Excuse me, Miss – Part 8

excuse-me-miss

Part 8 – Can’t Escape

Main cast :

Kim Kibum [Key] | Min Hyeri | Choi Minho

Supporting cast :

The rest of  SHINee’s members | Choi Minhee (OC) | Nicole (KARA)

Author             : Song Eun cha

Length             : Sequel

Genre              :  Romance, Life, Friendship

Rating              : PG 15

Beta Reader  : Hwayong Kim

Credit poster : Jiell

Mau mengucapkan terima kasih sama Hwayong Kim yang bersedia direpotkan menjadi beta-reader.heheh. Typo-nya selalu banyak *bow* Terima kasih atas bantuannya dan semoga ga bosen ^^v

Seperti biasa, kalo masih menemukan typo, keasalahan EYD dan lain2nya. Mohon diberitahu ya, Teman2. 
Enjoy!

 

Sinar matahari menyusup melalui celah-celah tirai rumah sakit yang tersibak angin pagi. Lelaki itu masih tertidur dalam duduknya. Sama sekali melupakan bagaimana ia bisa sampai terlelap.

Tap…tap…tap…

Langkah kaki di koridor dekat ruangan itu menggema. Membuat si lelaki tersadar dari alam bawah sadarnya. Ia mengerjap, mengucek matanya sebelum menyadari ia tertidur di sofa. Hanya perlu beberapa detik hingga ia tersadar dan mengingat lagi apa yang terjadi.

Diliriknya ranjang pasien dalam kamar. Tubuh itu masih tergolek tak berdaya di sana, dengan pergelangan tangan kanan yang dibalut perban tebal.

Minho menguap, lalu bangkit menghampiri ranjang Minhee. Ia menatap lekat wajah adiknya. Wajah pucat dengan mata yang terpejam. Tentu Minho sedih melihat ini, tapi alangkah lebih baiknya jika kedua mata itu tidak pernah terbuka lagi. Maka semuanya selesai.

Minho terkekeh, menepuk kepalanya pelan. Bisa-bisanya ia memikirkan hal egois seperti itu. Ia lalu beranjak, mencari-cari jaket hitamnya di atas sofa. Ia baru ingat bahwa seharian kemarin ia tidak mengecek ponselnya sama sekali. Ia terlalu sibuk mengurusi Minhee, juga Eomma-nya yang terus-terusan menyalahkan Minho atas kejadian ini.

Minho segera merogoh saku jaketnya, meraih ponselnya. Batinnya mengira-ngira, apakah gadis itu menghubunginya hari kemarin? Ah! Entah mengapa itu membuat dada Minho berdebar tak karuan. Sebentar lagi, gadis itu bersedia menjadi kekasih palsunya. Itu artinya, ia akan bisa menghadapi Minhee. Ia tidak peduli jika nantinya Minhee akan melakukan hal yang lebih ekstrim dari ini. Yang penting, ia ingin terlepas dari penderitaan ini selamanya.

“Oh!” lelaki bermata bulat itu spontan mengerjap.

Ponselnya mati. Ia tidak tahu sejak kapan. Yang jelas hatinya mulai merasa tak enak. Bagaimana jika gadis itu menunggunya? Tanpa berpikir lagi, Minho segera beranjak. Satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah mengisi baterai ponselnya.

***

“Minho-ya.”

Panggilan itu begitu dekat di telinga Minho. Ia segera menoleh ke sumber suara. Mendapati wanita paruh baya dengan coat berwarna beige. Wanita itu berjalan cepat ke arah Minho. Minho berdecak kesal, ia baru saja berhasil mengisi baterai ponselnya di lobi rumah sakit. Tapi wanita yang menjadi Eomma-nya itu telah datang menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana dengan Minhee? Siapa yang menjaganya?”

Pertanyaan memuakkan itu menyerbu gendang telinga Minho. Membuatnya muak bukan main.

Eomma, aku sedang-“

“Kau meninggalkan Minhee sendirian? Ya Tuhan! Minho-ya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Minhee? Eomma sudah bilang kan untuk menjaganya selagi Eomma membawa pakaian Minhee. Kau seharusnya menjaga Minhee dengan baik.”

Minho hanya diam. Ia bahkan tidak bisa memikirkan kalimat apa yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Maaf.”

Hanya kalimat penyesalan itu yang keluar dari mulut Minho. Ia menundukkan kepalanya. Padahal hatinya begitu muak. Ingin melarikan diri ke tempat paling jauh hingga Minhee maupun Eomma-nya tidak bisa menemukan dirinya.

Lantas Eomma Minhee berlalu dengan langkah gusar. Berjalan cepat menuju lift. Minho diam, ia tidak mau menatap Eomma-nya itu. Ia begitu benci. Kali ini, sungguh kali ini ia akan memberontak. Tak memedulikan siapapun selain dirinya.

Minho lalu melangkah menuju kantin rumah sakit. Perutnya berteriak minta diisi. Baiklah, mulai saat ini ia tidak akan mengambil pusing apa pun yang berhubungan dengan Minhee. Semuanya cukup sampai di sini. Dan ketika Minhee siuman nanti, Minho akan memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Menjauh dari Minhee selamanya.

***

Hyung! Mau menonton pertandingan sepak bola?” Anak lelaki dengan potongan rambut cepak itu berteriak antusias pada Hyung-nya yang terbaring di atas ranjang.

“Hei! Jaesun baru saja melakukan operasi. Ia belum boleh banyak bergerak.” Gadis yang duduk di sampingnya menepuk kepala anak lelaki tadi. Anak lelaki itu memberengut sambil memegangi kepalanya. “Meski kau membawakan kursi roda dan membawa Jaesun ke lobi rumah sakit pun, Jaesun masih terlalu lemah untuk itu.” Terang si gadis lagi.

“Ya sudah. Menontonnya lain kali saja ya, Hyung.”

Anak lelaki itu lalu meraih buah apel dari keranjang yang berada di atas meja kecil di samping ranjang dan mulai mengupasnya untuk ia makan sendiri.

Gadis yang merupakan Nuna-nya itu menatapnya, lalu beralih menatap anak lain berwajah serupa yang tergolek lemah di atas ranjang. Ia tersenyum tipis saat kedua matanya mulai memanas. Lantas tangannya terulur, mengacak rambut anak lelaki yang terbaring di atas ranjang.

“Maaf, Nuna tidak membawamu ke rumah sakit lebih cepat. Seharusnya hari itu Nuna segera membawamu kemari.” Ia menatap anak lelaki di atas ranjang.

Anak itu menggeleng pelan, lalu tersenyum. “Aniyo, Nuna. Terima kasih sudah membawaku kemari. Aku yakin, Nuna menghabiskan banyak uang untuk ini. Maaf.” Ia menundukkan kepalanya. Merasa begitu bersalah karena hanya bisa menyusahkan Nuna-nya itu.

Gwaenchana… apa yang kau bicarakan, Jaesun-ah? Ini sudah tanggung jawab Nuna untuk menjaga kalian berdua.” Hyeri mengacak lagi rambut Jaesun. Memaksakan senyum lebar untuk menyembunyikan genangan air matanya.

Sesaat suasana dalam kamar hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hyeri merenung, ia memang begitu sedih karena akhirnya harus menikah dengan si mata rubah yang paling ia benci sedunia. Tapi, ia akan lebih menyesali hidupnya jika ia tidak bisa menyelamatkan Jaesun dan melihat tawa itu lagi di wajahnya. Kali ini, biarlah takdir yang membawa hidup Hyeri. Ia tidak akan mengeluh lagi.

Mereka masih diam saat suara ponsel Hyeri berbunyi. Membuyarkan pikiran mereka.

Nuna, ponsel Nuna berbunyi.” Terang Jaehwa, ia menunjuk ponsel Hyeri yang tergeletak di samping keranjang apel.

Hyeri lalu beranjak dan meraih ponselnya. Terkejut sekaligus senang melihat nama Minho menari-nari di sana. “Oh! Nuna harus menjawab telepon.” Ucapnya pada si kembar. Lalu menghilang di balik pintu.

Berdebar-debar, Hyeri menggigit kuku jarinya sambil menatap layar ponselnya. Lalu perasaan kesal dan marah mulai muncul. Ke mana saja lelaki itu? Batinnya kesal.

Yeoboseyo.

Akhirnya Hyeri menjawab panggilan Minho. Hatinya kembali berdebar tak karuan, menunggu suara Minho terdengar dari seberang sana.

“Hyeri-ssi, terjadi sesuatu? Maaf, aku sedang mengurus… euh… Minhee masuk rumah sakit. Aku tidak sadar baterai ponselku habis. Maaf, kau baik-baik saja? Kau sedang di mini market? Bisa kita bertemu?”

Suara Minho menyerbu gendang telinga Hyeri. Melontarkan begitu banyak pertanyaan yang menyiratkan kekhawatiran yang begitu besar.

Lantas air mata segera menggenangi mata Hyeri. Rasanya ia ingin marah sambil memeluk Minho. Ingin mengatakan bahwa ia nyaris mati karena kejadian hari kemarin dan Minho tidak ada di dekatnya.

“Hyeri-ssi, kau mendengarku?” tanya Minho saat tak terdengar jawaban apa pun dari Hyeri.

