Excuse me, Miss – Part 7

excuse-me-miss

Part 7 – The only one choice

Main cast :

Kim Kibum [Key] | Min Hyeri | Choi Minho

Supporting cast :

The rest of  SHINee’s members | Choi Minhee (OC) | Nicole (KARA)

Author             : Song Eun cha

Length             : Sequel

Genre              :  Romance, Life, Friendship

Rating              : PG 15

Credit poster : Jiell

Maaf part 7-nya lama *bow*
Mudah2an part ini lebih baik dari yang sebelumnya. Jangan lupa kritik dan sarannya yaa. Kalo menemukan typo juga tolong kasih tau yg mana yaa biar bisa diperbaiki. oKEY?
Enjoy!

Suara pecahan porselen terdengar dari dalam kamar, disusul benda berat yang dibanting dan menimbulkan suara berdebum di lantai. Lantas jeritan penuh kemurkaan menggema dalam rumah mewah itu.

Lelaki bermata bulat itu berlarian menuju sumber suara, bahkan sandal rumahnya belum ia gunakan dengan benar. Beberapa pelayan hanya berjejer di dekat tangga menuju lantai dua. Tak ada satu pun yang berani masuk ke dalam ruangan yang menjadi sumber keributan.

Eomma sudah datang?” tanya lelaki itu pada salah satu pelayan pria yang mengenakan setelan jas hitam.

“Belum. Beliau sedang dalam perjalanan kemari.” Jawab si pelayan, ia mengambil coat yang baru saja dilepas lelaki bermata bulat tadi.

Lelaki itu berlari cepat menuju tangga. Sementara pelayannya menunggu di dasar tangga, menunggu dengan cemas dan rasa takut.

Tok…tok…tok…

“PERGI!!!!” teriakkan itu terdengar dari dalam kamar, disusul suara pecahan porselen.

“Minhee-ya! Buka pintunya! Ini Oppa.” Teriak Minho dari luar. Suara-suara berisik dari dalam segera hilang. Tergantikan dengan kesunyian. “Ini Oppa! Buka pintunya!” teriak Minho lagi.

Seketika pintu kamar terbuka lebar. Bersamaan dengan seorang gadis berambut panjang yang menyerbu ke arah Minho, lalu ia menjatuhkan dirinya dalam pelukan Minho. “Oppa!” pekiknya, lantas terisak. Mencurahkan kesedihan yang dirasakannya.

“Minhee-ya, neo waegeurae?” bisik Minho, menahan perasaan kesal dalam dadanya.

Ia tahu, ini bukan kali pertamanya Minhee melakukan hal seperti ini. Sudah berkali-kali! Dan alasannya adalah hal yang begitu bodoh. Mengapa Choi Minho tidak bisa mencintai Choi Minhee lebih dari seorang kakak pada adiknya?

Oppa, aku sangat merindukanmu.” Alih-alih menjawab pertanyaan Minho, Minhee justru mengungkapkan perasaannya pada Minho.

Minho mendesah pelan, ia tahu apa yang akan terjadi. Ini begitu memuakkan baginya. Sungguh! Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi dalam kemewahan yang justru seperti neraka.

“Minhee-ya, berhenti bersikap seperti ini!” pinta Minho tegas.

Minhee bergeming, ia justru mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Minho. “Aku merindukanmu hingga aku merasa begitu sakit, Oppa.” Ucap Minhee, membuat Minho makin jengkel.

Minho lantas melirik para pelayannya yang masih berjejer di dasar tangga. Ia lalu memberikan kode pada pelayan pria berjas hitam tadi. Acungan jari telunjuk yang mengisyaratkan untuk menyiapkan obat penenang untuk Minhee. Lalu Minho menggerakkan kepalanya sebagai tanda agar semua pelayan bubar. Pelayan pria berjas hitam mengangguk, ia lalu mengatakan sesuatu pada pelayan yang lain untuk kembali pada tugas masing-masing.

“Kita bicara di dalam.” Minho mendorong tubuh Minhee ke dalam kamar. Perlahan-lahan, ia melangkahkan kakinya. Terlalu banyak pecahan porselen di lantai. Minho terus berjalan hingga mereka tiba di dekat ranjang Minhee. Lantas ia memaksa Minhee untuk melepaskan pelukannya dan duduk di atas ranjang. “Neo waegeurae?” tanya Minho setelah mereka berdua duduk di ranjang.

Minhee menatap Minho sambil terisak. “Aku membencimu!” ucapnya ketus, lalu mengusap air matanya manja.

“Minhee-ya geumanhae!” Minho berdecak kesal.

“Kenapa? Kenapa aku tidak boleh seperti ini? Semua teman-temanku bisa mencintai lelaki yang mereka suka. Kenapa aku tidak boleh?” Minhee mulai mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan telah dihapal Minho.

“Minhee-ya, aku-“

Oppa mencintaiku. Tapi seperti seorang kakak mencintai adiknya. Kenapa kau tidak bisa mencintaiku seperti lelaki dewasa mencintai wanita dewasa?” Tanya Minhee penuh amarah, air matanya kembali jatuh.

Minho diam. Ia berpikir keras, tidak tahu apa yang akan dikatakan untuk membuat Minhee mengerti. Tapi nyatanya, sudah dua tahun berlalu sejak Minhee mulai menjadi aneh. Yeah! Saat Minhee baru saja menyelesaikan kuliahnya, gadis itu tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia mencintai Minho seperti seorang wanita dewasa mencintai lelaki dewasa. Bukan cinta seperti saudara. Minhee sudah gila! Jiwanya memang terganggu, pikir Minho.

Sejak Appa-nya menikah lagi dan membawa anak dari wanita yang dinikahinya, Minho tidak pernah berpikiran akan terjadi hal seperti ini. Minhee yang saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah begitu rapuh dan butuh perlindungan. Lalu, salahkah jika selama ini Minho mencintai dan melindunginya? Mengapa cinta dan perlindungan itu justru membuat Minhee jatuh cinta padanya?

“Apa yang harus Oppa lakukan agar kau merasa senang dan berhenti melakukan hal seperti ini?” tanya Minho frustasi. Ia menatap Minhee tanpa ekspresi. Sungguh! Ia begitu mencintai Minhee seperti seorang kakak mencintai adiknya. Begitu tulus.

Minhee menatap Minho kesal, “Kenapa Oppa masih mempertanyakannya? Bukankah Oppa tahu bahwa aku sangat mencintaimu? Tidak bisa kah Oppa melihatku sebagai seorang wanita? Bukan sebagai seorang adik.”

Minho diam. Sudah jelas jawaban dari pertanyaan Minhee adalah ‘tidak’. “Minhee-ya dengarkan Oppa,” Minho membulatkan tekad untuk mengatakan pada Minhee bahwa ia tidak bisa mengikuti keinginan adiknya. Ia akan bersikap tegas kali ini. Menghilangkan beban yang selama ini mengekangnya. “Sejak kali pertama Appa membawamu kemari, aku telah berjanji pada diriku untuk mecintai dan melindungimu. Tidak akan membiarkanmu terluka seujung kuku pun,” Minho diam, merasa dirinya begitu menyedihkan. “mana bisa aku mencintaimu seperti seorang lelaki dewasa mencintai…” Minho tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia merasa itu terlalu bodoh dan memalukan.

“Yang kuinginkan hanya dirimu.” Ucap Minhee tiba-tiba, membuat Minho semakin membenci dirinya.

“Minhee-ya jebal. Neomu pigonhae, Oppan neomu pigonhae…” Minho menatap Minhee dengan sorot mata yang sarat akan keputusasaan.

Minhee menatap Minho penuh benci. Ia begitu kesal karena Minho selalu menolaknya seperti ini. Benarkah tak ada sedikit pun Minhee di hati Minho? Lantas Minhee beranjak, berjalan asal melewati pecahan porselen yang berserakan di atas lantai putih kamarnya. Ia berhenti tepat di depan meja rias, menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil menundukkan kepala. Ia benci Minho selalu menolaknya dengan cara yang begitu menyedihkan. Ia benci bagaimana Minho melindunginya kemudian mengatakan tidak ada rasa cinta yang lain selain cinta seorang kakak pada adiknya. Memuakkan!

Lalu kedua matanya yang berurai air mata itu menangkap pecahan porselen tepat di sekitar kakinya. Ia memungut serpihan porselen itu. Serpihan seukuran ibu jarinya, serpihan tajam. Diacungkannya serpihan itu, menatapnya penuh benci seolah ia sedang menatap Minho. “Benarkah kita tidak bisa menjadi lebih dari adik dan kakak?” tanyanya. Tak ada tanggapan dari Minho. Lantas tanpa pemikiran apa pun lagi ia menggoreskan serpihan porselen tadi ke lengan kanannya, tepat di pergelangan tangan.

Warna merah itu mulai menetes segar. Semakin lama semakin banyak, mengalir pelan membasahi bagian lengan yang lain. Minhee memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang mulai membuatnya menggigil. Ia menyeringai tipis. Sakit ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan sakit hati yang ia rasakan.

Sementara itu Minho mendesah pelan di tempatnya, memandangi punggung Minhee. Mencari tahu, adakah sesuatu yang aneh. Lantas kedua mata bulatnya mulai liar, menemukan tetesan merah dari lengan kanan Minhee. Minho memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir bawah. Menahan amarah yang rasanya akan segera meledak.

Ia tahu bahwa adiknya kembali melakukan aksi protes dengan mempertaruhkan nyawa. Sungguh harus seperti ini? Batin Minho. Ia kemudian beranjak, berlutut tepat di belakang tubuh Minhee. Lalu mulai terisak seperti seorang pengecut. “You better kill me, Minhee-ya.” Bisik Minho.

***

Hyeri baru saja masuk ke ruang pendingin untuk mengecek beberapa jenis buah yang baru datang. Ruang pendingin itu cukup luas, begitu sejuk di musim panas yang terik. Ia tengah mengecek buah-buah yang ada di sana saat pikirannya tiba-tiba saja mengingat sesuatu. Ciuman itu! Entah bagaimana, pikirannya memutar ulang kejadian tempo hari. Di mana si mata rubah itu kembali menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil yang membuat Hyeri mulai gelisah.

Ia menggelengkan kepalanya, menepuk kedua pipi dengan tangannya. Berusaha mengenyahkan pikiran kotor yang entah bagaimana menghinggapinya di siang bolong seperti ini. Tapi sayang, bayangan di mana lelaki itu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di bibirnya kembali muncul. Hyeri kembali mengingat sepasang mata rubah yang menatapnya tajam, hembusan nafas hangatnya, juga aroma tubuhnya yang memberikan efek seperti minuman keras –memabukkan. Seketika jantungnya berdebar tak karuan, wajahnya terasa memanas dan ia mulai sesak nafas.

Gwaencanha?

