[ONESHOT] Let It Go

rail-way

“Kim Jonghyun! Kim Jonghyun! Menyingkir dari tempat itu!”

Si anak lelaki menoleh ke arah teman-temannya yang berdiri di antara bunga matahari yang tinggi serta rumput-rumput hijau. Kedua matanya beralih dari burung merah raksasa yang terbang rendah di udara.

“Kim Jonghyun!!!” Salah satu di antara teman-temannya kembali berteriak, seolah sesuatu yang buruk akan terjadi.

Tapi anak lelaki itu mengira bahwa temannya tengah memberinya semangat karena si burung merah raksasa akan segera diraihnya. Lantas kepalanya kembali mendongak ke udara, memberikan seluruh fokusnya pada benang tipis yang menjuntai rendah dari bagian tengah si burung. Anak lelaki itu terus berlari, menapaki batu kerikil sepanjang lintasan besi.

“Kim Jonghyun!!!”

Teriakan itu terdengar lagi, anak itu terus berlari karena si burung raksasa semakin rendah dan akan segara diraihnya. Ia tidak memedulikan kakinya yang sesekali terantuk lintasan besi atau tajamnya sudut-sudut batu kerikil menusuk jari-jari kaki yang menyembul dari sandal karetnya.

“Tidak! Kim Jonghyun!”

Piston itu bergerak cepat, tak bisa dihentikan dan akan terus menggerakkan si gerbong besi yang kini tengah melaju kencang di atas lintasan.

Nguuuungggg…

Si gerbong besi meniupkan peluitnya, seolah memberi sinyal bahwa sesuatu menghalangi jalannya.

“Lupakan burung raksasa itu!”

Teriakan itu kembali terdengar. Tapi si anak lelaki bergeming, tangan kanannya telah mengacung ke udara, lalu dalam satu lompatan rendah ia berhasil meraih benang tipis si burung raksasa. Hatinya tertawa puas, burung raksasa yang ia kejar bersama teman-temannya itu akhirnya ada dalam genggamannya. Tak sabar rasanya untuk segera berlari ke arah teman-temannya dan menunjukkan tangkapan besarnya itu.

Nguuuungggg…

Peluit si gerbong besi kembali terdengar, menyadaran anak lelaki itu dari euphoria-nya. Ia terkejut bukan main, gerbong besi itu hanya berjarak beberapa meter di hadapannya, bergerak secepat kilat. Ia ketakutan, kakinya mendadak menjadi lemas. Sementara piston bergerak semakin cepat, membuat gerbong besi melaju kian tak terkendali. Si anak lelaki segera bergerak, berusaha keluar dari lintasan. Tapi terlambat, gerbong besi itu terlalu cepat, secepat tarikan nafas terakhir si anak yang berakhir di kolong gerbong, terseret beberapa meter. Cipratan merah terlihat di udara, memisahakan beberapa bagian tubuhnya. Dan di sanalah ia berakhir, bersamaan dengan desisan si gerbong besi yang berlalu secepat kilat.

***

“Tidaaaakkkk!”

Key membuka kedua matanya cepat, menatap langit-langit kamar berwarna putih kekuningan. Nafasnya menderu, tubuhnya bermandikan keringat. Ia bangkit dari tidurnya, duduk sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Ia menatap kedua tangannya, seolah menatap darah di sana. Beberapa detik kemudian ia membenamkan wajah di kedua tangannya, menangis tersedu.

Hyung…” bisiknya pilu.

Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu dan dirinya sama sekali tak bisa melupakannya. Nyaris setiap malam ia memimpikan kejadian terburuk sepanjang hidupnya. Tak pernah bisa hilang dalam pikirannya bagaimana pandangan pada burung raksasa itu berakhir dengan sebuah ketakutan luar biasa. Lalu gerbong besi yang bergerak cepat, melindas tubuh yang paling ia sayangi dan memisahkan beberapa bagian. Ia juga tidak lupa pada cipratan merah di udara, cipratan merah yang berasal dari kepala kakaknya. Secepat angin yang berhembus, kepala itu terlindas roda besi, membuat isinya beterbangan ke udara. Lalu dalam hitungan detik, menghilang terbawa laju gerbong besi, hilang tak bersisa. Semuanya begitu cepat.

Hyung… mianhaeyo…” Key kembali berbisik.

Rasa bersalah itu terus mengejarnya. Semua memang salahnya. Ialah yang saat itu berlari mengejar si burung raksasa hingga ke lintasan rel kereta. Teman-temannya telah memperingatinya, tapi ambisinya begitu besar mengejar si burung merah raksasa sehingga ia mengabaikan keselamatannya sendiri. Saat itulah kakaknya –Kim Jonghyun- datang, lelaki berusia 14 tahun itu berlari, berusaha meraih si burung raksasa yang terbang rendah. Hingga benang tipis itu berhasil diraih Jonghyun, keduanya baru menyadari gerbong besi yang melaju kencang ke arah mereka. Key sempat berlari menghindar, secepat kilat bergabung bersama teman-temannya di antara bunga matahari dan rerumputan tinggi. Tapi tidak dengan Jonghyun. Gerbong besi melindasnya, membawanya pada yang kuasa.