Hening. Hanya suara udara yang terdengar. Hyeri ingin mengatakan sesuatu, tapi air matanya sudah terlanjur jatuh. Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun sambil menangis. Sementara Minho, seolah mengerti dengan keadaan Hyeri. Lelaki itu tetap menunggu.

Baboya!” ucap Hyeri akhirnya. Ia kemudian terisak.

“Hyeri-ssi, gwaenchanayo? Apa yang terjadi?” suara Minho terdengar panik di seberang sana. “Hyeri-ssi, kau ada di mana?” tanyanya lagi saat tak ada jawaban dari Hyeri.

“Minho-ssi,” Hyeri mengusap air matanya perlahan. Memaksakan dirinya untuk berbicara. “Bisakah kau menolongku? Kali ini kau harus menolongku. Harus!” gumamnya lirih.

***

Hyeri mengetuk-ngetukkan sneaker lusuhnya ke lantai café. Berkali-kali ia berpikir. Haruskah ia meminta bantuan kepada Minho? Lalu, apa yang akan terjadi jika ia melanggar janjinya pada si mata rubah? Ah! Ia berdecak kesal. Lalu menggosok-gosokkan sepatunya ke lantai. Seolah menghapus tulisan yang dibuat oleh kakinya.

“Hyeri-ssi.” Suara itu membuyarkan lamunannya.

Ia menoleh ke sumber suara. Mendapati pangeran bermata bulat itu berjalan ke arahnya. Lelaki itu terlihat sedikit berantakan. Rambutnya tidak tersisir dengan rapi, kemeja putihnya kusut. Ada apakah gerangan? Apa yang terjadi pada pangeran tampan itu? Batin Hyeri.

“Maaf, menunggu lama? Kau sudah pesan minum?” Senyum khasnya yang menawan segera menyambut Hyeri. Lelaki itu duduk di hadapan Hyeri. Nafasnya sedikit tersengal.

Minho lalu melepas jaket hitamnya, menyampirkannya di sandaran kursi. Ia masih mengatur nafasnya saat menyadari Hyeri hanya menatapnya. Menatap dengan tatapan putus asa.

“Apa yang terjadi?” tanya Minho langsung. Tak ada jawaban dari Hyeri. Lantas Minho melambaikan tangannya, berusaha memanggil pelayan.

“Minho-ssi, kau harus menolongku!” Hyeri menurunkan tangan Minho. Menggenggam tangan lelaki itu erat. Menunjukkan bahwa ia begitu ketakutan.

Si pangeran bermata besar menatap Cinderella lekat. Mencari tahu apa yang membuat Cinderella begitu ketakutan. “Apa yang bisa kubantu?”

Hyeri menggenggam tangan Minho dengan kedua tangannya. Nafasnya menderu seolah sedang berlari. Ia menatap Minho penuh harap. Entah mengapa penyesalan dan rasa takut akan pernikahan kontrak yang telah ia setujui bersama Key kembali menyeruak dalam dadanya. Menyerangnya begitu saja.

“Kau harus berjanji. Harus! Kau harus menolongku!” Kedua mata Hyeri membulat. Ia begitu ketakutan.

Perlahan tangan kiri Minho yang bebas bergerak, menggenggam kedua tangan Hyeri. Lelaki itu tersenyum tipis. “Tenangkan dirimu, Hyeri-ssi. Aku pasti akan menolongmu sebisaku. Aku akan menolongmu.” Begitu ucapnya.

Lalu, lelaki itu merasakan nafas Hyeri yang mulai kembali normal. Gadis itu hanya diam memandangi tangannya dan Minho yang saling bersentuhan. Minho tersenyum kecil, kemudian memanggil pelayan untuk membuatkan pesanan.

Hyeri menyeruput frappucino-nya lagi. Menghabiskannya dengan air mata berlinang. Minho hanya duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sudah beberapa menit, tapi Hyeri hanya menangis.

“Mau kupesankan lagi?” tawar Minho saat mendengar suara udara yang disedot Hyeri.

Gadis itu menggeleng, lalu menyusut air matanya kasar. Mata sembabnya yang terlihat lucu itu menatap Minho. Membuat lelaki itu menegakkan punggungnya. Baru kali ini ia melihat gadis itu dalam keadaan yang begitu lemah.

Minho meraih cangkirnya, menyesap minumannya santai. Kemudian menopang dagu dengan tangan kanannya dan menunggu Hyeri untuk bercerita.

“Minho-ssi,” Hyeri membuka mulutnya. Ragu-ragu menatap mata bulat Minho. Ia menarik nafas dalam, lalu dalam satu tarikan nafas melanjutkan. “Pinjami aku uang dua puluh juta won.” Ia kemudian menarik nafas lega.

Minho tidak mengatakan apa pun selain membulatkan kedua matanya. Ini tidak terlihat seperti Hyeri yang ia kenal. Gadis ini terlihat begitu malu hanya untuk mengatakan ia ingin meminjam uang. Bukankah selama ini Minho pun telah mengetahui titik lemah Hyeri?

“Tentu. Tapi, untuk apa uang sebanyak itu?” Wajah Minho berubah serius.

Air mata Hyeri kembali menetes. “Jaesun sakit. Usus buntu. Kemarin kondisinya sangat buruk. Aku begitu takut jika aku tidak bisa menyelamatkannya. Operasi sudah dilakukan dan kondisinya akan membaik. Tapi…” Hyeri menghentikan kalimatnya. Menggigit bibir bawahnya.

“Uang untuk biaya operasi?” tebak Minho. Hyeri akhirnya mengangguk.

Minho lalu tersenyum. Ternyata itu masalahnya. Entah mengapa ia merasa Hyeri begitu menggemaskan. Padahal gadis itu tahu bahwa uang bukanlah masalah bagi Minho. Bahkan Minho menawarinya sebuah pekerjaan spesial untuk uang. Tapi mengapa gadis itu terlihat begitu tertekan hanya untuk mengatakan ia ingin meminjam uang? Pikir Minho.

“Seharusnya kau mengatakan ini lebih awal,” Minho mengacak rambut Hyeri. Ia lalu tertawa. Sedikit rasa senang memenuhi rongga dadanya. Menghapus rasa sesak yang dirasakannya akibat Minhee.

Hyeri menatap Minho dengan mata sembabnya. Merasa heran karena baginya tidak ada yang patut ditertawakan dalam kondisi runyam seperti ini. Ia kemudian bermaksud untuk menceritakan apa yang terjadi padanya untuk mendapatkan uang dua puluh juta pada hari kemarin saat Minho kembali berkata.

“Maaf, kemarin kau pasti sangat panik karena tidak bisa menghubungiku. Aku ingin ada di dekatmu, tapi Minhee-“

Kalimat Minho terpotong saat terdengar suara lonceng di atas pintu berbunyi kencang. Menunjukkan bahwa seseorang mendorong pintu dengan kasar. Lantas langkah gusar itu menghampiri keduanya.

“YAA! CHOI MINHO! APA YANG KAU LAKUKAN PADA MINHEE?”

Suara yang tidak asing itu telah tiba di meja mereka. Lalu si pemilik suara tanpa ragu menarik kerah kemeja Minho hingga Minho bangkit dan tanpa basa-basi melayangkan tinju di wajah Minho.

Hyeri terkejut, gadis itu bangkit dan hanya bisa membuka mulutnya lebar. Tidak menyangka akan bertemu si mata rubah dalam situasi seperti ini. Sementara Minho hanya memegangi sudut bibirnya yang terasa perih. Ia tersenyum kecil, lalu hendak mengatakan sesuatu saat Key kembali melayangkan tinjunya.

“Apa yang kau lakukan, Brengsek!”

Key kembali meninju Minho. Hingga tubuh Minho menabrak meja, memecahkan cangkir dan gelas yang ada di sana. Lalu tubuhnya tersungkur ke lantai. Suasana café dengan cepat menjadi ramai. Pengunjung lain menonton pergulatan ini.

Key kembali meraih kerah baju Minho, memaksa lelaki itu untuk bangkit. “Bangun kau!” nafasnya menderu dipenuhi amarah. Lalu kembali meninju Minho sesuka hati. “Brengsek! Jika terjadi sesuatu pada Minhee, aku ak-“

Buuggghhh!!!

Key tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Minho kini melayangkan tinju ke wajahnya. Si mata rubah semakin gusar. Ia kembali melayangkan tinju ke arah Minho, tapi Minho berhasil menepisnya. Lalu memutar tangan Key yang tadi hendak meninjunya.

“Kurang ajar!” Key mulai tak terkendali. Ia menggerakkan kakinya, bersiap menunjukkan jurus sabuk hitamnya saat seorang pelayan café menarik tubuhnya menjauh. “Yaa! Siapa kau? Lepaskan!” teriak Key. Kakinya yang melayang menendang-nendang udara.

Suasana dalam café semakin tak terkendali. Semua orang berkerumun di sekitar dua lelaki yang tengah baku hantam itu. Key masih berteriak-teriak saat pelayan lain menahan dan menjauhkan tubuh Minho dari Key.