Hyeri kembali mendapatkan kesadarannya ketika suara Ken -yang kini telah menahan berat tubuhnya- terdengar. Hyeri mengerjapkan matanya. Ia tidak tahu kapan Ken datang dan kapan lelaki bertubuh kekar itu menopangnya seperti ini.

“Kau sakit?” tanya Ken.

Mwo? A..ani!” Hyeri segera menjauhkan tubuhnya dari Ken. Berusaha mengendalikan kedua tangannya yang masih memegangi dus berisi jeruk Mandarin.

Jinjja? Tapi wajahmu memerah? Apa kau dehidrasi?” tanya Ken lagi.

Hyeri menaruh dus jeruk ke atas lantai, lalu menyentuh wajahnya yang tentu saja terasa panas. Sial! Bagaimana bisa ia menjadi seperti ini hanya karena membayangkan ciuman-ciumannya bersama si mata rubah?

“Aku baik-baik saja.” Hyeri berusaha meyakinkan Ken karena lelaki itu mulai mencurigainya.

“Aneh sekali!” ucap Ken, ia kemudian berjalan ke sudut di mana dus-dus berisi buah jeruk Mandarin di simpan. Menumpuk dua dus sekaligus dan mengangkatnya. “Kau sedang dalam ruang pendingin. Tapi kenapa wajahmu merah sekali? Seperti orang terbakar saja.” lanjut Ken. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Hyeri dalam ruang pendingin.

Hyeri mendengus, mengutuki dirinya yang menjadi begitu tolol karena membayangkan lelaki yang paling ia benci sedunia. Perlu waktu cukup lama baginya untuk mengembalikan kesadarannya, hingga ia beranjak dari ruang pendingin. Baiklah, ia tidak boleh mengingat lagi si mata rubah karena tak lama lagi ia akan menjadi kekasih Choi Minho.

***

Lelaki jangkung berambut kemerahan itu tak henti tertawa. Ia bahkan sampai memegangi perut dan membekap mulutnya sendiri. Ini sangat lucu! Ia bahkan nyaris meledak jika saja lelaki di hadapannya tidak melontarkan ancaman.

“Sudah berapa tahun kau tidak tertawa?” tanya Key sinis. Ia memanyunkan bibirnya, memandang skeptis ke arah Taemin yang masih terpingkal-pingkal.

“Maaf, Hyung. Tapi ini lucu sekali.” Ucapnya cepat, lalu kembali tertawa.

Key hanya mendelik sebal. Bagaimanapun, ini adalah bencana baginya. Tempo hari si pelayan café itu mendaratkan tinju di pipi kanannya. Padahal luka sebelumnya belum hilang dan kini lebam menghiasi tulang pipi Key. Menyebalkan!

“Berhenti tertawa atau akan kutelepon pacar-pacarmu dan mengatakan bahwa kau sedang menipu mereka!” ancam Key tak tanggung-tanggung.

Taemin menegakkan tubuhnya, berusaha secepat mungkin mengendalikan dirinya dan berhenti tertawa. Ancaman Key akan sangat berbahaya baginya. Ia tahu selama ini ia hanya mempermainkan wanita, menjadikan mereka sebagai mainan lalu membuangnya. Tapi, ia masih menikmati permainan itu dan belum berniat mencari mainan lain untuk menggantikan hobinya menipu wanita. “Baik! Aku berhenti ter-“ Taemin terkekeh pelan, “tawa. Aku berhenti!” Ia mengangkat kedua tangannya sebatas bahu.

Key menatap Taemin dengan mata rubahnya, terus menatapnya hingga Taemin benar-benar berhenti tertawa. “Good Boy!” ucap Key seraya menganggukkan kepalanya. Ia lalu meraih goblet berisi peach mocktail racikannya sendiri, menyesapnya perlahan.

“Jadi, kau benar-benar menyukai gadis itu, Hyung?” Taemin mulai mengorek informasi. Ia meraih goblet berwarna biru cerah dengan buah ceri yang mengapung di bagian atasnya. Lalu memainkannya dengan cara menggoyang-goyangkan goblet hingga cairan di dalamnya bergerak-gerak seperti ombak.

Key terkekeh. “Bukan urusanmu!”

“Hei, Hyung! Apa kau takut aku akan menceritakan hal ini pada Minho Hyung? Gadis itu kan kekasihnya Min-“

“Tutup mulutmu!” Key segera membekap mulut Taemin. Ia melihat ke sekitar, memastikan tak ada orang lain yang mungkin saja sedang bersembunyi di mini bar di rumahnya itu.

Taemin mengangguk, memberikan kode agar Key segera melepaskan tangannya dari mulut Taemin. “Aku akan tutup mulut jika Hyung mau bercerita padaku.” Ucap Taemin setelah Key melepaskan tangannya.

“Kau mengancamku, Anak kecil?” dengus Key.

“Tidak juga.” tanggap Taemin acuh tak acuh. Menatap Key sambil mengeluarkan senyum terbaiknya. Ia yakin bahwa kali ini ia akan mendapatkan informasi yang diinginkannya.

Key terkekeh, kembali menyesap mocktail-nya. “Cerita apa yang ingin kau dengar?” tantang Key.

“Apa hubungamu dengan gadis itu?”

Key menoleh ke arah Taemin, menunjukkan seringai licik seekor rubah. “Aku akan menikah dengannya.” Terang Key. Acuh tak acuh dengan pernyataannya barusan.

Taemin terbelalak, untung saja ia tidak sedang menyesap minuman. Karena jika ya, bisa saja ia mati tersedak atau mungkin lebih parahnya menyemburkan minuman dalam mulutnya ke wajah Key. “Menikah? Kau tidak sedang bercanda, kan, Hyung?”

“Apa aku terlihat sedang bercanda?”

“Tapi Hyung, dia itu kan kekasih Minho H-“

“Sudahlah, Taeminie. Dia dan Minho itu tidak ada hubungan apa pun.”

“Tapi Minho Hyung bilang-“

“Kau tidak memercayaiku?” Key mencondongkan tubuhnya ke arah Taemin hingga wajah mereka saling berdekatan. “Kita lihat saja. Aku akan membawanya ke pelaminan.” Key menyentuh ujung hidung Taemin dengan jari telunjuknya. Kemudian kembali pada posisinya semula.

Sesaat Taemin hanya diam, berusaha mencari benang merah antara ucapan Key dengan beberapa kenyataan yang ia ketahui. “Kapan kalian akan menikah?” tanya Taemin akhirnya.

“Tidak lama lagi.”

“Bagaimana dengan Nicole Nuna?”

“Pernikahan bodoh itu sudah dibatalkan, Taeminie. Kau tidak lihat wajahku lebih berseri dari sebelumnya?” Key lalu bangkit, meninggalkan mocktail-nya di atas meja bar. Ia melangkah menuju pintu.

Sementara Taemin hanya diam. Pikirannya masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kelihatannya menarik dan sudah jelas ia akan menjatuhkan dirinya dalam permainan ini. Taemin lantas mengekor, mengikuti Key ke ruang tengah. Ia segera menjatuhkan dirinya ke atas sofa saat Key mulai menyelakan tv. Hanya memperhatikan Key yang mulai memilih film.

Key memilih beberapa judul film yang ada di tangannya. Sejujurnya, ia jarang sekali berada di rumah dan menonton. Jelas sekali ia tidak tahu judul mana yang isinya memiliki beberapa adegan yang ia inginkan. Ia lantas menoleh ke arah Taemin, menatap lelaki yang tengah membolak-balik majalah.

“Hei! Apa yang kau lakukan saat berkencan?”

“Yang kulakukan?” Taemin balik bertanya? Tangannya membolak-balik halaman majalah dengan cepat. Mau bagaimana lagi? Yang ada di tangannya saat ini bukan majalah Playboy yang sering ia pelototi berjam-jam. Sudah jelas isinya tidak menarik.

“Kau mengerti jawaban yang kuinginkan.” Desak Key.

Taemin melempar majalah ke lantai. Lalu menatap Key sambil mengerutkan dahinya. Berpikir harus sebanyak apa ia memberikan jawaban. “Tentu saja aku akan mengajak mereka dinner, Hyung. Itu kan yang gadis-gadis sukai.”

Key mendekat, lantas duduk di samping Taemin. “Dinner itu hal yang biasa. Selanjutnya apa?” Tanya Key makin tak sabaran.

Taemin tersenyum kecil, mengangguk-anggukkan kepalanya saat ia sepenuhnya paham mengapa Hyung-nya menanyakan hal seperti itu. “Aku akan menanyakan tempat yang ingin ia datangi. Ke mana saja! Yang penting ia suka,” Taemin memamerkan senyum penuh pesonanya, menunjukkan pada Key bahwa ia adalah seorang cassanova sejati. “Lalu aku mengajaknya berbicara di dalam mobil-“

“Dalam mobil?”

“Cari tempat yang romantis, Hyung. Hemm, misalnya aku memarkirkan mobil di dekat taman kota, di dekat gang yang sepi. Lalu mengajaknya mengobrol. Membicarakan hal-hal romantis yang akan membuatnya semakin tunduk padaku.”

“Lalu?”

“Jika hujan turun, itu kesempatan bagus untuk mengurungnya dalam mobil-”

“Dalam mobil? Kau gila? Dasar maniak!” Sambar Key. Ia membelalakkan kedua matanya tak percaya. Baiklah, Taemin memang seorang penjahat wanita. Tapi, ia tidak menyangka bahwa Taemin juga seorang maniak.

“Itu jika hujan benar-benar membuatku tidak bisa membawanya ke mana-mana. Jika hujannya kecil, aku bisa membawanya ke hotel.” Taemin menggedikan bahunya.

“Semudah itu?” Key memincingkan mata.

Taemin terkekeh. Spesialisasinya adalah menaklukkan gadis-gadis, tidak heran jika ia dengan mudahnya membawa gadis ke kamar hotel. Piece of cake! “Jika aku yang melakukannya tentu akan sangat mudah, Hyung.” Taemin tersenyum mengejek.

“Baiklah, jadi langkah awal apa yang harus dilakukan seorang amatir?” Key mulai merilekskan dirinya, bersandar pada sofa sambil melipat kedua tangan di depan dada, sementara kaki kanannya ia tumpangkan ke kaki kiri.

“Jadi, kau seorang amatir, Hyung?” Taemin kembali melempar senyum mengejek.

Terbongkar sudah bahwa Key yang selama ini dikenal sebagai seorang player hanyalah gelar semata. Ia tidak benar-benar bisa mempermainkan gadis-gadis yang setiap minggu ada dalam pelukannya ketika di bar.

Key tidak menanggapi pertanyaan Taemin. Ia hanya menatap Taemin, menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya.

“Baiklah. Kau akan membawa gadis itu ke kamar hotel?” Taemin akhirnya menyerah. Sepertinya kali ini Key sedang tidak main-main.

“Tidak ke kamar hotel. Aku hanya ingin membuatnya tunduk padaku.” Jawab Key cepat.

