namja tinggi dengan jas hitam keluar dari dalam mobil, kedua mata besarnya memandang mata dan tangan kiri Jinki bergantian.

“Kau di sini? Aku mencarimu ke Mélodie.” Ucap Minho saat ia tiba di hadapan Jinki dan Aeri. Ia berusaha terlihat tenang saat Jinki memperhatikannya.

“Kenapa kau kemari?” tanya Aeri ketus. Oh! apa selain menjadi psikiaternya Minho juga telah merangkap menjadi bodyguard-nya? Pikir Aeri.  Menggelikan!

Minho tahu Aeri tidak senang dengan kedatangannya, dan entah mengapa itu membuat mood-nya menjadi buruk. Apa itu karena namja di samping Aeri? Gadis itu terganggu dengan kedatangan Minho saat ia sedang berduaan dengan namja berambut coklat gelap itu? Sial!

“Sudah kubilang aku akan menjemputmu.” Minho memaksa untuk duduk di antara Jinki dan Aeri, di mana sebenarnya tidak ada celah sedikit pun untuk Minho duduk di sana. Dengan cepat Jinki menggeser tubuhnya, memberikan ruang bagi Minho untuk duduk di sampingnya, yang membuat jarak antara ia dan Aeri.

“Oh! Dia temanmu? Annyeonghaseyo, aku Choi Minho.” Minho bertingkah seolah ia baru menyadari keberadaan Jinki.

Jinki menyambut tangan Minho yang telah terulur ke hadapannya “Annyeonghaseyo, aku Lee Jinki. Aku dan Aeri berada dalam satu orkestra di Mélodie.”

“Kau juga seorang pianis seperti Aeri?” Minho mulai berbasa-basi untuk mengorek sesuatu dari Jinki.

Ne. Kau sendiri? Kau teman Aeri?” Jinki tahu namja bernama Choi Minho itu terlihat tidak senang saat melihat Aeri bersamanya.

“Oh! aku… “ Minho nyaris saja mengatakan bahwa ia adalah mantan pacar Aeri saat ia menyadari itu bukanlah jawaban yang tepat. Minho kemudian menoleh ke arah Aeri, gadis itu hanya memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Dia dokter pribadiku Jinki-ya.” Dengan cepat Aeri melanjutkan kalimat Minho. Sejujurnya ia tidak mau jika Minho mengatakan bahwa dirinya adalah mantan pacar Aeri. Itu akan terdengar sangat buruk, dan tentu saja membuat Aeri mengingat masa lalunya lagi bersama Minho. Selain itu, ia rasa Jinki akan merasa tidak senang mendengarnya.

“Ah! Arayo.” Jinki mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara Minho hanya mampu memutar kedua bola matanya menahan rasa kesal. Well, Aeri tidak menginginkan namja bernama Jinki itu mengetahui identitas Minho yang lebih daripada dokter pribadi Aeri. Apa itu artinya Jinki dan Aeri punya hubungan yang lebih dari sekedar teman? Pikir Minho.

“Oh! tanganmu kenapa?” nyaris saja Minho lupa dengan tujuannya berkenalan dengan Jinki.

Jinki mengangkat tangan kirinya yang ditunjuk Minho. “Aku melukai tanganku baru-baru ini.” ucapnya kaku. Minho menatap mata Jinki tajam, sesekali ia beralih pada lilitan perban di tangan Jinki. Menatap lilitan itu dengan pandangan tajam seolah ingin menembus perban putih itu agar bisa melihat luka sebenarnya yang ada di sana.

Jinjja? Bagaimana bisa?” rasa penasarannya belum habis sampai di sana. Jinki sempat melongokkan kepalanya ke arah Aeri yang tertutupi oleh punggung Minho.

“Aku tidak hati-hati menutup pintu bagasi.” Terang Jinki. Sudut bibir kiri Minho terangkat, menghasilkan seringai tajam yang memiliki berbagai makna. Tatapan Minho pada Jinki semakin tajam, benarkah pianis itu dengan cerobohnya melukai tangan yang sangat berharga itu? Pikir Minho.

