I need romance #4 – Wind Chime [1.2]

cool-fuurin

Author             : Song Euncha

Cast                 : Kim Kibum [Key] SHINee | MinHye ri [OC]

Genre              :  Romance

Rating             : PG 15

You better read “I would” first.

“Baby, can you hear the melody of breeze? The tinkle of my heart everytime I miss you.”

Euncha’s back! *sok ngartis* di tengah otak yang stuck dan agak kehilangan passion dalam menulis ff, muncullah I need romance nomor 4 *berasa Mozart* Maaf kalo geje dan banyak typo mudah2an ff ini bisa mengembalikan passion menulis saya. Thank u😉

Gadis itu kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Menambahkan lagi blush on orange salmon yang mempertegas tulang pipinya. Lalu menatap lagi penampilannya. T-shirt putih dan jaket baseball merah. Ia tersenyum, memoleskan lipbalm merah muda pada bibirnya sebelum akhirnya melangkah meninggalkan kamar.

Ia duduk di meja makan, menarik nafas dalam sebelum bersiap menyuapkan roti panggang dengan riang. Digigitnya roti panggang dengan selai strawberry kesukaannya, lantas bergumam sambil menganggukkan kepala. Rasanya selalu enak seperti biasanya. Oh! bahkan mungkin selalu bertambah enak setiap kali ia memakannya.

Wanita paruh baya yang duduk di hadapannya tersenyum tipis, “Hyeri-ya, kau terlihat ceria sekali. Adakah sesuatu yang terjadi?” tanyanya.

Hyeri menelan roti panggangnya cepat, lalu meneguk cokelat hangat. “Segala sesuatunya berjalan baik dan lancar, Eomma. Jadi aku sangat bahagia melalui hari demi hari.” terangnya riang.

Wanita yang dipanggil Eomma tadi kembali tersenyum, tapi kali ini senyum penuh rasa iba. Hyeri menyadari senyum aneh dari eomma-nya. Lagipula, ini bukan pertamakalinya ia melihat senyum aneh seperti itu. “Eomma, waegeuraeyo?” tanyanya, lalu menaruh roti panggang ke atas piring.

Eomma-nya kembali tersenyum sambil menghela nafas panjang, seolah mengenyahkan sesuatu yang mengganjal dadanya. “Eomma hanya mencemaskan kesehatanmu.” Terangnya singkat.

Eomma, aku baik-baik saja. Dua tahun ini semuanya baik-baik saja. Ya, meskipun aku merasa ada beberapa hal yang aneh.”

“Kau tahu apa yang aneh?”

Hyeri diam, mengernyitkan dahinya sesaat sambil memikirkan hal-hal apa saja yang membuat ia merasa aneh selama dua tahun belakangan. “Aku tidak ingat kapan teman baikku berhenti bekerja di café, dia sudah menikah. Mungkin itu terjadi saat aku mengalami kecelakaan. Lalu,” Hyeri terdiam, menggigit bibir bawahnya. “Koleksi novel-novelku tidak ada lagi di tempatnya.” Lanjutnya dengan nada suara menurun, lalu menundukkan kepalanya sambil memberenggut kecewa.

“Hyeri-ya,” tangan Eomma telah menggenggal tangan kanannya. “Kau melupakan banyak hal. Eomma tidak pernah membahas lebih jauh karena ia meminta Eomma untuk tidak melakukannya. Dia juga tidak mau memaksamu untuk mengingat yang sudah kau lupakan. Tapi, sudah dua tahun berlalu dan kau sama sekali tidak mengingat yang telah kau lupakan. Eomma tidak bisa membiarkan dia menderita terus seperti ini menunggumu.” Terang Nyonya Min panjang lebar. Wajahnya terlihat begitu sedih, sorot matanya redup, dan suaranya bergetar.

Eomma-“

Eomma tidak bisa hanya diam dan melihat semuanya berjalan seperti ini, Hyeri-ya. Jika kau tidak mengingatnya, eomma akan memaksamu mengingatnya.” Kali ini Nyonya Min menekankan intonasi dalam setiap kata-katanya.

Eomma, aku-“

“Kapan kau akan mengingatnya, eoh? Ini sudah terlalu lama.”

Eomma…” suara Hyeri mulai bergetar, ia tahu eomma-nya sedang marah. Tapi ia sudah dewasa, tidak seharusnya eomma-nya marah seperti itu hanya karena ia melupakan sesuatu.

“Temui dia sekarang!”

Hyeri diam.

“Hyeri-ya!” panggil eomma-nya.

“Siapa? Siapa yang harus kutemui, Eomma? Eomma akan bilang bahwa aku sudah menikah dan harus kembali pada lelaki itu. Tapi siapa, Eomma? Siapa? Aku bahkan tidak pernah tahu siapa dia. Bagaimana bisa aku sudah menikah? bagaimana bisa?” lantas Hyeri mulai terisak. Hatinya benar-benar menolak kenyataan yang selalu dikatakan eomma-nya. Usianya baru 20 tahun, tidak mungkin ia sudah menikah. Masih banyak hal yang ingin dilakukannya sebelum menikah.

Sesaat hanya kesunyian yang menguasai atmosfir antara keduanya. Nyonya Min menghela nafas. Ia jelas sedih melihat Hyeri menangis, tapi tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia lelah membiarkan menantunya menderita seorang diri menunggu Hyeri mengingat lagi apa yang telah dilupakannya.

Selama dua tahun ini, ia membiarkan Hyeri menjalani hidup seperti yang ada dalam kepala gadis itu. Berharap tak lama lagi Hyeri mengingat apa yang telah ia lupakan. Tapi kenyataannya, Hyeri sama sekali tidak pernah mengingat apa yang telah dilupakannya. Bahkan, memperlihatkan foto pernikahan milik orang lain pun tidak membuat Hyeri mengingat apa pun. Mengerikan.

Nyonya Min lantas mempererat genggaman tangannya pada Hyeri. “Hyeri-ya, jika kau mau memulai untuk mengingatnya, kau akan segera mengingatnya. Dia adalah lelaki yang paling kau cintai, kau tidak mungkin menyesal karena kau sendiri yang memutuskan untuk menikah dengannya,”

Hyeri tetap terisak, tidak menanggapi apa yang dikatakan eomma-nya.

