Some words with Min Hyeri : Everybody knew that reading is not only for pleasure.

Kalau kalian beranggapan ini adalah FF. The explanation is a NO!
Postingan ini adalah curhatan gw dan temen gw yang punya nama Korea Min Hyeri yaa.heheh.
Curhatan ini panjang gilak! Yang males baca dan emang ga niat baca ga usah baca aja yaa. Soalnya ini cuma curhatan aja sik, karena menurut gw menarik, maka dibuat postingannya.
Tapi, kalo yang mau kepo juga boleh ^^

Beberapa waktu lalu, gw hang out bareng temen2. Ada banyak hal yang kita obrolin, dari A-Z. Bahkan hal ga penting kaya kenapa si Spongebob temenan sama si Patrick aja kita obrolin *plaaakkk* Nah, pas lagi kehabisan topik. Tetiba gw teringat sesuatu. Pas banget kan gw udah lama ga ketemu si Hyeri *eh, ini seriusan nama korea temen gw*. Tiap ketemu dia sih gw paling sering ngobrolin ngalor ngidul, termasuk soal baca novel dan manga, Hyeri ini jagonya b^^d gw juga kalo ketemu dia kadang suka curhat sih soal beberapa FF ato ide cerita yang gw punya dan minta pendapat dia. Karena akhir2 ini gw kehilangan passion dalam nulis, jujur, ada banyak hal yang sekarang ini bikin gw takut dalam menulis dan gw ngerasa perlu banget buat nyerita sama Hyeri.

Lantas perbincangan berlanjut pada curhatnya gw bahwa saat ini passion menulis gw menghilang begitu banyak. Then, Hyeri bilang mungkin gw perlu membaca tulisan2 orang lain in order to achieve the passion. Of course, gw segera menyatakan bahwa itu sudah gw lakukan dan hasilnya nihil.

Lalu, gw menjelaskan kemungkinan2 lain. Yang gw sebutkan saat itu adalah, kemungkinan kalo gw tidak merasa bahwa orang2 mendapatkan kesenangan dengan membaca tulisan gw. Bisa jadi orang2 merasa kalo cerita gw itu monoton, tidak menarik, terlalu fiksi, tidak berpatok pada real life, atau lebih parahnya lagi tidak masuk akal dan membuat pembaca terbodohi karena tulisan gw yang masih cetek. Gw jelaskan juga, saat gw menulis fiksi, yang gw utamakan adalah kesenangan pembaca. Itu adalah target utama gw, jadi saat pembaca baca tulisan gw mereka akan merasa senang, terhibur dan bahkan terkesan dengan cerita tersebut. Karena, biasanya cerita yang berkesan itu bakalan terus diinget.

Atau bahkan karena sebenarnya orang2 melakukan kegiatan membaca itu bukan semata untuk kesenangan? Di mana ada segelintir pembaca yang melakukan tujuan lain seperti mengasah kemampuannya sebagai seorang ‘grammar nazi’? dan dia mendapatkan kesenangan tersendiri dengan mempertajam kemampuannya sebagai ‘grammar nazi’? dan karena adanya hal seperti ini dan mungkin beberapa pembaca tulisan gw mulai merasa bahwa tulisan gw ini buruk?

Nah, setelah nyerita soal unek2 gw bahwa mungkin para pembaca tulisan gw tidak lagi mendapatkan kesenangan atas apa yang gw tulis. Hyeri malah ketawa, lalu dia ngomong “EVERYONE KNEW THAT READING IS NOT ONLY FOR PLEASURE”

Di sinilah gw menyadari bahwa gw mengalami ‘misconception’ tentang membaca itu hanyalah untuk mencari kesenangan semata.

Dia juga jelasin, mungkin yang jadi masalah adalah gw yang terlalu berpikir bahwa niat seseorang membaca hanyalah untuk mendapatkan kesenangan semata. Di sinilah, perbincangan menarik kita dimulai. Bahkan berlanjut sampe ke chatting karena waktu itu gw masih merasa belum puas dengan penjelasan dia sewaktu kita ketemu.

So, berikut gw jelaskan apa yang dijelaskan Hyeri di chatting. Ini isinya udah gw sortir yaa. Yang ga pentingnya dan kelewat privat are not inculede here. Tidak bermaksud menujukkan tulisan ini pada pihak mana pun yang ga sepikiran dengan tulisan ini. Gw hanya merasa isi percakapan kita ini bagus dan patut untuk di-sharing.

Tulisan ini isinya I swear panjang banget! Yang males baca ga usah baca aja yaa. Ini sengaja diposting karena gw merasa ini percakapan berharga dan patut untuk dimemorikan di blog ini. Apa yang dibilang Hyeri gw kasih warna ungu yaa. ^^

EVERYONE KNEW THAT READING IS NOT ONLY FOR PLEASURE. Let’s take a simple example, when you had to read some materials in your books because you’ll have exam or something like that in few days, it means your reading is not for pleasure anymore, but it is for your obligation as a student.

In other words, when you have to read something for your academic purposes, I believe that it is called reading for obligation, right? Because as far as I concern, NOT everyone take reading for obligation is something enjoyable or something that can make you relax? Because the concept of reading for pleasure so far is to make you relax and to push aside your pressure like you’ve got when you read academic textbooks. Am I making sense so far? I hope so.

Lantas gw menyinggung sedikit soal status facebook-nya dia yang sempat gw posting di blog ini juga karena gw setuju dengan apa yang telah dia tulis. Berikut status facebook-nya gw copy lagi.

Sometimes it’s kinda irritating when I read reviews for novels and the reviewers took everything seriously about what happened in the novels as fiction and made unnecessary comparison to what usually happen in real life. In the end, the reviewers complained about this and that, even taking offense at the authors. Oh well, I think those reviewers aren’t familiar with the concept of ‘reading for pleasure’ after all.

Gw pertanyakan, bukankah lo sendiri bilang kalo orang yang membandingkan hal yang ada dalam cerita fiksi dengan dunia nyata itu tidak memahami konsep ‘reading for pleasure’? Terus, kenapa tiba-tiba bilang kalo ‘reading is not only for pleasure’? Di sini gw agak mengerutkan dahi yaa, karena sejujurnya gw sangat setuju kalo seseorang membaca fiksi itu adalah untuk mendapatkan kesenangan, untuk mendapatkan hiburan yang priceless. Hemmm, penasaran juga gw. Karena Hyeri ini tipe orang yang ga pernah ngomong beda dengan apa yang dia omongin sebelumnya. Gini jawabannya. *Oh! dia juga mencantumkan beberapa referensi u/memperkuat bahwa argumennya itu bukan tong kosong*

Oh my God!!! Thank you so much for making me as your inspiration. Hmmp….well, I quote the words from some references and try to link it to my Facebook’s status to clarify it.

While reading that best-selling novel, you rarely take notes or think critically about the story. You are reading for the sheer pleasure of losing yourself in another world. Cluttering that existence with critical questions or note-taking is not necessary. However, when reading the text for class, you have a greater purpose. Are you analyzing the work for accuracy or specific concepts? What do you need to take away from the text? Notes are often a good idea when reading for a class. Highlighting key passages and noting important themes will help you later when you are asked to reflect on the reading.

(retrieved at : http://everydaylife.globalpost.com/reading-material-pleasure-vs-reading-material-class-13860.html)

siapa juga yang bilang ‘reading is only for pleasure’, duhhh… don’t insult our intelligence donk by stating those implication without DOING some researches.

Dari status facebook gw dan apa yang dituliskan di globalpost, gw rasa poinnya sama. Baik gw dan globalpost mengatakan bahwa dalam ‘reading for pleasure’ rasanya kita tidak perlu membandingkan apa yang terjadi dalam dunia fiksi dan dunia nyata. Kenapa? Karena dunia fiksi udah jelas dunia yang tidak nyata atau rekayasa yang tentu saja kejadiannya banyak berbeda dengan kehidupan nyata. Silahkan untuk lebih jelasnya cari sendiri definisi  fiksi bila masih tidak percaya.

Selain itu, gw rasa kalau kalian mempermasalahkan apa yang ada di dunia fiksi karena ketidakmasuk akalannya, bahkan sampai menghina penulisnya, itu artinya kalian bertindak sangat jauh. Apa itu definisi ‘reading for pleasure’? menurut gw dalam ‘reading for pleasure’ kalian tidak perlu mengeluarkan pertanyaan kritis atau membuat pernyataan yang membuat seolah-olah penulis itu bodoh. Bukannya globalpost menuliskan:

While reading that best-selling novel, you rarely take notes or think critically about the story. You are reading for the sheer pleasure of losing yourself in another world. Cluttering that existence with critical questions or note-taking is not necessary.

Ada pernyataan menarik lain dari globalpost, yaitu:

When you finally put down the great American novel, what do you do? Do you compare it with other books you have read? That’s likely, but rarely do you do so to the extent you would for class.

