Excuse me, Miss – Part 4

excuse-me-miss

Part 4 – Wish.

Main cast :

Kim Kibum [Key] | Min Hyeri | Choi Minho

Supporting cast :

The rest of  SHINee’s members | Choi Minhee (OC) | Nicole (KARA)

Author             : Song Eun cha

Length             : Sequel

Genre              :  Romance, Life, Friendship

Rating              : PG 15

Credit poster : Jiell

Mohon maaf untuk typo dan kesalahan lainnya yaa. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan. Selamat membaca🙂

“Key?” suara gadis itu membuat Key terlonjak. Ia tidak salah lihat kan? Gadis yang tadi diserang empat lelaki brengsek dan hampir diperkosa itu adalah si pelayan café yang dibawa Minho ke acara ulang tahun Minhee. Key membeku, tangannya yang hendak menyampirkan kemeja ke bahu si gadis terasa kaku.

Keduanya masih diam, sibuk dengan pikiran masing-masing saat sesuatu melintas dalam pikiran Key. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Lantas ujung bibirnya tertarik, “Kita ke rumah sakit.” Ucapnya lembut, lalu menyampirkan kemejanya ke bahu Hyeri.

Hyeri masih seperti dalam mimpi, ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Membiarkan Key menarik tangannya. Membawanya beberapa langkah dalam kesunyian. Sedetik kemudian, ia menyadari bahwa tidak seharusnya ia membiarkan Key membawanya ke rumah sakit. Bagaimanapun, ia begitu membenci Key.

Gomawo.” Ucap Hyeri lagi, lantas melepaskan tangannya dari Key. Keduanya menghentikan langkah.

Key menoleh menatap Hyeri. “Tidak mau ke rumah sakit?” tanyanya.

Hyeri hanya menggeleng, tidak percaya dengan perlakuan Key. Ia merasa sedang berhadapan dengan doppel ganger Key. Lelaki itu begitu berbeda dengan lelaki sombong yang ia kenal.

Geurae, kalau kau tidak mau ke rumah sakit. Lagipula, kelihatannya kau tidak terluka. Kalau begitu sampai jumpa, aku mau ke rumah sakit. Aw! Sakit sekali.” Key memegangi sudut bibirnya hati-hati. Membuat Hyeri terperangah, menatap beberapa luka di wajah Key.

Lalu Key berbalik dan melangkah santai. Ia menghitung dalam hati. Perkiraannya tidak mungkin meleset. Tidak akan mungkin, batinnya.

“Tunggu!”

Key tersenyum kecil. Perkiraannya tidak mungkin meleset. Hyeri memanggilnya. Key berbalik, lalu menatap Hyeri seolah menunggu gadis itu melanjutkan kalimatnya.

“Lukamu,” Hyeri menatap Key ragu. “Biar aku yang mengobatinya. Ani! Maksudku, lukamu tidak terlalu parah kurasa. Aku bisa mengobatinya. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih.” Terang Hyeri panjang. Ia tahu Key akan menolak bahkan mungkin menganggap Hyeri terlalu berani dengan menawarkan hal itu. Tapi setidaknya, ia selalu berusaha bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat.

Jinjja?” Key memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum kemenangan. “Kalau begitu segera obati lukaku. Ah! Sakit sekali!” Lalu ia mengerang, memegangi sudut bibirnya.

***

Keduanya tiba di rumah sederhana. Catnya berwarna putih bersih, memiliki halaman sempit yang ditanami beberapa jenis tanaman hias.

KLEK

Hyeri membuka pintu. Hati-hati masuk ke dalam rumah, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. “Jangan membuat suara, aku tidak mau keluargaku terbangun.” Bisik Hyeri sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

Key hanya mengangguk, mengikuti Hyeri menyusuri lorong sempit yang gelap. Kedua matanya lantas mulai menjelajahi benda-benda yang mereka lalui. Hanya perabot rumah tangga tidak mahal yang dirawat dengan baik.

Keduanya menaiki tangga kayu, menimbulkan decitan kecil. Penuh hati-hati, Hyeri mendorong pintu berpelitur cokelat di ujung lorong. Berusaha tak mengeluarkan suara. Kini keduanya telah berada di kamar Hyeri. Kamar sempit dengan dinding berwarna kuning pucat.

KLIK

Hyeri menyalakan lampu tidur. Lalu mengibaskan tangan kirinya ke arah Key, memberi isyarat agar lelaki itu mengikutinya. Hyeri menunjuk ke arah karpet di dekat ranjang size s-nya, menatap Key dengan tatapan yang seolah mengatakan duduk-di-situ.

Tak ada sepatah kata pun, Key duduk di atas karpet mengikuti arahan Hyeri. Sementara gadis itu melempar tas selempangnya ke atas ranjang, berjalan cepat menuju meja di dekat jendela di seberang Key. Tak lama, ia berjalan mendekati Key. Duduk di hadapan lelaki itu dengan sebuah kotak kecil di tangannya.

Hyeri tidak mengatakan apa pun, ia lantas mempersiapkan kapas dan antiseptik untuk membersihkan luka di wajah Key. Ia menatap Key ragu, mengulurkan tangannya hendak membersihkan luka di wajah Key saat lelaki itu menghentikan gerakan Hyeri.

“Ini gelap! Lampu yang itu rusak, ya?” tanya Key sambil menunjuk lampu neon tepat di langit-langit bagian tengah kamar.

Hyeri menurunkan tangannya sambil mendesah pelan. Sepertinya bulan purnama telah muncul dengan sempurna, si rubah congkak kembali pada wujud aslinya, pikir Hyeri. “Kau tuli ya? Sudah kubilang aku tidak mau membangunkan keluargaku!” gerutu Hyeri.

“Ya sudah, cepat obati lukaku.” Gumam Key santai. Ia menunjuk luka di sudut bibir bawahnya.

Hyeri memanyunkan bibirnya kesal. Rasanya ingin sekali meninju Key, tapi ia tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun, Key adalah lelaki yang telah menyelamatkan nyawanya. Ia benar-benar berhutang besar. Maka, Hyeri memutuskan untuk membayar hutangnya. Mengobati luka Key tanpa banyak bicara.

“Hei! Aku haus! Bisa bawakan aku air minum?” permintaan yang terdengar seperti perintah itu menghentikan gerakan tangan Hyeri yang hendak menggapai luka di wajah Key. Hyeri menurunkan lagi tangannya, mendesah kesal menahan amarah. “Berkelahi membuatku haus,” Bela Key.  “Jangan melihatku seperti itu!” lanjutnya.