“Wah! Kejam sekali, Hyung.” Cibir Taemin. Key tidak menanggapi. “Well, aku punya jurus ampuh untuk menundukkan gadis, Hyung. Kau harus menyimaknya baik-baik. Ini tidak mudah dan aku hanya akan mengatakannya satu kali saja.” Lantas Taemin mendekatkan bibirnya ke telinga Key. Ia berbisik panjang lebar di sana.

***

Hyeri baru saja keluar dari mini market. Wajahnya berseri, langkahnya terasa begitu ringan. Yeah! Ia akan memutuskan untuk menerima tawaran Minho sebagai kekasih palsunya. Lagipula, Minho akan bertanggung jawab jika Hyeri benar-benar jatuh cinta padanya. Ia mendesah pelan. Berpikir apakah ia wanita jahat dengan mengambil cinta dan uang sekaligus dari seorang pangeran tampan?

Tapi tak apa. Toh selama ini hidupnya begitu sulit dan penuh penderitaan. Mungkin saja ini adalah hadiah dari Tuhan karena ia telah menjalaninya dengan baik.

Hyeri berjalan sambil merogoh saku denim-nya, mengambil ponselnya. Lalu mengerutkan dahi saat tak ada pesan singkat maupun telepon dari Minho. Aneh! Mengapa Minho sama sekali tak menghubunginya? Bukankah mereka telah membuat janji?

Ragu, Hyeri mengetik pesan singkat untuk Minho. Jantungnya berdebar tak karuan. Padahal yang ia ketik hanya pesan singkat biasa yang menanyakan keberadaan Minho. Cinta memang gila.

Lalu ia melangkah menuju halte bus. Hari ini ia akan mengatakan pada pemilik kedai ramen tempatnya bekerja bahwa ia akan mengundurkan diri.

***

Anak lelaki berumur 14 tahun itu berdiri gelisah. Kedua matanya liar menjelajahi ujung gang yang menjadi satu-satunya jalan menuju rumahnya. Lalu ia melirik ke pintu rumah, kakinya hendak melangkah, tapi urung dan kembali diam di tempatnya. Ia menggigit bibir bawahnya, keningnya berkerut dan bola matanya terus bergerak gelisah. Lantas sebuah senyum terkembang di wajahnya saat ia melihat sosok yang dinantinya muncul dari ujung gang.

Nuunaaaa!” teriaknya. Ia berlari menghampiri Nuna-nya yang masih berjalan santai.

“Jaehwa? Ada apa?” Tanya Hyeri. Pikirannya mengira-ngira apa yang membuat Jaehwa begitu gelisah.

Nuna! Hyung… Hyung…” Nafas Jaehwa tersengal.

“Jaesun? Kenapa dengan Jaesun?” Tanya Hyeri mulai panik. Ia tahu apa yang akan disampaikan Jaehwa bukanlah kabar baik. Terlebih lagi Jaesun memang sedang sakit.

Hyung. Ia bilang ia merasa sangat sakit dan akan mati.” Terang Jaehwa dalam satu tarikan nafas.

Membuat Hyeri segera berlari menuju rumah. Ia menerobos pintu tanpa melepas sepatunya lalu naik ke kamar Jaesun. Sementara itu Jaehwa hanya mengekor tanpa banyak bicara.

“Jaesun-ah!” Teriak Hyeri saat ia masuk ke kamar Jaesun. Alangkah terkejutnya ia mendapati wajah pucat Jaesun. “Apa yang terjadi, Eomma?” Tanya Hyeri pada Eomma-nya yang tengah menunggui Jaesun.

Wanita tua itu terisak, mengusap air mata dengan ujung lengan bajunya. “Jaesun. Sakitnya serius. Ini bukan hanya salah makan. Sesuatu terjadi padanya. Kita harus membawanya ke rumah sakit, Hyeri-ya.” Wanita tua itu kembali terisak.

Hyeri melirik lagi Jaesun yang sudah tak sadarkan diri. Lalu beranjak. “Jaehwa, ganti pakaianmu! Kita bawa Jaesun ke rumah sakit!” Lalu ia berlari menuju kamarnya. Dengan tangan gemetar membuka laci lemari pakaian. Mengeluarkan amplop berisi uang tunai yang ia miliki beserta buku tabungannya.

Hyeri kembali berlari ke kamar Jaesun. Eomma dan Jaehwa berusaha mengangkat tubuh Jaesun. “Aku akan memanggil taksi.” Ucapnya cepat. Berlari menuruni tangga dan melesat menuju ujung gang.

Ia begitu gelisah, menunggu sebuah taksi melintas. Tapi tak satu pun melintas di sana. Hyeri berdecak, menendang kerikil dan mengerang pelan. Ia begitu ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Jaesun? Apa sesuatu yang buruk akan menimpanya? Tidak boleh!

Hyeri terus mengetuk-ngetuk kakinya ke tanah, matanya bergerak gelisah. Tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Ia melirik lagi jam tangannya, sudah lebih dari sepuluh menit ia menunggu. Tapi tak ada satu pun yang melintas. Bagaimana ini? Tidak mungkin membawa Jaesun yang sudah kritis begitu menggunakan bus. Lagipula, jarak halte bus terdekat memakan waktu lebih dari lima menit dengan berjalan kaki.

Hyeri merogoh saku denim-nya, teringat bahwa mungkin ia bisa meminta tolong pada Minho. Ia yakin, lelaki itu akan segera melesat ke tempatnya jika Hyeri mengatakan ia perlu bantuan. Hyeri menatap layar ponselnya ragu. Sedikit kecewa karena bahkan pesan singkat yang dikirimnya siang tadi pun belum dijawab oleh Minho.

Ragu, haruskan ia menghubungi Minho? Hyeri masih menimbang saat jarinya bergerak begitu saja menghubungi nomor Minho. Tapi ia harus menelan kekecewaan saat mendengar suara mesin yang mengatakan bahwa ponsel Minho tidak aktif. Hyeri mencobanya lagi beberapa kali, tapi tetap sama. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin lelaki itu pergi begitu saja? Apakah ia sudah mendapatkan gadis lain yang bisa membantunya terlepas dari adik tirinya yang sakit jiwa itu? Batin Hyeri.

Hyeri mendesah pelan. Menurunkan ponselnya yang menempel di telinga. Ia tidak bisa menghubungi Minho dan mengapa itu membuat perasaannya menjadi buruk?

Lamunannya segera buyar saat ia mengingat Jaesun. Ia lantas berlari menuju rumah. Mendapati Jeehwa dan Eomma-nya telah berada di pintu rumah, berusaha memapah Jaesun yang telah pingsan. Mereka terlihat begitu kewalahan.

“Sudah dapat taksinya?” Tanya sang Eomma.

Hyeri tidak menjawab. Ia segera berjongkok di hadapan tubuh Jaesun. “Naikkan dia ke punggungku! Kita akan naik bus!” perintahnya.

“Naik bus?” Tanya Eomma-nya.

“Kita tidak dapat taksi, Eomma. Bawa saja Jaesun secepatnya ke rumah sakit. Jika menunggu taksi, Jaesun…” Hyeri tak kuasa melanjutkan kalimatnya yang terasa begitu mengerikan. “Pokoknya kita jalan saja dulu. Siapa tahu ada taksi yang melintas.”

Jaehwa. Anak itu tahu bahwa Nuna-nya tak mampu menggendong Jaesun yang berat. Tapi Nuna-nya tetap keras kepala menggendong Jaesun di punggungnya. Sedikit bergetar, kedua kaki Hyeri akhirnya melangkah sambil menggendong Jaesun di punggungnya. Jaehwa hanya bisa melihat dengan miris, ingin rasanya menggantikan posisi Nuna-nya, tapi ia yakin Nuna-nya akan marah besar.

***

Mereka terus berjalan menuju halte bus. Sebenarnya, halte bus bisa dicapai dalam waktu lima menit dengan berjalan kaki. Tapi entah mengapa, rasanya waktu berjalan begitu lambat dan halte bus seolah berpindah tempat ke Baghdad.

Peluh menetes lagi dari kening Hyeri, ia hanya menggerakkan lehernya untuk menyingkirkan peluh yang menetes. Nafasnya mulai terasa berat. Sungguh! Ia mengutuki dirinya yang tidak bisa membawa Jaesun dengan cepat. Langkahnya terlalu lambat. Bisa-bisa mereka baru bisa sampai halte bus esok hari.

Nuna, biar aku saja yang menggendong Hyung.” Jaehwa mendekati Nuna-nya.

“Memangnya kau bisa?” cibir Hyeri.

Jaehwa sempat diam, ia menggigit bibir bawahnya. Tentu saja menggendong Hyung-nya sama saja dengan menggendong berat tubuhnya sendiri. Ia dan Hyung-nya adalah kembar, bahkan hingga usia 14 tahun ini pun segala sesuatunya masih serupa.

“Tentu, Nuna!” Akhirnya Jaehwa memberanikan diri. Tidak masalah jika ia akan kewalahan saat menggendong Hyung-nya. Karena yang terpenting adalah ia bisa memberikan bantuan.

“Cih! Sudah! Kau jaga saja tas Nuna dan jangan lupa mengawasi kalau-kalau ada taksi yang melintas.”

Jaehwa hanya menundukkan kepalanya. Menggigit bibir bawahnya. Merasa ia sama sekali tidak berguna. Selalu menyusahkan Eomma dan Nuna-nya. Padahal, ia ingin sekali membantu meskipun hanya dalam bentuk tenaga.

Mereka terus berjalan, selangkah demi selangkah yang begitu panjang seolah tiada akhir. Jaehwa masih menundukkan kepalanya saat ia mendapatkan sebuah ide. “Nuna! Di ujung pertigaan sana ada sebuah kantor. Kalau tidak salah ada banyak taksi yang bahkan menunggu penumpang. Para pegawai kantor biasanya menggunakan taksi. Bagaimana jika aku berlari ke sana dan memanggilkan taksinya?”

Sebuah ide hebat! Pikir Jaehwa. Ia yakin kali ini ia akan sangat membantu. Terlebih lagi, ia sangat khwatir akan keadaan Hyung-nya yang memprihatinkan itu. Jika Hyung-nya merasa sakit, maka ia pun merasakan sakit yang sama.

Hyeri menatap Jaehwa, memaksakan seulas senyum di antara tetesan peluh yang semakin deras. “Kau pikir pertigaan itu dekat? Kau akan mati kehabisan nafas sebelum sampai di sana. Sudahlah! Tetap saja awasi taksi yang melintas.”

Jaehwa memberenggut kecewa. Tidak ada lagi yang bisa ia pikirkan untuk membantu. Andai saja ia memiliki banyak uang, tentu ia bisa melakukan apa saja.

