Excuse me, Miss – Part 12

excuse-me-miss

Part 12 – Heart break

Beta Reader : Hwayong Kim

Credit Poster : Jiell

Jam dinding di ruang tengah baru saja menunjukkan pukul 9 pagi saat Key memaksa Hyeri untuk membuatkannya secangkir vanilla latte. Ini hari pertama mereka tinggal di apartemen yang diberikan orang tua Key sebagai tempat tinggal mereka. Apartemen ini memang tidak mewah, tapi bagi Hyeri, ini lebih dari cukup untuk sebuah tempat tinggal yang nyaman dan lengkap. Tapi tidak bagi Key, sejak Eomma-nya mengatakan bahwa tempat tinggal baru mereka tidak berada di kawasan Gangnam, yang lelaki ini lakukan hanya memberenggut kecewa.

Sedikit malas Hyeri beranjak menuju dapur. Dalam perjanjian memang tertulis bahwa Hyeri harus melakukan seluruh pekerjaan rumah termasuk memasak. Tapi ini hari pertama mereka pindah dan bahkan seluruh barang belum tertata rapi di tempatnya. Kemarin adalah hari yang melelahkan dan Hyeri masih memerlukan sedikit waktu sebelum segalanya bisa berjalan seperti yang diinginkan.

Sedikit kesulitan, akhirnya Hyeri menemukan kotak kardus di mana ia menaruh bahan-bahan pokok untuk ditaruh di dapur. Meraih bungkusan berisi serbuk vanilla latte siap saji, lalu menyeduhnya pada sebuah cangkir berwarna biru langit.

“Apa ini?” Key menengadahkan kepalanya, menatap Hyeri seolah cangkir yang baru disodorkan Hyeri adalah bangkai kadal dengan tubuh termutilasi.

“Pesananmu.” Jawab Hyeri acuh tak acuh.

Key mendelik sebelum meraih gagang cangkir, lelaki itu menyesapnya ringan. Sementara Hyeri masih berdiri di sampingnya, seolah menunggu penilaian dari Key.

 “Mengapa rasanya aneh?” Keluh Key begitu ia selesai menyesap vanilla latte-nya. Dengan wajah muram ia menaruh lagi cangkir ke atas meja ruang tengah.

“Aneh bagaimana?” Hyeri merasa semuanya baik-baik saja karena ia membuat vanilla latte sesuai aturan yang tertera di bagian belakang pembungkus. Tidak terlalu banyak atau sedikit air, ia juga tidak memberi gula tambahan.

Key menatap Hyeri, lalu menggerakkan dagunya ke arah cangkir, meminta Hyeri untuk mencicipi vanilla latte buatannya sendiri.

“Tidak ada yang aneh.” Hyeri mengecap lagi vanilla latte yang masih menempel di bibirnya. Memastikan tidak ada yang salah. Key menatapnya, seolah berkata ‘Ayolah! Kau tahu itu!’. Lalu Hyeri menyesap lagi vanilla latte dan memang tidak ada yang salah. “Rasanya normal.” Protes Hyeri.

“Rasanya tidak sama dengan yang biasa kau bawakan ke mejaku.” Keluh Key akhirnya. Wajahnya sedikit lesu tanpa amarah.

Ia lalu meraih remote tv di atas meja dan mulai merebahkan tubuhnya, menopang kepala dengan lengan kanannya, sambil memindah-mindahkan saluran tanpa ada niat menonton salah satunya.

Hyeri memutar bola mata. Benar sekali dugaannya, lelaki ini memang akan membuat susah hidupnya dengan hal-hal sepele.

“Terang saja, kami menggunakan brewing machine untuk membuat kopi.”

Brewing machine?” Key melirik Hyeri tanpa mengubah posisinya yang lebih mirip seperti Garfield.

“Mesin untuk membuat kopi. Kau tidak tahu, ya? Ck!” Hyeri mendelik sambil tersenyum licik. Kali ini ia mendapat kesempatan untuk melontarkan hinaan kecil pada si mata rubah.

Mata Key beralih pada saluran tv yang tengah menanyangkan iklan pizza. Lelaki itu diam seolah memikirkan sesuatu.

“Nah, kalau kau mau, minum saja yang ada di hadapanmu. Kalau tidak mau, ya sudah. Aku masih banyak pekerjaan. Dan jangan memerintahku untuk melakukan hal sepele!” Hyeri mendengus sebelum ia berbalik dan hendak melangkah saat kalimat Key menghentikannya.

“Kita beli brewing machine saja!” Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Key. Bahkan kedua matanya tak berpindah dari saluran tv yang kini menayangkan acara gosip di pagi hari.

Hyeri berbalik, menatap Key dan memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Bukan! Pendengarannya sudah pasti masih bagus. Maksudnya, ia harus memastikan bahwa Key tidak sedang mabuk, mengigau, atau bahkan mungkin berhalusinasi.

Hyeri masih memerhatikan Key saat lelaki itu bangkit, lalu duduk tegak. “Jika ada brewing machine, rasa kopinya pasti enak! Karena kau ahli dalam membuatnya, jadi aku tidak usah jauh-jauh pergi ke café. Lagipula, aku tidak suka keluar rumah di musim gugur seperti ini.” Terang Key akhirnya.

Sesaat Hyeri tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Karena sejujurnya ia merasa senang. Benar! Selama ini, pekerjaan yang paling ia sukai adalah menjadi pelayan café. Hyeri selalu mendapat kesenangan setiap kali ia membuat kopi menggunakan brewing machine, menghirup aroma kopi yang sedang diolah, mendengar kucuran kopi dari brewing machine, atau menguji nyalinya ketika membuat latte art. Ia juga senang menatap cake-cake dengan warna cantik yang dipajang di display.

“Ayo kita pergi!” Key beranjak setelah mematikan tv. Ia terlihat begitu bersemangat, seperti dirasuki oleh dewa penyemangat.

Tanpa menunggu persetujuan Hyeri, Key melangkah menuju kamar dan meraih jaket kulit hitamnya, tak lupa dompet Louis Vuiton dan kunci mobilnya.

“Aku menunggu di bawah hemm… sepuluh menit dan jika terlambat aku akan memotong gajimu, Miss.” Key berjalan melewati Hyeri, membuat Hyeri mendengus kesal. Lagi-lagi si mata rubah berbuat seenaknya.

***

Perjalanan dari apartemen menuju hypermarket memakan waktu nyaris 30 menit. Cuaca tidak begitu baik, angin bertiup cukup kencang.

Key mengendarai mobil menuju tempat parkir di basement hypermarket. Sementara Hyeri tiba-tiba saja merasa melankolis. Ini adalah hypermarket di mana dulu Minho membawanya untuk memilih gaun dan sepatu untuk menjadi Cinderella. Sudah satu minggu berlalu sejak pernikahannya dengan Key, dan Hyeri sama sekali tak mendengar kabar mengenai Choi Minho.

Sejujurnya, lelaki itu tak pernah absen dalam pikiran Hyeri. Terutama saat malam datang dan hanya Hyeri yang terjaga. Ia selalu memikirkan ke mana dan mengapa lelaki itu pergi. Sempat Hyeri berpikiran untuk mencaritahu dari adiknya, Choi Minhee, tapi ia tidak punya keberanian mengingat seperti apa Choi Minhee. Terlebih hal yang Hyeri tanyakan adalah Choi Minho.

“Kau yang pilih, Miss.

Suara Key membuyarkan lamunan Hyeri tentang Choi Minho. Hyeri bahkan baru menyadari bahwa kini dirinya dan Key telah berada di pintu masuk sebuah toko yang menjual peralatan untuk café. Suasana toko yang didominasi warna cokelat seperti kopi itu cukup ramai, ada beberapa orang yang sedang melihat-lihat.

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan dengan seragam layaknya pelayan café, lengkap dengan celemek berwarna cokelat, menghampiri keduanya dengan senyum ramah.

“Aku mencari brewing machine.” Terang Key dan si pelayan segera membawa keduanya menuju koridor di mana beberapa rak di susun rapi. Semuanya berisi berbagai jenis dan merk brewing machine.

Key menatap deretan brewing machine dalam rak. Berbagai ukuran, warna, bentuk, dan merk. Ia meniliknya satu persatu, tapi ia tidak mengerti  mana yang harus dipilihnya.

“Jenis brewing machine bisa disesuaikan dengan keperluan. Untuk café, Anda bisa-“

“Kami perlu brewing machine untuk di rumah.” Sambar Hyeri.