Hyeri mendesah pelan, mau tidak mau ia harus menahan gejolak amarah dalam dadanya. Cukup kali ini saja ia harus bersabar, setelah hutangnya lunas, ia akan terbebas dari si mata rubah itu. Hyeri beranjak, berjalan pelan menuju meja di dekat jendela tadi. Sedikit malas ia meraih gelas yang selalu ia simpan di dalam kamar, menuangkan air dari teko kecil.

“Ini! tolong jangan berisik!” bisiknya tegas.

Key tidak mengatakan apa pun. Ia menyambar gelas, meneguk isinya tanpa ampun. Lelaki itu benar-benar kelelahan.

“Mau kuambilkan segelas lagi?” tawar Hyeri. Ada sedikit kecemasan yang terpancar dari bola matanya.

“Tidak usah.” Jawab Key singkat.

Lantas Hyeri kembali mengambil kapas, memberinya cairan antiseptik. Ia menatap Key, seolah mengatakan bahwa ia akan membersihkan luka di wajah Key. Perlahan Key mendekatkan wajahnya ke arah Hyeri, memiringkan wajahnya agar luka di tulang pipi sebelah kanannya bisa dicapai Hyeri.

Dengan telaten, Hyeri membersihkan luka di wajah Key. Lantas memberinya obat. Hening. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Baik Hyeri maupun Key tidak ada yang berinisiatif untuk membuka topik pembicaraan atau memecahkan atmosfir yang aneh itu.

“Aww! Pelan-pelan.” Erang Key. Ia meringis, menjauhkan wajahnya dari Hyeri.

“Ck! Aku sudah pelan-pelan. Manja sekali!” desis Hyeri kesal.

“Kau ini kasar sekali sih, Miss!”  Key memberenggut kesal, menjauhkan lagi wajahnya dari Hyeri.

“Ya sudah! Kau obati saja sendiri!” Hyeri melempar cotton bud yang ia gunakan untuk menempelkan obat di luka Key ke karpet.

Key diam, sudah jelas ia tidak suka dengan kelakuan Hyeri. Tapi, kali ini ia sedang merencanakan sesuatu, tidak boleh membuat gadis itu semakin membencinya. “Mianhae, tolong-obati-lukaku.” Bisik Key terbata. Ia mendekatkan lagi wajahnya ke arah Hyeri, menyodorkan pipi kanannya dengan pandangan meminta.

Hyeri berdecak, meraih cotton bud baru dan mengolesinya dengan obat. Perlahan kembali mengobati luka Key. Mereka kembali diam.

Deg…deg…deg…

Tiba-tiba saja Hyeri mendengar suara jantungnya sendiri. Berdegup kencang dengan irama tak karuan. Serta merta wajahnya memanas, merasakan bahwa Key tengah menatapnya. Sedikit, ia mencuri pandang. Mata mereka bertemu. Dengan cepat Hyeri mengalihkan pandangannya. Tapi jantungnya makin berdebar tak karuan, ia tahu bahwa Key masih menatapnya.

“Awww!” Key segera membekap mulut dengan kedua tangannya. Hyeri baru saja menekan lukanya dengan cotton bud. Menekan sekuat tenaga dan membuat Key kesakitan. “Yaa! Apa yang kau lakukan?” desis Key tajam. Ia berusaha untuk tidak berisik.

“Aku tidak suka kau melihatku seperti itu!” omel Hyeri. Ia memasang muka sebal, menyembunyikan perasaan aneh yang entah mengapa membuatnya merasa berdebar-debar.

Key berdecak, memejamkan mata sambil mendesah pelan. Kali ini saja. Yeah! Kali ini saja ia harus menahan emosinya terhadap gadis pelayan café itu. Setelah rencananya berjalan lancar, ia bisa melakukan apa yang ia suka. “Aish! Kau ini kasar sekali, Miss.” Komentar Key.

Hyeri menatapnya, menaikkan sebelah alisnya seolah mengatakan lalu-kenapa?

“Kau harus diajari untuk menjadi gadis yang lembut dan menyenangkan.” Tambah Key. Membuat Hyeri mengerutkan dahinya. Mereka bertatapan beberapa detik, lalu Key mencondongkan tubuhnya ke arah Hyeri, mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

“Apa?” tanya Hyeri. Berusaha bersikap datar, meski ia merasa jantungnya akan melompat keluar dari rongganya jika saja itu bisa terjadi.  Key tidak menjawab, ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri. Membuat gadis itu memundurkan tubuhnya. Key terus mendekat, menatap dengan seringai tajam tanpa arti. “Apa?” tanya Hyeri lagi. Sesekali ia menatap mata Key, tapi dengan cepat menghindarinya. Merasa aneh dengan tatapan itu.

Dak!

Key menghentikan gerakannya saat ia berhasil mengunci ruang gerak Hyeri. Gadis itu tidak bisa berkutik lagi karena punggungnya telah menyentuh ranjang. Dalam keheningan, ia bisa mendengar hembusan nafas Hyeri yang terdengar tak teratur. Key tersenyum, “Kau tahu pelajaran apa yang akan kau dapatkan untuk menjadi gadis lembut?” tanya Key.

Hyeri tidak menjawab. Merasa pertanyaan Key begitu konyol. Lagipula, satu-satunya hal yang menyita perhatian Hyeri adalah tatapan Key dalam jarak yang begitu dekat. Membuat jantungnya semakin tak sabaran untuk melompat ke luar dari rongga dada.

Key kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri, nyaris tanpa jarak. Bahkan Hyeri bisa merasakan hembusan nafas hangat Key menerpa wajahnya.

A gentle kiss.” Bisik Key. Lantas tanpa persetujuan Hyeri, ia mendaratkan ciuman di bibir gadis itu. Memberikan ciuman hangat yang mendalam.

Hyeri terbelalak. Jantungnya benar-benar telah melompat ke luar jika saja rongga dada yang sempit itu tidak menahannya. Ia merasa seluruh anggota geraknya lumpuh, seluruh enerjinya menguap, dan merasa melayang ke udara. Ada sesuatu yang aneh saat ciuman hangat itu mendarat di bibirnya. Seperti ada sesuatu yang terbang dari dalam perutnya, melesat ke bagian dada dan membuatnya berdebar begitu cepat. Seperti bom waktu yang akan meledak.

Dalam hitungan sepersekian detik, Hyeri berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Satu-satunya alat gerak yang merespon perintah dengan baik adalah kedua tangannya yang menggantung. Lantas kedua tangannya bergerak, berusaha mendorong dada Key. Tapi ia terlambat! Lelaki itu jauh lebih cepat, menangkap kedua tangannya, menguncinya di pinggiran ranjang.

