I need romance #4 – Wind Chime [2.2]

Author             : Song Euncha

Cast                 : Kim Kibum [Key] SHINee | Min Hyeri [OC]

Genre              :  Romance

Rating             : NC 17

Cre. songs     : Ken Hirai – Kiss of life | Ken Hirai – Life is another story

You better read “I would” first.

“Baby, can you hear the melody of breeze? The tinkle of my heart everytime I miss you.”

 

Part 2!!! Eh, maaf ya kalo ini ff jadinya suerr geje banget dan ngalor ngidur. Pikiran random, dll. Di luar segala kekurangannya, mudah2an menghibur yaa. Maaf banget kalo romance-nya tidak terasa sama sekali *bow*

 

 

 

Nyanyian burung-burung kecil yang hinggap di tepian atap mengalun merdu. Secercah sinar mentari pagi menelusup ke celah-celah tirai yang disibakkan angin. Tak ada embun yang menetes pagi itu, hanya rumput yang bergoyang dihembus angin musim panas. Gadis itu mengerang, baru saja terbangun dari alam bahwa sadar yang membuainya sepanjang malam. Perlahan ia membuka mata, memaksakan dirinya untuk terbiasa dengan sinar mentari yang menyilaukan. Ia bangkit, lalu terduduk di tepi ranjang.

Satu, dua, tiga, ia menghitung dalam hati. Lantas menghela nafas berat setelah mendapatkan seluruh kesadarannya. Semalam ia bermimpi, berada di halaman belakang sebuah rumah tradisional Jepang. Di mana dirinya dan seorang lelaki – entah siapa- tengah duduk di sana. Lelaki itu tidur di atas kedua pahanya yang terlipat. Lantas Hyeri mengingat suara hembusan angin yang menciptakan melodi indah musim panas.

“Baby, can you hear the melody of breeze? The tinkle of my heart everytime I miss you.”

Satu kalimat panjang itu yang lantas ia ucapkan dalam mimpi. Ia tidak tahu dari mana ia mendapatkan kalimat seperti itu. Hanya saja, mimpi itu seperti sebuah kehidupan nyata yang ia jalani. Di mana hanya ada dirinya dan lelaki itu, juga melodi hembusan angin yang mengalun merdu.

Hyeri diam, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan mimpinya. Rasanya begitu bahagia, seperti sebuah mimpi yang sangat ia inginkan untuk menjadi nyata. Lalu ia beranjak. Sedikit terkejut saat menyadari ia bukan berada di kamarnya. Sedetik kemudian, ia menyadari apa yang terjadi semalam. Saat Key membawanya ke rumah yang ia katakan sebagai rumah mereka, juga hal-hal yang ia lihat dalam rumah ini. Ia ingat, bagaimana lelaki itu meyakinkannya agar merasa aman sepanjang malam. Berada dalam pelukan Key. Hyeri tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga kedua matanya terpejam.

Lantas ia menundukkan kepalanya, merasakan jantungnya mulai berdebar tak karuan. Lelaki itu, Key, memperlakukannya sangat baik dan lembut. Bagaimana lelaki itu menyentuhnya, memeluknya, menggenggam tangannya. Semuanya begitu memabukkan bagi Hyeri.

Klek

Pintu kamar terbuka, memunculkan sosok lelaki berambut hitam dengan t-shirt putih longgar. “Oh! Ireonasseo? Bagaimana tidurmu?” tanyanya riang. Ia melangkah masuk sambil memasukkan kedua tangan di saku celana rumahannya.

Hyeri kembali menunduk, apa yang baru saja ia pikirkan dan keberadaan Key yang begitu tiba-tiba membuat jantungnya berdebar tak karuan. “Baik.” Jawab Hyeri singkat.

Key duduk di samping Hyeri, membuat jantung gadis itu nyaris melompat dari tempatnya. “Syukurlah. Hari ini kita akan melakukan banyak hal. Hemm….” Ia menatap Hyeri dari ujung rambut hingga kaki. Ia suka piyama merah muda itu melekat di tubuh Hyeri, juga rambut hitam sebahu yang mengembang indah. Membuat Key seolah sedang melihat Hyeri lima tahun yang lalu. Ia lalu melanjutkan “Aku sudah membuat sarapan. Bersiap-siaplah.” Kemudian mengelus rambut Hyeri.

Ia tersenyum sebelum akhirnya beranjak begitu saja, meninggalkan Hyeri dalam privasinya. “Key-ssi.” Panggilan itu menahan langkah Key yang belum sampai di daun pintu. Lelaki itu menoleh. “Hari ini aku harus bekerja.” Ucap Hyeri pelan. Tersirat bahwa gadis itu merasa tidak enak menolah ajakan Key untuk melakukan banyak hal hari ini.

Key terkekeh, “Ini hari Minggu. Oh! Café tidak tutup hari Minggu. Tapi, kau bisa berhenti bekerja jika kau mau.” Tawar Key, membuat Hyeri terperanjat. Gadis itu bangkit dan mendekati Key.

“Berhenti bekerja?” ia terkekeh pelan. “Jangan  bercanda, Key-ssi. Aku harus-“

“Kau tidak memerlukan pekerjaan itu. Kau bisa berhenti kapan pun dan bahkan kau telah berhenti lima tahun yang lalu. Aku akan menelepon pemilik café dan mengatakan bahwa kau sudah bersedia kembali pada ingatanmu yang dulu.” Terang Key.

“Key-ssi, Kenapa kau memaksaku?” tanya Hyeri. Wajahnya seperti anak kecil yang menuntut keadilan dan menahan tangis setengah mati. “Kenapa kau memaksaku untuk kembali pada ingatanku yang dulu? Semua orang mengatakan aku telah melupakan banyak hal, tapi sekeras apa pun aku berusaha mengingatnya, aku sama sekali tidak pernah mengingatnya,” ia mulai terisak pelan. “Selama ini, aku bahagia menjalani hidupku sendiri. Menjadi seorang pelayan café yang membuatkan pesanan para pengunjung. Hidupku tidak kaya raya, tapi aku bahagia. Setiap kali melihatmu di café, aku merasa seperti melihat seseorang yang pernah hadir dalam mimpiku. Tapi aku tidak pernah ingat mimpi yang mana,” kini isakannya semakin menjadi.

Key menatap Hyeri, membiarkan istrinya menangisi takdir yang tidak ingin ia alami. Ia tahu, Hyeri tidak ingin kembali pada ingatan yang telah ia lupakan. Gadis itu begitu bahagia dengan kehidupannya saat ini, kehidupan di mana tidak pernah ada Key.

“Dan sekarang kau datang padaku, mengatakan banyak tentang hal yang telah kulupakan. Kau pikir aku tidak takut dengan apa yang telah kulupakan? Aku sangat takut! Takut sekali! Aku takut mengetahui bahwa aku bukan lagi Min Hyeri yang berusia 20 tahun. Aku takut menerima bahwa aku adalah wanita yang telah menikah. Lalu, kenapa kau memaksaku?”