Gw setuju 100% dengan pernyataan tersebut. Kenapa? Bukankah waktu kalian selesai membaca karya sastra menarik untuk kesenangan kalian, karya sastra itu tidak akan dibawa sampai ke kelas kalian di sekolah atau di kampus atau di tempat kalian menuntut ilmu lainnya? Sebagai contoh, kalian telah selesai membaca sebuah novel karya Ilana Tan yang berjudul Autumn in Paris, lalu apakan di dalam kelas kalian akan ditanyai oleh pendidik kalian mengenai ‘apa saja yang dibicarakan Tatsuya dan Tara ketika mereka pergi ke Disney Land?’ atau apakah mungkin dalam ujian bahasa kalian, kalian akan menemukan pertanyaan ‘Mengapa ada sebuah lemari yang dapat menghubungkan dunia kita dengan dunia lain seperti yang ada pada novel karangan C.S Lewis yang berjudul The Chronicles of Narnia: ‘The Lion,The Witch, and the Wardrobe?’. Tentu saja tidak. Oleh karena itu, kebanyakan bacaan yang kalian baca sebagai kesenangan kalian jarang sekali kalian bawa sampai ke kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Apakah mungkin saat melakukan proses belajar-mengajar seorang pendidik membawa-bawa karya sastra untuk diteliti? Hal ini sangat sangat sangat mungkin. Di masa-masa SMP atau SMA kalian sudah mulai membaca karya sastra lokal, seperti Siti Nurbaya, sebagai salah satu bahan materi. Dalam perkuliahan pun, terutama perkuliahan sastra, gw cukup sering diberi tugas untuk membaca dan meneliti karya sastra. Tetapi sejauh ini, gw gak pernah menemukan pertanyaan ‘Apa yang dikatakan Lady Macbeth pada Macbeth di Act 3?’ dalam tes bahkan gak ada pertanyaan “Apa yang diperbincangkan Mr. Darcy pada Elizabeth di Bab 1 dalam novel ‘Pride and Prejudice’ karangan Jane Austen?”. Bahkan ketika kalian melakukan ‘reading for pleasure’ pun rasanya gak mungkin kalian menghafal seluruh dialog dari satu tokoh untuk tokoh yang lain, bukan? kecuali kalian niat banget bikin catetan gitu.

Jadi, yang gw sedikit bingung itu bagian mana sih yang gak disetujui dari konsep ‘reading for pleasure’ oleh segelintir orang? Bukankah dari sumber yang di atas sudah dijelaskan perbedaan ‘reading for pleasure’ dan ‘reading material for class’? Kalau kalian ingin mendapatkan nilai bagus dalam berbagai subjek di kelas, apakah kalian menjadikan novel-novel karangan penulis terkenal sebagai bahan referensi? Tentu saja TIDAK!! Tentunya bila kalian ingin mendapatkan nilai bagus dalam mate-matika, kalian akan menjadikan buku-buku materi tentang mate-matika sebagai buku pegangan, bukan novel karya J.D Robb atau Nora Roberts. Bahkan orang awam pun *contohnya adik gw yang baru kelas 5 SD* tau bahwa tujuan membaca itu berbeda-beda. Dengan begitu sudah jelas tujuan membaca itu BERBEDA-BEDA BUKAN HANYA UNTUK KESENANGAN PRIBADI.

Kalau kalian mengambil sebuah karya fiksi untuk kalian baca karena kalian merasa karya sastra tersebut menarik, itu artinya kalian melakukan ‘reading for pleasure’. Bila kalian tidak ambil pusing mengenai apa yang terjadi di dunia nyata dengan membandingkan kejadian A di dunia nyata dan kejadian B di dunia fiksi, itu artinya kalian melakukan ‘reading for pleasure’. Bila kalian mengambil kejadian di dunia fiksi 100% sebagai referensi, itu artinya kalian salah alamat karena fiksi itu sesuatu yang tidak memiliki kebenaran absolute hingga 100%. Bahkan biografi atau film yang diklaim berdasarkan kejadian nyata sendiri dianggap memiliki sedikit unsur ‘tambahan’ yang masih dipertanyakan kebenarannya.

Jadi intinya, kalau kalian ingin mengambil bacaan sebagai referensi untuk ilmu pengetahuan kalian dan yang pasti2 aja tanpa ada unsur fiksi, ambil aja buku-buku akademik atau teori-teori absolute yang udah bertebaran di seluruh dunia, BUKAN KARYA SASTRA yang kebenarannya TIDAK 100% absolute. Mana ada sih orang yang ingin mendapatkan ilmu pasti ngambil buku fiksi sebagai bahan referensi? Mungkin orang itu ingin sesat hidupnya kali dengan mengambil karya fiksi sebagai tuntunan? I dunno yaaaa…

Eh ambil contoh deh ya, misalnya ada isu mengenai seorang tokoh wanita di karya fiksi yang gak tau sama sekali kalau dia ternyata selama ini mengandung anak kembar dan baru tau pas udah melewati proses persalinan. Kalian pasti bingung? Kok bisa seperti itu? Emang waktu USG gak terdeteksi apa? Masa sih gak USG, padahal kan tokoh utama pria yang jadi suaminya itu kaya raya? pasti kalau suaminya tajir mampus, dia bisa bayar biaya USG, but how come the wife *and even the doctor* didn’t know that she carried two babies for 9 months?

Nah, waktu Hyeri bahas ini gw tertarik banget. Kenapa? Gw ngerasanya pas aja gitu sama gw, karena gw pernah membuat hal serupa dengan apa yang dicontohkan Hyeri. Kan dosa aja gitu ya gw bikin sesuatu yang jatohnya membodohi pembaca >.<

Nah, apa hal di atas itu mungkin terjadi di dunia sastra? Jawabannya SANGAT MUNGKIN dan bahkan Saya ada bukti novelnya. Silahkan baca novel karya Sandra Brown ‘Words of Silk’ lalu kalian buka bab 7 akhir dan bab 8 awal. Kalau males cari novelnya, saya sediakan screen shoot di bawah ya.

screen shootKalau referensi dari salah satu ‘Best Selling Author’ yang bukunya bejibun di toko2 buku ini belum cukup, gw masih  punya referensi lain. Novelnya dari Harlequin juga, cuman yg nulis Jacquelin Baird dan judul novelnya ‘Wife Bought and Paid for’. Di novel ini ada kejadian yang serupa kayak di novel ‘Words of Silk’. Scene-nya ada di halaman2 terakhir kalau gak salah.

Dua novel di atas bener2 membuktikan kalau kejadian yang kita bicarakan soal ‘having no idea that I have twins’ itu sangatlah mungkin untuk terjadi. Jadi kalau lu *kata ‘lu’ di sini me-refer ke gw (Song euncha)* pernah bikin ff yang ceritanya tokoh utama lu gak tau kalau dia punya anak kembar, gw rasa itu sah2 aja. Toh dua penulis kenamaan di atas aja bikin cerita kayak begitu gak diprotes sama seluruh dunia koq. Kenapa? Because people know that nothing is impossible when it comes to fictions.

Kalaupun menurut kalian di dunia nyata itu tidak mungkin terjadi, mengingat teknologi yang sudah maju pesat dan adanya penemuan USG sebagai kesuksesan dunia medis, apakah mungkin semua ibu di dunia ini sanggup membayar biaya USG yang cukup mahal? Kalaupun USG digratiskan, apa kalian yakin ibu-ibu di Indonesia / di negara lain 100% akan melakukan USG? Belum tentu!! Bisa jadi ada ibu hamil yang menginginkan adanya kejutan saat kelahiran bayinya. Atau juga ibu hamil yang memiliki latar belakang agama yang mengatakan bahwa sebaiknya jenis kelamin bayi selama dalam kandungan tetap menjadi rahasia Tuhan hingga bayi itu lahir. Oleh karena itu, kalian harus memisahkan mana dunia fiksi dan mana yang bukan. 

Memprotes editor atau publisher karena meloloskan karya yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan kita itu merupakan hal yang sangat tidak perlu. Bila kalian mengambil bahan bacaan sastra dan dibandingkan dengan kenyataan rasanya kalian hanya akan membuat diri kalian menjadi stres. Dan membuat stres atau membuat pembaca tertekan bukan merupakan konsep ‘reading for pleasure’. Please, don’t be pathetic! Kalau setiap karya sastra harus berdasarkan pada kejadian yang nyata di dunia ini, lalu penulis dunia seperti Stephenie Meyer, J.K Rowling, J.R.R Tolkien, dll tidak akan sukses karena sudah menulis suatu karya sastra yang tidak bisa diterima dengan logika dan tidak terjadi di dunia nyata.

Ada orang yang memiliki tujuan gabungan dalam membaca, seperti melakukan ‘reading for pleasure’ sekaligus membandingkan fakta masuk akal yang ada di dunia ini dengan apa yang ditulis seseorang dalam suatu buku. Apakah memiliki tujuan gabungan itu salah? Tentu saja tidak!! Tetapi yang perlu kita pertanyakan di sini adalah buku jenis apa yang segelintir orang itu baca? Apakah dia membaca buku fiksi atau jurnal ilmiah/buku pelajaran/referensi/ensiklopedia/biografi?

Bila kalian sangat menyukai Fisika, itu artinya kalian akan mendapatkan kesenangan tersendiri dalam  membaca buku tersebut. Apakah hal tersebut menjadi ‘reading for pleasure’? JELAS!! Karena kalian menemukan kesenangan kalian dalam membaca buku itu sekaligus kalian mendapatkan ilmu pengetahuan tambahan mengenai bidang yang kalian suka. Apakah wajar kalian mengambil ilmu dari buku Fisika tersebut? Sudah jelas sekali! Apakah mungkin bila kalian menemukan kesalahan dalam penjabaran ilmu Fisika? Apakah penjabaran teori Fisika di buku terbitan A berbeda dengan terbitan B? Jawabannya TIDAK!! Mengapa? Fisika adalah ilmu pasti yang menjadi panutan bagi para pelajar di seluruh dunia. Bila ditemukan suatu kesalahan dalam teori Fisika di sebuah buku, apa mungkin buku tersebut akan beredar luas dan membuat dunia ilmu pengetahuan kacau balau karena telah mengikuti teori Fisika? Tentu saja tidak mungkin. 

