Excuse me, Miss – Part 9

excuse-me-missPart 9 – I’m With You

Main cast :

Kim Kibum [Key] | Min Hyeri | Choi Minho

Supporting cast :

The rest of  SHINee’s members | Choi Minhee (OC) | Nicole (KARA)

Genre              :  Romance, Life, Friendship

Rating              : PG 15

Beta Reader  : Hwayong Kim

Credit poster : Jiell

Hyeri membelalakkan kedua matanya, menatap tak percaya pada si mata rubah yang kini menggenggam lengannya.

“Benar, Eomma. Dialah gadis yang kusukai. Namanya Min Hyeri.”

Bahkan suaranya berubah menjadi lembut dan nyaman didengar. Hyeri lantas melirik semua orang yang berdiri di hadapannya. Tidak tahu jelas berapa jumlahnya, tapi mereka bukanlah orang yang bisa dibungkam mulutnya mengenai kekacauan ini.

Jinjja?

Pertanyaan itu meluncur dari mulut lelaki setengah baya bertubuh tambun. Ia berdiri di barisan kedua, tepat di belakang wanita yang tadi disebut Eomma oleh Key.

Seketika semua mata memandang lelaki itu.

Hyeri hanya mampu menelan ludah. Ia tidak bisa mengatakan apa pun untuk menyelamatkan dirinya. Ia seperti kepiting yang telah diikat, hanya bisa bergerak tanpa bisa menyelamatkan diri. Dan satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menunggu untuk direbus hidup-hidup.

“Sepertinya anak ini tidak sedang main-main.”

Lelaki yang berdiri tepat di hadapan Hyeri membuka suara. Lelaki itu bertubuh kurus, dengan rambut mengkilap yang disisir rapi ke sisi kiri. Ia memakai kacamata berbingkai persegi. Tatapannya tajam, sama persis seperti si mata rubah. Hanya saja yang ini rubah tua.

Lelaki bertubuh tambun tadi menunjukkan ekpresi tidak senang dengan apa yang didengarnya. Ia mendengus, menatap Key dengan tatapan meremehkan.

“Kami akan menjenguk Choi Minhee.” Tambah si rubah tua.

Lalu ia melangkah masuk ke dalam lift dengan tenang. Membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan para tetua lain yang masih mematung di tempatnya. Ia berdiri tegap penuh wibawa, seolah hal yang baru saja dilihatnya sama sekali bukan perkara besar.

“Silakan.” Jinki memecah atmosfir.

Lantas para tetua masuk ke dalam lift, seketika atmosfir terasa begitu kaku. Semuanya sudah masuk memenuhi lift. Tidak ada kesempatan bagi Hyeri untuk melarikan diri karena tangan Key tetap menggenggamnya dan justru menariknya ke bagian lift paling belakang.

“Baiklah, tidak ada yang tertinggal, kan?” Jinki menekan tombol lift menuju lantai tiga. Ia lalu menyusup ke bagian belakang, bergabung bersama Taemin.

Hening. Hanya suara halus mesin lift yang terdengar di sana. Tak ada seorang pun yang berani membuka mulut setalah adegan berani yang mereka saksikan tadi.

Hyeri mendongakkan kepalanya menatap Key, lantas melotot saat mata mereka bertemu. Bibirnya berkomat-kamit seolah mengatakan cacian pada si mata rubah. Key mendengus, kali ini ia tidak bisa berbuat sesuka hati karena ada orang tuanya. Ditambah lagi orang tua Nicole dan Taemin yang juga ikut menyaksikan seberapa berandal dirinya membuat Key tak berkutik.

Key melirik semua orang yang berada dalam lift sebelum menundukkan kepalanya sedikit. Berbisik tepat di telinga Hyeri. “Jangan macam-macam jika tidak ingin hal seperti tadi terulang lagi!” Ancamnya. Kemudian kembali berdiri tegak. Mengeratkan lagi pegangannya pada tangan Hyeri.

Hyeri memejamkan mata sambil menarik nafas dalam. Tak menyadari bahwa tarikan nafasnya terdengar oleh semua orang. Ia membuka mata saat merasakan gerakan dari genggaman tangan Key. Ia melirik Key malas.

Si mata rubah tengah menatapnya, mulutnya bergerak-gerak seolah mengatakan sesuatu tanpa suara. Hyeri tidak mengerti, yang jelas si mata rubah mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Terlihat dari matanya yang memelototi Hyeri dan bibirnya yang bergerak tak keruan.

Hyeri diam saat menyadari semua mata dalam lift ikut-ikutan menatapnya. Cepat-cepat ia menundukkan kepala seraya melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh dinding lift. Mati sudah! Ia benar-benar terjebak dalam permainan si mata rubah.

Ting!

Lift terbuka. Tanpa mengatakan apa pun, para tetua segera melangkah keluar. Diikuti oleh Jinki dan Taemin. Sementara Hyeri membiarkan Key menariknya mengikuti rombongan. Jinki menyikut lengan Taemin, mengisyaratkan agar ia menangani Key dan Hyeri. Sementara ia berlari menuju rombongan para tetua, memimpin perjalanan menuju kamar Minhee.

Annyeonghaseyo, kita bertemu lagi, Min Hyeri-ssi.” Sapa Taemin ramah. Ia membungkukkan tubuhnya cepat sambil berjalan.

Hyeri melirik Taemin, setengah hati tersenyum tipis. Bagaimanapun, suasana hatinya sangat buruk. Ia tahu, keramahan Taemin saat ini pun hanyalah perkara basa-basi sebelum ia terjebak secara permanen dalam perangkap si mata rubah.

“Hai.” Ahirnya Hyeri menyapa Taemin singkat.

Hyung, tunggu!”

Taemin menahan tangan Key yang tidak menggenggan tangan Hyeri. Lalu memperhatikan rombongan para tetua.

“Apa?” tanya Key datar.

Taemin diam, masih memperhatikan para tetua hingga meyakini mereka bertiga telah tertinggal beberapa langkah dari rombongan.

Hyung, kau keren sekali!” Taemin meninju bahu kanan Key ringan. “Jinjja! Jadi wanita itu benar-benar Min Hyeri-ssi, ya?” Taemin melirik Hyeri.

“Sudahlah jangan banyak bicara! Cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Aku tidak punya banyak waktu!” desis Key. Matanya melirik rombongan yang baru saja berbelok menuju koridor kamar rawat Minhee.

Taemin terkekeh. Sayang sekali ia tidak bisa menggoda Key lebih lama. Padahal, sepertinya akan lebih menyenangkan jika ia menggoda Key dengan menceritakan adegan yang beberapa waktu lalu diputar ulang terus-menerus olehnya.

“Kalian akan menikah, ya?” tanya Taemin. Wajahnya serius, tapi tetap terlihat manis.

MWO? Jangan bercanda! Aku dan orang ini tidak-“

“Hei! Hei! Siapa yang menyuruhmu bicara, Miss?” Key mendelik ke arah Hyeri yang terlihat begitu antusias untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Taemin menatap Key dan Hyeri bergantian. Bagaimanapun, sikap Key tidak seperti sikap seorang lelaki pada wanita yang disukainya. Taemin lalu menatap Key sambil mengangkat sebelah alisnya. Menunggu jawaban Key.

“Hei bocah! Kau akan tahu saat undangan pernikahanku berada di tanganmu.” Bisik Key tajam.

Taemin tahu benar bahwa Key tidak ingin Hyeri mendengar apa yang dibicarakan mereka. Tapi, ini semakin menarik baginya. “Ah! Aku kan sahabatmu, Hyung! Menunggu undangan tidak pasti! Sekarang saja beritahu aku!” rengek Taemin. Ia sengaja membesarkan volume suaranya.

Key berdecak, memelototi Taemin lalu menatap Hyeri penuh ancaman. “Tunggu di sini dan jangan melarikan diri!” Lalu ia menarik Taemin. Menjauh beberapa langkah dari Hyeri.

“Apa yang ingin kau katakan? Cepat! Aku tidak punya banyak waktu!” Tukas Key. Sementara Taemin tersenyum senang.

Hyung, aku jadi ingin tahu,” Taemin berbisik, kemudian menghentikan kalimatnya dan menatap Key nakal. Ia terlihat seperti seorang lintah darat yang meminta anak perawan milik si peminjam uang sebagai bayaran. “Bagaimana ya, jika orang tua Hyung tahu bahwa ini hanya sandiwara?” lanjut Taemin acuh tak acuh.

Key terbelalak, ia meraih lengan Taemin dan meremasnya. Taemin hanya terkekeh geli. Mau bagaimana lagi? Yang diucapkan Jinki ternyata benar. Permainan ini akan sangat menyenangkan untuk diamati.

“Ah! Pasti mereka akan sangat kecewa. Tapi, aku tidak akan banyak bicara, Hyung. Lagipula, suasana sedang tidak menyenangkan. Minhee nuna dirawat. Tapi, di saat yang tidak menyenangkan seperti ini aku lebih senang minum alkohol sampai mabuk. Bagaimana denganmu, Hyung?

Taemin tersenyum tipis. Memamerkan deretan gigi yang menunjukkan betapa muda usianya untuk menenggak alkohol terlalu sering.

Key berdecak kesal. Ia sama sekali belum membuat strategi untuk menangani parasit-parasit yang akan menempelinya selama permainan berlangsung. Tapi nyatanya ia kalah cepat. Satu parasit telah menempelinya dan mulai menghisapnya seperti lintah.

“Ck! Setalah ini aku traktir minum!”

Taemin kemudian menepuk bahu Key, diiringi senyum riang. “Kau memang hebat, Hyung!” ucapnya penuh kepalsuan.

Key hanya berdecak sebal saat Taemin melangkah meninggalkannya. Saat itulah ia sadar bahwa Min Hyeri telah menghilang dari tempatnya. Sial! Key segera berlari sebelum ikan tangkapannya kembali ke laut.

***

“Aku di lantai 3. Mereka datang untuk menjenguk Minhee,” Ucap Hyeri. Ia berbelok saat melihat sebuah balkon yang menghadap ke taman rumah sakit tempat ia menunggu Minho tadi. “Suasananya buruk sekali, Choi Minho-ssi. Segeralah datang, Key-“

Hyeri tersentak saat ponsel yang menempel di telinga kanannya direbut seseorang dari belakang. Ia menoleh, mendapati si mata rubah tengah memegang ponselnya. Lelaki itu menatap layar sekilas lalu mulai berbicara.

“Minho-ya, semuanya sudah terlambat. Gadis ini sudah menjadi milikku. Jadi mulai sekarang, berhenti mendekatinya, ara?” ucap Key tenang.

“Hentikan, Key! Kau sudah gila! Aku membawa uangnya. Aku akan membayarnya!” pekik Minho dari seberang sana.

Sementara Hyeri berusaha meraih ponselnya dari genggaman Key. Tapi si mata rubah mengangkat tangannya, membuat Hyeri harus berjinjit agar bisa mencapai ponselnya. Key mendorong kepala Hyeri, sementara ponselnya ia pindahkan ke tangan kiri dan kembali berbicara.

“Uang itu tidak penting, Minho-ya. Yang penting adalah ketepatan waktu dan keberuntungan. Ah! Bagaimana kalau kita mulai saja permainannya?” Key menyeringai. Dalam kepalanya muncul sebuah ide yang brilliant.