Si pelayan mengangguk pelan, lalu membawa keduanya ke deretan rak di koridor sebelah. “Ada banyak merk brewing machine untuk konsumsi pribadi. Tapi, kami rekomendasikan beberapa merk seperti-“

“Aku ingin melihat keluaran terbaru dari Saeco.” Lagi-lagi Hyeri menyambar, dan sedikit banyak membuat si pelayan agak kesal.

Beberapa jenis brewing machine keluaran Saeco berjejer di rak yang berada di koridor pertama yang pelayan itu tunjukkan saat Hyeri dan Key baru datang tadi. Kedua mata Hyeri menilik setiap model keluaran Saeco. Beberapa kali ia mengerutkan dahi sambil merapatkan kedua bibirnya, mendekati beberapa model, menekan-nekan panel yang ada, atau bahkan memainkan brewing stir.

Karena tidak paham, Key membiarkan Hyeri melakukan yang ia suka. Dan sejujurnya, gadis itu terlihat agak berbeda ketika sedang memilih brewing machine. Ia terlihat lebih berkelas, tidak cerewet dan kampungan seperti biasanya.

Diam-diam, Key mulai memerhatikan Hyeri. Menilik setiap gerak di wajahnya, menangkap raut serius dan terkadang senyum kecil yang muncul bergantian. Key melipat kedua tangannya di depan dada, seluruh fokusnya tertuju pada Hyeri. Ia merasa segala sesuatu yang ada di sekitarnya bagai angin lalu yang tidak ia sadari keberadaannya. Hanya Hyeri satu-satunya objek yang terlihat bersinar, sementara yang lainnya gelap. Hyeri menganggukkan kepalanya setelah menekan beberapa panel, atau saat ia memutar brewing stir, saat gadis itu membalikkan brewing machine, mengecek bagian belakang mesin.

Sudut bibir Key tertarik, ini aneh, tapi ia suka melihat Hyeri yang begitu serius memainkan brewing machine di hadapannya. Ia terlihat seperti seorang ahli yang berkharisma.

“Maaf Tuan, ponsel Anda.”

Suara si pelayan membuyarkan lamunan Key. Segala sesuatu di sekitarnya kembali seperti semula. Lalu Key terperanjat saat Hyeri, yang sedaritadi menjadi objeknya, menoleh dan menatapnya.

“Oh!” Key baru menyadari ponselnya berdering.

Ia merogoh saku celana denim-nya, menatap ponsel layar sentuhnya dan mendapati sebuah nama yang tiba-tiba saja membuat dadanya berdebar. Ia masih memandangi layar, menimbang, haruskah ia menjawabnya?

“Tidak menjawabnya?” Tanya Hyeri. Ia dan si pelayan masih memandangi Key.

Key diam sejenak sambil menggigit bibir bawahnya. “Kau tunggu di sini.” Ucapnya sebelum beranjak, bahkan mulai berlari kecil menuju pintu toko.

Key berdeham saat ia telah berada di luar toko, tepat di dekat pintu masuk. Ponselnya masih berdering saat Key akhirnya memutuskan untuk menjawabnya.

Yeoboseyo, Minhee-ya?” Key berusaha berbicara senormal mungkin. Bagaimanapun, adalah pilihannya untuk melepaskan Minhee.

“Key oppa! Akhirnya aku bisa menghubungimu!”

Suara itu begitu lembut, dan terdengar tak sabaran seperti biasanya. Key terdiam sejenak, rasanya ia begitu senang bisa mendengar suara itu lagi. Sejak Minhee bangun dan bahkan keluar dari rumah sakit, ia sama sekali belum bertemu gadis itu. Bahkan di hari pernikahannya dengan Hyeri, gadis itu tidak datang dengan alasan kesehatannya yang belum pulih benar. Sedikit banyak Key bersyukur karena keabsenan Minhee hari itu. Setidaknya keyakinannya tidak goyah lagi karena gadis itu.

“Oh! Apa kabarmu? Maaf, aku belum sempat menjengukmu. Tapi dari suaramu, kelihatannya kau sudah sehat.” Key memaksakan tawa kecil di akhir kalimatnya. Berusaha agar terdengar normal.

“Sesibuk itukah kau setelah menikah? Oppa, kau benar-benar menikah dengan gadis benama Min Hyeri itu, kan? Itu gadis yang datang di hari ulang tahunku bersama-“

“Ya,ya,ya, dia orangnya dan kau tidak usah bertanya apa pun lagi. Oya, ada apa kau menghubungiku?” Key mengalihkan pembicaraan. Ia tidak suka saat Minhee mulai membicarakan Minho padanya. Ia tahu, bahwa nantinya Minhee akan merasa sangat senang bahwa Hyeri bukanlah kekasih kakaknya.

“Oppa… Key oppa…” Minhee mulai merajuk. Key bahkan bisa membayangkan ekspresi wajah Minhee yang penuh aegyo setiap memanggil Key seperti itu. Oppa, aku sangat merindukanmu. Tidak bisakah kita bertemu?”

Kali ini Key menahan nafas. Benarkah Minhee merindukannya? Rasanya ingin sekali melompat dan berteriak bahwa ia juga begitu merindukan Minhee. Ia bahkan ingin memeluk Minhee, melihat wajah Minhee sampai puas, sampai rasa rindu yang mendesak di dadanya hilang.

Oppa, eottaeyo? Kau mendengarku?”

“Minhee-ya aku-“

Key berusaha menahan dirinya. Ia telah memutuskan segalanya dan tidak boleh kalah di tengah permainan hanya karena Minhee. Meski bagi Key, Minhee adalah halangan terbesar dalam permainan ini.

“Aku akan menunggumu di café biasa jam 11. Jyaa, Oppa, aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa!”

Dan begitulah Minhee mengakhiri sambungan telepon mereka. Sama seperti perlakuannya terhadap Key. Gadis itu datang dan membuat Key jatuh cinta seperti orang gila. Tapi, Key bahkan tak sempat memikirkannya saat gadis itu mengakhiri harapannya begitu saja.

Key mendesah pelan, menggenggam ponsel dengan tangan kanannya. Ia tahu, yang akan dibicarakan Minhee adalah perihal hilangnya Minho. Key mendengar dari Taemin bahwa bahkan keluarganya sekalipun tidak mengetahui keberadaan Minho. Sebuah catatan perjalanan yang dilacak melalui bandara Incheon mengatakan bahwa Choi Minho pernah melakukan perjalanan menuju Afrika. Tercatat pada hari Sabtu, 19 Agustus 2013. Satu Minggu sebelum pernikahannya dengan Hyeri. Tiga hari setelah keberadaan Minho tak diketahui.

Key tiba-tiba kembali berpikir ke mana perginya Minho. Ia sempat membicarakan ini bersama Taemin dan Jinki, dan berspekulasi bahwa Minho menyusul Ayahnya di Afrika untuk melakukan tugas sosial karena saat ini perusahaan dipegang oleh saudara jauh dari Ibu kandung Minho –Park Chanyeol.

Tapi, sepertinya ada yang janggal dengan kepergian Minho. Tak ada bandara di Afrika yang mencatat kedatangan lelaki bernama Choi Minho pada tanggal 19 Agustus 2013. Sementara Ayahnya mengatakan bahwa Minho memang menyusulnya ke Madagaskar dan kini berada di Zimbabwe bersamanya. Hal lain yang janggal adalah Minho sama sekali tidak memberitahu atau setidaknya memberi kabar pada teman-teman dekatnya perihal kepergian dan keberadaannya di Afrika. Ini sama sekali bukan tipe Choi Minho.

Key melangkah menuju toko, mendapati Hyeri berada di dekat meja kasir. Gadis itu tersenyum saat Key menghampirinya.

“Kau tinggal membayarnya.”

Tak mengatakan apa pun, Key mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu kredit hitamnya pada pelayan kasir.

“Hyeri-ya, kau bisa pulang naik bus atau taksi. Pilih saja yang kau suka, berjalan kaki pun terserah.”

Hyeri mengerutkan dahinya. “Apa? Memang kau tidak pulang bersamaku? Bukankah kau ingin vanilla latte? Yang kupilih memang mesin untuk membuat Espresso, tapi kita bisa menggunakannya untuk jenis kopi lain sesuai kebutuhan.”

“Tidak! Aku harus mengurus sesuatu. Sangat penting dan mendadak! Kau bisa pulang sendiri kan, Miss?” Key membubuhkan tanda tangannya pada layar mesin kartu kredit cepat. Ia lalu segera menyambar kartu kredit hitamnya, memasukkannya ke dalam dompet terburu-buru.