Mereka masih berjalan menuju halte bus saat sebuah mobil berwarna merah melesat melewati mereka. Entah mengapa kedua mata Jaehwa mengikuti arah mobil itu. Ia merasa tidak asing dengan mobil merah tadi. Ia kemudian berusaha mengingat di mana pernah melihatnya karena rasanya begitu tidak asing. Lantas ia membulatkan kedua matanya saat mengingat di mana ia pernah melihat mobil merah itu.

Benar! Itu adalah mobil milik teman lelaki Nuna-nya yang kala itu ia lihat tengah mencium Nuna-nya di halaman rumah. Nuna-nya memang tidak mengatakan bahwa lelaki itu adalah kekasihnya. Tapi Jaehwa berpikir bahwa lelaki itu punya hubungan khusus dengan Nuna-nya. Tidak mungkin kan lelaki yang hanya teman biasa itu berani hendak mencium Nuna-nya?

Lalu, tanpa mengatakan apa pun Jaehwa berlari berlawanan arah. Berusaha mengejar mobil merah tadi.

“Min Jaehwa! Kau mau ke mana?” Teriak Eomma-nya saat melihat Jaehwa meninggalkan mereka. “Yaa! Min Jaehwa! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?” teriak Eomma-nya lagi. Tapi Jaehwa menghiraukannya dan terus berlari sekuat tenaga.

Eomma, sudahlah. Mungkin Jaehwa bersikeras ingin mencari taksi di halaman kantor itu,” Hyeri berusaha menenangkan Eomma-nya. “Kasihan, dia pasti ingin melakukan sesuatu untuk membantu Hyung-nya.”

Hyeri lantas menundukkan kepalanya. Begitu mengutuki dirinya karena ia begitu kesulitan membawa adiknya ke rumah sakit. Menyedihkan!

***

Key mengendarai mobilnya dengan kecepatan statis, melesat melewati halte bus tak jauh dari tempat yang ia tuju. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti alunan musik disko dalam mobilnya. Rasanya tak sabaran untuk segera tiba di rumah si pelayan café itu dan melakukan serangan-serangan kecil agar ia mau menikah dengannya.

Baiklah, waktu yang ia punya tidak banyak. Kedua orang tuanya telah membatalkan pernikahannya dengan Nicole dan itu artinya ia harus segera membawa calon istrinya ke rumah. Akan sangat buruk jika si pelayan café terus memberontak. Bagaimanapun, Taemin telah memberitahunya jurus jitu untuk menundukkan seorang wanita. Ia harus segera mempraktekannya dan menundukkan si pelayan café.

Key tersenyum, tanpa sadar membayangkan bagaimana ia akan menguasai si pelayan café dan semua rencananya berjalan lancar. Yeah! Tidak akan ada lagi kekangan atas fasilitas mewahnya selama ini. Mobil merahnya ini akan menjadi miliknya selamanya, beberapa kartu kreditnya yang telah dicabut akan dikembalikan, ia juga yakin orang tuanya akan membelikan rumah baru setelah ia menikah. Dan, ah! Ia bisa pergi berlibur dalam rangka bulan madu. Sungguh indah hidup ini!

Key masih mengkhayal saat matanya menangkap sosok seorang anak lelaki berlari di trotoar di samping kirinya. Anak itu melambaikan tangannya sambil meneriakkan sesuatu yang tidak bisa Key dengar, tapi ia yakin kata yang diteriakkan adalah ‘Hyung’.

Key tak memedulikan anak itu dan terus menginjak gas. Tapi, entah mengapa ia penasaran juga dan melirik lagi ke kaca spion. Anak lelaki itu masih berlari dan melambaikan tangannya. Penasaran, sebenarnya siapa yang sedang dikejar anak itu? Oh! Jangan-jangan ia ditinggal rombongan kakak kelasnya. Menggelikan!

Key terus menginjak gas hingga anak itu menghilang dari pandangannya. Benar-benar mengganggu, pikir Key. Key memperlambat laju mobilnya saat menyadari bahwa ia sepertinya pernah melihat wajah anak lelaki itu. Key akhirnya menepikan mobilnya. Ini memang tidak penting. Tapi ia penasaran di mana ia pernah melihat wajah anak itu. Terlihat begitu akrab.

“Nu…Nuna!!!”

“Kau siapa, Hyung?”

Serta merta bayangan itu berkelebat dalam kepala Key. Ia ingat ekspresi wajah anak itu. Begitu terkejut dan penuh rasa ingin tahu. Key melirik lagi ke kaca spion, anak itu tak nampak di sana. Lantas tanpa melihat keadaan sekitar ia kembali menginjak gas dan memundurkan mobil dengan cepat. Membuat beberapa kendaraan yang melintas memperingatinya dengan menekan klakson berkali-kali.

Ckiiittttt…

Key menginjak rem hingga menimbulkan suara yang dengan sukses membuat anak lelaki yang tengah menunduk menopang tangan pada kedua lututnya itu melihat ke arahnya.

Hyung!” teriak anak lelaki itu. Peluh menetes dari kening dan lehernya, tapi wajahnya terlihat begitu bahagia.

Lantas anak lelaki itu berlari mendekati pintu mobil, bersamaan dengan Key yang keluar dari mobil. Key melepas kacamata hitamnya.

“Kau adik Min Hyeri, ‘kan?” Tanya Key tanpa basa-basi.

“Wah! Hyung masih mengingatku rupanya.”

“Ada apa? Kenapa kau berlari? Kau mengejar sesuatu?” Tanya Key. Ia melihat ke sekitar, mencari tahu kira-kira apa yang dikejar anak itu.

“Aku mengejar Hyung.”

“Mengejarku?” Key melotot tak percaya, menunjuk hidung dengan jari telunjuknya.

Anak lelaki itu mengangguk. “Hyung bisa antar kami ke rumah sakit?” pintanya tanpa basa-basi.

“Rumah sakit? Hei! Tapi aku sedang si- Hei! Siapa yang sakit?” Key mulai panik. Jangan-jangan si pelayan café yang sedang sakit. Ah! Tapi jika gadis itu memang sedang sakit, ini kesempatan bagus untuk mencuri hatinya dengan perhatian seorang lelaki tampan.

Hyung-ku yang sakit. Dia seperti mau mati saja. Hyung, tolonglah bantu Hyung-ku. Aku kasihan sekali padanya.” Anak lelaki itu mulai meneteskan air mata. Ia meraih kedua tangan Key dan memohon-mohon seperti pengemis.

Serta merta Key mengingat anak lelaki lainnya yang saat itu ia gendong. Ah! Jadi anak lelaki itu masih sakit rupanya, batin Key. Ini kesempatan bagus untuk mencuri hati si pelayan café. Seperti yang dikatakan oleh Lee Taemin. Satu-satunya cara untuk menundukkan seorang gadis adalah dengan kebaikan hati.

“Di mana Hyung-mu? Kaja! Naikklah!” Key berlari ke arah mobil.

Sedikit tak sabaran ia memutar mobil seenaknya. Menimbulkan suara-suara klakson yang begitu nyaring. Jaehwa yang duduk di sampingnya bahkan belum mengenakan sabuk pengaman dengan sempurna.

***

Setelah beradu mulut dengan Min Hyeri, akhirnya Key berhasil membawa keluarganya ke rumah sakit. Tak tanggung-tanggung, lelaki itu mengendarai mobil dengan kecepatan seperti orang yang tak tahan ingin buang air. Membuat Hyeri dan Eomma-nya berteriak histeris. Sementara itu, Jaehwa yang duduk di samping Key menatap lelaki itu kagum. Di matanya, Key  terlihat begitu keren.

Key segera melempar kunci mobil pada petugas rumah sakit yang berjaga di pintu masuk Unit gawat darurat. Lalu berlari ke pintu belakang dan meminta Jaehwa menaikkan Jaesun di punggungnya. “Palli! Palli! Hei kau, Min Hyeri! Cepat kau cari bantuan dari dalam!” Perintahnya. Dan Hyeri menurut begitu saja.

Key berlarian memasuki unit gawat darurat yang terlihat seperti bandara itu. Matanya menjelajah, tidak tahu harus ke mana membawa anak di punggungnya ini. Ia masih berlarian saat melihat Hyeri dan beberapa orang petugas yang membawa ranjang dorong menghampirinya.

“Cepat! Cepat!” Teriak Hyeri histeris. Suaranya sungguh memekakan telinga Key.

Para petugas itu membawa Jaehwa ke sebuah ruangan. Key, Hyeri, Eomma-nya dan Jaehwa mengekor.

“Maaf, harap menunggu di sini. Kami akan melakukan pemeriksaan.” Ucap salah satu petugas. Membuat wajah Hyeri semakin cemas.

Akhirnya, mereka duduk di kursi tunggu di depan ruangan tadi. Menunggu dengan cemas. Hyeri duduk bersandar sambil memanjangkan kedua kakinya. Entahlah! Ia merasa begitu lelah dan takut. Pikirannya terus mengira-ngira apa yang terjadi pada Jaesun.

Hyeri menggigit bibir bawahanya, lantas teringat akan seseorang yang berusaha ia hubungi sedari tadi. Ia merogoh ponselnya, menatap kecewa karena nyatanya tak ada pesan singkat maupun telepon dari Minho. Ke mana sebenarnya lelaki itu? Mengapa ia menghilang begitu saja?

Ia berpikir, haruskah ia kembali menghubungi Minho? Apakah Minho sedang sibuk? Apa ia akan mengganggunya? Ah! Tapi ia ingin sekali menghubungi lelaki itu. Setidaknya untuk mengatakan bahwa hatinya sedang sedih. Hyeri lalu menatap Eomma-nya yang terlihat gelisah di sampingnya, lalu matanya mengabsen Jaehwa yang duduk lemas di hadapannya, duduk di samping Key.

Ah! Hyeri baru menyadari bahwa si mata rubah ada di sini. Sial! Di saat seperti ini mengapa justru lelaki itulah yang muncul? Membuat Hyeri semakin merasa memiliki banyak hutang padanya. Hyeri memperhatikan Key, lelaki itu duduk bersandar, melipat kedua tangan di depan dada, sementara kaki kanannya ia tumpangkan ke kaki kiri. Hyeri tahu, lelaki itu sebenarnya tertidur, tapi ia menggunakan kacamata hitamnya untuk tetap terlihat keren. Dasar lelaki sialan! Batin Hyeri.

“Apa?” Key tiba-tiba melepas kacamatanya, menunjukkan mata rubahnya yang begitu menyebalkan di mata Hyeri. Lelaki itu menegakkan punggungnya. “Kau baru melihat lelaki setampan aku, ya?” Tanya Key lagi, membuat lamunan Hyeri buyar.

Hyeri mengerjapkan matanya, merasa hatinya mencelos saat mendengar ucapan Key. Dasar lelaki ini! “Apa? Percaya dirimu itu tinggi sekali! Kenapa tidak jadi idol saja?” cibir Hyeri. Ia memanyunkan bibirnya kesal.