“Aku tidak ikut permainan apa pun! Hentikan kebodohan ini dan biarkan aku bicara dengan Min Hyeri-ssi!” Teriak Minho tak sabaran.

Hyeri berusaha merebut lagi ponselnya. Meski kini ia telah melompat-lompat, tapi si mata rubah terlalu tinggi. Rasanya menaiki tangga sekali pun, Hyeri tetap tidak bisa meraihnya. Key kembali mendorong wajah Hyeri, kali ini lebih kuat hingga Hyeri mundur beberapa langkah dan terhenti saat punggungnya menempel ke dinding balkon.

“Bicara dengan siapa? Ah! Kau tidak boleh berbicara hal pribadi dengan calon istriku, Minho-ya. Bagaimana, ya? Kalau kuberi satu kesempatan lagi, apa aku tidak terlalu baik?”

Kini Key berdiri tepat di hadapan Hyeri, mengunci Hyeri di antara tembok dan tubuh tingginya.

“Choi Minho-ssi, jangan dengarkan dia! Dia sinting! Segeralah kemari!” Teriak Hyeri.

Ia tahu si mata rubah akan melakukan hal bodoh demi kepentingan pribadinya. Yang harus ia lakukan saat ini adalah meloloskan diri dan berlari menuju kamar Minhee dirawat. Ia akan aman berada dekat para tetua dan yang lainnya.

“Hei! Siapa yang menyuruhmu bicara, Miss?”

Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Hyeri. Membuat Hyeri diam seketika. Key menekan tombol loud speaker, lalu satu tangannya menangkap kedua pergelangan tangan Hyeri. Gadis itu meronta, tapi segera diam saat Key menyeringai dan terus mendekatkan wajahnya. Key mengunci kedua tangan Hyeri di atas kepala, lalu telapak tangan satunya lagi ia gunakan untuk bertumpu pada dinding. Menggenggam ponsel dengan jari-jari tangannya yang bertumpu pada dinding.

“Minho-ya, dia itu calon istriku. Tapi, tingkah lakunya buruk sekali. Ah! Ini tidak mudah!” ucap Key santai. Sementara ia terus menatap Hyeri, seolah membungkam Hyeri dengan tatapan rubahnya yang licik.

“Listen, Kim Kibum! Aku tidak main-main! Tinggalkan Hyeri! Kau akan mati jika aku menemukannya tergores seujung kuku!” Ancam Minho. Nafasnya terengah-engah.

Key terkesiap, menyadari keberadaan Minho yang semakin dekat. Ia mengedarkan pandangannya ke bawah, kalau-kalau Minho tengah berada di taman rumah sakit mencari Hyeri.

“Kuberi waktu 5 detik jika kau ingin membayarkan hutangnya. Tapi jika tidak, dia akan menjadi milikku dan kau yang kalah!”

Hyeri menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Minho bisa tiba hanya dalam waktu 5 detik? Ditambah mereka sedang berada di balkon, Minho tidak tahu hal itu. Lantas Hyeri segera memutar otaknya untuk lepas dari cengkeraman si mata rubah.

“Kau gila, Key! Kau gila! Hentikan permainan bodoh ini!” Teriak Minho dari seberang sana.

“Aku hitung sekarang, ya. Satu…” Key mengulum senyum. Terlihat seolah sedang terancam.

“Dua…” Mata rubahnya liar menatap ke sekitar.

“Tiga…” suara hembusan angin membuatnya seolah berada di atas awan kemenangan.

“Empat…”

Kini matanya tertuju pada Hyeri yang berdiri dengan kaki gemetar. Lantas ia mendekatkan wajahnya ke wajah si pelayan café. Ini memang ancaman. Tapi saat di lift tadi, ia terlalu terburu-buru. Sama sekali tidak sempat menikmatinya. Tidak ada salahnya jika ia mendapatkan lagi kesenangan kecil saat tidak ada orang yang akan mengganggu.

You lost, Minho-ya,”

Bibirnya berhenti di depan bibir Hyeri. Hanya berjarak satu jari. Key tersenyum, entah mengapa suasana seperti ini selalu membuatnya senang.

“Lima.” Ucapnya cepat, lalu mengecup bibir Hyeri bersamaan dengan tangan kanannya yang menekan tombol End pada ponsel.

***

“Choi Mija, tapi ini memalukan!” Bisik Tuan Kim. Mata rubahnya bergerak gelisah, ia menggigit bibir bawahnya.

“Aku tidak bisa apa-apa lagi, Minhee mencintai Minho. Lagipula, apa salahnya jika aku menikahkan mereka? Toh mereka tidak punya hubungan darah.”

Sahut Choi Mija, wanita yang hampir sepuluh tahun terakhir ini menjadi Nyonya Choi. Ia berdiri tegak, wajahnya dipoles make up tebal, tak ada kegelisahan yang sepatutnya ditunjukkan oleh seorang Ibu yang anaknya terbaring lemah karena percobaan bunuh diri.

“Itu yang salah! Kau tidak memikirkan perasaan Minho. Menurutmu Minho juga menyukai Minhee?”

Choi Mija diam, bukannya ia tidak lupa bagaimana putra tirinya yang tampan itu berkali-kali menolak tentang ide pernikahan. Tapi, jauh di lubuk hatinya, ia ingin menyaksikan Minhee hidup bahagia. Ia ingin memastikan kebahagiaan Minhee sebelum Tuhan memanggilnya.

“Lihat! Kau menyangkalnya, bukan? Aku tidak begitu mengenal Minho dengan baik. Tapi di mataku, ia tidak mencintai Minhee seperti lelaki dewasa mencintai wanita dewasa. Itulah sebabnya Minhee malakukan hal ini sebagai ancaman.”

Sebenarnya, Tuan Kim tidak mau ikut campur urusan keluarga Choi. Terlebih saat ini ia tengah menghadapi hal serius mengenai pernikahan Kibum. Tapi, Ayah Minho adalah sahabat baiknya sejak dulu. Kini lelaki itu sedang berada di Afrika untuk urusan bisnis dan kemanusiaan. Ia tidak bisa jika harus diam mengetahui kenyataan yang seperti ini. Bagaimanapun, Minho telah ia anggap seperti putranya sendiri.

“Itu tidak benar!” Choi Mija hanya bisa memberikan kalimat penyangkalan.

KLEK

Pintu kamar rawat Minhee terbuka. Menampakkan pasangan Lee dengan wajah cemas mereka. Tuan Kim menatap pasangan itu sekilas, lalu menarik Mija menjauh beberapa langkah. “Dengar! Minho sudah seperti putraku sendiri. Bagaimanapun, aku akan tetap ada untuk mendukungnya di barisan depan. Beri Minho kebebasan!” desisnya sebelum ia melangkah bergabung bersama pasangan Lee.

Choi Mija segera masuk ke dalam kamar rawat Minhee. Ia tidak mau pasangan Lee ikut-ikutan mengomelinya. Kepalanya sudah terlalu pusing untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bodoh yang telah menyerangnya sejak Minhee masuk rumah sakit.

Yeobo, bagaimana ini? Aku kasihan sekali pada Minho jika seperti ini keadaannya.” Nyonya Kim yang baru saja muncul dari toilet di ujung lorong segera menghampiri suamnya (suaminya). Wajahnya begitu cemas, ia meremas tas hitamnya.

Tuan Kim merangkul bahu istrinya. “Akan kupikirkan solusinya. Yang terpenting saat ini adalah menjauhkan Minho dari Minhee.” Terangnya.

Ketegangan yang menyelimuti mereka buyar begitu saja saat terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat menghampiri mereka. Seorang lelaki bermata bulat berlari sekuat tenaga, matanya liar mencari-cari sesuatu.

“Di mana Key?” tanyanya begitu saja. Sama sekali lupa bahwa seharusnya ia memberi hormat pada para tetua. Pikirannya terlalu kacau memikirkan apa yang akan dilakukan si mata rubah pada gadisnya.

“Minho-ya? Kau dari mana?” Tanya Tuan Kim. Ia mulai panik melihat Minho yang berlari seperti orang ketakutan, terlebih lagi ia mencari Key. Sesuatu yang tidak beres pasti tengah terjadi, batinnya.

“Di mana Key?” Minho menghiraukan pertanyaan Tuan Kim. Matanya semakin tak sabaran mencari-cari sosok Key yang ia yakini tengah menyandera Hyeri.

Jinki, lelaki itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tapi lantas ia menarik kesimpulan bahwa sesuatu yang tidak beres itu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk disimak. Ia kemudian menyenggol lengan Taemin.

“Oh! Tadi ia kutinggalkan di dekat lift bersama Hyeri Nuna.” Seolah mengerti dengan kode yang diberikan Jinki, Taemin segera melancarkan permainan.

“Minho-ya, apa yang-“

Tuan Kim tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena kenyataannya Minho segera melesat menuju ujung koridor. Saat itu juga, Jinki dan Taemin melangkah cepat mengikuti Minho. Membuat para tetua dan Nicole yang tertinggal di sana menjadi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada kalimat yang terucap saat mereka tergesa-gesa melangkahkan kakinya mengikuti Jinki dan Taemin.

***

Langkah mereka melambat saat melihat Jinki dan Taemin yang justru berbelok ke arah balkon. Nicole yang sedaritadi hanya diam -mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi- mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Pikirannya akan apa yang ia lihat dalam lift kembali muncul. Jantungnya seolah jatuh ke tanah setiap kali ia membayangkan bagaimana bibir Key menyentuh bibir gadis yang entah siapa itu.

Semua orang, bahkan kedua orang tuanya telah berbelok ke balkon, tapi Nicole justru semakin memperlambat langkahnya. Dari kejauhan ia bisa mendengar hembusan angin yang seolah mengatakan bahwa apa yang akan disaksikannya adalah sesuatu yang salah. Benar-benar salah dan ia tidak boleh melihatnya sama sekali.

Tap…tap…tap…

Nicole melangkah pelan saat menyadari tak ada seorang pun yang mengeluarkan suara. Ia melangkah menuju balkon, mendapati lelaki yang sangat dicintainya lagi-lagi mencium gadis yang ia yakini adalah si pilihan ketiga.

Nicole menahan nafas setiap kali bibir Key bergerak lambat pada gadis itu. Lantas kedua matanya menilik bagaimana Key mencengkeram kedua lengan si gadis di atas kepala, menghimpit tubuh mungil itu ke tembok seolah melakukan sebuah pemaksaan-yang entah bagaimana terlihat begitu romantis bagi Nicole. Tangan lainnya yang menggenggam ponsel digunakan untuk menumpu pada dinding. Membuat Key terlihat begitu manly, seperti dalam seri roman.

Nicole memalingkan wajahnya. Berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang ada di hadapannya hanya halusinasi.

Sementara itu Minho yang sempat kehilangan kesadaran beberapa detik segera bergerak. Ia tahu sahabatnya tengah dalam situasi yang sangat buruk. Dan lebih buruknya lagi, ia menjadikan Hyeri sebagai korban pelampiasan atas ketidakdewasaannya.

“Kim Kibum!!!” Minho melangkah gusar ke arah Key. Deru nafasnya yang penuh amarah terdengar hingga telinga Nicole –yang berdiri di barisan paling belakang. Ia menarik bahu kiri Key yang masih sibuk dengan wilayah jajahannya. “KAU GILA!!!” pekik Minho. Lalu tanpa berpikir lagi ia melayangkan tinju ke wajah Key.