“Lain kali kau harus berhati-hati Jinki-ssi, bagaimana bisa seorang pianis melukai tangannya sendiri? Oh! boleh aku melihatnya? Mungkin aku bisa melakukan sesuatu untukmu.” Here you go! Minho yakin rasa penasarannya akan tertuntaskan di sini. Hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, Jinki akan membuka perbannya dan membiarkan Minho yang seorang dokter itu memeriksa lukanya. Yeah! Meskipun Jinki tidak tahu bahwa Minho bukanlah dokter umum. Dan yang kedua, Jinki akan menolak memperlihatkan lukanya pada Minho. Dan jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua, Minho harus menganalisa alasan namja itu. Dan hasilnya akan mudah ditebak!

Jinki kembali melongok Aeri yang tengah memutar kedua bola matanya di belakang Minho, kemudian memandang Minho lagi. Jinki tahu ada hal lain yang sebenarnya sedang dilakukan Minho. Dan sejujurnya itu membuat Jinki merasa tidak nyaman harus berbagi sesuatu dengan orang yang baru saja ia kenal meskipun itu hanyalah memperlihatkan lukanya. Tapi jika ia menolak, namja bermata besar itu bisa saja berasumsi buruk karena menolak tawaran cuma-cuma dari seorang dokter.

Sekali lagi Jinki melongok Aeri yang juga tengah memperhatikannya, seolah menunggu jawaban Jinki. Sial! Jinki tidak punya pilihan. “Sure!” jawab Jinki akhirnya. Minho tersenyum lebar, tidak lama lagi rasa penasarannya akan terjawab.

Dengan ragu tangan kanan Jinki berusaha membuka lilitan perban di tangan kirinya. Entahlah! Sebenarnya Jinki tidak ingin memperlihatkan luka itu pada siapa pun, karena itu  mengingatkannya pada hal bodoh yang telah ia lakukan. Lilitan itu sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan bagian tangan kiri Jinki. Mata Minho tak lepas dari luka yang tak lama lagi akan nampak di hadapannya, sementara Jinki memandang Aeri dan Minho bergantian.

Situasi ini benar-benar membuat Jinki merasa tidak nyaman. Masih tersisa tiga lilitan sebelum luka itu nampak, dan Minho makin tak sabaran untuk melihatnya. Jinki mendesah pelan, pelan sekali dan tak terdengar oleh siapa pun kecuali dirinya.  Sekali lagi ia memandang Aeri yang justru sama penasarannya dengan Minho. Minho tak mengedipkan matanya sedikitpun. Here we go! Segala sesuatunya akan jelas di sini.

Geumanhae! Ayo kita pulang.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Aeri, membuat Jinki urung melepas lilitan perban terakhir di tangannya. Jantung Minho mencelos, ia segera menolehkan kepalanya ke arah Aeri. Apa yang dilakukan Aeri? Padahal sedikit lagi rasa penasaran Minho akan segera terjawab.

“Oh! sebaiknya kalian pulang, kelihatannya Aeri lelah.” Dengan cepat Jinki kembali melilitkan perban di tangannya, mengeratkan setiap lilitannya.

“Hei! Sebentar saja, aku belum memeriksa lukanya.” Sergah Minho. Jinjja! Ia benar-benar penasaran dengan luka di tangan Jinki.

Come on! Kau bukan dokter umum Minho-ya. Berhentilah membuang waktu.” Sial! Kini Jinki tahu bahwa Minho bukan dokter umum. Ucapan Aeri barusan benar-benar membuat Minho jengkel.

Jinki terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan Aeri, ia kemudian memandang Minho dengan tatapan aneh. “Aku tahu dasar-dasar pengobatan umum.” Minho berusaha meyakinkan agar Jinki mau membuka kembali perban di tangannya.

“Kau bukan dokter umum? Jadi…” Jinki malah balik bertanya, ia menggantungkan kalimatnya karena tak berani mengatakan bawa mungkin Minho adalah psikiater Aeri. Itu akan sangat memalukan bagi Aeri jika orang lain tahu ia memiliki psikiater pribadi.

Well, sebaiknya aku segera pulang Jinki-ya. Bye!” Aeri menyelipkan kedua tangannya di sikut Minho dan dengan cepat menarik Minho untuk pergi. Minho tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Aeri. Padahal nyaris saja. Keduanya berjalan menuju mobil, sementara Jinki hanya memandangi keduanya dengan pikirannya sendiri.