“Lalu, kau akan membiarkanku berjalan seorang diri di jalan yang telah kita pilih bersama? Kau akan membiarkanku terjebak seorang diri dalam kenangan yang telah kau ciptakan untukku? Kau akan melakukan hal itu? Kau akan membiarkanku mengingkari janjiku sendiri karena tidak menjagamu hingga aku mati? Begitu? Kau ingin aku seperti itu?” kini intonasi bicara Key sarat akan tuntutan. Ia tahu, ini tidak adil bagi Hyeri. Tapi, ini sama tidak adilnya bagi ia sendiri. Ia lelah untuk terus menunggu. Kali ini, Hyeri telah kembali datang padanya. Ia tidak peduli jika Hyeri masih tidak mengingatnya. Satu-satunya yang ia perlukan adalah keberadaan Hyeri di dekatnya seperti sedia kala.

Hyeri diam, membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak tahu harus mengatakan kalimat seperti apa agar tidak membuat Key semakin tersakiti. Ia tahu, apa yang ditunjukkan Key adalah benar. Rumah ini memang rumah mereka, ada begitu banyak hal yang disukai Hyeri di dalam rumah ini. Tapi, itu tidak berarti Hyeri akan kembali. Hyeri tidak bisa menjalani hidup bersama lelaki yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.

“Kau tidak tahu betapa lelahnya aku selama ini? Menunggumu mengingat lagi siapa diriku? Menunggumu kembali lagi dalam pelukanku? Sekarang kau telah kembali, kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?” Key mendekat, membuat Hyeri melangkah mundur. Gadis itu menundukkan kepalanya, ia mulai ketakutan. “Aku tidak peduli lagi, yang kuinginkan hanya kau kembali di sisiku. Jika kau tidak mengingatku, aku tidak peduli!” Key terus mendekat, meraih lengan kiri Hyeri dan dalam satu gerakkan menenggelamkan gadis itu dalam pelukannya.

Hyeri berontak, berusaha melapaskan diri dari Key. Ia mulai ketakutan. Takut jika Key telah kehilangan akal sehatnya. Memaksanya untuk tetap berada di sana dan membuat Hyeri sengsara. “Key-ssi, lepaskan! Aku mau pulang!” Bisik Hyeri. Tapi Key bergeming, semakin mempererat pelukannya pada Hyeri.

“Lepaskan!”

“Kumohon! Tetaplah di sini bersamaku. Jangan pernah pergi lagi, kumohon, kumohon, kumohon, kumohon…” Key tidak meneruskan kalimatnya karena kini yang terdengar adalah isakan kecil dari mulutnya.

Hyeri diam, menyadari bahwa kini Key menangis. Lantas ia berhenti berontak dan membiarkan lelaki itu memeluknya.

“Kumohon… jangan pernah pergi lagi… jangan pernah… jangan pernah, Min Hyeri. Tetap di sini bersamaku… kumohon…” bisik Key. Lalu suaranya hilang, tenggelam dalam tangis pilu yang selama ini selalu dipendamnya.

“Key-ssi…”

Lelaki itu melepas pelukannya, menggenggam kedua lengan Hyeri. Lalu menatap gadis itu, tak peduli bahwa kini ia sedang menangis. “Aku akan melakukan apa pun agar kau tetap di sisiku. Kumohon, jangan pergi lagi. Aku tidak peduli jika akhirnya kau tidak mengingatku. Kita bisa memulainya dari awal lagi. Asalkan kau tetap di sini. Itu sudah cukup bagiku. Hemm?”

Key meraih kedua tangan Hyeri, menciuminya lembut. Hyeri tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kini, ia tahu bahwa ia telah menyakiti lelaki bernama Key. Pada akhirnya, Hyeri hanya mampu membisu. Membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam pelukan Key.

***

Hyeri menggenggam tali tas selempangnya erat. Pikirannya kacau. Menimbang antara melangkah masuk ataukah pergi ke tempat lain. Sore ini, ia baru saja memutuskan untuk meninggalkan Key. Berkali-kali Key memaksanya untuk tetap tinggal. Hyeri memang merasa iba, tapi kenyataannya ia tetap berjalan pergi meninggalkan lelaki itu dalam diam. Ini mungkin salah, tapi Hyeri memerlukan waktu untuk berpikir, untuk mempersiapkan dirinya kembali lagi pada ingatan yang telah ia lupakan.

Baru saja Hyeri memutuskan untuk beranjak saat pintu di hadapannya terbuka. “Hyeri-ya? Kenapa kau ada di sini? Mana Kibum?” lantas wanita paruh baya itu menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari si lelaki yang ia maksud.

Hyeri menggeleng pelan, “Aku memutuskan untuk pulang, Eomma…” ucapnya ragu, lalu menggigit bibir bawahnya.

Nyonya Min, wanita itu memejamkan kedua matanya. Tahulah sudah bahwa kemajuan hari kemarin bukanlah sesuatu yang berharga. Kenyataannya, Hyeri memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Memutuskan untuk kembali pada ingatan lamanya tanpa Key. “Masuklah. Kau sudah makan?” akhirnya Nyonya Min hanya menanyakan hal standar itu. Ia berusaha untuk tidak menekan Hyeri.

***

“Apa saja yang terjadi di sana? Kau tidak suka tinggal di sana? Apa Kibum tidak memperlakukanmu dengan baik?” serentetan pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Nyonya Min.

Hyeri menaruh sendoknya, meneguk air mineral. “Aniyo. Dia… sangat baik. Kami melihat foto.” Terang Hyeri singkat. Ia berusaha untuk tidak mengatakan bahwa bagaimanapun ia tidak bisa tinggal bersama lelaki itu.

Jinjja? Foto apa saja yang kalian lihat? Kalian melihat foto pernikahan kalian? Foto liburan kalian?”

Ne.” jawab Hyeri singkat.

“Lalu?” tanya Nyonya Min membuat Hyeri bingung. “Lalu, tidakkah kau mengingatnya? Mengingat sesuatu tentangnya? Mengingat sesuatu bersamanya?”

“Dia… seperti seseorang yang sering muncul dalam mimpiku. Tapi, aku tidak tahu siapa.” Terang Hyeri seadanya.

Nyonya Min menaruh sendoknya, “Hyeri-ya, itu bukan mimpi,” lantas tangan kanannya terulur menggenggam tangan kiri Hyeri. “Itu adalah kepingan memorimu yang hilang. Kau mulai mengingatnya.”

Hyeri hanya diam, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia benar-benar tidak siap untuk kembali pada ingatannya yang lalu.

“Hyeri-ya, eomma tahu kau merasa takut. Kau tidak siap menjalani hidup yang asing bagimu. Tapi kau harus tahu. Semua wanita akan menikah. Anggap saja kau menikah lebih dulu dibandingkan teman-temanmu yang lain. Anggap saja kau memutuskan untek menikah di usia muda dan memulai kehidupan bersama Kibum.”

“Tapi eomma-“

“Semua wanita akan mengalaminya. Menikah, hidup bersama, dan memiliki anak. Itu hal yang wajar dan tidak ada yang perlu kau takutkan-“

Eomma, aku tidak bisa men-“

“Dia menunggumu, Hyeri-ya. Sudah 2 tahun dan itu bukan waktu yang singkat. Dia benar-benar mencintaimu, itulah sebabnya ia menunggumu. Tidak ada lelaki seperti dia! Tidak ada!” Nyonya Min tersenyum, mengeratkan lagi genggamannya pada tangan Hyeri. Berusaha meyakinkan putrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Hyeri diam, ia hanya bisa menundukkan kepalanya dan mulai terisak. Sungguh! Ia begitu takut untuk kembali pada ingatannya yang telah hilang. Tapi, lelaki itu telah begitu lama tersiksa batinnya. Terlebih lagi, kini eomma-nya kembali meminta Hyeri untuk mengingat lelaki itu.

