Curhat

picture belongs to beauty thing

picture belongs to beauty thing

Sejujurnya, setelah beberapa waktu lalu baca novel terjemahan Korea yang judulnya ‘After D-100’, passion menulis gw telah kembali. Bahkan rasanya begitu bersemangat. Entahlah! Kayanya Park Miyoun ini udah menginspirasi gw dengan tulisannya yang ringan, mengalir, dan menarik.
Sebenernya sih, tulisan2nya Nenek Agatha juga ringan, mengalir, dan menarik. Tapi berhubung gw sangat tidak paham dengan yang namanya romance, jadi sejenis pencerahan gitu baca karyanya Park Miyoun ini.

Dari situ, gw jadi sering kepo2 buku2 yang diterbitkan penerbit Haru. Juga dari rekomendasi teman2 Lollipop yang sempet komentar di postingan soal kesan2 gw baca ‘After D-100’. Hemm, belum ada niat baca karya penulis lokalnya sih. Mau menghabiskan rasa penasaran sama buku2 terjemahannya.

Beberapa bulan yang lalu, sempet ada perbincangan sama Miwa dan Dini soal kirim naskah ke penerbit. Ah! Dari dulu gw emang ada keinginan buat kirim naskah ke penerbit. Tapi sampe sekarang, ga pernah ada keberanian. Ada rasa takut yang bikin gw yah udah nyerah sebelum nyoba. Padahal, kalopun bakalan gagal, itu kan proses. Semakin sering kita gagal, maka semakin dekat pada kesuksesan.
Misalnya aja, untuk mendapatkan sesuatu yang kita idam2kan, kita akan menemui 100 kegagalan. Semakin sering mengalami kegagalan, maka semakin dekat pada keberhasilan.

Berangkat dari keyakinan itu, gw akhirnya memberanikan diri untuk memulai. Beberapa minggu lalu, udah mulai mengedit tulisan. Dan bener yaa! Ternyata tulisan gw itu berantakan banget secara EYD dan tata bahasa Indonesia. Bukannya baru nyadar. Dari dulu2 gw sadar sesadar-sadarnya. Cuma ga tau ternyata seberantakan itu.
Tapi, dari sini gw merasa kalo gw itu ada perkembangan. Yang dulunya ga tau, sekarang jadi tau.
Gw juga bersyukur karena gw menjadi tahu itu dari saran2 dan kritik dari pembaca blog ini yang bersedia memberikan saran dan kritik dengan cara yang benar dan bikin gw paham bahwa gw harus berkembang.

Sejujurnya, gw ngaku kalo gw itu lemah dalam tata bahasa Indonesia. Dan gw juga pernah ngaku kalo hal itu makin buruk pas gw masuk semester 4 kuliah. Gw inget waktu bikin makalah tugas mata kuliah di luar Bahasa Inggris. Gw sama temen2 perlu waktu begitu lama cuma buat bisa menyusun satu kalimat bener dalam Bahasa Indonesia dan bahkan kita sampe stress sendiri.
Meskipun gw pernah belajar bahasa Indonesia dan mencari tahu ke sana kemari, tapi gw tetep ga berani bilang bahwa mungkin gw ini lebih tau dari yang terjun langsung ke bidangnya. Atau gw ini paham betul. Jadi, gw tetep mencari tahu.
Makanya, pas awal nulis ff, gw itu ga punya banyak kenalan yang bisa gw tanyai perihal EYD dan tata bahasa Indonesia ini.
Gw juga malu kalo ada yang mengkritik soal EYD dan tata bahasa. Karena gw ga tau latar belakang si pengkritik dan bikin gw bingung apa koreksi dari mereka itu bener apa ga? Bisa dipercaya apa ga?
Lagian, masa gw nyari tahu soal begitu ke Wikipedia?