Key terkekeh, menurunkan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. “Menjadi idol? Ah! Benar! Aku sudah punya satu orang penggemar.” Terangnya riang.

Hyeri hanya melotot. Betapa inginnya menendang si mata rubah. Sayang, ini bukan waktu dan tempat yang tepat. Terlebih lagi si mata rubahlah yang telah membawa mereka ke rumah sakit. Setidaknya Hyeri harus bersabar.

“Hei ngomong-ngomong,” Key mencondongkan tubuhnya ke arah Hyeri, lantas melirik Jaehwa dan Eomma Hyeri sekilas. “Kapan kau akan menerima tawaranku? Kau tahu? Orang tuaku tidak bisa menunggu lebih lama lagi agar anaknya yang tampan ini segera menikah.” Bisik Key. Ia kemudian terkekeh puas.

MWO?” Suara Hyeri membahana. Tapi ia segera menahan emosinya mengingat ia sedang berada di rumah sakit. Hyeri mencondongkan tubuhnya ke arah Key. “Dasar sinting! Aku tidak punya urusan apa pun denganmu! Dan jangan bermimpi menikah denganku!” caci Hyeri. Sungguh! Rasanya ingin melayangkan tinju lagi ke wajah si mata rubah.

Key hanya terkekeh, merasa begitu puas telah mempermainkan Hyeri. Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Lalu mengacak rambut Jaehwa yang duduk di sampingnya. “Hei, Nuna-mu itu lucu sekali! Aku tidak bisa berhenti tertawa. Sungguh!” Lalu ia kembali terkekeh.

Hyeri hanya mampu menggembungkan kedua pipinya menahan kesal. Sungguh! Setelah Jaesun keluar dari rumah sakit, ia akan menendang lelaki sialan itu. Hyeri beranjak, menghentakkan satu kakinya ke hadapan Key. Lalu berlalu meninggalkan tempat itu.

***

Siang berganti sore dan matahari terus beranjak. Menyisakan sore yang mendung di penghujung musim panas. Hyeri mendongakkan kepalanya, menatap langit mendung dari celah-celah peohonan. Ia mendesah, Minho masih belum bisa dihubungi dan itu membuatnya semakin cemas. Ke mana ia harus mencari tahu keberadaan lelaki itu? Lagipula, benarkah menghilangnya Minho secara tiba-tiba itu bukan karena ia telah menemukan gadis lain yang bisa membantunya?

Hyeri menggerutu pelan, menendang kerikil yang ada di hadapannya. Sungguh! Di saat yang sangat buruk ini, mengapa lelaki itu justru menghilang? Batinnya. Hyeri masih melamun saat Jaehwa berlari menghampirinya.

Nuna, Hyung sudah selesai diperiksa.”

Lantas keduanya berlari menuju ruangan di unit gawat darurat tadi.

“Usus buntu?” Hyeri tak menyadari bahwa suaranya membahana. Ia begitu terkejut bahwa Jaesun terkena usus buntu.

“Kondisinya sudah cukup buruk. Ada baiknya jika segera dilakukan operasi.” Terang Dokter yang menangani Jaesun.

“O…operasi?” Tenggorokan Hyeri tercekat. Seketika lututnya gemetar. Yang ada dalam pikirannya kini adalah berapa biaya yang harus ia keluarkan untuk melakukan operasi? Apakah uang tabungannya cukup? “Be..berapa biayanya?” Tanya Hyeri. Berusaha mengumpulkan keberaniannya.

“Anda bisa menghubungi bagian administrasi. Ini datanya.” Sang Dokter memberikan selembar kertas pada Hyeri. “Jika Anda sudah setuju dan memberikan tanda tangan untuk melakukan operasi, kami akan segera melakukannya.

Tanpa berpikir lagi, Hyeri melesat menuju bagian administrasi. Bagaimanapun, Jaesun harus segera mendapatkan operasi. Hyeri segera menyerahkan kertas yang tadi diberikan oleh Dokter pada petugas di bagian administrasi. Harap-harap cemas menantikan kabar mengenai berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkannya.

“Min Hyeri-ssi.” Panggil petugas. Hyeri segera beranjak. “Operasi akan dilakukan setelah Anda menandatangani surat ini,” sang petugas menyerahkan sepucuk kertas berisi surat persetujuan melakukan operasi. ”Berikut rincian biayanya.” Lalu kertas lain segera disodorkan.

Tak sabaran, mata Hyeri segera menjelajah angka yang tertera di bagian paling bawah kertas yang menunjukkan total biaya. Sungguh! Kedua mata Hyeri nyaris melompat dari tempatnya, dadanya berdebar tak karuan dan kedua kakinya terasa lemas.

“Du…dua puluh juta won?” Hyeri meyakinkan bahwa ia tidak salah membaca.

Seketika wajahnya pucat pasi. Sungguh! Ia tidak mengira biayanya akan sebesar ini. Ia tidak usah mengecek buku tabungannya karena ia tahu jumlahnya tidak akan cukup. Hyeri membeku, tangannya meremas kertas berisi rincian biaya yang harus dibayar. “Berapa seluruh uang yang harus kukeluarkan hingga Jaesun benar-benar sehat?” tanyanya.

Sang petugas menatap kertas berisi rincian biaya sambil mengerutkan dahinya. Mengira-ngira jumlah tambahan yang biasanya muncul dalam kasus seperti ini. “Setelah operasi dilakukan, Adik Anda harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Paling sebentar tiga hari, itu artinya Anda harus menambah biaya inap selama tiga hari, ditambah biaya obat-obatan. Kurang lebih dua puluh lima juta.” Terang sang petugas.

Tubuh Hyeri terasa lemas, ia merasa kepalanya berputar-putar dan seluruh isi perutnya akan keluar. Tubuhnya limbung dan nyaris terjatuh jika saja Jaehwa yang sedari tadi mengikutinya tidak menahan tubuh Hyeri.

Nuna, gwaencanhayo?” tanyanya cemas.

Hyeri menatap Jaehwa pilu. Ingin menangis karena dunia begitu kejam padanya dan Jaesun. Jika saja uang bukanlah sebuah masalah besar, batin Hyeri.

Nuna, sesuatu terjadi?” Tanya Jaehwa lagi. Wajahnya tak kalah cemas.

Hyeri menelan ludah, menghirup nafas sebanyak yang ia bisa untuk menenangkan dirinya. “Jaesun… harus segera dioperasi. Tapi Nuna…” Hyeri menggantungkan kalimatnya, menatap Jaehwa pilu.

Menatap Jaehwa sama saja seperti menatap Jaesun. Lantas Hyeri membayangkan jika ia kehilangan satu wajah seperti di hadapannya sekarang ini. Mungkin ia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidup.

Jehwa hanya menatap Hyeri, menunggu apa yang akan disampaikan Nuna-nya itu. Tapi Hyeri tak kunjung memberi penjelasan. Hyeri justru menatap lekat Jaehwa seolah sedang memikirkan sesuatu.

Hyeri menarik nafas, matanya memang berkaca-kaca tapi ia segera meraih pulpen di meja petugas administrasi dan menandatangani surat persetujuan operasi.

“Bisakah operasinya dilakukakn terlebih dahulu selagi aku mengambil uang tunai?” Tanya Hyeri. Suaranya sedikit bergetar.

“Tentu. Tanda tangan di sini juga.”

***

Hyeri berlari sekuat tenaga. Kedua kakinya terasa lemas dan lututnya bergetar hebat. Jantungnya berdebar tak karuan. Apa yang harus ia lakukan? Ke mana ia harus mencari pinjaman uang di malam hari seperti ini?

Minho! Hyeri kembali merogoh saku denim-nya, menekan tombol gelisah. Tapi lagi, Minho tetap tidak bisa dihubungi. Membuat Hyeri meneteskan air mata. Ke mana perginya lelaki itu di saat ia benar-benar membutuhkannya?

Hyeri terus berlari, tak peduli jika air matanya terus jatuh. Hatinya begitu takut. Takut jika ia tidak bisa menyelamatkan Jaesun. Pikirannya kalut, tidak tahu harus ke mana mencari pinjaman uang sebanyak itu. Ia terus berlari, menghiraukan segala sesuatu yang ada di hadapannya.

Bruuukkkkk!!!

Ia menabrak sesuatu, tubuhnya tersungkur ke atas jalanan beraspal. Ia mengerang, tentu saja sakit. Tapi sakit yang dirasakan Jaesun lebih besar dari ini. Dan itu membuat Hyeri menangis semakin banyak. Ia kembali mengerang, menendang-nendang udara dan mulai menangis seperti anak kecil.

“Hei! Hei! Kau ini tidak punya malu, ya? Berapa usiamu sampai menangis seperti itu di tempat umum?”

Suara yang sangat tidak asing dan selalu terdengar menyebalkan di telinga Hyeri membuat tangis Hyeri terhenti sesaat. Ia mendongak, mendapati si mata rubah tengah menepuk-nepuk bagian lututnya. Hyeri mendesah ringan, mengapa di saat paling menyedihkan seperti ini pun ia harus bertemu dengan lelaki itu? Kesalahan apa yang telah ia lakukan di kehidupan lalu hingga ia harus semenderita ini?

Hyeri menghiraukan Key. Lantas kembali menendang-nendang udara sambil menangis seperti anak di taman kanak-kanak.

Key melipat tangannya di depan dada, berdecak kesal melihat tingkah laku Hyeri. Ia membiarkan Hyeri menangis seperti itu beberapa saat. Ingin mengetahui sejauh apa si pelayan café akan mempermalukan dirinya di hadapan lelaki yang telah menciumnya. Oh! Tapi rupanya ciuman-ciuman yang telah diberikan Key sama sekali tidak berpengaruh. Hyeri terus menangis seperti orang gila. Membuat Key kesal setengah mati.

“Hei! Berhenti menangis! Kau membuatku malu!” Key menyentuh bahu Hyeri. Tapi gadis itu bergeming. “Yaa! Yaa! Kau tuli, ya?”

“Aku sedang sedih! Jadi biarkan saja. Lagipula bukan urusanmu!” pekik Hyeri. Ia menatap Key dengan air mata bercucuran. Membuat harga dirinya semakin jatuh.

Key berdecak. “Baiklah! Ini jadi urusanku. Kenapa kau menangis? Adikmu meninggal, ya?”

Buuuggghhh…

Sebuah tinju melayang dan mendarat dengan cantik di pipi kiri Key. Lelaki itu mengerang, merasakan sakit bukan main. Ia mendengus. Ternyata si pelayan café punya kekuatan untuk bangkit dan meninjunya. “Hei! Kenapa kau memukulku?”

“Jaga mulutmu, Manusia congkak!” teriak Hyeri. Ia tidak peduli jika wajahnya begitu jelek karena berteriak sambil menangis.

“Aku kan hanya bertanya. Aduh! Dan ini sakit sekali!” Key mengelus pipinya.