Perkelahian tak bisa terhindarkan lagi. Key yang memang seorang berandal dan sabuk hitam itu dengan mudah naik darah. Sepertinya ia masih belum sadar bahwa kedua orang tuanya tengah menyaksikan betapa berandal dirinya.

Seolah satu pikiran, Jinki dan Taemin yang berdiri di barisan depan itu hanya diam menyaksikan baku hantam si sabuk hitam dan sahabatnya. Kedua tangan mereka bersidekap, seolah sedang menyaksikan adegan dalam film-film super hero.

***

Key menekan handuk tipis berisi bongkahan es pada luka di sudut bibirnya. Lebam di wajahnya akibat berkelahi beberapa waktu lalu, ditambah tinju dari si pelayan café masih belum lenyap. Kini wajahnya makin tak karuan akibat serangan dari Minho.

Rubah tua yang duduk murka di hadapannya kembali menarik nafas dalam -entah untuk yang keberapa kalinya. Seolah dengan tarikan nafasnya ia baru saja menghajar rubah di hadapannya. Ia meneguk lagi air mineral dalam gelasnya. Habis dalam satu tegukan.

Say, jadi ini gadis yang kau maksud?” tanyanya.

Key melirik Hyeri yang duduk tertunduk di sampingnya, lalu melirik Appa-nya yang masih murka.

“Aku kan sudah mengatakannya di dalam lift, kenapa Appa menanyakan lagi hal yang sama?”

Tuan Kim kembali menarik nafas dalam, suaranya lebih berat dari yang sudah-sudah. Ia memejamkan mata sambil mengepalkan tangannya. Berusaha menahan diri untuk tidak menghajar putranya di tempat umum.

“Sudah menentukan tanggal?” tanyanya lagi.

Ia melirik gadis berambut sebahu yang masih menundukkan kepalanya. Ia yakin, gadis itu sedikit banyak mengalami shock atas apa yang baru saja dilihatnya. Bagaimana bisa gadis yang terlihat baik-baik ini jatuh cinta pada lelaki berandalan dan urakan seperti putranya? Batin Tuan Kim.

Hyeri mengangkat kepalanya, menatap Tuan Kim seolah ingin mengatakan sesuatu. Mulutnya sudah setengah terbuka, tapi gadis itu kembali mengatupkan mulutnya. Diam seolah tengah merenungi dosa.

“Belum.” Jawab Key santai. Ia meraih gelasnya yang berisi jus jeruk, lalu meneguknya.

Tuan Kim kembali menarik nafas dalam. Bahkan ia menyandarkan punggunya pada sandaran kursi sambil mengelus dadanya penuh kesabaran. Nyonya Min yang sedaritadi hanya duduk di sampingnya segera melambaikan tangan pada seorang pelayan. Meminta lagi air mineral.

“Lalu, apa rencana kalian?”

Pertanyaan Tuan Kim serta merta membuat Hyeri terbelalak. Ia menatap Tuan Kim dan Key bergantian, seolah hendak melakukan perlawanan. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu saat Key mendahuluinya secara sarkastik.

“Sebenarnya aku ingin mengajukan satu tanggal pada akhir musim panas, hanya saja aku baru memikirkan ini seorang diri.” terang Key. Membuat Hyeri nyaris berteriak gila.

“Sebutkan!” ucap Tuan Kim tenang. Ia meneguk air mineral-nya setelah seorang pelayan datang membawakan segelas air mineral ke hadapannya.

Key tersenyum puas, seperti seekor rubah yang berhasil mendapatkan mangsa dalam jebakan yang ia pasang. Ia meneguk air mineral dalam gelasnya sampai habis, lalu meraih tangan Hyeri. “27 Agustus.”

Hyeri terkejut bukan main. Rubah ini memang tengah merusak masa depannya. Tanggal 27 Agustus? Bukankah itu kurang dari dua minggu lagi? Batin Hyeri. Ia menggeleng keras, suaranya tidak bisa keluar karena terlalu terkejut.

Tuan Kim mengangguk pelan. “Persiapan akan dilakukan mulai besok. Bersiaplah!” tegasnya. Ia meneguk lagi air mineralnya sampai habis. Melirik Hyeri sekilas, menyembunyikan senyum bahagianya sebelum akhirnya beranjak begitu saja diikuti istrinya.

Key dan Hyeri berdiri bersamaan, membungkukkan tubuhnya di hadapan pasangan Kim yang berlalu. Hyeri menatap nanar punggung pasangan Kim, kakinya ingin sekali melangkah, mengejar mereka dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi jika saja bayangan hutang dua puluh juta won itu tidak terbit dalam pikiran kacaunya.

Serta merta apa yang diucapkan Key pada Minho saat di balkon kembali berdengung di telinganya.

“Uang itu tidak penting, Minho-ya. Yang penting adalah ketepatan waktu dan keberuntungan.”

Key benar! Uang itu tidak penting –setidaknya bagi Key yang berlimpah harta. Yang terpenting adalah ketepatan waktu dan keberuntungan. Jika saja Key tidak menawarinya pinjaman di waktu yang tepat, mungkin Jaesun telah berakhir menyedihkan. Dan jika saja ia tidak beruntung bertemu Key hari itu, mungkin saja Jaesun…

Hyeri menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha mengenyahkan pikiran yang semakin membuatnya kacau.

“Kau tidak terkena gangguang jiwa mendadak kan, Miss?” pertanyaan Key membuyarkan pikiran Hyeri. Lelaki itu menyentuh kening Hyeri dengan telunjuknya, membuat Hyeri menghentikan gelengan kepalanya.

Hyeri memberenggut kesal. Tidak percaya Key masih bisa mengatakan hal tidak menyenangkan seperti itu. Padahal, jelas-jelas ia telah mengatakan tanggal pernikahan bodohnya. Bisa-bisanya takdir menikahkannya dengan lelaki macam Key.

“Kau mau terus berada di sini, ya?” tanya Key lagi. Kedua matanya berkeliling mengamati restoran yang tidak terlalu ramai tempat mereka berada. “Oh! Jangan-jangan kau berpikiran untuk mencari pekerjaan sebagi waitress di sini ya, Miss?” celetuknya lagi. “Nah kuberitahu,” Key menatap Hyeri, membungkukkan sedikit tubuhnya agar bisa mensejajarkan wajah mereka. Lalu ia berbisik. “Karena kurang dari dua minggu lagi kau akan menjadi istri Kim Kibum, maka lupakan jenis pekerjaan rendahan seperti ini. Sebaiknya kau mulai belajar bagaimana menjadi wanita kaya yang penuh karisma.” Ia lalu terkekeh pelan sambil kembali menegakkan tubuhnya.

Key berbalik dan –tanpa memedulikan Hyeri- berjalan menuju pintu. Ia masih terkekeh, sepertinya puas dengan apa yang baru ia ucapkan saat teriakan Hyeri menahan langkahnya.

“YAAA KIM KIBUM!!!! SIAPA YANG MAU MENIKAH DENGANMU? BAHKAN DALAM MIMPI PUN SEHARUSNYA KAU TETAP BERHARAP ITU BISA TERJADI!!!”

Hyeri berteriak menyuarakan amarahnya. Tak peduli jika seluruh pasang mata yang ada di restoran kelas atas itu memandang rendah padanya. Toh ia sudah cukup dibuat rendah oleh si mata rubah.

“KAU!!! KAU ORANG GILA!!!” teriak Hyeri lagi. Lalu kedua matanya liar mencari-cari sesuatu. Kaki pendeknya melangkah menuju salah satu meja terdekat yang ditempati sepasang kekasih. Serampangan, ia meraih gelas berisi air mineral dan kembali melangkah mendekati Key.

Hyeri pikir ia telah mengambil segelas air mineral, tapi karena amarahnya yang bercampur rasa terlanjur malu itu membuatnya salah mengambil gelas. Ia baru menyadarinya saat cairan berwarna kekuningan itu telah tumpah di atas kepala Key dan membasahi wajahnya.

Key memejamkan mata kesal saat tetesan air lemon itu membasahi wajahnya. Membuat luka-lukanya berdenyut. Ia bisa merasakan semua mata tertuju padanya. Memalukan! Mana bisa seorang Kim Kibum diperlakukan seperti ini? Terlebih lagi oleh seorang mantan pelayan café.

Key merogoh saku jaket baseball-nya, mengambil saputangan dan segera mengusap wajahnya. Ia menatap Hyeri dengan seringai tajam, lalu mendesis. “Kau tahu apa yang sedang kau lakukan, Miss?”

“Kau ingin aku melakukan yang lebih dari ini? Kau menikmatinya?” tantang Hyeri. Meski nafasnya menderu dan dadanya naik turun menahan amarah. Tapi, perlu ia akui bahwa ia cukup menikmati aksinya barusan.

Seorang pelayan menghampiri Key sambil membawa tumpukkan tissue. “Tidak usah! Dia pacarku, kami sedang bertengkar.” Sergah Key saat si pelayan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Hyeri. Si pelayan menjauh dari Key sambil membungkukkan tubuhnya.

Hyeri masih mengamati Key yang kembali menyeka wajahnya dengan saputangan. Lalu matanya tertuju pada segelas jus lemon lain yang tengah dibawa seorang pelayan. Ia mengejar pelayan yang berada beberapa meter di dekatnya, meraih gelas itu serampangan hingga isinya sedikit tumpah. Ia lalu kembali melancarkan aksinya, mendekat ke arah Key dan bersiap menumpahkan lagi jus lemon saat tangan Key bergerak lebih cepat dan menahan pergelangan tangannya.

Key menyeringai. “Kau ingin permainan yang lebih menegangkan dari yang ini?” tanyanya sinis.

Hyeri berusaha melepaskan cengkeraman Key, tapi tak ada hasil. Lelaki itu benar-benar membuatnya jengkel bukan kepalang.

Key meraih gelas dengan tangan lainnya, lalu meneguknya cepat sampai habis. “Excuse me, Miss. Tapi permaiananmu tidak ada apa-apanya untukku.”

Lalu tanpa perasaan ia meraih pinggang Hyeri. Tangan lainnya yang masih menggenggam gelas menarik kepala Hyeri agar mendekat. Menekannya kuat-kuat saat ia memiringkan kepalanya dan akhirnya bibir mereka bersentuhan.

Key bisa merasakan perubahan atmosfir di sekelilingnya. Ia memejamkan kedua matanya. Dirinya terus memaksa Hyeri untuk merasakan rasa lemon di bibirnya, meski gadis itu hanya diam menerima serangan-serangan Key. Key tahu, Hyeri bukannya tidak bisa melawan. Hanya saja gadis itu terlalu kuno dalam hal percintaan. Dengan mudah Key bisa membuat tiga kesimpulan. Pertama; Hyeri mungkin belum pernah berpacaran sebelumnya. Kedua; kalaupun Hyeri sudah pernah memiliki kekasih, Key yakin lelaki itu tidak pernah menyentuh Hyeri entah untuk alasan apa. Dan yang ketiga; Meski mungkin Hyeri pernah merasakan ciuman, tapi gadis itu tidak bisa menolak ciuman dari lelaki sesempurna dirinya.

 Key terus memaksa Hyeri merasakan dirinya dan tetap tak ada hasil meski ia telah berinisiatif menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Hyeri tetap kaku di tempatnya, terbelalak seperti orang bodoh untuk yang kesekian kalinya.