Tapi, setelah gw baca banyak ff dan novel. Gw jadi sedikit2 tahu, kalo kata ini seharusnya ditulis begini sesuai tata bahasa Indonesia. Terus, para pembaca Lollipop, gw juga yakin mereka yang memberi masukan soal EYD itu, mereka pun mempelajarinya dari pengalaman. Dan gw seneng banget pas mereka bersedia kasih koreksi. Thank u so much ^^
Gw juga jadi sering searching via Google situs2 terpercaya untuk mendapat kebenaran mengenai si EYD dan tata bahasa yang benar ini.

Gw pernah baca sebuah tulisan yang emang ditujukan ke gw di sebuah ff. Lupa persisnya gimana, pokonya intinya begini.

Cerita yang bagus itu ga akan ada artinya kalo tidak dibarengi dengan penulisan yang rapi dan sesuai dengan tata bahasa yang baik dan benar. Karena menulis juga seni.

Waktu dapet kritik seperti ini. Jujur gw sakit hati. Kenapa? Karena gw ga punya teman yang bisa gw tanyai soal penulisan yang sesuai tata bahasa itu. Temen2 gw kan background-nya Bahasa Inggris. Dan gw ngaku banget kita semua begitu lemah di Bahasa Indonesia. Gw juga sedih karena ga punya beta-reader padahal gw ingin berkarya.
Tapi, gw juga ga suka sama pembaca yang isi kritikannya itu cuma berfokus pada EYD dan tata bahasa, seolah tidak menghargai cerita itu sendiri.

Lantas gw berpikir. Bener sih, soal kritikan yang gw sebutkan di atas bahwa Cerita yang bagus itu tidak ada artinya kalo tidak dibarengi dengan penulisan yang benar. Tapi, gw juga berpikir sebaliknya.

Percuma juga tulisan yang begitu rapi, EYD sempurna, diksi keren tapi ceritanya STD dan tidak dimengerti si pembaca.

Gw sering menemukan cerita2 yang ditulis begitu rapi dengan EYD sempurna tanpa cela. Dibarengi diksi2 yang keren banget. Tapi, kalo ceritanya begitu tidak menarik kan percuma? Atau parahnya justru si pembaca ga ngerti karena diksi2 yang digunakan terlalu keren. Yang berujung pada tidak adanya kesenangan saat membaca. Dan justru bikin stress karena pembaca berusaha memahami diksi yang ada.

Gw juga pernah baca sebuah novel yang tulisannya rapi, EYD sempurna *iyalah udah lewat tangan editor* bahkan si penulis melakukan riset luar biasa soal setting tempat dan hal2 di sekitar tempat itu. Seolah si penulis pernah mengalami langsung tinggal di setting tempat yang ada dalam cerita.
Tapi, jujur, waktu gw baca dan belum nyampe setengahnya. Gw langsung kehilangan passion karena menurut gw ceritanya kurang menarik. So, I leave the book. Dan bahkan sampe sekarang ga pernah gw baca lagi.
justru, yang terlalu rapi itu malah kurang greget. *IMO*

Jadi, gw mikirnya, ya udah sih gw ga usah terlalu berkecil hati dan jatoh ke tanah cuma karena tulisan gw ga rapi. Toh, yang terpenting itu ceritanya menarik. Setelah cerita menarik, si-ketidakrapian dalam EYD itu bisa diperbaiki sedikit2. Beda ceritanya kalo cuma tulisan yang rapi tapi cerita tidak menarik. Itu artinya yang harus dirombak semuanya, kan?

Ga ko! Gw ga  percaya diri bahwa tulisan gw itu selalu menarik. Gw juga selalu ga pede dan kecewa sama tulisan sendiri. Tapi, ketika gw mem-publish tulisan gw di sini dan ada pembaca yang meninggalkan komentar dan kasih tau soal kesan2 mereka, gw jadi senang dan makin termotivasi. Apalagi kalo komentarnya itu menyatakan suka sama tulisan gw dan ga bisa berhenti baca sampai selesai.
Ga ada salahnya, kan seorang penulis *meskipun amatir* mengharapkan komentar dari pembacanya untuk tahu di mana letak kekurangannya untuk diperbaiki dan letak kelebihannya untuk dikembangkan?