“Penting dan mendadak?” Hyeri menyipitkan matanya. Berusaha mencaritahu apa yang dimaksud Key dengan penting dan mendadak. Setahu Hyeri, lelaki itu adalah seorang pengangguran yang punya banyak uang pemberian orang tuanya. Selain mengomel, pekerjaannya adalah minum sampai mabuk.

“Jyaa, aku pergi dulu. Sampai jumpa!”

Key tak menunggu tanggapan Hyeri dan melesat begitu saja menuju pintu toko. Dalam hitungan detik, lelaki itu menghilang dari pandangan Hyeri. Hyeri mendesah pelan, lelaki itu selalu berbuat seenaknya saja. Padahal tadinya, setelah membeli brewing machine ini, Hyeri ingin memaksa Key untuk membelikannya beberapa serbuk kopi yang biasa digunakan di café.

***

Key berlari menyusuri trotoar, ia bahkan tidak mengerti mengapa ia harus berlari. Toh tidak jadi masalah jika ia datang terlambat. Tapi terkadang, tubuhnya bergerak tanpa perintah dari otak jika sudah berkaitan dengan Choi Minhee. Mungkin Key akan refleks melompat ke jurang jika gadis itu tiba-tiba saja jatuh ke jurang.

Cling.

Lonceng kecil di atas pintu café berbunyi saat Key mendorongnya. Dengan nafas terengah, matanya liar mencari-cari sosok yang begitu ia rindukan. Jantungnya berdebar, bukan karena ia berlari, tapi karena ia merasa siap tak siap melihat lagi sosok yang begitu dipujanya.

Ia melangkah pelan saat akhirnya menangkap sosok Minhee yang duduk di salah satu meja dekat jendela tak jauh dari meja kasir. Gadis itu mengenakan coat bulu berwarna putih bersih. Rambut hitamnya yang panjang terurai indah. Ia tengah menatap keluar jendela. Tak menyadari saat Key telah berdiri di hadapannya.

“Sudah lama menunggu?” Key berusaha menghilangkan rasa gugupnya.

Minhee menoleh, sedikit terkejut lalu mendongakkan kepalanya menatap Key. Gadis itu tersenyum. “Key oppa!” Pekiknya. Ia lalu beranjak dan segera memeluk Key. Ia memeluk begitu erat, mengalungkan kedua tangannya di leher Key sambil sedikit berjinjit.

Key terkejut, jujur saja ia tidak memikirkan reaksi Minhee yang seperti ini. Mungkinkah karena saat ini tidak ada Minho? Sehingga gadis itu bisa memikirkan lelaki lain yang ada di dekatnya? Batin Key.

“Wah! Baru beberapa minggu tidak bertemu, kau sudah seperti ini.” Key berusaha menahan dirinya. Ia tidak boleh berlama-lama mengingat lagi rasa cintanya pada Minhee. Lalu, ia melepaskan kedua tangan Minhee di lehernya. Menarik kursi di hadapan Minhee dan duduk di sana.

Minhee kembali duduk di kursinya. Menatap Key tak sabaran. “Oppa, kau harus membantuku.”

Nah, kan. Benar saja dugaan Key! Gadis ini tidak mungkin menemuinya jika tidak punya masalah. Selama ini, yang ada di mata Minhee hanyalah Minho, dan Key, selalu menjadi rumah sakit bagi Minhee. Yang hanya akan didatangi saat gadis itu merasa sedih dan terluka. Dan setelah sembuh, Minhee akan meninggalkannya seperti yang sudah-sudah.

“Membantumu? Apa yang terjadi?” Key pura-pura tidak tahu tentang masalah Minho. Hanya berusaha menghibur diri bahwa apa yang akan dibicarakan Minhee selanjutnya bukanlah Minho.

Minhee diam, segurat kesedihan terlihat di wajah pucatnya. Ia memberengut, lalu meraih cangkirnya, menyesap isinya perlahan. Key menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melipat kedua tangan di depan dada dengan kaki bertumpang. Berusaha membuat dirinya santai dengan apa yang akan disampaikan Minhee.

Minhee menaruh cangkirnya, lalu menatap Key serius. “Key oppa, kau harus membantuku mencari Minho oppa.” Ungkapnya singkat. Dan sudah lebih dari cukup untuk membuat Key kembali kecewa.

Key menghela nafas, diam beberapa saat sebelum menegakkan punggungnya. Menaruh kedua tangannya di atas meja. “Apa yang bisa kulakukan untukmu?” Tanya Key pasrah.

Minhee meraih kedua tangan Key dan menggenggamnya erat, seolah meminta perlindungan dari Key. Seolah dengan menggenggam tangan Key semuanya akan baik-baik saja.

“Ayo kita cari Minho oppa.  Ke semua tempat yang kau ketahui.” Kali ini mata Minhee mulai digenangi benda cair dan Key tahu sebentar lagi gadis itu akan menangis.

“Apa yang akan kau lakukan setelah menemukannya?”

Rasanya baru kali ini Key tidak mengiyakan permintaan Minhee. Keypun merasa dirinya harus mulai membuat batasan dengan Minhee. Ia tidak boleh kembali jatuh cinta pada gadis itu. Tidak! Saat ini ia masih sangat jatuh cinta pada Minhee. Tapi, bagaimanapun caranya, ia harus bisa menghapus gadis itu dari hatinya. Karena mencintai Minhee, tak lebih dari menanam duri di hatinya sendiri.

Sesaat Minhee diam, menatap Key bersamaan dengan air matanya yang menetes. Ia terlihat terkejut, mungkin menyadari bahwa Key oppa-nya tidak seperti dulu lagi.

“Aku…” Minhee mengusap air matanya dengan tangan kiri, lalu kembali menggenggam tangan Key. “aku hanya tidak bisa hidup tanpanya.” Ungkap Minhee. Gadis itu lalu menundukkan kepalanya ke atas meja dan mulai terisak.

Rasanya ingin sekali membelai rambut Minhee dan menenangkannya. Tapi di sisi lain, Key merasakan kembali bagaimana sakitnya menyaksikan Minhee yang selalu menangis karena Minho. Saat itu juga Key berpikir, akankah gadis ini menangis seperti ini jika dirinya yang menghilang begitu saja? Key lalu menggeleng cepat. Pemikiran yang bodoh dan ia sudah tahu jelas apa jawabannya.

“Kau mencarinya hanya untuk bertahan hidup? Bagaimana dengannya? Kau tidak pernah memikirkan bagaimana cara Minho bertahan hidup?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Key. Membuat Minhee mengangkat wajahnya dan menatap Key. “Kau seharusnya belajar hidup tanpa dia, Minhee-ya.” Key lalu menatap taplak meja, merasa kalimat itu seharusnya ia tujukkan pada dirinya sendiri yang seharusnya mulai belajar untuk hidup tanpa Minhee.

“Apa masalahnya? Aku tidak peduli jika Minho oppa tidak mencintaiku. Itu tidak masalah bagiku, asal ia selalu ada di dekatku. Asal aku bisa melihatnya setiap hari, itu sudah cukup bagiku.” Terang Minhee sambil terisak. Air matanya kian tak terkendali.

“Bohong! Kau berbohong, Minhee-ya.”

Lagi, ucapan Key membuat Minhee terkejut. Di mata Minhee saat ini, Key telihat seperti orang lain yang tidak lagi menyayanginya.

“Apa kau mencintaiku?”

Key terperanjat, tidak mengerti mengapa Minhee tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan itu.

“Kau mencintaiku kan, Key oppa? Aku tahu kau masih mencintaiku seperti dulu. Lalu, bagaimana rasanya jika kau tidak melihatku satu hari saja? Apa kau merasa sesak? Kau merasa hidupmu berantakan? Bukankah kau mengatakan padaku bahwa aku adalah-“

“Oksigen.” Key menyambar kalimat Minhee.

Ia ingat betul kapan ia mengatakan hal itu pada Minhee. Saat ia menyatakan bahwa Minhee adalah dunianya, bahwa Minhee adalah oksigennya yang harus selalu ada untuknya untuk bertahan hidup. Dan itu membuat hati Key merasa sakit. Ia seorang berandalan yang selalu berkelahi dan mendapati banyak luka di tubuhnya. Tapi sungguh! Ia baru tahu bahwa patah hati jauh lebih menyakitkan daripada patah tulang rusuk.

“Jika kau ada di tempatku, kau akan melakukan hal yang sama kan, Oppa?”