***

Minho kembali menyusuri kebun belakang rumah keluarga Kim, tepatnya kebun di bawah kamar Aeri. Tentu saja dua hari yang lalu ia sudah pernah mengeceknya, memastikan jejak yang tertinggal di sana. Minho kembali menatap jejak kaki yang mulai terlihat samar di sana, jejak kaki yang mengarah menuju bagian belakang rumah keluarga Kim. Ia berjongkok dan memperhatikan garis-garis yang ada di sana.

Tidak salah lagi! Itu adalah jejak sepatu sport laki-laki yang saat ini sedang trend. Sejenis sneaker dengan potongan tinggi yang menutupi mata kaki. Minho memutar ingatan akan pertemuannya dengan Jinki 30 menit yang lalu. Tidak! Namja itu tidak memakai sepatu seperti itu, ia memakai sneaker biasa. Yeah! Minho yakin.

Well, bukti masih belum cukup. Minho masih harus menyelidiki beberapa hal di sekitar rumah Aeri dan siapa itu Eleanor sebelum semuanya menjadi jelas. Psikopat itu harus segera ditangkap! Ia tidak mau siapa pun mengancam hidup Aeri.

Minho beranjak, mengedarkan pandangannya ke sekitar halaman belakang. Ada dua buah rumah yang mengelilingi rumah Aeri. Satu di bagian belakang, dan satunya lagi di bagian samping kiri. Pikirannya menerawang, mungkinkah pelakunya lari dan masuk ke salah satu di antara dua rumah itu? Minho diam, memandangi kedua rumah itu. Mengira-ngira rumah mana yang memiliki jarak lebih dekat menuju kamar Aeri. Seketika Minho mengingat sesuatu. Ia ingat bagaimana sebuah suara menginterupsi dirinya yang akan mencium Aeri. Benar! Ia rasa itu bukan suara kucing. Itu pastilah sang psikopat yang tengah mengecek kamar Aeri.

Kini mata bulat Minho tertuju pada sebuah jendela lebar di rumah yang berada di bagian belakang kamar Aeri. Letaknya menyerong dari jendela kamar Aeri. Dan bisa dipastikan seseorang bisa mengintip dari sana untuk memata-matai apa yang dilakukan Aeri. Minho terus memandangi jendela gelap yang tidak bisa ditembus kedua mata bulatnya sambil mengira-ngira siapa penghuninya. Baiklah, ia rasa ia harus mencari tahu dulu mengenai orang-orang terdekat di rumah Aeri.

Minho melangkahkan kakinya melalui pintu belakang. Hanya beberapa langkah hingga ia melewati pintu dapur yang terbuka lebar. Sayup-sayup terdengar suara Nyonya Kim yang tengah berbincang dengan seseorang. “Oh! Minho-ya!” panggil Nyonya Kim, menghentikan langkah lebar Minho. Minho berbalik, lalu melongok melalui pintu yang terbuka. “Sebentar lagi waktu makan malam. Makanlah di sini.” Pinta Nyonya Kim yang sebenarnya lebih mirip dengan paksaan.

Minho tersenyum, sebenarnya ia memang berniat tinggal lebih lama di rumah ini untuk bertanya mengenai para tetangga. “Ne, Eommonim.” ucap Minho. Diikuti senyum kemenangan di wajah Nyonya Kim.

Minho masih tersenyum saat ia baru menyadari ada sosok lain yang tengah duduk di salah satu kursi di dapur. Lelaki itu berambut blonde, kedua matanya nyaris tertutupi oleh rambut bagian depannya. Ia tersenyum ke arah Minho. Tidak! Mungkin lebih tepatnya menyeringai. “Oh! kalian belum berkenalan, kemarilah.” Nyonya Kim menarik tangan Minho menuju dapur. “Ini Kim Kibum, dia adalah putra tetangga sebelah yang baru pindah kemari sekitar dua minggu yang lalu.” Ucap Nyonya Kim. “Kibum, ini Minho. Dia seorang Dokter,”

Key mengulurkan tangannya sambil tersenyum, begitu juga dengan Minho. “Mantan pacar Aeri.” Lanjut Nyonya Kim dan membuat senyum di wajah Key lenyap seketika. Berubah menjadi tatapan sinis yang penuh kehati-hatian.