Lalu, apa yang terjadi jika kalian membaca buku fiksi atau karya sastra dan menjadikan bahan acuan kalian? Kalian tentu saja melakukan langkah yang salah karena tidak ada fakta absolute dalam fiksi. Dalam fiksi setiap orang memiliki imajinasi tidak terbatas dan sangat atau hampir ‘out of the box’. Apakah mungkin dalam ilmu pasti kalian melakukan hal yang ‘out of the box’? Oh Tuhan, jangan sampai kalian melakukan hal yang ‘out of the box’ dalam science atau ilmu agama!!! BAHAYA!!!! Lalu apa mungkin kalian akan mengambil karya-karya J.K Rowling sebagai panduan kalian? Itu SANGAT SALAH karena karya Rowling benar-benar murni fiksi belaka. Apa kalian akan memutuskan untuk masuk Hogwarts sebagai tujuan pendidikan kalian? Tentu saja tidak, karena secara tidak langsung kalian telah menyadari bahwa itu hanyalah sekolah fiksi yang diciptakan seorang author. Apa kalian akan membakar buku-buku Harry Potter yang sudah terbit karena tidak sesuai dengan fakta?

Terus gw nanya, “Salah ga sih kalo selama ini gw menganggap bahwa setiap kali gw menulis fiksi, gw itu harus membuat sesuatu yang ‘out of the box’ which means sesuatu yang merupakan hal baru dan menjadi kejutan bagi pembaca?” Kan gw takut juga nih kalo2 tulisan ‘out of the box’ gw itu jatohnya membodohi pembaca, meskipun gw ga ada niat ke situ.

Soal ‘out of the box’, tentunya kita semua tahu karya sastra fiktif tidak jauh dari konsep ‘out of the box’. Lalu sejauh mana kita melakukan ‘out of the box’? Setau gw dalam karya fiktif, gak ada batasan berapa persen seseorang harus ‘out of the box’. Walaupun Harry Potter, Twilight, The Chronicles of Narnia, dan Lord of the Ring merupakan karya fiktif yang bisa dibilang ‘out of the box’, tapi kita gak bisa ngukur persentase ‘out of the box’ dari karya tersebut.

 Selain itu, 4 karya fiksi itu gak 100% melakukan ‘out of the box’. Di dalam karya fiksi tersebut masih terselip kehidupan percintaan, persahabatan, perjuangan, dan hal-hal common sense lain yang sudah tidak asing lagi. Jadi salah besar bila ada seseorang yang mengatakan “kalau mau menciptakan karya sastra yang ‘out of the box’ ya ga usah tanggung-tanggung ‘out of the box’ nya kayak Harry Potter.” Sekali lagi, dalam karya sastra fiksi tidak ada aturan harus berapa banyak atau berapa persen kita melakukan ‘out of the box’. Karena selama gw mendapatkan perkuliahan sastra, dosen2 gw gak pernah bilang harus berapa persen kita melakukan ‘out of the box’ dalam karya sastra.

Apa otak penulis2 diatas mengalami kemunduran setelah mengeluarkan karya fiksi yang notabennya gak masuk akal dan gak ‘pas’ dengan apa yang terjadi di dunia nyata? Dalam dunia fiksi, mau setidak masuk akal apa pun karyanya, sebaiknya para pembaca gak perlu ambil pusing dan men-judge otak si penulis yang membuat new inventions and out of the box yang gak masuk akal itu mengalami kemunduran. Who are you to judge those new inventors due to its illogical thingy in their fictions? Bahkan para penulis yang udah menangin ‘Rita Awards’ dan jadi ‘Best Selling Author’ pun tidak akan mengeluarkan kata2 seperti itu pada teman seperjuangan mereka di dunia fiksi.

Jadi sekali lagi kalau lu *kata ‘lu di sini me-refer ke Song euncha* bikin new inventions atau out of the box di ff lu yang gak sesuai sama dunia nyata, it’s totally and absolutely ok!! Dan lu gak usah khawatir karena otak lu tetep ada di tempat semula *artinya otak lu gak mundur kemana-mana*. Kalau ada yang ngatain otak lu mengalami kemunduran karena bikin fiksi yang gak sesuai sama kenyataan dan out of the box, itu artinya lu udah satu kategori sama J.K Rowling dkk yang hobi bgt melakukan ‘out of the box’ dalam karya fiksi mereka. You should be flatterd, fella!!!!

Soal kalian ingin nyari ilmu di fiksi, hmmpppp gimana yaahhh…..karya fiksi itu bukan suatu karya yang memiliki 100% kebenaran seperti buku2 akademik. Jadi agak sulit dan sedikit kelewatan juga kalau kalian ingin ngambil ilmu dari fiksi secara keseluruhan. Kalau gw sih punya pengalaman baca beberapa  novel historical romance karya Julia Quin, Lisa Kleypas, Judith McNaught, dll deh. Dari kata historicalnya aja gw udah mikir ‘ohhh mungkin novel ini punya ada sisi sejarahnya nih’. Dan emang pas gw baca tuh settingnya tuh sekitar abad 18an. Gw penasaran juga, emang setting negara ini abad 18an itu kayak begini ya?

Karena gw bukan orang asing dan belum diciptakan pada abad 18, jadi gw gak punya pengetahuan sama sekali mengenai hal itu. Karena penasaran, gw cari2 dikit di google soal itu dan mungkin hal2 yang ada dalam fiksi tersebut bisa jadi ilmu tambahan buat gw. Contohnya, kalau gak salah Mayfair tahun 1810’an itu merupakan daerah yang agak kumuh, tapi sekarang ini Mayfair udah jadi tempat seperti Oxford di Inggris sana yang di dalamnya berjejer toko-toko karya perancang, hotel, restoran, dan tempat-tempat hiburan lainnya. Contoh lain, wanita Inggris tahun 1810’an sudah tidak aneh bila menikah di usia 17 tahunan, malah bila wanita Inggris belum menikah ketika usianya mencapai 23 ke atas, dianggap perawan tua. Itu informasi tambahan yang cukup menambah ilmu pengetahuan gw mengenai Inggris di tahun 1810’an atau sekitarnya.

Dari hal di atas kita bisa tau bahwa Quinn dkk emang menulis novel mereka berdasarkan absolute agreement yang kebenarannya gak bisa dipungkiri lagi dan ada fakta sejarahnya. Dalam karya fiksi pun rasanya hal-hal yang berbau ‘absolute agreement’ (seperti: langit biru, awan putih, ibu kota negara, unsur science, dll) itu dikemas sesuai fakta yang ada dan para penulis kenamaan pun pasti akan berpendapat demikian dan menuliskan hal2 berbau ‘absolute agreement’ itu ya apa adanya. Bahkan kita juga gak bisa memungkiri kalau penulis karya fiksi mengambil cerita berdasarkan pada hal2 yang terjadi di dunia nyata, cuman mereka melakukan sentuhan2 fiktif yang sah2 saja dalam karya fiksi.

Karena adanya unsur fiktif, jangan  mengambil lebih jauh bacaan fiktif tersebut sebagai pedoman kita karena harusnya kita semua PAHAM sekali bahwa karya fiksi itu ya suatu karya yang fiktif dan tidak memiliki kebenaran 100% seperti science yang sudah adanya pembuktian dari penelitian ilmiah yang dilakukan para expert di seluruh dunia. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu pengetahuan pasti yang murni fakta, mengapa kita mengambil karya fiksi padahal ada ensiklopedia yang udah jelas-jelas menyediakan informasi yang tidak terdapat pada karya fiksi.

Oooh, dari sini gw mengerti dengan yang dimaksud bahwa meskipun kita menulis fiksi, tapi kita tetap bertanggung jawab dengan menulis hal2 yang berpatok pada real life. Di sini gw mengerti bahwa menulis fiksi dan tetap bertanggung jawab atas apa yang terjadi di real life itu multi tafsir. Mungkin, beberapa menafsirkannya sebagai tulisan dalam fiksi yang berpatok pada real life. Misalnya, gw menulis fiksi dengan setting kota imajinasi di London. Eh, ga boleh dong gw bikin begitu, karena di London itu ga ada namanya kota imajinasi bkinan gw itu. Dan menurut gw, konsep seperti itu tuh salah besar dalam fiksi/karya sastra. Karena fiksi/karya sastra itu sendiri mengusung yang namanya imajinasi.

Lantas, seperti apa yang benar? Setelah apa yang dibilang Hyeri, pikiran gw jadi lebih terbuka dengan apa yang dimaksud ‘menulis fiksi dan tetap bertanggung jawab atas apa yang terjadi di real life’. Betul ko! Bahwa saat menulis fiksi itu harus bertanggung jawab pada apa yang terjadi di dunia nyata dan memang apa yang terjadi dalam tulisan fiksi itu tetap berpatok pada dunia nyata. Contohnya, di karya2 fiksi seperti Harry Potter atau The Chronicles of Narnia, orang2 masih berjalan menggunakan kaki, mereka makan dengan cara memasukkan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya, lalu menelannya. Lalu, lelaki dan perempuan yang saling jatuh cinta, lantas mereka mulai pdkt dengan mengobrol, jalan bareng, dll. Itu semua berdasarkan apa yang terjadi di dunia nyata kan? Nah, ini lah yang kemudian gw pahami sebagai tulisan dalam fiksi yang tetap bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di dunia nyata. Karena hampir kesemua hal/prosedur itu sesuai dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

Bisa dibilang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang ada di dunia nyata itu kalo misalnya gw buat fiksi di mana tokoh utamanya itu sebuah kota di mana orang2nya berjalan menggunakan mulut, terus mereka makan dengan cara membolongi perut mereka dan memasukkan makanan ke dalam perut, atau gw membuat hujan salju di Indonesia, atau gw membuat bahwa seorang wanita melahirkan bayinya melalui lubang hidung. Nah, ini dia baru bisa disebut tidak  bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dunia nyata dan membodohi pembaca. Eh, lagian kan masa sih kalo baca yang konyol begini akan dijadikan panutan/patokan? Anak kecil aja ngerti kali kalo makan itu caranya masukkin ke mulut terus dikunyah. Lagian, meskipun bisa dibilang salah. Tapi contoh di atas itu menurut gw masih sah aja kalo adanya dalam fiksi. Toh, namanya juga fiksi.