“Mulailah untuk kembali mengenalnya seperti dulu, hemm? Hyeri-ya, dia menunggumu. Dia menunggumu selama dua tahun ini, tidakkah kau kasihan membuatnya menunggu seperti ini?”

Hyeri menatap eomma-nya, membiarkan air matanya jatuh tak tekendali. Bibirnya bergetar, berusaha untuk tidak meledak. “Aku takut, Eomma. Aku takut menerima kenyataan bahwa aku sudah menikah. Aku masih…” ia kembali terisak, tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“Hyeri-ya, eomma janji kau tidak akan menyesal. Dia adalah pilihanmu dan pilihanmu tidak salah. Kau harus kembali padanya, eoh?” Nyonya Min kembali berusaha meyakinkan.

Hyeri hanya diam. Lalu menganggukkan kepala meski pada kenyataannya ia tidak mau menghadapi kenyataan yang dipaksakan ini.

“Keputusanmu sudah benar. Sudah benar.”

***

Gadis itu hanya diam di dapur, seharian ini ia sama sekali tidak bergairah melakukan pekerjaan seperti biasanya. Seluruh pikirannya tersita pada obrolannya pagi tadi. Hatinya tetap tidak bisa menerima bahwa ia adalah seorang wanita yang sudah menikah, usianya kini 25 tahun. Bukan lagi gadis yang menunggu pangeran tampan melamarnya. Ia tak henti memikirkan kehidupan macam apa yang akan ia lalui setelah mengikuti keinginan eomma-nya untuk kembali pada lelaki itu.

Pikirannya berusaha keras mencari-cari memori yang telah hilang, ingin mengetahui apa saja yang ia lakukan setelah menikah. Apa ia berhenti bekerja di café ini? apa ia punya pekerjaan lain? Lalu, bagaimana lelaki itu memperlakukannya? Ah! Pikiran-pikiran itu membuat kepalanya pening.

Jinjja? Apa yang terjadi?”

“Tidak mungkin!”

Cappucino?”

Suara-suara itu serta merta membuat pikiran si gadis buyar. Ia lantas beranjak dari jongkoknya, menoleh ke arah teman-temannya yang sedang sibuk membicarakan sesuatu.

“Hey, Hyeri-ya buatkan secangkir Cappucino!” teriak salah satu dari mereka.

Meski penasaran, tapi suasana hatinya yang buruk membuat Hyeri malas bertanya. Maka, dengan sedikit malas ia mulai membuat secangkir Cappucino.

“Secangkir Cappucino sudah siap.” Ucap Hyeri malas.

“Eh, kau saja yang mengantarkannya ya, Hyeri. Tolong.”

“Eh? Tapi aku-“

“Tolong ya. Aku harus mengantar cake ini ke meja nomor 6, yang lainnya juga sedang sibuk. Cuma kau yang tidak sibuk, Hyeri-ya. Ya?”

Hyeri mendesah pelan, pelan sekali dan nyaris tidak terdengar. “Baiklah, ini untuk meja nomor berapa?”

“Meja nomor 1, dekat pintu masuk.”

***

Hyeri memasang wajah ceria, mau tidak mau ia harus melakukannya. Seorang pelayan café harus selalu terlihat ceria saat mengantarkan pesanan, menyembunyikan kesusahan yang sedang dihadapi. Ia berjalan ke arah meja nomor 1 dekat pintu masuk. Seorang lelaki duduk membelakanginya, ia mengenakan t-shirt merah.

“Secangkir Cappuci-“ kalimatnya terhenti, ia sedikit terkejut dengan pelanggan yang duduk di sana.

“Oh! Thanks.” Ucap si lelaki, lantas menarik cangkir yang belum berada di hadapannya dengan sempurna.

“Key-ssi?” intonasi suara Hyeri lebih terdengar seperti pertanyaan untuk memastikan.

Key menoleh, “Oh! Hyeri-ssi. Kau masih mengingatku?” tanyanya ringan, lalu mulai menyesap Cappucino-nya. Wajahnya begitu cerah, dihiasi dengan senyuman yang tidak pernah Hyeri lihat sebelumnya.  Oh! Bahkan kini rambutnya berwarna hitam.

Hyeri mengangguk, “Teman-temanku membicarakan Anda di belakang, baru kali ini Anda memesan Cappucino, bukan Vanilla latte.”

Key lantas terkekeh, “Jinjja? Bukankah ini bagus?”

“Apanya?”

Cappucino,” Key mengangkat cangkirnya sesaat lalu kembali menyesapnya. “Bukankah ini awal yang bagus?” tanyanya lagi.

“Awal yang bagus? Ah! Anda bosan dengan Vanilla latte?” tebak Hyeri.

“Aku bosan menunggunya.” Jawab Key cepat.

Hyeri diam, sejenak ia memikirkan ke mana arah pembicaraan Key. Dengan cepat menyadari bahwa yang dimaksud Key adalah gadis yang telah membuatnya kalah, gadis yang pernah Key ceritakan padanya, dan gadis yang ada dalam foto. Oh! Hyeri segera ingat bahwa Key meninggalkan album fotonya beberapa waktu lalu.

“Oh! Key-ssi, sepertinya Anda pernah meninggalkan sesuatu di café ini. Aku menyimpannya.” Ucap Hyeri, lalu tanpa menunggu tanggapan Key berlalu menuju dapur.

Dengan cepat Hyeri masuk ke ruang ganti, membuka lokernya dan mengambil album yang bentuknya sama seperti passport itu. Ia hendak kembali melangkah saat dalam pikirannya entah mengapa ingin melihat lagi foto itu. Ia membukanya lagi, melihat lagi sebuah foto pernikahan Key dengan gadis yang memiliki wajah identik dengannya. Ia tersenyum kecil, jadi, Key telah memulai untuk melupakan gadis itu? Bukankah itu awal yang bagus? Pikirnya.