Kaya apa yang dibilang Kim Eunjeong. Salah satu penulis novel terjemahan dari Penerbit Haru. *Eciyeehhh*
‘So, I married the anti-fans’ , My Boyfriend’s wedding dress’ , ‘Cheeky Romance’

Novel yang baik meninggalkan kesan yang dalam untuk pembaca. Cerita dalam novel yang baik memberikan pengalaman membaca yang mengesankan dan seolah pembaca mengalaminya sendiri.

Yup! Gw setuju banget. Novel/cerita yang baik itu adalah yang meninggalkan kesan yang dalam untuk pembaca. Kaya gimana sih kesan yang mendalam itu? Menurut gw pribadi, kesan yang dalam itu adalah sesuatu yang bikin si pembaca keingetan terus untuk beberapa hari setelah baca novel/cerita itu. Merasa bahwa dia merasakan apa yang dirasakan si tokoh. Dan selalu suka untuk kembali membaca novel/cerita itu, yang menimbulkan rasa senang saat membaca atau menceritaknnya pada orang lain. Bahkan yang memaksa orang lain untuk membacanya dan merasakan pengalaman yang serupa.heheh.

Ah! Gw langsung teringat sama ‘After D-100’ ini. Inilah yang gw sebut sebagai novel yang baik. Kenapa? Karena setelah gw baca novel ini, gw bener2 terkesan dan ga bisa lupa sama kisahnya untuk bebrapa hari. Bahkan sampe hari ini pun gw masih begitu teringat dan seolah begitu lebai karena ga bisa lupa.hehe.
Pertama kali ngalamin kesan mendalam itu sama Drama Korea ‘Endelss Love’/ ‘Autumn Fairy Tale’/ ‘Autumn in My Heart’. cerita ini meninggalkan kesang yang begitu dalam buat gw. Bahkan gw udah menontonnya dan sampai hapal dialognya pun, gw tetep merasa cerita ini menarik dan ga akan pernah bisa untuk lupa.
Yang bahkan kebawa sampe mimpi. *lebai*

So, tidak ada alasan untuk meng-underestimate mereka yang masih belum sempurna dalam penulisan. Karena yang terpenting adalah ide cerita. Kaya yang gw tulis di atas, ide cerita adalah yang utama. Setelah itu barulah diperbaiki ketidaksempurnaan EYD dan tata bahasa. Kan sebuah naskah saat diterima oleh penerbit pasti akan melalui proses menggodokan oleh editor. Kalo tulisan harus selalu sempurna, nanti editor ga punya kerjaan dong?

Belajar bagaimana menciptakan ide cerita yang bagus itu jauh lebih sulit dibandingkan mempelajari dan memperbaiki kerapihan dalam menulis.
Menurut gw, dalam sebuah cerita. Yang paling utama jelas cerita itu sendiri, sementara kerapihan dalam menulis adalah hal wajib yang akan menyempurnakan tulisan. Jadi, jangan cemas, Teman2.

Along the way with this post, gw meng-encourage diri gw sendiri dan penulis ff lainnya yang merasa tulisannya tidak rapi dan sempurna secara tata bahasa. Don’t worry. Kalian bisa mempelajari dan memperbaiki apa yang belum rapi. Yang terpenting adalah mengembangkan ide2 yang ada di kepala kalian.
Juga, jangan terlalu mengambil pusing kritikan2 yang hanya berfokus pada kesalahan EYD kalian. Anggap aja lah itu angin lalu tapi memotivasi kalian untuk jadi lebih baik ke depannya. Lagian, yang mengkritik juga bukan penulis novel favorit kalian yang udah menerbitkan puluhan novel yang terjual laris manis di pasaran, kan?
Kecuali memang yang memberikan kritik adalah penulis novel tersebut. Lagipula, gw yakin peulis novel yang karya2nya udah terjual laris manis itu ga akan melontarkan kritikan yang isinya cuma bikin sakit hati. Mereka pastinya lebih tahu dan paham cara memberikan kritik yang benar itu seperti apa.