Sepanjang malam itu Key menangis dalam sunyi. Bagaimanapun, hal itu telah lama berlalu. Kim Jonghyun telah tiada dan hanya menyisakan kenangan buruk setiap kali Key mengingatnya. Seringkali Key berandai-andai untuk kembali ke empat tahun yang lalu, saat ia masih bisa tertawa dan berbicara dengan Jonghyun. Ingin rasanya untuk tidak pernah bermain mengejar si burung raksasa itu agar Jonghyun masih hidup hingga saat ini. Tapi percuma, Tuhan telah mengambilnya. Sebesar apa pun penyeselan Key, Jonghyun tidak akan pernah kembali. Setiap manusia memang akan menemui ajalnya, tak ada yang tahu kapan. Tapi, tak ada satupun yang menginginkan menjemput ajal dengan cara yang mengerikan seperti Kim Jonghyun. Dan itulah sebabnya, hingga saat ini Key masih tak bisa melupakannya. Ia merasa kedua tangannyalah yang telah membunuh Jonghyun. Jika saja ia tidak bersikeras menginginkan burung raksasa itu, jika saja ia tidak ingin meraihnya, jika saja…

“Mimpi buruk lagi?”

Suara lembut itu berasal dari pintu kamar. Key menoleh, mendapati gadis seusianya dengan rambut hitam panjang terurai dan piyama merah mudanya. Ia masuk ke dalam kamar, tanpa ragu duduk di tepi ranjang. Gadis itu meraih gelas di atas nakas, lalu meraih botol plastik kecil di samping gelas.

“Yang kau perlukan adalah tenang,” si gadis menyodorkan gelas berisi air mineral. Key meraihnya. “dan minum ini.” si gadis mengeluarkan sebutir pil berwarna putih dari dalam botol plastik tadi, lalu menyerahkannya pada Key.

Sedikit enggan, Key akhirnya menelan juga pil yang diberikan si gadis. Itu adalah obat penenang, entah sudah berapa banyak yang ia konsmusi selama empat tahun belakangan ini. Tapi rasanya sama saja, hanya sementara. Hari berikutnya, ia akan kembali dihantui lagi rasa bersalah itu.

Sesaat keheningan malam menguasai atmosfir di antara mereka. Suara jangkrik dan binatang malam terdengar silih bersahutan, membuat suasana hati Key tidak lebih baik.

“Kau harus melupakannya dan memaafkan dirimu. Hyung-mu tidak akan senang jika kau terus menerus merasa berat seperti itu. Percayalah, ia pun merindukanmu di sana.” Si gadis akhirnya membuka suara.

Key diam sejenak, apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Dengan perasaannya yang seperti ini, ia justru membuat Jonghyun merasa berat di alam sana. Ini memang sudah takdirnya, untuk menemui ajal dengan cara paling mengerikan yang tak pernah dibayangkan siapapun. Lagipula, semuanya telah berlalu dan seharusnya Jonghyun telah tenang di alam sana.

Key mengangguk. “Kau benar.” Bisiknya, lalu menelan pil penenang dan meneguk air mineral sampai habis.

“Yang kau lakukan sudah benar.” Gadis itu lalu mengelus kepala Key, seolah tengah menenangkan sekaligus memberi semangat.

Key menggenggam erat gelas kosong di tangannya, berusaha menghirup udara sebanyak yang ia bisa agar dirinya lebih tenang. Tak lama, ia menatap si gadis. Wajahnya pucat seperti saat pertamakali mereka bertemu empat tahun yang lalu. Gadis itu lalu tersenyum tipis, Key membalas senyumannya.

“Jyaa, tidurlah. Semuanya akan baik-baik saja.” ucap si gadis, ia mendorong tubuh Key untuk kembali berbaring. Lalu menarik selimut sebatas leher Key. “Sepanjang kau bisa menerima segalanya, jalan terang akan terbuka.” Lanjut si gadis sebelum akhirnya beranjak dan meninggalkan Key seorang diri.

***

Gelisah. Itu yang terjadi pada Key di detik berikutnya. Pil itu memang sudah tidak memberikan khasiat apapun pada tubuhnya. Sudah terlalu banyak yang ia konsumsi sehingga tubuhnya menciptakan sistem kekebalan terhadap pil penenang itu. Key membalikkan tubuhnya ke arah kiri, serta merta mengingat lagi pertemuannya dengan gadis bernama Min Hyeri tadi.

Tepat setelah kecelakaan itu terjadi. Key ingat bagaimana Eomma-nya datang ke tempat itu, menangis seperti orang gila melihat tubuh kaku Jonghyun. Tubuh wanita itu bergetar, tak perlu waktu lama hingga seluruh tenaganya menghilang dan ambruk di sana. Teman-teman yang berdiri di antara bunga matahari itu seperti manusia es. Mereka kaku, hanya mampu membelalakkan kedua mata di tengah ketakutan luar biasa. Key ingat, bagaimana kedua kaki Minho bergetar lemas, bagaimana gemeretak gigi Jinki terdengar olehnya, dan bagaimana akhirnya Taemin menangis tersedu-sedu minta pulang. Semuanya begitu memilukan. Tak ada yang mengatakan apapun pada Key hari itu, semuanya seolah melupakan keberadaan Key yang berdiri mematung tepat di hadapan tubuh kaku Jonghyun. Saat itulah, Min Hyeri tiba-tiba ada di sana, berdiri di dekatnya. Gadis itu mengenakan piyama merah muda dengan motif bunga. Ia tak banyak bicara, hanya sebuah senyuman tipis terukir di wajah pucatnya.

Setelah hari itu, semuanya berubah. Setelah air mata Key akhirnya mengering, semuanya semakin buruk. Tak ada yang mengajaknya bicara, semua orang larut dalam kesedihan mendalam. Bahkan tak lama kemudian, Lee Jinki dan keluarganya pindah ke tempat yang begitu jauh. Key tak pernah melihatnya atau bahkan mendengar kabar tentangnya lagi. Begitupun dengan Minho dan Taemin, mereka tetap bungkam. Melupakan kejadian itu dengan tidak berbicara pada Key. Hingga Key berpikiran bahwa berbicara dengannya akan membuat Minho dan Taemin teringat akan kejadian itu.