Key diam sejenak, mencerna ucapan Minhee barusan. Itu memang benar! Jika ia kehilangan Minhee, ia tentu akan mencarinya ke semua tempat yang bisa ia pikirkan. Tapi sekarang tidak sama lagi. Minhee telah menghancurkan hatinya dan Key telah memutuskan untuk melibatkan Hyeri dalam banyak urusannya, termasuk urusan hatinya.

Hyeri jelas tidak bisa dibandingkan dengan Minhee yang begitu sempurna. Tapi Key merasa sedikit banyak Hyeri membuatnya lupa pada Minhee.

“Tidak.” Jawab Key singkat. Sementara Minhee terperanjat bukan main. “Aku tidak akan melakukannya jika gadis itu tidak mencintaiku. Aku tidak akan menghirup oksigen yang terus menjauh dariku, yang membuatku sesak setiap kali menghirupnya, yang selalu terbang ke sana kemari untuk dihirup orang lain, sementara aku terus mengejar untuk bisa menghirupnya dan bertahan hidup. Jika aku di posisimu, aku akan mencari oksigen yang bisa membuatku merasa bahagia setiap kali menghirupnya. Yang selalu ada dan siap kapanpun aku memerlukannya.”

Key tidak mengerti bagaimana seluruh kalimat itu meluncur dari mulutnya. Yang jelas, itulah isi hatinya selama ini.

Minhee menatapnya kesal, gadis itu memang masih menangis, tapi terlihat jelas bahwa ia begitu murka pada Key. “Kau…” ia terisak. “Kau telah menyakitiku!” lanjutnya singkat. Lalu tergesa-gesa merogoh isi tas birunya. Mengeluarkan beberapa lembar won dan menaruhnya di atas meja. Lalu, tanpa berkata apa pun, Minhee meninggalkan Key dengan isakan yang semakin menjadi.

Mata Key mengikuti langkah Minhee, hingga gadis itu keluar dari café dan menghilang dari pandangannya. Key menghela nafas, lalu memejamkan matanya. Bodoh! Ia baru saja membuat Minhee sedih dan membencinya. Key lalu tersenyum hambar, ini memang menyedihkan karena artinya ia tak pernah sedikit pun melintas dalam pikiran Minhee. Tapi di sisi lain, ini lebih baik. Dan memang seharusnya seperti ini, ia memang harus melupakan Minhee. Tidak mudah, ia tahu, tapi ia harus melakukannya jika ingin tetap bertahan hidup.

***

“Dasar brengsek!”

Sebuah tamparan mendarat di pipi Taemin. Tapi lelaki itu hanya diam sambil tersenyum. Membiarkan gadis yang menghabiskan malam bersamanya itu beranjak gusar dan meninggalkan apartemennya.

Taemin menyentuh pipi kirinya yang terasa panas, menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu dibanting. Ia kembali tersenyum, beruntung, kali ini tamparannya tak meninggalkan luka di sudut bibir seperti yang sudah-sudah. Ia beranjak, memungut t-shirt putihnya yang tercecer di bawah kursi, lalu memakainya.

Taemin meraih gagang telepon di ruang tengah apartemennya, bermaksud menelepon kedai pizza dan mengirimkannya sarapan saat pintu apartemennya terbuka. Taemin menoleh ke arah pintu, yakin betul bukan gadis yang baru resmi menjadi mantan kekasihnya yang masuk.

“Hai! Sudah kuduga kau baru bangun! Oh! Aku membawa makanan!” Lelaki bermata sabit itu mengangkat bungkusan plastik. Lalu melangkah menuju dapur.

Taemin mengekor. Kebetulan sekali. Ia bisa mendapat sarapan lebih cepat.

“Jadi, Jihye sudah tahu siapa dirimu yang sebenarnya?” Jinki memulai pembicaraan sambil membuka kotak berisi ayam goreng dan memindahkannya ke dalam piring besar.

“Itu bukan Jihye, tapi Sunyeong.” Terang Taemin enteng, ia meraih paha ayam dan mulai memakannya.

Jinki terkekeh singkat. “Sampai kapan kau akan mempermainkan gadis-gadis itu, Taeminie? Aku kasihan melihat gadis tadi berjalan cepat sambil menghapus air matanya. Terlebih lagi ia baru saja kehilangan keperawanannnya.” Jinki tertawa mengejek.

Taemin hanya tertawa. Ia sendiri tidak tahu akan sampai kapan mempermainkan, menyakiti, dan membuat gadis-gadis cantik itu menangis. Ia selalu mencintai setiap gadis yang menjadi kekasihnya, tapi cintanya terlalu banyak. Dan gadis-gadis tidak suka jika cintanya dibagi-bagi.

Jinki beranjak dan berjalan menuju lemari pendingin. Membukanya dan meraih kotak jus apel.

“Tidak usah merasa tersinggung. Aku hanya tidak mau jika sesuatu harus terjadi padamu, baru kau berubah.” Jinki kembali tertawa.

Hening. Keduanya sibuk dengan ayam goreng. Meski begitu, Jinki bisa merasakan atmosfir tidak nyaman di antara mereka. Ia tahu betul bahwa Taemin tengah memikirkan apa yang ia ucapkan barusan.

“Oya, ada kabar tentang Minho?” Jinki berusaha mengalihkan pembicaraan.

Taemin berhenti mengunyah ayam dalam mulutnya, beberapa detik tubuhnya menegang, lalu susah payah, ia menelan ayam dalam mulutnya.

“Belum ada.” Jawabnya cepat. Lalu meraih kotak jus apel di atas meja, dan meminumnya begitu saja.

“Aku hanya merasa aneh saja. Bagaimana bisa Minho pergi begitu saja tanpa memberitahu salah satu di antara kita. Maksudku, jika ini berhubungan dengan Minhee, bukankah seharusnya ia bisa percaya pada salah satu di antara kita?” Jinki berbicara lebih pada dirinya sendiri. “Taeminie, selain Key, kaulah orang yang sangat dekat dengan Minho. Tidakkah ia mengatakan apa pun padamu sebelum ia menghilang? Atau selama hampir tiga minggu ini, adakah ia memberimu kabar?” Tanya Jinki lagi.

Taemin berdeham pelan. “Tidak! Tidak ada apa pun.” Jawabnya cepat. Oh! Bahkan ia tidak menatap mata Jinki.

Jinki mencondongkan tubuhnya ke arah Taemin, menatap mata lelaki cantik itu. “Taeminie, kau tidak menyembunyikan apa pun dariku, kan?”

Dan Taemin membeku. Ia hanya menatap Jinki beberapa saat sebelum kembali mengatakan bahwa ia sungguh tidak tahu apa pun mengenai keberadaan Minho. Dan perbincangan pagi itu pun berlanjut pada hal-hal lain yang menarik untuk dibahas.

“Taeminie, siang ini kau ada kencan dengan gadis-gadismu?”

“Tidak.”

“Aku merasa ada sesuatu yang menarik dengan hilangnya Minho,” Jinki meraih paha ayam kedua dan mulai menjejalkannya ke dalam mulut. “aku berpikir, bagaimana caranya Minho menghilang dari dalam pesawat? Ia memiliki catatan penerbangan, tapi tidak ada catatan pendaratan di bandara mana pun di Afrika. Bagaimana caranya Minho menghilang dari dalam pesawat?”

Jinki terdiam sejenak, berhenti mengunyah ayamnya. Pikirannya begitu serius mencari benang merah antara kejadian-kejadian janggal yang ia sebutkan barusan.

“Taeminie, ini sangat menarik. Bukankah begitu?”

Taemin hanya menatap Jinki. Dan sejujurnya, ia tidak berminat menuruti Jinki untuk mencaritahu keberadaan Minho.

***

Hyeri melirik lagi jam dinding di ruang tengah. Pukul 8 malam dan si mata rubah sama sekali tidak memberinya kabar. Bukan urusannya memang, tapi menjaga pintu merupakan hal paling tidak menyenangkan sedunia.

Hyeri telah menyelesaikan makan malamnya satu jam yang lalu dan menyimpan bagian Key di atas meja. Tapi, rasanya begitu dingin. Ia tidak terbiasa menunggu dan membiarkan makanan buatannya dingin tak tersentuh. Tanpa sadar Hyeri mendesah pelan, merasa ada sesuatu yang mengganjal dadanya. Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja terbersit dalam pikirannya untuk menghubungi Key. Hanya sekedar memastikan bahwa lelaki itu baik-baik saja dan ia tidak perlu menunggu untuk hal bodoh.