“Semuanya akan baik-baik saja. Kau akan menyukai hidupmu bersama Kibum. Itulah yang terjadi padamu sebelum kau melupakan semuanya. Kau begitu bahagia bersamanya,” Nyonya Min mengusap air mata di wajah Hyeri. “Jika kau tidak mau melakukannya untukmu, lakukanlah demi eomma. Eomma minta padamu, eoh?”

Hyeri masih diam, hanya mampu menatap eomma-nya dengan wajah bercucuran air mata.

“Nah, mari eomma ingat sedikit. Kau selalu tersenyum setiap hari, berlari ke sana ke mari, mengatakan bahwa kau baru saja menatap ruang tamu dan dapur. Kau bilang kau telah menempatkan benda-benda yang kau sukai di sana. Ah! Kau bilang Kibum selalu menggodamu, ia pandai membalikkan kata-kata untuk membuatmu kesal,” Nyonya Min mulai bercerita, menahan genangan air mata yang nyaris jatuh. “Kau selalu mengunjungi eomma setiap minggu. Tak pernah berhenti menceritakan bagaimana Kibum memperlakukanmu dengan sangat baik. Ia selalu pulang sebelum larut malam, menyediakan waktu berdua bersamamu meski ia lelah. Kalian selalu melihat lonceng angin di halaman belakang, Kibum akan merebahkan kepalanya di atas pahamu, lalu kalian bercerita tentang impian kalian masing-masing,” kini air mata Nyonya Min menetes. Ia tidak bisa menahan rasa sedih yang tiba-tiba saja menyergapnya saat mengingat lagi betapa bahagianya hidup Hyeri bersama Kibum.

Eomma-“

“Tapi pada akhirnya, kau yang akan tertidur dan Kibum akan menggendongmu ke dalam kamar. Membiarkanmu tetidur lelap.” Nyonya Min menyeka air matanya. “Eomma mohon, kembalilah padanya, eoh? Kau sangat mencintainya seperti kau mencintai dirimu sendiri. Kau tidak pernah ingin berpisah dengannya. Eomma mohon, kembalilah padanya, kembalilah pada Kibum…” Nyonya Min terisak, tidak bisa lagi membendung kesedihan yang menyayat ulu hatinya.

Eomma…” hanya itu yang bisa Hyeri ucapkan. Ia menatap eomma-nya, membiarkan air matanya mengalir begitu deras. Ia tidak mengerti, mengapa rasanya begitu sedih. Seolah baru saja kehilangan sesuatu.

Eomma mohon…” bisik Nyonya Min lirih, ia bahkan menundukkan kepalanya. Memohon agar Hyeri mengabulkan permohonannya yang satu ini.

***

Tetes tetes hujan jatuh membasahi bumi. Jatuh begitu cepat tanpa permisi. Beberapa kali lonceng di atas pintu berbunyi, menandakan beberapa pengunjung dadakan baru saja masuk. Begitulah hingga menjelang malam. Pengunjung dadakan yang ingin berteduh datang silih berganti. Mengisi kekosongan dalam café yang memutar lagu-lagu cinta khas musim hujan.

Gadis itu termenung, memeluk baki sambil menatap ke luar jendela. Sudah pukul 7 malam dan shift-nya sudah selesai. Ini hari ke 8. Yeah! Lelaki itu tidak pernah lagi datang ke café setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Tidak pernah sama sekali! Seolah lelaki itu memang tidak pernah ada. Lantas ia menatap tetesan hujan yang jatuh dari langit kelam. Ini aneh, tapi ia merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang membuat harinya tidak secerah yang lalu.

Setelah mengganti pakaiannya, ia berjalan meninggalkan café. Menyusuri trotoar yang tidak terlalu ramai, sesekali menapaki kubangan air. Pikirannya kacau, perasaannya buruk. Ia merasa ada sesuatu yang perlu dijelaskan.

Satu, dua, tiga, kakinya terus melangkah. Lantas terhenti saat kedua matanya menangkap sosok yang 8 hari ini ditunggunya. Kedua matanya membulat, merasa seolah sedang bermimpi karena melihat lelaki berambut hitam itu berdiri beberapa meter di hadapannya. Ia memakai setelan jas hitam. Pakaian dan rambutnya sedikit basah. Mata mereka bertemu, terdiam seolah mengatakan bahwa mereka saling merindukan. Tak ada kalimat yang terucap saat Hyeri begitu saja membagi payungnya dengan lelaki itu.

***

Keduanya duduk di kedai ramen pinggir jalan. Lelaki itu mengusap lagi hidungnya setelah ia bersin. Menyesap teh hijaunya tak sabaran. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu.” Terangnya, berusaha mengukir senyum di balik luka hatinya.

Hyeri tersenyum kecil, “Aku… juga. Sudah 8 hari kau tidak-“

“Delapan hari? benarkah? Ah! Kau menghitungnya. Aku sungguh tidak ingat sudah berapa lama tidak berkunjung ke café.” potong lelaki itu. Lalu kembali menyesap teh hijaunya. Membuat Hyeri segera menyadari bahwa ia benar-benar menunggu lelaki itu datang.

Hening. Tidak ada yang mereka ucapkan. Membiarkan tetesan hujan menciptakan melodi. Dua mangkuk ramen telah dihidangkan di hadapan mereka. Hyeri hanya mengaduk-aduk ramennya dengan sumpit, sementara lelak itu-Key- hanya menatap ramennya. Ada sesuatu dalam pikirannya. Sesuatu yang sangat mengganggunya.

“Tidak makan?” tanyanya. Hyeri terlonjak, lamunannya buyar. Lalu ia menatap Key. Menatap lagi sepasang mata rubah yang dilapis lensa kontak abu itu. “Bukankah kau suka ramen?” tanyanya lagi. Tak memberi Hyeri kesempatan untuk memberikan alasan. Tapi Hyeri, ia justru hanya bisa menatap sepasang mata itu. Membuatnya seolah terseret ke dimensi waktu yang lain.

“Aku adalah lonceng angin di musim panas dan kau adalah anginnya. Aku tidak akan menjadi indah tanpamu. Tanpamu, aku hanyalah benda musim panas yang tidak berarti.”

Sebuah kalimat tiba-tiba saja berdengung di telinga Hyeri. Seolah baru saja diucapkan di hadapannya.

Gwaencanha?” tanya Key. Hyeri terhenyak, tak bisa mengatakan apa pun. Merasa sedikit pusing. “Kau mengingat sesuatu?” tanya Key lagi. Hyeri mengangguk pelan. Kini Key menatapnya serius, bahkan lelaki itu memutar tubuhnya hingga ia berhadapan dengan Hyeri. “Mau menceritakannya padaku?” kedua tangannya menggenggam lengan Hyeri.