“Kau pantas mendapatkannya! Dan sekarang tinggalkan aku!” Hyeri menurunkan intonasi suaranya. Lalu, melangkah menjauhi Key. Biarlah kali ini harga dirinya jatuh di hadapan Key. Toh lelaki itu sudah sering menindasnya.

Key mengejar Hyeri. Sedikit tak terima dengan perlakuan si pelayan café. “Hei! Kau mau ke mana? Kau harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan wajahku.” Key berusaha membuka pembicaraan. Tapi tak ada tanggapan. “Yaa! Bagaimana jika tulang pipiku retak dan harus operasi? Kau harus menanggung biayanya!” tambah Key lagi dan sukses menghentikan langkah Hyeri.

Gadis itu diam, air matanya kembali jatuh tak terkendali. Ia teringat bahwa Jaesun harus melakukan operasi malam ini juga. Dan kewajibannya adalah membayar biaya operasi dan rumah sakit.

“Kau mendengarku, Miss? Sebaiknya kau tidak melarikan diri dan bertanggung jawab!” Key memutar tubuh Hyeri hingga mereka berhadapan.

Tapi Hyeri justru menangis semakin kencang. Tubuhnya merosot, ia seolah berlutut di hadapan si mata rubah. Membuat Key mengerutkan dahinya. Apa ia terlalu keras mengancam si pelayan café? Ah! Tentu saja, gadis itu akan sangat sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan uang.

“Yaa! Tidak usah menyembahku seperti itu! Baiklah aku tidak ak-“

“Apa yang harus kulakukan?” ucap Hyeri di tengah tangisnya. “Apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika Jaesun tidak selamat? Aku sungguh seorang kakak yang tidak berguna.” Lalu kembali terisak.

Key menggerakkan kaki kanannya, menyentuh lengan Hyeri. “Yaa! Kau ini kenapa? Apa yang terjadi? Adikmu baik-baik saja?” Key menunduk menatap Hyeri.

Hyeri makin terisak, ia lalu bangkit. Kedua tangannya meraih lengan Key. “Bagaimana jika Jaesun meninggal? Aku tidak punya uang untuk membayar operasi. Bagaimana jika Jaesun meninggal?”

Hyeri lantas menangis sejadinya. Hatinya benar-benar sedih. Pikirannya buntu, tidak bisa memikirkan suatu cara pun untuk mendapatkan uang sebanyak itu.

Key mendesah pelan. Ternyata masalahnya hanya uang. “Hei! Kau tidak usah menangis! Berapa biayanya?” Tanya Key santai.

Tapi Hyeri tidak menjawab. Gadis itu terus menangis dan tanpa ia sadari menyandarkan kepalanya pada tubuh Key. Membuat lelaki itu merasakan sesuatu yang sangat aneh. Key menatap sekitar, entah mengapa dadanya berdebar. Seolah merasa takut jika ada orang lain yang memergoki mereka.

Key berdeham, tapi Hyeri tak juga menyingkir dari dadanya. Key bisa merasakan air mata yang mulai membasahi t-shirt birunya.

“Apa yang harus kulakukan? Tidak bisakah kau menolongku?” bisik Hyeri.

Key, lelaki itu tidak mengerti mengapa ia merasa iba pada gadis yang bahkan begitu ia benci karena sifatnya yang kasar. Lantas tangan kanannya bergerak begitu saja memeluk Hyeri. Merasa tindakannya benar.

***

Hyeri masih terisak, memenuhi atmosfir di dalam mobil. Kini mereka berada di depan sebuah ATM tak jauh dari rumah sakit. Tapi, mau bagaimana lagi? Seluruh uang yang Hyeri miliki sama sekali tidak cukup untuk biaya operasi, terlebih lagi ATM memiliki batas jumlah yang bisa diambil per harinya.

“Ck! Aku sudah memberimu kemudahan dengan menawarkan pinjaman. Kenapa masih menangis seperti orang bodoh?” Lagi, Key membuka mulutnya. Memaksa Hyeri untuk menerima tawarannya.

Hyeri menatap Key penuh benci. BIsa-bisanya lelaki itu mengambil keuntungan di saat darurat seperti ini. Yeah! Dengan baik hati Key menawarkan pinjaman uang sebesar dua puluh lima juta won. Menghentikan tangisan histeris Hyeri. Tapi sayang, seharusnya Hyeri menyadarinya lebih awal. Lelaki itu tidak memberikan bantuan cuma-cuma. Sungguh gila! Hanya satu syarat yang diajukannya. Menjadi istri kontrak!

“Jadi bagaimana? Kau mau mengambilnya atau tidak? Aku tidak punya banyak waktu!” Key terus mendesak Hyeri.

“Jahat sekali! Kau benar-benar tidak punya hati!” caci Hyeri.

“Hei, Miss. Aku membantumu karena aku memiliki uang dan kau sedang memerlukannya. Di sisi lain, kau harus membantuku karena aku memerlukan seseorang untuk menjadi istri kontrak. Kita sama-sama memerlukan bantuan. Mengapa sulit sekali untuk saling membantu?” Key mulai berceramah.

“Tapi kau… mana bisa itu disebut bantuan? Kau hanya ingin menghancurkan masa depanku.” Hyeri kembali terisak. Merasa membenci hidupnya sendiri. Sungguhkah Tuhan tengah menghukumnya?

“Tidak usah histeris seperti itu. Lagipula masa depanmu sudah hancur. Jika kau menikah denganku, artinya kau sedang berusaha memperbaiki masa depanmu!”

Hyeri menarik nafas dalam, menghembuskannya melalui mulut. Sungguh! Jika ia tidak sedang dalam situasi yang begitu menyengsarakan ini, ia akan menghajar si mata rubah sampai mati.

Hyeri tidak menjawab, ia melongok lagi ponselnya. Lalu mulai menekan tombolnya untuk sebuah peruntungan.

Look! Bahkan kekasihmu tidak ada di saat seperti ini. Kekasih macam apa dia? Kau tidak akan menyesal jika menikah denganku. Lagipula, cinta tidak selamanya bisa menyelamatkan hidupmu!” Key menatap Hyeri yang terlihat semakin kesal. Gadis itu kembali menekan tombol dengan gusar, menempelkan lagi ponsel ke telinganya. “Jika kau membandingkan aku dengan Choi Minho. Sudah jelas aku lebih unggul dalam segala hal. Pangeran tampanmu itu sudah melarikan diri!”

Hyeri mendengus kesal, air matanya kembali menetes. Ia tetap tidak bisa menghubungi Minho. Ke mana sebenarnya lelaki itu? Mengapa ia menghilang begitu saja setelah Hyeri menetapkan hati untuknya?

Hyeri menundukkan kepalanya, lalu mulai terisak. Meratapi nasibnya yang begitu buruk. Mengapa ia tidak mati saja? Batinnya.

“Hei! Sampai kapan kau akan menangis? Kau tidak ingat adikmu yang di rumah sakit itu? Ingat-ingatlah! Kau akan menyesal jika tidak bisa melihat sepasang wajah yang sama itu lagi.” Key memperpanas situasi. Sengaja melakukannya agar Hyeri menerima tawarannya.

Dan ngomong-ngomong. Ia penasaran juga ke mana sebenarnya Minho. Beruntung sekali lelaki itu menghilang. Karena jika ada Minho, sudah jelas Key tidak mendapatkan kesempatan sebagus ini.

Lima belas menit lamanya Key membiarkan Hyeri menangis. Gadis itu menangis sampai lelah. Lalu, ia menatap Key putus asa. “Bolehkah aku mengajukan persyaratan jika aku menyetujuinya?” Hyeri tidak punya pilihan selain menerima satu-satunya pilihan yang ada. Ia rela melakukan apa saja demi keluarganya.

Sure!” Key menatap Hyeri dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.

Hyeri mengusap air matanya. Tidak ada gunanya meratapi hidup seperti ini. Toh Minho pun telah menghancurkan hatinya begitu saja. Untuk apa mengandalkan lelaki yang bahkan tidak ada untuk mengusap air matanya? Lagipula, menikah kontrak dengan si mata rubah tidak terlalu buruk. Ia bisa mendapatkan uang pinjaman untuk biaya operasi dan mungkin saja itu bisa memperbaiki kehidupan keluarganya, batin Hyeri.

“Kita akan membuat perjanjian dalam kontrak ini.” Ucap Hyeri.

Key hanya mengangguk mantap. Dalam hati bersorak senang! Akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Lihat saja, ia akan membuat semua orang yang membuatnya menderita tersiksa seperti cacing yang dijemur hidup-hidup.

***

Hyeri dan Key berlarian menuju bagian administrasi.

“Totalnya dua puluh juta won untuk operasi malam ini. Biaya lainnya akan diberitahukan jika ada.” Terang petugas.

Key merogoh dompet di saku belakangnya. Sederetan kartu tampak dari dalam dompet. Ada yang warnanya emas, silver, ada juga yang warnanya merah, biru dan ah! Terlalu banyak!

“Ini! Rumah sakit ini menerima kartu, ‘kan?” Key menyodorkan kartu berwarna emas. Si petugas mengangguk.

Sementara Hyeri terheran-heran di tempatnya. Ia baru tahu jika bisa membayar rumah sakit dengan kartu kredit. Seperti berbelanja di supermarket saja.

“Nomor pinnya.” Pinta sang petugas sambil menyodorkan mesin kartu kredit. Lalu meminta Key menandatangani beberapa lembar kertas. “Ini bukti pembayarannya. Harap disimpan dengan baik.” Ucap sang petugas. Lantas Key menerima kertas itu dan menyerahkannya pada Hyeri.

Gadis itu meraih kertas dengan cepat. Menggenggamnya erat seolah itu adalah barang paling berharga di dunia.

“Terima kasih.” Ucap Key.

Lalu keduanya berlalu, bergegas menuju tempat Jaesun dioperasi. Mereka mendapati Eomma Hyeri dan Jaehwa tengah menunggu di kursi tunggu. Keduanya terlihat lelah, tapi wajahnya begitu muram. Hyeri menghentikan langkahnya. Mengutuki dirinya jika saja ia tidak mendapatkan uang itu.

Hyeri masih mematung saat Key merangkulnya dan memaksanya berjalan.

“Hei! Kau ini apa-apaan?” Hyeri menggerakkan tubuhnya. Menepis tangan Key yang melingkar di bahunya.

Key terkekeh. “Kita akan menikah. Setidaknya tunjukkan kedekatan kita di hadapan keluargamu agar mereka tidak terlalu terkejut. Lagipula, seharian ini Eomma-mu sama sekali tidak bertanya siapa diriku. Menyebalkan sekali!” gerutu Key.

Hyeri menahan emosinya. Ingin sekali meninju lagi si mata rubah. Tapi sayang, posisinya saat ini adalah si kalah. Ia tidak bisa melakukan apa pun pada si menang. Lagipula, setelah Jaesun keluar dari rumah sakit, pernikahan kontrak itu akan segera dilaksanakan.