Hyeri yang serasa kehilangan kesadaran itu hanya bisa diam. Kedua tangan dan kakinya gemetar. Ia tidak menyangka akan melihat aksi si mata rubah lagi. Dan yang membuatnya tak bisa bergerak adalah Minho yang menjadi sasaran si mata rubah.

“Di sini rupanya.”

Suara itu serta merta menjadi pusat perhatian semua yang berdiri di sana. Seorang lelaki bermata sabit melangkah menerobos kerumunan manusia. Ia menatap Key dan Minho bergantian.

“Maaf, semuanya. Kalian bisa kembali ke meja kalian.” Pintanya ramah. Ia lalu melangkah menghampiri pelayan yang menahan tubuh Key.

Perlahan, kerumunan manusia bubar. Mereka kembali ke meja masing-masing meski sesekali melirik ke arah Key dan Minho.

Kini, Hyeri duduk di antara Key dan Minho di ruang manager café. Sementara lelaki bermata sabit tadi sedang berbicara dengan manager di ruangan lain. Hyeri melirik Key dan Minho bergantian. Tak ada satu pun yang berusaha membuka mulut. Keduanya hanya diam.

Hyeri lantas memperhatikan Minho yang kembali menyentuh luka di sudut bibirnya. Luka itu masih mengeluarkan darah. Hyeri merasa sedih melihat Minho jadi babak belur. Lalu ia melirik Key, lelaki itu hanya menggigit kuku jarinya. Tak ada raut kesakitan atau pun penyesalan di wajahnya. Membuat Hyeri semakin membencinya.

“Sakit?” Hyeri kembali melirik Minho.

Lelaki itu menatap Hyeri canggung. Seolah merasa malu karena Hyeri melihatnya seperti ini. Minho hanya menggeleng pelan, meski Hyeri tahu sebenarnya lelaki itu kesakitan.

“Bagaimana jika kita keluar sebentar mencari pertolongan? Lukamu harus segera diobati.” Bisik Hyeri. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya. Menempelkannya pada sudut bibir Minho yang mengeluarkan darah.

Minho tersenyum tipis, menatap wajah Hyeri dalam jarak dekat entah mengapa membuatnya begitu senang. Ini aneh. Tapi ia mulai berpikir, mungkinkah ia menyukai gadis ini?

“Terima kasih.” Bisik Minho. Lalu meraih sapu tangan Hyeri dan menekan-nekan lukanya dengan sapu tangan.

“Hemm… lelaki itu…hemm… Ah! Namanya Jinki-ssi, kan? Aku baru ingat!” Hyeri menepuk keningnya. Ia baru mengingat bahwa lelaki bemata sabit tadi adalah Jinki-ssi. Lelaki yang menemaninya di pesta ulang tahun Minhee beberapa waktu lalu. “Apa ia masih lama? Bagaimana jika kita meninggalkannya sebentar untuk mencari-“

“Hei! Hei! Kalian ini mesra sekali, ya? Tidak melihat situasi!” Tiba-tiba saja si mata rubah angkat bicara.

Membuat suasana romantis antara Hyeri dan Minho buyar begitu saja. Hyeri mendengus, melirik Key yang berada di sisi kanannya. Lelaki itu menumpangkan kaki kanan di atas kaki kirinya, kedua tangannya dilipat di depan dada. Hyeri menatap Key dari ujung kaki hingga rambut pirangnya. Menatapnya penuh kebencian.

“Apa?” Tanya Key.

Hyeri memutar bola matanya kesal. Ingin rasanya meluncurkan cacian pada lelaki yang benar-benar brengsek ini. Tapi akhirnya ia lebih memilih untuk kembali menatap Minho.

“Minho-ssi, ayo kita pergi.” Ia mengamit lengan Minho dan memaksa lelaki itu untuk beranjak.

“Hei! Seharusnya kau juga mengajakku, Miss.” Lagi, si mata rubah tak pernah lelah untuk membuat keduanya terusik.

Hyeri hanya melirik Key dengan tatapan paling kejam yang ia miliki. Lalu kembali pada Minho.

“Hei! Kau seharusnya lebih mencemaskan lelaki yang akan menjadi suamimu!”

Kalimat Key sukses membuat Hyeri menghentikan gerakannya. Bukan hanya dirinya, tapi Minho juga terkejut.

“Apa?” Tanya Minho. Ia merasa dirinya salah dengar. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Key.

Sementara Hyeri berusaha mendorong tubuh Minho menjauh. Sial! Di saat seperti ini bisa-bisanya si mata rubah mengatakan hal yang menyebalkan semacam itu.

“Sudah, Minho-ssi. Kita pergi saja.”

“Hei! Bagus sekali kau menghindariku, Miss. Kau tidak ingat apa yang sudah kita lalui semalam? Sekarang kau meninggalkanku begitu saja?”

Hyeri terkejut bukan main. Entah kenapa si mata rubah menggunakan kalimat seperti itu seolah waktu yang mereka lalui adalah waktu yang menyenangkan.

“Hyeri-ssi, apa yang-“

“Tidak usah mendengarkannya, Minho-ssi. Ayo kita pergi.” Hyeri menarik tangan Minho.

“Yaa! Choi Minho! Kuberitahu. Gadis ini akan menikah denganku. Mungkin kau tahu bahwa aku akan segera menikah. Tapi kurasa kau tidak pernah tahu bahwa gadis inilah yang akan menikah denganku,” Key meraih tangan Hyeri. Menggenggamnya begitu erat. “Jadi kuberitahu hari ini. Berhenti-“

“Lepas!” Hyeri mengerahkan tenaganya untuk melepaskan genggaman Key.  Ia mulai meronta. Tapi cengkraman lelaki itu begitu kuat. Membuat Hyeri mulai kesakitan.

“Jaga mulutmu, Kim Kibum!” Minho tidak suka dengan kelakuan Key yang seenaknya. Menindas, membuat keributan, dan berbagai kekacauan yang sering ia lakukan.

Minho meraih tangan Hyeri. Melepaskan genggaman Key kasar. Mata bulatnya menatap Key penuh benci. Seolah ingin membuat perhitungan dengannya. “Ayo kita pergi.” Ia menarik Hyeri meninggalkan Key seorang diri.

***

Minho dan Hyeri berjalan berdampingan, menyusuri taman rumah sakit tempat Minhee dirawat. Hyeri hanya menundukkan kepalanya mendengar cerita Minho. Ternyata hidup lelaki itu  jauh lebih sulit darinya. Meski ia memiliki banyak uang, tapi hidupnya sama sekali tidak menyenangkan seperti yang Hyeri pikirkan.

“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Hyeri.

Minho kembali tersenyum hambar. Ia berdeham pelan seolah mengenyahkan perasaan buruk dalam hatinya.

“Aku akan pergi dari rumah.” Ucapnya mantap. Seolah ia memang sudah merencanakan ini.

“Lalu, bagaimana dengan Minhee? Bagaimana jika dia-“

“Aku tidak peduli!” Minho menghentikan langkahnya. Ia kemudian berbalik hingga tubuhnya dan Hyeri saling berhadapan. “Aku tidak peduli, Hyeri-ssi. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli pada apa pun selain hidupku sendiri.” Lanjutnya.

Ia kembali melangkah, memasukkan kedua tangannya di saku denim yang ia kenakan. Sementara Hyeri menghentikan langkahnya, menatap punggung Minho seperti ini entah mengapa membuatnya merasa sedih.

Minho terus melangkah, kini ia merentangkan kedua tangannya, kepalanya mendongak menatap langit biru musim panas. Menarik nafas sebanyak yang ia bisa sambil memejamkan kedua matanya.

Langkahnya terhenti saat menyadari Hyeri tak lagi melangkah di sampingnya. Ia menolehkan kepalanya, mendapati Hyeri berada di belakangnya. Terdiam sambil memandangi sneaker lusuhnya. Minho berbalik, lalu melangkah menghampiri Hyeri.

“Ada yang kau pikirkan?” Tanyanya.

Hyeri mengangkat wajahnya, sedikit menengadah agar bisa menatap wajah Minho. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. “Kau bisa meminjamkan aku uang itu, kan?”

Wajah Hyeri memerah begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Minho tersenyum sambil mengusap pipi Hyeri.

“Tentu. Kau membutuhkannya sekarang?” Tanyanya.

Hyeri hanya mengangguk.  Ia lalu kembali menatap Minho, matanya mulai terasa panas.

Tak lama, Minho mengerutkan dahinya. Ia tiba-tiba mengingat sesuatu. “Aku penasaran, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Key? Ia bilang-“

“Perjanjian.” Sambar Hyeri.

Minho hanya mengernyitkan dahinya. Kini ia melepaskan tangannya dari pipi Hyeri. Merasa begitu penasaran sekaligus cemas pada apa yang akan didengarnya dari mulut Hyeri.

Hyeri memejamkan kedua matanya, ia menarik nafas dalam. Terlihat bahwa apa yang akan dikatakannya bukanlah hal yang mudah.

“Key yang meminjamiku uang dua puluh juta won semalam,” ia membuka kedua matanya. Menatap Minho penuh ketakutan, seolah meminta perlindungan darinya. “Aku tidak punya pilihan. Dia juga yang mengantar kami ke rumah sakit.”