Hyeri menetap kedua tangan Key yang menggenggam lengannya, lantas berpindah pada kedua mata Key. Sepasang mata yang kembali mengingatkannya pada sebuah melodi indah di musim panas. “Aku… mengingat sesuatu tentang melodi hembusan angin di musim panas.” Terang Hyeri.

Ujung bibir Key tertarik, ia menyunggingkan senyum bahagia. Lantas satu tangannya merengsek mencapai puncak kepala Hyeri, mengelusnya. “Kau sudah mengingatnya dengan baik. Gomawo.” Bisiknya, lalu kembali pada teh hijaunya.

“Key-ssi.” Panggil Hyeri. Lelaki itu hanya menoleh.

“Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak…” Hyeri menggigit bibir bawahnya, menatap Key ragu. “jika aku tidak kembali padamu seperti diriku yang dulu?” lanjutnya.

Key hanya tersenyum, lelaki itu tidak terlihat terkejut. “Hari ini turun hujan, sepertinya musim panas akan segera usai,” ucapnya, membuat Hyeri mengerutkan dahi. “Tidak ada jalan lain selain melewati café tempatmu bekerja, karena itulah satu-satunya jalan utama. Tapi, sudah jam 8. Shift-mu sudah selesai satu jam yang lalu, seharusnya aku tidak bertemu denganmu.” Lanjutnya sambil tersenyum hambar. Ia lalu menatap Hyeri, “Setelah 2 tahun ini, dan bahkan setelah kau sempat kembali ke rumah,” pelupuk matanya mulai digenangi benda cair. Tapi ia tersenyum, “kurasa aku harus mulai membiasakan diriku tanpamu. Kau…” Key memalingkan wajahnya, lalu mengaduk-aduk ramennya dengan sumpit. “Kau tidak akan kembali padaku, kan? Itulah sebabnya, aku harus mulai membiasakan diriku untuk tidak menunggumu lagi.”

Hyeri diam, sudah jelas ia melihat tetesan air mata itu jatuh ke dalam mangkuk ramen. Tapi Key, mati-matian menyembunyikannya. Jauh di dalam hati Hyeri, ada sesuatu yang juga membuatnya sedih. Mendengar apa yang diucapkan Key, seolah menjadi sebuah akhir saat Hyeri belum memulai apa pun.

Lelaki itu mulai terisak, tak bisa lagi terlihat tegar di hadapan wanita pujaannya. Ia menaruh sumpitnya, lalu menatap Hyeri. Tak mempedulikan wajahnya yang bercucuran air mata. Ia tidak peduli lagi jika harga dirinya sebagai lelaki jatuh dan terinjak. “Bolehkah jika aku beranggapan bahwa istriku meninggal dalam kecelakaan itu? Bolehkah aku…” ia terisak. “beranggapan bahwa ia pergi bersama eomma-ku?” lanjutnya, lalu kembali terisak pilu.

Kedua tangannya lalu meraih tangan Hyeri. “Aku tidak akan menemuimu lagi dan memaksamu untuk kembali padaku. Aku…” ia menundukkan kepalanya, menahan agar tangisannya tidak pecah seperti bayi. Tapi akhirnya, tangisanya pecah. “aku menyerah dalam pertarungan ini dan kau pemenangnya…” lalu kembali terisak, menumpahkan seluruh kesedihannya.

Hyeri tidak mengerti, tapi ia meneteskan air mata. Ingin rasanya memeluk Key dan mengatakan padanya bahwa semuanya tidak seburuk yang ia pikirkan, meski kenyataannya ia memang tidak akan kembali pada lelaki itu.

Key mengangkat wajahnya, berusaha mengukir senyum. “Biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir.” Bisiknya. Lalu tanpa persetujuan Hyeri, ia membenamkan Hyeri dalam pelukannya. Tak ada yang diucapkannya selain tangisan sendu dan debaran jantung yang begitu hebat. Key memeluknya begitu erat, seolah itu adalah perpisahan bagi mereka. Lalu, sedikit enggan melepas pelukan itu. Ia tertunduk, sebelum menarik dagu Hyeri, memberikan kecupan di bibir gadis itu di tengah dinginnya hujan deras yang kembali mengguyur kota.

***

Pagi itu, minggu ke lima musim gugur. Langit mendung dengan angin yang berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering. Lelaki itu duduk di ruang tamu. Bersandar sambil memejamkan kedua matanya. Sudah lima minggu berlalu sejak perpisahannya dengan Hyeri. Ia benar-benar menepati janjinya untuk tidak menemui gadis itu lagi. Melupakannya meskipun hal itu menyiksa batinnya. Ia mendesah pelan, mengenyahkan ganjalan dalam dadanya. Ia lantas membuka mata, lalu beranjak. Ia harus memulai hidup barunya tanpa Hyeri, ia tahu itu sulit, tapi ia harus bisa melakukannya. Sama seperti gadis itu yang tetap bertahan tanpa dirinya.

Ia mulai melangkah, meraih benda-benda yang ia anggap berharga di ruangan itu. Benar! Ia memutuskan untuk meninggalkan rumah itu. Rumah cintanya bersama Hyeri, melupakan Hyeri dan segala kenangan yang diciptakannya. Menguburnya sebagai sebuah kenangan.

Kini ia berusaha meraih lonceng angin yang telah menggantung selama lima tahun di halaman belakang rumah. Lonceng itu berwarna biru, dengan hiasan ikan koi. Warnanya tidak seindah saat pertamakali dibeli, badai telah menerpanya berkali-kali. Key tersenyum, mengelus bola gelas berwarna biru itu. Harusnya ia pun sekuat lonceng angin itu. Bukankah ia sendiri yang mengatakan bahwa ia adalah lonceng angin di musim panas dan Hyeri adalah anginnya? Bukankah seharusnya ia tetap bertahan seperti lonceng angin yang kini digenggamnya? Meski badai telah menerpanya berkali-kali, bukankah seharusnya ia tetap setia menunggu datangnya angin musim panas?

Lagi, ia tidak bisa menahan air matanya. Kenyatannya, ia masih tidak bisa melupakan Hyeri dalam hidupnya. Sama seperti lonceng angin dalam genggamannya yang tidak akan berarti apa pun tanpa hembusan angin musim panas.

Ting tong…

Ting tong…

Seseorang menekan bel rumah dari luar sana. Terdengar tidak sabaran. Key mengusap air matanya cepat, lalu bergegas menuju pintu depan. Sepertinya tukang angkut barang sudah datang, lebih cepat dari perkiraannya.

“Silahkan…” Key terkejut saat mendapati seorang gadis berdiri di hadapannya. Ia mengenakan coat merah, menggenggam erat tali tas selempangnya. Kedua kakinya bergetar, begitu pula bibirnya.

“Hallo, apa ini terlalu pagi untuk berkunjung?” tanyanya malu-malu.

Key masih mematung di tempatnya, terlalu senang dengan kedatangan gadis itu. Lantas beberapa pertanyaan mulai berputar dalam kepalanya. Apa gerangan yang membuat gadis itu datang padanya? Jujur saja, itu membuat Key sedikit ketakutan. “Oh! Ani! Masuklah.” Ucapnya, lalu mempersilahkan Hyeri masuk.