Setelah hari itu, keberadaan Key seolah ikut menghilang bersama Jonghyun. Setiap hari, hanya kesedihan dan kesepian luar biasa yang ia rasakan di dalam rumah. Eomma dan Appa akan makan dalam diam, semuanya akan dilalui dalam diam. Tak ada lagi tawa di hari ulangtahun Key, hanya tangisan tertahan yang akhirnya pecah menjadi raungan kepiluan. Itu membuat Key frustasi.

Key tidak ingat pasti, tapi ia kembali bertemu gadis dengan piyama merah muda di dekat lintasan kereta api. Entah bagaimana, gadis itu telah berdiri di belakang Key. Menyentuh bahu Key dan mengatakan bahwa diperlukan waktu untuk bisa menjadi ikhlas. Min Hyeri meminta Key untuk ikut dengannya. Entah bagaimana, dan entah apa yang telah Key lupakan, tapi Key ikut begitu saja. Meyakini bahwa gadis bernama Min Hyeri ini akan membuatnya merasa lebih baik. Sejak hari itu, ia tinggal di sebuah rumah bersama gadis itu. Hanya rumah kecil di mana hanya ada dua kamar dan satu ruangan kosong yang biasa mereka gunakan untuk makan bersama. Hei! Key tidak ingat kapan terakhir kali ia makan.

***

Nguuunggg…

Key terbangun karena suara peluit yang memekakan telinganya. Suara itu sama sekali tidak asing dan dengan cepat membuat tubuhnya gemetar. Ia membuka kedua matanya secepat kilat, mendapati dirinya terbaring di antara rumput-rumput tinggi dan bunga matahari yang tengah tumbuh. Ia panik, segera bangkit sambil menarik selimut yang tersampir di bahunya.

Nguuunggg…

Gerbong besi itu melaju cepat, melintasi lintasan besi. Lalu menghilang begitu saja. Key mengatur nafasnya, meski kedua matanya masih terbelalak mengikuti arah si gerbong besi tadi. Ia begitu ketakutan. Benar! Ia takut pada kereta sejak kejadian itu. Beberapa klise selalu berputar cepat dalam kepalanya setiap kali ia mendengar atau menyaksikan apapun yang berhubungan dengan si gerbong besi.

Ia tertidur di antara rerumputan dan bunga matahari tak jauh dari lintasan kereta api. Semalam, ia datang ke tempat itu, menunggu kemunculan sosok yang sering disebutkan oleh orang-orang tengah berjalan di lintasan kereta api sambil menggenggam burung merah raksasa.

“Di sini rupanya.”

Suara itu berasal dari belakang Key. Key menoleh cepat, mendapati Min Hyeri berdiri beberapa meter di belakangnya. Gadis itu masih mengenakan piyama merah mudanya. Lalu berjalan dengan langkah lambat tapi pasti mendekati Key.

“Kau berpikiran untuk menemui Hyung-mu di sini?” Hyeri menarik selimut yang tersampir berantakan di bahu Key, merapikannya.

Key diam beberapa saat, berusaha mendapatkan seluruh kesadarannya. “Mereka bilang pernah melihat hantu Hyung di sekitar sini. Aku-“

“Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?” Tanya Hyeri, wajahnya datar seperti biasanya. Hanya senyum tipisnyalah yang membuat Key yakin bahwa gadis itu bukanlah hantu. “Kau tidak bisa berkomunikasi dengannya.” Lanjutnya datar.

Key menghela nafas pelan, hatinya kembali terasa berat. Rasanya tak pernah bisa mengikhlaskan kepergian Hyung-nya yang begitu mengenaskan.

“Aku dengar mereka pernah melihat Hyung di sini. Jika aku bisa melihatnya sekali saja…” Key menundukkan kepalanya. “aku tidak takut jika bertemu Hyung dalam wujud apapun. Aku hanya…” Ingin memberitahu Hyeri bahwa ia begitu merindukan Hyung-nya, tapi ia tak mampu. Air matanya lebih dulu jatuh dan melumpuhkan lidahnya.

Hyeri meraih tangan kanan Key. “Yang telah terjadi biarkanlah terjadi. Memang seharusnya seperti itu,” Lalu Hyeri menarik tangan Key. Memaksa lelaki itu melangkah mengikutinya. “tak ada yang bisa kita lakukan untuk memutar ulang waktu. Yang telah terjadi, biarkanlah terjadi. Yang telah pergi biarkanlah pergi. Tak ada gunanya kita terus berberat hati, hanya akan menutup jalan terang itu. Semua yang akan terjadi, pasti terjadi. Tak ada yang bisa mencegahnya.” Begitulah kalimat Hyeri sepanjang perjalanan pulang mereka.

Key hanya diam, menatap burung raksasa merah dalam genggamannya yang lain. Ia merenungi lagi kalimat-kalimat Hyeri yang selalu tertuju pada sebuah kata. Ikhlas. Benar! Dirinya sulit mengikhlaskan kepergian Jonghyun dan itulah yang membuatnya seperti ini, bergentayangan seperti hantu di siang hari. Hyeri juga sering mengatakan bahwa menangisi yang telah pergi akan semakin memberatkan ‘si pergi’.

***

Key terbangun di pagi hari. Sejujurnya, tadi malam ia tidur begitu nyenyak. Entah apa alasannya, yang jelas ia begitu tenang. Terbangun di pagi hari dan tidak mengingat bagaimana ia terlelap. Ia mengingat sedikit, dalam tidurnya, Jonghyun datang menemuinya. Lelaki itu tersenyum sambil menggenggam tangan Key. Tak ada kalimat yang terucap, hanya sebuah senyuman yang memancarkan kebahagiaan. Seolah senyuman itu mengatakan agar Key menjadi lebih kuat dan membiarkan apa yang seharusnya terjadi.