Bodoh! Hyeri hanya bisa mengutuki dirinya dalam hati. Mengapa ia tidak bisa melawan? Padahal orang yang paling ia benci sedang menciumnya. MENCIUMNYA!!! Pada akhirnya, Hyeri membiarkan Key menciumnya dalam keheningan. Ia tidak mengerti, mengapa ia hanya bisa membeku di tempatnya, padahal jelas-jelas Key  menikmati ciuman itu.

 “Sudah larut. Aku pulang. Bye!” suara Key membuyarkan pikiran Hyeri. Ia tidak sadar kapan lelaki itu menyudahi ciumannya.

Key tersenyum puas melihat Hyeri yang hanya mampu mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia hendak beranjak saat menyadari Hyeri yang telah kembali mendapatkan kesadarannya. Lantas Key kembali berbalik, menyerang Hyeri dengan gerakan cepat yang lagi-lagi mengunci gadis itu. “Kau suka ciuman yang tadi?” tanya Key, ia menyeringai.

“Apa?”

Key terkekeh, “Good night, Miss.” Bisiknya, lalu kembali mendaratkan ciuman singkat sebelum beranjak dan meninggalkan Hyeri begitu saja.

***

Lelaki paruh baya itu menghela nafas. Memejamkan matanya sesaat. Berusaha menenangkan dirinya agar tidak meledak.

“Tenangkan dirimu, Yeobo. Kita dengar dulu ceritanya.” Seorang wanita yang diperkirakan seusia dengan lelaki itu mencoba menenangkan. Bukan mencoba menenangkan lebih tepatnya, melainkan berusaha melindungi lelaki lain yang tengah tertidur pulas di sofa ruang tamu.

Keduanya lantas menatap lelaki dengan t-shirt putih tertelungkup di atas sofa. Ia terlelap dengan satu tangan menggantung di samping sofa. Kedua matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka dan satu-satunya hal yang menjadi pusat perhatian adalah beberapa luka di wajahnya.

“Anak kurang ajar ini belum mau bangun,” lelaki paruh baya yang sedari tadi memperhatikan lantas beranjak. Melangkah mendekati sofa penuh amarah.

Yeobo, sepertinya dia lelah. Kita tunggu saja sampai Kibum bangun.” Si wanita menahan tangan si lelaki. Berusaha melindungi belahan jiwanya yang tengah terlelap di atas sofa.

Si lelaki menghela nafas. Selalu saja seperti ini. Istrinya terlalu baik pada anak tunggal mereka. Bahkan mungkin terlalu memanjakannya. “Dasar anak kurang ajar! BANGUN!!!” si lelaki tidak bisa menahan lagi amarahnya. Bahkan bujuk dan rayu dari sang istri sekali pun tak bisa mencegahnya untuk tidak memberi pelajaran pada anaknya yang sangat nakal itu.

“BANGUN, KIM KIBUM!!!” Teriaknya. Kedua matanya liar, mencari benda apa pun yang bisa ia gunakan untuk dilemparkan pada anaknya. Lantas ia meraih cangkir teh hangat di atas meja yang dibuatkan pembantu mereka untuk Kibum dan dalam satu gerakan, menyiramkannya ke wajah Kibum.

Sang istri hanya bisa berteriak, ia kurang sigap menahan suaminya melakukan hal itu pada putra kesayangannya. Nasi telah menjadi bubur. Kibum terbangun karena siraman teh hangat di wajahnya. Ia terkejut, lantas segera megucek matanya yang terasa perih.

“Nah, anak kurang ajar ini harus dibangunkan dengan cara seperti itu!”

“Ssshhtt! Yeobo, tenangkan dirimu. Lihat! Kibum masih mengantuk, beri ia waktu.”

Tapi lelaki yang merupakan ayah kandung Kibum itu tidak mau tahu. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah mendengar penjelasan mengapa putranya yang sangat nakal itu kembali berkeliaran tengah malam dan mencari perkara dengan berandalan di luar sana.

Kibum bangkit, ia duduk sambil bersandar di sofa. Memegangi kepalanya sambil memejamkan mata. Bukan hal aneh jika ia terbangun karena siraman air di wajahnya atau bahkan pukulan di tubuhnya. Tapi, ia tetap manusia biasa yang akan merasa terkejut dan merasa separuh nyawanya masih melayang di alam mimpi.

Nyonya Kim lalu berjalan mendekati Kibum, duduk di samping putranya. “Kau baik-baik saja, Sayang? Aigo! Lihat wajahmu! Ck! Kau berkelahi lagi? dengan siapa? Apa dengan Jonghyun?” tanyanya cemas.

Kibum berdecak pelan. Kepalanya masih pening, tapi ia harus segera memberi penjelasan jika ingin nyawanya selamat. “Gwaencanhayo, Eomma. Ini hanya luka kecil. Semalam aku-“

“Dasar anak berandalan! Kurang ajar! Mau sampai kapan mempermalukan keluarga?” Tuan Kim segera menyerangnya. Menghujani Key dengan pukulan-pukulan di kepala dan tubuhnya.

“Ah! Sakit, Appa! Henti-“

“Kurang ajar kau! Dasar berandalan! Seharusnya kau tidak pulang lagi ke rumah ini!”

Ara! Ara! Aku tahu! Aku memang tidak akan pulang lagi ke rumah ini!” sahut Kibum. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan wajah untuk menghindari pukulan appa-nya. Tapi Tuan Kim tetap memukulinya.

MWOOO? APA KAU BILANG?!!! GEURAE! TINGGALLAH DI JALANAN SANA BERSAMA TEMAN-TEMAN BERANDALMU ITU!” Tuan Kim telah mencapai klimaksnya. Tidak bisa mengungkapkan lagi betapa marahnya ia karena kelakuan dan ucapan putranya. Lantas ia kembali memukuli Kibum sekuat tenaga.

Yeobo! Hentikan! Hentikan! Jangan pukuli Kibum!” Nyonya Kim berusaha menengahi. Ia menyelip di antara Kibum dan suaminya, merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Kibum. Sementara itu Kibum menyembunyikan dirinya di balik punggung Nyonya Kim.

“DIA ANAK KURANG AJAR! MEMBUATKU MALU! AIGO!!! JANTUNGKU…” Tuan Kim berhenti memukuli Kibum, lalu memegangi dadanya sambil memejamkan mata. Nafasnya mulai tak beraturan.

Yeobo! Gwaencanha? Aigo!” Nyonya Kim berhambur ke arah suaminya. Memegangi bahu suaminya saat lelaki itu mulai kehilangan keseimbangan. “Tenangkan dirimu. Tarik nafas dari hidung, keluarkan dari mulut. Ya! Seperti itu.”

Nyonya Kim lantas memapah suaminya untuk duduk di sofa. Dengan cepat Kibum menyingkir dari sofa. “Tenangkan dirimu, Yeobo.” Lagi, Nyonya Kim berusaha menenangkan. Memaksa suaminya untuk duduk bersandar di kursi.