Keduanya menapaki ruang tamu beriringan. Merasa begitu canggung. “Duduklah.” Pinta Key. Hyeri duduk di sofa di hadapan Key, kedua matanya liar menjelajahi ruang tamu. Menyadari ada banyak benda yang hilang di sana. “Apa yang membuatmu datang ke mari?” pertanyaan Key membuyarkan pikiran Hyeri.

Hyeri berjengit. “Oh! aku… ia menundukkan kepalanya sekilas, lalu kembali menatap mata Key. “aku harus mengatakan sesuatu…” terangnya.

Tubuh Key menegang, ia segera menegakkan punggungnya. Menebak-nebak apa yang akan dikatakan Hyeri. “Museun iyeyo?

Hyeri menggenggam lagi tas tali selempangnya, menggigit bibir bawahnya penuh ketakutan. Lantas matanya kembali mengabsen benda-benda yang telah menghilang dari ruang tamu. “Oh! kenapa ruang tamu ini sepi sekali? Kau akan pindah?” ia mengalihkan pembicaraan.

Ne? Ah! Ya! Aku akan pindah rumah. Aku sedang menunggu tukang angkut barang.” Terang Key seadanya. Ia menyadari perubahan air muka Hyeri.

“Ah! Geuroguna! Ah! Kalau begitu aku harus segera pergi. Maaf mengganggumu. Sampai jumpa!” ucapnya begitu saja, lalu beranjak dan berlari meninggalkan Key.

Tapi, lelaki itu begitu sigap. Dengan cepat ia meraih lengan kiri Hyeri, menahan gadis itu untuk tidak meninggalkannya. “Kau belum mengatakan alasanmu datang ke mari sepagi ini.” ucap Key. Ia menarik Hyeri, mempersempit jarak antara mereka. Lantas menatap mata Hyeri, mencari kebenaran di sana.

Hyeri mengerjapkan matanya beberapa kali, pupil matanya membesar, terlihat bahwa ia merasa gugup. “Aku… ah! Kau tahu akhir-akhir ini aku sering melupakan banyak hal. Kurasa aku akan mengingatnya suatu hari nanti. Jika sudah ingat, aku akan datang dan mengatakannya padamu. Ah! Tapi kau akan pindah. Jika suatu hari kita bertemu, aku akan-“

“Katakan!”

Hyeri terkejut, karena kali ini Key menariknya semakin dekat. “Key-ssi, aku tidak bisa ber-“

“Katakan padaku! Katakan saat ini juga! Kau tahu, aku tidak akan pernah memiliki waktu lagi untuk bertemu denganmu. Jadi, berhenti menyia-nyiakan pertemuanmu denganku.” Desis Key, membuat Hyeri terlonjak takut. Baru kali ini ia melihat Key yang seperti ini. Key yang penuh ketegasan dan tuntutan.

Hyeri menelan ludah, ragu-ragu menatap mata Key dalam jarak yang begitu dekat. Lagi, bayangan di mana sebuah melodi hembusan angin di musim panas melintas dalam kepalanya. Hyeri mengerjap, menatap lagi mata rubah di hadapannya. “Beri aku ruang.” Ucap Hyeri tegas, lantas ia melepaskan dirinya dari genggaman Key. Mundur beberapa langkah. Ia menarik nafas, menghembuskannya melalui mulut. Lalu menatap Key, “Aku merasa diriku sudah terlalu tua untuk tetap tinggal bersama orangtuaku,” Hyeri memulainya. Menatap Key ragu-ragu, “Aku harus tinggal di tempat lain, tapi…” ia seolah menunggu reaksi dari Key.

Tapi lelaki itu hanya menatapnya tanpa ekspresi, menunggu Hyeri menyelesaikan kalimatnya.

“aku tidak punya tempat. Eomma bilang, seharusnya aku meminta pertanggungjawaban lelaki yang sudah menikahiku,” Hyeri menghentikan kalimatnya, ia menatap Key penuh ketakutan. Ia tahu, apa yang diucapkannya terdengar sangat bodoh. Tapi, ia tidak bisa mengatakan ingin kembali pada lelaki itu, padahal ingatannya sama sekali belum kembali.

Key memalingkan wajahnya sekilas, lalu kembali menatap Hyeri sambil terkekeh pelan. Ia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Lantas berpikir keras tentang apa yang tejadi pada Hyeri hingga gadis itu berubah pikiran.

“Aku tahu ini terdengar bodoh, karena bahkan diriku tidak bisa mengingatmu. Tapi aku…” Hyeri menggantungkan kalimatnya, ia mentap Key takut. Melihat ekspresi Key yang tidak menunjukkan kesenangan. “aku ingin memulainya dari awal, memulai untuk mengingatmu dalam-“

“Kau mengerti apa yang baru saja kau ucapkan?” sambar Key, bersamaan dengan tangannya yang kembali menarik lengan Hyeri. Kini ia menarik Hyeri semakin dekat.

Hyeri diam, ia menyadari bahwa Key marah karena Hyeri telah bertindak sesuka hatinya. Mempermainkan perasaan Key. Tapi sungguh, Hyeri tidak pernah berniat melakukannya. Ia hanya perlu menenangkan diri dan memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. “Mian, aku tidak bermaksud-“

“Kau tahu apa yang telah kau lakukan?” Key kembali menyambar.

“Aku-“

“Kau telah mencuri hatiku dan menghancurkannya begitu saja. Lalu setelah susah payah menghilangkan rasa sakit itu, kau kembali lagi. Menawarkan kenangan masa lalu yang susah payah kukubur. Kau tahu bagaimana rasanya menjadi diriku? Eoh?” Key semakin memperpendek jarak mereka, mempertanyakan perihal hatinya yang tersakiti.

“Key-ssi, aku tidak-“

“Kau pikir ini mudah bagiku?”

Susah payah, Hyeri akhirnya berhasil melepaskan dirinya dari Key. Sedikit meringis karena lengannya terasa sakit. Lantas ia mundur beberapa langkah, lebih jauh dari sebelumnya. Hening. Beberapa detik tidak ada seorang pun yang berusaha memecah atmosfir tidak menyenangkan ini.

Perlahan, Hyeri memberanikan diri membuka mulutnya. “Mian. Aku telah mencuri hatimu, lalu meghancurkannya begitu saja. Meninggalkanmu seorang diri dalam kenangan yang kita ciptakan bersama. Tapi, kau harus ingat bahwa itu bukanlah keinginanku. Semuanya di luar kendaliku,” Hyeri menggantungkan kalimatnya, menunggu reaksi Key. Tapi lelaki itu tidak menunjukkan reaksi apa pun, menunggu Hyeri melanjutkan kalimatnya. “Sejak hari perpisahan itu, aku telah berpikir banyak. Tidak seharusnya aku lari dari kenyataan dan meninggalkanmu begitu saja. Aku merasa ada sesuatu yang salah, lantas aku mencari tahu. Tapi aku…” Hyeri menghentikan kalimatnya. Memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Ia tahu, ini tidak akan semudah yang ada dalam pikirannya karena Key telah terluka begitu banyak selama 2 tahun ini.