“Sudah bangun?”

Pintu kamar terbuka, menampakkan gadis dengan piyama merah muda. Key hanya mengangguk pelan, menyembunyikan rasa senang karena semalam Jonghyun datang dalam tidurnya. Hyeri berjalan mendekati Key, tanpa mengatakan hal yang lain ia menarik tangan Key. Memaksa lelaki itu untuk bangkit dari ranjangnya. Hyeri menoleh saat Key menahan langkahnya. Mereka saling bertatapan.

“Kau ingin bertemu Hyung-mu, kan? Ini saatnya.” Hyeri tersenyum. Senyum yang berbeda dari senyum tipis yang sudah sering Key lihat. Hyeri terlihat lebih bersemangat.

“Apa maksudmu ini saatnya? Apa kali ini Hyung akan menampakkan dirinya di hadapanku?” Kedua mata Key berbinar. Jantungnya berdebar kencang, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Hyeri.

Hyeri mengangguk. “Ini empat tahun peringatan kejadian itu. Hyung-mu pasti akan datang.” Terang Hyeri antusias. Ia kembali menarik Key, membawa lelaki itu keluar dan berjalan lambat menuju lintasan kereta api.

Sepanjang perjalanan, Key baru mengingat bahwa hari ini tepat empat tahun kematian Jonghyun. Percaya tidak percaya dengan apa yang sering ia dengar dulu bahwa arwah yang tidak tenang akan muncul di peringatan hari kematiannya. Tapi kali ini, Key memilih untuk memercayainya meskipun ini siang bolong.

Mereka tiba, Hyeri menghentikan langkahnya di antara rumput-rumput tinggi dan bunga matahari yang bermekaran. Nafasnya tersengal. “Sebentar lagi,” bisiknya. Ia lalu menarik Key agar berdiri tepat di sampingnya. “Itu mereka! Kau bisa melihatnya?”

Key menyipitkan kedua matanya, merasa siap tak siap melihat sosok yang ditunjuk Hyeri. Perlahan, ia melihat sosok itu berjalan dari kejauhan. Senyum Key mulai mengembang. Ia tidak mendapati Hyung-nya yang mengerikan seperti bagaimana lelaki itu tewas. Ia melihat lelaki berambut cokelat yang tingginya bertambah beberapa senti. Lelaki itu juga terlihat lebih tampan. Seperti bayangan Key jika Jonghyun masih hidup dan bertambah dewasa sebagai lelaki berusia 18 tahun.

Key memerhatikan Hyung-nya seksama, mengagumi sosok yang entah bagaimana bertambah dewasa. Mungkinkah hantu bisa menampakkan dirinya dalam wujud yang tidak pernah ia alami semasa hidup? Batin Key.

Key masih mengamati Hyung-nya saat samar-samar ia menangkap sosok lain berjalan mengikuti Hyung-nya. Perlahan, sosok-sosok itu semakin jelas di mata Key. Sesaat kepalanya terasa berputar-putar, ia seperti melihat film pendek dari kehidupannya yang diputar cepat. Membuat lelaki itu mengingat hal paling penting yang telah ia lupakan. Seketika kedua kakinya bergetar, tubuhnya terasa lemas. Ia menatap kedua tangannya seolah memastikan bahwa semuanya memang nyata. Detik berikutnya ia menatap Hyeri, seolah mempertanyakan apakah ini nyata atau tidak? Hyeri hanya tersenyum tipis, seolah mengatakan bahwa apa yang ada dalam pikiran Key saat ini adalah sebuah kebenaran.

“Tidak mungkin!” bisik Key tak percaya.

***

“Sudah empat tahun.” Lelaki jangkung itu berbisik sambil merapikan dasinya. Ia lalu meraih jas hitam yang menggantung di balik pintu.

“Benar. Aku tidak percaya semuanya berlalu begitu cepat. Kejadian itu rasanya…”

Lelaki bermata bulat yang diajak bicara menghentikan kalimatnya. Lidahnya terasa berat setiap kali ia dan Taemin membahas kejadian itu. Hal itu terasa bagaikan hari kemarin bagi Minho, ia tidak pernah bisa melupakan bagaimana tubuh sahabatnya itu terbaring kaku di lintasan kereta api dengan keadaan yang begitu menyedihkan.

“Kuharap ia tenang di alam sana.” Taemin menambahkan.

Bagaimanapun, kejadian itu tidak akan pernah bisa terhapus dalam ingatannya. Begitu mengerikan.

Sesaat, hanya kesunyian yang menguasai keduanya. Terlarut dalam kesedihan lama yang kembali menyergap.

“Jyaa, tidak baik menangisinya terus menerus. Ia telah tenang bersama Tuhan.” Taemin mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk beberapa saat. Membuka kedua matanya lebar untuk mengenyahkan genangan air mata yang nyaris jatuh. Ia lalu berjalan ke depan cermin yang menempel di lemari pakaian. Menilik dirinya dan menepuk-nepuk bahu kiri dan kananya bergantian. “Ayo kita pergi, Hyung. Sudah lama kan kita berempat tidak bermain bersama?” Taemin mengulas senyum tipis. Meski ia tersenyum, hatinya tetap merasa sedih. Ia merindukan salah satu sahabatnya yang telah pergi.

Minho menatap Taemin, mengingat lagi bagaimana lelaki yang saat itu baru berusia 10 tahun terkejut dengan apa yang terjadi. Tak mengatakan apapun hingga akhirnya menangis dalam sunyi. Menarik ujung kaus bergaris Minho sambil berbisik bahwa ia ingin pulang.