Go back to what Hyeri said.

Ketika pembaca membandingkan sesuatu yang terjadi di dunia fiksi dengan dunia nyata dan mencari relevansinya antara kedua hal itu dan beberapa orang tidak terima dengan karya fiksi tersebuk karena penulisannya tidak relevan dengan dunia nyata, apa kalian pikir akan ada novel-novel fiksi yang bertebaran luas di seluruh dunia? Apa kalian pikir kalian bisa menuangkan imajinasi kalian dalam sebuah tulisan? Relevansi seperti apa yang kalian cari dalam fiksi dan dunia nyata? Apa kalian tidak akan terima cerita dongeng terkenal karena hal itu tidak relevan di dunia nyata? Lalu bagaimana dengan trend fanfiction dikalangan pecinta K-pop?

Kenapa gw  bawa-bawa fanfiction disini? Oh ada isu yang bisa di angkat disini bila kalian keukeuh masuk dalam kategori ‘tidak mau mengambil mentah-mentah tulisan si pengarang ff karena tidak relevan dengan dunia nyata’ dan si penulis harus melakukan riset ini itu sebelum nulis ff, atau karena kalian merupakan pembaca kritis jadi kalian gak mau ngambil mentah2 karya si pengarang ff ini.

Gw setuju dengan diperlukannya riset sebelum menuliskan karya sastra. Misalnya, kalian ingin menulis karya fiksi yang didalamnya terdapat beberapa kata dalam Bahasa Inggris. Kalian harus mencari tahu dengan benar, apa sih Bahasa Inggrisnya ‘aku mencintaimu’? tentunya kalian membutuhkan riset untuk menjawab keingintahuan itu. Salah besar bila kalian menterjemahkan ‘aku mencintaimu’ ke dalam Bahasa Inggris menjadi ‘I hate you’. Oleh karena itu, riset yang berbau ilmu pengetahuan atau absolute agreement itu perlu dituliskan dengan benar dalam suatu karya fiksi bila kita ingin menuliskannya. Belum lagi udah suatu common knowledge juga ya kalau ‘aku mencintaimu’ itu bahasa Inggrisnya ‘I love you’.

Tetapi yang jadi masalah disini, sejauh mana kita diizinkan untuk melakukan riset sebelum menulis karya fiksi kita? Riset untuk jurnal akademik dan riset untuk karya sastra tentu saja berbeda. Riset untuk jurnal akademik  harus 100% murni karena itu mengangkat isu yang benar-benar terjadi dan akan menjadi kajian untuk bahan ilmu pengetahuan, karena jurnal akademik mengandung ilmu pasti. Segala sesuatu harus diteliti bila ingin menulis jurnal akademik untuk menghindari atau menghadapi argumentasi yang tidak disangka-sangka. Dengan adanya bukti riset, kita memiliki senjata ampuh untuk menepis dan mengklarifikasi segala sesuatu.

Sedangkan dalam penulisan karya fiksi, riset tidaklah sedetail dan seketat jurnal akademik karena fiksi memiliki unsur fiktif yang tidak bisa kita jadikan acuan atau referensi kita sebanyak 100% seperti apa yang kita lakukan pada jurnal akademik. Hal tersebut bisa dimaklumi dalam fiksi karena dipastikan karya fiksi merupakan hasil imajinasi dan kebanyakan tidak berdasarkan pada kisah nyata. Seperti yang dituliskan di globalpost, membuat perbandingan karya fiksi dengan dunia nyata itu sesuatu yang UNNECESSARY atau CLUTTERING THAT EXISTENCE *sesuatu hal yang fiktif* WITH CRITICAL QUESTIONS OR NOTE-TAKING IS NOT NECESSARY.

Kita kembali lagi kepersoalan fanfiction. Bila kalian keukeuh ingin menulis suatu fanfiction berdasarkan fakta yang ada dan masuk akal di dunia nyata dari bias k-pop kalian, itu artinya kalian harus pergi ke Korea Selatan dan bertemu langsung dengan tokoh yang ingin kalian tulis ceritanya. Misal, gw ingin menulis fanfiction tentang Min Sunye Wonder Girls berdasarkan fakta dan relevansi di dunia nyata. Itu artinya gw harus melakukan riset ke Korea Selatan dan menemui Sunye secara langsung sekaligus meneliti kehidupan sehari-hari dia karena gw gak mau nulis ff yang gak berdasarkan dunia nyata. Yaelahhhh itu tuh sesuatu hal yang merepotkan sekali, kawan!!! Gw sih mending gak usah nulis ff kalau peraturannya kayak begitu.

Lalu gw penasaran, apa selama ini penulis FF itu telah melakukan pembunuhan karakter karena mereka menuliskan sesuatu yang melenceng dari sikap si bias k-pop mereka? Bukankah pembunuhan karakter orang terkenal bisa berurusan dengan hukum dan menjadi masalah besar kalo bias kpop kita tau kalau kita udah bikin citra mereka menjadi sesuatu yang belum tentu mereka dalam ff? Untungnya, gw tidak mempermasalahkan hal itu karena sudah jelas-jelas namanya juga fanfiction, jadi terserah fans saja mau nulis bagaimana juga toh ini hanya fiksi. Makanya para penulis fanfiction yang ‘tidak sengaja’ telah melakukan pembunuhan karakter atau menambah-nambahkan sesuatu di luar kenyataannya itu aman2 aja, dan bahkan para penulis ff itu gak dapet somasi atau surat peringatan dari bias mereka kan?!  

oKEY, di sini gw setuju dengan pernyataan kalo kita mau segala sesuatu berdasarkan fakta dan harus riset itu seperti apa yang disebut Hyeri. Kalo gw mau nulis ff soal Key yang harus sesuai fakta, berarti gw harus ke Korea dong, ketemu doi, dan jadi temen deketnya biar gw tahu seperti apa karakter dia sebenarnya. Lah, kan ada internet dong. Udah banyak bertebaran fakta2 dan tingkah laku Key saat menghadapi sesuatu. Emang, lo pikir itu 100% bener? Inget kan, di acara Hello Baby Key dan Jjong pernah bilang “Apa yang kalian lihat di tv itu adalah bohong.”

Terus gw juga inget di wawancara apa ya, Key pernah bilang kalo diri mereka yang sebenernya itu ga sama kaya apa yang orang2 liat di tv *sorry gw lupa ini di wawancara pas apa, tapi kalo seorang Shawol pasti tau deh* Karena semuanya itu balik lagi pada kenyataan kalo artis2 itu hanya melakukan pencitraan.

Jadi, kalo gw mau nulis ff tentang Key yang 100% berdasar riset dan gw cukup dapet dari siaran2 radio yang guest star-nya SHINee/Key atau dari pembahasan reality show, dll. Itu sangatlah tidak cukup dan tidak bisa dikatakan kalo riset gw itu sudah cukup.

Itulah kenapa gw bilang di atas kalau riset karya ilmiah dengan karya fiksi itu memiliki perbedaan signifikan. Kalian tidak bisa sepenuhnya melakukan riset untuk karya fiksi dengan metode karya ilmiah. Contoh, kalian ingin menulis sebuah buku yang menceritakan kehidupan alam kubur. Sejauh ini, sumber-sumber mengenai alam kubur kita dapatkan dari buku-buku agama, kitab-kitab suci, atau hadits,dll karena pada dasarnya kita belum pernah merasakan seperti apa alam kubur jadi riset kita terbatas sekali.

Bila kalian mengagung-agungkan riset, apa kalian akan nekad meneliti alam kubur? Itulah mengapa tidak sedikit banyak ilmuwan yang tidak percaya akan adanya Tuhan dan hal-hal gaib, karena mereka terlalu mengandalkan riset dan berpegang teguh pada istilah ‘seeing is believing’ atau istilahnya realist. Oleh karena itu, saya tekankan disini jangan jadikan karya fiksi sebagai acuan utama kalian. Bila kalian ingin mendapatkan sesuatu yang pasti atau ilmu pengetahuan tambahan, cari saja di buku-buku non-fiksi atau buku akademik, dll.   

Mungkin di luar sana ada beberapa ff readers yang mempermasalahkan soal salahnya pencantuman beberapa hal tentang bias mereka. Misalnya, si penulis ff mencantumkan golongan darah bias kpop kalian tuh AB, padahal dari yang kalian ketahui dari internet dan media2 lain itu kalau golongan darah bias kalian itu A. Kalian ngerasa si penulis ff ini agak seenaknya karena salah mencantumkan fakta golongan darah bias kalian, but wait….apa kalian yakin kalau golongan darah bias kalian yang dicantumin di internet atau biodata mereka itu 100% bener2 golongan darah mereka? Emang kalian udah liat hasil tes golongan darah mereka secara langsung? Halooooo….repot banget sih mempermasalahkan hal seperti itu, toh ini hanya ff aja kan, bukan jurnal akademik! Kenapa mempermasalahkan hal yang jelas2 fiksi dan memang fiktif adanya? 

Gw juga pernah menulis sebuah FF yang hanya mendompleng nama bias kpop gw aja. Misal, gw nulis FF yang mengambil nama personel SHINee, tapi di ff itu profesi mereka bukan sebagai entertainer, melainkan seorang pengusaha. Apa hal itu dianggap melenceng dari kenyataan bahwa personel SHINee itu adalah boyband KorSel? Oh jelas sekali melenceng dari kenyataan yang ada, bahkan kemungkinan besar kepribadian karakter mereka di FF yang gw tulis dan di dunia nyata itu sangat beda sekali. Lalu apa gw dicap sebagai author yang tidak paham menulis atau tidak melakukan riset karena tidak sesuai dengan fakta? Atau gw dicap sebagai penulis ff yang mengalami kemunduran otak karena melakukan new inventions? Karena gw dan para pembaca ff gw itu paham banget soal ff yang notabennya adalah fiksi, jadi ya mereka gak masalah dengan cerita gw itu dan untungnya pembaca2 gw memiliki good manner yang luar biasa dan gak ngecap gw sebagai penulis yang mengalami kemunduran otak.