***

Hyeri mendesah ringan. Kembali menyesap kopi dalam cup kertas dalam genggamannya. Tapi hangatnya kopi tak juga membuat hatinya lega. Ia semakin gelisah. Satu masalah memang teratasi, tapi ia mengatasinya dengan masalah lain yang lebih besar. Ia mengerang, ingin berteriak, marah, dan melancarkan protes. Tapi tidak tahu pada siapa ia harus menyampaikannya. Hidupnya memang seperti ini. Andai saja ia memiliki banyak uang. Tentu hidup keluarganya tidak akan sesulit ini.

Hyeri menundukkan kepalanya dan mulai terisak di lobi rumah sakit yang sepi itu. Nasibnya begitu buruk. Ia masih menangis saat sebuah tangan merangkulnya.

Uljima. Jaesun akan baik-baik saja.” Terdengar suara lembut Eomma-nya.

Hyeri mengangkat wajahnya. Menatap wajah tua yang terlihat begitu lelah. Kerutan-kerutan halus mulai terlihat di wajah Eomma-nya. Wanita itu benar-benar terlihat lelah, tapi ia memaksakan sebuah senyum untuk Hyeri.

Eoo… Eomma.” Hyeri mengusap air matanya cepat.

“Jaesun akan baik-baik saja. Terima kasih.” Bisik Eomma-nya singkat.

“Terima kasih untuk apa?” Tanya Hyeri.

“Terima kasih karena kau telah mengusahakan segalanya untuk Jaesun. Eomma benar-benar minta maaf karena selalu membuatmu susah. Eomma tidak merawatmu dengan baik selama ini,” ucapan Eomma-nya terhenti. Wanita tua itu mulai terisak. Membuat Hyeri makin cemas. “Eomma minta maaf karena membuatmu sulit. Eomma telah memberikan semua yang Eomma punya untukmu. Tapi maaf, hanya ini yang Eomma punya. Eomma tidak bisa-“

Eomma! Apa yang Eomma bicarakan?” sambar Hyeri. Ia kembali meneteskan air mata.

“Maaf, Eomma tidak bisa membahagiakanmu. Eomma benar-benar bersalah. Seharusnya hari itu kau tidak menerima Eomma menjadi orang tuamu-“

Eomma! Apa yang Eomma bicarakan? Aku tidak pernah menyesal menjadi putrimu. Jadi berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak!” Hyeri terisak. Lantas menaruh cup kertas ke bangku di sampingnya dan memeluk Eomma-nya. “Eomma telah memberiku hidup baru dan menyelamatkanku. Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa tidak seharusnya aku ikut dengan Eomma hari itu.”

Lalu keduanya mulai terisak. Mengingat lagi pertemuan pertama mereka hari itu. Hari di mana keduanya merasakan sebuah harapan baru yang begitu bahagia. Merangkai mimpi mereka masing-masing dalam sebuah kebersamaan sebagai ibu dan anak.

Keduanya terus menangis di tengah sunyinya malam. Bukan meratapi hidup mereka yang begitu sulit. Tapi merasa bersalah satu sama lain. Entah sudah beberapa menit berlalu. Keduanya merasa cukup lelah. Telah mencurahkan kesedihan mereka. Hyeri melepas pelukannya, menghapus air mata di wajahnya. Ia meraih kedua tangan Eomma-nya.

Eomma, Jaesun dan Jaehwa juga tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkan Eomma menanggungnya seorang diri. Aku akan selalu bersama Eomma.” Bisik Hyeri. Membuat wanita tua itu kembali memeluknya.

“Terima kasih. Terima kasih, putriku Hyeri.” Bisiknya.

Ia masih memeluk Hyeri saat mengingat sesuatu. “Lelaki itu…” ia menatap Hyeri penuh selidik. Mencari tahu jika apa yang ia pikirkan adalah benar. “Kekasihmu? Ia lelaki yang waktu itu datang ke rumah, ‘kan?” tanyanya.

Hyeri mendesah. Ia kembali teringat dengan nasib buruk yang menunggunya setelah ini. “Eomma, aku punya satu pertanyaan.” Hyeri mengalihkan topik. Eomma-nya hanya diam, menunggu pertanyaan apa yang akan dilontarkan Hyeri. “Menurut Eomma, mana yang lebih baik? Menjadi kekasih atau menjadi seorang istri?”

Hyeri menatap Eomma-nya tidak peduli saat air matanya kembali menetes. Ia sudah begitu sedih dengan keputusan yang diambilnya.

Sementara itu Eomma-nya menatapnya serius. Menelisik kedua mata Hyeri. Mencari tahu kalau-kalau dugaannya benar. Lantas sebuah senyuman tersungging di wajah lelahnya. “Dia melamarmu?” tanyanya sumringah. Hyeri tidak menjawab. Eomma-nya menarik Hyeri, membenamkan Hyeri dalam pelukannya. “Tentu saja menjadi seorang istri lebih baik.” Akhirnya jawaban itu meluncur dari mulut Eomma-nya.

Hyeri terisak. Hatinya begitu terluka. Ia memang tidak punya pilihan lain selain menjalaninya dan melupakan cintanya pada Minho. Hyeri kemudian memeluk Eomma-nya sambil menganggukkan kepala.

Eomma benar. Menjadi istri jauh lebih baik.” Bisiknya pilu.

=TBC=

Note : Maaf soal biaya operasi di part ini. Sejujurnya itu cuma imajinasi. Bukannya ga riset, tapi sejauh apa pun riset yang author buat untuk harga yang satu ini. Ga akan seakurat yang aslinya kalo ga ngalamain sendiri. Maksudnya ngalamin hidup/minimal pernah ke Korea dan nyobaik pake jasa rumah sakitnya. Jadi mohon maklum yaa. Kalian juga pasti paham kan yaa. Author ga bermaksud membodohi pembaca atau bermaksud menunjukkan bahwa author mengalami kemunduran pikiran.hahah. ^^v
Thank u😉

30 thoughts on “Excuse me, Miss – Part 7

  1. Yeaayyyy !!! akhirnya Hyeri mau juga jadi istri kontraknya abang Key.. untung aja Minho lagi ngurusin si crazy Minhee, jadi abang Key bisa mengejar ketinggalan. Ga sabar pengen baca part after married nya.. seru deh kayaknya😄
    “Kita lihat saja. Aku akan membawanya ke pelaminan.” >> jawab : “Ayo bang kita ke pelaminan kalo abang ditolak sama Hyeri” #ahaaayy😄
    “Kau baru melihat lelaki setampan aku, ya?” sukaaa bgt kalo prince disease nya abang Key kumat.. jadi kebayang ekspresi wajahnya.. hahahha

    ada beberapa typo yg aku temuin onn..
    1. “Jinjja? Tapi wajahmu memerah? Apa kau (dehidrasai)?” tanya Ken lagi.
    2. “Aneh sekali!” ucap Ken, ia kemudian berjalan ke sudut di mana dus-dus berisi buah jeruk (Mandari) di simpan.
    3. Key tersenyum, tanpa sadar membayangkan bagaimana ia akan menguasai si pelayan café dan semua rencananya berjalan (lancer).
    4. Key menginjak rem hingga menimbulkan (sura) yang
    5. Ia tidak bisa melakukan apa pun (padasi) menang.

    ayoo onn dilanjut ahh.. super penasaran sama lanjutannya ni.. kalo boleh Minho ga usah balik lagi deh.. hahaha #dikroyokfansMinho
    keep writing ya onn.. Fighting ^^9

    • hehe. Eottae part yang ini? lebih mending dari yang kemarin, kan? maaf yah lama, ini udah mengalami proses penambahan halaman. Asalnya cuma 11 halaman, tapi hambar, jadi aku tambahin dan ga kerasa sampe 27 halaman. Mudah2an suka🙂

      Eh, typo-nya udah aku perbaiki. Mudah2an ga ada yang kelewat lagi. Makasih ya, Hwayong. Sangat membantu. karena aku ga punya beta-reader jadi selalu ada kesalahan.

      .heheh. nantikan yaa, lanjutannya. Aku juga ga sabar pengen baca lanjutannya *loh?*
      Eh, cek email yaa. Aku kirim email looh.
      Thank u😉

      • part ini lebih mending banget onn.. aku sampe bolak-balik liat scroll udah nyampe bawah apa belom? hahaha saking ga mau keputus ceritanya gitu😄

        hehehe nyantai aja onn. aku seneng koq bisa bantu😀

        loohh? kenapa malah onni yg ga sabar baca lanjutannya? jadi selama ini yg bikin ff bukan onni? #apasiiihhh?😄

        mian onn,pas nerima email dari onni aku belom baca comment diatas. makanya aku nanya nama onni di email yg pertama. abis aku ga hafal email onni😦

      • Syukurlah kalo begitu. Kebetulan lagi ada semangat nulis dan idenya mengalir. *bahasanya*

        .heheh. ga tau nih, Hwayong. Kalo tulisannya udah jadi, kadang aku juga suka jadi pembaca dari tulisanku sendiri.heheh.

        Wah. Aku awalnya ngira salah kirim email loh. Udah deg2an.heheh. Tapi untung ga salah.heheh.
        Iya, ga apa2. Makasih ya untuk bantuannya😉

  2. bener2 yaa..itu key kayaknya emg minta didamprat..udah kepedean ngomong asal2an pula ckck /dbantai lockets/ wajar klo hyeri benci sm key..tp satu hal benci sma cinta itu beda tipis lohh hehe..

    Wahh ini seperti bayanganku lohh.. key bkln ngelakuin sesuatu yg bikin hyeri merasa berutang budi & tdk ad pilihan lain selain nerima pilihan key…
    Dan u/ minho, hehe aku senang minho g bisa dhubungi..dia psti ngurusin adeknya..udh minho ama minhee aj..toh g ad hubungan drah jg..tp sebelumnya msti d bawa RSJ kali yaa ato setidaknya ke psikolog..spertinya minhee emg mngalami gangguan kejiwaan dehh..sian minho ckck…

    Melengkapi komen d.ats..aku cm nemu ini..
    -Anak itu tahu bahwa Nuna -nya tak mampu
    menggendong Jaehwa yang berat -> seharusnya dsini jaesun kan?!
    -petugasa -> petugas
    – Sungguh harus seperti ini? batin Minho -> aku g trlalu ngrti sihh soal tnda baca..tp bknnua klo abis tanda tanya gini hrs nya hruf besar yaa?!

    • iya! cinta sama benci beda tipis.
      Eh, karakter Key di sini lebih bagus daripada di Archangel, kan?

      Wahh? Jinjja? Eh, maaf idenya agak pasaran.kekek.
      iya, kesian si Minho.ckck. Aku jga masih bingung nih Minho bagusnya diapaian.