Satu…dua…tiga…

Hyeri bisa merasakan atmosfir restoran yang awalnya tegang menjadi lebih hangat. Ia bisa merasakan tatapan para pengunjung restoran yang seolah menginginkan adegan romantis lain terjadi di depan mata mereka. Tapi Hyeri, dirinya benar-benar seperti orang tolol yang jatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Terhitung tiga kali si mata rubah mendaratkan ciuman paksa padanya hari ini. Dan lagi-lagi ia hanya bisa diam tak beraksi seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

Hyeri mendorong dada Key kuat-kuat saat ia kehabisan nafas. Ia tersengal sambil menundukkan kepala. Wajahnya merah bukan main dan ia benar-benar tidak punya kekuatan bahkan untuk menatap si mata rubah. Ia masih menundukkan kepalanya, berniat untuk lari begitu saja. Tapi si mata rubah masih mencengkeram pinggangnya, Hyeri bahkan bisa merasakan bahwa lelaki itu tengah menatapnya, menunggunya bertemu pandang.

“Ini jauh lebih menyenangkan bukan, Miss? Kau bisa merasakan lemonnya?” bisik Key. Ia tersenyum kecil. Senyum yang sama seperti saat pertamakali ia mencium Hyeri.

Mau tak mau Hyeri menatap Key, rasa malunya menguap begitu saja dan tergantikan dengan luapan amarah. Rupanya Key menikmati permainan ini. Orang kaya yang mempermainkan orang miskin untuk kesenangannya.

Key masih tersenyum menatap Hyeri. Sebenarnya lelaki itu merasa senang karena entah mengapa apa yang baru saja ia lakukan membuat dadanya berdebar kencang dan yang paling penting adalah membuatnya merasa bahagia.

“BRENGSEK!!!”

Senyuman di wajah Key menguap saat sebuah tamparan mendarat cantik di pipi kirinya.

Hyeri memaksa untuk lepas dari cengkeraman Key. Gadis itu mundur dua langkah, menunduk sesaat sebelum kembali menegakkan kepalanya menatap Key penuh keberanian.

“Kau! Kau lelaki yang paling kubenci di dunia ini! Dan kau…” Hyeri mulai terisak. Air matanya jatuh tak terbendung. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh lelaki brengsek yang muncul dalam hidupnya. “Kau akan membayar semua ini, Kim Kibum!” desisnya. Lalu ia berlari meninggalkan kekacauan dalam restoran.

***

Tuutt…tuutt…tuutt…

Nada sambung itu terdengar untuk kesekian kalinya di telinga Hyeri. Begitu memuakkan! Dilemparnya ponsel itu ke samping tubuhnya. Mengumpat sambil kembali meraih tissue yang berserakan di sekitarnya untuk menyeka air mata.

Setelah kejadian paling memuakkan di restoran tempo hari, si mata rubah tak henti mengikuti hidupnya. Lelaki itu menghubunginya terus-menerus, bahkan datang ke rumahnya tanpa pemberitahuan, membawa banyak hadiah untuk Jaesun dan Jaehwa. Benar-benar licik!

Lelaki itu bahkan terus-menerus mengetuk pintu kamar Hyeri, memaksanya untuk bertatap muka dan membicarakan pernikahan konyol yang katanya telah mulai dipersiapkan.

Tok…tok…tok…

Ketukan itu menambah buruk mood Hyeri. Ia mendengus, melirik tanpa gairah ke arah pintu sambil mengeluarkan ingus dengan tissue. Lalu kembali meratapi nasibnya, sama sekali tak tertarik menyahuti si pengetuk pintu yang entah siapa.

Tok…tok…tok…

Ketukan itu terdengar lagi. Dengan jeda dan irama yang sama. Hyeri kembali mendengus, tahulah sudah siapa yang tengah berdiri di balik sana. Hanya dalam waktu dua hari Hyeri sudah bisa menghafal jeda dan irama ketukan pintu memuakkan dari si mata rubah. Benar! Ketukan itu seharusnya terdengar santai dan nyaman, seolah menggambarkan bahwa si pengetuk pintu adalah sosok penyabar yang penuh wibawa. Seolah mengetuk pintu untuk membawa kabar gembira. Tapi nyatanya, ketukan itu lebih terdengar seperti bunyi ketukan iblis di telinga Hyeri.

“Berhenti mengetuk pintu dan pergilah! Aku tidak akan menikah.” Hyeri akhirnya menyahut. Ia segera beranjak untuk mengunci pintu karena tahu si mata rubah akan segera menerobos masuk ke kamarnya. Tapi ia terlambat, lelaki itu telah lebih dulu membuka pintu.

Kim Kibum, di penghujung musim panas ini ia mengenakan celana pendek sebatas lutut berpola garis horizontal dengan warna putih, biru tua dan abu, dipadukan t-shirt bercorak sejenis berwarna putih-abu. Ia menambahkan cardigan putih dengan pola garis horizontal biru tua dari seperempat bagian lengan atas hingga batas pusarnya. Lelaki itu melangkah sambil melepas bowler putihnya. Lalu duduk di tepi ranjang sempit itu, menatap serakan tissue.

Ia melonggarkan bagian dada bajunya, sambil meniupkan udara dari mulut. Keningnya meneteskan peluh. “Hei, Miss, apa semalam terjadi bencana alam?” tanyanya dan sukses membuat Hyeri mengerutkan dahi.

“Aku tidak mau menjawab pertanyaannmu!” jawab Hyeri ketus. Selain ketukan pintu, Hyeri tahu bahwa Key akan mempertanyakan hal-hal bodoh untuk membuka sebuah perbincangan serius.

Si mata rubah mengernyit miris. “Lalu, kenapa kau menangis? Orang yang menangis seperti ini biasanya baru saja mengalami bencana alam dan kehilangan banyak harta berharganya.” Terang Key santai.

Lelaki itu beranjak menuju meja belajar di sudut ruangan dekat jendela. Meraih gelas dan mengucurkan air dari water pitcher. Ia melibas isinya dalam sekali teguk, lalu kembali menuangkan air dan bersandar pada jendela.

“Wanita yang akan menikah seharusnya tersenyum setiap hari. Lagipula, seharusnya kau segera memintaku untuk membelikanmu gaun pengantin yang mahal, Miss.”

Hyeri hanya melirik Key sekilas, menganggap ucapan Key sebagai angin lalu. Hyeri meraih ponselnya, hendak menghubungi satu-satunya orang yang seolah menghilang entah ke mana. Jarinya belum menyentuh tulisan ‘call’ saat Key kembali membuka mulut.

“Aku penasaran, sebenarnya ke mana si Choi Minho itu pergi, ya?” pertanyaan itu terdengar seperti pertanyaan yang ia tujukkan pada dirinya sendiri. “Hei Miss, kau tahu ke mana pangeran tampanmu itu pergi? Ini sudah hari ketiga sejak ia menghilang dan semua orang mulai gila.”

Hyeri menjauhkan jarinya dari tulisan ‘call’, apa yang diucapkan Key membuat hatinya melemah dan tubuhnya terasa lemas. Minho memang tidak bisa dihubungi sejak kejadian di rumah sakit itu, tapi benarkah lelaki itu menghilang begitu saja seperti yang dikatakan Key? Apa ini bagian dari rencana Key? Batin Hyeri.

“Seharusnya aku tidak cemas karena jika Minho tak ada, pernikahan kita akan berjalan lancar-“

“Berhenti bermimpi menikah denganku!”

“Hei! Hei! Hei! Kau lupa kenapa kau harus menikah denganku, Miss? Jangan pernah beranggapan bahwa alasannya adalah cinta. Kau sama sekali bukan tipeku.”

“Seharusnya kau mencari gadis tipemu!” Hyeri menekankan intonasi bicaranya pada kata ‘tipemu’.

Key beranjak dari sandarannya pada jendela, seperti seekor rubah yang baru saja melihat mangsa. Ia melangkah mendekati Hyeri dan kembali duduk di tepi ranjang. “Sudahlah! Sebaiknya kau merapikan dirimu.”

Sirheo!” Hyeri meraih bantal, menyembunyikan ponsel di bawahnya. Lalu meringkuk.

Key menatap sebal. “Jika kau tidak mau, mungkin aku akan membujuk Eomma untuk datang kemari. Bagaimana ya, aku sudah mengatakan siang ini calon menantunya akan datang.”

“Itu urusanmu, Tuan kaya!” Hyeri semakin menekuk kedua lututnya. Berusaha mengenyahkan pikiran buruknya mengenai Minho dan memutuskan untuk menghabiskan hari ini dengan tidur sepanjang siang hingga Key pergi.

Hyeri mulai memejamkan kedua matanya. Tidak memusingkan mengapa si mata rubah tiba-tiba bungkam. Seharusnya ada sesuatu yang tidak beres, tapi Hyeri terlalu sibuk memikirkan Minho. Ia terus mengira-ngira ke mana dan kenapa lelaki itu pergi tanpa kabar. Berbagai pemikiran buruk mengenai Minho muncul silih berganti. Dan yang terburuk adalah jika lelaki itu memang pergi begitu saja meninggalkannya. Tapi tidak mungkin! Minho bukan lelaki seperti itu!

Terdengar suara desahan nafas berat. “Baiklah, Miss. Sepertinya kau benar,” Hyeri membuka mata dan mendapati Key bangkit dari atas ranjang. Mata lelaki itu terlihat lebih kecil jika dilihat dari bawah seperti ini. “Seharusnya aku mencari gadis sesuai tipeku untuk dinikahi. Aku bisa saja sekarang juga mencari gadis itu dan membayarnya sebesar dua puluh juta won agar mau melakukan pernikahan kontrak. Jyaa, aku akan mencari gadis itu,”

Key berbalik dan jujur saja itu membuat Hyeri takut. Takut karena Hyeri tahu ada yang tidak beres dengan Key. Tapi Key kembali berbalik bahkan sebelum ia menjauh satu langkah pun. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Hyeri.

“Tapi dua puluh juta won ku yang berharga itu ada padamu, Miss. Nah, berikan uang itu agar aku bisa membayar gadis tipeku.”

Hyeri terbelalak tak percaya. Ia bahkan bisa melihat tarikan bibir kiri Key yang menciptakan senyum kemenangan paling menjengkelkan yang pernah ada. Hyeri bangkit seketika, berdiri tepat di hadapan si mata rubah. Tak peduli saat wajah mereka hanya sebatas dua jari, karena hatinya mulai dag dig dug memikirkan si dua puluh juta won. Pikirannya kembali melayang pada Jaesun dan rasa takut yang menderanya saat itu. Mimpi buruk itu seolah kembali terjadi.

Key mengembangkan senyumnya, ia lalu menarik pinggang Hyeri, membelai wajah gadis itu. “Nah, kurasa Ibu mertua tidak akan suka jika menunggu terlalu lama.” bisiknya santai.

Seketika itu juga Hyeri beranjak, menjauhkan dirinya dari Key dan mulai berlari ke sana kemari seperti orang linglung. Ia menyambar keranjang sampah di dekat meja belajar, lalu menyapu tissue-tissue yang berserakan di atas ranjang ke dalamnya. Ia mulai membuka lemari pakaian setelah melempar keranjang sampah ke tempatnya semula. Dalam hitungan detik mulai mengacak-acak isinya.

Key kembali duduk di tepi ranjang, menjadikan Hyeri sebagai tontonan musim panasnya dan itu cukup menghibur.