Gw mau tambahin juga nih, semisalpun kita menulis ff dengan cast SHINee sebagai diri mereka sendiri yang notabene idola Kpop. Terus gw bikin salah satu member SHINee itu punya pacar, terus mereka pacaran diem2, terus si cewenya kadang main ke dorm SHINee buat bisa pacaran sama salah satu member, udah gitu mereka kadang galou2an, kadang cewenya dateng ke dorm SHINee sambil mewek2. Ato kadang mereka juga jalan ke mana berdua. Tapi, sejauh itu hubungan mereka tetap aman dari yang namanya sorotan media.

Oh Hello! Ini nih kayanya tulisan yang tanpa riset. Yah lo pikir, kalo ada cewe yang sering dateng ke dorm SHINee terus galou2an sama salah satu membernya, bahkan mungkin peluk2an, ga akan ketauan gitu sama paparazzi? Sama sasaeng fans? Please, kita pasti tau ya kaya gimana fans2 korea itu. Si artis jalan sama sesama artis aja gosipnya langsung dahsyat cetar membahana. Masa ini jalan sama cewe yang sering dateng ke dorm sambil mewek dan dipeluk salah satu member SHINee ga sampe ketauan public?

Jadi intinya, bila kita ingin menjadi pembaca kritis, kritislah dengan bukti yang ada. Sebelumnya harus ditekankan bahwa menjadi pembaca kritis bukan berarti kita mengeluarkan argument yang tak mendasar dan memberikan komentar pedas. Bila kita menemukan referensi, sebaiknya pastikan dulu apa referensi tersebut mendukung ide kita atau tidak. Jangan mencantumkan referensi yang bertolak belakang dengan ide kita karena itu dapat menjadi senjata makan tuan. Contohnya mengenai konsep ‘reading for pleasure’ ini dan argument dari beberapa orang yang sepertinya menginterpretasikan sesuatu dengan kurang tepat. 

Sebelumnya, bila kita memang tidak terlalu memahami suatu bidang, sebaiknya kita tidak melewati batas dan hanya menjadikan opini pribadi sebagai bahan acuan saja. Bila kita memang mementingkan riset, opini pribadi tentunya menjadi argument yang tidak terlalu kuat karena biasanya tidak mendasar pada riset, melainkan pada emosi pribadi. Gw sendiri merasa kalo gw gak punya latar belakang bidang ilmu teknik, kedokteran, kesehatan, atau lain-lain, lalu apa gw dengan beraninya mempermalukan diri gw dan beradu argumen dengan orang-orang yang memiliki latar belakang di bidang-bidang tersebut? Well, that’s a BIG NO for sure

Up to this point, gw merasa bahwa gw tidak perlu minder lagi dengan tulisan gw. Gw tidak usah merasa bahwa gw itu telah membuat tulisan yang buruk dan membodohi pembaca hanya karena tulisan gw itu terlalu fiksi dan tidak mengacu pada apa yang terjadi di dunia nyata. Sudah dijelaskan juga yaa, sekarang seperti apa pemahaman gw terhadap tanggung jawab menulis fiksi harus sesuai dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

So, gw berharap setelah percakapan ini passion menulis gw kembali lagi. jadi, gw bisa lunasin hutang2 ff sequel yang banyaknya minta amplop. Gw juga ga perlu khawatir lagi kalo gw telah membodohi pembaca, toh gw tidak menulis kalo bayi dilahirkan melalui lubang hidung kan? Gw juga tidak menulis Indonesia turun salju, eh tapi kalo ga salah dulu pernah ya turun salju di Kuningan? *ups* ^^v

Gw juga tidak perlu terganggu bahwa mungkin pembaca tidak akan mendapatkan kesenangan dengan membaca cerita gw karena gw sudah paham apa itu ‘reading for pleasure’. Toh, selera setiap orang itu berbeda2. Gw tau, ada banyak orang yang ga suka dengan genre dan cara penulisan gw. It’s okay overall. Karena niat gw adalah belajar dan menebar kesenangan ^^

27 thoughts on “Some words with Min Hyeri : Everybody knew that reading is not only for pleasure.

  1. Aha! Such a long post but I still want more😛
    Well said Eun Cha and Hye Ri! Since reading has many purposes, reading for pleasure is only one of them. What I know is reading for pleasure is often related with reading fictions, as you mentioned above. You won’t think too much about the details or perhaps the outrageous and weird scenes or description on your readings.

    Tulisan itu mengandung ideologi si penulis. Dia akan menyampaikannya melalui karakter maupun pendeskripsian situasi beserta tokohnya. Wajar saja kalau misalnya penulis menggambarkan sesuatu dengan tujuan agar pembaca mempercayainya. Kritis itu boleh, tapi harus dengan tepat dan benar. Ada begitu banyak alat untuk ‘membedah’ karya sastra, yaitu berbagai teori sastra seperti feminisme, postmodernisme, dll., tergantung dari sudut pandang apa kita melihatnya. Dengan bantuan ‘alat bedah’ ini, kita bisa lebih kritis menyikapi maksud dan tujuan si penulis menulis tulisannya.

    • Wow! Thank u that u just dropped by and read this post. Yup! reading for pleasure is one of reading purposes and it is often related with fiction.

      Yup! setuju sekali, kritis itu boleh, asal harus tepat sasaran dan benar. Menggunakan alat seperti teori feminisme atau postmodernisme untuk membedah karya sastra adalah alat yang sesuai. Menanggapi dan mengkritik karya sastra tanpa background yang kuat/jelas mengenai pemahaman sastra, jatohnya akan jadi tidak bertanggung jawab dan tong kosong nyaring bunyinya.
      saat ini, saya sedang belajar memberi masukan dan kritik pada penulis2 ff yang tulisannya sering saya baca. Miris juga ya, terkadang ada banyak pembaca ‘kritis’ yang mengkritik habis2an karya seseorang hanya berdasarkan pada pendapat/argumen mereka tanpa background sastra yang jelas. Apalagi kalo sampai menghina dan menjelek2an, mengata2i kalo si penulis mengalami ‘misconception’ mengenai seperti apa itu sastra.ckckck. keterlaluan sekali orang2 seperti itu. Apalagi kalo mereka ngaku2 terjun ke dunia sastra *salah satunya fiksi* memalukan >.< *ngopi gaya bahasa Pa.Ruswan.* .heheh. ^^v

  2. Hey there….. I think this is the first comment i gave since the first time I’ve visited this blog, rite?!

    the post is quite long, but if it contains something useful i guess people won’t mind😀

    well said and well written😉

    • yup, this is your first comment since you know this blog.ahahah.

      That’s right! I think this post is really useful. So, it doesn’t matter to spend ur time reading this post. Thanks for reading😀

  3. Eonni, maaf saya baru komen di blog eonni ini, sebelumnya saya cuman silent reader aja dan penggemar setia ff eonni ^^

    saya baru komen disini soalnya kemaren saya gak sengaja liat blog yang kata2 nya ngequote dari kata2 blog ini, cuman dia gak cantumin blog eonni sbg acknowledgement,,,saya pribadi ngerasa postingan kalian berkaitan kalo dia sampai cantumin kata2 eonni di blog dia

    Kalo eonni mau liat, ini alamat blog nya: (Link blog ini telah dilindungi oleh dalkomlollipop.wordpress.com)
    saya harap, eonni mau posting komen saya disini, soalnya saya ga ngerti kenapa komen saya ga di approve sama blog sebelah, padahal saya cuman menyarankan supaya penulisnya mencantumkan blog eonni sbg salah satu inspirasi dia karena menurut saya hak seorang penulis itu mendapatkan acknowledgement bila tulisan penulis tersebut di-quote oleh org lain, belum lagi ada baiknya kalo setiap reader diberikan hak untuk melihat sudut pandang penulis lain biar situasinya adil untuk kedua belah pihak

    gomawo, eonni ^^

    • Hallo, anonymous🙂 siapa pun kamu, first of all mau bilang makasih karena udah jadi pembaca ff2ku yang masih sangat jauh dari kata sempurna. Meskipun kamu silent readers ^^v

      Udah ak baca postingan yang kmu ksih link-nya dan yah, bener sih dia mengambil begitu banyak kata2 aku di sini tnpa mencantumkan blog ini agar org2 yg baca tulisan dia pun tau dari dua sisi. Dan keliatannya si pemiik blog itu kaya yang kebakaran jenggot nulisnya.

      Komenmu aku posting ko. Makasih kamu udah perhatian sama blog ini. Mungkin, blog sebelah punya alesan pribadi knpa ga memposting komenmu. Itu hak dia dan ak pribadi sbnernya tersanjung yaa karena tulisanku udh menginspirasi dia u/buat tulisan yang begitu panjang dan riset sana sini.