Meski telah berlalu, semuanya begitu merindukan sahabat mereka yang pergi begitu cepat, yang pergi di tengah kebahagiaan mereka. Mereka sedih, tak pernah bisa melupakan tragedi itu. Tapi, empat tahun yang telah mereka jalani setidaknya mengajarkan bahwa diperlukan waktu untuk merelakan sebuah kepergian. Mengajarkan bahwa sebuah kepergian adalah hal yang paling dekat dan selalu mengikuti mereka. Kapanpun, di manapun, tak pernah ada yang tahu kapan seseorang akan pergi meninggalkan dunia fana. Tidak ada keraguan bahwa semua orang akan mengalaminya, di tempat dan waktu yang berbeda, dan dengan cara yang berbeda. Maka dari itu, tak ada yang perlu ditakutkan akan hal yang sudah pasti terjadi. Mempersiapkan diri adalah satu-satunya hal yang harus dilakukan untuk bekal perjalanan manusia menuju jalan terang.

“Ayo! Aku juga sangat merindukannya.”

Minho mengulas senyum tipis, berusaha keras untuk tidak lagi menampakkan raut sedih. Ia lalu beranjak dari tepi ranjang. Menepuk bahu Taemin lalu berjalan keluar kamar.

***

Mereka berjalan beriringan menyusuri lintasan kereta api. Upacara penghormatan pada ‘si pergi’ baru saja selesai 20 menit yang lalu, anggota keluarga dan kerabat yang lain tengah makan siang bersama.

Taemin menendang-nendang kerikil, menatap lintasan besi yang berkilau diterpa sinar matahari. Ia lalu melirik jam tangan hijaunya, jam 11 siang.

Hyung, sejujurnya aku merasa sedih. Apa yang sedang dilakukannya di sana, ya?” Taemin membuka suara.

“Kita datang untuk berkunjung, bukan untuk bersedih, Taeminie.” Minho yang berjalan di depan Taemin menoleh sekilas lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh puncak kepala Taemin.

“Tidak apa-apa, mungkin saja kedatangan kita bisa membuatnya tenang. Atau, mungkinkah kita akan melihatnya di siang bolong seperti ini?” Tambah Jinki yang berjalan di belakang Taemin.

Salah satu di antara mereka lalu terkekeh pelan. “Sudah lama tidak melihat tempat ini. Semuanya berlalu begitu cepat, bukan? Sepertinya aku masih bisa mendengar gelak tawa kita saat berlari di antara rerumputan dan bunga matahari.” Ucapnya. Ada sedikit kesedihan terselip di antara intonasi bicaranya, tapi ia memaksakan untuk terlihat tegar.

Hening. Tak ada yang mengatakan apapun beberapa detik.

“Tapi aku senang kita bisa bermain bersama lagi meski tidak lengkap. Kuharap kunjungan kita membuatnya tenang.” Minho bersuara.

“Beberapa warga mengatakan bahwa mereka pernah melihatnya di sekitar sini. Berjalan di lintasan kereta sambil menggenggam burung merah raksasa itu. Atau berdiri di antara rerumputan dan bunga matahari di tengah malam,” ia menghentikan langkahnya, lalu menunduk sesaat. Menahan genangan air mata yang nyaris jatuh. “Apa kau tidak tenang, Kim Kibum?”

Hyung…” Minho menaruh tangannya di bahu kanan Jonghyun yang tertunduk. Ia tahu bahwa Jonghyun kini tengah menangis merindukan adiknya. Jinki dan Taemin segera berhambur, berdiri melingkari Jonghyun. “mungkin masih ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang. Mungkin saja ia ingin bertemu denganmu, Hyung.” Minho berusaha membesarkan hati Jonghyun.

Jonghyun diam, membiarkan air matanya jatuh begitu banyak. Ia berharap, kesedihannya akan berlalu bersama tetesan air matanya. Ia juga ingin untuk menerima kepergian Key empat tahun yang lalu. Kepergian yang begitu mengerikan.

“Tidak apa-apa. Ayo kita kembali berjalan. Mungkin saat ini Key tengah memerhatikan kita dari suatu tempat. Dan mungkin saja setelah kunjungan ini Key akan tenang.” Jinki menepuk bahu kiri Jonghyun. Jonghyun menatap Jinki, menatap dengan wajah sendu bercucuran air mata seolah mengatakan bahwa ia masih belum bisa menerima semua ini.

Jinki meremas bahu Jonghyun, lalu ia berjalan perlahan mengikuti jalur lintasan kereta api. “Kalian tahu? Semua orang akan mengalami kepergiannya masing-masing, di tempat, waktu, usia, dan cara yang berbeda. Tak pernah ada yang tahu kapan dan satu-satunya hal yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita,” Jinki menghentikan langkahnya lalu menoleh, menatap ketiganya bergantian. “tidak ada yang menginginkan kepergian seperti Key, bahkan mungkin Keypun tidak pernah berpikiran bahwa kepergiannya akan begitu mengerikan. Tapi kita tidak bisa melakukan apapun. Semuanya telah ditentukan dan pasti akan terjadi.” Jinki berjalan mendekati Jonghyun. Menaruh kedua tangannya di bahu Jonghyun dan memaksa lelaki itu menatapnya. “Dengar, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk Key adalah mengikhlaskan kepergiannya. Itu akan membuatnya tenang. Menangis dan mengingatnya terus menerus hanya akan menambah beban baginya, Key akan merasa berat meninggalkan kita semua. Itulah sebabnya…” Jinki diam sesaat. “berbahagialah! Berbahagialah untuk Key. Ikhlaskanlah kepergiannya agar ia tenang di alam sana. Biarkan Key pergi karena ia memang seharusnya pergi.”