Sudah nyaris tiga puluh menit berlalu dan Hyeri tak mendapatkan pemecahan untuk masalahnya yang satu ini. Ia sama sekali tidak punya pakaian yang menurutnya pantas untuk ia gunakan. Ia mendengus, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot ke lantai. Sekonyong-konyong kotak berwarna kecoklatan itu tertangkap bola matanya. Sorot matanya meredup, ia kembali teringat akan Minho.

Key yang menyadari hilangnya suara kasak-kusuk dari Hyeri beranjak, melangkah sambil mencaritahu apa yang membuat Hyeri membeku seperti orang bodoh. Kotak berwarna kecoklatan yang sepertinya tidak asing di mata Key. Ah! Ia ingat! Kotak itu pemberian Minho. Berisi pakaian yang digunakan gadis itu pada ulang tahun Minhee. Key juga ingat hari di mana Hyeri membawa kotak itu saat menemuinya. Saat gadis itu menghentikan satu ciumannya dengan kotak bodoh itu. Serta merta Key merasa tidak nyaman, ia merasa kotak itu bagaikan Minho yang tengah berdiri memeluk Hyeri di hadapannya. Berusaha melindungi gadis itu dari rencananya.

Key berjongkok di samping Hyeri, lalu meraih kotak itu. Ia menarik dress berwarna ungu pucat itu di depan matanya, meniliknya baik-baik.  “Ck! Kau akan membuatku malu jika berpikiran untuk memakai ini di depan Eomma,” lalu dress itu dihempaskannya begitu saja ke dalam kotak. “Kupilihkan dress yang lebih bagus dari ini. Berhentilah memasang tampang seperti orang bodoh!”

Key bangkit, meraih bowler-nya di atas ranjang lalu berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. “Kau punya waktu lima belas menit, Miss. Aku akan menunggu di bawah.” Lalu melangkah dan menutup pintu kamar.

Hyeri kembali terbelalak dengan tingkah Key. Semakin hari lelaki itu semakin aneh dan Hyeri sama sekali tidak bisa memahami jalan pikirannya. Hyeri lalu mendesah, benarkah ia akan menikah dengan lelaki seperti itu? Batinnya. Lalu ia merapikan dress yang tadi dihempaskan Key. Kembali menyimpannya dengan apik ke dalam kotak.

***

Hyeri hanya perlu waktu sepuluh menit untuk mengganti pakaiannya dengan denim yang masih lumayan bagus dan kemeja lengan panjang abunya. Ia mengikat rambutnya yang mulai panjang, lalu meraih tas selempangnya. Ia melangkah menuruni tangga tanpa semangat. Ini terlalu berat baginya, terlebih lagi seluruh anggota keluarganya terlanjur terpesona oleh Key dan mengiyakan begitu saja saat Key mengatakan mereka akan menikah. Hyeri berharap Eomma-nya akan sedikit saja mencium ketidakberesan dari kejadian-kejadian ini. Tapi hingga hari ini, Eomma-nya tak mengatakan apa pun selain pertanyaan mengenai pernikahan.

Gelak tawa terdengar dari ruang tengah, suara televisi -yang Hyeri yakini tengah menayangkan siaran musik- terdengar begitu keras. Hyeri melangkah lebih cepat, lalu melongok ke ruang tengah. Mendapati Jaesun dan Jaehwa tengah duduk di sofa lusuh mereka, wajah mereka serius melihat Key.

“Wah! Hyung bisa karate, ya? Ajari kami, Hyung!” Jaehwa terlihat berapi-api.

“Karate hanya boleh digunakan untuk melindungi gadis yang kau suka.” Terang Key. Membuat Hyeri mendengus. Bisa-bisanya lelaki itu menebar pesona pada adik-adiknya.

“Jadi, Hyung pernah melindungi Nuna dengan karate? Hyung daebak!!!” Teriak Jaesun. Anak itu berusaha menahan diri untuk tidak bangkit dan bersorak riang karena kondisinya belum sembuh total.

Hyung, apa jangan-jangan Nuna jatuh cinta pada Hyung saat Hyung melindunginya dengan karate, ya?” lontar Jaehwa. Membuat Hyeri membeku di ambang pintu.

Tiba-tiba saja kejadian malam itu kembali terputar ulang dalam kepala Hyeri. Kejadian di mana hidupnya nyaris saja berantakan karena lelaki brengsek yang berusaha memperkosanya. Jika saat itu Key tidak datang. Ya Tuhan! Seketika Hyeri meremas tali tas selempangnya, seolah berusaha melindungi dirinya sendiri.

Hyung! Hyung harus ajari kami karate juga agar kami bisa melindungi gadis yang kami sukai.” Pinta Jaehwa lagi, ia terlihat begitu bersemangat.

“Memangnya ada gadis yang kau suka?” tanya Key.

Nuna!” pekik Jaehwa. “Aku dan Jaesun hyung akan menggunakannya untuk mellindungi Nuna. Kami sangat mencintai Nuna. Iya kan, Hyung?” Jaehwa melirik Jaesun yang duduk di sofa, Jaesun mengangguk mantap.

Hyeri tersenyum, ia terharu mendengar ucapan adik kembarnya. Meskipun selama ini mereka hidup susah. Tapi dua anak lelaki itu sangat mencintainya dan bahkan ingin melindunginya. Sangat egois jika Hyeri berusaha melarikan diri dari kesempatan besar ini. Menikah dengan Key akan mengubah hidup keluarganya. Jaesun dan Jaehwa tidak akan menjadi pengantar koran dan susu lagi hanya untuk mendapatkan uang jajan tambahan. Eomma-nya juga tak perlu lagi berjualan daging dan sayur hanya untuk melanjutkan hidup. Tidak apa jika ia harus mengorbankan cintanya, bayarannya setimpal.

Key masih tertawa saat matanya menangkap kehadiran Hyeri di ambang pintu. “Nah! Lihat Nuna kalian! Aku sudah sekeren ini, tapi ia hanya berdandan seperti itu.” Celetuk Key. Membuat si kembar segera menoleh ke arah pintu.

Lamunan Hyeri buyar. “Kalian sedang apa?” ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

Nuna, kalian mau kencan, ya?” tanya Jaehwa polos.

Hyeri memutar bola matanya. “Nuna akan pergi sebentar. Jaga Hyung-mu baik-baik, bantu Eomma menjaga rumah. Ara?”

Arasseoyo.” Jaehwa menaruh tangan kanan di dekat keningnya dengan posisi seperti memberi hormat pada Hyeri.

“Jyaa, baik-baiklah!” Key mengacak rambut si kembar bergantian.

Hyeri dan Key berjalan beriringan menuju pintu depan. Tak ada sepatah katapun yang terucap hingga keduanya masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah Hyeri.

***

Hyeri duduk kaku di tempatnya, bahkan ia merasa ragu untuk menggerakkan kakinya yang terasa pegal. Kepalanya terus menunduk menatap Sashimi yang tersaji di atas piring bundar di hadapannya. Ia tidak merasa lapar, tapi hanya itulah satu-satunya objek yang bisa ia pandangi untuk menghilangkan rasa tegangnya.

“Sepertinya Min Hyeri-ssi ini gadis yang pemalu, ya?” suara lembut itu membuyarkan lamunan Hyeri. Mau tak mau ia mengangkat wajahnya dan menatap Nyonya Kim yang duduk di hadapannya.

Eomma jangan menanyainya terlalu banyak pertanyaan! Dia itu gadis yang pikirannya susah berjalan cepat!” dengan mulut dipenuhi Sashimi, Key mengatakan hal yang membuat Hyeri jengkel bukan kepalang.

Nyonya Kim menepuk lengan kiri Key. “Mana bisa kau mengatakan hal seperti itu, Beomi-ya?”

Hyeri hanya bisa menatap si mata rubah kesal. Oh! Bahkan lelaki itu seperti sedang berada di rumahnya sendiri, makan seperti orang gila. Ia juga sudah menghabiskan nyaris dua botol Sake.

Saat ini mereka berada di sebuah restoran Jepang. Di mana setiap pelanggan memiliki ruangan pribadi untuk menyantap hidangan yang dipesan. Ruangan dengan shoji dan tatami, di mana para pengunjung duduk menggunakan bantal seperti di Jepang. Pelayan akan mengetuk pintu sebelum menghidangkan makanan ke atas meja.

“Min Hyeri-ssi, kurasa kau sudah paham sifat Beomi. Dia memang sering mengatakan hal tidak menyenangkan. Tapi kuharap setelah menikah ia akan berubah.” Terang Nyonya Kim ramah.

Hyeri hanya tersenyum, tadinya, ia ingin mengatakan bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah kepalsuan. Tapi, melihat Nyonya Kim yang begitu antusias akan pernikahan ini. Hyeri tidak mau dibenci karena telah meminjam uang dan merusak kebahagiaan wanita paruh baya yang tidak ia kenal ini.

“Min Hyeri-ssi, aku senang sekali Beomi benar-benar membawamu ke hadapan kami. Kau cantik sekali!” Puji Nyonya Kim entah untuk yang keberapakalinya. Ia tak bosan menatap Hyeri.

“Ini karena make up.” Jawab Hyeri. Ia memaksakan seulas senyum.

“Tapi kau benar-benar cantik!”

Eomma, kalau dipuji terus otaknya akan berjalan lebih lambat. Ganti topik saja!” celetuk Key.

Nyonya Kim sempat memelototi Key sebelum ia kembali menatap Hyeri. “Min Hyeri-ssi, aku tidak mempermasalahkan apa pekerjaanmu dan latar belakang keluargamu. Aku mendukung pernikahan kalian jika itu berlandaskan cinta. Cintalah yang terpenting dalam hal ini. Tapi kurasa, kau harus ikut denganku sebelum bertemu dengan anggota keluarga yang lain. Aku akan memberitahumu beberapa hal yang harus kau pelajari.”

Tubuh Hyeri semakin menegang, inikah yang dimaksud Key dengan belajar menjadi seorang wanita kaya? Apa ini ada hubungannya dengan etika, tata krama, cara berjalan, berbicara, dan ya Tuhan! Hyeri mulai mempertanyakan apakah ia akan menikah atau menjadi Miss Korea?

“Ye, Eo-“ Hyeri Manahan kalimatnya.

Lalu Nyonya Kim tertawa renyah. “Aigo! Lucu sekali. Kau boleh memanggilku Eomma mulai sekarang jika kau mau.”

Hyeri melirik Key, lelaki itu masih melahap Sashimi dan bahkan ia telah meraih piring milik Eomma-nya. Meski begitu, Hyeri bisa menangkap seringai di wajahnya. Lelaki itu seolah mengatakan bahwa ini adalah sebuah keberuntungan bagi Hyeri.

“Ye, Eomma.” Hyeri menundukkan kepalanya. Ya Tuhan! Mengapa ini membuatnya begitu tegang? Semuanya terasa begitu nyata bagi Hyeri.

“Kalau begitu, makanlah! Oh! Kau mau memesan yang lain? Biar kupanggilkan pelayan “ Nyonya Kim hendak menggeser pintu shoji.

“Oh! Tidak usah, Eom-

Aigo! Tidak usah malu seperti itu, Min Hyeri-ssi. Ah! Aku senang sekali akhirnya aku punya anak perempuan.” Nyonya Kim lalu menggeser pintu shoji dan memanggil pelayan. Wanita itu menyebutkan beberapa menu yang bahkan tidak diminta Hyeri. “Makanlah yang banyak, kau terlihat kurus untuk ukuran gadis seumurmu.”