      Sekali lagi thank u yaa🙂 tulisan d blog sebelah ga akan ak tanggepin sma skali. Bkanya g brani nongol dn sharusnya ak nuntut hak karena dia udh nyomot bnyak banget tulisanku, oh! bahkan di status aku ada loh referrer dri ask.fm yg mncntumkan tlisanku ini. Jdi, ak tau dlm tlisannya yg dia blg udh nanya pndapat si pemilik ask.fm dgn id xxxxxx ini, ada yang dia hilangkan yg mnurutku mrupakan point pnting.
      Jdi, ak ketawa aja bca tulisan dia yang sbenernya mau mendebat tulisanku atau membeberkan ketidakpahaman dia? karena penulis dan pengkritik yg baik itu tidak akan menyembunyikan kebenaran sebagai upaya menyelamatkan mukanya.
      .hahahah. Lucu bgt, memberikan argumen tentang hal yang bahkan dia sndiri ga paham. *sry d sini ak ngakak bgt bca bagian soal grammar nazi itu*

      However, Thank u😉

      • wahh makasih eonni, udh approve komen saya….daebak, eonn!!!! karena takut disangka bias soalnya saya sering kunjungin blog eonni dr pda blog sebelah, saya ga akan komentar apa2 soal kontennya, tapi saya setuju kalau eonni emang ga nanggepin postingan itu b^^d
        apapun tujuan kalian membuat postingan ini itu, saya cuman pingin kaidah penulisan referensi itu dituliskan bila memang kutipan tersebut bukan ciptaan mereka, dan kalau penulis blog itu cantumin blog eonni, jadi reader lain bisa baca dan nilai 2 sudut pandang sekaligus

        gomawo eonni, nanti saya coba posting comment deh di ff eonni biar ga jadi silent reader lagi🙂

      • sama2, anonym. Duh! nama kmu itu siapa ya? klo anonym ak jadi bingung kn manggilnya.heheh.

        Hemm, sepertinya kmu org yang cukup paham di bidang tulis menulis yaa, Anonym?
        Yah, itu pilihan si pemilik blog sebelah u/tidak mencantumkn inspirasi dia.heheh.
        Diabaikan saja yah.

        oKEY, aku tunggu loh komenmu. Tapi jangan pake anonym yh kalo bisa.heheh. Thank u😉
        Oya, link yg kamu kasih aku hapus yaa. Sry, tkut ada org yg gtw kepo ke sini, ntr memicu msalah.

  4. I read the post on the opposite blog and kinda shock when the writer cited what you have written on this post, but she doesn’t put your blog as one of her references. Reader anonym itu menurut gw bener bgt laaahhh, sebagai penulis yg baik kita harusnya ngasih credit ke sumber yg kutipan2nya kita ambil sih biar ga dituduh plagiat juga dan itu bagian dari manner para penulis, pan?!

    Aneh juga sih komen reader anonym itu ga dicantumin sama dia, kesannya kyak yg dia ga mau orang lain yg baca postingan dia mampir ke postingan lu gitu ya dan baca KESELURUHAN apa yg lu tulis, bukan ambil kutipan2 yg yaahhh lu tau sendiri kali maksud gw😀

    so what do you think? Will you do something to the writer whose actions are kinda irresponsible for putting you as the villain without letting others know what you have written FULLY on your post?

    Buat anonym, I’m kinda curious and wanna know who you are,,, apa yg kamu cantumin di komen kamu bener2 pas🙂

    • Maybe the owner of that blog thinks my written text here takes some words/sentences from her blog. So, she did the same thing ceritanya. Mungkin yaah tapian. ga tau juga sih.

      hemm, itu hak dia sh sbenernya mau posting komen dari anonym ini apa ga. yah, istilahnya dia melindungi rumah dia dri org2/hal2 yang bsa membuat org lain tau klo pemilik rumah itu ga tau manner.

      sebaiknya diabaikan sajalah. Kalo ditanggapi malah kesenengan dan makin kebakaran jenggot kayanya dia. Lagian kn dia lebih paham caranya menulis, harusnya tau juga manner dlam menulis. Percuma gitu tulisan sempurna, tapi isinya tidak menarik! .hahah.

      Hooh, gw juga curious sama anonym ini. Moga dh ntr dia muncul dengan setidaknya nick name dia. Biar ga anonym teuing gitu.ahahahah.

  5. Maybe the owner of that blog thinks my written text here takes some words/sentences from her blog. So, she did the same thing ceritanya. Mungkin yaah tapian. ga tau juga sih.

    hemm, itu hak dia sh sbenernya mau posting komen dari anonym ini apa ga. yah, istilahnya dia melindungi rumah dia dri org2/hal2 yang bsa membuat org lain tau klo pemilik rumah itu ga tau manner.

    sebaiknya diabaikan sajalah. Kalo ditanggapi malah kesenengan dan makin kebakaran jenggot kayanya dia. Lagian kn dia lebih paham caranya menulis, harusnya tau juga manner dlam menulis. Percuma gitu tulisan sempurna, tapi isinya tidak menarik! .hahah.

    Hooh, gw juga curious sama anonym ini. Moga dh ntr dia muncul dengan setidaknya nick name dia. Biar ga anonym teuing gitu.ahahahah.

    • even so, if i’m not mistaken, she’s the one who started the war by posting a post on her blog about how she disagreed with Hyeri’s status that you quote some times ago, rite? tapi koq kesannya dia itu kyak yg kesindir apa kesinggung apa gak terima sama pemikiran hyeri mangkanya bikin postingan yg terlihat offensive yaahhh

      but when you wanted to get even with her, she played an innocence party kyaknya dan gak terima lagi pendapat lu, bersikap sarkastik melalui tulisan dia dan seolah-olah memojokan bgt yah. Jadi apa intinya???
      intinya dia ga bisa terima pendapat org yg beda sama dia kali, hello to respect yaaa

      kita gak mengada-ada juga sih sebenernya, yahhh buktinya dia ga posting komen mba anon ini di blog dia, kenapa coba? takut org lain liat pemikiran dari sisi postingan elu dan berubah ngelawan dia? aishhhh that’s unfair and coward😀 even you deserve a little credit by being her inspiration, but look she takes that away from you and ‘forgets’ to state your link as her ‘inspiration’. Even tho there’s someone who reminded her to do so, she decided to ignore her

      • Biarin aja deh din.
        Dia itu kan lebih paham gitu din, jadi dia g akan terima siapa pun yang beda pendapat sama dia. Heran aja gtu ktanya bkin skit mata bca tulisan warna warni, tapi dibaca juga sampe beres.hahahah. pathetic kan?
        Sbenernya beda pendapat sih boleh, kasih saran juga boleh, cuma masalahnya itu gmna cara menyampaikannya.

        .hahaha. dia ngiranya si mba anonym ini gw kali yang pura2 jadi orang laen. Trus pgn bkin gw h2c gitu dgn nunggu di-app-nya komen itu. hahah. lucu aja gitu kalo bener anggepannya gitu.

        skarang sih abaikan aja. Mana suka. Lagian rumah dia yah bebas dong mau ngapain, ini juga rumah gw bebas dong mau ngapain. Mangkanya gw bkin nih rumah. Rempong bgt tuh the coward >.<

    • halo lagi eonni, ini masih anonym hehehe
      tapi eonni panggil aja saya Lala, eon ^^

      Ngomong2 soal plagiarisme yg dilakukan blog sebelah, sebenernya saya ada buktinya, eonni… takutnya saya mengada-ada,walaupun sebenernya eonni ngerasa kalau postingannya blog sebelah gak ngasih acknowledgement ke blog ini. Memang sih, ada quote eonni yg di parafrase, tapi intinya sama aja kata saya, eonn. Saya juga anti dan sensitif bgt sama plagiarisme, eonn hehehe

      Oh iya, tadi kan saya takutnya dibilang mengada-ada dan memperkeruh suasana dengan meminta blog sebelah mencantumkan link blog ini sbg acknowledgment, mungkin itu sebabnya yah penulis blog sebelah gak app comment saya? Jadi, tadinya saya mikir kalau blog sebelah posting comment saya, saya mau ngasih bukti plagiarismenya biar saya gak disangka cari masalah atau memperkeruh sesuatu, tapi ternyata comment saya gak dianggap, eonn. Btw, kalau eonni mau bukti soal plagiarisme yg saya cari dan temuin dgn menggunakan mesin plagiarism checker, saya bisa kasih ke eonni lhooo dengan senang hati heheheh

      • Yeeee, akhirnya kamu kasih tau jg nma kmu. La la la ye ye ye *alay*

        Hoo, aku sih prcaya2 aja kalo kmu mnemukan koneksi antara tulisan di sini dan di sana via search engine. boleh sih, ak jga pngn tau. Kamu coba kirim aja link-nya ke email aku yaa. Alamatnya iamshawol.onew@gmail.com

        Hoo, kamu org yg sensitif sma plagiarisme yaa? nmanya apa yaa? plagiarism nazi? .ahahah. ga ada yah istilah itu. Iya sih yah, kalo kmu menemukan sesuatu yg g sesuai sma paham kmu pasti ngotot pengen ngebuktiin. I apreciate it, Lala.

        Sekali lagi makasih yah udah peduli sama blog ini.
        Masalah ini mendingan kita tutup aja, kalo udh tau y udah ga usah disebar2 apalagi minta temen yang lainnya ikut komenin.

      • Eonni, saya udah kirim ke email ya soal bukti2 itu, silahkan cek kalau sempat ^^

        Eon, boleh saya kasih saran? sebenernya saya aware sama istilah cyber war, dan mungkin eonni dgn penulis blog sebelah sedang dalam posisi seperti itu, tapi saya sih berharap apapun masalahnya gak jadi berlarut-larut, eon. Mungkin keliatan ya disini kalau ada 2 kepala yang berbeda *maksud saya pendapat yg berbeda*. Kalau kata saya, pendapat yang berbeda itu sesuatu yang sangat lumrah dan sering dialami setiap orang. Yang penting itu bukan isi dari perbedaan pendapat itu atau yang mana benar dan yang salah, melainkan bagaimana cara kita menerima perbedaan tersebut dan menghargainya. Mungkin setiap orang ingin orang lain setuju dgn pendapat dia, tapi rasanya gak adil kalau kita memaksakan kehendak dan memaksakan orang lain berpandangan seperti kita sedangkan mereka memiliki cara pandang lain.