Otaknya baru saja memerintah tangan untuk menutup album itu, tapi tangannya mengkhianati dan justru membiarkan kedua mata Hyeri menatap lagi wajah si wanita dalam foto. Ia tertegun, pembicaraan dengan eomma-nya pagi ini kembali berdengung dalam kepalanya dan itu membuat jantungnya berdebar. Mungkinkah ini suatu kebetulan? Ataukah mungkin… Hyeri memutus pikirannya.

***

Hyeri kembali tersenyum kecil, adalah sesuatu yang aneh baginya melihat Key yang tidak lagi duduk di meja paling ujung dekat jendela dan tidak memesan Vanilla latte lagi. Tapi mengapa  ia merasa sedih? kesedihan aneh yang ia sendiri tidak bisa jelaskan, seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga. Aneh! Tapi ia memang suka memperhatikan Key yang duduk di meja paling ujung dekat jendela, ia senang melihat lelaki yang biasanya mengenakan jas sambil menatap ke luar jendela. Seperti sebuah mimpi. Yeah! Hyeri seperti sering melihat lelaki itu duduk di dekat jendela. Key seperti seseorang yang selalu muncul dalam mimpi Hyeri.

“Ini milik Anda.” Ucap Hyeri saat ia telah tiba di depan meja Key. Menyodorkan album bersampul merah dengan tulisan sambung bercetak miring warna emas.

Key mendengus, “Kau mengingatkanku lagi padanya.”

“Apa?”

Key mengambil album tadi, lalu mengacungkannya. “Ini! kau mengingatkanku lagi padanya. Bisakah kau menyimpannya untukku?” pinta Key acuh tak acuh, lalu kembali menyesap kopinya.

“Eh? Maaf, Key-ssi tapi aku tidak bisa.”

Key berdecak, “Hyeri-ssi, bukankah kau yang mengatakan padaku untuk melupakannya? Aku sudah berhenti duduk di meja paling ujung dekat jendela dan berhenti memesan Vanilla latte. Aku bahkan mengenakan pakaian yang tidak biasanya aku gunakan ke tempat ini. Kau lihat? Bahkan kini rambutku sudah kembali berwarna hitam. Usahaku sudah sejauh ini, tapi kau merusaknya begitu saja!” protes Key panjang lebar.

Hyeri diam, ia tahu bahwa Key sedang melancarkan keluhan padanya. “Aku tahu. Maaf. Tapi aku tidak bisa menyimpan foto pernikahanmu, Key-ssi.”

Key kembali menatap Hyeri, ekspresi wajahnye berubah. “Kau sudah melihatnya?” tanya Key penuh rasa ingin tahu. Hyeri mengangguk. “Kau sudah melihatnya? Berapa kali kau melihatnya?”

Hyeri diam, ia tidak tahu mengapa Key begitu antusias tentang seberapa banyak Hyeri melihat foto itu. Apa itu karena ia ingin meyakinkan bahwa Hyeri sadar akan kesamaan wajahnya dengan gadis dalam foto? Ataukah mungkin… “Dua kali.” Jawab Hyeri datar.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Key, lalu menyesap lagi kopinya.

“Hemm, bagus. Foto pernikahan yang bagus. Gaun pengantinnya cantik-” Ungkap Hyeri.

“Bagaimana wajahnya? Apa ia cantik?” sambar Key tak sabaran.

“Eh?”

“Bagaimana wajah istriku? Menurutmu ia cantik?” tanya Key lebih jelas, membuat Hyeri entah mengapa tertunduk.

Ragu-ragu, Hyeri menatap Key. Menatap sepasang mata rubah yang dilapisi lensa kontak abu dan itu membuatnya merasa terseret ke sebuah kenangan. Kenangan yang ia sendiri tidak tahu yang mana. Seperti sebuah mimpi, terjadi begitu cepat dan Hyeri tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

“Cantik sekali, Key-ssi.” Gumam Hyeri.

Key menganggukkan kepalanya, lalu terkekeh pelan sebelum akhirnya menyeruput Cappucino-nya. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada kursi, menumpangkan kaki kanan di atas kaki kirinya. Ditaruhnya cangkir Cappucino, lalu melipat kedua tangan di depan dada. Menatap Hyeri seolah sedang mencibir. “Tapi, dia tidak senang memakai gaun pengantin itu.”

Hyeri mengerutkan dahinya, lelaki bernama Key ini benar-benar penuh misteri. Selalu melontarkan kalimat tidak lengkap, seolah Hyeri telah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Lantas Hyeri menatapnya seolah mengatakan apa?

Key mendesah ringan, “Dia lebih suka memakai seragam pelayan café.” ungkapnya, kemudian kembali menyesap Cappucino-nya. Tangannya kemudian meraih buku menu yang terletak tak jauh dari cangkir dan mulai membolak-balik halamannya.

Hyeri diam, mendengar apa yang baru saja diucapkan Key membuat lututnya bergetar. Benarkah yang baru saja ia pikirkan? Benarkah sesungguhnya wanita dalam foto itu adalah dirinya? Min Hyeri. Jadi, lelaki yang dimaksud eomma-nya adalah Key? Baiklah, lelaki itu memang tampan, memiliki senyum menarik dan mata licik seperti rubah yang memikat. Tapi…

“Menurutmu, Tiramisu mousse cake ini lezat?” tanya Key acuh tak acuh, membuyarkan pikiran Hyeri.

“Eh?” Hyeri menatap ke arah buku menu yang ditunjukkan Key. Sebenarnya, kini ia sama sekali tidak bosa fokus. Ada banyak hal yang tiba-tiba saja muncul dan mengganggu pikirannya. “Bukankah Anda tidak suka Tiramisu?” tapi lantas pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Hyeri, seolah sudah berada di sana dan bahkan Hyeri tidak bisa mengendalikannya.

Key menatap Hyeri, ujung bibir kanannya tertarik. “Benarkah? Bagaimana bisa kau tahu? Kau mencaritahu tentangku?” serentetan pertanyaan segera menghujani Hyeri.

Hyeri berjengit, sudah jelas ia sendiri tdiak mengerti mengapa ia mengatakan hal itu. Bodohnya! “Euh… aku hanya… maaf.” Ucapnya terbata.