Jonghyun mengusap air matanya perlahan, lalu tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Lalu mereka kembali berjalan beriringan menyusuri lintasan kereta api.

“Kim Kibum, aku ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu. Kau adalah setengah dari diriku, dan saat kau pergi, aku merasa mati. Tapi, aku ingin kau tenang di alam sana. Aku berjanji akan hidup bahagia. Aku akan menceritakan pada anak-anakku kelak bahwa mereka memiliki paman yang begitu lincah dan pandai menari. Maka dari itu, tenanglah di sana.”

Jonghyun menggumamkan kalimat itu. Berharap Key bisa mendengarnya dan tidak muncul lagi menakuti warga.

***

“Tidak mungkin!” bisik Key tak percaya.

“Kau sudah mengingatnya?” Hyeri menoleh.

“Tidak mungkin! Aku…aku… aku sudah mati?” bisik Key tak percaya. Beberapa klise kembali berputar dalam kepalanya. “Tidak mungkin!!!”

“Kaulah yang tertabrak kereta hari itu, Key. Bukan Hyung-mu.” Jelas Hyeri.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Hari itu aku…”

Tubuh Key merosot, kedua lututnya menumpu berat tubuh. Sementara ia tak henti menatap kedua tangannya. Berusaha terus menyangkal bahwa ia sudah mati, bahwa bukan dirinyalah yang tertabrak kereta hari itu.

FLASH BACK

“Kim Jonghyun! Kim Jonghyun! Menyingkir dari tempat itu!”

Si anak lelaki menoleh ke arah teman-temannya yang berdiri di antara bunga matahari yang tinggi serta rumput-rumput hijau. Kedua matanya beralih dari burung merah raksasa yang terbang rendah di udara.

“Kim Jonghyun!!!” Jinki kembali berteriak panik karena Jonghyun terlalu fokus pada burung raksasa yang tengah mereka kejar.

Key, adik lelaki Jonghyun yang sama-sama mengejar si burung raksasa berlari mendahului Jonghyun. Ia terlihat begitu bersemangat melihat benang tipis yang menjuntai rendah dari bagian tengah si burung raksasa. Ia yakin bahwa ia akan meraihnya sebentar lagi.

“Kim Jonghyun!!!” Kini Jinki, Minho, dan Taemin berteriak bersamaan. Mereka begitu panik karena teriakan peringatan dari mereka tak juga diindahkan oleh Jonghyun dan Key.

Key terus berlari, memerhatikan si burung raksasa yang terapung rendah. Ia tidak memedulikan kakinya yang sesekali terantuk lintasan besi atau tajamnya sudut-sudut batu kerikil menusuk jari-jari kaki yang menyembul dari sandal karetnya.

“Tidak! Kim Jonghyun!”

Piston itu bergerak cepat, tak bisa dihentikan dan akan terus menggerakkan si gerbong besi yang kini tengah melaju kencang di atas lintasan.

Nguuuungggg…

Si gerbong besi meniupkan peluitnya, seolah memberi sinyal bahwa sesuatu menghalangi jalannya.

Serta merta fokus Jonghyun pada burung raksasa teralihkan oleh suara peluit itu. Ia terkejut bukan main saat melihat gerbong besi melaju kencang ke arahnya. Lututnya bergetar. Ia lalu melihat Key yang masih berlari di depannya, anak itu menengadahkan kepalanya ke udara, satu tangannya terulur ke udara, hendak meraih si burung raksasa.

Jonghyun menyadari gerbong besi itu makin mendekat. Teman-temannya terus berteriak memperingatkan.

“Key, menyingkir dari situ!” Itulah yang ia teriakan selagi kedua kakinya berlari cepat keluar dari lintasan kerata api. Ia melompat, lalu berlari terengah-engah menghampiri teman-temannya.

“Lupakan burung raksasa itu!”

Jonghyun kembali berteriak saat tahu bahwa Key masih berada di lintasan kereta api.

Nguuuungggg…

Burung raksasa itu akhirnya ada di genggaman Key, anak itu tersenyum puas. Seiringan dengan dirinya yang menyadari kedatangan si gerbong besi beberapa meter di hadapannya.

Key terkejut, kedua kakinya lemas. Beberapa detik lagi gerbong besi itu akan menghantam tubuhnya. Ia ketakutan. Dengan sisa-sisa tenaga dan pikirannya yang kacau, Key melompat ke lintasan satunya lagi untuk menghindari si gerbong besi. Tapi sayang, gerbong besi yang lain melintas di sana dari arah berlawanan. Key tak sempat menghindar. Secepat kilat gerbong besi itu menabraknya, menyeret tubuhnya beberapa ratus meter. Cipratan darah terlihat di udara, memisahkan kepala dari tubuhnya, bersamaan dengan si burung merah raksasa yang terlepas dari tangannya, melayang terbawa angin. Di sanalah ia berakhir, bersamaan dengan desisan si gerbong besi yang berlalu secepat kilat.

“Key!!!”

Kereta itu berlalu, meninggalkan bising sesaat yang lalu bersama angin. Key seperti baru saja mengalami mimpi yang menakutkan. Baru saja kereta itu melintas dan nyaris menabraknya. Ia yakin betul kereta itu telah menggilas tubuhnya. Tapi mungkin, sesuatu telah terjadi sehingga ia selamat dan terbaring di rel kereta. Ia lalu membuka kedua matanya, mengerjap beberapa saat lalu bangkit. Mendapati teman-temannya berkumpul tak jauh darinya. Ia berjalan menghampiri mereka, ingin berteriak bahwa teman-temannya itu melupakan dirinya yang nyaris tertabrak kereta api setelah meraih si burung raksasa.