Mengkritik itu memang untuk membangun, tapi mengkritik itu ada tata cara dan aturannya. Jadi, sah2 aja semisal merasa tersinggung atau marah. Terlebih kalo mengkritik sambil menyelipkan kalimat2 penghinaan secara tidak langsung.

Wah! Curhat kepanjangan. Intinya sih, gw meng-encourage diri gw sendiri untuk ga berhenti menulis dan mengabaikan orang yang sirik yang menghina2 dan menjelek2an. Karena orang yang menjelek2an itu ada untuk memberitahu kekurangan gw, untuk gw perbaiki. hahah. Biar nyesel aja orang yang begitu karena udah bikin gw lebih baik!
Song Euncha. Gogosing!!! ^^

credit to weheartit

credit to weheartit

5 thoughts on “Curhat

  1. SETUJUUUUU!!!
    Jujur aja aku g trlalu merhatiin EYD kalo baca ff/novel, lebih fokus keceritanya..aku rasa kebanyakan org jg gt…
    Nahh soal diksi2 it, aku jg mles baca ff/novel yg diksi nya trllu kren..asli itu bikin pusing butuh wktu buat mencerna mksdnya. Mlah kadang mesti baca berulang kali baru bisa ngerti..

    Aku dukung bgt kalo km mau ngirim naskah ke penerbit..
    Aku tau satu author yg dulu nya nskah nya prnh dtolak bbrpa kali tp dia g nyerah dan skrng udh ad bbrpa bukunya yg udh dterbitkan..
    Coba aj dl, gpp klo gagal kn ad pepatah “kegagalan adalh sukses yg tertuda”😀
    So, fighting!!! jangan nyerah dulu seblm mncoba p(^0^)q

    Wahhh!! kyaknya km udh mulai kena haru syndrome nihh xD Kim Eun Jeong it pnulis favoritku..novel2nya kerennn!!
    So, i’m married w/ the Anti-Fans sama Cheeky Romance recomended bgt dehhh!!!!
    It novel romance wajib baca!!!😀
    Ngomong2 dua2nya mau dibikin kdrama lohhh….

    • Waah! Ummul. *high five*
      Tapi sebnernya EYD penting sih. Tapi kan kalo ada kekurangan dalam EYD, ga harus direndahin juga.heheh.
      Iya ih, kalo yang ada diksi2 tingkat tinggi aku juga ska stres karena malah dibaca berulang2 dan pengen paham maksudnya apa.

      Wah, makasih nih dukungannya. I.allah naskah ceritaku nanti dikirim ke penerbit. ^^v

      Iya ih, kena haru syndrome, ga nyangka juga. Soalnya seru2 sih ceritanya, bahasanya juga ga jarang yang bikin ngakak.

      Haa, iya, aku pernah baca dua novel itu mau diangkat jadi drama. Hebat, ya?
      Hemm, aku meningan baca yang mana dulu ya, Ummul?

      • So, I’m Married w/ the Anti-fan aj😀
        Cheeky romance jg seru sihh.. klo yg ini djamin bkalan ngakak jungkir balik(?)
        Ttg dokter kandungan yg slah paham ngira seorang reporter lg hamil. Pas lg syuting acra kuliner gt. si reporter d.wajibkan minum soju+makn mkanan yg trnyata g blh dmkn sama ibu hamil..kbetulan si dokter ad dsitu..si reporter d.marahin abis2an sm dokter krn udh ngebhayain kndungannya pdhlkn dia g hamil. Dan trnyata wktu it lg siaran live. Jdilh mrk trkenal dsluruh korea dg sbutn “ibu hamil nasional & dokter nasional” xD
        Klo so, i’m married.. ada lucunya jg ad sedihnya jg..
        Nyritain ttg dunia artis..
        Dua2nya seru..tp trserah km aj dehh mau baca yg mana dulu😀

  2. Lebih ke artisnya sihh sebenernya. Tp krn in crita ttg artis dan anti-anti fans nya, ad bbrpa jg yg nyinggung soal fangirl..

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s