Entah mengapa, saat Hyeri mengatakan kalimat keduanya, itu membuat Minho merasa tidak senang. Sedekat itukah mereka berdua? Batin Minho. Serta merta wajah tenangnya berubah menjadi cemas. Bukan cemas akan apa yang terjadi pada Hyeri, melainkan cemas pada sejauh apa hubungan Hyeri dengan Key.

“Dia bersedia meminjamiku dua puluh juta won dengan satu syarat,” Hyeri kembali memejamkan kedua matanya. “Menikah dengannya.” Lanjut Hyeri.

Kedua mata Minho terbelalak. Ia terkejut bukan main. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Key melakukan hal seperti itu? Minho begitu panik karena sudah jelas jawaban Hyeri adalah ‘ya’. Ia tahu itulah yang membuat Hyeri murung. Sungguh licik! Ia memanfaatkan kelemahan Hyeri untuk membantu memenuhi nafsu jahatnya.

Baru saja Minho hendak mengatakan sesuatu saat Hyeri mendahuluinya.

“Aku tidak punya pilihan lain, Minho-ssi,” air mata mulai jatuh membasahi wajahnya. “Aku tidak punya uang sebanyak itu dan operasi harus segera dilakukan. Aku akan merasa bersalah seumur hidup jika aku tidak bisa menyelamatkan Jaesun. Dan aku tidak bisa meng-“

Hyeri tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Minho telah menarik Hyeri dalam pelukannya. Lelaki itu memeluk Hyeri erat, kedua tangannya menyentuh kepala Hyeri.

“Maaf.” Sesalnya. Minho begitu menyesal karena ia justru tidak ada di saat yang penting itu. Dan itu membuat hidup Hyeri kacau. “Aku akan mengatur semuanya. Kau tidak perlu menikah dengan Key. Anggap saja kau tidak pernah melakukan perjanjian itu dengan Key. Anggap saja tidak pernah.”

Ia mengeratkan pelukannya pada Hyeri. Seolah Hyeri adalah mainan kesayangannya yang hilang dan ditemukan kembali.

Sementara Hyeri tak mampu mengatakan apa pun. Ia hanya menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat Minho yang sarat akan perlindungan. Membuat air matanya jatuh semakin banyak.

Minho melepas pelukannya. Ia menaruh kedua tangannya di masing-masing pipi Hyeri, ibu jarinya menghapus air mata di wajah Hyeri. Ia menarik wajah Hyeri hingga gadis itu mendongak menatapnya. Lalu, tanpa Hyeri sadari, Minho kembali menarik wajahnya mendekat. Hembusan nafas yang hangat itu mulai menerpa wajah Hyeri. Gadis itu tidak melakukan apa pun dan membiarkan Minho menempelkan bibirnya di bibir Hyeri.

***

Lelaki berambut pirang dengan tatapan seperti seekor rubah yang tengah murka itu berjalan cepat menyusuri trotoar. Ia memaki lagi sahabat yang selama ini ia anggap sebagai Hyung-nya sendiri karena membiarkan Minho pergi begitu saja.

“Yaa! Kim Kibum! Kau tidak mendengarku?”

Jinki berteriak. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia berteriak memanggil Key. Tapi lelaki itu begitu sulit diatur. Persis seperti sebutan yang diberikan Appa-nya, berandalan. Lantas Jinki berjalan cepat, berusaha menyusul Key.

“Kau ini sulit diatur!” Ia meraih lengan kiri Key. Menahan lelaki itu.

Hyung! Sudahlah! Aku sedang tidak mau diberi nasihat.” Keluh Key. Ia mendelik ke arah Jinki lalu kembali melangkah menuju mobil merahnya.

“Kau membuat suasananya semakin runyam, Key. Lebih baik kau pulang saja ke rumah dan minum sampai mabuk.” Jinki mengejar Key.

Key mengeluarkan kunci mobil dan menekan tombol di sana hingga terdengar bunyi piip piip. Melangkah cepat menuju pintu kemudi. Di sisi lain, Jinki segera meraih pintu di samping pengemudi. Ia masuk dan segera duduk di sana.

“Turun.” Ucap Key datar.

Jinki tidak mengindahkannya dan justru memakai sabuk pengaman. Ia lalu bersandar santai, menunggu Key melajukan mobilnya.

Key manatap Jinki kesal. “Turun, Hyung.” Pintanya kasar.

Tapi Jinki mengabaikan ucapan Key. Lelaki itu malah melipat kedua tangannya di depan dada. Tersenyum cerah seolah mereka akan melakukan perjalanan menyenangkan. Ia menoleh saat menyadari Key masih memandanginya kesal.

“Kita akan ke rumah sakit, kan? Aku ikut.” Ucap Jinki santai.

Key yang sama sekali tidak terkejut tentang bagaimana Jinki bisa tahu tujuannya hanya diam. Memutuskan untuk tidak menyuruh Jinki keluar dari dalam mobil. Bagaimanapun, Jinki jauh lebih keras kepala dan sulit diatur darinya. Bedanya, Jinki selalu terlihat elegan dan penuh kharisma saat melakukannya. Tidak seperti dirinya yang terlihat urakan.

Key tidak mengatakan apa pun, menginjak gas dan melesat menuju rumah sakit tempat Minhee dirawat. Sejujurnya, pikirannya kacau begitu mendengar gadis yang paling ia cintai terluka karena Minho.

Tidak sampai sepuluh menit, mereka telah berjalan di basement rumah sakit. Kini keduanya tengah menunggu lift.

“Key.” Jinki tiba-tiba memanggil saat mereka baru masuk ke dalam lift.

Tentu saja suara Jinki terdengar begitu jelas karena hanya ada mereka berdua di dalam sana. Key menoleh, sedikit malas untuk mendengar ocehan Jinki.

“Kau akan menikah, kan?” tanyanya santai, tapi wajahnya terlihat serius.

Membuat Key jengkel bukan main. Bisa-bisanya Jinki membahas hal seperti itu di tengah situasi yang begitu genting, batin Key. Lantas si mata rubah tidak berminat untuk menanggapinya. Tapi Jinki terus menatapnya seolah menunggu jawaban. Key memang seorang berandal, tapi ia masih menjunjung sopan santun pada yang lebih tua. Akhirnya ia hanya mengangguk pelan, dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

“Kalau begitu lupakan Minhee,”

Key terkejut, ia segera menoleh ka arah Jinki. Lelaki itu tengah memainkan jari-jarinya mengikuti bentuk tombol-tombol dalam lift. Lalu menoleh ke arah Key.

“Jika kau memutuskan untuk memulai permainan ini, maka lepaskan Minhee.”

“Apa maksudmu, Hyung?” Key mencium maksud lain dari ucapan Jinki.

“Saat kau memulai permainan. Kau harus mencari tahu siapa saja yang bisa kau jadikan partner in crime-mu. Kau juga harus menyingkirkan siapa saja yang tidak akan berguna dalam permainanmu.”

Key hanya menatap Jinki dengan mata rubahnya. Memikirkan maksud sebenar-benarnya dari ucapan Jinki.

Ting!

Pintu lift terbuka.

“Jyaa. Aku sudah memberitahumu. Semoga beruntung.” Ucapnya, lalu melangkah keluar lift lebih dulu. Ia menengok ke kanan dan kiri sebelum akhirnya memutuskan untuk melangkah ke arah kiri.

Key berlari mengikuti Jinki. Ia mengerti apa maksud ucapan Jinki. Sepertinya Taemin sudah memberitahu Jinki tentang pernikahannya yang tidak lama lagi dan bukan bersama Nicole. Lalu, jika Jinki mengatakan ini adalah sebuah permainan, bukankah artinya ia sudah bisa membaca sebagian besar rancangannya? Ah! Ini terlihat seperti sebuah ancaman bagi Key. Jinki bisa melakukan apa saja. Mungkin saja ia akan menjadi hambatan dalam rencana Key. Haruskah ia menyingkirkan Jinki dari permainan ini? Pikirnya.

***

Key melangkah dengan kaki gemetar, menghampiri satu-satunya ranjang dalam ruang rawat. Kedua matanya terasa panas melihat gadis yang paling ia cintai tergolek lemas di atas ranjang. Tangan kanannya dibalut perban tebal. Selang infus memanjang hingga ke lengan kirinya. Bagaimana bisa gadis ini melakukan hal yang begitu bodoh untuk kesekian kalinya? Dan semuanya karena Minho. Membuat Key kembali menggeretakan gigi-giginya.

Ia menarik kursi kecil ke samping ranjang. Lalu duduk di sana. Ia meraih tangan kiri Minhee perlahan. “Apa yang kau lakukan?” Kemudian menempelkan telapak tangan Minhee di wajahnya, mengecupnya penuh cinta. “Babo-ya!” ia menatap kedua mata Minhee yang terpejam. Kemudian bibirnya mulai bergetar. Membayangkan jika gadis ini akan pergi untuk selamanya.

Key menundukkan wajahnya, menggenggam erat tangan Minhee. Pikirannya begitu kacau dan takut. Takut jika gadis ini tidak akan bangun lagi, kacau karena kenyataan bahwa gadis ini sama sekali tidak peduli padanya. Tak pernah peduli akan keberadaannya. Yang dipedulikan Minhee hanyalah Minho dan hanya Minho seorang.