      Eh, koreksi darimu udah aku perbaiki di ff-nya. Mudah2an ga ada yang kelewat lagi. Makasih ya, Ummul. Part berikutnya jangan lupa koreksi lagi.
      Thank u😉

  3. wah, akhirnya keluar juga sambungannya… mian eonn krn g sempat komen d part sebelumnya… *bow*
    akhirnya s Hyeri mau juga nikah sama Key… emanganya apa sih jurus yang udh ditanya KEy k Taemin? jadi penasaran… kayak jurus menaklukan gimanaaaa gitu. yasudd, Hyeri. begitu nikah sama Key, kamu akan segera melupakan si Minho. hohohoho….

    hemm… tadinya sempet mau tanya ttg rumah sakit itu, soalnya menurut bella 20 juta won utk operasi usus buntu itu terlalu besar. tapi karena udh ada penjelasannya yah, ga papa…

    utk typo, bella no comment deh. lagi pula typosnya g ngeganggu cerita n bisa ttp enjoy bacanya.
    kayaknya cuma tinggal tunggu nikahannya aja, nih.. waduh, mirip archangel dong waktu s Hyeri g niat2 kali nikah ama Key sajangnim… semoga kisah cinta mereka g sesedih itu. buat Hyerinya yang jatuh cinta ama Key dong, eonn… selama ini kan Key trus yang tersiksa karena cintanya k Hyeri. gantian doong..

    Keep writing, eonni~~

    • Siip. gpp, Bella, santai aja🙂
      Jurusnya Taemin kalo ga salah udah disebutkan di atas. Yaitu kebaikan hati.

      .heheh. tadinya aku mau buat 10 juta. Tapi pengen terasa lebai *kan khas K-drama lebai2 gmna* .heheh. Maaf yah, kalo ga sreg. Susah juga nyari info soal biaya operasi ini di Korea.

      koreksi dari Hwayong dan taurusgirl udah dipernaiki. Mudah2an ga ada yang terlewat lagi. Jadi lebih enak bacanya🙂
      iya, tinggal nunggu pernikahan aja nih. Duh! jadi deg2an sendiri *eh?*

      .kekek. nantikan yaa.
      Thank u😉

  4. Iyaa..aku lebih suka karakter key dsini😀
    Di archangel, key nya trlalu baik sihh hehe..

    Bkan koq…aku kn mikirnya hyeri HARUS nerima tawaran key..nahh dpart sebelumnya dbagian jaesun sakit dan kebetulan ada key dsitu…aku langsung ngebayangin, kalo pnyakit jaesun itu parah btuh biaya yg bnyk..dan krn kbtulan ad key dsitu..key psti bkln manfaatin situasi..
    Minho? sama minhee aj gpp kali yaa? dgn sifat minhee yg nekat smpe rela nyakitin dirinyabgt aku rasa dia g bklan mau ngelepas minho.. lagian minhee gila kn krn minho jg kn(?) xD

    Sippp..aku jg g sabar nunggu pernikahan key dan hyeri hehehe…

    • Pokonya di sini sifat Key terbalik banget sama di Archangel. Kesian juga ya Key ditindas Hyeri mulu secara mental? *apa sih?*

      Hoo.heheh. Pasti ketebak yaa. Aku juga awalnya langsung kepikiran aja gitu Hyeri harus berhutang budi sama Key di saat Minho ga ada. Jadi, sama kaya perkiraanmu. Mau ga mau Hyeri harus nerima tawaran Key.kekek.

      .hha. Emang tuh si Minho bisa sampe bkin cewe bener2 gila. ^^v

      oKEY, nantikan yaa. Mudah2an ga lama. *plaaakkk*

  5. tu kann ndak d-soulmate atau excuse me, miss aku masih sja ketinggalan cerita…

    mau ngomen pa ya?? maslah typo udah d-bhas d-atas…

    oiya eon,, aku kira tdi yg mrah2 tu nicole krna pertnanganya btal,, ehh tau2ny minhee,,
    minho kmn cih, jngan trllu fkus sma minhee donk, ktanya mau mnghindar dri minhee jdi cuekin ja dia.. msa ska sma oppany sndri, sifatnya sngat egois dan k-kank2an..
    jangan marah ya eonn, aku ngmen sprti ini.. soalnya aku sbel bnget ma minhee tu

    yadahh part brikutny bruan ya eon, jangn smpai lma kli… yayaya

    • .heheh.
      Wah, Heyri lagi sibuk yaa? Ketinggalan soulmate sama EMM pasrt 7. ^^v

      Iya, typo sudah ada yang bahas dan sudah diperbaiki juga. Mudah2an ga ada yang terlewat lagi.heheh.

      .kekek. gpp ko, Heyri. Santai aja, ga akan marah.

      .hehe. mudah2an ga lama. Nantikan yaa.
      Thank u😉

  6. Duh, duh, dududuh key-hyeri kyaaaaaaa!! key mulutnya hee, pedes sekali o.O klo ngomong langsung aja. gk pake mikir😀 tapi pantes kok eon, klo key kyk gitu. ohya, kasian si minho eon, semoga hidup minho lancar, dan semoga si nicole segera punah😀 org udh kakak-beradik msh aja ngotot —
    hemm,hemm, ntar klo udh menikah di bikin yg lucu ya eon, yg kyk gini, yg konfliknya aneh aneh ya eon, trus romantis-romantisanya terakhir aja eon, bikin key sm hyeri itu kyk kutub utara sm kutub utara lebih byk lagi😀 kekeke.
    udh gitu aja, eonni. makasih ya eon, keep writing! (/~^O^)/~

  7. akhirnya…. sempat juga baca ff ini..
    mian chingu kmaren gak smpet komen..*bow*

    akhirnya hyeri mau juga diajak nikah sama key walaupun kayaknya rada terpaksa… tapi semoga hubungan mereka langgeng dan hyeri jatuh cinta beneran sama key, gak cuma key yang jatuh cinta sama hyeri….

    ditunggu part selanjutnya ya chingu…
    keep writing…
    fightinggg….

  8. Teh Euncha punten yeuh nembe RCL. kekeke

    yeyeyeye akhirnya hyeri mau nikah sama Key, mudah-mudahan jadi istri sah selamanya, bukan istri kontrak. mereka saling jatuh cinta. hyaaa kangen sama sweet moment couple ini. . .
    thanks bwt minho yg ngedadak ngilang ngurusin ade ny yg gila. plaak.
    juga eomma hyeri, nasihatnya tepat banget.haha

    haduh please deh Key, turunin tingkat PD mu, keadaan genting gtu juga, masih aja sempet-sempetnya.
    *geleng kepala*

    aku was was bgt pas bgian jaesun mau di bw ke RS, seolah beneqg2 takut kehilangan jaesun. gak ada kendaraan, minho nya ngilang, eh pas jaehwa ktmu key, si key nya kaya gak perduli awalnya, tapi untung segera sadar tuh si konci.

    next eon,penceritaan nya rinci tapi gak bosen, makin celu pkoknya. aku tunggu sweet moment mereka. fighting

    • Eciyeehh, Hikma skarang sunda-nya keluar terus nih.hihi.
      okey sip, santai aja🙂

      Amiin, mudah2n mereka akhirnya saling suka beneran.hahah.
      hihi, tapi karakter Key lebih baik di sini kn yaa? .haha.

      Wah, terima kasih, Hikma.
      Eciyeehh, celu, jadi inget yg sms Gyujin di ELS.hehe.
      Thank u😉

  9. hai,,heheh
    ninggalin jejak biar Euncha tahu kalo aku udah mampir yah,,
    ni aku simpen dulu soalnya, baru tar dibaca. Heheheh
    smangat buat part slanjutnya^^

  10. iseng2 buka blog eon lg, ternyata excuse me miss udh lanjut!! yey lngsng dibaca saat itu walau didpn kelas guru lg ngoceh hhehe. kepala agk pusing karna baca sambil nunduk terus nih hehe. kl yg msh sklh pasti tau kenapa bacanya smbl nunduk terus.

    ok lanjut ke cerita, disini bener2 deh keynya bkin ngakak dgn sifat narsisnya itu. perannya passs bgt buat key. aq jamin kl anggota shinee lain blm tentu cocok dgn peran ‘key‘ disini, dan yg plng cocok ya key! cuma peran taem agak2 melenceng dr aslinya ya, peran kyk gitu hrsnya cocoknya buat jjong.

    wah pasti after merriednya seru. kyknya eon bakal nguras emosi pembaca dgn menganiaya hyeri ya? #plak
    tp aq yakin eon bakal membangun sifat hyeri sbgi cwek kuat. aq suka bgt ama cerita yg tokoh ceweknya gk lemah. dan bikin key agar tergila2 ama hyeri si gadis miskin!

    • Wah, ga tanggung jawab loh kalo ketauan gurunya.heheh. ^^v

      Iya, Key-nya narsis banget di sini, biar tambah dapet nyebelinnya. Hemm, karena sekarang Taemin-nya udah gede, jadi aku bkin karakter Taemin yang nakal dan playboy. Kn ini ff juga, jadi karakternya ga wajib sma dgn yg asli, kan? .heheh. ^^v

      Mudah2an part after married-nya seru *amiin* dan menguras emosi *plaakk*
      .hhe. yup, yup, nantikan saja part lanjutannya.
      Thank u, Hana😉

  11. sumpahhh…. part ini bikin gregetan!!! ahhhh….. key emang narsis bgt!! sempet2nya dia narsis dirumah sakit, hehe…
    eh.. minho kemana tuh?? kok tiba2 menghilang gitu ja?? bener2 kesempatan buat key nih…
    key.. kamu bner2 memanfaatkan kesempatan yg ada… good job!!! hehehe…..
    lanjut ahh… dah penasaran!! hehe

  12. “Jadi, kau seorang amatir, Hyung?” Taemin
    kembali melempar senyum mengejek.
    Jiakakakaka~ sok banget Taemin, bisa aja ngejek Key nya.
    Sedih kan T_T
    Hyeri jadi istri Key???! Oh no! Key bisa banget memanfaatkan sesuatu?? Ckck Minho kemana Minho???
    #next part 8🙂

  13. Minhye umurn brpa cye?? Kok ababil bingits….Minong sabarrr yaaa jgn smpai skap minhye ngurangin gntengmu #kagak mnkin kelesss…..Minong alo sabarna udah abis sni dtang kesisiq biar aq isi ulang sbarna kekekekkeke, hahaahha ahahha funny pas scene kibeom ngomeln taemin “sdah brpa lama kau tdk trtawa?….brhnti trtawa ato q telp pacar2mu…..” ayo key telp ja aq tungguin niyyy stand by 100% #mrasa pcar tae,,, geurigooo key again….nolongin hyeri….key daebakkkk u’re like an emergency door for hyeri when hyeri is in dangerous u….., hyeri keana bkal dilema deh antara utang budi sma prasaanna ke Minho ohh i’m curious yeeeehhh pnsaran ma next part

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s