Tuan Kim menarik nafas perlahan, ia harus menenangkan dirinya jika tidak ingin kembali dirawat di rumah sakit dan membusuk di sana seperti mayat hidup. “Panggilkan bibi Ahn! Buatkan teh hangat untuk appa.” Perintah Nyonya Kim. Lantas Kibum beranjak, hendak berjalan menuju dapur saat Tuan Kim menahannya.

“Kau tidak boleh pergi ke mana-mana, Anak kurang ajar!” menghentikan langkah Kibum. Lantas ia berbalik malas sambil berdecak kesal.

“Duduk di sini, Sayang.” Pinta Nyonya Kim lembut.

Kibum mengikuti apa yang dikatakan eomma-nya, duduk di samping kanan Tuan Kim. Sesaat Tuan Kim diam, menenangkan dirinya.

“Katakan padaku! Dengan siapa kau berkelahi semalam?” tanyanya. Nada suaranya mulai menurun. Jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit yang lalu.

Kibum diam, menyentuh lagi sudut bibirnya yang tiba-tiba terasa perih. Juga luka kecil di tulang pipi kanannya yang mengingatkan ia akan tindakan bodoh si gadis pelayan café.

“Berandalan mana lagi?” Tuan Kim mulai kesal.

Appa, beri aku waktu untuk menjawab. Ada luka di sudut bibirku. Ini sakit!” protes Kibum. “Semalam aku berkelahi dengan lelaki brengsek!” terang Key kesal. Ia kembali teringat bagaimana keempat lelaki itu bersekongkol untuk melakukan pemerkosaan.

“Kim Jonghyun lagi?”

Appa, aku tidak menyebut nama Kim Jonghyun.” decak Key kesal.

“Tapi kau selalu menyebut Jonghyun lelaki brengsek, Sayang.” Nyonya Kim menambahkan.

“Lelaki sialan, Eomma. Jonghyun itu lelaki sialan!” Key meringis, memberikan banyak penjelasan membuat sudut bibirnya terasa semakin sakit. Luka yang mulai mongering membuat bibirnya sedikit kaku saat digerakkan.

“Lalu siapa lelaki brengsek? Berandalan baru lagi? berkelahi di bar? Mengacaukan usaha orang lain?” cecar Tuan Kim. Pikirannya mulai kalut, membayangkan seburuk apa perkelahian putranya semalam dan yang paling buruk adalah konsekuensi apa yang harus ditanggung keluarga mereka nanti.

Kibum menghela nafas dalam, rasanya selama ini ia memang telah menjadi anak paling nakal sedunia. Setiap hari ia berkelahi dengan banyak berandalan di luar sana, berkelahi di bar, di hotel, mengacaukan pesta orang lain, atau yang lebih buruk mengacaukan usaha orang lain. Dari semua berandalan yang ada, Kim Jonghyun adalah musuh terbesarnya. Ia tidak mengerti bagaimana awalnya ia dan saudara sepupunya sendiri bisa menjadi musuh bebuyutan. Yang jelas Kibum tidak suka saat Jonghyun lebih hebat darinya dalam hal apa pun.

Geurae, aku memang berandalan. Tapi berandalan punya alasan untuk berkelahi. Semalam aku menghajar lelaki brengsek yang akan melakukan pemerkosaan.” Terang Kibum, ia kembali meringis, menyentuh luka di sudut bibir yang kian mengganggunya.

MWOOO? PEMERKOSAAN?” suara Nyonya Kim menggema di ruang tengah keluarga. Ia begitu terkejut dengan pengakuan putranya. Selama ini, Kibum tidak pernah mengatakan bahwa ia berkelahi untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Sungguh! baru kali ini Nyonya Kim merasa bangga atas perkelahian yang dilakukan putranya.

Eomma tidak usah berteriak begitu.” desis Kibum sambil menutupi telinganya.

Jinjja?” tanya Tuan Kim tak percaya.

“Bukan urusanku jika eomma dan appa tidak percaya. Aku memang berandalan, pemabuk dan senang berkelahi, tapi aku tidak pernah berbohong.” Terang Kibum enteng. Ia lantas mengangkat kedua tangannya sebatas bahu, menggedikkan bahunya. Itulah jurus andalan Kibum. Semua orang tahu, ia memang anak nakal, tapi ia tidak suka berbohong dan bahkan sama sekali tidak bisa berbohong. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan perasaannya terhadap sesuatu.

“Sepertinya kau menang, Sayang. Mereka tidak akan mengejarmu ke mari, ‘kan?” tanya Nyonya Kim cemas.

Tuan Kim hanya diam memegangi dadanya. Diam-diam ia tersenyum tipis, tidak bisa dipungkiri bahwa kali ini aksi perkelahian putranya membuatnya sedikit bangga. Jika saja Kibum seperti itu, berkelahi demi menolong nyawa orang lain.

“Mereka lari seperti pengecut. Ah! Eomma, tidak ada yang bisa mengalahkan pemegang sabuk hitam ini-”

“Kecuali Kim Jonghyun.” sambar Nyonya Kim. Mengingatkan putranya yang mulai besar kepala. Membuat Kibum memanyunkan bibirnya kesal, lalu meringis karena itu membuat lukanya semakin menyiksa.

Tuan Kim menghela nafas, lantas memaksakan diri untuk beranjak. “Istirahatlah dan obati lukamu. Aku akan menelepon keluarga Jung untuk membatalkan pertemuan hari ini. Memalukan jika mereka mellihat wajahmu yang seperti itu.” Terang Tuan Kim, lantas mulai melangkah pelan.

Kibum berdecak, tiba-tiba saja ia ingat bahwa hari ini keluarganya dan keluarga Nicole akan melakukan pertemuan. Apalagi jika bukan membicarakan soal pernikahan konyol sepanjang masa.

Nyonya Kim mengelus rambut Kibum, lalu beranjak dalam diam. Melangkah pelan mengikuti suaminya. Membuat Kibum semakin kesal dan ingin meratapi nasibnya saat ini. Tapi, hanya beberapa detik saat luka di tulang pipi kanannya berdenyut, mengingatkannya pada gadis pelayan café itu.

“Tunggu!” Kibum bangkit. “Ada sesuatu yang lupa aku katakan.” Kibum tersenyum penuh kemenangan. Kini ia menapaki tangga kedua dalam rangkaian rencana brilliant-nya.

Tuan dan Nyonya Kim berbalik, menatap putra mereka penuh tanya.

“Aku lupa mengatakan pada eomma dan appa bahwa semalam aku berkelahi demi menyelamatkan gadis yang kusuka,” Kibum memulai skenarionya.