“Kibum. Panggil saja Key.” ucap Key datar.

“Aku Choi Minho. Senang bertemu denganmu, Key.” Minho memaksakan seulas senyum. Sejujurnya, ia merasa sangat aneh dengan namja bernama Key itu. Namja itu terlihat misterius, penampilannya aneh dan terlihat seperti seorang maniak.

“Kibum sering datang kemari untuk memasak bersamaku. Dia pandai sekali membuat jenis-jenis kudapan yang lezat, Minho-ya.” Terang Nyonya Kim bersemangat.

“Ah! Biasa saja. Anda terlalu melebih-lebihkan.” Tanggap Key yang sejujurnya terdengar merendah untuk meninggi di telinga Minho.

“Oh ya? Kalau begitu kapan-kapan aku harus mencicipi kudapan buatanmu. Sepertinya akan menyenangkan.” Ucap Minho sinis.

Sure! Kau bisa mencobanya malam ini.” Key memandang Minho melalui celah-celah rambut bagian depannya. Memandang Minho disertai seringai yang mengisyaratkan bahwa Minho adalah musuh.

Minho menganggukkan kepalanya. Ia pun merasa bahwa pandangan Key menyiratkan sesuatu yang tidak menguntungkannya. “Oh! kenapa tanganmu?” tanya Minho ketika kedua matanya menangkap lilitan perban tebal di tangan kiri Key.

Key melepas jabatan tangan mereka. “Oh! ini? aku tidak sengaja melukai diriku sendiri.” Terangnya santai. Nyonya Kim dan Minho saling berpandangan. Mata Nyonya Kim memancarkan ketakutan tersendiri. Seolah mengisyaratkan pada Minho bahwa luka Key ada hubungannya dengan kejadian malam itu.

“Melukai dirimu sendiri?” tanya Minho, seolah mengulang kalimat terakhir Key.

Key tersenyum, senyum yang lebih terlihat seperti ejekan. “Kuah samgyetang tumpah, mengenai tangan kiriku yang berharga ini,” terang Key. Ia memperhatikan reaksi Minho yang terlihat begitu tertarik dengan lukanya. “Kau memang seorang Dokter, but I’m not going to show this to you.” Tambah Key cepat, seolah bisa membaca pikiran Minho.

“Oh ya? Kenapa?” tanya Minho acuh tak acuh. Sepertinya lelaki bernama Key ini lebih berbahaya dibandingkan Jinki. Oh! tidak seharusnya Nyonya Kim membiarkan orang seperti ini masuk ke dalam rumah, pikir Minho.

Key mendekat, mendekat hingga Minho bisa mencium aroma perfume-nya. Baiklah! Itu bukan perfume murahan. Ia lalu berbisik, tepat di telingan kiri Minho. “The wound is freaking terrible. It remains me of how stupid I was. This hand is important for me. Thinking of that injury drives me thinking of losing my hand. It was terrible, Doctor. But I still love cooking, even the thing might be dangerous sometimes. Why? When you love something, no matter how terrible it is, no matter how much it hurts you, you’ll be back to the thing.” Key mengucapkannya begitu cepat. Cepat sekali, seperti tokoh Sherlock Holmes yang tengah menguraikan analisanya.

Lantas Key menjauh dari Minho. Ia menyeringai, lalu kembali ke kursinya. Minho diam, ia tidak mengerti, tapi apa yang diucapkan Key justru membuatnya takut. Ucapan yang baru didengarnya semakin menguatkan Minho bahwa Key bisa jadi si psikopat, lagi pula ia tetangga baru. Rumahnya pasti tak jauh dari sini. Ah! Jangan-jangan ia tinggal di salah satu rumah yang dicurigai Minho.

Minho berjalan mendekati Key, menarik kursi di hadapannya lalu duduk. “Key, rumahmu… tak jauh dari sini kan?” Minho mulai mengorek informasi.

“Di samping belakang rumah ini. Di bagian kanan.”