Ponsel itu telah berada di tangannya. Sebuah ponsel layar sentuh keluaran terbaru yang lagi-lagi dibelikan Key beberapa waktu lalu sebelum pernikahan mereka. Hyeri mendesah pelan, menggigit bibir bawahnya sebelum menekan tombol panggil.

Tiga kali nada sambung itu terdengar setelah akhirnya Hyeri memutuskan untuk menghubungi Key. Tidak ada jawaban hingga nada sambung itu berhenti dengan sendirinya. Hyeri mendesah pelan, tahu begini, lebih baik ia tidak menghubungi Key.

Dan malam itu, Hyeri memutuskan untuk tidak menunggu Key dan tidur di satu-satunya kamar yang memiliki ranjang. Ada dua kamar di apartemen ini, dan karena kepindahan mereka disertai sang ibu mertua, maka Hyeri tidak bisa segera merapikan kamar satunya lagi sebagai huniannya.

Pagi harinya, Hyeri terbangun karena suara dari dalam kamar mandi. Hyeri mengerjap beberapa kali sebelum menggeliat sambil menguap. Sedikit malas ia melangkah mendekati kamar mandi di luar kamar, mendekatkan telinganya ke pintu. Suara seseorang sedang muntah dan sudah jelas orang itu adalah Key.

Hyeri melirik jam dinding di ruang tengah, pukul 7 pagi. Ia tidur nyenyak dan sama sekali tidak menyadari kapan Key pulang. Kapanpun Key pulang, satu hal yang pasti adalah lelaki itu mabuk. Menjengkelkan memang, tapi Hyeri merasa lega karena Key baik-baik saja dan pulang ke rumah.

***

Key membasuh mulutnya, lalu mencuci lagi wajahnya. Kesadarannya sudah kembali, bersamaan dengan sakit hatinya. Hari kemarin, ia memutuskan untuk pergi ke bar. Ini kali pertamanya ia pergi ke bar setelah menikah. Kedua orang tuanya pasti akan membunuhnya jika tahu ini, tapi ia tidak peduli. Ia sedang patah hati berat dan minuman keras adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa lebih baik.

Seharusnya, Key tidak lagi merasa berat hati saat berhadapan dengan Minhee. Tapi nyatanya, ketika ia melihat gadis itu lagi, hatinya kembali meleleh dan lemah. Kenangan pahit di mana dirinya selalu menjadi pelarian bagi Minhee kembali muncul, mencabik-cabiknya dan rasanya ingin mati saja.

Key kembali membasuh wajahnya, menggosok-gosoknya dengan telapak tangan. Ia menatap wajahnya di cermin, berkata bahwa ini terakhir kalinya ia menjadi seorang pecundang karena Choi Minhee.

Key berjalan lemas begitu ia selesai dari kamar mandi. Ia masih merasa pusing dan mual bukan main. Semalam ia menghabiskan nyaris 5 botol Captain Morgan.

“Kau baik-baik saja?”

Suara itu menyambut Key saat ia melangkah menuju dapur. Key hanya bergumam pelan sebagai jawaban, lalu melengos menuju salah satu kursi makan. Semalam, ia pulang larut dalam keadaan mabuk luar biasa. Tak ada Taemin atau Jinki, hanya sakit hatinyalah yang menemani. Semalam pun ia menangis. Mendapati Hyeri tidur di kamar yang seharusnya adalah kamar pribadinya. Untungnya, meski dalam keadaan mabuk, Key masih ingat bahwa ia tidak boleh berbuat macam-macam pada Hyeri.

“Ini teh madu,” Hyeri yang sedaritadi sibuk membuat sesuatu akhirnya menyodorkan cangkir ke hadapan Key. “untuk menghilangkan mabukmu.” Lanjutnya. Ia menarik kursi di hadapan Key, lalu menopang dagu menatap lelaki itu.

Key menatap Hyeri sesaat, tidak mengira bahwa Hyeri akan membuatkannya sesuatu untuk menghilangkan mabuk. Dan jika boleh jujur, ia merasa terharu. Teh madu yang diberikan Hyeri terasa seperti sebuah dukungan bahwa Key harus menghilangkan rasa cintanya pada Minhee.

Key meraih cangkir dan mulai menyesapnya pelan. Sementara Hyeri hanya menatap Key, menunggu lelaki itu merasa lebih baik sebelum memulai percakapan lain. Meski Hyeri tahu bahwa Key adalah seorang yang senang dengan minuman keras, tapi rasanya kali ini lain. Ini kali pertamanya Key mabuk hingga ia muntah, setidaknya bagi Hyeri yang baru satu minggu lebih menjadi pembantunya. Maka Hyeri memutuskan alasan Key mabuk adalah sesuatu yang serius. Alkohol adalah sebuah pelarian bagi semua orang.

“Semalam kau pulang jam berapa?” Hyeri mulai bertanya setelah teh madu di cangkir Key habis.

“Aku tidak ingat.” Jawab Key singkat. Ia menundukkan kepalanya, menatap cangkir kosong. Saat ini hatinya masih terasa sakit dan ia hanya ingin diam.

Hyeri mengangguk. Meski tidak tahu apa yang terjadi pada Key, ia merasa lelaki itu sedang menghadapi masalah besar. “Kau mau makan?” Tanya Hyeri akhirnya.

Key menatap Hyeri sekilas, wajahnya terlihat sendu dan Hyeri menangkapnya. Tapi sedetik kemudian, kesenduan itu lenyap. Tergantikan dengan segurat keangkuhan yang biasa nampak di wajah Key. “Tentu saja aku mau makan. Dan oh! Jam berapa ini? Kenapa belum ada sarapan?” Key mengedarkan pandangannya ke meja makan yang kosong.

Hyeri yang tadinya merasa iba berubah menjadi kesal luar biasa. Key benar-benar lelaki aneh yang bisa berubah dengan cepat. “Semalam aku sudah membuatkanmu makan dan kau tidak pulang. Semuanya basi! Lihat saja tong sampah itu! Semuanya berisi makan malammu.” Terang Hyeri kesal. Ia tidak marah karena Key tidak pulang, tapi marah karena ia harus membuang makanan.

“Cerewet sekali! Sekarang buatkan aku sarapan.” Perintah Key. Tapi, wajah lelaki itu kembali murung. Ia kembali menatap cangkir kosong.

Sejenak Hyeri diam. Meski Key adalah lelaki paling menyebalkan sedunia, tapi ia tetaplah manusia biasa. Dan manusia biasa lebih senang diam ketika ada masalah. Maka Hyeri memutuskan untuk tidak menanggapi Key. Ia beranjak menuju counter dapur, membuka lemari di atas bak cuci dan mengeluarkan bungkusan plastik tembus pandang berukuran besar.

“Mau kubuatkan secangkir vanilla latte?” Tawarnya sambil tersenyum.

***

Hyeri menghilang di dalam kamar mandi setelah membuatkan secangkir vanilla latte dan roti panggang bertabur potongan stroberi untuk Key. Ini adalah hari Sabtu, artinya ia akan pulang ke rumahnya untuk merawat Ibu dan adik kembarnya.

Selang tiga puluh menit, Hyeri telah merapikan dirinya dengan denim dan kemeja lengan panjang berwarna biru tua. Membiarkan rambutnya yang masih basah terurai, terpaksa mengoleskan lip balm lebih banyak karena cuaca cukup dingin.

“Kau mau kemana, Miss?” Key bertanya saat Hyeri terlihat sibuk di ruang tengah, memasukkan beberapa benda ke dalam tas selempang lamanya.

“Ke rumahku.” Jawab Hyeri singkat. Kini ia melangkah menuju dapur, melewati Key yang berdiri beberapa meter di hadapannya. “Ini hari Sabtu dan aku yakin kau tidak lupa peraturanku nomor-“

“Ya,ya, kau akan pulang ke rumahmu. Kau akan menginap?”

Hyeri yang tengah mengemasi beberapa jenis makanan yang ia beli hari kemarin di hypermarket menghentikan gerakannya. Ia menoleh, menatap Key. “Aku belum tahu. Kenapa?” Ia balik bertanya. Merasa penasaran karena Key tidak biasanya bertanya seperti ini.

Key diam sejenak, seperti tengah menimbang sesuatu. “Boleh aku ikut?”

“Apa?” Jelas Hyeri terkejut. Key biasanya akan sibuk dengan kegiatannya yang entah apa. Dan kali ini ia terlihat seperti seseorang yang sangat kesepian.

“Kau tidak sedang sakit, kan?” Hyeri meyakinkan.

“Ya! Ya! Ya! Aku hanya ingin menjenguk adikmu saja. Karena diriku, adikmu bisa melakukan operasi. Jika menolong orang harus sampai tuntas, makanya aku harus meyakinkan apa kau merawatnya dengan baik dan dia akan benar-benar sehat.”