“Maksudmu, semalam Nicole akan diperkosa?” tanya Nyonya Kim. Wajahnya mulai panik.

Kibum berdecak kesal. Sangat kesal! Sudah berapakali ia mengatakan bahwa ia tidak suka dengan pernikahan ini dan kenyataan bahwa eomma-nya sama sekali tidak peka terhadap perasaannya. “Eomma! Aku tidak pernah mengatakan aku menyukai Nicole. Kami hanya sahabat sejak kecil yang dipaksa menikah karena keinginan eomma dan appa-“

Geumanhae! Cepat katakan siapa gadis itu?” rupanya Tuan Kim jauh lebih peka dari istrinya. Atau mungkin ia memang menyadari dari awal bahwa putranya memang tidak tertarik pada Nicole yang merupakan sahabat kecilnya itu.

Kibum tersenyum, tersenyum lebar meski itu membuat lukanya kembali berdenyut. Semakin luka itu berdenyut, pikirannya semakin kuat mengingat rupa gadis itu. Gadis yang semalam baru saja mendapatkan ciuman pertama Kibum secara cuma-cuma. “Aku sudah menyukainya diam-diam sejak…” Kibum berhenti sejenak, berpikir untuk kalimat selanjutnya. “Aku tidak ingat sejak kapan, yang jelas aku menyukainya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menikah dengannya. Yeah! Hanya dengannya,” Kibum menggantungkan kalimatnya. Menunggu reaksi apa yang akan diperlihatkan kedua orangtuanya.

Ia tersenyum lagi, senyum penuh kemenangan karena kedua orangtuanya terlihat begitu gugup. Bahkan seolah menahan nafas menunggu kelanjutan penjelasan dari Kibum. “Gadis itu, gadis paling cantik yang pernah kulihat di dunia ini. Namanya Hyeri.”

Tuan dan Nyonya Kim diam. Lantas saling berpandangan, seolah mempertanyakan kebenaran atas apa yang diucapkan oleh putra mereka. Benarkah ini bukan salah satu usaha Kibum untuk menghindari pernikahannya dengan Nicole? Benarkah gadis bernama Hyeri itu bukan gadis bayaran Kibum untuk mengacaukan segalanya? Pikir Tuan dan Nyonya Kim.

“Jika gadis itu bersedia menikah denganmu, bawa dia ke mari. Aku dan appa Nicole akan membicarakan ini.” akhirnya Tuan Kim membuka suara. Ia tidak menunggu tanggapan dari Kibum dan berlalu begitu saja meninggalkan putranya.

Kibum tersenyum puas. Jelas-jelas ia akan menang dalam pertarungan ini. Selanjutnya, yang perlu ia lakukan adalah mencuri perhatian gadis pelayan café itu dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya.

***

“Semangkuk Sundubu ramyeon dan dua botol Soju. Selamat menikmati.” Ucap gadis pelayan kedai ramen. Ia menaruh semangkuk ramen dan dua botol Soju ke meja dekat pintu masuk.

“Hei, Nona! Aku membayar Seratus ribu won agar kau menemaniku minum.” Ucap lelaki yang duduk di sana. Membuat si gadis terlonjak.

Gadis itu kesal, mempersiapkan senjata andalannya untuk menyemburkan cacian dan makian pada lelaki hidung belang yang duduk di sana. Tapi niatnya terhenti saat ia melihat wajah lelaki itu, raut kekesalan di wajahnya memudar. “Oh! Minho-ssi?” tanyanya.

Minho tersenyum riang, “Duduklah. Terima permintaan maafku.” Ucapnya sambil menyodorkan sebotol Soju ke arah  si gadis.

Keduanya kini duduk di meja dekat pintu masuk, berbincang kecil sambil meneguk Soju. “Siang tadi aku ke mini market. Temanmu bilang hari ini kau sakit dan tidak masuk kerja.” Terang Minho, menjawab wajah bingung si gadis.

“Oh! maksudmu Ken. Lelaki berkepala pelontos dengan tubuh atletis itu, ‘kan?”

“Kau sakit? Tapi mengapa kau bekerja di sini? Aniyo! Maksudku, Ken bilang kau bekerja di dua tempat. Sejujurnya, aku hanya mencari kemungkinan jika kau masuk kerja di kedai ini.” papar Minho. Ia terlihat sedikit gugup karena menanyakan terlalu banyak hal pada Hyeri.

Hyeri diam, ia meneguk lagi Soju-nya. Mau tidak mau ia kembali teringat kejadian buruk semalam, di mana ada empat lelaki brengsek yang nyaris aja memperkosanya jika saja si mata rubah… Ah! Pikirannya terputus dan segera mengingat si mata rubah yang mencuri ciuman pertamanya. Membuat Hyeri kembali kesal. “Semalam…” Hyeri menggantungkan kalimatnya. Nyaris saja ia mengungkapkan kekesalannya dan mengatakan pada Minho bahwa si mata rubah itu telah mencuri sesuatu darinya.

Minho menatap Hyeri antusias, ia menaikkan sebelah alisnya. “Semalam apa?”

“Oh! Semalam ada orang yang berusha merampokku.” Akhirnya Hyeri memberi keterangan bohong itu lagi. Sama seperti yang ia ucapkan pada eomma-nya saat pagi ini membangunkannya. Mempertanyakan kemeja hijau kebesaran yang dikenakan Hyeri.

“Merampokmu? Jinjjayo? Kau tidak apa-apa? Apa yang mereka ambil? Kau tidak terluka? Apa saja yang mereka lakukan padamu? Kau…” Minho menggantungkan kalimatnya. Menyadari bahwa ia terlalu cemas pada Hyeri. Well, ia dan Hyeri memang baru saling mengenal. Tapi jujur saja, sejak ia mengatakan kebohongan pada Key bahwa ia dan Hyeri benar-benar berkencan, ia selalu mengingat Hyeri. Merasa bersalah karena menjadikan gadis itu sebagai tumbal untuk melindunginya.

Hyeri tersenyum kecil, ada kebahagiaan yang entah bagaimana membuat dadanya berdebar lebih cepat saat Minho mencemaskannya seperti tadi. “Gwaencanhayo. Aku hanya terkejut. Mereka nyaris saja mencuri barang paling berharga milikku. Untung saja ada yang menyelamatkanku. Dia…” Hyeri menggantungkan kalimatnya. Rasanya tidak mungkin menceritakan pada Minho bahwa super hero yang telah menyelamatkannya adalah lelaki sombong yang pernah membuatnya kehilangan pekerjaan.

“Dia siapa?” tanya Minho penasaran.

Hyeri diam,air mukanya berubah. Sorot matanya meredup. “Mollayo. Aku tidak tahu siapa dia.” Jawab Hyeri akhirnya.