        Menghargai pendapat orang bukan berarti kita bersikap masa bodoh, kalah, atau apalah gitu, justru hal tersebut menunjukan betapa kita paham benar dengan apa yang Tuhan ciptakan, salah satunya suatu perbedaan dalam cara pandang dan gaya berpikir seseorang. Tapi saya setuju dgn eonni, kalaupun berbeda pendapat, cara penyampaiannya harus tepat dan tidak menyakiti perasaan org lain. Intinya jangan paksa mereka untuk berpikiran serupa dgn kita karena kalaupun kita dipaksa untuk sepaham sama mrk, padahal kita punya cara pandang lain, pasti kita gak bakalan suka deh

        apapun itu, eonn, saya harap eonni dan penulis blog sebelah bisa mencapai suatu kesepakatan

        maaf, eonn, kalau saya sok menggurui heheheh

        gomawo, eonni, udh ngasih saya kesempatan untuk berpendapat disini, soalnya saya sempet ngerasa hak saya sebagai pembaca utk mengutarakan pendapatnya dgn bebas direnggut hanya karena komentar saya yg gak di app sama penulis lain😦 sakit hati sih diperlakukan seperti itu, tapi saya lega akhirnya saya bisa menyampaikan unek2 saya ini, eonn. Semoga eonni menjadi penulis yang hebat nantinya ya, eonn ^^
        satu lagi, penulis yang baik itu gak pernah menyembunyikan kebenaran. Walaupun pahit, kebenaran emang harus diungkap

        sampai nanti lagi, eonn, saya janji saya nanti comment di ffnya eonni deehhh heheheh

      • Akhirnya kita bisa tau siapa nama anon ini \^^/

        halo, Lala, salam kenal dari sya🙂
        Kamu sensitif sama plagiat?? wah sama bgt!!! sya juga dulu tuh sempet jadi korban plagiat. Wktu sya tegor orangnya, eh dia malah ga terima dan malah balik nyerang sya gituuu….pokonya ga tau diri bgt deh, mangkanya sya sensi bgt sama tukang plagiat ckckckck

        kamu saking telitinya sampe pake plagiarism checker yaaaa saluuuutttt bangeettttt b^^d, itu artiny kmu punya argumen yg kuat klo2 ada org yg protes sma kamu,,, soal blog sebelah yg ga posting komen kamu, mungkin bener juga tuh klo penulis blog sblah itu nyangka yg komen itu sbnernya euncha yg pura2 pke id anon, bkn kamu, lala. Tapi intinya sama, ada kata2 yg dia cantumin dari blog ini 100% tanpa dia parafrase. Sisanya dia parafrase walopun tetep aja dia ‘terinspirasi’ dari blog ini.

        Kalo kebebasan berpendapat kamu direnggut sma seseorang,kamu jangan nyerah. Toh banyak jalan menuju Roma kaaaannnn😀 Kalo pendapat kmu ga di denger seseorang karena pendapat kamu beda sma dia, kamu harus ykin karena diluaran sana pasti ada yg mau dengerin kamu walopun mungkin kmu dan mereka punya aspirasi yg berbeda pada akhirnya. Yang penting itu gimana cara kita menghargai dan menerima perbedaan itu. Respect is a must if you want to be respected by others.

        It’s really nice to meet you dan boleh lhooooo sekali2 mampir ke blog sya #promosi…..🙂

      • Lala, udah aku cek emalimu. makasih loh yaa, aku udah cek juga link yang kmu kasih dan memang bener apa yang kamu bilang. So, tenang aja, aku g akan anggap kamu mengada2 u/apa yang udh kamu bilang.
        Makasih yah skali lagi ^^
        yuk ah g usah dibahas lagi.
        Soal sakit hatimu karna ga di-app komennya juga ga usah dipikirkan, anggap aja angin lalu. Kalo kmu udh ga ditanggapi, lantas kamu terus merecoki orang itu namanya kampungan.heheh. orang juga mungkin perlu waktu buat berpikir.

        Yup. Aku stuju sama Lala. beda pendapat itu pasti ada, makanya Tuhan juga menciptakan manusia berbeda2, ga smua kulit putih/hitam, ga smua punya warna lensa mata cokelat atau biru. Adanya perbedaan itu wajar, dan yang harus diberi highlight adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan itu. ketika kita menyadari adanya perbedaan, jangan lantas terganggu dan tersakiti mata, dan keukeuh bahwa kita yang paling benar.
        Memberitahu juga boleh, asal perhatikan bahasa kita.

        Makasih loh u/doanya. semoga aku bisa jadi penulis hebat yang tidak merasa puas cuma karena tulisanku udah sempurna tanpa cela. Juga yang tidak merasa puas cuma karena udah terjun ke dunia ff. eh, maaf loh yah aku ngomong gini. Aku bukan novelis sih, jadi ga tau kepuasan sempurna dalam menulis itu kaya gimana. dan meski aku menekuni dunia menulis, tapi ak blm terjun langsung ke dunia yang lebih expert kaya novelis/aku udah nerbitin novel, so, aku yakin aku ga lebih pintar dari mereka yang emang terjun langsung ke dunia itu.

        Overall, Thank u, Lala.
        oKEY, aku tunggu loh komenmu di ffku😉

      • Eciyeehhh deesullivan yang pernah kena plagiat tulisannya. ^^v
        y udah deh, intinya mah tiap orang itu berbeda2, lantas jangan ngotot sekian banyak kepala isinya harus seragam.

        ciyeeehhh, promosi nih. oKEY deh, mari sudahi di sini.
        Thank u, semuanya😉

  6. iyeh cha, yg waktu jaman2nya kuliah translation literary works itu lho😀 inget, pan??

    Yup, gw setuju, ga ada gunanya hal ‘cyber war’ kya begini tuh dilanjutin. Kalopun kita tau ada pendapat yang berbeda, kenapa kita harus maksa mereka buat sependapat sama kita meskipun kita punya argumen yg kuat untuk mematahkan argumen sebelumnya. Misal, mungkin penulis blog sebelah ga mau cantumin link blog ini sebagai referensi karena dia ngerasa kalo sebelumnya blog ini juga ga cantumin link blog dia sebagai acknowledgement ditulisan dia yg sebelumnya, Tapi kembali, kita bisa mematahkan argumen tersebut dengan mengatakan knp dia gak cantumin status facebook Hyeri *a.k.a gw* sebagai acknowledgment di tulisan dia itu. Karena pada awalnya postingan dia sebelumnya itu terinspirasi oleh status gw yg dicantumin elu cha disini.

    Sebelumnya gw mau menuliskan sesuatu, siapa tau org bersangkutan baca dan berusaha untuk menelaah baik2 dari maksud gw ini.

    Jadi gini, gw gak nyangka ternyata status gw yang soal reading for pleasure itu menimbulkan hal yang sangat mengganggu penulis blog sebelah sehingga dia bikin postingan yg ntah kenapa gw nangkepnya dia nganggap gw lah org yg gak paham atau bodo bgt gitu sama konsep reading for pleasure dan seolah-olah gw itu mencantumkan klo reading itu cuman bwt kesenangan aja *pdhl gw gak bilang gitu* dan kyaknya gw tuh salah besar dgn menulis status seperti itu di facebook walaupun pada akhirnya status gw sama referensi2 dari link yg dia cantumin senada dan seirama.

    Gw juga punya perasaan lah klo ‘dikomentari gak sesuai tata krama’, ‘dianggap bodoh’ dan ‘dikritik’ seperti itu ada sakit hatinya juga, padahal gw gak pernah punya masalah sama penulis blog sebelah sebelumnya. Apa mungkin dibalik penulisan status itu, gw bertujuan untuk ‘menyindir’ penulis blog sebelah padahal gw gak punya urusan apa2 sma dia sebelumnya? gw bikin status itu karena gw ngerasa beberapa reviewers novel di goodreads itu bertindak sangat jauh dgn menghina author sebuah novel hanya karena ada scene yg gak bisa mereka terima dan MENGHINA AUTHOR itu bukan bagian dari konsep reading for pleasure, salah gw bilang begitu kali ya?

    Harusnya gw bilang kali ya konsep dari reading for pleasure itu salah satunya adalah menghina sang penulis baru deh status gw itu layak dimata dia. Parahnya lagi bagian status gw yang ada tulisan ‘In the end blahblahblah” gak dia cantumin dan diterjemahin ke B. Indo juga gitu, pdhal ITULAH INTI dari status gw, bukan yg bagian bandingin2 aja wooyyyyy, ckckckckc #Ngelus dada. Walaupun penulisan dan dasar dari status gw itu sejalan dan seirama, tetep aja author sebelah seolah-olah gak bisa terima dan memutuskan untuk membuat postingan berikutnya yg frontal bgt menyerang postingan ini.

    Sakit hati dan kesel pan ya setiap orang tuh kalo tiba-tiba dia ‘dihina’ dan ‘dikritik’ dgn bahasa yg berkesan klo dia itu bodoh dan cetek bgt gitu, padahal kita harus tetep mempertahankan tata krama kita dalam mengutarakan atau menyanggah pendapat. Itulah perasaa gw saat baca postingan blog sebelah yg terinspirasi dari status gw soal reading for pleasure itu. Gw mikir, dosa apa coba ya gw ke dia? emg gw pernah nyindir2 dia gitu ya sebelumnya di blog gw ato di akun media sosial gw? Apa gw pernah bikin dia sakit hati gitu ya? terjun ke dunia ff aja enggak koq dan gw pun ga pernah tuh komentar2 soal gaya penulisan dia ato tulisan2 dia yg lain gitu sebelumnya.