Hyeri tersenyum kecil, meski sebenarnya ia merasa sedih karena semuanya benar-benar akan usai sebelum ia memulainya. “Mian. Aku tidak akan membuatmu terluka lagi. Kau boleh melepaskanku jika itu membuatmu merasa lebih baik dan aku tidak akan berusaha mengingatmu lagi.”

Hening. Tidak ada tanggapan dari Key. Lelaki itu hanya menatap Hyeri tanpa arti. Hyeri lalu membungkukkan tubuhnya, “Sampai jumpa.” Bisiknya lirih. Kemudian berbalik, melangkah pelan meninggalkan Key.

***

Kajimara! You stay here!” pelukan itu begitu saja menyergap Hyeri dari belakang. Ia merasakan sepasang tangan yang melingkar di dadanya. “Kajimara! Kajimara!” bisikkan itu terdengar begitu lirih di telinga Hyeri.

Hyeri diam, ada perasaan senang yang membuncah dalam dadanya. “Key…” lantas Key membalikkan tubuh Hyeri hingga mereka berhadapan. Lelaki itu menangis, berusaha mengatakan sesuatu yang tenggelam oleh air matanya. Hyeri tersenyum kecil, lalu mengusap air mata di wajah Key. “Mian. Aku hanya bisa mengingatmu sedikit.” Terangnya, sambil menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya. Key masih tidak bisa mengatakan apa pun, ia hanya mengangguk kecil. “Aku hanya ingat bahwa kita pernah bertemu di rumah sakit. Kau bilang kau asisten dokter. Kau bilang kau sangat menyukaiku, itulah sebabnya kau menangis banyak saat aku bangun setelah kecelakaan itu.” Hyeri mengulum senyum, itulah yang Hyeri ingat tentang Key dan itu membuatnya merasa semakin bersalah pada lelaki itu.

Key kembali tersenyum meski air matanya semakin deras. Ia lantas mengangguk pelan, menarik Hyeri dalam pelukannya. “Gomawo sudah mengingatku. Gomawo…” bisiknya serak. Lantas memeluk Hyeri semakin erat. Mengecup puncak kepala gadis itu, seolah baru saja menemukan benda kesayangannya yang sempat hilang.

Hyeri menerima pelukan itu, lantas kedua tangannya melingkar di pinggang Key. Ia tahu, ia tidak mengingat banyak tentang Key. Tapi, apa yang ia tulis di buku hariannya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan seberapa besar ia pernah mencintai Key sebelum ingatannya hilang. “Aku akan memulainya dari awal. Memulai semua yang telah kulupakan,” bisik Hyeri.

“Jika kau kembali, kau harus tahu bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Tidak akan pernah!”

Hyeri mengangguk, “Maka dari itu, buatlah aku jatuh cinta lagi padamu. Buat diriku menggilaimu seperti dalam foto yang kau tunjukkan. Jangan pernah melepaskanku sedikit pun, dan jika aku tidak kembali mengingatmu, tetaplah di sini bersamaku.” Pinta Hyeri yang disambut oleh sebuah kecupan kecil di dahinya.

Mereka saling bertatapan, menyampaikan bahwa mereka saling merindukan dalam sebuah kehilangan. Key tersenyum sebelum ia mengecup kedua mata Hyeri. Lantas kecupannya berpindah pada kedua pipi Hyeri, perlahan merengsek pada bibir Hyeri. Hanya debaran jantung yang mewakili betapa senangnya Hyeri. Ia tahu, saat ini ia belum mencintai Key seperti yang pernah ia lakukan. Tapi ia yakin, ia begitu mencintai Key dan perasaan itu akan kembali padanya.

Key melepas ciumannya, lalu tangannya membelai pipi Hyeri. “Saat kau kembali jatuh cinta padaku, kau tidak akan percaya bahwa kau begitu menggilaiku. Kau tidak akan pernah ingin berpisah denganku,” bisiknya, lalu kembali menegcup bibir Hyeri.

Hyeri mengangguk, “Arasseo, arasseo. Buat aku seperti dulu lagi. Buat aku begitu menggilaimu hingga aku tak bisa hidup tanpamu.” Lantas ciuman itu terus berlanjut. Hyeri tahu ini seperti ciuman pertama baginya. Tapi itu tidak membuatnya menjadi pasif begitu saja. Ia mendorong Key ke sofa, hingga ia berada di atas tubuh lelaki itu. Ia tersenyum kecil di tengah ciuman mereka, menyadari kebenaran yang ditunjukkan album foto yang pernah dilihatnya. Ia, begitu kecanduang dengan bibir milik Key.

***

Hyeri memejamkan kedua matanya, merasakan semilir angin musim panas menerpa wajahnya. Kemudian ia membuka mata, menatap benda yang sedari tadi menghasilkan melodi indah khas musim panas.

Cring… Cring…

Lonceng angin itu kembali menciptakan melodi indah hembusan angin. Membuat siapa pun yang mendengarnya merasa begitu bahagia. “Kau menyukainya?” tanya lelaki yang tengah tertidur di atas pahanya.

Hyeri menatap lelaki itu, lalu mengangguk pelan. “Hemmm… sangat menyukainya, seperti aku menyukaimu. Bukankah aku adalah angin musim panas dan kau lonceng anginnya?” tanya Hyeri.

Lelaki itu, Key, tersenyum kecil. “Kau tahu? Lonceng angin ini telah bekali-kali diterpa badai, bentuknya tidak sebagus saat pertamakali dibuat. Tapi, ia terus menunggu angin musim panas untuk berhembus dan menciptakan melodi yang indah bersamanya.” Terang Key.

Arasseo, arasseo,” Hyeri meraih tangan kanan Key, lalu menautkan jari-jarinya. “Tetaplah menjadi lonceng angin itu, yang tetap menunggu angin musim panas apa pun yang terjadi. Karena bagaimanapun, angin musim panas akan tetap kembali padanya. Berhembus untuk menciptakan melodi indah.”

Key menggeser tubuhnya, membuat kepalanya kini berhadapan dengan perut buncit Hyeri. Ia lantas mengecup perut buncit itu dan mengelusnya pelan. “Hei bayi, cepatlah keluar dari dalam sana. Kau tahu? Eomma dan appa sudah tidak sabar untuk bisa bercinta lagi.” ucapnya, membuat Hyeri membulatkan mata karena terkejut.

Mwo? apa kau bilang?”

Key terkekeh, lalu bangkit. Ia lalu mencium Hyeri. Memberi sebuah ciuman hangat yang singkat. “Yaa! Saatnya tidur siang untuk ibu hamil,” ia lalu menggendong tubuh Hyeri. “Ya Tuhan! Kau semakin berat.” Ejeknya, nafasnya mulai terengah, menunjukkan bahwa Hyeri tidak lagi seringan dulu.

Mwo? kalau begitu turunkan aku!” pekik Hyeri jengkel.

Key menghiraukan ucapan Hyeri, ia tetap menggendong Hyeri. Berjalan menuju kamar sambil kembali menciumi istrinya. Mereka tertawa di sela ciuman mereka, lantas kembali saling memberi kehangatan.