Key menganggukkan kepalanya, “Kalau begitu aku pesan cake yang kusuka.” Terangnya datar. Ia menatap Hyeri, seolah menunggu reaksi gadis itu.

Hyeri diam, ia menunggu Key menyebutkan cake yang akan dipesannya. Tapi lelaki itu justru menutup buku menu dan menaruhnya di atas meja. Kembali bersandar pada kursi dan menyesap Cappucino-nya. Lelaki itu sadar akan tatapan Hyeri, lantas ia bertanya “Kenapa tidak membuatkan pesananku?”

Hyeri berdecak dalam hati. Sungguh! Key memang aneh. Kini ia benar-benar berubah dari Key yang selalu duduk sunyi di dekat jendela, menjadi Key yang begitu menyebalkan. “Anda belum menyebutkan pesanannya.” Protes Hyeri.

“Kau tahu apa yang tidak kusuka, jadi seharusnya kau tahu apa yang kusuka.” Terang Key acuh tak acuh. Membuat Hyeri membulatkan kedua matanya tak percaya. “Jyaa, buatkan pesananku dan kau bisa kembali bekerja.” Ungkapnya seolah mengusir Hyeri dari tempat itu.

***

Hyeri melirik jam dinding di dekat ruang ganti. Sudah pukul 7 malam dan shift-nya sudah selesai. Sepanjang hari ini, Hyeri lebih sering melamun. Ada banyak hal yang mengganggunya. Benarkah ia akan kembali lagi pada ingatannya yang dulu? Tapi ia tidak siap, ia tidak mau menjalani kehidupan baru menjadi seorang Min Hyeri yang jauh lebih dewasa dari ini. Sungguh! Ia merasa begitu ketakutan, terlebih lagi hatinya begitu meyakini bahwa lelaki bernama Key itu adalah orang yang ia lupakan.

Strawberry chiffon cake, entah mengapa Hyeri berani membawakan cake itu ke hadapan Key. Ajaibnya, lelaki itu sama sekali tidak protes dan mengucapkan terimakasih. Seolah apa yang dibawakan Hyeri adalah pesanan yang langsung diucapkannya. Lalu lelaki itu tidak banyak bicara, memperlakukan Hyeri seperti seorang pelayan biasa. Yeah! Pelayan biasa. Memang itulah yang seharusnya ia lakukan. Tapi mengapa rasanya ada sesuatu yang hilang? Ada sesuatu yang aneh saat lelaki itu tidak lagi berusaha mencari-cari perhatiannya.

Hyeri memutuskan untuk memikirkan hal itu setibanya di rumah. Sungguh! hari ini terasa begitu aneh dan berat baginya. Ia tidak mau memikirkan apa yang sudah ia lupakan karena itu akan membuat kepalanya sakit.

Ia baru saja mengucapkan selamat tinggal pada teman-temannya yang baru memulai shift. Lalu berjalan beberapa langkah menuju pintu saat ia menangkap beberapa pelayan café berkumpul di salah satu sudut dekat pintu.

“Ah! Membosankan sekali, Key-ssi. Bagaimana jika kapan-kapan kau mengajak kami berjalan-jalan atau menonton di bioskop?” terdengar suara salah satu pelayan yang Hyeri tahu usianya baru 17 tahun.

Maja! Membosankan sekali lelaki tampan sepertimu hanya duduk di café sendirian.” Rengek pelayan lain yang terdengar begitu manja di telinga Hyeri.

“Benar! Apa di antara kami tidak ada yang cantik, Key-ssi?” tanya yang lainnya, terdengar seperti sebuah protes.

Hyeri terus berjalan, langkahnya melambat saat melewati lelaki bernama Key yang tengah dikerumuni tiga orang pelayan yang masih begitu segar. Hyeri mencuri pandang, mendapati lelaki dengan t-shirt merah itu telah mengenakan jaket berbahan denim.

“Jika aku tidak sibuk, aku akan mentraktir kalian, eottae?” Key berusaha mengusir para pelayan muda itu saat matanya menangkap sosok yang daritadi ditunggunya. “Nah, Nona-nona cantik, aku harus pergi. Istriku bisa marah jika tahu aku sedang merayu kalian. Sampai jumpa.” Ucapnya buru-buru tanpa memberikan kesempatan pada para pelayan tadi untuk mencegahnya.

Key segera beranjak, melangkah cepat untuk mengejar Hyeri yang kini telah berada di daun pintu. Ia nyaris saja menggapai Hyeri saat gadis itu justru berbalik, membuat mereka berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Key terkejut, tentu saja ia tidak mengira Hyeri akan berbalik. Oh! Apakah ia melihat bagaimana gadis-gadis pelayan itu menggodanya? Apakah ia merasa cemburu? Pikir Key.

Hyeri terlihat terkejut, wajahnya merah padam. Selama beberapa detik ia hanya diam, menatap mata Key. “Apa?” tanya Key, membuyarkan pikiran Hyeri. Sebenarnya lelaki itu pun sama groginya dengan Hyeri. Sudah dua tahun ia tidak berdekatan seperti ini dengan istrinya. Tapi, mau tidak mau ia harus berusaha mengendalikan diri.

“Oh! tidak! Aku hanya…” Hyeri menggantungkan kalimatnya, ia menatap bagian lain dari wajah Key yang membuat dadanya berdebar. Lantas kedua matanya kembali menatap sepasang lensa berwarna abu itu. “Terkejut.” Lanjutnya singkat, tapi kedua matanya masih menunjukkan bahwa ia begitu tertarik pada apa yang ada di balik lensa abu itu.

Hening. Keduanya diam, saling menelisik ke dalam bola mata. Mencaritahu sesuatu yang tersembunyi di sana. Hyeri terus menatap mata Key, merasakan ada kesejukan aneh yang membuatnya damai. Mengingatkannya pada melodi hembusan angin yang begitu sejuk di musim panas.

Seketika sesuatu melintas dalam pikiran Hyeri, ia melihat sebuah Fuurin (lonceng angin tradisional khas Jepang) dengan motif ikan koi biru yang menggantung tertiup angin. Lantas ia dalam kepalanya melintas sesuatu yang lain. Tatapan yang sama dengan yang ia lihat saat ini. Tatapan yang begitu menyejukkan.