Key tersenyum hambar, lalu melepas tangan Minhee perlahan. “Berjanjilah untuk tidak berbuat seperti ini lagi, Minhee-ya. Kau membuat Oppa cemas.” Bisiknya.

Ia kemudian menatap wajah Minhee dan mulai menyentuhnya dengan jari-jari tangannya. Darahnya berdesir, merasakan gejolak dalam dirinya. Lantas wajahnya mendekati wajah Minhee. Lalu mengecup kening Minhee. “Selamat tinggal.” Bisiknya pelan. Pelan sekali.

Bibirnya menempel begitu lama di kening Minhee. Seolah itu adalah kali terakhirnya ia bisa bertemu Minhee. Kedua mata Key mulai memanas. Tapi sekuat tenaga ia berusaha untuk tidak menangis. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Minhee. Yeah! Jinki benar! Saat permainan dimulai, ia harus menyingkirkan siapa saja yang tidak berguna dalam permainan itu. Dan Minhee adalah orang yang sama sekali tidak akan berguna dalam permainan Key, keberadaan Minhee dalam hidupnya justru akan membuat semuanya semakin kacau. Karena Key tahu, hatinya akan selalu goyah terhadap Minhee. Tak peduli bahwa selama ini Minhee tak pernah memandangnya, cintanya terlalu besar untuk Minhee.

“Kau tidak berniat mencium bibirnya juga, Key?” celetuk Jinki yang berdiri santai di depan pintu. Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada pintu, melipat kedua tangannya di depan dada. “Bukankah ini sebuah kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan?” seolah bisa membaca pikiran Key, Jinki kembali menjelaskan.

Key mendengar apa yang diucapkan Jinki. Tapi ia sama sekali tidak berminat menatap lelaki itu. Ia kemudian melepas bibirnya dari kening Minhee. Beberapa saat, ia menatap bibir pucat Minhee. Pikirannya sedikit sibuk. Haruskah ia mencium bibir Minhee seperti yang selama ini ia idamkan? Mencium bibir gadis yang sangat dicintainya?

“Kau harus cepat, Key. Bisa jadi Minho akan segera kembali.” Lagi, Jinki seolah mengompori Key.

Lalu, Key mendekatkan bibirnya ke bibir Minhee. Ia mulai memejamkan kedua matanya saat ia hampir menjangkau bibir Minhee. Ia tahu ciuman ini bukanlah ciuman antara dua manusia yang saling mencintai. Tapi hanya ciuman dari cinta satu sisi yang begitu memuakkan.

Key terus mendekat. Hingga tanpa sadar ia menghentikan gerakannya. Ia membuka mata, mendapati wajah Minhee yang masih berada di bawahnya. Jantung Key lantas berdebar tak karuan. Ia menelan ludah, pikirannya menerawang begitu jauh. Lantas ia menempelkan tangan kanannya di atas bibir Minhee, lalu mengecup punggung tangannya sendiri seolah sedang mengecup bibir Minhee.

Good bye.” Bisiknya lagi.

Ia lalu beranjak tergesa-gesa. Melangkah menuju pintu. Ia menggeser tubuh Jinki yang bersandar di sana lalu membuka pintu. “Ayo kita pergi, Hyung.” Ucapnya cepat. Meninggalkan Jinki begitu saja.

Key melangkah semakin cepat menyusuri koridor rumah sakit. Tangan kirinya mulai memegangi dada. Ia tidak mengerti, bagaimana bisa bayangan gadis pelayan café itu tiba-tiba muncul saat ia akan mencium Minhee? Dan yang lebih mengherankan adalah bagaimana bisa jantungnya berdebar tak karuan seperti ini? Sial! Key rasa ia memerlukan beberapa botol alkohol.

***

Hyeri masih diam menundukkan kepalanya. Matanya tak beralih dari tangan kirinya yang digenggam Minho begitu erat. Mereka duduk di kursi taman rumah sakit, saling berpegangan tangan seperti sepasang kekasih. Tak ada kata ‘aku mencintaimu’ yang terucap. Tapi, mereka saling tahu bahwa apa yang mereka rasakan adalah sama. Berkali-kali Minho mengatakan pada Hyeri agar gadis itu selalu ada bersamanya, karena itu membuat Minho selalu merasa lebih baik.

“Aku akan mengambil uang dan membayar biaya operasi pada Key.” ucap Minho tiba-tiba. Minho lalu menarik dagu Hyeri, memaksa gadis itu untuk menatapnya. “Kau tidak usah takut. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi.”

Lantas tangannya yang menggenggam tangan Hyeri terlepas, berpindah pada pipi Hyeri dan mengelusnya pelan. Lelaki itu tersenyum. “Tunggulah di sini.” Ia lalu beranjak dan hendak melangkah saat Hyeri menahannya.

“Aku ikut.” Ucapnya dengan nada yang menyiratkan bahwa ia tidak mau terpisah dari Minho barang sedetik pun.

Minho tersenyum tipis. Ia lalu menarik Hyeri dalam pelukannya. Ia tidak mengerti, perasaan ini muncul begitu saja. Cinta? Ia tidak tahu. Yang jelas, ia merasa dirinya lebih baik saat berada bersama Hyeri.

“Aku tidak akan lama. Percayalah. Kau harus menungguku, ara?”

Hyeri hanya mengangguk. Meski kenyataannya ia benar-benar tidak mau terpisah dari Minho. ia takut Minho akan kembali menghilang dan tidak bisa dihubungi lagi.

“Jyaa. Tunggulah. Oh! Aku akan membeli makan siang untuk kita.”

Minho mengelus puncak kepala Hyeri. Lalu melepaskan pelukannya. Ia berbalik lalu melangkah santai meninggalkan Hyeri.

Hyeri hanya diam menatap punggung Minho. Entah mengapa rasanya begitu sedih. Seolah ini adalah terakhir kalinya ia bisa melihat Minho dengan hati sesenang ini.

“Hati-hati!” Teriak Hyeri. Minho berbalik lalu melambaikan tangannya penuh kebahagiaan. “Aku akan menunggumu. Segeralah kembali.” Teriak Hyeri lagi.

***

Hyung, aku mau minum. Kau mau ikut?” tanya Key. Ia melangkah cepat menuju lobi rumah sakit.

“Wah! Emosimu cepat berubah ya, Key? Jika kau yang traktir, aku ikut.” Jinki menyamakan langkahnya dengan Key. Memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“Kalau begitu percepat langkahmu, Hyung. Aku seperti sedang sakau, harus segera minum alkohol.” Key berjalan semakin cepat. Lalu mulai menggigit kuku-kuku jari tangan kanannya.

Jinki melangkah lebih cepat. Menyusul Key menuju lift. Keduanya telah berdiri di sana. Tapi pintu lift tak kunjung terbuka dan masih terhenti di lantai tiga. Key mulai mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. Lantas matanya mulai liar mengamati berbagai hal yang ada di lobi. Hanya hal biasa yang tidak menarik. Tapi pandangannya terhenti saat ia menatap ke arah taman rumah sakit di bagian tenggara lobi.

Jendela besar di setiap sudut lobi membuat taman rumah sakit terlihat begitu jelas. Di sana ada banyak pasien yang sedang duduk-duduk bersama keluarga, ada juga pasien yang sedang melakukan terapi berjalan, juga banyak para pengunjung yang sepertinya datang menjenguk seseorang sedang duduk-duduk sambil makan.

Tapi, yang menjadi perhatian Key bukan itu. Ada seorang gadis yang tengah duduk gelisah di salah satu bangku di bawah pohon apel. Key mengenal gadis itu. Si pelayan café yang tadi pergi bersama Minho. Seketika itu juga emosi Key berubah. Amarah yang sempat hilang saat ia masuk ke rumah sakit kembali muncul.

Tentu saja satu-satunya orang yang membuat Key semarah ini adalah Minho. Tapi, sudah jelas gadis itu memiliki hubungan spesial dengan Minho. Itu sama saja seperti prajurit perang. Yeah! Bagi Key, gadis itu tak ada bedanya dengan partner in crime Minho yang juga harus ia lenyapkan. Hanya saja, gadis ini bisa ia manfaatkan untuk menyelamatkan hidupnya. Maka, Key mulai melangkah menjauhi lift.

“Hei! Lift-nya sudah hampir sampai, Key.” Jinki mengomel melihat Key yang justru berjalan menjauhi pintu lift. Lelaki itu seperti tersihir oleh sesuatu yang menariknya menuju suatu tempat.

“Aku harus ke suatu tempat, Hyung. Tunggu aku!” Ucap Key tanpa sedikit pun menoleh ke arah Jinki. Ia berjalan menuju taman rumah sakit.

Ting!

Pintu lift terbuka. Jinki hanya menatap lift kosong. Rasanya seperti orang bodoh saja. Lantas Jinki beranjak, ia berjalan menuju mesin penjual minuman dan bermaksud membeli bir kaleng. Bagaimanapun, Key telah mengatakan akan mengajaknya minum. Itu membuatnya semakin tak sabaran untuk menenggak alkohol.

Sementara Key melangkah semakin cepat. Kakinya seolah memiliki kekuatan sendiri untuk membawanya ke sana. Kedua mata rubahnya tak pernah lepas dari sosok gadis itu, seolah dengan tatapannya itu ia tengah mengunci si gadis di tempatnya.