Deg!

Tidak salah lagi, itu adalah rumah dengan jendela menyerong dari kamar Aeri. Di mana si penghuninya bisa dengan leluasa memat-matai kegiatan yang terjadi di kamar Aeri. Minho terus menatap Key, memperhatikan gerak-gerik namja mencurigakan itu. Tidak salah lagi! ia harus bergerak cepat, mencari tahu tentang Key dan siapa itu Eleanor.

***

Aeri masih menempelkan ponsel itu di telinga kirinya. Tapi hanya kesunyian yang terdengar. Ia dan Jinki sama sekali tidak punya topik untuk dibicarakan. Dan mengherankannya lagi, Jinki membiarkan sambungan telepon itu memperdengarkan suara udara selama tiga menit.

“Hemm… Aeri-ya, hemm…” Jinki kembali diam. “Aku berencana untuk pergi ke taman hiburan. Ah! Tapi aku tidak punya teman, jika kau tidak sibuk mungkin kau tidak keberatan untuk menamaniku. Kau bisa refreshing,” Jinki mengutarakannya begitu cepat, seperti dikejar sesuatu.

Aeri terkekeh kecil, menutup mulut dengan kelima jari tangan kanannya. Jadi, namja ini mengajaknya kencan lagi? pikir Aeri. Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu saat Jinki menyambarnya. “Oh! tapi jika kau sibuk aku akan pergi sendiri. Benar! Haha.” Jinki tertawa di seberang sana, terdengar begitu konyol di telinga Aeri. Ingin sekali rasanya melihat langsung wajah Jinki yang seperti ini.

“Menurutmu, apa aku akan menolak ajakanmu?” goda Aeri.

Hening.

Aeri diam sambil terkekeh geli tanpa suara. Ia sengaja membiarkan Jinki berpikir keras. Namja itu akan menganggap serius hal-hal kecil yang dikatakan Aeri. Satu menit, dua meni, hei! Ini sudah tiga menit, tapi Jinki masih bisu. Apa lelaki itu benar-benar berpikir terlalu keras? Aeri melihat layar ponselnya, masih tersambung.

“Jinki-ya-“ kalimatnya terputus saat ia mendengar sesuatu yang aneh dari seberang sana. Tidak terlalu jelas, tapi seperti ada sesuatu yang bergerak aneh.

Sraak…sraak…. Tep…

Aeri menyipitkan matanya, berusaha menangkap suara apa kah itu. Pikirannya mulai menerawang, apa kah sesuatu yang buruk tengah terjadi pada Jinki? Pikir Aeri takut. Tak lama, sambungan terputus begitu saja, membuat Aeri mengerutkan dahi. Benarkah Jinki baik-baik saja? Ia lantas menelepon balik Jinki. Terdengar nada sambung beberapa kali sebelum suara Jinki terdengar di seberang sana.

“Jinki-ya kau baik-“

“Oh! mianhae, sambungannya terputus, kurasa aku—mungkin sistemnya ter—oh! aku akan me—lagi—sampai—pa.” lalu telepon terputus.

Aeri diam, aneh sekali. Suara Jinki seperti berbisik dan terkesan terburu-buru, lalu suaranya tadi terputus-putus. Apa yang terjadi? pikir Aeri.

=TBC=

 

22 thoughts on “Moonlight Sonata – Part 4

  1. akhirnya keluar juga part 4 nya, dah ta tunggu dari jaman bahola mpe lumutan nih unnie……
    ahhhh, makin seru.. itu si jinki masih gugup ja ya lo ma cwek, tapi dia kenapa??
    key juga aneh, kenapa dia seolah-olah jd orng yg psyhco gt??
    wahhh…. bkin penasaran deh,,,
    part selanjutnya jgn terlalu lama ya unnie….
    keep writing!
    fighting!!!!😉