Jinjjayo? Benar-benar seorang super hero. Hei! Bukankah itu keren?” tanya Minho. Ia terkekeh.

Hyeri hanya diam. Pikirannya terlalu sibuk. Ada banyak hal yang mengganggunya. Kenyataan bahwa ia berhutang nyawa pada si mata rubah membuatnya merasa tidak tenang. Terlebih lagi perubahan sikap si mata rubah yang begitu drastis, juga ciuman itu. Ah! Semuanya membuat Hyeri sakit kepala. Lantas gadis itu mengerang frrustasi.

Gwaen-canhayo? Hyeri-ssi?” tanya Minho.

“Oh! Aku tidak apa-apa, sungguh.” Hyeri menyadari bahwa Minho terus memperhatikannya. Ia tidak bebas mengungkapkan perasaannya yang sedang kacau.

Minho mulai meraih sendok, lalu mengaduk-aduk ramennya. “Euh, Hyeri-ssi. Sebelumnya aku minta maaf untuk kejadian di pesta ulang tahun Minhee dan jika tidak keberatan kumohon agar kau tidak tersinggung,” Minho memulai topik tujuannya.

“Hei! Bukankah kau sudah minta maaf? Kau juga sudah mentraktirku makan, Minho-ssi. Tidak usah cemas, aku tidak tersinggung.” terang Hyeri. Ia tersenyum kecil, merasa lucu akan tingkah Minho.

“Bukan soal itu, Hyeri-ssi.”

“Lalu?” tawa di wajah Hyeri mulai pudar.

“Kau bekerja di dua tempat sekaligus. Saat aku ke rumahmu, aku melihat dua anak laki-laki berusia 12 tahunan, wajah mereka serupa. Kurasa mereka adik kembarmu. Aku juga bertemu dengan eomma-mu, ia mengatakan bahwa ia menjual sayur dan ikan di pasar. Hyeri-ssi, jika kau tidak tersinggung, maukah kau berkeja di hyper market seperti yang pernah kutunjukkan padamu? Gaji di sana jauh lebih besar dibandingkan kau bekerja di mini market dan kedai ramen ini.” tanya Minho. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap Hyeri penuh ketakutan. Ia benar-benar takut jika Hyeri akan tersinggung dengan ucapannya.

Hyeri diam, ia menatap Minho. Menatap bola mata bulat itu, menelisik ke dalamnya. Mencari tahu apa yang ingin diketahuinya.

“Oh! Itu hanya sebuah tawaran, Hyeri-ssi. Kau punya hak untuk tidak menerimanya. Aku tahu kau membiayai sekolah adik kembarmu.” Minho lantas mengaduk lagi ramennya dan mulai memakannya cepat.

“Minho-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” alih-alih menerima atau menolak tawaran Minho, Hyeri justru lebih menginginkan satu pertanyaan dalam kepalanya terjawab saat itu juga.

Minho menelan ramennya bulat-bulat. Meneguk Soju lalu menatap Hyeri.

“Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau baik sekali padaku?” tanya Hyeri serius, ia menatap lurus ke dalam mata bulat Minho.

Minho mendesah pelan, ia tahu bahwa Hyeri bukan gadis bodoh yang dengan mudahnya bisa ia bodohi dengan iming-iming uang atau pekerjaan. Hyeri adalah gadis cerdas dengan semangat yang kuat untuk tetap bertahan hidup. Lantas Minho tersenyum kecil, bagaimanapun, Hyeri sudah bisa membaca sebagian besar tujuannya.

“Baiklah, Hyeri-ssi. Aku tahu kau sudah bisa membaca sebagian besar tujuanku. Maaf, tidak bermaksud menyinggungmu atau membuatmu merasa rendah. Yang kuperlukan saat ini adalah bantuanmu.” Terang Minho santai. Ia kembali melempar senyum menawan yang selalu mampu mencuri hati Hyeri.

“Bantuan?”

“Kau sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Minhee. Sebenarnya aku malu dengan ini, tapi kau terlanjur mengetahui lebih banyak dari yang seharunya. Maka dari itu, kau harus menolongku. Kau tidak boleh berhenti sampai di sini,” terang Minho, membuat Hyeri mengerutkan dahinya.

Pikiran Hyeri berkecamuk. Baginya, hanya ada dua alasan mengapa si menang akan meminta tolong pada si kalah. Yang pertama, karena si menang tidak mau melakukan hal-hal kecil yang seharusnya ia lakukan demi kelangsungan hidupnya sendiri. Dan yang kedua karena si menang kalah oleh si kalah. Baiklah, alasan kedua selalu terdengar bodoh dan mustahil, pikir Hyeri.

“Kau harus menolongku sampai akhir, Hyeri-ssi. Ini permulaan yang bagus saat Minhee benar-benar percaya kau adalah pacarku. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini sangat bagus!” Minho terlihat begitu berapi-api. Kedua mata bulatnya berbinar.

Tiba-tiba saja jantung Hyeri berdebar tak karuan. Apa ia terlalu percaya diri jika apa yang Minho inginkan adalah sebuah pertolongan untuk membuat adik tirinya itu menjauh darinya?

“Hyeri-ssi,” pikiran Hyeri buyar saat ia merasakan tangan hangat Minho menggenggam tangan kanannya. Ia terkesima, hanya mampu menatap tangan kanannya yang digenggam Minho. Memikirkan betapa beruntungnya tangan kanannya itu. “Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan sebagai imbalan jika kau bersedia membantuku. Sungguh! Aku tidak bermaksud menyinggungmu dengan kata ‘imbalan’ itu. Aku hanya merasa menemukan titik terang saat Minhee dan bahkan Jinki hyung percaya kau adalah pacarku. Hanya kau yang bisa membantuku, Hyeri-ssi.”

Hyeri masih membeku, pikirannya kacau karena genggaman tangan Minho yang semakin erat di tangan kanannya. Ia merasakan bahwa lelaki itu benar-benar memerlukan pertolongannya. “Minho-ssi, pertolongan-apa-yang-kau inginkan? Eoh? Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Hyeri sedikit terbata. Ia begitu gugup, merasa siap tidak siap mendengar permintaan Minho. Memikirkan jika saja apa yang ada dalam kepalanya sama dengan apa yang diinginkan Minho.

“Hyeri-ssi, jadilah pacarku. Jadilah pacarku hingga Minhee benar-benar mempercayainya dan berhenti mengejarku, eoh? Tidak sulit, ‘kan? Aku tidak membeli hatimu, aku hanya meminjamnya. Yang perlu kau lakukan hanya berpura-pura menjadi pacarku. Eottaeyo?