Langkah Key semakin cepat saat ia membuka pintu kaca besar yang menghubungkannya ke taman rumah sakit. Ia melangkah, melewati deretan bebatuan yang disusun sedemikian rupa mengikuti bentuk jalan.

Saat ia telah berada di dekat si gadis, dengan cepat ia meraih lengan si gadis. Membuat gadis itu terkejut bukan main.

“Di sini rupanya.” Key menunjukkan seringai rubahnya yang licik.

“Lepaskan!” Min Hyeri menepis cengkraman Key. Lalu mulai berteriak karena ia begitu benci melihat Key.

“Lepaskan? Sirheo! Kau sudah menjadi milikku. Dan aku memerintahkanmu untuk berhenti menemui Minho, ara?” Key nyaris saja berteriak di hadapan wajah Hyeri.

Mwo? Niga micheo?” Hyeri terkekeh. “Aku akan membayar hutangku hari ini juga dan perjanjian itu tidak akan berlaku lagi, ara? Dan menyingkir dari hidupku!”

Key tersenyum hambar. Bisa-bisanya gadis pelayan ini mengatakan hal tidak berkelas seperti tadi. “Hei, Miss. Bisa-bisanya kau bertingkah seperti ini setelah aku menolongmu saat kau kesulitan. Kau tahu betapa bosannya aku melihat air matamu malam itu? Bagaimana bisa sekarang kau mengatakan hal memuakkan seperti ini?”

Key memperkuat cengkraman tangannya di lengan Hyeri. Ia bahkan menarik Hyeri mendekat ke tubuhnya. Jika benar ia adalah seekor rubah, maka Hyeri adalah sebutir telur yang siap ia pecahkan cangkangnya.

“Lepaskan! Kau licik! Aku membencimu seumur hidupku! Jadi, setelah aku membayar hutangku, jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”

Apa yang diucapkan Hyeri semakin membuat Key geram. Ia tahu Minho berada di balik semua ini. Ia tahu Hyeri menceritakan semuanya pada Minho dan lelaki itu jelas akan menghalangi rencananya. Maka, sebelum Minho kembali dan melunasi semua hutang Hyeri, Key akan menculik gadis itu.

“Kau…” Key begitu marah mendengar ucapan Hyeri. Jika saja Hyeri bukan seorang gadis, ia mungkin sudah memukulnya. Tapi Key segera menahan dirinya. “Ikut aku!” ia lalu menarik Hyeri melewati bebatuan taman.

Gadis itu tentu saja meronta dan mulai memaki Key. Memaki dengan kata-kata kasar yang hanya akan digunakan oleh orang miskin. Telinga Key memanas, ingin melakukan sesuatu untuk membalas Hyeri. Setiap cacian yang dilontarkan Hyeri membuatnya semakin ingin membuat gadis itu hancur.

“Lepaskan atau aku akan berteriak minta tolong!” ancam Hyeri.

“Silakan.” Tanggap Key datar. Ia menyeret Hyeri ke lobi rumah sakit dan dengan cepat menekan tombol lift.

Tentu saja banyak orang yang menatap aneh ke arah mereka. Tapi, Key yakin tak ada yang akan berpikir bahwa ia akan berbuat jahat pada Hyeri. Lagipula, di rumah sakit seperti ini, siapa yang akan peduli pada orang lain? Mereka semua punya urusan penting masing-masing.

Ting!

Pintu lift segera terbuka karena sejak tadi berhenti di lobi. Key menarik Hyeri, secepat kilat menekan tombol untuk menutup pintu lift dan menekan tombol menuju basement tempatnya memarkirkan mobil.

Hyeri meronta. Lalu menggigit tangan Key hingga Key melepaskan tangannya dan berteriak kesakitan. Hyeri mulai menekan tombol lift cepat agar ia bisa melarikan diri. Tapi sayang, Key kembali menariknya. Menarik Hyeri sekuat tenaga dan menghempaskan punggung Hyeri ke dinding lift di sudut kanan belakang.

“Kau gila? Lepaskan aku! Toloooong!” Hyeri berteriak. Ia tahu tidak akan ada yang mendengar. Tapi setidaknya, mungkin ada orang yang sedang memantau cctv lift. “Tolooong!” Hyeri berteriak lagi.

Key mulai panik, terlebih lagi mereka hampir tiba di basement yang dituju. Orang-orang yang berada di basement nanti pasti akan mendengar teriakan Hyeri. Satu-satunya cara untuk selamat adalah membungkam gadis itu.

Key berdiri di hadapan Hyeri, tangan kanannya bertumpu pada dinding di samping kanan wajah Hyeri. “Shut up!” bisiknya tajam. Tapi Hyeri bergeming, ia berteriak semakin keras. Key melirik lagi ke layar yang menunjukkan lift sedang bergerak ke lantai mana. Sial! Satu lantai lagi dan mereka akan tiba di basement tujuan. “I told you to shut up!” Key mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri.

Gadis itu mulai ketakutan, ia mendorong dada Key. Tapi tidak membuahkan hasil apa pun, lantas ia menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari dirinya telah terkunci di sudut belakang lift.

“Toloooooooongggggggggg!!!” teriak Hyeri kencang.

Dengan cepat Key membekap mulut Hyeri. Gadis itu kembali meronta, berusaha menyingkirkan tangan Key dari mulutnya.

Ting!

Key bisa merasakan beberapa orang tengah berdiri di depan pintu. Bahaya jika Hyeri kembali berteriak atau orang-orang melihatnya dalam keadaan seperti ini.

Ia menarik tubuh Hyeri hingga gadis itu tersudut ke bagian samping kanan lift. Dengan cepat ia melepas tangannya dari mulut Hyeri lalu berbisik. “Shut up or I’ll kiss you!” Lalu menempelkan bibirnya di bibir Hyeri, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka lebar.

***

Hyung!” Jinki menoleh ke belakang. Mendapati lelaki jangkung dengan rambut kemerahan. Ia meneguk habis bir dalam kaleng sebelum melangkah mendekati lelaki tadi.

“Taeminie! Kau datang sendiri?” Jinki melempar kaleng kosong ke dalam tempat sampah.

Aniyo. Aku datang bersama keluargaku. Selain itu, orang tua Key Hyung juga datang. Ah! Nicole Nuna dan keluarganya juga datang untuk menjenguk Minhee.” Terang Taemin dan jujur saja itu membuat Jinki terkejut.

Berita ini seharusnya menjadi rahasia karena betapa memalukannya jika orang-orang yang disebutkan Taemin tadi tahu penyebab di balik masuknya Minhee ke rumah sakit. Tapi, hubungan kekerabatan mereka sudah begitu dekat sejak dulu. Bahkan seperti keluarga. Sebaik apa pun keluarga Minho menutupi suatu masalah, keluarga yang lain akan segera mengetahuinya.

Beberapa langkah kaki mulai mendekat dari belakang Taemin. Jinki melihat semua orang yang disebutkan Taemin baru saja keluar dari dalam mobil yang berbeda. Dengan cepat Jinki menghampiri para tetua.

Annyeonghaseyo.” Sapanya seraya membungkukkan badan.

“Oh! Jinki-ya? Kau di sini?” Nyonya Kim terkejut sekaligus senang melihat Jinki.

Ne, Eommonim. Aku datang bersama Kibum.”

“Kibum?” Nyonya Kim mengedarkan pandangannya ke sekitar. “Aku tidak melihatnya.”

“Oh! Tadi ia menghilang saat di lobi. Ia bilang ada sesuatu yang harus ia urus.”

“Sesuatu?” tanya Nicole yang berdiri di belakang Nyonya Kim.

Jinki hanya diam. Tidak tahu harus melakukan kebohongan apa untuk menyelamatkan si mata rubah dari kedua orang tuanya.

“Cih! Mengurus sesuatu? Memangnya hal berguna apa yang bisa dilakukan berandalan itu?” Cibir Tuan Kim. Membuat suasana menjadi tidak nyaman.

“Oh! Kalian datang menjenguk Minhee, kan? Mari kuantar. Aku tahu ruangannya.” Jinki mengalihkan pembicaraan.

Lalu mempersilakan para orang tua untuk berjalan lebih dulu ke arah lift. Sementara ia melangkah ke belakang, menarik Taemin untuk berada di sampingnya. Mereka terus melangkah hingga tiba di depan lift. Jinki berjalan dan menekan tombol lift, lalu kembali ke belakang barisan bersama Taemin.

Hyung, mendengar Key hyung yang menghilang begitu saja. Aku jadi curiga. Apa ia melakukan hal yang aneh lagi?” Bisik Taemin.

Diam-diam, Jinki mengambil kaleng bir yang tadi sempat ia sembunyikan di balik tubuhnya. Lalu mulai membukanya. “Ia membuat keributan di sebuah café. Kau tahu apa yang terjadi? Ia menghajar Minho.”

Wajah Taemin terlihat terkejut. Ternyata situasi sudah semakin kacau. Bisa-bisanya Key menghajar Minho yang juga merupakan sahabatnya sendiri?