Hyeri mendengus. “Jika menolong orang harus sampai tuntas. Aku tidak salah dengar, kan? Apanya yang menolong orang? Kau ini lintah darat! Kau tidak ingat sekarang ini aku sedang berusaha membayar hutangku?Apanya yang menolong orang?” Hyeri memanyunkan bibirnya sambil mengumpat pelan.

Key menatap Hyeri kesal. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi urung. Dan tiba-tiba saja ia tersenyum. Rasanya lebih baik. Benar! Pertengkaran kecil dengan si miskin membuat perasaannya jauh lebih baik. Setidaknya itu membuatnya sedikit lupa pada sakit hatinya.

“Jika aku lintah darat, maka kau adalah istri seorang lintah darat. Tidak ada yang lebih baik di antara kita, Miss.” Ucap Key tiba-tiba. Ia lalu terkekeh, merasa leluconnya lucu bukan main.

Hyeri menatap Key, menatap lelaki itu tertawa. Tawa itu terasa berbeda, tawa dari seseorang yang tengah tersakiti dan berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Tawa yang pernah ia lihat di café dulu. Tawa dari seorang lelaki angkuh yang tidak pernah Hyeri tahu apa yang tengah lelaki itu hadapi.

“Kau harus cepat jika tidak ingin kutinggal.”

***

 Hyeri kembali mengayunkan kedua kakinya, melirik lagi ke pintu kamar. Key masih belum keluar. Ia lalu berdecak kesal. Kenapa lelaki itu lama sekali? Ini sudah nyaris tiga puluh menit.

Klek

Pintu kamar terbuka, memunculkan sosok Key yang begitu rapi. Wangi khas menguar dari tubuhnya. Hyeri tidak tahu wangi apa ini, yang jelas ini selalu mengingatkannya pada malam di mana lelaki itu mencuri ciuman pertamanya.

“Ayo kita pergi!” Key menatap Hyeri sekilas lalu mulai melangkah sambil membawa tas jinjing berwarna hitam.

“Key.”

Key menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap Hyeri seolah bertanya apa?

“Kau yakin kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Lalu Hyeri menyadari bahwa ia terlalu banyak ingin tahu. “Maksudku, kau terlihat tidak baik-baik saja. Mungkin aku bisa membantumu jika aku bisa.” Lanjut Hyeri kemudian.

Key diam, dalam pikirannya, ia tidak menyangka akan berbagi hal ini dengan si pelayan café. Saat ini ia sangat memerlukan teman untuk mengobrol, untuk membagi rasa sakitnya. Dan kali ini hanya Hyeri yang ada di dekatnya. Key berjalan menuju sofa, duduk di samping Hyeri. Ia menarik nafas beberapa kali.

“Kau pernah patah hati?” Tanya Key tanpa basa-basi. Ia menatap Hyeri serius, memancarkan lagi kesedihan luar biasa.

Hyeri tersenyum kecil. “Patah hati? Kau sedang patah hati?”

“Jawab dulu pertanyaanku baru balik bertanya. Menyebalkan sekali!” Dengus Key.

Hyeri kembali tersenyum kecil menghadapi tingkah kekanakan Key. “Saat aku harus menikah denganmu. Itulah saat aku patah hati.”

Key mengerutkan dahinya. Apa yang diucapkan Hyeri jelas jauh dari ekspektasinya. Ia lalu mengangguk pelan. “Jadi begini rasanya patah hati? Aku membuatmu patah hati karena tidak bisa pergi bersama Minho, kan?” Key tertawa hambar, lalu menatap sneaker birunya.

“Seharusnya kau tahu ini lebih awal. Bagaimana rasanya patah hati?” Hyeri berusaha mengolok Key. Ternyata lelaki angkuh itu kalah oleh cinta.

“Pahit sekali, Miss. Aku baru tahu rasanya sebegini sakit. Ini lebih sakit dari luka manapun yang pernah kudapat saat berkelahi,” Key menarik nafas dalam.  “Sakit sekali saat melihat punggung orang yang kau cintai. Benar! Kau hanya bisa melihat punggungnya, selalu seperti itu.” Dan saat ini, Key kembali merasakan sakitnya patah hati.

Sesaat keduanya hanya diam, membiarkan udara kosong menguasai mereka. “Sekarang kau sudah tahu bukan? Ah! Seharusnya aku senang karena kau menderita, tapi entah kenapa aku merasa kasihan melihatmu seperti ini. Kau tidak pernah hidup menderita, kan? Makanya seperti ini.”

Hyeri sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia begitu iba pada lelaki angkuh yang baru merasa patah hati ini. Karena baginya, patah hati itu bukanlah perkara besar. Ia memang merasa sakit, tapi lambat laun semuanya akan terlupakan bagai angin lalu. Bahkan bukan perkara besar untuk menceritakannya lagi suatu hari nanti karena semuanya akan baik-baik saja. Bagi Hyeri, kesulitan hidup jauh lebih menyakitkan dibanding patah hati. Pembicaraan ini jelas kembali mengingatkannya pada Minho, lelaki yang juga membuatnya patah hati karena menghilang begitu saja. Tapi, Hyeri tidak mau menyesali apa yang telah terjadi. Ia telah berada di tempat ini dan tahu bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu hingga ia harus melewati jalan ini. Jadi, ia akan baik-baik saja.

Hyeri menarik nafas dalam sambil menatap Key yang masih tertunduk. “Maka dari itu, mulai sekarang kau harus berjanji untuk tidak membuat orang lain patah hati,” Key mengangkat kepalanya menatap Hyeri. “kau tahu bahwa patah hati itu membuatmu menderita. Tidak ada orang yang senang dengan penderitaan.”

Key hanya menatap Hyeri, merasa gadis itu tengah memberinya sebuah kepercayaan. Key mengangguk sambil tersenyum kecil. Ia merasa bersalah pada Hyeri karena telah menjauhkannya dari Minho. Tapi, ini telah terjadi dan ia tidak boleh membuat Hyeri patah hati lagi karena rasanya begitu menyakitkan.

“Beritahu aku,” Key menahan langkah Hyeri saat gadis itu baru bangkit dan hendak melangkah. Key lalu bangkit dari sofa. “aku bisa memercayaimu kan, Miss?”

“Apa?”

“Kapan pun aku merasa patah hati, aku bisa memercayaimu, kan? Kau akan membuatku kembali baik-baik saja seperti saat ini, kan?”

Kali ini, Hyeri melihat sisi lemah dari si angkuh. Ia melihat bahwa lelaki ini begitu lemah dan kesepian. Di balik seluruh kesempurnaannya, ia menyimpan sakit seorang diri. Dan kini Hyeri tahu, bahwa Key bukanlah orang yang 100% menyebalkan. Lelaki itu hanya perlu teman yang akan mengobatinya saat ia merasa sakit.

Hyeri tersenyum kecil karena tiba-tiba saja sebuah klise berputar dalam kepalanya. Lantas ia mengulurkan tangan kirinya ke arah Key. “I’m with you.” Bisiknya. Menatap Key seolah menunggu lelaki itu untuk menyambut tangannya.

Kebersamaan mereka saat ini memang sebuah kepalsuan, tapi setidaknya, mereka tidak akan berpura-pura lagi untuk saling mengobati ketika salah satu di antara mereka sakit. Mereka akan menjadi sebuah tim yang akan terus maju bersama hingga sampai ke tempat tujuan.

Saat ini, Key merasa dirinya sangat lemah dan bahkan membenci sabuk hitamnya yang tidak bisa berbuat apa-apa terhadap patah hati yang ia rasakan. Dan uluran tangan Hyeri, terasa seperti air di tengah gurun, yang akan menghilangkan dahaganya, menghilangkan penderitaannya. Key tersenyum kecil, menyambut tangan Hyeri.

=TBC=

Brewing machine yang dibeli Hyeri.

Saeco Brewing Machine - Cre : p4c.philips.com

Saeco Brewing Machine – Cre : p4c.philips.com

A.N :

Just info.