Hyeri tak bisa mengelak. Wanita itu terlalu senang dengan kehadirannya. Matilah jika ia berpikiran untuk mengatakan hal yang sebenarnya atau membatalkan pernikahan ini.

Eomma, apa ia menyenangkan?” tanya Key.

“Dia memang belum banyak bicara, tapi Eomma senang melihatnya tersenyum. Dia seperti…hemmm… seperti matahari.” Nyonya Kim melirik Hyeri lagi, membuat Hyeri tertunduk malu.

“Lebih menyenangkan dari Nicole?”

Nyonya Kim menepuk lengan kanan Key. “Mana bisa dibandingkan seperti itu!”

Hyeri mengangkat wajahnya, memandang Nyonya Kim dan Key bergantian. “Nicole?” tanyanya begitu saja. Rasanya nama itu pernah ia dengar, tapi ia tidak ingat.

“Eoh! Beomi tidak memberitahumu?” Wajah Nyonya Kim terlihat bingung. Hyeri tak menjawab. “Beomi-ya, kau tidak menceritakan tentang Nicole pada calon istrimu? Bagaimana jika ia salah paham?” kini ia bertanya pada Key.

Key meneguk lagi sake. “Nanti saja!” jawabnya tenang.

Hyeri kembali menatap Key. Meminta jawaban atas siapa itu Nicole. Tapi lelaki itu menunjukkan ekspresi sama terusiknya saat ia mengancam Minho di telepon tempo hari. Hyeri hanya diam, meneguk jus jeruknya, lalu mulai menyumpit irisan ikan salmon dalam piringnya. Pikirannya terus mengira-ngira, siapa Nicole dan apa hubungannya dengan Key. Selain Choi Minhee, apakah gadis bernama Nicole ini akan membuat hidupnya sulit? Batin Hyeri.

***

Lamunan Hyeri buyar saat seseorang menggeser pintu shoji. Si mata rubah muncul, berjalan mendekati Hyeri dan duduk di sampingnya. Ia baru saja mengantar Eomma-nya ke halaman restoran, wanita itu bersikeras pulang menggunakan taksi dengan alasan ingin membiarkan Key dan Hyeri berdua.

“Kuantar kau pulang.” Ucap Key saat Hyeri menahan tangan lelaki itu.

Key menautkan kedua alisnya. Sementara Hyeri segera bersujud di hadapan Key. Gadis itu melipat kedua kakinya ke belakang, menahan tubuh dengan kedua tangannya di atas tatami, lalu membungkukkan tubuhnya hingga keningnya menyentuh tatami.

“Kumohon, tidak bisakah kita membatalkan semua ini? Aku akan bekerja untuk mengembalikan dua puluh juta won mu.”

“Kau ini kenapa? Kau sudah melangkah sejauh ini. Plin plan sekali!” dengus Key.

Hyeri meraih kedua tangan Key dan meremasnya kuat. “Kumohon. Aku tidak siap masuk ke dalam keluargamu. Kau tahu aku ini bukan gadis pintar dan elegan, aku juga tidak akan siap menjadi wanita kaya. Aku hanya akan terlihat bodoh dan membuatmu malu. Jika kau melakukan satu kebaikan lagi padaku, aku akan mendoakanmu dalam setiap malamku agar kau diberi hidup paling bahagia.” Hyeri terus memohon. Ia benar-benar merasa takut untuk masuk ke dalam hidup Key.

“Kita akan bekerja sama, Miss. Aku membantumu mendapatkan uang dan kau membantuku mendapatkan kembali hidupku. Tak ada yang perlu kau takutkan.” Key berusaha menjelaskan. Tapi sia-sia. Hyeri justru terlihat semakin panik, bahkan Key bisa melihat kedua mata gadis itu seolah tak bisa lagi membendung air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Key terkekeh pelan. Melepas kedua tangannya dari genggaman Hyeri lalu balik menggenggam kedua tangan gadis itu. Key tidak mengerti, tapi melihat wajah si pelayan café yang seperti ini tiba-tiba saja menimbulkan getaran kecil dalam dadanya.

Listen,” Key menghentikan ocehan Hyeri yang masih memohon meminta semuanya dibatalkan. “Now close your eyes!” pinta Key.

Serta merta Hyeri memejamkan kedua matanya begitu saja. Hatinya yang merasa ketakutan sama sekali tak merasa si mata rubah akan melakukan hal yang buruk padanya. Suara lembut yang didengarnya seolah seperti sebuah bisikan dari langit, membawa kabar gembira.

Hyeri bisa merasakan kesunyian yang meliputi keduanya. Merasa waktu berhenti berputar hanya untuk ikut mendengarkan apa yang akan dikatakan Key.

And believe yourself.” Key melanjutkan. Dan lagi, entah mengapa ucapan Key membuat hati Hyeri bagaikan kepingan porselen yang tercecer di atas lantai, lalu bergerak satu persatu ke udara, kembali menyatukan diri mereka. Lama kelamaan membentuk hati yang begitu sempurna. Perlahan, hati itu semakin membesar, lalu berdetak dengan irama beraturan. “Listen to your heart,” bisik Key lagi.

Kini Hyeri merasakan dunianya menjadi sunyi. Hanya detakan jantungnya yang mendominasi. Detakan itu berirama indah, berdetak dalam jeda dan ketukan yang sama. Seolah memberitahu bahwa ini adalah kehidudapn sempurna dari hatinya. Lalu Hyeri menyadari bahwa ia memiliki hati-hati lain yang harus berdetak sesempurna miliknya. Dan keyakinan itu meneguhkan jalan yang tengah ia tapaki saat ini.

Hyeri merasa suara-suara lain mulai masuk ke dalam pikirannya. Seperti hembusan angin musim semi yang membawa aroma bunga-bunga. Ia merasa itulah yang akan didapatkannya di akhir nanti. Sebuah kebahagiaan. Lantas tanpa komando Hyeri membuka matanya. Mendapati Key tersenyum padanya. Bukan senyuman licik atau seringai rubah yang memuakkan. Tapi senyuman yang seolah mengatakan pada Hyeri agar ia mempercayakan segalanya pada Key.

I’m with you.” Bisik Key untuk terakhir kalinya sebelum ia mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Hyeri dan mengembangkan senyumnya sekali lagi.

***

Suara mesin mobil yang halus mendominasi atmosfir antara Key dan Hyeri. Adalah suatu hal yang tidak wajar karena keduanya tetap diam. Key yang biasanya akan merecoki Hyeri dengan kalimat-kalimat sarkasmenya kini terlihat seperti orang asing.

Sementara Min Hyeri tak henti menangis sejak keluar dari restoran. Bukan tangisan histeris yang dipenuhi cacian karena Key telah merusak hidupnya. Melainkan tangisan dalam diam yang penuh kesengsaraan. Ia terlihat begitu pasrah dengan apa yang akan dihadapinya.

Key meraih kotak tissue di dekat dashboard, lalu menyodorkannya ke arah Hyeri tanpa berkata apa pun. Hyeri melirik Key, tapi lelaki itu tak mengalihkan pandangan dari jalan di hadapannya. Lalu, Hyeri meraih beberapa lembar tissue, mengusap cucuran air matanya.

Begitulah selama beberapa menit perjalanan, hingga Key memutuskan untuk menghentikan mobilnya di dekat sebuah bar kecil bernama ‘Apple Crumble’. Ia rasa beberapa gelas bir akan membuat Hyeri lebih baik.

Tak sampai tiga puluh menit, keduanya keluar dari Apple Crumble. Hyeri bersikeras bahwa ia tidak suka alkohol, ia tidak suka rasa mual dan sakit kepala yang akan muncul jika ia minum banyak. Maka dari itu, ia memaksa Key untuk berjalan-jalan di sekitar bar. Tak banyak yang bisa mereka lihat di malam hari, terlebih lagi itu adalah wilayah pemukiman warga. Keduanya hanya berjalan menyusuri jalan setapak menuju entah ke mana.

“Menurutmu, apa teman-temanmu tidak akan mencurigai pernikahan ini?” Hyeri membuka pembicaraan.

“Tidak perlu cemas! Mereka bisa dibungkam dengan alkohol, kecuali si brengsek itu.” Nada bicara Key meninggi saat mengucapkan ‘si brengsek itu’.

“Si brengsek?” Hyeri menoleh.

Key menatap Hyeri sekilas. “Oh! Dia itu saudara sepupuku, namanya Kim Jonghyun. Tapi dia juga musuh besarku. Hei Miss! Kau harus hati-hati dengannya. Jika dia tahu rahasia ini, celakalah!”

Hyeri hanya mengangguk. Setelah menangis sepanjang jalan dan dalam bar, ia telah menguatkan dirinya dan memulai langkahnya mengikuti permainan Key. Ia memutuskan untuk mulai mengenal Key agar ke depannya ia tidak terlalu kesulitan.

“Lalu Nicole?” Tiba-tiba saja Hyeri teringat akan nama yang disebutkan Nyonya Kim siang tadi.

“Oh! Dia sahabatku sejak kecil.” Tanggap Key singkat. Lantas kedua matanya liar menjelajah sekitar, seolah mencari tempat untuk melarikan tatapannya dari Hyeri.

“Kalian sangat dekat? Maksudku, sedekat apa hubungan kalian? Apa kalian pernah saling jatuh cinta?” Hyeri menatap Key. Tapi lelaki itu terlihat enggan menjawab pertanyaan Hyeri. Baiklah, Hyeri tahu pertanyaanya terlalu pribadi. Tapi ia harus mendapatkan jawaban untuk membuat semuanya berjalan lancar. “Eomma-mu bilang aku akan salah paham. Apa kalian-“

“Tidak! Kami tidak pernah saling jatuh cinta!” Key berdeham lalu menatap Hyeri. “Kami sangat dekat. Hubungan kami seperti saudara. Kau tidak usah terkejut jika suatu hari dia datang dan tiba-tiba memelukku atau bermanja-manjaan padaku.”

Hyeri hanya mengangguk dengan mulut yang membentuk huruf O. Lantas keduanya diam, seolah kehilangan banyak topik yang sebenenarnya sudah ada dalam kepala mereka.

“Oh!” pekik Key tiba-tiba. Ia memandang sesuatu di belakang Hyeri. Lalu berjalan menuju sebuah mesin penjual minuman ringan di dekat sebuah gang.

Hyeri mengekor sambil memeluk tubuh dengan kedua tangannya. Meski ini musim panas, tapi dress abu yang diberikan Key terlalu minim. Bagian atas yang terbuka serta panjang bagian bawah yang sama sekali tidak mencapai lutut membuat Hyeri kedinginan. Bodoh! Seharusnya tadi ia memaksa Key membelikannya cardigan atau jaket kalau-kalau hal seperti ini terjadi.

Key menyodorkan sekaleng minuman soda rasa lemon saat Hyeri tiba di hadapannya. Hyeri bersandar pada dinding gang, menatap kaleng soda bertuliskan ‘Lemon’. Ia terkekeh, tiba-tiba saja ia teringat kekacauan di restoran. Benar! Ia ingat bagaimana rasa ciuman itu. Tapi jika boleh jujur, ciuman di restoran itu bukan ciuman paksa seperti yang sebelumnya. Hyeri tidak mengerti, tapi ia merasa ciuman Key hari itu berbeda. Seperti ada seorang pangeran yang masuk ke dalam tubuh lelaki itu, lalu memberikan ciuman rindu pada sang putri.