Hyeri membeku, rasanya ia tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Bahkan lidahnya terasa kelu. Ia tidak salah dengarkan? Menjadi pacar Minho? baiklah, ia tahu itu hanya sandiwara. Tapi, menjadi pacar palsu Minho? Sungguh! Bahkan ia tidak pernah membayangkan hal ini terjadi begitu cepat. Ia baru mengenal Minho dan jujur saja Minho berhasil mencuri hatinya. Tapi tawaran ini… terlebih lagi tawaran pekerjaan dengan gaji yang jauh lebih baik. Ia juga bisa meminta imbalan uang dari Minho untuk mebayar sekolah adik kembarnya- Jaesun dan Jaehwa. Ini pekerjaan mudah, ia tidak harus lelah, ia tidak harus mengangkat lagi kardus-kardus berisi minuman ringan, tidak usah lagi mengangkat baki berisi mangkuk panas, tidak usah lagi merasa cemas mendekati awal bulan karena harus membayar begitu banyak tagihan.

“Hyeri-ssi, eottaeyo? Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku berjanji! Aku akan melindungimu sebagai pacarku. Aniyo! Maksudku, kita hanya akan berpura-pura menjadi pacar dan aku tidak akan memanfaatkan hal itu untuk mengambil keuntungan darimu. Aku akan memperlakukanmu seperti pacar yang sesungguhnya.”

Lagi, ucapan Minho membuat Hyeri membeku. Ia hanya mampu menatap mata bulat penuh harap itu. Malaikat itu, malaikat tampan yang turun dari langit itu tengah meminta pertolongan pada si gadis miskin. Memintanya untuk menjadi kekasih sang malaikat. Benarkah?

“Hyeri-ssi, eottaeyo?” tanya Minho tak sabaran.

Hyeri mengumpulkan kesadarannya, mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menerima atau menolak penawaran dari Minho. “Minho-ssi, aku…”

“Aku akan memberimu waktu, Hyeri-ssi. Pikirkanlah. Aku akan menunggumu.” Potong Minho. Ia tahu bahwa sebuah pergulatan kecil tengah berlangsung dalam pikiran Hyeri.

=TBC=

27 thoughts on “Excuse me, Miss – Part 4

  1. “Ia menghitung dalam hati. Perkiraannya tidak mungkin meleset.” Wuaahh abang konci PD dahsyat..haha kyknya udah pengalaman jd player ni.😄
    Jd itu sama2 first kiss mereka? Owooww ga mudah dilupain tu kyknya.. #eh? Sumpah aku gregetan baca part itu..haha
    Ikhhh Minho bikin Hyeri galau kan? Untung aja Hyeri ga langsung jawab. Pasti abis ini Key juga minta Hyeri jd pacarnya? Iya kan eon? Hehe

    Ayoo lanjut lagi eon.. Bikin yg lebih sweet ya..hohoho🙂

    • .hhe. abang konci udah ahli mempermainkan emang *plaaakkk*
      iya nih, ternyata itu first kiss-nya Key juga, tapi dia sembarangan banget ngasihin first kiss-nya itu.
      Nah, abis ini Key mnta Hyeri jadi pacarnya ga yaa? nantikan yaa lanjutannya, ga lama lagi ko.hhe.
      Makasih udah baca, maaf part ini romance-nya masih kurang berasa😉

  2. Hahahaha. .
    K-duanya membeku dgan pkran msing2. Sat membca ssuatu mlintas dlam pkiran key aku mengira key pasti memanfaatkan stuasi ini untk membntunya membtalkan pernkahannya dgan nicole. .

    Wuuuaahh. .
    Dlam stu malam hyeri mendpat 2 x ciuman, aku jga mau apa lgi nma kmi kan sma jdi ada rsa cemburu gtu

    kasian key dsram, krain tdi pke air menddih, bsa hncur tu wjah tmpan oppa key,

    part 5 bruan ya eonni, heyri tunggu

    • .hhe. Heyri-ssi tau aja nih rencananya Key apa.

      puk..puk… sabar yaa, jangan sirik sama Hyeri ^^v

      waduh, kalo pake air mendidih langsung rusak muka porselennya Key.
      oKEY, part 5-nya nantikan yaa. Thank u sudah baca😉

  3. Yeaaaaaaaaa pub juga part 4 nya…
    Tetep aja sifat PD nya Key gak pernah ngilang, kekeke
    dan aigoo dengan gampangnya Key mencium Hyeri, lama,berkali kali dan menikmatinya. OMG OMG itu step pertama supaya Hyeri jatuh hati kah? Tapi kasian. Hyeri memang terselamatkan keperawanannya,tapi bibirnya dicuri Key. Tak apalah kalo itu Key.plaaaaaaakkk (ngaco)

    itu orangtua key apalagi ayahnya sempet bikin emosi, aigoo key nya tak diberi kesempatan untuk bicara,tapi akhirnya mereka bangga juga saat mendengar bahwa anaknya jadi pahlawan bertopeng.eh xd
    bentar deh, key gak suka berbohong dan gak pernah berbohong, terus pas dia bilang ia suka Hyeri itu beneran? Atau ini kebohongan pertama yang ia lakukan agar memenangkan ‘pertarungan’. Kau benar benar menyebalkan Key, aku sumpahin kamu jadi cinta mati sama Hyeri (asah golok.lho)

    ah mianhe eonni,aku malah ngeresume ff mu di komentar u,u
    kebiasaan ngeresum buku (gak nanya)
    pokoknya cerita makin seru,konfliknya juga lebih tercium(?). Kekeke
    next chap kembali ditunggu. Dan ff nya Jinki juga.hehehe

    • Waduh! Iya yah, kasian Hyeri. Lepas dari kandang macan, malah masuk kandang rubah *?*

      .hhe. sepertinya itu kebohongan entah keberapa yang dilakukan key *mungkin*, tapi karena orang2 selalu menganggap dia orang paling jujur, jadi dia bisa seenaknya bohong *plaaakk*

      Ne, gpp ko Hikma. aku malah seneng dengan resume-mu.hhe. Next part-nya ga lama lagi yaa. Gomawo sudah baca. Duh! FF Jinki sepertinya abis Excuse me, Miss selesai yaa biar ga pusing *plaaakkk*😉

  4. eh si kembar itu. hahahahahaha apa kabar jaesun n jaehwa?