Hari itu, angin musim panas berhembus ringan. Menciptakan melodi indah bersama lonceng angin yang menggantung di halaman belakang. Penantian panjang si lonceng angin akhirnya berbuah manis, angin musim panas kembali menyapanya. Meski mereka sempat terpisah dan melalui banyak hal tanpa keberadaan satu sama lain, tapi pada akhirnya, mereka akan kembali bersama. Menciptakan lagi melodi indah seperti yang lalu.

Lelaki itu, kembali merajut cintanya dari awal. Ia memang nyaris menyerah, tapi ia berani untuk bangkit kembali dan memulai lagi kisah cintanya. Meski Hyeri tidak pernah mengingat lagi apa yang telah ia lupakan, tapi Key berhasil membuatnya kembali jatuh cinta seperti dulu. Begitu menggilai Key seperti sedia kala.

 

=FIN=

 

EPILOG

“Bagaimana bisa kau memutuskan untuk kembali padaku?” tanya Key. Ia mempererat pelukannya pada Hyeri, seolah tak pernah rela untuk melepasnya lagi.

“Aku menemukan ini.” Hyeri melepas dirinya dari pelukan Key. Lalu meraih tasnya yang tergeletak di samping sofa dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Sebuah buku harian tebal dengan sampul putih di mana ada gambar seekor sapi dan sebotol susu.

“Apa yang ada di dalamnya?” tanya Key.

Hyeri tersenyum malu. Rasanya tidak mungkin menceritakannya pada Key. “Semuanya tentang dirimu. Aku tidak pernah lelah menulis tentangmu karena aku begitu mencintaimu, begitu menggilaimu, dan tak bisa hidup tanpamu.”

“Benarkah? Boleh aku membacanya?” Key berusaha merebut buku itu dari Hyeri. Dengan sigap Hyeri menjauhkannya dari Key. Kembali menyembunyikan buku itu ke dalam tasnya.

Sirhoe! Ini buku harianku!” cibir Hyeri.

Key terkekeh, “Lalu, ceritakan padaku apa yang paling kau suka dariku.” Pinta Key.

Hyeri tersenyum malu, wajahnya berubah memerah. Bagaimanapun, ia seperti baru merasakan lagi cinta yang telah hilang. Segala sesuatunya terasa asing dan baru bagi Hyeri. Lalu, Hyeri memeluk Key, memeluk begitu erat hingga membuatnya berada di atas tubuh Key. Meraka saling bertatapan, “Kau tahu? Ada satu lagu yang paling kusuka.” Bisik Hyeri. Key mengangkat kedua alisnya, menandakan ia ingin tahu. “Kiss of life milik Ken hirai.” Lanjut Hyeri.

Key tersenyum, tentu saja ia tahu itu. Ia tahu betapa Hyeri menyukai lagu-lagu milik Ken hirai, terutama Kiss of life. Hyeri selalu menyanyikan lagu itu selama bulan madu mereka di Jepang dulu, menyanyikan lagu itu jika Key marah, menyanyikan lagu itu setelah ia mencium Key tiba-tiba.

“Kau tahu liriknya?” goda Hyeri.

Key bangkit, mendorong tubuh Hyeri hingga ia terhimpit ke sudut sofa. Lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri. “Every day, every night, wanna kiss, want your lips. Kuchizuke kara hajimeyou, kuchibiru wa kokoro wo kataru.” Key mulai menyanyikan lagu itu, lalu dalam hitungan detik mendaratkan ciuman di bibir Hyeri.

Mereka tertawa, lalu kembali saling melumat. Menikmati sesuatu yang telah hilang selama dua tahun ini. Setelah hari ini, Key tahu bahwa ia akan kembali memulai segalanya dari awal bersama gadis yang paling ia cintai.

Lonceng angin ini, akhirnya kembali menciptakan melodi indah bersamaan dengan datangnya angin musim panas yang berhembus ringan.

 

Every day, every night 
wanna kiss, want your lips 
kuchizuke kara hajimeyou 

(Let’s start with a kiss )
kuchibiru wa kokoro wo kataru
(The lips will speak for the heart)

Ken Hirai – Kiss of life

26 thoughts on “I need romance #4 – Wind Chime [2.2]

  1. Aduh ga ngerti lagi. Sweet abis kak. Terus liat perjuangan key nunggu hyeri. 2 tahun dan itu ga sebentar. Suka banget pas key bilang, “Kau datang padaku dan menghancurkannya lalu sekarang kau kembali setelah aku bersusah payah melupakanmu.” Berasa banget angst-nya di kalimat itu :’))

  2. Haaaahhh. . .
    Ngak taw lg hruz ngmong apa, sykrlah smw happy ending. .
    AKu ktwa sat hyeri mngtkn klw dia sdah trllu tua untk tngl brsma orng tuana dan mmutskn untk kmbli pd key, dan pd akhr crta taw2 hyeri udh hmil. .
    Hehehehe. . Chukae deh buat eonni yg udh mmbuat ff nhe bgus bgt, dtngu ff brktny ya eon

  3. Jujur baru baca ini part,ga tau awalnya lol. Jd bertanya2 hihi..

    Kenapa key slalu sabar gtu ngadepin hyeri?

    Skali2 hrus dbuat hye yg tergila2 sm key..hehe.

    Tpi susah untuk ngebayangin key kaya gini,mengingat image nya ::::: hehe

  4. Udh ad lanjutannya ternyata…
    Awalnya aku kesel banget sama hyeri..karakternya g jauh beda dgn yg di archangel keras kepala -_-
    Tp syukur dehh akhirnya dia sadar, thank to diary xD
    Sempet brkaca2 jg tp d.akhir snyam senyum gaje😀
    Romance nya udah kerasa koq..in udh sweet..
    Nahh aku setuju sama lalaland sekali2 buat hyeri yg ngejar2 key xD

    • .heheh. Hyeri udah bawaan begitu kayanya ^^v
      syukurlah kalo romance-nya udah kerasa. aku sndiri ngerasa agak buruk yang ini . maaf yaa ^^v
      .heheh. oKEY, kapan2 aku bkin Hyeri nya yang ngejar Key.kekek.
      Thank u😉

  5. yaaahh aku ga jadi first reader lagi ni.. Mianhae onn.. lagi sibuk kuliah ni😦
    “Hyeri diam, sudah jelas ia melihat tetesan air mata itu jatuh ke dalam mangkuk ramen. Tapi Key, mati-matian menyembunyikannya.” mata aku berkaca-kaca loh baca kalimat ini. Ga kuat ngebayangin abang konci aku nangis T__T
    Jadi inget film “The Vow” yg tema ceritanya mirip sama abang konci. Suami yg setia nungguin istri yg kehilangan ingatannya. Beruntung bgt kalo jadi Hyeri, mau nyari dimana coba suami kyk abang konci. kalo ada di supermarket aku beli 1 deh.. hahaha😄 #ngayal
    okedehh.. lanjut ke ff yg lain ya onn.. semangat buat lanjutin Excuse me miss nya yaa.. I’ll wating for you… ^^

    • Ne, gwaencanha, Hwayong🙂
      .huhu. maaf yh Key-nya aku aniaya di sini ^^v
      oh iya, ‘The vow’ itu ak jga kepo banget pgn nonton, kata temenku sedih banget ceritanya.
      .hahah. mf yh karakter Key-nya terlalu ngayal nih *bow lagi*
      oKEY, thank u, hwayong. mudah2an Excuse me, Miss-nya bisacepet2 muncul😉