Beberapa waktu lalu aku lihat traffic untuk ff ini lumayan banyak, tapi komentarnya sangat sedikit T^T
Ya sudah deh ga apa2, aku sebenarnya mengharapkan komentar dari readers yang udah baca. Tujuannya, biar aku tahu di bagian mana aku harus memperbaiki tulisanku, selain itu, memang masukan dari readers lah yang bikin penulis ff macem aku ini bisa ada perkembangan. Aku juga senang bisa berinteraksi dan berteman dengan pembaca ffku. Tapi, kali ini aku ga akan maksa untuk meninggalkan komentar.heheh. Silent readres gonna be silent readers forever.heheh. Becanda ^^v

Oya, part berikutnya akan diprotek sehubungan dengan rating. Cara mendapatkan password-nya bisa cari tahu di sini. Bagi yang merasa belum memenuhi kualifikasi mendapat password, jangan protes ya.
Mereka yang selalu memberikan masukan berhak mendapatkan password.heheh.
Untuk skip version-nya, aku ga janji bakalan bikin u/ff ini. Dan kalopun aku bikin, sama seperti ff Archangel, akan kubuat pas ffnya sudah tamat.

So, see ya in next part. Aku nantikan komentar dan masukannya ya.
Thank u😉

40 thoughts on “Excuse me, Miss – Part 12

  1. hello encha…
    makasii ya uda ngelanjutin ff ini,,
    jujur ff ini uda aku tunggu dari kmarin2…(maap lebay ya.. ;D)

    aku selalu suka ff denga couple key-hyeri,, gak tau kenapa kalo pas baca itu berasa beneran kalo hyeri itu cuma buat key… btw, aku masi penasaran sama hubungan antara jjong sama hyeri, kelanjutannya minho bgaimana dan masih penasaran sama kakak beradik (kakak adik ato cuma temenan sih?? maap lupa) taemin-onew yg selalu penasaran masalahnya key, jjong, minho… sebenarnya mreka berdua itu bantuin ato cuma jadi parasit aja….
    untuk keseluruhannya aku suka banget sama ff karya kamu…
    keep writing ya,, ditunggu lanjutan dan karya2 yang lainnya…fightingg….

  2. ff nya bagus dan makin menarik.. 😀 moga penulis nya makin Oke,, aku suka bahasanya yang santai tapi gak lebai,,, eonni aku suka ff yang sdikit ada ke2rasan,, coba minhee nya di bikin tegang sedikit,, hehe🙂

  3. masih ada rasa ternyata -_- pada masih nutup hati.
    Etapi itu bagian akhirnya sweet banget *-* gak tau kenapa sweet aja kalo mereka akur wkwk. Dan waktu part minhee-key nya aku girang /’-‘)/ kirain key bakalan nurut aja ternyata wew yeay ‘-‘ Tapi kok aku pengen si minhee kena karma jadi suka sama key ya .-. mayan buat nambah konflik cemburu2an wk *abaikan*

    Gatel pengen comment si taemin -_- asdfghjkl banget kamu disini tetem~
    bocah dasar masa semua cewek yang dipacarin dibilang cinta kayak tau cinta aja lu tem~ aduh badboy banget ni magnae,tapi suka/eh
    dan jinki~~ sekali muncul cuman bawa ayam doang wkwk kasian kamu nak ‘-‘)/(.-.

    Ooo~ chanyeol emang ada hubungan sama minho. Jadi itu minho ke jepang tukeran sama chanyeol itu sengaja atau gak. Penasaranlah~
    Semangat euncha ssi 9’-‘)9

    part selanjutnya rated ya? ._. aku 17 tahun bisa dapet gak?

    • Nanti konflik cemburu2annya satu persatu bakalan muncul.

      dan jinki~~ sekali muncul cuman bawa ayam doang wkwk kasian kamu nak ‘-’)/(.-.
      LOL banget baca yang ini🙂

      Asal kamu rajin meninggalkan jejaknya, nanti begitu part 13 muncul, kirim email aja sesuai ketentuannya.
      Thank u😉

  4. Part selanjutnya gak papah deh di protect, tapi bikinin summary nya dong eon, please… aku belum 17 -_-
    Sorry ya, eonni.. aku jarang comment, ya bisa dibilang silent reader
    Tapi bukannya gak mau, melainkan gara-gara internet yang tidak mendukung.. -_-
    Mian eonni..

  5. heyy eonni, sykur deh blokny udah bsa dbka, dan lngsung dsguhkan dgn part 12… ASYYYIIKK..
    LANGSUNG BACA..

    hhmm.. mau ngmen pa ya..??
    haah aku ngak tau hrus ngmen pa skrang eonni, jdi aku mau ksih eonni smangat ja buat mlnjutkan ff ny… chayoo eonni aku sllu mndukung mu
    hehehehe..

    oiya eonni, krna part slnjutnya d-prtec jdi hrus mnta pw, barti part brkutnya udah slsai donk..?
    oooiya, satu lgi, brti ngak prlu bkin summary kan eon,,? hnya mmastikan aja klaw heyri ngak slah bca tdi syratnya

    • Iya, Heyri. Maaf ya beberapa waktu lalu blognya memang ditutup karena beberapa alasan.
      Dan EMM beberapa part ini memang terasa agak hambar. Tapi, makasih loh untuk semangatnya ^^

      Sudah sih, aku buat agak panjang.
      Yup, caranya udah ga pake bikin summary lagi ko. Tinggal kirim data diri sesuai ketentuan aja. Kamu bisa kirim email nanti pas part 13-nya muncul.
      Thank u😉

  6. maaf y kk, part sebelumny g sempat d comment krn tiap buka blog ini trus diprotect, ga tau knp…

    kok Key-Ri malah jadi temenan, y? hahahaha… lucu aja ngelihat mereka yg biasanya musuhan dan trus2an kyk anjing-kucing bisa saling mengisi satu sama lain gitu.
    minho kmana, y? kalo dari isi cerita yg kutangkep sih minho k Jepang dgn bantuan Chanyeol, tapi knp malah k Jepang n g jadi k Afrika? trus, masa Minho ga ada muncul atau apaaa gitu karena pernikahan Key-Ri? blm lagi si Jonghyun kayak mau jadi saingan Key atau malah gmn… heran jadinya. kata2 nuna itu maksudnya Jonghyun itu bgt spesial seakan seperti keluarga bagi Hyeri atau gmn? waduh, Bella komen malah kebanyakan nanya.

    kayaknya sih ada yg disembunyiin sama Taemin n Jinki mau nyelidikin hal itu. semoga bs ketahuan dalam waktu dekat, y.

    key udh ngaku kalo hyeri itu miliknya n hyeri senang. perkembangan ceritanya bagus banget n perasaan antar tokoh mulai tertanam dalam. semoga aja ceritanya ttp worth tanpa bikin air mata beranak sungai lagi kayak archangel. hohohoho….

    p,s. bagi pw-ny y, kk

    keep writing~

    • Beberapa waktu lalu blognya emang di-protek bella, ada alesan tertentu sih.

      Masih banyak yang belum jelas memang sampe part ini. Nanti sedikit2 bakalan terungkap ^^
      Yup, mudah2an ga semenyedihkan Archangel.
      U/pw nanti kamu bisa kirim email saat part 13-nya publish.
      Thank u, Bella😉

  7. hahahhahah keren nih FF nya lanjutin dong eun cha ^^ gimana kelanjutan dari hyeri sm si key😀 bikin penasran banget ,minhonya juga hilang kemana tuh belum nongol nongol lagi aahhahahah

  8. Hallo eun cha ^^)/
    Akhirnya g private lg. kmren smpet khwatir jgn2 Eun Cha bneran mau ninggalin dunia ff. Syukur blm hehe..

    Aku suka moment2 key-ri nya lg ngobrol gt, mrk jd mkin deket. bagus2😀
    Aahh jd Chanyeol kluarga jauh eomma nya Minho, brrti dia emng sngja nyembunyiin Minho. Klo gt Minho nya skrg lg d.Jepang yaa.. dan Taemin psti tau sesuatu dehh..

    Aku g bisa bnyak komen nihh.. udh 2 minggu sakit huhu ㅠㅠ ini aj nyuri2 wktu buat baca *curcol
    Next part d.protect yaa, aku d.bagi pw nya yaa hehe…

    Keep writing ne Eun Cha 9^^)9

    • Iya, Ummul. Maaf ya, tadinya memang mau begitu. Tapi, setelah merenung dan dapet nasehat, ada baiknya menyelesaikan dulu yang belum selesai sebelum pergi.hihi.

      Emang ada something yang disembunyikan Chanyeol dan Taemin *plaakkk*

      Get well soon, ya😉
      U/pw bisa kirim email setelah part berikutnya muncul.
      Thank u😉

  9. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….Eun Cha is back back back…#sawer taemin…plakkk pa urusanya,,,…..how long i have been waiting for………..ahirna dilnjut jga,,, cakep tmbah curious nih…..bang minong kemane……blom si jjong jg misterina keana seru nih……..tapi semoga cinta berpihak pada KeyRi…..w doain cpet puna dede dahhhh…..biar bentengna kuat alo digoda minhye wks…..