“Kau tahu berapa uang yang harus kukeluarkan untuk membuat semuanya reda?” bisik Jinki lagi. Ia meneguk birnya cepat. Taemin hanya menatap Jinki tak sabaran. “Ah! Pokonya si brengsek itu harus ganti rugi beserta bunganya.” Cerca Jinki. Ia kembali meneguk birnya.

Ting!

Lift akhirnya tiba, perlahan pintunya terbuka. Semakin lebar dan terbuka sempurna. Alangkah terkejutnya mereka semua melihat apa yang ada dalam lift.

Key yang tengah mencium seorang gadis dalam lift. Mereka semua tahu bahwa itu adalah Key. Wajahnya terlihat begitu jelas dari samping. Tangan kanan Key bertumpu pada dinding, sementara tangan kirinya melingkar erat di pinggang si gadis. Lalu, bibirnya mengecup bibir si gadis dengan kedua mata terpejam.

Nyonya Kim yang berdiri di barisan paling depan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Mulutnya terbuka lebar dan segera ia tutupi dengan jari-jari tangan kanannya. Selama ini ia tahu bahwa putranya seorang yang sulit diatur dan sering membuat kekacauan. Tapi sungguh, baru kali ini ia melihat putranya melakukan hal seperti itu. Tentu saja hal yang wajar melihat anak muda berciuman, tapi ini di dalam lift.

Yang lain tak kalah terkejut, terutama Nicole. Ia merasa seperti dalam sebuah mimpi. Sebuah mimpi buruk di mana ia melihat lelaki yang paling ia cintai mencium gadis lain yang bahkan tidak ia kenali. Nicole memperhatikan Key. Memperhatikan cara lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang si gadis, memperhatikan kedua mata Key yang terpejam seolah begitu menikmati ciuman itu. Membuat dada Nicole terasa sesak bukan main. Ternyata Key tidak bercanda tentang pilihan ketiganya.

Semuanya masih memperhatikan Key dan gadis itu saat Key menyudahi ciumannya. Ia lalu menatap si gadis yang hanya menatap Key dengan mata seperti orang linglung. Tangan kanan Key yang tadi bertumpu pada dinding lift berpindah ke wajah si gadis dan mengelusnya pelan. Lalu, ia kembali mencium si gadis. Ciuman singkat yang membuat semua orang yang melihat kembali terkejut.

“Key Hyung.” Panggil Taemin. Ia berusaha menyelamatkan Key.

Key melepaskan ciumannya, dengan cepat ia menoleh ke sumber suara, bersamaan dengan si gadis. Mereka terkejut bukan main melihat siapa yang ada di sana. Seluruh mata memandang mereka dengan pandangan yang seolah mengatakan tidak-seharusnya-kalian-melakukan-hal-seperti-itu-di-dalam-lift.

Eomma?” Key memanggil Eomma-nya, seolah memastikan bahwa sosok yang berdiri di hadapannya bukanlah jelmaan iblis.

Ia kemudian menjauhkan dirinya dari Hyeri. Bingung. Tidak tahu harus melakukan apa karena semuanya sudah terlanjur terjadi.

Nyonya Kim menatap Key, lalu matanya berpindah menatap gadis yang terdiam kaku di sudut lift. Gadis itu terlihat linglung dan menatap lantai lift. “Dia… gadis yang akan kau nikahi?” tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari mulut Nyonya Kim. Membuat semua orang terkejut, terutama pasangan Jung yang berdiri di belakangnya.

“Apa?” Key terkejut. Ia tidak tahu harus menjawab apa dalam situasi ini. Tapi, toh semuanya telah terjadi. Lagipula, ini akan semakin memuluskan rencananya untuk menyingkirkan Minho. Maka, ia menarik lengan Hyeri hingga gadis itu mendekat. “Benar, Eomma. Dialah gadis yang kusukai. Namanya Min Hyeri.” Ucap Key lembut.

 

=TBC=

 

Author’s Note : Eh, gimana dengan part ini? Lebih seru atau malah tambah ga seru? *gampar*
Sebenernya, pengen segera ke bagian pernikahan Key-Hyeri, tapi karena ngerasa masih ada beberapa plot yang harus berjalan sebelumnya. Kemungkinan plot menuju pernikahan akan berjalan lambat. Mungkin baru muncul di part 9 atau 10 *bow*
Nah, sekian infonya. Mudah2an ga bosen dengan ff ini. 
Masukan dari kalian akan sangat bermanfaar loh buat author.
Sekali lagi, terima kasih dan tunggu part berikutnya, ya! ^^

30 thoughts on “Excuse me, Miss – Part 8

  1. Key JAHAT! >,< tidak sopan. Bakar key!😀
    duh, eon, semakin kesini semakin menegangkan, dan key juga semakin menyebalkan. Key gk punya malu, seenaknya huuuh menyebalkan, kasian hyeri, kasian minho hweeeee😦 itu juga si onew, sebenernya dia ada di pihak mana?? huh, kenapa hidupmu seperti itu hyeri? kenapa tidak ada yg bisa dgn lancar membantumu? poor hyeri.
    bagus eon, lanjutkan! ohya, eon, ket. waktunya enakan lebih di perjelas lagi, supaya dlm membayangkannya pembaca tdk kesulitan dn tidk mdh lupa, "ini td siang ato malem ya? "😀 ekeke,
    makasih eonni, mangats!

  2. Makasii euncha uda ngepost lanjutannya excuse me, miss hari ini… jujur aku seneng bgt soale buat refreshing di hari minggu yg super padat ini… hehe #curcol

    akhirnya hyeri ketemu minho juga,, awalnya aku kira sampai mau nikah blom bisa ktmuan sama minho… gak tau kenapa kok aku malah suka karakter key yang kaya gini beda 180 derajat sama yg di archangel… tapi aku harap sifatnya gak gini2 terus pas uda nikah sama hyeri.. smoga bsok pas uda nikah uda balik jadi kim sajangnim… hehe
    oh iya kok jjong gak muncul2 ya… hehehe.. abaikan…..

    oke… ditunggu ya next part nya…
    keep writing… fighting….

    • Sama2, Santy😉

      Yups, di sini sifat Key nya bertolak belakang sama di Archangel. untuk penyegaran biar ga bosen.kekek.
      yups, nantikan saja di part2 berikutnya. Mudah2an Key ga bikin sebel lagi.heheh.

      Siip, nantikan, ya.
      Thank u😉

  3. anyyeong eonni,, maaf part sebelumnya ngga’ comment….

    wahhhhh seriously keren banget part ini apalagi yang moment key sma hyeri…
    pingin tau respon keluarganya di part selanjutnya
    bener” kasihan minho,, gimana ya nanti??
    part ini key jahat banget ya…..

    ditunggu ya eon….
    ^^ fighting ^^

  4. onni.. I’m comiiinnnnggg *sambil nari hawai*😄
    Sebenernya baru kali ini aku baca ff tapi berpihak sama yg antagonis. Jujur itu karna abang konci. Sejahat apa pun dirimu, aku akan selalu menyukaimu #plaakk
    ya abis gimana dong onn, aku ga suka banget sama Minho disitu, so baik padahal dia juga punya niat manfaatin Hyeri jadi pacar palsunya. Intinya Key ama Minho itu punya tujuan yg sama cuma pengaplikasiannya aja yg beda. Key yg terlalu to the point jadi keliatan nyebelinnya dan harus bersaing dengan Minho yg bersikap manis biar Hyeri mau nerima tawarannya. #dikroyokfansMinho *kabuurr*
    Aku suka banget bagian terakhir onn, luaaarrr biasaaa.. ga nanggung2 ketauannya sama ortu Key + ortu Nicole juga. seneng banget ngebayangin ekspersi Nicole pas liat itu *smirk*
    kenapa ga sekalian ada Minho aja? biar dia bener2 pergi ninggalin Hyeri atau pergi dari ff ini *maaf ya aku lagi jahat banget hari ini*

    Udah ah onn segini aja commentnya.. bahaya ntar aku bisa tawuran disini #apasih?😄
    Aku tunggu buat next part nya ya onn. Fighting ^^9

    • Apa pun karakternya, yang penting Kim Kibum *plaakkk*
      .hahah. iyah sih yh, dipikir2 lagi Minho ga ada bedanya sama Key, cma dia punya cara yang beda buat ngambil hati Hyeri.heheh.

      Iyah, langsung aja deh ketauan sama semuanya biar cetar membahana *?*
      .hahah. Kesian si Minhonya. Nanti aja dikasih kejutan yang lain.

      Siip. siip.
      Thank u😉

  5. asyiikk dah kluar..

    aku stuju sma pmikiran minho agar minhee ngak bangun2 lagi…
    wkwkwkwk… kejammmm,

    aku ngak suka sma sfat key dsini, msa dia mnyerang abg minho scra membabi buta gtu sihh.?
    tpi aku ska sat key mncium key d-dlam lift, romntis gmnaaa gituu….

    part brikutnya lbih cepat ya eon..
    jdi ngak sbar bca ff marriedny, hehehe
    klaw bisa part 9 – 10 nya berengan ja postnya eon,,
    #maunya#

    • Waduh, sadis banget.heheh.

      Yah, kan ceritanya Key beraandalan gimana gitu. Jadi dia nyebelinnya bukan main.