“Kau sakit?” tanya Key. Tangannya menyentuh kening Hyeri. Gadis itu menggeleng cepat, menjauhkan tangan Key dari keningnya. Mengenyahkan sentuhan singkat yang entah bagaimana terasa seperti sengatan listrik kecil baginya.

“Oh! Aku harus pulang, Key-ssi. Sampai jumpa.” Ucapnya cepat, lalu kembali berbalik dan segera menarik pintu. Berjalan cepat meninggalkan café dengan pikiran aneh.

Key mengekor. Pagi ini, ibu mertuanya menelepon. Mengatakan bahwa Hyeri bersedia untuk mulai mengingat apa yang telah ia lupakan. Meski Key tahu Hyeri tidak menginginkannya, tapi ia berpikir bahwa ini adalah kesempatan yang bagus. Setidaknya, ada sesuatu yang Hyeri paksa untuk ingat.

Hyeri berjalan semakin cepat saat menyadari Key mengikutinya. Tapi lelaki itu justru semakin cepat mengejarnya. Hyeri merasa takut, ia mulai merasa bahwa Key akan melakukan hal buruk padanya. Key, lelaki asing yang begitu aneh, pikir Hyeri.

“Key-ssi, kau mengikutiku?” tanya Hyeri akhirnya.

“Aku tidak mengikutimu.” Jawab Key enteng.

“Tapi daritadi kau-“

“Ini jalan yang harus kulewati untuk bisa sampai di rumah ibu mertuaku.” Sambar Key. Ia menyeringai, merasa menang dengan ucapannya.

Hyeri berdecak kesal, ia tahu apa maksud pembicaraan Key. Ia tidak bermaksud percaya diri terlalu tinggi, tapi ia tahu apa yang dipikirkan lelaki itu. “Berhenti mempermainkanku!” tukasnya kasar.

Air muka Key berubah, ia tidak menyangka gadisnya akan terusik dengan hal ini. Baiklah, ia tahu Hyeri memang temperamen. Tapi dalam keadaannya yang hilang ingatan saat ini, ia tidak menyangka Hyeri akan secepat ini terusik. “Aku tidak mempermainkanmu. Aku akan berjalan lebih dulu jika kau menganggapku main-main.” Terangnya. Ia lalu melangkah melaui Hyeri.

“Kau akan berjalan ke rumahku?”

Langkah Key tertahan, ia berbalik menatap Hyeri. Memincingkan matanya, berusaha mencaritahu apa yang ada dalam pikiran Hyeri.

“Kau akan berjalan ke rumahku dan mengatakan itu rumah ibu mertuamu? Lalu jika aku bertanya mengapa, kau akan mengatakan bahwa wanita dalam foto itu adalah diriku? Bahwa aku adalah istrimu? Begitu?” terang Hyeri penuh amarah. Nafasnya naik turun.

Air muka Key kembali berubah. Perlahan ia mendekat. Apa mungkin Hyeri mulai mengingatnya? Pikir Key. “Darimana kau mengetahuinya, eoh? Darimana munculnya pemikiran seperti itu?”

Hyeri mendelik. “Kau pikir aku bodoh? Karena aku hanya diam dan mengikuti kemauanmu kau pikir aku bodoh? Kau selalu datang ke café untuk menarik perhatianku karena keanehanmu. Lalu kau menungguku datang mengantarkan pesananmu, setelah itu kau mengatakan bahwa kau terkadang perlu teman untuk berbincang. Lalu kau menceritakan kebiasaanmu melihat hujan dan menulis di jendela yang berembun dan…”

Hyeri menghentikan kalimatnya saat menyadari ada sesuatu yang aneh dalam ucapannya. “Foto itu…” Hyeri menatap Key, seolah meminta lelaki itu untuk menjelaskan apa yang baru saja meluncur dari mulut Hyeri.

“Kau mengingatnya?” Key terlihat antusias. “Kau mengingatnya? Itu memang terjadi, tapi bukan beberapa bulan yang lalu. Itu terjadi lima tahun yang lalu.” Key merengsek mendekati Hyeri, “Kau ingat bagaimana pertamakali kita bertemu? Kau mengingatnya? Apalagi yang kau ingat? Ceritakan padaku.” Pintanya tak sabaran.

Hyeri mematung, ia tidak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkannya. Tidak bisa menemukan darimana datangnya pemikiran itu. Lantas ia menatap Key ragu. Lelaki itu tersenyum kecil, lalu berkata “Pulanglah bersamaku. Pulang ke rumah kita.” Ia mengulurkan tangan kanannya. Hyeri diam, menatap uluran tangan Key. Haruskah ia menyambutnya? Pikir Hyeri.

***

Hyeri berjalan mengikuti Key yang membawanya memasuki pelataran sempit sebuah rumah bercat putih. Ada taman kecil di sana, dengan sepasang kursi kayu bercat putih dan meja bundar kecil yang melengkapinya. Sementara itu pikirannya begitu sibuk. Ia tidak mengerti mengapa akhirnya ia menyambut uluran tangan Key meski sebenarnya ia merasa ragu dan takut. Takut jika Key adalah lelaki jahat yang memanfaatkan ingatan Hyeri yang hilang.

Tapi, pemikiran itu menguap dengan cepat saat Key mengacungkan ponselnya. Meminta Hyeri menelepon Eomma-nya atau kantor polisi untuk memastikan bahwa Hyeri akan tetap aman. Pada akhirnya, Hyeri memilih untuk menyimpan ponsel milik Key. Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari mulutnya, membiarkan taksi yang membawa mereka meluncur begitu cepat.

Kini mereka tiba di depan pintu, Key telah membukanya. Lantas ia berbalik, kembali mengulurkan tangannya ke arah Hyeri. “Kau ingin aku memegang tangamu agar kau tetap merasa aman?” tanyanya lembut.

Hyeri menatap tangan dan mata Key bergantian. Ia bingung, setiap kali menatap sepasang mata itu dalam jarak dekat membuatnya kembali terseret ke memori silam yang entah seperti apa persisnya. Seperti sebuah mimpi yang terjadi dalam hitungan jam, terasa begitu singkat dan sukar untuk diingat.