Hyeri mendengus geli. Bisa-bisanya dia memikirkan hal itu di saat seperti ini. Key memang akan menikahinya, tapi jangan pernah berharap akan ada cinta. Ciuman-ciuman itu hanya bagian dari permainan dan sebaiknya Hyeri tidak mengenang atau menyukai salah satu dari sekian ciuman yang telah ia dapat. Hyeri menggelengkan kepalanya, lalu memutuskan untuk menempelkan kaleng minuman ke wajahnya yang mulai terasa memanas karena pikiran anehnya barusan. Dingin yang menjalari pipinya membuatnya nyaman, hingga tak sadar ia memejamkan kedua matanya.

“Kau mau tidur di sini, Miss?”

Pertanyaan itu merusak apa yang tengah Hyeri nikmati. Ia membuka matanya, mendapati Key melempar kaleng kosong ke tempat sampah dekat mesin penjual minuman. Lelaki itu berjalan ke hadapan Hyeri.

“Ayo kita pulang! Sepertinya akan turun hujan.” Key memeluk tubuh dengan kedua tangannya sekilas, sementara matanya menatap langit musim panas yang terlihat lebih gelap dari biasanya.

Hyeri tak menyahut dan segera berjalan di depan Key sambil kembali menempelkan kaleng minuman di wajahnya. Ia menoleh saat merasakan sesuatu membuat bagian atas tubuhnya terasa hangat. Cardigan putih dengan salur horizontal biru itu telah menyampir di kedua bahunya. Sesaat ia dan Key saling berpandangan. Key tak mengatakan apa pun dan berjalan mendahului Hyeri.

Hyeri tidak mengerti mengapa si mata rubah tiba-tiba menjadi manis seperti ini. Apa karena lelaki itu takut dirinya akan melarikan diri membawa dua puluh juta wonnya? Hyeri menggeleng, bersamaan dengan senyuman yang tersungging di wajahnya. Satu hal lagi yang ia tahu tentang Key, bahwa meski lelaki itu kasar, ia tetap memiliki sisi lembut dari hatinya. Hyeri ingat malam itu, si mata rubah menggunakan kemeja untuk melindunginya. Hyeri berjalan lebih cepat hingga langkahnya sejajar dengan si mata rubah.

“Key, apa aku bisa mempercayaimu?” tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari mulut Hyeri. Hyeri jelas tidak paham betul mengapa ia menanyakan hal itu pada lelaki yang paling ia benci. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang seolah mengatakan bahwa Hyeri harus memiliki sebuah pegangan dalam permainan ini.

Key berhenti melangkah -diikuti Hyeri- lalu membalikkan tubuhnya hingga ia dan Hyeri berhadapan. “Kau berbicara tentang pernikahan?” Tanya Key serius.

“Katakan saja apa aku bisa mempercayaimu atau tidak?” Hyeri terlihat tak sabaran. Baginya, jawaban Key kali ini akan sangat berpengaruh pada keberlangsungan hidupnya setelah mereka memulai permainan ini. Jika permainan ini begitu berharga bagi Key, maka lelaki itu harus memenangkannya. Dan jika ia harus menang, maka artinya ia harus memiliki Hyeri sebagai senjatanya. Dan senjata harus dijaga dengan baik.

Hyeri ingin melihat seberapa serius Key dalam permainan ini. Jika ia memang serius, maka Hyeri tidak perlu cemas karena Key pasti akan menjaganya hingga permainan ini usai dan keduanya mendapatkan apa yang diinginkan.

Key tersenyum kecil, menyadari sesuatu saat cahaya lampu jalan menerpa wajah Hyeri. Ia melepas bowler putihnya, lalu memakaikannya pada Hyeri. Terkekeh singkat saat bowler itu menutupi kedua mata Hyeri. Ia merapikannya sedikit agar Hyeri tetap bisa melihat. “Mereka tidak akan menyadari kalau matamu bengkak.” Bisiknya lalu berbalik dan hendak kembali melangkah saat kalimat Hyeri menahannya.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku!”

Key diam beberapa saat sebelum berbalik dan kembali menghadap Hyeri. Ia kembali menatap Hyeri, menatap sepasang mata sayu dan wajah yang kemerahan itu. Tiba-tiba saja ia melangkah lebih dekat, seiringan dengan tangannya yang menyentuh wajah Hyeri. “Aku sudah mengatakan bahwa aku bersamamu, Miss.“ Matanya kembali menjelajahi wajah Hyeri yang diterpa cahaya lampu jalan. Bibirnya tertarik, menghasilkan senyuman kecil. “Aku akan memastikan tidak ada apa pun yang akan menggoresmu walau seujung jari,” lanjut Key. Tangannya mengusap pipi dingin Hyeri, bersamaan dengan wajahnya yang tiba-tiba saja mulai mendekat. Key tidak mengerti, tapi jantungnya mulai berdebar tak karuan dan ia merasa wajahnya memanas. Hyeri diam, lalu mulai memejamkan kedua matanya, membuat Key terhenyak karena gadis itu memberikan respon yang berbeda dari biasanya. Key terus mendekat dan tak ada perlawanan dari Hyeri. Gadis itu seolah menunggu Key melakukan apa yang ingin dilakukannya. Seolah sentuhan kecil itu akan menjadi persetujuan tak terucap antara mereka.

Key terus mendekat dan nyaris menghapus jarak antara mereka saat ia tiba-tiba menjauh. “Maka dari itu, percayalah padaku.” Bisiknya lembut. Lalu kembali mengelus pipi Hyeri.

Hyeri merasakan hembusan nafas Key menjauh dari wajahnya. Ia membuka mata dan melihat senyuman itu lagi. Senyuman tipis dan tatapan yang seolah ingin melindunginya.

“Ayo kita pulang!” Key berbalik, memasukkan kedua tangan di saku celananya dan mulai melangkah santai. Ah! Ia rasa ia perlu beberapa gelas alkohol untuk menghentikan debaran jantungnya yang semakin tak karuan.

=TBC=

Berikut gambar dress yang dipakai Min Hyeri ^^
summer dress

A.N

A-yo!!! Lama banget yak part 9 ini. Mohon maaf yaa, akhir2 ini sibuk di dunia nyata ^^v
Gimana menurut kalian part 9 ini? Sudah mulai panas ato masih kerasa lambat? Terus gimana Key-Ri couple di sini? oKEY deh, segitu aja nanyanya. Part berikutnya kemungkinan akan mulai panas *?*, jadi bersiap2lah.hahah. *apa deh*
Sebagai permohonan maaf, berikut deh aku kasih bocoran untuk next part-nya. Eh, berarti next part-nya udah ada dong? Oh! Tentu! Tapi masih pengen aku poles lagi beberapa, jadi mohon bersabar ya. Janji deh ga akan selama yang ini ^^v
Siip!Kritik dan saran aku nantikan banget loh.

Thank u and Ppyong ~o^.^o~

Preview next part

No. 1 Kontrak berlaku selama 3 tahun. Apabila ada perubahan di tengah kontrak, maka akan dibuat kontrak baru dan kontrak ini tidak berlaku.

No. 2 Tidak ada kontak fisik.

No.3 Saling menghargai privasi & saling melindungi untuk menjaga rahasia.

No. 4 Min Hyeri akan menerima gaji sebesar lima juta won setiap bulan.

No. 5 Setiap hari Sabtu Min Hyeri akan pulang ke rumah orangtuanya.

No.6 Saling memberitahukan keberadaan satu sama lain dan sedang bersama siapa.

No. 7 Min Hyeri tidak akan mencuci pakaian dalam Kim Kibum.

“Ini adalah tujuh dosa mematikan. Jika melanggarnya, kau dalam bahaya!”

“Haha. Ini saja? Ngomong-ngomong, kenapa aku tidak bisa berhenti tertawa di No.7, ya? Oh! Hei! Aku akan mengubah point No.2. Dan ya Tuhan! No.4! Kau ini lintah darat ya, Miss?”

26 thoughts on “Excuse me, Miss – Part 9

  1. Awww eonniiii !!!!!
    Suka banget part terakhirnya.. ihhh koq ga jadi sih kisseu nyaa.. Hyeri pasti malu setengah mati tu😄

    “Dan yang ketiga; Meski mungkin Hyeri pernah merasakan ciuman, tapi gadis itu tidak bisa menolak ciuman dari lelaki sesempurna dirinya.” lagi2 Prince Syndrome nya abang Key kumat ni.. hahaha

    oh iya ada satu typo yg aku temuin eon..
    “Ciuman-ciuman itu hanya bagian dari permaian dan …” harusnya permainan🙂

    Ga sabar nunggu lanjutannya.. lucu deh baca preview nya.. apalagi abang key minta diubah point no 2. hayo looh bang mau ngapain emang ??? Hahaha

    Mianhae eonni, comment berlulang. gara2 pake emot ga jelas. bikin commentnya nyatu gitu😦
    yg atas diapus aja ya eon😀

    • Hwayoong, mudah2an suka part akhirnya. Ini berkat masukan darimu😉

      .ekekek. Di sini tingkat percaya diri Key dahsyat banget.heheh. Tapi suka kan?

      Eh, typo-nya udah dibenerin. Thank u, yah😀

      Siip. Nantikan part lanjutannya, yaa.
      Sudah aku hapus ko komen yang pertamanya. Iya sih aku juga sering begitu kalo masukin emot2 ga jelas malah jadi ilang komennya dan langsung gendok -_-a

  2. eonn!!! lumutan aq nunggu ni ff deh. kemana aja eon? dikirain eon udh bosen ama abang konci jadi gak ngelanjutin ff ini.

    busett gimana rasanya ya 3x dicium key dlm sehari? dower gak tuh bibir hyeri dicium key mulu wkwkw #plak
    wah bakal seru tuh kelanjutannya. ayo cepet eon ff nya dilanjutin sblm kiamat muncul duluan eon wkwk

    dan peraturan yg no 7 bikin hana gak bisa berhenti ngakak eon. kok kepikiran sih? wkwkw kelanjutan ffnya hrs kudu wajib ramai eon!
    btw kemampuan menulis eon semakin meningkat loh eon dibanding karya eon yg pertama kubaca (dazzling autumn) tp hana jd kangen ff mysteri eon lagi🙂

    • Huhu. maaf yaa. mudah2an belum bosen nungguinnya ^6v

      Wah, kiamat? serem amet.

      .heheh. Min Hyeri memang pikirannya sedikit aneh, cocok sama Key😉
      Wah, jinjja? Syukurlah kalo ada peningkatan dan mudah2an ke depannya bisa lebih lagi peningkatannya.
      Aku juga kangen ff misteri, tapi belum dulu lah. Masih banyak hutang ff-nya.
      Thank u, Hana😉

  3. aku benci Key. Tapi dia jadi manis banget di bagian Hyeri nanya keseriusan Key. By the way Minho kenapa suka menghilang terus? well bagus sih, memperlancar segalanya.

    maaf kak baru sempet komen T.T tapi ini bener2 ga mengecewakan. Lebih jelaslah kelanjutan Key sama Hyeri hahahaha.