  10. kok di pw? aq bisa dpt gak ya..
    menurutku gak ada yg perlu dikomentar tntng ff eon. eon makin bagus aja kl bikin ff dibanding ff eon yg awal (dazzling autumn). aq ingat tuh waktu dulu eon selalu bikin 1 paragraf itu terdiri dari 1 kalimat. aq sempet mikir authornya kayaknya pengen cepet2 selesain ini ff ampe bikin 1 paragraf pendek bgt. itu kritikan pertamaku di ff eon. tapi skrng eon udh lbh pintar bikin ff, sampe kesel kl ff nya blm dilanjut2 jg hehehe

    btw kenapa ya akhir2 ini agak susah buka blog eon? perlu login dulu baru bisa msk. sedangkan aq gk punya blog

    • Penjelasannya sudah ya dibalesan email ^^
      Wah, makasih Hana. Sebenarnya sih aku sendiri masih merasa banyak kekurangan. Semoga ke depannya bisa lebih baik lagi.
      Dan makasih u/kritik dan saranmu di ff lalu, aku juga inget kamu pernah bilang soal penulisan satu kalimat dalam satu paragraf itu, Hana🙂
      Kelanjutan ff ini mohon bersabar ya.heheh.

      Itu memang blognya sedang diprotek, Hana. Jadi memang ga mengijinkan siapapun buat baca.heheh.

  11. halo kak ….
    maaf baru comment…. soalnya blognya kemarin di lapotop gg bisa di buka…
    jadi baru bisa buka skrg…😦 (curhat)
    kak ffnya keren….. little bit misterius,,,, menurutku ditambahin cerita kaya gitu jadi lebih menarik
    ahh kira” ffnya bakal panjang nggak kak…???
    untuk typo sih kliatannya nggak ada….^^
    nungguin karya kak eun cha selanjutnya nih ^^
    tetep lanjutin ya kak euncha

    • Gpp, celia. santai aja, main ke sininya kalo lagi luang aja😉
      Hemm, sepertinya ff ini bakalan panjang *plaakkk* mudah2an ga cape bacanya🙂
      Thank u, Celia😉

  12. hmmm ternyata ada yang mengalahkan karakter hyeri ya saat dia sedang egois,.
    mending Hyeri egoisnya ada scene(?)nya, lah minhee semuanya egois menurutku. Minhee lebih menyebalkan, ah dia gak mikirin perasaan org trdkatnya, hehey kamu itu bg minho musibah tau gak kalo kamu gt aja #toyorMinhee
    meuni pikasebelen. . sabar sabar sabar

    aku sempet was was loh un pas minhee ngebujuk iyuwh manja ke Key, takut Key nurutin krna mash ada rasa, dan ternyata kyaaaaa aku langsung pengen ngewuduk bwt syukuran.eh
    bagus Key, sikapmu tepat. sekarang lupain minhee ya.

    aduh, ujang tetem nanaonan aanjangana istri wae, enggal berubah atuh, tp bkan brubh jd ultraman atau power ranger. sok mun bager ke ku teteh dipasihan sapatu hurung #sunda numpang lewat. abaikan

    ehm ehm, walaupun munculnya bentar, tapi Aa Jinki tetep mempesona ya. *tersipu malu* aku suka karakter dia di setiap FF romance pny eonni, kaya di archangel.

    okey kembali ke Key-Ri, eitjeh itu scene akhirnya laike pisan un, mereka akur dan kaya saling membutuhkan dan tak bisa dipisahkan. apalagi pas hyeri nya blg i’m with you, ciee ngikutin Key.
    semga saja cepet saling jth cinta dan terungkap.
    ah iya, minho apa kabar?
    hub jjong ma hyeri jg aku msh pnsaran.

    kebiasaan koment d ff pasti ngereview dan bnyk ngemeng ngaler ngidul. hufh maafkan aku eonni.
    ditunggu next chap nya ne ^^

    • Yeah! Berarti udah ga benci lagi sama hyeri dong, kan ada yang lebih nyebelin.heheh.

      Siip, gpp ko, aku seneng malah kalo yang komen isinya berupa review begini. Jadinya ada banyak masukan buatku.
      Thank u, Hikma😉

  13. eonni😀😀 akhir’a ini blog comeback jugaa.. hehe
    kebeneran pas lagi ngetik di url keketik huruf ‘d’.. dan muncul dalkomlollipop(dot)wordpress(dot)com hhehe..

    trnyata blog’a sudah kembali..

    baca ff ini bikin pikiran semakin merajarela dan penuh dgn imajinasi, ngebayangin gmn key, hyeri, dan cast lainnya lagi acting..
    seneng bgt deh eonn..😀😀

    part 13 di pw eonn?? haha.. pasti ak datang segera.. aduuhh disuruh ngasih tau umur lg.. boleh ga eonn umur’a yg ak mah ga usah😛😛

    key itu ciyusan makhluk paling kasian sebener’a d ff ini.. sok”an kuat pdhl ga lbh rapuh dari kayu tua yg udh d gerogotin rayap #apasih? haha

    pkok’a ditunggu deh eonn lanjutannya😀😀

    • hehe. iya, Feby, akhirny blognya dibuka lagi.
      eh, berarti kamu klo abis ol history-nya g pernah dihapus ya? *ketauan*

      yup, part 13-nya di pw karena ratingnya lumayan ehm.heheh.
      gpp, tulis aja, berapapun umurmu, pasti lbih tua aku.ahahah.

      sebenenrnya gitu sih, kebanyakan orang yang nyebelin itu kesihan. dia nutupin kekurangannya dengan sikapnya yang menyebalkan.ckckck.

  14. Ciyeeee…Key inget aja Hyeri yg selalu nganterin pesanannya vanilla latte waktu dicafe…😀
    Hyeri seneng banget beli brewing machine dan kenapa harus diganggu dg Minhee??😦
    Key patah hati??? Kasian..#pukpuk haha Key udah kmu tuh fokus sama Hyeri ajaaaaaa🙂
    Dilanjut ka eunchaaaaaa semangaaaattttt aku tunggu part 13 nya #nyengir

  15. karna udah terlalu lama menunggu, sampe g sadar lo part 12nya udh muncul…..
    senang sekali rasanya, mpe terharu…#lebay, hehe….
    eh, itu cara hyeri bwà brewing machinenya gmna? key msh ja krg peduli kyk gt.. sabar y hyeri…
    aduhhh…. nae key patah hati?!! kasian, untung ada hyeri yg baik hati ñemenin!!#dipeluk hyeri#dilirik key oppa, hehe…
    suka bgt waktu baca part Key-Ri couple yg saling mengolok, kesannya malah mereka jd semakin akrab lo kyk gt…
    dasar lintah darat ma istri lintah darat, bukannya sama ja y jadinya??!!! hehe…
    minho ma minhee, udh g usah ganggu key-ri y…klian jadian ja, atau minhee jadian ma tain ja gmna?? biar dia g mainin cewek lgi..#nyambung darimna coba??!!!! haha…
    onew itu senemg bgt jd pengamat y?? tp kyaknya taemin tau sesuatu ttg minho deh, curiga saya, hemmm….
    masih penasaran ma hubungan jjong ma hyeri itu apa, and kejadian apa yg bakal terjadi di rumah hyeri krna da key y??!! pasti seru deh…hehehe….
    aduh maaflo komennya panjang, udah kangen bgt ma ff ini sih, hehe…
    ku tunggu next part y euncha-ssi…
    keep writing!! fighting!!!🙂

  16. Ciyeeeeee blnja breng….ah ciyeeee Key pngin ikut krmh Hyeri….jgn ptahati dong key msa preman sediiihhhhh cyeee kan jdi unyu ntar saya tmbah cnta gmna? #♥♥♥PLAKKKK nulis pa cyeee…..,, pi bnran keren bhasana pas Key blang ga bsa bntuin Min Hye…..,, next part…next part

    • Hai, Thea. Sbelumnya maaf aku gbsa bales setiap komenmu di smua part EMM ini, karena ada beberapa kalimat yang ga aku pahami.
      However, terima kasih udah baca ff ini. Kelanjutannya tolong dinantikan😉

      • Kekkekekeke susah dipahami ya…mianhae….,,, wolesss aja ….ga apa-apa ga dibales yang penting dilanjut FF na…hehehehhe….gomawoooooooo

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s