Key menggenggam erat tangan Hyeri. Membawa istrinya ke dalam rumah mereka. Keduanya berjalan perlahan, seolah membiarkan Hyeri melihat-lihat apa yang ada di sana. Sama seperti kali pertama Key membawa Hyeri ke rumah mereka. Gadis itu mengedarkan pandangannya, menilik setiap benda yang ada di sana. Sofa berwarna cokelat, beberapa pajangan porselen, dan sebuah foto berbingkai besar yang diletakkan di jalan menuju ruangan lain. Foto pernikahan. Tapi yang ini lain dari yang Hyeri lihat di album kecil yang selalu dibawa Key ke café.

Hyeri menatap foto itu. Hingga tanpa sadar melepaskan genggaman tangan Key dan berjalan mendekati foto itu. Menatap wajah dirinya dalam gaun pengantin yang tersenyum begitu bahagia. “Ini… diriku?” tanyanya ragu. Lalu menatap Key, lelaki itu hanya mengangguk.

Hyeri kembali menatap foto itu, seolah terlarut dalam pikirannya sendiri. Key tersenyum kecil, jujur saja ini membuatnya berdebar. Merasakan perasaan aneh seperti baru pertamakali jatuh cinta. “Kau bisa melihat foto-foto yang lain jika kau mau.” Tawar Key.  Hyeri hanya mengekor saat Key membawanya ke sebuah ruangan.

Mereka melewati sebuah pintu terbuka yang menampilkan meja makan cantik yang sederhana, juga sederet counter dapur berwarna putih-hijau bermotif bunga. Setelehnya, mereka melewati ruang tengah kecil, di mana ada sofa panjang berwarna kuning pucat dan sebuah televisi. Hingga tibalah mereka di depan sebuah pintu, Key membuka pintu ruangan itu lebar. Itu adalah kamar tidur, ia tahu Hyeri akan berpikiran macam-macam jika ia membawanya begitu saja ke dalam kamar. Lantas Key masuk lebih dulu, menyalakan lampu. Meraih beberapa album foto yang disimpan di dalam sebuah cabinet. Membiarkannya berserakan di atas ranjang.

Hyeri hanya mematung di daun pintu, memperhatikan Key yang kini mulai meraih sebuah album besar bersampul putih dan membalik halamannya. Lelaki itu sesekali tersenyum melihat apa yang ada dalam album. Tapi Hyeri, kedua matanya kini tertuju pada benda-benda yang ada dalam kamar itu. Sebuah cermin besar berbingkai antik, lemari pakaian tiga pintu yang tertanam pada dinding, juga jendela besar dengan tirai berenda. Bagaimana bisa semua benda dalam ruangan ini adalah benada-benda yang Hyeri sukai? Pikirnya.

Lantas mata Hyeri tertuju pada beberapa bingkai foto yang terpajang di sana, juga beberapa di atas meja rias dan dalam cabinet. Hanya foto dirinya dan lelaki bernama Key itu. Begitu banyak foto yang ia sendiri tidak bisa mengingat bahwa itu pernah terjadi. Key menatap Hyeri, lalu menepuk bagian ranjang tepat di sampingnya. Memberikan isyarat agar Hyeri duduk di sana.

Hyeri menurut, tanpa menunggu lama gadis itu telah duduk di samping Key. Kini ia ikut memperhatikan foto-foto dalam album. “Ini adalah hari pernikahan kita,” Key memulai cerita, “Kau menyukai gaun yang memamerkan collar bone-mu. Kau bilang bahwa kau adalah gadis paling cantik sedunia.” Lanjut Key, ia lalu terkekeh. Sementara wajah Hyeri mulai merona, tidak menyangka dengan apa yang diucapkan Key. Benarkah Hyeri pernah mengatakan hal memalukan seperti itu? Pikirnya.

Key membuka halaman album, memperlihatkan beberapa foto bersama keluarga dan kerabat mereka. “Ini eomma dan appa-mu. Lihatlah! Mereka benar-benar orangtuamu, kan?” tanya Key. Lebih tepatnya memastikan agar Hyeri benar-benar percaya bahwa Key adalah suaminya, bukan lelaki yang berusaha mengambil keuntungan darinya.

“Ini adalah teman-temanmu. Oh! Ini Shin Eunyoung? Kau ingat dia kan? Dia baru saja menikah beberapa bulan yang lalu.” Terang Key lagi, seraya menunjuk foto lain yang menunjukkan Hyeri dan seorang gadis tinggi berambut panjang. Foto itu diambil di ruang tunggu Hyeri sebelum upacara pernikahan dimulai.

Hyeri diam, menatap foto dirinya dan Eunyoung. Tentu saja ia ingat gadi itu, teman baiknya. Dan oh! apa yang baru saja dikatakan Key? Eunyoung baru saja menikah? bukankah usianya baru 18 tahun?

Key membalik lagi halaman, memperlihatkan begitu banyak foto dirinya dan Hyeri. Memamerkan kemesraan dan kebahagiaan mereka. Membuat Hyeri mau tak mau menundukkan wajahnya malu. Bagaimanapun, ia sama sekali tidak mengingat bagaimana pernikahan itu terjadi.

“Oh! aku ingin melihat foto yang lain.” Ucap Hyeri cepat saat ia menangkap sebuah foto di mana ia dan Key saling bersentuhan bibir. Lantas kedua matanya liar, mencari-cari album lain yang berserakan di atas ranjang.

Hyeri lalu meraih album berwarna ungu pucat dengan hiasan berbentuk pita putih pada cover-nya. Ia yakin, foto-foto dalam album itu pastilah foto-foto yang sangat disukainya. Dibukanya halaman pertama, matanya membulat, lalu dengan cepat membekap mulut dengan tangan kanannya. Ini gila! Benar-benar gila! Beberapa foto yang menampilkan pose serupa membuat Hyeri nyaris kehilangan akal sehatnya. Tidak mungkin ini adalah dirinya.

“Kau terkejut?” tanya Key, membuyarkan pikiran Hyeri.