  2. dari awal baca tadi aku mikir. udh baca part-part sblmnya ato belum. eh pas ke bawah, trnyata aku emang belum baca. hehehe ._.v

    keliatannya seru nih. ntar mau baca part-part sebelumnya dulu. hehehe

    abis baca part ini–meskipun blm bc part sblm2nya–jd ikutan mikir, jinki n key sama2 mencurigakan ya. tp key kynya lbh mencurigakan

    ah seru pokoknya.. menegangkan…

    • ini FF nya udah agak lama dan baru di-update lagi -_-

      oia, kalo boleh komentar skarang2 Rahmi g prnah kasih aku masukan lagi yh d FF? apa karna kejadian yg waktu itu yaa? kalo bleh jujur sih, ak g marah ko. malah senang ada yang kasih masukan dan perbaikan yang dikasih tau secara langsung.
      Mudah2an ga keberatan kasih masukan dan koreksi lagi. Gomawoo🙂

      • iya. aku udh liat ffnya sejak archangel itu, tp gak baca. soalnya rada2 takut gitu. eh ternyata seru ._. malah bikin penasaran pake banget.

        sekarang2 emang gak ngasih masukan lagi soalnya udah semakin bagus😀 makin rapi. klo masukan cerita, gak ada juga sih ._. palingan pertanyaan2 yg ada di dlm otakku yg kdg lemot nangkep ceritanya ._.v
        malah sekarang aku yg kaku kalau nulis T_T

      • ff ini engga terlalu horror sebenernya.hhe.^^v

        Hoo, begitu yaah. Tapi sebenernya ada sih beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang aku ga tau gimana nulis benernya. Mungkin nanti aku tanya aja kali yaa kalo g keberatan.
        Hemm, kenapa? udah jarang nulis kali yaa, jadi kaku?

  3. kyaa, akhirnya part 4 keluar juga. wah aku telat bacanya kayaknya._. wkwk
    wih, ada suara kresek2/? pas jinki lagi nelfon aeri. ada apa tuh?😄
    Penasaran, sebenernya yang psikopat nya itu key/jinki ya, atau jangan2 dua dua nya😄
    okeoke, aku tunggu next partnya, eonnie^^b

  4. akhirnyaaaaaaaaaaa. aku mikir awalnya ini lanjutan cerita yg side story jinki di archangel, maklum kak udah lupa part sebelumnya :p

    aku pengen ketawa juga gregetan pas bagian minho maksa jinki buat buka perbannya, terus aeri langsung bilang kalo minho bukan dokter umum. oh ya, disini minho jadi kayak mirip sherlock gitu yah, mengamati segala kemungkinan #eh

    key yang karakternya sinis akhirnya kembaliiii! suka banget kalo karakter key disini, ngebayangin muka dia waktu perform why so serious kan kayak zombie-sinis-cool gitu hahaha. terus bagian key speaks english, itu kalo beneran dia ngomong gitu, udah ah mau mati aja >..<

    • kepotong gitu comment aku masa -___-

      dugaan semakin kuat mengarah ke key, tapi gak terduga juga sih kalo ke jinki atau justru minho (?) ciri-cirinya sih key, soalnya dia kayak menutupi sesuatu gitu *sotoy aja sih*

      bagian paling jago itu adalah bikin cerita tiba-tiba bersambung dan readers bertanya-tanya itu sebenarnya jinki kenapa, terus lanjutannya gimana.

      lanjutin…lanjutin..lanjutin!!!

    • Ga apa2 ko, part 4-nya emang kelamaan publish. Jadi maklum kalo udah lupa sama ceritan sblumnya ^^v

      iya nih, di sini Minho yang dijadiin Sherlock, sekali2. biasanya d FF aku Minho mati mulu *digampar flamers*

      haaa… iyah… pasti Key keren mampus gila kalo dia speaks English begitu. Ngebayanginnya sama kaya Holmes yang ngomong cepet dalam satu tarikan nafas. *langsung lemes bayangin Key begitu*

      .kekek. saking panjang mungkin itu komennya jadi aja kepotong.hhe.
      Siip… nantikan yang part 5-nya.😉

  5. astaga.. saya ketinggalan baca lanjutan cerita ini.. -,-

    ke-sangtae-an si Jinki agak digambarin di sini, lewat lelucon yang tidak lucu untuk Aeri..😛

    Wajar aja si Minho curiga sama Jinki n Key, karena mereka sama2 terluka di tangan, seperti luka yang dialami pelaku kejadian malam itu.
    terutama si Key, dia memang mencurigakan banget ya, sifatnya itu loh, nunjukin banget klo dia agak aneh….