Hyung!” Key berteriak memanggil Hyung-nya. Tapi tak ada jawaban. Sepertinya Hyung-nya sedang sibuk dengan sesuatu yang tengah mereka lihat bersama. Mungkinkah mereka tengah mengagumi burung raksasa yang berhasil ditangkap Key?

“Minho!” kini Key memanggil Minho yang berada tepat di hadapannya. Tapi, tetap tak ada jawaban, seolah Minho tak mendengar suara Key.

Key memberenggut marah, apa sih yang sedang dilihat teman-temannya itu hingga mengabaikan dirinya?

“Hei, apa yang kalian-“

Key bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri. Ia terkejut bukan main dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tidak mungkin! Bagaimana bisa? Ini pasti mimpi!

“Key…” Jonghyun berteriak keras sambil berusaha memeluk tubuh yang tak utuh lagi. “Tidak!!! Key!!!” Lalu menangis sesenggukan.

Bibir Key bergetar hebat, kedua matanya terasa panas, lututnya terasa lemas. Ini tidak mungkin! Ia melihat tubuhnya tergolek kaku di atas lintasan kereta api dengan kepala yang tidak lagi ada di tempatnya, tubuhnya berlumuran darah. Selain itu bagian kakinya yang mencakup jari kelingking, manis dan tengah tidak ada di tempatnya.

“Tidak mungkin! Aku…”

Tak berapa lama, warga berdatangan menyaksikan tubuhnya yang begitu mengenaskan. Lalu dari jauh, Key melihat Eomma-nya berlari menghampiri tubuhnya. Wanita itu masih mengenakan celana kain tiga perempat berwarna abu. Bahkan rambutnya tidak tertata rapi. Wanita itu berlari, menangis di setiap langkahnya. Kedua matanya melihat sosok yang tergolek kaku beberapa meter di hadapannya. Berusaha menyangkal bahwa mayat itu adalah putra bungsunya. Tapi, seiringan dengan langkahnya yang semakin dekat, ia semakin meyakini bahwa tubuh yang masih mengenakan seragam sekolah itu adalah putra bungsunya. Wanita itu menangis keras, meraung. Ia menangis di hadapan tubuh kaku putranya yang mengenaskan.

Uri Kibum…uri kibum…”

Begitu yang ia teriakkan. Ia berusaha memeluk tubuh Key. Tapi ia begitu sedih karena tubuh putra bungsunya tidak utuh lagi. Dan wanita itu akhirnya mendekatkan tubuhnya ke tubuh kaku putranya. Menangis hingga ia ambruk di sana.

Key menangis. Benarkah ia telah tewas? Ia sama sekali tidak bisa memercayanya. Tapi kenyataannya, tubuh di hadapannya adalah miliknya. Tidak bergerak dan kehilangan kepalanya. Ia menangis, tidak pernah melihat Eomma-nya begitu sedih hingga pingsan.

Eomma…” bisiknya pilu.

Lantas Key menatap Jonghyun, Hyung-nya terisak sambil menutupi mata dengan lengannya. Pandangan Key berpindah pada Minho dan Jinki yang berdiri mematung seperti kehilangan akal sehat mereka. Mereka tak mengatakan apapun, seperti kehilangan jiwa mereka. Lalu Taemin, bibir mungil lelaki itu bergerat perlahan, lalu menundukkan kepalanya. Key tahu Taemin menangis, meski tak ada suara yang terdengar dari bibirnya. Lalu Taemin menarik ujung kaus Minho, berbisik bahwa ia ingin pulang.

Key lalu melihat ada begitu banyak orang di dekat lintasan kereta api. Begitu banyak orang yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Mereka terdiam, beberapa berlari ke arah tubuhnya, beberapa menghentikan kendaraan yang mereka kendarai hanya untuk melihat kejadian mengenaskan ini. Key begitu ketakutan, ia sedih dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Benarkah ia telah mati? Benarkah ia tidak bisa lagi pulang ke rumah dan bermain bersama Hyung dan teman-temannya?

Key lalu menangis dan mulai terisak. Ia menyadari bahwa sekeras apapun ia menangis, tak ada yang bisa mendengarnya.

“Kau juga mati di sini, ya?”

Tiba-tiba suara itu muncul dari belakang Key. Ia menoleh dan mendapati gadis seusianya dengan piyama merah muda. Rambut hitamnya terurai indah sepinggang, wajahnya pucat seperti orang sakit. Key tidak menanggapi.

“Aku juga mati di lintasan ini. Beberapa ratus meter dari tempatmu. Aku sedang sakit, gagal ginjal. Aku bosan dengan hidupku yang selalu ada di dalam kamar pada akhir pekan, aku juga sedih melihat Eomma dan Appa bekerja keras mencari banyak uang untuk biaya cuci darahku setiap minggu. Aku sedang berjalan-jalan di lintasan ini saat sebuah kereta menabrakku. Tapi rasanya lebih baik,” Gadis itu berceloteh. Key yang masih menangis segera menatap si gadis saat mendengar kalimat terakhirnya yang terdengar janggal. “setidaknya, aku tidak merasa sakit lagi, Eomma dan Appapun tidak usah bekerja keras lagi untuk mencari uang.” Si gadis tersenyum kecil. “Tapi…” ia menggigit bibir bawahnya. “aku tidak bisa pergi ke sana. Jalan terang itu tertutup,” ia menatap ke atas langit.

Key ikut mendongakkan kepalanya, melihat gumpalan awan putih. Ia tidak bisa menjelaskan, tapi beberapa gumpalan awan terlihat berbeda. Seperti sebuah pintu yang bisa terbuka.

Eomma selalu menangisiku setiap hari. Itulah sebabnya aku tidak bisa pergi ke sana.”

“Ke sana?”

Si gadis mengangguk. “Tempat kita setelah kematian.” Jawabnya.