  6. udah update trnnyata., ^^
    ehem.. sekarang aku gak akan koreksi typo, ahaha masih ngertiwd bc kok. hehe

    Min Hyeri, neo jinja ! aku hmpir mau cubit kamu klo gak kembali ke key. hehey namja baik gto di sia sia in, tp bkn spnuhny slh Hyeri jg sih.plak

    nyesek banget, pas key putus asa. kata-katanya it bnr” dia lelah menunggu. huwee nangis gelindingan aku.,

    and then mereka kembali, keputusan hyeri memang bnr bgt,thanks bwt diary nya. ya walaupun hyeri blm ingat lg, tapi mulai dari awal bkan hal yg buruk. chukkae KeyRi, udah mau punya anak, dan alasan key nyrh ankny cpt lhr bikin ngakak, what the? yadong kamu Aa. *colek key

    ending yang sweet dan puas Eonni, seperti biasa ff eon dae to the back. aku suka suka suka…

    • heee, kenapa ga koreksi? setelah kubaca, ternyata lumayan banyak bertebaran typo-nya. Maaf yaa >.<
      .hahah. sekali2 Key-nya aku bkin rada mesum, bagus kan yaa? .hahah. *ketawa mesum*

      Thank u, Hikma.😉

  7. aaaa….. awal baca bikin mewek nih…hikss…. sumpah nyesek banget!! ga tega liat key menderita karena hyeri….
    tapi begitu hyeri mutusin watt kembali, momen manisnya dapet bgt!! g kebayang bahagianya key begitu hyeri mutusin wat kembali padanya….
    jadi pengen punya suami kayak key, ahahahha……..
    romansanya dapet kok thor,, good job!!😉

  8. huks,, akhirnyaaaaa
    penantian Key terbayar juga,, #elap ingus
    tapi eh tapi- si Key terlalu sabar ya, ga Key banget tuh,,ahahahaaah #dilempar sendal
    ditunggu ff yang lainnya yeaaa^^

  9. awal baca udah mikir, bakalan lama lagi nih si Key nunggu Hyeri..

    udah Key nangis, Umma-nya Hyeri nangis, saya juga ikutan nyesek bacanya.. tetep gak mempan juga tuh sama kekerasan kepala(?) Hyeri..

    tapi penasaran juga apa yang ditulis Hyeri di diary-nya. Sampe sedasyat itukah isinya sampai Hyeri akhirnya memutuskan kembali sama Key.

    Geli sendiri waktu Key ngomong sama baby yg di perut Hyeri, jadi agak ngebayangin perannya Key di drama musikalnya😛😀

    Syukurlah ya happy ending..

    oiya Euncha, waktu Key ultah kemarin saya kira bakalan ada cerita special Key birthday..

    semoga Euncha bisa semangat nulis lagi ya, saya dan reader lainnya masih nunggu ff karya Euncha..🙂

    • Hallo, Eonni. Mampir di part 2nya.heheh.
      hooh, si Hyeri emang kepala batu deh, mohon dimaklumi *bow*
      hemm, mungkin isinya menjelaskan segimana besarnya cinta Hyeri sama Key.heheh. *ngarang*

      .ekekek. diselipin dikit gpp kn kaya begitu? itu karakter alami seorang lelaki *plaaakkkk*

      engga nih eonn, soalnya agak susah ak bikin tulisan ditarget gitu. Pas ultah Key kemaren aku lagi ga ada mood nulis, jadi ga ada ff special birthday gitu *bow*

      oKEY, makasih eonni buat dukungannya. Mohon maaf atas kekurangan dalam setiap ff yang aku tulis.
      thank u😉

  10. Eonnii..🙂
    Hyeri nyebelin -_- menurutku, hyeri itu terlalu berlebihan, kasian key😦
    Tapi gak papa lah..untung key-nya baik, jadi masih nunggu..coba kalo gak.. bakal nyesel tuh si hyeri. #sewot
    Ceritanya so sweet eon :# suka banget sama key disini😀 tapi pas waktu masuk yang si hyeri hamil trus habis gitu ada epilog, rasanya kyk kurang pas gitu eonni..😀 mungkin kecepetan ya kalo si hyeri langsung hamil😀😀😀 hahahahahahahaahaha
    bye-bye eonni 😀

    • Hee, berlebihannya gimana, Momo? kn ceritanya Hyeri hilang ingatan gitu. Jadi tetiba ga siap kalo harus punya suami dll ^^v
      Hemm, iya yah, maaf kalo caritanya ga sesuai seleramu dan ga pas gitu.heheh.
      oKEY, thank u, Momo😉

  11. udh lama g main k blog ini, ternyata udh banyak cerita baru…
    mian, eonni. bella jadi jarang komen, nih…

    ini lanjutan dari I would kan? bneran, deh, eonn… key dsini jadi suami yg so sweet bgt. dimana ada jual yg kayak dia? bella mau dibungkusin satu, dong… #plaaak

    bella heran, deh. kenapa eonni lbh sering bikin cerita dmana key yg menderita karena Hyeri. sejak archangel yg super menyesakkan itu, kayaknya hampir selalu key yg makan hati gara2 hyeri… -__-;

    dsini romancenya bner2 terasa. bella paling suka bagian mereka liat album di part yg lalu. hehehehe….

    good job, eonn~ keep writing~~

    • Holaa! Bella ke mana aja ih? lama ga pernah main.

      Yup. Ini lanjutannya I would.hahah. cireng kali, Bella dibungkusin mah. ^^v

      Hemm, kenapa yah? soalnya di dunia nyata aku selalu tertindas oleh kegantengan dan kesempurnaan Key. Jadi ini kesempatan buat nindas Key *plaakkk*

      Baguslah kalo romance-nya ga sehambar yang I would.heheh.
      Thank u, Bella😉

  12. huwaaaaaaaaaaaaa suka banget dah ama ceritanya tulisannya bahasanya (y) so sweet banget ka eunchaaaa ^^/ kereeen~
    aiiiisshhh sedih seneng bacanya… “Aku tidak akan menemuimu lagi dan
    memaksamu untuk kembali padaku. Aku…” ia
    menundukkan kepalanya, menahan agar
    tangisannya tidak pecah seperti bayi. Tapi
    akhirnya, tangisanya pecah. “aku menyerah
    dalam pertarungan ini dan kau
    pemenangnya…” lalu kembali terisak,
    menumpahkan seluruh kesedihannya. ㅠㅠㅠㅠ~
    frustasi Key frustasi! Hyeri kagak inget2 Key…

    Hyeri nyebelin serius, dibilangin dia tuh menggilai Key banget sampe bikin frustasi kekeke~ tapi Key setia banget nunggu Hyeri dan nerima Hyeri lg walaupun Hyeri melupakan ingatannya. hufftt
    sukses terus deh buat ka euncha, ff nya daebak semua. semangat!🙂

  13. This design is spectacular! You certainly know how to keep a reader entertained.

    Between your wit and your videos, I was almost moved to start my own blog (well, almost…HaHa!) Fantastic job.
    I really loved what you had to say, and more than that, how you
    presented it. Too cool!

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s