Hyeri tidak menanggapi, ia lantas membuka lagi halaman dalam album. Dan lagi, ia menemukan beberapa foto berbeda dengan pose serupa. Sungguh gila, pikir Hyeri. Bagaimana bisa ia memiliki satu album penuh foto-foto dirinya sedang berciuman dengan Key? Semua foto diambil di tempat yang berbeda, tapi semuanya serupa. Hyeri membalik lagi halaman album, kini ia makin terkejut. Sebuah foto di mana ia mencium Key yang jelas-jelas sedang tertidur pulas di dalam ruangan temaram yang terlihat seperti dalam kamar. Dalam foto, tangan kanan Hyeri terulur memegang kamera.

Ia lantas memejamkan matanya, jantungnya berdebar. Tidak mungkin ia melakukan hal ini. Ia terlihat begitu kecanduan dengan bibir Key. Ia sudah gila! Sangat gila!

“Apa aku suka melakukan hal ini?” tanyanya ragu.

Key terkekeh, “Foto-foto itu sudah cukup menjelaskan, bukan?”

Hyeri lantas menatap Key, menatap kedua mata berlapis lensa abu itu lalu berpindah pada bibir tipis Key. “Aku.. sering melakukannya?” Key mengangguk, “Seberapa sering?”

Key tersenyum, sementara dahinya mengerut, pikirannya menerawang pada masa di mana ia begitu bahagia bersama Hyeri. “Aku tidak bisa menghitung seberapa sering kau melakukannya. Tapi…” Key menggantungkan kalimatnya, lalu kembali menatap Hyeri.

“Tapi apa?”

“Tapi kau selalu melakukannya setiap saat. Saat aku sedang menonton tv, saat aku tertidur di sofa, saat aku baru keluar dari kamar mandi, saat aku menggosok rambutku yang basah, hemm.. saat aku akan pergi bekerja, saat aku baru memejamkan mata untuk tidur. Oh! bahkan saat aku sedang tidur.” Key menunjuk foto dalam album.

Hyeri menutup album, matanya terpejam. Benarkah? Benarkah ia seagresif itu? Menciumi Key setiap saat? Sungguh! Apa yang ada dalam pikirannya?

“Oh! aku sudah selesai melihat foto.” Hyeri menyingkirkan album-album foto dari hadapannya, lalu bangkit.

***

Hyeri berjalan menuju counter dapur, kedua kakinya melangkah begitu saja seolah telah menghafal letak dan detil tempat itu. Lalu meraih cangkir dan hendak membuat teh manis hangat saat Key menghampirinya. Lelaki itu berdiri di samping Hyeri, bersandar pada counter dapur sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Kau lelah?” tanyanya santai.

“Aku rasa kepalaku sedikit sakit, Key-ssi.” Ungkapnya tanpa sedikitpun berani menatap mata rubah itu.

Key tersenyum kecil, “Aku akan menghubungi eomma-mu, kau akan tidur di sini.” Lalu berlalu tanpa persetujuan Hyeri. Gadis itu hanya bisa diam, dadanya mulai berdebar tak karuan, pikirannya sedikit kacau dan takut. Tidur di dalam rumah ini? bersama Key?

=TBC=

22 thoughts on “I need romance #4 – Wind Chime [1.2]

  1. Awww sweet banget eon. Ceritanya pas banget abang konci back to the black hair. Jadi ngebayanginnya dia ganteng bangeettt.
    Aduuh Hyeri, amnesia koq ampe 2 taun ga inget2 sih? Keburu aku rebut ni abang konci nya😄
    Bukan cuma Hyeri yg bisa agresif, cewe2 lain pun kalo liat bibirnya Key sih bisa pada liar tu.. Hahaha
    Ayo eon dilanjutin ah.. Walaupun sebenernya lebih penasaran ama lanjutan Excuse me Miss, tp gpp deh buat selingan pusingnya kuliah yg ini juga udah bikin aku senyum2 sendiri hehehe
    Keep writing ya eon. Aku doakan semoga ide2 briliant nya bisa kembali lagi. Amiiinnn ^^

    • Wah… syukurlah kalo so sweet. Aku sebenernya ngerasa ga dapet so sweet-nya😦
      iyh nih, si Hyeri amniesia sampe 2 tahun. Bukan amnesia itu mah, hilang ingatan permanen aja dia -_-a

      Hyeri mau di Archangel, mau di Wind chime selaly agresif. Mau jadi orang kepala batu, mau jadi yang hilangan kalo sama bibir Key udah agresif aja dia.heheh.

      Excuse me, Miss-nya blm ada nih, Hwayong. Ditunggu yaa. Aku post part 2 wind chime dulu baru Excuse me, Miss kalo udah ada.heheh. mudah2an ga lama.

      Amin bgt buat doanya.
      Thank u😉

  2. Wahhh…. akhirnya ada postingan baru…
    so sweet bgt ceritanya… baca ff ini jadi kayak nonton film,,,
    keren banget ceritanya… bikin senyum2 sendiri…
    makasii ya euncha atas ff keren ini… beneran bisa nge refresh otak yang penat atas aktifitas yang monoton dan membosankan….
    ditunggu karya-karya selanjutnya ya…. fighting…..

  3. Key sabar banget ya, 2 tahun itu lama banget loh, kalo cowok yang brengsek pasti nyari lagi. Tapi ini enggak, wuaaaa Key kau benar-benar Laki-laki! Hyaaaaaa aku makin jatuh cinta kalo karakter Key seperti ini. Tipe ku banget (gak nanya dan gak penting) plakkk

    feel nya dapet pisan Eonni, sesek banget ngerasain gimana jadi Key. Huhuks Hyeri kenapa gak mau mengingat lagi, belum siap atau ada trauma gitu? Jangan ye, mubazir loh suami kamu yang Laki banget di sia-sia in. Entar aku rebut baru tau rasa kamu.eh

    salut banget sama Key, merayap terus agar Hyeri ingat.
    Aigoo~ kecanduan bibir Key, sampe di albumin. Aku pun jika jadi Hyeri, pasti begitu.eh agresif ke suami itu wajar dong.keke

    ah iya, ada typo Eon, tapi ada juga beberapa yang kurang spasi sama kurang hurup, eh sama aja ya itu typo? Plak
    wajahnye, mencaritahu, tangamu, setelehnya, benada-benda…
    Tapi biasa, no problem ko. Cuma pengen ngoreksi, hihi
    next chap ditunggu Eon, dan next chap ff lain juga.hehe
    FIGHTING

    • iya nih, untung aja Key ga brengsek, kalo brengsek udah aku gampar *kebawa suasana*
      yup, emang kalo Key kaya begini mah tipe idaman semua wanita.heheh. Ini sebenrnya ngayal banget yaa aku?

      bner nih feel-nya dapet? semoga… aku sndiri ngerasa kurang. Maaf yaa. mudah2an passion menulisnya udah balik lagi.