      Nantikan yaa, mudah2an ga lama. Wah, langsung part 9-10? heemmmm…. *berpikir*

      Thank u, Heyri😉

  6. wow,,
    pertama, agak sebel sieh karna tiba2 minho muncul, n sisi ego’x jga muncul,,. Eisssh.., meng.gang.gu!hahahh
    keduanya, kayanya Key berlebihan deh,, keras kepala iya, kasar iya, pemaksa iya, kejam iya. Ga da bagus2nya. Kalo aku jadi Hyeri, juga bakal ogah nikah ma dirimu. Skali2 munculin sifat baiknya dunk,, biar Hyeri jga bisa klepek2.heheh
    ketiga, paling suka bagian terakhir part ini. Dengan begitu, kayanya Hyri sdah susah untuk melarikan diri..ahahhahaaaaah
    sekian dan terima kasih. Ditunggu part selanjutnya. Fighting!
    Salam buat Key *ketjupbasah*

  7. kenapa aku baca ini ngakak mulu ya? apalagi yg bagian kisseu di lift itu. ngebayangin muka syok keluarga keynya bkin ngakak.

    yah kasihan bgt hyeri. makin gak bisa bersama minho. padahal td udh senang pas minho mau batalin pernikahan key-hyeri. karna sama2 cwek jd ngerasain bgt gimana perasaan hyeri yg terpaksa nerima perjanjian. dan pas mau lepas dr perjanjian gagal lg, diih bikin kesel tuh keynya! jahat bgt sih! licik! (sumpah baru kali ini ada perasaan mau jotos key)

    lanjut!

  8. sumpahhh… part ini keren… daebakk!!!! bener2 deh… situasinya menguntungkan key!!! g usah dikenalkan lewat acara makan malam… pake cara ini lebih jelas dan ekstrim!!! keren key!! haahahhahaahahaha

  9. keluar juga lanjutannyaaaaaa

    dsini bella bner2 mihak k Key, deh. solanya walau nampak baik, Minho tuh jahat bagi bella. dia juga mau manfaatin hyeri, bahkan cuma untuk jadi kekasihnya doang. poin positifnya yg g dipunya key adalah hyeri suka sama dia. kalo aja hyeri sukanya ama key walau key semenyebalkan itu, pasti bakal g gini jadinya. terus, keren deh ketahuan ama orang tua n lain-lain di akhir bagian ini… hahahaha…. sinetron abis. kalo udh gitu kan hyeri g bakal bisa bilang apa-apa lagi n terpaksa nikah sama key. walau key bukan tokoh yg baik, bella bner2 sebel sama hyeri dsini. udh bagus ditolongin juga d waktu yg mendesak gitu… g semua hal bisa diselesaikan dengan uang yg dikembalikan. bagaimana dengan hitungan timing dan jasa key yg udh nganterin k rumah sakit serta ikut nungguin adeknya waktu hyeri nangis2 gaje gitu? key itu baik bangeeeet tahuuu *fangirling mode on*

    haaaah… waktu baca adegan kiss dsini, lgsg teringat adegan kiss d bonnie n clyde… haaaah… jadi sebel. why was he so sexy in those scenes??? geez, i really wanna take him home with me. kekekek….

    aduh, jadi kebanyakan curcolnya. pokoknya cepet dilanjut ya, eonn~~~ ga sabar, nih. and please, semoga hyeri yg rada sakit hati d cerita ini. please jangan key lagi~~~ *guling2*

    b^^d

  10. Baru sempet komen pdhl udh baca 2 hari yg lalu ^^v

    Makin seruu!! /gelindingan/
    ONEW AKU PADAMU xD suka bgt karakter onew dsini…biarpun cm cameo onew jd cast favoritku kkkk

    Key lanjutkan misimu(?) aku mendukungmu & semua reader mendukungmu! fighting(?) /lol
    Cukup kasian sihh sama minho, tp gpp kn yaa minho bisa nyari jln kluar yg lain..klo am hyeri, aku ykin minhee psti bkln lbh mnjdi trs hyeri psti bkln kena getahnya jg..
    Back to KeyRi, aku suka scene dlift!! lagi2 kebayang b&c haha xD gegara b&c skrg lbh gmpang byngin key yg lg kisseu xD
    wahh pd ngumpul hyeri bkln susah menghindar skrg, smua org udh pd tahu, eomma nya jg udh stju..tinggal nunggu pestanya aj dehh hihi…

    Next part dtunggu!! ^^

    • Santai aja, Ummul🙂

      .ekekek. Iya nih, lagi2 Onew jadi cameo dan ga tau sebenernya dia ada di pihak mana.

      .eheheh. Yang di lift itu biar sekalian ekstrim deh key-nya, jadi ga usah susah2 bawa Hyeri buat dikenalin.
      Hyeri bener2 ga bisa melarikan diri di sini.
      Siip. Nantikan yaa.
      Thank u😉

  11. eiiiiiiiiyyyyyyyhhhhhhhh KEYYYY makin sini kamu makin jahat,nyebelin,minta ditindes,ditendang,dirajam, aku paling panci di dapur lu bru tw rasa noh.plaak

    tapi tapi wlaupun Key bnr” antagonis, aku gak bisa berpaling dr dia, terus dukung Key sama Hyeri, hahaha baru kali ini berpihak sama antagonis. . .
    mudah-mudahan sifatnya bisa berubah, gak gini terus. . haduh gereget nih gak sabar nunggu moment mereka saling cinta dan moment bikin aku diabetes *double plak

    aigoo aigoo the best scene disini pas key cium hyeri di lift dan ketahuan sama orang tua nya. Yeiyyy bagus bagus.loh gimana reaksi ortu ny ya? mdh2an cpt d nikahin. .🙂

    hehehe *ketawa dulu*
    ada suamiku disini, perannya lucu. kekeke

    Eonni~, seperti biasa aku akan melontarkan pujian, karena memang bener.
    untk EYD menurut aku udh bner. enak dan nyaman d bc, kalo typo kayany g ada deh, mungkin. eh maaf ,:(
    ceritanya makin tegang, gereget,gemes, celu,eh pokoknya ditunggu kelanjutannya lg. mianhe aku g tpat wkt koment, bnyk tgs *so sibuk. .

    • Wow! Emosi berat.eheheh.
      Paling aja lah semua peralatan di dapur sama kosmetiknya, pasti marah abis. ^^v

      Eh, suami kamu teh Onyu bkan sih? Maap aku lupa ^^v

      Wah, makasih loh. Tapi kayanya masih ada yang belum bener. Mudah2an ke depannya bisa bener.
      Amiin, typo-nya juga smoga bner ga ada. Udah dicek beberapa kali dan dibaca juga sama beta-reader-nya.

      Gpp ko, Hikma. Santai aja. Makasih udah selalu komen pokonya mah.😉

  12. unni.. semaleman ak abisin ini 8 part.. makin penasaran sama kelanjutan’a..

    cerita’a makin seru eon.. makin gregetan.. makin menerka” kmn arah crta sljut’a..
    brhub ak udh trlanjur jatuh cinta sama ff’a unni.. jd mnrt ak makin k sni crta’a makin keren..😀

    ayo donk eon part selanjut’a.. hehehe

  13. si minho gak gesit tuh makanya kalah dr key hahahhaha ,makin seru ajah nih FF aku sampe ngulang ngulang loh bacanya ,apalagi ya awal” wktu si key sm hyeri pertaman kali ketemu ayo ,si key gak jdi nyum minhee bbrti udah ada prasaaan tuh sm hyeri hhhha dan emang mnhhe sm eommanya tuh ngeselin banget ya jd orang :O kalo jd minhoo oppa jg pasti muak deh sm tuh cewek hhhha

  14. Key bner2 berandalan, cuma gara2 Minhee terluka sampe marah besar sama Minho! Hedeeww so sweet dah Key. Dan bener kata Jinki: Kau juga
    harus menyingkirkan siapa saja yang tidak
    akan berguna dalam permainanmu.”
    Kacau…kacau…
    Key kacau klo udah deket Hyeri maunya nyium mulu kekekee~
    Aiisshh Hyeri dicium Minho😮
    Hahaha daebak ka euncha fanfic nya (y)

  15. Ya ampyuuunnn Minhye Minhye kmu secntik pa cye kok teobsesi bgd sma minong n key jg trgila2 pdmu??….Minho jg nurut bgd sma emaknya smpai2 lupa wat hub Hyeri disaat Hyeri lg btuh bantuan, spt pngran yg mbtap cinderella….pzti Hyeri mrasa teduh bgd ditatap Minho spt tu, Key mksa wat nrunin Jinki ssi kekekeke ga brhsil Jinki ssi ttep mau ngintil dg duduk anggun spt prlu ikut trik Jinki alo mau nebeng mobil Key hahahhay #ngarep.com, cielah udh tahan napasss tkut Key nyium Minhye untung kagak jadiiii….hahahasyeeeekkkkk…..dan cute scene …Key narik2 Hyeri…Hyeri meronta2 smbil ngmel…Key nyium Hyeri lg n diliatin sma krabat kluargana….niiih FF sumpah cakeeeppp kea drama ja ga bsa brhnti alo udh bca….jjanggg!!

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s