    menurut saya di part ini Eun Cha bikin reader terutama saya jadi curiga banget sama si Key, tapi belum jelas banget si Key tuh pelaku atau bukan…
    nah loh… kok saya yang bingung ya..😛

    eeehh, si Jinki kenapa tuh??

    nah loh, Tbc-nya bikin penasaran…

    Ok Eun Cha, part selanjutnya ditunggu banget loh…🙂

    • Ga ketinggalan ko eonn, ini juga udah lama banget baru update ^^v

      .ekekek. setegang apa pun, sangtae harus tetep berjalan *prinsip hidup Jinki*

      Nah,nah, iya kah Key begitu mencurigakan? .kekekek.
      oKEY, eonn, nantikan yaa kelanjutannya. Mudah2an ga lama lagi. Gomawo sudah mampir lagi ke sini dan baca Moonlight Sonata, eonni😉

  6. Euncha-ssi,aku mau izin dulu, boleh panggil Eonni? Hihi
    ah iyaaa,, kalo boleh curcol, aku baca part ini beberapa hari sebelumnya, tapi karena koneksi mobile ku tidak bersahabat jadi baru sempet koment sekarang. Mianhee *sembah sujud(?),eh

    hyaaaaa~ Jinki jd gugup aneh gitu tiap deket Aeri,,
    awalnya aku agak curiga ke Jinki, tapi pas baca ke scene Key, kecurigaanku jadi ke mereka berdua walaupun lebih ke Key, soalnya dia yang lebih mendekati psikopat itu,eh *digampar Key*
    enaknya jadi Aeri , dikagumi 3 pria tampan… Plaaakk

    Euncha-ssi, ff nya bener” bikin penasaran dan maen tebak”an, nambah clue nih di part ini, jd pngen cpt” ktauan siapa psikopat itu, apakah dugaanku benar? Kalo bnr langsung tumpengan.hahaha

    kayanya komentku udah lumayan panjang, udah dulu deh. *gak penting*
    lanjutkaaan Euncha-ssi… FIGHTING buat skripsi dan sidangnya😀

    • .ekekek. Boleh, boleh ko, Hikma. Mau manggil Eunhca seperti biasa juga gpp ^^
      Gwaencanha, yang penting sudah baca dan udah bisa komen.kekek.
      waduh, sampe sembah sujud segala.

      walaupun lebih ke Key, soalnya dia yang lebih mendekati psikopat itu <– .hha. ngakak baca yang ini. Key mukanya emang udah psikopat *plaakkk*

      nah, siapakah dugaanmu? .kekek. gomawo buat doanya yaa.
      Nantikan kelanjutannya😉

  7. Jinki mencurigakan…. Key menakutkan…. Minho menyebalkan…..
    Tuh, gambar Eun Cha nonton TV di sebelah kanan menjengkelkan….
    #digampar

    Itu gambar tambah bikin suasana horornya terasa, eun cha….
    eon trganggu…. eon mau baca, teralihkan sm gmber itu
    maunye ngelirik situ mulu…
    ujungnya gak konsen n tambah takut….
    #dicemplungin eun cha n readers laen ke lubang buaya

    Part selanjutnya buruan, ya, eun cha….
    Mau ke rumah Jinki dulu, ganti perban tangannya….

    • .hhe. eonni, berarti ntar kalo eonni baca ff di sini, gmbar di side bar kanannya kdu ditutupin pake tangan eonn ^^v

      lanjutannya harap bersabar yh eonn, mudah2an masih mau menunggu. Yang jelas yang suka main piano tengah malemnya ga seserem hantu ‘Mama’ ko eonn.hhe.
      Makasih eonni😉

  8. Huweeee aku ketinggalan part ini!!
    Duhhh mkin curiga sm Key dehh.. Dia yg plg mencurigakan dsini, nakutin pula.. dan clue2 yg ad kyaknya mengarah ke dia.
    Tp…Jinki bs aj sihh jd pelakunya ._.a hadeuhhh #bingung

    Eun Cha.. yg ini d.lanjut dongg.. udh lama lohh km g nulis misteri (><)

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s