Saat itu, si gadis masih berada di dekatnya, saat beberapa orang akhirnya menggotong tubuh tak sempurna Key dari lintasan kereta api. Key mengabaikan si gadis, berjalan begitu saja mengikuti ke mana tubuhnya di bawa. Hari berikutnya, ia mengikuti upacara pamakaman dirinya, menyaksikan begitu banyak air mata, terutama dari Eomma, Appa, dan Hyung-nya. Key merasa sedih, lalu berdiam diri di kamarnya. Sedikit-demi sedikit mulai melupakan bahwa dirinya telah tewas hari itu.

END OF FLASHBACK

Key masih tidak memercayai ingatannya sendiri. Jadi, selama empat tahun ini, ialah hantu yang selalu bergentayangan itu, ialah yang selalu dibicarakan warga. Ia yang berdiri di dekat lintasan kereta api untuk menunggu Hyung-nya.

“Lihat! Jalan terang itu terbuka!” Hyeri membuyarkan pikiran Key. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke langit. Kedua matanya berbinar.

Key menyusut air matanya, lalu mendongakkan kepalanya. Sesaat ia merasa silau, tapi ia bisa melihat gumpalan awan putih yang membentuk pintu kecil, pintu itu terbuka, memancarkan cahaya menyilaukan, tapi di sisi lain, cahaya itu seperti sebuah masa depan cerah.

“Ayo kita pergi!” Hyeri menggenggam tangan Key.

“Tapi-“

Key tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat tubuhnya melayang begitu saja. Ia dan Hyeri terbang ke udara, terbang semakin tinggi menuju jalan terang itu. Key menatap ke bawah, melihat Hyung dan teman-temannya masih berjalan di lintasan kereta api. Meski terasa begitu jauh, tapi Key bisa mendengar Hyung-nya mengatakan sesuatu.

“… Tapi, aku ingin kau tenang di alam sana. Aku berjanji akan hidup bahagia. Aku akan menceritakan pada anak-anakku kelak bahwa mereka memiliki paman yang begitu lincah dan pandai menari. Maka dari itu, tenanglah di sana.”

Key tersenyum dari atas sana, memerhatikan Hyung dan teman-temannya. Kini ia tahu bahwa satu-satunya yang diinginkan Jonghyun adalah dirinya yang tenang di alam sana. Dirinya yang menerima segala sesuatu yang telah terjadi. Saat ini, Key merasa ketakutannya selama ini hilang, rasa rindunya pada Jonghyun terbayar sudah. Ia merasa begitu ringan, terus melayang ke udara, menuju jalan terang itu.

“Selamat tinggal, Hyung.” Bisiknya.

=SELESAI=

A.N :

real rail way

I accidently engaged with the tragedic scene. It was 4 of March 10.30 am. The atmosphere was very cold and covered with deep sorrow. I couldn’t handle the tears after seeing the mother cried over her son’s death. It was so tragic and scary that I weren’t able to sleep well for two nights in a row.
Everyone who reads the story, please give your precious one minute to pray for the boy. Hope he rests in peace…
And for all of you, guys. Be careful everywhere you go. You might not aware of your safety, but remember, our family members are waiting at home.

14 thoughts on “[ONESHOT] Let It Go

  1. hikss…sedih begitu tau ternyata yg meninghal itu kibum!!
    cara matinya tragis bgt, pantes aja buat jjong mpe nangis jagung gt…
    emg bener, kita harus ikhlas menerima segala sesuatu.. pesen yg bagus thor,
    semoga arwah anak tsb tenang di alam sana, amiinnn….

  2. ini… akhir yang cukup mengejutkan…
    aku nggak ngira ternyata malah kibum yg udh mati. tapi penfgambarannya bagus banget karena mampu mengecoh pembaca dengan memainkan pola pikir…^^

    turut berduka cita untuk anak tersebut. walaupun tragis, mungkin Tuhan menakdirkan hal itu sebagai hal terbaik daripada ia harus berlama2 di dunia ini. semoga arwahnya diterima dan ia tenang di sisiNya. amiin

  3. Ya Tuhan, sedih .. Tragis banget.
    Awalnya gk ngira klo Key yg mati.
    Yah~ semoga ibu itu di beri ketabahan oleh Tuhan. dan anak itu tenang. amiin

  4. hoh? tragis!! serem!! jadi takut maen di lintasan kereta api ;(
    ka euncha seneng bgt bikin org penasaran,bingung,tandatanya (?) kekekeke~
    jadi yg mati itu Kibum??! oooohh…pantes Hyeri misterius bgt selalu pake piyama merahmuda. dan dia juga hantu ternyata.
    jd intinya harus ikhlas ditinggalkan ‘si pergi’😀
    amiiin…semoga anak itu tenang disana….🙂

    • Iya, yang mati sebenernya Kibum. Tapi dianya sendiri bukan ga sadar sih, ga bisa nerima kenyataan dan mulai melupakan kalo dia udah mati.
      Yup, intinya harus ikhlas pada ‘si pergi’ biar engga memberatkannya.
      Amiinnn…
      Thank u, Ria😉

  5. Ini Twist ending yak? T_T sedih eon…
    eh, sebelumnya salam kenal yaa🙂 saia pembaca baru di blog euncha eon!
    entah karena saia yang kudet atau gimana, saya nemu blog euncha eon pas lagi nyari rekomendasi ff..
    Eh.. taunya terdampar disini >._<

    • Hallo, Candisa Azzahra. Bagaimanakah aku panggil kamu?
      Yup, ini twisted ending. Semoga terhibur dengan ceritanya.
      Makasih udah mampir ^^
      Oya, kamu bisapanggil aku kak aja.heheh.

Gimme Lollipop

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s