    “Aku tidak membeli hatimu, aku hanya meminjamnya.” iih mino.. tetep aja mah kalau jatuh hati susah ngebalikinnya -.-”

    klo key pngn deketin hyeri n hyeri seneng sama dia, kynya key harus jd org baik yg gak sombong ya. semacam mino gtu.

    rencana key bakal terhalang sama rencana mino nih. dan hyeri semakin galauuuuuu… trus nicole pasti bakal beraksi juga. hmhmhm

    kasian jg sama key pas dimarahin ayahnya ky gtu T.T /peluk erat key/

    ditunggu pokoknya lanjutannya~~~ (9^^9)

    • Iya nih, udah lama si kembar ga dapet peran *?*

      .hhi. biasalah Minho, sukanya bkin cewe galou ^^v

      Konfliknya baru aja dimulai nih.hhe. mudah2an ga terlalu complicated. Jadi ga pusing bacanya🙂

      oKEY, nantikan part berikutnya yaa. Thank u, Rahmi😉

  5. hihihiii,,,
    si Key dahsyat ma men…kkkk
    sama2 menikmati ciuman pertama ternyata,,ahahai,, ikut tersipu gituuu
    dan,, kenapa kok kayanya key vs minho?pengen key vs jinki sieh sekali2..ahahaa #plak
    ok, ditunggu lanjutannya..^^

  6. Akhirnya ff yang paling ditunggu ua pu lish… senangnya…
    gak tau kenapa aku suka sama karakter bad boy nya key.. hehe
    hyeri.. pokoknya jabgan mau jadi pacar pura2nya minho…pokoknya harus sama key aja hehehe maksa…

    ditunggu part selanjutnya..
    makasiiiiiiii…

  7. Pas Key nyebut Jonghyun laki-laki sialan, rencana mau protes nie sama author’a haha Tapi setelah tau alasan Key begitu sebal sama jjong, eh senyum senyum gaje dch😀

    Paling greget sama adegan pas key main cium2 segala, lucu + deg deg kan. Lucu’a sch karena Key mesti nahan ego’a buat gak bikin msalah sama Hyeri, ngebayangin’a pasti seru ^.^ Nah, deg deg kan’a pas adegan kissue itu hehehe …..

    Dan terakhir, Itu minho bikin galau aja. Cewek mana sch yg nolak kalo ada nawarin jadi pacar pura2 cowok setampan Minho.

    Lanjut lanjut Cha😀

    • .hhe. maaf yaa, Jjong-nya aku buat jadi musuh bebuyutan Key nih di sini. Tapi, setuju kan yaa? ^^v

      biasalah di sini Key si bad boy bener2 bad boy sekali. sampe2 hal begitu dijadiin mainan.ckckck.

      Aish! Pasti Hyeri galou abiss itu mikirin tawarannya Minho.

      oKEY, nantikan yaa kelanjutannya. Makasih udah baca, Neng😉

  8. annyeong!!!
    reader baru disini!
    kak, aku fans kakak lho! keren ceritanya… gimana sih bikin bahasanya gak terlalu monoton?
    lanjutannya kapan? lama T.T
    itu onew oppa apa key oppa si?
    aku gk mau pelakunya ada diantara mereka..
    keep writing… nan gidarilke ^^

    • Hallo, Minyuki.
      Makasih udah main ke sini😉
      Wah, fans ku? duh, berasa artis *plaakkk*
      Hemm… gimana yaa? aku juga kurang tau kalo bahasa yang aku pake ga monoton.hhe. ^^v

      Eh eh, kamu kayanya salah naroh komen say. Maksudnya di FF Moonlight Sonata bukan yaa?

  9. Aaaa key nyium hyeri!!! seketika adegan kisseu bonnie & clyde terbayang dkepalaku xD
    First kiss pula omomomo
    Klo hyeri nerima tawaran minho, key nya gimana??!!
    Key g boleh nikah sama nicole. tp minho kasian jg sihh..
    aishh ini kenapa malah aku yang galau? -_-
    Sumpah gregetan baca ini…
    Lanjut dulu….

    • hooh, padhal ff ini nongol duluan sbelum heboh kisseu2 itu.heheh. tapi thank to B&C, jadinya adegan kisseu di sini sangat2 acceptable.heheh.

      jiah galou nih, Ummul. kalo gitu Key nikah sama aku aja biar adil bagi semua pihak.hahaha.

  10. gentle kiss nya bkin nahan napas eon!! abang konci emng player ya hehe

    tp niat key jahat sih! dia mau ngapain hyeri? dibuat jatuh cinta trus dikawinin trus disakiti trus diceraikan kah?? wah tak cabik bibirmu yg sexy itu bang.. keke

    kyknya ini kebalikan dr archangel ya. kl archangel yg tersiksa adlh key karna perbuatan hyeri sekrng hyeri lah yang tersiksa karena perbuatan key. ckckck, balas dendam ya eon wkwkwk. ok lanjut! btw jjong blm muncul. muncul sbgi penjahatkah?

    • Wiiihhh. sabar, sabar, Hana. Coba tarik nafas dulu pelan2 sambil pejamin mata.hehe. ^^v

      hemm, ya bisa jadi. Kan waktu Archangel banyak yang benci Hyeri tuh. Yah, siapa tahu di Excuse me, Miss ini Hyeri jadi ga dibenci lagi *plaakkk*
      Jjong-nya belum muncul nih. Nantikan aja yaa.
      Thank u😉

  11. Omg! Minho perlu bantuan Hyeri buat jadi pacarnya???😮 Hyeri jadi bimbang dan seneng bgt haha
    “Gadis itu, gadis paling cantik yang pernah
    kulihat di dunia ini. Namanya Hyeri.” Kyaaaaaaa Key ntar kmu yg jatuh cinta loh sama Hyeri kekekeeke~
    Seruuuseruuuuu~

  12. Kyaaaaaa nungsep kebntal …ntu popo..kisseu…..aigoooo aigoooooo eommaaaaaa….., key key bsa ja wlo kta na bibirna atittt pi rela deh alo hyeri yg dicium kan “…gadis pling cntik yg prnah aq lhat didnia”…….& hyeri..how did it feel? #tabokkk mulut ndri kkkkkkkk,,, key yg ga prnh boong tu sbnrnya sdah mnyadari prasaannya & dia ungkpin ke eomma appa nya bhkan so sweet gitong…..”aq tdk ingt sejak kpn, yg jlas aq menyukainya,aq sdah brjnji pd driq sndri utk menikah dgnya…” keyyyy manisss nyaaaa, pi sptna hti hyeri condong ke Minho scra Minho hangat & prhtian bgtu tmpan pula ah gadis mna ga kejeeerrr dibuatna, & yy bkin ngakak pas si appa mrah2…lelaki brengsek siapa lg kalau bkan kim jonghyun….lelaki sialan kim jonghyun kelaki sialan kkkkkkkkkkk kibeom ngeyel ke eommanya gra2 salah sebut merek si eomma….., oke key keep going…smga trjerat bnran dlm cnta hyerin jd ga bsa nglpsin hyeri nntina

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s