    Oh ya aku masih bingung, ayahnya Key sebenarnya setuju ga sih sama pernikahan Key-Hyeri? Kalau ibunya kan kayaknya udah setuju aja sampe ngajakin makan bareng.

    Oke kak…ditunggu selanjutnya.🙂

    • Eciyeeh, benci tapi suka.hhe.
      Soal Minho mungkin di next part bakalan muncul.

      Iya, gpp ko. Santai aja. Mudah2an menghibur part yang ini.heheh.

      Soal ayahnya Key emang belum dijelaskan lebih rinci. Ditunggu aja yaa.heheh.
      oKEY. Thank u😉

  4. waaaaah daebak eonni……… jinja joa….
    i like it,,, ngga sia” nunggu lama,,
    di part ini key romantis banget…..konfliknya dapet eon
    aq kirain ortunya key bakal nentang…. masih penasaran nih kenapa kalo rahasianya ketahuan ama jonghyun bisa bahaya ya???

    keren deh eonni,,,, ditunggu ya eon next part…..🙂

  5. ya ammmpppuuunnnnn…… bner222 dah panas nih..!!!! wah,, suka adegan manisnya Key-Ri, walaupun ujung2nya bertengkar, tapi itu yg buat keren,, lucu juga, hahahaha….
    wah.bumonim-nya key setuju banget ya ma hyeri??? minho pergi kemana nih?? OnTae, bener2 jadi pengamat permainan Key-Ri,, kompak bgt tuh duo Lee!!! kkeke….
    suka end part-nya.. key romantis bgt, mpe hyeri ja dah mulai takluk, lanjut trus ya…
    lanjut terus thor,, ku tunggu next part, eh previewnya lucu, hehe…. g sabar jadinya..
    semangat thor…😀

  6. FINALLY!!!! ㅠㅠㅠㅠ

    “Ia terlihat seperti seorang lintah darat yang meminta anak perawan milik si peminjam uang sebagai bayaran.” “diiringin (diiringi)”
    Yg bner diiringin kn yaa? ._.
    Trs ini
    “Aku hitung sekarang, ya. Satu…” Key mengulum senyum. Terlihat seolah sedang terancam.
    mksdnya mengancam kali yaa?
    “Say , jadi ini gadis yang kau maksud?”
    Say?? o.o

    Kuno dlm hal percintaan??? heol xD Ya! key g liat diri sndiri apa? pdhlkn dia sndiri blm prnh brkncan dan ciuman prtmanya jg dg hyeri.. dan apapula ini? -> tapi gadis itu tidak bisa menolak ciuman dari lelaki sesempurna dirinya.
    Astagaaaa nihh orang tingkat kenarsisannya parah abis yaa xD tp gpp aku suka bgt karakter key yg kyk gini!! xD

    Aiyaaa hampir lupa sama Kim Jonghyun.. dia blm mncul yaa? ahh jinj aku penasaran sama dia.. dan Minho eodiga??

    “I’m with you”
    Aaaa ini sweet sekali.. suka suka sukaa!!!
    Eciyeee key udh mrasakan getaran halus, udh mrsakn debaran.. yaa! tanda2 tuhh.. udh mulai tumbuh tp blm sdr aj xD
    Astaga endingnya… koq tumben g nyosor(?) biasanykn asl nyosor aj..nahh skrg giliran dkasi ksmpatan knp mlh nolak? kkk

    Huahaha ngakak baca peraturan no.7 xD nahh sdh kuduga key psti g bkln setuju dgn prturan no.2 scara dia kn udh addicted dgn bibirnya hyeri xD

    Sepertinya komenku kepanjangan xD yaudh dehh Eun Cha next partnya d.tunggu!!! ^^

    • Eh, maaf Ummul. Yang bener itu ‘diiringi’ itu kayanya kelewat aku baca hasil editan dari beta-reader, makanya ada tanda kurung ^^v
      Engga ko, itu maksudnya memang ‘terancam’
      Yang terakhir, bener ‘Say’ ko, itu bahasa Inggris, bukan kata sapaan.heheh.
      Btw makasih buat koreksiannya🙂

      Yup, di sini Key emang narsis banget. tapi pada suka kan yaa? .ahahah.
      Masih banyak orang2 yang belum dijelaskan. Jadi, sepertinya ff ini masih sangat panjang *plaaakkk*

      Peraturan No.7 memang rada gimana ya. Aku juga ngakak sendiri sih .hahah.

      Siip. Nantikan ya.
      Thank u, Ummul😉

  7. Komenku kepotong ㅠㅠ mngkin krn trlalu pnjang -_-

    “Ia terlihat seperti seorang lintah darat yang meminta anak perawan milik si peminjam uang sebagai bayaran.” <- wkwkkk nagakak baca perumpamaannya xD aku bisa banyangin gmana ekspresinya taemin xD

    Huahahaha aku suka scene d.balkon xD menengangkan tp enth knp aku mlh ngakak xD duo Lee parah nihh shbtnya lg baku hantam mrk mlh nnton dgn santai ckckkk.. tp yahh seperti yg dblg jinki in adlh prmainan yg sngt menarik xD

  8. wow.. Brasa dapat kado Natal dari Euncha..
    Apa Minho diungsikan ato melarikan diri dari Minhee?hehe.. Tapi aku suka,, karna brati jalan Key bisa lebih mulusss…
    OnTae menikmati banget temannya sengsara gtu ya,, *peluk OnTae* kkkk
    Penasaran ma Jonghyun yg sering disebut2 dsini, lucu2 menyebalkan gmana gtu,,hehe
    akhirnya muncul juga sisi baeknya si rubah ganteng ini,,kkk n Hyeri jadi keingat pas dslamatkn dlu..
    Dan, preview part slanjutnya bikin makin ga sabar liat hidup prnikahan mreka..kkk
    oya, Hyeri tu visualisasinya spa sih? Entah knpa tiba2 jdi pnasaran stlh baca part ni,,hee
    Tengkyu ya dan tetep semangat..^^

  9. Aigoo Aigoo~ makin celu, eh
    beneran nih baru kali ini aku suka karakter Key yang nyebelin, meskipun Minho baik karakternya, kekeke tapi tetep aja dukung Key-Ri, mungkin karena pemeran utamanya Key kali ya, jadi mau abstrak(?) juga karakternya aku suka.hahaha

    Tuh kan Hyeri, Key itu passti punya sisi lembut, apalagi nanti kalo dia jatuh cintrong ke kamu, gak bisa berkutik dia. a-yo buat dia bertekuk lutut ke kamu Hyeri, FIGHTING *dicekek Key.
    woaaaa Eonni, aku suka banget sisi Key yg lembut, apalagi pas dia nenangin Hyeri sambil bilang I’m With You. kyaaaaaaaaa~ rasanya Key bener-bener Manly banget… xd

    Errrr… aku setuju sama Feby-ssi, Key maniak Kiss banget, tapi ke Hyeri maksudnya. hahaha cieeee kecanduan bibir Hyeri ya.. gak tau tempat gak tau waktu maen nyosor aja.
    cuma nyangkal terus karena prinsipnya itu yg bilang ‘kau bukan tipeku’ aisshhhhh *jambak Key. kena karma baru tau rasa kau

    Eon, pemikiranku sama dengan Key pas baca peraturan Hyeri. “kenapa aku tidak bisa berhenti tertawa di No.7”
    gadis yang pintar.

    Typonya udah dibenerin, jd g ada yang aku koreksi, he cuman ada satu typo aku lupa apa. soalnya baca semalem pas mau tidur, tadinya mau langsung koment tapi keburu tepar. jadi typonya dibawa kabur sama mimpi. mianhe

    A-yo eon, cepet post next part nya… perbanyak Key-Ri moment nya kaya di part ini.hehe nyebelin tapi sweet.. *pemikiran yang aneh

    • Biar nyebelin, yang penting pada cinta sama Key *eaaa*

      Nah, apa yah typo-nya? nanti deh aku baca lagi, mudah2an ga ada yang kelewat lagi.

      Siip. Nantikan ya next part-nya.
      Thank u, Hikma😉

  10. Aaaaa iya diiringi mksdku.. typo -_-
    Aahh~ aku pikir mengancam soalnya key lg ngncam minho..
    Ooohh iya iyaaa hahaha aku pikir itu sapaan u/ key xDD g kepikiran masa hehe

  11. mian baru baca part ini eonni…..
    dan reaksiku bacanya adalah…. ASTAGA!! kok Key-nya manis banget? terus kok Kissing terus? eh, tapi suka sih… hahahaha,,,, #plaaakk

    di sini Minho bner2 dikit munculnya, ya. bella paling suka adegan hitung mundur Key k Minho yg diakhiri kissing k Hyeri. ternyata Hyeri tunduk sama skinship, ya. pantes aja ada peraturan no 2, tuh.
    kalo bella ramal *?* lanjutan ceritanya, kayaknya yg bakal ganggu hubungan mereka secara romansa adalah Minho tapi secara kehidupan *?* adalah Jonghyun. si dino blm ada muncul sampe part ini, jadi kayaknya dia bakal jadi antagonis juga deh di sini..

    ya ampun… bella pengen cowok kayak Key, walaupun nyebelin n tukang nyosor, dia manis banget.
    “I’m with you”? astaga, jadi ingat lagu SHINee yg so sweet itu. ayo eonn. part selanjutnya semakin perbanyak adegan Key-Ri ya. jangan dibuat nyesek2 amat, dong! trus, semoga bukan Key yg menderita karena cinta dsini, soalnya nnt hati pembaca malah condong seolah merasakan penderitaan hati Key. biarlah Hyeri yg menderita sesekali. haha…

    kayaknya udh kepanjangan, nih. cepet dilanjut, y, eonn… bella tunggu~~

    • Gpp ko, Bella. Ini juga baru muncul part-nya ^^v

      heheh. Di sin karakter Key berbanding terbalik sama di Archangel. Tapi suka kan?🙂

      Hemm, nantikan deh siapa yang bakalan menderita karena cinta di ff ini.kekeek.

      Siip. Thank u, Bella😉

  12. Wahhh Daebak! Tulisannya bagus ka Euncha, serius!😀
    So sweeetttt~~ Hyeri akhirnya setuju juga ikut permainan Key…yah semoga saja mereka bisa saling jatuh cinta hahhaha~
    Hei! Hei! Miss.Hyeri kau harus percaya kepada Key kekekekee~
    Sakit hati bgt klo jadi Nicole😥 Taemin dan Jinki parasit yg dapat memanfaatkan Key #halaahh😄
    NEXT!~ (y)

  13. Ommo Hyeri jls mati gaya dilhatin massa bgtu…..ciuman dibalcon wuaaaaaaa pzti cakep bgd niii…sptna prmainan Key smkin mjd…..ga deng…bkan prmainan pi sbnarna tu real crita cinta yg Kibeom plih sndri…..& yg dicaffe….jus lemon kisseu akhirna kjadian jg kisseu rsa lemon kan dipart sblumna tae godain Key jgn2 abis mkan ice cream atau apa gtu tpi sungguhhh sungguh tu romantis bgd…Kibeom memegang pnggang Hyeri lalu mnciumnyaaa kyaaaaaa can’t imagine how it feels,,, ciyeeee ktmu camer & sptna Nyonya Kim baik pan katanya cintalh yg terpnting mga mpe akhir nyonya Kim istiqomah jd mertua sayang menantu…….,, Kibeom prasaan tu sdah smkin nyata kan getarannya….ah brharap Hyeri jga ya

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s