    Sorry, cha, kalo komen ini jadinya panjaaaangggg banget dan harusnya sih dibikin jadi postingan aja kali ya😀. Gw cuman ga mau kalo lu diserang terus sih sebenernya dan gw sendiri ga bisa bilang klo gw ga layak ikut campur, soalnya lu tau sendiri betapa status facebook gw *yg gak ada sangkut pautnya sama dia* yg lu cantumin disini menjadi masalah buat dia dan menarik gw untuk mengkonfirmasi segala ‘sanggahan tak mengenakan’ yg dia tulis.Walaupun pada akhirnya sanggahan gw yang didukung oleh referensi2 dari link dia itu sejalan dan seirama, lu tau sendiri pada akhirnya itu semua sia-sia dan malah menimbulkan kesan sarkastik dari dia. Jadi, sebelum semuanya makin parah ayo kita mundur dan gak usah pikirin lagi deh org yang bersangkutan mau nulis apa di blog dia ato di social media juga. Who knows what she will say/write about us after reading this comment yaaa

    Tapi ya udahlah skrg mah kita mulai bersikap adem ayem and don’t give a damn ajalah klo hasilnya malah jadi bales2 nulis blog yg menjatuhkan satu sama lain. Soooo I think that’s all from me and gw ngerasa lega udah ngejelasin hal ini, terserah deh mau ditanggepin gimana sama org yg bersangkutan coz i don’t give a damn anymore🙂

    -FIN-😀

    • Eh buset, panjang amet komen lo din! bagusan dibikin postingan aja sik, tapi takut disangka perang yee.

      iyeh, translating for literary works, gw inget elu smpe marah2 buset karena ada yang ngopi tugas lo sama persis. Kan masalahnya literary works gitu, tiap kepala kudunya punya imajinasi tak terbatas masing2 u/menginterpretasikan sesuatu. Masa sih tiap kepala kudu sama isinya? kudu seragam.heheh.

      ya udah lah ini mah ga usah diperpanjang lagi. Yang penting masing2 udah mengeluarkan unek2 kan yaa? dan lo juga udh memberikan argumen2 yang memperkuat argumen lo sbelumnya.

      Hemm, mungkin sih si blog sebelah wktu awal bkin postingan menyangkut reading2 itu ga maksud kali ya terinspirasi dari status lo yg gw posting di blog ini. Cuma kebetulan pas lo searching dengan keyword ‘reading for pleasure’, nemu lah tulisannya dia. dan merasa klo tulisan dia itu terinspirasi dari tulisan lo. Lagian mski mgkin bkan ditujukan ke lo, lo yang notabene penganut mazhab bahwa reading for pleasure itu sebagaimana sperti yg udh lo jelaskan. Lo pasti tersinggung berat yaa, karena ada yg istilahnya itu menjelekkan mazhab lo dengan kta2 yg seolah mazhab lo itu tidak paham dan salah persepsi/bodo.

      Menurut gw, intinya sih kalo lo ada kritik dn saran sma seseorang apa sesuatu tuh, lgsung aja omongin k orgnya. Jangan di belakang. mending kalo orgnya ga tau, lah ini orgnya tuh tukang kepo kaya gw, terus ketauan. Malu banget deh harusnya!
      Gw juga org yang mau menerima kritik, asal diomongin bener dan ga di belakang gw. Kenapa? karena ga enak kan diomongin di belakang terus lo tau kalo lo itu diomongin di belakang?

      .hehe. y udah lah yah. klo ada orang yang beda tuh terima aja, ga usah pake kata2 menjijikan dan sok pintar! enek kan rasanya? Written text itu emang risky bgt, org yg baca g tau intonasi yg lo mksud itu kya gmna. mgkin maksud lo biasa aja, tpi sma yg baca ketangkepnya jelek.
      Lagian kalo mau nge-quote sna sni, mnta dukungan sna sni tuh kalimat yang lo ambil jgn dipotong2, apalagi motongnya itu yg penting dan inti cuma buat menyelamatkan muka.hahahah. lucu bgt deh!

      Nah, oKEY deh, dengan adanya komen gw yg panjang ini. udah aja deh ya.
      Lo banyak2in lagi aja din baca novel best selling, sama soal literature gitu, siapa tau lo bisa jauh jauh lebih ngerti dan paham dari orang pintar yang ga terjun langsung ke dunia lliterature.
      Sekian….

      • iye lah gw marah sama org yg copy-paste tugas literary works gw, dia yg ude jelas2 copy-paste hasil karya gw tapi malah dia yg sewot gitu ke gw, itu namanya lebih rendah dari gak tau diri pan??? Aishhh klo inget ituuuu,…. mangkanya gw ga suka bgt sama hal2 yg berbau plagiat gitu deh, soalnya gw tau bgt gimana perasaannya kalo jadi korban plagiat😀

        Anyhow, terserah deh blog sebelah mau alesannya apa soal alesan dia dibalik postingan dia sebelumnya, tapi yg jelas kenyataan dan fakta2 yg ada juga udh menunjukan hal yg sebenernya ke gw. Gak ada gunanya ngeles sana sini juga kalo fakta udah berbicara😀

        Cuman yang sangat disayang itu adalah dia gak nerjemahin semuanya cobaaaa, nanggung bgt sih ihhh, padahal yg gak dia terjemahin itu intinya chaaa intiiii. Inti dari status gw itu adalah betapa manner yg baik itu diperlukan dalam menulis ulasan, ya itu terserah sih klo para pengulas itu mau membandingkan kehidupan nyata sama fiksi walaupun sebenernya itu gak perlu juga dilakukan seperti apa yg dituliskan globalpost. Yg penting itu adab dalam memberikan ulasannya, masa sih ngata2in author itu diperbolehkan dalam me-review. Itu yg seharusnya dibahas, bukan menyudutkan atau membuat gw seolah-olah men-generalisasikan klo reading itu bwt kesenangan aja *padahal gw gak bilang gitu yeee* hha

        I didn’t have any problems with her before. Even I didn’t know her existence until recently. Did I deserve to be treated unfairly by her? Did I deserve to be judged as if I knew next to nothing about literature and writing when in fact I have the background and i’ve learned about it for years FORMALLY and from the experts, and not to mention I’m involving myself in journalistic and writing as well even tho it isn’t fan fiction. I’m not being a cocky person, and for me the cocky one is those non-experts who think that they probably know everything than the experts. Saying that probably the non-experts can be better than the experts is very insulting for the experts generally who spent a very long time to master the subjects. Ya kaliiii dia bakal rido kalo gw ngaku gw lebih expert dan paham betul soal bidang yg dia pelajari padahal gw gak punya background sama sekali dan ga belajar secara formal dari experts kayak dia. Nah, intinya ‘whose house is a glass, must not throw stones at another’

        Btw, lu juga perna diginiin ya cha sama org yg sama? Jadi emg sangat betul sekali kalau ‘old habits die hard’ ckckckc #sigh

        Tapi ya disini gw cuman membela diri aja, toh sabar itu bukan berarti diam aja. Dan rasanya Alloh pun mengizinkan kita untuk melawan bila mampu dan bila kita merasa diperlakukan tidak adil atau ada yg menganggap kita buruk gitulah, walaupun sebenernya lebih baik rasanya kalau kita tidak melawan org yg seperti itu dan mensejajarkan diri dgn org yang suka nyari2 kesalahan org lain padahal org2 tersebut juga tidak luput dari kesalahan. Lagian kita kan percaya Alloh itu Maha Adil dan kebenaran itu pasti muncul juga nantinya #acieeeeee

        #sigh….Legaaaa…. let’s move on \^^/

        sorry ih, gw belum sempet nyari si Sherlock season 3, gw keburu di suruh balik dari redaksi tadi hha dan gw seneng balik cepet wuzzaaa…wuzzaaaa

      • Plagiarism is a crime.hahah.inget aja deh ini jaman2 awal smester kalimat ini berkeliaran di tiap subject.

        jangankan status lo din, opini si mba pemilik ask.fm/****** aja bagian akhirnya kaga dicantumin din.padahal itu penting banget din. penting banget!

        Hemm, tiap kepala kan beda2 din. Ya udah lah terima aja gitu. cuma lo jangan sampe beranggapan lo itu lebih expert di bidang yang tidak lo tekuni ketimbang orang yang emang menekuni dunia itu. Karena as what you stated itu tuh sama aja dengan menghina para experts di bidang tersebut. How dare banget dah! Orang yang sekolah khusus sastra sama yang belajar sastra di luar pendidikan formal itu yah pasti ada bedanya. Yang kaga sekolah sastra pasti kaga tau kan teori Marxism, Postmodernism, New Historicism, Psychoanalytical ato theory of gender and sex.Ato mungkin teorinya si Woddak. Asal lo jangan ngira aja gw yang bikin term grammar nazi.hahahah.

        Ya udah lah, lo udah ‘pleng’ *?* kan skarang? udahan aja deh.

        besok yeh din, gw kaga sabar liat si Cumberbitch beraksi. Ganteng banget ampuunnn >..<

      • ehhh bentar2, emg siapa cha yg bilang istilah grammar nazi itu elu yg bikin? ecieeee kece amet lu bisa bikin term yg di muat di wikipedia, urban dictionary, freedictionary cambridge dictionary, dll…

        jangan2 orang yg ngatain lu bikin istilah grammar nazi itu ga riset dulu kali di google? ato jangan2 disangkanya lu bikin istilah nazi itu karena lu kejam dan pengikut Adolf Hitler lagi…. aduh bentar2 gw ngakak dulu hha

      • Ya kaliii gw keren mampus bisa bikin term yang kece gilak begitu.

        jangan2 denger term grammar nazi yang kebayang kumisnya Adolf Hitler lagiiihhhh. Bloody awesome!

      • hha ya kaliiii dikumisnya Hitler ada rumus verb pattern gituuuu

        mungkin bisa aja ya istilah nazi ini terinspirasinya dari Hitler yg punya partai Nazi itu, tapi klo sampe lu yg bikin dan mempopulerkan ckckckc, ga dehhh

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s