      .hahaha. iya ih, biasalah Hyeri itu kan agak gimana gitu. Dia cinta banget sama Key sampe2 yang begitu dialbumin.kekekek.

      .huhu. makasih Hikma selalu mengkoreksi typoku, nanti aku perbaiki yaa. Oh iya, u/yang mencaritahu itu bkan kurang spasi sih, ak nulisnya emang disatuin. Tapi, yg bner mungkin mencari tahu yaa?
      Next part ditunggu yaa, Thank u😉

  4. astagaaa..
    mau nulis komentar, yang keinget malah Hyeri yang kecanduan bibirnya Key..😛
    tadinya bakalan ngerasain yang romantis gitu, gak taunya pas baca, saya cengar-cengir kerena dialog Key-Hyeri yang menurut saya cukup lucu..😉

    salut deh sama Key yang sabar nunggu Hyeri, tapi lebih suka Key yang mulai berani ngedeketin Hyeri, Key banget deh..😛

    Euncha yg lagi stuck nulis aja bisa buat cerita yang panjang gini, gimana klo lg semangat ya?..😀

    • Eh, yang lucunya yang manakah, eonni? ^^v

      kalo lagi ga stuck, jdinya kaya Archangel dong eonn. 24 part dan per part-nya panjang ga ketulungan *bow* .heheheh.
      Thank u, Eonni udah mampir lagi😉

  5. hehehehehehehehehehe….
    aku jdi cengegsan bgni nhe eonni….
    aku ska aja sma crita terakhirnya, apalgi wktu hyeri membka album yg brisi kleksi fto dia sma key ciuman…..
    smga hyeri cpat ingat smuanya dan bsa bhgia lgi sma key, dan buat key spertnya pnantiannya slma 2 thun ini akan brakhir deh….
    part brikutnya cptan ya eonni, dan klanjtan excuse me miss nya jga bruan eon,
    http://www.ngarepbanget.com

  6. aku lupa2 ingat, apa sdah baca crita sblum ini ya? #nonapikun
    tapi meski lupa, tetep ngerti ko,,
    sweettttt, bikin akyu senyum2 malu..hehehehh

  7. oommmooooo….. like this ff!!! sumpah, g nyangka ternyata bagian favorit key buat hyeri tuh bibirnya ya??? manis banget, hehehe…..
    ayo key, perjuangkan cintamu!!! sepertinya sebentar lagi hyeri bakal ingat deh…
    key penantianmu tidak akan sia-sia… tunggu saja y!!!
    ayo lanjut thor… dah penasaran nih, hahaha…..
    Keep writting thor!! ^_^

  8. ahhh sweet bgt eon ,,, lagi nungguin excuse me miss…. eh ada postingan baru ‘ i need romance ‘ sedikit terbayar deh eon,, ditunggu excuse me missnya eon…

    ceritanya yang ini bagus deh eon… aku suka banget baca” postingannya eonni cerita”nya kena banget,,, bahasanya juga nggak ngebosenin…
    fighting ya eon,, sayang banget kalo ceritanya nggak dilanjutin…..
    Eonni deabak ^^ hehehehehe

    • Yup, Excuse me, Miss-nya blm ada nih part 6-nya. Maaf yaa *bow*

      wah, makasih loh,Celia. kamu selalu bilang tulisan2ku feel-nya dapet dan ga bosenin. Mudah2an bisa dipertahankan.heheh.
      oKEY, nantikan yaa lanjutannya. Juga sequel yang lainnya. Mudah2an ga bosen nunggunya.heheh.
      Thank u😉

  9. Ini lanjutan i would kan?!!
    dibandingkan i would yg ini lbh kerasa romance nya.. aku g bisa berhenti senyum pas scene drumah key…
    Hyeri bkln nginap breng key? haha bagus bagus..kali aja ntr hyeri nya tiba2 nyelinap ke kamar key trus nyium key yg lg tidur kkkk
    Aku g mau ngomen soal typo atau sjenisny…soalnya aku sama sekali g merhatiin itu hehe
    next part nya ditunggu… ^^

    • Yes!!! In lanjutannya yang I would.
      wow! syukurlah kalo ini romance-nya lebih berasa.
      Hyeri nyelinap ke kamar key terus nyium Key? ah!!! kalo terjadi aku teriakkkkkk >////<
      .hhe. iya, maaf yah bnyk nih ternyata typo-nya.
      Next part-nya segera muncul yang ini.heheh.
      Thank u😉

  10. Annyeong~ ka euncha ^^/
    oh, ini lanjutan I Would ??
    omg! sedih baca awalnya… “Mulailah untuk kembali mengenalnya seperti dulu, hemm? Hyeri- ya, dia menunggumu. Dia menunggumu selama dua tahun ini, tidakkah kau kasihan membuatnya menunggu seperti ini?”
    jadi Key nunggu Hyeri 2tahun??!😮 dan Hyeri ga inget2 dgn Key dan apa yg dilupakanya?! yampun kasian Key.. TT

    dipertengahan so sweet…Key kyknya menggoda Hyeri tentang dirinya🙂 “Dia lebih suka
    memakai seragam pelayan café .” ungkapnya,
    kekekekek~
    omo~ Hyeri tergila2 sekali dengan Key, malah kecanduan. tp dia ga inget huuu.. kkkk

    seru seru~ bagus ceritanya ka euncha suka deh ^^

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s